Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN Glaukoma adalah suatu neuropati optik kronik didapat yang ditandai oleh pencekungan (cupping) diskus

optikus dan pengecilan lapangan pandang, biasanya disertai peningkatan tekanan intraokuler.1 Gangguan penglihatan dan kebutaan masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Survey Kesehatan Indera tahun 1993 1996 menunjukkan 1,5% penduduk Indonesia mengalami kebutaan disebabkan oleh katarak (52%), glaukoma (13,4%), kelainan refraksi (9,5%), gangguan retina (8,5%), kelainan kornea (8,4%) dan penyakit mata lain.4 Pada tahun 2020, 79,6 juta orang diperkirakan memiliki glaukoma, di mana 11,2 juta dari mereka akan menjadi buta secara bilateral.5 Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan angka kebutaan sebesar 0,9%. Dengan angka tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan (2,6%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (0,3%). Sementara hasil Survei Kebutaan dan Kesehatan Mata di Propinsi Jawa Barat tahun 2005, menunjukkan, pada kelompok usia di atas 40 tahun prevalensi glaukoma sebesar 1,2 % dan prevalensi kebutaan karena glaukoma sebesar 0,1% dari total kebutaan sebesar 4,0 %.4 Di seluruh dunia, glaukoma dianggap sebagai penyebab kebutaan yang tinggi, 2% penduduk berusia lebih 40 tahun menderita. Glaukoma dapat juga didapatkan pada usia 20 tahun, meskipun jarang, pria lebih banyak diserang dari pada wanita.2 Di Indonesia glaukoma kurang dikenal oleh masyarakat, padahal cukup banyak yang menjadi buta karenanya.3 Glaukoma sudut tertutup didapatkan pada 10-15% kasus ras kulit putih. Presentase ini jauh lebih tinggi pada orang Asia dan suku Inuit. Glaukoma sudut tertutup primer berperan pada lebih dari 90% kebutaan bilateral akibat glaukoma di China.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI Bagian mata yang penting pada glaukoma adalah sudut filtrasi. Sudut filtrasi ini terdapat di dalam limbus kornea. Limbus adalah bagian yang dibatasi oleh garis yang menghubungkan akhir dari membrane Descemen dan membran Bowman, lalu ke posterior 0,75 mm, kemudian ke dalam mengelilingi Kanal Schlemm dan trabekula sampai ke coa. Akhir dari membran Descement disebut Schwalbe. Limbus terdiri dari 2 lapisan epitel dan stroma. Epitelnya 2 kali setebal epitel kornea. Di dalam stromanya terdapat serat-serat saraf dan cabang akhir dari arteri siliaris anterior. Bagian terpenting dari sudut filtrasi adalah trabekula yang terdiri dari : 1. Trabekula korneoskleral, serabutnya berasal dari lapisan dalam stroma kornea dan menuju ke belakang, mengelilingi kanal Schlemm unuk berinsersi pada sklera. 2. Trabekula uveal, serabut berasal dari lapisan dalam stroma kornea menuju ke skleralspur (insersi dari m. siliaris) dan sebagian ke m. siliaris meridional. 3. Serabut berasal dari akhir membrane Descement (garis Schwalbe), menuju ke jaringan pengikat m. siliaris radalis dan sirkularis. 4. Ligamentum pektinatum rudimenter, berasal dari dataran depan iris menuju ke depan trabekula. Trabekula terdiri jaringan kolagen, jaringan homogen, elastik dan seluruhnya diliputi endotel. Keseluruhannya merupakan spons yang tembus pandang sehingga bila ada darah di dalam kanal Schlemm dapat terlihat dari luar. Kanal Schlemm merupakan kapiler yang dimodifikasi yang mengelilingi kornea. Dindingnya terdiri dari satu lapis sel, diameternya 0,5 mm. Pada dindingnya sebelah dalam terdapat lubang-lubang sebesar 2 U, sehingga terdapat hubungan langsung antara trabekula dan kanal Schlemm. Dari kanal Schlemm,

keluar saluran kolektor, 20-30 buah yang menuju ke pleksus vena di dalam jaringan sclera dan episklera dan v. siliaris anterior di badan siliar.2 Tekanan intraokuler ditentukan oleh kecepatan pembentukan akuos humor dan tahanan terhadap aliran keluarnya dari mata. Akuos humor humor yang dihasilkan oleh badan siliar masuk ke bilik mata belakang, kemudian melalui pupil menuju ke bilik mata depan ke sudut coa, melalui trabekulum mencapai kanal Schlemm dan melalui saluran ini keluar dari bola mata.1,3

