Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dengan semakin pesatnya kemajuan lalu lintas di Indonesia, baik dari segi jumlah, pemakai jalan, jumlah pemakai jalan jasa angkutan dan bertambahnya jaringan jalan serta kecepatan kendaraan akan meningkatkan angka kejadian trauma. Trauma kepala merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia dimana kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utamanya sekitar 40 - 50 %. Mayoritas trauma kepala terjadi pada usia 15 45 tahun dengan kejadian tertinggi pada pria. (1) Berdasarkan data di atas maka desakan untuk

memperbaiki/meningkatkan cara dan sistem penanggulangan penderita gawat darurat sekarang sangat dirasakan. Usaha yang dilakukan untuk

mempertahankan kehidupan pada saat pendertita mengalami keadaan yang mengancam nyawa dikenal sebagai Bantuan Hidup Dasar (BHD). (2) Bantuan hidup dasar adalah usaha yang dilakukan untuk menjaga jalan napas (airway) tetap terbuka, menunjang pernapasan dan sirkulasi dan tanpa menggunakan alat-alat bantu. Usaha ini harus dimulai dengan mengenali secara tepat keadaan henti jantung atau henti napas dan segera memberikan bantuan sirkulasi dan ventilasi. Usaha bantuan hidup dasar (BHD) ini bertujuan dengan cepat mempertahankan pasok oksigen ke otak, jantung dan alat-alat vital lainnya sambil menunggu pengobatan lanjutan (bantuan hidup lanjut). Salah satu contoh Bantuan Hidup Dasar adalah melakukan RKP. (2)
1.2 Definisi Umum Resusitasi Kardiopulmoner (RKP) adalah suatu tindakan darurat, sebagai suatu usaha untuk mengembalikan keadaan henti napas dan atau henti jantung (yang dikenal dengan kematian klinis) ke fungsi optimal, guna mencegah kematian biologis.

Pengalaman menunjukkan bahwa resusitasi jantung paru akan berhasil terutama pada keadaan henti jantung yang disaksikan (witnessed);dimana

resusitasi segera dilakukan oleh orang yang berada di sekitar korban. Korban dengan fibrilasi ventrikel harus segera dilakukan resusitasi jantung paru dan tindakan defibrilasi dapat segera dilakukan dalam 8-10 menit setelah kejadian henti jantung. (3) Dimana kematian klinis ditandai dengan : (3) a. Hilangnya nadi arteri karotis dan arteri femoralis b. Terhentinya denyut jantung atau pernapasan c. Terjadinya penurunan atau hilang kesadaran
Kematian biologis yaitu keadaan dimana kerusakan otak tak dapat diperbaiki lagi, terjadi hanya kurang lebih 4 menit setelah kematian klinis. Karenanya, berhasil tidaknya tindakan RKP sangat tergantung pada cepatnya tindakan dan tepatnya teknik pelaksanaannya walaupun dalam beberapa hal bergantung pula faktor penyebabnya.(3)

Tindakan Resusitasi Kardio Pulmonal (RKP) pada dasarnya dibagi dalam tiga tahap dan pada setiap tahapan dilakukan tindakan-tindakan pokok yang disusun menurut abjad: (3) 1. Pertolongan Dasar (Basic Life Support) 2. Pertolongan Lanjut (Advanced Life Suppor)
3. Pertolongan Jangka Panjang (Prolonged Life Support) 1.3 Insiden Insiden terjadinya trauma atau Multiple trauma di Indonesia : (1)

a) 50% meninggal pada saat kejadian atau beberapa menit setelah kejadian karena distruksi otak dan lainnya. b) 35% meninggal 1-2 jam setelah trauma (the golden hour). Data kematian disebabkan karena: 1. trauma kepla berat (hemtoma subdural dan epidural) 2. trauma toraks (hematoma toraks dan peneumotoraks) 3. trauma abdomen (ruptur limpha dan laserasi hati) 4. fraktur femur dan pelvis karena pendarahan massif 5. trauma multiple dan pendarahan. CNS,jantung aorta dan pembuluh besar

BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI

2.1 Anatomi Fisiologi Sistem Respirasi

Gambar 1 Anatomi sistem pernafasan (7) Tujuan dari sistem respirasi adalah pertukaran gas, yaitu oksigen (O) yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme sel dan karbondioksida (CO) yang dihasilkan dari metabolisme tersebut dikeluarkan dari tubuh melalui paru. . (4,5) Untuk mencapai tujuan ini, pernapasan dapat dibagi menjadi empat peristiwa fungsional utama : (4,5) 1. Ventilasi paru adalah masuk dan keluarnya udara antara atmosfir dan alveoli paru 2. Difusi O dan CO antara alveoli dan darah 3. Transpor O dan CO dalam darah dan cairan tubuh ke dan dari sel 4. Respirasi seluler adalah penggunaan O oleh sel-sel tubuh untuk produksi energi dan pelepasan produk oksidasi (CO dan air) oleh sel-sel tubuh.

Sistem respirasi terdiri dari: (6,7) 1. Saluran nafas bagian atas : Pada bagian ini udara yang masuk ke tubuh dihangatkan, disaring, dan dilembabkan. 2. Saluran nafas bagian bawah : Bagian ini menghantarkan udara yang masuk dari saluran bagian atas ke alveoli 3. 4. Alveoli : terjadi pertukaran gas antara O dan CO Paru- paru, terdiri dari : Saluran nafas bagian bawah, Alveoli, Sirkulasi paru. 5. Rongga Pleura : Terbentuk dari dua selaput serosa, yang meliputi dinding dalam rongga dada yang disebut pleura parietalis, dan yang meliputi paru atau pleura veseralis. 6. Rongga dan dinding dada : Merupakan pompa musculoskeletal yang mengatur pertukaran gas dalam proses respirasi. Saluran Nafas Bagian Atas

