Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Setiap menit seorang ibu meninggal karena penyebab yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Sebagian besar (60-80%) kematian ibu di dunia disebabkan oleh perdarahan saat melahirkan, persalinan macet, sepsis, tekanan darah tinggi pada kehamilan dan komplikasi dari aborsi yang tidak aman (Nguyen, 1999). Di Indonesia empat penyebab utama kematian ibu adalah : 42% kematian ibu disebabkan karena perdarahan, 13% eklamsi, 11% komplikasi aborsi, 10% infeksi, 9% perdarahan lama dan 15 % penyebab tidak langsung (Saifuddin, 2002). Perdarahan merupakan penyebab tertinggi kematian ibu umumnya terjadi pada kehamilan trimester akhir dan yang terjadi setelah anak atau plasenta lahir. Jika tidak mendapat penanganan yang cepat dapat mendatangkan syok dan kematian (Chalik, 1998). Perdarahan masa kehamilan yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, yang secara klinis didiagnosa yaitu plasenta previa dan solusio/abrupsio plasenta (Wiknjosastro, 2005). Peredaran darah janin tidak dapat dipisahkan dari peredaran darah ibu. Sewaktu mudigah tumbuh, pada permulaan yang mempunyai peranan penting dalam memberikan nutrisi ke embrio (pembentukan dan peredaran darah janin) adalah yolk sac, yang hanya berfungsi sampai usia kehamilan 10 minggu (Wiknjosastro, 1999). Peredaran darah janin berlangsung selama kehidupan intra uteri, di mana plasenta memegang peranan penting yang menyalurkan darah dari ibu ke janin. Kegagalan fungsi plasenta dapat menimbulkan berbagai penyulit dalam pertumbuhan dan perkembangan janin. Walaupun organ-organ janin belum berfungsi, peredaran darah janin berfungsi untuk memenuhi nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan janin.Sistem peredaran darah janin berbeda dengan sistem peredaran darah orang dewasa, karena paru-paru janin belum berkembang sehingga oksigen diambil melalui plasenta (Manuaba,1998). Faktor-Faktor yang Mengubah Peredaran Darah Janin Setelah kelahiran terjadi perubahan peredaran darah janin, faktor penting yang mengubah peredaran darah janin menuju peredaran darah dewasa ditentukan oleh :

1.

Berkembangnya paru-paru janin Berkembangnya paru-paru janin dapat menyebabkan tekanan negatif dalam paru

sehingga dapat menampung darah, untuk melakukan pertukaran CO2 dan O2 dari udara sehingga terjadi oblitersi pada duktus arteriosus bothalli. Tekanan dalam atrium kiri makin meningkat, sehingga dapat menutup foramen ovale. Tekanan yang tinggi pada atrium kiri disebabkan darah yang mengalir ke atrium kanan kini langsung menuju paru-paru dan selanjutnya dialirkan ke atrium kiri melalui vena pulmonalis. Dua faktor ini menyebabkan tekanan di atrium kiri meningkat. 2. Terputusnya hubungan peredaran darah antara ibu dan janin Terputusnya hubungan peredaran darah antara ibu dan janin terjadi karena dipotongnya tali pusat sehingga terjadi peredaran darah pulmonal yang

mengakibatkan terjadi pernafasan pulmona. Dengan demikian duktus arteriosus bothalli tidak berfungsi dan akan mengalami perubahan dan menjadi ligamentum arteriosum begitu juga dengan yang lain. Vena umbilikal menjadi ligamentum teres, duktus venosus arantii menjadi ligamentum venosum serta foramen ovale menjadi hypogastrik arteries kecuali beberapa cm pertama yang tetap terbuka sebagai arteri vesical superior. Pemotongan tali pusat sebaiknya dilakukan setelah bayi menangis dan tali pusat berhenti berdenyut karena dapat menambah darah dari plasenta sekitar 50 ml s/d 75 ml yang sangat berarti bagi pertumbuhan janin. 3. Terbentuknya Adult Haemoglobin (Tipe A) Terbentuknya Adult Haemoglobin (Tipe A) sehingga setelah lahir dapat menangkap oksigen dan melepaskan CO2 melaului pernafasan sehingga terjadi pertukaran O2 dan CO2 di paru-paru (WHO,2000). Di Amerika kejadian komplikasi akibat plasenta previa terjadi setiap 5 dari 1000 kelahiran dengan tingkat kematian 0,03%. Dari data tahun 1989 1997 mengindikasikan kejadian plasenta previa 2,8/1000 kelahiran hidup

