Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PENDIDIKAN DAN KONSELING GIZI

EVALUASI PENYULUHAN DAN KONSULTASI

KELOMPOK 12 NAMA ANGGOTA : 1. ANNISA AMBARSARI 2. DWI MURSITA SARI 3. LUCIA INDAH SAFITRI 4. MEDYARINA KURNIASIH KELAS : 2-A P2. 31. 31. 0. 11. 003 P2. 31. 31. 0. 11. 010 P2. 31. 31. 0. 11. 022 P2. 31. 31. 0. 11. 024

JURUSAN D3 GIZI POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II Jl. Hang Jebat III Blok F3 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan JAKARTA 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala berkat dan rahmatNya penulis telah menyelesaikan makalah Pendidikan dan Konsultasi Gizi yang membahas evaluasi dalam sebuah penyuluhan dan konsultasi gizi. Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun, penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan dosen pembimbing, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi dapat teratasi. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ibu Heni sebagai Dosen mata kuliah Pendidikan dan Konsultasi Gizi. 2. Orang tua penulis tercinta yang telah memberikan dukungan dan doa. 3. Rekan-rekan Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Jakarta II yang telah memberikan semangat dalam penyelesaian makalah ini. Dalam penulisan makalah ini, penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi seluruh pihak, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Jakarta, 12 September 2012

Penulis

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... ii DAFTAR ISI ........................................................................................................................ iii BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ...................................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................ 1 1.3 Tujuan ................................................................................................................... 1 BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................................... 2 2.1 Definisi Evaluasi .................................................................................................. 2 2.2 Prinsip-Prinsip Evaluasi ....................................................................................... 3 2.3 Tujuan dan Fungsi Evaluasi ................................................................................. 3 2.4 Objek dan Subjek Evaluasi ................................................................................... 5 2.5 Point Evaluasi ....................................................................................................... 6 2.6 Waktu Evaluasi ..................................................................................................... 7 2.7 Kegiatan Evaluasi Penyuluhan dan Konseling Gizi ............................................. 7 BAB III PENUTUP ............................................................................................................. 8 3.1 Kesimpulan ............................................................................................................ 8 3.2 Saran ...................................................................................................................... 8 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 9

iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Evaluasi merupakam sebuah proses penilaian yang penting, namun sering dikesampingkan dan konotasinya negatif, karena dianggap mencari kesalahan, kegagalan dan kelemahan dari suatu kegiatan tertentu. Penyuluhan gizi adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan gizi. Dengan kata lain pendekatan melalui aspek pendidikan termasuk kegiatan penyuluhan gizi, yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat yang merugikan kesehatan kearah perilaku hidup sehat. Penyuluhan atau konsultasi gizi yang direncanakan seharusnya diakhiri dengan evaluasi. Evaluasi yang dilakukan dimaksudkan untuk melihat kembali apakah penyuluhan tersebut telah dapat dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan tujuan yang diharapkan. Dari kegiatan evaluasi tersebut akan diketahui hal-hal yang telah dicapai, apakah suatu program dapat memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Oleh karena itu, kami membuat makalah mengenai evaluasi dalam penyuluhan agar dapat menjadi pedoman bagi para pembaca untuk mengetahui tata cara dalam mengevaluasi suatu program penyuluhan kesehatan.

1.2 Tujuan Berdsarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan penyusunan makalah ini yaitu : a) Sebagai bahan pembelajaran agar mahasiswa memiliki ilmu dan pemahaman mengenai evaluasi pada penyuluhan dan konsultasi gizi b) Dengan materi di dalam makalah ini, mahasiswa mampu mempraktikan dan menerapkan evaluasi yang baik dalam setiap penyuluhan dan konsultasi gizi.

BAB II LANDASAN TEORI

Setelah melakukan penyuluhan maupun konseling gizi langkah terakhir yang harus dilakukan adalah evaluasi terhadap penyuluhan maupun konseling gizi. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui respon klien terhadap penyuluhan dan konseling yang dilakukan oleh ahli gizi, apakah tujuan dari penyuluhan dan konseling sudah tercapai atau belum. Evaluasi ini dilakukan dengan melakukan penilaian kembali terhadap konselor dan kliennya. Meskipun kegiatan evaluasi ini sangat penting untuk dilakukan, tetapi terkadang terhalang oleh waktu.

