Anda di halaman 1dari 7

1.

PENGERTIAN
A. Electroencephalogram Electroencephalogram ( EEG) ialah suatu test untuk mendeteksi kelainan aktivitas elektrik otak (Campellone, 2006). Electroencephalogram

akan menghasilkan gambaran dari aktivitas elektrik otak yang disebut gambaran electroencephalografi. Prinsip kerja alat EEG ini ialah dengan melakukan pengukuran aktivitas otak berupa gelombang listrik, yang dapat direkam melalui kulit kepala dengan menggunakan elektroda. Elektroda digunakan untuk merekam

sinyal listrik tersebut. Elektroda ini tersusun atas sebuah lempengan kecil berklorida. Lempengan ini dilekatkan ke kepala pada lokasi otak yang akan dipelajari. Gambaran yang dihasilkan oleh pemeriksaan EEG ini berupa gambaran grafik elektroencepalografi yang memiliki amplitudo dan

frekuensi. Amplitudo pada EEG bervariasi, tergantung pada tempat perekaman dan aktivitas otak itu sendiri pada saat perekaman. Amplitudo sinyal pada EEG rendah yaitu sekitar 50 V, dan interferensi dari sinyal listrik luar sering menimbulkan artefak pada proses pemeriksaan EEG. Bahkan meskipun gangguan eksternal dihilangkan, potensial asing dari aktivitas otot, misalnya gerakan mata, dapat menimbulkan artefak dalam rekaman EEG tersebut. Frekuensi sinyal EEG itu sendiri bergantung pada aktivitas mental pasien yang bersangkutan. Sebagai contoh, orang yang rileks biasanya akan memperlihatkan EEG yang terutama terdiri dari frekuensi 8 Hz dan menghasilkan gelombang alfa. Sedangkan apabila

pasien menjadi lebih waspada, maka frekuensi akan berubah menjadi 13 Hz dan rentang gelombang beta akan mendominasi sinyal EEG. Dalam dunia medis, EEG digunakan sebagai alat bantu untuk mendiagnosis beberapa penyakit yang berhubungan dengan otak.

Contohnya ialah dalam diagnosis epilepsi serta proses klasifikasi beberapa tipe kejang epileptik. Untuk serangan epilepsi yang cukup parah , maka EEG akan menampilkan spikes (lonjakan) cepat yang bervoltase tinggi pada semua bagian dari tengkorak tersebut. Sedangkan untuk stroke dengan serangan yang lebih ringan (kejang petit mal) maka EEG akan

menampilkan sampai tiga gelombang bulat per detik yang didahului oleh gambaran spikes yang cepat.

Gambar 1. Objek Otak yang diperiksa pada pemeriksaan EEG

Selain itu , EEG juga dapat digunakan untuk membantu tumor

diagnosis

pada otak ,di samping penggunaan modalitas lain antara lain CT

Scan dan MRI. EEG juga dapat digunakan sebagai monitor dalam pembedahan apabila elektrokardiogram (EKG) tidak dapat digunakan. Dewasa ini, penggunaan EEG juga dapat dipakai untuk melakukan pengamatan terhadap berbagai tahap tidur. Sewaktu seseorang menjadi mengantuk, terutama saat mata tertutup ,maka gelombang alfa (8-13 Hz) akan mendominasi EEG. Amplitudo gelombang tersebut akan meningkat dan frekuensinya akan berkurang sewaktu pasien berpindah dari tidur ayam menjadi tidur lelap.

B. Deret Fourier Deret Fourier ialah penguraian fungsi periodik menjadi jumlahan fungsi-fungsi berosilasi, yaitu fungsi sinus dan kosinus, maupun

eksponensial dari fungsi kompleks. Deret Fourier ini diperkenalkan oleh seorang matematikawan Prancis bernama Joseph Fourier (1768-1830) dan digunakan pertama kali untuk memecahkan masalah persamaan panas pada lempeng logam. Persamaan panas merupakan persamaan diferensial parsial.

Sebelum ditemukannya deret Fourier ini, pemecahan persamaan panas ini tidak diketahui secara umum, meskipun solusi khususnya telah diketahui yaitu bila sumber panas berperilaku dalam cara sederhana, terutama bila sumber panas merupakan gelombang sinus atau kosinus. Gagasan Fourier

pertama ialah konsep pemodelan sumber panas sebagai superposisi (atau kombinasi linear) gelombang sinus dan kosinus sederhana. Kemudian dituliskan solusi pemecahannya sebagai superposisi solusi eigen terkait. Superposisi kombinasi linear inilah yang disebut sebagai deret Fourier. Meskipun motivasi awal adalah untuk memecahkan persamaan panas, namun pada kenyataanya terlihat jelas bahwa deret Fourier ini dapat diterapkan untuk sejumlah besar permasalahan fisika dan matematika. Deret Fourier sampai saat ini memiliki banyak penerapan untuk penyelesaian masalah masalah pada bidang teknik elektro, analisis vibrasi, akustika, optika, pengolahan citra, mekanika kuantum, dan beberapa persoalan Fisika lainnya. Deret Fourier dapat dituliskan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : a0 + (an cos nx + bn sin nx ) Dengan an = 1/ f(x) cos nx dx

Bn = 1/

f(x) sin nx dx

2. Pembahasan
Grafik hasil Elektroencephalografi yang dihasilkan dari pemeriksaan EEG ialah berupa gambar gelombang. Tampak pada gambar di bawah ini, gambar grafik EEG pada saat pemantauan kondisi otak seseorang pada saat aktivitas tidur. Grafik gambaran electroencephalografi yang terdiri atas system otak pada manusia pada saat terjaga, tidur ayam, tidur REM serta tidur lelap. Ternyata interpretasi dari gelombang - gelombang tersebut dapat diamati dengan menggunakan aplikasi deret fourier.

Gambar 2. Grafik hasil EEG

3. Kesimpulan
Proses pencitraan gambaran pada diagnosis EEG menghasilkan gambaran elektroencephalografi yang berupa gelombang dan memenuhi persamaan deret Fourier. Sehingga dengan jelas kita mengetahui pengaplikasian deret Fourier pada alat kesehatan berupa gambaran elektroencephalografi.

4. Daftar Pustaka
Cameron , John R, 2006 ,Fisika Tubuh Manusia Edisi Kedua ,Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta