Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Lingkungan binaan terbentuk melalui proses perencanaan dan perancangan melalui analisis kebutuhan manusia yang terstruktur, tidak seperti lingkungan alami yang terbentuk begitu saja langsung dari tangan sang Pencipta. Dalam penciptaan lingkungan binaan peran ilmu arsitektur sangatlah besar untuk menentukan seperti apa

lingkungan binaan tersebut akan berwujud. Apakah cukup nyaman bagi ruang gerak manusia dalam beraktifitas atau sebaliknya.

Bangunan pendidikan merupakan salah satu unsur yang terdapat dalam lingkungan binaan. Pendidikan sendiri merupakan proses pembentukan tingkah laku dan karakter manusia menuju arah yang lebih baik . Dalam merencanakan bangunan pendidikan seperti Sekolah formal, tentu saja sarana yang diperlukan untuk mendukung terlaksnanya tujuan pendidikan harus sangat diperhatikan secara seksama. Proses penciptaan ruang yang terjadi harus memperhatikan kebutuhan peserta didik maupun tenaga kependidikan yang ada. Selain itu unsur yang perlu diperhatikan yaitu psikologi perkembangan peserta didik. Tentu saja psikologi siswa Sekolah dasar akan sangat berbeda dengan siswa di tingkat menengah, untuk itu tentu saja perihal standarisasi ruang dan perabot serta pembentukan ruang juga akan mengalami perbedaan yang signifikan. Akan sangat tidak manusiawi apabila unsur psikologi tersebut tidak menjadi salah satu bahan yang perlu dikaji dalam proses penciptaan bangunan pendidikan.

Fenomena yang berkembang saat ini, pembentukan ruang-ruang yang terdapat dalam bangunan pendidikan khususnya Sekolah menengah masih kurang memperhatikan kebutuhan peserta didik dan tidak jarang ada yang masih kurang memperhatikan standar. Adapun para siswa yang berada di sekolah hampir 7 jam setiap harinya, merasakan bahwa tempat mereka menimba ilmu tersebut terasa menjenuhkan dan
1

tidak nyaman untuk berlama-lama. Kemudian tidak jarang pula yang mengeluhkan kurangnya sarana pendukung dalam mengembangkan minat dan bakat siswa. Hal tersebut dapat menjadi indikasi bahwa perancangan Sekolah yang kurang baik dapat menjadi faktor yang mempengaruhi gairah belajar para siswa, yang berimplikasi padi hasil dari pendidikan itu sendiri.

Berdasarkan pada pemaparan di atas, maka pembahasan mengenai psikologi arsitektur pada bangunan Sekolah menengah umum sekiranya perlu untuk dikaji secara teoritis mengingat pentingnya dalam suatu perancangan bangunan sekolah untuk

memperhatikan unsur psikologis penggunanya.

B. Maksud dan tujuan Dalam pembuatan makalah ini penulis bermaksud untuk mengkaji sejauh mana unsur psikologi pada peserta didik diperhatikan oleh pemerintah berkaitan dengan standarisasi yang telah dikeluarkan dalam peraturan . Adapun tujan pembuatan makalah ini yaitu : - Menambah pengetahuan dan bahan refernsi dalam melakukan perancangan - Melatih menganalisis suatu permasalahan untuk dicarikan solusi - Melatih kepekaan terhadap lingkungan binaan C. Rumusan masalah Pada makalah ini maka dirumuskanlah masalah tersebut ke dalam poin-poin berikut: - Apa saja yang menjadi kebutuhan psikologis mendasar pada siswa SMA yang berkaitan dengan prasarana sekolah? - Apakah bangunan SMA saat ini sudah mendukung kegiatan belajar dan mengajar yang efektif? - Bagaimana kaitan standarisasi yang dibuat oleh pemerintah mengenai pembanguanan Sekolah dengan pskologi arsitektur?

D. Batasan masalah Pembahasan dalam makalah ini dibatasi kedalam cangkupan materi yang telah dirumuskan pada poin rumusan masalah . Adapun objek kajian yang dibahas pada
2

makalah ini terbatas pada pembahasan psikologi siswa SMA negeri yaitu usia 15 18 tahun yang berada di kota bandung dikaitkan dengan arsitektur dalam perancangan Sekolah menengah atas.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Psikologi dan kaitannya dengan arsitektur

Kata psikologi berasal dari bahasa Yunani Purba, yaitu dari kata Psyche (jiwa) dan logos (kajian mengenai sesuatu). Jadi kata psikologi bisa diartikan sebagai suatu kajian mengenai sesuatu yang memberikan kesan kepada jiwa seseorang. Dengan kata lain, psikologi adalah kajian mengenai jiwa atau aspek rohani manusia dan hewan secara saintifik.

