Anda di halaman 1dari 60

# PENELITIAN KUANTITATIF

HALAMAN JUDUL

OLEH: 1. NOVITASARI 2. IGA ERIEANI LAILY 3. KHARITSA AULIA 4. YUNITA KURNIA W. 5. TRI SUTRISNO 2010A 103174001 103174024 103174028 103174036 103174044

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN MATEMATIKA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA / 2010A 2013

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii A. Pengertian Penelitian Kuantitatif ..................................................................... 1 1. Proses Penelitian Kuantitatif ..................................................................... 1 2. Masalah...................................................................................................... 2 3. Rumusan Masalah ..................................................................................... 3 4. Variabel Penelitian .................................................................................... 5 5. Paradigma Penelitian ................................................................................. 5 6. Menemukan Masalah................................................................................. 9 B. Penelitian Eksperimen ................................................................................... 10 C. Variabel Penelitian ........................................................................................ 12 D. Validitas Penelitian ........................................................................................ 14 E. Skala Pengukuran dan Instrumen Penelitian ................................................. 16 1. Macam-macam Skala Pengukuran .......................................................... 16 2. Instrumen Penelitian ................................................................................ 19 3. Cara Menyusun Instrumen ...................................................................... 20 4. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ....................................................... 20 F. Populasi dan Sampel...................................................................................... 21 1. Populasi ................................................................................................... 21 2. Sampel ..................................................................................................... 22 3. Teknik Sampling ..................................................................................... 23 4. Kesalahan penarikan simpulan ................................................................ 24 G. Landasan Teori dan Kerangka Berfikir ......................................................... 25 1. Pengertian Teori ...................................................................................... 25 2. Tingkat dan Fokus Teori ......................................................................... 26

ii

3. Kegunaan Teori dalam Pendidikan ......................................................... 26 4. Deskripsi Teori ........................................................................................ 27 5. Kerangka Berfikir .................................................................................... 28 H. Hipotesis ........................................................................................................ 28 I. Rancangan Penelitian Eksperimen ................................................................ 29 1. Rancangan Pra Eksperimen ..................................................................... 30 2. Rangcangan Eksperimen Semu ............................................................... 31 3. Rancangan Eksperimen Sebenarnya........................................................ 33 J. Teknik Pengumpulan Data ............................................................................ 36 1. Interview (Wawancara) ........................................................................... 37 2. Kuesiener (Angket) ................................................................................. 39 3. Observasi (Pengamatan) .......................................................................... 41 K. Analisis Data ................................................................................................. 43 1. Statistik Deskriptif dan Inferensial .......................................................... 43 2. Statistik Parametris dan Nonparametris .................................................. 44 3. Judul Penelitian dan Statistik yang Digunakan Untuk Analisis .............. 49 4. Konsep Dasar Pengujian Hipotesis ......................................................... 51 L. Pengujian Statistik ......................................................................................... 55

## M. Penelitian Ex post Facto ................................................................................ 56 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 57

iii

A. Pengertian Penelitian Kuantitatif Penelitian kuantitatif pada awalnya merupakan penelitian untuk ilmu alam yang digunakan untuk menyelidiki fenomena-fenomena alam. Akan tetapi dalam perkembangannya, metode tersebut diterima ilmu sosial termasuk dalam pendidikan. Penelitian kuantitatif menggunakan pola pikir kuantitatif yang terukur dan teramati, kerangka teori dirumuskan secara spesifik, dan bertujuan menyusun generalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, memverifikasi atau menguji suatu gejala. Penelitian ini mengikuti paradigma empirisme dalam menjelaskan suatu gejala. Langkah penelitiannya dimulai dengan penetapan objek studi yang spesifik, kerangka teori sesuai dengan objek studi, dimunculkan hipotesis, instrumentasi pengumpul data, teknik sampling, dan teknik analisis. Penelitian kuantitatif meliputi penelitian yang bersifat non eksperimen dan eksperimen. Penelitian non eksperimen dilakukan tanpa memberikan perlakuan (treatment) atau intervensi terhadap variabel-variabel yang diteliti. Sebaliknya, pada penelitian eksperimen dilakukan intervensi atau perlakuan terhadap suatu variabel penelitian. Penelitian kuantitatif non eksperimen termasug juga penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang mendeskripsikan suatu gejala secara kuantitatif (memakai statistik) atau mendeskripsikan secara konseptual (kualitatif). Penelitian eksperimen meliputi eksperimen sebenarnya, eksperimen semu (quasi-

eksperimental), pra-eksperimen. 1. Proses Penelitian Kuantitatif Dalam penelitian kuantitatif, masalah yang dibawa oleh peneliti harus sudah jelas. Setelah masalah diidentifikasikan dan dibatasi, maka selanjutnya masalah tersebut dirumuskan. Berdasarkan rumusan masalah tersebut,berbagai teori dalam penelitian kuantitatif ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah penelitian tersebut. Jawaban terhadap rumusan masalah yang menggunakan teori dinamakan hipotesis. Hipotesis masih merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah tersebut, selanjutnya akan dibuktikan kebenarannya secara empiris berdasarkan data dari lapangan. Pengumpulan data dilakukan pada populasi tertentu yang telah

ditetapkan oleh peneliti. Bila populasi terlalu luas, sedangkan peneliti memiliki keterbatasan waktu,dana dan tenaga, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Meneliti adalah mencari data yang teliti/akurat. Untuk itu peneliti perlu menggunakan instrumen penelitian. Agar instrumen dapat dipercaya, maka harus diuji validitas dan relibilitasnya. Setelah instrumen teruji validitas dan relibilitasnya, maka dapat digunakan untuk mengukur variabel yang telah ditetapkan untuk diteliti. Instrumen untuk pengumpulan data dapat berbentuk test dan nontest. Untuk instrumen yang berbentuk nontest, dapat digunakan sebagai kuesioner,pedoman observasi dan wawancara. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis. Analisis diarahkan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan. Dalam penelitian kuantitatif analisis data menggunakan statistik. Statistik yang digunakan dapat berupa statistik deskriptif dan inferensial/induktif. Statistik inferensial dapat burupa statistik parametris dan statistik nonparametris, statistik inferensial dilakukan pada sampel yang diambil secara random. Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. Penyajian data dapat menggunakan tabel, tabel distribusi frekuensi, grafik garis, grafik batang, piechrat (diagram lingkaran) dan pictogram. Setelah hasil penelitian diberikan pembahasan, maka selanjutnya dapat disimpulkan.

Kesimpulan berisi jawaban singkat terhadap setiap rumusan masalah berdasarkan data yang telah terkumpul. Karena peneliti melakukan penelitian bertujuan untuk memecahkan masalah, maka peneliti berkewajiban untuk memberikan saran-saran yang harus berdasarkan kesimpulan hasil penelitian. 2. Masalah Seperti telah dikemukakan bahwa pada dasarnya penelitian itu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang antara lain dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Emory (1985), bahwa baik penelitian murni maupun terapan, semuanya berangkat dari masalah, hanya untuk penelitian terapan hasilnya langsung dapat digunakan untuk membuat keputusan. Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang

## seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antar teori dengan 2

praktek,antara aturan dengan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan. Stonner (1982), mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan, antara apa yang direncanakan, adanya pengaduan dan kompetisi. 3. Rumusan Masalah Rumusan masalah berbeda dengan masalah. Masalah merupakan kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, maka rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Namun demikian terdapat kaitan erat antara masalah dan rumusan masalah, karena setiap rumusan masalah penelitian harus didasarkan pada masalah. Berikut ini adalah bentuk-bentuk rumusan masalah. a. Rumusan masalah deskriptif Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Contoh rumusan masalahnya sebagai berikut: Seberapa tinggi efektivitas kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah di Indonesia? Seberapa tinggi minat baca dan lama belajar rata-rata per hari murid-murid sekolah di Indonesia? b. Rumusan masalah komperatif Rumusan komperatif adalah rumusan masalah penelitian yang

membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda. Contoh rumusan masalahnya sebagai berikut: Adakah perbedaan prestasi belajar antara murid dari Sekolah Negeri dan Swasta? (variabel penelitian adalah prestasi belajar pada dua sampel yaitu Sekolah Negeri dan Swasta ) Adakah perbedaan kompetensi profesional guru dan kepala sekolah antara SD, SMP dan SLTA. (satu variabel untuk dua kelompok, pada tiga sampel)

untuk merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis, dan teknik analisis statistik yang akan digunakan. a. Paradigma Sederhana Paradigma penelitian ini terdiri atas satu variabel independen dan dependen. X X X = Kualitas Guru Y X Y = prestasi belajar murid

Berdasarkan paradigma tersebut, maka dapat ditentukan: Jumlah rumusan masalah deskriptif ada dua, dan asosiatif ada satu Teori yang digunakan ada dua, yaitu teori tentang media pendidikan dan prestasi belajar Hipotesis yang dirumuskan ada dua macam, hipotesis deskriptif ada dua dan hipotesis asosiatif ada satu (hipotesis deskriptif sering tidak dirumuskan) Teknik analisis data

b. Paradigma Sederhana Berurutan Dalam paradigma ini terdapat lebih dari dua variabel, tetapi hubungannya sederhana. X1 X2 X3 Y X3 = Kualitas output Y = Kualitas outcome

## X1 = Kualitas input X2 = Kualitas proses

Paradigma sederhana, menunjukkan hubungan antara satu variabel independen dengan satu variabel dependen secara berurutan. Untuk mencari hubungan antar variabel (X1 dengan X2; X2 dengan X3 dan X3 dengan Y) tersebut digunakan teknik korelasi sederhana. Naik turun harga Y dapat diprediksi melalui persamaan regresi Y atas X3, dengan persamaan Y = a + bX3.

c. Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Independen Dalam paradigma ini terdapat dua variabel independen dan satu dependen. Dalam paradigma ini terdapat 3 rumusan masalah deskriptif, dan 4 rumusan masalah asosiatif (3 korelasi sederhana dan 1 korelasi ganda). X1 Y X2 X1 = Kompetensi Guru X2 = Lingkungan Sekolah Paradigma ganda dengan dua variabel independen X1 dan X2, dan satu variabel dependen Y . untuk mencari hubungan X1 dengan Y dan X2 dengan Y, menggunakan teknik korelasi sederhana. Untuk mencari hubungan X1 dengan X2 secara bersama-sama terhadap Y menggunakan korelasi ganda. d. Paradigma Ganda dengan Tiga Variabel Independen Dalam paradigma ini terdapat tiga variabel independen (X1,X2,X3) dan satu dependen (Y). Rumusan masalah deskriptif ada 4 dan rumusan masalah asosiatif (hubungan) untuk yang sederhana ada 6 dan yang ganda minimal 1. X1 Y = Prestasi Belajar

X2

X1

## X3 = Etos belajar Y = Produktivitas kerja

Untuk mencari besarnya hubungan antara X1 dengan Y; X2 dengan Y; X3 dengan Y; X1 dengan X2; X2 dengan X3; dan X1 dengan X3 dapat menggunakan korelasi sederhana. Untuk mencari besarnya hubungan antar X1 secara bersamasama dengan X2 dan X3 terhadap Y digunakan korelasi ganada. Regresi

sederhana, dan ganda serta korelasi parsial dapat digunakan untuk analisis dalam paradigma ini. e. Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Dependen Y1 X1 Y2 X = Tingkat pendidikan Y2 = Disiplin kerja Paradigma ganda dengan satu variabel independen dan dua dependen. Untuk mencari besarnya hubungan antara X dan Y1, dan X dengan Y2 digunakan teknik korelasi sederhana. Demikian juga untuk Y1 dengan Y2. Analisis regresi juga dapat digunakan disini. f. Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Independen dan Dua Dependen Dalam paradigma ini terdapat dua variabel independen (X1, X2) dan dua variabel dependen (Y1 dan Y2). Terdapat 4 rumusan masalah deskriptif, dan 6 rumusan masalah hubungan sederhana. Korelasi dan regresi ganda juga dapat digunakan untuk menganalisis hubungan antar . X1 Y1 Y1 = Karir ditempat kerja

X2

Y2

## Y1 = Jumlah pendaftar Y2 = Kepuasan pelayanan

Hubungan antar variabel r1, r2, r3, r4, r5 dan r6 dapat dianalisis dengan korelasi sederhana. Hubungan antara X1 bersama-sama dengan X2 terhadap Y1 dan X1 dan X2 bersama-sama terhadap Y2 dapat dianalisis dengan korelasi ganda. Analisis regresi sederhana maupun ganda dapat juga digunakan untuk memprediksi jumlah tiket yang terjual dan kepuasan penumpang kereta api.

g. Paradigma Jalur X1 X3 X2 Y

## X1 = Status Soial Ekonomi X3 = Motivasi berprestasi

X2 = IQ Y = Prestasi belajar

Terdapat variabel yang berfungsi sebagai jalur antara (X3). Dengan adanya variabel antara ini, akan dapat digunakan untuk mengetahui apakah untuk mencapai sasaran akhir harus melewati variabel antara itu atau bisa langsung kesasaran akhir. Dari gambar terlihat bahwa, murid yang berasal dari status soial ekonomi tertentu X1, tidak bisa langsung mencapai prestasi belajar yang tinggi Y (korelasi 0,33) tetapi harus melalui peningkatan motif berprestasinya X2 (r = 0,41) dan baru dapat mencapai prestasi Y (r = 0,50). Tetapi bila murid mempunyai IQ yang tinggi (X2) maka mereka langsung dapat mencapai prestasi (Y) dengan r = 0,57. (Kerlinger) 6. Menemukan Masalah Pada dasarnya setiap orang memiliki masalah, bahkan orang yang tidak mempunyai masalah akan dimasalahkan oleh orang lain. Oleh karena itu bila masalah penelitian telah ditemukan, maka pekerjaan penelitian telah 50% selesai. Untuk menemukan masalah dapat dilakukan dengan cara melakukan analisis masalah, yaitu dengan bantuan menyusun dalam pohon masalah. Dengan analisis masalah, maka permasalahan dapat diketahui mana masalah yang penting, yang kurang penting, yang tidak penting dan juga dapat diketahui akar-akar permasalahannya. Untuk dapat melakukan analisis masalah, maka pertama peneliti harus mampu mendudukkan masalah dalam konteks keseluruhan secara sistematik. Dalam konteks tersebut akan terlihat hubungan antara satu masalah dengan

masalah yang lain, baik masalah yang mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung. B. Penelitian Eksperimen Penelitian eksperimen sebenarnya dilakukan peneliti dengan mengontrol variabel-variabel secara ketat, melakukan pemilihan sampel secara acak (random), dan data terukur secara cermat (precise). Penelitian ini biasanya dilakukan pada laboratorium-laboratorium, seperti penelitian kimia, biologi, atau fisika. Penelitian eksperimen semu adalah penelitian eksperimen yang kontrolnya tidak dapat dilakukan secara ketat, derajat keacakan sampel lebih rendah daripada pada penelitian eksperimen sebenarnya, dan kecermatan pengukuran data lebih rendah daripada penelitian eksperimen yang dilaboratorium. Penelitian ini sering diterapkan pada bidang sosial, termasuk pendidikan matematika. Penelitian praeksperimen adalah penelitian awal yang dilakukan untuk menggali atau mendalami suatu masalah yang dapat dikembangkan untuk penelitian selanjutnya. Pada penelitian eksperimen, peneliti memanipulasi satu stimulus, perlakuan, atau kondisi-kondisi eksperimental, kemudian mengamati pengaruh atau perubahan yang diakibatkan dari manipulasi secara sengaja dan sistematis. Untuk mendapatkan pengaruh yang sebenar-sebenarnya dari faktor-faktor yang dimanipulasi, maka peneliti melakukan kontrol yang cermat terhadap