Gambar 2 saluran Nafas bagian atas (6)

a. Rongga hidung
Udara yang dihirup melalui hidung akan mengalami tiga hal : (6,7)

a) Dihangatkan b) Disaring c) Dan dilembabkan

Yang merupakan fungsi utama dari selaput lendir respirasi terdiri dari : Psedostrafied ciliated columnar epitelium yang berfungsi menggerakkan partikel partikel halus kearah faring sedangkan partikel yang besar akan disaring oleh bulu hidung, sel golbet dan kelenjar serous yang berfungsi melembabkan udara yang masuk, pembuluh darah yang berfungsi menghangatkan udara). Ketiga hal tersebut dibantu dengan concha. Kemudian udara akan diteruskan ke (6,7)

b. Nasofaring terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius c. Orofaring merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat pangkal lidah d. Laringofaring terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan. Saluran Nafas Bagian Bawah

Gambar 3 saluran Nafas bagian bawah

(6)

a. Laring Terdiri dari tiga struktur yang penting (6,7) a) Tulang rawan krikoid b) Selaput/pita suara c) Epiglotis b. Trakhea Merupakan pipa silider dengan panjang 11 cm, berbentuk cincin tulang rawan seperti huruf C. Bagian belakang dihubungkan oleh membran fibroelastic menempel pada dinding depan eusophagus. (6,7)

c.

Bronchi Merupakan percabangan trakhea kanan dan kiri. Tempat percabangan ini disebut carina. Bronchus kanan lebih pendek, lebar dan lebih dekat dengan trachea. Bronchus kanan bercabang menjadi : lobus superior, medius, inferior. Brochus kiri terdiri dari : lobus superior dan inferior (6,7)

Gambar 4 Alveoli (6)

d. Alveoli , terdiri dari :(6,7) 1) Membran alveolar : a. Small alveolar cell dengan ekstensi ektoplasmik ke arah rongga alveoli. b. Large alveolar cell mengandung inclusion bodies yang menghasilkan surfactant. Anastomosing capillary, merupakan system vena dan arteri yang saling berhubungan langsung, ini terdiri dari : sel endotel, aliran darah dalam rongga endotel. Interstitial space merupakan ruangan yang dibentuk oleh : endotel kapiler, epitel alveoli, saluran limfe, jaringan kolagen dan sedikit serum. (6,7) 2) Surfactant Mengatur hubungan antara cairan dan gas. Dalam keadaan normal surfactant ini akan menurunkan tekanan permukaan pada waktu ekspirasi, sehingga kolaps alveoli dapat dihindari. . (6,7) e. Paru-paru Paru-paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut yang terdapat dalam rongga dada. Kedua paru-paru saling terpisah oleh
6

mediastinum sentral yang mengandung jantung dan pembuluh darah besar. Setiap paru mempunyai apeks dan basis. Arteri pulmonalis dan darah arteria bronkhiolus, bronchus, saraf dan pembuluh limphe masuk pada setiap paru pada bagian hilus dan membentuk akar paru.Paru kanan lebih besar dari pada paru kiri, dibagi menjadi tiga lobus oleh fisura interlobaris; paru kiri dibagi menjadi dua lobus, yang terbagi lagi atas beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkhus. (6,7)
f. Rongga dan Dinding Dada

Rongga ini terbentuk oleh: (6,7) a. b. c. d. e. f. Otot otot interkostalis Otot otot pektoralis mayor dan minor Otot otot trapezius Otot otot seratus anterior/posterior Kosta- kosta dan kolumna vertebralis Kedua hemi diafragma Dasar mekanika pernapasan dari rongga dada adalah inspirasi dan ekspirasi yang digerakkan oleh otot-otot pernapasan. Ketika dada membesar karena aksi otot-otot inspirasi, maka kedua paru mengembang mengikuti gerakan dinding dada. Dengan mengembangnya dada, udara masuk melalui saluran pernapasan ke alveoli. Pengembangan rongga dada menyebabkan saluran udara lebih lebar, sehingga lebih banyak udara yang masuk ke alveoli. Pada waktu otot-otot inspirasi rileks, maka ekspirasi mengambil alih, penurunan volume rongga dada bersama-sama dengan recoil jaringan elastis kedua paru menghasilkan udara. Otot-otot yang bekerja pada inspirasi normal adalah otot diafragma dan eksternal intercostal. Pengajaran pernapasan terutama tergantung pada kontrol gerakan iga dan pernapasan ditekankan pada tempat iga yang bergerak dari daerah paru yang mengisap udara. (6,7) 2.2 Fisiologi Sistem Respirasi Proses fisiologi pernapasan di mana oksigen dipindahkan dari udara ke dalam jaringanjaringan, dan karbon dioksida dikeluarkan ke

udara ekspirasi. Pernapasan dapat dibagi menjadi tiga stadium. Stadium pertama adalah ventilasi, yaitu masuknya campuran gas gas ke dalam dan keluar paru paru. Stadium ke dua, transportasi, yang terdiri dari beberapa aspek: (8) 1. Difusi gas gas antara alveolus dan kapiler paru paru (respirasi eksterna) dan antara darah sistemik dan sel sel jaringan. 2. Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonar dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus alveolus. 3. Reaksi kimia dan fisik dari oksigen dan karbon dioksida dengan darah. Respirasi sel atau respirasi interna merupakan stadium akhir dari respirasi, yaitu saat di mana metabolit dioksidasi untuk mendapatkan energi dan karbon dioksida terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paruparu.(8) 2.3 Regulasi Ventilasi Kontrol dari pengaturan ventilasi dilakukan oleh sistem syaraf dan kadar/konsentrasi gas-gas yang ada di dalam darah. Pusat respirasi di medulla oblongata mengatur: Rate impuls,Respirasi rate,Amplitudo impuls,Tidal volume(6,7) Pusat inspirasi dan ekspirasi : posterior medulla oblongata, pusat kemo reseptor : anterior medulla oblongata, pusat apneu dan pneumothoraks : pons. Rangsang ventilasi terjadi atas : PaCo2, pH darah, PaO2. (6,7)

