Anda di halaman 1dari 20

I. Tujuan Intruksional A.

Umum Setelah menyelesaikan praktikum farmakologi dan terapeutik ini mahasiswa akan dapat menerapkan prinsip-prinsip farmakologi berbagai macam obat dan memiliki keterampilan dalam memberi dan mengaplikasikan obat secara rasional untuk kepentingan klinik. B. Khusus Setelah menyelesaikan percobaan ini mahasiswa akan dapat : 1. Menjelaskan efek obat katartik 2. Menjelaskan jenis-jenis obat katartik 3. Menjelaskan bahan-bahan alami yang dapat bersifat katartik 4. Memilih jenis obat katartik yang paling tepat dalam praktek klinik

II.

Tinjauan Pustaka Laksansia atau pencahar bekerja dengan cara menstimulasi gerakan

peristaltik dinding usus sehingga mempermudah buang air besar (defikasi) dan meredakan sembelit. Tujuannya adalah untuk menjaga agar tinja (feces) tidak mengeras dan defikasi menjadi normal. Makanan yang masuk ke dalam tubuh akan melalui lambung, usus halus, dan akhirnya menuju usus besar/ kolon. Di dalam kolon inilah terjadi penyerapan cairan dan pembentukan massa feses. Bila massa feses berada terlalu lama dalam kolon, jumlah cairan yang diserap juga banyak, akibatnya konsistensi feses menjadi keras dan kering sehingga dapat menyulitkan pada saat pengeluaran feses. Konstipasi merupakan suatu kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan defekasi akibat tinja yang mengeras, otot polos usus yang lumpuh maupun gangguan refleks defekasi yang mengakibatkan frekuensi maupun proses pengeluaran feses terganggu (Neal,M.J, 2005). Frekuensi defekasi/ buang air besar (BAB) yang normal adalah 3 sampai 12 kali dalam seminggu. Namun, seseorang baru dapat dikatakan konstipasi jika ia mengalami frekuensi BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu, disertai

konsistensi feses yang keras, kesulitan mengeluarkan feses (akibat ukuran feses besar-besar maupun akibat terjadinya gangguan refleks defekasi), serta mengalami sensasi rasa tidak puas pada saat BAB. Orang yang frekuensi defekasi/ BAB-nya kurang dari normal belum tentu menderita konstipasi jika ukuran maupun konsistensi fesesnya masih normal. Konstipasi juga dapat disertai rasa tidak nyaman pada bagian perut dan hilangnya nafsu makan (Neal,M.J, 2005). Konstipasi sendiri sebenarnya bukanlah suatu penyakit, tetapi lebih tepat disebut gejala yang dapat menandai adanya suatu penyakit atau masalah dalam tubuh misalnya terjadi gangguan pada saluran pencernaan (irritable bowel syndrome), gangguan metabolisme (diabetes), maupun gangguan pada sistem endokrin (hipertiroidisme) (Neal,M.J, 2005). Sasaran terapi konstipasi yaitu: (1) massa feses, (2) refleks peristaltik dinding kolon. Tujuan terapinya adalah menghilangkan gejala, artinya pasien tidak lagi mengalami konstipasi atau proses defekasi/ BAB (meliputi frekuensi dan konsistensi feses) kembali normal. Strategi terapi dapat menggunakan terapi farmakologis maupun non-farmakologis. Terapi non-farmakologis digunakan untuk meningkatkan frekuensi BAB pada pasien konstipasi, yaitu dengan menambah asupan serat sebanyak 10-12 gram per hari dan meningkatkan volume cairan yang diminum, serta meningkatkan aktivitas fisik/ olahraga. Sumber makanan yang kaya akan serat, antara lain: sayuran, buah, dan gandum. Serat dapat menambah volume feses (karena dalam saluran pencernaan manusia ia tidak dicerna), mengurangi penyerapan air dari feses, dan membantu mempercepat feses melewati usus sehingga frekuensi defekasi/ BAB meningkat sedangkan terapi farmakologis dengan obat laksatif/ pencahar digunakan untuk meningkatkan frekuensi BAB dan untuk mengurangi konsistensi feses yang kering dan keras (Neal,M.J, 2005). Secara umum, mekanisme kerja obat pencahar meliputi pengurangan absorpsi air dan elektrolit, meningkatkan osmolalitas dalam lumen, dan meningkatkan tekanan hidrostatik dalam usus. Obat pencahar ini mengubah kolon, yang normalnya merupakan organ tempat terjadinya penyerapan cairan menjadi organ yang mensekresikan air dan elektrolit. Obat pencahar sendiri dapat

dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu: (1) pencahar yang melunakkan feses dalam waktu 1-3 hari (pencahar bulk-forming, docusates, dan laktulosa); (2) pencahar yang mampu menghasilkan feses yang lunak atau semicair dalam waktu 6-12 jam (derivat difenilmetan dan derivat antrakuinon), serta (3) pencahar yang mampu menghasilkan pengluaran feses yang cair dalam waktu 1-6 jam (saline katartik, larutan elektrolit poli etilen glikol) (Tjay, Tan Hoan, 2007). Pencahar yang melunakkan feses secara umum merupakan senyawa yang tidak diabsorpsi dalam saluran pencernaan dan beraksi dengan meningkatkan volume padatan feses dan melunakkan feses supaya lebih mudah dikeluarkan. Pencahar bulk-forming meningkatkan volume feses dengan menarik air dan membentuk suatu hidrogel sehingga terjadi peregangan dinding saluran cerna dan merangsang gerak peristaltik. Penggunaan obat pencahar ini perlu memperhatikan asupan cairan kedalam tubuh harus mencukupi, jika tidah bahaya terjadi dehidrasi (Tjay, Tan Hoan, 2007). Derivat difenilmetan yang biasa digunakan adalah bisakodil dan fenolptalein. Senyawa-senyawa ini merangsang sekresi cairan dan saraf pada mukosa kolon yang mengakibatkan kontraksi kolon sehingga terjadi pergerakan usus (peristaltik) dalam waktu 6-12 jam setelah diminum, atau 15-60 menit setelah diberikan melalui rektal. Namun penggunaan fenilptalein sudah dilarang karena bersifat karsinogen. Senyawa ini tidak direkomendasikan untuk digunakan tiap hari. Jarak antara setiap kali penggunaan harus cukup lama, sekitar beberapa minggu, untuk mengobati konstipasi ataupun untuk mempersiapkan pengosongan kolon jika diperlukan untuk pembedahan (Tjay, Tan Hoan, 2007). Saline katartik merupakan garam anorganik yang mengandung ion-ion seperti Mg, S, P, dan sitrat, yang bekerja dengan mempertahankan air tetap dalam saluran cerna sehingga terjadi peregangan pada dinding usus, yang kemudian merangsang pergerakan usus (peristaltik). Selain itu, Mg juga merangsang sekresi kolesitokinin, suatu hormon yang merangsang pergerakan usus besar dan sekresi cairan. Senyawa ini dapat diminum ataupun diberikan secara rektal. Pencahar saline ini juga dapat digunakan untuk mengosongkan kolon dengan cepat sebagai

persiapan sebelum pemeriksaan radiologi, endoskopi, dan pembedahan pada bagian perut (Tjay, Tan Hoan, 2007). Sebagian besar obat pelangsing dapat menimbulkan dampak negatif seperti: gangguan emosi, hiperaktivitas, sulit tidur, perut kembung dan perih, keletihan terus menerus, depresi, ketagihan, mual, muntah, dan tubuh gemetar. Ada juga yang menggangu kesuburan dan sikulasi menstruasi . Penggunaan obat pelangsing yang bersifat pencahan atau laksatif dapat menyebabkan usus bereaksi lebih aktif menyerap makanan, sehingga membuat makanan yang dikonsumsi cepat dibuang sebelum diserap. Akibatnya bila konsumsi obat dihentikan maka tubuh akan semakin gemuk karena usus jadi lebih efisien dalam menyerap makanan (Neal,M.J, 2005). Penggunaan laksatif yang berlebihan mempunyai efek yang sama dengan mengabaikan keinginan BAB refleks pada proses defekasi yang alami dihambat. Kebiasaan pengguna laksatif bahkan memerlukan dosis yang lebih besar dan kuat, sejak mereka mengalami efek yang semakin berkurang dengan penggunaan yang terus-menerus (toleransi obat) (Neal,M.J, 2005).

