Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Sterilisasi adalah proses pemusnahan bakteri dan segala bentuk lain dari mikroorganisme yang hidup. Sterilisasi adalah proses pemusnahan semua kehidupan bakteria, berbeda dengan desinfeksi yang hanya memusnahkan bakteri yang menimbulkan infeksi. Berbagai metoda dipakai untuk membunuh bakteri atau membebaskan mikroorganisme antaralain : pemanasan kering atau basah dengan kondisi yang berbeda, proses filtrasi (penyaringan), pemakaian zat kimia, radiasi, gelombang ultrasonik, cahaya ultraviolet dan kombinasi dari metoda-metoda tersebut. Suhu optimal untuk pertumbuhan mikroorganisme adalah : 370C. bakteri vegetatif akan mati pada suhu 600C dalam waktu 10 menit bila ada lembab. Bentuk spora dari bakteri lebih dapat bertahan atau resiten dan membutuhkan metode sterilisasi yang khusus untuk mendestruksinya. 1.2. Perumusan Masalah Pada percobaan Sterilisasi yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana cara mensterilkan suatu peralatan yang akan digunakan pada setiap percobaan, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses sterilisasi, dan bakteri apa saja yang tahan terhadapa sterilisasi sampai keadaan tertentu. 1.3. Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan sterilisasi ini adalah untuk mensterilkan peralatanperalatan yang akan digunakan pada setiap percobaan dalam praktikum, terbebas dari bakteri-bakteri atau mikroorganisme lainnya. 1.4. Manfaat Percobaan Percobaan Sterilisasi sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melakukan percobaan ini, kita dapat mengetahui cara mensterilkan berbagai peralatan agar tidak terdapat lagi mikroorganisme atau bakteri-bakteri yang melekat agar

dan mencemari peralatan,

sehingga peralatan-peralatan tersebut sudah aman

digunakan untuk melakukan percobaan-percobaan lainnya tanpa takut terkontaminasi oleh berbagai bakteri atau mikroorganisme hidup lainnya dan mengetahui faktorfaktor yang harus diperhatikan dalam sterilisasi. 1.5. Ruang Lingkup Percobaan Percobaan Sterilisasi dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Teknik, Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara, dengan kondisi ruangan yaitu tekanan udara 760 mmHg, temperatur 300C Peralatan yang digunakan pada percobaan ini adalah : cawan petri, tabung reaksi, labu erlenmeyer, dandang kukusan, kompor, dan kain pembungkus.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. TINJAUAN UMUM STERILISASI PENGERTIAN Sterilisasi adalah proses pemusnahan bakteri dan segala bentuk lain dari mikroorganisme yang hidup. Sterilisasi dibedakan dengan desinfeksi dalam hal destruksi atau pemusnahan semua kehidupan bakteria, sedangkan desinfeksi hanya terbatas pada bakteri yang menimbulkan infeksi. Sterilisasi dipakai untuk mensterilkan larutan injeksi, larutan obat mata dan sediaan-sediaan lainnya. Di rumah-rumah sakit digunakan untuk mensterilkan alatalat bedah, alat-alat yang akan dimasukkan ke liang tubuh dan lain-lain. Berbagai metoda dipakai untuk membunuh bakteri atau membebaskan mikroorganisme antara lain : pemanasan kering atau basah dengan kondisi yang berbeda, proses filtrasi (penyaringan), pemakaian zat kimia, radiasi, gelombang ultrasonik, cahaya ultraviolet dan kombinasi dari metoda-metoda tersebut. Dalam memilih metoda sterilisasi harus diingat akibat dari proses tersebut terhadap materi yang disterilkan. Beberapa faktor yang penting di antaranya : suhu, pH, adanya bakterisida, ada tidaknya kelembaban, dan lain-lain. Suhu optimal untuk pertumbuhan mikroorganisme adalah : 370C. bakteri vegetatif akan mati pada suhu 600C dalam waktu 10 menit bila ada lembab. Bentuk spora dari bakteri lebih dapat bertahan atau resiten dan membutuhkan metode sterilisasi yang khusus untuk mendestruksinya. Pemanasan uap (moist heat) lebih efektif dari pemanasan kering, tetapi pemanasan uap dengan tekanan tinggi (steam under pressure) adalah metode yang paling efektif untuk mensterilkan larutan dan cara ini harus dipakai bila memungkinkan. Konsentrasi ion hidrogen adalah faktor yang penting dalam sterilisasi. Bakteri mempunyai pH yang optimal untuk pertumbuhan umumnya sekitar pH 7, disamping titik optimal pertumbuhan bakteri terancam. Kebanyakan sediaan injeksi mempunyai pH asam atau alkali, yang merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam sterilisasi. Sebagai tambahan dari pemakaian beberapa metode sterilisasi, terdapat juga istilah sterilisasi lokal dan zat desinfeksi. Cara penggunaan bervariasi seperti :

