Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha


Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya maka makalah Sosiologi
ini dapat diselesaikan tepat waktu.
Makalah yang berjudul “Media Massa Sebagai Media
Sosialisasi” ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat pada
mata pelajaran Sosiologi dan memberikan informasi tentang peran
media massa dalam sosialisasi. Penulis menyadari makalah ini
masih belum sempurna, sehingga penulis sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari semua rekan pelajar, guru
pengajar, dan guru pembimbing.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Semoga
Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya
kepada kita semua.

Palangka Raya, Februari 2008

Penulis
ii

DAFTAR ISI

Halama
n
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………………………… i
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………….. ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………….. iii

A. Sosialisasi ………………………………………………………………………………. 4

B. Agen Sosialisasi ………………………………………………………………


……… 4
C. Media Massa Sebagai Media Sosialisasi ……………………………..…. 4
D. Peran Vital Media Massa Dalam Kehidupan …………………………. 8
E. Dampak Positif Media Massa Sebagai Media Sosialisasi ………. 11
F. Dampak Negatif Media Massa Sebagai Media Sosialisasi …….. 12

PENUTUP ……………………………………………………………………………………….... 14
A. Kesimpulan ………………………………………………………………………….…. 14
B. Saran ……………………………………………………………………………………… 14
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………….. 15
iii

A. Sosialisasi

Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer


kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya
dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog
menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory).
Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus
dijalankan oleh individu.

B. Agen Sosialisasi
Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau
melakukan sosialisasi. Ada lima agen sosialisasi yang utama, yaitu
keluarga, teman sepermainan, lingkungan kerja, media massa, dan
lembaga pendidikan sekolah. Dalam makalah ini, penulis hanya
menjelaskan tentang media massa sebagai media sosialisasi.

C. Media Massa Sebagai Media Sosialisasi

Media massa merupakan bentuk komunikasi dan rekreasi yang


menjangkau masyarakat secara luas sehingga pesan informasi yang
sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Media massa terdiri
dari media cetak (surat kabar, brosur, baleho, buku, majalah, tabloid)
dan media elektronik (radio, televisi, video, film, piringan hitam, kaset,
CD/DVD). Media massa diidentifikasikan sebagai media sosialisasi yang
berpengaruh pula terhadap perilaku masyarakat.
Pesan-pesan yang ditayangkan melalui media elektronik dapat
mengarahkan masyarakat ke arah perilaku prososial maupun
antisosial. Penayangan berkesinambungan mengenai laporan perang
seperti laporan Perang Teluk, Perang di Somalia dan Sudan,
penayangan film-film seri yang menonjolkan kekerasan, dianggap
sebagai salah satu faktor yang mendorong perilaku agresif pada anak-
anak yang melihatnya. Demikian juga penayangan adegan-adegan
yang berbau pornografi dan pornoaksi di layar televisi sering dikaitkan
dengan perubahan moralisasi serta peningkatan pelanggaran susila
dalam masyarakat.
4
Media massa diyakini dapat menggambarkan realitas sosial dalam
berbagai aspek kehidupan. Meskipun untuk itu, informasi atau pesan
(message) yang ditampilkannya sebagaimana dapat dibaca di surat
kabar atau majalah, didengarkan di radio, dilihat di televisi atau internet
telah melalui suatu saringan (filter) dan seleksi dari pengelola media itu
untuk berbagai kepentingannya (misalnya : untuk kepentingan bisnis
atau ekonomi, kekuasaan atau politik, pembentukan opini publik,
hiburan (entertainment), hingga pendidikan.
Terlepas dari berbagai kepentingan yang melatarbelakangi
pemunculan suatu informasi atau pesan yang disajikan oleh media
massa, kiranya tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pada masa kini
pertemuan orang dengan media massa sudah tidak dapat dielakkan
lagi. Tidaklah berlebihan kiranya apabila abad ke-21 disebut sebagai
abad komunikasi massa. Pesatnya perkembangan media informasi dan
komunikasi, baik perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak
(software), akan membawa perubahan peranan sebagai penyampai
pesan/informasi.