3.1 Anatomi Fisiologi Sistem Sirkulasi

Gambar 5 Anatomi jantung (9) Jantung normal dibungkus oleh perikardium terletak pada mediastinum medialis dan sebagian tertutup oleh jaringan paru. Bagian depan dibatasi oleh sternum dan iga 3,4, dan 5. Hampir dua pertiga bagian jantung terletak di sebelah kiri garis media sternum. Jantung terletak diatas diafragma, miring ke depan kiri dan apeks kordis berada paling depan dari rongga dada. Apeks ini dapat diraba pada ruang sela iga 4 5 dekat garis medio- klavikuler kiri. Batas kranial dibentuk oleh aorta asendens, arteri pulmonal dan vena kava superior. Ukuran atrium kanan dan berat jantung tergantung pada umur, jenis kelamin, tinggi badan, lemak epikardium dan nutrisi seseorang Anatomi. . (10) Jantung dapat dibagi dalam 2 kategori, yaitu anatomi luar dan anatomi dalam. Anatomi luar, atrium dipisahkan dari ventrikel oleh sulkus koronarius yang mengelilingi jantung.Pada sulkus ini berjalan arteri koroner kanan dan arteri sirkumfleks setelah dipercabangkan dari aorta. Bagian luar kedua ventrikel dipisahkan oleh sulkus interventrikuler anterior di sebelah depan, yang ditempati oleh arteri desendens anterior kiri, dan sulkus interventrikularis posterior disebelah belakang, yang dilewati oleh arteri desendens posterior. (10) A. Dinding Jantung Tersusun tiga lapisan: (10) a. Epikardium :tersusun dari lapisan sel sel mesotelial yang berada di atas jaringan ikat.
9

b. Miokardium terdiri dari jaringan otot jantung yang berkontraksi untuk memompa darah. c. Endokardium tersusun dari lapisan endotelial yang terletak di atas jaringan ikat.Lapisan ini melapisi jantung,katup, dan menyambung dengan lapisan endotelial yang melapisi pembuluh darah yang memasuki dan

meninggalkan jantung. . Ruang Jantung (10) 1. Ada empat ruang : atrium kanan dan kiri yang dipisahkan oleh septum intratrial, ventrikel kanan dan kiri bawah, dipisahkan oleh septum interventrikuler. 2. Dinding atrium relatif tipis.Atrium menerima darah dari vena yang membawa darah kembali ke jantung. 3. Ventrikel berdinding tebal.Bagian ini mendorong darah ke luar jantung menuju arteri yang membawa darah meninggalkan jantung. (10)
3.2 Fisiologi system sirkulasi

1. Kontraksi Jantung Kontraksi otot jantung untuk mendorong darah dicetuskan oleh potensial aksi yang menyebar melalui membran sel otot. Jantung berkontraksi atau berdenyut secara berirama akibat potensial aksi yang ditimbulkan sendiri, suatu sifat yang dikenal dengan otoritmisitas. Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung yaitu 99% sel otot jantung kontraktil yang melakukan kerja mekanis, yaitu memompa. Sel sel pekerja ini dalam keadaan normal tidak menghasilkan sendiri potensial aksi. Sebaliknya, sebagian kecil sel sisanya adalah, sel otoritmik, tidak berkontraksi tetapi mengkhususkan diri mencetuskan dan menghantarkan potensial aksi yang bertanggungjawab untuk kontraksi sel sel pekerja. (11) Kontraksi otot jantung dimulai dengan adanya aksi potensial pada sel otoritmik. Penyebab pergeseran potensial membran ke ambang masih belum diketahui. Secara umum diperkirakan bahwa hal itu terjadi karena penurunan siklis fluks pasif K+ keluar yang langsung bersamaan dengan kebocoran lambat Na+ ke dalam. Di sel sel otoritmik jantung, antara

10

potensialpotensial aksi permeabilitas K+ tidak menetap seperti di sel saraf dan sel otot rangka. Permeabilitas membrane terhadap K+ menurun antara potensial potensial aksi, karena saluran K+ diinaktifkan, yang mengurangi aliran keluar ion kalium positif mengikuti penurunan gradien konsentrasi mereka.Karena influks pasif Na+ dalam jumlah kecil tidak berubah, bagian dalam secara bertahap mengalami depolarisasi dan bergeser ke arah ambang.Setelah ambang tercapai, terjadi fase naik dari potensial aksi sebagai respon terhadap pengaktifan saluran Ca2+ dan influks Ca2+ kemudian; fase ini berbeda dari otot rangka, dengan influks Na+ bukan Ca2+ yang mengubah potensial aksi ke arah positif. Fase turun disebabkan seperti biasanya, oleh efluks K+ yang terjadi karena terjadi peningkatan permeabilitas K+ akibat pengaktifan saluran K+.Setelah potensial aksi usai, inaktivasi saluran saluran K+ ini akan mengawali depolarisasi berikutnya. Sel sel jantung yang mampu mengalami otortmisitas ditemukan pada nodus SA, nodus AV, berkas His dan serat purkinje. . (11) Kecepatan normal pembentukan potensial aksi di jaringan otoritmik jantung. Jaringan Potensial aksi per menit(11) Nodus SA ( pemicu normal) Nodus AV Berkas His dan serat serat purkinje Sebuah potensial aksi yang dimulai di nodus SA pertama kali akan menyebar ke atrium melalui jalur antar atrium dan jalur antar nodus lalu ke nodus AV. Karena konduksi nodus AV lambatcmaka terjadi perlambatan sekitar 0,1 detik sebelum eksitasi menyebar ke ventrikel. Dari nodus AV,cpotensial aksi akan diteruskan ke berkas His sebelah kiri lalu kanan dan terakhir adalah ke sel purkinje. (11) 3.3. Siklus Jantung Siklus jantung adalah periode dimulainya satu denyutan jantung dan awal dari denyutan selanjutnya. Siklus jantung terdiri dari periode sistol dan
11

