Anda di halaman 1dari 109

Stockholm, 24 Desember 2008

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

PENJELASAN & STATEMEN


MUHAMMAD YUSUF THOHIRY TENTANG ESTAFETA
KEPEMIMPINAN NKA-NII TAHUN 1996

‫بسم ال الرحمن الرحيم‬


‫الحمد ل نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بال من شرور انفسنا ومن سيئات اعما‬
‫ وأ شهد ان لاله الال وحده‬,‫ من يهده ال فل مضل له ومن يضلل فل هادي له‬,‫لنا‬
‫ يأيها الذين ءامنوا اتقوا ال وقولوا‬. ‫لشريك له وأ شهد ان محمدا عبده ورسو له‬
‫ إن‬. ‫ يأيهاالذين ء اموا اتقوا ال حق تقاته ولتموتن إل و انتم مسلمون‬.‫قول شد يدا‬
. ‫ال وملكته يصلون على النبى يأيها الذين ء ا منوا صلوا عليه وسلموا تسليما‬

Amma ba`du

“Hai orang beriman! Jadilah kamu orang yang yang benar- benar
menegakkan keadilan, menjadi saksi semata –mata karena Allah,
biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerbatmu.
Sekalipun yang tergugat itu kaya atau miskin, maka Allah lebih
mengutamakan persamaan hak dan kewajiban terhadap keduanya.
Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu untuk memperkosa
keadilan. Dan kalau kamu memutarbalikkan kenyataan atau enggan
menjadi saksi maka sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang
kamu kerjakan.”
“Hai orang yang beriman, kenapa kamu berkata hal-hal yang kamu
tidak kerjakan?” Amat besar kemurkaan di sisi Allah, kalau kamu
mengatakan apa- apa yang tidak kamu kerjakan.”

Penjelasan Kesatu: Estafeta Kepemimpinan NKA-NII

1. Al Qur`an, Sunnah dan Konstitusi Negara


Tidak dipungkiri bahwa sejak tertangkapnya Imam Asy-Syahid SM.
Kartosoewirjo tahun 1962, kelanjutan kepemimpinan Negara Islam
Indonesia bagi sebagian besar masyarakat belum mengetahui kejelasannya.
Ada yang mengatakan bawa NKA-NII telah berpecah-belah, karena adanya
perselisihan dalam hal kepemimpinan, sehingga banyak yang
mengatasnamakan Imam NKA-NII. Hal itu telah mengakibatkan adanya
kebingungan atas sebagian Mujahidin NKA-NII pelanjutnya.

Jika dikaji
dengan seksama, perihal kepemimpinan negara harus mengacu kepada
undang-undang negaranya sebagai alat pemersatu. Jika mengacu langsung
kepada undang-undang, maka sebenarnya tidak ada istilah “NKA-NII
berpecah-pecah”. Adapun kenyataan adanya beberapa kelompok, yang
masing-masing mengatasnamakan berada di bawah Imam NKA-NII, karena
mereka mengangkat Imamnya tidak berdasarkan perundang-undangan
NKA-NII. Sehubungan dengan itu, firman Allah SWT. menerangkan;
“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul
(Nya), dan Ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan
pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama
(bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Pengertian
“ta’atkepada Allah” adalah merujuk kepada Al-Qur’an. Dan pengertian “ta’at
kepada Rasul-Nya” adalah merujuk kepada sunnah Nabi Muhammad SAW.,
kemudian ta’at kepada Ulil Amri adalah kepada Ulil Amri yang ta’at kepada
Allah dan ta’at kepada Rasulullah-Nya serta merujuk kepada perundang-
undangan negara. Dengan demikian, satu-satunya jalan supaya tidak
berselisih dalam menentukan Imam NKA-NII harus didasari oleh pedoman
tersebut. Sebagai contoh: Pertama, Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 58
dinyatakan