(www.emedicine.com). Di Indonesia perdarahan hamil terjadi pada kira-kira 3% dari semua persalinan. Dari data di RSCM antara tahun1971 1975 terjadi 2114 kasus perdarahan hamil diantara 14824 persalinan dan persentase terbanyak didiagnosa dengan plasenta previa. (Wiknjosastro, 2005).

1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan diatas sebelumnya maka dapat dirumuskan suatu pertanyaan penulisan sebagai berikut: Apa pengertian dan fungsi plasenta pada bayi? 1.3. Tujuan Penulisan 1.3.1. Tujuan umum Agar mahasiswa mengetahui dan mempelajari tentang plasenta 1.3.2. Tujuan khusus 1. Untuk mengetahui pengertian plasenta 2. Untuk mengetahui fungsi plasenta

BAB II LANDASAN TEORI


2.1. Definisi Plasenta adalah suatu barier (penghalang) terhadap bakteri dan virus, akan tetapi tidak efektif dan dewasa ini diragukan sekali bakteri2 dan virus-viruz tertentu di dalam darah ibu dapat melewati placenta dan menyebabkan kelainan pada janin yang terkenal adalah pada penyakit rubela. Dan pembuatan hormon-hormon, khususnya korionik gonadotropin, korioniksomato-mammotropin (placental laktogen), estrogen dan progesteron. Korionik tirotropin dan relaksin pun dapat diisolasi dari jaringan placenta. Kemungkinan bahwa masih ada hormon-hormon lain dalam rangka fungsi plasenta, khususnya dalam fungsi hormonal dalam kehamilan masih haruz diselidiki lebih lanjut (Sarwono,2009). Plasenta adalah organ yang berbentuk vascular yang berkembang didalam uterus selama kehamilan. Merupakan penghubung antara kebutuhan janin calon bayi dengan ibunya. Karenanya plasenta merupakan bahan yang kandungan nutrisinya sangat kaya (http://tulisan-ilmu.blogspot.com)

2.2. Struktur Plasenta Placenta berbentuk bundar/hampir bundar : diameter 15-20cm & tebal 2,5cm, berat rata-rata 500gr. Umumnya placenta terbentuk lengkap pada kehamilan < 16 mgg dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri. Letak placenta umumnya di depan/di belakang dinding uterus, agak ke atas kearah fundus uteri. Karena alasan fisiologis, permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplementasi. Jika diteliti benar, maka placenta sebenarnya berasal dari sebagian besar dari bagian janin, yaitu villi koriales/jonjot chorion & sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari desidua basalis (Sarwono,2009).

2.3. Letak Plasenta Letak plasenta umumnya di depan atau di belakang dinding uterus,agak ke atas arah fundus uteri.Hal ini ialah fisologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas,sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi.Bila di teliti benar,maka plasenta sebenarnya berasal dari sebagian besar dari bagian janin,yaitu villi koriales yang berasal dari korion dan sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari desidua basalis (Sarwono,2009).Dapat dilihat pada gambar berikut:

Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di desidua basalis.Pada sistol darah disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg seperti air mancur kedalam ruamg interviller sampai mencapai chorionic platepangkal dari kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut membasahi semua villi koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 8 mmHg ke vena-vena di desidua.

Di tempat-tempat tertentu ada implantasi placenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk menampung darah kembali. Pada pinggir placenta di beberapa tempat terdapat pula suatu ruang vena yang luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang interviller diatas. Ruang ini disebut sinus marginalis(Sarwono,2009).

