Anda di halaman 1dari 22

METODE PELAKSANAAN

Nama Paket : Pemeliharaan Berkala Jalan P. Siantar Tanah Jawa di Kab. Simalungun Nama Peserta Lelang : PT. Bangun Mitra Abadi

A.

PENDAHULUAN

Berikut ini kami berusaha menjelaskan seluruh pendekatan Metode Pelaksanaan yang digunakan dalam penawaran pelelangan pekerjaan berikut rincian waktu pelaksanaan masing-masing item pekerjaan (penjadwalan). Secara umum metodologi ini dimaksudkan sebagai acuan dalam menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan pekerjaan. Dengan adanya acuan ini kami optimis seluruh aspek pekerjaan dapat kami laksanakan dengan sebaik-baiknya secara lebih efisien dan efektif dengan tetap menjaga mutu tentunya. Dalam kaitan dengan usaha untuk mendapatkan hasil akhir pelaksanaan pekerjaan fisik yang sesuai dengan tuntutan dalam dokumen kontrak, maka perusahaan ini juga akan berpegang teguh pada prinsip-prinsip pelaksanaan konstruksi yang dianut termasuk pedoman-pedoman yang ada dan telah ditetapkan oleh Direksi Pemberi Kerja maupun yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah serta akan selalu berkoordinasi dengan pihak yang terkait dengan pekerjaan ini seperti Direksi Pemberi & Pengawas Pekerjaan. Oleh karena itu, pemahaman personil kami mengenai tugas dan tanggung jawabnya, baik dalam lingkup pelaksanaan proyek secara keseluruhan maupun dalam lingkup detail pada setiap bagian pekerjaan merupakan suatu hal yang bersifat mutlak dan tidak diragukan lagi urgensinya. A.1 GAGASAN PEDOMAN PELAKSANAAN Pemahaman mengenai Pedoman Pelaksanaan merupakan bekal bagi personil pelaksana di lapangan agar dapat bertindak sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Sasaran pelaksanaan proyek hanya akan tercapai sepenuhnya apabila semua pihak yang terkait memahami dan melaksanakan sepenuhnya Pedoman Pelaksanaan dan Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan dengan benar. Adapun pedoman pelaksanaan kami pada pelelangan pekerjaan ini tugas utamanya yaitu untuk mencapai 4 ketepatan sebagaimana diuraikan berikut ini.

1. Ketepatan Mutu 2. Ketepatan Waktu

3. Ketepatan Biaya 4. Ketepatan Administrasi

1. Ketepatan Mutu Mutu hasil pelaksanaan pekerjaan harus sesuai dengan tuntutan mutu yang tercantum dalam dokumen kontrak (bestek) pada bagian Spesifikasi Umum dan Spesifikasi Khusus. Mutu hasil akhir pelaksanaan pekerjaan kami yakin sangat tergantung kepada : Mutu bahan atau material yang dipakai Metode atau cara pelaksanaan pekerjaan Dengan demikian perlu dipahami bahwa material dengan mutu yang baik tidaklah cukup untuk mendapatkan hasil akhir yang baik, ini harus diikuti dengan cara pelaksanaan pekerjaan yang benar. Kedua hal tersebut merupakan satu kesatuan yagn tidak terpisahkan. Pencapaian Tepat Mutu harus dipandang sebagai suatu tantangan professional. Kegagalan atau ketidak-tepatan mutu pelaksanaan pekerjaaan harus dihindari karena hal tersebut merupakan cermin dari kegagalan kontraktor dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Pendekatan dan Metode pengendalian mutu yang akan digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan fisik adalah menggunakan cara-cara sbb : PENGUJIAN BAHAN ; yang mempunyai 3 (tiga) tahapan yakni o o o o o o o o o o Bahan Baku Bahan Olahan Bahan Jadi

QUANTITY & QUALITY ; yang mempunyai 2 (dua) kriteria yakni Dimensi Kualitas

PENGUJIAN MODEL ; pengujian yang mempunyai 5 (lima) hal yakni Jenis Pemeriksaan Metode Pemeriksaan Frekwensi Pemeriksaan Spesifikasi Toleransi Hasil Pekerjaan

Prosedur pengendalian mutu meliputi pengendalian mutu bahan dasar, bahan olahan dan bahan jadi adalah sebagai berikut :

a)

24 jam sebelum melaksanakan pengujian bahan olahan dan bahan jadi, Kontraktor mengajukan request permohonan pengetesan.

b)

Bersama-sama dengan Konsultan Pengawas Teknik dan staff Pemberi Tugas mengecek kesiapan Kontraktor mengenai : Peralatan untuk pengujian di laboratorium dan lapangan Material (jumlah material, jenis material dan rancangan JMF)

c)

Kontraktor akan melengkapi kekurangan persyaratan yang diminta oleh Konsultan Pengawas Teknik apabila terdapat kekurangan atau sebagai persyaratan terhadap Konsultan Pengawas Teknik untuk

merekomendasikan/persetujuan pengujian. d) Persetujuan dari Pemberi Tugas mengenai pengetesan setelah ada rekomendasi dari Konsultan Pengawas Teknik e) Request pengujian bahan olahan dan bahan jadi ditutup dengan Verifikasi

2. Ketepatan Waktu Waktu pelaksanaan pekerjaan disesuaikan dengan kondisi kami saat ini kami tawarkan selama 150 hari kalender dan rentang waktu ini masih bisa lebih cepat karena kami telah mendapat dukungan AMP tidak jauh dari lokasi pekerjaan. Keterlambatan penyelesaian proyek akan menimbulkan permasalahan

berkelanjutan. Selain itu, keterlambatan penyelesaian proyek secara langsung akan merugikan masyarakat, karena fasilitas prasarana yang dibangun/perbaiki menjadi terlambat pemanfaatannya, di samping memang kerugian bagi kontraktor itu sendiri karena cost operasional terutama yang bersifat rental tentu akan membengkak.

