Anda di halaman 1dari 20

I. GAYA DAN DAYA A. Pendahuluan 1.

Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sedang berkembang menuju negara maju, baik dalam bidang industri mauapun pertanian. Hal ini tak lain karena perkembangan teknologi dan industri global, kian lama kian menunjukan kemajuannya. Agar tidak menjadi tertinggal dalam hal mencapai tujuannya mejadi negara maju dalam industri, khususnya industri pertanian, banyak dilakukan pembangunan dan perbaikan sarana fisik. Dalam mencapai pembangunan ini, fisika mempunyai peranan yang cukup penting. Karena untuk merealisasikannya dibutuhkan pertimbangan dan perhitungan yang matang. Disini, gaya dan daya yang merupakan bagian dari fisika juga berperan penting. Utuk melakukan pembangunan dan operasi alat-alat industri pertanian, gaya dan daya perlu dipertimbangkan. Sehingga hasil yang didapat dalam proses industri akan sesuai dengan yang diinginkan. Gaya merupakan besaran vektor dengan pengertian yaitu usaha yang dilakukan suatu benda untuk bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain. Gaya berlaku apabila suatu benda memiliki massa dan percepatan. Semua benda yang bergerak akan memperoleh hambatan yang berupa udara yang mengelilinginya atau dari roda yang mendapatkan gaya gesek dari bidang landasannya. Untuk melakukan gerak diperlukan daya. Daya mempunyai pengertian kumpulan usaha yang dilakukan per satuan waktu (detik). Secara definitif dapat dikatakan bahwa daya rata-rata adalah resultan gaya yang bekerja sejauh jarak tertentuselam waktu yang dibutuhkan. Dalam bidang pertanian, gaya dan daya sangat diperlukan, misalnya pada alat transportasi, dibutuhkan gaya dan akan terjadi gaya gesek antara roda dengan permukaan jalan. Pada proses pembajakan sawah, gaya yang terjadi yaitu gaya gesek dengan lumpur, juga dalam proses pengoprasian alat-alat industri pertanian nantinya.

2. a. b.

Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum acara I, Gaya dan Daya ini adalah : Mempelajari gaya gesek (hambatan gelinding) dan koefisiennya Mempelajari daya yang dibutuhkan untuk menggerakkan sebuah yang timbul pada roda yang menggelinding pada permukaan horisontal. kendaraan.

3.

Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara Gaya dan Daya ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 8 Oktober 2009 pada pukul 15.00-17.00 WIB bertempat di laboratorium Rekayasa Proses Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. B. Tinjauan Pustaka Menurut Newton, yang dinamakan gaya adalah segala sesuatu yang dapat mempercepat gerakan dari suatu benda. Dengan makin besarnya gaya yang diberikan pada benda, maka makin nesar pula nilai kecepatan yang dialami oleh benda. Menurut hukum Newton III, adanya tekanan pada bidang oleh gaya berat benda, menyebabkan bidang yang kita sebut gaya normal karena arahnya tegak lurus. Gesekan adalah suatu gaya yang selalu bereaksi menentang gerak dari suatu benda yang meluncur. Gaya gesek sangat penting karena gaya ini memungkinkan kita berjalan menggunakan kendaraan beroda (Gioncolli, 1997). Gaya gesek sebuah benda yang bergerak pada awalnya dilukiskan sebagai koefisien gesekan kinetik kali gaya normal karena kerja gaya hanya dilakukan pada sebuah benda yang mengalami pergerakan, maka koefisien kinetiklah yang harus selalu digunakan (Soetomo, 1996). Koefisien gesek statis bergantung pada kedua permukaan bersangkutan, kebersihan, kelicinan, dan jumlah kelembaban yang ada dan sejenisnya (Kane dan Sternheins, 1998). Fakultas Pertanian

Pada percobaan Gaya dan Daya, hukum yang berhubungan dengan gaya dan daya adalah hukum Newton II yang berbunyi : Sebuah benda yang dikenai gaya F dan pada percepatan a dalam arah F. Maka besar dari a = F . Dengan F adalah gaya dan m m

sifat intrinsik benda yang dinamakan dengan massa (Cromer, 1994). Bila suatu gaya menggerakkan sebuah benda, maka daya yang bersangkutan dapat dinyatakan dalam gaya tersebut dengan cara sebagai berikut : P = dw/dt Dw = F.ds Jadi F konstan P = dw/dt P = F.ds/dt P = F.V