70 80 40 60 20 - 40

diastol. Sistol adalah periode kontraksi dari ventrikel, dimana darah akan dikeluarkan dari jantung. Diastol adalah periode relaksasi dari ventrikel, dimana terjadi pengisian darah. (11) Diastol dapat dibagi menjadi dua proses yaitu relaksasi isovolumetrik dan ventricular filling. Pada relaksasi isovolumetrik terjadi ventrikel yang mulai relaksaasi, katup semilunar dan katup atrioventrikularis tertutup dan volume ventrikel tetap tidak berubah. Pada ventricular filling dimana tekanan dari atrium lebih tinggi dari tekanan di ventrikel, katup mitral dan katup tricuspid akan terbuka sehingga ventrikel akan terisi 80% dan akan mencapai 100 % jika atrium berkontraksi. Volume total yang masuk ke dalam diastol disebut End Diastolic Volume Sistolik dapat dibagi menjadi dua proses yaitu kontraksi isovolumetrik dan ejeksi ventrikel. (10) Pada kontraksi isovolumetrik, kontraksi sudah dimulai tetapi katupkatup tetap tertutup. Tekanan juga telah dihasilkan tetapi tidak dijumpai adanya pemendekan dari otot. Pada ejeksi ventrikel, tekanan dalam ventrikel lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan pada aorta dan pulmoner sehingga katup aorta dan katup pulmoner terbuka dan akhirnya darah akan dipompa ke seluruh tubuh. Pada saat ini terjadi pemendekan dari otot. Sisa darah yang terdapat di ventrikel disebut End Systolic Volume. (10) Sistem sirkulasi dapat dibagi atas : 1. Sirkulasi Sistemik Sirkulasi sistemik perjalanannya meliputi : Ventrikel Sinistra Aorta Arteri Arteriole Kapiler Venule Vena Vena Cava Superior et Inferior Atrium Dextra. (11) 2. Sirkulasi pulmonal Sirkulasi pulmonal perjalanannya meliputi : Ventrikel Dextra Arteri Pulmonalis Kapiler Pulmonal Vena Pulmonalis Atrium Sinistra(11)

12

BAB III INITIAL ASESSMENT


PRIMARY SURVEY A. Scene Survey Pertama-tama harus diperhatikan adalah lingkungan/situsasi.

Perhatikan keadaan sekitar apakah aman untuk memberikan pertolongan. Bila keadaan tidak memungkinkan maka jangan paksakan diri anda untuk masuk ke lokasi yang berbahaya. Sebagai contoh bila dekat dengan korban ada kabel listrik, maka singkirkan dulu kabel listrik tersebut. Bila yakin aman dari bahaya baru anda bisa memberikan pertolongan. (12) B. Respons Kita menilai kesadaran dengan cara menepuk bahu korban dan bertanya pada korban serta ukuran reaksi pupil. (13) Evaluasi dengan menggunakan metode AVPU(13) A : Alert (sadar) V : Respon terhadap rangsangan suara (vocal) P : Respon terhadap rangsangan nyeri (pain) U : Unresponsive ( tidak ada respon ) Jika anda sendiri dan menemukan korban tak sadar teriak minta tolong. Telepon nomor darurat dan kembali lagi ke korban untuk memberikan pertolongan selanjutnya. Bila anda berdua atau lebih, maka salah satu orang menghubungi nomor darurat dan yang lainnya memberikan pertolongan kepada korban. (12) C. Posisi Penderita Untuk melakukan tindakan BHD yang efektif, korban/pasien harus dalam posisi terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras. jika korban ditemukan dalam posisi miring atau tengkurap, ubahlah posisi

13

korban ke posisi terlentang. Ingat! penolong harus membalikkan korban sebagai satu kesatuan antara kepala, leher dan bahu digerakkan secara bersama-sama. Jika posisi sudah terlentang, korban harus dipertahankan pada posisi horisontal dengan alas tidur yang keras dan kedua tangan diletakkan di samping tubuh. (14) D. Posisi Penolong Penolong sebaiknya berlutut atau berdiri di samping penderita dalam posisi dimana ia dapat melakukan gerakan bantuan nafas dan bantuan sirkulasi tanpa harus merubah posisi tubuh. (2) I.

AIRWAY
a. Pemeriksaan Memastikan kelancaran jalan nafas. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur mandibula atau maksila, fraktur laring atau trakea. Pada keadaan penderita yang masih bernafas, mengenali ada tidaknya sumbatan jalan nafas dapat dilakukan dengan bertanya dulu kepada pasien setelah itu lakukan look, listen and feel. (15) 1) Lihat (Look). Apakah penderita mengalami agitasi atau kesadarannya menurun. Agitasi memberi kesan adanya hipoksia, dan penurunan kesadaran memberi kesan adanya hiperkarbia. Sianosis menunjukkan hipoksemia yang disebabkan oleh kekurangan oksigenasi dan dapat dilihat dengan melihat pada kuku dan kulit sekitar mulut. Lihat adanya retraksi dan penggunaan otot-otot napas tambahan yang apabila ada merupakan bukti tambahan adanya gangguan airway. (15) 2) Dengar (listen). Adanya suara-suara abnormal. Pernapasan yang berbunyi (napas tambahan) adalah pernapasan yang tersumbat. Suara mendengkur (snoring), berkumur (gurgling) dan bersiul (crowing sound, stridor) mungkin berhubungan dengan sumbatan parsial pada faring atau laring. Penderita yang melawan dan berkata-kata kasar (gaduh gelisah) mungkin mengalami hipoksia dan tidak boleh dianggap karena keracunan/mabuk. (15)
14

3) Raba (feel) lokasi trakea dan dengan cepat tentukan apakah trakea berada di tengah atau tidak(15)

