Anda di halaman 1dari 14

QANUN ACEH NOMOR ..

TAHUN 2010 TENTANG PEMBENTUKAN PT PENGEMBANGAN INVESTASI ACEH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR ACEH, Menimbang : a.Bahwa dalam rangka mewujudkan Visi Aceh 2017 dan menghadapi perkembangan ekonomi global, maka dipandang perlu membentuk Induk Perusahaan (Holding Company) Badan Usaha Milik Aceh berupa Perseroan Terbatas (PT) Pengembangan Investasi Aceh sebagai wadah untuk menciptakan dan mendorong Badan Usaha Milik Aceh, baik yang sudah didirikan maupun yang akan didirikan oleh Pemerintah Aceh; b.Bahwa Perusahaan Perseroan Terbatas (PT) yang akan didirikan tersebut bertujuan untuk melakukan pembinaan terhadap Badan Usaha Milik Aceh yang berorientasi bisnis, mandiri dan mempunyai daya saing tinggi di tingkat nasional dan Internasional, menjadi perusahaan handal, bersih, transparan dan menjujung tinggi prinsip Good Corparate Governance, menciptakan lapangan kerja untuk seluruh masyarakat Aceh, menjadi BUMA sebagai lokomatif pembangunan di Aceh dan melakukan kerjasama dengan BUMA Pemerintah kabupaten/kota untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan menciptakan perusahaan berskala nasional dan regional; c.Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b di atas, perlu membentuk Qanun Aceh tentang Pembentukan PT Pengembangan Investasi Aceh.

Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonomi Propinsi Atjeh dan Perubahan Peraturan Pembentukan Propinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1103); 2. Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 5 Tahun 1962 Tentang Perusahaan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1962 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2387); 3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Yang Bersih dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3851); 4. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh (Lembaran Negara

-2Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 172, Lembaran Negara Nomor 3893); Tambahan

5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389); 6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pememerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437), sebagaimana telah beberapa kali diubah dengan Undang-Undang nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438); 8. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4756); 9. Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintah Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4633);

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT ACEH dan GUBERNUR ACEH MEMUTUSKAN : Menetapkan : QANUN ACEH TENTANG PEMBENTUKAN PT PENGEMBANGAN INVESTASI ACEH.

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Qanun ini yang dimaksud dengan : 1. Qanun Aceh adalah peraturan perundang-undangan sejenis peraturan daerah tingkat provinsi yang mengatur penyelenggaraan Pemerintahan dan kehidupan masyarakat Aceh.

-32. Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) adalah Dewan Perwakilan Rakyat di tingkat Provinsi sebagai unsur penyelenggara Pemerintah Aceh yang anggotanya dipilih melalui pemilihan umum. Daerah adalah Daerah Otonomi Aceh. Gubernur adalah Kepala Pemerintahan Aceh yang dipilih melalui suatu proses pemilihan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Pemerintah kabupaten/kota adalah penyelenggara urusan pemerintahan di Kabupaten/Kota dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota sesuai dengan fungsi dan wewenang masing-masing. Pemerintah Aceh adalah penyelenggara urusan pemerintahan di tingkat provinsi bersama Dewan Perwakilan Rakyat Aceh sesuai dengan fungsi dan wewenang masing-masing. Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh untuk selanjutnya disingkat dengan APBA PT. Pengembangan Investasi Aceh yang selanjutnya disingkat PT. PIA adalah Badan Usaha Milik Aceh. Anggaran Dasar adalah Anggaran Dasar Perseroan Terbatas Pengembangan Investasi Aceh.

3. 4.

5.

6.

7. 8. 9.

10. Perseroan Terbatas adalah Perseroan Terbatas Pengembangan Investasi Aceh. 11. Perusahaan Induk (holding company) adalah perusahaan yang menjadi perusahaan utama yang membawahi beberapa perusahaan yang tergabung ke dalam satu grup perusahaan. 12. Anak-anak perusahaan adalah beberapa perusahan yang tergabung ke dalam satu grup perusahan utama. 13. Rapat Umum Pemegang Saham selanjutnya disebut RUPS adalah Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan Terbatas Pengembangan Investasi Aceh sebagai organ perseroan yang merupakan wadah pemegang saham dalam mengambil keputusan dan memegang kekuasaan tertinggi dalam perseroan. 14. Stakeholders adalah kelompok atau individu yang dukungannya diperlukan demi kesejahteraan dan kelangsungan hidup organisasi, dalam hal ini Pemerintah Aceh, DPRA, Pemegang Saham, Komisaris, Direksi, Karyawan, pelanggan dan bahkan lingkungan. 15. Komisaris adalah Komisaris Perseroan Terbatas Pengembangan Investasi Aceh. 16. Direktur adalah Direktur Perseroan Terbatas Pengembangan Investasi Aceh. 17. Pegawai adalah Pegawai Perseroan Terbatas Pengembangan Investasi Aceh. 18. Perseroan adalah Perseroan Terbatas Pengembangan Investasi Aceh. 19. Memberdayakan adalah mendorong orang lain agar lebih terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan aktifitas yang mempengaruhi pekerjaan mereka. 20. Ekonomi Rakyat adalah kegiatan ekonomi rakyat banyak, Jika dikaitkan dengan kegiatan pertanian, maka yang dimaksud kegiatan ekonomi petani atau peternak atau nelayan kecil, petani gurem, petani tanpa tanah, nelayan tanpa perahu, dan sejenisnya dan bukan perkebunan atau peternak besar. 21. Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang.

