Anda di halaman 1dari 19

Resume Kepaniteraan Orthodonsia Langkah-Langkah Perencanaan Perawatan Orthodonsi Oleh Eka Pramudita Ramadhany 07/250521/KG/8154 FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS GAJAH MADA YOGYAKARTA 2011

IDENTITAS

Operator Tujuan : memberikan informasi mengenai namalengkap mahasiswa yang merawat Cara : Mengisi nama lengkap mahasiswa yang merawat sesuai dengan identitas

No.mahasiswa Tujuan : memberikan informasi mengenai Nomer mahasiwa yang merawat Cara : Mengisi sesuai dengan nomer mahasiswa yang merawat

Pembimbing Tujuan : Memberikan informasi mengenai dosen pembimbing mahasiswa yang merawat Cara : Mengisi sesuai dengan nama dosen pembimbing mahasiswa yang merawat

No. Kartu Tujuan : memberilkan informasi tentang nomer kartu status pasien untuk memudahkan pencarian rekam medis Cara : mengisi sesuai dengan nomer kartu status pasien

No. Model Tujuan : memberikan informasi tentang nomer model gigi pasien untuk memudahkan perawatan Cara : mengisi nomer model sesuai dengan nomer model pada sampul

Nama Pasien Tujuan : memberikan informasi tentang nama lengkap pasien

Cara : menanyakan langsung pada pasien

Suku Tujuan : untuk mengetahui suku pasien karena akan berhubungan dengan rencana perawatan Cara : mengisi sesuai dnegan suku atau kelompok etnik pasien

Umur Tujuan : untuk mengetahui tentang usia pasien karena berhubungan dengan proses tumbuh kembang Cara : menanyakan kepada pasien dan melihat tanggal kelahiran pada kartu identitas

Jenis Kelamin Tujuan : mengetahui jenis kelamin pasien Cara : melihat pada kartu identitas pasien

Alamat Tujuan : untuk mengetahui alamat pasien sehingga memudahkan komunikasi dan pencarian ketika pasien dibutuhkan Cara : menanyakan pada pasien alamat saat ini dan yang paling mudah dihubungi

No. Telepon Tujuan : untuk memudahkan komunikasi dan pencarian ketika pasien dibutuhkan Cara : menanyakan pada pasien nomer telepon yang aktif saat ini dan yang paling mudah dihubungi

Kode Pos:

Tujuan : untuk memudahkan komunikasi dengan pasien Cara : menanyakan kepada pasien dan mengisi sesuai dengan alamat pasien

Pekerjaan Tujuan : untuk mengetahui pendapatan dan status sosial pasien Cara : menanyakan langsung kepada pasien dan mengisi sesuai dengan pekerjaan saat ini

Rujukan Tujuan : untuk mengetahui asal rujukan pasien Cara : melihat dari surat rujukan dari dokter/rumah sakit/ pusksesmas yang mengirim. Apabila pasien datang atas kemauan sendiri, kolom ini di kosongkan

Nama Ayah Tujuan : untuk mengetahui identitas orang tua pasien dan suku pasien Cara : menanyakan nama lengkap ayah kandung kepada pasien

Suku Tujuan :mengetahui suku dan etnis ayah pasien Cara : menanyakan asal suku dan etnis ayah pasien

Umur Tujuan : mengetahui usia ayah pasien Cara : menanyakan langsung kepada pasien

Nama ibu

Tujuan : untuk mengetahui nama ibu kandung pasien Cara : menanyakan langsung kepada pasien

Suku Tujuan : mengetahui suku dan kelompok etnis ibu kandung pasien Cara : menanyakan langsung kepada pasien

Umur Tujuan : mengetahui usia dari ibu kandung pasien Cara : menanyakan langsung kepada pasien

Pekerjaan Orang tua Tujuan : mengetahui pendapatan dan status sosial pasien Cara : menanyakan langsung pekerjaan orang tua kepada pasien

Alamat Orang tua Tujuan : untuk mengetahui alamat orang tua pasien sehingga memudahkan komunikasi dan pencarian ketika pasien dibutuhkan Cara : menanyakan langsung kepada pasien

