Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA DASAR ACARA V PENCERNAAN

Disusun oleh : Kelompok : XVI Indra Mauludin Arif Isnanto Asih Widiastuti Rupa Mentaya Erli Dwi E. (04775) (04798) (04791) (04730) (04838)

LABORATORIUM BIOKIMIA NUTRISI JURUSAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2005

ACARA V PENCERNAAN
Tujuan Praktikum Tujuan praktikum pencernaan adalah mengetahui pencernaan nutrien pakan melalui proses hidrolisis oleh enzim dan mengetahui fungsi organ sekreternya. Tinjauan Pustaka Pencernaan adalah proses untuk memperkecil ukuran partikel sedangkan pemasukan bahan makanan yang dapat di cerna melalui selaput lendir usus dalam darah dan limpe disebut penyerapan (absorbsi). Proses utama pencernaan adalah secara mekanik, enzimatik ataupun mikrobial. Proses mekanik terdiri dari mastikasi atau pengunyahan makanan dalam mulut dan gerakan-gerakan saluran pencernaan yang dihasilkan oleh konsentrasi otot terpanjang usus. Pencernaan enzimatis atau kimiawi dilakukan oleh enzim- enzim yang dihasilkan oleh sel- sel dalam tubuh hewan dan yang berupa getah-getah pencernaan. Pencernaan mikrobial juga dilakukan secara enzimatis yang enzimnya dihasilkan oleh sel- sel mikroorganisme. Tempat utama pencernaan mikrobial ini adalah dalam retikulum-rumen pada ruminansia dan dalam usus besar pada ruminansia maupun pada non-ruminansia (Tillman et al., 1998). Pencernaan dalam mulut. Pencernaan dalam mulut terjadi karena secara mekanik dan kimiawi. Secara mekanik dilakukan oleh gigi dengan jalan dikunyah dan secara kimiawi dilakukan oleh saliva. Saliva dikeluarkan oleh tiga kelenjar yaitu kelenjar parotid, kelenjar submandibular, dan kelenjar sublingual yang sekresinya dirangsang oleh rangsangan refleks, rangsangan mekanik dan rangsangan kimiawi (Poedjiadi, 1994). Didalam saliva terdapat enzim amilase yang mempunyai pH 5,75 sampai 7,05 yang berfungsi memecah amilum menjadi maltosa dengan proses hidrolisis (Poedjiadi, 1994). Setelah didalam mulut makanan akan melalui pencernaan oesophagus dan di dalam faring dan oesophagus tidak terdapat tahap enzime sehingga tidak mempunyai fungsi pencernaan kemik (Tillman et al., 1998). Pencernaan dalam lambung. Lambung adalah ruang sederhana yang berfungsi sebagai tempat pencernaan dan penyimpanan makanan (Tilman et al., 1998). Zat organik yang ada pada cairan lambung adalah HCl, NaCl. KCl dan fosfat,

sedangkan zat organik yang terdapat pada cairan tersebut adalah enzim pepsin, renin dan lipase, dengan adanya HCl menyebabkan cairan dalam lambung berubah asam dengan pH antara 1,0 sampai 2,0 (Poedjiadi, 1994). Di dalam lambung terjadi pencernaan protein, lemak dan pencernaan karbohidrat tidak terjadi lagi karena enzim petialin bersifat normal sedangkan pada lambung bersifat basa sehingga enzim petialin tidak aktif lagi dan menyebabkan pencernaan karbohidrat di dalam lambung tidak terjadi (Tillman et el., 1998). Pencernaan dalam usus. Ada dua organ tubuh yang mempunyai peran penting dalam pencernaan di dalam usus yaitu pankreas dan empedu. Cairan yang dikeluarkan oleh pankreas maupun empedu mempunyai sifat basa. Oleh karena itu cairan makanan yang bersifat asam akan dinetralkan dan aktivitasnya bersifat basa. Suasana basa ini menyebabkan syarat bekerjanya enzim-enzim yang menjadi katalis dalam proses pencernaan makanan di dalam usus (Poedjiadi, 1994). Zat organik yang terdapat pada cairan pankreas adalah protein dan beberapa enzim yaitu tripsin, kemotripsin, karboksi peptidase, amilase, lipase fosforilase, kolesterol ester hidrolase, ribonuklease dan kolagerase. Sedangkan zat organik yang terdapat pada cairan empedu adalah asam- asam empedu dan kolesterol (Poedjiadi, 1994).