Gambar 7 : Tekhnik LOOK, LISTEN and FEEL (16) b. Permasalahan Gangguan Airway dapat timbul secara mendadak dan total, perlahan-lahan dan sebagian, dan progresif dan atau berulang. Jika obstruksi parsial maka pasien akan menunjukan tanda bunyi nafas tambahan. Beberapa bunyi nafas tambahan : (16) a) Mendengkur(snoring), berasal dari sumbatan pangkal lidah. b) Berkumur (gargling), penyebab : ada cairan di daerah hipofaring. c) Stridor (crowing), sumbatan di plika vokalis. c. Penanganan 1. Airway maneuver Head tilt : leher di ekstensikan sejauh mungkin dengan menggunakan satu tangan atau kepala di ekstensikan dengan cara meletakkan satu tangan di bawah leher pasien dengan sedikit mengangkat ke atas. Tangan lain diletakkan pada dahi depan pasien sambil mendorong/menekuk kebelakang.(2)

Gambar 8 : Head tilt (17)

15

Chin lift: Dagu bagian sentral ditarik kedepan dengan menggunakan tangan yang lain atau jemari salah satu tangan diletakkan dibawah rahang yang secara hati-hati diangkat keatas untuk membawa dagu ke arah depan. Ibu jari yang sama, dengan ringan menekan bibir bawah untuk membuka mulut. Ibu jari juga dapat diletakkan dibelakang gigi seri (incisor) bawah dan secara bersamaan, dagu dengan hati-hati diangkat. Manuver chin lift tidak boleh menyebabkan hiperextensi leher. Manuver ini berguna pada korban trauma karena tidak membahayakan penderita dengan kemungkinan patah ruas tulang leher atau mengubah patah tulang tanpa cedera sum-sum tulang menjadi cedera sum-sum tulang. (18)

Gambar 9 : Chin lift (17) Jaw thrust : Masing-masing tangan di tempatkan di samping kepala penderita, kemudian siku di tempatkan pada permukaan di mana penderita di tempatkan. Sudut rahang bawah penderita digenggam dan diangkat dengan kedua tangan. Jika bibir terkatup, bibir bawah dapat ditarik dengan ibu jari. (13) Teknik jaw thrust tanpa head tilt merupakan tindakan paling aman untuk membuka jalan napas pada penderita yang dicurigai mengalami trauma leher karena biasanya dapat dilakukan tanpa menggerakkan leher. Kepala ditopang dengan hati-hati tanpa menarik kepala ke belakang atau ke samping. (13)

16

Gambar 10 : Jaw thrust (16) Bila dengan ekstensi kepala, penarikan mandibula ke depan dan membuka mulut pasien yang dikenal seebagai triple airway maneuver masih belum berhasil, maka perlu dipikirkan adanya penyumbatan pada jalan nafas. Oleh karena itu mulut harus segera dibuka, dibersihkan dan dikeluarkan benda padat dengan tangan.Dengan cara : (16) Finger swepp : jari- jari tangan menahan mandibula, ibu jari digunakan untuk menahan pangkal lidah, sedangkan tangan yang lain digunakan untuk menahan benda yang menyebabkan obstruksi.
(16)

Gambar 11 : Finger sweap(16) Keluarkan semua benda asing yang terlihat atau muntahan dari mulut, keluarkan cairan dari mulut dengan memakai jari-jari yang dibungkus dengan sarung tangan atau selembar kain (finger sweep). Keluarkan benda padat dengan jari telunjuk sementara jari pada tangan lain mempertahankan lidah dan rahang atas. (16) Hal lain yang perlu diperhatikan adanya benda asing pada jalan nafas. Ada 3 manuver yang dianjurkan untuk dilakukan jika didapatkan benda asing (benda padat) pada jalan nafas tersebut, yaitu
(16)

17

Chest Thrust (untuk bayi, anak yang gemuk dan wanita hamil). Bila penderita sadar, lakukan chest thrust 5 kali (tekan tulang dada dengan jari telunjuk atau jari tengah kira-kira satu jari di bawah garis imajinasi antara kedua putting susu pasien). Bila penderita sadar, tidurkan terlentang, lakukan chest thrust, tarik lidah apakah ada benda asing, beri nafas buatan(16)

Gambar 12 Chest thrust (16

Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) kepalkan sebuah tangan, letakkan sisi ibu jari pada perut di atas pusar dan di bawah ujung tulang sternum, genggam kepala itu dengan kuat, beri tekanan ke atas ke arah diafragma dengan gerakan yang cepat. (16)

Gambar 13 Heimlch maneuver (19)

Back Blow (untuk bayi) : Bila penderita sadar dapat batuk keras, observasi ketat. Bila nafas tidak efektif atau berhenti, lakukan back blow 5 kali (hentakan keras pada punggung korban dititik silang garis antar belikat dengan tulang punggung/vertebrae) (16)

18

Gambar .14 Back blow pada bayi (16) Khusus dalam keadaan kecurigaan fraktur servikal, harus dipakai alat imobilisasi. Bila alat imobilisasi ini harus dipakai sementara,maka terhadap kepala harus dilakukan imobilisasi manual. Ini harus dipakai sampai kemungkinan fraktur servikal dapat disingkirkan. (16)

2. BREATHING a. Pemeriksaan Untuk menilai seseorang bernafas secara normal dapat dilihat dari berapa kali seseorang bernapas dalam satu menit, secara umum; (20) 1) Frekuensi/jumlah pernapasan 12-20x/menit (dewasa),anak (20-

30x/menit), bayi (30-40x/menit) 2) Dada sampai mengembang b. Permasalahan Pernapasan dikatakan tidak baik/tidak normal jika terdapat keadaan berikut ini: (20) 1) Ada tanda-tanda sesak napas : peningkatan frekuensi napas dalam satu menit 2) Ada napas cuping hidung (cuping hidung ikut bergerak saat bernafas) 3) Ada penggunaan otot-otot bantu pernapasan (otot sela iga, otot leher, otot perut) 4) Warna kebiruan pada sekitar bibir dan ujung-ujung jari tangan 5) Tidak ada gerakan dada dan Tidak ada suara napas 6) Tidak dirasakan hembusan napas 7) Pasien tidak sadar dan tidak bernapas.