desinfeksi kulit sebelum injeksi, desinfeksi termometer atau alat-alat bedah, sterilisasi instrument yang dapat disterilkan dengan autoclave, dan lain-lain. sebagai anti infeksi lokal dapat dipakai antiseptik, fungisida antibakteria, antibiotika, dan parasitisida yang dipakai secara topikal untuk efek lokal. B. METODE STERILISASI Seperti telah diterangkan sebelumnya, bahwa sterilisasi terdiri dari beberapa metode-metode, sebagai berikut : a. Pemanasan Kering Zat-zat yang oleh sifat fisisnya tidak dapat ditembus oleh uap, dipakai cara pemanasan kering. Zat-zat tersebut termasuk minyak-minyak lemak, glyserin, parafin, vaselin, propylene glikol, dan serbuk-serbuk seperti talcum atau zinc oxyd. Sterilisasi kering adalah metode yang paling efektif untuk mensterilkan alat-alat gelas. Minyak-minyak, serbuk dan material sejenis tidak dapat disterilkan dalam autoclave. Elemen yang essensial pada sterilisasi uap tekanan tinggi adalah adanya lembab dan penetrasinya melalui material yang akan disterilkan. Sebagai contoh organisme yang membentuk spora dalam media anhydrous tidak dapat dibunuh pada suhu sampai 1210C (suhu sterilisasi dari autoclave) walaupun setelah jangka waktu 45 menit. Selama pemanasan kering, mikroorganisme dibunuh dengan proses oksidasi. Sebaliknya selama proses sterilisasi uap, kematian disebabkan oleh koagulasi dari protein dalam sel bakteri. Pada umumnya suhu yang tinggi dan waktu yang lama dibutuhkan pada sterilisasi kering dibandingkan dengan sterilisasi uap tekanan tinggi. Waktu sterilisasi normal pada suhu 1210C selama 15 menit adalah efektif unutk sterilisasi uap, tapi pada 1600C selama satu jam dibutuhkan untuk sterilisasi pemanasan kering. Waktu sterilisasi normal dapat bervariasi tergantung pada kemasan dari material, ketebalan dari gelas, volume dari wadah dan lain-lain sebagai contoh alat-alat suntik gelas dan jarum-jarum suntik dapat disterilkan pada suhu 1600C selama satu jam, tetapi glyserin harus disterilkan pada 1600C selama dua jam atau pada suhu 1700C selama satu jam.

Sterilisasi pemanasan kering dapat dilakukan dengan Hot-Air Oven, pemanas minyak, atau pemanasan langsung dengan nyala api. Hot-Air Oven : Alat ini dilengkapi dengan pengontrol suhu automatik dan termometer. Lama sterilisasi dalam alat ini tergantung pada substansi atau material yang disterilkan. Sebagai contoh alat-alat gelas disterilkan pada suhu 1600C selama satu jam, serbuk-serbuk tertentu seperti sulfonamide harus disterilkan pada suhu yang lebih rendah dan jangka waktu yang lebih lama. Pemanas Minyak : Pemanas minyak dapat digunakan untuk mensterilkan alat-alat bedah terutama yang mempunyai ujung tajam. Minyak dapat berfungsi sebagai pelumas agar instrumen tetap tajam dan juga mengawetkan. Walaupun cara ini efektif untuk membunuh bakteri, tetapi penggunaannya sagat terbatas. Pemanasan Langsung dengan Nyala Api : Cara ini dipakai untuk mensterilkan spatula dari logam, batang gelas, bagian logam dari saringan bakteri, bibir dari wadah gelas, botol-botol, forcep, lumpang dan alat-alat lain yang tidak rusak oleh pemanasan langsung. Pemanasan berlangsung paling sedikit selama 20 detik. Penggunaan suhu tinggi digabung dengan kelembaban tinggi merupakan salah satu metode paling efektif untuk mematikan mikroorganisme. Suhu tinggi juga dapat diberikan sebagai panas kering. b. Pemanasan Basah Pemanasan basah tekanan tinggi adalah metode yang paling efektif. Ini merupakan metode yang paling baik untuk mensterilkan larutan injeksi alat-alat gelas, perlengkapan bedah, instrument dan alat-alat yang terbuat dari karet unutk keperluan kesehatan. Kejelekan dari metode ini adalah tidak dapat digunakan untuk bahan yang sensitif terhadap panas dan lembab dan juga tidak dapat digunakan untuk mensterilkan minyaksediaan dalam minyak atau basis berlemak atau serbuk-serbuk. Uap dengan tekanan tinggi (steam under pressure) adalah uap jenuh pada suhu 1210C yang dapat segera membunuh semua bentuk spora yang tahan terhadap panas (heat resistant bacterial spores). Efektivitas sterilisasi dengan uap tekanan tinggi disebabkan oleh 4 faktor yang dimiliki uap jenuh yang kering, yaitu :