Media massa merupakan salah satu


agen sosialisasi yang paling
berpengaruh.
5

Faktor-faktor yang menyebabkan pemilihan media massa sebagai


media sosialisasi antara lain :
a) Media massa, khususnya televisi, telah begitu memasyarakat.
b) Media massa berpengaruh terhadap proses sosialisasi.
c) Orang-orang lebih mengandalkan informasi yang berasal dari media
massa daripada dari orang lain.
d) Para orang tua dan pendidik, baik secara sendiri-sendiri maupun
secara bersama-sama, dapat meminimalisasikan pengaruh negatif
media massa dan mengoptimalkan dampak positifnya.

Jam siaran yang tersedia bagi acara-acara khusus untuk anak-anak


yang ditayangkan TVRI dan televisi swasta jumlahnya masih sangat
terbatas. Sedangkan banyak di antara acara yang tersedia bagi orang
dewasa umum ikut ditonton oleh anak, memuat banyak adegan
pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, serta bentuk kekerasan
lainnya.
Sebaliknya banyak acara film kartun yang disediakan untuk ditonton
anak-anak pun sering memuat adegan kekerasan dan sadis seperti
penganiayaan dan pembunuhan. Dikhawatirkan adegan-adegan
semacam itu dapat mempengaruhi pola perilaku anak Indonesia,
khususnya di kota-kota besar.
Pesan-pesan yang dipelajari dari setiap pelaku sosialisasi tidak selalu
sepadan satu dengan yang lain. Apa yang diajarkan oleh keluarga bisa
jadi berbeda dengan apa yang diajarkan oleh kelompok sepermainan,
sekolah, ataupun media massa. Contohnya :

 Seorang anak dilarang keras oleh keluarganya merokok sebab


dapat membahayakan tubuhnya. Namun, di lingkungan
sepermainan (peer group) anak itu tidak dapat menolak ajakan
temannya untuk merokok.

Selain itu, ada beberapa iklan komersial produk rokok yang


ditayangkan di televisi, justru membangkitkan semangat nasionalisme
dan paham kebangsaan. Iklan tersebut dikemas sebaik mungkin untuk
menarik perhatian masyarakat. Padahal, pada akhir iklan tersebut
terdapat tulisan kecil “Merokok tidak baik untuk kesehatan. Dapat
menyebabkan penyakit jantung, kanker, impotensi, dan lain-lain.”

6
Jika pesan-pesan yang disampaikan setiap pelaku sosialisasi
sepadan, maka proses sosialisasi akan belangsung lancar. Sebaliknya, jika
saling bertentangan maka akan dijumpai kecenderungan seseorang
mengalami konflik pribadi karena bingung dan terombang-ambing oleh
pelaku-pelaku sosialisasi tersebut, seperti memilih mengikuti ajaran
keluarganya, teman sepermainan, sekolah, lingkungan kerja, ataupun
media massa. Contohnya :

 Informasi atau pesan yang diperoleh anak seperti dari internet


dapat memicu konflik dalam diri anak. Hal ini terjadi ketika pesan
yang diterimanya bertentanagn dengan pesan yang diperolehnya
dari sosialisasi lain, seperti keluarga.

Sebagai konsekuensi logis dari pemanfaatan media massa sebagai


media sosialisasi di tingkat persekolahan, terdapat paling tidak empat
buah efek pemanfaatan media massa, yaitu :
1) Efek kehadiran media massa, yaitu menyangkut pengaruh
keberadaan media massa secara fisik.
2) Efek kognitif, yaitu mengenai terjadinya perubahan pada apa yang
diketahui, difahami, atau dipersepsi siswa.
3) Efek afektif, yaitu berkenaan dengan timbulnya perubahan pada apa
yang dirasakan, disenangi, atau dibenci siswa.
4) Efek behavioral, yaitu berkaitan pada perilaku nyata yang dapat
diamati, yang mencakup pola-pola tindakan kegiatan, atau
kebiasaan berperilaku siswa.