kemungkinan masuknya pengaruh faktor lain. Penelitian ini dilakukan untuk menguji hipotesis. Karena itu, setelah masalah dibatasi dengan tegas dan operasional, peneliti perlu mengembangkan hipotesis yang akan diujinya. Hipotesis adalah suatu jawaban sementara yang nantinya akan diuji melalui eksperimen. Hasil pengujian dapat terjadi hipotesis diterima atau ditolak. Jadi sifatnya probabilistik daripada kepastian. Penelitian eksperimen itu didasarkan pada pemikiran John Stuart Mill pada tahun 1872 yang mengatakan bahwa jika kedua situasi serba sama dalam segala hal, kemudian ditambah suatu elemen pada salah satu situasi tadi (situasi yang lain dibiarkan tetap), maka perbedaan yang berkembang diantara kedua situasi merupakan akibat elemen tambahan tadi. Konsep ini memang tepat untuk bidangbidang ilmu alam, tetapi tidak begitu mudah diterapkan untuk bidang sosial yang

10

11

2. Penelitian terhadap hal yang sama harus dapat diulang dalam kondisi yang sama; 3. Peneliti harus dapat memanipulasi (mengubah, mengontrol) variabel yang diteliti sesuai dengan yang dikehendakinya; 4. Diperlukan kelompok pembanding (control grup) selain kelompok yang diberi perlakuan (experimental grup).

12

13

digeneralisasikan penemuan-penemuannya atau hubungan-hubungannya pada populasi yang lebih luas. (Siswono, 2010:48).

14

15

2. Seleksi (selection) adanya perubahan ciri-ciri atau sifat-sifat dari suatu populasi 3. Prosedur 4. Instrumen Sedangkan faktor-faktor yang dapat mengganggu validitas eksternal adalah sebagai berikut. 1. Latar eksperimen yang buatan Dengan dilakukannya control yang ketat terhadap variabel imbuhan menyebabkan kondisi eksperimen menjadi tidak realistik atau tidak serupa dengan kondisi yang ada di lapangan. 2. Efek placebo-hawthorne, merupakan efek yang menggambarkan suatu kondisi dimana subyek sampel mengetahui bahwa ia sedang diteliti. 3. Kontaminasi Hal ini dapat terjadi apabila peneliti mengetahui sebelumnya subyeksubyek yang masuk sebagai sampel eksperimen karena dapat

menyebabkan munculnya keputusan-keputusan yang tidak obyektif. 4. Campur tangan perlakuan sebelumnya 5. Pengujian 6. Pemilihan sampel yang bias E. Skala Pengukuran dan Instrumen Penelitian Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Karena intrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen harus mempunyai skala. Berikut akan dipaparkan mengenai macam-macam skala. 1. Macam-macam Skala Pengukuran Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Dengan skala pengukuran ini variabel yang diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka sehingga akan lebih akurat, efisien,

16

dan komunikatif. Skala yang dapat digunakan untuk penelitian Administrasi, Pendidikan, dan Sosial adalah sebagai berikut. a. Skala Likert Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dpaat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi sangat positif sampai sangat negatif. Berikut ini contoh skala yang berupa kata-kata. a. Sangat baik b. Baik c. Tidak baik d. Sangat tidak baik Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk checklist atau pilihan ganda. Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya: a. Sangat baik b. Baik c. Tidak baik d. Sangat tidak baik b. Skala Guttman Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas, yaitu ya-tidak, benar-salah, pernah-tidak pernah, dan lain-lain sehingga pada skala Guttman hanya ada dua interval saja. Skala Guttman digunakan pada penelitian yang memerlukan suatu jawaban yang tegas. Skala Guttman dapat dibentuk dalam bentuk pilihan ganda atau checklist. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi adalah satu dan skor terendah adalah nol. Misalnya untuk jawaban yang setuju diberi skor 1 dan tidak setuju diberi skor 0. 4 3 2 1

17

c. Semantic Differential Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuk tidak pilihan ganda atau checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban sangat positif terletak di bagian kanan garis dan jawaban yang sangat negatif terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang. Contoh: Bersahabat Tepat janji Bersaudara Memberi pujian Mempercayai d. Rating Scale Dari ketiga skala pengukuran yang telah dijelaskan di muka, data yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Namun dengan rating scale, data yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan atau dikualitatifkan. Dalam skala model ini, responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang diberikan. Hal yang penting bagi penyusun instrumen dengan model ini adalah harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternative jawaban pada setiap item instrumen. Contoh: Seberapa baik ruang kelas di sekolah ini? Berilah jawaban dengan angka: 4 3 2 1 bila tata ruang sangat baik bila tata ruang cukup baik bila tata ruang kurang baik bila tata ruang sangat tidak baik Selain instrumen seperti yang telah dijelaskan di muka, ada instrumen penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data nominal dan ordinal. 5 5 5 5 5 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 Tidak bersahabat Lupa janji Memusuhi Mencela Mendominasi

18

a. Instrumen untuk menjaring data nominal Contoh: a. Berapa jumlah guru di sekolah Anda? b. Berapa jumlah guru yang dapat berbahasa Inggris b. Instrumen untuk menjaring data ordinal Contoh: Berilah rangking terhadap presentasi belajar sepuluh murid di kelas ini!
Nama Murid A B C D E F G H I J Rangking Nomor

.........Guru ? .........Guru

2. Instrumen Penelitian Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Meskipun instrumen dalam penelitian pendidikan memang ada yang sudah tersedia dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya namun instrumen tersebut sulit untuk dicari atau dibeli. Untuk itu maka peneliti-peneliti dalam dunia pendidikan sering kali menyusun instrumen penelitian sendiri termasuk menguji validitas dan reliabilitasnya.

19

3. Cara Menyusun Instrumen Titik tolak dari penyusunan instrumen adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang dapat diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrumen, maka perlu digunakan matrik penyusunan instrumen atau kisi-kisi instrumen. Untuk bisa menetapkan indikator-indikator dari setiap variabel yang diteliti, maka diperlukan wawasan yang luas dan mendalam tentang variabel yang diteliti dan teori-teori yang mendukungnya. Penggunaan teori untuk menyusun instrumen harus secermat mungkin agar diperoleh indikator yang valid. Caranya dapat dengan membaca berbagai referensi (seperti buku, jurna), membaca hasil penelitian sebelumnya yang sejenis, dan konsultasi dengan orang yang dipandang ahli. 4. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Dalam hal ini perlu dibedakan antara hasil penelitian yang valid dan reliable dengan instrumen yang valid dan reliable. Hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Selanjutnya hasil penelitian yang reliable bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Sedangkan instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur. Kemudian instrumen yang reliable adalah instrumen yang bila digunakan bebrapa kali untuk mengukur objek sama, akan menghasilkan data yang sama. Dengan menggunkan instrumen yang valid dan reliable dalam

mengumpulkan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Hal ini tidak berarti bahwa dengan menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya maka otomatis hasil penelitian akan menjadi valid dan reliable. Hal ini dikarenakan kondisi objek yang diteliti dan kemampuan orang yang menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data juga

## memengaruhi hasil penelitian.

20

Skema Tentang Instrumen dan Cara-cara Pengujian Validitas dan Reliabilitas F. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek atau benda-benda alam yang lain. Selain itu, populasi juga bukan

21

22

d. e.

