Anda di halaman 1dari 21

REFARAT

KATARAK

BAB I PENDAHULUAN

Kebutaan adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius bagi tiap negara, terutama pada negara-negara berkembang, dimana 9 dari 10 tuna netra hidup disana, demikian dikatakan oleh Direktur Jendral WHO, Dr. Groharlem Bruntland. Kebutaan akan berdampak secara sosial dan ekonomi. Sebenarnya, 75% kebutaan di dunia ini dapat dicegah atau diobati. Salah satunya kebutaan yang disebabkan oleh katarak. Katarak adalah kekeruhan atau perubahan warna pada lensa. Baik itu kekeruhan lensa yang kecil, lokal atau seluruhnya. Pada umumnya katarak terjadi karena proses penuaan, tetapi banyak fakto-faktor lainnya, yaitu kelainan genetik atau kongenital, penyakit sistemik, obatobatan, dan trauma. Peningkatan kasus katarak biasanya banyak terjadi pada usia diatas 70 tahun. Faktanya, katarak katarak yang berhubungan dengan usia terjadi kira-kira 50% pada orang dengan usia 65-74 tahun dan 70% pada usia 75 tahun. Katarak sebagian besar umumnya menyebabkan penglihatan menurun (tidak dapat dikoreksi dengan kacamata). Badan Kesehatan Dunia (WHO) memiliki catatan yang menakutkan tentang kondisi kebutaan di dunia khususnya di negara berkembang. Disebutkan, saat ini terdapat 45 juta penderita kebutaan didunia 60% diantaranya berada di negara miskin atau berkembang. Indonesia, dalam catatan WHO berada diurutan ketiga dengan terdapat angka kebutaan sebesar 1,47%.

KKS Ilmu Penyakit Mata

REFARAT

KATARAK

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Anatomi dan fisiologi mata

Anatomi

dan fisiologi

mata

sangat

rumit

dan mengaggumkan.

Secara konstan

matamenyesuaikan jumlah cahaya yang masuk, memusatkan perhatian pada objek yang dekat dan jauh serta menghasilkan gambaran yang kontinu yang dengan segera dihantarkan ke otak.Mata memiliki struktur sebagai berikut :

Sklera (bagian putih mata) : merupakan lapisan luar mata yang bewarna putih dan relatif kuat.

Konjungtiva : selaput tipis yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian sclera.

KKS Ilmu Penyakit Mata

REFARAT

KATARAK

Kornea : struktur transparan yang menyerupai kubah, merupakan pembungkus dari iris, pupil danbilik anterior serta membantu memfokuskan cahaya.

Pupil : daerah hitam ditengah-tengah iris.

Iris : jaringan bewarna yag berbentuk cincin, menggantung di belakang kornea dan di depan lensa, berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata dengan cara merubah ukuran pupil.

Lensa : struktur cembung ganda yang tergantung diantara humor aquos dan vitreus, berfungsi membantu memfokuskan cahaya ke retina.

Retina : lapisan jaringan peka cahaya yang terletak dibagian belakang bola mata, berfungsi mengirimkan pesan visual melalui saraf optikus ke otak.

Saraf optikus : kumpulan jutaan serat saraf yang membawa pesan visual ke otak.

Humor aquos : caian jernih dan encer yang mengalir diantara lensa dan kornea (mengisi segmen anterior bola mata) serta merupakan sumber makanan bagi lensa dan kornea, dihasilkan oleh processus ciliaris.

Humor vitreus : gel transparan yang terdapat di belakang lensa dan di depan retina (mengisi segmen posterior mata)

2.2. Anatomi dan fisiologi lensa

Pada manusia, lensa mata bikonveks, tidak mengandung pembuluh darah (avaskular), tembus pandang, dengan diameter 9 mm dan tebal 5 mm. Ke depan berhubungan dengan cairan bilik mata, ke belakang berhubungan dengan badan kaca. Digantung oleh Zonula zinii (Ligamentum suspensorium lentis), yang menghubungkannya dengan korpus siliaris. Permukaan posterior lebih cembung dari pada permukaan anterior.
KKS Ilmu Penyakit Mata 3

REFARAT

KATARAK

Lensa diliputi oleh kapsula lentis, yang bekerja sebagai membran yang semipermiabel, yang akan memperoleh air dan elektrolit untuk masuk. Disebelah depan terdapat selapis epitel subkapsular.

