Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

IDIOPATHIC RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (IRDS)

DISUSUN OLEH : 1. ANGGIE CHOIRUNNASARI (10001005) 2. EVI ULFIYAH (10001019) 3. ITA AMINATUS (10001062) 4. KUSUMA HUDIN (10001034) 5. RIZKI EKA APRIANTO (10001049)

PRODI DIII KEPERAWATAN POLTEKKES MAJAPAHIT MOJOKERTO 2012

A. Konsep Medis
1. Pengertian
Sindrom gawat napas idiopatik (Idiopathic Respiratory Distress Syndrom) disebut juga penyakit membran hialia, merupakan perkembangan yang imatur pada sistem pernapasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. IRDS adalah perkembangan yang imatur pada sistem pernapasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan sebagai Hyaline membrane disease ( HMD). RDS merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan pada bayi prematur, biasanya setelah 3 5 hari. Sindrom ini dapat terjadi karena ada kelainan di dalam atau diluar paru, sehingga tindakan disesuaikan dengan penyebab sindrom ini. Prognosanya buruk jika support ventilasi lama diperlukan, kematian bisa terjadi setelah 3 hari penanganan.

2. Etiologi
a) Prematuritas dengan paru-paru yang imatur (gestasi dibawah 32 minggu) dan tidak adanya, gangguan atau defisiensi surfactan. Produksi surfaktan ini dimulai sejak kehamilan minggu ke-22, makin muda usia kehamilan, makin besar pula kemungkinan terjadi RDS. b) Bayi prematur yang lahir dengan operasi caesar c) Penurunan suplay oksigen saat janin atau saat kelahiran pada bayi matur atau prematur.

d) Kelainan dalam paru yang menunjukan sindrom ini adalah


1. Pneumothoraks/pneumomediastinum 2. Penyakit membran hialin (PMH) 3. Pneumonia 4. Aspirasi

3. Fisiologi
Penilaian keadaan pernafasan dapat dilakukan dengan mengamati gerakan dada dan atau perut. Neonatus normal biasanya mempunyai pola pernafasan abdominal. Bila anak

sudah dapat berjalan pernafasannya menjadi thorakoabdominal. Pola pernafasan normal adalah teratur dengan waktu ekspirasi lebih panjang daripada waktu inspirasi, karena pada inspirasi otot pernafasan bekerja aktif, sedangkan pada waktu ekspirasi otot pernapasan bekerja secara pasif.

4. Patofisiologi
Pada bayi dengan RDS, dimana adanya ketidakmampuan paru untuk mengembang dan alveoli terbuka. RDS pada bayi yang belum matur menyebabkan gagal pernafasan karena imaturnya dinding dada, Parenchyma paru, dan imaturnya endothelium kapiler yang menyebabkan kolaps paru pada akhir ekspirasi. Pada bayi RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif disebabkan oleh menurunnya jumlah surfaktan atau perubahan kualitatif surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang diproduksi sel epitel saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai max pada minggu ke 35. Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein (10%). Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang pada bayi dengan asfiksia pada periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan adanya stress intrauterine seperti hipertensi dan kehamilan kembar. Peranan surfaktan ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsional pada sisa akhir expirasi. Karena terjadi perubahan tekanan intra extra thoracic dan menurunnya pertukaran udara akan menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis. Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :
a. Oksigenasi jaringan menurun, metabolisme anaerobik dengan penimbunan asam laktat asam organic (asidosis metabolic). b. Secara alamiah perbaikan mulai setelah 24-48 jam. Sel yang rusak akan diganti.

Membran hyaline, berisi debris dari sel yang nekrosis yang tertangkap dalam proteinaceous filtrate serum (saringan serum protein), di pagosit oleh makrofag. Sel cuboidal menempatkan pada alveolar yang rusak dan epithelium jalan nafas, kemudian terjadi perkembangan selo kapiler baru pada alveolar. Sintesis surfakatan memulai lagi clan kemudian membantu perbaikan alveoli untuk pengembangan.