Suhu yang tinggi Panas laten yang berlimpah Kesanggupan membentuk air pada kondensasi Kontraksi volume yang segera terjadi oleh kondensasi Keempat faktor ini terletak pada level yang optimal hanya bila uap berada pada batas fase (phase boundary) antara uap dan kondensat pada suhu yang sama. Alat sterilisasi yang mempergunakan uap dengan tekanan yang diatur dinamakan autoklaf. Alat tersebut pada hakikatnya merupakan ruang uap berdinding rangkap yang diisi dengan uap jenuh bebas udara dan diperthankan pada suhu serta tekanan yang ditentukan selama periode waktu yang dikehendaki. Bukanlah tekanan uap, tapi suhu tinggi uap itulah yang mematikan mikroorganisme.Autoklaf merupakan alat yang sesuai esensial dalam setiap laboratorium mikrobiologi, ruang sterilisasi di rumah sakit, serta tempat-tempat lain yang memproduksi produk steril.

Gambar 2.1. Autoklaf

c. Saringan Bakteri (Bacterial Filtration). Larutan dapat bebas dari organisme vegetatif dan spora bakteri dengan menyaring melalui saringan bakteri. Sterilisasi dengan saringan bakteri dilakukan untuk larutan-larutan sediaan farmasi atau pereaksi-pereaksi biologik yang termolabil. Berbeda dengan penyaringan biasa , di sinim dibutuhkan filtrat yang bebas bakteri. Saringan dengan pori yang kecil menghilangkan bakteri lebih efektif tetapi filtrasi berlangsung lamban. Menambah ketebalan saringan akan mendapatkan filtrasi yang lebih baik, tetapi pada waktu yang sama juga menghilangkan zat aktif melalui absorbsi. Penyaringan bakteri dapat dilakukan dengan tekanan atau dalam vakum. Hal ini bergantung dari zat yang akan disaring. Penyaringan ini dilakukan dengan cara aseptik di mana semua alat-alat yang dipakai harus dalam keadaan steril dan kontaminasi dihindari sebelum proses dimulai. Kebaikan dari penyaringan bakteri adalah merupakan metode yang cepat untuk jumlah larutan yang sedikit, tanpa panas yang mungkin akan menguraikan sediaan farmasi yang termolabil, alat yang digunakan sedikit dan murah, bakteri yang hodup maupun yang mati dan partikel dapat dihilangkan dari larutan. Kejelekan dari penyaringan bakteri antara lain ; kemungkinan terjadinya absorbsi dari zat aktif oleh filter, hal ini dapat diatasi dengan membuang filtrat yang mula-mula keluar. Kemungkinan filter yang rusak sehingga penyaringan akan sia-sia. Jenis dari Saringan (Filter) : 1. Millipore Filter : struktur porous yang terdiri dari ester cellulose yang murni. Besar porinya seragam, kecepatan menyaringnya baik,termostabil (dapat disterilkan dengan autoclave) tidak bersifat mengabsorbsi dan dan tahan terhadap bahan kimia. 2. MF-Mipor : saringan yang tidak perlu disterilkan, terdiri dari polyethylen murni dan untuk cairan-cairan seperti keton, ester alkohol dan pelarut organik lainnya. 3. SEITZ Filter : dibuat dari asbestos yang dasarnya diikat oleh logam. Efisiensi dari saringan ini tergantung dari penggembungan (swelling) dari serat-serat bilakontak dengan air.

