Anda di halaman 1dari 5

SINTESIS BIODIESEL DENGAN KATALIS ZEOLIT

Large Image Description Alam Indonesia kaya akan sumber daya alam, baik sumber daya alam yang dapat diperbaharui, misalnya aneka jenis flora dan fauna,maupun sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui,misalnya beraneka ragam hasil tambang, dan minyak bumi. Seiring dengan menipisnya persediaan minyak bumi dan kian meningkatnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM), masyarat mencoba mencari sumber bahan bakar alternatif. Salah satu cara adalah dengan memanfaatkan biodiesel sebagai sumber bahan bakar alternatif (Susilowati, 2006). Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang berasal dari sumber yang terbarukan. Secara kimiawi, biodiesel merupakan campuran metil ester dengan asam lemak rantai panjang yang dihasilkan dari sumber hayati seperti minyak nabati dan lemak hewani atau dari minyak goreng bekas pakai. Minyak nabati merupakan sumber bahan baku yang menjanjikan bagi proses produksi biodiesel karena bersifat terbarukan, dapat diproduksi dalam skala besar dan ramah lingkungan (Wenten, 2010). Pembuatan biodiesel selama ini lebih banyak menggunakan katalis homogen, seperti asam dan basa. Penggunaan katalis homogen ini menimbulkan permasalahan pada produk yang dihasilkan, misalnya masih mengandung katalis, yang harus dilakukan separasi lagi (Buchori dan Widayat, 2009 dalam Aziz, dkk., 2012). Selain itu penggunaan katalis basa juga dapat menimbulkan reaksi samping yaitu reaksi penyabunan sehingga mempengaruhi proses pembuatan biodiesel (Darnoko dan Cheriyan, 2000 dalam Aziz, dkk., 2012). Maka sebagai solusinya yaitu pemanfaatan zeolit sebagai katalis dalam pembuatan biodiesel tersebut. Zeolit adalah katalis yang sering digunakan karena memiliki penyusun yang penting yang tidak dapat ditemukan dalam katalis amorf konvensional. Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan dan memiliki ukuran pori yang tertentu. Oleh karena

itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai penyaring, penukar ion, penyerap bahan dan katalisator. (Sutarti,1994 dalam Susilowati, 2006). Daya kerja zeolit sebagai katalis dapat diperbesar dengan mengaktifkan zeolit terlebih dahulu. Yang menjadi bahan dasar pembuatan biodiesel dalam ketiga jurnal yang menjadi acuan review adalah minyak biji kapuk dan juga limbah minyak goreng. Dimana pada kedua bahan dasar tersebut, keduanya memanfaatkan zeolit sebagai katalis dalam proses pembuatan biodiesel. Bahkan pada salah satu jurnal membahas mengenai pemanfaatan katalis zeolit dari sekam padi dalam proses pembuatan biodiesel. Hal pertama yang dilakukan dalam penelitian mengenai pemanfaatan zeolit sebagai katalis dalam pembuatan biodiesel adalah persiapan alat dan bahan. Dimana untuk bahan yang digunakan adalah minyak biji kapuk dan limbah minyak goreng. Minyak biji kapuk diperoleh dari proses pengepresan biji kapuk. Dimana minyak yang dihasilkan dari proses pengepresan tersebut harus diolah lagi memalui proses deguming, proses deguming tersebut harus dilakukan karena hasil minyak dari proses pengepresan masih terdapat kotoran baik berupa kulit biji kapuk maupun berupa senyawa kimia (misal: alkaloid, fosfatida, karotenoid, khlorofil, dll). Setelah proses deguming, maka akan dihasilakan minyak biji kapuk. Setelah dihasilkan minyak biji kapuk, proses selanjutnya adalah transesterifikasi. Dimana pada proses ini dilakukan penambahan katalis zeolit dan metanol. Zeolit alam yang akan ditambahkan harus diaktivasi terlebih dahulu menggunakan senyawa kimia. Namun, pada penelitian yang menggunakan zeolit sekam padi, zeolit tidak perlu diaktivasi terlebih dahulu. Alasan digunakannya katalis zeolit dari limbah sekam padi adalah sebagai berikut. Aktivitas tinggi Kondisi radiasi ringan Masa hidup katalis panjang Biaya katalis rendah Tidak korosif Ramah lingkungan Menghasilkan sedikit masalah pembuangan Dapat dipisahkan dari larutan sehingga dapat digunakan kembali Pada proses transesterifikasi, zeolit yang ditambahkan diberi ukuran yang bervariasi. Hal tersebut ditujukan untuk perbandingan hasil yang akan diperoleh. Proses transesterifikasi tersebut dilakukan dengan rentan waktu yang berbeda-beda agar diperoleh variasi data. Setelah proses ini selasai, maka akan dihasilkan dua endapan yang berbeda pada wadah yang digunakan. Endapan yang atas merupakan senyawa methyl ester (biodiesel) dan yang bawah adalah gliserol. Kemudian dilakukan pemisahan biodiesel dan gliserol, selanjutnya hasil biodiesel yang telah dipisahkan tersebut didistilasi untuk

