Anda di halaman 1dari 15

Nama : Dewi Lathifah NPM : 09310134 P

1. OVARIUM Jumlahnya sepasang, berada dalam rongga tubuh yang ditunjang oleh alat penggantung (mesovarium). Ukuran serta bentuk ovaria pada hewan muda dengan yang dewasa menunjukkan perbedaan yang sangat jelas. Ovaria dapat dianggap sebagai kelenjar ganda, yakni : Kelenjar eksokrin karena menghasilkan ova, dan kelenjar endokrin karena pada periode tertentu menghasilkan hormon estrogen (folikel the graaf) progesteron (korpus luteum) dan relaksin (korpus luteum). Struktur histologi bangun ovaria dewasa berubah-ubah tergantung pada siklus kelamin, tetapi bangun umum pada mamalia secara garis besarnya hampir sama, sedangkan pada kuda dan ayam agak menyimpang. Begitu pula bangun ovaria muda dan dewasa juga berbeda. Strukutur histologi nya sebagai berikut :

Kapsula :
Epithel kecambah (germinal epithelium). Pada hewan muda bangun epithel kubis atau silindris rendah tapi pada yang dewasa kubis rendah. Hampir seluruh permukaan ovaria dibalut oleh epithel kecambah, kecuali daerah hilus ovari yang dibalut oleh peritoneum. Pada kuda sebagian besar ovarium dibalut oleh peritoneum, hanya sebagian kecil disebut ovulation fossa dibalut oleh epithel kecambah. Tunika albuginea, disusun atas jaringan ikat kolagen tanpa serabut elastis dan retikuler, sedikit mengandung sel, letaknya langsung dibawah epithel kecambah. Korteks : Disebut juga Korteks ovarii atau Zona parenchymatosa, letaknya dibagian perifer ovarium langsung dibawah tunika albuginea, kecuali pada kuda yang

terletak di sebelah bagian dalamnya. Pada korteks terdapat stroma kortikalis dan parenkhim yang terdiri dari folikel pada berbagai stadia. Stroma kortikalis terdiri atas jaringan ikat yang banyak mengandung sel bebas serabut elastis. Serabut kolagen dan retikuler terdapat didalamnya. Sel stroma yang tersebar dan saling mengelompok, diduga bukan fibroblast melainkan sel khusus disebut sel interstitial. Sel tersebut mudah berdiferensiasi, prolifrasi dan menyimpan bahan lemak serta zat warna. Dalam keadaan darurat mampu berubah menjadi makrofag, ataupun menjadi sel glandula, misal pada teka interna dan korpus luteum. Pada hewan betina sel interstitial terlebih dahulu berdifrensiasi dan baru bersekresi. Stroma ovarii pada kuda sering mengandung sel berpigmen, tetapi semakin tua hewan semakin sedikit selnya. Pada stroma kortikalis tersebar follikel yang pada hewan dewasa terdapat pada berbagai stadia. Pada hewan multipara (anjing, kucing dan babi) follikel sering mengelompok, tetapi pada unipara (kuda, sapi dan kerbau) tersebar secara merata. Penelitian yang dilakukan pada anjing menunjukkan bahwa pembentukan follikel berlangsung hampir sepanjang hidupnya, melalui invaginasi epithel kecambah menembus tunika albuginea.

Folikel primordial
Pada hewan yang baru lahir folikel seluruhnya adalah folikel premordial. Folikel yang belum memasuki siklus pada hewan dewasa sering disebut folikel premordial juga, untuk membedakan dengan folikel primer yang telah memasuki siklus. Folikel ini terdiri dari sel telur (oogonium) membran basal yang cukup tipis dan sel folikel (sel granulosa) berbentuk pipih selapis. Membran basal merupakan batas antara folikel dengan stroma kortikalis. Diameter oogonium 30-50 , inti besar, aparatus golgi, mitokhondria dan endoplasmik retikulum yang jelas.