Penelitian populasi bisa terjadi ketidak akuratan data, dan Lebih memungkinkan dilakukan. (Arikunto, 2006:133)

23

## populasi tidak diketahui sehingga pendekatan yang ditempuh dalam statistika

24

inferensial adalah dengan menduga variabilitas yang diharapkan terjadi dalam populasi yang sama. Penarikan simpulan dipengaruhi oleh dua hal, yaitu besarnya sampel dan simpangan baku dalam populasi, maka rumus dari simpangan baku kesalahan penarikan simpulan adalah:

dengan

salah baku mean adalah suatu indeks penyebaran harapan di antara mean-mean sampel yang

ditarik acak dari sutu populasi. = simpangan baku populasi adalah suatu indeks derajat penyebaran individu-individu dalam suatu populasi. adalah jumlah setiap sampel. G. Landasan Teori dan Kerangka Berfikir 1. Pengertian Teori Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian(kuantitatif) adalah mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasigeneralisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian. Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba. Adanya landasan teoritis ini merupakan ciri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data. Setiap penelitian selalu menggunakan teori. Seperti dinyatakan oleh Neumen (2003), teori adalah seperangkat konstruk, definisi dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Wiliam Wiersma (1986) menyatakan bahwa teori adalah generalisasi atau kumpulan generalisasi atau kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematik. Cooper dan Schindler (dalam Sugiyono, 2010) mengemukakan bahwa teori adalah seperangkat konsep,

25

26

27

b. Cari sumber-sumber bacaan yang sebanyaknya dan yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti. c. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti. d. Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber lainnya, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan. e. Baca seluruh isi topik buku sesuai dengan variabel yang akan diteliti, lakukan analisa, renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca. f. Deskripsikan teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. 5. Kerangka Berfikir Uma Sekaran mengemukakan bahwa: kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang telah di identifikasi sebagai masalah yang penting. Penelitian yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih, biasanya dirumuskan hipotesis yang berbentuk komparasi maupun hubungan. Oleh karena itu, dalam rangka menyusun hipotesis penelitian yang berbentuk hubungan maupun komparasi, maka perlu

dikemukakan kerangka berfikir. Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang menumbuhan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan H. Hipotesis Salah satu yang berperan besar dalam penelitian yaitu hipotesis. Hipotesis digunakan sebagai upaya membangun pengetahuan yang dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu cara induktif dengan melalui pengamatan dan cara deduktif dengan melalui penalaran yang logis. Hipotesis dibagi menjadi dua bagian, yaitu hipotesis induktif dan deduktif. Hipotesis induktif adalah hipotesis

28

yang diperoleh secara induktif dari mengamati tingkah laku individu. Sedangkan hipotesis deduktif adalah hipotesis yang diperoleh dari teori atau hasil penelitian sebelumnya. Hipotesis merupakan suatu pernyataan sementara yang diajukan untuk memecahkan masalah atau untuk menerangkan suatu gejala. Hipotesis mengemukakan pernyataan tentang harapan peneliti mengenai hubungan antara variable-variabel di dalam suatu masalah. Selanjutnya hipotesis tersebut diuji dalam penelitian sehingga diketahui apakah hipotesis diterima atau ditolak. Berikut ini bentuk-bentuk hipotesis: 1. Hipotesis deskriptif 2. Hipotesis komparatif 3. Hipotesis asosiatif Hipotesis menunjukkan tentang prosedur apa yang harus digunakan dan berjenis apakah datanya tersebut. Jadi, adapun kegunaan hipotesis adalah sebagai berikut: 1. Memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang. 2. Memberikan suatu pernyataan hubungan langsung yang dapat diuji dalam penelitian. 3. Memberikan arah pada penelitian. 4. Memberikan kerangka untuk melaporkan simpulan suatu penelitian. Ciri-ciri hipotesis yang baik adalah sebagai berikut: 1. Harus mempunyai daya pembeda yang jelas. 2. Harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada diantara variable-variabel. 3. Harus dapat diuji. 4. Hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada. 5. Hendaknya dinyatakan sederhana dan seringkas mungkin. I. Rancangan Penelitian Eksperimen Setelah hipotesis dirumuskan dengan baik, maka selanjutnya dilakukan perancangan penelitian yang di dalamnya terdapat pengujiannya secara empiric.

29

Rancangan penelitian eksperimen merupakan kerangka konseptual pelaksanaan eksperimen. Rancangan penelitian eksperimen ini menggambarkan tentang prosedur-prosedur yang memungkinkan peneliti menguji hipotesis penelitiannya untuk mencapai kesimpulan yang sevalid mungkin mengenai hubungan suatu variable bebas dan variable terikat. Pemilihan suatu jenis eksperimen didasarkan pada tujuan eksperimen, tipe-tipe variable yang dimanipulasikan, dan factor-faktor atau kondisi-kondisi yang membatasi penanganan suatu eksperimen itu sendiri. Selain itu, Rancangan penelitian eksperimen juga berkaitan dengan masalah-masalah yang praktis. Rancangan penelitian eksperimen dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu: 1. Rancangan Pra Eksperimen Rancangan ini kurang memadai, karena tidak adanya suatu kelompok kontrol, atau tidak ekuivalen antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Adapun rancangan yang termasuk dalam rancangan pra eksperimen adalah sebagai berikut: a. Studi kasus bentuk tunggal (the one shot case study). X T

Keterangan: X = manipulasi/perlakuan variable eksperimen T = Tes atau observasi Bentuk ini kekuatannya sangat lemah untuk generalisasi dan variable luar dapat membahayakan validitas internal dan eksternal. b. Rancangan Pretes-Protes Kelompok Tunggal (The one group pretest-posttest design). T1 X T2

## Keterangan: X = manipulasi/perlakuan variable eksperimen T1 = Prates T2 = Pascates

30

Rancangan ini lebih baik karena dampak suatu perlakuan didasarkan pada perbedaan antara pretes dan pascates, tetapi belum ada pembandingan dengan kelompok control. c. Rancangan Perbandingan Kelompok Statik (the static group comparison design). X -T1 T2

Keterangan: X = manipulasi/perlakuan variable eksperimen T1 = Tes pada kelompok eksperimen T2 = Tes pada kelompok control Pada rancangan ini membandingkan suatu kelompok yang menerima perlakuan (kelompok eksperimen) dengan kelompok lainnya yang tidak mendapatkan perlakuan. Dalam hubungan ini kelompok-kelompoknya menggunakan kelompok yang sudah ada, bukan buatan yang baru disengaja agar ekuivalen. 2. Rangcangan Eksperimen Semu Rancangan berikut lebih baik daripada kelompok yang pertama, karena dilakukan kontrol. Tetapi terdapat kelemahan karena umumnya ekuivalensi antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak ada, karena dalam pemilihan kelompok tidak dilakukan pemilihan secara acak. a. Rancangan prates-pascates yang tidak Ekuivalen (the non ekuivalen,pretestpostest design) T1X T1 Keterangan : X = manipulasi/perlakuan/treatment variable eksperimen; T1X = prates pada kelompok eksperimen; T2X= pascates pada kelompok eksperimen ; T1 = prates pada kelompok kontrol; X -T2X T2

31

T2 = pascates pada kelompok kontrol. Rancangan ini biasanya menggunakan kelas-kelas yang sudah ada sebagai kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Pemilihannya tidak secara acak, tetapi diperkirakan yang kondisi/keadaannya sama. Perbedaan rata-rata T1 dan T2 dan rata-rata T1X dan T2X di tes apakah signifikan secara statistik. b. Rancangan prates pascates pada kelompok tunggal yang materinya ekuivalen (the equivalent material, single group, pretest-postest design). Pa T1X X T2X

Pb

T1

--

T2

Keterangan : X T1X T2X T1 T2 = = = = = manipulasi/perlakuan/treatment variable eksperimen prates pada kelompok eksperimen; pascates pada kelompok eksperimen ; prates pada kelompok control; pascates pada kelompok control

