Anda di halaman 1dari 32

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka Priyanto (2007) melakukan penelitian Analisa Gangguan Pada Sistem Bahan Bakar Injeksi Mesin Hyundai Tipe FE yaitu gangguan yang terjadi pada sistem bahan bakar kebanyakan pada komponen injection pump, injection nozzle dan fuel filter. Cara mengatasinya adalah dengan memeriksa, membersihkan, menyetel,

memperbaiki atau mengganti apabila komponen sudah tidak bisa berfungsi secara baik serta melakukan perawatan berkala untuk mengetahui lebih awal kerusakan komponen pada sistem bahan bakar. Jika proses pembakaran bahan bakar terbakar tuntas maka akan menghasilkan tenaga mesin lebih besar dan pemakaian bahan bakar yang sama bisa menempuh jarak yang lebih jauh, dengan demikian pemakaian bahan bakar lebih irit. Agar pembakaran berlangsung sempurna maka bisa dilakukan dengan memperbaiki kompresi, pengapian, serta perbandingan bahan bakar dan udara. (Majalah Otomotif, 2005). Kurniawan (2009) melakukan penelitian pengaruh water injeksi Pada Performa Sepeda Motor Empat Langkah yaitu merupaka sebuah cara yang dapat menghilangkan detonasi pada sebuah mesin kompresi tinggi walau menggunakan

bensin beroktan 88, yaitu dengan menyuntikan air ke dalam intake manifold yang berguna untuk menurunkan suhu campuran bahan bakar dan udara sebelum masuk ke ruang bakar. Saat langkah hisap, kabut air yang disuntikan ke dalam intake manifold akan bercampur dengan campuran bahan bakar dan udara lebih rendah sehingga tidak terbakar terlebih dahulu sebelum bunga api dipercikan. Jadi gejala detonasi pada kompresi tinggi pun dapat terhindari.

B. Landasan Teori Motor atau engine adalah suatu alat yang dapat menghasilkan tenaga melalui suatu proses tertentu dimana proses tersebut menghasilkan panas dan energi panas itu berubah menjadi energi gerak atau mekanis yang diperlukan sebagai penggerak utama pada suatu kendaraan. Sebagian besar motor yang digunakan adalah model motor bakar torak dan menggunakan piston yang bergerak translasi. Proses untuk mendapatkan energi panas ini dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : 1. Motor pembakaran luar (External Combustion Engine) 2. Motor pembakaran dalam (Internal Combustion Engine) Motor jenis jenis External Combustion Engine merupakan suatu alat penghasil tenaga dimana proses pembakaran dan penghasil tenaga berada pada tempat terpisah, misalnya : 1. Mesin uap (steam engine) 2. Turbin uap (steam turbin) 3. Turbin gas (gas turbin)

Dengan adanya beberapa kelompok mekanisme yang terpisah maka External Combustion Engine akan memiliki dimensi yang cukup besar untuk menghasilkan daya yang besar, sehingga sulit untuk dipasang pada mesin yang membutuhkan kapasitas besar dan bergerak lincah, yang sewaktu-waktu perlu dipindahkan. Sedangkan pada jenis Internal Combustion Engine lebih sering dikenal dengan nama motor bakar. Pada jenis ini merupakan suatu alat penghasil tenaga dimana proses pembakaran dan penghasil tenaga berada pada satu tempat. Motor jenis Internal Combustion Engine di dalam mekanismenya terdapat piston yang bergerak translasi, di dalam mekanisme ini terjadi pembakaran antara bahan bakar dengan oksigen yang dinyalakan dengan alat bantu yaitu Spark Plug. Karena adanya perubahan temperatur dan tekanan pada ruang pembakaran, maka gas dari hasil pembakaran tersebut mampu menggerakan piston secara translasi dan gerakan ini dihubungkan ke poros engkol melalui batang piston sebagai penghubung, gerakan translasi piston akan menyebabkan gerak rotasi poros engkol dan ini akan bergerak secara kontinyu selama terjadi pembakaran pada ruang bakar. 1. Motor bakar 4 langkah (4 tak) 2. Motor bakar 2 langkah (2 tak) Motor bakar dengan sistem kerja 4 langkah adalah suatu sistem dimana piston bergerak 4 kali turun naik untuk mendapatkan 1 kali usaha, ini juga berarti bahwa poros engkol berputar 2 kali. Proses pemasukan bahan bakar dan udara dilakukan oleh gerak hisap dari gerak turun piston menuju TMB. Siklus motor 4 langkah merupakan siklus lengkap (W.Arismunandar, Motor Bakar Torak).