2.1 Definisi Evaluasi Kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Evaluasi adalah proses penilaian. Penilaian ini bisa menjadi netral, positif atau negatif atau merupakan gabungan dari keduanya. Saat sesuatu dievaluasi biasanya orang yang mengevaluasi mengambil keputusan tentang nilai atau manfaatnya Menurut Curtis, Dan B; Floyd, James J.; Winsor, Jerryl L, Evaluasi adalah proses penilaian. Penilaian ini bisa menjadi netral, positif atau negatif atau merupakan gabungan dari keduanya. Saat sesuatu dievaluasi biasanya orang yang mengevaluasi mengambil keputusan tentang nilai atau manfaatnya. Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program, produksi serta alternatif prosedur tertentu. Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal, pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula. Stufflebeam dalam Worthen dan Sanders (1979 : 129) evaluasi adalah : process of delineating, obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. Dalam evaluasi ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah
2

proses (process) perolehan (obtaining), penggambaran (delineating), penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan. Sedangkan, Rooijackers Ad mendefinisikan evaluasi sebagai ;setiap usaha atau proses dalam menentukan nilai. Secara khusus evaluasi atau penilaian juga diartikan sebagai proses pemberian nilai berdasarkan data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan. Dan menurut Anne Anastasi (1978) mengartikan evaluasi sebagai ; a systematic process of determining the extent to which instructional objective are achieved by pupils. Evaluasi bukan sekadar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan tujuan yang jelas.

2.2 Prinsip-prinsip Evaluasi Beberapa prinsip evaluasi antara lain: 1. Prinsip belajar dari pengalaman; yang dimaksud adalah mengambil pengalaman yang baik akan dilanjutkan, dan yang belum baik akan ditingkatkan. Tidak akan mengulang kegagalan dua kali 2. Prinsip penilaian formatif, yaitu penilaian yang bertujuan untuk mencari feedback atau masukan bagi perbaikan atau penyempurnaan program, kegiatan atau organisasi. Berbeda dengan evaluasi sumatif yang bertujuan untuk mengetahui tahap kemampuan peserta yang akan digunakan untuk penempatan tingkat, kelas atau jenjang. 3. Evaluasi dilakukan secara kesinambungan untuk memperoleh informasi yang diperlukan, untuk menjamin dan meningkatkan mutu kegiatan serta hasilnya. 4. Manfaat hasil evaluasi akan optimal manakala dikomunikasikan secara tepat kepada pihak-pihak yang berkepentingan

2.3 Tujuan dan Fungsi Evaluasi Evaluasi memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Membantu perencanaan di masa yang akan datang 2. Mengetahui apakah saran yang tersedia dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya 3. Menentukan kelemahan dan kekuatan daripada rencana yang selanjutnya diadakan perbaikan-perbaikan 4. Membantu menentukan strategi, artinya mengevaluasi apakah cara yang telah dilaksanakan selama ini masih bisa dilanjutkan, atau perlu diganti.
3

5. Mendapatkan dukungan berupa dukungan moral maupun material. 6. Motivator, jika program berhasil, maka akan memberikan kepuasan dan rasa bangga kepada klien. 7. Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan penyuluhan; dalam hal ini tujuan khusus maupun tujuan umum. Tujuan khusus atau tujuan yang dapat terukur, dibuktikan, setelah proses penyuluhan selesai. Dengan hal ini dapat diketahui tingkat penguasaan bahan pembelajaran yang dikuasai oleh peserta penyuluhan. Dengan kata lain dapat diketahui hasil belajar yang dicapai peserta penyuluhan. 8. Secara komprehensif sebagai pengukur keberhasilan dilihat dari berbagai aspek; misalnya dari aspek peserta, aspek materi, aspek metoda, aspek sarana dan prasarana sekaligus dari aspek penyuluh sendiri.

