Anda di halaman 1dari 14

TUGAS PATOLOGI SISTEMIK DAN NEKROPSI LAPORAN PEMERIKSAAN HEWAN QURBAN IDUL ADHA 1433 H DI PANTI ASUHAN KECAMATAN

GADANG KOTA MALANG

Oleh: REZA RUSANDY P NIM. 0911310058

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pemeriksaan hewan qurban adalah salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh Program Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya bekerjasama dengan Dinas Pertanian kota Malang. Setiap dosen pembimbing mendampingi 10 orang mahasiswa dan petugas Dinas Pertanian Kota Malang yang disebar ke beberapa Masjid yang menjadi lokasi penyembelihan hewan qurban. Parasit atau cacing tidak begitu diperhatikan keberadaannya pada ternak. Padahal cacing yang seringkali tidak dideteksi tersebut berpengaruh besar pada kesehatan serta produktivitas ternak itu sendiri. Cacing yang berpredileksi pada usus mempengaruhi penyerapan nutrisi dari pakan sehingga secara tidak langsung menyebabkan gangguan penyerapan sari makanan. Hal tersebut berhubungan erat dengan produktivitas ternak. Cacing yang hidup diorgan tubuh juga menyebabkan kerusakan organ yang berdampak pada kinerja organ tersebut dalam menjalankan fungsi. Di Indonesia konsumsi organ dalam hewan masih sangat tinggi setelah konsumsi daging. Melalui daging dan organ kista atau telur cacing dapat menjadi salah satu penyebab food borne disease pada manusia. Sehingga pemeriksaaan postmortem harus dilakukan secara teliti dan cermat sebelum daging dan organ dalam tersebut di bagikan kepada masarakat pada hewan qurban idul adha 1433 H. Organ yang telah mengalami kerusakan dan menjadi sarang cacing sebaiknya disingkirkan atau di afkir. 1.2 TUJUAN Pemeriksaan hewan qurban ini bertujuan untuk menjaga kesehatan daging, Mencegah penularan penyakit dari hewan ke manusia dan menyediakan bahan makanan (daging) yang aman, sehat, utuh, dan halal(ASUH) dikonsumsi serta mempertahankan kondisi tersebut sejak dari sumbernya sampai kepada konsumen. Tujuan khususnya adalah membantu Dinas Pertanian untuk mengedukasi masyarakat dan juga mahasiswa akan pentingnya menjaga kualitas daging mulai dari tempat penyembelihan hingga sampai ke tangan masyarakat.

1 Reza Rusandy P 0911310058 FKH UB

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PEMERIKSAAN ANTEMORTEM Pemeriksaan ante mortem dilakukan pada waktu hewan dalam keadaan berdiri dan berjalan, berbelok kekiri dan kekanan. Pemeriksaan ini meliputi keadaan umum hewan, lubang-lubang tubuh hewan, pernafasan, temperatur tubuh dan selaput-selaput lendir. Keputusan-keputusan pemeriksaan ante mortem berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 413 tahun 1992 adalah sebagai berikut : 1. Dilarang untuk disembelih pada keadaan hewan menderita antrax, malleus, boutvour, rabies, rinderpest, pneumonia contangiosa bovum. 2. Diijinkan untuk dipotong, bila pemeriksaan yakin bahwa untuk dimakan manusia, daging dari hewan yang bersangkutan tidak membahayakan kesehatan. 3. Ditunda untuk dipotong pada keadaan-keadaan : 1. Hewan lelah 2. Pemeriksaan belum yakin, bahwa hewan yang bersangkutan adalah sehat, oleh karenanya harus selalu dibawah pengawasan dan pemeriksaan, dalam hal ini hewan harus disendirikan. 4. Diijinkan untuk dipotong dengan syarat, yaitu ditentukan waktu dan tempat pemotongan serta pemeriksaan post mortem mendalam atau syarat lain bila dalam pemeriksaan ante mortem menunjukkkan gejala penyakit edema, PMK, septicaemia, dll petunjuk yang masih memerlukan kepastian mengenai daging hewan itu untuk dikonsumsi. 2.2 PROSES PEMOTONGAN Pemotongan dimaksudkan untuk membunuh hewan secepat-cepatnya dengan

mengeluarkan darah sebanyak-banyaknya. Hal ini dikarenakan darah merupakan medium yang ideal untuk pertumbuhan bakteri yang menyebabkan dekomposisi. Daging dari hewan yang darahnya hanya sedikit keluar pada saat pemotongan akan cepat menjadi busuk. Sebelum pemotongan hewan harus diistirahatkan 24 jam dan dipuasakan untuk diperoleh keadaan yang bermanfaat bagi pengeluaran darah sebanyak-banyaknya dan pengeluaran isi perut ketika dipotong. Disamping itu bila perut penuh akan mudah pecah
2 Reza Rusandy P 0911310058 FKH UB

bila terbanting atau tertusuk sehingga isinya dapat mencemari karkas. Hewan bunting sebaiknya tidak dipotong kerena adanya toksin-toksin sisa metabolisme fetus. Secara umum, cara pemotongan dibagi menjadi 2, yaitu dengan pemingsanan (stunning) dan cara islam tanpa pemingsanan. Pemotongan secara islam umum dilakukan di Indonesia terutama pada saat momentum pelaksanaan pemotongan hewan qurban. Setelah dijatuhkan, hewan dibujurkan dengan kepala disebelah selatan, ekor diutara, menghadap ke barat, kaki kiri disebelah barat kemudian sapi disiram dengan air. Pemotongan dilakukan oleh panitia/petugas modin dari sebelah timur hewan yang akan dipotong. 2.3 PEMERIKSAAN POSTMORTEM Pemeriksaan di lakukan segera setelah hewan dikelurkan isi perutnya. Organ-organ tersebut dilihat keadaan warna, palpasi, baunya bila ada benjolan dan abses harus dibuka. Pemeriksaan kepala. Setelah kepala dikuliti dan lidah dikeluarkan dan dilepaskan dari rahang bawah, kemudian masseter dalam dan luar di belah untuk melihat ada tidaknya sistiserkus sedangkan lidah di kerok dan dilihat adanya perubahan, lgl.retroparingeal, sub maxillaris dan sub parotidea di belah. Pemeriksaan paru-paru. Paru-paru diraba ada tidaknya benjolan melintang untuk melihat adanya perdarahan atau kotoran pada bronkus. Pemeriksaan jantung yakni dengan cara pembungkus jantung di belah, serambi dan bilik kanan kiri di belah memanjang kemudian dilihat adanya sistyserkus pada valvula . Pemeriksaan hati dengan dipotong melintang membelah saluran empedu, amati adanya Fascilosis atau distomatosis, perubahan warna, konsistensi dan pengapuran serta degenerasi melemak. Pemeriksaan limpa dengan diraba dan dibelah memanjang, perhatian warna dan konsistensinya, bisul-bisul, atau perdarahan. Pemeriksaan ginjal dengan dibuka memanjang kehillus lalu kapsul dibuka dan perhatikan adanya perubahan warna, batu kencing, keradangan, dan cacing. Pemeriksaan karkas diperiksa adanya daging yang masih mengandung darah dan limpoglandula dibelah. lalu dipotong

3 Reza Rusandy P 0911310058 FKH UB

BAB III PEMBAHASAN 3.1 PELAKSANAAN Pemeriksaan daging yang dilakukan pada hewan qurban meliputi pemeriksaan sebelum dipotong (ante mortem), dan pemeriksaan setelah dipotong (post mortem). 1. Pemotongan Sapi Pemotongan sapi di lokasi penyembelihan dimulai kira-kira jam 08.00 WIB beberapa saat setelah melaksanaan Sholat Idul Adha. Begitu vena dan arteri dipotong, trakea dan esophagus dipegang kuat-kuat sebelum mengalami retraksi. Setelah hewan mati, kepala kemudian dipisahkan dari tubuhnya dengan memisahkan tulang kepala dari atlas. Tubuh ditaruh terlentang, kulit dibuka ditengah dada terus kebelakang sampai ditengah-tengah perut dan kemuka ditengah-tengah bagian bawah menurut trakea. Dari belahan kulit dibagian medial dibelah lagi kekanan dan kekiri kebagian medial dari keempat kaki. Keempat kaki mulai metacarpus dan metatarsus kedistal dipotong. Dengan kait besi, karkas dikaitkan pada kedua tendo achiles, pengulitan di teruskan hingga selesai, kemudian dinding perut dibuka. Untuk hewan jantan penis dan testikel diambil. Setelah dinding perut terbuka, usus dan keempat lambung (rumen, reticulum, omasum, dan abomasum) limpa, hati, dan ren di keluarkan dari rongga perut. Sternum disebelah cranial, paru-paru, trakea, jantung, dan diafragma di keluarkan. Usus dan keempat lambung kemudian dicuci dan direbus, sedangkan organ-organ dalam yang lain diletakkan terpisah kemudian diperiksa oleh dokter hewan, petugas Dinas dan Mahasiswa PKH UB. 2. Pemotongan Kambing Pemotongan kambing dilaksanakan bersamaan dengan sapi di lokasi

penyembelihan dilakukan mulai jam 08.00 WIB, proses pemotongan dan proses selanjutnya hampir sama dengan pemotongan sapi.

4 Reza Rusandy P 0911310058 FKH UB

Tabel 1. Data Pemeriksaan Hewan Qurban Panti Asuhan GadangKota Malang No Lokasi pemotongan 1. Panti Asuhan Kecamatan Gadang Alamat Gadang Jenis hewan Jumlah Kasus penyakit Afkir Sapi 8 Fasciolosis Ket

1hepar 7 hepar lain di afkir sebagian Pada kulit Pada rumen Sedikit

Scabies Paramphistomum sp. Fasciolosis

Kambing

Foto foto pemeriksaan hewan qurban

Fasciolosis hepatica

Paramphistomum sp.

5 Reza Rusandy P 0911310058 FKH UB

3.2 KEPUTUSAN PEMERIKSAAN POSTMORTEM 1. Dapat diedarkan untuk konsumsi, yaitu : a. Daging dari hewan potong yang tidak menderita suatu penyakit. b. Daging dari hewan potong yang menderita penyakit arthritis, hernia, fraktura, abses, epitelimia, aktinomikosis, aktinibasillosis dan mastitis serta penyakit lain yang bersifat lokal setelah bagian-bagian yang tidak layak untuk konsumsi manusia dibuang. 2. Dapat diedarkan untuk konsumsi dengan syarat sebelum peredaran, yaitu daging yang merupakan bagian dari hewan potong yang menderita penyakit tertentu harus dikenakan perlakuan tertentu, misalnya trichinellosis ringan harus dimasak dulu sebelum diedarkan. 3. Dapat diedarkan untuk konsumsi dengan syarat selama peredaran, adalah daging yang warna, konsistensi dan baunya tidak normal, septicemia, cachesia, hidrops dan oedema, yang penjualannya dilakukan di RPH atau tempat pemotongan hewan atau tempat penjualan lain yang ditunjuk dan dibawah pengawasan petugas pemeriksa yang berwenang setelah bagian-bagian yang tidak layak dikonsumsi manusia dibuang atau di afkir. 4. Dilarang diedarkan dan dikonsumsi, adalah daging yang berbahaya bagi konsumsi manusia karena berasal dari hewan potong yang mengandung penyakit, misalnya malleus, rabies, antrak dan sebagainya. 3.2 DISTRIBUSI DAGING Distribusi daging dilakukan segera setelah dilakukan pemotongan hewan qurban, sehingga menjaga daging tetap segar dan hygiene. Namun ada beberapa kendala ditemukan dilapangan yakni masih ditemukan adanya pencampuran daging dengan jeroan yang belum direbus dalam satu kantong plastik sehingga dapat menimbulkan resiko apabila tidak segera dibersihkan dan dimasak oleh penerima daging qurban. 3.3 PEMERIKSAAN POSTMORTEM Tujuan Memeriksa kelainan atau abnormalitas pada daging, isi dada dan isi perut, sehingga hanya daging yang baik yang dapat dikonsumsi. Menjamin bahwa proses pemotongan dilaksanakan dengan baik.
6 Reza Rusandy P 0911310058 FKH UB

Memperkuat hasil pemeriksaan antemortem. Memberikan jaminan kualitas dan keamanan bahwa karkas, daging, dan jeroan yang dihsailkan aman dan layak. Mencegah beredarnya bagian atau jaringan abnormal yang berasal dari pemotongan hewa sakit Memberikan informasi untuk penelusuran penyakit di daerah asal ternak.

3.4 Prosedur Pemeriksaan Postmortem Pemeriksaan meliputi pemeriksaan dengan mata (inspeksi) dan meraba atau menekan dengan tangan (palpasi). Jika diperlukan, pemeriksa harus memotong daging, isi dada atau isi perut. Pemeriksaan dilakukan dengan bersih dan berurutan mulai dari: kepala - trakhea esofagus - paru - jantung - hati - perut / usus - limpa - ginjal - karkas/daging. 1. Kepala Kepala dipisahkan dari badan, sehingga memudahkan ketika dilakukan pemeriksaan. Inspeksi dan palpasi seluruh permukaan kepala, termasuk mata, hidung, telinga dan mulut. Kelainan yang mungkin ditemukan pada kepala : bisul, tumor, luka, benjolan (bengkak), mata merah, keluar lendir dari hidung dan mulut. Lidah kemudian diinspeksi, dipalpasi dan dikerok pada perukaan lidah untuk melihat kerapuhan papila lidah dan jika diperlukan penyayatan di bagian bawah lidah untuk melihat adanya Cysticercus bovis dan Actinobacillosis. Perhatikan selaput lendir dari palatum (langitlangit) dan bibir. 2. Trakhea Pemeriksaan trakhea dilakukan degan inspeksi, palpasi dan insisi pada bagian pertemuan cincin tulang rawan, untuk melihat kemungkinan ditemukannya kelainan pada mukosa lumen, peradangan, buih dan infestasi cacing. 3. Esofagus Inspeksi dan palpasi dinding bagian luar esofagus serta diamati adanya abnormalitas pada bagian tersebut. Dinding esofagus disayat untuk melihat lumen. Kemungkinan yang ditemukan antara lain adanya cysticercus dan sarcosporidia, benda asing, luka, lepuh-lepuh (seperti sariawan) atau pendarahan. 4. Paru-paru
7 Reza Rusandy P 0911310058 FKH UB

Inspeksi dengan mengamati seluruh permukaan paru dan kemungkinan adanya perubahan warna. Selanjutnya dilakukan palpasi dan insisi pada kedua lobus paru untuk mendeteksi kemungkinan adanya sarang-sarang tuberkulosis, cacing, tumor atau abses dan pemeriksaan Lgl. Mediastinaliscranialis, Lgl. Mediastinalis caudalis, dan Lgl. Bifurcatio trachealis dextra-sinestra. Paru yang sehat akan memperlikanwrna merah terang, kosistensi lunak dan terdapat suara krepitasi pada saat palpasi. 5. Jantung Dilakukan inspeksi dan palpasi untuk mengamati kemungkinanadaya peradangan selaput jantung (pericarditis). Selanjtunya dilakukan penyayatan pericardium untuk melihat adanya cairan pericardium. Kemudian dilakukan insisi otot jantung (myocardium) sejajar dengan sulcus coronarius (antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri) untuk melihat adanya peradangan dan infestasi (Echinococcus dan Cystecercus). 6. Hati Pemeriksaan dilakukan dengan inspeksi dan palpasi pada seluruh lobus hati untuk melihat warna, ukuran, konsistensi, dan kelainan-kelainan. Jika perlu dilakukan penyayatan, kemungkinan adanya degenerasi, pembendungan, cacing hati (Fasciola sp) dan tuberkulosis. 7. Perut dan Usus Usus dan lambung segera dikeluarkan setelah dilakukan pengulitan. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat kemugkinan adanya pembengkakan Lgl. Mesenterica. Usus disayat (insisi) untuk melihat lumen dan mukosa usus terhadap kemungkinan pendarahan serta infestasi cacing. 8. Limpa Pemeriksaan dilakukan dengan inspeksi dan palpasi pada seluruh permukaan limpa untuk melihat warna, ukuran limpa dan konsistensi. Jika perlu dilakukan insisi, kemungkinan yang ditemukan antara lain adanya pembengkakan, kerapuhan, tumor, kista hydatid dan anthrax. 9. Ginjal Inspeksi dan palpasi seluruh permukaan ginjal, kemudian dilakukan penyayatan untuk melihat bagian dalam. Kelainan yang mungkin ditemukan pada ginjal : pembengkakan, perubahan warna.
8 Reza Rusandy P 0911310058 FKH UB

10. Karkas / Daging Pemeriksaan dilakukan dengan inspeksi dan palpasi pada seluruh permukaan bagian luar dan dalam karkas serta limfoglandula untuk mengetahui kondisi karkas (cahexia), haemorhagi, memar, fraktura, ikterus (terutama dapat dilihat pada tendo dan mukosa), oedema, kista cacing dan pembengkakan limfoglandula. Jika perlu dilakukan penyayatan (insisi) pada M. Mediastinalis untuk melihat adanya kista cacing. Dilakukan pemgamatan apakah ada bau yang tidak normal serta dilihat semua tulang-tulang dan persendian. Kelainan yang mungkin ditemukan pada karkas : memar, pendarahan, bisul, perubahan warna, tulang patah, persendian tulang yang membengkak. 3.5 KEPUTUSAN PEMERIKSAAN POSTMORTEM Jika tidak ada kelainan boleh dikonsumsi. Jika ada kelainan lokal (sedikit) boleh dikonsumsi, setelah bagian yang mengalami kelainan dibuang (disayat). Jika ada kelainan banyak (ada penyakit berbahaya) semua bagian tidak boleh dikonsumsi atau di afkir. 3.6 CARA PENGAMBILAN DAN PENGIRIMAN SAMPEL Pada saat di lapangan, beberapa temuan yang digunakan sebagai sampel seperti

potongan organ hepar yang mengalami nekrosis, potongan organ paru yang hemorraghi, limfoglandula parotis, parasit cacing Fasciola hepatica dan Parampistomum sp. Beberapa sampel yang didapat diperiksa untuk histopatologi dan parasitologi. Organ yang dicurigai perubahan patologisnya dipotong kira-kira 1 cm2, dan dimasukkan ke dalam larutan secepat mungkin setelah biopsi. Teknik pengambilan sampel untuk pemeriksaan histologipatologi dilakukan dengan mengambil potongan organ atau jaringan yang dipilih pada bagian yang mewakili jaringan normal dan abnormal dari suatu organ. Pengambilan sampel dilakukan dengan sesegera mungkin agar organ tidak menjadi kering. Jaringan dapat diambil dengan menggunakan pisau atau scalpel blade dan mengusahakan memotong secara rapi agar jaringan tidak hancur. Karena jaringan yang hancur dapat menyebabkan distorsi pada morfologi sel dadan jaringan. dan tebalnya tidak lebih dari 0,5 cm. Potongan jaringan yang didapat di lapangan dicuci dan dimasukkan dalam tabung sampel, setelah itu fiksasi dengan buffer formalin 10%.
9 Reza Rusandy P 0911310058 FKH UB

Pengambilan sampel untuk pemeriksaan parasitologi yang dilakukan di lapangan yakni dengan membuka bagian organ yang menjadi predileksi cacing parasit, kemudian melakukan inspeksi. Apabila ditemukan endo parasit berupa cacing, maka sampel dapat diambil dengan menggunakan pinset. Sampel yang didapat di lapangan berupa cacing Fasciola hepatica pada organ hepar dan cacing Parampistomum sp pada organ rumen sapi. Pengiriman bahan sampel ke labolatorium diagnostik dapat berupa bahan segar atau bahan yang diawetkan, tergantung pada berbagai kepentingan pemeriksaan. Pengawetan sampel dapat dilakukan dengan dua cara yakni pendinginan (es, dry ice) dan menggunakan bahan kimia seperti alkohol, formalin dan asam borat. Pengiriman sampel dilakukan dengan menempatkan sampel pada botol atau kontainer dan diberi label jenis bahan yang dikirim yang sesuai untuk identifikasi selanjutnya. Identifikasi dan diagnosa dilakukan secara labolatoris, misal berupa pemeriksaan histopatologi, mikrobiologi, parasitologi, toksikologi, virology, dan imunologi. 3.7 FASCIOLA HEPATIAK Gejala Klinis Hewan terserang ditandai dengan nafsu makan turun, kurus, oedema submandibula (bottle jaw), selaput lendir mata pucat dan diare. Pathogenesis Penyumbatan saluran empedu intra hepatal gangguan pencernaan Proses keradangan khronik lokal kerusakan jaringan hepar ggn fungsi hepar Penurunan berat badan akibat penurunan efisiensi pengolahan makananPenurunan jumlah/produksi susu, penurunan tingkat kesuburan, anaemia, diarePada kasus-kasus berat (jarang) fatal Diagnosa Penyakit ini dapat didiagnosa berdasarkan pemeriksaan mikroskopis dari tinja dan patologis jaringan terserang. Pada nekropsi ditemukan cacing dewasa di dalam saluran empedu. Diagnosa Banding Pada kasus fascioliasis akut sering kali sulit dibedakan dengan infectious necrotic hepatitis karena lesinya sangat kecil, oleh karena itu diperlukan pemeriksaan histopatologis. Kerusakan hati yang hebat dapat dikelirukan dengan haemonchiasis, eperythrozoonosis, anthrax dan enterotoxaemia.
10 Reza Rusandy P 0911310058 FKH UB

Pencegahan dan pengobatan Hewan terserang dapat diobati dengan carbon tetrachloride (1 ml/9 kg bb). Obat ini dilaporkan efektif terhadap cacing fasciola dewasa. Obat lain yang dapat digunakan adalah heksakloretan, heksaklorofan, rafoxamide, niklofolan, bromsalan yang

disuntikkan di bawah kulit. Kandang harus dijaga tetap bersih dan kandang sebaiknya tidak dekat kolam atau selokan. Siput-siput di sekitar kandang dimusnahkan untuk memeutus siklus hidup Fasciola. 3.8 PARAMPHISTOMUM SP. Menyerang ternak sapi dan kambing/biri-biri. Cacing dewasa berbentuk bulat/lonjong seperti buah pear, berwarna merah, ukuran 5 -13 mm x 2-5 mmbagian ventral agak cekung dan bagian dorsal cembung dengan batil isap yang besar di bagian posterior subterminal. Habitat cacing dewasa di rumen dan reticulum ruminantia dan bentuk imatur tinggal di bagian proximal usus halus Gejala Klinis Sebagian besar ternak hanya mengalami infeksi ringan baik oleh bentuk imatur maupun dewasa tak menunjukkan gejala Bentuk imatur melekat pada dinding usus halus dengan batil isap yang kuatdalam jumlah yang besar dapat menyebabkan keradangan usus akut. Infeksi berat oleh bentuk imatur dapat menyebabkan: penurunan nafsu makan, gelisah dan berat badan menurun,diare cair,penurunan berat badan,penurunan produksi susu, dannampak sakit Diagnosa Dengan melihat gejala klinis, temuan di tempat (post mortem findings), riwayat adanya wabah (history of outbreak),pemeriksaan microskopis. Diagnosa Banding Gejala dapat dikacaukan dengan penyakit cacing usus yg lain. Paling sering infeksi cacing gelang dan cacing hati. Beberapa jenis infeksi bacterial, viral dan protozoa& keracunan tumbuhan atau bahan kimia lain dpt memberi gejala yg mirip. Pencegahan dan Pengobatan Pengobatan antihelmitik dan terapi supportive utk mengatasi dehidrasi dan infeksi sekunder mungkindiperlukan.
11 Reza Rusandy P 0911310058 FKH UB

3.9 SCABIES Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit tungau kudis. Scabies disebabkan oleh tungau kudis Sarcoptes scabiei. Gejala Klinis Tanda-tanda penyakit pada hewan terserang adalah adanya bintik-bintik berwarna merah pada kulit, gatal-gatal yang ditandai dengan ternak menggosok-gosokkan tubuh/bagian yang terserang, kulit tampak kasar, kering, bulu rontok, keriput dan menebal. Bagian yang terserang biasanya daerah mulut/moncong, telinga, leher, dada, perut, pangkal ekor, sepanjang punggung dan kaki. Diagnosa Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan mikroskopis dengan pengambilan spesimen tungau penyebab. Perlakuan pemotongan Hewan Hewan yang menderita scabies boleh dipotong dan dagingnya dapat dikonsumsi sepanjang mutunya masih bisa dipertanggungjawabkan. Kulitnya dibakar/dimusnahkan. Pencegahan dan pemberantasan Tindakan pencegahan adalah dengan selalu menjaga kebersihan kandang dan peralatan serta lingkungan sekitarnya. Bila ada ternak yang terserang hendaknya dipisahkan dari yang sehat. Pengobatan dapat dilakukan dengan mengolesi kulit yang luka dengan Benzoas Bensilikus 10 %, penyuntikan dengan Avermectin dosis 200 mg/kg berat badan seminggu sekali selama 4 minggu, penyuntikan subkutan dengan Ivomec atau Dectomec 0,5 persen.

12 Reza Rusandy P 0911310058 FKH UB

DAFTAR PUSTAKA AAK. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Yogyakarta: Kanisius MARTINDAH, E.S. WIDJAJANTI, S.E. ESTUNINGSIH dan SUHARDONO. 2005. Meningkatkan Kesadaran dan Kepedulian Masyarakat terhadap Fasciolosis Sebagai Penyakit Zoonotik Parasiter. Pros. Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor, 15 September 2005. Puslitbang Peternakan. Bogor. hlm. 227. Torgerson, P, Claxton J. 1999. Epidemiology and Control Fasciolosis. In Dalton, JP Wallingford CABI Pub. pp. 11349

13 Reza Rusandy P 0911310058 FKH UB