Anatomi lensa

Nukleus lensa lebih keras dari pada korteksnya. Sesuai dengan bertambahnya usia, serat-serat lamelar subepitel terus diproduksi, sehingga lensa lama-kelamaan menjadi lebih besar dan kurang elastik. Nukleus dan korteks terbentuk dengan persambungan lamellae ini ujung ke ujung berbentuk ( Y ) bila dilihat dengan slitlamp. Bentuk ( Y ) ini tegak di anterior dan terbalik di posterior. Lensa ditahan ditempatnya oleh ligamen yang dikenal zonula zinii, yang tersusun dari banyak fibril dari permukaan korpus siliaris dan menyisip ke dalam ekuator lensa. Lensa terdiri atas 65% air dan 35% protein (kandungan tertinggi diantara jaringan-jaringan tubuh), dan sedikit sekali mineral yang biasa berada di dalam jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa dari pada dikebanyakan jaringan lain. Asam askorbat dan glutation terdapat

KKS Ilmu Penyakit Mata

REFARAT

KATARAK

dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah atau saraf di lensa.

Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu : Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung. Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan, Terletak di tempatnya.

Keadaan patologik lensa ini dapat berupa : Tidak kenyal pada orang dewasa yang akan mengakibatkan presbiopia, Keruh atau apa yang disebut katarak, Tidak berada ditempat atau subluksasi dan dislokasi

Lensa orang dewasa didalam perjanan hidupnya akan menjadi besar dan berat.

KKS Ilmu Penyakit Mata

REFARAT

KATARAK

BAB III 3. Katarak 3.1 Defenisi Katarak berasal dari Yunani Katarrhakies , Inggris Cataract, dan Latin cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa terjadi akibat keduaduanya. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama, katarak umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut, akan tetapi dapat juga akibat kelainan kongenital, atau penyulit penyakit mata lokal menahun. Bermacam macam penyakit mata dapat mengakibatkan katarak seperti glaukoma, ablasi, uveitis, dan retinitis pigmentosa. Katarak dapat berhubungan proses penyakit intraokular lainnya. Pandangan penderita katarak adalah agak buram dan kadang

merasa silau walau cahaya yang masuk ke mata rendah.

KKS Ilmu Penyakit Mata

REFARAT

KATARAK

3.2 klasifikasi Katarak digolongkan menjadi a. Katarak Primer Katarak ini terdiri dari Katarak juvenilis (<10 tahun) Katarak presenilis (20 50 tahun) Katarak senelis (>50 tahun)

Katarak primer dibagi jadi 4 stadium 1. Stadium insipien Katarak paling dini dan visus belum terganggu (masih 5/5 atau 5/6) walau terdapat keruhan ringan di bagian perifer nampak seperti bercak.

2. Stadium imatur Sudah nampak keruh jika dilihat dari luar (posterior) demikian juga sebenarnya pada bagian belakang nukleus lensa. Mungkin terjadi hidrasi (penggembungan permukaan oleh air mata) korteks yang menyebabkan lensa menjadi cembung dan menyebabkan miopi. Keadaan ini disebut intumesensi.

3. Stadium matur Terjadi pengeluaran air mata sehingga lensa berukuran normal, tapi menyisakan keruhan yang nampak seperi mutiara.