Prof. DR. Abudin Nata (Dasar-dasar Pendidikan: 2001) mengutarakan fungsi evaluasi antara lain: 1. Untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran secara komprehensif yaitu dari aspek pengetahuan, ketrampilan dan perubahan sikap peserta pembelajaran 2. Sebagai umpan balik atau feedback bagi kegiatan selanjutnya. Umpan balik ini dapat ditujukan kepada pembuat kebijakan maupun pelaksana kebijakan. 3. Sebagai tolok ukur bagi pendidik sejauh mana keberhasilan proses pembelajaran yang telah dilakukan 4. Bagi peserta didik dijadikan alat untuk mengetahui seberapa banyak materi yang diterima dapat dikuasai 5. Bagi masyarakat dapat dijadikan informasi, dan ikut menilai sejauh mana kegiatan pembelajaran itu berhasil. 6. Sebagai alat seleksi untuk mengamati peserta didik atau pembelajar mana yang punya kemampuan dan perhatian kurang, lebih atau sekedar mengikuti proses pembelajaran. 7. Sebagai alat diagnostik; Jika alat evaluasinya bagus dapat untuk mengetahui kelemahan peserta pembelajaran, dan perlu langkah konsultatif berikutnya.

Langkah pertama yang harus ditempuh penyuluh dalam melakukan penilaian adalah menetapkan Apa yang akan menjadi sasaran atau obyek penilaian. Hal ini penting diketahui agar memudahkan penyuluh dalam menyusun alat evaluasi.

2.4 Subjek dan Objek Evaluasi 1. Objek evaluasi a) Input Input dapat ditinjau dari beberapa segi yang menghasilkan bermacam-macam bentuk btes yang digunakan sebagai alat untuk mengukur. Aspek yang bersifat rohani ini setidak-tidaknya mencakup empat hal : 1. Kemampuan Klien harus memiliki kemampuan untuk menerima saran dari konselor. Konselor harus memilki ilmu komunikasi yang memadai agar klien mampu menerima apa yang disampaikan. 2. Kepribadian Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada diri manusia dan Dalam hal-hal tertentu,

menampakkan bentuknya dalam tingkah laku.

informasi tentang kepribadian sangat diperlukan. Alat untuk mengetahui kepribadian seseorang disebut tes kepribadian atau personality tes. 3. Sikap-sikap Merupakan bagian dari tingkah laku manusia sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memancar keluar. Alat untuk mengetahui keadaan sikap seseorang dinamakan skala sikap atau attitude scale. 4. Inteligensi Untuk mengetahui tingkat inteligensi ini digunakan inteligensi yang sudah banyak diciptakan oleh para ahli. Dari hasil tes akan diketahui IQ (Intellegence Quotient) orang tersebut. IQ berbeda dengan intellegensi krena IQ hanyalah angka yang memberikan petunjuk tinggi rendahnya intellegensi seseorang. b) Contect (konteks) : yaitu evaluasi yang ditujukan kepada sistem dan tujuan penyuluhan, kondisi-kondisi aktual yang menjadi pertimbangan mengapa penyuluhan dilakukan dan apa kira-kira dampak dari program yang akan dicapai c) Process (proses) :Aktivitas atau partisipasi peserta, , suasana tempat penyuluhan, cara penyuluh menyampaikan penyuluhan, konsistensi materi yang disampaikan dengan tujuan yang telah ditetapkan, pola interaksi antara penyuluh dengan peserta penyuluhan d) Transformasi Unsur-unsur dalam transformasi yang menjadi objek penelitian antara lain : 1) Kurikulum/materi 2) Metode dan cara penilaian
5

3) Sarana penyuluhan/media 4) Sistem administrasi e) Output Perubahan perilaku klien terhadap makanan dan kesehatan setelah mendapat penyuluhan dari konselor. 2. Subjek Evaluasi Yang dimaksud dengan subyek evaluasi adalah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi. Subjek evaluasi ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku sehingga konselor, pesuluh, dan klien merupakan subjek evaluasi. 3. Alat-Alat Evaluasi Untuk melakukan evaluasi penyuluhan dan konsultasi dapat melakukannya dengan cara : a) Skala bertingkat Skala beringkat ini menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap sesuatu hasil. b) Kuisioner Kuisioner juga sering dikenal dengan angket merupakan sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi sehingga kita dapat mengetahui keadaan responden. c) Daftar cocok (Chek list) Daftar cocok (Chek list) adalah deretan pernyataan yang diisi oleh responden dengan membubuhkan tanda chek list () ke dalam tempat yang sudah disediakan d) Wawancara Wawancara adalah suatu metode yang digunakan untuk mendapat jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak. e) Pengamatan Pengamatan adalah tindakan dengan mengamati objek yang akan diamati secara sistematis.