3. Ketepatan Biaya Pengertian dari tepat biaya adalah hasil pelaksanaan sesuai dengan biaya yang telah direncanakan dalam Bill Of Quantity, atau dengan jumlah biaya yang telah dibayarkan didapat hasil pelaksanaan yang optimal menurut perhitungan RAP (Rencana Anggaran Pelaksanaan). Tepat biaya ini berkaitan erat dengan : Kuantitas hasil pelaksanaan Dimensi atau ukuran suatu bagian pekerjaan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat sesuai dimensi atau ukuran yang diajukan dalam pembayaran Kelayakan Teknis

Tidak ada item pekerjaan atau bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan dan dibayarkan yang secara teknis tidak bisa diterima kelayakannya atau urgensinya (untuk dilaksanakan). Dalam hal ini penting untuk dipahami bahwa semua bagian pekerjaan akan dilaksanakan berdasarkan kajian terhadap kebenaran perhitungan teknis dan asas manfaatnya serta menghindari pekerjaan 2x (pek. ulang atau perbaikan) yang biayanya memboroskan.

4. Ketepatan Administrasi Administrasi pelaksanaan pekerjaan merupakan bagian penting yang tidak bisa diabaikan. Administrasi ini sebagai rekaman atau catatan pelaksanaan proyek yang sekaligus sebagai alat untuk membuktikan bahwa pelaksanaan pekerjaan telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Pembuktian itu diperlukan baik bagi kalangan intern (dalam organisasi pelaksanaan) maupun bagi pihak lain yang terkait atau yang memerlukannya (Inspektorat dan Tim Pemeriksa lainnya). Tertib administrasi dimaksud akan meliputi sebagai berikut : Administrasi pelaksanaan yang menyangkut pelaksanaan pekerjaan fisik harian, mingguan, bulanan dan pelaksanaan kegiatan pengujian baik di lapangan maupun di laboratorium. Administrasi pembayaran, sebagai cash flow perusahaan Administrasi pelaksanaan lainnya seperti surat menyurat, surat perintah perubahan pekerjaan, justifikasi teknik, Berita Acara Percobaan Lapangan, Rekomendasi dari Owner/Konsultan, Instruksi dari Owner/konsultan kepada kontraktor dan lain-lain seperti ketentuan yang ada dalam dokumen kontrak. A.2 RUANG LINGKUP PEKERJAAN (PROYEK) Sesuai dengan yang tertuang dalam Dokumen lelang, kami sebagai kontraktor akan menyediakan tenaga kerja, bahan dan peralatan untuk menyelesaikan pekerjaan, yang terdiri dari pekerjaan persiapan atau sementara, pekerjan utama dan pekerjaan finishing. Untuk semua pekerjaan tersebut kami akan selalu mengacu kepada b.o.q pada Dokumen Lelang dan Spesifikasi Teknik atau Instruksi dan Petunjuk Direksi Pekerjaan.

Adapun jenis pekerjaan sebagai ruang lingkup proyek yang akan dilaksanakan sesuai dengan Dokumen Lelang sesuai dengan urutan mata pembayaran adalah sbb : 1.2 M O B I L I S A S I Baik alat maupun personil bisa kami datangkan apakah dari base camp kami yang lain seperti dari Kutacane ataupun Takengon, kami akan pelajari terhadap segala kemungkinan termasuk kemungkinan pembelian alat baru khusus untuk pekerjaan dimaksud (apabila diperlukan). Photo Dokumentasi (3 phase) a. Sebelum pekerjaan dimulai terlebih dahulu harus dilakukan

pengambilan gambar atau photo untuk dokumentasi. Ini dimaksudkan agar kita mempunyai informasi tentang kondisi awal dari pekerjaan yang akan kita laksanakan. Pengambilan photo untuk dokumentasi ini akan digunakan sebagai Photo Dokumentasi 0%. Setiap titik pengambilan photo harus diberi nama sesuai dengan lokasinya. b. Apabila pelaksanaan pekerjaan telah dimulai dari staf teknik harus terus mengikuti perkembangan penyelesaian perkerjaan. Setelah penyelesaian pekerjaan sudah mencapai setengah dari saat kondisi awal dilakukan pengambilan gambar atau photo untuk dokumentasi. Ini dimaksudkan agar kita mempunyai informasi tentang kondisi pencapaian pelaksanaan pekerjaan yang telah kita laksanakan. Pengambailan photo untuk dokumentasi ini akan kita gunakan sebagai Photo Dokumentasi 50%. Setiap titik pengambilan photo harus diberi nama sesuai dangan lokasinya. c. Dan selanjutnya apabila pelaksanaan pekerjaan telah selesai maka dilakukan pengecekan bersama antara Staf Teknik, Pelaksana dan Pengawas Pekerjaan. Dan setelah dilakukan pengecekan dan pekerjaan sudah diterima dilakukan pengambilan gambar atau photo untuk dokumentasi. Ini dimaksudkan agar kita mempunyai informasi tentang gunakan penyelesaian sebagai pelaksanaan pekerjaan yang telah Setiap kita titik

laksanakan. Pengambilan photo untuk dokumentasi ini akan kita Photo Dokumentasi 100%.

pengambilan photo harus diberi nama sesuai dengan lokasinya.

Pekerjaan Pengukuran (Memanjang dan Melintang)

Setelah lokasi pekejaan siap dan bersih dari segala barang/benda yang menghalangi pandangan pengukuran, maka selanjutnya kami akan melaksanakan pekerjaan pengukuran topografi (memanjang dan

melintang) termasuk untuk keperluan shop dan as built drawing. Pertamatama kami memasang patok pada tempat yang akan diukur baik untuk semua lokasi pekerjaan. Setelah selesai memasang patok dilanjutkan dengan pengukuran yaitu : a. Pengukuran poligon untuk jalur trace dan menentukan R (jari-jari lengkung) pada belokan. b. Pengukuran Water Pass untuk elevasi Vertikal dan Profil memanjang c. Pengukuran situasi / lay out d. Data pengukuran akan kami serahkan kepada Direksi untuk diperiksa, setelah selesai diperiksa dan hasil pengukuran masuk pada toleransi yang telah ditentukan maka kami lanjutkan pada pemrosesan data. e. Setelah selesai proses data ukur dan diperiksa oleh Direksi dan konsultan, kami lanjutkan dengan penggambaran. f. Penggambaran untuk gambar kerja (shop drawing) akan

menggunakan skala sesuai dengan ketentuan atau petunjuk dari Direksi.