4. Stadium hipermatur (katarak morgagni)

KKS Ilmu Penyakit Mata

REFARAT

KATARAK

Isi lensa menjadi seperti bubur dan karena massa berlebih mengakibatkan posisinya agak turun (jatuh). Warnanya kecoklatan. Pada stadium ini telah terjadi kerusakan kapsul lensa sehingga kadang terjadi pengeluaran isi lensa tersebut dan lensa menjadi kempis.

b. Katarak komplikata Katarak jenis ini terjadi akibat komplikasi penyakit lain seperti: Gangguan okuler: retinitis pigmentosa, glaukoma, ablasio retina kronik, uveitis, myopia maligna Penyakit sistemik: DM, hipoparatiroid, syndrome down Trauma, benda asing dalam mata, terpajan panas berlebihan, sinar X. Radioaktif, cairan kimia. c. Katarak kongenital Adalah katarak yang sudah timbul pada saat pembentukan lensa (dalam kandungan) sering ditemukan pada ibu hamil yang menderita rubella, DM, dan terinfeksi toksoplasma.

3.3 Patofisiologi Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nucleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi
KKS Ilmu Penyakit Mata 8

REFARAT

KATARAK

keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nucleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna nampak seperti kristal salju pada jendela. Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan pada serabut halus multiple (zonula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar daerah luar lensa, misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.

Gambar, penglihatan kabur pada penderita katarak

KKS Ilmu Penyakit Mata

REFARAT

KATARAK

Katarak biasanya terjadi bilateral, namun mempunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemis, seperti diabetes, namun sebenarnya merupakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan matang ketika orang memasuki dekade ke tujuh. Katarak dapat bersifat kongenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangna penglihatan permanen. Faktor yang paling sering yang berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultraviolet B, obat-obatan, alkohol, merokok, diabetes, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu lama. 3.4 Manifestasi Klinis Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif. Biasanya pasien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau dan gangguan fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan karena kehilangan penglihatan tadi. Temuan objektif biasanya meliputi pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan kabur atau redup, menyilaukan yang menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di

KKS Ilmu Penyakit Mata

10

REFARAT

KATARAK

amlam hari. Pupil yang normalnya hitam, akan tampak kekuningan, abu-abu atau putih. Katarak biasanya terjadi bertahap selama bertahun-tahun, dan ketika katarak sudah sangat memburuk, lensa koreksi yang lebih kuat pun tak akan mampu memperbaiki penglihatan. Orang dengan katarak secara khas selalu mengembangkan strategi untuk menghindari silau yang menjengkelkan yang disebabkan oleh cahaya yang salah arah. Misalnya ada yang mengatur ulang perabot rumahnya sehingga sinar tidak akan langsung menyinari mata mereka. Ada yang mengenakan topi berkelepak lebar atau kacamata hitam dan menurunkan pelindung cahaya saat mengendarai mobil pada siang hari.

3.5 Evaluasi Diagnostik Selain uji mata yang biasa, keratometri, dan pemeriksaan lampu slit dan oftalmoskopis, maka A-scan ultrasound (echography) dan hitung sel endotel sangat berguna sebagai alat diagnostik, khususnya bila dipertimbangkan akan dilakukan pembedahan. Dengan hitung sel endotel 2000 sel/mm3, pasien ini merupakan kandidat yang baik untuk dilakukan fakoemulsifikasi dan implantasi IOL.

3.6 Penatalaksanaan Tak ada terapi obat untuk katarak, dan tak dapat diambil dengan pembedahan laser. Namun masih terus dilakukan penelitian mengenai kemajuan prosedur laser baru yang dapat digunakan untuk mencairkan lensa sebelum dilakukan pengisapan keluar melalui kanula (Pokalo, 1992).