WAKTU PERAWATAN Tujuan : untuk mengetahui kapan pasien datang mendaftar, kapan pencetakan dilakukan, kapan saat insersi alat dan saat pemasangan retainer. 1. Pendaftaran 2. Pencetakan 3. Pemasangan alat : sesuai dengan tanggal saat pasien datang mendaftar : tanggal saat pencetakan dilakukan : tanggal saat insersi alat

4. Retainer

: tanggal saat pemasangan retainer

PEMERIKSAAN KLINIS
Pemeriksaan Subjektif (Anamnesis) 1) Keluhan utama : Tujuan : untuk mengetahui alasan pasien untuk permintaan perawatan seperti motivasi, aspek estetik, fungsi dan bentuk kelainan yang lainnya yang mendorong pasien dating untuk dirawat. Wawancara dilakukan menggunakan bahasa pasien Pertanyaan yang bisa diajukan : a. Apakah anda datang atas dasar kemauan sendiri atau atas saran orang lain? Kalo iya siapa yang menyarankan anda? b. Bagian mana dari gigi anda yang ingin diperbaiki ? apakah gigi yang berjejal tidak teratur maju, renggang atau ada alasan lain? c. Apakah kelainan yang anda rasakan itu sangat mengganggu? Apakah menggangu penampilan, fungsi berbicara atau fungsi mengunyah anda? d. Sejak kapan kelainan itu anda rasakan? e. Jika pada pemeriksaan terdapat bagian lain yang tidak disebutkan oleh pasien dan kiranya perlu dirawat, ditanyakan terlebih dahulu apakah bagian tersebut juga mau dirawat? Ini merupakan keluhan sekunder.

2) Riwayat Kesehatan 1. Kesehatan umum : Tujuan : untuk mengetahui riwayat penyakit yang pernah diderita oleh pasien yang berhubungan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan dentofasial dan penyakit yang dapat menggangu atau menghambat proses perawatan ortodontik yang akan dilakukan. Pertanyaan yang bias diajukan : a. Apakah anda pernah menderita penyakit berat( yang berhubungan dengan dengan dentofasial) ? jika pernah sakit apa yang pernah anda derita ? Kapan dan berapa lama anda menderita penyakit tersebut. b. Apakah sekarang anda sedang dalam perawatan dokter ?

2. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan gigi geligi :

Tujuan : untuk mengetahui riwayat pertumbuhan dan perkembangan gigi geligi pasien dari periode gigi desidui, pergantian gigi pada periode gigi campuran sampai keadaan gigi pasien pada periode gigi permanen yang dikeluhkan sampai sekarang ini. Pertanyaan yang bisa diajukan : a. Apakah pada saat berumur di bawah 5 tahun (masa TK) banyak gigi yang berlubang ? apakah pada saat itu anda sering ke dokter gigi? b. Apakah pada saat berumur 6 12 tahun (masa SD) banyak gigi yang berlubang ? atau adakah gigi yang kesundulan? Jika iya di bagian mana? Lalu apakah gigi yang goyang dicabutkan ke dokter gigi atau dicabut sendiri atau oleh orang lain atau dibiarakan copot sendiri ? c. Apakah pada saat berumur 12-15 tahun (masa SMP) dan usia 15-18 (masa SMA) ada gigi permanent yang sudah dicabut? Jika iya karena apa gigi tersebut dicabut? d. Apakah sudah ada gigi yang pernah mendapatkan perawatan syaraf? e. Apakah ada yang pernah terbentur samapi merasa gigi anda goyang? Jika iya kapan dan di bagian mana?
3. Kebiasaan jelek (bad habit)

Tujuan : untuk mengetahui kebiasaan yang dilakukan pasien yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan rahang serta gigi geligi yang bisa dicurigai sebagai etiologi maloklusi, dari yang dikelukan pasien , operator sudah bisa menduga duga kemungkinan kebiasaan yang cocok sebagai etiologi untuk ditanyak kepada pasien atau orang tuanya. Jika ada maka ditanyakan lebih lanjut berapa lama bad habit dilakukan (durasi) dimana dan bagaimana (posisi dan lokasi), lama atau tidaknya melakukan kebiasaan (intensitas) dan berapa kali dilakukan dalam sehari (frekuensi). Pertanyaan yang bisa diajukan : a. Jika pasien mengeluhkan gigi depan berjejal : apakah anda mempunyai kebiasaan menggigit gigit pensil, lidi atau ujung saputangan atau handuk? Kapan dan berapa lama anda melakukannya? b. Jika pasien mengeluhkan rahang atasnya sempit : apakah anda mempunyai kebiasan bernafas melalui mulut? Atau melakukan tes seperti menggunakan kaca mulut atau memakai cotton butterfly

