Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru atau alveoli. Terjadinya pneumonia, khususnya pada anak, seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus, sehingga biasa disebut dengan bronchopneumonia. Gejala penyakit tersebut adalah nafas yang cepat dan sesak karena paru-paru meradang secara mendadak. Penumonia adalah inflasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian cairan di dalam alveoli. Hal ini terjadi ini terjadi akibat adanya invaksi agen atau infeksius adalah adanya kondisi yang mengganggu tahanan saluran. Trakhabrnkialis, adalah pun beberapa keadaan yang mengganggu mekanisme pertahanan sehingga timbul infeksi paru misalnya, kesadaran menurun, umur tua, trakheastomi, pipa endotrakheal, dan lain-lain. Dengan demikian flora endogen yang menjadi patogen ketika memasuki saluran pernafasa. ( Ngasriyal, Perawatan Anak Sakit, 1997) Pneumonia adalah sebuah penyakit pada paru-paru di mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer menjadi "inflame" dan terisi oleh cairan. Pneumonia dapat disebabkan oleh beberapa penyebab, termasuk infeksi oleh bakteria, virus, jamur, atau parasit. Pneumonia dapat juga disebabkan oleh iritasi kimia atau fisik dari paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya, seperti kanker paru-paru atau terlalu banyak minum alkohol. Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh bakteri, yang timbul secara primer atau sekunder setelah infeksi virus. Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah bakteri positif-gram, Streptococus pneumoniae yang menyebabkan pneumonia streptokokus. Bakteri

Staphylococcus aureus dan streptokokus beta-hemolitikus grup A juga sering menyebabkan pneumonia, demikian juga Pseudomonas aeruginosa.

Pneumonia lainnya disebabkan oleh virus, misalnya influenza. Pneumonia mikoplasma, suatu pneumonia yang relatif sering dijumpai, disebabkan oleh suatu mikroorganisme yang berdasarkan beberapoa aspeknya, berada di antara bakteri dan virus. Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului infeksi saluran nafas atas akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai 40 derajat celsius, sesak nafas, nyeri dada, dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat berwarna kuning hingga hijau. Pada sebagian penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut,kurang nafsu makan dan sakit kepala. Insiden pneumonia berbeda untuk daerah yang satu dengan daerah yang lain. Dan dipengaruhi oleh musim, insiden meningkat pada usia lebih 4tahun. Dan menurun dengan meningkatnya umur. Faktor resiko yang meningkatkan insiden yaitu umur 2bulan, gisi kurang, BBLR, tidak mendapat hasil yang memadai, polusi udara, kepadatan tempat tinggal, imunisasi kurang lengkap, membentuk anak dan defisiensi vitamin A, dosis pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat, mortabilitas dapat diturunkan kurang dari 1% bila pasien disertai dengan mall nutrisi, energi, protein,(MEP) dan terlambat berobat, kasus yang tidak diobati maka angka mortalitasnya masih tinggi. Oleh karena kami sebagai mahasiswa keperawatan merasa terpanggil untuk melakukan tindakan preventif berupa pencegahan primer, sekunder, dan tersier. 1.2. Tujuan 1.2.1. Tujuan umum Memahami asuhan keperawatan pada pasien dengan pneumonia. 1.2.2. 1.2.2.1. 1.2.2.2. 1.2.2.3. Tujuan khusus memahami anatomi fisiologi dari sistem yang terganggu. Mengetahui patofisiologi dari penyakit pneumonia. Mengetahui pengkajian yang harus dilakukan

1.2.2.4. 1.3. Ruang lingkup

Mengetahui pencegahan dari penyakit pneumonia.