Daya rata-rata = gaya x kecepatan Disini kecepatan harus diartikan komponen kecepatan benda dalam arah gaya yang bekerja padanya. Nyata bahwa kita yang dapat mengalikan kecepatan benda dengan komponen gaya dalam arah kecepatan. Dalam SI satuan daya adalah Watt (W) yakni 1W = 1 J/s (Bueche, 1999). A Alat a. Sebuah unit kendaraan Landasan kasar dan landasan licin Tali ringan (senar atau benang) Alat ukur; stopwatch, mistar dan timbangan Bahan b. Beban tambahan ( 0,15 kg, 0,175 kg, dan 0,2 kg) Alat, Bahan, dan Cara Kerja

3.

Cara Kerja

a. Menyiapkan rangkaian percobaan seperti gambar.

K1

beban

K2 B

fb

Wk

fd

Gambar 1.1. Gambar rangkaian percobaan Gaya dan Daya Keterangan: Fb Fd Wk T K1 : Gaya gesekan belakang : Gaya gesekan depan : gaya normal : Tegangan tali : Katrol 1 K2 : Katrol 2 B : Pemberat Ft : Gaya Tarik Y : Jarak Lintasan

b. Menentukan landasan yang telah ditentukan untuk meluncur kendaraan percobaan. c. Menyiapkan alat ukur (stopwatch, timbangan dan meteran) pemberat dan tali senar. d. Melakukan percobaan dengan memberikan beban atau pemberat pada katrol berturut-turut (mb) = 0,150; 0,175; 0,200 kg, sedangkan massa kendaraan (mk) = 1,5 kg dan 2 kg. e. Mengulang percobaan, masing-masing sebanyak tiga kali.

f. Mencatat dan menganalisis hasil percobaan B. Hasil dan Analisis Hasil Percobaan 1. Hasil Percobaan Tabel 1.1 Hasil Perhitungan Koefisien Gesek () dan Daya (P) pada landasan kasar. Landasan Mk Mb t (s) P P (kg (kg) ) Kasar 1,5 0,15 t1= 5,3 t2= 5,6 t3=5,1 0,175 t1= 3,4 t2= 3,5 t3=3,7 0,2 t1= 3,1 t2= 3,2 t3=3,3 1=0,088 2=0,089 3=0,087 1=0,094 2=0,089 3=0,092 1=0,097 2=0,099 3=0,101 0,099 0,092 0,088 P1=0,045 P2=0,038 P3=0,050 P1=0,11 P2=0,15 P3=0,11 P1=0,22 P2=0,20 P3=0,18 P =0,123 P1=0,02 P2=0,04 P3=0,04 0,067 P1=0,11 P2=0,16 P3=0,13 0,075 P1=0,25 P2=0,28 P3=0,20 0,24 0,13 0,03 0,20 0,13 0,044

t=
4,02 2,0 0,15 t1= 7,3 t2= 6,0 t3=6,0 0,175 t1= 4,3 t2= 3,8 t3= 4,1 0,2 t1= 3,3 t2= 3,7 t3=3,5 1=0,064 2=0,065 3=0,065 1=0,070 2=0,064 3=0,068 1=0,078 2=0,075 3=0,072 = 0,093 0,064

t=
4,27 = 0,069 kasar = 0,081 P =0,133 P kasar = 0,128

Sumber : Laporan Sementara Tabel 1.2 Hasil Perhitungan Koefisien Gesek () dan Daya (P) pada landasan licin. Landasan Mk Mb t (s) P P (kg (kg) ) Licin 1,5 0,15 0,175 0,2 t1= 2,2 t2= 2,2 t1= 2,2 t2= 2,2 t1= 1,9 t2= 1,8 1=0,03 2=0,03 1=0,05 2=0,05 1=0,04 2=0,03 0,04 0,05 0,03 P1=0,63 P2=0,63 P1=0,63 P2=0,63 P1=0,99 P2=1,17 1,08 0,63 0,63