memisahkan metanol sisa dari transesterifikasi. Kemudian hasilnya dicuci dengan air sampai pH netral dan selanjutnya dipanaskan hingga suhu 100oC agar air menguap. Dan langkah selanjutnya yang dilakukan adalah menganalisa hasil biodiesel yang diperoleh dengan GC (Gas Chromathography). Untuk pembuatan biodiesel dari limbah minyak goreng, yang pertama harus dilakukan adalah menyaring minyak goreng tersebut agar tidak terdapat kotoran-kotoran dan memanaskannya hingga suhu 100oC agar sisa-sisa air dalam minyak goreng tersebut menguap. Kemudian dilakukan proses transesterifikasi dengan menambahkan katalis zeolit dan metanol. Setelah proses ini selesai maka akan dihasilkan dua endapan, sama seperti halnya padatransesterifikasi pada minyak biji kapuk. Dan untuk proses selanjutnya adalah sama halnya dengan proses pada pengolahan biodiesel dari minyak biji kapuk. Berdasarkan hasil analisa dengan GC dan XRD, diketahui bahwa yield biodiesel yang maksimal pada percobaan yang dilakukan oleh Susilowati (2006) adalah sebesar 1.7699% dengan penambahan zeolit sebesar 10% dalam waktu 50 menit. Sedangkan pada percobaan yang dilakukan oleh Isalmi Aziz (2012) adalah sebesar 12% yield biodiesel dengan penambahan zeolit sebesar 1% dalam waktu 5 jam. Dan untuk percobaan yang dilakukan oleh Santoso (2012) adalah sebesar 21.94% yield biodiesel dengan penambahan zeolit sebanyak 2 gram. Biodiesel yang dihasilkan oleh Susilowati relatif kecil karena pada proses aktivasi zeolit menggunakan senyawa NH4NO3 3N. Sedangkan Ismail Aziz menggunakan senyawa HCl untuk aktivasi zeolitnya. Berebda halnya dengan Santoso, zeolit yang digunakan tidak diaktivasi, karena katalis zeolit dari limbah sekam padi merupakan katalis heterogen, yaitu merupakan katalis yang mempunyai fasa yang tidak sama dengan reaktan dan produksi. Prosestransesterifikasi menggunakan katalis zeolit limbah sekam padi akan memberikan hasil yang kurang maksimal, karena pada zeolit sekam padi terdapat Na+, dimana ketika proses transesterifikasi berlangsung unsur Na+ akan berikatan dengan air sehingga membentuk senyawa NaOH yang menyebabkan penyabunan antara asam lemak bebas dengan kation alkali (Santoso, 2012).

Sumber: Aziz, Isalmi., Siti N., Arif R. 2012. Penggunaan Zeolit Alam sebagai Katalis dalam Pembuatan Biodiesel. Valensi. 2, 511-515. Santoso, Muhammad P. B., Eko B. S., Agung T. P. 2012. Sintesis Biodiesel dari Minyak Biji Kapuk dengan Katalis Zeolit Sekam Padi. Indonesian Journal of Chemical Science. 2, 2252-6951. Susiliwati. 2006. Biodiesel dari Minyak Biji Kapuk dengan Katalis Zeolit. Jurnal Teknik Kimia. 1,1. Wenten, I Gede dan Mala H. N. 2010. Review Proses Produksi Biodiesel dengan Menggunakan Membran Reaktor. Seminar Rekayasa Kimia dan Proses. 1411-4216.

Untuk jurnal dan power point dapat didownload di bawah ini Jurnal 1 Jurnal 2 Jurnal 3 ppt 43 thoughts on SINTESIS BIODIESEL DENGAN KATALIS ZEOLIT Comment navigation Older Comments

coches baratos de ocasionon 29 January 2013 at 21:51 said: Reply Really informative article.Really looking forward to read more. Want more.

Chesterfield online cigaretteson 30 January 2013 at 15:21 said: Reply I am so grateful for your article post. Keep writing.

click hereon 19 February 2013 at 19:55 said: Reply amCuQw I cannot thank you enough for the blog article.Much thanks again. Keep writing. Comment navigation Older Comments Leave a Reply Top of Form Your email address will not be published. Required fields are marked * Name * Email * Website

Comment You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Send your comment

Bottom of Form Entry Meta Author : Aminatus Zuhriyah Published : 19 December 2012 Category : Energi Alternatif,Pengetahuan Tagged :

Post navigation