KKS Ilmu Penyakit Mata

11

REFARAT

KATARAK

Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi kuat sampai ke titik dimana pasien melakuakan aktivitas hidup sehari-hari, maka penanganan biasanya konservatif. Penting dikaji efek katarak terhadap kehidupan sehari-hari pasien. Mengkaji derajat gangguan fungsi sehari-hari, seperti berdandan, ambulasi, aktivitas, rekreasi, menyetir mobil, dan kemampuan bekerja, sangat penting untuk menentukkan terapi mana yang paling cocok bagi masing-masing penderita. Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan akut untuk bekerja ataupun keamanan. Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam penglihatan yang terbaik yang tercapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi, bila ketajaman pandang mempengaruhi keamanan atau kwalitas hidup, atau bila visulisasi segmen posterior sangat perlu untuk mengevaluasi perkembangan berbagai penyakit retina atau saraf optikus, seperti pada diabetes atau glukoma. Pembedahan katarak adalah pembedahan yang paling sering dilakukan pada orang berusia lebih dari 65. Masa kini, katarak paling ering diangkat dengan anestesia lokal berdasarkan pasien rawat jalan, meskipun pasien perluh di rawat bila ada indikasi medis. Keberhasilan pengembalian penglihatan yang bermanfaat dapat dicapai pada 95 % pasien. Pengembalian keputusan untuk menjalani pembedahan sangat individual sifatnya. Dukungan finansial dan psikososial dan konsekwensi pembedahan harus dievaluasi, karena sangat penting untuk penetalaksanaan pasien pascaoperasi. Kebanyakan operasi dilakukan dengan anestesia lokal ( retrobulbar atau peribulbar, yang dapat mengimobilisasi mata. Obat pengilang cemas dapat diberikan untuk mengatasi perasaan klaustrofobia sehubungan dengan draping bedah. Anestesi umum diperlukan bagi yang tidak biasa menerima anestesia lokal, yang tidak mampu bekerja sama dengan alasan fisik atau psikologis, atau yang tidak berespon terhadap anestesia lokal.

KKS Ilmu Penyakit Mata

12

REFARAT

KATARAK

Ada dua macam teknik pembedahan tersedia untuk pengangkatan katak: ekstrasi intrakapsuler dan ekstrasikapsuler. Indikasi intervensi bedah adalah hilangnya penglihatan yang mempengaruhi aktivitas normal pasien atau katarak yang menyebabkan glukoma atau mempengaruhi diagnosis dan terapi gangguan okuler lain, seperti retinopati diabetika.

3.6.1 Ekstraksi Katarak Intrakapsuler Ekstraksi intrakapsuler (ICCE, intracapsular cataract extraction ) adalah pengangkatan seluruh lensa sebagai satu kesatuan. Setelah zonula dipisahkan, lensa diangkat dengan cryoprobe, yang diletakkan secara langsung paa kapsula lentis. Bedah beku berdasar pada suhu pembekuan untuk mengangkat suatu lesi atau abnormalitas. Instrumen bedah beku bekerja dengan prinsip bahwa logam dingin akan melekat pada benda yang lembab. Ketika cryoprobe diletakkan secara langsung pada kapsula lentis, kapsul akan melekat pada probe. Lensa kemudian diangkat secara lembut. Yang dahulu merupakan cara pengangkatan katarak utama, ICCE sekarang jarang dilakukan karena tersedianya teknik bedah yang lebih canggih.

3.6.2 Ekstraksi Katarak Ektrakapsuler (ECCE) Nukleus dan korteks diangkat dari kapsul dan menyisakan kapsula posterior yang utuh, bagian perifer dari kapsula anterior, dan zonula zinii. Teknik ini selain menyediakan lokasi untuk menempatkan IOL, juga dapat dilakukan pencegahan prolaps vitreus dan sebagai pembatas antara segmen anteror dan posterior. Sebagai hasilnya, teknik ECCE dapat menurunkan kemungkinan timbulnya komplikasi seperti vitreus loss, edem kornea, dll. Ada 3 jenis operasi ECCE, yaitu :

KKS Ilmu Penyakit Mata

13

REFARAT

KATARAK

a. Konvensional Pada teknik ini, insisi dilakukan di kornea dan dibuat cukup lebar, yaitu sekitar 1200. Hal ini mengakibatkan perubahan kurvatura kornea yang cukup hebat pascaoperasidan dapat terjadi astigmatisma irregular.

