Anda di halaman 1dari 3

Febrina Husada 070810714

Realisme dan Neorealisme


Realisme muncul sebagai tanggapan terhadap liberalisme, yang pada intinya menyangkal bahwa negara-negara berusaha untuk bekerja sama. Para realis berargumen bahwa untuk meningkatkan keamanan mereka, negara-negara adalah aktor-aktor rasional yang berusaha mencari kekuasaan dan tertarik kepada kepentingan diri sendiri (self-interested). Setiap kerjasama antara negara-nge dijelaskan sebagai benar-benar insidental. Para realis melihat Perang Dunia II sebagai pembuktian terhadap teori mereka. Perlu diperhatikan bahwa para penulis klasik seperti Thucydides, Machiavelli, dan Hobbes sering disebut-sebut sebagai bapakbapak pendiri realisme oleh orang-orang yang menyebut diri mereka sendiri sebagai realis kontemporer. Perspektif realisme berakar dari asumsi dasar tentang pesimisme dan skeptisisme terhadap sifat dasar manusia. Pesimisme dan skeptisisme tersebut terutama tentang peluang yang sangat kecil dalam kemajuan politik internasional dan politik domestik, yang kemudian dapat disebut sebagai asumsi kedua. Asumsi dasar ketiga adalah bahwa dunia ini sebenarnya terdiri atas negara-negara berdaulat yang saling terlibat konflik anarkis. Perang lah yang kemudian menjadi penyelesaian dari konflik tersebut. Asumsi keempat adalah menjunjung tinggi keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara (Jackson & Sorensen 1999:88). Sedangkan Gilpin (1986:305) mengemukakan bahwa terdapat dua penekanan utama pada perspektif realis. Pertama, adanya pemaksaan politis yang didasari oleh egoisme manusia. Kedua, yaitu tidak adanya pemerintahan internasional yang menyebabkan anarki, sehingga kemudian membutuhkan keunggulan power dan keamanan. Dalam konteks ini, kaum realis menggunakan keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara sebagai dasar normatif penyebaran doktrin dan pengambilan kebijakan luar negerinya. Realisme dapat diklasifikasikan menjadi tiga, berdasarkan intensitas dan

eksklusifitasnya dalam menjalankan komitmen terhadap nilai-nilai pokok realisme. Pertama, realisme radikal yang hanya fokus pada power dan kepentingan pribadi dalam politik internasional. Kedua, yaitu realisme yang kuat (strong realism) yang menekankan pada dominasi power, kepentingan pribadi, dan konflik antar negara. Sedangkan ketiga, yaitu realisme lemah (hedged realism) masih memperhitungkan aspek lain yang penting (selain power dan interest) dalam politik internasional. Realisme klasik dikemukakan oleh ilmuwan sosial dan politik seperti Thucydides, Niccolo Machiavelli, dan Thomas Hobbes. Thucydides melihat bahwa perang merupakan langkah rasional dan masuk akal untuk mencapai keamanan dan kelangsungan hidup negara karena negara tidak memiliki pilihan lain selain politik kekuasaan yang harus mereka jalankan dalam kondisi yang anarkis. Sedangkan asumsi dasar Machiavelli adalah bahwa nilai politik tertinggi adalah kebebasan nasional, yaitu kemerdekaan. Dalam mewujudkannya, penguasa dituntut untuk memiliki kekuatan mempertahankan kepentingan negara bagaikan singa, sekaligus harus mampu berperilaku cerdik seperti rubah. Tidak jauh berbeda dengan pandangan sebelumnya, realisme neoklasik Morgenthau mengasumsikan bahwa sifat dasar manusia adalah animus dominandi (manusia haus akan kekuasaan) dan mementingkan diri sendiri. Hans Morgenthau (1985:4-17) mengemukakan asumsinya dalam enam prinsip realisme politik, yaitu politik berakar dari sifat dasar manusia yang mementingkan diri sendiri, politik adalah wilayah tindakan otonom yang tidak dapat terlepas dari masalah ekonomi dan moral, Politik internasional adalah arena bagi konflik kepentingan-kepentingan negara, etika hubungan internasional berbeda jauh dari moralitas pribadi, tidak ada negara yang mampu memaksakan ideologinya, dan manusia terbatas dan tidak sempurna. Bagi kaum realisme klasik, perimbangan kekuatan (balance of power) dianggap penting karena dapat mencegah adanya hegemoni yang dikhawatirkan akan menguasai dunia. Era realisme kontemporer yang dibawa oleh Schelling juga diikuti oleh Kenneth Waltz pada tahun 1979 yang membawa konsep neorealisme. Bagi Waltz, fokus utama hubungan internasional bukan lagi terletak pada aktornya, tetapi pada sistem di mana aktor-aktor tersebut berinteraksi. Fokus utama dalam neorealisme adalah struktur sitem dan distribusi kekuatan relatif. Waltz lebih menganggap bahwa sistem bipolar lebih menjamin keterjaminan keamanan dunia dibandingkan dengan

sistem multipolar. Sekali lagi, konsep perimbangan kekuatan menjadi fokus utama bagi konsep perdamaian dunia versi Waltz. Akan tetapi, Waltz tidak memberikan arah kebijakan praktis bagi penyelesaian konflik dunia. Hal ini sejalan dengan terbatasnya pilihan yang disebabkan oleh struktur internasional yang membatasi gerak para aktor yang terlibat di dalamnya. Bagi Waltz, negara yang berkekuatan besar adalah negara yang sejalan dan menganut sistem yang berlaku dalam skala internasional. Kesimpulan : Realisme merupakan aliran yang muncul akibat kegagalan idealisme liberal dalam merespon persoalan pasca perang. Realisme juga menekankan pada selfishness atau keegoisan dan anarki atau ketiadaan pemerintahan internasional. Kemunculan realisme klasik menjadi pelopor lahirnya neorealisme. Neorealisme berpendapat bahwa Negara yang bersifat anarki lebih berorientasi kepada balance daripada bandwagon (bergabung dengan pihak lain untuk melakukan sesuatu yang fashionable dan successful).

Referensi : Donnelly, Jack. Theories of International Relations. Realism Jackson, Robert & George Sorensen. 1999. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: PT Pustaka Pelajar Viotti, Paul R. & Mark V. Kauppi. 1998. International Relations Theory: Realism, Pluralism, Globalis, and Beyond. MA: A Viacom Company