Pembuatan Shop Drawing (Gambar Kerja) Setiap akan melakukan setiap item pekerjaan terlebih dahulu kontraktor membuat Shop Drawing (Gambar Kerja) yang mengacu kepada Gambar Design yang telah ada dan berdasarkan keadaan di lapangan dari hasil pengukuaran dan pemeriksaan yang telah dilakukan bersama antara Kontraktor dan Pengawas Lapangan. Setelah Shop Drawing selesai dibuat, kemuadian diajukan kepada Direksi dan Konsultan u ntuk mendapat persetujuan dan selanjutnya diperbanyak sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan akan didistribusikan kepada yang

berkepentingan selain itu juga satu berkas disimpan sebagai arsip. Untuk selanjutnya Shop Drawing tesebut akan menjadi acuan dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan, diperjelas juga dengan skematis ini :

GAMBAR RENCANA/ SPEC

PEMBUATAN SHOP DRAWING

SURVAI KONDISI LAPANGAN

PENGAJUAN SHOP DRAWING

TIDAK PEMBERI TUGAS REVISI

YA SHOP DRAWING DASAR PELAKSANAAN

PENGAJUAN MATERIAL

UJI MATERIAL

PEMBERI TUGAS

TIDAK GANTI MATERIAL

YA PELAKSANAAN PEKERJAAN

AS BUILT DRAWING

Pembuatan Kantor Lapangan dan Fasilitas Proyek Kantor lapangan dan Fasilitas proyek yang harus disediakan antara lain : a. Direksi keet dan kelengkapannya sesuai dengan ketentuan dalam dokumen kontrak b. Barak kerja untuk tenaga pekerja c. Gudang tempat penyimpanan bahan dan alat d. Ruangan Lab untuk pengujian e. Air bersih untuk kebutuhan sehari-hari f. Penerangan listrik dengan menggunakan daya PLN atau Genset sendiri g. Persiapan kotak obat-obatan untuk P3K h. Alat-alat kerja atau alat bantu di lapangan. i. Papan Informasi Pekerjaan, yang menjelaskan sebanyak mungkin data proyek yang dikerjakan

Pengajuan dan Pengujian Material Pengujian laboratorium sangan penting, karena akan menyangkut mutu pekerjaan nantinya. Untuk pengujian material dan hasil pekerjaan, kontraktor akan mengacu pada standar mutu yang telah ditetapkan dalam spesifikasi teknis. Istilah agregat mencakup antara lain batu bulat, batu pecah, abu batu, dan pasir. Efesiensi dan efektivitas produksi agregat untuk campuran beraspal (material aspal) ditentukan oleh pengaturan dan pengawasan yang dilakukan pada unit pemecah batu (Stone Crusher/SC). Sebelum masuk ke unit pemecah batu (stone crusher) bahan baku batuan harus sudah memenuhi persyaratan kekerasan dan keawetan. Demikian juga setelah keluar dari unit produksi, harus memenuhi persyaratan sifat fisik yang ditentukan dalam spesifikasi. 2.1(1) GALIAN UNTUK DRAINASE, SELOKAN DAN SALURAN AIR

1. Excavation for drainage ditches and waterways

2. - First excavation would be used Excavator - Dump Truck would be used to bring the excavation material to disposal area Excavation Direction

Existing Pavement

3. Orderly last excavation would be executed by manual

Existing Pavement

Penggalian, penimbunan dan pemangkasan harus dilakukan sebagaimana yang diperlukan untuk membentuk selokan baru atau lama sehingga memenuhi kelandaian yang ditunjukkan pada gambar pelaksanaan. Untuk galian drainase, pada umumnya digunakan excavator untuk dimensi saluran yang memungkinkan dikerjakan oleh bucket excavator dengan tujuan tidak banyak material tanah asli yang terbuang dan waktu lebih cepat dibandingkan cara manual. Hasil galian akan dimuat oleh alat excavator itu juga untuk dibuang ke suatu tempat tertentu yang diizinkan ataupun

dikumpulkan ke suatu tempat apabila bisa dipergunakan sewaktu-waktu sebagai timbunan. Hasil bentukan penampang galian ini kemudian akan dirapikan menurut dimensi pada gambar proyek dimana kemiringan dasar/lantai saluran dibuat sedemikian rupa dengan alat bantu agar air buangan bisa teralirkan dengan baik dan lancar. Di samping itu, selama melaksanakan penggalian drainase, kami tetap mengindahkan K3 dengan melengkapi pekerja dan operator dengan APD (Alat Pelindung Diri) seperti helmet, sepatu, dll termasuk rambu-rambu penggalian.

Pek. Mendahului Mobilisasi, Pek. Div.8

Galian Drainase (paling lama 6 mgg)

Pek. Berikutnya Psg Bt Mortar

2.2(1) PASANGAN BATU DENGAN MORTAR Pekerjaan ini dilaksanakan dengan alat (mekanik) yakni concrete mixer dan material yang diperlukan di antaranya adalah pasir, batu, semen dan air. Oleh karena kami memiliki Stone Crusher (SC) dan izin quary untuk pengambilan material sungai, maka kebutuhan atau suplai pasir dan batu bisa didatangkan sendiri tanpa harus menunggu pembelian dari pihak sehingga sedikit banyaknya pekerjaan ini tidak tergantung kepada pihak lain (kecuali semen) dan dapat dipercepat bila lokasi dan ukuran pemasangan pasangan batu ini sudah diketahui dengan jelas. Pekerjaan ini bisa dilakukan di awal proyek dan bisa pula di akhir proyek karena tidak akan berakibat apapun (secara significant) terhadap pembangunan terutama pengasapalan badan jalan. Material pasir dan semen dimasukkan bisa dengan menggunakan tenaga manual dengan alat bantu seperti sekop/cangkul ataupun ember cor dan selanjutnya dicampur dengan menggunakan concrete mixer (molen) kapasitas + 0,2 - 0,3 m3. sebelum dijadikan pasta untuk perletakan dan pemasangan batu, adukan harus benar-benar rata dan kadar air yang digunakan harus dengan komposisi yang tepat (factor air-semen). Sebelum diberikan sentuhan pasta semen pasir, permukaan batu dibersihkan terlebih dahulu lalu kemudian dipasang sepanjang saluran atau drainase yang telah tergali. Material seperti semen, pasir, dan batu penempatannya diatur sedemikian rupa agar tumpukan material bisa disesuaikan secara seimbang dengan kebutuhan pemasangan pasangan batu dan tidak banyak material yang akan