4. Manifestasi Klinik
Tanda-tanda klinik sesuai dengan besarnya bayi, berat penyakit, adanya infeksi dan ada tidaknya shunting darah melalui PDA. (Stark, 1986) a) Pernafasan cepat (tachypnea) b) Retraksi (tarikan) dada ( suprasternal, substernal, intercostal) c) Pernafasan terlihat paradoks d) Cuping hidung e) Apnea f) Murmur g) Sianosis pusat

h) Adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan akibat masuknya cairan ke dalam


ruang interstitial yang dipengaruhi oleh aktifitas surfaktan, akibatnya terjadi tandatanda atelektasis.

i) Cairan juga masuk dalam alveoli dan mengakibatkan oedema paru.

j)

Plasma dan sel darah merah keluar dari kapiler-kapiler yang rusak, oleh karena itu mungkin perdarahan merupakan manifestasi patologi yang umum.

5. Komplikasi a. Ketidak seimbangan asam basa. b. Pneumothoraks, hipotensi,Asidosis. c. Pneumodiastinum,PDA,BPD. d. Sianosis.


e. Penurunan daya komplain paru. f. Hipotensi sistemik. g. Penurunan keluaran urine. h. Penurunan suara nafas, Ronchi. i. Tachicardi pada saat terjadi asidosis dan Hipoksemia

6. Pemeriksaan Diagnostik
a) Seri rontgen dada, untuk melihat densitas atelektasis dan elevasi diaphragma dengan overdistensi duktus alveolar b) Bronchogram udara, untuk menentukan ventilasi jalan nafas. c) Analisa gas darah d) Imatur lecithin / sphingomyolin (L/S)

7. Penatalaksanaan
a). Pemberian oksigen b). Pertahankan nutrisi adekuat c). Pertahankan suhu lingkungan netral d). Diit 60 kcal perhari ( sesuaikan dengan protocol yang ada) dengan asam amino yang mencukupi untuk mencegah katabolisme protein dan ketoasidosis endogenous e). Pertahankan PO2 dalam batas normal f). Intubasi bila perlu,dengan tekanan ventilasi positif

B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Riwayat maternal a. Menderita penyakit seperti diabetes mellitus. b. Kondisi seperti perdarahan placenta. c. Tipe dan lamanya persalinan.

d. Stress fetal atau intrapartus Status infant saat lahir a. Prematur, umur kehamilan. b. Apgar score, apakah terjadi aspiksia. c. Bayi prematur yang lahir melalui operasi caesar

Cardiovaskular a. Bradikardi (dibawah 100 x per menit) dengan hipoksemia berat . b. Murmur sistolik.

c. Denyut jantung dalam batas normal Integumen a. Pallor yang disebabkan oleh vasokontriksi periferal. b. Pitting edema pada tangan dan kaki. c. Mottling

Neurologis a. Immobilitas, kelemahan, flaciditas. b. Penurunan suhu tubuh Pulmonary a. Takipnea (pernafasan lebih dari 60 x per menit, mungkin 80 100 x ). b. Nafas grunting. c. Nasal flaring. d. Retraksi intercostal, suprasternal, atau substernal. e. Cyanosis (sentral kemudian diikuti sirkumoral) berhubungan dengan persentase desaturasi hemoglobin. f. Penurunan suara nafas, crakles, episode apnea.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan imatur paru dan dinding dada atau kurangnya jumlah cairan surfaktan. b. Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi atau pemasangan intubasi trakea yang kurang tepat dan adanya secret pada jalan nafas. c. Tidak efektif pola nafas berhubungan dengan ketidaksamaan nafas bayi dan ventilator, tidak berfungsinya, dan posisi bantuan ventilator yang kurang tepat. d. Risiko injury berhubungan dengan ketidaksamaan asam-basa; O2 dan CO2 barotrauma (perlukaan dinding mukosa) dari alat bantu nafas. e. Risiko perubahan peran orang tua berhubungan dengan hospitalisasi sekunder dari situasi krisis pada bayi. f. Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan yang tanpa disadari (insensible water loss).

g. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menelan, motilitas gastrik menurun, dan penyerapan.