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat


kepada yang berhaq menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila
menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan
dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-
baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat”.
Cukup jelas, bahwa yang disebut Amanat itu mencakup amanat
kepemimpinan (Ulil Amri). Dan yang disebut Ahliha, berarti yang memiliki
legalitas (sesuai dengan peraturan/hukum). Dengan demikian legalitas
Imam NKA-NII kemunculnya berdasarkan peraturan-peraturan NKA-NII,
sehingga yang berpegang padanya tidak berselisih; Kedua, Dalam Sunnah
Rasulullah SAW., bahwa “Negara/Daulah” Islam di Madinah disertai undang-
undangnya (Shahifah Madinah), semua warganya diwajibkan untuk
mentaatinya. Artinya, jika kembali kepada Sunnah Rasulullah SAW., maka
pengangkatan Imam NKA-NII pun harus sesuai dengan undang-undang
NKA-NII, sehingga tidak berselisih. Al-Qur’an memerintahkan supaya
bermusyawarah dalam memilih pemimpin, maka yang bermusyawarah
(menjalankan amanat) itu harus yang memiliki hak untuk itu, yakni
posisinya yang memiliki kapasitas dan legalitas. Dengan demikian
permusyawarahan itu tidak keluar dari koridor undang-undang.
Kesimpulan dari dua contoh di atas, bahwa yang memilih pemimpin
(Imam) berdasarkan undang-undang tidak disebut sedang berselisih. Jadi,
yang masih memperselisihkan ‘keimaman NKA-NII’ itu, adalah mereka yang
tidak kembali kepada undang-undang NKA-NII, artinya tidak berpedoman
atau belum kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Perlu diresapi bahwa adanya perintah untuk kembali kepada Al-
Qur’an dan Sunnah Rasul, tersirat adanya kemungkinan yang akan menjadi
pemberontak. Hal itu disebabkan oleh berbagai faktor dalam hatinya,
sehingga tidak mau merujuk kepada kebenaran Ilaahi. Dari itu yang
disebut persatuan ummat, bukan berarti semua yang mengaku Islam akan
bersatu! Sebab, pemberontak itu selalu ada! Dengan kata lain, akan ada
saja yang tergoda setan. Jadi, yang menjadi barometer persatuan dalam
Negara Islam Indonesia ialah perundang-undangan.
Terhadap yang mengatakan Pedoman Dharma Bakti (PDB) membuat
pusing kepala, berbeda-beda pendapat sehingga berpecah-pecah, hal itu
sangat keliru! Sebab; Pertama, Justru berpedoman kepada PDB supaya tidak
pusing, kecuali jika bagi yang belum bisa memahaminya. Atau bagi yang
sudah memahami serta mengakui kebenaran PDB, sedang hatinya berat
menerimanya. Itu satu di antara penyakit hati; mengakui kebenaran cuma di
dalam hati, tetapi menolak dalam sikap. Ada dua penyebab bagi yang
menafsirkannya menyalahi dari penafsiran yang sebenarnya, yaitu: 1)
Kurangnya wawasan dalam hal yang berhubungan dengan undang undang;
2) Wawasan cukup, tapi tidak ikhlas untuk mengakui kebenarannya,
sehingga tidak jujur dalam mengemukakannya. Point yang kedua ini
biasanya terjadi pada orang yang takut tergeser posisinya bila undang-
undang itu diaplikasikan. Atau karena gengsi, mungkin juga malu, jatuh
wibawa karena terlanjur mempertahankan pendapatnya. Jadi, yang
membuat umat pecah-belah itu bukan undang-undangnya. Melainkan, jika
bukan faktor ketidakmengertian, tentunya disebabkan oleh ketidakikhlasan
sang penafsirnya. Perhatikan ayat di bawah ini yang bunyinya:

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para
ulama Bani Israil mengetahuinya.”

Pada ayat tersebut terdapat kata “Ulama”, dalam masa sekarang


maksudnya tidak ditujukan kepada ulama Bani Isroil saja, melainkan
kepada orang yang sudah mengerti. Berkaitan dengan itu lihat lagi ayat
yang bunyinya:

“Sesungguhnya kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka


katakan itu menyedihkan hatimu (janganlah kamu bersedih hati),
karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu akan tetapi
orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.”
Asbaabunnuzul dari ayat itu menerangkan, bahwa para pentolan
musyrikin Quraisy, seperti Abu Jahal, Abu Sofyan dan Akhnas dalam hati
mereka membenarkan; bahwa Muhammad SAW. itu nabi. Namun mereka
menyembunyikannya dihadapan para pengikutnya, karena takut masing-
masing kedudukannya jatuh. Artinya, jika ketahuan oleh para pengikutnya
niscaya akan didepak dari posisi kepemimpinannya. Atau jika terus terang
mengakui kenabian Muhammad SAW., berarti para pentolan bangsawan itu
akan dipimpin oleh seorang yang asalnya penggembala domba.
Memang, ayat itu ditujukan kepada para pentolan Quraisy. Akan
tetapi, kesombongan serta dengki dari sifat iblis tidak berhenti sampai
sekarang. Iblis sudah berikrar untuk menyesatkan manusia dari segala segi
kehidupan sehingga seseorang tidak menyadarinya Menuntun ummat keluar
dari undang-undang Ulil Amri yang haq sungguh suatu kebathilan,
sedangkan perbuatan bathil itu merusak shalat. Sebab itu, waspadalah
terhadap pintu masuknya Iblis! Tujuan Iblis ialah supaya manusia masuk
neraka. Caranya berbeda-beda tergantung kondisi manusianya. Bisa saja
dari segi sholat dan puasanya seseorang tidak tergoda, tapi keangkuhan dan
gila hormat memperdayanya. Akibatnya terus membohongi ummat sehingga
ummat tidak tahu dasar hukum kepemimpinnya; Sehingga umat dituntun
kepada kepalsuan atau digiring kepada anggapan belum adanya pemimpin.
Sungguh berani jika infaqnya diambil sedangkan belum adanya pemimpin,
atau adanya pemimpin tetapi tidak berdasarkan hukum karena diabaikan.
Bagaimanakah pertanggungan jawabnya nanti di Akhirat? Padahal pihak
thoghut alias ‘Setan’ saja punya pemimpin. Apalagi dalam Islam, sebelum
Khadijah, Abu Bakar serta Ustman bin Affan menginfaqkan harta mereka,
juga sebelum Yassir dan Sumayyah dibunuh pihak lawan, serta Bilal bin
Raba’ah disiksa, kesemuanya itu sudah ada kejelasan pemimpinnya.
Kedua, Justru dengan berpegang pada undang-undang itu supaya
tidak berbeda-beda. Sebab, di dunia manapun tidak ada undang-undang
yang dibuat supaya di antara para pemegangnya berbeda-beda dan
berpecah-belah.