Gambar 1 Aliran Akuos Humor 2.2 DEFINISI Glaukoma primer sudut tertutup terjadi bila terdapat kenaikan mendadak dari tekanan intraokuler yang disebabkan penutupan sudut coa yang mendadak oleh akar iris sehingga menghalangi sama sekali keluarnya humor akueus melalui trabekula, menyebabkan meningginya tekanan intraokuler, sakit yang sangat di mata secara mendadak dan menurunnya ketajaman penglihatan secara tiba-tiba disertai tanda-tanda kongesti di mata, seperti mata merah, kelopak bengkak. 5,2 2.3 ETIOLOGI Karena glaukoma ini timbulnya mendadak disertai tanda kongestif, maka disebut glaukoma akut kongestif atau glaukoma akut. Glaukoma akut, hanya timbul pada orang-orang dengan predisposisi anatomis. Faktor anatomis yang menyebabkan sudut sempit adalah :
3

1. Bulbus okuli yang pendek, biasanya pada mata yang hipermetrop. Makin berat hipermetropnya makin dangkal coanya. 2. Tumbuhnya lensa, menyababkan coa menjadi lebih dangkal. Pada umur 25 tahun, dalamnya coa rata-rata 3,6 mm, sedang pada umur 70 tahun 3,15 mm. 3. Kornea yang kecil dengan sendirinya coanya dangkal. 4. Tebalnya iris. Makin tebal iris, makin dangkal coa. Faktor fisiologis yang menyebabkan coa sempit :
1. Akomodasi. Dengan akomodasi pars siliaris dari iris maju ke depan. 2. Dilatasi pupil, menyebabkan iris menjadi lebih tebal dan sudut coa

menjadi lebih sempit.2 2.4 PATOFISIOLOGI Pada sudut bilik mata yang sempit, letak lensa menjadi lebih dekat ke iris, sehingga aliran cairan bilik mata dari bilik mata belakang ke bilik mata depan terhambat. Inilah yang disebut dengan hambatan pupil. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya tekanan di dalam bilik mata belakang dan mendorong iris ke depan. Pada sudut bilik mata depan yang memang sudah sempit adanya dorongan ini menyebabkan iris menutupi jaringan trabekula, sehingga cairan bilik mata tidak dapat atau sukar untuk keluar dan terjadilah glaukoma sudut tertutup.2

2.5 MANIFESTASI KLINIS Prodroma Sebelum penderita mendapat serangan akut, ia mengalami tanda dini (prodroma) walau ini tidak selalu terjadi. Pada stadium ini terdapat penglihatan kabur, melihat halo (gambaran pelangi) sekitar lampu atau lilin, disertai sakit kepala, sakit pada matanya dan kelemahan akomodasi.1,2,3,6,7 Keadaan ini berlangsung - 2 jam kemudian hilang. Jarang mereka datang ke dokter dengan keuhan demikian karena cepat berlalu. Biasanya dengan tidur sebentar keadaan pulih kembali, sebab pada waktu tidur terjadi miosis yang menyebabkan sudut coa terbuka.2 Pemeriksaan pada stadium ini, didapatkan injeksi perikornea yang ringan, kornea agak suram karena edema, bilik mata depan dangkal, pupil sedikit melebar reaksi cahaya lambat dan tekanan intraokuler meninggi. Bila serangannya reda, mata menjadi normal kembali, kecuali penurunan daya akomodasi tetap ada, sehingga penderita memerlukan penggantian kacamata dekat yang lebih sering dan lebih kuat dibanding usianya. Mula-mula antara serangan dapat berminguminggu atau beberapa bulan, akan tetapi makin lama makin sering dan serangannya berlangsung lebih lama. Stadium ini dapat berlangsung beberapa minggu atau beberapa bulan bahkan beberpa tahun, baru kemudian sampai pada stadium glaukoma akut.1,2,3,6,7 Stadium Kongestif Pada stadium ini penderita tampak sangat payah, memegangi kepalanya karena sakit hebat. Jalannya dipapah, karena ketajaman penglihatannya sangat turun, muntah-muntah. Karenanya sering disangka bukan menderita sakit mata, melainkan suatu penyakit sistemik.2,3,8 Dalam anamnesis, keluarganya akan menceritakan bahwa sudah sekian hari penderita tidak bisa bangun, sakit kepala dan terus muntah-muntah, nyeri dirasakan di dalam dan sekitar mata. Penglihatannya kabur sekali dan dilihatnya warna pelangi di sekitar lampu.3