Folikel primer

Folikel ini telah memasuki siklus, dan dibawah pengaruh hormon FSH dari hiphofisa terjadi proses pertumbuhan. Pembesaran diameter dari seluruh komponen folikel disebabkan oleh perubahan pada : Sel telur yang membesar karena intinya sedikit membesar akibat kromatin bertambah, sitoplasma khususnya kuning telur (para plasma) bertambah secara bertahap sel telur yang sedang berkembang ini disebut oosit primer. Sel-sel follikel turut berkembang yang tadinya berbentuk pipih selapis, berubah menjadi kubis sebaris. Membran basal masih tetap tipis. Folikel Sekunder Periode ini disebut Growing follicle dibedakan tiga stadium, yakni : 1.Stadium permulaan Oosit primer terus berkembang, sel folikel mulai berkembang biak sehingga tampak dua lapis. Di luar selaput vitelin mulai terjadi zona pelusida yang dihasilkan oleh sel folikel. Di sebelah dalam selaput vitelin kuning telur bertambah banyak, membran basal sedikit menebal. Penambahan diameter keseluruhan follikel, demikian juga oosit primer. 2.Stadium pertengahan Perkembangan oosit primer terus berjalan, dengan bertambahnya kuning telur posisi inti yang sentris mulai bergeser agak ke tepi. Zona pelusida agak menebal dan sel folikel berlapis mencapai tiga sampai enam lapis. Membran basal agak menebal. 3.Stadium akhir

Perkembangan oosit primer berakhir, zona pelusida tebal. Sel follkel yang ada ditengah mulai tampak tanda degenerasi yang berakhir dengan hancur (lisis) sehingga terbentuk rongga sebagai permulaan dari antrum folikuli.

Folikel Tertier
Seperti halnya dengan follikel sekunder, stadium ini dibagi dalam 3 sub stadium : 1.Stadium permulaan Perkembangan oosit primer telah berhenti, zona pellusia sudah cukup tebal. Sel-sel follikel yang mengitari zona pellusida mulai teratr letaknya. Pada waktu yang bersamaan sel follikel yang terdapat ditengah berdegenerasi, handur dan membentuk antrum follikuli yang baru. Antrum follikuli yang telah terbentuk mulai meluas dan berisi cairan Liquor follikuli. Membran basal tetap ada, sel-sel stroma diluar membran basal berdiferensiasi menjadi sel-sel theca folliculi. 2.Stadium pertengahan Pada stadium ini diduga oosit primer telah memasuki stadium pemasukan pertama dan mengeluarkan benda kutub (polosit) pertama. Dengan demikian sel telur disebut oosit sekunder. Sel folikel yang langsung mengelilingi zona pelusida telah teratur letaknya disebut : Corona radiata. Diluar corona radiata, sel folikel selanjutnya disebut sel granulosa, membentuk dinding antrum folikuli. Dengan bergabungnya antrum folikuli dan bertambahnya liquor folikuli maka posisi sel telur terhadap folikel jadi semakin eksentris. Pertautan sel telur dengan dinding folikel berlangsung melalui susunan sel granulosa berbentuk tangkai disebut : Kumulus ooforus. Pada mamalia lazimnya hanya sebuah tetapi pada kelinci terdapat beberapa buah disebut : Retinakulum. Membran basal yang memisahkan sel granulosa dan sel teka folikuli, selanjutnya disebut: Membran skhalavianski. Teka foliculi terdiri atas : Teka interna dan teka eksterna. Teka interna terdiri disusun oleh jaringan ikat

dengan sel epitheloid mengandung butiran didalamnya, diduga menjadi sumber hormon estrogen. Pembuluh darah banyak terdapat didalamnya berbentuk kapiler. Sebagian dari hormon estrogen memasuki pembuluh darah dan sebagian lain menembus sel jaringan ikat dengan sel memanjang mengelilingi folikel. Perubahan teka eksterna dengan stroma kortikalispun tidak jelas. 3.Stadium terakhir Stadium ini sering dikenal sebagai : Folikel renier de graaf suatu folikel yang sudah siap mengalami ovulasi. Keadaannya hampir sama dengan substadium sebelumnya, hanya pada yang terakhir ini terdapat adanya stigma, berupa dinding folikel yang paling tipis yang nantinya akan pecah dan merupakan jalan keluar bagi oosit sekunder. Follikel atretis (Korpora atretika) Selama folikel primordial berkembang menjadi folikel de graaf banyak mengalami kematian. Kematian folikel pada berbagai stadia dimulai dengan degenerasi pada oosit yang disusul dengan sel granulosa. Sebaliknya sel teka ber frolifrasi menyerap sisa folikel dan selanjutnya mengisinya. Proses atresia berbeda untuk tiap jenis hewan. Secara mikroskopis tampak adanya masa sel yang mengandung lemak diantara folikel pada stroma ovari. Kasus atresia pada stadium muda lebih mudah lenyap dari pada stadium lanjut yang biasa memakan waktu agak lama. Ovulasi adalah: Peristiwa pecahnya folikel de graaf dan terlemparnya ovum dari ovarium. Oosit sekunder yang terlempar keluar selanjutnya ditangkap oleh fimbriae dari tuba falopii, kemudian menuju uterus.