c. Jika pasien mengeluhkan giginya maju : apakah anda mempunyai kebiasaan menghisap ibu jari atau mengigit gigit bibir bawah ? jika iya mulai dari kapan kebiasaan itu dilakukan dan sampai kapan kebiasaan itu dilakukan. 4. Riwayat keluarga Tujuan : untuk mencari etiologi maloklusi yang dikeluhkan pasien, apakah bersumber dari sifat genetic yang diturunkan dari orang tua. Pertanyaan yang bisa diajukan : a. Apakah keadaan gigi anda mirip dengan ayah, ibu, saudara laki-laki atau saudara perempuan? Jika ada kemiripan berarti ada penurunan yang berisfat monogenic. b. Jika keadaan gigi pasien berjejal atau jarang jarang : apakah ayah anda orangnya rahang, gigi dan tingginya besar sedangkan ibu rahang gigi dan tingginya kecil atau sebaliknya? Jika iya maka penurunan bersifat poligenik.

PEMERIKSAAN OBYEKTIF
1) Umum

Jasmani Tujuan: untuk mengetahui apakah pasien cukup sehat jasmani untuk mendapat perawatan ortodontik yang akan dilakukan Cara: Periksa keadaan jasmani pasien dan beri keterangan Mental Tujuan: untuk mengetahui apakah pasien nanti cukup mampu bekerjasama (kooperatif) dalam menjalankan perawatan, seperti: emosi labil, tidak telaten, tidak mampu memahami instruksi operator dan lain-lain. Cara: Periksa keadaan mental pasien dan beri keterangan Status Gizi Tujuan: untuki mengetahui adakah keadaan gizi pasien ini merupakan faktor etiologi maloklusi pasien. Apakah perawatan akan terhambat karena keadaan gizi pasien. Cara: 2) Lokal a) Ekstra Oral Pemeriksaan bisa dilakukan dengan menghitung status gizi pasien dengan rumus perimbangan berat badan (BB, dalam kilogram) dan tinggi badan (TB, dalam meter)

Kepala Tujuan: Untuk mengetahui bentuk kepala pasien, apakah dolikosefali, mesosefali, atau brakisefali Cara: Dengan jangka bentang (spreading calliper) ukur panjang kepala (jarak Glabella-Occipital) dan ukur lebar kepala (jarak horisontal terlebar antara puncak Supramastoidea dan Zygomatik kanan dan kiri), satuan dalam mm. Muka Tujuan: Untuk mengetahui bentuk muka pasien. Cara: Dengan jangka sorong (sliding calliper) ukur Panjang muka (Jarak vertikal Nasion-Gnation) dan ukur lebar muka ( jarak antara zygomatik kanan dan kiri), satuan dalam mm. Profil Muka Tujuan: untik mengetahui apakah maloklusi pasien berpengaruh terhadap penampilan wajah pasien. Cara: pasien duduk tegak, pandangan lurus ke depan sejajar lantai, amati profil muka pasien dari samping tegak lurus bidang sagital. Amati titik-titik: Glabella (Gl), Bibir Atas (Ulc), Bibir bawah (Llc), Pogonion (Pog). Posisi Rahang terhadap bidang Orbital (Garis Simon) Tujuan: untuk mengetahui apakah maloklusi yang diderita pasien hanya melibatkan rahang (tipe skeletal), hanya melibatkan gigi-gigi (tipe dental) atau kombinasi keduanya (dentoskeletal) Cara: pasien duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan. Titik orbital O dan titi Tragus Tr ditandai dengan spidol. Dengan penggaris siku-siku, proyeksikan sisi siku yang pendek ke titik O dan Tr (menggambatkan bidang horizontal PHP), dan dengan demikian sisi siku yang panjang akan menggambarkan bidang orbital pasien. Bibir pasien ditarik dengan kaca mulut, amati posisi penggaris terhadap permukaan gigi didaerah bukal gigi premolar atau kaninus atas. Transfer posisi bidang orbital pasien sesuia dengan posisi penggaris ke model studi dengan memberi tanda garis pada permukaan bukal gigi model atas dan bawah. Pada saat boksing, model studi ditrimming sehingga sudut boksing bagian samping depan tepat pada posisi bidang orbital pasien sesuai dengan tanda spidol tadi.

