Anda di halaman 1dari 4

TEORI KOMUNIKASI

Deskripsi Teori: Penjabaran Sebuah Landasan Sulit Terdefinisi


Sarah Paradiska
22574

Dalam melakukan suatu penelitian terhadap fenomena sosial, seorang peneliti


tidak dapat bekerja dengan baik tanpa suatu sistematika yang sesuai. Untuk
menemukan jawaban yang sesuai serta memuaskan, peneliti harus memahami kaidah
dalam meneliti. Tahapan awal dari suatu penelitian adalah menciptakan pertanyaan
mengenai suatu fenomena yang dipilih untuk diteliti. Pertanyaan tersebut berkaitan
dengan definisi, fakta dan nilai suatu objek kajian.
Pertanyaan tentang definisi dapat merujuk kita pada aspek ontologis yang
mengkaji mengenai hakekat realitas yang dimiliki objek penelitian. Realitas yang
dipertanyaan oleh peneliti pada asumsi ini merupakan pertanyaan mendasar. Bisa jadi
ontologis mempertanyakan nyata atau tidaknya keberadaan fenomena tersebut dalam
kehidupan. Serta aspek ini memberitahukan informasi-informasi mendasar lainnya.
Setelah mengetahui beberapa informasi dasar mengenai objek yang akan diteliti,
secara otomatis otak manusia akan terpetakan untuk memikirkan aspek selanjutnya.
Dorongan rasa keingintahuan manusia membuat peneliti mencoba mencari makna yang
lebih dalam dari sebuah fenomena. Merujuk pada hal tersebut kemudian muncul
pertanyaan berupa pertanyaan tentang fakta menyangkut fenomena tersebut.
Epistimologi adalah suatu asumsi mengenai hubungan antara peneliti dan objek kajian
serta kelak membawa peneliti pada suatu ilmu pengetahuan yang kelak digunakan
dalam proses menelaah. Dalam melakukan hal ini peneliti kemudian mencoba membuat
pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang berusaha masuk lebih dalam sehingga
menghasilkan beberapa pernyataan mengenai fakta-fakta yang dimiliki oleh suatu
fenomena.
Dalam rangka menghindari kekhawatiran manusia terhadap dishumanisasi yang
terjadi akibat adanya suatu hasil penelitian. Seorang peneliti harus menemukan celah
untuk memasukkan nilai moral dalam penelitiannya. Hal tersebut menggiring peneliti
pada pertanyaan selanjutnya. Pertanyaan selanjutnya yang akan terfikirkan adalah
mengenai nilai. Pada posisi mana seorang peneliti berdiri ketika penelitian tersebut
menyentuh kata kesimpulan. Berada pada kubu positif atau pada kubu negatif dari
kehidupan. Aspek aksiologis akan secara tersirat tercermin dalam hasil penelitian. Akan
tetapi bukan hanya terdapat di dalam simpulan. Ketika seorang peneliti mulai
mempertimbangkan segala aspek yang berkaitan dengan nilai, pada saat itu pula
peneliti sedang memunculkan sisi aksiologis dari dalam dirinya.
Setelah menjabarkan beberapa pertanyaan, seorang peneliti beralih untuk
mencari jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan. Kemudian,
dilakukanlah suatu observasi. Observasi adalah proses pengamatan pada gejala-gejala
yang terjadi dalam kehidupan. Baik gelaja alam maupun gejala sosial. Dalam melakukan
observasi seorang peneliti mengamati segala sesuatu mengenai objek yang akan diteliti
yang sebaiknya berdasarkan ruang lingkup pertanyaan yang ingin diketahui. Dengan
tujuan mengumpulakan sebanyak-banyaknya data atau informasi yang dapat membantu
dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.
Setelah melakukan observasi kita akan menadapat beragam jawaban dari
pertanyaan yang akan semakin merujuk peneliti pada pembentukan teori. Dari beragam
jawaban itu seorang peneliti kemudian mencoba untuk menkonstruksikan jawaban yang
ada. Pengkonstruksian jawaban bisa diibaratkan sebagai pembentukan bangunan teori
dengan bantuan bahan baku berupa jawaban dari pertanyaan sebelumnya. Dalam
rangka pengkonstruksian jawaban, hal tersebut dapat dibantu dengan beberapa teori