Korpus Luteum
Korpus luteum (Yellow body) mulai terbentuk setelah folikel mengalami ovulasi, pembentukan ini berlangsung terus sampai sempurna, apabila terjadi kebuntingan (korpus luteum gravidiatatum), tetapi apabila tidak terjadi pembuahan pembentukan korpus luteum terhenti, sehingga terjadi korpus albikans atau korpus fibrosum, Korpus luteum

periodikum albikans adalah bentuk degenerasi dari korpus luteum yang fungsional. Letaknya lebih dalam dan ukurannya besar, sehingga hilangnya lambat. Sel luteum masih tampak meskipun sedikit dengan butir sekreta didalamnya. Warna kuning disebabkan oleh adanya pigmen lutein yang terkandung dalam sel pembentuk parenkhim. Lutein terdapat pada korpus luteum kuda, sapi, karnivora dan manusia. Pada domba, kambing dan babi pigmen lutein tidak ada sehingga warna korpus luteum jadi putih kelabu. Korpus luteum tergolong kelenjar endokrin dan menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi memelihara kelangsungan kebuntingan. Medula ovari Sering disebut : Zona vaskulosa, karena banyak mengandung pembuluh darah. Stroma ovari di daerah medula berubah menjadi jaringan ikat fibro-elastis yang banyak mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf, terdapat pula otot polos yang berhubungan dengan muskulator dari ligamentum suspensorium. Adanya sel interstitial pada kucing dan rodensia diduga menghasilkan hormon ovarium. Didaerah pertautan mesobarium dilaporkan adanya sel yang mirip dengan sel interstitial hewan jantang yang disebut : Sel hilus yang menghasilkan androgen. Pada karnivora dan ruminansia dekat mesovarium sering terlihat sisa dari rete ovari, sisa mesonefros yakni efooforon dan parooforon. Sisa mesonefros tersebut berbentuk saluran berliku-liku dengan ujung yang buntu. Epithelnya pipih selapis, pada epooforon silindris bersilia keduanya kadang membentuk kista. 2. ALAT PENYALUR 2.1 Tuba Uterina (Salping, tuba falopii, oviduktus) Pada mammalia terdapat sepasang yang berfungsi sebagai : Menangkap oosit sekunder yang diovulasikan (oleh fimbriae), memberi lingkungan yang baik untuk pembuahan dan menyalurkan oosit sekunder atau embrio menuju uterus.