terbuang atau kelebihan. Material ini diangkat/dikirim oleh truk colt diesel dan bebannya disesuaikan agar jangan sampai mengganggu badan jalan yang sudah terbentuk apalagi bila sudah teraspal. Campuran semen dan air yang akan menentukan mutu ikatan pasta pasangan batu selain harus mengikuti spesifikasi yang ada juga akan mendengarkan petunjuk pengawas/direksi lapangan. Masalah jumlah pekerja/tukang untuk pek. pasangan batu ini akan ditentukan kemudian bilamana hasil rekayasa lapangan telah keluar sehingga sejumlah grup yang akan dibentuk nantinya memberikan hasil yang efisien namun cepat/tepat waktu.

Pek. Mendahului Galian Drainase, bouwplank

Pas. Batu dgn Mortar (8 Minggu)

Pek. Berikutnya Timbunan Biasa

Apabila terjadi hujan terus menerus yang mengakibatkan air selalu tergenang di penampang saluran mortar, maka ditempuh solusi dengan 2 cara yakni pembuatan (dewatering). Pada prinsipnya, pembuatan saluran pengelak adalah merelokasi saluran air yang akan dipasang mortar dengan tetap mempertahankan kelandaian dasar saluran lama sehingga tidak menyebabkan terjadinya penggerusan baik pada bangunan sekitarnya maupun hasil pekerjaan yang lain. Dalam hal dewatering, kami akan melakukan pemompaan/pengisapan air dengan pompa air terhadap lokasi genangan dan bila dimungkinkan membuangnya menggunakan water tank truk agar kapasitas yang diangkut lebih banyak. Selain itu bisa ditempuh dengan cara estafet dari satu bak penampungan ke penampungan lain sehingga memungkinkan suatu areal bisa kering dengan cepat.
2.3(4) GORONG GORONG PIPA BETON BERTULANG, DIAMETER DALAM 95 105 CM

saluran

pengelak

dan

pengeringan

tempat

pekerjaan

Kami mengupayakan sedapat mungkin mengerjakan pemasangan pipa beton ini (gorong-gorong) setelah mengetahui titik mana saja yang akan dipasang sesuai volume Rekayasa Lapangan, sebelum pekerjaan timbunan ataupun lapis pondasi agregat dimulai agar badan jalan yang terbentuk nantinya (setelah terpasang gorong-gorong) tidak dibongkar lagi.

Gorong-gorong ini akan kami beli langsung dari produsennya dengan tebal gorong-gorong serta diameter yang tercantum dalam Bill of Quantity ataupun dan mutu beton serta tulangannya sesuai dengan yang disyaratkan di dalam Spesifikasi. Pengangkutan pipa/gorong-gorong ini bisa dilakukan dengan pick up ataupun mobil truk Colt Diesel tergantung kebutuhannya nanti. Saat pertama pelaksanaan, titik/lokasi pemasangan pipa akan digali menggunakan excavator dan bila pipa/gorong-gorong eksisting masih ada maka akan dibuang karena mungkin sudah tidak layak dipakai lagi. Dasar gorong-gorong akan dipadatkan dengan Tamper untuk memberikan landasan yang cukup kuat dan kemudian diberi lapisan pasir dengan ketebalan seperti tersebut dalam Dokumen Spesifikasi. Seluruh pelaksanaan (kecuali

penggalian) dilakukan secara manual dan sekelompok pekerja akan merapikan kembali permukaan atas gorong-gorong yang telah terpasang.

Pek. Mendahului Pas. Batu dgn mortar, Galian

Gorong-gorong

Pek. Berikutnya Timbunan, Perkerasan

ikan dalam jangka waktu 13 hari. Oleh karena pada saat penggalian gorong-gorong melintang terhadap lebar jalan, maka untuk mengatur lalu lintas agar kendaraan proyek bisa lalu lalang, maka kami merencanakan penggalian ruas gorong-gorong setengah lebar jalan dimana bila pekerjaan telah selesai dilanjutkan pada ruas setengahnya lagi. Setiap perlintasan kendaraan akan kami evaluasi bahwa timbunan kembali ruas gorong-gorong harus benar-benar padat sehingga bisa melindungi gorong-gorong dari beban langsung as kendaraan. 3.1(1a). GALIAN BIASA. 1. Pekerjaan ini dilakukan untuk menggali tanah ataupun tebing yang tidak berbatu. 2. Galian ini dilakukan untuk mempersiapkan pondasi dari satu struktur atau bisa juga untuk mempersiapkan pondasi jalan dan memotong tebing tidak berbatu untuk rencana perluasan jalan. 3. Pekerjaan ini dilakukan dengan cara mekanis (menggunakan excavator). 4. Dalam penggalian tanah tersebut harus kita kontrol kedalaman galian tersebut dengan alat ukur dengan ketelitian yang akurat.

5. Tanah bekas galian kemudian dibuang keluar lokasi pekerjaan, agar lalu lintas tidak terganggu. 6. Kemudian kita ukur kedalaman/dimensi galian tersebut sesuai dengan gambar atau petunjuk direksi. Pekerjaan Galian biasa seperti halnya pekerjaan Galian Selokan Drainase, menggunakan excavator dalam pelaksanaannya.

