Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK KI-3141

Percobaan M-3

LAJU INVERSI GULA

Nama

: Nisrina Rizkia

NIM

: 10510002

Kelompok

:

1

Shift

: Jumat siang

Tanggal Percobaan

Tanggal Laporan

Asisten Praktikum

: 23 November 2012

: 30 November 2012

: Ihsan Budi Rachman

Yessi

November 2012 : 30 November 2012 : Ihsan Budi Rachman Yessi LABORATORIUM KIMIA FISIK PROGRAM STUDI

LABORATORIUM KIMIA FISIK PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2012

LAJU INVERSI GULA

I. Tujuan Percobaan

Menentukan tetapan laju reaksi orde pertama hidrolisis sukrosa

II. Teori Dasar

Laju reaksi didefinisikan sebagai laju pengurangan konsentrasi zat pereaksi atau sebagai laju pertambahan konsentrasi zat hasil reaksi. Dari hokum laju reaksi, stoikiometri reaksi dan kondisi awal reaksi selalu dapat dicari hubungan antara konsentrasi setiap spesi yang terlibat dalam reaksi terhadap waktu. Dalam kondisi ini, dari pengukuran konsentrasi setiap saat ditentukan laju reaksi dan hukum laju reaksi serta dapat diperkirakan mekanisme reaksiya.

Polarimeter merupakan suatu alat yang tersusun atas polarisator dan analisator. Polarimeter adalah Polaroid yang dapat mempolarisasi cahaya, sedangkan analisator adalah Polaroid yang dapat menganalisa/mempolarisasikan cahaya. Peristiwa polarisasi merupakan suatu peristiwa penyearahan arah getar suatu gelombang menjadi sama dengan arah getar Polaroid dengan cara menyerap gelombang yang memiliki arah getar yang berbeda dan meneruskan gelombang dengan arah getar yang sama dengan Polaroid. Polarimeter juga dapat digunakan untuk mengukur besar sudut putar jenis suatu larutan optik aktif.

Sukrosa sebagai zat optis aktif, memutar bidang polarisasi cahaya ke kanan (dextrorotatory). Tetapi bila dilakukan dalam air, pemutaran ke kanan akan berkurang dan akhirnya sedikit memutar bidang polarisasi cahaya ke kiri. Proses ini dikenal sebagai inversi, yaitu reaksi hidrolisa sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Fruktosa lebih kuat reverotatory daripada glukosa dextrororatory. Bila reaksi dikatalisa oleh ion H + , waktu paruh akan menjadi lebih pendek, reaksi menjadi lebih cepat.

Metode Guggenheim digunakan untuk menentukan tetapan hukum laju reaksi yaitu dengan mengukur sudut pemutaran bidang polarisasi pada waktu-waktu tertentu

seperti pengukuran dilakukan pada saat t 1 , t 2 , t 3 , …

. Tetapan laju

dan t 1

, t 2 , t 3
, t 2
, t 3

reaksi k dapat diperoleh dengan pengaluran

t 1 , t 2 , t 3 reaksi k dapat diperoleh dengan pengaluran terhadap waktu

terhadap waktu t.

III.Data Pengamatan

T ruang = 25 ˚ C

1. Pengamatan I

o
o

= 167.2

 

t (menit)

  t (menit)
  t (menit)
 

5

170.2

139.0

 

10

167.7

137.4

 

15

164.1

135.4

 

20

163.0

132.8

 

25

151.0

129.4

 

30

151.6

128.0

 

35

146.6

126.0

2. Pengamatan II

= 177.7128.0   35 146.6 126.0 2. Pengamatan II t (menit) 5 181.4 170.3 10 179.3 169.0

t (menit)

t (menit)
t (menit)

5

181.4

170.3

10

179.3

169.0

15

178.7

168.6

20

177.4

168.1

25

176.4

166.4

30

174.8

166.2

35

172.2

165.7

IV. Pengolahan Data

A. Data I

IV. Pengolahan Data A. Data I o = 167.2 -28.2 t (menit) 5 170.2 139.0 3

o = 167.2

IV. Pengolahan Data A. Data I o = 167.2 -28.2 t (menit) 5 170.2 139.0 3
IV. Pengolahan Data A. Data I o = 167.2 -28.2 t (menit) 5 170.2 139.0 3
IV. Pengolahan Data A. Data I o = 167.2 -28.2 t (menit) 5 170.2 139.0 3
IV. Pengolahan Data A. Data I o = 167.2 -28.2 t (menit) 5 170.2 139.0 3

-28.2

t

t
t
t
t
t
t

(menit)