Apabila mata diperiksa, ditemukan kelopak mata bengkak, konjungtiva yang sangat hiperemik (kongestif), injeksi siliar dan kornea yang suram. Bilik mata depan dangkal dapat dibuktikan dengan memperhatikan bilik mata depan dari samping. Pupil tampak melebar, lonjong miring agak vertikal atau midriasis yang hampir total.2,3 Refleks pupil lambat atau tidak ada. Tajam penglihatan menurun sampai hitung jari. Dengan tanda-tanda luar ini ditambah anamnesis yang teliti sudah cukup untuk membuat suatu diagnosis tapi diagnosis baru dapat ditegakkan kalau tekanan bola mata didapatkan tinggi sekali.3 2.6 KLASIFIKASI
1. Glaukoma Sudut Tertutup Akut

Glaukoma sudut tertutup akut terjadi bila terbentuk iris bombe yang menyebabkan oklusi sudut bilik mata depan oleh iris perifer. Hal ini menghambat aliran keluar akuos dan tekanan intraokuler meningkat dengan cepat, menimbulkan nyeri hebat, kemerahan dan penglihatan kabur. Glaukoma sudut tertutup akut ditandai oleh munculnya kekaburan penglihatan mendadak yang disertai nyeri hebat, halo, serta mual dan muntah. Pasien terkadang dikira menderita penyakit gastrointestinal akut. Temuan-temuan lainnya adalah peningkatan intraokuler yang mencolok, bilik mata depan dangkal, kornea berkabut, pupil berdilatasi sedang yang terfiksasi, dan injeksi siliar. Mata sebelahnya harus dilakukan pemeriksaan gonioskopi untuk memastikan adanya predisposisi anatomi terhadap glaukoma sudut tertutup primer.1,4,7 2. Glaukoma Sudut Tertutup Subakut Faktor-faktor etiologi yang berperan pada glaukoma sudut tertutup subakut sama dengan yang berperan pada tipe akut, kecuali bahwa episode peningkatan tekanan intraokulernya berlangsung singkat dan rekuren. Episode penutupan sudut membaik secara spontan, tetapi terjadi akumulasi kerusakan pada sudut bilik mata depan disertai pembetukan sinekia anterior perifer. Glaukoma sudut tertutup subakut kadang-kadang berkembang menjadi glaukoma sudut tertutup akut.

Didapatkan riwayat serangan berulang berupa nyeri, kemerahan, dan kekaburan penglihatan disertai halo di sekitar cahaya pada satu mata. Serangan sering terjadi pada malam hari dan sembuh dalam semalam. Pemeriksaan diantara waktu serangan mungkin hanya memperlihatkan sudut bilik mata depan yang sempit disertai dengan sinekia anterior perifer. Diagnosis dapat dipastikan dengan gonioskopi. Terapinya adalah iridotomi perifer dengan laser.1
3. Glaukoma Sudut Tertutup Kronik