-4BAB II PENDIRIAN Pasal 2 (1) Berdasarkan Qanun ini Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) diubah badan hukumnya dari Perusahaan Daerah (PD) menjadi Perseroan Terbatas (PT) dengan nama PT Pengembangan Investasi Aceh sebagai Perusahaan Induk (Holding Company). (2) Gubernur diberikan wewenang untuk melaksanakan pembentukan perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai peraturan perundang-undangan.

BAB III VISI DAN MISI Pasal 3 (1) Visi Perseroan adalah menjadi salah satu perusahaan milik daerah yang terbaik di Indonesia yang mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi para stakeholders dan mampu tumbuh menjadi perusahaan kelas dunia. Misi Perseroan adalah mengembangkan investasi pada sektor strategis yang berbasis sumberdaya lokal untuk pertumbuhan ekonomi Aceh. Menjadi mitra bagi usaha rakyat dan para investor nasional maupun internasional.

(2) (3)

BAB IV MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 4 (1) Maksud didirikannya Perseroan Terbatas sebagai Perusahaan Induk adalah untuk membentuk dan membina anak-anak perusahaan yang handal, bersih, transparan dan menjunjung prinsip Good Corporate Governance dalam rangka membina, mengembangkan dan memberdayakan ekonomi rakyat Aceh secara professional sebagai perwujudan Visi Aceh Tahun 2017. Tujuan: a. sebagai perusahaan induk (holding company) bagi anak-anak perusahaan yang akan dibentuk oleh PT. Pengembangan Investasi Aceh; b. meningkatkan pendapatan asli daerah; c. meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat Aceh; dan d. sebagai mitra bagi investor dalam dan luar negeri.

(2)

BAB V TEMPAT KEDUDUKAN DAN KEGIATAN USAHA Pasal 5 Perseroan berkedudukan dan berkantor pusat di Banda Aceh dan dapat membuka cabang atau perwakilan perusahaan di dalam atau di luar negeri atas keputusan Direksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

-5Pasal 6 (1) Ruang lingkup kegiatan Perseroan adalah sebagai berikut : a. Menumbuhkembangkan, usaha anak-anak perusahaan sesuai rencana strategis bisnis masing-masing unit usaha, meliputi identifikasi peluang usaha, prioritas kegiatan usaha, strategi pengembangan usaha dan melakukan penyertaan investasi maupun penyertaan aktiva lainnya pada perusahaan yang memiliki prospek yang baik; b. Mengoptimalkan struktur keuangan perseroan, meliputi struktur permodalan, strategi penggalangan, dan pengembangan alternatif pembiayaan atau pendanaan untuk seluruh kegiatan usaha perseroan secara ekonomis; c. Mempersiapkan berbagai peluang pengembangan usaha perseroan baik melalui pendirian usaha baru, usaha patungan, pengambil alihan dan penggabungan usaha; d. Mencari sumber pendanaan melalui penyertaan modal pemerintah daerah, penyertaan pihak lainnya, pinjaman dari lembaga keuangan, penerbitan surat hutang (obligasi) dan melalui penawaran umum (Initial Public Offering/IPO); e. Melakukan analisis atas rencana bisnis dari setiap unit usaha strategis dan melaporkan secara periodik kepada pemegang saham; f. Melakukan peningkatan nilai (value) dari setiap unit usaha strategis, melalui orientasi ke pasar ekspor dan domestik, fokus pada bisnis inti (core business). (2) Untuk pengembangan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat bekerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota dan atau pihak lain di dalam negeri dan atau di luar negeri. BAB VI MODAL DAN SAHAM Pasal 7 (1) (2) Modal dasar perseroan sebesar Rp. 500.000.000.000,- (lima ratus milyar rupiah) Modal dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penyertaan modal Pemerintah Aceh berupa kekayaan Pemerintah Aceh dalam bentuk uang tunai, asset-asset, dan konsesi lainnya. Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) merupakan kekayaan Pemerintah Aceh yang dipisahkan. Ketentuan lain-lain mengenai perubahan modal dasar perseroan ditetapkan oleh RUPS sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar sesuai peraturan perundangundangan. Penambahan modal perseroan bersumber dari APBA. Pasal 8 (1) (2) (3) Saham yang dikeluarkan oleh perseroan adalah saham atas nama. Jenis dan nilai nominal saham ditetapkan oleh RUPS. Pengalihan saham milik pemerintah Aceh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(3) (4)