Karena kesulitan administrasi dalam mendapatkan kelompok kontrol dan eksperimen yang benar-benar ekuivalen kondisinya, maka dilakukan

kelompok/kelas yang sama baik untuk eksperimen maupun kontrol. Pada putaran pertama digunakan sebagai kelompok eksperimen (Pa) dan pada putaran kedua digunakan sebagai kelompok kontrol (Pb) , atau sebaliknya. Rancangan ini dapat mengurangi pengaruh dari luar, penanganannya dapat dipadukan dengan kegiatan rutin kelas tersebut, seperti jadwal atau guru pengajarnya. Rancangan ini mempunyai beberapa kelemahan antara lain; Sering sulit mendapatkan materi pelajaran yang benar-benar setara dalam berbagai segi seperti daya tarik, tingkat kesulitan, atau prasyarat materi sebelumnya Pada putaran kedua sebenarnya siswa sudah lebih matang daripada putaran sebelumnya Kejadian-kejadian khusus (eksternal) belum tentu sama baik jenis maupun jumlahnya pada putaran satu maupun dua

32

Bisa terjadi pengaruh perlakuan pertama ikut bercampur pada perlakuan kedua Prosedur tes pada putaran satu dapat mempengaruhi pencapaian pada putaran kedua, karena pengalaman sebelumnya Bila dilakukan cukup lama, subjek penelitian dapat saja berkurang pada putaran kedua Ada bahaya kontaminasi penilaian karena pengetahuan hasil putaran pertama dapat mempengaruhi objektivitas penilaian di putaran kedua. Untuk mengurangi keterbatasan ini, dapat dilakukan replikasi dengan

## putarannya menjadi empat putaran. P1 T1X X T2X

P2

T1

--

T2

P3

T1X

T2X

P4

T1

--

T2

Keterangan : X T1X T2X T1 T2 = = = = = manipulasi/perlakuan/treatment variable eksperimen prates pada kelompok eksperimen; pascates pada kelompok eksperimen ; prates pada kelompok kontrol; pascates pada kelompok kontrol

P1, P2, P3, P4 : putaran ke satu,dua,tiga dan empat pada kelas yang sama. 3. Rancangan Eksperimen Sebenarnya Berikut adalah rancangan eksperimen sebenarnya, karena prinsip ekuivalensi antara kelompok kontrol dan eksperimen dipenuhi melalui pemilihan acak dan dilakukan pengendalian. Eksperimen yang sebenarnya dalam pendidikan cukup sulit dilakukan karena berhadapan dengan manusia yang bukan benda mati seperti dilaboratorium. Dengan demikian tentu masih ada kelemahan dalam validitas eksternal. 33

## a. Rancangan hanya pascates pada kelompok ekuivalen X -T1 T2

Rancangan ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol mempunyai kesamaan kondisi-kondisinya dan dipilih secara acak. Pada rancangan ini, perbedaan rata-rata hasil tes kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diuji signifikansinya melalui tes statistik tertentu, misal tes analisis varian. Asumsinya, kalau sampel diambil secara acak dari populasi yang sama, maka nilai rata-ratanya akan sama. Kalau ada perbedaan, biasanya karena kesalahan pengambilan sampel, tetapi kalau perbedaannya begitu besar melampaui besar yang dimungkinkan karena kesalahan pengambilan sample, maka perbedaan tersebut karena pengaruh variabel perlakuan. b. Rancangan prates-pascates pada kelompok-kelompok ekuivalen T1X T1 X -T2X T2

Rancangan ini mirip dengan sebelumnya,hanya digunakan prates pada kedua kelompok. Pencapaian yang merupakan perbedaan atau selisih dari pascates dan prates antara nilai rata-rata kelompok eksperimen dan kontrol diuji menggunakan analisis varian. Bila digunakan analisis kovarian dengan nilai prates sebagai kovariatnya, rancangan ini akan lebih efektif dan cukup kuat validitas eksperimennya. Namun demikian rancangan ini bisa terganggu karena pengaruh pelaksanaan tes. c. Rancangan Empat Kelompok Solomon T1X T1 X -T2X T2

X --

T3X T3

Rancangan ini sebenarnya perpaduan dari rancangan dua kelompok ekuivalen hanya pascates, dan rancangan prates-pascates. Rancangan ini memungkinkan untuk mengevaluasi efek utama variabel eksperimental dan juga

34

mengetahui efek faktor-faktor yang mengancam validitas eksperimen. Rancangan ini cukup sulit dilakukan kalau sampelnya besar.

d. Rancangan Faktorial Desain yang disajikan sebelumnya dirancang untuk variabel yang tunggal. Pada bidang pendidikan yang kompleks terdapat beberapa variabel yang berinteraksi secara simultan, sehingga diperlukan rancangan yang lebih efektif. Misalnya pada masalah efektivitas suatu model pembelajaran tertentu mungkin bergantung pada sejumlah variable seperti tingkat kecerdasan, kepribadian guru, suasana kelas, dan sebagainya. Rancangan faktorial digunakan untuk mengetahui dua atau lebih variabel yang dimanipulasi secara simultan memberi efek pada variabel terikat, disamping pengaruh yang disebabkan interaksi antara variabelvariabel itu. Variabel Atribut (X2) Tingkat 1 Tingkat 2 Variabel eksperimen (X1) Perlakuan A Kotak 1 Kotak 2 Perlakuan B Kotak 3 Kotak 4

Variabel bebas yang dimanipulasi dinamakan variabel eksperimen, sedangkan variabel bebas yang kedua yang dibagi menjadi beberapa tingkatan disebut variabel atribut. Pengaruh perlakuan eksperimental pokok terhadap variabel terikat dinilai pada setiap tingkatan variabel yang lain. Jadi pada rancangan ini, beberapa subjek tingkatan 1 menerima perlakuan A (kotak 1), sedang yang lain menerima perlakuan B (kotak 3). Sebagai subjek tingkatan 2 menerima perlakuan A (kotak 2), sedang lain menerima perlakuan B (kotak 4). Pada rancangan ini, peneliti tertarik pada pengaruh satu variabel bebas

saja, tetapi mempertimbangkan variabel-variabel lain yang mungkin berpengaruh pada variabel terikat. Pada umumnya variabel lain merupakan variabel atribut, seperti jenis kelamin, kecerdasan, ras, status sosial ekonomi, atau hasil belajar. Pengaruh variabel ini diteliti dan sekaligus dikendalikan dengan jalan

35

memasukkan variabel atribut pada rancangan faktorial. Di setiap tingkatan variabel atribut, peneliti menilai pengaruh variabel bebas yang utama. Kelebihan rancangan ini adalah : Dapat menyelesaikan dalam satu kali eksperimen, mungkin desain lain bisa lebih dari dua studi yang terpisah. Memberikan kesempatan untuk menyelidiki interaksi yang begitu penting dalam penelitian pendidikan. Memberikan pengujian yang lebih kuat terhadap hipotesis.