Ketiga, Berpegang pada undang-undang itu karena berpegang kepada


Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Sebagai contoh: Pertama, Di dalam Al-
Qur’an ada ayat yang memerintahkan supaya menta’ati “Ulil Amri (para
pemegang urusan)” yaitu pemimpin atau lembaga kepemimpinan. Artinya,
kita diperintahkan untuk menta’ati peraturan/undang-undang yang
ditetapkannya. Jadi, berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah itu wajib.
Demikian halnya berpegang pada Qanun Azasi, Maklumat-maklumat,
Strafrecht, Statement Pemerintah. Berkaitan dengan undang-undang,
perhatikan ayat yang bunyinya:

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan


Robbnya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka
menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada
mereka.”.
Dari ayat itu diwajibkan bermusyawarah dalam mengatur urusan,
berarti musyawarah urusan kepemimpinan wajib merujuk kepada undang-
undang. Sebab, undang-undang itu merupakan hasil musyawarah. Jika tidak
demikian, semua akan kacau, semua bisa ngaku telah bermusyawarah.
Bahkan hasil rekayasa “Thogut (musuh)” pun dianggap sebagai hasil
musyawarah.

Contoh Kedua, Al-Qur’an mewajibkan kita bersatu, sebagaimana


diungkapkan dalam ayat yang bunyinya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan


janganlah kamu bercerai-cerai, ...).
Dari ayat itu dimengerti bahwa umat itu bisa bersatu apabila
berpegang pada “Hablulloh (garis yang ditentukan Alloh)”, yaitu Al-Quran
dan sunnah Nabi SAW. Sebagai bukti, pada awal berdirinya negara Islam di
Madinah umat Islam sebagai minoritas dan terus menghadapi berbagai
gangguan fisik dari dalam ataupun luar, namun tetap bersatu. Persatuan itu
disebabkan semua umat berpegang pada undang undang (piagam/undang
undang Madinah) sehingga seragam. Baik dalam hal kepemimpinan maupun
dalam penentuan mana lawan dan mana kawan. Dengan demikian bisa
disimpulkan, secara hukum bahwa yang disebut berpecah-belah adalah
mereka yang tidak berundang-undang (inkonstitusional). Perhatikan sabda
Nabi SAW:

‫ (رواه‬. ‫ لن يجتمع أمتى ال على هداى‬. ‫ان ال ل يجتمع أ متى على ضللة‬
) ‫الترمدى‬
“Sesungguhnya ummatku tidak akan bersatu dalam kesesatan.
Sesungguhnya Allah tidak menyatukan ummatku atas kesesatan.
Tidak akan bersatu ummat kecuali dalam petunjuk (Hudaan).”
[HR.Tirmidzi]
Yang disebut “Hudaan ‫ “هداى‬yaitu petunjuk. Dan yang disebut petunjuk
itu ialah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, seperti halnya Nabi membuat
undang-undang negara di Madinah. Kemudian, Nabi Muhammad SAW.
mewajibkan kepada ummat untuk menta’atinya. Apalah artinya ber-Ulil Amri
jika tidak ta’at kepada undang-undangnya. Jadi, yang tidak ta’at pada
undang-undang negara yang berazaskan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW,
merekalah yang tidak berpegang pada Hudaan.
Contoh Ketiga, Bagian akhir dalam undang-undang pemerintahan
Nabi di Madinah disebutkan antara lain:

. ‫و انه ليحول هذا الكتاب د و ن ظا لم او ا ثم‬


“Sesungguhnya tidak ada orang yang akan melanggar ketentuan
{undang-undang) tertulis ini kalau bukan penghianat dan pelaku
kejahatan”.
Dengan itu jelas ummat Nabi SAW diwajibkan berpegang pada
undang-undang pemerintahan Islam di Madinah. Jadi, kita juga harus
berpegang pada undang-undang NKA-NII yang berdasarkan Qur’an dan
Hadist Shohih.