D. Peran Vital Media Massa Dalam Kehidupan

Media massa adalah salah satu wahana terpenting dalam


penyebarluasan pengetahuan dasar mengenai bencana ini. Wahana
penting lainnya adalah pendidikan di sekolah-sekolah yang
memperkenalkan penanggulangan bencana alam kepada para murid
sejak usia dini.
Secara umum, ada tiga fase dalam langkah-langkah
penanggulangan bencana, yaitu fase prabencana, fase saat bencana
terjadi, dan fase pasca-bencana. Dalam hal bencana tsunami yang
menimpa Aceh dan Sumatera Utara, dari ketiga fase ini, menurut
pengamatan penulis, baru pada fase ketiga media massa umumnya
memberikan perhatian penuh. Media massa mengerahkan kru dengan
kekuatan ekstra untuk diterjunkan ke lapangan maupun sebagai
“jangkar” di markas besar. Laporan para awak media massa ini diterbit-
kan/disiarkan dengan frekuensi yang tinggi, mengabarkan hampir
semua aspek penting yang terkait dengan bencana ini.
Hasilnya pun patut disebut positif (terlepas dari sejumlah liputan,
terutama media televisi, yang bisa dikategorikan sebagai melanggar
etika jurnalistik berkaitan dengan disturbing images alias gambar-
gambar yang menusuk hati) karena berhasil menggerakkan emosi
bangsa untuk ikut merasakan derita para korban, lalu mengulurkan
bantuan konkret guna meringankan derita itu. Liputan luas media
massa ini juga berhasil mempertemukan sejumlah keluarga yang
semula tercerai-berai tak berkabar. Namun, keterlibatan media massa
pada fase ketiga ini bisa juga berbuntut negatif apabila dijalankan tanpa
pertimbangan yang ekstra hati-hati, antara lain kecenderungan untuk
menjadikan derita para korban sebagai “jualan”, entah untuk
kepentingan bisnis murni atau bisa pula demi kepentingan lain, seperti
keuntungan politik dan pencitraan diri.
8
Untuk fase kedua, kinerja media massa Indonesia masih
mengecewakan. Bencana ini terjadi pada Minggu pagi, 26 Desember
2004, tetapi sebagian besar media massa Indonesia baru memperoleh
informasinya dengan agak lengkap sekian jam kemudian. Memang ada
sejumlah media, misalnya saja detik.com yang telah memberitakan
peristiwa ini sejak pukul 08.30 di bawah judul “Gempa Berkekuatan
Besar Guncang Medan”. Baru pada pukul 10.11, detik.com memberikan
informasi yang menyebutkan Aceh sebagai kawasan yang terkena
bencana (di bawah judul “Banjir Bandang Landa Aceh”).
Televisi Indonesia kelihatan tak sigap memberikan respons. Metro
TV termasuk yang paling awal memberitakannya, tetapi itu pun terpaut
cukup jauh sesudah peristiwa terjadi. Sejumlah televisi lain seperti tak
begitu menaruh perhatian, dan baru sore hari bahkan malam harinya
mulai agak gencar memberitakan bencana itu. Ada juga televisi yang
baru memberitakannya sebagai breaking news pada pukul 22.00, sudah
amat sangat terlambat dan sama sekali tak layak lagi disebut sebagai
breaking news. Padahal berita ini sudah disiarkan oleh BBC dan CNN
sejak menjelang tengah hari. BBC, menurut penulis, merupakan media
yang terdepan memberitakan bencana ini, bahkan sudah memaparkan
sejumlah data penting sebagai kelengkapan beritanya, misalnya saja
data jumlah penduduk di wilayah yang terkena, juga peta yang relatif
lengkap untuk memudahkan pemirsa membayangkan besaran bencana.
Keterlambatan media siaran dalam memberikan respons terhadap
peristiwa-peristiwa penting, seperti bencana alam, agak sulit diterima.
Dalam saat-saat genting seperti itu, hanya media siaranlah yang
menjadi andalan utama masyarakat karena media cetak dan media on-
line memiliki keterbatasan dari segi waktu maupun aksesibilitas.
Informasi yang disebarluaskan melalui media secara rutin dan
berkala merupakan alat pendidikan informal bagi masyarakat tentang
berbagai aspek yang berkaitan dengan bencana alam, termasuk cara-
cara dasar dan praktis menghadapinya. Salah satunya adalah ihwal
sederhana seperti gejala menyurutnya air laut menjelang datangnya
tsunami.

9
Informasi yang disediakan oleh media massa ini akan menjadi
semacam peringatan dini bagi masyarakat, yang mengingatkan mereka
secara terus- menerus bahwa mereka berdiam di wilayah yang rentan
bencana, dan harus bersiaga setiap saat untuk menghadapinya. Media
massa juga bisa memfasilitasi diskusi publik mengenai kesiapan
menghadapi bencana dan bagaimana cara meresponsnya.