J. Teknik Pengumpulan Data Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data. Kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan reabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketepatam cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu, instrumen yang telah teruji validitas dan reabilitasnya, belum tentu dapat menghasilkan data yang valid dan realibel, apabila instrumen tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya. Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari setting-nya, data dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural setting), pada laboratorium dengan metode eksperimen, di rumah dengan berbagi responden, pada suatu seminar, diskusi, dijalan, dan lain-lain. Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen. Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan interview (wawancara), kuesioner (angket),

## observasi (pengamatan), dan gabungan ketiganya.

36

38

dan kondisi seperti itu sangat mempengaruhi proses wawancar, yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi validitas data. 2. Kuesiener (Angket) Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisienbila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain itu, kuesioner juga ccocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan atau pernyataan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos atau internet. Sekaran (1992) mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data, yaitu prinsip penulisan, pengukuran, dan penampilan fisik. a. Prinsip Penulisan Angket Prinsip ini menyangkut beberapa faktor, yaitu Isi dan Tujuan Pertanyaan Yang dimaksud disini adalah apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan? Kalau berbentuk pengukuran, maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus disusun dalam skala pengukuran dan jumlah itemnyamencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti. Bahasa yang Digunakan Bahasa yang digunakan dalam penulisan kuesioner (angket) harus disesuaikan dengan kemampuan berbahas responden. Jadi bahas yang digunakan dalam angket harus memperhatikan jenjang pendidikan responden, keadaan sosial budaya, dan frame of reference dari responden. Tipe dan Bentuk Pertanyaan Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup, dan bentuknya dapat menggunakan kalimat positif atau negatif. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya berbentuk uraian tentang sesuatu hal. Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang

39

mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternatif jawaban dari setiap pertanyaan yang telah tersedia. Setiap pertanyaan angket yang mengharapkan jawabna beebentuk data nominal, ordinal, interval, dan ratio, adalah bentuk pertanyaan tertutup. Pertanyaan tertutup akan membantu responden untuk menjawab dengan cepat, dan juga memudahkan peneliti dalam melakukan analisis data terhadapseluruh angket yang telah terkumpul. Pertanyaan atau pernyataan dalam angket perlu dibuat kalimat positif dan negatif agar responden dalam memberikan jawaban setiap pertanyaan lebih serius, dan tidak mekanistis. Pertanyaan Tidak Mendua Setiap pertanyaan dalam angket jangan mendua (double barreled) sehingga menyulitkan responden untuk memberikan jawaban. Tidak Menanyakan yang Sudah Lupa Setiap pertanyaan dalam instrumen angket, sebaiknya juga tidak menanyakan hal-hal yang sekirany responden sudah lupa, atau pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan berfikir berat. Pertanyaan Tidak Menggiring Pertanyaan dalam angket sebaiknya juga tidak menggiring ke jawaban yang baik saja atau ke yang jelek saja. Panjang Pertanyaan Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang, sehingga akan membuat jenuh responden dalam mengisi. Bila jumlah variabel banyak, sehingga memerlukan instrumen banyak, maka instrumen itu dibuat bervariasi dalam penampilan, model skala pengukuran yang digunakan, dan cara mengisinya. Disarankan empirik jumlah pertanyaan yang memadai adalah anatara 20 s/d 30 pertanyaan. Urutan Pertanyaan Urutan pertanyaan dalam angket, dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik, atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit, atu diacak. Hal ini perlu dipertimbangkan karana secara psikologis akan mempengaruhi semangat responden untuk menjawab. Kalau awalnya sudah diberikan pertanyaan yang sulit, atau yang spesifik, maka responden akan patah semangat untuk mengisi

40

angket yang telah diterima. Urutan pertanyaan yang diacak perlu dibuat bila tingkat kematangan responden terhadap masalah yang ditanyakan sudah tinggi. b. Prinsip Pengukuran Angket yang diberikan kepada responden merupakan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur variabel yang akan diteliti. Oleh karena itu, instrumen angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variabel yang di ukur. Supaya diperoleh data penelitian yang valid dan reliabel, maka sebelum instrumen angket tersebut diberikan kepada responden, perlu melakukan uji validitas dan reabilitasnya terlebih dalu. Instrumen yang tidak valid dan reliabel bila digunakan untuk mengumpulkan data, akan menghasilkan data yang tidak valid dan reliabel pula. c. Prinsip Penampilan Fisik Angket Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi respon atau keseriusan responden dalam mengisi angket. Angket yang dibuat dikertas buram, akan mendapat respon yang kurang menarik bagi responden, bila dibandingkan angket yang dicetak dikertas yang bagus dan berwarna. Tetapi angket yang dicetak dikertas yang bagus dan berwarna akan menjadi mahal. 3. Observasi (Pengamatan) Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner, selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain. Hadi (1986) mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatuproses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam, dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi participant observation (observasi berperan) dan

41

## dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak

a. Observasi Berperanserta (Participant Observation) Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. b. Observasi Nonpartisipan Kalau dalam observasi partisipan, peneliti terlibat langsung dengan aktivitas orang-orang yang sedang diamati, maka dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat hanya sebagai pengamat independen. Peneliti mencata, menganalisis, dan selanjutnya dapat membuat kesimpulan. Pengumpulan data dengan observasi nonpatisipan ini tidak akan mendapatkan data yang mendalam, dan tidak sampai pada tingkat makna. Makna adalah nilai di balik perilaku yang tampak, yang terucapkan dan yang tetulis. Observasi Terstruktur Observasi struktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya. Jadi observasi terstruktur dilakukanapabila peneliti telahtahu dengan pasti tentang variabel apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti menggunakan instrumen penelitian yang telah teruji validitas dan reabilitasnya. Pedoman wawancara terstruktur, atau angket tertutup dapat juga digunakan sebagai pedomanuntuk melakukan observasi. Observasi Tidak Terstruktur Observasi tidak terstruktur adalah observasiyang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakuakan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan.

42

K. Analisis Data Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi daa berdasarkan variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan. Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Terdapat dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial.Statistik inferensial meliputi statistik parametris dan statisitik nonparametris. 1. Statistik Deskriptif dan Inferensial Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Penelitian yang dilakukan pada populasi (tanpa diambil sampelnya) jelas akan menggunakan statistik deskriptif dalam analisisnya. Tetapi bila penelitian dilakuakan pada sampel, maka analisisnya dapat menggunakan statistik deskriptif maupun inferensial. Statistik deskriptif dapat digunakan bila peneliti hanya ingin mendeskripsikan data smapel, dan tidak ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi dimana sampel diambil. Tetapi bila peniliti ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi, maka teknik analisis yang digunakan adalah statistik inferensial. Termasuk dalam statistik deskriptif, antar lain penyajian data melalui tabel, grafik, diagram lingkaran, pictogram, perhitungan modus, median, mean(pengukuran tendensi sentral), perhitungan desil, persentil, perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi, perhitungan persentase. Dalam statistik deskriptif juga dapat dilakukan mencari kuatnya hubungan anta variabel melalui analisis korelasi, melakukan prediksi dengan analisi regresi, dan membuat perbandingan dengan membandingkan rata-ratadata sampel atau populasi. Hanya perlu diketahui bahwa dalam analisis korelasi,

43

44

45

Hipotesi deskriptif yang akan diuji dengan statistik parametris merupakan dugaan terhadap nilai dalam suatu sampel (unit sampel), dibandingkan dengan standar, sedangkan hipotesis deskriptif yang akan diuji dengan statistik nonparametris merupakan dugaan ada tidaknya perbedaan secara signifikan nilai antar kelompok dalam satu sampel. Hipotesi komparatif merupakaan dugaan ada tidaknya perbedaan secara signifikan nilai-nilai dua kelompok atau lebih. Hipotesis asosiatif adalah dugaan terhadap ada tidaknya hubungan secara signifikan antara dua variabel atau lebih. PENGGUNAAN STATISTIK PARAMETRIS DAN NONPARAMETRIS UNTUK MENGUJI HIPOTESIS
Deskripti f (Satu Variabel atau Satu Sampel)* * Binomial Nominal satu sampel
2

MACA M DATA

BENTUK HIPOTESIS Komparatif Komparatif (Lebih dari Dua (Dua Sampel) Sampel) Related Independen Fisher Exact Probablity Mc Nemar dua sampel Median Test MannWhitney Utest Kolomogoro v Smirnov WaldWoldfowitz Friedman Two-Way Anova
2

Asosiatif (Hubungan)

Releted

Independen

Cochran Q

untuk k sampel

Contingency Coefficient C

## Spearman Rank Correlation Kendall Tau

Interval Rasio

t-test*

t-test of Related

t-test* Independent

46

## Regresi, Sederhana & Ganda*

* ** Statistik Parametris Deskriptif untuk parametris artinya satu variabel dan untuk nonparametris artinya satu sampel