Kesimpulannya, bahwa berpecah-belah itu, karena tidak berpegang pada


satu rujukan (undang-undang). Yaitu, ingat pada negara tapi lupa pada
peraturannya, ingat pada ayat jihad lupa kewajiban ta’at pada undang-
undang yang dikeluarkan oleh Ulil Amri, maka terjadilah berfirqoh-firqoh
(cerai-berai). Firman Allah SWT yang bunyi-Nya:
“Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami
ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian
mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang telah diberi
peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka
permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan
memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan.”.
2. Legalitas Imam NKA-NII Pasca SM. Kartosoewirjo
Sebelum memahami legalitas pengangkatan Imam NKA-NII pasca SM.
Kartosoewirjo, terlebih dulu perlu diperhatikan beberapa ketentuan yang
mengatur tentang hal itu. Dalam Qanun Azasi, Bab IV Pasal 12 ayat 2
berbunyi; “Imam dipilih oleh Majlis Sjuro dengan suara paling sedikit 2/3
daripada seluruh anggota”. Dan dalam Bab II Pasal 4 ayat 1 berbunyi;
“Majlis Syuro terdiri atas wakil wakil rakyat ditambah dengan utusan
golongan-golongan menurut ditetapkan dengan undang undang”. Maka
mekanisme pengangkatan Imam NKA-NII diselenggarakan oleh Majelis
Syuro sesuai peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal
itu.
Sehubungan Majlis Syuro sesuai dengan maksud pasal 12 ayat 2 dan
Undang-undang yang dimaksud pasal 4 ayat 1 belum ada, maka
pengangkatan Imam berdasar-kan ketentuan undang-undang tersebut
belum dapat dilaksanakan. Dalam Bab II pasal 3 ayat 2 yang berbunyi: “Jika
keadaan memaksa, hak Majlis Suro boleh beralih kepada Imam dan Dewan
Imamah”.Dengan demikian jika pada masa sekarang menginginkan
pengangkatan Imam oleh wakil-wakil rakyat ditambah dengan utusan
golongan, maka Dewan Imamah harus terlebih dulu membuat undang-
undangnya (maklumat). Sehingga dengan itu jelas ketentuan persyaratan
serta lain–lain yang berkaitan dengannya. Hak Dewan Imamah dijamin oleh
Bab XV, Pasal 34 dalam hal Cara Berputarnya Roda Pemerintah. Point 1
berbunyi ”Pada umumnya Roda Pemerintahan NKA-NII berjalan menurut
dasar yang ditetapkan dalam Kanun Asasy dan sesuai dengan pasal 3 dari
Kanun Asasy. Sementara belum ada Parlemen (Majlis Syuro), segala
undang-undang ditetapkan oleh Dewan Imamah dalam bentuk Maklumat-
maklumat yang ditandatangani oleh Imam“.
Untuk pertama kalinya, Imam Negara Islam Indonesia yaitu
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo terangkat melalui konferensi Cisayong
tahun 1948. Pelaksanaan konferensi itu merupakan aplikasi dari sistem
Syuro yang diperintahkan Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya. Dan
melalui konferensi ini pula, Qanun Azasi (Undang-undang Dasar) Negara
Islam Indonesia disahkan.
Sistem pemerintahan NKA-NII yang harus dijalankan oleh Imam
sesuai dengan Qanun Azasi dipengaruhi oleh kondisi yang dihadapi. Dimana
Qanun Azasi telah melansir adanya dua kondisi yang akan dihadapi, yaitu
kondisi normal dan kondisi darurat (perang). Dalam kondisi normal, lembaga
tertinggi Negara yang harus ada salah satunya adalah Majelis Syuro.
Lembaga inilah yang mempunyai hak, diantaranya untuk merubah Qanun
Azasi, memilih Imam, menetapkan Haluan Negara dan menetapkan Undang-
undang. Secara general, bila Negara dalam kondisi normal, maka
pemerintahan dijalankan sesuai dengan pasal-pasal yang termaktub dalam
Qanun Azasi yang tidak mempunyai ilat darurat. Karena kondisinya tidak
normal, maka Imam NKA-NII baik yang permulaan maupun yang seterusnya
tidak terangkat melalui Majelis Syuro.
Sistem pemerintahan yang pernah berjalan dalam NKA-NII dari sejak
terbentuknya pemerintahan tahun 1948 hingga sekarang adalah sistem
pemerintahan Dewan Imamah dan sistem pemerintahan Komandemen.
Sejak ditetapkan dan diberlakkukan Maklumat No. 7 tertanggal 23
Desember 1948, sistem pemerintahan NKA-NII yang semula menggunakan
sistem pemerintahan Dewan Imamah beralih kepada system pemerintahan
Komandemen. Oleh karena perubahan sistem ini, maka produk perundang-
undangan dinamakan “Maklumat Komandemen Tertinggi (MKT)” yang
ditandatangani oleh Imam/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Negara