= 0,12
= 0,04 2,0 0,15 t1= 3,1 t2= 2,8 0,175 t1= 2,4 t2= 2,5 0,2 t1= 2,3 t2= 2,1 1=0,04 2=0,03 1=0,03 2=0,03 1=0,04 2=0,03 0,04 0,03 0,04 P1=0,32 P2=0,40 P1=0,65 P2=0,56 P1=0,72 P2=1,0

P = 2,34
P = 0,78 0,36 0,61 0,86

= 0,11
= 0,03 licin = 0,03 Sumber : Laporan Sementara

P = 1,83
P = 0,61 P licin = 0,69

1.

Analisis Percobaan GAYA mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g Keterangan: mb: massa benda (kg) g: tetapan gravitasi (m/s2) mk: massa kendaraan (kg) Landasan Kasar a. mk = 1,5 g = 9,8 m/s2 Diketahui: mb 1 = 0,15 kg ; y = 1,5 m mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g t: waktu (s) y: panjang lintasan ( m)

0,1 59,8 (0,1 5 15)( 15/( ,3)2) + , 2 , 5 = 15 9,8 ,


=

147 (165x ( 3/ 28 ) ) , , ,09 147 , 129 , = 0088 , 147 ,

=
2

mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g

0,1 59,8 (0,1 5 15) ( 15/( ,6)2) + , 2, 5 = 15 9,8 ,


=

147 (165x ( 3/ 31 ) ) , , ,36 14 ,7

= 0,089

mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g =

0,1 59,8 (0,1 5 15)( 15/( ,12) + , 2 , 5) 15 9,8 ,


147 (165x ( 3/26 ) ) , , ,01 14 ,7

= 0,087

a rata-rata pada mb 0,15 = Diketahui:

0,088 0,089 0,087 + + = 0,88 3

mb = 0,175 kg; y = 1,5 m, g = 9,8 m/s2 1 = mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) mk.g

017598 (0175 15)( 15/(34)2) , , , + , 2 , , 15 98 , ,

= 0,071 2 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g 0,715 9,8 (0,175 + 1,5)(2 1,5 /( 2,64) 2 ) = 1,5 9,8 = 0,068 b rata-rata pada mb 0,175 = Diketahui: mb = 0,2 ; y = 1,5 m ; g = 9,8 m/s2 1 = mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) mk.g 0,071 + 0,068 = 0,07 14,7

0,2 9,8 (0,2 + 1,5)(2 1,5 /( 2,45) 2 ) 1,5 9,8

= 0,076 2 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g 0,2 9,8 (0,2 + 1,5)(2 1,5 /( 2,30) 2 ) = 1,5 9,8 = 0,067 c rata-rata pada mb 0,2 = rata-rata pada mk 1,5 = b. mk =2,0 kg g = 9,8 m/s2 0,076 + 0,067 = 0,07 2 0,07 + 0,07 + 0,07 = 0,07 3

Diketahui: mb = 0,15 1 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g 0,15 9,8 (0,15 + 2)(2 1,5 /(3,71) 2 ) = 2 9,8 = 0,051 2 = = mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) mk.g 0,15 9,8 (0,15 + 2)(2 1,5 /(3,48) 2 ) 2 9,8 0,051 + 0,048 = 0,05 2

= 0,048 rata-rata pada mb 0,15 = Diketahui: mb = 0,175 ; g = 9,8 m/s2 1 = mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) mk.g

0,175 9,8 (0,175 + 2)(2 1,5 /(3,14) 2 ) 2 9,8

= 0,054 2 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g 0,175 9,8 (0,175 + 2)(2 1,5 /(3,32) 2 ) = 2 9,8 = 0,057 rata-rata pada mb 0,175 = Diketahui: mb = 0,2 1 = g = 9,8 m/s2 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) mk.g 0,054 + 0,057 = 0,06 2