Berdasarkan tabel diatas dapat dikemukakan disini bahwa: 1. Untuk menguji hipotesis deskriptif satu sampel (unisampel) bila datanya berbentuk nominal, maka digunakan teknik statistik : a. Binomial b. Chi kuadrat satu sampel 2. Untuk menguji hipotesis deskriptif satu sampel bila datanya berbentuk ordinal, maka digunakan teknik statistik Run Test. 3. Untuk menguji hipotesis deskriptif satu variabel (univariabel) bila datanya berbentuk interval atau ratio, maka digunakan t-test satu sampel. 4. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel yang berpasangan bila datanya berbentuk nominal, maka digunakan teknik statistik Mc Nemar. 5. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel yang berpasangan bila datanya berbentuk ordinal, maka digunakan teknik statistik : a. Sign Test b. Wilcoxon matched pairs 6. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel yang berpasangan, bila datanya berbentuk interval atau ratio, maka digunakan t-test dua sampel. 7. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel independent bila datanya berbentuk nominal, maka digunakan teknik statistik : a. Fisher exact probability b. Chi kuadrat dua sampel 8. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel independent bila datanya berbentuk ordinal, maka digunakan teknik statistik : a. Median Test b. Mann-Whitney U test c. Kolmorogrov smirnov d. Wald-Wolfowitz

47

9. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel yang berpasangan, bila datanya berbentuk interval atau ratio, maka digunakan t-test sampel berpasangan (related). 10. Untuk menguji hipotesis komparatif k sampel yang berpasangan bila datanya berbentuk nominal, maka digunakan teknik statistik Chocran Q. 11. Untuk menguji hipotesis komparatif k sampel yang berpasangan bila datanya berbentuk ordinal, maka digunakan teknik statistik Friedman two-way anova. 12. Untuk menguji hipotesis komparatif k sampel yang berpasangan, bila datanya berbentuk interval atau ratio, maka digunakan analisis varians satu jalan maupun dua jalan (One Way dan Two Way Anova). 13. Untuk menguji hipotesis komparatif k sampel independent bila datanya

berbentuk nominal, maka digunakan teknik statistik Chi kuadrat k sampel. 14. Untuk menguji hipotesis komparatif k sampel independent berbentuk ordinal, maka digunakan teknik statistik : a. Median extension b. Kruskal-wallis one way anova 15. Untuk menguji hipotesis asosiatif atau hubungan (korelasi) bila datanya bila datanya

berbentuk nominal, maka digunakan teknik statistik Koefisien kontingensi. 16. Untuk menguji hipotesis asosiatif atau hubungan (korelasi) berbentuk ordinal, maka digunakan teknik statistik : a. Korelasi spearman rank b. Korelasi kendal tau 17. Untuk menguji hipotesis asosiatif atau hubungan (korelasi) berbentuk interval atau ratio, maka digunakan teknik statistik : a. Korelasi Produk Momen: untuk menguji hipotesis hubungan antara satu variabel independen dengan satu responden. b. Korelasi Ganda bila untuk menguji hipotesis tentang dua variabel independen atau lebih secarabersama-sama dengan satuvariabel dependen. c. Korelasi Parsial digunakan untuk menguji hipotesis hubungan antara dua variabel atau lebih, bila terdapat variabel yang dikendalikan. bila datanya bila datanya

48

d. Analisi Regresi digunakan untuk melakukan prediksi, bagaimana perubahan nilai variabel dependen bila nilaiindependen dinaikkan atau diturunkan nilainya (dimanipulasi). Hipotesis penelitian yang akan diuji dalam penelitian berkaitan erat dengan rumusan masalah yang diajukan, tetapi perlu diketahui bahwa setiap penelitian tidak harus berhipotesis, namun harus merumuskan masalahnya. Penelitian yang tersusun dalam paradigmamodel struktural, pengujian

hipotesismenggunakan SEM (Structural Equation Modeling), dimana konsep dasar yang digunakan adalah analisis korelasi dan regresi yang berbentuk path analisis. 3. Judul Penelitian dan Statistik yang Digunakan Untuk Analisis Berikut ini diberikan contoh judul penelitian, berbentuk paradigma, rumusan masalah, hipotesis, dan teknik statistik yang akan digunakan untuk pengujian hipotesis. a. Judul Penelitian PENGARUH KECERDASAN EMOTIONAL TERHADAP KECEPATAN MEMPEROLEH PEKERJAAN LULUSAN SMK DI PEMERINTAHAN PROVINSI MADUKARA. b. Bentuk Paradigma X = Kecerdasan Emosional

## Y=Kecepatan memperoleh pekerjaan

Berdasarkan paradigma tersebut terlihat bahwa, untuk judul penelitian yang terdiri atas satu variabel independen dan satu dependen, terdapat dua rumusan masalah deskriptif, dan satu masalah asosiatif. Dengan demikian juga terdapat dua hipotesis deskriptif dan hipotesis asosiatif. (Bilaterdapat kesulitan dalammerumuskan hipotesi deskriptif, maka hipotesis itu tidak perlu dirumuskan, tetapi rumusan masalahnya saja yang harus dijawab dengan perhitungan statistik). Dua hipotesis diuji dengan statistik yang sama. Untuk mencari pengaruh varians variabel dapat digunakan teknik statistik dengan menghitung besarnya koefisien determinasi. Koefisien determinasi dihitung dengan mengkuadratkan koefisien korelasi yang telah ditemukan, dan 49

selanjutnya dikalikan dengan 100%. Koefisien determinasi (penentu) dinyatakan dalam persen. Dari contoh di atas, besarnya pengaruh kecerdasan emotional terhadap prestasi pegawai, pertama-tama dihitung koefisien korelasinya. Misalnya ditemukan korelasi positif dan signifikan antar kecerdasan emotional dengan prestasikerja pegawai sebesar 0,70, hal itu berarti koefisien determinasinya 0,72 = 0,49. Jadi dapat disimpulkan varians yang terjadi pada variabel prestasi kerja pegawai 49%. Atau dapat dinyatakan bahwa pengaruhkecerdasan emotional terhadap tinggi rendahnya prestasi kerja pegawai sama dengan 49%, sedangkan sisanya 51% ditentukan oleh faktor diluar variabel kecerdasan emotional, misalnya IQ, kedisiplinan, dan lain-lain. Korelasi positif dan signifikan antara kecerdasan emotional dengan prestasi kerja pegawai sebesar 0,49, artinya makin tinggi kecerdasan emotional seseorang, maka akan semakin tinggi prestasi kerja pegawai. c. Rumusan Masalah, Hipotesis, dan Teknik statistik untuk analisis data RUMUSAN MASALAH, HIPOTESIS, DAN TEKNIK ANALISIS DATA YANG DIGUNAKAN (SATU VARIABEL INDEPENDEN) Rumusan Masalah Berapakah rata-rata kecerdasan emotional pegawaidi propinsi Madukara? Hipotesis Kecerdasan emotional (EQ) pegawai di pemerintahan propinsi Madukara paling tinggi 150. Statistik untuk uji hipotesis Data yang terkumpul adalah data rtio. Bentuk hipotesisnya adalahdeskriptif maka teknik uji untuk hipotesis no 1 dan2 adalah sama, yaitu t-test (untuk satu sampel).