Pasien dengan predisposisi anatomi penutupan sudut bilik mata depan mungkin tidak pernah mengalami episode peningkatan tekanan intraokuler akut, tetapi mengalami sinekia anterior perifer yang semakin meluas disertai dengan peningkatan tekanan intraokuler secara bertahap. Pada pasien ini bermanifestasi seperti yang diperlihatkan oleh pasien glaukoma sudut terbuka primer, sering dengan penyempitan lapangan pandang yang ekstensif di kedua mata. Sesekali pasien-pasien tersebut mengalami serangan penutupan sudut subakut. Pada pemeriksaan dijumpai peningkatan intraokuler, sudut bilik mata depan yang sempit disertai sinekia anterior perifer dalam berbagai tingkat, serta kelainan diskus optikus dan lapangan pandang.1 4. Iris Plateau Iris plateau adalah suatu kelainan yang jarang dijumpai. Pada iris plateau, kedalaman bilik mata depan sentral normal, tetapi sudut bilik mata depannya sangat sempit karena posisi prosesus siliaris terlalu anterior. Mata dengan kelainan ini jarang mengalami blockade pupil, tetapi dilatasi akan menyebabkan merapatnya iris perifer, sehingga menutup sudut (pendesakan sudut), sekalipun telah dilakukan iridektomi atau iridoktomi perifer. Pengidap kelainan ini mengalami glaukoma sudut tertutup akut pada usia muda, dan sering mengalami kekambuhan setelah tindakan iridotomi laser perifer atau iridektomi bedah.diperlukan terapi miotik jangka panjang atau iridoplasti dengan laser.

Klasifikasi menurut Becker and Shaefer Besar sudut Terbuka lebar Sudut sempit ringan Sudut sempit berat Sudut tertutup total-sebagian 2.7 DIAGNOSIS Untuk mendeteksi seseorang dengan calon galukoma akut, dibutuhkan anamnesis yang teliti, diperlukan juga penilaian secara klinis. Pemeriksaan yang dilakukan pada glaukoma. 1. Mengukur tekanan bola mata (Tonometri) Tujuan pemerikasaan dengan tonometer atau tonometri untuk menentukan tekanan bola mata seseorang berdasrkan fungsinya dimana tekanan bola mata merupakan keadaan mempertahankan mata bulat sehingga tekanan bola mata yang normal tidak akan memberikan kerusakan saraf optik atau yang terlihat sebagai kerusakan dalam bentuk glaukoma pada papil saraf optik.7 Tonometri adalah pengukuran tekanan intraokuler. Dikenal 4 bentuk tonometri atau pengukur tekanan bola mata : Digital (palpasi) tonometri Merupakan cara yang paling mudah, tetapi juga yang paling tidak cermat, karena pengukuran tekanan bola mata dengan perasaan jari telunjuk pemeriksa. Caranya adalah dengan kedua jari telunjuk diletakkan di atas bola mata sambil penderita disuruh melihat ke bawah. Mata tidak boleh ditutup, karena menutup mata mengakibatkan tarsus kelopak mata yang keras pindah ke depan bola mata, hingga apa yang kita palpasi adalah tarsus dan ini selalu memberi kesan perasaan
8

Derajat 30-45 20 10

Numerik 3-4 2 1 0

Interpertasi Klinik Tidak mungkin tertutup Mungkin tertutup Kadang-kadang tertutup Serangan atau mengancam

keras. Dilakukan dengan palpasi, diaman satu jari menahan, jari lainnya menekan secara bergantian.3,9 Penilaian dilakukan dengan pengalaman sebelumnya yang dapat dicatat sebagai berikut : N = normal, N+1 = agak tinggi, N+2 = untuk tekanan yang lebih tinggi, N-1 = lebih rendah dari normal, N-2 = lebih rendah lagi, dan seterusnya.3,9 Schiotz tonometri Merupakan tonometer indentasi atau menekan permukaan kornea dengan beban beban yang dapat bergerak bebas pada sumbunya. Beban yang ditaruh pada bola mata (kornea) akan menekan bola mata ke dalam dan mendapat perlawanan tekanan dari dalam melalui kornea. Keseimbangan tekanan tergantung pada beban tonometer. Pembacaan skala dikonversi pada table untuk mengetahui bola mata dalam millimeter air raksa. Pada tekanan lebih tinggi 20 mmHg dicurigai adanya glaukoma dan bila tekanan lebih dari 25 mmHg pasien menderita glaukoma.3,9 Aplanasi tonometri Pemeriksaan ini untuk mendapatkan tekanan intraokuler permukaan kornea. Dengan tonometer aplanasi bila tekanan bola mata lebih daripada 20 mmHg dianggap sudah menderita glaukoma.5,9

dengan

menghilangkan pengaruh kekauan sklera (sclera rigidity) dengan mendatarkan

Tonometri udara (air puff tonometry), yang paling kurang tepat, kurang teliti karena dipergunakan di ruang terbuka.5,9

2. Uji Besar Sudut Tes ini dilakukan bila gonioskopi tidak mungkin karena media keruh. Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan sederhana yang berguna untuk melihat kemungkinan sudut bilik mata yang sempit dan mengancam akan terjadinya glaukoma akut. Pemeriksaan dilakukan di kamar gelap dengan lampu celah (slitlamp) dengan sinar yang diarahkan pada kornea tegak lurus di daerah limbus. Penilaian yang dapat dilakukan adalah dengan melihat sudut biik mata :

Bila dalam sudut bilik mata perifer atau setebal kornea maka tidak mungkin mata tersebut mendapat serangan glaukoma. Bila dalam sudut bilik mata perifer tebal kornea maka mata ini terancam sudut sempit. Bila dalam bilik mata perifer antara dan tebal kornea maka mata ini harus mendapat pemeriksaan lebih lanjut (gonioskopi)

Becker and Shaefer Tingkat Sudut 4 3 2 1 Sudut slit Sudut tertutup Sudut Bilik Mata BMD = tebal kornea BMD = - tebal kornea BMD = tebal kornea BMD < BMD sangat sempit BMD perifer tidak ada

Dari 2500 pasien didapatkan (unselected cases) Grade 1 Grade 2 Grade 3 Grade 4 0,64% 2,1% 3,60% 4,38%

3. Gonioskopi Pemeriksaan gonioskopi adalah tindakan untuk melihat sudut bilik mata dengan goniolens. Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat sudut bilik mata yang merupakan tempat keluarnya cairan mata dari bola mata.3 Kelainan patologik sudut akan terlihat seperti sempit, terbuka, tertutup pigmen dan tumbuhan jaringan patologik. Dapat dinilai besar atau terbukanya sudut :

Derajat 0, bila tidak terlihat struktur sudut dan terdapat kontak kornea dengan iris, disebut sudut tertutup.

10

Derajat 1, bila tidak terlihat bagian jalinan trabekulum sebelah belakang, dan garis Schwalbe terlihat, disebut sudut sangat sempit. Sudut sangat sempit sangat mungkin menjadi sudut tetutup.

Derajat 2, bila sebagian kanal Schlemm terlihat, disebut sudut sempit sedang kelainan ini mempunyai kemampuan untuk tertutup. Derajat 3, bila bagian belakang kanal Schlemm masih terlihat termasuk sclera spur, disebut sudut terbuka sedang. Pada keadaan ini tidak akan terjadi sudut tertutup.