0,2 9,8 (0,2 + 2)(2 1,5 /( 2,93) 2 ) = 2 9,8 = 0,061 2 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g = 0,2 9,8 (0,2 + 2)(2 1,5 /( 2,80) 2 ) 2 9,8 0,061 + 0,057 = 0,06 2 0,06 + 0,05 + 0,06 = 0,06 3 0,07 + 0,06 = 0,07 2

= 0,057 rata-rata pada mb 0,2 = rata-rata pada mk 2,0 =

rata-rata pada landasan kasar = Landasan Licin a.mk = 1,5 kg Diketahui:

mb = 0,15 1

g = 9,8 m/s2

mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g = 0,15 9,8 (0,15 + 1,5)(2 1,5 /(3,7) 2 ) 1,5 9,8 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) mk.g

= 0,075 2 =

0,15 9,8 (0,15 + 1,5)(2 1,5 /(3,4) 2 ) = 1,5 9,8 = 0,071 a rata-rata pada mb 0,15 = Diketahui: mb = 0,175 1 g = 9,8 m/s2 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g 0,15 9,8 (0,175 + 1,5)(2 1,5 /( 2,9) 2 ) = 1,5 9,8 = 0,076 2 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g = 0,175 9,8 (0,175 + 1,5)(2 1,5 /(3,0) 2 ) 1,5 9,8 0,076 + 0,079 = 0,08 2 0,075 + 0,071 = 0,07 2

= 0,079 b rata-rata pada mb 0,175 = Diketahui: mb = 0,2 1 g = 9, 8 m/s2 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g

0,2 9,8 (0,2 + 1,5)(2 1,5 /( 2,5) 2 ) 1,5 9,8

= 0,078 2 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g 0,2 9,8 (0,2 + 1,5)(2 1,5 /( 2,1) 2 ) = 1,5 9,8 = 0,055 c rata-rata pada mb 0,2 = rata-rata pada mk 1,5 = b. mk = 2 = 9,8 m/s2 mb = 0,15 1 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g 0,15 9,8 (0,15 + 2)(2 1,5 /(3,3) 2 ) = 2 9,8 = 0,044 2 = = mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) mk.g 0,15 9,8 (0,15 + 2)(2 1,5 /(3,5) 2 ) 2 9,8 0,044 + 0,047 = 0,05 2 0,078 + 0,055 = 0,07 2 0,07 + 0,08 + 0,07 = 0,07 3

Diketahui: g

= 0,047 a rata-rata pada mb 0,15 = Diketahui: mb = 0,175 1 = g = 9,8 m/s2 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) mk.g

0,175 9,8 (0,175 + 2)(2 1,5 /( 2,7) 2 ) 2 9,8

= 0,042 2 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g 0,175 9,8 (0,15 + 2)(2 1,5 /( 2,9) 2 ) = 2 9,8 = 0,048 b rata-rata pada mb 0,175 = Diketahui: mb = 0,2 1 g = 9,8 m/s2 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g 0,2 9,8 (0,2 + 2)(2 1,5 /( 2,5) 2 ) = 2 9,8 = 0,034 2 mb.g (mb + mk) (2y/t 2 ) = mk.g = 0,2 9,8 (0,2 + 2)(2 1,5 /( 2,8) 2 ) 2 9,8 0,034 + 0,045 = 0,04 2 0,042 + 0,048 = 0,05 2

= 0,045 c rata-rata pada mb 0,2 = rata-rata pada mk 2 =

0,05 + 0,05 + 0,04 = 0,05 3 0,07 + 0,05 = 0,06 2

rata-rata pada landasan licin =

DAYA
Landasan Kasar a. mk = 1,5

Diketahui: mb = 0,15 y = 1,5 m P2 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 1,5 (1,52/3,443) = 0,16 W 0,17 + 0,16 = 0,17 W 2 P1 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 1,5 (1,52/3,393) = 0,17 W P pada mb 0,175 = Diketahui: mb = 0,175 P1 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 1,5 (1,52/2,753) = 0,32 W P pada mb 0,175 = Diketahui: mb = 0,2 P1 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 1,5 (1,52/2,453) = 0,46 W P rata-rata pada mb 0,2 = P2 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 1,5 (1,52/2,303) = 0,56 W 0,46 + 0,56 = 0,51 W 2 0,17 + 0,35 + 0,51 = 0,34 W 3 P2 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 1,5 (1,52/2,643) = 0,37W 0,32 + 0,37 = 0,35 W 2