(5)

-6(4) Perubahan pengalihan saham milik Pemerintah Aceh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2), ditetapkan oleh RUPS dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Untuk tetap mempertahankan struktur permodalan pada masing-masing anak perusahaan sebagai akibat pemasukan (inbreng) saham-saham milik Pemerintah Aceh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) perlu dilakukan konsultasi permodalan. Pasal 9 Ketentuan dan peraturan tentang daftar pemegang saham, pemindah-tanganan saham dan duplik saham diatur dalam peraturan tersendiri oleh RUPS sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 10 Setiap pemegang saham harus tunduk dan patuh pada keputusan yang secara sah telah ditetapkan oleh RUPS. BAB VII RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM Pasal 11 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) RUPS merupakan pemegang kekuasaan tertinggi. RUPS terdiri atas RUPS tahunan dan RUPS lainya. RUPS diadakan sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun. RUPS tahunan diadakan dalam waktu paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun buku ditutup. RUPS lainnya dapat diadakan sewaktu-waktu berdasarkan kebutuhan. RUPS dipimpin oleh Komisaris Utama. RUPS dihadiri oleh unsur-unsur, Pemerintah Aceh, pemegang saham, komisaris dan direksi. Keputusan RUPS diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat dan apabila musyawarah mufakat tidak tercapai maka keputusan diambil mengacu kepada undang-undang yang berlaku. Tata tertib penyelenggaraan RUPS ditetapkan oleh RUPS pertama dengan berpedoman pada Anggaran Dasar.

(5)

(9)

BAB VIII PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN DIREKSI Pasal 12 (1) Perseroan dipimpin oleh Direksi, yang terdiri dari seorang Direktur atau lebih, apabila diangkat lebih dari seorang Direktur maka salah seorang diantaranya dapat diangkat sebagai Direktur Utama. Prosedur dan persyaratan pengangkatan, masa jabatan, tugas dan wewenang serta pemberhentian Direksi diatur dalam Anggaran Dasar

(2)

-7(3) Pemilihan Direksi untuk periode pertama dilakukan dengan cara penunjukkan langsung oleh gubernur dan untuk periode selanjutnya dilakukan dengan cara terbuka melalui fit and proper test. Masa jabatan Direksi adalah selama 4 (empat) tahun, kemudian dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) masa jabatan berikutnya. Jabatan Direksi hanya boleh dijabat maksimum 2 (dua) kali masa jabatan untuk jabatan yang sama. Pasal 13 Kriteria Direksi a. Memiliki komitmen yang tinggi terhadap perusahaan dan profesional di bidangnya; b. Memiliki pengalaman 10 tahun pada perusahaan berskala nasional minimal sebagai Manajer Senior; c. Memiliki pendidikan minimal Strata Satu (S1) dan mampu berbahasa Inggris secara aktif; d. Memiliki visi bisnis dan memahami strategic management; e. Memiliki kemampuan untuk memahami manajemen keuangan; f. Memiliki integritas tinggi dan tidak memiliki catatan criminal; g. Memiliki kemampuan komunikasi baik dengan kalangan birokrasi maupun legislative; h. Memahami prinsip Good Corporate Governance; dan i. Lulus fit and proper test. Pasal 14 Direksi dapat diberhentikan jika : a. berakhir masa jabatannya; b. mengundurkan diri; c. terbukti melakukan tindak pidana; d. melanggar pakta integritas; e. cacat seumur hidup yang menggangu kinerja; dan f. meninggal dunia. Pasal 15 Pemberhentian Direksi yang belum berakhir masa jabatannya dapat dilakukan atas usul Pemerintah Aceh.

(4) (5)

BAB IX KOMISARIS Pasal 16 (1) Komisaris terdiri dari dua orang, satu orang mewakili Pemerintah Aceh, dan satu orang mewakili tokoh masyarakat/akademisi.