yang ada sebelumnya. Penggunaan teori yang ada sebelumnya sebatas untuk mencari
rujukan serta korelasi fenomena sebelumnya dengan fenomena yang sedang diteliti
daat ini. Dengan merujuk kepada teori-teori yang telah sebelumnya diciptakan, peneliti
dapat memilah jawaban yang paling tepat digunakan sebagai teori untuk sebuah
fenomena. Bisa saja hasil pengkonstruksian jawaban tersebut menjadi sesuatu yang
mendukung teori yang sebelumnya telah ada. Ataupun, pengkonstruksian jawaban kelak
menjadi teori baru yang justru akan mematahkan teori yang sebelumnya ada.
Pendefinisian teori tidak dapat dilakukan secara pasti. Sangat sulit mencari
makna teori yang sebenarnya. Hal ini dikarenakan penggunaan teori hanya dapat
digunakan secara terbatas. Penjelasaannya adalah suatu teori pada hakekatnya hanya
dapat digunakan terbatas hanya pada beberapa fenomena. Akan tetapi pemaknaan
terhadap teori dapat dilakukan dengan mendalami kegunaan serta maksud suatu teori
itu diciptakan.
Apabila merujuk pada penjabaran paragraf sebelumnya mengenai
pengkonstruksian teori, dapat disimpulakan bahwa teori adalah suatu rancangan yang
membantu kita untuk memahami dan menjelaskan fenomena yang sedang diamati
khususnya dalam kehidupan sosial. Sebuah teori memiliki deskripsi tersendiri mengenai
fenomena sosial. Berbeda fenomena maka akan berbeda pula teori yang digunakan
dalam menelaahnya. Akan tetapi beberapa teori memiliki hubungan tersendiri sehingga
satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Mungkin saja dalam suatu kasus Teori A memiliki
penjelasan yang lebih luas tentang fenomena A akan tetapi dikenal juga Teori B yang
mungkin saja memiliki pembahasan lebih sempit akan tetapi tetap dapat membantu
dalam menjawab fenomena sosial.
Teori juga dapat menggiring peneliti menuju mekanisme atau metodologi yang
tepat untuk meneliti suatu objek. Dengan suatu teori didapatkanlah gambaran mengenai
objek yang diteliti sehingga semakin mudah peneliti memilih metode apa yang paling
pantas sehingga objek tersebut berhasil dikaji. Sekali lagi seorang peneliti dapat
menentukan metode terbaik dengan pertimbangan subjektifitas dan mengadaptasi teori
yang diciptakan oleh para ahli. Kualitas yang dimiliki teori dapat dinilai dari bagaimana
kemampuan teori tersebut menjawab pertanyaan yang tercipta akibat pengamatan.
Selain itu, penilaian terhadap teori dapat dilakukan dengan cara mengamati apakah teori
tersebut dapat memancing pertanyaan baru yang baik dan kompleks. Hal terpenting
yang harus dilihat dalam mendalami pendeskripsian teori adalah keterbatasan dan
kesubjektifitasan manusia dalam menganalis. Hal ini menghasilkan tidak satupun teori di
dunia yang dapat menjadi teori mutlak yang mendasari semua fenomena sosial.

Daftar Pustaka

Miller, Katherine. 2001. Communication Theory: Perspective, Processes, and


Context. USA: Mc Graw Hill.
Suriasumantri, Jujun. 1996. Filsafat Ilmu: Sebuah Penghantar Populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.

Situs

Teori Kritis dan Varian Paradigmatis dalam Ilmu Komunikasi. Terarsip di:

http://ekawenats.blogspot.com/2006/06/teori-kritis-dan-varian-paradigmatis.html

Peta Singkat Ilmu-ilmu Sosial. Terarsip di:


http://muhlis.files.wordpress.com/2008/05/teori-sosial-dr-wahyudi.ppt
Contoh rancangan pertanyaan

Fenomena:
Maraknya pernikahan siri dikalangan artis

Ontologis:
1. Apakah definisi dari pernikahan siri?
2. Apakah yang dimaksud dengan artis?

Epistimologis:
1. Siapa saja artis yang telah melakukan pernikahan siri?
2. Apa yang melatarbelakangi artis untuk melakukan pernikahan siri?

Aksiologis:
1. Apa kelebihan pernikahan siri dibandingkan pernikahan secara resmi?
2. Apa akibat dari pernikahan siri?