III.

Alat dan Bahan A. Alat 1. Beakerglass 1000 ml 2. Sonde lambung 3. Spuit injeksi 3 cc 4. Kertas saringa B. Bahan 1. MgSO4 2. Bisakodil 3. Vegetas 4. Merit C. Binatang percobaan 1. Tikus putih

IV.

Rencana Kerja 1. Ambil empat ekor tikus putih. Timbang berat badan tikus lalu masing-

masing

dimasukan kedalam beakerglass yang sudah dilandasi dengan

kertas saring. 2. Amati selama 30 menit bentuk fesenya (padat, kental, cair). Feses yang baik adalah feses yang padat dan tidak membasahi kertas saring.

3. Berilah obat pada setiap 1 ekor tikus putih secara oral dengan sonde lambung. a. MgSO4 50 g/kg BB b. Bisakodil 10 mg/kgBB c. Vegeta (2 bungkus untuk orang dewasa) d. Merit (2 pil untuk orang dewasa) 4. Amati perubahan konsistensi fesenya dalam 3 jam pertama dan 3 jam kedua.

V.

Hasil Percobaan

A.

Hasil 1. Dosis Obat i. MgSO4 1) Berat Badan Tikus 2) Dosis konversi 3) Dosis Pengenceran = 250 g = 0,018 = 30 g dalam 60 ml

4) Dosis Anjuran = 50 g x 0,018 = 0,9 g /200 g tikus 5) Dosis obat (g) = = 1,125 g 6) Dosis obat (ml) = = 2,25 ml ii. Bisakodil 1) Berat Badan Tikus 2) Dosis konversi 3) Dosis Pengenceran = 375 g = 0,018 = 0,4 mg / cc

4) Dosis Anjuran = 0,2 mg / 200 g tikus 5) Dosis obat (g) = = 0, 375 g 6) Dosis obat (ml) = = 0, 9375 ml

iii.

Vegeta 1) Berat Badan Tikus 2) Dosis manusia 3) Dosis konversi 4) Dosis Anjuran = 5) Dosis obat (ml) = = 125 g = 2 bungkus dalam 200 cc air = 0,018 =

= 3,15 ml

iv.

Merit 1) Berat Badan Tikus 2) Dosis Encer 3) Dosis konversi 4) Dosis Anjuran = 5) Dosis obat (ml) = = 0, 45 ml = 125 g = 6 pil dalam 40 cc = 0,018 =

Tabel 1.1 Pengamatan Feses Tikus No. Jenis Obat 30 Menit Sebelum Pemberian Obat 1. MgSO4 Jumlah Konsistensi 2. Bisakodil Jumlah Konsistensi 3. Vegeta Jumlah Konsistensi 4. Merit Jumlah Konsistensi Banyak Padat Agak lembek Banyak Agak lembek Sedikit Banyak Padat Sangat Lembek Sedikit Sangat Lembek Sedang Banyak Padat Banyak Padat Sedikit Agak lembek Banyak Padat Sedang Lembek Sedikit Lembek 3 Jam Pertama Setelah Pemberian Obat 3 Jam Kedua Setelah Pemberian Obat

B.