Motor bakar dengan sistem kerja 2 langkah adalah siatu sistem dimana piston bergerak 2 kali turun naik untuk mendapatkan 1 kali usaha, ini berarti poros engkol hanya membutuhkan 1 kali putaran. Langkah buang dan langkah hisap terjadi saat torak berada disekitar TMB. Lubang hisap dan lubang buang pada dinding silinder dibuka dan ditutup oleh torak itu sendiri. Beberapa motor bakar torak ada yang menggunakan katup buang yang terletak di kepala silinder atau lubang buang pada dinding silinder yang dibuka dan ditutup oleh katup geser. a. Prinsip kerja Kendaraan Bermotor Pada kendaraan bermotor, tenaga didapat dari hasil pembakaran bensin bercampur udara di dalam suatu ruang bakar yang kemudian akan menimbulkan panas serta diubah menjadi tenaga gerak atau tenaga mekanis, tenaga ini akan dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan. Proses tersebut sering disebut dengan Motor Bakar. Proses dari motor bakar dapat diuraiakan sebagai berikut : 1. Prinsip kerja motor 4 tak a. Langkah hisap Piston bergerak dari TMA ke TMB. Pada saat itu katup masuk terbuka dan katup buang tertutup. Melalui katup masuk, campuran bahan bakar dan udara hisap masuk kedalam silinder.

Gambar 2.1. Langkah hisap b. Langkah kompresi Piston bergerak dari TMB ke TMA. Katup masuk tertutup dan katup buang tertutup. Campuran bahan bakar dan udara yang terhisap dimampatkan oleh torak yang bergerak ke TMA. Volume campuran bahan bakar dan udara menjadi kecil yang akan menyebabkan tekanan dan temperatur gas di dalam silinder naik sehingga campuran itu mudah sekali terbakar.

Gambar 2.2. Proses langkah kompresi

c. Langkah usaha Pada saat torak hampir mencapai TMA campuram bahan bakar dan udara dinyalakan dengan bantuan percikan bunga api dari busi. Ini akan menyebabkan tekanan dan temperaturnya naik. Sementara itu torak masih bergerak menuju TMA. Berarti volume ruang bakar menjadi semakin kecil sehingga tekanan dan temperatur gas di dalam silinder menjadi semakin tinggi. Hasil dari pembakaran ini akan mendorong torak menuju TMB. Pada saat langkah ini berlangsung kedua katup dalam keadaan tertutup.

Gambar 2.3. Proses langkah uasaha d. Langkah buang Piston bergerak dari TMB ke TMA. Katup masuk tertutup dan katup buang terbuka. Gas bekas pembakaran didorong keluar oleh piston.

Gambar 2.4. Proses langkah buang 2. Prinsip kerja motor 2 tak a. Langkah naik Piston bergerak dari TMB ke TMA, gas bekas pembakaran sudah mulai dikeluarkan dan campuran udara serta bahan bakar sudah mulai dimasukan, langkah ini merupakan langkah kompresi. Pada waktu piston hampir mencapai TMA busi memercikan bunga api. b. Langkah turun Pembakaran pada akhir langkah naik maka menyebabkan terjadinya panas dan pemuaian. Piston bergerak dari TMA ke TMB. Sebelum piston mencapai TMB maka lubang sudah terbuka. Lubang masuk pun kemudian terbuka pula. Gas baru masuk dan sekaligus mendorong gas buang hasil pembakaran. Suatu hal yang penting pada motor 2 langkah adalah adanya lubang masuk dan buang sebagai pengganti katup.

Gambar 2.5. Mekanisme kerja torak mesin 2 langkah b. Bahan Bakar Bahan bakar adalah suatu cairan yang berfungsi sebagai suatu bahan yang nantinya akan dibakar dengan bantuan loncatan bunga api maupun terbakar sendiri. Bahan bakar sendiri mempunyai berbagai macam jenis dan setiap jenis bahan bakar tersebut mempunyai berbagai perbadaan. Bahan bakar sendiri diperoleh melalui beberapa proses dan tahapan sehingga mendapatkan bahan bakar yang diinginkan (Sri Gati H. Bahan Ajar, Motor Bakar I). Proses untuk mendapatkan bahan bakar adalah : 1. Penyulingan (Destilation), minyak mentah (yang merupakan campuran dari hidrokarbon) diuapkan dan dipisah berdasar titik didihnya. a. Straight Run Gasoline (bensin) dengan berat jenis 0,70-0,75 kg/l dari titik didih 25-200oC. b. Kerosin (minyak tanah) dengan berat jenis 0,8-0,83 kg/l dari titik didih 180-280oC.