3. Intervensi Keperawatan
Tujuan 1 : Tanda dan gejala disstres pernafasan, deviasi dari fungsi dan resiko infant terhadap RDS dapat teridentifikasi.

Intervensi Rasional 1. Kaji infant yang beresiko mengalami RDS yaitu :

a. Riwayat ibu dengan diabetes mellitus atau perdarahan placenta. b. Prematuritas bayi. c. Hipoksia janin. d. Kelahiran melalui operasi caesar Pengkajian diperlukan untuk menentukan intervensi
secepatnya bila bayi menunjukkan adanya tanda disstres nafas dan terutama untuk memperbaiki prognosa.

2. Kaji perubahan status pernafasan termasuk : a. Takipnea (pernafasan diatas 60 x per menit, mungkin 80 100 x). R/ Perubahan tersebut mengindikasikan RDS telah terjadi, panggil dokter untuk tindakan secepatnya.Pernafasan bayi meningkat karena peningkatan kebutuhan oksigen. b. Nafas grunting.
R/ Suara ini merupakan suara keran penutupan glotis untuk menghentikan ekhalasi

udara dengan menekan pita suara. c. Nasal flaring.


R/ Merupakan keadaan untuk menurunkan resistensi dari respirasi dengan membuka

lebar jalan nafas. d. Retraksi intercostal, suprasternal atau substernal dengan penggunaan otot bantu nafas .
R/ Retraksi mengindikasikan ekspansi paru yang tidak adekuat selama inspirasi.

e. Cyanosis.
R/ Cyanosis terjadi sebagai tanda lanjut dengan PO2 dibawah 40 mmHg.

f. Episode apnea, penurunan suara nafas dan adanya crakles.

R/ Episode apneu dan penurunan suara nafas menandakan distress nafas semakin berat .

3. Kaji tanda yang terkait dengan RDS a. Pallor dan pitting edema pada tangan dan kaki selama 24 jam.
R/ Tanda-tanda tersebut terjadi pada RDS.

Tanda ini terjadi karena vasokontriksi

perifer dan penurunan permeabilitas vaskuler b. Kelemahan otot.


R/ Tanda ini terjadi karena ekshaution yang disebabkan kehilangan energi selama

kesulitan nafas c. Denyut jantung dibawah 100 x per menit pada stadium lanjut.
R/ Bradikardia terjadi karena hipoksemia berat

d. Nilai AGD dengan PO2 dibawah 40 mmHg, pco2 diatas 65 mmHg, dan pH dibawah 7,15 R/ Tanda ini mengindikasikan acidosis respiratory dan acidosis metabolik jika bayi hipoksik.

4. Monitor PO2 trancutan atau nilai pulse oksimetri secara kontinyu setiap jam. R/ Nilai PO2 traskutan dan pulse oksimetri non invasif menunjukkan prosentase oksigen saat inspirasi udara.

Tujuan 2 : Mempertahankan dan memaksimalkan fungsi pulmonal

Intervensi Rasional 1. Berikan kehangatan dan oksigen sesuai dengan sbb: a. Oksigen yang dihangatkan 31,7C 33,9C. b. Humidifikasi 40% - 60%. c. Beri CPAP positif. d. Beri PEEP positif Untuk mencegah terjadinya hipotermia dan memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. 2. Berikan pancuronium bromide (Pavulon). R/ Obat ini berguna sebagai relaksan otot untuk mencegah injury karena pergerakan bayi saat ventilasi.

3. Tempatkan bayi pada lingkungan dengan suhu normal serta monitor temperatur aksila setiap jam. R/ Lingkungan dengan suhu netral akan menurunkan kebutuhan oksigen dan menurunkan produksi CO2. 4. Monitor vital signs secara kontinyu yaitu denyut jantung, pernafasan, tekanan darah, serta auskultasi suara nafas. R/ Perubahan vital signs menandakan tingkat keparahan atau penyembuhan. 5. Observasi perubahan warna kulit, pergerakan dan aktivitas R/ Perubahan warna kulit, pergerakan dan aktivitas mengindikasikan peningkatan metabolisme oksigen dan glukosa. Informasi yang penting lainnya adalah perubahan kebutuhan cairan, kalori dan kebutuhan oksigen. 6. Pertahankan energi pasien dengan melakukan prosedur seefektif mungkin. R/ Mencegah penurunan tingkat energi infant.