Pembahasan Tikus putih dengan berat 250 g yang diberi obat garam magnesium (MgSO4 atau garam inggris) pada pengamatan 30 menit pertama sebelum pemberiaan obat

jumlah dan konsistensi normal. Pada pengamatan 3 jam pertama setelah pemberian garam magnesium sudah terlihat perubahan yaitu jumlah tinjanya menjadi sedang dan konsistensinya lembek sedangkan pada pengamatan 3 jam kedua jumlah tinjanya menjadi sedikit dan konsistensinya lembek. Dari hasil percobaan sesuai dengan teori yaitu tinja menjadi lembek setelah 3-6 jam, ini terjadi karena daya osmotiknya yang berpengaruh pada peningkatan peristaltik usus, sehingga air ditarik ke dalam lumen usus dan menyebabkan tinja menjadi lembek. Efek pencahar yang besar bisa menyebabkan kosongnya jumlah feses yang harus dikeluarkan pada defekasi berikutnya sehingga jumlahnya menjadi lebih sedikit. Tikus putih dengan berat 375 g yang diberi obat bisakodil pada pengamatan 30 menit pertama sebelum pemberiaan obat jumlah dan konsistensi normal. Pada pengamatan 3 jam pertama setelah pemberian bisakodil belum terlihat perubahan yaitu jumlah tinjanya masih banyak dan konsistensinya masih padat sedangkan pada pengamatan 3 jam kedua jumlah tinjanya menjadi sedikit dan konsistensinya menjadi agak lembek dari sebelumnya. Dari hasil percobaan membuktikan jika 3 jam pertama obat bisakodil belum bereaksi dan baru mulai terlihat efeknya setelah 3 jam kedua yaitu konsistensi tinja yang agak lembek dari sebelumnya. Bila diberikan secara oral efek pencahar bisakodil timbul setelah 6-12 jam sedangkan efeknya akan bekerja lebih cepat yaitu sekitar seperempat sampai satu jam. Bisakodil merupakan jenis obat pencahar perangsang yang kerjanya merangsang mukosa, saraf intramural, dan otot polos sehingga peristaltik meningkat dan sekresi lendir meningkat. Meningkatnya motilitas usus mengakibatkan menurunnya absorpsi garam dan air dan selanjutnya mengurangi waktu transit sehingga tinja menjadi tidak padat dan mengandung air yang mampu membasahi kertas. Tikus putih dengan berat 125 g yang diberi vegeta pada pengamatan 30 menit pertama sebelum pemberiaan obat jumlah dan konsistensi normal. Pada pengamatan 3 jam pertama setelah pemberian vegeta sudah terlihat perubahan yaitu jumlah tinjanya sedang dan konsistensinya sangat lembek sedangkan pada pengamatan 3 jam kedua jumlah tinjanya menjadi sedikit dan konsistensinya sangat lembek. Vegeta mengandung psilium yaitu jenis obat pencahar pembentuk massa. Obat ini bekerja dengan mengikat air dan ion dalam lumen kolon, dengan demikian feses akan menjadi lebih lunak. Pada pengamatan 3 jam pertama konsistensi tinja tikus sudah sangat lembek, artinya vegeta yang diberikan pada tikus ini dalam 3

jam pertama sudah bekerja, tetapi pada pengamatan 3 jam kedua jumlah tinjanya menjadi lebih sedikit karena feses yang ada sudah dikeluarkan pada jam-jam sebelumnya. Sehingga kemungkinan yang terjadi jika penggunaan secara rutin akan merusak siklus BAB normal. Tikus putih dengan berat 125 g yang diberi merit pada pengamatan 30 menit pertama sebelum pemberiaan obat jumlah dan konsistensi normal. Pada pengamatan 3 jam pertama setelah pemberian merit sudah terlihat perubahan yaitu jumlah tinjanya banyak dan konsistensinya agak lembek sedangkan pada pengamatan 3 jam kedua jumlah tinjanya menjadi sedikit dan konsistensinya agak lembek. Merit dikalangan awam dikenal sebagai obat pelangsing tubuh, kandungan merit antara lain Rhei Radix yang bersifat pencahar yaitu memacu pergerakan peristaltik usus besar sehingga akan mempermudah buang air besar. Bahan ini akan menstimulasi dinding usus besar sehingga mengurangi absorpsi cairan dari massa feses dan meningkatkan pergerakan peristaltik usus besar untuk mendorong proses buang air besar lebih mudah dan membuat feses lebih lembek dan banyak. VI. Aplikasi Klinis

A.