Bruno (1987); membagi pengertian psikologi dalam tiga bagian yang pada prinsipnya saling berhubungan. Pertama, psikologi adalah studi (penyelidikan) mengenai ruh. Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai kehidupan mental. Ketiga, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai tingkah laku organisme.

Psikologi adalah suatu ilmu yang mengkaji tingkah laku dan proses mental secara saintifik dan bersistematik. Psikologi ini bertujuan untuk mengurai, menjelaskan, meramal, dan mengawasi tingkah laku dan proses mental manusia kearah peningkatan kualitas kehidupan.

Ilmu arsitektur merupakan ilmu yang tidak bisa berdiri sendiri. Dalam hal ini erat kaitannya dengan Psikologi karena dalam arsitektur terdapat suatu proses merancang yang membutuhkan pendekatan psikologi. Vitruvius mengungkapkan bahwa sebuah bangunan akan berbeda tampilan dan kesannya bila dilihat dari jarak-jarak yang berlainan, baik dari sisi interior maupun eksteriornya Ini mengindikasikan bahwa pandangan - pandangan yang memperlihatkan peranan psikologi dalam karya-karya arsitektur secara tertulis sudah ditemui sejak awal.

Akan tetapi pada masa periode arsitektur modern awal, untuk konsep ruang ada sedikit perbedaan antara Arsitektur Modern dan Psikologi. Arsitektur Moderen hanya mengenal satu pengertian tentang arti ruang, yaitu sebagai sesuatu yang sifatnya volumetris,

sementara Psikologi mendefinisikannya dalam bentuk wujud yang belum tentu sama Konsep ruang ini dalam Psikologi kemudian dirinci lagi menjadi isu teritorial, crowding dan privacy , yang oleh para arsitek dianggap suatu hal yang sama saja. Bila dalam arsitektur ungkapan teritorial hanyalah dimaksudkan sebagai batas wilayah fisik atau administrasi, di psikologi hal ini dimaksudkan sebagai kemampuan diri dalam mengontrol prilaku di dalam ruang terhadap subjek lain baik berupa benda, orang lain ataupun kelompok orang, tanpa ada batasan fisik yang dapat dijadikan sebagai suatu patokan.

Arsitektur merupakan sebuah produk dengan subjek fisik berupa benda, posisi psikologi dalam arsitektur merupakan sebuah nyawa yang memberi makna pada bangunan. Dimana unsur kejiwaan yang berkaitan dengan kenyamanan manusia sebagai pengguna arsitektur perlu untuk menjadi bahan kajian dalam merancang bangunan.

B. Karakteristik Perkembaangan Anak Usia Remaja (SMP/SMA)

Masa remaja (12-21 tahun) merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang dewasa. Masa remaja sering dikenal dengan masa pencarian jati diri (ego identity). Masa remaja ditandai dengan sejumlah karakteristik penting, yaitu: 1. Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya 2. Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. 3. Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efektif. 4. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya. 5. Memilih dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan kemampuannya.

6. Mengembangkan sikap positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga dan memiliki anak. 7. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara. 8. Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial. 9. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam bertingkah laku. 10. Mengembangkan wawasan keagamaan dan meningkatkan religiositas.

C. Standar Desain Bangunan Sekolah

Menurut manual pembangunan Gedung Sekolah yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan dasar dan menengah, desain bangunan ruang-ruang kelas sekolah dengan biaya efektif telah dipersiapkan yang secara umum mudah dikerjakan oleh masyarakat untuk dibangun (lihat ilustrasi1.2-1.5). Walaupun serupa dengan desain tradisional, namun rancangan tersebut telahmengalami berbagai perubahan, baik untuk mempermudah pengerjaan konstruksi, maupun untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang sering terjadi pada desain sebelumnya. Perubahan ini diantaranya: . Memperendah jarak antara ring balok dengan kusen jendela/pintu dengan maksud dapat berfungsi sebagai lintel dan juga ring balok, sekaligus mencegah keretakan dari dinding. . Menambah jarak daerah kanopi pada bagian belakang bangunan untuk memperluas area yang terlindungi dari hujan dan panas. . Menambah dimensi ukuran pada semua kolom dan balok beton (kecualibalok lantai untuk daerah teras) menjadi 20cm x 20cm yang diperkuat dengan 4 tulangan besi dengan diameter No. 12mm. Ini akan mempermudah proses penuangan semen, mendapatkan daerah tulangan yang tertutup semen secara memadai, serta kualitas beton yang lebih baik secara keseluruhan.