5

170.2

139.0

3

-28.2

31.2

3.440418095

10

167.7

137.4

0.5

-29.8

30.3

3.411147713

15

164.1

135.4

-3.1

-31.8

28.7

3.356897123

20

163.0

132.8

-4.2

-34.4

30.2

3.407841924

25

151.0

129.4

-16.2

-37.8

21.6

3.072693315

30

151.6

128.0

-15.6

-39.2

23.6

3.161246712

35

146.6

126.0

-20.6

-41.2

20.6

3.025291076

Dari y = -0.0145x + 3.5578 . Dengan m = - k kurva terhadap waktu,

Dari

y = -0.0145x + 3.5578 . Dengan m = - k

kurva

Dari y = -0.0145x + 3.5578 . Dengan m = - k kurva terhadap waktu, didapatkan

terhadap

waktu,

didapatkan

persamaan

garis

yaitu

Sehingga didapatkan tetapan laju reaksi hidrolisis sukrosa adalah 0.0145 menit -1

B. Data II

hidrolisis sukrosa adalah 0.0145 menit - 1 B. Data II o = 177.7 3.7 -7.4 t

o = 177.7

sukrosa adalah 0.0145 menit - 1 B. Data II o = 177.7 3.7 -7.4 t (menit)
sukrosa adalah 0.0145 menit - 1 B. Data II o = 177.7 3.7 -7.4 t (menit)
sukrosa adalah 0.0145 menit - 1 B. Data II o = 177.7 3.7 -7.4 t (menit)

3.7

adalah 0.0145 menit - 1 B. Data II o = 177.7 3.7 -7.4 t (menit) 5

-7.4

t

t
t
t
t
t
t

(menit)

5

181.4

170.3

3.7

-7.4

11.1

2.406945108

10

179.3

169.0

1.6

-8.7

10.3

2.332143895

15

178.7

168.6

1

-9.1

10.1

2.312535424

20

177.4

168.1

-0.3

-9.6

9.3

2.2300144

25

176.4

166.4

-1.3

-11.3

10

2.302585093

30

174.8

166.2

-2.9

-11.5

8.6

2.151762203

35

172.2

165.7

-5.5

-12

6.5

1.871802177

35 172.2 165.7 -5.5 -12 6.5 1.871802177 Dari y = -0.0141x + 2.512 . Dengan m

Dari

y = -0.0141x + 2.512 . Dengan m = - k

kurva

1.871802177 Dari y = -0.0141x + 2.512 . Dengan m = - k kurva terhadap waktu,

terhadap

waktu,

didapatkan

persamaan

garis

yaitu

Sehingga didapatkan tetapan laju reaksi hidrolisis sukrosa adalah 0.0141 menit -1

V.

Pembahasan

Laju reaksi adalah perubahan konsentrasi pereaksi ataupun produk dalam satu satuan waktu. Tetapan laju reaksi bersifat khas untuk masing-masing reaksi yang besarnya sebanding dengan laju reaksi. Dalam percobaan di tentukan nilai tetapan laju reaksi hidrolisis gula yaitu sukrosa menjadi fruktosa dan sukrosa. Secara normal waktu paruh untuk reaksi hidrolisis glukosa adalah 10 minggu. Oleh karena itu dibutuhkanlah suatu katalis yang dapat mempercepat reaksi. Selain katalis cepat lambatnya reaksi bergantung pada beberapa faktor, apabila kita mengetahui faktor-faktor ini maka kita dapat mengatur cepat lambatnya reaksi, adapun faktor-faktor tersebut adalah:

1. Konsentrasi Pereaksi

Konsentrasi memiliki peranan yang sangat penting dalam laju reaksi, sebab semakin besarkonsentrasi pereaksi, maka tumbukan yang terjadi semakin banyak, sehingga

menyebabkan laju reaksi semakin cepat. Begitu juga, apabila semakin kecil konsentrasi pereaksi, maka semakin kecil tumbukan yang terjadi antar partikel, sehingga laju reaksi pun semakin kecil.

2. Suhu

Suhu juga turut berperan dalam mempengaruhi laju reaksi. Apabila suhu pada suatu rekasi yang berlangusng dinaikkan, maka menyebabkan partikel semakin aktif bergerak, sehingga

tumbukan yang terjadi semakin sering, menyebabkan laju reaksi semakin besar. Sebaliknya, apabila suhu diturunkan, maka partikel semakin tak aktif, sehingga laju reaksi semakin kecil.