3.1(7) GALIAN PERMUKAAN BERASPAL TANPA COLD MILLING MACHINE

Penggalian dilaksanakan pada perkerasan aspal lama yang ditentukan. Pekerjaan galian dilaksanakan dengan Compressor , Jack Hammer , material hasil galian dimuat ke dalam Dump Truck untuk dibuang keluar lokasi pekerjaan . Peralatan yang dipergunakan : - Compressor - Jack Hammer - Motor Grader - Dump Truck - Alat Bantu

4.2(2B) LAPIS PONDASI AGREGAT KELAS S

Lapis Podasi Agregat Klas S merupakan perkerasan untuk bahu jalan, bahan yang digunakan agregat kasar, agregat halus serta sirtu. Penanganan pekerjaan sebagai berikut, Whell Loader memuat ke dalam Dump Truck bahan material agregat klas S, Dump Truck mengangkut ke lokasi pekerjaan, bahan material agregat klas S dihampar dengan tebal jadi 15 cm dengan menggunakan Motor Grader selanjutnya disiram dengan Water Tanker kemudian dipadatkan dengan menggunakan Vibratory Roller dan Pneumatic Tyre Roller, selama pemadatan Water Tanker tetap memberikan penyiraman air sesuai dengan kebutuhan kadar air maksimum. Apabila dalam pelaksanaan pada badan jalan akan mengganggu pengguna jalan, maka pelaksanaannya dilakukan setengah dari lebar badan jalan tersebut, sekelompok pekerja merapikan hasil hasil timbunan agregat klas C dengan menggunakan alat bantu.Waktu yang

Pek. Mendahului Timbunan Biasa,Pilihan, Aspal

Lapis Pondasi S

Pek. Berikutnya

Kelas S :
1. Transporting Base B aggregate material by dump truck. Dump Truck 2. Dumping material from dump truck.

Ditch Drainage

Ditch Drainage Flagman

1.50

SHOULDER Flagman Traffic

1.50

SHOULDER

Traffic

5.00 ~ 7.50

C L

5.00 ~ 7.50

C L

Traffic

Traffic

1.50

SHOULDER

1.50

SHOULDER

Ditch Drainage TOP VIEW TOP VIEW

Ditch Drainage

DIVISI 5

PERKERASAN BERBUTIR

Pekerjaan ini mencakup penambahan lebar perkerasan lama sampai lebar jalur lalu lintas yang diperlukan dalam design, pekerjaan mencakup penggalian dan pembuangan bahan yang ada, penyiapan tanah dasar, dan penghamparan dengan menggunakan motor grader serta pemadatan bahan dengan menggunakan tandem roller dan pnematic tire roller, pekerjaan ini harus selesai sebelum pelaksanaan dari pelapisan perata. Pelebaran perkerasan harus dilaksanakan sesuai dengan gambar, penentuan pelebaran perkerasan apakah satu sisi maupun dua sisi harus dilakukan dengan mempertimbangkan Ruang milik Jalan yang tersedia. Bilamana alinyemen jalan lama tidak memenuhi ketentuan minimum dari fungsi jalan tersebut, maka pelebaran dilaksanakan dengan perbaikan alinyemen sedemikian hingga sumbu jalan menjadi lebih lurus dan lengkung pada tikungan maupun pada puncak tanjakan dapat dikurangi. Pada permukaan semua Lapis Pondasi Agregat tidak boleh terdapat ketidakrataan yang dapat menampung air dan semua punggung (camber) permukaan itu harus sesuai dengan yang ditunjukkan dalam Gambar. Tebal total minimum Lapis Pondasi Agregat tidak boleh kurang satu sentimeter dari tebal yang disyaratkan.

5.1(1). LAPIS PONDASI AGREGAT KELAS A

Tebal minimum Lapis Pondasi Agregat Kelas A tidak boleh kurang satu sentimeter dari tebal yang disyaratkan. Pada permukaan Lapis Pondasi Agregat Kelas A yang disiapkan untuk lapisan resap pengikat atau pelaburan permukaan, bilamana semua bahan yang terlepas harus dibuang dengan sikat yang keras, maka penyimpangan maksimum pada kerataan permukaan yang diukur dengan mistar lurus sepanjang 3 m, diletakkan sejajar atau melintang sumbu jalan, maksimum satu sentimeter Agregat kasar yang tertahan pada ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel atau pecahan batu atau kerikil yang keras dan awet. Bahan yang pecah bila berulangulang dibasahi dan dikeringkan tidak boleh digunakan. Bilamana agregat kasar berasal dari kerikil maka untuk Lapis Pondasi Agregat Kelas A mempunyai 100 % berat agregat kasar dengan angularitas 95/90. 95/90 menunjukkan bahwa 95% agregat kasar mempunyai muka bidang pecah satu atau lebih dan 90% agregat kasar mempunyai muka bidang pecah dua atau lebih. Agregat halus yang lolos ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel pasir alami atau batu pecah halus dan partikel halus lainnya. Fraksi bahan yang lolos ayakan No.200 tidak boleh melampaui dua per tiga fraksi bahan yang lolos ayakan No.40. Seluruh Lapis Pondasi Agregat harus bebas dari bahan organik dan gumpalan lempung atau bahan-bahan lain yang tidak dikehendaki dan setelah dipadatkan harus memenuhi ketentuan gradasi (menggunakan pengayakan secara basah) DIVISI 6 PERKERASAN ASPAL Bahan hotmix yang utama selain aspal adalah batu pecah yang dihasilkan dari Stone Crusher. Adapun urutan pemecah batu yang biasa dipakai pada Stone Crusher untuk memproduksi agregat adalah sebagai berikut : a) Pemecah primer : digunakan pemecah batu jenis jaw, gyratory atau hammer mill b) Pemecah sekunder : digunakan pemecah batu jenis konus, roll atau hammer mill c) Pemecah tersier : digunakan pemecah batu jenis roll, rod mill atau ball mill.

Pemilihan peralatan pemecah batu di atas harus mempertimbangkan hal-hal berikut ini untuk mendapatkan hasil produksi yang optimal. - Jenis batuan yang akan dipecah - Ukuran batu yang akan dipecah - Ukuran dan bentuk agregat yang diperlukan Pengujian Agregat Gradasi agregat adalah pembagian ukuran butiran yang dinyatakan dalam persen dari berat total. Tujuan utama pekerjaan analisa ukuran butir agregat adalah untuk pengontrolan gradasi agar diperoleh konstruksi campuran yang bermutu tinggi.