Derajat 4, bila badan siliar terlihat, disebut sudut terbuka.5,9

4. Oftalmoskopi Dengan oftalmoskop dapat dilihat saraf optik di dalam mata dan akan dapat ditentukan apakah tekanan bola mata telah mengganggu saraf optik. Saraf optik dapat dilihat secara langsung. Warna serta bentuk dari mangkok saraf optic pun dapat menggambarkan ada atau tidak ada kerusakan akibat glaukoma yang sedang diderita.7,9 Rasio cup/disk adalah perbandingan antara besarnya penggaungan papil saraf optik dengan besar atau lebarnya papil. Rasio cawan-diskus berguna untuk mencatat ukuran diskus optikus pada pasien glaukoma. Apabila terdapat kehilangan lapangan pandang atau peningkatan tekanan intraokuler, rasio cawandiskus lebih dari 0,5 atau terdapat asimetri yang bermakna antara kedua mata sangat diindikasikan adanya atrofi glaukomatosa.1,2,7,9 5. Pemeriksaan Lapangan Pandang Pemeriksaan lapangan pandang secara teratur berperan penting dalam diagnosis dan tindak lanjut glaukoma. Pemeriksan lapangan pandang adalah pemeriksaan yang paling memastikan pada kerusakan saraf mata akibat glaukoma. Berbagai cara untuk memeriksa lapangan pandang pada glaukoma seperti layar Bjerrum untuk pemeriksaan lapang pandang sentral atau perimeter Goldmann dan Octopus untuk pemeriksaan lapangan pandang sampai perifer.1,9 6. Penilaian Serabut Saraf
11

Menilai serabut saraf retina merupakan hal penting pada glaukoma karena kelainan serabut saraf lebih cepat terlihat disbanding gangguan pada lapang pandang. Pemeriksaan OCT, GDX, HRT akan memperlihatkan kelainan struktur serabut saraf retina dan papil saraf optik. OCT (Optical Coherence tomography), dengan tekhnik interferometer digambarkan potongan melintang retina dan papil saraf optik, diukur tebal lapis serabut saraf retina. Pencitraan OCT untuk melihat macular hole, membran preretina, edema makula dan kerusakan saraf optik. GDX, dengan sinar polarisasi diukur tebal serabut saraf retina. HRT, dengan memakai scanning laser melihat gambaran 3 dimensi keadaan papil saraf optik. 7. Tes Provokasi Tes yang dilakukan pada keadaan yang meragukan. Tes yang dilakukan : Tes kamar gelap Pemeriksaan ini untuk melihat kemampuan sudut bilik mata untuk tertutup dan merupakan pemeriksaan provokasi untuk glaukoma sudut sempit. Sudut bilik mata menyempit bila pasien berada di kamar gelap akibat terjadinya midriasis. Midriasis akan mengakibatkan sudut bilik mata tertutup yang akan menghalangi pengaliran akuos humor sehingga tekanan bola mata meninggi. Uji Midriasis Pemeriksaan untuk menemukan glaukoma sudut sempit dengan

memprovokasinya dengan midriatik. Midriasis akan mengakibatkan sudut bertambah tertutup dan bertambah kemungkinan terbendungnya akuos humor dan dapat menimbulkan glaukoma.

Uji Tiarap (Prone Test) Pemeriksaan ini dilakukan untuk glaukoma sudut sempit. Pada waktu

tiarap terjadi pergeseran lensa dengan pupil ke depan yang akan mengakibatkan sudut bilik mata menutup, yang dapat mengganggu pengaliran akuos humor melalui sudut bilik mata.2,9 2.8 DIAGNOSIS BANDING

12

Beberapa penyakit yang mirip dengan glaukoma sudut tertutup yaitu :4 Glaukoma sudut Sakit Injeksi tertutup Tipe siliar yaitu lebih hebat dekat limbus kornea skleral dan berkurang ke arah formiks, tidak konstriksi dengan epinefrin 1:1000, pembuluh tidak bergerak dengan konjungtiva, warna violet, dan masingmasing pembuluh tak dapat diusut Iritis akut Sedang sampai hebat Konjungtivitas akut Membakar, gatal. Tipe konjungtival yaitu lebih pada formiks dan berkurang ke arah limbus. Mata menjadi putih dengan epinefrin 1: 1000, pembuluh superficial, bergerak dengan konjungtiva, warna merah bata, dan masing-masing pembuluh jelas Pupil Semi dilatasi, tak bereaksi terhadap Kornea sinar. Suram, dan rincian iris tak tampak. Miotik, reaksi lambat. Biasanya jernih kadang-kadang terlihat dengan deposit pada permukaan Sekresi Serangan Visus TIO Air Mendadak Sangat turun Meninggi posterior kornea. Air Perlahan Turun sedikit Normal atau rendah
13