b. Small Incision Pada teknik ini, insisi dilakukan di sclera dan dibuat sekitar 6 mm. Insisi dibuat 3 tahap seperti terowongan (tunnel incision). Keuntungannya adalah konstruksi irisan pada sclera kedap air sehingga membuat sistem katup dan isi bola mata tidak mudah prolaps keluar. Dan karena insisi yang dibuat ukurannya lebih kecil dan lebih ke posterior, kurvatura kornea hanya sedikit berubah.

c. Phacoemulsification Merupakan suatu teknik yang lebih canggih dibanding jenis ECCE lainnya. Pasa teknik ini, nukleus lensa dipecah- pecah (intraokular) dengan menggunakan frekuensi tinggi (40.000 MHz) kemudian dihisap keluar dari mata melalui suatu insisi yang dibuat sangat kecil (3.2 mm). Kemudian sejenis IOL yang terlipat dimasukkan ke bilik mata posterior melalui insisi yang sama. Keuntungan dari operasi ini adalah dapat digunakan pada pasien yang visusnya masih baik karena insisi yang dibuat sangat kecil tidak menimbulkan perubahan kurvatura korneayang besar, penyembuhannya juga jauh lebih cepat disbanding teknik ECCE yang lain. Implan Lensa Intraokuler (IOL) ( IOL ) memberikan alternatif bagi lensa apakia yang tebal dan berat untuk mengoreksi penglihatan pascaoperasi. Implan IOL telah menjadi pilihan koreksi optikal karena semakin halusnya teknik bedah mikro dan kemajuan rancang bangun IOL. IOL adalah lensa permanen plastik yang secara bedah diimplantasi ke dalam
KKS Ilmu Penyakit Mata 14

REFARAT

KATARAK

mata. Mampu menghasilkan bayangan dengan bentuk dan ukuran normal. Karena IOL mampu menghilangkan efek optikal lensa apakia yang menjengkelkan dan ketidakpraktisan pengguna lensa kontak, maka hampir 97 % pembedahan katarak ( lebih dari seribu tiap tahun ) dilakukan bersamaan dengan pemasangan IOL. Kemajuan teknisi lensa yang dapat dilipat saat pemasangan, memungkinkan pemasangan melalui inisisi yang lebih kecil yang dibuat untuk fakoemulsifikasi sementara ukuran lensanya tetap seperti semula saat pemasangan selesai. Pemasangan lensa ini dapat dilakukan hanya dengan satu jahitan atau tanpa jahitan sama sekali. Sekitar 95 % IOL ipasang di kamera poterior, dan yang 5 % sisanya di kamera anterior. Lensa kamera anterior dipasang pada pasien yang menjalani ekstraksi intrakapsuler atau yang kapsul posteriornya ruptur tanpa sengaja selama prosedur ekstrakapsuler. Kombinasi ekstraksi ekstrakapsuler dan pemasangan lensa posterior lebih disukai karena lebih tidak menimbulkan komplikasi yang membahayakan penglihatan. Banyak pasien yang masih memerlukan koreksi refraksi setelah pemasangan IOL untuk pandangan dekat. Ada beberapa kontraindikasi pemasangan IOL, termasuk uveitis berulang, retinopati diabetika proliferatif, dan glukoma neovaskuler. Maka bila fasilitas tersedia, teknik ini merupakan suatu pilihan utama dari operasi katarak.