3. Tekanan

Banyak reaksi yang melibatkan pereaksi dalam wujud gas. Kelajuan dari pereaksi seperti itu juga dipengaruhi tekanan. Penambahan tekanan dengan memperkecil volume akan memperbesar konsentrasi, dengan demikian dapat memperbesar laju reaksi.

4. Katalis

Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk. Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi.

5. Luas Permukaan Sentuh

Luas permukaan sentuh memiliki peranan yang sangat penting dalam laju reaksi, sebab semakin besar luas permukaan bidang sentuh antar partikel, maka tumbukan yang terjadi semakin banyak, sehingga menyebabkan laju reaksi semakin cepat. Begitu juga, apabila

semakin kecil luas permukaan bidang sentuh, maka semakin kecil tumbukan yang terjadi antar partikel, sehingga laju reaksi pun semakin kecil. Karakteristik kepingan yang direaksikan juga turut berpengaruh, yaitu semakin halus kepingan itu, maka semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi; sedangkan semakin kasar kepingan itu, maka semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi.

Pada percobaan ini laju reaksi hidrolisis sukrosa mengikuti persamaan reaksi orde satu semu. Pada beberapa kasus reaksi orde dua, konsentrasi salah satu pereaksnya jauh lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi pereaksi lainnya, sehingga dapat dianggap tetap selama reaksi berlangsung. Pada kasus ini, sepertinya reaksi mengikuti kinetika orde satu, walaupun pada dasarnya reaksi ini merupakan reaksi orde dua. Reaksi seperti inilah yang disebut dengan reaksi orde satu semu. Salah satunya adalah reaksi pada percobaan ini yaitu hidrolisis sukrosa yang dikatalisa oleh asam. Konsentrasi air sangat besar jika dibandingkan dengan konsentrasi sukrosa sehingga dapat dianggap tetap. Atau dapat juga dikatakan

Merupakan reaksi orde kedua atau orde yang lebih tinggi tapi mengikuti reaksi

orde pertama

Contoh: C + D hasil reaksi

Laju reaksinya = k [C] [D]

-d[C]/dt

Atau -d[C]/dt

= k [C] [D]; bila k[D] tetap maka laju reaksinya = k’ [C]

= k’ [C] dan k’ = k [D], k’= tetapan laju orde 1 semu

dan waktu paruhnya (t ½) = 0,693/k’

Dalam percobaan kali ini dilakukan pengamatan terhadap reaksi inversi sukrosa. Sukrosa adalah disakarda yang tersusun dari glukosa dan fruktosa. Sehingga hidrolisissukrosa akan menghasilkan D-glukosa dan D-fruktosa. Sukrosa memiliki putaran optic yaitu +66˚ , jika dihidrolisis makan aka nada campuran D- Glukosa dan D-Fruktosa dengan campuran yang sama, dan akan mengalami perubahan putaran optic menjadi -22˚. Hal ini disebabkan karena adanya pencampuran anomer D-glukosa yang mempunya rotasi yaitu +52˚, namun fruktosa mempunyai putaran optic sebesar yaitu -92˚

Gula merupakan zat optis aktif. Bila cahaya terpolarisasi linier jatuhpada bahan optis aktif, maka cahaya yang keluar bahan akan tetap terpolarisasi linier dengan arah bidang getar terputar terhadap arah bidang getar semula Sifat optis aktif zat dispesifikasikan dengan sudut putar jenis.Sudutputar bidang polarisasi sebanding dengan sudut putar jenis dan konsentrasibila sudut putar jenis diketahui dan sudut putar bidang polarisasi dapat diukur,maka konsentrasi (kadar) zat optis aktif dapat ditentukan (hal ini merupakan prinsip yang digunakan untuk

menentukan kadar zat optis. Pada reaksi inilaju reaksi hanya tergantung pada satu kosentrasi saja yaitugula sukrosa sedangkan Htidak berpengaruh dalam reaksi tersebut.

inversi sukrosa dapat terjadi karena adanya enzim invertase dandidukung suasana asam dan suhu yang optimal. Inversi terjadi pada kodisiasam (pH dibawah 7) dan juga tergantung pada kondisi temperatur:a.Pada temperatur tinggi reaksi inverse dapat berlangsung lebih cepatb.Dengan waktu reaksi yang lama reaksi inversi dapat berlangsung lebihcepatUntuk menghindari terjadinya inversi maka pada proses pemurnian pHdiatur pada 7,8-8,0, tetapi tidak boleh lebih dari 8. Karena apabila lebih dari8 maka akan timbul kerusakan warna dari sukrosa. Selain

itu waktu untuk proses juga harus berlangsung dengan cepat. Laju inersi sukrosa akansemakin besar pada kondisi pH rendah dantemperature tinggi dan berkurangpada pH tinggi (pH 7) dan temperature rendah. Laju inversi yang palingcepat adalah pada kondisi pH asam (pH 5).Invertase adalah suatu enzim yang dapat mengkatalisis reaksiinversi. Pada umumnya proses inversi sukrosa dipengaruhi oleh :a.