Secara morfologis dibagi menjadi : Infundibulum dan fimbriae, ampulla dan istmus. Bangun umum ketiga daerahnya hampir sama hanya berbeda dalam struktur selaput lendirnya serta ketebalan lapisan otot. Mukosa daerah ampula membentuk lipatan komplek dengan adanya lipatan primer, sekunder dan tertier. Semakin menuju uterus bentuk lipatan semakin sederhana dan rendah. Lamina epitelialis terdiri atas epitel silindris sebaris, kecuali pada ruminansia dan babi yang memiliki daerah epitel silindris banyak baris. Pada epitel terdapat dua macam sel yang berbeda, yakni : Sel yang memiliki silia yang aktif bergetar menjelang oosit lewat. Tipe sel ini menjamin kelancaran transport oosit embrio menuju uterus. Sel tanpa silia banyak mengandung butir sekreta didalamnya, diduga menghasilkan sekreta yang bersifat nutritif bagi embrio. Aktivitas epithel ini ternyata sejalan dengan aktivitas seluruh saluran kelamin meskipun tidak sehebat uterus. Lamina propria terdiri atas jaringan ikat longgar dengan banyak sel dan serabut retikuler. Serabut otot polos sering tampak didalamnya. Sub mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar berbatasan langsung dengan mukosa sebab muskularis mukosa tidak ada. Tunika muskularis pada lapis dalamnya tersusun melingkar dan lapis luarnya longitudinal. Diantaranya terdapat jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah yang dikenal sebagai stratum vaskulare. Pada bibir infundibulum atau fibriae otot polos hampir tidak tampak atau hanya soliter. Semakin menuju uterus lapis otot polos semakin jelas bahkan membentuk dua lapis yang berbeda susunannya. Tunika muskularis dengan gerakan peristaltiknya bertugas mendorong oosit atau embrio menuju uterus. Serosa terdiri dari mesothelium dan subserosa. Serosa ini merupakan kelanjutan dari serosa yang membalut alat penggantung tuba uterina (mesosalpinx). 2.2 Uterus (= Rahim)

Bentuk uterus pada berbagai hewan piara tidak sama, hal ini berhubungan dengan perkembangan embriologi. Perbedaannya terletak pada derajat penyatuan bagian kaudal buluh Muller. Secara umum uterus dibagi dalam 4 bagian yaitu : Uterus simplex : uterus hanya satu, ditemukan pada primata (bangsa kera) termasuk manusia. Uterus dupleks (uterus bipartius) : tipe ini memiliki dua uterus yang terpisah, sehingga memiliki dua serviks yang masing-masing bermuara kedalam uterus. Tipe ini terdapat pada rodentia seperti : kelinci dan marmut. Uterus Bipartius : mempunyai dua buah kornu yang panjang, yang bersatu di daerah istmus dekat servik, kemudian bermuara pada vagina tunggal. Tipe ini terdapat pada : karnivora dan babi. Uterus Bikornis : Kornua uteri yang tidak begitu panjang, karena penyatuan korpus uteri berlangsung agak jauh dari servik. Servik hanya sebuah dan bermuara kedalam vagina. Tipe ini terdapat pada : kuda dan ruminansia. Struktur histologi : a. Endometrium Istilah yang diberikan untuk mukosa dan submukosa, karena muskularis mukosa memang tidak ada. Lamina epithelialis terdiri atas epitel silindris sebaris, pada babi dan ruminansia sering tampak adanya bentuk epithel silindris banyak baris. Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang hanya mengandung sel disebut Stratum selulare, dibawahnya terdapat lapis jaringan ikat longgar dengan sedikit sel disebut : Zona spongiosa. Pada waktu birahi (estrus) zona spongiosa mengandung banyak cairan sehingga menggembung (edematus), sebaliknya setelah estrus pada ruminansia besar dan anjing sering terjadi perdarahan kecil dan berakhir pada diestrus. b. Karunkula (carunculae)

Merupakan penonjolan endometrium, bersifat bebas kelenjar dan banyak mengandung sel jaringan ikat dan pembuluh darah. Dengan pewarnaan HE daerah ini kuat mengambil zat warna sehingga tampak jelas. Pada uterus yang tidak bunting karunkula ini kecil, tapi pada yang bunting sangat membesar, bahkan pada sapi dapat sebesar ketan, jumlahnya tidak tentu, berkisar antara 60-120 buah. Pada uterus bunting khorion melekat bahkan membenamkan vili kedalamnya. Submukosa terdiri atas jaringan ikat longgar dengan sedikit sel jadi jelas dapat dibedakan dengan tunika propria. Sebagian besar kelenjar dari uterus (glandula uterina) terdapat dalam submukosa khsusnya ujung kelenjar, sebagian alat penyalurnya terdapat pada tunika propria. Bangun kelenjarnya adalah tubulus sederhana dengan ujung kelenjar menggulung, keadaan kelenjar sangat dipengaruhi oleh siklus kelamin. c. Myometrium Sebagai pengganti istilah tunika muskularis mukosa, terdiri atas otot polos yang tersusun secara melingkar sebelah dalam dan memanjang sebelah luar. Diantaranya terdapat stratum vaskulare. Pada uterus yang pernah bunting stratum vaskulare ini memiliki pembuluh darah yang besar, lebih jelas dari uterus dara. Perimetrium (serosa), lapis luar merupakan kelanjutan dari peritoneum (serosa) hanya saja sub serosa relatip tebal dan mengandung otot polos membentuk alat penggantung uterus (ligamentum lata uteri). 2.3 Servik. Merupakan pintu gerbang antara uterus dan vagina. Bangun umum hampir mirip dengan uterus, selaput lendirnya (sesuai dengan peranannya) membentuk lipatan primer, sekunder dan tersier. Epithelnya silindris sebaris, tetapi bersifat sekretoris menghasilkan lendir. Beberapa sel tampak memiliki silia. Tunika propria terdiri atas jaringan ikat longgar, dan pada waktu estrus bersifat odematus, pada submukosa terdapat kelenjar (anjing dan kambing), bersifat tubulus dan