4. Saringan Gelas (Sintered or Frited Glass Filter ) : dibuat dari serbuk gelas yang disatukan dengan cara pemanasan sampai membentuk piringan kemudian disatuakn dengan gelas pyrex. Besar pori-porinya berbeda :extra coarse (kasar), medium (sedang), dan ultrafine (sangat halus). Di mana yang ultrafine dipakai untuk menyaring bakteri dan yang lain untuk menyaring larutan yang jernih. 5. Saringan Berkefeld (Jerman) dan Mandler (Amerika) : saringan mandler dibuat dari silikon alam yang dimurnikan .keduanya bermuatan negatif dan besar porinya bermacam-macam. Kejelekan dari saringan ini adalah saringan ini sukar dibersihkan, mudah pecah, dapat mengabsorbsi zat aktif tetrtentu dan mudah berwarna oleh larutan berwarna. Dapat disterilkan dalam autoclave pada suhun 1210C selama 20 menit. 6. Saringan Gelas : terbuat dari porselen yang mikroporous untuk larutan yang tidak bereaksi dengan silica. Faktor-faktor yang mempengaruhi filtrasi : 1. Laju Pemindahan Ukuran Partikel Ukuran partikel mikroba yang akan dipindahkan memegang peranan penting. Bakteri coccoid mempunyai diameter sel = 0,8 1,2 m 2. Total Mikroba Awal Semakin besar total mikroba awal, akan semakin besar resiko mikroba melalui saringan 3. Spesifikasi Saringan Spesifikasi saringan sangat dipengaruhi beberapa parameter : 1. 2. 3. 4. d. Laju aliran Maksimum diameter pori Rata-rata diameter pori Diameter pori, 0,45 m untuk Serratia marcescens dan 0,2 m untuk Psedomonas diminuta Sterilisasi Gas Banyak senyawa yang bersifat bakterisidal bila dalam bentuk gas misalnya : Sulfur dioxide, klorin, ozon, formaldehid, etilen oksida. formaldehid secara ekstensif digunakan sebagai fumigant dan ethylene oxide merupakan senyawa yang paling

banyak digunakan sebagai sterilant gas dalam bidang kedokteran dan farmasi. Pemakaian gas mikrosidal biasanya digunakan pada sterilisasi instalasi mesin dan alat tangki, sistem perpipaan dan filtrasi. Pemakaian gas mikrosidal ini sangat dipengaruhi oleh konsentrasi, relative humidity, suhu, dan waktu kontak. e. Sterilisasi Secara Kimia Bahan kimia untuk disinfektan yaitu : NaCl 9%, KCl 11%, KNO3 10% untuk mematikan mikroba, karena tekanan osmotik. Larutan HgCL2 0,1%, KMnO4 1%, HCl 1,1% digunakan sebagai desinfektan, dan juga senyawa kimia lainnya. f. Sterilisasi Bertahap Dalam proses ini, bahan yang disterilisasi dipanaskan pada suhu 100oC selama tiga hari berturut-turut diseling dengan periode inkubasi di antaranya. Spora-spora resisten apabila ada akan berkecambah masa inkubasi tersebut sehingga pada pemanasan berikutnya sel-sel vegetatif tersebut dapat dihancurkan. g. Pembersihan Fisik Ultrasonik Gelombang suara berfrekuensi tinggi digunakan untuk memcah sel-sel mikrobe serta membersihkan (menghilangkan) mikrobe dari peralatan, dan pada teknik-tenik khusus pada diagnosis serta pembedahan. Pencucian Mencuci atau menggosok dengan sabun merupakan cara fisik lain untuk menghilangkan mikroorganisme dari permukaan. Penggosokan akan melepaskan kotoran dari benda-benda dan dari kulit serta tangan karenamekanisme pergeseran. Tabel 2.1 Penerapan sarana fisik untuk mengendalikan mikroorganisme Metode Panas lembab : Autoklaf Penggunaan yang dianjurkan Mensterilkan peralatan, sprei, nampan-nampan perabot dan pengobatan, media serta cairan lainnya Menghancurkan patogen yang tak membentuk spora; sanitasi perlengkapan tidur, Keterbatasan Tidak efektif terhadap mikroorganisme yang ada dalam bahan yang kedap uap; tidak dapat digunakan untuk benda-benda yang peka terhadap panas Tidak menjamin tercapainya keadaan steril apabila perlakuan hanya