19

c. Penanganan Check breathing. Saat membebaskan jalan nafas, perhatikan pernapasan korban dengan cara lihat,dengarkan, dan rasakan ( look, listen dan feel ). Lihat pergerakan dada, dengarkan bunyi napas, dan rasakan hembusan nafas korban. (20) a. Lihat (look) : naik turunnya dada yang simetris dan pergerakan dinding dada yang adekuat atau tidak. b. Dengar ( listen ) : adanya pergerakan udara pada kedua sisi dada. Penurunan atau tidak terdengarnya suara napas pada satu atau kedua hemitoraks merupakan tanda adanya cedera. Hati hati terhadap adanya laju pernapasan yang cepat ( takipnea ) mungkin menunjukkan kekurangan oksigen. c. Rasa ( feel ) : hembusan nafas korban.

Gambar 15: Tekhnik Look, Listen and Feel(20) Bila korban tak bernapas, maka berikan napas buatan. Pemberian bantuan nafas bisa dilakukan dengan cara : (20) 1. Mouth to mouth Berikan napas buatan dengan menarik napas biasa lalu tempelkan bibir anda ke bibir korban hembuskan perlahan >1 detik sambil jari tangan anda menutup hidung korban dan mata anda melihat ke arah dada korban untuk menilai pernapasan buatan yang anda berikan efektif atau tidak (dengan naiknya dada korban maka pernapasan buatan dikatakan efektif). (3)

20

Gambar 16: Mouth to mouth(21) Cara ventilasi dari mulut ke mulut mempunyai resiko tertular berbagai penyakit infeksi seperti tuberculosis dan virus hepatitis B. Sedangkan penularan infeksi virus hepatitis C resikonya sangat kecil. (20) 2. Mouth to nose Pernapasan buatan dari mulut ke hidung. Sama dengan cara dari mulut ke mulut, hanya bedanya penolong meniupkan napasnya melalui hidung korban. Mulut korban harus menutupi seluruh hidung korban. Sementara meniup korban, mulut korban harus dalam keadaan tertutup.
(3)

Gambar 17 : Mouth to nose (22) 3. Mouth to mask Sama dengan cara dari mulut ke mulut. Hanya bedanya meniup napasnya melalui masker ke mulut korban.Bantuan pernapasan ini biasanya memerlukan volume tidal sekitar 400-600 ml pada orang dewasa. Jika korban bisa bernapas setelah pemberian 2x nafas buatan, maka posisikan pasien ke posisi aman. (3)

Gambar 18: Mouth to mask (23)

21

Berikan nafas buatan 2x lalu periksa denyut nadi carotis korban bila tidak ada denyut maka masuk ke langkah CPR. Bila ada denyut nadi maka berikan napas buatan dengan frekuensi 12x/menit/1 tiap 5 detik sampai korban sadar dan bernapas kembali atau tenaga paramedis datang; dan selalu periksa denyut nadi korban apakah masih ada atau tidak setiap 2 menit. (3) 3. CIRCULATION Pada keadaan henti jantung dimana jantung berhenti berdenyut dan berhenti memompakan darah ke seluruh tubuh, maka organ-organ tubuh akan kekurangan oksigen. Organ yang paling rentan untuk terjadi kerusakan akibat kekurangan oksigen adalah otak. Hal ini disebabkan karena sel-sel otak mengkonsumsi energi yang berasal dari oksigen saja. Tanpa oksigen, proses hidup sel otak akan terganggu. Dalam waktu 4-6 menit tanpa oksigen, sel-sel otak akan mulai mengalami kerusakan. Setelah 8-10 menit sel otak akan rusak permanen.Circulation merupakan tindakan resusitasi jantung dalam usaha mempertahankan sirkulasi darah dengan cara memijat jantung sehingga kemampuan hidup sel-sel saraf otak dalam batas minimal dapat dipertahankan. (20) a. Pemeriksaan Pemeriksaan sirkulasi dengan menilai tanda-tanda henti jantung. Adapun tanda-tanda henti jantung : Tanda- tanda henti jantung adalah : 1) Kesadaran hilang dalam waktu 15 detik setelah henti jantung. 2) Tak teraba denyut nadi arteri besar (femoralis dan karotis pada orang dewasa atau brakhialis pada bayi). 3) Henti nafas atau megap- megap. 4) Terlihat seperti mati. 5) Warna kulit pucat sampai kelabu. 6) Pupil melebar (45 detik setelah henti jantung) (24)

22

b. Permasalahan Henti jantung dapat disebabkan oleh faktor intrinsik atau ekstrinsik. Faktor intrinsik berupa penyakit kardiovaskuler seperti, jantung sistemik, infark miokardial akut, embolus paru, fibrosis pada sistem konduksi (penyakit lenegre, sindrom adam stokes), asistol, fibrilasi ventrikel dan disosiasi elektromekanik. Faktor ekstrinsik adalah

kekurangan oksigen akut (henti napas sentral/perifer, sumbatan jalan napas, dan inhalasi asap), kelebihan dosis obat (digitalis, kuinin, antidepresan trisiklik, propoksifen, adrenalin dan isoprenalin), gangguan asam basa/elektrolit (hipo/hiperkalmeia, hipo/hipermagnesia,

hiperkalsemia dan asidosis), kecelakaan (syok listrik, tenggelam, dan cedera kilat petir), transfusi darah, refleks vagal anestesi dan pembedahan, rekasi sensifitas, syok (hipovolemik, neurogenik, toksik dan anafilaktik).(3)
c. Penanganan

Tindakan sirkulasi buatan dapat dilakukan dengan cara pijat jantung dan pembuluh darah luar (PJL) atau Resusitasi Cardiopulmonal (RKP) dan atau pijat jantung dalam. PJL dilakukan dengan cara kompresi dinding dada secara teratur yang ada pada akhir inspirasi. Dengan cara ini dapat dihasilkan tekanan sistolik 100 mmHg atau lebih, tetapi tekanan distolik tidak lebih dari 100 mmHg. Tekanan vena sentralis meninggi hampir sebanding dengan tekanan arteri, akibatnya dapat terjadi perfusi walaupun minimal. (3) Teknik melakukan PJL : (3) 1) Letakkan satu tapak tangan di atas permukaan dinding dada pada bagian ujung sternum, namun tidak boleh diletakkan di atas prosesus xiphoideus.

