Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH ADKL (ANALISIS DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN) Dampak Kesehatan Lingkungan Akibat Suatu Usaha / Kegiatan Industri Pembuatan

Batik

Disusun Oleh:
1. Agin Ria L. 2. Alfian Dion S. 3. Aprilia Fitri N.c 4. Aryadita M.

( P07133111082 ) ( P07133111083 ) ( P07133111084 ) ( P07133111086 )

NON REGULER B KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2012

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga dapat menyusun dan menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul Dampak Kesehatan

Lingkungan Akibat Suatu Usaha / Kegiatan Industri Pembuatan Batik Dalam kesempatan ini, penulis sampaikan rasa terima kasih kepada pihak yang telah membantu kelancaran pembuatan makalah ini terutama kepada Bapak H. Sarjito Eko W.l,SKM, MP, selaku dosen mata kuliah ADKL yang telah memberikan bimbingannya. Perlu diketahui bahwa makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ADKL tahun ajaran 2012/2013 di Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta. Makalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan sehingga penyusunan karya tulis yang sejenis pada masa yang mendatang akan lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan pengetahuan bagi pembacanya. Wassalamualaikum wr.wb.

Yogyakarta ,11 Maret 2013

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Batik merupakan salah satu warisan kategori non benda asli budaya Indonesia yang telah mendapat pengakuan dunia, sesuai dengan ketetapan UNESCO pada tanggal 2 Oktober tahun 2009. Untuk melestarikan dan meningkatkan produksi batik, pemerintahtelah melakukan berbagai upaya,diantaranya berupa bantuan permodalan, pelatihan, promosi, dan ketentuan untuk mengenakan busana batik bagi berbagai instansi. Peningkatan produksi batik akan berdampak positif pada sektor perekonomian nasional, khususnya pada daerah produsen batik. Namun di sisi lain, dampak negatif yang ditimbulkan dari limbah batik juga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Air sebagai salah satu Sumber Daya Alam (SDA) yang diperlukan untuk semua makhluk hidup, harus dilindungi agar tetap terjaga kelestariannya. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan hendaknya dilakukan secara bijaksana, dengan mempertimbangkan kepentingan generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Saat ini permasalahan utama yang dihadapi terkait sumber daya air adalah penurunan kuantitas maupun kualitasnya. Dengan makin pesatnya pertumbuhan penduduk, maka makin meningkat pula eksplorasi terhadap air. Pesatnya pertumbuhan perindustrian akan meningkatkan buangan limbahnya ke lingkungan, baik jumlah maupun jenisnya, termasuk limbah cair batik. Limbah yang dibuang ini sering mengandung bahan-bahan kimia berbahaya, yang tidak dapat diurai secara alami oleh badan air penerima limbah. Masuknya bahan pencemar ke dalam badan air akan menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan kualitasair. Air buangan yang dibuang ke badan air, dapat menimbulkan kekeruhan karena kandungan bahan padat tersuspensi (Dix, 1981). Kekeruhan dapat disebabkan oleh adanya senyawa organik maupun anorganik, lempung, lumpur, plankton dan zatzat halus lainnya (Alaerts dan Santika, 1987). Selain perubahan fisik, perubahan kualitas kimiawi air juga dapat digunakan sebagai indikator terjadinya pencemaran pada suatu lingkungan perairan. Indikator kimiawi yang sering digunakan adalah BOD (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), DO (Dissolved Oxygen), pH, CO2terlarut, bahan padat tersuspensi dan bahan-bahan tersuspensi organis, padatan total, Nitrogen dan Fosfor, logam berat dan padatan anorganis (Eckenfelder, 1978). Senyawa organik dan anorganik yang terdapat dalam air limbah industri batik berupa : karbohidrat, protein, lemak, minyak, surfaktan, zat organik