1.3.1. Study literatur 1.3.2. Studi kasus 1.4. Sistematika penulisan 1.4.1. 1.4.2. 1.4.3. 1.4.4. Bab I menjelaskan tentang latar belakang,tujuan dan ruang lingkup masalah. Bab II menjelaskan tentang masalah/ penyakit. Bab III menjelaskan tentag asuhan keperawatan. Bab IV menjelaskan tentang kesimpulan dan saran.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Anatomi Pleura Pleura adalah suatu membran serosa yang mengelilingi paru paru. Pleura disusun oleh sel sel epitel datar pada dasar membran dan memiliki 2 lapisan. Pleura viseral melekat kuat pada paru paru, melapisi permukaan paru paru dan masuk kedalan visura interlobus. Pada akar paru, lapisan viseral direfleksikan kembali menjadi lapisan parietalis yang menghubungkan dinding dada dan membungkus lapisan diafragma superior. Kedua lapisan pleura tersebut bersentuhan, dinding yang satu dengan dinding yang lain hanya dipisahkan oleh satu film cair yang memungkinkan mereka menggelinding satu swama lain tanpa terjadi gesekan. Ruang yang terdapat diantara lapisan ini disebut rongga pleura. Rongga pleura, dengan pleurae terkait, membantu fungsi optimal dari paru-paru selama respirasi . Rongga pleura juga berisi cairan pleura, yang memungkinkan pleurae untuk meluncur dengan mudah terhadap satu sama lain selama ventilasi . ketegangan permukaan dari cairan pleura juga mengarah untuk menutup aposisi dari permukaan paru-paru dengan dinding dada.. Ini hubungan fisik memungkinkan untuk inflasi optimal dari alveoli selama respirasi. Rongga pleura mentransmisikan gerakan dinding dada ke paru-paru, terutama selama napas berat. Hal ini terjadi karena dinding dada erat menentang mentransmisikan tekanan ke permukaan pleura viseral dan karenanya ke paru-paru itu sendiri. 2.2. Pneumonia 2.2.1. Definisi pneumonia Pneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi. (Price, 1995). Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus

respiratorius, alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas setempat. (Zul, 2001). Bronkopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi didalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang terjadi berdekatan konsolidasi di sekitarnya. area Pada bronkopneumonia (Smeltzer,2001). berbercak.

2.2.2. Klasifikasi Pneumonia Klasifikasi menurut Zul Dahlan (2001):


2.2.2.1. Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas:

2.2.2.1.1.

Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris dengan opasitas lobus atau lobularis.

2.2.2.1.2.

Pneumonia atipikal, ditandai gangguan respirasi yang meningkat lambat dengan gambaran infiltrat paru bilateral yang difus.

2.2.2.2.

Berdasarkan faktor lingkungan : 2.2.2.2.1.


2.2.2.2.2.

Pneumonia komunitas Pneumonia nosocomial Pneumonia rekurens Pneumonia aspirasi Pneumonia pada gangguan imun Pneumonia hipostatik Pneumonia bakterial berupa : pneumonia bakterial tipe tipikal yang terutama mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia dan pneumonia lobar serta pneumonia bakterial tipe campuran atipikal yaitu perjalanan penyakit ringan dan jarang disertai konsolidasi paru.

2.2.2.2.3. 2.2.2.2.4. 2.2.2.2.5. 2.2.2.2.6. 2.2.2.3.1.

2.2.2.3. Berdasarkan sindrom klinis :

2.2.2.3.2.

Pneumonia non bakterial, dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan Mycoplasma, Chlamydia pneumoniae atau Legionella.

2.2.3.

Klasifikasi berdasarkan Reeves (2001) : pernafasan umum dan bisa berkembang menjadi pneumonia. Pneumonia Streptococal merupakan organisme penyebab umum. Tipe pneumonia ini biasanya menimpa kalangan anak-anak atau kalangan orang tua.

2.2.3.1. Community Acquired Pneunomia dimulai sebagai penyakit

2.2.3.2. Hospital Acquired Pneumonia dikenal sebagai pneumonia nosokomial. Organisme seperti ini aeruginisa pseudomonas. Klibseilla atau aureus stapilococcus, merupakan bakteri umum penyebab hospital acquired pneumonia.

2.2.3.3. Lobar dan Bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi infeksi. Sekarang ini pneumonia diklasifikasikan menurut organisme, bukan hanya menurut lokasi anatominya saja.
2.2.3.4. Pneumonia viral, bakterial dan fungi dikategorikan

berdasarkan pada agen penyebabnya, kultur sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan organisme perusak. 2.2.4. Etiologi Pneumonia Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa. 2.2.4.2.Virus Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus. 2.2.4.3.Jamur Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos. 2.2.4.4.Protozoa Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)
2.2.5.

2.2.4.1.Bakteri

Manifestasi Klinik Pneumonia Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan Nyeri pleuritik 7

Manifestasi klinis dari bronkopneumonia adalah antara lain: 2.2.5.1.

2.2.5.2. 2.2.5.3. 2.2.5.4. 2.2.5.5. 2.2.5.6. 2.2.5.7. 2.2.5.8.

Nafas dangkal dan mendengkur Takipnea Mengecil, kemudian menjadi hilang Krekels, ronki, egofoni

Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi

Gerakan dada tidak simetris Menggigil dan demam 38,8 C sampai 41,1C, delirium Diaforesis Anoreksia Malaise Batuk kental, produktif Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat

2.2.5.9. 2.2.5.10.