Sendi Temporomandibuler (TMJ), Tujuan: untuk mengetahui apakah maloklusi pasien sudah mengakibatkan gangguan pada TMJ ? Cara: pasien duduk tegak dan rileks, kedua jempol operator ditempelkan pada kondilus pasien kanan dan kiri, pasien diinstruksikan membuka mulut kemudian digerakkan pelan-pelan. Adakah kondilus kanan dan kiri pasien berputar secara tidak simetris antara kanan dan kiri. Jika ada berarti: ada gangguan TMJ pada saat rotasi mandibula. Kemudian disuruh membuka lebar-lebar dan melakukan gerakan membuka-menutup, apakag ada pergesrean kondilus yang tidak simetris? Jika ada, berarti ada gangguan pada saat translasi mandibula. Pada saat mandibula digerakgerakkan dirasakan, apakah ada getaran dan pasien mendengar suara gemerisik? Jika ya, berarti ada krepitasi, dan bila setiap gerakan juga disertai denga rasa sakit, berarti ada peradangan (kondilitis). Catat dan beri keterangan pada formulir pemeriksaan. Tonus Otot Mastikasi Tujuan: untuk mengetahui apakah maloklusi pasien terjadi karena ada tonus otot pengunyahan yang tidak normal? Cara: tempelkan kedua telapak tangan operator pada kedua pipi pasien kanan dan kiri, pasien disuruh melakukan gerakan pengunyahan dan menggigit kuat-kuat. Rasakan kekencangan otot pipi (m. Masseter). Tonus Otot Bibir Tujuan: untuk mengetahui apakah maloklusi pasien terjadi karena ada tonus otot bibir yang tidak normal? Cara: Letakkan kaca mulut pada bibir bawah dengan menahan kemudian pasien diinstruksikan menelan ludah. Rsakan kekencangan otot bibir bawah. Dengan cara yang sama lakukan pada bibir atas. Dengan kaca mulut bibir atas sedikit diangkat, instruksikan menelan, rasakan kekencangannya. Bibir Posisi Istirahat Tujuan: untuk mengetahui apakah ada incompetency otot-otot bibir pasien pada posisi istirahat? Cara: pada pasien yang gigi anterior atasnya protrusif, diam-diam tanpa sepengetahuan pasien amamti posisi bibirnya, apakah menutup atau terbuka? Amati

posisi bibir bawah apakah dibelakang gigi anterior atas? Kemudian pasien disuruh menutup bibirnya, apakah penutupan tampak dipaksakan? Jika ya, berarti ada incompetency otot bibir pasien. Cata pada formulir pemeriksaan dan beri keterangan Free way space Tujuan: untutk mengetahui berapa besar jarak interocclusal pasien pada saat posisi istirahat. Ini berguna untuk menentukan ketebalan biteplane jika diperlukan pada perawatan nanti. Cara: Pasien duduk tegak pandangan lurus ke depan sejajar lantai. Dengan spidol beri tanda posisi titik: Subnasal (Sn) dan Pogonion(Pog). Bibir tertutup pada posisi istirahat, dengan jangka sorong (sliding calliper) ukurlah jarak Sn-Pog. Kemudian pasien diinstruksikan oklusi sentrik, ukur lagi jarak Sn-Pog. Catatlah selisih pengukuran tadi. Besar free way space, noemalnya dalah 2-4 mm b) Intra Oral Higienis Mulut Tujuan: untuk mengetahui apakah higiene mulut pasien akan menghambat perawatan yang akan dilakukan? Apa perlu discalling lebih dulu? Cara: periksa higiene mulut pasien: plak, kalkulus, debris : tetapkan OHI pasien, catat dan beri keterangan. Lingua Tujuan: untuk mengetahui apakag ada kelainan, peradanga atau lesi pada lidah yang akan menghambat perawatan orthodontik yang akakn dilakukan? Apakah ukuran lidah pasien menjadi etiologi maloklusi? Periksa ada atau tidaknya krenasi (crenation) pada tepi lidah. Apakah ukuran lidah akan mengganggu stabilitas hasil perawatan ortodontik yang akan dilakukan? Cara: periksa keadaan dan ukuran lidah pasien, cata dan beri keterangan. Palatum Tujuan: untuk mengetahui apakah ada kelainan, peradamgan atau lesi pada palatum pasien yang akan menghambat perawatan ortodontik yang akan dilakukan? Apakah ukuran palatum yang menjadi sebab terjadinya maloklusi? Apakah ukuran palatum merupakan indikasi adanya kebiasaan bernafas melalui mulut?