Ruang-ruang kelas standar dapat dikombinasikan dalam berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan yang spesifik dari masing -masing sekolah. Dua buah variasi dari bangunan ruang kelas standar dapat dilihat pada ilustrasi. Pada ilustrasi pertama (1.2) dengan tiga ruang kelas dan toilet pada bagian belakang. Pada ilustrasi kedua (1.3) dengan tiga ruang kelas tanpa toilet. 3 Untuk membimbing komite sekolah dalam pembangunan unit-unit ruang kelas, terdapat daftar bahan-bahan bangunan yang diperlukan untuk pembangunan ruang kelas standar, tiga ruang kelas dengan toilet, dan tiga ruang kelas dengan ruang kantor. (lihat lampiran) Beberapa bahan bangunan yang berbeda yang dapat dipergunakan, antara lain : . Bata atau block ( concr et e block, batako, dsb) untuk dinding. . Genteng tanah liat, genteng metal berprofil, atau genteng asbes untuk atap. . Beton , keramik berglazur, atau slab beton untuk lantai .

D. Standar Bangunan gedung menurut Peraturan menteri pendidikan nasional No tahun 2007

1. .Bangunan gedung untuk satuan pendidikan SMP/MTs memenuhi ketentuan rasio minimum luas lantai terhadap peserta didik seperti tercantum pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Rasio Minimum Luas Lantai Bangunan terhadap Peserta Didik

Rasio minimum luas lantai bangunan terhadap Banyak No rombongan belajar Bangunan satu lantai peserta didik (m /peserta didik) Bangunan dua lantai Bangunan tiga lantai
2

1 2 3 4 5 6 7 8

3 4-6 7-9 10-12 13-15 16-18 19-21 22-24

6,9 4,8 4,1 3,8 3,7 3,6 3,5 3,4

5,1 4,5 4,1 3,9 3,8 3,7 3,6

4,6 4,2 4,1 3,9 3,8 3,7

2. Untuk satuan pendidikan yang memiliki rombongan belajar dengan banyak peserta didik kurang dari kapasitas maksimum kelas, lantai bangunan juga memenuhi ketentuan luas minimum seperti tercantum pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4 Luas Minimum Lantai Bangunan Banyak No rombongan belajar 1 2 3 4 5 6 7 8 3 4-6 7-9 10-12 13-15 16-18 19-21 22-24 Luas minimum lantai bangunan (m ) Bangunan satu lantai 430 550 690 830 990 1160 1300 1460 Bangunan dua lantai 610 750 900 1060 1260 1390 1560 Bangunan tiga lantai 780 930 1090 1300 1440 1600
2

3. Bangunan gedung memenuhi ketentuan tata bangunan yang terdiri dari: a. koefisien dasar bangunan maksimum 30 %; b. koefisien lantai bangunan dan ketinggian maksimum bangunan gedung yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah; c. jarak bebas bangunan gedung yang meliputi garis sempadan bangunan gedung dengan as jalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan kereta api, dan/atau jaringan tegangan tinggi, jarak antara bangunan gedung dengan batas-batas persil, dan jarak antara as jalan dan pagar halaman yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah. 4. Bangunan gedung memenuhi persyaratan keselamatan berikut. a. Memiliki struktur yang stabil dan kukuh sampai dengan kondisi pembebanan maksimum dalam mendukung beban muatan hidup dan beban muatan mati, serta untuk daerah/zona tertentu kemampuan untuk menahan gempa dan kekuatan alam lainnya. b. Dilengkapi sistem proteksi pasif dan/atau proteksi aktif untuk mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan petir. 5. Bangunan gedung memenuhi persyaratan kesehatan berikut. a. Mempunyai fasilitas secukupnya untuk ventilasi udara dan pencahayaan yang memadai. b. Memiliki sanitasi di dalam dan di luar bangunan gedung untuk memenuhi kebutuhan air bersih, pembuangan air kotor dan/atau air limbah, kotoran dan tempat sampah, serta penyaluran air hujan. c. Bahan bangunan yang aman bagi kesehatan pengguna bangunan gedung dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. 6. Bangunan gedung menyediakan fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat. 7. Bangunan gedung memenuhi persyaratan kenyamanan berikut. a. Bangunan gedung mampu meredam getaran dan kebisingan yang mengganggu kegiatan pembelajaran.