Penyakit Hirschsprung

Definisi Penyakit Hirschsprung disebut juga kongenital aganglionik megakolon. Dilihat dari namanya penyakit ini merupakan keadaan persarafan (aganglionik). atas)

usus besar (kolon) yang tidak mempunyai

Jadi, karena ada bagian dari usus besar (mulai dari anus kearah

yang tidak mempunyai persarafan (ganglion), maka terjadi kelumpuhan usus besar dalam menjalanakan fungsinya sehingga usus menjadi Panjang usus besar yang terkena berbedaSumatera Utara. 2006).

membesar (megakolon).

beda untuk setiap individu ( Universitas

Penyebab Penyebab timbulnya penyakit Hirschsprung adalah kelainan genetik. Penyakit ini juga dapat ditemukan bersamaan dengan sindrom Universitas Sumatera Utara.

Down, kanker tiroid, dan neuroblastoma ( 2006). Gejala

Karena terjadi kelumpuhan usus besar dalam menjalankan fungsinya, maka tinja tidak dapat keluar. Biasanya bayi baru lahir akan dalam 24 jam

mengeluarkan tinja pertamanya (mekonium)

pertama. Namun pada bayi yang menderita penyakit Hirschsprung, tinja akan keluar terlambat atau bahkan tidak dapat keluar sama sekali. Selain itu perut bayi juga akan terlihat menggembung, disertai muntah. Jika dibiarkan lebih lama, berat badan bayi tidak akan bertambah dan akan Penyakit Hirschsprung (

terjadi gangguan pertumbuhan. Gambar. Universitas Sumatera Utara. 2006).

Perhatikan perbedaan besar usus antara gambar yang kiri dan kanan.

Diagnosa Gambaran Klinis Gambaran klinis penyakit Hirschsprung dapat kita bedakan berdasarkan usia gejala klinis mulai terlihat :

(1). Periode Neonatal. Ada trias gejala klinis yang sering dijumpai, yakni pengeluaran mekonium yang terlambat, muntah hijau dan

distensi abdomen. Pengeluaran mekonium

yang terlambat (lebih dari 24 Swenson

jam pertama) merupakan tanda klinis yang signifikans.

(1973) mencatat angka 94% dari pengamatan terhadap 501 kasus , sedangkan Kartono mencatat angka 93,5% untuk waktu 24 jam dan setelah lahir. Muntah hijau dan distensi mekonium merupakan dapat ancaman

72,4% untuk waktu 48 jam

abdomen biasanya dapat berkurang manakala dikeluarkan segera. Sedangkan enterokolitis

komplikasi yang serius bagi penderita penyakit Hirschsprung ini, yang dapat menyerang pada usia kapan saja, namun paling tinggi saat usia

2-4 minggu, meskipun sudah dapat dijumpai pada usia 1 minggu. Gejalanya berupa diarrhea, distensi abdomen, feces berbau busuk dan disertai demam. Swenson mencatat hampir 1/3 kasus Hirschsprung datang dengan manifestasi klinis enterokolitis, bahkan dapat pula terjadi meski telah dilakukan kolostomi (Kartono,1993; Fonkalsrud dkk,1997;

Swenson dkk,1990). (Gambar 6)

Gambar 6. Foto pasien penderita Hirschsprung berusia 3 abdomen sangat distensi dan pasien kelihatan

hari.

Terlihat

menderita sekali.