Cara: Periksa cata dan beri keterangan keadaan palatum Gingiva Tujuan: untuk mengetahui apakah ada peradangan atau resesu gingiva dan seberapa parah? Apakah ada kelainan lain yang akan menggangu perawatan ortodontik yang akan dilakukan. Cara: Periksa, catat dan beri keterangan gingiva pasien Mukosa Tujuan: untuk mengetahui apakah ada peradangan, lesi, tumor pada mukosa? Seberapa parah? Apakah ada kelainan lain yang akan mengganggu perawatan ortodontik yang akan dilakukan? Cara: Periksa, catat dan beri keterangan keadaan mukosa pipi dan bibir pasien Frenulum Tujuan: untuk mengetahui apakah frenulum pasien normal, tipis, atau tebal? Apakah perlekatannya mendekati forniks (rendah) atau mendekati tepi gingiva (tinggi)? Apakah ada kelainan yang akan mengganggu perawatn ortodontik sehingga perlu dilakukan frenectomi dulu? Cara: Periksa, catat dan beri keterangan keadaan ketebalan, perlekatan frenulum pasien (frenulum bibir atas, bawah dan frenulum lidah) Tonsila Tujuan: untuk mengetahui apakah ada peradangan dan pembengkakakn tonsila palatina (amandel) pada tepi kiri dan kanan pangkal lidah? Jika ada, apakah akan mengganggu perwatan ortodontik? Apakah perlu konsul ke dokter spesialis THT? Cara: Dengan menggunakan tongue blade atau kaca mulut, lidah pasien ditekan dan periksa keadaan tonsila pasien, catat dan beri keterangan lengkap. Pemeriksaan gigi-geligi Tujuan: apakah ada gigi yang harus dirawat dulu (ditambal atau dicabut) sebelum perawatn ortodontik dimulai? Apakah ada gigi yang memakai jaket atau mahkota buatan yang mungkin akan lepas atau rusak jika mendapat tekanan ortodontik? Apakah ada gigi yang telah mendapat perawatan endodontik sehingga perlu perlu diperhatikan jika nanti akan dikenakan tekanan? Apakah ada gigi yang impaksi, harus dioperasi atau dirawat secara ortodontik? Apakah ada gigi susu yang

persistensi sehingga perlu dicabut dulu? Apakah ada kelainan lain yang akan menghambat perawatan ortodontik yang akan dilaksanakan?

3) Analisis Foto Muka

Tampak depan: isilah bentuk muka pasien sesuai dengan indeks muka dan keaadaan muka simetris atau asimetris Tampak samping: isilah profil muka pasien

4) Analisis Model Studi Bentuk Lengkung Gigi

Tujuan: mengetahui apakah ada keharmonisan antara bentu lengkung gigi dengan bentuk muka pasien serta keharmonisan antara bentuk lengkung gigi atas dan lengkung gigi bawah Cara: Amati bentuk lengkung gigi pasien dari oklusal pada rahang atas dan bawah. Perhatikan lengkungnya apakah simetris atau asimetris. Sesuaikan dengan bentuk wajah.