10

b. Setiap ruangan memiliki temperatur dan kelembaban yang tidak melebihi kondisi di luar ruangan. c. Setiap ruangan dilengkapi dengan lampu penerangan. 8. Bangunan gedung bertingkat memenuhi persyaratan berikut. a. Maksimum terdiri dari tiga lantai. b. Dilengkapi tangga yang mempertimbangkan kemudahan, keamanan, keselamatan, dan kesehatan pengguna. 9. Bangunan gedung dilengkapi sistem keamanan berikut. a. Peringatan bahaya bagi pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi jika terjadi bencana kebakaran dan/atau bencana lainnya. b. Akses evakuasi yang dapat dicapai dengan mudah dan dilengkapi penunjuk arah yang jelas. 10. Bangunan gedung dilengkapi instalasi listrik dengan daya minimum 1300 watt. 11. Pembangunan gedung atau ruang baru harus dirancang, dilaksanakan, dan diawasi secara profesional. 12. Kualitas bangunan gedung minimum permanen kelas B, sesuai dengan PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 45, dan mengacu pada Standar PU. 13. Bangunan gedung sekolah baru dapat bertahan minimum 20 tahun.\ 14. Pemeliharaan bangunan gedung sekolah adalah sebagai berikut. a. Pemeliharaan ringan, meliputi pengecatan ulang, perbaikan sebagian daun jendela/pintu, penutup lantai, penutup atap, plafon, instalasi air dan listrik, dilakukan minimum sekali dalam 5 tahun. b. Pemeliharaan berat, meliputi penggantian rangka atap, rangka plafon, rangka kayu, kusen, dan semua penutup atap, dilakukan minimum sekali dalam 20 tahun. 15. Bangunan gedung dilengkapi izin mendirikan bangunan dan izin penggunaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

11

e. Kelengkapan sarana dan prasarana

Sebuah SMA/MA sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut: 1. ruang kelas, 2. ruang perpustakaan, 3. ruang laboratorium biologi, 4. ruang laboratorium fisika, 5. ruang laboratorium kimia, 6. ruang laboratorium komputer, 7. ruang laboratorium bahasa, 8. ruang pimpinan, 9. ruang guru, 10. ruang tata usaha, 11. tempat beribadah, 12. ruang konseling, 13. ruang UKS, 14. ruang organisasi kesiswaan, 15. jamban, 16. gudang, 17. ruang sirkulasi, 18. tempat bermain/berolahraga.

12

BAB III DESKRIPSI OBJEK KAJIAN

A. Kebutuhan sarana dan prasarana sekolah berdasarkan Kakarkteristik psikologi siswa SMA

Karakteristik psikologi siswa SMA pada umumnya ialah sedang terjadinya proses pencarian jati diri, yang mengakibatkan emosi yang labil. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara serta mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial, merupakan karakteristik lain dari siswa usia tersebut. Karakteristik tersebut tentunya perlu di fasilitasi dengan dibentuknya ruang-ruang yang memudahkan mereka untuk berinteraksi sehingga proses Sosialisasi dapat berlangsung.

Siswa SMA juga memiliki kemampuan untuk mengembangakan keterampilannya.Pada usia SMA, siswa telah diberikan kepercayaan untuk mengembangkan dirinya dan di berikan tanggung jawab untuk dapat mengorganisisr suatu kegiatan. Keberdaan ekstra kurikuler tentu akan membantu mereka dalam proses pencarian jati diri. Untuk itu sangat diperlukan untuk dibangunnya ruangan ekstrakurikler.

Pada masa-masa SMA para siswa sangat senang sekali berkumpul. Suatu ide maupun gagasan yang kreatif datang melalui kebiasaan berkumpul tersebut. Hal tersebut tentu bisa menjadi hal postif dan tidak menutupi kemungkinan pula dapat menjadi hal yang negatif. Akan tetapi suatu proses kreatif dapat terbentuk dari sini secara tidak langsung, hal tersebut pun merupakan proses mereka dalam bersosialisasi menjalin relasi dan Kerjasama dengan teman-temannya. Keberadaan ruang-ruang untuk berkumpul secara masal ini terkadang menjadi hal yang dinilai Sebelah mata dan tidak begitu diperhatikan keberadaannya. Bahkan keberadaan tempat-tempat duduk di kantin hanya di desain
13

secara sederhana dan seadanya untuk memfasilitasi kebutuhan makan saja padahal bisa lebih didesain untuk sarana berkumpul para siswa. Sebetulnya para pemimpin disekolah harus dapat mencermati kebiasaan berkumpul tersebut untuk dijadikan sebagai potensi yang baik, karena selain dapat digunakan untuk bertukar pikiran dapat pula digunakan untuk kegiatan belajar bersama. Gagalnya suatu Sekolah menciptakan ruang-ruang untuk berkumpul bagi para siswa, sama saja dengan membunuh karakter dan kreatifitas siswa.

