Anda di halaman 1dari 9

Unconventional Energy 1. Jelaskan Tipe batubara berdasarkan a.

Tipe Maseral

Maseral dalam batubara dapat dikelompokkan dalam 3 grup (kelompok) utama yaitu grup (kelompok) vitrinit, liptinit dan inertinit. Pengelompokan ini didasarkan pada bentuk morfologi, ukuran, relief, struktur dalam, komposisi kimia, warna pantulan, intensitas refleksi dan tingkat pembatubaraannya (dalam Coal Petrology, oleh Stach, dkk. 1982). Dalam hal ini pembagiannya mulai dari grup (kelompok) maseral, sub-grup maseral dan jenis maseral yang mengacu pada Australian Standard: AS2856 (1986) (Tabel 3.2). Kelebihan sistem Australian Standart ini adalah pembagian komposisi maseralnya berlaku untuk semua peringkat batubara, baik untuk batubara hard coal maupun brown coal, dan sistem ini cukup sederhana. Sedangkan sistem standart yang lain biasanya dibedakan antara hard coal dan brown coal. Grup vitrinit berasal dari tumbuh-tumbuhan yang mengandung serat kayu (woody tissue) seperti batang kayu, akar, dahan dan serat daun. Vitrinite umumnya merupakan bahan penyusun utama batubara (>50%). Melalui pengamatan mikroskop refraksi, grup vitrinit memperlihatkan warna coklat kemerahan sampai gelap, tergantung dari tingkat ubahan batubara, semakin tinggi peringkat batubara semakin gelap warna maseralnya, demikian pula sebaliknya. Melalui pengamatan miskroskop refleksi, grup vitrinit memperlihatkan warna pantul lebih terang, mulai dari abu-abu tua sampai abu- abu terang tergantung dari peringkat batubara, semakin tinggi peringkat batubara semakin terang warna pantul yang dihasilkan. Berdasarkan morfologinya grup vitrinit dibagi menjadi 3 sub grup maseral (Tabel 3.2) Grup liptinit berasal dari organ tumbuhan (ganggang/algae, spora, kotak spora, kulit luar (kutikula), getah tanaman (resin) dan serbuk sari /pollen). Grup liptinit memiliki kandungan hidrogen paling banyak dan kandungan karbon paling sedikit bila dibandingkan dengan grup maseral lainnya. Di bawah miskroskop refleksi menunjukkan pantulan berwarna abu-abu sampai gelap, mempunyai reflektivitas rendah dan flouresens tinggi (Teichmueller, 1989). Berdasarkan morfologi dan sumber asalnya, grup liptinit dapat dibedakan seperti : sporinit (berasal dari spora, serbuk sari); cutinit (berasal dari kulit ari, daun,tangkai, akar); suberinit (berasal dari kulit kayu); resinit (resin, lemak,parafin); liptodetrinit (berasal dari pecahan liptinite); exsudatinit (minyak, dimana bitumen yang keluar selama proses pembatubaraan), flourinit (berasal dari lipids, minyak); alginit (berasal dari sisa-sisa ganggang; dan bituminite

Grup inertinit diperkirakan berasal dari tumbuhan yang sudah terbakar (charcoal) dan sebagian lagi diperkirakan akibat proses oksidasi dari maseral lainnya atau proses decarboxylation yang disebabkan oleh jamur atau bakteri (proses biokimia) atau hasil ubahan (biokimia) dari kayu dan serat-serat kayu selama penggambutan. Dengan adanya proses tersebut kelompok inertinit memiliki kandungan oksigen relatif tinggi, kandungan hidrogen rendah, dan ratio O/C lebih tinggi dari pada grup vitrinit dan liptinit. Grup inertinit memiliki nilai reflektensi tertinggi diantara grup maseral lainnya. Dibawah miskroskop refleksi , inertinit memperlihatkan warna abu-abu hingga abu-abu kehijauan, tetapi pada sinar ultra violet tidak menunjukan flouresens. Berdasarkan struktur dalam, tingkat pengawetan dan intensitas pembakaran, grup inertinit dibedakan menjadi beberapa maseral, yaitu fusinit, semifusinit, sclerotinit, icrinit, inertodetrinit dan macrinit (Tabel 3.2). Cook (1982), menjelaskan bahwa jenis batubara (coal type) berhubungan dengan jenis tumbuhan pembentuk batubara dimana dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh diagenesa tingkat awal. Parks dan Donnel (dalam Cook, 1982), menjelaskan bahwa batasan jenis batubara (coal type) dipergunakan untuk mengklasifikasi berbagai jenis pembentuk batubara, sedangkan menurut Shierly (dalam Cook, 1982) menjelaskan bahwa jenis batubara (coal type) merupakan dasar klasifikasi petrografi batubara yang terdiri dari berbagai macam unsur tumbuhan sebagai penyusun batubara dengan kejadian yang berbeda-beda. Petrologi batubara memberikan dasar untuk pemahaman genesa , sifat-sifat dan arti penting unsur organik di dalam batubara. Material organik berasal dari berbagai macam tumbuhan dan sebagian bercampur dengan sedimen anorganik selama tahap pembentukan gambut, oleh karena itu jenis batubara (coal type) ditentukan pada tahap biokimia yang dapat dipergunakan untuk mengetahui lingkungan pengendapan batubara, terutama berdasarkan material organiknya. Penentuan jenis batubara (coal type) dapat secara mikroskopis dan makroskopis yang didasarkan pada konsep maseral, microlitotype dan litotype. Pada tahap pembentukan batubara merupakan tahap pembentukan dari gambut menjadi batubara yang lebih tinggi derajatnya (coal rank) yaitu mulai dari lignit, subbituminous, bituminous dan antrasit, yang merupakan akibat dari kenaikan temperatur yang berlangsung pada waktu dan tekanan tertentu (Cook, 1982). Tahap pembatubaraan merupakan perubahan dari rombakan sisa-sisa tumbuhan dari kondisi reduksi, dimana prosentase karbon semakin besar, sedangkan prosentase oksigen dan hidrogen semakin berkurang. Cook (1982), menjelaskan bahwa tahap pembatubaraan terdiri dari derajat dan pematangan bahan organik