Peran media massa sebagai alat penyebarluasan


informasi yang utama menjadi sangat
penting dalam penanggulangan bencana.
Sejumlah pakar, di antaranya
Stephen Rattien, menyebutkan
bahwa komunikasi, terutama
komunikasi melalui media massa,
merupakan sesuatu yang sentral
dalam upaya menyelamatkan banyak
nyawa manusia serta juga
mengurangi penderitaan dan
kerugian yang besar secara ekonomi.
Dalam bencana alam yang sulit
diramalkan seperti halnya tsunami,
agak sulit pula bagi media massa
untuk memberikan peringatan dini.
Namun, jika proses sosialisasi
informasi tentang tsunami ini
dilakukan secara berkelanjutan,
masyarakat akan terus-menerus diingatkan mengenai ancaman
bencana dan akan lebih sigap dalam memberikan respons. Misalnya
masyarakat bisa mengidentifikasi lokasi-lokasi yang memiliki ketinggian
berlebih, entah di rumah para tetangga yang bertingkat atau di daerah
perbukitan, sebagai tempat yang dituju saat menyelamatkan diri.
Sayangnya, tak banyak media yang dengan sadar dan sukarela
melakukan proses sosialisasi seperti ini. Untuk Indonesia, ada beberapa
media cetak yang cukup rajin melakukan upaya ini, misalnya saja
Kompas dan Koran Tempo, dengan menggalang informasi secara
berkala dari para pakar bencana, atau lembaga-lembaga resmi yang
bertanggung jawab mengurusi masalah ini.

10
Akan tetapi, untuk radio dan televisi, upaya sosialisasi semacam ini
masih jarang terdengar. Kedua jenis media ini biasanya memberitakan
bencana hanya pada saat-saat bencana terjadi atau memberikan
peringatan ketika bencana sudah sangat dekat di depan mata.
Bencana tsunami yang menyisakan derita panjang ini hendaknya
dapat dijadikan titik tolak bagi media massa, khususnya media siaran,
untuk meninjau ulang kebijakan pemberitaan mereka mengenai
bencana alam. Sudah saatnya media massa menempatkan informasi
tentang bencana alam sebagai salah satu prioritas utama sejak dari
fase pra-bencana.

E. Dampak Positif Media Massa Sebagai Media Sosialisasi

1. Memberi Informasi Secara Luas


Contoh :
 Masyarakat dapat memperoleh informasi secara luas sehingga
pesan informasi yang sama dapat diterima secara serentak dan
sesaat dari berbagai sumber-terutama dari media media massa,
apakah dari siaran televisi dan radio (media elektronik), surat
kabar dan majalah (media cetak), komputer pribadi, atau bahkan
dari internet.

 Televisi pun mempunyai pengaruh positif


seperti merangsang interaksi, merangsang
eksperimen dan pertumbuhan mental
sosial anak, serta memperluas cakrawala
pengetahuan.
 Di banyak negara termasuk Indonesia, televisi juga dimanfaatkan
untuk menayangkan siaran-siaran pendidikan, seperti yang
dilakukan oleh TVRI, TVI, dan TV Edukasi (TVE).

11
 Media massa berperan sebagai media pendidikan diperlukan untuk
membantu guru dalam menumbuhkan pemahaman siswa terhadap
materi pelajaran. Pengalaman langsung siswa di lingkungan
masyarakat, dramatisasi, pameran dan kumpulan benda-benda,
televisi dan film, radio recording, gambar, foto, grafik, bagan,
chart, skema, peta, majalah, surat kabar, buletin, folder, pamflet
dan karikatur dalam berbagai ukuran yang sesuai dapat
memperluas pengetahuan siswa.

F. Dampak Negatif Media Massa Sebagai Media Sosialisasi

1. Penghilangan Privacy
Contoh:
 Pemberitaan sebuah kasus perkosaan seorang gadis di kebun tebu
oleh media massa di Jawa Timur pada awal Desember 2007.
Sebuah media cetak memuat foto lokasi perkosaan dilengkapi
inset foto wajah si korban. Media itu juga menyebutkan alamat
lengkap korban, nama lengkap korban, dan nama orangtuanya.
Ironisnya, sampai sekarang pelakunya belum ditangkap dan media
tidak mempersoalkan hal ini.