c. Gasolie (minyah diesel atau solar), dengan berat jenis 0,815-0,86 kg/l dari titik didih 150-360oC. 2. Perangkahan (cracking), pemecahan hidrokarbon molekul barat menjadi molekul ringan dengan bantuan panas (pada suhu 400-500oC atau katalisator pada suhu rendah). 3. Hydrogenation (hirogenasi), dengan memisah ikatan molekul dan

menambahkan terus-menerus hydrogen pada tekanan tinggi. 4. Reforming, Platforming, dapat mengubah bahan yang mudah mengalami knocking menjadi bahan yang tidak mudah knock. 5. Polymerization, penggabungan molekul ringan menjadi sedang, dipakai untuk mengubah gas bumi menjadi bensin. Namun bahan bakar yang sering kita jumpai di pasaran saat ini adalah : 1. Bahan bakar pertamax Ditunjukan untuk kendaraan yang mempersyaratkan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dan tanpa timbal (unleaded). Pertamax juga diromendasikan untuk kendaraan yang diperoduksi diatas tahun 1990 terutama yang telah menggunakan teknologi setara dengan electronic fuel injection dan Catalytic Conventer Pertamax adalah motor gasoline tanpa timbal dengan kandungan aditif yang dapat membersihkan intake valve port fuel injector dan ruang bakar dari karbon deposit dan mempunyai Research Octane Number (RON) 92 dan di

anjurkan untuk kendaraan berbahan bakar bensin dengan perbandingan kompresi yang tinggi. Kendaraan yang diperoduksi dibawah tahun 1990 tetapi menginginkan peningkatan kinerja mesin kendaraannya juga dapat menggunakan bahan bakar ini. Keunggulan pertamax adalah memiliki nilai oktan 92 dengan stabilitas oksidasi yang tinggi dan kandungan olefin, aromatic dan benzenenya pada level yang rendah sehingga menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna pada mesin. Tabel 2.2. Data Kimiawi Bahan Bakar Pertamax
BATASAN MIN MAX 92 480 88 45 715 0,05 0,0013 70 110 180 215 2 2,7 60 770 Kelas 1 Negatif % massa 0.002 Biru 0,13 D-3227 jernih, terang gr/100 l D 481545-94a 323 D 4052 - 96 D-130-94 IP30 METODE UJI ASTM D 2699-86 D 525 - 99a D 2622/D 1266 D 3237/D 5069 LAIN

KARAKTERISTIK 1. bilangan Oktana Angka Oktana Riset (RON) 2. Stabilitas Oksida 3. Kandungan Belerang 4. Kandungan Timbal (pb) 5. Distilasi 10 % vol. Penguapan 50 % vol. Penguapan 90 % vol. Penguapan Titik didh akhir Residu 6. Kandungan Oksigen 7. Tekanan Uap 8. Berat Jenis pada suhu 15 C 9. Korosi bilah tembaga 10. Uji Doctor 11. Belerang Mercapan 12. Penampilan Visual 13. Warna 14. Kandungan pewarna

SATUAN

RON Menit % m/m gr/l C C C C % vol % m/m Kpa kg/m menit

2. Pertamax Plus Pertamax plus (RON 95). Jenis bahan bakar minyak ini telah memenuhi standar performance International World Wide Fuel Charter (WWFC). Ditunjukan untuk kendaraan yang berteknologi mutakhir yang

mempersyaratkan bahan bakar beroktan tinggi dan ramah lingkungan. Pertamax plus adalah bahan bakar tanpa timbal kendaraan bensin yang diproduksi dari komponen pilihan jenis Hight Octane Mogas Component (HOMC) yang berkualitas tinggi di tambah adotif generasi mutakhir sesuai requitmen pabrikan kendaraan bermotor. Di formulasikan secara khusus dan sengaja di kembangkan untuk memenuhi tuntutan pembuat mesin akan bahan bakar minyak yang mampu melayani mesin yang bekerja pada kompresio yang tinggi maupun tuntutan dunia akan bahan bakar yang lebih bersahabat terhadap lingkungan dan lebih aman terhadap kesehatan manusia. Pertamax plus adalah bahan bakar superior pertamina dengan kandungan energi tinggi dan ramah lingkungan diproduksi menggunakan bahan baku berkualitas tinggi sebagai pertamax plus di tunjukan untuk kendaraan yang berteknologi mutakhir yang mempersyaratkan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dan ramah lingkungan. Pertamax plus sangat sangat disarankan untuk kendaraan yang dilengkapi dengan Catalytic Conventer sehingga emisi gas buang kendaraan tersebut tidak mencemari lingkungan dan direkomendasikan untuk kendaraan yang memiliki kompresi ratio lebih besar dari 10,5 dan juga menggunakan