B. Efektifitas ruang di Sekolah sebagai sarana pendukung kegiatan belajar mengajar

Salah satu ruang yang paling di soroti dalam hal ini yaitu kondisi ruangan kelas. Sebagai ruangan utama di Sekolah, ruang kelas seharus nya dapat menjadi ruang yang nyaman untuk digunakan dalam belajar. Mengingat waktu yang dihabiskan siswa dalam ruangan ini cukup lama. Desain ruangan yang nyaman dapat menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan hasil belajar yang lebih baik. Karena kondisi ruangan yang nyaman tentu saja dapat membangkitkan gairah dalam belajar, maka proses penyampaian materi dari guru pun dapat diserap dengan baik.

Secara psikologis kondisi kelas yang nyaman dapat didukung secara fisik dengan penataan furniture maupun pemberian warna dinding. Selain itu pencahayaan yang baik juga diperlukan, kondisi ruang yang lembab hanya akan membuat siswa tidak nyaman begitupun jiga terlalu banyak cahaya masuk siswa akan merasa kepanasan. Kondisi yang sering dijumpai dibnyak Sekolah, bahwasanya ruangan kelas di desain sedemikian rupa seperti halnya dibanyak Sekolah, agar lebih sederhana dan mengefisiensikan biaya. Tentu saja ada hal lain yang perlu diperhatikan tidak hanya anggaran semata.

Desain ruangan-ruangan secara keseluruhan dibuat dengan begitu kaku, tidak ada analisis yang terstruktur untuk menjawab kebutuhan siswa secara umum. Desain ruangan yang kaku akan sangat berpengaruh pada psikologis siswa yang terbentu secara

14

tidak sadar Namun berlangsung terus menrus, sehingga membentuk karakter siswa yang kaku dan individualis, tidak ada berbaur dengan yang lain.

15

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Dari beberapa literatur yang didapatkan mengenai pskilogi dengan kaitannya pada arsitektur dalam bangunan Sekolah menengah, memang sedikit sekali ditemukan poin-poin yang membahas secara mendetail mengenai ha tersebut. Sehingga menimbulkan persepsi bahwa pendekatan pskologi dalam merancang menjadi bukan sesuatu yang penting dalam sakolah menengah atas khususnya.

Menurut Bruno (1987); membagi pengertian psikologi dalam tiga bagian yang pada prinsipnya saling berhubungan. Pertama, psikologi adalah studi (penyelidikan) mengenai ruh. Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai kehidupan mental. Ketiga, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai tingkah laku organisme. Dari pendapat tersebut kita bisa melihat bahwa kehidupan mental dan tingkah laku merupakan suatu hal yang erat kaitannya dengan pendidikan. Adapun ingkungan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku manusia tersebut, sehingga lingkungan binaan tentu memerlukan perancangam yang dapat membawa pada perubahan yang lebih baik.

Pada lampiran peraturan menteri pendidikan pada tahun 2007 ada satu poin yang menerangkan bahwa Bangunan gedung menyediakan fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat. Kemudian terdapat satu poin lagi yang membicarakan mengenai persyaratan kenyamanan yang berbunyi Bangunan gedung memenuhi persyaratan kenyamanan berikut. (a) Bangunan gedung mampu meredam getaran dan kebisingan yang mengganggu kegiatan pembelajaran; (b) Setiap ruangan memiliki temperatur dan kelembaban yang tidak melebihi kondisi di luar ruangan. (c) Setiap ruangan dilengkapi dengan lampu penerangan. Kedua poin tersebut memiliki pendekatan psikologi yang masih cukup lemah, karena hanya membicarakan mengenai kenyamanan yang lebih pada hal fisik. Jika dikaitkan dengan mentalitas serta dapat merubah perilaku siswa masih agak sedikit kurang berpengaruh.
16

Dari literatur yang ditemukan mengenai standarisai dalam merancang bangunan Sekolah menengah atas. Tentu saja jika diperhatikan secara seksama, dasar standarisasi tersebut tidak banyak yang membicarakan prasyarat pembangunan yang mengarahkan pada upaya untuk memfasilitasi kebutuhan psikologi pada ruang-ruang tersebut.