mukus. Tunika muskularis yang sirkuler tebal, bahkan berlapis-lapis dibatasi oleh jaringan ikat, lapis lungitudinal bersatu dengan vagina. Serosa merupakan kelanjutan dari uterus mengandung lebih sedikit sel otot polos tapi lebih banyak mengandung ujung saraf perifer. Fungsi : servik uteri tertutup rapat pada waktu hewan bunting, disertai dengan lendir berwarna kuning yang mengental (mucusplug). Servik terbuka pada waktu partus atau sedang birahi. 2.4 Vagina Vagina berbentuk buluh terbuka, dibagian kranial berbatasan dengan servik uteri dan dibagian kaudal adalah vestibulum vulva. Sebagian kecil (kranial) vagina terdapat dalam rongga perut yang dibalut oleh serosa, dan sisi selebihnya terdapat dalam ruang pelvis dibalut oleh adentitia. Sebagaimana pada saluran kelamin yang lain, vagina pun mengikuti perubahan sesuai dengan siklus kelamin. Perubahan mana tampak jelas pada epithel vagina yang penting untuk identifikasi siklus kelamin khusunya pada rodensia dan karnivora. Fungsi vagina adalah : pada waktu kopulasi menerima penis serta pancaran air mani setelah ejakulasi berlangsung. Struktur histologi: Mempunyai epithel pipih banyak lapis, pada pengenalan siklus kelamin epitel ini mendapat sorotan khusus. Pada ruminansia besar epithel vagina kranial sering tampak adanya sel mangkok, yang jelas dan besar pada waktu esterus, sel ini penghasil lendir, dikeluarkan pada waktu metestrus. Pertandukan (keratinization) pada permukaan epithel pada ruminansia besar tidak jelas, hanya sel permukaan jumlahnya meningkat. Pada karnivora anjing pertandukan tampak jelas pada waktu estrus, banyak sel permukaan lepas dan tercampur dengan eritrosit berasal dari endometrium.

Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang langsung berbatasan dengan sub mukosa, semakin menuju vestibulum jumlah folikel getah bening semakin meningkat, pembuluh darah banyak terdapat didalamnya. Sub mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar yang lebih sedikit mengandung sel jaringan ikat Tunika muskularis terdiri atas lapis melingkar dan memanjang. Pada anjing tampak adanya tiga lapis yakni lapis longitudinal luar dan dalam dan lapis melingkar disebelah dalam, pada hewan piara yang lain lapis longitudinal dalam jarang tampak. Tunika adventitia terdiri atas jaringan ikat longgar yang mengandung sel lemak, pembuluh darah pembuluh limfe dan folikel getah bening serta kelenjar di daerah vestibulum. Serosa hanya tampak dibagian kranial. 3 Alat Kelamin Luar (Genitalia externa) 3.1 Vestibulum Vestibulum merupakan daerah perbatasan antara vagina dan vulva. Daerah yang berbatasan dengan vagina ditandai dengan adanya selaput dara (himen), selaput dara jelas berkembang pada manusia tapi pada hewan piara kurang jelas, hanya berupa sedikit kenaikan mukosa. Daerah permuaraan urethra betina dianggap daerah perbatasan antara vagina dan vestibulum. Glandula vestibulares mayor dan minor bermuara di daerah vestibulum, bahkan didaerah ini sering tampak sisa (vestige) saluran limfe, dari masa kehidupan embrional. Struktur histologi : o Lamina epithelialis terdiri atas epithel pipih banyak lapis yang juga mengikuti perubahan siklus kelamin, sebagaimana terjadi pada vagina. Infiltrasi leukosit sering tampak pada epithel. Pada kuda dan sapi sering membentuk lipatan berbentuk buluh mirip lakuna dari morgagni pada urethra.