(ii). Anak. Pada anak yang lebih besar, gejala klinis yang menonjol adalah konstipasi kronis dan gizi buruk (failure to thrive). Dapat pula terlihat gerakan peristaltik usus di dinding abdomen. Jika dilakukan pemeriksaan colok dubur, maka feces biasanya keluar menyemprot, konsistensi semi-liquid dan berbau tidak sedap. Penderita biasanya buang

air besar tidak teratur, sekali dalam beberapa hari dan biasanya sulit untuk defekasi. (Gambar 7)

Gambar 7. Foto anak yang telah besar, sebelum dan sesudah tindakandefinitif bedah. operasi. Terlihat status gizi anak membaik setelah

Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan radiologi merupakan pemeriksaan yang penting pada penyakit Hirschsprung. Pada foto polos abdomen dapat dijumpai rendah, meski pada bayi sulit untuk Pemeriksaan yang merupakan adalah barium

gambaran obstruksi usus letak

membedakan usus halus dan usus besar.

standard dalam menegakkan diagnosa Hirschsprung enema, dimana akan dijumpai 3 tanda khas :

1. Tampak daerah penyempitan di bagian rektum ke proksimal yang panjangnya bervariasi;

2. Terdapat daerah transisi, terlihat di proksimal daerah penyempitan ke arah daerah dilatasi;

3. Terdapat daerah pelebaran lumen di proksimal daerah transisi (Kartono,1993). Apabila dari foto barium enema tidak terlihat tanda-tanda khas penyakit Hirschsprung, maka dapat dilanjutkan dengan foto retensi dibiarkan membaur

barium, yakni foto setelah 24-48 jam barium

dengan feces. Gambaran khasnya adalah terlihatnya barium yang membaur dengan feces kearah proksimal kolon. Sedangkan pada penderita yang bukan disertai dengan obstipasi kronis, maka Hirschsprung namun barium terlihat

menggumpal di daerah rektum dan sigmoid (Kartono,1993, Fonkalsrud dkk,1997; Swenson dkk,1990).

Gambar 8. Terlihat gambar barium enema penderitaHirschsprung. Tampak rektum yang mengalami yang

penyempitan,dilatasi sigmoid dan daerah transisi melebar.

Pemeriksaan patologi anatomi Diagnosa histopatologi penyakit Hirschsprung didasarkan atas absennya sel ganglion pada pleksus mienterik (Auerbach) dan pleksus sub-mukosa (Meissner). Disamping itu akan terlihat dalam jumlah (parasimpatis). Akurasi pemeriksaan

banyak penebalan serabut syaraf

akan semakin tinggi jika menggunakan pengecatan immunohistokimia asetilkolinesterase, suatu enzim yang banyak ditemukan pada serabut

syaraf parasimpatis, dibandingkan dengan pengecatan konvensional dengan haematoxylin eosin. Disamping memakai

asetilkolinesterase, juga digunakan pewarnaan peroksidase-antiperoksidase dan pewarnaan

protein S-100, metode enolase. Hanya saja

pengecatan immunohistokimia memerlukan ahli patologi anatomi yang berpengalaman, sebab beberapa keadaan adanya dapat memberikan (Cilley

interpretasi yang berbeda seperti dengan dkk,2001).

perdarahan

Swenson pada tahun 1955 mempelopori pemeriksaan histopatologi dengan eksisi seluruh tebal dinding otot rektum, untuk

mendapatkan gambaran pleksus

mienterik. Secara tekhnis, metode ini menyebabkan mempersulit

sulit dilakukan sebab memerlukan anastesi umum, dapat inflamasi dan pembentukan jaringan ikat yang

tindakan bedah definitif. Noblett tahun 1969 mempelopori tekhnik biopsi hisap dengan menggunakan alat khusus, untuk mendapatkan jaringan mukosa dan sub-mukosa sehingga dapat melihat keberadaan pleksus menggantikan metode biopsi eksisi pemeriksaan

Meissner. Metode ini kini telah

sebab tidak memerlukan anastesi dan akurasi

mencapai 100% (Junis dkk, Andrassy dkk). Biasanya biopsi hisap dilakukan pada 3 tempat : 2,3,dan 5 cm proksimal dari anal verge. Apabila hasil biopsi hisap meragukan, barulah dilakukan biopsi eksisi otot Auerbach. Dalam laporannya, Polley tanpa ada hasil negatif

rektum untuk menilai pleksus

(1986) melakukan 309 kasus biopsi hisap rektum

palsu

dan

komplikasi

(Kartono,1993;

