Anda di halaman 1dari 8

KANKER PROSTAT A.

DEFINISI Kanker prostat adalah penyakit kanker yang menyerang kelenjar prostat, dimana sel-sel kelenjar prostat tumbuh secara abnormal tak terkendali sehingga mendesak dan merusak jaringan sekitarnya bahkan dapat mengakibatkan kematian. B. ETIOLOGI Penyebab yang pasti belum diketahui, tetapi ada beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker prostat yaitu usia, genetik, ras, diit, pola hidup, obat dan faktor lain. Faktor resiko utama adalah usia. Hormon, diet tinggi lemak dan toksin juga disebutkan sebagai faktor risiko kanker prostat walaupun kaitannya belum jelas. Pria yang memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker prostat adalah pria kulit hitam yang berusia diatas 60 tahun, petani, pelukis dan pemaparan kadmium. Pola makan rendah vitamin E, asam lemak omega3, likopen, selenium dan vitamin D meningkatkan resiko terjadinya kanker prostat. Penggunaan aspirin, ibuprofen, naproxen dan statin setiap hari menurunkan resiko terkena kanker prostat, sementara tindakan vasektomi meningkatkan resiko kejadian kanker prostat. Tingginya kadar testosteron dalam darah dan obesitas meningkatkan resiko terkena kanker prostat. C. PATOFISIOLOGI Saat sel-sel normal dirombak selama perbaikan dan pembaruan dengan dimatikan melalui proses apoptosis. Sel-sel kanker menghindari apoptosis dan terus bermultiplikasi secara tidak teratur dan diluar tugasnya. Kanker prostat diklasifikasikan sebagai adenokarsinoma atau kanker kelanjar yang berawal saat sel-sel normal kelenjar prostat yang mensekresikan semen bermutasi menjadi sel kanker. Daerah kelenjar prostat yang paling sering berkembang menjadi adenokarsinoma adalah daerah perifer/ pinggir. Pada awalnya, kelompok kecil sel kanker menetap di daerah pinggir/ batas tidak seperti kelenjar prostat pada normalnya yang disebut sebagai karsinoma insitu atau neoplasia intraepitelial prostat (prostatic intraepithelial neoplasia/ PIN). Meskipun tidak dapat dibuktikan bahwa PIN merupakan prekursor kanker, namun hal ini berhubungan erat dengan kanker. Sepanjang waktu, sel-sel kanker ini mulai bermultiplikasi dan menyebar ke

jaringan prostat sekitarnya (stroma) dan membentuk sebuah benjolan/ tumor. Selanjutnya, tumor akan tumbuh membesar dan menginvasi organ sekitarnya seperti vesikel seminalis atau rektum, atau sel tumor akan meningkat kemampuannya mengikuti aliran darah dan sistem limfatik. Kanker prostat termasuk tumor maligna karena merupakan massa yang terbentuk dari sel-sel yang dapat menginvasi bagian tubuh yang lain. Invasi ke organ lain ini disebut sebagai metastase. Kanker prostat biasanya bermetastase ke tulang, nodus limfatikus, rektum dan kandung kemih.

Kanker prostat dikelompokkan menjadi: 1. Stadium A : benjolan/tumor tidak dapat diraba pada pemeriksaan fisik, biasanya ditemukan secara tidak sengaja setelah pembedahan prostat karena penyakit lain. 2. Stadium B : tumor terbatas pada prostat dan biasanya ditemukan pada pemeriksaan fisik atau tes PSA. 3. Stadium C : tumor telah menyebar ke luar dari kapsul prostat, tetapi belum sampai menyebar ke kelenjar getah bening. 4. Stadium D : kanker telah menyebar (metastase) ke kelenjar getah bening regional maupun bagian tubuh lainnya (misalnya tulang dan paru-paru).

D. TANDA DAN GEJALA Pada stadium dini, tidak bergejala. Setelah kanker berkembang, muncul gejala tetapi tidak khas, menyerupai gejala BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) yaitu penyakit pembesaran prostat jinak yang sering dijumpai pada pria lanjut usia. Akibatnya, kedua penyakit ini sulit dibedakan sehingga diperlukan pemeriksaan yang dapat mendeteksi dini dan sekaligus membedakan antara kanker prostat dan BPH.