o Lamina propria terdiri atas jaringan ikat longgar membentuk papil mikrsokopik dan mengandung banyak serabut elastis, limponodulus banyak terdapat didalamnya, bahkan pada ruminansia besar sangat mencolok. Lebih dalam lagi terdapat pleksus venosus dan kelenjar vestibularis mayor jelas pada ruminansia besar, kucing dan kadang-kadang domba. Pada manusia cukup subur disebut kelenjar Bartholini. o Glandula vestibularis minor tampak pada anjing, kucing, domba, babi dan kuda terletak lebih superfisial dan tersebar. Pada kucing dan domba banyak terdapat sekitar klitoris, kedua kelenjar tersebut bersifat tubuloasinus majemuk dengan sel ujung kelenjar bersifat mukous. Kelenjar ini bermuara dibagian lateral dari vestibulum. Khususnya pada anjing dan kuda dikenal istilah Bulbus vestibuli berupa kavernous yang berkembang mirip korpus kavernosum urethrae terdapat pada dinding lateral vestibulum. Bulbus vestibuli sering memiliki kapsula yang cukup jelas, pada waktu kopulasi khususnya anjing mungkin bulbus vestibuli ini ikut berperan dalam menahan bulbus glandis penis. Pada hewan lain kaverneus tidak begitu subur pertumbuhannya. o Sub mukosa sifat jaringan ikatnya lebih longgar dari tunika propria. Lobulus kelenjar terdapat dalam lapis ini, bahkan kadang-kadang lebih dalam lagi diantara muskulus konstriktor vestibuli, karenanya dianggap homolog dengan kelenjar cowper. o Tunika muskularis terdiri atas : lapis dalam dan lapis luar, lapis paling luar adalah otot kerangka yakni muskularis konstriktor vestibuli dan muskularis konstriktor vulvae. Pada anjing muskularis konstriktor vestibuli berperan dalam menahan glans penis waktu kopulasi berlangsung. o Tunika adventitia berupa jaringan ikat longgar yang mempertautkan vestibulum dengan alat tubuh sekitarnya.

Kompetisi menulis Bebaskan Pengetahuan 2010 memasuki putaran terakhir. Peserta yang lolos ke babak selanjutnya kini bertarung untuk dapat berpartisipasi dalam Wikimania 2010. Lima peringkat atas telah dikukuhkan pada hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2010.

Plasenta
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari Untuk kegunaan lain dari Plasenta, lihat Plasenta (disambiguasi).

Plasenta manusia Plasenta atau tembuni adalah suatu organ dalam kandungan pada masa kehamilan. Pertumbuhan dan perkembangan plasenta penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin. [1] Fungsi plasenta adalah pertukaran produk-produk metabolisme dan produk gas antara peredaran darah ibu dan janin, serta produksi hormon. [1][2] [3]

Struktur

Gambar skematis plasenta Plasenta manusia memiliki diameter rata-rata 22 cm, berat rata-rata 470 gram, dan ratarata tebal (pada bagian tengah plasenta) 2,5 cm.[4] [5] Plasenta mempunyai dua komponen

yaitu bagian ibu yang dibentuk oleh desidua basalis dan bagian janin yang dibentuk oleh korion frondosum.[2]

Fungsi
Fungsi plasenta adalah pertukaran produk-produk metabolisme dan produk gas antara peredaran darah ibu dan janin, serta produksi hormon. [1][2][3] Hormon steroid paling penting yang diproduksi plasenta adalah estrogen dan progesteron yang konsentrasinya meningkat selama kehamilan.