Daya rata-rata pada mk 1,5 = b. mk = 2,0 kg Diketahui: y P1 = 1,5 m = 2 mk . y2/t3 = 2 . 2 (1,52/3,713) = 0,18 W P pada mb 0,15 = mb = 1,5

P2 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 2 (1,52/3,483) = 0,21 W 0,18 + 0,21 = 0,20 W 2

Diketahui: mb = 0,175 P1 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 2 (1,52/3,143) = 0,29 W P pada mb 0,175 = Diketahui: mb = 0,2 P1 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 2 (1,52/2,933) = 0,36 W P pada mb 0,2 = P2 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 2 (1,52/2,83) = 0,41 W
0,36 + 0,41 = 0,39 W 2

P2

= 2 mk . y2/t3 = 2 . 2 (1,52/3,323) = 0,25 W

0,29 + 0,25 = 0,27 W 2

Daya rata-rata pada mk 2 kg =

0,20 + 0,27 + 0,39 = 0,29 W 3 0,34 + 0,29 = 0,32 W 2

Daya rata-rata pada permukaan kasar =

landasan licin a. mk = 1,5 Diketahui: mb = 0,15 P1 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 1,5 (1,52/3,73) = 0,13 W P rata-rata pada mb 0,15 = Diketahui: mb = 0,175 P1 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 1,5 (1,52/2,93) P2 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 1,5 (1,52/3,03) P2 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 1,5 (1,52/3,43) = 0,17 W 0,13 + 0,17 = 0,15 W 2

= 0,28 W P rata-rata pada mb 0,175 = Diketahui:

= 0,25 W 0,28 + 0,25 = 0,27 W 2

mb = 0,2 P1 = 2 mk . y2/t3 = 2. 1,5 (1,52/2,53) = 0,43 W P rata-rata pada mb 0,2 = P rata-rata pada mk 1,5 = b. mk = 2 kg Diketahui: mb = 0,15 P1 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 2 (1,52/3,33) = 0,25 W P pada mb 0,15 = Diketahui: mb = 0,175 P1 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 2 (1,52/2,73) = 0,47 W P pada mb 0,175 = y = 1,5 m P2 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 2 (1,52/2,93) = 0,37 W 0,47 + 0,37 = 0,42 W 2 0,25 + 0,21 = 0,23 W 2 y = 1,5 m P2 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 2 (1,52/3,53) = 0,21 W P2 = 2 mk. y2/t3 = 2. 1,5 (1,52/2,13) = 0,73 W 0.43 + 0,73 = 0,58 W 2 0,15 + 0,27 + 0,58 = 0,33 W 3

Diketahui: mb = 0,2 P1 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 2 (1,52/2,53) y = 1,5 m P2 = 2 mk . y2/t3 = 2 . 2 (1,52/2,83)

= 0,58 W P pada mb 0,2 = 0,58 + 0,41 = 0,50 W 2

= 0,41 W

Daya rata-rata pada mk 2,0 =

0,23 + 0,42 + 0,50 = 0,38 W 3 0,33 + 0,38 = 0,36 W 2

Daya rata-rata pada landasan licin =

0.1 koefisien gesek 0.08 0.06 0.04 0.02 0 0.15 0.175 0.2 0.15 0.175 0.2 massa (W) kasar licin

mk = 1,5 kg

mk = 2,0 kg

Gambar 1.2 Grafik Hubungan Antara Dengan W Pada Landasan Kasar dan Licin

0.7 0.6 koefisien gesek 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0.15 0.175 0.2 0.15 0.175 0.2 massa (W) mk = 1,5 kg mk = 2,0 kg kasar licin