2.4. Pembentukan plasenta Pada hari 8-9, perkembangan trofoblas sangat cepat, dari selapis sel tumbuh menjadi berlapis-lapis. Terbentuk rongga-rongga vakuola yang banyak pada lapisan sinsitiotrofoblas (selanjutnya disebut sinsitium) yang akhirnya saling berhubungan. Stadium ini disebut stadium berongga (lacunar stage) (Sarwono,2009).. Pertumbuhan sinsitium ke dalam stroma endometrium makin dalam kemudian terjadi perusakan endotel kapiler di sekitarnya, sehingga rongga-rongga sinsitium (sistem lakuna) tersebut dialiri masuk oleh darah ibu, membentuk sinusoid-sinusoid. Peristiwa ini menjadi awal terbentuknya sistem sirkulasi uteroplasenta / sistem sirkulasi feto-maternal (Sarwono,2009).. Sementara itu, di antara lapisan dalam sitotrofoblas dengan selapis sel selaput Heuser, terbentuk sekelompok sel baru yang berasal dari trofoblas dan membentuk jaringan penyambung yang lembut, yang disebut mesoderm ekstraembrional. Bagian yang berbatasan dengan sitotrofoblas disebut mesoderm ekstraembrional

somatopleural, kemudian akan menjadi selaput korion (chorionic plate). Bagian yang berbatasan dengan selaput Heuser dan menutupi bakal yolk sac disebut mesoderm ekstraembrional splanknopleural. Menjelang akhir minggu kedua (hari 13-14), seluruh lingkaran blastokista telah terbenam dalam uterus dan diliputi pertumbuhan trofoblas yang telah dialiri darah ibu. Meski demikian, hanya sistem trofoblas di daerah dekat embrioblas saja yang berkembang lebih aktif dibandingkan daerah lainnya (Sarwono,2009).. Di dalam lapisan mesoderm ekstraembrional juga terbentuk celah-celah yang makin lama makin besar dan bersatu, sehingga terjadilah rongga yang memisahkan kandung kuning telur makin jauh dari sitotrofoblas. Rongga ini disebut rongga selom ekstraembrional (extraembryonal coelomic space) atau rongga korion (chorionic space) Di sisi embrioblas (kutub embrional), tampak sel-sel kuboid lapisan sitotrofoblas mengadakan invasi ke arah lapisan sinsitium, membentuk sekelompok

sel yang dikelilingi sinsitium disebut jonjot-jonjot primer (primary stem villi). Jonjot ini memanjang sampai bertemu dengan aliran darah ibu(Sarwono,2009). Pada awal minggu ketiga, mesoderm ekstraembrional somatopleural yang terdapat di bawah jonjot-jonjot primer (bagian dari selaput korion di daerah kutub embrional), ikut menginvasi ke dalam jonjot sehingga membentuk jonjot sekunder (secondary stem villi) yang terdiri dari inti mesoderm dilapisi selapis sel sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas. Menjelang akhir minggu ketiga, dengan karakteristik angiogenik yang dimilikinya, mesoderm dalam jonjot tersebut berdiferensiasi menjadi sel darah dan pembuluh kapiler, sehingga jonjot yang tadinya hanya selular kemudian menjadi suatu jaringan vaskular (disebut jonjot tersier / tertiary stem villi) (selanjutnya lihat bagian selaput janin). Selom ekstraembrional / rongga korion makin lama makin luas, sehingga jaringan embrional makin terpisah dari sitotrofoblas / selaput korion, hanya dihubungkan oleh sedikit jaringan mesoderm yang kemudian menjadi tangkai penghubung (connecting stalk). Mesoderm connecting stalk yang juga memiliki kemampuan angiogenik, kemudian akan berkembang menjadi pembuluh darah dan connecting stalk tersebut akan menjadi TALI PUSAT. Setelah infiltrasi pembuluh darah trofoblas ke dalam sirkulasi uterus, seiring dengan perkembangan trofoblas menjadi plasenta dewasa, terbentuklah komponen sirkulasi utero-plasenta. Melalui pembuluh darah tali pusat, sirkulasi utero-plasenta dihubungkan dengan sirkulasi janin. Meskipun demikian, darah ibu dan darah janin tetap tidak bercampur menjadi satu (disebut sistem hemochorial), tetap terpisah oleh dinding pembuluh darah janin dan lapisan korion (Sarwono,2009).. Dengan demikian, komponen sirkulasi dari ibu (maternal) berhubungan dengan komponen sirkulasi dari janin (fetal) melalui plasenta dan tali pusat. Sistem tersebut dinamakan sirkulasi feto-maternal. Plasenta dewasa / lengkap yang normal menurut (Sarwono,2009) : 1. 2. 3. 4. bentuk bundar / oval diameter 15-25 cm, tebal 3-5 cm. berat rata-rata 500-600 g insersi tali pusat (tempat berhubungan dengan plasenta) dapat di tengah / sentralis, di samping / lateralis, atau di ujung tepi / marginalis.