Gelisah Cyanosis Area sirkumoral Dasar kuku kebiruan

2.2.5.11.Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati

2.2.6. Patofisiologi Pneumonia Virus Bakteri Jamur

Menginfeksi paru melalui Sistem pernafasan/droflet


Bersihan jalan nafas tidak

Proses imflamsai di paru

Gangguan pola istirahat tidur

Auskultrasi terdapat ronchi

Produksi Sekret Meningkat Batuk Produktif

Demam

Sesak Nafas

Hipertermi

Gangguan pola nafas

Iritasi mukosa Batuk bercampur Hb Menurun Eletrosit Menurun

2.2.7.

Komplikasi Pneumonia

Abses paru Edusi pleural Empisema Gagal nafas Perikarditis Meningitis Atelektasis Hipotensi Delirium Asidosis metabolic Dehidrasi Penyakit multi lobular 2.2.8. Pemeriksaan Diagnostik Pneumonia 2.2.8.1. Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia mikoplasma sinar x dada mungkin bersih. 2.2.8.2. Analisa Gas Darah (Analisa Gas Darah) : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada. 2.2.8.3. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab. 2.2.8.4. JDL : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial. 2.2.8.5. Pemeriksaan serologi : titer virus atu legionella, aglutinin dingin. 2.2.8.6. LED : meningkat

10

2.2.8.7. Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia. 2.2.8.8. Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah 2.2.8.9. Bilirubin : mungkin meningkat 2.2.8.10.Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka :menyatakan intranuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik (CMV) (Doenges, 1999) 2.2.9. Penatalaksanaan Medis Pemberian kemoterapi harus berdasarkan pentunjuk 2.2.9.1.Kemoterapi penemuan kuman penyebab infeksi (hasil kultur sputum dan tes sensitivitas kuman terhadap antibodi). Bila penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral, sedangkan bila berat diberikan secara parenteral. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan, maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik tertentu perlu penyesuaian dosis (Harasawa, 1989). 2.2.9.2.Pengobatan Umum 2.2.9.2.1. Terapi Oksigen 2.2.9.2.2. Hidrasi Bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat hidrasi dilakukan secara parenteral 2.2.9.2.3. Fisioterapi Penderita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu diubah-ubah untuk menghindari dan pneumonia dekubitus. 2.2.10. Pengkajian Data Pneumonia 2.2.10.1.Aktivitas / istirahat Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia Tanda : Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas 11 hipografik, kelemahan

2.2.10.2.Sirkulasi 2.2.10.3.Integritas Ego 2.2.10.4.Makanan / Cairan 2.2.10.5.Neurosensori 2.2.10.6.Nyeri / Kenyamanan 2.2.10.7.Pernafasan Gejala : riwayat PPOM, merokok sigaret, takipnea, dispnea, pernafasan dangkal, penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal 2.2.10.8.Keamanan Gejala : riwayat gangguan sistem imun, demam Tanda : sputum ; merah muda, berkarat atau purulen Perkusi ; pekak diatas area yang konsolidasi, gesekan friksi pleural Bunyi nafas : menurun atau tak ada di atas area yang terlibat atau nafas Bronkial Framitus : taktil dan vokal meningkat dengan konsolidasi Warna : pucat atau sianosis bibir / kuku Gejala : sakit kepala, nyeri dada meningkat dan batuk, myalgia, atralgia Gejala : sakit kepala bagian frontal Tanda : perubahan mental Gejala : kehilangan nafsu makan, mual / muntah, riwayat DM Tanda : distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan malnutrusi Gejala : banyak stressor, masalah finansial Gejala : riwayat gagal jantung kronis Tanda : takikardi, penampilan keperanan atau pucat

12

2.2.10.9.Penyuluhan

Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan, mungkin pada kasus rubela / varisela Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis

2.2.11. Rencana Keperawatan Pneumonia 1. Diagnosa Perawatan : Bersihan jalan nafas tidak efektif Dapat dihubungkan dengan : o Inflamasi trakeobronkial, pembentukan oedema, peningkatan produksi sputum o Nyeri pleuritik o Penurunan energi, kelemahan Kemungkinan dibuktikan dengan : o Perubahan frekuensi kedalaman pernafasan o Bunyi nafas tak normal, penggunaan otot aksesori o Dispnea, sianosis o Batuk efektif/tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum Kriteria Hasil : o Menunjukkan perilaku mencapai kebersihan jalan nafas o Menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih, tak ada dispnea atau sianosis Intervensi Keperawatan : o Mandiri Kaji frekuensi / kedalaman pernafasan dan gerakan dada Auskultasi paru, catat area penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi nafas tambahan (krakles, mengi) Bantu pasien untuk batuk efektif dan nafas dalam Penghisapan sesuai indikasi 13

Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari

o Kolaborasi Bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi lain Berikan obat sesuai indikasi : mukolitik, ekspektoran, bronkodilator, analgesic Berikan cairan tambahan Awasi seri sinar X dada, Analisa Gas Darah, nadi oksimetri Bantu bronkoskopi / torakosintesis bila diindikasikan 2. Diagnosa Perawatan : Kerusakan pertukaran gas Dapat dihubungkan dengan : o Perubahan membran alveolar kapiler (efek inflamasi) o Gangguan kapasitas oksigen darah Kemungkinan dibuktikan oleh : o Dispnea, sianosis o Takikardi o Gelisah/perubahan mental o Hipoksia Kriteria Hasil : o Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan Analisa Gas Darah dalam rentang normal dan tak ada gejala distress pernafasan o Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigen Intervensi Keperawatan : o Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernafas o Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku o Kaji status mental o Awasi status jantung/irama

14

o Awasi suhu tubuh, sesui indikasi. Bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil o Pertahankan istirahat tidur o Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk efektif o Kaji tingkat ansietas. Dorong menyatakan masalah/perasaan. o Berikan terapi oksigen dengan benar o Awasi Analisa Gas Darah 3. Diagnosa Perawatan : Pola nafas tidak efektif Dapat dihubungkan dengan : o Proses inflamasi o Penurunan complience paru o Nyeri Kemungkinan dibuktikan oleh : o Dispnea, takipnea o Penggunaan otot aksesori o Perubahan kedalaman nafas o Analisa Gas Darah abnormal Kriteria Hasil : o Menunjukkan pola pernafasan normal/efektif dengan Analisa Gas Darah dalam rentang normal Intervensi Keperawatan : o Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada o Auskultasi bunyi nafas o Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi o Observasi pola batuk dan karakter secret o Dorong/bantu pasien nafas dalam dan latihan batuk efektif o Berikan Oksigen tambahan o Awasi Analisa Gas Darah

15

4. Diagnosa Perawatan : Peningkatan suhu tubuh Dapat dihubungkan dengan : o Proses infeksi Kemungkinan dibuktikan oleh : o Demam, penampilan kemerahan o Menggigil, takikardi Kriteria Hasil : o Pasien tidak memperlihatkan tanda peningkatan suhu tubuh o Tidak menggigil o Nadi normal Intervensi Keperawatan : o Obeservasi suhu tubuh (4 jam) o Pantau warna kulit o Lakukan tindakan pendinginan sesuai kebutuhan o Berikan obat sesuai indikasi : antipiretik o Awasi kultur darah dan kultur sputum, pantau hasilnya setiap hari 5. Diagnosa Perawatan : Resiko tinggi penyebaran infeksi Dapat dihubungkan dengan : o Ketidakadekuatan pertahanan utama o Tidak adekuat pertahanan sekunder (adanya infeksi, penekanan imun) Kemungkinan dibuktikan oleh : o Tidak dapat diterapkan tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosa aktual Kriteria Hasil : o Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi o Mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi

16

Intervensi Keperawatan : o Pantau Tanda-tanda Vital o Anjurkan klien memperhatikan pengeluaran sekret dan melaporkan perubahan warna jumlah dan bau secret o Dorong teknik mencuci tangan dengan baik o Ubah posisi dengan sering o Batasi pengunjung sesuai indikasi o Lakukan isolasi pencegahan sesuai individu o Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang. o Berikan antimikrobal sesuai indikasi

6. Diagnosa Perawatan : Intoleransi aktivitas Dapat dihubungkan dengan : o Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen o Kelemahan, kelelahan Kemungkinan dibuktikan dengan : o Laporan verbal kelemahan, kelelahan dan keletihan o Dispnea, takipnea o Takikardi o Pucat / sianosis Kriteria Hasil : o Melaporkan / menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnea, kelemahan berlebihan dan Tanda-tanda Vital dalam rentang normal Intervensi Keperawatan : o Evaluasi respon klien terhadap aktivitas o Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung

17

o Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat o Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat / tidur o Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan 7. Diagnosa Perawatan : Nyeri Dapat dihubungkan dengan : o Inflamasi parenkim paru o Reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin o Batuk menetap Kemungkinan dibuktikan dengan : o Nyeri dada o Sakit kepala, nyeri sendi o Melindungi area yang sakit o Perilaku distraksi, gelisah Kriteria Hasil : o Menyebabkan nyeri hilang / terkontrol o Menunjukkan rileks, istirahat / tidur dan peningkatan aktivitas dengan cepat Intervensi Keperawatan : o Tentukan karakteristik nyeri o Pantau Tanda-tanda Vital o Ajarkan teknik relaksasi o Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. 8. Diagnosa Perawatan : Resti nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Dapat dihubungkan dengan : o Peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi

18

o Anoreksia distensi abdomen Kriteria Hasil : o Menunjukkan peningkatan nafsu makan o Berat badan stabil atau meningkat Intervensi Keperawatan : o Indentifikasi faktor yang menimbulkan mual atau muntah o Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin o Auskultasi bunyi usus o Berikan makan porsi kecil dan sering o Evaluasi status nutrisi 9. Diagnosa Perawatan : Resti kekurangan volume cairan Faktor resiko : o Kehilangan cairan berlebihan (demam, berkeringan banyak, hiperventilasi, muntah) Kriteria Hasil : o Balance cairan seimbang o Membran mukosa lembab, turgor normal, pengisian kapiler cepat Intervensi Keperawatan : o Kaji perubahan Tanda-tanda Vital o Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa o Catat laporan mual / muntah o Pantau masukan dan keluaran, catat warna, karakter urine o Hitung keseimbangan cairan o Asupan cairan minimal 2500 / hari o Berikan obat sesuai indikasi ; antipirotik, antiametik o Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan

19

10. Diagnosa Perawatan : Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan Dapat dihubungkan dengan : o Kurang terpajan informasi o Kurang mengingat o Kesalahan interpretasi Kemungkinan dibuktikan oleh : o Permintaan informasi o Pernyataan kesalahan konsep o Kesalahan mengulang Kriteria Hasil : o Menyatakan permahaman kondisi proses penyakit dan pengobatan o Melakukan perubahan pola hidup Intervensi Keperawatan : o Kaji fungsi normal paru o Diskusikan aspek ketidakmampuan dari penyakit, lamanya penyembuhan dan harapan kesembuhan o Berikan dalam bentuk tertulis dan verbal o Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif o Tekankan perlunya melanjutkan terapi antibiotik selama periode yang dianjurkan. 2.2.12. Pencegahan Pneumonia 2.2.12.1.Pencegahan primer Pencegahan primer bertujuan untuk menghilangkan paktor resiko terhadap kejadian pneumonia. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:

20

Memberikan imunisasi campak pada usia 9 bulan dan imunisasi DPT sebanyak 3 kali yaitu pada usia 2, 3,dan 4 bulan. Menjaga daya tahan tubuh anak dengan cara memberikan asi pada bayi neonatal sampai berumur 2 tahun dan makanan yang bergizi pada balita. Mengurangi polusi lingkungan seperti polusi udara dalam ruangan dan polusi diluar ruangan. Mengurangi kepadatan hunian rumah.

21

2.2.12.2.Pencegahan Sekunder Tingkat pencegahan kedua ini merupakan upaya manusia untuk mencegah orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat progresifitas penyakit, menghindari komplikasi dan mengurangi ketidak mampua. Upaya yang dapat dilakukan antara lain: Pneumonia berat: dirawat dirumah sakit, diberikan antibiotik parenteral dan penambahan oksigen. Pneumonia :diberikan antibiotik kotrimoksasol oral, ampisilin atau ampisilin Bukan pneumonia : perawatan di rumah saja, tidak diberikan terapi antibiotik, bila demam tinggi berikan parasetamol 2.2.12.3.Pencegahan tersier Tujuan utama dari pencegahan tersier adalah menjaga agar tidak munculnya penyakit lain atau kondisi lain yang akan memperburuk kondisi pasien, mengurangi kematian serta usaha rehabilitasinya. Pada pencegahan tingkat ini dilakukan upaya untuk mencegah proses penyakit lebih lanjut seperti perawatan dan pengobatan. Upaya yang dilakukan berupa: Melakukan perawtan yang ekstra pada pasien dirumah, beri antibiotik selama 5 hari, anjurkan untuk tetap kontrol bila keadaan buruk. Bila pasien bertambah parah, maka segera dibawa ke sarana kesehatan terdekat agar penyakit tidak bertambah berat dan tidak menimbulkan kematian.

22