Anda di halaman 1dari 2

Maylan Tiolina Misrain S. 1006669540 Goals 4 : Menurunkan Angka Kematian Anak Target 4.

2 Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 Kelahiran Hidup sebesar 23 di tahun 2015 Target 4.2 dalam Tujuan 4 MDGs (Menurunkan Angka Kematian Anak) ialah mencapai Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Di bawah ini merupakan pencapaian tujuan 4 MDGs sampai dengan tahun 2010 menurut Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 2010.

Jika dibandingkan dengan AKB hasil Sensus Penduduk 2010, AKB yang tercantum dalam laporan tersebut lebih rendah 3 angka. Hasil Sensus Penduduk 2010 menyatakan bahwa AKB di Indonesia sebesar 26 per 1000 kelahiran hidup; sedangkan Laporan Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 2010 menyatakan bahwa AKB di Indonesia sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup. Terdapat gap di antara 2 hasil penghitungan tersebut. Hal ini menjadi pertanyaan bagi kita: data manakah yang dinyatakan valid? Apa yang sebenarnya terjadi pada sistem pencatatan dan pelaporan di Indonesia mengenai kematian bayi ini? SP 90 AKB per 1000 kelahiran hidup 71 SP 2000 47 SP201 0 26 Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 2010 23

Bila dilihat dari data tahun-tahun sebelumnya, baik dalam SP, maupun dalam Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium terjadi penurunan AKB di Indonesia. Meskipun demikian, perbedaan data di tahun 2010 menimbulkan pertanyaan di benak kita. Menurut saya, telah terjadi kesalahan dalam pengumpulan data sehingga data yang dihasilkan dapat berbeda. Hal ini cukup bermasalah karena dapat mempengaruhi bagaimana pencapaian target

MDGs, apakah benar-benar sudah tercapai atau belum. Hal ini justru menjadi tantangan bagi pemerintah untuk dapat menghasilkan data yang valid tentang pencapaian target MDGs di Indonesia. Pembahasan mengenai AKB ini menjadi hal penting karena AKB merupakan salah satu faktor penentu Indeks Pembangunan Manusia suatu Negara. Semakin tinggi AKB, semakin tinggi pula Indeks Pembangunan Manusia di Negara tersebut. Di samping tantangan untuk mendapatkan data yang valid, tantangan terbesar dalam pencapaian tujuan 4 ini, dapat kita lihat dari kondisi saat ini, yakni terjadi disparitas angka kematian balita, bayi dan neonatal antarwilayah, antarstatus sosial dan ekonomi. Misalny saja angka kematian balita tertinggi di Provinsi Sulbar (96), sedangkan terendah di DI Yogyakarta (22). Terjadi kesenjangan pencapaian tujuan 4 MDGs di kedua daerah ini. Dari kondisi tersebut, solusi yang paling tepat dari kebijakan yang dicantumkan dalam Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 2010 adalah meningkatkan advokasi kebijakan bagi daerah dengan tingkat pencapaian target kesehatan anak yang masih rendah, melalui: (i) pengalokasian sumber daya yang memadai; (ii) peningkatan penyediaan anggaran publik untuk kesehatan khususnya bagi masyarakat miskin; (iii) pengembangan instrumen monitoring; (iv) peningkatan kemampuan tenaga kesehatan; dan (v) pengembangan strategi dalam penyediaan tenaga kesehatan strategis di daerah terpencil, tertinggal, perbatasan dan kepulauan. Menurut saya, solusi ini paling efektif untuk menjawab tantangan tersbut karena dari kebijakan memegang peranan penting dalam mencapai suatu tujuan. Akan tetapi, kebijakan tersebut dapat memperbaiki tantangan tentang disparitas angka kematian balita bila dilaksanakan secara bertanggung jawab. Karena itu, pemerintah (khususnya pemerintah daerah) memegang peranan penting dalam terlaksananya kebijakan tersebut secara bertanggung jawab. Referensi http://sp2010.bps.go.id/files/ebook/angka%20kematian%20bayi%20sp2010/index.html Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 2010