5.

di sisi ibu, tampak daerah2 yang agak menonjol (kotiledon) yang diliputi selaput tipis desidua basalis.

6.

di sisi janin, tampak sejumlah arteri dan vena besar (pembuluh korion) menuju tali pusat. Korion diliputi oleh amnion.

7.

sirkulasi darah ibu di plasenta sekitar 300 cc/menit (20 minggu) meningkat sampai 600-700 cc/menit (aterm).

2.5. Hormon yang dihasilkan Plasenta Hormon yang dihasilkan Plasenta antara lain : Human chorionic gonadotropin (HCG), Chorionic somatomammotropin (placental lactogen), Estrogen, Progesteron, Tirotropin korionik dan relaksin, Hormon-hormon lain.

2.6. Macam-macam Plasenta Menurut Wildan (1982): Placenta dibagi menurut 2 cara: 1. Menurut kedalaman penetrasi villi dibagi tiga: a. Epithelio-choria b. Endothelio-choral c. Hemo-chorial 2. Menurut bentuk kelompok sebaran villi dibagi empat: a. Diffuse b. Cotyledon c. Zonary d. Discoidal

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Fungsi Placenta Menurut Chalik (2008) Fungsi placenta ialah mengusahan janin tumbuh dengan baik. Untuk pertumbuhan ini dibutuhkan adanya penyaluran zat asam, asam amino, vitamin dan mineral dari ibu ke janin, dan pembuangan CO2 serta sampah metabolisme janin ke peredaran darah ibu. Dapat dikemukakan bahwa fungsi placenta adalah: 1 2 3 4 Sebagai alat yang memberi makanan pada janin (nutritif). Sebagai alat yang mengeluarkan metabolisme (ekskresi). Sebagai alat yang memberi zat asam, dan mengeluarkan zat CO2 (respirasi) Endokrin : menghasilkan hormon-hormon : hCG, HPL, estrogen,progesteron, dan sebagainya (cari / baca sendiri). 5 6 Imunologi : menyalurkan berbagai komponen antibodi ke janin Farmakologi : menyalurkan obat-obatan yang mungkin diperlukan janin, yang diberikan melalui ibu. 7 Proteksi : barrier terhadap infeksi bakteri dan virus, zat-zat toksik (tetapi akhir2 ini diragukan, karena pada kenyataanya janin sangat mudah terpapar infeksi / intoksikasi yang dialami ibunya). perlu dikemukakan bahwa plasenta dapat pula dilewati kuman-kuman dan obatobat tertentu. Penyaluran zat makanan dan zat lain dari ibu ke janin dan sebaliknya harus melewati lapisan trofoblas placenta. Cepatnya penyaluran zat-zat tersebut tergantung pada konsentrasinya dikedua belah lapisan trofoblas, tebalnya lapisan trofoblas, besarnya permukaan yang memisahkan dan jenis zat. Janin sendiri hanya mempunyai kemampuan terbatas untuk membentuk antibodi. Untungnya molekul antibodi tertentu dari ibu dapat masuk ke janin, sehingga dapat melindungi janin secara pasif. Umpanya, jika ibu dapat vaksinasi cacar (pariola), difteria, poliomielitis atau jika ibu waktu hamil menderita sakit campak, dapat suntikan tetanus toksoid dan sebagainya. Kekebalan yang diperoleh janin dapatberlangsung terus hingga6 bulan setelah dilahirkan.