pada fase metamorfosa tingkat rendah. Material organik lebih peka terhadap metamorfosa tingkat rendah dari pada mineral anorganik.

b. Kematangan Coal rank atau peringkat batubara merupakan suatu urutan dari tingkatan- tingkatan kematangan material organik pada batubara yang didasarkan pada material vegetasi yang terubah yang disebut maseral. Rank batubara dapat ditentukan dengan mengetahui jumlah kandungan kimia batubara antara lain total moisture, ash, volatile matter, fix carbon, calori value, dan total sulfur. Material organic yang terubah menjadi batubara melalui tingkatan sikuen. Perubahan fisika dan kimia dapat diamati. Perubahan fisik dan kimia sejalan dengan meningkatnya tingkat kematangan yang terlihat pada batuan induk marine kerogen- bearing, dan dapat digunakan pada penunjuk yang serupa untuk mengevaluasi potensi coalbed methane dari area coal-bearing. Perubahan tersebut paling sering digunakan sebagai indicator dari kematangan material organic yaitu nilai kalori, kandungan kelembaban atau kapasitas mempertahankan kelembaban, prosentase zat volatile, vitrinite reflectance, dan kandungan karbon. Beberapa perubahan kimia mengindikasikan tingkat kematangan lebih sesuai pada tahap-tahap tertentu. Sebagai contoh, kelembaban lapisan (ash-free) dan nilai kalori (moist; ashfree) banyak terdapat pada peat sampai medium-volatile bitumonuos. Perubahan unsur diatas terukur dan terprediksikan oleh meningkatnya suhu diikuti meningkatnya kedalaman penimbunan.

Gambar 1.1. Proses kematangan batubara (Evaluation of Coalbed Methane Reservoirs,prepared for University Of Oviedo, Spain, prepared by Holditch-Reservoirs Technologies Consulting Services, Pittsburg, Pennsylvania, May 24-25, 2001, Schlumberger) Petrografi batubara dapat digunakan untuk menentukan peringkat batubara (coal rank), yaitu menggunakan metode analisis reflektansi dan analisis komposisi maseral dengan melihat besarnya nilai pemantulan vitrinit atau vitrinite reflectance (Ro) dalam bentuk persen (%). Penentuan peringkat batubara dengan metode analisis reflektansi maseral (vitrinit) didasarkan pada konsep bahwa pertambahan tingkat kematangan (peringkat) suatu lapisan batubara akan diikuti oleh peningkatan reflektansi maseralnya, sehingga analisis reflektansi maseral (vitrinit) dapat digunakan untuk menentukan peringkat batubara (Tabel 3.3).

Tabel. 1.2 Coal Rank Classifications (ASTM Standard, 1983) And Relation to vitrinite reflectance (modified from Meissner, 1984)