## t- test satu sampel

Terdapat hubungan

## Data ke dua variabel adalah

50

yang positif dan signifikan antara kecerdasan emotional dengan kecepatan memperoleh pekerjaan lulusan SMK?

yang positif dan signifikan antara kecerdasan emotional dengan kecepatan memperoleh pekerjaan

data ratio, oleh karena itu teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah Korelasi Pearson Product Momen

## Koefisien diterminasi, dan analisis regresi sederhana.

4. Konsep Dasar Pengujian Hipotesis Hipotesis diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Kebenaran dari hipotesisi itu harus dibuktikan melalui data yang terkumpul. Pengertian hipotesis tersebut adalah untuk hipotesis penelitian. Sedangkan secara statistik hipotesis diartikan sebagai pernyataan mengenai

keadaan populasi (parameter) yangakan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian (statistik). Oleh karena itu dalam statistik yang diuji adalah hipotesis nol. Jadi hipotesis nol adalah pernyataan tidak adanya perbedaan antara parameter dengan statistik (data sampel). Lawan dari hipotesis nol adalah hipotesis alternatif, yang menyatakan ada perbedaan atara parameter dan statistik. Hipotesis nol diberi notasi Ho dan hipotesis alternatif diberi notasi Ha. a. Taraf Kesalahan Pada dasarnya menguji hipotesis itu adalah menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel. Terdapat dua cara menaksair, yaitu a point estimate dan interval estimate. A point estimate (titik taksiran) adalah suatu taksiran

51

parameter populasi berdasarkan suatu nilai dari rata-rata data sampel. Sedangkan interval estimate (taksiran interval) adalah suatu taksiran parameter populasi berdasarkan nilai interval rata-rat data sampel. Menaksir parameter populasi yang menggunakan nilai tunggal (point estimate) akan mempunyai resiko kesalahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan interval estimate. Makin besar interval taksirannya maka akan semakin kecil kesalahannya. b. Dua Kesalahan dalam Menguji Hipotesis Dalam menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel,

kemungkinan akan terdapat dua kesalahan, yaitu : Kesalahan tipe I adalah suatu kesalahan bila menolak hipotesis nol (Ho) yang benar (seharusnya diterima). Dalam hal ini tingkat kesalahan dinyatakan dengan (baca alpha). Kesalahan tipe II adalah kesalahan bila menerima hipotesis yang salah (seharusnya ditolak). Tingkat kesalahan ini dinyatakan dengan (baca beta). Berdasarkan hal tersebut, maka hubungan antara keputusan menolak atau menerima hipotesis dapat ditabelkan sebagai berikut. HUBUNGAN ANTARA KEPUTUSAN MENOLAK ATAU MENERIMA HIPOTESIS Keputusan Terima Hipotesis Menolak Hipotesis Keadaan Sebenarnya Hipotesis Benar Tidak membuat kesalahan Kesalahan tipe I () Hipotesis Salah Kesalahan tipe II () Tidakmembuat kesalahan

Dari tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut: Keputusan menerima hipotesis nol yang benar, berarti tidak membuat kesalahan. Keputusan menerima hipotesis nol yang salah, berarti terjadi kesalah tipe II ().

52

Membuat keputusan menolak hipotesis nol yang benar, berarti terjadi kesalah tipe I (). Keputusan menolak hipotesis nol yang salah, berarti tidak kesalahan. Bila nilai statistik (data sampel) yang diperoleh dari hasil pengumpulan membuat

data sama dengan nilai parameter populasi atau masih berada pada nilai interval parameter populasi, maka hipotesis yang dirumuskan 100% diterima. Jadi tidak terdapat kesalahan. Tetapi bila nilai statistik di luar nilai parameter populasi akan terdapat kesalahan. Kesalahan ini semakin besar bila nilai statistik jauh dari nilai parameter populasi. Tingkat kesalahan ini selanjutnya dinamakan level of significant atau tingkat signifikansi. Dalam prakteknya tingkat signifikansi telah ditetapkan oleh peneliti terlebih dahulu sebelum hipotesis diuji.Biasanya tingkat signifikansi (tingkat kesalahan) yang diambil adalah 1% dan 5%. Suatu hipotesis terbukti dengan mempunyai kesalahan 1% berarti bila penelitian dilakukan pada 100 sampel yang diambil dari populasi yang sama, maka akan terdapat satu kesimpulan salah yang diberlakukan untuk populasi. (data dari satu sampel tersebut tidak dapat diberlakukan ke populasi dimana sampel tersebut diambil) Dalam hipotesis kebanyakan digunakan kesalahan tipe I yaitu berapa persen kesalahan untuk menolak hipotesis nil (Ho) yang benar (yang seharusnya diterima). c. Macam Penguji Hipotesis Terdapat tiga macam bentuk pengujian hipotesis, yaitu uji dua pihak (two tail), pihak kiri, dan pihak kanan. Jenis uji mana yang akan dipakai tergantung pada bunyi kalimat hipotesis. Uji Dua Pihak (Two Tail Test) Uji dua pihak digunakan bila hipotesis nol (Ho) berbunyi sama dengan dan hipotesis alternatifnya (Ha) berbunyi tidak sama dengan (Ho= ; Ha ) Contoh hipotesis deskriptif (satu sampel) : Hipotesis nol : Daya tahan lampu merk X = 400 jam Ho : = 400 jam Hipotesis alternatif : Daya tahan lampu merk X 400 jam

53

Ha : 400 jam Ho : = 400 jam Ha : 400 jam Contoh hipotesis komparatif (dua sampel) : Hipotesis nol : Daya tahan lampu merk A = merk B Ho : 1 = 2 (tidak ada) Hipotesis alternatif : Daya tahan lampu merk A merk B Ha : 1 2 (berbeda) Ho : 1 = 2 (tidak ada) Ha : 1 2 (berbeda) Contoh hipotesis asosiatif Hipotesis nol Hipotesis alternatif Ho : Ha : Uji Pihak Kiri Uji pihak kiri digunakan apabila hipotesis nol (Ho) berbunyi lebih besar sama dengan () dan hipotesis alternatifnya berbunyi lebih kecil ( ), kata lebih kecil atau sama dengan sinonim kata paling sedikit atau paling kecil. Contoh hipotesis deskriptif (satu sampel) : Hipotesis nol : Daya tahan lampu merk A paling rendah atau sedikit 400 jam atau lebih besar dan sama dengan Hipotesis alternatif : Daya tahan lampu merk A lebih kecil 400 jam Ho : 400 jam Ha : 400 jam : Tidak ada hubungan antar X dengan Y : Terdapat hubungan antara X dengan Y

Contoh hipotesis komparatif (dua sampel) : Hipotesis nol : Daya tahan lampu merk A paling sedikit sama dengan lampu merk B. Hipotesis alternatif Ho : 1 2 Ha : 1 2 : Daya tahan lampu merk A lebih kecil dari merk B 1 : lampu merk A dan 2 : lampu merk B

54

Contoh hipotesis asosiatif Hipotesis nol : Hubungan antara X dengan Y paling sedikit (kecil) 0,65. Hipotesis alternatif Ho : Ha : Uji Pihak Kanan Uji pihak kanan digunakan apabila hipotesis nol (Ho) berbunyi lebih kecil sama dengan () dan hipotesis alternatifnya berbunyi lebih besar ( ), kata lebih besar atau sama dengan sinonim kata paling sedikit atau paling besar. Contoh hipotesis deskriptif (satu sampel) : Hipotesis nol Hipotesis alternatif : Daya tahan lampu merk A paling lama 400 . : Daya tahan lampu merk B lebih besar dari 400 jam : Hubungan antara X dengan Y lebih kecil dari 0,65. 0,65 0,65

## Ho : 400 jam Ha : 400 jam

Contoh hipotesis komparatif (dua sampel) : Hipotesis nol : Daya tahan lampu merk A paling besar (tinggi) sama dengan lampu merk B. Hipotesis alternatif Ho : 1 2 Ha : 1 Contoh hipotesis asosiatif Hipotesis nol : Hubungan antara X dengan Y paling besar (tinggi) 0,65. Hipotesis alternatif : Hubungan antara X dengan Y lebih besar dari 0,65. Ho : Ha : L. Pengujian Statistik Dalam melakukan penelitian eksperimen,setelah rancangan dibuat dan dilakukan pengambilan data yang sesuai ,maka hasil tersebut akan di uji 0,65 0,65 2 : Daya tahan lampu merk A lebih besar dari merk B 1 : lampu merk A dan 2 : lampu merk B

55