7. Monitor serial AGD seperti PaO2, PaCo2, HCO3 dan pH setiap hari atau bila dibutuhkan. R/ Perubahan mengindikasikan terjadinya acidosis respiratorik atau metabolik

Tujuan 3 : Mempertahankan dan mendukung intake nutrisi

Intervensi Rasional 1. Berikan infus D 10% W sekitar 65 80 ml/kg bb/ hari. R/ Untuk menggantikan kalori yang tidak didapat secara oral. 2. Pasang selang nasogastrik atau orogastrik. R/ Untuk dapat memasukkan makanan jika diindikasikan atau untuk mengevaluasi isi lambung Pilihan ini dilakukan jika masukan sudah tidak mungkin dilakukan. 3. Cek lokasi selang NGT dengan cara : a. Aspirasi isi lambung. b. Injeksikan sejumlah udara dan auskultasi masuknya udara pada lambung . c. Letakkan ujung selang di air, bila masuk lambung, selang tidak akan memproduksi gelembung Untuk mencegah masuknya makanan ke saluran pernafasan.

4. Berikan makanan sesuai dengan prosedur berikut: a. Elevasikan kepala bayi. b. Berikan ASI atau susu formula dengan prinsip gravitasi dengan ketinggian 6 8 inchi dari kepala bayi. c. Berikan makanan dengan suhu ruangan. d. Tengkurapkan bayi setelah makan sekitar 1 jam. e. Memberikan makanan tanpa menurunkan tingkat energi bayi 5. Berikan TPN jika diindikasikan. R/ TPN merupakan metode alternatif untuk mempertahankan nutrisi jika bowel sounds tidak ada dan infants berada pada stadium akut.

Tujuan 4 : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Intervensi Rasional 1. Pertahankan pemberian infus Dex 10% W 60 100 ml/kg bb/hari. R/ Penggantian cairan secara adekuat untuk mencegah ketidakseimbangan 2. Tingkatkan cairan infus 10 ml/kg/hari, tergantung dari urine output, penggunaan pemanas dan jumlah feedings. R/ Mempertahankan asupan cairan sesuai kebutuhan pasien. Takipnea dan penggunaan pemanas tubuh akan meningkatkan kebutuhan cairan. 3. Pertahankan tetesan infus secara stabil, gunakan infusion pump. R/ Untuk mencegah kelebihan atau kekurangan cairan. Kelebihan cairan dapat menjadi keadaan fatal. 4. Monitor intake cairan dan output dengan cara : a. Timbang berat badan bayi setiap 8 jam. b. Timbang popok bayi untuk menentukan urine output. c. Tentukan jumlah BAB.

d. Monitor jumlah asupan cairan infus setiap hari. Catatan intake dan output cairan penting untuk menentukan ketidak seimbangan cairan sebagai dasar untuk penggantian cairan. 5. Lakukan pemeriksaan sodium dan potassium setiap 12 atau 24 jam. R/ Peningkatan tingkat sodium dan potassium mengindikasikan terjadinya dehidrasi dan

potensial ketidakseimbangan elektrolit

Tujuan 5 : Meminimalkan kecemasan dan rasa bersalah, dan mendukung bounding antara orangtua dan infant.

Intervensi Rasional 1. Kaji respon verbal dan non verbal orangtua terhadap kecemasan dan penggunaan koping. R/ Mekanisme Hal ini akan membantu mengidentifikasi dan membangun strategi koping yang efektif. 2. Bantu orangtua mengungkapkan perasaannya secara verbal tentang kondisi sakit anaknya, perawatan yang lama pada unit intensive, prosedur dan pengobatan infant. Membuat orangtua bebas mengekpresikan perasaannya sehingga membantu menjalin rasa saling percaya, serta mengurangi tingkat kecemasan. 3. Berikan informasi yang akurat dan konsisten tentang kondisi perkembangan infant. R/ Informasi dapat mengurangi kecemasan 4. Bila mungkin, anjurkan orangtua untuk mengunjungi dan ikut terlibat dalam perawatan anaknya. R/ Memfasilitasi proses bounding 5. Rujuk pasien pada perawat keluarga atau komunitas. R/ Rujukan untuk mempertahankan informasi yang adekuat, serta membantu orangtua menghadapi keadaan sakit kronis pada anaknya.