Uap bebas atau air mendidih

pakaian, dan peralatan makan Panas kering : Oven udara panas Mensterilkan bahan tak tembus uap atau yang rusak bila kena uap seperti minyak, kaca, peralatan tajam, logam Pemusnahan benda-benda tercemar yang tidak dapat digunakan kembali

diberikan satu kali Merusak bahan-bahan yang tidak tahan suhu tinggi dalam waktu lama Ukuran pembakar harus cukup besar untuk dapat membakar muatan terbesar dengan segera dan sempurna; dapat menyebabkan polusi Harus dapat diserap agar efektif (tidak dapat menembus kaca transparan atau benda-benda tembus cahaya; menyebabkan iritasi pada mata dan kulit; daya tembus rendah) Mahal dan membutuhkan fasilitas khusus bagi penggunaannya

Pembakaran

Radiasi : Cahaya ultra violet

Mengendalikan infeksi asal udara, mendisinfeksi permukaan

Sinar X, radiasi gamma dan radiasi katode

Mensterilkan perlengkapan bedah yang peka terhadap panas serta alat-alat medis lainnya Mensterilkan zat alir biologis yang peka terhadap panas Disinfeksi udara Efektif untuk dekontaminasi peralatan pembersih yang halus Tangan, kulit, benda-benda

Filtrasi : Filtrasi membran Filter fiber glass (HEPA) Pembersih fisik : Ultrasonik Pencucian

Zat alir harus relatif bebas dari benda-benda partikulat Mahal Tidak efektif bila digunakan sendiri Mensanitasi; mengurangi flora mikrobe

2.2 Aplikasi Sterilisasi Penerapan Teknik Sterilisasi Radiasi Pada masa sekarang, pemanfaatan sumber radiasi sinar gamma Cobalt-60 untuk teknik sterilisasi semakin dikembangkan oleh karena sangat efektif untuk membasmi mikroba pada suhu kamar. Keuntungan teknik sterilisasi radiasi antara

lain daya sterilisasi tinggi selama bahan pengemas baik dan tidak rusak, tidak menaikkan suhu selama proses sehingga sangat baik untuk bahan yang tidak tahan panas, bahan disterilkan dalam bentuk kemasan siap pakai, tidak meninggalkan residu dan tidak menyebabkan polusi. Alat kesehatan yang umum disterilkan dengan radiasi yaitu pembalut penyerap, kapas dan kasa, pembalut parafin, pembalut obat, pembalut persalinan, wadah plastik, alumunium, alat karet, alumunium, alat suntik, masker muka, cawan petri, benang bedah, pita obat (band aid), alat tetes obat mata dan perlengkapan transfusi. Bahan baku dan sediaan yang umum disterilisasikan dengan radiasi dapat berupa bubuk antibiotika, bubuk dan rajangan simplisia, tanaman obat, salep mata, talkum, bolbus alba dan amilum.

Gambar 2.2 Contoh pemakaian jaringan Gambar 2.3 Preparasi jaringan biologi biologi amnion yang sudah disterilkan amnion- chorion sebelum disterilkan dengan proses iradiasi untuk penutup luka bakar Di PAIR-BATAN juga telah dirintis penelitian sterilisasi jaringan biologi amnionchorion untuk pembalut luka bakar. Penelitian ini dilakukan untuk menunjang terbentuknya Bank Jaringan Biologi di Indonesia. Metode pembuatan jaringan biologi ini diaplikasikan pada awal Pelita V.

BAB III

BAHAN DAN PERALATAN


3.1. BAHAN Air 3.2. PERALATAN 1. Tabung reaksi : sebagai alat yang disterilkan.

2.

Labu erlenmeyer : sebagai alat yang disterilkan.

3.

Cawan petri

: sebagai alat yang disterilkan.

4.

Kompor : sebagai alat untuk memanaskan peralatan.

5.

Kertas

: untuk membungkus peralatan.

6.