Malposisi Gigi-Gigi Individual

Tujuan: mengetahui penyimpanga letak masing masing gigi terhadap lengkung aveolarisnya. Yang dijadikan referensi adalah garis oklusi pada oklusi normal Cara: amati masing masing posisi gigi terhadap garis imajiner sesuai dengan garis oklusi dan tetapkan penyimpangannya

Relasi Gigi-Gigi Dalam Oklusi Sentrik

Tujuan: untuk mengetahui adanya mal-relasi gigi-gigi terhadap antagonisnya Cara : Model kerja di inspeksi kemudian amati kontak oklusalnya dan catat apabila ditemukan penyimpangan

Median Line : Garis Tengah Gigi Terhadap Garis Tengah Rahang

Tujuan : untuk mengetahui adanya penyimpangan posisi garis tengah gigi terhadap garis tengah rahang Cara: model gigi di beri titik pada sutura palatina mediana. Satu di daerah inter premolar pertama dan satu lagi di daerah intermolar pertama. Tarik garis lurus ini adalah garis median rahang yang normal. Perhatikan garis dengan inter incisal incisivus sentralis. Oklusikan dan proyeksikan dengan inter incisivus rahang bawah. Ukur penyimpangan

Lebar Mesio Distal Gigi

Tujuan: untuk mengetahui apakah gigi pasien merupakan etiologi maloklusi Cara: dengan menggunakan jangka sorong ukur lebar mesio distal terbesar setiap gigi pada study model bandingkan dengan ukuran gigi normal

5) Skema Gigi-Gigi dari Oklusal Cara: Gambar elemen gigi rahang atas dan rahang bawah dari pandangan oklusal sesuai dengan keadaan atau posisi gigi pasien, beri kode (apel gigi) dan beri gambar boxing. Gigi anterior di gambar incisalnya dan prosterior digambar permukaan oklusalnya. Tidak boleh dengan fotokopi model gips

. PERHITUNGAN-PERHITUNGAN Metode Moyers Tujuan: untuk memprediksi kebutuhan ruang erupsi gigi C, P1 dan P2 yang belum erupsi. Digunakan untuk kasus maloklusi periode gigi campuran (mixed dentition). Cara: ukur lebar mesiodistal keempat gigi insisivus permanen bawah, jumlahkan dan catat pada formulir pemeriksaan. Catat lebar ruang yang dibutuhkan untuk erupsi gigi C, P1 dan P2, sisi kanan dan kiri baik untuk rahang atas maupun rahang bawah sesuai dengan tabel Moyers, dengan menggunakan prosentase 75%. Pada model jika posisi gigi insisivus permanen belum normal, letakkan pada posisi yang benar dengan mengukurkan masing-masing lebar mesiodistalnya dari posisi median line yang benar ke arah distal.

Ukur ruang yang tersedia dan catat besar diskrepansi ruang yang ada untuk masingmasing sisi rahang Metode Nance Tujuan: untuk mengetahui besarnya Lee way space pada kasus-kasus mixed dentition Cara: buat foto ronsen periapikal untuk gigi C, P1 dan P2 yang belum erupsi ke empat sisi rahang. Pada foto ronsen, ukur lebar mesiodistal masing-masing dan lakukan koreksi terhadap efek pembesaran dengan metode Huckaba yaitu lebar mesiodistal P1 sesungguhnya dapat dihitung dengan rumus (P1:P1 Ro=M1:M1 Ro), lebar mesiodistal M1 yang sudah erupsi dapat diukur langsung pada model. Jumlahkan hasil pengukuran yang sudah dikoreksi dan catat pada formulir pemeriksaan. Jumlahkan mesiodistal gigigigi decidui c, m1, m2, lalu bandingkan dengan hasil pengukuran dari ronsen untuk gigi c, P1, dan P2. Hasil perhitungan ini dignakan sebagai pertimbangan dalam pembuatan lengkung ideal. Metode Pont Tujuan: untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan ke arah lateral di regio interpremilar pertama dan intermolar pertama. Dengan lebar mesiodistal I2-I2 sebagai prediktor dilakukan untuk menghitung lebar lengkung gigi di regio intet P1 dan inter M1 yangideal untuk menampung gigi. Dengan membandingkanlebar lengkung gigi pasien yang ada pada model studi maka dapat diketahui bahwa pertumbuhan dan perkembangan lengkung gigi pasien di regio P1 dan M1 ke arah lateral: normal, kurang (kontraksi) atau berlebihan (distraksi) Cara: ukur lebar mesiodistal keempat gigi insisivus atas, jumlahkan dan catat pada formulr pemeriksaan. Hitung lebar lengkung gigi P1-P1 dan M1-M1 yang dibutuhkan dengan melihat tabel (indeks Pont) atau lebih tepat secara individual jika dihitung dengan rumus: P1-P1=jumlah lebar I2-I2 dibagi 80 dikalikan 100. Ukur lebar P1-P1 pada model dengan mengukur lebar titik terdistal cekung mesial gigi P1 atas kanan dan kiri, jika P1 atas tidak ada atau malposisi bisa diukur jarak puncak tonjol bukal gigi P1 bawah kanan-kiri.