2. Meningkatnya Kekerasan
Contoh:

 Dalam film, perempuan selalu digambarkan sebagi korban,


diperkosa, disakiti. Sosialisasi kekerasan ini akan menjadi
lingkaran setan bila film itu sukses dalam pemasaran, karena akan
memberi inspirasi kepada produser lain untuk memproduksi film
yang serupa atau bahkan lebih keras. Film terakhir yang diputar di
India adalah tentang mafia yang diberi nilai humanis untuk
kejahatan bawah tanah yang dilakukannya. Dengan demikian,
perempuan mendapatkan haknya dengan membalas dendam,
yang artinya melakukan kekerasan. Dalam sebuah film yang lain,
perempuan digambarkan mencari keadilan dengan membunuh
memakai sabit.

12
 Media massa lebih banyak memamerkan kekerasan. Akibatnya,
terjadi peningkatan jumlah dan kecepatan kekerasan. Dalam film
cerita mula-mula orang yang berkelahi hanya saling pukul dengan
tinjunya, tetapi kemudian mulai memakai senjata, granat dan alat
pembunuh lain. Adegan perkelahian lalu menjadi hiburan.
Kekerasan juga meningkat karena masyarakat menjadi seperti
kecanduan terhadap kekerasan, sehingga terbentuklah spiral
kekerasan dalam media.

 Penayangan acara SmackDown di televisi diyakini telah


menyebabkan penyimpangan perilaku anak-anak dalam beberapa
kasus.

3. Mengubah Gaya Hidup Masyarakat


Contoh:
 Iklan-iklan yang ditayangkan melalui media massa mempunyai
potensi untuk mengubah pola konsumsi atau bahkan gaya hidup
masyarakat. Media massa pun sering digunakan untuk
mempengaruhi dan bahkan membentuk pendapat umum.

 Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar


televisi dibandingkan waktu yang digunakan untuk belajar.

4. Perubahan Moralisasi dan Peningkatan Pelanggaran Susila


Dalam Masyarakat.
Contoh:
 Penayangan film-film keras dan brutal melalui televisi dapat
menimbulkan perilaku yang keras. Selain itu, dapat pula
mempengaruhi sikap dan perilaku agresif pada anak-anak.

13

PENUTUP

A. Kesimpulan

Media massa merupakan bentuk komunikasi dan rekreasi yang


menjangkau masyarakat secara luas sehingga pesan informasi yang
sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Media massa terdiri
dari media cetak (surat kabar, brosur, baleho, buku, majalah, tabloid)
dan media elektronik (radio, televisi, video, film, piringan hitam, kaset,
CD/DVD). Media massa diidentifikasikan sebagai media sosialisasi yang
berpengaruh pula terhadap perilaku masyarakat.
Dampak Positif Media Massa Sebagai Media Sosialisasi antara lain :
1. Memberi Informasi Secara Luas

Dampak Negatif Media Massa Sebagai Media


Sosialisasi :
1. Penghilangan Privacy
2. Meningkatnya Kekerasan
3. Mengubah Gaya Hidup Masyarakat
4. Perubahan Moralisasi dan Peningkatan Pelanggaran Susila Dalam
Masyarakat.

B. Saran
Demikian juga waktu untuk belajar anak hendaknya juga diatur
sehingga tidak dihabiskan di muka layar televisi. Minat anak-anak
terhadap siaran televisi yang menayangkan berbagai jenis film,
membuat media ini begitu dominan dalam proses sosialisasi karena
anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar televisi
dibandingkan waktu yang digunakan untuk belajar.
Orang tua hendaknya memperhatikan dan ikut memberikan
penjelasan-penjelasan terhadap keinginan anak-anak untuk menonton
acara-acara televisi yang kurang layak ditonton.
14

DAFTAR PUSTAKA

IKAPI. 1995. Panduan belajar Sosiologi kelas 2 SMU. Jakarta : Yudhistira.

www.google.com

www.hsc.csu.edu.au/pta/scansw/bias.htm.

www.kompas.com/kompas-cetak/0012/21/nasional/medi26.htm

www.mediad.org/studyguides/

www.wikipedia.org/
15