Gambar 1.3 Grafik Hubungan Antara P Dengan W Pada Landasan Kasar dan Licin B Pembahasan Bila kita melakukan gaya pada sebuah benda maka benda tersebut akan memberikan gaya gesek. Misalnya bila sebuah kendaraan yang membawa beban bergerak melintasi jalan yang kasar maupun licin maka jalan tersebut akan memberikan gaya gesek terhadap kendaraan. Gaya gesek arahnya selalu berlawanan dengan gaya yang kita berikan pada benda tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya gesek antara lain adalah koefisien gesekan, jenis landasan (kasar atau licin), massa kendaraan, dan beban yang digunakan, roda yang dipakai, dan gaya gravitasi. Pada praktikum ini diperoleh koefisien gesekan rata-rata pada landasan kasar untuk massa kendaraan 1,5 kg adalah sebesar 0,07 dan daya rata-rata sebesar 0,34W sedangkan untuk massa kendaraan 2,0 kg diperoleh koefisien gesekan rata-rata 0,06 dan daya rata-rata sebesar 0,29W. Koefisien rata-rata total pada landasan kasar sebesar 0,07 dan daya rata-rata total sebesar 0,32W. Kemudian pada landasan licin untuk massa kendaraan 1,5 kg diperoleh koefisien gesekan rata-rata sebesar 0,07 dan daya rata-rata sebesar 0,33W sedangakan untuk massa kendaraan 2,0 kg diperoleh koefisien gesekan rata-rata sebesar 0,05 dan daya rata-rata sebesar 0,38W. Koefisien rata-rata total pada landasan licin sebesar 0,06 dan daya rata-rata total sebesar 0,36W.

Pada massa kendaraan yang sama semakin besar massa beban maka semakin cepat waktu yang diperlukan. Tetapi semakin cepat waktu yang diperlukan belum tentu koefisien geseknya semakin besar karena koefisien gesekan secara garis besar yang kaitannya dengan massa beban adalah pengurangan massa beban dengan hasil bagi antara massa beban dengan kuadrat waktu. Pada massa kendaraan yang berbeda tetapi pada landasan yang sama massa kendaraan yang lebih berat waktunya semakin lama, dan koefisien geseknya lebih kecil karena secara garis besar koefisien gesekan kaitannya dengan massa kendaraan adalah hasil bagi antara massa kendaraan per satuan kuadrat waktu dengan massa kendaraan. Besarnya koefisien gesekan pada landasan kasar lebih besar daripada pada landasan licin. Hal tersebut disebabkan karena pada landasan licin hambatan permukaan yang dilewati lebih kecil sehingga gesekannya pun lebih kecil. Pada landasan yang sama semakin besar massa bebannya maka dayanya semakin besar pula karena waktu yang digunakan semakin sedikit sedangkan besarnya daya adalah berbanding terbalik dangan waktu pangkat tiga. Pada landasan licin daya yang dihasilkan lebih besar daripada landasan kasar karena pada landasan licin waktu yang diperlukan lebih cepat.Grafik yang terbentuk adalah grafik yang bersifat fluktuatif karena nilai koefisien gesekan dan daya yang dihasilkan tidak sama dan berubah-ubah sehingga menyebabkan grafiknya naik turun. Hal tersebut dapat terjadi karena kurang tepatnya data yang diperoleh pada saat praktikum yang menyebabkan kurang tepatnya perhitungan sehingga hasil yang diperoleh tidak sesuai yang diinginkan yaitu nilai koefisiennya tidak konstan. C Kesimpulan Dari praktikum yang kami lakukan dapat kami simpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. 2. Besarnya nilai koefisien gesek dipengaruhi oleh jenis kendaraan, Besarnya koefisien gesekan pada landasan kasar lebih besar panjang lintasan, massa beban, massa kendaraan, dan waktu. daripada di landasan licin.

3. 4. 5. 6. 7. 8.

Daya yang dihasilkan pada landasan licin lebih besar daripada di Daya dipengaruhi oleh massa kendaraan, jarak, dan waktu. Daya berbanding terbalik dengan waktu tapi berbanding lurus Besarnya koefisien gesekan rata-rata pada landasan licin ketika Besarnya koefisien gesekan rata-rata pada landasan licin ketika Besar daya rata - rata

landasan kasar.

dengan jarak dan massa kendaran. mk=1,5 kg sebesar 0,046 sedangkan pada landasan kasar 0,075. mk=2 kg sebesar 0,037 sedangkan pada landasan kasar 0,064.