Anda di halaman 1dari 5

NYERI NEUROPATIK Dr. Jani Tanumihardja, SpS Apakah penyakit neuropatik itu?

Mungkin bagi sebagian orang, penyakit ini baru terdengar. Untuk memahami hal ini, pertama-tama kita harus memahami apakah nyeri itu. Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang subjektif dan tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau berpotensi seperti itu. Jadi pertama-tama kita harus memahami bahwa keluhan nyeri itu adalah keluhan yang bersifat subjektif, yang hanya dirasakan oleh penderita. Keluhan ini bisa akibat kerusakan nyata, seperti waktu kita terluka akibat terjatuh / teriris pisau atau berpotensi merusak, misalnya saat kita dicubit. Walaupun kita tidak mengalami perlukaan tetapi kita dapat merasakan sakitnya. Kadang-kadang, dengan membayangkannya saja kita dapat merasakan perasaan sakit itu, seperti bila kita membayangkan diri kita tertikam atau terjatuh dari tempat yang tinggi maka kita dapat bergidik sendiri padahal kejadian tersebut hanya ada dalam bayangan kita. Contoh lain dapat kita lihat saat anak-anak menjadi sangat rewel saat hendak dibawa ke dokter karena perilaku orang tuanya yang selalu mengancam anak tersebut bahwa dia akan dibawa ke dokter bila tidak mau, misalnya makan. Saat akan dibawa kedokter, sang anak membayangkan dengan jelas rasa sakit yang akan dialaminya dan hal tersebut membuatnya menjadi rewel. Gejala-gejala Nyeri Neuropatik Nah.. apakah nyeri neuropatik sama seperti gejala nyeri akibat perlukaan? Sama sekali tidak. Nyeri neuropatik adalah nyeri yang diakibatkan oleh kerusakan saraf dan memberi gejala yang sangat berbeda dengan nyeri akibat terluka karena jatuh atau teriris atau akibat trauma lainnya. Nyeri neuropatik seringkali memberi gejala seperti tersengat listrik, terasa panas, kesemutan, kram-kram ataupun pedih seperti disiram air cabe. Keluhan ini bisa terasa sepanjang hari tetapi bisa pula bersifat hilang timbul. Kalau terasa sepanjang hari, seringkali nyerinya menghebat saat malam hari sehingga penderita, tidak jarang, terbangun dari tidurnya. Nyeri ini sangat mengganggu dan menurunkan kwalitas hidup penderita karena keluhan ini bersifat berkepanjangan. Seringkali penderita menjadi

ngantuk dipagi hari, kurang berkonsentrasi sehingga penderita menjadi kurang produktif dan tidak jarang mengakibatkan depresi. Gejala ini seringkali membingungkan penderita dan / atau keluarganya, karena tidak jarang penderita / keluarganya tidak melihat adanya bukti bagian tubuh yang terluka. Namun begitu, penderita bisa sangat-sangat menderita karenanya. Penulis bahkan pernah menemukan penderita kencing manis yang disertai penyakit batu ginjal yang (maaf) lebih rela bugil karena tidak tahan memakai baju / selimut. Begitu kulitnya tersentuh kain, dia menjerit kesakitan. Karena kebingungan ini, kami beberapa kali mendapati penderita yang datang berobat ke dokter setelah sekian lama mencari pengobatan alternatif. Bila anda ke dokter, ceritakan apa saja yang anda rasakan, jangan malu! Ceritakan apa adanya, jangan menambah-nambah. Jangan berpikir bahwa dokter akan berpikir anda mengada-ada karena tidak ada perlukaan yang tampak. Penyakit ini memang ada dan dokter yang baik dapat mengenalnya dengan baik. Tentu saja dokter yang berpengalaman mampu merasakan apakah cerita anda masuk akal atau tidak karena walaupun tidak ada perlukaan yang tampak, suatu penyakit, bagaimanapun tetap ada polanya. Apa saja penyebab nyeri ini? Banyak diantaranya adalah akibat langsung jatuh dimana penderita mengalami patah tulang yang kemudian menyobek sarafnya, gangguan metabolik, misalnya penderita kencing manis. Juga bisa disebabkan oleh terjepitnya saraf di bagian tubuh tertentu. Hal lain lagi, misalnya karena tumor, setelah kecelakaan kepala yang berat, strok, infeksi, degenerasi, ataupun karena kelainan bawaan. Sekitar - penderita Herpes zooster yang berusia > 50 tahun bisa menderita keluhan ini sekitar 3 bulan setelah penyakit herpesnya sembuh. Bila disentuh, bekas luka akibat herpes itu kurang / mati rasa tetapi penderitanya malah kesakitan. Pada kasus yang lain, penderita kencing manis yang sudah lama dan seringkali dengan kadar gula darah yang kurang / tidak terkontrol mengeluhkan rasa kesemutan / kram-kram yang hebat dan sangat mengganggu, terutama dimalam hari, pada ke-2 kaki / tungkai bawah penderita. Cerita yang lain adalah penderita dengan keluhan nyeri punggung bawah dimana nyeri tersebut terasa menjalar turun ke kaki. Saat bersin, penderita bisa tersentak akibat menahan nyeri yang terasa seperti tersengat listrik. Begitu sakitnya sehingga penderita harus menahan nafas beberapa saat sebelum perlahan-