KKS Ilmu Penyakit Mata

15

REFARAT

KATARAK

Teknik Fakoemulsifikasi Sumber: Ophtalmology-a Pocket Textbook Atlas edisi ke2

3.6.3 Kaca Mata Apakia Mampu memberikan pandangan sentral yang baik. Namun pembesaran 25 % sampai 30 %, menyebabkan penurunan dan distorsi pandangan perifer, yang menyebabkan kesulitan dalam memahami relasi spasial, membuat benda-benda nampak jauh lebih dekat dari yang sebenarnya. Kaca mata ini juga menyebabkan aberasi sferis, mengubah garis lurus menjadi
KKS Ilmu Penyakit Mata 16

REFARAT

KATARAK

lengkung. Pandangan binokuler tidak dapat dilakukan kecuali kedua lensa telah diangkat dari mata. Memerlukan waktu penyesuaian yang lama sampai pasien mampu mengkoordinasikan gerakan, memperkirakan jarak, dan berfungsi aman dengan medan pandangan yang terbatas. Kaca mata apakia sangat tebal dan merepotkan dan membuat mata kelihatan sangat besar. 3.6.4 Lensa Kontak jauh lebih nyaman dari kaca mata apakia. Tidak terjadi pembesaran yang bermakna ( 5% sampai 10 % ), tidak terdapat aberasi sferis, tidak ada penurunan lapang pandang dan tidak ada kesalahan orientasi spasial. Lensa jenis ini memberikan rehabilitasi visual yang hampir sempurna bagi mereka yang mampu menguasai cara memasang, melepas dan merawat dan bagi mereka yang mengenakkannya dengan nyaman. Kebanyakan lansia mengalami kemunduran ketrampilan tangan, sehingga perawatan higienik lensa kontak harian menjadi sulit. Pada beberapa pasien, lensa jangka panjang dapat memberikan alternatif yang beralasan, namun, lensa jangka panjang memerlukan kunjungan berkala untuk pengelepasan dan pembersihan. Harganya juga mahal dan sering diganti karena hilang atau sobek. Kerugian lainnya adalah meningkatnya resiko keratitis infeksiosa. 3.7 perawatan pascaoperasi Jika digunakan teknik insisi-kecil, masa penyembuhan pascaoperasi biasanya lebih pendek. Pasien umumnya boleh pulang pada hari operasi, tetapi dianjurkan untuk bergerak dengan hati-hati dan menghindari peregangan atau mengangkat benda berat selama sekitar satu bulan. Matanya dapat di balut pada hari operasi. Perlindungan pada malam hari dengan pelindung logam sering kali di sarankan selama beberapa hari pascaoperasi. Kacamata sementara dapat digunakan beberapa hari setelah operasi, tetapi kebanyakan pasien dapat melihat cukup baik melalui lensa intraocular sambil menunggu kacamata permanen (biasanya disediakan 4-8 minggu setelah operasi).
KKS Ilmu Penyakit Mata 17

REFARAT

KATARAK

3.8 Komplikasi pascaoperasi Meskipun terjadi perbaikan pengembalian ke pandangan penuh yang sempurna pada ekstraksi katarak dan implantasi IOL, ada juga komplikasinya. Kerusakan endotel kornea, sumbatan pupil, glaukoma, perdarahan, fistula luka operasi, edema makula sistoid, pelepasan koroid, uveitis, dan endoftalmitis. Dapat di lubang posisinya kembali dengan pemberian tetes mata dilator, diikuti pemberian posisi pada kepala, dan diakhiri dengan tetes mata konstriktor, atau pasien memerlukan pembedahan lagi untuk meresposisi atau mengankat IOL. Komplikasi yang namun terjadi pada pembedahan adalah pembentukan membran sekunder, yang terjadi sekitar 25 % pasien dalam 3 sampai 36 bulan setelah pembedahan. Membran yang terbenruk sering di salah artikan dengan opasifikasi kapsul posterior atau katarak sekunder. Membran ini berbentuk sebagai akibat proliferasi sisa epitel lensa. Dapat mempengaruhi penglihatan dengan mengganggu masuknya cahaya dan meningkatkan terjadinya disabilitas silau. Dapat dibuat lubang melalui membran (kapsulotomi) dengan jarum atau laser (laser Yag) untuk mengembalikan penglihatan. Pembedahan katarak biasanya dilakukan dengan dasar pasien rawat jalan. Bila pasien menderita katarak bilateral yang memerlukan ECCE, hanya satu prosedur yang boleh dilakukan pada saat itu. Kemudian pasien dianjurkan menunggu 6 sampai 8 minggu untuk pembedahan kedua. Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah. Setelah periode penyembuhan pascaoperasi yang singkat setelah ekstraksi katarak dan implantasi IOL, pasien dipulangkan dengan disertai instruksi mengenai obat mata, pembersihan dan perlindungan, tingkat dan pembatasan aktivitas, diet, pengontrolan nyeri, pemberian posisi, janji kontrol, proses pascaoperatif yang diharapkan, dan gejala yang harus dilaporkan segera kepada ahli bedah.