Gambar 19: Posisi telapak tangan (3)

23

2) Beri tekanan berarah ventrikel ke bawah kira kira 3 5 cm untuk orang dewasa dengan tekanan kira kira 30 50 kg. Frekuensi gerakan diatur 1 kali perdetik atau 60-70 kali permenit. 3) Pada waktu gerakan penekanan, diusahakan menahan sternum ke bawah selama detik lagi (50% siklus), agar jantung dan pembuluh darah terisi darah. Kira kira 2 inci. 4) Komposisi harus teratur, halus dan tidak terputus-putus. 5) Dalam keadaan apapun kompresi tidak boleh terhenti lebih dari 5 detik.

Gambar 20: Posisi RKP yang baik (20) 6) Tindakan PJL, harus dibarengi ventilasi buatan dengan frekuensi 30 kali kompresi diiringi 2 kali ventilasi paru. (3,25) Rasio Satu Kompresi dengan Ventilasi Universal untuk Semua Penyelamat yang Sendirian 2005 (Baru): AHA merekomendasikan suatu rasio kompresi dengan ventilation dari 30:2 untuk semua penyelamat yang sendirian untuk semua korban dari bayi (bayi baru lahir) sama orang dewasa. (26) Selama tindakan PJL, hendaklah dilakukan pemerikaan denyut nadi arteri karotis dan pupil secara berkala. Bila pupil dalam keadaan kontriksi dengan reflex cahaya positif, menandakan oksigenasi aliran darah otak cukup. Bila sebaliknya yang terjadi, merupakan tanda kerusakan otak berat dan RKP dianggap kurang berhasil. (3) PJL dapat menimbulkan penyulit berupa: (3) a) Patah tulang iga, sternum, kerusakan tulang belakang

24

b) Laserasi paru, hati atau laserasi/ruptur jantung dan pembuluh darah. Herniasi jantung dan pembuluh darah melalui pericardium. c) Tamponade jantung dan pembuluh darah. d) Emboli lemak pada paru-paru dan otak. e) Hematotoraks dan pneumothorax. Untuk menghindari penyulit-penyulit di atas, maka dalam melakukan PJL perlu diperhatikan beberapa hal : (3) a. Kompresi tidak boleh melewati batas prosesus xiphoideus. b. Pada waktu kompresi harus berhati-hati agar jari tangan tidak menyentuh iga pasien, dan harus diletakkan tepat pada distal sternum. c. Tidak melakukan gerakan tiba-tiba atau terputus-putus serta kompresi dan relaksasi harus lah seirama. d. Tidak melakukan kompresi dada dan perut bersamaan. e. Harus sangat berhati-hati pada pasien dengan katup buatan karena PJL, dapat menimbulkan laserasi katup. Dalam beberapa keadaan PJL, merupakan kontraindikasi seperti luka tajam dinding dada, trauma pada bagian dalam dada embelit udara atau paru masif, tension pneumothorax atau pneumothorax bilateral, emfisema berat atau tamponade jantung dan pembuluh darah. (3) Efek dari PJL, dapat dilihat dengan beberapa jalan, antara lain dengan melihat pulsasi arteri karotis, dengan EKG atau dengan melihat pupil penderita. (3) Pijat jantung dari dalam ( manual direct of cardiac massage ) dilakukan pada keadaan keadaan tertentu dimana dengan PJL, tidak berhasil atau tidak dapat dikerjakan karena suatu kontra indikasi. Pijat jantung dari dalam ini hanya dikerjakan bila ada fasilitas yang memadai dan tenaga tenaga medis yang terlatih. (3)

25

RJP pada bayi dan anak RJP ini dilakukan dengan ibu jari pada sternum yang ditekan sedalam satu setengah sentimeter .Ventrikel bayi dan anak kecil terletak lebih tinggi dalam rongga dada, jadi tekanan harus dilakukan di bagian tengah tulang dada. Bahaya robeknya hati lebih besar pada anak karena dada lebih lunak dan hati terletak lebih tinggi di bawah tulang dada bawah dan xifoid. Tekanan : Pada bayi 1- 2 cm, pada tulang dada, anak kecil 2- 4 cm. Perbandingan kompresi terhadap ventilasi selalu 5:1.Jumlah kompresi : antara 80-100 kali/menit dengan napas buatan secepat mungkin tiap 5 kali kompresi.Penarikan kepala bayi dan anak ke belakang akan mengangkat punggung-nya. Jadi bila melakukan kompresi maka punggung si anak harus diganjal dengan lengan, sedang lengan yang lain melakukan kompresi jantung. (24)

Gambar 21 RKP pada Bayi (24) SECONDARY SURVEY Secondary survey baru dilakukan setelah primary survey selesai, resusitasi dilakukan dan ABC-nya penderita dipastikan membaik. Bila sewaktu survey sekunder kondisi pasien memburuk maka kita harus kembali mengulangi PRIMARY SURVEY (13) A. Disability ( pemeriksaan neurologis singkat) Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat. Yang dinilai secara cepat. Yang dinilai disini adalah tingkat kesadaran, serta ukuran dan reaksi pupil. Suatu cara sederhana untuk menilai tingkat kesadaran adalah metode AVPU : (13)