terlihat. Normal

Jernih dan normal

Pus bergetah Perlahan Normal Normal

2.9 PENYULIT GLAUKOMA AKUT


1. Sinekia anterior perifer : apabila galukoma akut tidak cepat diobati,

terjadilah perlekatan antara iris bagian tepi dan jaringan trabekulum. Akibatnya adalah bahwa penyaluran keluar akuos humor lebih terhambat.
2. Katarak : di atas permukaan kapsul depan lensa acapkali terlihat

bercak putih sesudah suatu serangan akut. Tampaknya seperti susu yang tertumpah di atas meja. Gambaran ini dinamakan Glaukomflecke. 3. Atrofi papil saraf optik karena serangan yang mendadak dan hebat,papil saraf optik mengalami pukulan yang berat hingga menjadi atrofi.
4. Glaukoma absolute adalah istilah untuk suatu glaukoma yang sudah

terbengkalai sampai buta total.3 2.10 PENATALAKSANAAN Pertama-tama harus diingat bahwa glaukoma akut merupakan masalah pembedahan. Pengobatan dengan obat harus dilaksanakan sebagai tindakan pertolongan darurat bahwa tugas di daerah adalah memberi pengobatan secepatnya, kemudian merujuknya ke rumah sakit yang ada fasilitas untuk pembedahan mata.3 Terapi pada awalnya ditujukan untuk menurunkan tekanan intraokuler. An Pengobatan dengan obat-obatan :

Miotik, yang paling mudah didapatkan adalah pilokarpin 2-4% tetes mata yang ditetskan tiap menit 1 tetes selama 5 menit, kemudian disusul 1 tetes tiap jam sampai 6 jam. Pilokarpin adalah miosis dan karenanya melepaskan iris dari jaringan trabekulum. Sudut bilik mata depan akan terbuka.

Penghambat karbonik anhidrase (carbonic anhydrase inhibitor) yang menyebabkan mengurangnya produksi akuos humor. Yang biasa dipakai adalah tablet asetazolamid ( 250 mg) diberikan 2 tablet sekaligus, kemudian disusul tiap 4 jam 1 tablet sampai 24 jam.
14

Obat hiperosmotik, yang paling mudah adalah larutan gliserin, 50% yang diberikan oral. Dosis 1-1,5 gram/kg berat badan (0,75-1,5 cc kg berat badan). Gliserin ini harus diminum sekaligus. Gliserin dan manitol mempertinggi daya osmosis.

Morfin : suntikan 10-15 mg mengurangi rasa sakit dan mengecilkan pupil.

Obat-obatan ini dapat diberikan bersama-sama, tetapi hana merupakan pengobatan darurat dan jangka pendek. Pembedahan tetap harus direncanakan.1,2,3 Pembedahan Sebelum pembedahan, tiap glaukoma akut harus diobati terlebih dahulu, tekanan bola mata yang tadinya sangat tinggi diturunkan dahulu sampai di bawah 25 mmHg. Apabila mata masih terlalu merah, dapat ditunggu sampai mata lebih putih dan kemudian penderita dibedah. 1. Iridektomi Perifer Indikasi : pembedahan ini digunakan untuk glaukoma dalam fase prodromal, glaukoma akut yang baru terjadi atau untuk tindakan pencegahan pada mata sebelahnya yang masih sehat. Teknik : pada prinsipnya dibuat lubang di bagian perifer iris. Maksudnya adalah untuk menghindari hambatan pupil. Iridektomi ini biasanya dibuat di sisi temporal atas. Iridektomi perifer preventif dilakukan dengan alas an serangan glaukoma akut biasanya terjadi unilateral. Nasib mata sebelahnya yang masih sehat menurut beberapa laporan terdapat risiko 60% terjadinya glaukoma akut dalam 5 tahun mendatang.3,7 2. Laser iridotomy Pada glaukoma sudut tertutup terdapat hambatan relatif pengeluaran keluar cairan bilik mata belakang melalui pupil ke bilik mata depan. Iridotomi laser merupakan tindakan bedah yang palig sering jadi pilihan bagi sudut tertutup glaukoma. Sinar laser menciptakan sebuah lubang di iris, sehingga cairan dari bilik mata belakang dapat mencapai ke bilik mata depan melalui lubang di iris.10
3. Pembedahan Filtrasi (trepanasi, sklerotomi, trabekulektomi)