Materi dan Metode Materi Alat. Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah labu, kertas saring, tabung reaksi, pemanas spritus, penangas air, stop watch, dan erlenmeyer. Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah air, NaCl 0,2%, saliva encer, HCl encer, amilum 1%, larutan pepsin, HCl 0,4%, fibrin karmen, ekstrak pankreas netral, Na2CO3 2%, kongo merah fibrin, larutan empedu, air susu, fenol merah, serbuk belerang, asetat glasial, larutan pepton, larutan HNO3, pereaksi fouchet, MgSO4 jenuh, BaCl2 10%, dan BaSO4. Metode Fungsi saliva dalam mulut. Daya amilolitik saliva. Mula-mula berkumur dengan air bersih, kemudian dengan 20 ml 0,2% NaCl. Hasil kumuran ditampung dalam sebuah labu, digojog dan disaring sehingga dihasilkan saliva encer. 3 buah tabung reaksi diisi dengan 5 ml saliva encer. Pada tabung 1, saliva dididihkan lalu segera didinginkan dan kedalam dalam tabung tersebut ditambahkan 5 ml amilum 1%. Pada tabung 2 ditambahkan 5 ml HCl encer dan 5 ml amilum 1%. Pada tabung 3 ditambahkan 5 ml amilum 1%. Ketiga tabung tersebut bersama-sama ditempatkan pada penangas air pada suhu 37
0

C. Setelah 10 menit, ketiga tabung diuji Iod. Jika pengujian Iod tidak lagi

menunjukkan angka positif, perlakuan dihentikan dan diuji dengan uji Benedict. Hidrolisis dalam lambung. Hidrolisis protein oleh Pepsin. 3 buah tabung reaksi diisi masing-masing dengan 1 ml larutan pepsin. Pada tabung ke-1 ditambahkan 1 ml HCl 0,4% dan 2 potong fibrin karmen. Pada tabung ke-2 ditambahkan 1 ml air dan 2 potong fibrin karmen. Pada tabung ke-3 larutan pepsin dididihkan selama 1 menit kemudian didinginkan baru kemudian ditambah dengan 1 ml HCl 0,4% dan 2 potong fibrin karmen. Ketiga tabung bersama- sama ditempatkan pada penangas air dengan suhu 37
0

C. lalu diamati perubahan yang terjadi.

Hidrolisis oleh pankreas Hidrolisis protein. Pada tabung 1 diisi dengan 1 ml ekstrak pankreas netral, 2 tetes Na2CO3 2% dan 2 potong kongo merah fibrin. Pada tabung 2 diisi dengan 1 ml

ekstrak pankreas netral, 2 tetes Na2CO3 2%, 2 potong kongo merah fibrin dan 2 tetes larutan empedu. Pada tabung 3 diisi dengan 1 ml air, 2 tetes Na 2CO3 2%, dan 2 potong kongo mertah fibrin. Ketiga tabung tersebut ditempatkan pada penangas air pada suhu 37 0C selama 10 menit. Kemudian diamati apa yang tertjadi. Hidrolisis amilum. Sebuah tabung reaksi diisi dengan 1 ml amilum, 5 ml ekstrak pankreas netral, dan diinkubasi pada suhu 37 0C selama 10 menit. Setelah 10 menit dilakukan uji Iod sampai reaksinya negatif lalu diuji dengan uji Benedict. Lalu diamati apa yang trejadi. Hidrolisis Lemak. 3 buah tabung reaksi masing- masing diisi dengan 2 ml susu. Pada tabung pertama ditambahkan 1 ml ekstrak pankreas netral, 4 tetes fenol red dan Na2CO3 2% sampai warna merah muda. Pada tabung 2 ditambahkan 1 ml ekstark pankreas netral, 2 tetes larutan empedu, 4 tetes fenol red, dan Na2CO3 2% sampai warna merah muda. Pada tabung 3 ditambahkan 1 ml air, 4 tetes fenol red, dan Na2CO3 2% sampai warna merah muda. Ketiga tabung ditenpatkan dalam penangas air pada suhu 37 0C selama 10 menit. Kemudian diamati apa yang terjadi pada masing-masing tabung. Fungsi Empedu. Penurunan tegangan muka oleh garam kholat. Pada tabung 1 diisi dengan 2 ml air dan ditambahkan serbuk belerang. Pada tabung 2 diisi dengan 2 ml empedu dan ditambahkan serbuk belerang. Uji Fouchet. Pada tabung reaksi diisi dengan 0,5 ml empedu dan dimasak selama 1 menit lalu ditambahkan 2 tetes MgSO4 dan 0,5 ml BaCl2 2% kemudian dimasak lagi sampai terbentuk endapan. Larutan tersebut disaring dengan kertas saring dan endapan yang terdapat pada kertas saring ditetesi dengan 1 tetes pereaksi Fouchet. Lalu diamati endapan yang terjadi setelah ditetesi dengan 1 tetes pereaksi Fouchet. Uji Gmelin. Pada tabung reaksi diisi dengan 3 ml HNO3 pekat dan ditambahkan 1 ml empedu encer melalui dinding tabung sehingga terbentuk dua lapisan. Lalu diamati warna yang terjadi.