teknologi Electronic Fuel Injection (EFI), Variable Valve Timing Intelligent (VVTI), (VTI) Turbo Chargersdan catalyctic converters. Syarat-syarat bahan bakar yang baik adalah sebagai berikut : a. Jernih, tidak berwarna dan netral. b. Bebas dari belerang. c. Bebas dari endapan. d. Pada pemanasan 100o, harus menguap lebuh dari 25%. e. Pada pemanasan sampai 175o, sekurang-kurangnya harus menguap 95% dari isi asal, pada pemanasan sampai 205o, sekurang-kurangnya harus menguap 99% dari isi asal, zat yang selebihnya harus tinggal tetap cair pada 15oC ke atas. f. Nilai pembakaran 10.000 kkal/kg g. Mempunyai sifat nyala yang baik. c. Proses pembakaran Pada motor bakar, proses pembakaran merupakan suatu proses yang sangat berpengaruh. Proses pembakaran yang terjadi pada motor bakar terjadi pada ruang bakar yang merupakan proses penghasil panas dan nantinya digunakan untuk menghasilkan daya yang dibutuhkan. Besarnya daya yang dapat dikeluarkan dari energi panas ini tergantung dari besarnya silinder dan ruang bakar. Daya yang ditimbulkan oleh bahan bakar kemudian dibakar di dalam ruang bakar dan nantinya akan menggerakkan torak, selanjutnya torak akan menggerakkan semua mekanisme yang ada. (N. Soenarta dan S. Furuhama. Motor Serba Guna).

Kalau bahan bakar-udara terbakar di dalam ruang pembakaran yang dibatasi oleh torak, silinder dan kepala silinder akan menghasilkan gas pembakaran yang bersuhu dan bertekanan tinggi. Gas pembakaran ini akan menekan torak ke bawah dan menghasilkan daya dengan cara sebagai berikut : Pembakaran campuran bahan bakar-udara Gas bersuhu tinggi

Gaya bertekanan tinggi

Gerak lurus torak

Mekanikme engkol

Daya putar Gambar 2.6. Daya dari panas d. Siklus Termodinamika Motor Bakar Analisa siklus termodinamika merupakan dasar penting dalam mempelajari motor bakar. Proses kimia dan termodinamika yang terjadi pada motor bakar sangatlah rumit untuk dianalisa, sehingga diperlukan suatu siklus yang ideal guna memudahkan analisa motor bakar. Siklus yang ideal tentunya harus mempunyai kesamaan dengan siklus sebenarnya. Sebagai contoh kesamaannya adalah urutan

proses dan perbandingan kompresi. Di dalam siklus actual, fluida kerja adalah campuran bahan bakar udara dan produk pembakaran, akan tetapi di dalam siklus yang diidealkan fluidanya adalah udara. Jadi siklus ideal dapat disebut siklus udara. Penggunaan siklus ideal berdasarkan pada beberapa asumsi sebagai berikut : 1. Fluida kerja adalah udara yang dianggap sebagai gas ideal dengan kalor sepesifik konstan (tidak ada bahan bakar). 2. Langkah hisap dan buang pada tekanan konstan. 3. Langkah kompresi dan tenaga pada keadaan adiabatis. 4. Kalor diperoleh dari sumber kalor dan tidak ada proses pembakaran atau tidak ada reaksi kimia. Siklus ideal volume kostan adalah siklus untuk mesin otto. Siklus volume konstan sering disebut dengan siklus ledakan (explostion cycle) karena secara teoritis proses pembakaran terjadi sangat cepat dan menyebabkan peningkatan tekanan yang tiba-tiba. Penyalaan untuk proses pembakaran dibantu dengan loncatan bunga api. Nicolas August Otto menggunakan siklus ini untuk membuat mesin sehingga siklus ini sering disebut dengan siklus otto. Proses pada diagram P-V untuk siklus ideal otto adalah sebagai berikut : 1. Langkah hisap (0-1) merupakan proses tekanan konstan. 2. Langkah kompresi (1-2) merupakan proses isentropik. 3. Proses pembakaran volume konstan (2-3) dianggap sebagai proses pemasukan kalor pada volume konstan. 4. Langkah kerja (3-4) ialah proses isentropik.

5. Proses pembuangan (4-1) dianggap sebagai proses pengeluaran kalor pada volume konstan. 6. Langkah buang (1-0) ialah proses tekanan konstan

Gambar 2.7. Diagram P-V dan T-S untuk siklus otto

Gambar 2.8. Gambar Siklus Udara Konstan

e. Komponen Utama Mesin Pada mesin terdapat konponen-komponen utama yaitu: 1. Kepala silinder Kepala silinder berfungsi sebagai penutup silinder atas dan ruang bakar kerja motor. Bentuk ruang bakar ada yang rata/datar, tirus, lengkung atau gabungan dari bentuk-bentuk tersebut.

Gambar 2.9. Kepala Silinder 2. Blok silinder Blok silinder adalah komponen utama motor yang terdiri dari lubang-lubang silinder tempa piston beekerja. Bahan blok dipilih agar memenuhi syarat pemakaian yaitu: Tahan terhadap suhu yang tinggi, dapat menghantarkan panas dengan baik dan tahan terhadap gesekan.

Gambar 2.10. Blok Silinder

Kontruksi dan bentuk blok silinder ditentukan dalam beberapa faktor yaitu: a. Jumlah silinder b. Susunan silinder c. Susunan katup d. Jenis mekanisme katup e. Sistem pendingin 3. Poros engkol Poros engkol adalah konponen mesin yang mengubah gerakan lurus bolak-balik piston menjadi gerak putar dengan perantara batang piston. Pada bagian engkol terpasang batang piston yang disebut crank pin sedangkan yang terpasang pada blok silinder disebut crank journal.

Gambar 2.11. Poros Engkol 4. Piston Piston memiliki fungsi dalam sistem kerja motor. Fungsi utama piston adalah menerima tenaga ledakan dari proses pembakaran dan penerusan

tenaga ke poros engkol menjadi tenaga putar dengan perantara batang piston atau mengubah tenaga panas menjadi tenaga mekanis. Supaya piston bekerja dengan efektif maka piston dilengkapi dengan cincin piston (ring piston) dan pada umumnya ring piston yang dipasang ada tiga buah yaitu, dua ring kompresi dan satu ring oli.

Gambar 2.12 Piston 5. Ring piston Ring piston sebagai penyekat atau merapat supaya tidak terjadi kebocoran dari ruang bakar (combustion chamber) ke ruang engkol (crank case) dan memberikan pelumasan yang cukup pada dinding silinder selama operasi kerja mesin. Posisi ring piston terdapat di bagian atas piston yang menghadap ke ruang bakar.

Gambar 2.13. Ring Piston

6. Roda penerus (fly wheel) Fungsi roda penerus (fly wheel) adalah sebagai penyimpan selama proses kerja motor, yaitu selama langkah daya dan meneruskan putaran selama langkah buang, isap dan kompresi.

Gambar 2.14. Roda Penerus (fly wheel) f. Kelengkapan mesin 1. Sistim Pelumas Apabila terjadi gerakan relative antara dua benda yang bersentuhan, terjadilah gesekan antara kedua benda tersebut. Gesekan (mekanik) tersebut terutama disebabkan oleh permukaan benda yang kasap atau reaksi kimia yang terjadi pada permukaan itu. Gesekan terjadi pada motor bakar, misalnya antara poros dan bantalan, antara (cincin) torak dengan dinding silinder, antara roda gigi dan sebagainya. Untuk mengatasi gesekan tersebut, agar benda yang bersentuhan bida digerakkan, diperlukan gaya. Karena itu besarnya gesekan harus dibatasi agar daya mesin tidak banyak yang hilang pada bantalan, roda gigi dan sebagainya. Selain itu gesekan mengauskan permukaan sedangkan kerusakan selanjutnya dipercepat oleh panas yang terjadi karena gesekan itu. Besarnya gesekan dapat dikurangi dengan menggunakan pelumas yang berfungsi

memisahkan dua permukaan yang bersentuhan. Pada umunya motor bakar torak menggunakan pelumas cair yang dinamai minyak pelumas. Selain mudah

disalurkan minyak pelumas itu berfungsi juga sebagai fluida pendingin, pembersih dan penyekat. 2. Sistem pendingin Pada mesin, bahan bakar merubah energi panas kedalam energi mekanik Tapi energi panas yang ditimbulkan tidak dirubah kedalam tenaga. Hanya 25-40 % saja dari energi termal tersebut dirubah menjadi energi mekanik, sebanyak 2025 % diserap oleh fluida pendingin, sedangkan kira-kira 40-50% terbawa ke luar bersama-sama gas buang. Panas yang diserap oleh mesin harus dibuang ke udara dengan segera, dikarenakan mesin akan menjadi terlalu panas dan mempercepat keausan. Maka sistem pendingin dilengkapi di dalam mesin untuk pendingin dan mencegah panas yang berlebihan. Berdasarkan fluida pendinginnya motor bakar dapat dibedakan menjadi 2 yaitu (Arismunandar, 2002) : a. Motor bakar berpendingin air b. Motor bakar berpendingin udara 3. Sistem pengapian Sistem pengapian ini merupakan sistem yang digunakan sebagai alat untuk melakukan pembakaran campuran bahan bakar-udara yang ada di dalam ruang pembakaran dengan waktu pengapian (timing ignition) yang telah ditentukan. Sistem pengapian ini memiliki beberapa komponen yang

sangat penting untuk terciptanya bunga api untuk pembakaran, diantaranya adalah: a. Busi Busi adalah komponen yang berfungsi untuk menciptakan loncatan bunga api saat dialiri arus listrik tegangan tinggi. .

Gambar 2.15. Busi b. Pembangkit tegangan tinggi Untuk tercapainya loncatan bunga api pada busi, maka harus ada tegangan listrik yang cukup tinggi yang berkisar antara 5000 sampai lebih dari 10.000 Volt. Salah satu sistem penyalaan yang tidak mekanik adalah sistem CDI (Capasitor Discharge Ignition). g. Sistem Bahan Bakar Injeksi 1. Sistem YMJET-FI (Yamaha Mixture JET-Fuel Injection) Istilah sistem bahan bakar electronik Fuel Injaction (EFI) dapat digambarkan sebagai suatu sistem yang menyalurkan bahan bakarnya dengan menggunakan

pompa pada tekanan tertentu untuk mencampurnya dengan udara yang masuk ke ruang bakar. Pada sistem (EFI) dengan mesin berbahan bakar bensin, pada umumnya proses penginjeksian bahan bakar terjadi intake (pompa),

manifold/manifold masuk sebelum inlet valve (katup/klep masuk). Pada saat inlet valve terbuka, yaitu pada langkah hisap, udara yang masuk ke ruang bakar sudah bercampur dengan ruang bakar. Secara ideal, sistem EFI harus dapat mensuplai sejumlah bahan bakar yang disemprotkan agar dapat bercampur dengan udara dalam perbandingan campuran yang tepat sesuai kondisi putaran dan beban mesin. Kondisi suhu kerja mesin dan suhu atmosfir saat itu. Sistem harus dapat mensuplai jumlah bahan bakar yang bervariasi, agar perubahan kondisi operasi kerja mesin tersebut dapat dicapai dengan unjuk kerja mesin yang tetap optimal. Secara umum, konstruksi sistem EFI dapat dibagi menjadi tiga bagian/sistem utama, yaitu; a) sistem bahan bakar (fuel system), b) sistem kontrol elektronik (electronic control system), dan c) sistem induksi / pemasukan udara (air induction system). Sistem kerja teknologi FI sama seperti tubuh manusia. Di mana terdapat ECU (Electronic Control Unit) yang berfungsi seperti halnya otak manusia. ECU berfungsi meneruskan sinyal-sinyal yang dikirim oleh sensor-sensor dan pada akhirnya ECU memerintahkan injektor untuk menyemprotkan bensin pada mesin. Komponen lain pada ECU adalah fuel pump yang memiliki fungsi mensuplai bahan bakar tangki ke injektor dan menjaga tekanan bahan bakar agar

sesuai dengan persyaratan. Dibawah ini diperlihatkan contoh skema rangkaian sistem EFI pada mio J.

Gambar 2.15. Rangkaian EFI Kelebihan motor injeksi adalah motor menjadi lebih halus dan lebih respon mesin yang lebih bisa diandalkan karena adanya transisi throttle yang cepat, menyalakan mesin lebih mudah, lebih tahan terhadap suhu ekstrem, meningkatkan interval perawatan kendaraan, dan meningkatkan efisiensi. Lebih jauh, mesin dengan injeksi tidak perlu dipanaskan terlebih dahulu seperti pada mesin karburator. 2. Sistem bahan bakar Keunggulan motor injeksi termasuk hemat bahan bakar. Rasio penggunaan antara bahan bakar dengan udara di dalam mesin lebih akurat karena dikontrol untuk mendapatkan performa mesin terbaik, emisi dan efisiensi. Banyak sistem injeksi bhan bakar modern saat meggunakan PID controller-kontrol yang

didasarkan pada umpan balik dari sensor oksigen (O2 sensor), sebuah sensor mass airflow (MAF) atau manifold absolute pressure (MAP), sebuah sensor posisi trottle dan minimal satu sensor di crankshaft atau camshaft untuk memonitor putaran mesin. Sistem injeksi bahan bakarnya dapat bekerja lebih cepat terhadap perubahan posisi throttle dan mengontrol jumlah bahan bakar yang dimasukan sesuai dengan kemauan mesin terhadap kebutuhan (misalnya engine load, suhu udara, temperatur mesin, level oktan bahan bakar dan tekanan atmosfir.

Gambar 2.16. Komponen EFI Yamaha Mio J Adapun fungsi masing-masing komponen pada sistem bahan bakar tersebut adalah sebagai berikut : a. Fuel Pump Berfungsi memompa dan mengalirkan bahan bakar dari tangki bahan bakar ke injektor. Penyaluran bahan bakarnya harus lebih banyak

dibandingkan dengan kebutuhan mesin supaya tekanan dalam sistem bahan bakar bisa dipertahankan setiap waktu walaupun kondisi mesin berubahubah.

Gambar 2.17. Kontruksi Fuel Pump b. Fuel Injector Berfungsi untuk menyemprotkan bahan bakar ke saluran masuk (intake manifold). Volume penyemprotan disesuaikan oleh waktu pembukaan nozel/injector dan banyaknya penyemprotan diatur oleh ECM

(Elektronic/Engine Control Module) atau ECU (Electronic Control Unit). c. MAQS (Modulated Air Quantity Sensor) Berfungsi menganalisa jumlah udara yang masuk ke dalam intake manifold. Di dalamnya terdiri dari TPS (Throttle Position Sensor), IAPS (Intake Air Pressure Sensor) dan IATS (Intake Air Temperatur Sensor)

d. ISC (Indling Speed Sensor) Berfungsi menjaga keklangsaman selalu dalam kondisi ideal berada di 1600 rpm. Dan sistem kerjanya secara elektronik dan otomatis yang diatur oleh ECU. Terdapat sebuah katup di atur buka-tutupnya oleh sebuah plunger yang bergerak dengan bantuan stepping motor. e. O2 Sensor Berfungsi menjaga gas buang sisa pembakaran agar selalu ideal. Sensor akan melakukan perbandingan antara jumlah O2 dari sisa pembakaran dengan O2 udara luar, dan komponen O2 posisinya ada di lubang exhaust di kepala silinder/silinder head. f. Engine Temperatur Sensor Berfungsi memantau/memeriksa suhu mesin agar terjadi suplai bahan bakar sesuai dengan kondisi keadaan mesin. g. Lean Angle Sensor Berfungsi untuk mematikan mesin pada saat pengguna motor terjatuh/dalam keadaan terlalu miring. Tapi komponen ini tidak dipakai karena ada kekhawatiran saat terjatuh/terjadi kecelakaan, gas masih terus terbuka, dan komponen ini diganti dengan memasang bandul di ujung setang. Prinsip kerjanya adalah saat terjatuh/terjadi kecelakaan, selongsong gas akan tertahan untuk tidak berputar dan ini berhubungan dengan safety/keamanan.

h. Crank Angle Sensor Berfungsi untuk memberikan input timing pengapian berdasarkan posisi kruk as pada YMJET-FI. i. ECU Sistem ini adalah pusat/otak sistem injeksi dan pengapian pada YMJETFIJ yang sudah lebih cerdas dan canggih. Karena pada sistem ini sudah menggunakan memori internal dengan kapasitas memori 2GB, dimana dengan memori 2GB, memori ini bisa menyimpan semua kerusakan dan tindakan apa saja yang harus dilakukan setiap ada masalah. h. Cara Kerja Sistem Injeksi Sistem EFI atau YMHJET-FI (istilah pada Yamaha) dirancang agar bisa melakukan penyemprotan bahan bakar yang jumlah dan waktunya ditentukan berdasarkan informasi dari sensor-sensor. Pengaturan koreksi perbandingan bahan bakar dan udara sangat penting dilakukan agar mesin bisa tetap beroperasi/bekerja dengan sempurna pada berbagai kondisi kerjanya. Oleh karena itu, keberadaan sensor-sensor yang memberikan informasi akurat tentang kondisi mesin saat itu sangat menentukan unjuk kerja (performance) suatu mesin. Semakin lengkap sensor, maka pendeteksian kondisi mesin dari berbagai karakter (suhu, tekanan, putaran, kandungan gas, getaran mesin dan sebagainya) menjadi lebih baik. Informasi-informasi tersebut sangat bermanfaat bagi ECU untuk diolah guna memberikan perintah yang tepat kepada injektor, sistem pengapian, pompa bahan bakar dan sebagainya.

Saat Penginjeksian (Injection Timing) dan Lamanya Penginjeksian. Terdapat beberapa tipe penginjeksian (penyemprotan) dalam sistem EFI motor bensin (khususnya yang mempunyai jumlah silinder dua atau lebih), diantaranya tipe injeksi serentak (simoultaneous injection) dan tipe injeksi terpisah (independent injection). Tipe injeksi serentak yaitu saat penginjeksian terjadi secara bersamaan, sedangkan tipe injeksi terpisah yaitu saat penginjeksian setiap injektor berbeda antara satu dengan yang lainnya, biasanya sesuai dengan urutan pengapian atau firing order (FO). Dimana sistem cara kerja Yamaha Mixture JET-Fuel Injection (YMJET-FI) sangat sederhana. Sistem ECU (Engine Control Unit) menerima informasi terkait RPM mesin. ECU memberi sinyal kepada sistem Yamaha Mixture JET-Fuel Injection untuk memberikan suplai udara melalui Air Assist atau Main Air Passage, tergantung dari RPM mesin dan tanpa mengurangi out put mesin. i. Parameter Prestasi Mesin Pada motor bakar torak, daya yang berguna adalah daya poros, karena daya poros itulah yang menggerakan beban. Daya poros dibangkitkan oleh daya indikator yang merupakan daya gas pembakaran yang menggerakan torak. Unjuk kerja motor bakar tergantung dari daya poros yang dapat ditimbulkan. Unjuk kerja ini biasanya dinyatakan dalam daya kuda (PS) atau KW persatuan isi langkah. Isi langkah Vi= penampang silinder x langkah (m3)

.....(1)

a. Volume Silinder Volume silinder antara TMA dan TMB disebut volume langkah torak (V1). Sedangkan volume antara TMA dan kepala silinder (tutup silinder) disebut volume sisa (Vs). Volume total (Vt) ialah isi ruang antara torak ketika berada di TMB sampai tutup silinder. Vt=V1+Vs .....(2)

Volume langkah mempunyai satuan yang tergantung pada satuan diameter silinder (D) dan panjang langkah torak (L) biasanya mempunyai satuan centimeter cubic (cc) atau cubic inch (cu.in). V1 = luas lingkaran x panjang langkah V1 = r2xL .....(3) .....(4)

.....(5) Dengan demikian besaran dan ukuran motor bakar menurut volume silinder tergantung dari banyaknya silinder yang digunakan dan besarnya volume silinder (Kiyuku & Murdhana 1998). b. Daya Mesin Daya didefinisikan energi yang diproduksi tiap satuan waktu. Sedangkan energi sendiri didefinisikan sebagai gaya dikali jarak, sehingga satuan daya adalah adalah newton meter per detik (watt). Tetapi dalam satuan SI, satuan daya adalah HP (1 HP=746 watt).

Bila putaran konstan (n) berubah, maka motor pembakaran menghasilkan daya untuk mempercepat atau memperlambat bagian yang berputar. Motor pembakaran ini dihubungkan dengan dinamometer dengan maksud mendapatkan keluaran dari motor pembakaran dengan menghubungkan poros motor dengan poros dinamometer. Rotor diikatkan pada poros yang akan mengaduk air yang ada di dalam. Hambatan ini akan menimbulkan torsi (T), sehingga nilai daya (P) dapat ditentukan sebagai berikut :

(kW)

.....(6)

Dimana : P= daya (kW) N = putaran mesin (rpm) T = torsi (Nm) Torak yang didorong oleh gas membuat usaha. Baik tekanan atau suhu akan menjadi turun, waktu gas berekspansi. Energi panas diubah menjadi usaha mekanis. Konsumsi energi panas ditunjukkan langsung oleh turunnya suhu. Kalau toraknya tidak mendapatkan hambatan dan tidak menghasilkan usaha gas tidak berubah meskipun tekanannya turun. c. Torsi Torsi didefinisikan sebagai daya dibagi kecepatan putaran mesin maka dapat dipahami jika mesin menghasilkan torsi besar pada putaran menengah akan menghasilkan daya yang besar pula pada putaran tersebut. Secara teoritis rumus

untuk menghitung torsi adalah : T = m.g.l (Nm) Dimana : T = torsi (Nm) m = massa yang terukur pada dynamometer g = grafitasi bumi (9,81 m/s) l = panjang lengan dinamometer (m) d. Besar Penggunaan Bahan Bakar Besar pemakaian bahan bakar spesifik (SFC) ditentukan dalam g/PSh atau g/kWh. Penggunaan bahan bakar dalam gram per jam dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut : SFC= Dimana : SFC = konsumsi bahan bakar spesifik (kg/kWh) P = daya mesin (kW) Mf = penggunaan bahan bakar per jam pada kondisi tertentu Nilai mf didapat dari persamaan sebagai berikut : (kg/jam) .....(7)

.....(8) Dimana : b = volume buret yang digunakan dalam pengujian (cc)

t = waktu (detik) bb = massa jenis bahan bakar premium (0,73 g/cm3) dan pertamax (0,715 g/cm3) e. Tekanan efektif rata-rata Nilai BMEP adalah merupakan tekanan efektif rata-rata (brake mean effective pressure) yang dihasilkan oleh mesin persiklus di dalam silinder saat mendorong torak sepanjang langkahnya untuk dapat menghasilkan kerja. Besar nilai BMEP dapat dirumuskan sebagai berikut : BMEP = Dimana : BMEP = Tekanan efektif rata-rata (kpa) P = daya (kW) N = putaran mesin (rpm) n = jumlah putaran engkol (2 untuk siklus 4 langkah, 1 untuk siklus 2 langkah) V=volume langkah total silinder (cm3) .....(9)