Swenson

dkk,1990;

Swenson,2002). Manometri anorektal Pemeriksaan manometri anorektal adalah suatu

pemeriksaan objektif mempelajari fungsi fisiologi defekasi pada penyakit yang melibatkan spinkter anorektal. Dalam prakteknya, manometri

anorektal dilaksanakan apabila hasil pemeriksaan klinis,

radiologis dan

histologis meragukan. Pada dasarnya, alat ini memiliki 2 komponen dasar : transduser yang sensitif terhadap tekanan seperti balon mikro dan kateter mikro, serta sisitem pencatat seperti poligraph atau komputer

(Shafik,2000; Wexner,2000; Neto

dkk,2000).

Beberapa hasil manometri anorektal yang spesifik bagi penyakit Hirschsprung adalah : 1. Hiperaktivitas pada segmen yang dilatasi; 2. Tidak dijumpai kontraksi peristaltik yang terkoordinasi pada segmen usus aganglionik; 3. Sampling reflex tidak berkembang. Tidak dijumpai relaksasi spinkter interna setelah distensi rektum akibat desakan feces. Tidak

dijumpai relaksasi spontan (Kartono,1993; Tamate,1994; Neto,2000).

Gambar

10.

Tampak

gambar

skema

dari

manometri

anorekatal,yang memakai

balon berisi udara sebagai transducernya.

Padapenderita Hirschsprung (kanan), tidak terlihat relaksasi spinkter ani.

Penatalaksanaan Terdapat 2 langkah operasi yang dapat dilakukan untuk menangani penyakit ini, yaitu : Langkah pertama adalah dengan dilakukan kolostomi, yaitu pembuatan saluran pembuangan tinja pada dinding perut dengan cara

membuat lubang pada dinding perut lalu kemudian menyambungkan usus (yang masih sehat) ke lubang tersebut. Hal ini pengeluaran tinja melalui dinding perut. Langkah kedua adalah setelah berat badan, usia, dan kondisi bayi sudah cukup, dapat dilakukan penutupan kolostomi tersebut serta menyambungkan kembali usus besar ke tempatnya semula, memungkinkan

yaitu di anus ( Universitas Sumatera Utara. 2006).

B.

Hemorrhoids Hemorrhoids adalah pembengkakan dan peradangan vena pada anus dan rectum bawah. Hemorrhoids antara lain disebabkan karena ketegangan selama buang air besar atau peningkatan tegangan pada vena tersebut karena kehamilan. Hemorrhoids bisa terletak di dalam rectum (Internal Hemorrhoids) atau di luar rectum (external Hemorrhoids). Tanda dan gejala dari Internal hemorrhoids biasanya tidak sakit, dapat terjadi perdaraan bila teriritasi, dapat berkembang menjadi Prolapsed Hemorrhoids dan Strangulated, sedangkan Eksternal Hemorrhoids biasanya sangat sakit, sering terjadi pembengkakan dan iritasi, gatal karena iritasi kulit, dapat menyebabkan masalah pada fungsi anus, terutama anal sphincter, dapat berkembang menjadi Thrombosed Hemorrhoids (Geissle, 2006).

Faktor-Faktor yang bisa menjadi penyebab Hemorrhoids diantaranya: 1. Mengejan saat buang air besar 2. Duduk untuk jangka waktu yang lama 3. Diare kronis atau sembelit 4. Kegemukan 5. Kehamilan 6. Anal intercourse

Kemungkinan terkena Hemorrhoids lebih besar saat usia bertambah karena jaringan yang mendukung pembuluh darah di rectum dan anus menjadi lebih lemah karena penuaan (Geissle, 2006).

VII.