lahan melemaskan otot-otot pinggangnya untuk kembali keposisi semula. Kasus yang lebih jarang bisa ditemukan pada penderita yang berusia paruh baya dengan keluhan nyeri tengkuk yang menjalar ke lengan atas / bawah dimana pada posisi tertentu dari leher akan memicu timbulnya nyeri tersebut dengan penjalarannya yang mengikuti cabang saraf yang mempersarafinya, bisa kearah puncak kepala atau kearah lengan. Secara klinis, keluhan ini khas untuk nyeri saraf karena terjepit. Namun demikian, perlu dilakukan pemeriksaan neuroimejing ( foto ) untuk memastikan dugaan tersebut sekaligus sebagai persiapan tahap tindakan selanjutnya, seandainya diperlukan. Lain lagi keluhan pada seorang penderita paska strok. Kadang-kadang, penderita mengeluh nyeri / mati rasa yang sangat mengganggu pada separuh tubuh yang mengalami kelumpuhan. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Pada keadaan normal, bila kita mengalami trauma, katakanlah dicubit, maka di bagian tubuh yang dicubit akan terjadi pelepasan berbagai zat-zat kimia, seperti ion H+ , Bradikinin, Kalium, dan Prostaglandin, yang akan mengawali proses peradangan dan ujung-ujung saraf menjadi peka. Proses ini akan diteruskan ke otak melalui medulla spinalis. Bila trauma berlanjut maka saraf yang peka menjadi lebih banyak dan lebih luas sehingga akan menimbulkan pelipatgandaan kepekaan ujung saraf. Bila perangsangan ini melewati ambang batas nyeri, yang berbeda-beda bagi setiap orang, maka dia akan merasa nyeri.

Berbeda dengan proses nyeri yang normal diatas dimana proses nyeri dapat dipahami dengan baik pada proses nyeri neuropatik masih banyak hal yang belu dapat dipahami. Pada nyeri neuropatik, proses awal (trauma, infeksi, keganasan, tumor, degenerasi) dari rangsang nyeri seringkali sudah lama berlalu, misalnya pada nyeri saraf paska Herpes Zooster, atau bahkan tidak terjadi secara kasat mata, misalnya akibat kencing manis, karena pada dasarnya yang terjadi sejak awal adalah kerusakan saraf. Kerusakan saraf ini dapat terjadi di saraf tepi, medulla spinalis bahkan di otak. Akibat dari kerusakan ini, saraf akan melepaskan impuls yang tidak terkendali yang akan sangat menyiksa penderita. Pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan? Untuk mengetahui penyebab nyeri semacam ini, maka pertama-tama dokter akan memastikan apakah kategori nyeri yang dikeluhkan penderita termasuk dalam kategori nyeri neuropatik. Setelah itu dokter akan melakukan pemeriksaan fisik baru kemudian, dia menyusun kemungkinan penyebabnya. Selanjutnya, dokter akan menyarankan penderita untuk melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, diantaranya pemeriksaan darah, air seni, x-ray termasuk CT scan, dan MRI, serta elektroneurofisiologi untuk mendukung atau menyingkirkan kemungkinan penyebabnya. Belakangan ini, pemeriksaan menggunakan gelombang suara juga digunakan sebagai pemeriksaan pendukung. Dengan demikian penanganan penderita menjadi terarah. Bagaimana penanganannya? Tergantung penyebabnya dan atau sudah berapa lama keluhan tersebut diderita seorang penderita. Penanganan penderita nyeri seperti ini bisa dengan obat-obatan saja, fisioterapi / rehabilitasi medik, terapi perilaku kognisi atau dengan intervensi / operasi. Saat ini, kemajuan pengobatan nyeri neuropatik berkembang pesat. Ada obat-obatan yang relatif baru, alat-alat canggih untuk tindakan intervensi bahkan dengan penanaman alat-alat tertentu dalam saraf belakang / otak penderita. Semuanya dimaksudkan untuk menolong penderita agar lepas atau paling tidak mengurangi penderitaannya. Seiring dengan usaha tersebut, untuk kasus yang benar-benar sulit ditangani, penderita diarahkan untuk dapat

menerima dan hidup berdampingan dengan nyerinya, seperti dia dapat hidup berdampingan dengan rabun matanya, atau pendengaran yang berkurang. Konsultasi dengan dokter ahli-dokter ahli lainnya juga seringkali diperlukan, sekali lagi untuk mendukung / menyingkirkan kemungkinan penyebab dan juga penanganan di bidang keahlian sejawat tersebut Apa yang harus dilakukan untuk mencegah penyakit ini? Pada dasarnya, pencegahan penyakit apa saja, menurut pendapat penulis, adalah sama saja, yaitu: hidup sehat, seimbang dan selaras dengan alam. Bila ada penyakit-penyakit metabolik, seperti kencing manis, maka kadar gula darah harus diusahakan senormal mungkin. Bila pembaca adalah seorang pekerja kasar / berat usahakanlah bekerja secara ergonomis. Hindari rutinitas yang melibatkan otot-otot tertentu saja dalam jangka waktu lama, misalnya mengetik. Bila terpaksa, selingi dengan relaksasi atau lakukan gerakan peregangan otot. Berkendaralah dengan santun dan patuhi peraturan lalu lintas, termasuk menggunakan helm standar bagi penendara motor dan sepeda, karena hal itu akan mengurangi risiko kecelakaan dan kemudian risiko cedera kepala. Bila ada keluhan nyeri, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter agar dapat ditangani secepatnya sehingga masalahnya diharapkan tidak berlarut-larut. Penyakit ini sering kali tidak berespon terhadap obat penahan sakit yang ada dipasaran bebas jadi jangan menghamburkan uang anda. ( Artikel ini, dengan versi yang berbeda, telah dimuat di Harian Fajar, tanggal 29 April 2010 )