Hasil dan Pembahasan Fungsi saliva dalam mulut. Daya amilolitik saliva. Penggunaan NaCl pada pembuatan preparasi sampel karena NaCl merupakan rangsangan kimia yang dapat merangsang sekresi saliva. Sekresi saliva dapat dirangsang oleh rangsangan reflek, rangsangan mekanik dan rangsangan kimiawi (Poedjiadi, 1994). Dalam percobaan, pada penggunaan saliva yang dididihkan terlebih dahulu dan pada saliva yang ditambahkan HCl dengan uji Iod menunjukkan reaksi yang positif dengan warna biru kehitaman yang tidak sama dengan warna Iod. Hal tersebut dikarenakan rusaknya enzim ptialin dalam saliva akibat pemanasan, dan tidak samanya pH lingkungan dengan pH enzim ptialin akibat penambahan HCl. Peningkatan suhu dapat menyebabkan enzim rusak karena enzim tersebut mengalami denaturasi sehingga enzim tersebut tidak dapat bekerja lagi (Lehninger, 1982). Penambahan HCl dapat menurunkan pH karena HCl bersifat asam, padahal enzim petialin bekerja pada pH yang cenderung netral yaitu 5,75 sampai 7,05 (Poedjiadi, 1994). Pada saliva tanpa dipanaskan dan ditambahkan HCl, menunjukkan hasil negatif dengan uji Iod dimana warna sama dengan Iod. Uji negatif ini menunjukkan enzim ptialin telah menghidrolisis amilum dan Iod tidak lagi menghidrolisis amilum yang telah terhidrolisis. Apabila diuji Benedict menghasilkan endapan berwarna merah bata. Endapan merah bata adalah endapan Cu2O yang merupakan hasil reduksi Cu++ yang berasal dari kuprisulfat menjadi ion Cu+ oleh glukosa yang berasal dari hasil hidrolisis amilum oleh enzim ptialin (Poedjadi, 1994). Hidrolisis dalam lambung. Hidrolisis protein oleh pepsin. Pada tabung 1 yang diisi dengan 1ml pepsin, 1ml HCl 0,4%, 2 potong karmen fibrin dan setelah dimasukkan dalam penangas air dengan suhu 37 C selama 10 menit dihasilkan larutan yang berwarna kemerahan, karmen fibrin mengembang menjadi besar dan melepaskan warna merahnya. Pada tabung 2 yang diisi dengan 1ml air, 1ml HCl, 2 potong karmen fibrin dan setelah dimasukkan dalam penangas air dengan suhu 37 C selama 10 menit dihasilkan larutan berwarna putih jernih, karmen fibrin mengembang dan tidak melepaskan warna. Pada tabung 3 yang diisi dengan 1ml pepsin yang telah didihkan dan didinginkan, 1ml HCl 0,4%, 1 potong karmen fibrin dan setelah dimasukkan dalam penangas air dengan suhu 37 C selama 10 menit dihasilkan larutan agak keputihan,