c. Tipe-tipe Kerogen

Diagenesis pada materi organik dari biopolymers (proteins, lipids, carbohydrates dan lignins yang disintesis oleh tanaman dan hewan) ke geopolymers (nitrogenous dan humic complexes) disebut kerogen. Kerogen merupakan fraksi materi organik pada batuan sedimen yang tidak larut dalam pelarut alkaline maupun pelarut organik (seperti chloroform). Akumulasi materi organik pada endapan sedimen merupakan sumber potensial bagi kerogen yang dengan demikian merupakan sumber potensial bagi pembentukan hidrokarbon selama diagenesis. Konsentrasi, komposisi dan tingkat kematangan kerogen merupakan parameter penting bagi pembentukan minyak dan gas. Jumlah dan tipe kerogen akan menentukan jumlah minyak dan gas baik yang telah dibuat maupun yang akan dibuat dalam endapan sedimen. Penentuan tipe kerogen dilakukan baik dari optical (petrografi) maupun metode kimia. Analisis petrografi mengklasifikasikan morpologi materi organik dari berbagai lingkungan pengendapan seperti marine atau lacustrine serta tingkat kematangannya. Sedangkan analisis geokimia

mengklasifikasikannya berdasarkan sifat kimia. Pada petroleum geokimia, pembagian kerogen menjadi empat tipe ditentukan hanya berdasarkan pada kandungan H-, O-, dan C-. Pembagian tipe kerogen berdasarkan rasio kandungan H-, O-, dan C- dapat digambarkan pada diagram Van Krevelen pada Gambar 1.3

Courtesy glossary.oilfield.slb.com Gambar 1.3 Diagram Van Krevelen Tipe I Kerogen tipe ini dikarakterisasikan dengan rasio H/C (hydrocarbon/carbon) yang tinggi >1.5 dan rasio O/C (oxygen/carbon) rendah <0.1. Kerogen tipe I ini memiliki index hidrogen >300 dan index oksigen <50. Kerogen tipe ini juga disebut alginite, mengandung konsentrasi tinggi alkanes dan asam lemak serta merupakan sumber terbaik untuk maturasi oil-prone. Sumber utamanya berasal dari sedimen alga seperti endapan lacustrin. Terjadinya kerogen tipe I ini relatif jarang jika dibandingkan dengan tipe lainnya. Tipe II Kerogen tipe ini dikarakterisasikan dengan rasio H/C relatif tinggi (1.0 1.4) dan rasio O/C relatif rendah (0.09 1.5). Memiliki index hidrogen antara 200 dan 300, sedangkan index oksigen antara 50 dan 100.

Kerogen tipe II ini juga disebut exinite berada pada lingkungan marine dan umumnya berasosiasi dengan calcareous atau sedimen dolomitic. Tipe II sangat sering dijumpai pada lapangan minyak dan gas. Contoh dari kerogen tipe ini adalah group Devonian dan Colorado berumur Cretaceous di Kanada Barat, berumur Paleozoic di Afrika Utara, beberapa source beds berumur Cretaceous dan Tertiary di Afrika Barat, berumur Jurassic di Eropa Barat dan Arab Saudi dsb TipeIII Kerogen tipe ini dikarakterisasikan dengan rasio H/C relatif rendah (<01.0) rasio O/C relatif rendah (0.2 0.3). Index hidrogen di bawah 300 dan index oksigen di atas 100.

Tipe kerogen ini juga disebut vitrinite. Sumber utamanya berupa tanaman darat yang ditemukan pada sedimentasi detrital tebal sepanjang continental margin. Tipe hidrokarbon yang dihasilkan utamanya adalah gas. Contoh kerogen tipe III ini dapat ditemukan di negara kita Indonesia tepatnya di delta Mahakam. Upper Cretaceous pada cekungan Douala (Kamerun) dan di lower Mannville shale di Alberta juga merupakan contoh dari kerogen tipe III ini. TipeIV Ada juga tipe IV yang dikenal sebagai inertinite. Tipe ini biasanya berasosiasi dengan batubara atau materi organik yang mengalami proses oksidasi parah serta tidak mempunyai potensial untuk menghasilkan minyak dan gas. Ke semua tipe kerogen di atas, dengan meningkatnya tingkat kematangan akibat dari suhu yang semakin meningkat, komposisi unsur nya akan mengalami perubahan dengan bertambahnya unsur C, tapi kehilangan unsur H dan O karena mengeluarkan senyawa H2O dan CH4. Akibatnya, akan ada masa di mana tipe-tipe kerogen di atas akan bertemu. Tipe I (alginite) =>light oil Tipe II (exinite) => waxy oil dan some gas Tipe III (vitrinite) => gas Tipe IV (inertinite) => no potential

Daftar Pustaka

Nurjiman,Ahmad. (2011) . GEOLOGI DAN PENGARUH SESAR MENDATAR TUTUPAN TERHADAP PERBEDAAN PERINGKAT BATUBARA SEAM T120 BERDASARKAN PARAMETER NILAI REFLEKTAN VITRINIT DAERAH TUTUPAN SELATAN KECAMATAN TANJUNG KABUPATEN TABALONG PROPINSI KALIMANTAN SELATAN. Yogyakarta: Universitas Pembangunan Nasional Veteran.

http://seismicinterpreter.wordpress.com/2012/11/06/tipe-tipe-kerogen/