10

3.2. Sirkulasi placenta Darah ibu yg berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yangn berada di desidua basalis. Pada sistosel darah disemprotkan dengan tekanan 70-80mmhg seperti air mancur ke dalam ruang interviler sampai mencapai chorionic plate, pangkal kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut membasahi semua villi koriales & kembali perlahan-lahan dengan tekanan 80mmhg ke vena-vena di desidua. Di tempat-tempat tertentu ada implantasiplacenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk menampung darah kembali. Pada pinggir placenta di beberapa tempat terdapat pula suatu rung vena yang luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang interviller diatas. Ruang ini disebut sinus marginalis

(forbetterhealth.wordpress.com). Darah ibu yang mengalir di seluruh placenta diperkirakan menaik dari 300 ml tiap menit pada kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan 40 minggu. Seluruh ruang interviller tanpa villi koriales mempunyai volume lebih kurang 150-250 ml. Permukaan semua villi koriales diperkirakan seluas lebih kurang 11 m2 . Dengan demikian pertukaran zat-zat makanan terjamin benar

(forbetterhealth.wordpress.com).dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Perubahan-perubahan terjadi pula pada jonjot-jonjot selama kehamilan berlangsung. Pada kehamilan 24 minggu lapisan sinsitium dari villi tidak berubah, akan tetapi dari lapisan sititrofoblas sel-sel berkurangdan hanya ditemukan sebagai
11

kelompok sel-sel, stroma jonjot menjadi lebih padat, mengandung fagosit-fagosit, dan pembuluh-pembuluh darahnya menjadi lebih besar dan lebih mendekati lapisan trofoblas. Pada kehamilan 36 minggu sebagian besar sel-sel sitotrofoblas tak ada lagi, akan tetapi antara sirkulasi ibu dan janin selalu ada lapisan trofoblas. Terjadi klasifikasi pembuluh-pembuluh darah dalam jonjot dan pembentukan fibrin di permukaan beberapa jonjot. Kedua hal terakhir ini mengakibatkan pertukaran zat-zat makanan, zat asam, dan sebagainya antara ibu dan janin mulai terganggu (forbetterhealth.wordpress.com). Deposit fibrin ini dapat terjadi sepanjang masa kehamilan sedangkan banyaknya juga berbeda-beda. Jika banyak, maka deposit ini dapat menutup villi dan villi itu kehilangan hubungan dengan darah ibu lalu berdegenerasi. Dengan demikian, timbullah infark (forbetterhealth.wordpress.com).

3.3. Tipe-Tipe Plasenta Menurut Sarwono (2009): 1 Menurut Bentuknya a. b. c. d. e. f. 2. a. b. c. d. plasenta normal plasenta membranasea (tipis) plasenta suksenturiata (satu lobus terpisah) plasenta spuria Plasenta Billobus (2 lobus) Plasenta Trilobus (3 lobus) Menurut Pelekatan dengan Dinding Rahim plasenta adhesiva (melekat) plasenta akreta (lebih melekat) plasenta inkreta (sampai ke otot polos) plasenta perkreta (sampai ke serosa)

12

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan Plasenta adalah organ yang berbentuk vascular yang berkembang didalam uterus selama kehamilan. Merupakan penghubung antara kebutuhan janin calon bayi dengan ibunya. Karenanya plasenta merupakan bahan yang kandungan nutrisinya sangat kaya. Dengan adanya makalah ini saya dapat menyimpulkan bahwa placenta sangat penting peranannya bagi bayi selama berada di dalam rahim ibu karena placenta berfungsi sebagai saluran makanan dari ibu ke bayi dan juga sebagai penghubung antara darah bayi dan ibu. Demikianlah yang dapat saya simpulkan dari makalah ini.

13

4.2. Saran
1. Dari makalah ini, saya hanya dapat menyarankan kepada Ibu-Ibu hamil bahwa pentingnya memeriksakan kehamilan karena dengan memeriksakan kehamilan yang teratur tiap bulan, Ibu dapat memantau perkembangan bayi apakah dia mendapat nutrisi yang baik. 2. Saya juga menyarankan Ibu pada saat periksa kehamilan harus mengetahui letak placenta karena letak placenta sangat penting untuk bayi selama didalam rahim Ibu.

14