Gradasi ditentukan dengan melakukan penyaringan terhadap contoh bahan melalui sejumlah saringan yang tersusun sedemikian rupa dari ukuran besar hingga kecil; bahan yang tertinggal dalam tiap saringan kemudian ditimbang.

6.1.(1a) Lapis Resap Pengikat-Aspal Cair Pekerjaan ini mecakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada permukaan yang telah disiapkan sebelumnya. Lapis resap pengikat digunakan diatas permukaan jalan yang tidak beraspal seperti Lapisan Pondasi Aggregat. Lapis Resap Pengikat disemprotkan dengan peralatan asphalt sprayer diatas permukaan aggregate yang benar-benar kering dan tidak dilaksanakan pada waktu angin kencang,turun hujan atau akan turun hujan. Bahan yang digunakan antara lain adalah Aspal Penetrasi 60/70 atau 80/100 atau Aspal Emulsi Medium setting / Slow setting yang memiliki tingkat peresapan paling baik sesuai kondisi lapangan. Contoh aspal terlebih dahulu disampaikan kepada Direksi Teknik untuk dilakukan pengujian jenis dan mutu bahan. Sebelum bahan Lapis Resap Pengikat digunakan, maka permukaan jalan terlebih dahulu dibersihkan dengan Compressor agar semua pertikel yang tidak berguna atau batuan yang terlepas tidak berada diatas hamparan aggregat yang akan disemprot. Selanjutnya penyemprotan dilakukan dengan menggunakan asphalt sprayer yang ditarik kenderaan roda karet. Alat penyemprot dilengkapi dengan batang semprot sehingga dapat mensirkulasikan aspal secara penuh kearah horizontal maupun vertical. Bila digunakan alat penyemprot aspal tangan (hand sprayer) maka akan dilengkapi dengan tangki aspal dengan alat pemanas, pompa

yang dapat memberi tekanan kedalam tangki aspal agar aspal tersemprot keluar dan batang semprot yang dilengkapi dengan nozel. Penyemprotan dilaksanakan oleh operator yang terampil. Percobaan lapangan dengan disaksikan oleh Direksi Teknik atau wakilnya dilakukan untuk mendapatkan takaran yang tepat yaitu dalam batasan 0,40 sampai 1,30 liter / m2 (diatas lapisan aggregate). Lintasan penyemprotan dilaksanakan dengan mengambil lebar badan jalan, disemprot secara merata sampai selesai. Penggunaan aspal setiap lintasan dicatat / dihitung apakah telah sesuai dengan ketentuan spesifikasi. Setelah penyemprotan selesai lalulintas tidak izinkan lewat sampai bahan aspal meresap dan mengering atau minimal selama 4 jam.

6.1.(2a) Lapis Perekat-Aspal Cair Pekerjaan ini mecakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada permukaan yang telah disiapkan sebelumnya. Lapis Perekat digunakan diatas permukaan jalan yang telah beraspal. Lapis Perekat disemprotkan dengan peralatan asphalt sprayer diatas permukaan lapis pondasi aggregate yang benarbenar kering dan tidak dilaksanakan pada waktu angin kencang,turun hujan atau akan turun hujan. Bahan yang digunakan antara lain adalah Aspal Penetrasi 60/70 atau 80/100 atau Aspal Emulsi Medium setting / Slow setting yang memiliki tingkat peresapan paling baik sesuai kondisi lapangan. Contoh aspal terlebih dahulu disampaikan kepada Direksi Teknik untuk dilakukan pengujian jenis dan mutu bahan. Sebelum bahan Lapis Perekat digunakan, maka permukaan jalan terlebih dahulu dibersihkan dengan Compressor agar semua pertikel yang tidak berguna tidak berada diatas aspal yang akan disemprot. Selanjutnya penyemprotan dilakukan dengan menggunakan asphalt sprayer yang ditarik kenderaan roda karet. Alat penyemprot dilengkapi dengan batang semprot sehingga dapat mensirkulasikan aspal secara penuh kearah horizontal maupun vertical. Bila digunakan alat

penyemprot aspal tangan (hand sprayer) maka akan dilengkapi dengan tangki aspal dengan alat pemanas, pompa yang dapat memberi tekanan kedalam tangki aspal agar aspal tersemprot keluar dan batang semprot yang dilengkapi dengan nozel. Penyemprotan dilaksanakan oleh operator yang terampil. Percobaan lapangan dengan disaksikan oleh Direksi Teknik atau wakilnya dilakukan untuk mendapatkan takaran yang tepat yaitu dalam batasan 0,15 l/m2 untuk permukaan

aspal baru dan 0,15 - 0,35 l/m2 diatas lapisan aspal lama yang permukaan nya telah terekpos cuaca. Lintasan penyemprotan dilaksanakan dengan mengambil lebar badan jalan, disemprot secara merata sampai selesai. Pengguna aspal setiap lintasan dicatat / dihitung apakah telah sesuai dengan ketentuan spesifikasi. Setelah penyemprotan selesai lalulintas tidak izinkan lewat sampai bahan aspal meresap dan mengering.

6.3.(5a) Laston Lapis Aus (AC-WC) (gradasi halus) Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapisan padat yang terdiri dari aggregate dan bahan aspal yang dicampur dipusat instalasi pencampur aspal, penghamparan dan pemadatan campuran diatas suatu pondasi permukaan jalan yang telah disiapkan. Produksi AC-WC dipusat instalasi pencampur aspal menggunakan bahan aggregate yang dihasilkan stone crusher dengan komposisi campuran sesuai rancangan dalam Job Mix Design. Bahan yang digunakan untuk campuran terdiri dari aggregate kasar , aggregate halus, bahan pengisi (filler) dengan tambahan semen, aspal dan bahan anti pengelupasan disediakan dalam jumlah yang cukup serta dari sumber bahan yang telah diseleksi sesuai rancangan campuran (JMD). Pada tahap awal produksi AC-WC akan dilakukan trial test dilapangan guna mendapatkan jumlah lintasan pemadat yang digunakan dalam pekerjaan test ini dilakukan diluar efektif. Dalam pelaksanaan penghamparan dilapangan kondisi cuaca harus dalam keadaan tidak turun hujan dan lapangan pekerjaan dalam kondisi kering. Pengangkutan dari unit pencampur aspal sampai kelokasi pekerjaan menggunakan dump truck. Selama pengangkutan suhu aspal harus tetap dijaga dengan cara melindungi aspal dengan lapisan penutup yang diyakini dapat menjaga suhu aspal. Penghamparan Hotmix dilaksanakan diatas lapisan permukaan yang telah dilabur Lapis Resap Pengikat dan dipastikan masih dalam kondisi yang baik serta dapat dilaksanakan penghamparan. Sebelum dihampar permukaan aspal lama