Islam Indonesia (Imam/Panglima Tertinggi APNKA-NII). Adapun produk
perundang-undangan dalam masa NKA-NII menggunakan sistem
pemerintahan Dewan Imamah dinamakan dengan istilah “Maklumat” atau
“Maklumat Pemerintah” dan ditandatangani oleh Imam (tidak dirangkai
dengan jabatan Panglima Tertinggi APNKA-NII).
Dua sistem pemerintahan yang pernah berjalan dalam NKA-NII
merupakan representasi dari dua kondisi yang dihadapi. Walaupun tidak
sepenuhnya normal kondisi yang dihadapi sejak terangkatnya Imam NKA-
NII hingga tahun 1948, namun sistem pemerintahan yang diaplikasikan oleh
Imam awal adalah sistem pemerintahan Dewan Imamah. Kemudian pasca
diproklamasikannya NKA-NII tanggal 7 Agustus 1949, kondisi berubah
secara total, dimana kondisinya menjadi fi waqtil harb. Oleh karena itu,
sesuai dengan kondisi yang dihadapi dan sesuai pula dengan penjelasan
proklamasi, bahwa Negara Islam Indonesia dalam masa perang (fi waqtil
harb), maka system pemerintahan beralih sesuai dengan Maklumat No. 7
tahun 1948. Untuk lebih memperjelas system pemerintahan dalam masa
perang, maka ditetapkan MKT No. 1, tertangal 3 Oktober 1949. Peperangan
antara RI dan NKA-NII semakin berkobar hingga tahun 1959. Oleh karena
peperangan semakin berkobar, maka sangat berpengaruh terhadap strategi
yang harus diterapkan. Dan karena strategi perang telah berubah menjadi
perang semesta, perang rakyat seluruhnya (jihad fardhu ’ain) maka susunan
komando perang dalam NKA-NII diadakan penyempurnaan. Maka lahirlah
MKT No. 11 Tahun 1959. Mengacu pada MKT inilah, kemudian susunan
pemerintahan NKA-NII dalam masa perang disebut susunan komando
perang “Sapta Palagan”. Secara esensi, lahirnya MKT No. 11 Tahun 1959
tidak berbeda dengan MKT No. 1 Tahun 1949, di mana kedua MKT ini tetap
menyatakan berlakunya sistem pemerintahan NKA-NII adalah
Komandemen.
Salah satu faktor yang diatur dalam MKT No. 11 Tahun 1959 adalah
berkenaan dengan peralihan kepemimpinan tertinggi NKA-NII. Dalam
perundang-undangan (maklumat) sebelumnya yang mengatur peralihan
kepemimpinan ini tidak ada, kecuali apa yang termaktub dalam Qanun
Azasi. Dengan demikian, system yang mengatur peralihan (estafeta)
kepemimpinan NKA-NII hanyalah MKT No. 11 Tahun 1959 sebagai undang-
undang di bawah Undang-undang Dasar (Qanun Azasi). Adalah sangat illegal
(inkonstitusional) bila adanya estafeta kepemimpinan NKA-NII tidak
mengacu kepada sistem yang termaktub dalam MKT No. 11 Tahun 1959.
Dalam MKT ini dinyatakan, bahwa “K.P.S.I. dipimpin langsung oleh Imam-
Plm.T. A.P.N.I.I. Jika karena satu dan lain hal, ia berhalangan menunaikan
tugasnya, maka ditunjuk dan diangkatnyalah seorang Panglima Perang,
selaku penggantinya, dengan purbawisesa penuh”. Selanjutnya teknis
pelaksanaannya dinyatakan “Calon pengganti Panglima Perang Pusat ini
diambil dari dan diantara Anggota-Anggota K.T., termasuk didalamnya
K.S.U. dan K.U.K.T., atau dari dan diantara para Panglima Perang, yang
kedudukkannya dianggap setaraf dengan kedudukan Anggota Anggota
K.T.”.
Mengingat bahwa calon pengganti Panglima Perang Pusat yang
tercantum dalam MKT No. 11 Tahun 1959, pasca syahidnya Imam (awal)
SM. Kartosoewirjo, maka calon penggantinya tinggal satu yang diketahui
keberadaannya, yaitu dari unsur KUKT (Kuasa Usaha Komandemen
Tertinggi). Unsur-unsur lainnya, sebagian sudah Syahid dan sebagian lagi
telah meninggalkan tugasnya atau desersi dari NKA-NII. Menurut asalnya,
KUKT itu lebih dari satu, sesuai kesaksian Abdul Fatah Wirananggapati. Di
mana Imam SM. Kartosoewirjo mengatakan kepadanya bahwa KUKT untuk
Sulawesi telah diangkat, namun namanya tidak dijelaskan. Disebabkan
namanya tidak dijelaskan serta tidak ada pengakuan atau tidak muncul
orang yang mengaku telah diangkat sebagai KUKT selain AFW, maka sebagai
bukti nyata bahwa KUKT itu tinggal satu. Sesuai dengan MKT No. 11 tahun
1959, di mana calon pengganti Imam yang tercantum dalam undang-
undang tersebut adalah dari unsur KUKT, maka KUKT yang tinggal satu
itulah langsung menggantikan posisi Imam dengan purbawisesa penuh,
tanpa pemilihan. Jika Abdul Fatah Wirananggapati tidak berstatus
Imam/KPSI pasca SM. Kartosoewirjo, maka tidak akan lahir Imam
berikutnya, “NKA-NII hanya tinggal dalam kenangan”.
Mungkin pada masa jayanya NKA-NII, tidak terpikirkan bahwa para