Gejala kanker prostat ; 1. Sering kencing 2. Nokturia (sering kencing malam hari) 3. Sulit kencing 4. Segera setelah berkemih, biasanya air kemih masih menetes-netes 5. Nyeri saat berkemih 6. Urine (air kencing) berdarah 7. Nyeri saat ereksi dan ejakulasi 8. Cairan ejakulasi berdarah 9. Gangguan ereksi 10. Nyeri pinggul atau punggung Pada beberapa kasus, kanker prostat baru terdiagnosis setelah menyebar ke tulang (terutama tulang panggul, iga dan tulang belakang)

11. penyebaran ke ginjal (menyebabkan gagal ginjal) sering ditandai nyeri perut atau pinggang. 12. Kanker tulang menimbulkan nyeri dan tulang menjadi rapuh sehingga mudah mengalami fraktur (patah tulang). 13. Setelah kanker menyebar, biasanya penderita akan mengalami anemia. 14. Kanker prostat juga bisa menyebar ke otak dan menyebabkan kejang serta gejala mental atau neurologis lainnya. 15. Nyeri ketika buang air besar 16. Penurunan berat badan. E. PEMERIKSAAN PENUNJANG DAN DIAGNOSIS Pria berusia > 50 tahun dianjurkan melakukan pemeriksaan PSA total (Prostate Specific Antigen) dan pemeriksaan Digital Rectal Examination atau DRE (1) setiap setahun sekali. Bila ada keluarga yang menderita kanker prostat, skrining dianjurkan sejak usia 40 tahun. Diagnosis kanker prostat dipastikan berdasarkan beberapa prosedur diagnosis yaitu : 1. Riwayat keluarga dan pemeriksaan fisik (termasuk DRE yaitu perabaan prostat melalui dubur yang dilakukan oleh dokter yang telah terlatih). Colok dubur pada penderita kanker prostat akan menunjukkan adanya benjolan keras yang bentuknya tidak beraturan. 2. Pemeriksaan darah yaitu PSA total, dan bila perlu ditambahkan pemeriksaan rasio free-PSA/PSA total (atau c-PSA(2)/PSA total) untuk membedakan kanker prostat dan BPH terutama bagi pasien dengan hasil PSA total antara 2.6-10 ng/ml. PSA adalah enzim yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat yang berfungsi untuk mengencerkan cairan ejakulasi untuk memudahkan pergerakan sperma. Pada keadaan normal, hanya sedikit PSA yang masuk ke dalam aliran darah tetapi bila terjadi peradangan atau kerusakan jaringan prostat maka kadar PSA dalam darah meningkat. Jadi peningkatan kadar PSA bukan hanya disebabkan oleh kanker prostat tetapi dapat juga disebabkan oleh BPH. Dalam darah, PSA ditemukan dalam keadaan bebas (free-PSA) dan sebagian besar diikat oleh protein (disebut cPSA atau complexed-PSA). Dari hasil penelitian ternyata peningkatan free PSA lebih dominan, sedangkan pada kanker prostat peningkatan c-PSA lebih dominan. Untuk membedakan apakah peningkatan kadar PSA disebabkan oleh BPH atau

kanker prostat maka dianjurkan pemeriksaan rasio free-PSA/PSA total atau rasio cPSA/PSA total terutama bagi mereka yang kadar PSA totalnya antara 2.6-10 ng/ml. 3. Biopsi yang dipandu dengan USG untuk mendapatkan sampel jaringan prostat. Selanjutnya, jaringan diperiksa di bawah mikroskop untuk mendeteksi ada tidaknya sel kanker. 4. Dengan melakukan rontgen atau skening tulang, bisa diketahui adanya penyebaran kanker ke tulang. 5. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah analisa air kemih, Sitologi air kemih atau cairan prostat dan Biopsi prostat. F. PENATALAKSANAAN Ada beberapa cara penanganan kanker prostat yaitu : 1. Cukup diamati dan dipantau perkembangannya dengan melakukan pemeriksaan PSA 2. Pengangkatan kelenjar prostat 3. Radiasi 4. Terapi hormonal Pemilihan pengobatan tergantung stadium penyakit dan kondisi pasien. Pengobatan yang tepat untuk kanker prostat masih diperdebatkan. Pilihan pengobatan bervariasi, tergantung kepada stadiumnya:

Pada stadium awal bisa digunakan prostatektomi (pengangkatan prostat) dan terapi penyinaran

Jika kanker telah menyebar, bisa dilakukan manipulasi hormonal (mengurangi kadar testosteron melalui obat-obatan maupun pengangkatan testis) atau kemoterapi. Pembedahan