Kukusan : sebagai wadah pemanasan.

7.

Autoclave

: sebagai wadah untuk menjaga agar peralatan tetap dalam keadaan steril

BAB IV PROSEDUR
4.1. PROSEDUR 1. 2. 3. 4. 5. 6. Peralatan yang akan disterilkan dibersihkan dengan cara dicuci. Peralatan yang telah bersih tersebut dibungkus dengan menggunakan kertas pembungkus. Kemudian dimasukkan ke dalam suatu alat seperti kukusan. Lalu dipanaskan selama lebih kurang 45 menit. Kertas pembungkus dibuka. Peralatan yang akan disterilkan dimasukkan ke dalam autoclave dan biarkan selama satu malam.

4.2. FLOWCHART

Mulai

Bersihkan peralatan yang akan disterilisasi

Bungkus peralatan dengan kertas pembungkus

Masukkan peralatan yang telah dibungkus ke dalam kukusan

Panaskan di atas kompor selama 45 menit

Buka kertas pembungkus

Masukkan peralatan tersebut ke dalam autoclave

Biarkan selama satu malam

Selesai

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1. Hasil Percobaan Hasil percobaan Sterilisasi ini adalah berupa peralatan-peralatan yang sudah berada dalam keadaan steril ( bebas kuman ). Dimana semua mikroorganismemikroorganisme yang melekat sudah dimusnahkan oleh serangkaian proses yang dilakukan dalam sterilisasi. 5.2. Pembahasan Pada percobaan ini, sterilisasi dilakukan pada beberapa peralatan yang digunakan dalam Laboratorium Mikrobiologi Teknik yaitu ; tabung reaksi, cawan petri dan labu erlenmeyer. Percobaan dimulai dengan membersihkan peralatan dengan cara mencuci dan mengeringkan peralatan tersebut. Dilanjutkan dengan membungkus peralatan tersebut dengan menggunakan kertas koran, lalu memasukkannya ke dalam kukusan kemudian dipanaskan di atas kompor selama 45 menit. Setelah itu dimasukkan ke dalam autoclave agar kuman-kuman atau bakteri benar-benar mati, sehingga peralatan peralatan akan benar-benar steril Hal ini dilakukan agar semua bakteri dan semua jenis mikroorganisme yang hidup dan melekat pada peralatan tersebut dapat dimusnahkan sehingga semua peralatan tersebut menjadi bebas kuman dan aman digunakan dalam percobaanpercobaan lainnya, karena tidak akan terganggu lagi oleh adanya kontaminasi oleh aktivitas kuman dan bakteri.

BAB VI KESIMPULAN
1. 2. Sterilisasi adalah proses pemusnahan bakteri dan segala bentuk lain mikroorganisme yang hidup. Sterilisasi berbeda dengan desinfeksi, dimana dalam proses sterilisasi dilakukan pemusnahan semua jenis bakteri, sedangkan pada desinfeksi dilakukan pemusnahan bakteri yang hanya menyebabkan infeksi. 3. 4. 5. Sterilisasi mempunyai beberapa metode yaitu ; pemanasan basah, pemanasan kering, saringan sterilisasi dan sterilisasi gas. Sterilisasi pemanasan kering dapat dilakukan dengan Hot Air Oven, pemanas minyak, atau pemanasan langsung dengan nyala api. Sterilisasi pada percobaan ini, dilakukan dengan metode pemanasan langsung dengan nyala api di atas kompor.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Penuntun Praktikum Mikrobiolgi Teknik. Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, USU, Medan : 1997. Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-dasar Mikrobiologi. Cetakan ke-12. Jakarta : Djambatan Pelczar, Michael J. 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi. Cetakan Ke-2. Jilid ke-2. Terjemahan : Ratna SiriHadioetomo. Elements of Microbiology. 1988. Jakarta : UI-Press. Schegel, Hans G. 1994. Mikrobiologi Umum. Cetakan Pertama. Edisi ke-6. Terjemahan : R. M. Tedjo Baskoro Allgemeine Mikobiologie. 1985. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Suriawiria, Unus. 1996. Mikrobiologi Air. Cetakan ke-2. Bandung : Penerbit Alumni. Wanto, E.P dan Arief Soebagyo. 1980. Dasar-dasar Mikrobiologi Industri. Cetakan Pertama. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.