4. Implementasi
1. Mempertahankan pertukaran gas yang adekuat. a. Identifikasi bayi mungkin adanya risiko yang muncul. b. Monitor status pernafasan; distress pernafasan dan lapor. c. Ke dokter bila terjadi keburukan kondisi pernafasan. d. Monitor analisa gas darah, pulse oximetry.

e. Posisikan bayi dengan tepat agar, ada upaya bernafas. f. Pertahankan suhu lingkungan netral. g. Mengurangi pegangan. h. Pemberian oksigen sesuai program. 2. Meningkatkan kebersihan jalan nafas. a. Kaji dada bayi apakah bunyi nafas bilateral dan adanya ekspansi selama inspirasi. b. Atur posisi bayi untuk memudahkan drainage c. Lakukan pengisapan lender ( suction) d. Kaji kepatenan jalan nafas setiap jam e. Kaji posisi kepatenan alat ventilator setiap jam f. Auskultasi kedua lapang paru 3. Meningkatkan pola nafas efektif. a. Monitor serial analisa gas darah sesuai program b. Menggunakan alat bantu nafas sesuai instruksi c. Pantau ventilator setiap jam d. Berikan lingkungan yang kondusif supaya bayi dapat tidur, gunakan sedative bila perlu sesuai program e. Kaji adanya usaha bayi dalam bernafas 4. Mencegah injury berhubungan dengan ketidakseimbangan asam-basa; O2 dan CO2 dan barotrauma. a. Evaluasi gas darh untuk melihat fungsi abnormal pernafasan. b. Monitor pulse oximetry c. Monitor komplikasi d. Pantau dan pertahankan ketepatan posisi alat bantu nafas atau ventilator 5. Meningkatkan bonding orang tua bayi a. Jelaskan semua alat-alat (monitor,ETT/ ventilator) pada orang tua b. Ajarkan orang tua untuk selalu mengunjungi c. Jika tidak menggunakan oksigen, ajarkan orang tua untuk menyentuh bayi, bercakap dan belaian kasih sayang d. Ajarkan cara orang tua untuk berpartisipasi dalam perawatan bayi e. Instruksi pada ibu untuk memberikan ASI dan ajarkan dan ajarkan cara merangsang pengeluaran ASI

6. Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan a. Pertahankan cairan infuse 60 100ml/kg/hari atau sesuai protocol yang ada b. Peningkatan pemberian cairan dapat dilihat dari hasil output urine, dan jumlah makanan enteral yang didapat c. Gunakan infuse pompa supaya dapat dipertahankan d. Monitor intake dan output dan catat secara ketat e. Monitor juga output urine pada popok f. Kaji elektrolit, sodium dan potassium g. Monitor jumlah cairan infuse yang masuk 7. Meningkatkan kebutuhan status nutrisi a. Pasang NGT untuk pemberian minum b. Evaluai abdomen; auskultasi c. Pastikan bahwa selang NGT masuknya tepat pada lambung d. Berikan makanan atau minuman melalui NGT secara bertahap e. Tinggikan kepala anak sedikit pada saat akan minum f. Pemberian makanan/minuman pada anak secra perlahan-lahan g. Pantau (residual) sisa makanan atau minuman sebelum pemberian makanan h. Tempatkan bayi pada posisi miring ke kanan setelah pemberian minum selama satu jam.

5. Evaluasi
a. Mempertahankan pertukaran gas yang adekuat. b. Meningkatkan kebersihan jalan nafas. c. Meningkatkan pola nafas efektif. d. Mencegah injury berhubungan dengan ketidakseimbangan asam-basa; O2 dan CO2 dan barotrauma. e. Meningkatkan bonding orang tua bayi. f. Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan. g. Meningkatkan kebutuhan status nutrisi.