Berbicara mengenai pskologi arsitektur tentu kita akan menitik beratkan pada bagaimana suatu ruang itu dapat menjadi tempat yang nyaman sesuai dengan kebutuhan pengguna yang berdampak pada psikologi penggunanya sendiri. Belum lagi jika kita berbicara mengenai pendidikan, bagaimana mungkin siswa dapat merasa nyaman dan dapat menerima informasi pelajaran apabila ruangan tempat dia belajar misalnya pengap, bangku yang digunakan terlalu kecil dan pola perletakan ruang begitu monoton. Dan bagaimana pula siswa dapat belajar dengan penuh konsentrasi apabila jendela ruangan terbuka lebar sehingga aktifitas sekecil apapun dapat terlihat dari ruangan. Kemudian dengan jumlah bangku yang cukup banyak, bagaimana siswa dapat memperhatikan guru apabila posisi guru kurang terlihat oleh peserta didik.

Hal-hal sederhana seperti itu ternyata masih belum mendapatkan posisi yang layak pada standarisasi yang dikeluarkan oleh menteri pendidikan. Padahal pengaruh cukup banyak dapat dapat terakumulasi sehingga menimbulkan kejenuhan pada peserta didik.

Dilain sisi karakter siswa SMA yang dinamis (implikasi proses pencarian pada jati diri) mengaharuskan siswa mendapatkan fleksibilitas ruang yang besar. Selain ruang-ruang yang di desain khusus untuk belajar, mereka pun memerlukan cukup ruang untuk berkreatifitas. Ruangruang inilah yang terkadang masih sulit ditemukan dalam Sekolah. Kalaupun fasilitas tersebut ada terkadang masih sering dibatasi dengan waktu penggunaan, sehingga siswa merasa ekspresi mereka terbatas dan menjadikannya sedikit demi sedikit kreatifitas dapat terkikis. Padahal pada usia seperti itu siswa Seharusnya sudah mulai diberikan tanggung jawab, sehingga memberi cukup ruang di Sekolah dan diberikan kebebasan dalam berekspresi.

17

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan Dari pemaparan makalah ini, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya standarisasi pembangunan Sekolah yang dikeluarkan oleh menteri pendidikan masih belum banyak menyentuh pada ranah psikologi siswa yang dikaitkan dengan arsitektur pada bangunan Sekolah menengah atas. Analisis dengan pendekatan psikologi siswa sebaiknya diperlukan untuk menciptakan lingkungan binaan yang humanis dan dapat mendukung pada tujuan nasional pendidikan.

B. Saran dan penutup Demikian makalah ini disusun dengan penuh rasa tanggung jawab secara moral sebagai bentuk kontribusi mahasiswa arsitektur dalam upaya memberi pandangan mengenai isu permasalahan arsitektur. Tentu saja dalam hal ini penulis tidak memiliki kapasitas untuk dapat memeperbaiki permasalahan tersebut secara total dengan memberi usulan yang konkrit untuk langsung diaplikasikan. Di sini penulis hanya dapat memberi saransaran sebagai berikut Perancangan Sekolah harus menitikberatkan pada analisis perilaku dan kebutuhan siswa baik secara fisik maupun psikologi agar kegiatan belajar mengajar dapat lebih efektif dan efisien. Riset riset mengenai psikologi arsitekur harus terus dikembangkan guna menciptakan lingkungan binaan yang humanis.

18

DAFTAR PUSTAKA

http://dikdas.kemdiknas.go.id/docs/dok_26.pdf http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2009/04/lampiiran-standar-sarana-danprasarana.pdf http://repository.upi.edu/operator/upload/s_tb_0707031_chapter2.pdf http://ebookbrowse.com/teori-perkembangan-anak-sma-dari-segi-psikologi-perkembanganpdf-d368178852 http://jokosarwono.files.wordpress.com/2010/03/akbar-aidil-sardi-13306003.pdf

19

PSIKOLOGI ARSITEKTUR PADA BANGUNAN SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI DI KOTA BANDUNG DENGAN OBJEK KAJIAN DESAIN RUANG
Ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas Ujian akhir semester mata kuliah permasalahan arsitektur Dosen : Lilis Widianingsih, S.Pd, MT / Nuryanto S.Pd, MT

Makalah

Disusun oleh : Reina Ayulia Rosadiana 1005211

20

PROGRAM STUDI S1 JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2013

21