-8(2) (3) (4) (5) Prosedur dan persyaratan pengangkatan, masa jabatan, tugas dan wewenang serta pemberhentian Komisaris diatur dalam Anggaran Dasar. Penetapan Komisaris untuk periode pertama dilakukan dengan cara penunjukkan langsung oleh Pemerintah Aceh. Masa jabatan Komisaris adalah selama 4 (empat) tahun, kemudian dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) masa jabatan berikutnya. Jabatan Komisaris hanya boleh dijabat maksimum 2 (dua) kali masa jabatan untuk jabatan yang sama. Pasal 17 Kriteria Komisaris (1) Komisaris Utama : a. Mewakili Pemerintah Aceh; b. Memiliki waktu untuk menjalankan sistem pengawasan; c. Memiliki kecakapan dan memahami Good Corporate Governance; d. Memiliki kemampuan komunikasi dengan kalangan legislatif; e. Memiliki kemampuan untuk memahami laporan keuangan; dan f. Memiliki integritas.

(2)

Komisaris Independen : a. Mewakili dari tokoh masyarakat atau akademisi; b. Memiliki waktu untuk menjalankan sistem pengawasan perusahaan; c. Memiliki kecakapan untuk memahami Good Corporate Governance; d. Memiliki kemampuan komunikasi dengan kalangan legislatif; e. Memiliki kemampuan untuk memahami laporan keuangan; dan f. Memiliki integritas. BAB X KEPEGAWAIAN Pasal 18

(1) (2)

Pegawai perseroan diangkat dan diberhentikan oleh Direksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kedudukan, kewajiban dan hak pegawai diatur oleh Direksi sesuai peraturan perundang-undangan, dengan memperhatikan kemampuan keuangan Perseroan.

BAB XI TAHUN BUKU, RENCANA KERJA DAN ANGGARAN Pasal 19 (1) Tahun buku Perseroan adalah akhir tahun.

-9(2) (3) Rencana kerja dan Anggaran Biaya disusun dan diajukan oleh Direktur kepada Komisaris untuk memperoleh pengesahan. Pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ditetapkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum tahun buku ditutup. Pasal 20 (1) Direksi berkewajiban membuat dan menyampaikan laporan keuangan perseroan yang terdiri atas neraca, perhitungan laba rugi, laporan perubahan modal dan catatan atas laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik selambatlambatnya 3 (tiga) bulan setelah penutupan tahun buku. Selambat-lambatnya 4 (empat) bulan setelah tahun buku ditutup, Direksi membuat laporan tahunan untuk diajukan dan dibahas dalam RUPS tahunan;

(2)

BAB XII PENETAPAN DAN PEMBAGIAN LABA BERSIH Pasal 21 (1) (2) Pembagian laba (dividen) ditetapkan berdasarkan keputusan RUPS. Pembagian laba sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan dialokasikan untuk : a. pendapatan asli daerah dan atau pemegang saham; b. dana pengembangan usaha; c. dana kesejahteraan pegawai; d. tantiem direksi dan komisaris; e. dana cadangan; dan f. dana CSR (corporate social responsibility) (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2) huruf d ditetapkan sebesar-besarnya 10% (sepuluh persen) dari laba bersih.

BAB XIII PENGGABUNGAN, PELEBURAN DAN PENGAMBIL ALIHAN Pasal 22 (1) Penggabungan, peleburan dan pengambil-alihan Perseroan ditetapkan oleh RUPS sesuai peraturan perundang-undangan. (2) Tata cara penggabungan, peleburan dan pengambilalihan dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam Anggaran Dasar. BAB XIV PEMBUBARAN DAN LIKUIDASI Pasal 23 (1) Pembubaran dan likuidasi Perseroan ditetapkan dalam RUPS dan Penetapan Pengadilan.

- 10 (2) Tata cara pembubaran dan likuidasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam Anggaran Dasar. BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 24 Hal-hal yang belum diatur dalam Qanun ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya akan ditetapkan dalam Anggaran Dasar dan Keputusan RUPS. Pasal 25 Dengan berlakunya Qanun ini Peraturan Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh Nomor 4 Tahun 1994 tentang Pendirian Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh yang mengatur tetang Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 26 Qanun ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan Agar semua orang mengetahui, memerintahkan pengundangan Qanun ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Disahkan di Banda Aceh, Pada tanggal

2010 1431

GUBERNUR ACEH

IRWANDI YUSUF Diundangkan di Banda Aceh Pada tanggal 2010 1431 SEKRETARIS DAERAH ACEH

HUSNI BAHRI TOB

LEMBARAN DAERAH ACEH TAHUN 2010 NOMOR .....