AKT (Anggota Komandemen Tertinggi) dan yang setarap dengannya akan
berguguran, sehingga peralihan kepemimpinan dapat berjalan sesuai dengan
mekanisme syuro antara unsur-unsur yang termaktub dalam MKT No. 11
Tahun 1959. Kesimpulan dari peraturan tersebut bahwa pengganti Imam
yang berhalangan harus melalui pemilihan para AKT dan para panglima yang
setarap dengannya. Karena calon pengganti hanya tinggal satu, maka secara
mutlak AFW sebagai KUKT menggantikan Asy-Syahid SM. Kartosoewirjo
sebagai Imam/KPSI. Dalam hal ini, bagi mereka yang kedudukannya di
bawah AKT atau yang tidak termasuk dalam unsur-unsur yang berhak
sebagaimana dinyatakan dalam MKT No. 11 Tahun 1959 adalah tidak
mempunyai hak sebagai calon, apalagi menggantikan langsung sebagai
Imam.
Calon pengganti Imam SM. Kartosoewirjo dari unsur KUKT hanya
tinggal satu, itu disebabkan oleh kondisi. Oleh karena itu bermusyawarah
dengan AKT dan para Panglima yang setarap dengan AKT sebagaimana yang
dikehendaki MKT No. 11 Tahun 1959 tidak dapat dilakukan. Dalam hukum
Islam, apabila adanya faktor keterpaksaan (darurat) adalah dibolehkan
untuk tidak menepati sepenuhnya sesuatu yang sudah ditentukan sebatas
yang diperlukan. Begitu juga dalam menjalankan undang-undang harus
semaksimal mungkin, yang bisa dilakukan harus dijalankan dan tidak
terhalang oleh faktor yang tidak bisa dilakukan. Qaidah ushul menyatakan;
“Sesuatu yang tidak dapat dijangkau keseluruhannya jangan ditinggalkan
keseluruhannya”. Kita diperintah ta’at kepada Allah SWT. semaksimal
kemampuan. Bila diimplementasikan kepada pelaksanaan MKT No. 11 Tahun
1959 mengenai estapeta Imam, maka jika terpaksa tidak bisa dijalankan
dengan mekanisme musyawarah karena yang berhak hanya tinggal satu
(KUKT), maka yang satu itu langsung mengemban jabatan Imam/KPSI. Hal
demikian adalah lebih memiliki dasar hukum.
Tentunya para pembuat peraturan dalam NKA-NII, bukanlah manusia
yang terjaga dari kekurangan. Sebagai manusia biasa dalam mencapai
tujuannya akan melalui tahap pembelajaran. Oleh karena itu dalam
menerapkan suatu peraturan buatan manusia tidak sekaligus dalam
kesempurnaannya. Khalid bin Walid menjadi Panglima Perang sewaktu
Perang Mu`tah diangkat oleh musyawarah sebab peraturannya demikian.
Maksudnya, jika Zaid bin Harist bersama dua pengganti yang dicantumkan
dalam aturan yang sudah ditetapkan yaitu Ja`far bin Abi Thalib dan Abdullah
bin Rawahah Syahid, maka pimpinan perang diserahkan kepada
musyawarah para bawahan panglima. Berbeda dengan yang tertera dalam
MKT No. 11 Tahun 1959, pelaku musyawarahnya telah ditentukan dan tidak
disebutkan (diatur) bagi aparat bawahannya boleh melakukan syuro untuk
memilih pengganti Imam yang berhalangan. Seandainya semua calon yang
termaktub dalam MKT No. 11 Tahun 1959 itu gugur, bagaimana pula
menterapkan MKT 11 Tahun 1959? Maka solusinya adalah ijtihad para
mujahid yang memiliki kapasitas sebagai mujtahid. Untuk menghadapi
sesuatu yang berada di luar jangkauan perudang-undangan yang telah
ditetapkan, maka undang- undang pada suatu waktu menghendaki
perubahan guna menghadapi kebutuhan di masa mendatang.
Sehubungan adanya maklumat yang mengatur tentang pengangkatan
Imam sehingga memiliki kapasitas dan legalitas, maka saya serukan kepada
para pejuang Negara Islam Indonesia agar menta`ati dulu peraturan yang
ada sebagaimana yang terhimpun dalam PDB, guna mempersatukan diri.
Dengan demikian kita akan memperoleh kekuatan dalam segala bidang.
Juga untuk perbaikan perjuangan sesuai dengan harapan, di mana kita
harus dapat mengimbangi perkembangan kondisi dan keadaan.
3. Proses Abdul Fatah Wirananggapati sebagai KUKT
Alhamdulillah, calon yang tercantum dalam MKT No.11 Tahun 1959
pasca Imam SM Kartosoewirjo dieksekusi pada September 1962, waktu itu
masih ada KUKT yaitu Abdul Fatah Wirananggapati (AFW). Beliau dalam
sejarahnya tertangkap pada 2 Mei 1953 di Jakarta setelah kembali dari Aceh
mengangkat Tgk. Muhammad Daud Beureueh sebagai Panglima Wilayah V
Divisi TII Cik Di Tiro, dan beliau sempat 15 hari tinggal bersama Tgk.
Muhammad Daud Beureueh. Dalam buku Peristiwa berdarah di Aceh,
Meuraxe Dada, merupakan bukti sejarah yang benar bahwa Abdul Fatah
Wirananggapati adalah KUKT. Perlu dipahami bahwa sebelum SMK
(Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo) mengangkat AFW sebagai KUKT, telah
diutus seorang kurir yang bernama Mustofa Rasyid yang mempunyai tugas
menyampaikan amanat kepada Tgk. Muhammad Daud Beureueh dengan
membawa dokumen perjuangan NKA-NII. Kurir tersebut memperoleh surat
jalan tahun 1952 dari Nawawi Dusky (wakil ketua GPII). Mustofa Rasyid
berangkat ke Medan pada bulan April 1952 dan tertangkap di Sumatera
Utara pada bulan April 1953. Jadi, sebelum AFW tertangkap, terlebih dulu
Mustofa Rasyid tertangkap dan tersita pula beberapa dokumen yang
berhubungan dengan Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Pernyataannya Aceh
telah menjadi wilayah bagian Negara Islam Indonesia, bukanlah dalam
kondisi rahasia, melainkan secara terbuka, terdapat sebagian komandan dan
prajurit TNI mengikuti jejak Tgk Muhammad Daud Beureueh hingga
melepaskan seragam TNI dan diganti dengan seragam Tentara Islam
Indonesia (TII). Diberitakan “bahwa di dalam peristiwa Aceh ini banyak
bupati meninggalkan posnya, dan masih belum diketahui kemana mereka
pergi”. Adanya keterangan, bahwa Mustofa Rasyid adalah kurir yang diutus
oleh SMK, maka merupakan bukti bahwa Abdul Fatah Wirananggapati yang
selama ini dianggap hanya sebagai kurir adalah suatu kesalahan. untuk itu
penting dipertegas, bahwa Mustofa Rasyid bukanlah Abdul Fatah
Wirananggapati.
Jabatan KUKT untuk Aceh pada mulanya dirangkap oleh Imam, SM.
Kartosoewirjo, hal itu didapat dari: 1) Dalam lembaran Manifesto tertanggal
7 Agustus 1952 tertulis nama Idharul Huda; 2) Berdasarkan keterangan
dari Ateng Djaelani Setiawan bahwa Imam Kartosoewirjo mempunyai banyak
nama samaran. Pada satu daerah tertentu ia memakai salah satu nama
samarannja. Nama depan Kartosoewirjo “SM” adalah singkatan “Sekarmadji
Maridjan”, jadi nama lengkapnja adalah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.
Nama samaran jang biasa dipakai adalah Kalipaksi (nama ini kemudian
dipakai untuk sebuah resimennja), Idharul Huda (dipakai untuk sebuah
bataljonnja yang biasanja disingkat “I.H.”), Him Cokro, Ahmad Djamaluddin,
Hadi SU Darmawaskita, AT Ridjalulloh, Marsidi Ajuninggoro dan samaran
yang baru adalah Widjaja.
Dari dua keterangan itu jelas bahwa jabatan KUKT untuk Aceh
sebelum dijabat oleh AFW, diemban oleh Imam sendiri. Namun, pada
akhirnya Imam Awal membutuhkan seorang yang bisa memegang jabatan
KUKT untuk bertugas keluar pulau Jawa. Dalam pencarian personal yang
layak untuk jabatan itu, Imam Awal menghubungi Anwar Cokroaminoto
seorang kepercayaan SMK yang aktiv di kalangan masyarakat umum tapi
disembunyikan dalam kalangan NKA-NII. Dan Anwar Cokroaminoto
dipercaya untuk mencari orang yang memenuhi persyaratan sebagai KUKT.
Dalam hal itu Anwar Cokroaminoto menyebutkan nama Abdul Fatah
Wirananggapati yang sudah dikenalnya sebagai aktivis GPII (Gerakan
Pemuda Islam Indonesia). Setelah data-data kompetensi dirinya
dikemukakan, kemudian Anwar Cokroaminoto diperintahkan untuk
menghubungi AFW. Setibanya Anwar Cokroaminoto di Cirebon, AFW tidak
berada di tempat yang dituju sehingga tidak bertemu dengannya. Dalam
keadaan itu Anwar Cokroaminoto menemui Agus Abdullah dan
menyampaikan perintah dari Imam Awal bahwa AFW harus dipertemukkan
dengan Imam Awal. Pada saatnya, Agus Abdullah mengantarkan AFW dan
dipertemukannya sesuai perintah. Seminggu lamanya bersama Imam Awal
dan berdikusi tentang NKA-NII lalu AFW dilantik sebagai KUKT, dan
disaksikkan oleh Zaenal Abidin dan Baharudin. Kemudian oleh Imam Awal
diperintahkan berangkat ke Aceh. Zaenal Abidin dalam kesaksiannya
menjelaskan Abdul Fatah Wirananggapati diperkenalkan sebagai KUKT
(Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi) oleh almarhum SM. Kartosoewirjo
dalam suatu pertemuan. Dalam kedudukannya sebagai KUKT itulah beliau
diutus ke Aceh untuk melantik Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Keterangan
AFW di pengadilan tahun 1953 menerangkan, “A, Fatah jang berumur 29
tahun djabatan terachir kuasa usaha Darul Islam dan pernah mendjadi
ketua GPII daerah Tjirebon di dalam tahun 1949, dalam keterangannja di
depan hakim menerangkan bahwa ia sudah kurang lebih setahun mendjadi
anggauta D.I. diterangkannja bahwa ia sangat tertarik akan organisasi tsb.
Dan pernah mendapat tugas membingbing perjuangan mendirikan negara