2.5 Point Evaluasi Berdasarkan apa yang akan dinilai, penilaian dibagi dalam 2 kategori, yaitu: 1. Penilaian terhadap pencapaian tujuan Penilaian ini ditujukn untuk klien berdasarkan berhasil atau tidaknya klien merubah perilakunya terhadap diet dan kesehan. 2. Penilaian terhadap proses pelaksanaannya, yaitu cara pelaksanannya
6

Secara lebih rinci poin penilaian bisa dibagi sebagai berikut: 1. Penilaian terhadap masukan (input), penilaian ketepatan materi yang disampaikan oleh ahli gizi terhadap masalah kesehatan yang dihadapi klien. 2. Penilaian terhadap proses, penlaian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana aksi reaksi yang tercipta, hal ini perlu dilakukan sebab proses menentukan apakah materi yang disampaikan bisa dimengerti atau tidak. 3. Penilaian terhadap keluaran (output),penilaian ini didasarkan pada reaksi klien setelah mendapat penyuluhan atau konseling gizi. 4. Penilaian terhadap outcome, evaluasi ini dilihat berdasarkan perubahan sikap klien setelah disuluh oleh ali gizi terhadap diet dan kesehatan

2.6 Waktu Evaluasi Berdasarkan waktunya evaluasi/penilaian, maka penialain dapat dilakukan sebagai berikut. 1. Penilaian rutin (concurrent evaluation atau progress report). Dalam setiap program penilaian rutin ini hendaknya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program tersebut. 2. Penilaian berkala (periodical evaluation), yaitu penilaian yang dilakuakan pada setiap akhir dari suatu bagian tertentu dari program, seperti tiap enam bulan, satu tahun, dua tahun, dan sebagainya. 3. Penilaian khusus (ad-hoc evaluation), yaitu penilaian yang dilakukan setiap saat yang diperlukan. 4. Penilaian akhir (terminal evaluation), yaitu penilaian yang dilakukan pada akhir suatu program atau beberapa waktu sesudah akhir suatu program. Jadi ini merupakan penilaian terhadap pencapaian tujuan akhir

2.7 Kegiatan Evaluasi Penyuluhan dan Konseling Gizi Dalam buku Penuntun Konseling Gizi, karya Cornelia et al., ada 4 langkah kegiatan evaluasi penyuluhan dan konseling gizi, yaitu : 1. Monitoring Perkembangan Monitoring ini dilakukan oleh pesuluh atau konselor dalam memantau perkembangan kliennya, hal ini dapat dilakukan dengan , a. Mengecek pemahaman dan ketaatan diet klien b. Menentukan apakah intervensi dilakukan sesuai dengan rencana c. Menentukan apakah status gizi klien tetap atau berubah
7

d. Mengumpulkan informasi yang menunjukan alasan tidak adanya perkembangan dari kondisi klien 2. Mengukur hasil Untuk mengukur hasil ini kita sebagai pesuluh ataupun konselor harus menetapkan terlebih dahulu apa yang harus kita ukur. Dalam proses Asuhan Gizi Standarhal yang diukur tergambar pada komponen tanda atau gejala dari diagnosis gizi. Sehingga, kita dapat memilih indikator sesuai dengan gejala, tujuan intervensi, dan diagnosis medis. 3. Evaluasi Hasil Kegiatan evaluasi hasil ini merupakan kegiatan dengan membandingkan antara data terbaru dengan data sebelumnya. Dalam evaluasi hasil ini bertujuan untuk menilai keberhasilan penyuluhan dan konseling gizi, sehingga kita dapat mngetahui tingkat keberhasilan atau bahkan kegagalan. Pada evaluasi hasil ini terbagi mejadi 2 tahap, yaitu : a. Evaluasi proses (Jangka Pendek) : Dalam melakukan evaluasi proses hal yang diperhatikan adalah partisipasi klien, kesesuaian materi dan metode yang digunakan dalam menyampaikan materi, dan waktu yang digunakan. Evaluasi sebagai proses dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut. Melakukan pengumpulan data awal tentang suatu program 1) Pelajari tujuan program tersebut 2) Menentukan tolak ukurnya, yaitu patokan-patokan untuk pengukurannya 3) Pelajari kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mecapai tujuan 4) Sesudah pelaksanaan dimulai, mengadakan penilaian pada waktu-waktu yang sudah ditentukan. Penilaian akhir diadakan waktu pelaksanaan program berakhir dan juga beberapa saat sesudah program berakhir 5) Tentukan apakah tujuan tercapai atau apakah prosesnya sudah seperti yang direncanakan. b. Evaluasi Dampak (Jangka Panjang) : Evaluasi dampak lebih ditujukan untuk melihat keberhasilan konselor atau pesuluh, hal ini dapat diketahui dari apakah klien melakukan kunjungan ulang, ketepatan asupan gizi yang disarankan,dan apakah terjadi perubahan perilaku positif klien terhadap makanan dan kesehatan. 4. Dokumentasi Evaluasi Pendokumentasian harus dilaukan secara relevan, tepat, terjadwal, dan akurat, termasuk mendokumentasikan kondisi klien saat ini dan hasil yang diharapkan, dan dapat mengukur kualitas perkembangan klien.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Berdasarkan landasan teori pada bab II, dapat disimpulkan beberapa hal : Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam sebuah penyuluhan dan suatu hal yang penting karena bertujuan untuk mengetahui respon klien terhadap penyuluhan dan konseling yang dilakukan oleh ahli gizi, apakah tujuan dari penyuluhan dan konseling sudah tercapai atau belum. Terdapat dua tahap penting dalam evaluasi suatu penyuluhan dan konsultasi gizi, yaitu evaluasi proses (jangka pendek) yang dilihat dari partisipasi klien, kesesuaian materi dan metode yang digunakan dalam menyampaikan materi, dan waktu yang digunakan, serta evaluasi dampak (jangka panjang) yang dilihat apakah klien

melakukan kunjungan ulang, ketepatan asupan gizi yang disarankan,dan apakah terjadi perubahan perilaku positif klien terhadap makanan dan kesehatan. Untuk melakukan evaluasi dalam penyuluhan dan konsultasi gizi diperlukan pemahaman mengenai pengertian, tujuan dan fungsi, objek dan subjek, prinsipprinsip, waktu, serta point evaluasi.

3.2 Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, terdapat beberapa saran yaitu : Seluruh Mahasiswa terus menambah wawasan pengetahuan mengenai evaluasi penyuluhan dan konsultasi gizi. Sebagai Ahli gizi, kita harus memahami evaluasi penyuluhan dan konsultasi gizi agar kita bisa menerapkannya dalam kehidupan yang akan datang karena pentingnya sebuah evaluasi. Meskipun terhalang oleh waktu dan sering diabaikan, evaluasi tetap harus dilakukan agar kita dapat mengetahui tingkat keberhasilan dalam sebuah penyuluhan dan konsultasi gizi.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini. 1997. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara. Cornelia, dkk. 2011. Penuntun Konseling Gizi. Jakarta: PT Abadi. Djuanda, Adhi, dkk. 2006. Petunjuk Konsultasi. Jakarta: MIMS Ramayulis, Rita, dkk. 2002. Menu dan Resep untuk Penderita Diabetes Mellitus. Depok: Penebar Plus (Penebar Swadaya Grup). Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1981. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES. https://sites.google.com/site/kahirulfatihin/evaluai-dalam-penyuluhan-kesehatan http://www.scribd.com/doc/25130910/12-EVALUASI-KONSELING-GIZI http://sururudin.wordpress.com/2011/03/11/teknik-evaluasi-dan-pelaporan-kegiatanpenyuluhan-agama/

10

LAMPIRAN I Materi Penyuluhan dan Konseling Gizi Materi Penjelasan : : Diabetes Melitus

Diabetes Melitus merupakan penyakit yang terjadi karena pergeseran pola makan dan gaya hidup, yakni menyukai makanan berlemak, manis, dan rendah serat, disertai jarangnya berolahraga. Diabetes Melitus ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah dan menurunnyarespon insulin dalam tubuh. Kedua faktor ini menyebabkan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak menjadi tidak normal. Diabetes Melitus terbagi menjadi dua jenis, yaitu Diabetes Tipe I dan Diabetes Tipe II. Diabetes Melitus Tipe I terjadi karena kerusakan sel-sel beta pankreas yang mengakibatkan defisiensi produksi insulin. Sedangkan Tipe II umumnya terjadi pada individu yang berusia lebih dari 40 tahun. Untuk mengatasinya diperlukan berbagai jenis terapi (selain suntikan insulin). Gejala-gejala yang biasa timbul dari penderita Diabetes Melitus diantaranya, penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya, sering buang air kecil, jumlah urin meningkat, sering merasa haus, sering merasa lapar dan menjadi banyak makan. Faktor-faktor risiko untuk menderita penyakit Diabetes Melitus, yaitu: Ada riwayat diabetes dalam keluarga Mengalami kelebihan berat badan Sedang atau pernah mengalami gangguan kesehatan, seperti hipertensi, peningkatan kadar kolesterol, PJK, stroke, dan diabetes pada kehamilan.

Anjuran yang dapat diberikan untuk pasien penderita Diabetes Melitus: Tips : Memberitahu pasien mengenai cara penggunaan obat secra tepat, termasuk dosis obat, frekuensi penggunaan, dan khasiat obat. Jika memburuk selama terapi, anjurkan untuk kontrol lagi ke dokter. Diskusikan cara pencegahan dan penanganan diabetes.
11

Kurangi kelebihan berat badan, kemudian anjurkan untuk menjaga berat badan ideal. Olahraga secara teratur Periksa ada tidaknya luka atau infeksi yang tidak sembuh-sembuh Jaga kebersihan tubuh dan lingkungan Periksa kadar gula darah atau urin secara berkala Batasi konsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat Hindari makanan berlemak dan tinggi kolesterol

LAMPIRAN II
Formulir Evaluasi Penyuluhan dan Konseling Gizi Nama Tanggal : ...................................... : ......................................

1. Apakah ahli gizi sudah menyambut kliennya dengan baik? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu 2. Apakah ahli gizi sudah berpenampilan yang sesuai? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu 3. Apakah ahli gizi mampu berkomunikasi dengan baik kepada kliennya ? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu 4. Apakah ahli gizi sudah menunjukan sikap yang baik terhadap kliennya? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu 5. Apakah ahli gizi sudah mampu memposisikan dirinya terhadap pasien? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu 6. Apakah ahli gizi sudah mampu menyesuaikan bahasanya dengan bahasa klien, sehingga klien mengerti maksud ahli gizi? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu 7. Apakah tercipta suasana yang akrab antar keduanya? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu
12

8. Apakah Ahli gizi yang terlihat aktif? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu 9. Apakah kliennya terlihat aktif? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu 10. Bagaimanakah pendiagnosaan yang dilakukan oleh ahli gizi terhadap keluhan klien? A. Tepat B. Kurang Tepat C. Ragu-ragu 11. Apakah materi yang disampaikan sudah sesuai dengan masalah yang dihadapi klien? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu 12. Apakah Ahli gizi sudah menggunakan metode yang tepat dalam menyampaikan materi kepada kliennya? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu 13. Apakah klien terlihat mudah mengerti dengan materi dan metode yang digunakan oleh Ahli gizi? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu 14. Apakah Ahli gizi sudah tepat dalam mengintervensi kliennya? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu 15.Apakah ahli gizi sudah mampu meyakinkan kliennya? A. Iya B. Tidak C. Ragu-ragu

13