Sifat asam dari lingkunganb.

Suhu lingkunganc.

Keberadaan enzim invertased.d.

Kebersihan lingkungan

Pada percobaan ini digunakan alat polarimeter untuk mengukur perubahan rotasi optik yang terjadi. Polarimeter adalah

Pada percobaan ini digunakan alat polarimeter untuk mengukur perubahan rotasi optik

yang terjadi. Polarimeter adalah alat yang didesain untuk mempolarisasikan

cahayadan kemudian mengatur sudut rotasi bidang polarisasi cahaya oleh

suatu senyawaaktif optis yang prinsip kerjanya didasarkan pada pemutaran

bidang polarisasi(Anonim, 2010). Jadi polarimeter ini merupakan alat yang

didesain khusus untuk mempolarisasi cahaya oleh suatu senyawa optis aktif.

Senyawa optis aktif adalahsenyawa yang dapat memutar bidang polarisasi

Prinsip kerjaalat polarimeter adalah sebagai berikut, sinar yang datang dari sumbercahaya (misalnya lampu natrium) akan dilewatkan melalui prismaterpolarisasi (polarizer), kemudian diteruskan ke sel yang berisi larutan. Danakhirnya menuju prisma terpolarisasi kedua (analizer). Polarizer tidak dapatdiputar-putar sedangkan analizer dapat diatur atau di putar sesuai keinginan.Bila polarizer dan analizer saling tegak lurus (bidang polarisasinya juga tegalurus), maka sinar tidak ada yang ditransmisikan melalui medium

diantaraprisma polarisasi. Pristiwa ini disebut tidak optis aktif. Jika zat yang bersifatoptis aktif ditempatkan pada sel dan ditempatkan diantara prismaterpolarisasi maka sinar akan ditransmisikan. Putaran optik adalah sudutyang dilalui analizer ketika diputar dari posisi silang ke posisi baru yangintensitasnya semakin berkurang hingga nol. Untuk menentukan posisi yang

tepat sulit dilakukan, karena itu digunakan apa yang disebut “setengah bayangan” (bayangan redup). Untuk mancapai kondisi ini, polarizer diatur

sedemikian rupa, sehingga setengah bidang polarisasi membentuk sudutsekecil mungkin dengan setengah bidang polarisasi lainnya. Akibatnyamemberikan pemadaman pada kedua sisi lain, sedangkan ditengah terang

Bila analyzer diputar terus setengah dari medan menjadi lebih terang danyang lainnya redup. Posisi putaran diantara terjadinya pemadaman danterang tersebut, adalah posisi yang tepat dimana pada saat itu intensitaskedua medan sama. Jika zat yang bersifat optis aktif ditempatkan diantarapolarizer dan analizer maka bidang polarisasi akan berputar sehingga posisimenjadi berubah. Untuk mengembalikan ke posisi semula, analizer dapatdiputar sebesar sudut putaran dari sampel. Sudut putar jenis ialah besarnya.

Dalam percobaan yang dilakukan tidak sesuai dengan teoritis , hal tersebut dapat dikarenakan kesalahan dalam melakukan pengukuran putaran rotasi optic dan lamanya pembacaan untuk mencari keadaan dari gelap ke terang. Pengukuran dilakukan tiap lima menit sekali, namun ketika akan dilakukan pengukuran , tidak bias ditentukan dengan mudah sehingga melebihi waktu yang seharusya, sedangkan apabila waktu terus berjalan maka putaran optic akan terus terjadi karena reaksi terus berlangsung.

VI. Kesimpulan

Tetapan laju reaksi orde pertama reaksi hidrolisis sukrosa menggunakan data pertama adalah

0.0145 menit -1 .

Tetapan laju reaksi orde pertama reaksi hidrolisis sukrosa menggunakan data kedua adalah

0.0141 menit -1

VII. Daftar Pustaka

Cainrs, Donald. ” Kimia Farmasi Edisi 2 ”. Penerbit Buku Kedokteran EGC.2004. hal 202.

Atkins, PW. 1999. Kimia Fisika. Jilid 2. Jakarta : PT Erlangga. Hal 335.