26

A : Alert (sadar) V : Respon terhadap rangsangan suara ( vocal ) P : Respon terhadap rangsangan nyeri ( pain ) U : Unresponsive ( tidak ada respon ) GCS ( Glasgow Coma Scale ) adalah sistem skoring yang sederhana dan dapat meramal kesudahan (outcome) penderita. GCS ini dapat dilakukan sebagai pengganti AVPU. (13) Evaluasi dengan GCS E. Mata membuka Spontan Setelah di panggil Dengan rangsangan nyeri Tidak merespon M. Respon Motorik Mengikuti perintah Dapat menunjuk letak nyeri Menghindar dari rangsangan nyeri Gerak flexi anggota badan Gerak meluruskan anggota gerak Tidak ada V. Respon Verbal Pembicaraan terarah Bingung, bicara tidak terarah Pembicaraan kacau Suara tidak dimengerti Tidak ada Nilai tertinggi 5 4 3 2 1 : E + M + V = 13 15 ( responsiveness ) 6 5 4 3 2 1 4 3 2 1

Nilai sedang : E + M + V = 9 12 Nilai terendah : E + M + V = 3 8 ( coma )

27

B. Exposure/Kontrol Lingkungan Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya, sering dengan cara menggunting, guna memeriksa dan evaluasi penderita. Setelah pakaian dibuka, penting penderita diselimuti agar penderita tidak kedinginan. Harus dipakaikan slimut hangat, ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intra-vena yang sudah dihangatkan. Yang penting adalah suhu tubuh penderita, bukan rasa nyaman petugas kesehatan. (15) Semua prosedur yang dilakukan harus dicatat dengan baik. Pemeriksaan dari kepala sampai ke jari kaki ( head-to-toe examination ) dilakukan dengan perhatian utama termasuk re-evaluasi pemeriksaan tanda vital. (15) 1. Anamnesis Setiap pemeriksaan yang lengkap memerlukan anamnesis mengenai riwayat perlukaan. Seringkali data seperti ini tidak bisa didapat dari penderita sendiri, dan harus didapat dari petugas lapangan atau keluarga. (15) Mekanisme perlukaan sangat menentukan keadaan penderita. Petugas lapangan seharusnya melaporkan mekanisme perlukaan. (15) 2. Pemeriksaan fisik yang di lakukan : (15) Pemeriksaan kepala, Pemeriksaan leher, Pemeriksaan

neurologis,Pemeriksaan dada, Pemeriksaan rongga perut ( abdomen ), Pelvis dan extremitas. Pasien trauma kepala harus dicurigai juga mengalami
trauma tulang leher sampai terbukti tidak demikian

28

BAB IV ALGORITMA INITIAL ASSESMENT

29

BAB V INDIKASI PENGAKHIRAN RESUSITASI


A. RKP yang berhasil (24) 1. Dada harus naik dan turun dengan setiap tiupan (ventilasi). 2. Pupil bereaksi atau tampak berubah normal (pupil harus mengecil saat diberikan cahaya). 3. Denyut jantung kembali terdengar 4. Reflek pernapasan spontan dapat terlihat 5. Kulit penderita pucat berkurang atau kembali normal. 6. Penderita dapat menggerakkan tangan atau kakinya 7. Penderita berusaha untuk menelan 8. Penderita menggeliat atau memberontak B. Resusitasi Yang Tidak Berhasil (24) Dalam keadaan darurat resusitasi dapat diakhiri bila ada salah satu dari berikut ini : a) Telah timbul kembali sirkulasi dan ventilasi spontan yang efektif. b) Upaya resusitasi telah diambil alih oleh orang lain yang lebih bertanggung jawab meneruskan resusitasi (bila tidak ada dokter). c) Seorang dokter mengambil alih tanggung jawab (bila tidak ada dokter sebelumnya). d) Penolong terlalu capek sehingga tak sanggup meneruskan resusitasi. e) Pasien dinyatakan meninggal. Dalam resusitasi darurat, seseorang dinyatakan meninggal, jika : (24) a. Terdapat tanda- tanda henti jantung. b. Sesudah dimulai resusitasi pasien tetap tidak sadar, tidak timbul ventilasi spontan dan refleks muntah serta pupil tetap dilatasi selama 15 sampai 30 menit atau lebih.

30

BAB VI KOMPLIKASI
Pada pasien dengan trauma, memutar atau melakukan ekstensi kepala harus berhati-hati karena dapat memperberat kerusakan tulang belakang, bila ada pasien yang tertelan benda asing dan masih sadar manipulasi dengan pukulan pada punggung kadang-kadang dapat

memperberat keadaan. Oleh karena itu dapat dicoba dulu dengan menganjurkan pasien batuk. (3) Komplikasi pijat jantung luar dapat berupa : (3) 1) Patah tulang iga stenum, kerusakan tulang belakang. 2) Laserasi paru, hati atau laserasi/rupture jantung dan pembuluh darah, herniasi jantung dan pembuluh darah melalui pericardium. 3) Tamponade jantung dan pembuluh darah 4) Emboli lemak pada paru dan otak 5) Hematotoraks dan pneumotoraks

31

BAB VII KESIMPULAN


1. Tindakan Resusitasi Kardio Pulmonal (RKP) pada dasarnya dibagi dalam tiga tahap dan pada setiap tahapan dilakukan tindakan-tindakan pokok yang disusun menurut abjad: 1. Pertolongan Dasar (Basic Life Support) 2. Pertolongan Lanjut (Advanced Life Suppor) 3. Pertolongan Jangka Panjang (Prolonged Life Support) Pertolongan Dasar (Basic Life Support) a. Airway control b. Breathing support c. Circulation support 2. Pemeriksaan airway dapat mengenali ada tidaknya sumbatan jalan napas dapat dilakukan dengan cara lihat ( look ), dengar ( listen ), dan raba ( feel ). 3. Pengelolaan pada gangguan jalan napas meliputi : Head tilt,Chin lift,Finger sweep,Heimlich manuver,Chest thrust, 4. Pemberian bantuan napas bisa dilakukan dengan : Mouth to Mouth, Mouth to Nose, dan Mouth to Mask 5. Tindakan sirkulasi buatan dapat dilakukan dengan cara pijat jantung dan pembuluh darah luar (PJL) atau Resusitasi Cardiopulmonal (RKP). 6. Pemeriksaan sirkulasi dengan melihat tanda tanda vital dan penanganan sirkulasi dengan CPR dengan rasio 30:2 (22)

32