1. Prostatektomi radikal (pengangkatan kelenjar prostat). Seringkali dilakukan pada kanker stadium A dan B. Prosedurnya lama dan biasanya dilakukan dibawah pembiusan total maupun spinal. Sebuah sayatan dibuat di perut maupun daerah

perineum dan penderita harus menjalani perawatan rumah sakit selama 5-7 hari. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah impotensia dan inkontinensia urin. Pada penderita yang kehidupan seksualnya masih aktif, bisa dilakukan potency-sparing radical prostatectomy. 2. Orkiektomi (pengangkatan testis, pengebirian). Pengangkatan kedua testis menyebabkan berkurangnya kadar testosteron, tetapi prosedur ini menimbulkan efek fisik dan psikis yang tidak dapat ditolerir oleh penderita. Orkidektomi adalah pengobatan yang efektif, tidak memerlukan pengobatan ulang, lebih murah dibandingkan dengan obat-obatan dan sesudah menjalani orkiektomi penderita tidak perlu menjalani perawatan rumah sakit. Orkiektomi biasanya dilakukan pada kanker yang telah menyebar. Terapi penyinaran Terapi penyinaran terutama digunakan untuk mengobati kanker stadium A, B dan C. Biasanya jika resiko pembedahan terlalu tinggi, maka dilakukan terapi penyinaran. Terapi penyinaran terhadap kelenjar prostat bisa dilakukan melalui beberapa cara: 1. Terapi penyinaran eksterna, dilakukan di rumah sakit tanpa perlu menjalani rawat inap. Efek sampingnya berupa penurunan nafsu makan, kelelahan, reaksi kulit (misalnya kemerahan dan iritasi), cedera atau luka bakar pada rektum, diare, sistitis (infeksi kandung kemih) dan hematuria. Terapi penyinaran eksterna biasanya dilakukan sebanyak 5 kali/minggu selama 6-8 minggu. 2. Pencangkokan butiran yodium, emas atau iridium radioaktif langsung pada jaringan prostat melalui sayatan kecil. Keuntungan dari bentuk terapi penyinaran ini adalah bahwa radiasi langsung diarahkan kepada prostat dengan kerusakan jaringan di sekitarnya yang lebih sedikit. Obat-obatan 1. Manipulasi hormonal. Tujuannya adalah mengurangi kadar testosteron. Penurunan kadar testosteron seringkali sangat efektif dalam mencegah pertumbuhan dan penyebaran kanker. Manipulasi hormonal terutama digunakan untuk meringankan gejala tanpa menyembuhkan kankernya, yaitu misalnya pada penderita yang kankernya telah menyebar. Obat sintetis yang fungsinya menyerupai LHRH

(luteinizing hormone releasing hormone), semakin banyak digunakan untuk mengobati kanker prostat stadium lanjut. Contohnya adalah lupron atau zoladeks. Obat ini menekan perangsangan testis terhadap pembentukan testosteron (hal seperti ini disebut pengebirian kimiawi karena memiliki hasil yang sama dengan pengangkatan testis). Obat diberikan dalam bentuk suntikan, biasanya setiap 3 bulan sekali. Efek sampingnya adalah mual dan muntah, wajah kemerahan, anemia, osteoporosis dan impotensi. Obat lainnya yang digunakan untuk terapi hormonal adalah zat penghambat androgen (misalnya flutamid), yang berfungsi mencegah menempelnya testosteron pada sel-sel prostat. Efek sampingnya adalah impotensi, gangguan hati, diare dan ginekomastia (pembesaran payudara). 2. Kemoterapi Kemoterapi seringkali digunakan untuk mengatasi gejala kanker prostat yang kebal terhadap pengobatan hormonal. Biasanya diberikan obat tunggal atau kombinasi beberapa obat untuk menghancurkan sel-sel kanker. Obat-obatan yang bisa digunakan untuk mengobati kanker prostat adalah: - Mitoxantron - Paclitaxel - Estramustin - Prednisone - Dosetaxel - Adriamycin.

Efek sampingnya bervariasi dan tergantung kepada obat yang diberikan.

Pemantauan Apapun jenis pengobatan yang dijalaninya, penderita akan dipantau secara ketat mengenai perkembangan penyakitnya. Pemantauannya meliputi: 1. Pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar PSA (biasanya setiap 3 bulan - 1 tahun). 2. Skening dan/atau CT scan tulang untuk mengetahui penyebaran kanker. 3. Pemeriksaan darah lengkap untuk memantau tanda-tanda dan gejala anemia. 4. Pemantauan tanda dan gejala lainnya yang menunjukkan perkembangan penyakit (misalnya kelelahan, penurunan berat badan, nyeri yang semakin hebat, penurunan fungsi usus dan kandung kemih serta kelemahan).

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 volume 2. Jakarta. EGC Johnson, M.,et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. IOWA Intervention Project. Mosby. Mc. Closkey & Bulechek. 2002. Nursing Intervention Classification. Mosby Year Book. Philadelphia.St. Louis NANDA, 2002. Nursing Diagnoses : Definition & Classifications 2001-2002. Philadelphia. USA http://en.wikipedia.org/wiki/Prostate_cancer http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php? id=&iddtl=558&idktg=18&idobat=&UID=20070609151744222.124.209.2 www.prodia.co.id/info_terkini/isi_prostat2005.html 15k