dibersihkan dengan alat compressor sampai bersih dari unsur yang tidak diperlukan. Balok kayu atau acuan lainnya dipasang pada bagian tepi lokasi yang akan diaspal. Penghamparan dilaksanakan oleh Asphalt finisher dengan mengambil lebar badan jalan. Pengaturan tebal gembur aspal yang dihampar akan diatur sedemikian rupa sehingga setelah selesai dipadatkan akan diperoleh tebal sesuai rancangan yaitu : 4 cm atau setidaknya masih dalam batas toleransi yang diberikan.

Penggilasan aspal dilaksanakan dalam tiga tahapan operasi yang terpisah yaitu : a). Pemadatan Awal b). Pemadatan Antara c). Pemadatan Akhir. Penggilasan awal (break-down) akan dilaksanakan dengan alat pemadat Tandem Roller sebanyak minimal 2 lintasan penggilasan setiap titik perkerasan dengan kecepatan tidak lebih dari 4 km/jam. Penggilasan antara menggunakan alat Pneumatic Tyre Roller sesaat setelah penggilasan awal selesai dikerjakan. Kecepatan alat tidak melebihi 10 km/jam dengan jumlah lintasan minimal sebanyak : 8 lintasan. Penggilasan akhir menggunakan Tandem Roller atau alat pemadat roda baja lainnya yang tampa penggetar ( vibrasi ). Setelah semua tahapan pengaspalan selesai dikerjakan, maka permukaan perkerasan akan diperiksa dengan cara melakukan pengujian antara lain : pengujian kerataan dan pengujian kepadatan. Untuk pengujian campuran aspal , dilakukan diinstalasi pencampur aspal. Pengambilan benda uji dilapangan dengan cara Core-drill sesuai ketentuan dalam spesifikasi teknis. Selama priode konstruksi, permukaan jalan yang telah selesai diaspal akan tetap dipantau atau diawasi apakah pada tempat-tempat tertentu terjadi kerusakan atau perobahan akibat arus lalulintas atau karena factor cuaca. Pekerjaan penghamparan AC-WC dilaksanakan diatas lapisan AC-BC.

6.3.(6a). Laston Lapis Antara (AC-BC) (gradasi kasar) Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapisan padat yang terdiri dari aggregate dan bahan aspal yang dicampur dipusat instalasi pencampur aspal, penghamparan dan pemadatan campuran diatas suatu pondasi permukaan jalan yang telah disiapkan. Produksi AC-BC dipusat instalasi pencampur aspal menggunakan bahan aggregate yang dihasilkan stone crusher dengan komposisi campuran sesuai rancangan dalam Job Mix Design. Bahan yang digunakan untuk campuran terdiri dari aggregate kasar , aggregate halus, bahan pengisi (filler) dan semen serta aspal disediakan dalam jumlah yang cukup serta dari sumber bahan yang telah diseleksi sesuai rancangan campuran (JMD). Bila diperlukan dapat ditambahkan bahan aditif untuk campuran.

Pada tahap awal produksi AC-BC akan dilakukan trial test dilapangan guna mendapatkan jumlah lintasan pemadat yang digunakan dalam pekerjaan test ini dilakukan diluar efektif. Dalam penghamparan dilapangan kondisi cuaca harus dalam keadaan tidak turun hujan dan lapangan pekerjaan dalam kondisi kering. Pengangkutan dari unit pencampur aspal sampai kelokasi pekerjaan menggunakan dump truck. Selama pengangkutan suhu aspal harus tetap dijaga dengan cara melindungi aspal dengan lapisan penutup yang diyakini dapat menjaga suhu aspal. Penghamparan Hotmix dilaksanakan diatas lapisan permukaan yang telah dilabur Lapis Resap Pengikat dan dipastikan masih dalam kondisi yang baik serta dapat dilaksanakan penghamparan. Sebelum dihampar permukaan jalan dibersihkan dengan alat compressor sampai bersih dari unsur yang tidak diperlukan. Balok kayu atau acuan lainnya dipasang pada bagian tepi lokasi yang akan diaspal. Penghamparan dilaksanakan oleh Asphalt finisher dengan mengambil lebar badan jalan. Pengaturan tebal gembur aspal yang dihampar akan diatur sedemikian rupa sehingga setelah selesai dipadatkan akan diperoleh tebal sesuai rancangan yaitu : 5 cm atau setidaknya masih dalam batas toleransi yang diberikan. Penggilasan aspal dilaksanakan dalam tiga tahapan operasi yang terpisah yaitu : a). Pemadatan Awal b). Pemadatan Antara c). Pemadatan Akhir. Penggilasan awal (break-down) akan dilaksanakan dengan alat pemadat Tandem Roller sebanyak minimal 2 lintasan penggilasan setiap titik perkerasan dengan kecepatan tidak lebih dari 4 km/jam. Penggilasan antara menggunakan alat Pneumatic Tyre Roller sesaat setelah penggilasan awal selesai dikerjakan. Kecepatan alat tidak melebihi 10 km/jam dengan jumlah lintasan minimal sebanyak : 8 lintasan. Penggilasan akhir menggunakan Tandem Roller atau alat pemadat roda baja lainnya yang tampa penggetar ( vibrasi ). Setelah semua tahapan pengaspalan selesai dikerjakan, maka permukaan perkerasan akan diperiksa dengan cara melakukan pengujian antara lain : pengujian kerataan dan pengujian kepadatan. Untuk pengujian campuran aspal , dilakukan diinstalasi pencampur aspal. Pengambilan benda uji dilapangan dengan cara Core-drill sesuai ketentuan dalam spesifikasi teknis.