Kesimpulan 1. Laksansia atau pencahar bekerja dengan cara menstimulasi gerakan peristaltik dinding usus sehingga mempermudah buang air besar (defikasi) dan meredakan sembelit. 2. Sasaran terapi konstipasi yaitu: (1) massa feses, (2) refleks peristaltik dinding kolon. Tujuan terapinya adalah menghilangkan gejala, artinya pasien tidak lagi mengalami konstipasi atau proses defekasi/ BAB (meliputi frekuensi dan konsistensi feses) kembali normal. 3. Penggunaan laksatif yang berlebihan mempunyai efek yang sama dengan mengabaikan keinginan BAB refleks pada proses defekasi yang alami dihambat.

VIII. Evaluasi 1. Mengapa dosis vegeta dan merit yang digunakan besarnya

seperti itu? Dosis anjuran merupakan dosis yang dipakai untuk hewan uji yang telah dokonversi dari dosis normal untuk manusia. Dosis anjuran

untuk vegeta 3,6mL/200gr dan dosis anjuran untuk merit 0,72mL/200gr. Dosis ini merupakan dosis yang telah dikonversi dari dosis aman untuk

manusia ke dosis untuk hewan coba dengan perhitungan apabila berat hewan coba 200 gram. Kedua tikus uji memiliki berat 125 gr sehingga didapatkan dosis vegeta sebanyak 2,25 mL dan dosis merit 0,45 mL. Dosis ini langsung dalam satuan mL dan tidak ada lagi konversi ke dalam dosis cair karena 2. bentuk obat sudah dalam bentuk larutan cair.

Jelaskan mekanisme kerja vegeta dan merit! Vegeta komposisinya menganung plantago atau psilium yang

termasuk

golongan pencahar pembentuk massa. Mekanisme kerja air dalam kolon sehingga tinja

dengan meningkatkan volume

menjadi lebih lunak dan lebih mudah untuk dikeluarkan. Merit adalah obat pelangsing tubuh dengan komposisi Guazumae Folium, Rhei Radix, Granati Fructus Cortex. Guazumae folium mengandung zat lendir yang berfungsi melapisi GI tract sehingga lebih

penyerapan zat makanan menjadi lebih sedikit dan makanan

cepat dikeluarkan. Rhei radix bekerja sebagai pencahar rangsang yang aktif meningkatkan peristaltic usus. Sedangkan granati fructus cortex

memperkecil bidang penyerapan pada usus sehingga meningkatkan jumlah feses saat defekasi. Secara umum pencahar rangsang. merit bekerja sebagai

3.

Jelaskan mekanisme kerja obat katartik! 1.Pencahar Rangsang Pencahar ini bekerja dengan merangsang mukosa lumen serta saraf intramural/otot polos sehingga gerakan peristaltic dan sekresi lumen usus meningkat. 2.Pencahar Garam dan Pencahar Osmotik Bekerja dengan prinsip osmotic yaittu obat yang berbentuk garam yang masuk ke lumen GI tract akan akan

meningkatkan tekanan intralumen sehingga air

berpindah ke lumen dan melunakkan tinja dan mempermudah proses defekasi. 3.Pencahar Pembantuk Massa Bekerja mengikar air dan ion ke dalam lumen kolon sehingga tinja menjadi banyak. 4.Pencahar Emolien Memudahkan defekasi dengan cara melunakkan tinja tanpa merangsang peristaltic usus yang kemudian menurunkan tegangan permukaan pada feses sehingga air dan lemak mudah masuk ke dalam tinja.

Daftar Pustaka

Geissle, M. Doenges. 2006. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC Tjay, Tan Hoan; Kirana Rahardja.2007.Obat-Obat Penting.Edisi keenam.Jakarta:PT.Alex Media Komputindo. Neal, M.J . 2005. At a Glance Farmakologi Medis. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama Cilley RE, Statter MB, Hirschl RB,et al. Definitive treatment of Hirschsprungs disease in the newborn with a one stage procedure. Arch Dis Child 2001;84:2127. Kartono D. Penyakit Hirschsprung : Perbandingan prosedur Swenson dan Duhamel modifikasi. Disertasi. Pascasarjana FKUI. 1993. Shafik A. Surgical anatomy of the anal canal.In: Neto JA,editor. New trends in coloproctology. Rio de Jainero;Livraria:2000.p.3-18.