15

Indikasi : pembedahan filtrasi dilakukan kalau glaukoma akut sudah berlangsung lama atau penderita sudah masuk stadium glaukoma kongestif kronik. Trepanasi Elliot : sebuah lubang kecil berukuran 1,5 mm dibuat di daerah kornea-skleral, kemudian ditutup oleh konjungtiva dengan tujuan agar akuos mengalir langsung dari bilik mata depan ke ruang subkonjungtiva. Sklerotomi : kornea skleral dikauterisasi agar luka tidak menutup kembali dengan sempurna, dengan tujuan agar akuos mengalir langsung dari bilik mata depan ke ruang subkonjungtiva. Trabekulektomi : mengangkat trabekulum sehingga terbentuk celah untuk mengalirkan cairan mata masuk ke dalam kanal Schlemm.2,3 2.11 PROGNOSIS Deteksi dini dan pengobatan yang tepat dan sesegera mungkin, maka prognosisnya baik.10 2.12 PENCEGAHAN Pemeriksaan mata secara teratur dengan dokter mata dapat mengidentifikasi orang yang berisiko untuk akut sudut tertutup glaukoma. Pada beberapa orang yang berisiko tinggi, iridotomy laser dapat dilakukan untuk mencegah serangan glaukoma akut sudut tertutup.7,10

BAB III KESIMPULAN Glaukoma primer sudut tertutup terjadi bila terdapat kenaikan mendadak dari tekanan intraokuler yang disebabkan penutupan sudut coa yang mendadak oleh akar iris sehingga menghalangi sama sekali keluarnya humor akueus melalui trabekula, menyebabkan meningginya tekanan intraokuler, sakit yang sangat di

16

mata secara mendadak dan menurunnya ketajaman penglihatan secara tiba-tiba disertai tanda-tanda kongesti di mata, seperti mata merah, kelopak bengkak. Terdapat tiga tipe sudut primer tertutup yaitu akut, subakut, kronis san iris plateau. Etiologi dari glaukoma primer sudut tertutup biasanya dikarenakan factor anatomis yang menyebabkan sudut sempit. Untuk menegakkan diagnosis glaukoma primer sudut tertutup yaitu dari anamnesis yang teliti dan diperlukan juga penilaian secara klinis. Pengobatan dengan obat harus dilaksanakan sebagai tindakan pertolongan darurat bahwa tugas di daerah adalah memberi pengobatan secepatnya, kemudian merujuknya ke rumah sakit yang ada fasilitas untuk pembedahan mata.

DAFTAR PUSTAKA 1. Vaughan & Asbury. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta: EGC. 2009. 2. Wijaya, N. Ilmu Penyakit Mata, cetakan ke-6. 1993. 3. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran. Jakarta : CV. Sagung Seto; 2002.

17

4. Depkes RI. Gangguan penglihatan Masih Menjadi Masalah Kesehatan.

Diunduh dari http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/845gangguan-penglihatan-masih-menjadi-masalah-kesehatan.html


5. Sbeity, Z. Ritch, R. Annual World Glaukoma Day. J Med Liban 2010 ; 58

(2) : 120-121. Diunduh dari http://lebanesemedicaljournal.org/articles/582/health1.pdf. 6. Ilyas, S. Ilmu Penyakit Mata Edisi ke-3. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2004. 7. Ilyas, S. Glaukoma. Edisi ke-2. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;2001. 8. Ilyas, S. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009. 9. Ilyas, S. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke3. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009.
10. Noecker,

R.

J.

Acute

Angle

Closure

Glaukoma.

2012

http://www.emedicinehealth.com/acute_angle closure_glaucoma/article_em.htm

18