Selama priode konstruksi, permukaan jalan yang telah selesai diaspal akan tetap dipantau atau diawasi apakah pada tempat-tempat tertentu terjadi kerusakan atau perobahan akibat arus lalulintas atau karena factor cuaca. Pekerjaan penghamparan AC-BC dilaksanakan sebelum pekerjaan AC WC dikerjakan. 6.3(8a) Aspal Keras Aspal yang dipergunakan sesuai dengan spesifikasi Bahan pengikat ini dicampur dengan agregat sehingga menghasilkan campuran beraspal sebagaimana mestinya sesuai dengan yang disyaratkan dalam tabel spesifikasi, sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Dan dicampurkan pada saat proses produksi AC-WC dan AC-BC. 6.3.9 Bahan Anti Pengelupasan (anti stripping agent) Anti stripping agent ditambahkan dalam bentuk cair kedalam campuran agregat dengan menggunakan pompa penakar pada saat proses pencampuran basah di pugmil. Kuantitas pemakaian anti stripping agent dalam rentang 0,2% - 0,3% terhadap berat aspal. Jenisnya haruslah mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Dan dicampurkan pada saat proses produksi AC-WC dan AC-BC.

6.3(10b) Bahan Pengisi (Filler) Tambahan Semen Bahan pengisi yang digunakan adalah semen yang sumbernya disetujui oleh Direksi Pekerjaan, bahan pengisi yang ditambahkan harus kering dan bebas dari gumpalan-gumpalan. Dan dicampurkan pada saat proses produksi AC-WC dan ACBC.

8.1 (1) LAPIS PONDASI AGREGAT KELAS A UNTUK PEK. MINOR Pada prinsipnya pelaksanaan pekerjaannya menyerupai lapis pondasi agregat kelas A untuk pekerjaan utama (bukan pek. Minor) hanya saja perbedaannya adalah item pekerjaan ini berupa perbaikan lubang atau penambalan yang rusak sedemikian rupa sehingga perlu pengembalian kondisi seperti perkerasan lama. Penentuan titik pekerjaan ini ditentukan berdasarkan visualisasi pada permulaan periode mobilisasi ataupun saat Rekayasa Lapangan. Lapis pondasi agregat kelas A untuk pekerjaan minor tetap berada di atas existing sama seperti pada item pekerjaan utama.

8.1 (5) CAMPURAN ASPAL PANAS PEK. MINOR Sama seperti penjelasan campuran aspal pada pekerjaan aspal AC-WC atau ACBC, campuran aspal panas untuk pekerjaan minor pada prinsipnya hampir sama pelaksanaannya dengan pekerjaan utama. Hanya saja untuk pekerjaan Pengembalian Kondisi ini, kami akan menyiapkan jadwal kemajuan (progress) pekerjaan mingguan untuk diserahkan kepada Direksi Pekerjaan guna disahka. Pengajuan jadwal ini di dalamnya dipaparkan kuantitas bahan setiap kilometer, kuantitas selesai minggu sebelumnya, dan kumulatif kuantitas. Selain itu, penentuan lokasi mana yang akan ditambal campuran aspal panas harus ditandai dengan cat dan kemudian digali manual berbentuk segi empat dengan sisinya sejajar dan tegak lurus sumbu jalan. Dasar galian ini nantinya akan dipadatkan secara mekanis (bila memungkinkan) untuk kemudian selanjutnya diberi tutup permukaan campuran agregat dan aspal panas (spot leveling). 8.4(1) MARKA JALAN THERMOPLASTIK Pekerjaan Pengukuran Marking Pengukuran marking jalan jalan dilakukan dengan alat mekanis seperti Theodolit terutama untuk mendapatkan keakuratan modul lengkung dan sumbu satu garis lurus sejajar. Selain alat tersebut, juga dibantu dengan instrumen sederhana lainnya seperti meteran dll. Sebelum pengecatan yang sebenarnya dilakukan, berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan, kami akan melakukan pre marking (cat pendahuluan) sehingga mengurangi tingkat kekeliruan ketika cat dengan komposisi yang sebenarnya dioleskan. Oleh karena kebutuhan jalan akan penandaan (marking) sudah direncanakan dengan Departemen Perhubungan terkait, maka setelah pre marking kami buat, hasilnya akan dilaporkan kepada Direksi Pekerjaan sambil menantikan konfirmasi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi. Patok-patok hasil pengukuran lainnya seperti bench mark dan peta situasi, turut menjadi pedoman dalam pembuatan pre marking karena titik acuan dan arah segala marka yang direncanakan merupakan implementasi dari kebutuhan jalan itu sendiri maupun kondisi situasi lokasi jalan.

Pekerjaan Pengecatan Marking Sebelum pekerjaan pengecatan marking kami laksanakan, pelaksana di lapangan akan memeriksa untuk menjamin bahwa permukaan perkerasan jalan yang akan diberi marka jalan harus bersih, kering dan bebas dari bahan yang bergemuk dan debu. Kami wajib/harus menghilangkan dengan grit blasting (pengausan dengan bahan berbutir halus) setiap marka jalan lama baik termoplastis maupun bukan, yang akan menghalangi kelekatan lapisan cat baru. Seperti juga telah disinggung sebelumnya, kami juga harus mengatur dan menandai semua marka jalan pada permukaan perkerasan dengan dimensi dan penempatan yang presisi sebelum pelaksanaan pengecatan marka jalan, itulah yang tertuang dalam pre marking; walau pre marking itu sendiri tidak masuk dalam pembayaran, namun merupakan suatu metode pelaksanaan pengecatan marking yang tepat dan baik. Marka jalan dilakukan dengan alat pemanas dan pencetak bentuk panel cat sesuai dengan arahan yang diberikan direksi pekerjaan. Pencampuran cat marka terutama dengan bahan aditif lainnya dilakukan dengan baik dan tepat agar hasilnya memuaskan. Ketebalannya pun disesuaikan dengan spesifikasi dan arahan yang diberikan sebab makin tebal cat marka akan menyebabkan kemungkinan air tergenang makin besar oleh karenanya juga tidak baik.