aromatik seperti zat warna,zat pembantu pencelupan, alkali, asam dan garam. Zat-zat organik dalam limbah cair terutamatersusun dari unsurunsur : C, H, O dan sedikit unsur S, N yang berpotensi menyerap Oksigen yang digunakan mikroorganisme untuk menguraikan senyawa organik. Kadar Oksigen dalam air limbah lama-kelamaan akan berkurang, dan air limbah bertambah keruh serta berbau. pH merupakan parameter penting untuk kehidupan biota air. Air limbah hasil dari proses pencelupan batik ada yang bersifat asam dan ada pula yang bersifat basa. Zat warna merupakan senyawa aromatik kompleks yang pada umumnya sukar diurai dan biasanya mengandung logam-logam berat seperti : Cr atau Cu, misalnya zat warna ergan soga. Dalam proses produksi batik membutuhkan bahan-bahan kimia khususnya pada tahap proses pewarnaan dan pencelupan, yang bersifat biodegradable maupun nonbiodegradable. Polutan yang terkandung dalam limbah cair industri batik umumnya mengandung padatan tersuspensi , zat organik dan logam berat. Oleh karena itu, jika buangan limbah industri batik hanya dibuang langsung begitu saja ke lingkungan tanpa melalui proses pengolahan, maka akan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka perlu dilakukan suatu kajian kualitas air Sungai Bedog sebagai penerima akhir buangan limbah cair batik yang berasal dari sentra industri batik Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Yogyakarta .

B. Tujuan 1. Untuk mengetahui proses pembuatan batik 2. Untuk mengetahui proses pembuangan limbah industri batik 3. Untuk mengetahui dampakbagi kesehatan dan lingkungan

BAB II PEMBAHASAN

A. Proses Pembuatan Batik di Desa Wijirejo


Proses pembuatan batik dilakukan secara tradisional. Ada tiga tahapan proses yang harus dikerjakan. Awalnya proses pelekatan lilin/malam batik pada kain untuk membuat motif batik yang dikehendaki dengan cara canting tulis , canting cap maupun dilukis dengan kuwas/jegul . Tahap ke dua adalah proses pewarnaan batik, kemudian terakhir penghilangan lilin batik yang telah melekat pada permukaan kain dengan cara ngerok atau ngerik dan pengerjaan ini disebut nglorod, ngebyok atau mbabar. Bahan baku untuk batik adalah kain grey bahan katun dan kain mori putih. Untuk kain mori putih selain dari bahan katun, juga bisa rayon, sutera asli bahkan sutera tiruan. Sedangkan bahan cat untuk batik adalah Naftol lengkap dengan garam atau base naftol, Indigosol, Indanthren dan Rapid. Sedangkan bahan penolong yang digunakan : lilin/malam, kostik soda, tepung aci, hydrosulfit, air keras/ HCL, TRO/ teepol, Nitrit , Tinopal dan senyawa kimia lainnya.

B. Proses Pembuangan Limbah Industri Batik Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul merupakan salah satu sentra industri batik di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Industri batik di desa ini, umumnya tergolong sebagai industri skala rumah tangga (home industry) atau kelompok usaha industri skala kecil dan menengah (UKM). Industri skala ini mempunyai keterbatasan tempat, penguasaan teknologi dan manajemen, serta kurang kepedulian terhadap permasalahan lingkungan. Air limbah yang dihasilkan hanya dibuang begitu saja ke saluran air yang ada, misalnya saluran air hujan dan selokan atau ke permukaan tanah sekitarnya. Saluran air yang dilewati limbah cair batik ini selanjutnya masuk Sungai Bedog. Limbah cair batik selanjutnya akan menurunkan kualitas air Sungai Bedog, karena limbah cair tersebut akan mempengaruhi ekosistem perairan Sungai Bedog, sehingga dapat mengakibatkan peruntukan Sungai Bedog berubah.