Lebar M1-M1 yang dibutuhkan = jumlah lebar mesiodistal I2-I2 dibagi 64 dikalikan 100. Pada model studi ukur lebar lengkung M1-M1 demgam mengukur jarak titik cekung mesial M1 atas kanan kiri, jika gigi M1 sudah dicabut atau malposisi ukur jarak puncak tonjol sentral pada sisi paling bukal gigi bawah kanan dan kiri. Derajat kontraksi atau distraksi sampai 5 mm termasuk ringan, 5-10 mm sedang dan lebih besar dari 10 mm termasuk berat.

Metode Korkhaus Tujuan : untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan gigi ke arah anterior Cara : letakkan penggaris di atas permukaan oklusal gigi P1 kanan dan kiri tepat pada titik pont, dengan caliper geser pangkal pegangan ditempelkan pada permukaan labial didekat incisal gigi insisivus sentral (daerah interdental) kemudian caliper digeser membuka sehingga penunjuk pada pangkal peangan mencapai posisi penggaris

Metode Howes Tujuan: untuk mengetrahui lebar lengkung gigi dan lengkung basal pasien dengan menggunakan jumlah lebar mesio distal gigi-gigi dari M1-M1 sebagai predictor Cara: ukur lebar mesiodistal gigi-gigi M1-M1. Ukur lengkung gigi dengan mengukur jarak inter P1 pada titik bagian dalam tonjol bukal P1 kanan dan kiri, pada titik bagian dalam tonjol bukal. Hitung index premolar pasien dengan cara lebar inter P1 dibagi jumlah lebar mesiodistal M1-M1 dikalikan100. Ukur lebar lengkung basal dengan cara mengukur jarak inter fossa canina pada basis alveolaris setinggi gigi apeks gigi P1. Hitung indeks fossa canina dengan cara jumlah lebar fossa canina dibagi jumlah mesiodistal gigi M1-M1 dikali 100.

Determinasi Lengkung Gigi Tujuan: untuk mengetahui diskrepansi ukuran mesiodistal gigi (kebutuhan ruang) setelah lengkung ideal dirancang seideal mungkin dari lengkung mula-mula pada pasien Cara: tentukan gigi penjangkar yang merupakan gigi terkuat atau gigi disebelah distal gigi yang terakhir dikoreksi. Letakkan plastik mika dan glass plate di atas oklusal gigi. Tentukan midline dan garis puncak kemudian buat garis sesuai dengan incisal dan oklusal gigi di mesial gigi penjangkar dengan spidol di plastik mika. Dengan menggunakan kawat tembaga, ukur garis tersebut. Lakukan pada rahang atas dan rahang bawah jaraj

antar titik puncak seharusnya sama dengan overjet pasien. Buat lengkung ideal pada rahang atas dan bawah. Kemudian ukur panjang lengkung ideal tersebut dengan menggunakan kawat tembaga. Hitung selisih antara panjang lengkung awal dengan panjang lengkung ideal

DIAGNOSIS SEMENTARA
Tujuan : a. agar dapat mengetahui gambaran sementara tentang keadaan maloklusi pasien b. mengadakan klasifikasi/ pengelompokkan maloklusi pasien berdasarkan atas : aspek yang dikeluhkan pasien (estetik, fungsi pengunyahan dan fungsi bicara) komponen dento fasial yang dilibatkan ( profil jaringan lunak fasial, otot-otot mastikasi, komponen skeletal dan komponen dental) jenis kasus maloklusi (crowding, spacing, protusif, retrusif, crossbite, malposisi individual dll) c. Menetapkan cara pencarian ruang yang dibutuhkan untuk merawat maloklusi tersebut (pencabutan, ekspansi, grinding) d. Menentukan apakah masih diperlukan data diagnosis tambahan (analisis fotografi, analisis radiografi, analsisi sefalometri dan analisis lainnya) e. Menentukan apakah diperlukan perawatan pendahuluan seperti pencabutan gigi yang gangrene, akar gigi yang tertinggal,impaksi dll.

DIGNOSIS FINAL
Diagnosis final yang biasa disebut hanya dengan kata "Diagnosis" saja, dimaksudkan untuk menetapkan keadaan maloklusi pasien selengkap mungkin berdasarkan atas semua data yang telah dikumpulkan sehingga didapatkan gambaran yang menyeluruh tentang komponen-dentofasial yang mengakibatkan terjadinya maloklusi. Pada pasien maloklusi dinyatakan dalam bentuk kalimat pemyataan yang diawali dengan kata : Maloklusi Angle klas.. ........ dst.: Nyatakan klasifikasi maloklusi berdasarkan hubungan gigi Molar pertama atas dan bawah pasien sesuai dengan klasifikasi Angle : Klas I, II atau III, bila diperlukan beri keterangan divisi dan subdivisinya. 2. Nyatakan tipe maloklusinya dan komponen dentofasial yang dilibatkan : skeletal, dental dentoskeletal.
1.

Nyatakan malrelasi gigi lainnya. Nyatakan malposisi gigi individual yang ada. 5.Nyatakan kelaian-kelainan lain yang melibatkan maloklusi pasien, misalnya impaksi, agenese dan lain-lainnya. 6. Nyatakan jika masih ada kebiasaan buruk ( bad habit )
3. 4.

ANALISIS ETIOLOGI MALOKLUSI


Analisis etiologi maloklusi suatu analisis untuk menentukan sumber penyebab terjadinya maloklusi pada pasien yang disimpulkan dari semua data hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Beri tanda pada formulir pilihan yang disediakan dan beri keterangan selengkapnya.

PROSEDUR PERAWATAN
o Rencana perawatan: Menyatakan tentang tahap-tahap yang akan dilakukan dalam proses perawatan, disusun sesuai dengan urutan kronologis tahap perawatan sesuai dengan masing-masing kasus yang dihadapi, misalnya:

1.Menghilangkankebiasaan buruk 2.Analisis ruang 3.Distribusi ruang 4.Koreksi deep overbite 5. Koreksi malposisi gigi individual 6. Koreksi lengkung gigi 7.Penutupan sisa ruang 8. Penyesuaian oklusi ( occlusal adjustment) 9.Retainer
o Jalannya perawatan:

Menjelaskan secara lebih detail masing-masing tahap perawatan tersebut meliputi : Bagaimana dan dengan apa masing-masing tahap dari rencana perawatan tersebut diatas dikerjakan ?

GAMBAR / DISAIN ALAT


Gambar desain alat untuk masing masing rahang yang akan dipakai, beri keterangan komponen alat dan ukuran diameter kawat yang digunakan. Jika perawatan membutuhkan beberapa tahap pembuatan alat, gambar disain alat untuk masing- masing tahap perawatan. Gambar pula disain retaner yang akan digunakan.

PROGNOSIS

Prognosis adalah perkiraan tentang kemungkinan keberhasilan perawatan yang akan dilakukan baik, buruk, atau meragukan. Beri alasan yang mendukung pernyataan tersebut. Alasan pendukung dapat dipertimbangkan dari : 1. Keadaan pasien : kasus, usia, kesehatan, kooperativitas dll. 2. Kemapuan operator 3. Kecanggihan alat yang dipakai

PENUTUP
Di akhir pengisian laporan, beri tanggal pada formulir pemeriksaan, ditandatangani dan rninta tanda tangan pengesahan pembimbing. .

II. DIAGNOSIS FINAL III. ANALISIS ETIOLOGI MALOKLUSI IV. PROSEDUR PERAWATAN V. GAMBAR DESAIN ALAT VI. PROGNOSIS