- 11 -

PENJELASAN ATAS QANUN ACEH NOMORTAHUN 2010 TENTANG PEMBENTUKAN PT PENGEMBANGAN INVESTASI ACEH

UMUM Untuk menwujudkan Visi Aceh 2017 serta untuk menyonsong Era Informasi dalam rangka menghadapi perekonomian global dewasa ini salah satu langkah yang ditempuh Pemerintah Aceh dengan meningkatkan pembangunan bidang ekonomi, diantaranya daya saing BUMD yang dimiliki oleh Pemerintah Aceh, yaitu dengan cara menciptakan kebijaksanaaan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Posisi Aceh dengan letak yang strategis serta mempunyai kekayaan alam yang melimpah memberikan kesempatan yang cukup besar untuk pengembangan dan menciptakan peluang usaha dengan orientasi bisnis guna mewujudkan Good Corporate Govermance dalam rangka menghadapi persaingan bisnis yang semakin kompetitif di era globalisasi Saat ini Aceh memiliki 4 BUMA yang bergerak dalam berbagai bidang usaha, yakni PT. Bank Pembangunan Daerah Aceh (BPD Aceh), PDGM, BPR Mustaqim, dan PDPA yang memerlukan wadah untuk pembinaan dan pengembangan sehingga dapat menjadikan BUMA tersebut sebagai lokomotif pembangunan Aceh dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh, menciptakan lapangan kerja untuk seluruh masyarakat Aceh, sekaligus memberikan dukungan terhadap percepatan laju perekonomian daerah Selanjutnya untuk mengantisipasi era globalisasi dan pasar bebas serta mendukung perwujudan Visi Aceh 2017. Pemerintah Aceh memandang perlu adanya upaya untuk melakukan pembinaan dan pengembangan BUMA dengan membentuk PT. Pengembangan Investasi Aceh yang memiliki Visi dan tujuan untuk melakukan pengembangan, pengawasan serta peningkatan nilai (value) dari BUMA di Aceh

PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1)

- 12 Pendirian PT. Pengembangan Investasi Aceh dimaksudkan sebagai Perusahaan Induk (Holding Company) yang berhak dan berwenang membentuk anak-anak perusahaan sesuai dengan kebutuhan Ayat (2) Cukup jelas Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Pengelolaan bisnis yang melibatkan kepentingan stakeholders serta penggunaan sumber daya yang berkeadilan. Untuk itu perlu adanya Panduan Good Corperate Governance (GCG). Ayat (2) Cukup jelas Pasal 5 Cukup jelas

Pasal 6 Cukup jelas

Pasal 7 Cukup jelas

Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Cukup jelas Pasal 11 Cukup jelas Pasal 12 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Mekanisme pelaksanaan fit and proper test dilaksanakan oleh komisi yang dibentuk untuk keperluan tersebut . Ayat (4)

- 13 Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 huruf a Cukup jelas huruf b Cukup jelas huruf c Melakukan tindak pidana berupa kejahatan dengan ancaman hukuman maksimum 5 tahun. Apabila pengadilan menyatakan tidak terbukti bersalah setelah keputusan yang berkuatan hukum tetap, yang bersangkutan dapat diangkat dan dipilih kembali sesuai dengan batas waktu yang tersisa dari batas waktu maksimum. huruf d Pakta Integritas Perseroan. huruf e Cukup jelas huruf f Cukup jelas akan disusun kemudian oleh Pengurus

Pasal 15 Dapat dilakukan setelah adanya evaluasi kinerja yang dilakukan oleh Tim Independen berdasarkan SOP Pasal 16 Cukup jelas Pasal 17 Cukup jelas

Pasal 18 Ayat (1) Dimulai 1 Januari dan berakhir 31 Desember pada tahun yang sama Ayat (2)

- 14 Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Laporan Tahunan diajukan dan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham memuat sekurang-kurangnya : Perhitungan tahunan yang terdiri dari neraca akhir tahun buku yang lampau dan perhitungan laba rugi dari tahun buku yang bersangkutan serta penjelasan atas dokumen tersebut; Neraca gabungan dari perseroan yang tergabung dalam satu group, disamping neraca dari masing-masing perseroan tersebut; Laporan mengenai keadaan dan jalannya perseroan serta hasil yang telah dicapai; Kegiatan utama perseroan dan perubahan salama tahun buku; Rincian masalah yang timbul selama tahun buku yang mempengaruhi kegiatan perseroan.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 20 Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH ACEH NOMOR