karmen fibrin mengembang dan tidak melepaskan warna. Karmen fibrin merupakan suatu protein yang diberi warna karmen. Karena karmen fibrin merupakan protein, maka apabila ditambahkan pepsin pada pH yang sesuai maka protein tersebut akan mengalami hidrolisis karena pepsin berfungsi sebagai enzim pemecah (hidrolisis), protein menjadi molekul yang lebih kecil yaitu pepton dan proteosa (Tillman et al., 1998). Pada tabung 2 tidak terjadi hidrolisis protein karena tidak adanya enzim. Pada tabung 3 juga tidak terjadi hidrolisis karena enzimnya rusak akibat pemanasan dan pendinginan (Poedjiadi ,1994). Warna larutan putih pada tabung 3 sebagai akibat denaturasi enzim pepsin akibat pemanasan. Pada tabung 1 warna merah pada larutan akibat terhidrolisisnya protein pada karmen fibrin oleh enzim pepsin menyebabkan warna yang melekat pada protein yang mengalami hidrolisis terlepas. Pada tabung pertama ini terjadi hidrolisis karena enzim dapat bekerja dan HCl berfungsi untuk menurunkan pH dan enzim pepsin dapat bekerja pada pH sekitar 2,0 (Tillman et al., 1998). Hidrolisis oleh pankreas. Hidrolisis protein. Pada tabung 1 yang diisi dengan 1ml ekstrak pankreas netral, 2 tetes Na2CO3 2%, 2 potong kongo merah fibrin dan setelah ditempatkan pada penangas air dengan suhu 37 C selama 10 menit dihasilkan larutan berwarna merah. Pada tabung 2 yang diisi dengan 1ml ekstrak pankreas netral, 2 tetes Na2CO3 2%, 2 potong kongo merah fibrin, 2 tetes larutan empedu dan setelah ditempatkan pada penangas air dengan suhu 37 C selama 10 menit dihasilkan larutan berwarna merah yang lebih pekat daripada tabung 1. Pada tabung 3 yang diisi dengan 1ml air, 2 tetes Na2CO3 2%, 1 potong kongo merah fibrin dan setelah ditempatkan pada penangas air dengan suhu 37 C selama 10 menit dihasilkan larutan yang tetap jernih. Warna merah pada tabung 1 dan 2 akibat hidrolisis protein kongo merah fibrin oleh cairan pankreas sehingga warna merah yang terdapat pada kongo merah fibrin dilepaskan. Pada tabung 2 warna merahnya lebih pekat dengan adanya penambahan cairan empedu pada tabung 2 yang dapat menyempurnakan proses hidrolisis karena larutan empedu berfungsi menyempurnakan suasana larutan, sehingga hidrolisis berjalan sempurna juga. Pada tabung 3 tidak terjadi perubahan warna karena tidak adanya enzim yang dapat menghidrolisis protein kongo merah fibrin sehingga warna merah pada kongo merah fibrin tidak dilepaskan. Penambahan Na2CO3 2% berfungsi untuk

menyesuaikan basa larutan karena cairan pankreas dapat bekerja optimal pada suasana basa yaitu pada pH antara 7,5 sampai 8,2 (Poedjiadi, 1994). Hidrolisis amilum. Amilum yang ditambahkan ekstrak pankreas netral dan diinkubasi selama 10 menit pada suhu 37 C dan diuji deengan uji Iod dihasilkan reaksi negatif yaitu warnanya sama dengan warna Iod dan setelah dilakukan uji Benedict dihasilkan endapan merah bata. Uji Iod yang negatif dan terbentuknya endapan merah bata mengindikasikan bahwa amilum telah terhidrolisis sampai dengan tahap akrodextrin, maltosa atau glukosa oleh cairan pankreas. Di dalam cairan pankreas terdapat enzim amilase yang dapat menghidrolisis amilum, dekstrin dan glikogen menjadi maltosa (Poedjiadi, 1994). Hidrolisis lemak. Pada tabung 1 yang diisi dengan 2 ml susu, 1 ml ekstrak pankreas netral, 4 tetes fenol red, ditambah Na2CO3 2% sampai warna merah muda dan setelah diinkubasi pada suhu 37 C selama 10 menit dihasilkan larutan berwarna agak kuning. Pada tabung 2 yang diisikan 2 ml susu, 1 ml ekstrak pankreas netral, 2 tetes larutan empedu, 4 tetes fenol red, ditambahkan Na2CO3 2% sampai warna merah muda dan setelah diinkubasi selama 10 menit dengan suhu 37 C dihasilkan warna agak kuning tetapi lebih gelap daripada larutan pada tabung 1. Pada tabung 3 yang diisi dengan 2 ml susu, 1 ml air, 4 tetes fenol red, ditambah Na2CO3 2% sampai warna merah muda dan setelah diinkubasi pada suhu 37 C selama 10 menit dihasilkan larutan yang warnanya tidak berubah yaitu merah jambu. Pada tabung 1 dan 2 terjadi perubahan warna karena terjadi hidrolisis lemak yang terdapat dalam susu oleh cairan pankreas. Warna kuning yang lebih terang pada tabung 2 disebabkan pada tabung 2 ditambahkan cairan empedu yang dapat menyebabkan proses hidrolisis lemak dengan cara mengaktifkan lipase dalam cairan pankreas yang berfungsi sebagai hidrolisis lemak karena empedu dapat mengaktifkan enzim lipase dalam cairan pankreas (Poedjiadi, 1994). Warna merah jambu menandakan bahwa larutan dalam keadaan basa dan dengan suasana basa ini akan mengoptimalkan kerja enzim lipase. Warna kuning menunjukan kearah asam yang dapat disebabkan oleh pengaruh dari hasil hidrolisis lemak oleh enzim lipase. Pada tabung 3 tidak terjadi perubahan warna karena tidak adanya enzim hidrolitik sehingga tidak terjadi proses hidrolisis dan larutan tetap basa karena tidak adanya hasil hidrolisis lemak dan enzim lipase yang akan membuat larutan bersifat asam. Fungsi empedu.

Penurunan tegangan muka oleh garam kholat. Serbuk belerang yang ditambahkan pada air akan mengapung diatas permukaan sedangkan pada empedu, serbuk belerang bisa tenggelam. Hal ini disebabkan di dalam air tidak terdapat garam kholat, sedangkan cairan empedu mempunyai garam kholat yang dapat menurunkan tegangan muka (Poedjiadi, 1994). Uji Fouchet. Empedu masak yang ditambahkan aquades, MgSO4, BaCl2 kemudian dimasak akan terbentuk endapan berwarna putih yaitu endapan BaSO4. MgSO4 + BaCl2 MgCl + BaSO4 Setelah ditetesi Reagen Fouchet endapan BaSO4 berubah menjadi hijau, hal ini disebabkan endapan BaSO4 mengikat pigmen hijau daun sehingga setelah ditetesi Reagen Fouchet dapat menimbulkan warna hijau. Dengan adanya warna hijau ini berarti empedu mengandung pigmen warna biliverdin. Uji Gmelin. Dengan menggunakan indikator HNO3 pekat kemudian ditambahkan empedu encer akan terjadi cincin ungu dan sedikit biru .Warna hijau empedu belum sepenuhnya bergabung dengan HNO3. Berarti di dalam empedu encer terdapat bilirubin. Pada bagian atas keruh dan bawah bening pigmen ditambahkan HNO3 terjadi kondensasi. Zat warna empedu yang penting adalah bilirubin yang berwarna merah, bentuk oksidasinya ialah biliverdin yang berwarna hijau. Zat ini berasal dari perombakan hemoglobin dari sel- sel darah merah. Kedua zat warna ini masuk ke dalam empedu (Gultom, 2001).

Kesimpulan Di dalam mulut terdapat enzim amylase atau ptealin. Cairan lambung terdapat enzim pepsin, lipase, dan rennin. Pancreas menghasilkan enzim tripsin, kimotripsin, karboksipeptidase, amilase, lipase, fospolipase, kolesteril ester hidrolase, ribonuklease, dioksiribonuklease, dan kolagenase yang bermuara di dalam usus khususnya di dalam duodenum. Cairan usus terdapat beberapa enzim yaitu karbohidrase, pepetidase, nuleotidase, enterokinase, fospatase, dan fospolipase. Kerja enzim dapat dipengaruhi oleh konsentrasi enzim, konsentrasi substrat, suhu, pengaruh pH lingkungan , dan pengaruh inhibitor. Di dalam cairan empedu terdapat garam empedu, cholesterol, garam-garam anorganik dan pigmen-pigmen empedu yang terdiri dari bilirubin, biliverdin, dan bilisianin.

Daftar Pustaka

Gultom, T. 2001. Pengantar Biokimia Bagian Metabolisme. Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta. Lehninger, A. L. 1982. Dasar- Dasar Biokimia Jilid 1. Erlangga, Jakarta. Poedjiadi, A.1994. Dasar- Dasar Biokimia. Indonesia University Press, Jakarta. Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, S. Lebdosoekojo. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.