Dalam proses produksi batik membutuhkan bahan-bahan kimia khususnya pada tahap proses pewarnaan dan pencelupan, yang bersifat biodegradable maupun nonbiodegradable. Polutan yang terkandung dalam limbah cair industri batik umumnya mengandung padatan tersuspensi , zat organik dan logam berat. Oleh karena itu, jika buangan limbah industri batik hanya dibuang langsung begitu saja ke lingkungan tanpa melalui proses pengolahan, maka akan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. C. Proses penanggulangan limbah batik Saat ini berbagai teknik atau metode penanggulangan limbah batik telah dikembangkan, di antaranya adalah metode adsorpsi. Namun metode ini ternyata kurang begitu efektif karena zat warna batik yang diadsorpsi tersebut masih terakumulasi di dalam adsorben yang pada suatu saat nanti akan menimbulkan persoalan baru. Sebagai alternatif, dikembangkan metode fotodegradasi dengan menggunakan bahan fotokatalis dan radiasi sinar ultraviolet. Metode fotodegradasi akan membuat zat warna terurai menjadi komponen-komponen yang lebih sederhana dan lebih aman untuk lingkungan. Pengolahan limbah batik dengan proses kimia dan adsorpsi karbon aktif telah dilakukan oleh Setyaningsing (2007). Pengolahan limbah yang dipilih adalah dengan proses kimia dan fisika, hal ini karena tujuan utama dari pengolahan limbah batik adalah penghilangan warna dari limbah batik. Koagulan yang digunakan adalah FeSO4 dan Ca(OH)2. Untuk mendapatkan pengolahan limbah dengan cara paling tepat, dilakukan rangkaian percobaan pengolahan limbah yaitu koagulasi/flokulasi-sedimentasi, koagulasi flotasi, koagulasi/flokulasi sedimentasiadsorpsi dan proses adsorpsi. Hasil penelitian Setyaningsih (2007) didapatkan cara

yang paling baik adalah proses koagulasi/flokulasi-sedimentasi-adsorpsi, dengan persen pengurangan warna sebesar 100%. Jenis adsorben yang paling bagus adalah karbon aktif tempurung kelapa, karbon aktif sekam padi, karbon aktif batu bara lokal dan karbon aktif batu bara impor. Metode oksidasi dengan menggunakan bahan-bahan pengoksida dengan teknik advanced oxidation processes (AOPS) telah dikembangkan dengan menggunakan radikal bebas hidroksi. AOPS proses menggunakan kombinasi ozone (O3), hydrogen peroxide (H2O2) and radiasi sinar UV. Teknik ini sangat baik untuk mengurangi warna limbah tetapi tidak mampu menurunkan angka COD (Ahmet et al., 2003; Lidia et al., 2001; Stanislaw et al., 2001; Tzitzi et al., 1994). Beberapa metode konvensional yang digunakan untuk mengolah limbah tekstil adalah kombinasi dari proses biologi, fisika dan kimia (Acher dan Rosenthal, 1977; Brown dan Hamburger, 1987). Karena limbah tekstil biasanya dihasilkan dalam skala besar maka beberapa metode tersebut menjadi tidak menguntungkan. Metode baru yaitu penggunaan ozon dan photooksidasi telah juga dikembangkan untuk mengolah limbah tekstil (Tratnyek dan Hoigne, 1991; Tratnyek et al., 1994). Metode ozonasi dan photooksidasi memerlukan biaya yang sangat tinggi dan sukar jika diterapkan untuk masyarakat. Metode elektrokimia merupakan metode yang sukses untuk mengolah

beberapa limbah cair industri (Matis, 1980), termasuk limbah zat warna dari industri tekstil (Sheng and Peng, 1994).

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan B. Saran

DAFTAR PUSTAKA http://blh.bantulkab.go.id/berita/baca/2010/07/24/122729/monitoring-industrikecil-batik-cap-di-pandak http://www.bantulkab.go.id/kecamatan/Pandak.html PT. Primissimanyang http://international-batik-center.blogspot.com/2012/05/proses-pembuatanbatik.html