KKS Ilmu Penyakit Mata

18

REFARAT

KATARAK

Sebaiknya pendidikan ini diperkuat pascaoperasi dan pengaturan perawatan di rumah harus di susun dengan baik. Pasien dianjurkan telah menyusun cara transportasi untuk pulang, perawatan pada sore harinya, dan transportasi untuk kunjungan tindak lanjut ke ahli bedah berikutnya. Menentukan perlunya alat bantu kesehatan di rumah sangan penting sebelum pembedahan. Pasien biasanya cepat kembali ke aktivtas harian normal. Namun, membungkuk dan mengangkat beban berat harus dibatasi sampai sekitar 1 minggu, tergantung jenis pembedahan yang dilakukan. Tameng mata dipakai pada malam hari dan kacamata (kaca mata hitam ketika berada di luar rumah dengan cahaya terang) pada siang hari perlu untuk 2 minggu untuk melindungi mata dari cedera. Perlunya perlindungan ini harus ditekankan karena kebanyakan pasien yang menjalani pengangkatan katarak adalah manula dan berisiko jatuh; trauma tumpul pada mata dapat menyebabkan ruptur bola mata, mengakibatkan kehilangan penglihatan. Pasien biasanya mendapatkan resep kacamata dalam 6 sampai 8 minggu setelah pembedahan.

KKS Ilmu Penyakit Mata

19

REFARAT

KATARAK

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Katarak adalah perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina. Katarak ada beberapa jenis menurut etiologinya yaitu katarak senile, kongenital, traumatic, toksik, asosiasi, dan komplikata. Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala katarak tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Kadang kala cukup dengan mengganti kacamata. Karena kekeruhan (opasitas) lensa sering terjadi akibat bertambahnya usia sehingga tidak diketahui pencegahan yang efektif untuk katarak yang paling sering terjadi. Karena kekeruhan (opasitas) lensa sering terjadi akibat bertambahnya usia sehingga tidak diketahui pencegahan yang efektif untuk katarak yang paling sering terjadi. Penggunaan pelindung mata ketika memotong rumput, membersihkan semak dan kandang, bekerja dengan logam atau berpartisipasi dalam olah raga dapat menurunkan insiden terjadinya katarak traumatic dengan pencegahan terhadap cedera, perawatan secara teratur pada DM, hipoparatiroid, dan edermatitis atopik dapat mengurangi insiden terjadinya katarak yang berhubungan dengan penyakit sistemik ini. Disarankan agar banyak mengkonsumsi buahbuahan yang banyak mengandung vit.C ,vit.A dan vit E.

KKS Ilmu Penyakit Mata

20

REFARAT

KATARAK

DAFTAR PUSTAKA 1. Voughan & Asbury. Oftalmologi umum , Paul Riordan-eva, John P. Whitcher edisi 17 Jakarta : EGC, 2009 2. Brunner, Lilian Sholtis dan Doris Smith Suddarth. 2001. Medikal-Bedah.Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta 3. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Bag/SMF Ilmu Penyakit Mata. Edisi III penerbit Airlangga Surabaya. 2006. 4. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 2007. 5. Katarak, available: http://ryrilumoet.blogspot.com/2010/04/makalah-komunitaspenyakit-degeneratif.html. 2012 6. Katarak, available : http://id.wikipedia.org/wiki/Katarak . 2012

KKS Ilmu Penyakit Mata

21