Islam di Atjeh dari pemimpin D.I. Kartosoewirjo”. Keterangan di depan
hakim itu posisi AFW bukan sebagai terdakwa melainkan sebagai saksi.
Sampai saat ini tidak ditemukan referensi AFW diadili.
Tatkala akan meninggalkan Aceh, dua pengawal, yaitu Tgk. Ilijas
Leubai dan Hasan Gajo diperintah mengantarkannya oleh Tgk. Muhammad
Daud Beureueh sampai Jakarta. Setibanya di Jakarta salah seorang dari
petugas membawanya ke rumah famili petugas itu untuk menginap. Dan
pada malam itu juga terjadi penangkapan. Dalam penangkapan itu AFW
sempat lolos. Pada kesempatan itu berusaha untuk bisa segera melaporkan
tugasnya ke pusat. Namun, untuk itu perlu persiapan yang berkaitan dengan
situasi dan kondisi waktu itu. Dalam keadaan demikian teringat pada
seorang ummat yang tinggal di Manggarai kemudian menuju rumahnya.
Tetapi, baru saja mandi serta ganti baju datang pula penggerebegan, AFW
tertangkap kembali lalu dibawa ke penjara Cirebon. Dalam penjara tersebut
pada waktu itu dihuni banyak orang komunis yang terlibat Pemberontakan
PKI (Partai Komunis Indonesia) Madiun 1948. Sedangkan aparatur
pemerintah RI di Cirebon pada waktu itu di antaranya orang-orang PKI maka
diterimalah kabar oleh orang–orang komunis dalam penjara, datangnya
orang kedua dari Kartosoewirjo maka sebagian orang PKI itu mengeroyok
untuk membunuhnya. AFW sempat melawan, menangkis pisau dengan
menggunakan handuk, juga perlawanan itu dibantu oleh Zaenal Hatomi, dia
adalah pejuang NKA-NII yang lebih dulu tertangkap dan dimasukkan ke
penjara Cirebon. Dirinya mengetahui datangnya orang kedua dari
Kartosoewirjo kabar dari orang - orang komunis pada saat akan terjadi
pengeroyokan. (Kejadian di penjara Cirebon ini keterangan dari Zaenal
Hatomi, dalam wawancara dengannya Tahun 1992).
AFW selamat, adapun Zaenal Hatomi kena luka di bagian kepalanya.
AFW hanya singgah di penjara Cirebon, karena sesudah peristiwa
pengeroyokan itu dipindahkan ke Nusakambangan. Di sana bertemu kembali
dengan Baharuddin yang pernah menyaksikan pengangkatan AFW sebagai
KUKT (Keterangan dari Baharudin). Sesudah Imam Awal dieksikusi bulan
September, AFW dibebaskan pada tahun 1963.
4. Masa-masa Yang Penuh dengan Kecurigaan
Sesudah terjadi pengkhianatan yang dilakukan oleh beberapa
panglima, yakni mereka menyerahkan diri kepada musuh, bahkan ada yang
membocorkan strategi perjuangan, yang selajutnya diikuti oleh Ikrar
Bersama 1 Agustus 1962, dengan demikian sejak itu kondisi di antara para
Mujahidin NKA-NII sudah terjadi saling kecurigaan.
KUKT, Abdul Fatah Wirananggapati yang diangkat pada tahun 1953
dan pada tahun itu juga tertangkap di Jakarta, setelah kembali dari Aceh
melantik Tgk. Muhammad Daud Beureueh selaku Panglima Wilayah V Divisi
TII Cik Di Tiro. Mendekam selama sepuluh tahun di Nusakambangan,
membuat dirinya tidak banyak dikenal oleh warga NKA-NII apalagi dalam hal
jabatan KUKT-nya.
Lebih-lebih pada masa itu banyak yang tidak memahami perundang-
undangan NKA-NII sehingga umumnya tidak tahu siapa sebenarnya pelanjut
dari Imam sesudah SM. Kartosoewirjo. Kondisi secara umum pada waktu itu
jangankan orang memikirkan perundang-undangan NKA-NII, terhadap NKA-
NII-nya saja sudah dianggap hancur lebur.
5. Memerlukan Proses Waktu
Sesudah Imam SMK tertangkap, 4 Juni 1962 kemudian disusul oleh
adanya “Ikrar Bersama” yang dilakukan oleh sebagian besar mantan
pimpinan / Komandan TII dalam hal sumpah setia terhadap UUD 45 dan
Pancasila serta menyesali diri dalam hal perjuangan NKA-NII, maka
sungguh sulit pada tahun-tahun itu untuk memastikan siapa yang bisa
diajak bicara tentang kelanjutan perjuangan NKA-NII. Sebab, terbetik
pandangan bahwa para pemimpinnya saja sebagian besar sudah kembali
menyerahkan diri ke RI, apalagi prajurit bawahannya serta masyarakat
umum.
Dalam kondisi sedemikian itu membutuhkan proses waktu untuk
menjelaskan estapeta kepemimpinan NKA-NII. Adalah tidak mungkin
menjelaskannya, jika orang yang akan dipimpinnya pun belum ditemukan.
Serta, tidak tepat bila menjelaskan estapeta kepemimpinan NKA-NII
kepada mereka yang sudah menyesali diri mengenai keterlibatan dalam
perjuangan NKA-NII, serta mengakui kesesatannya, sehingga menjatuhkan
martabat NKA-NII.
Tentu, pada waktu itu masih ada pribadi-pribadi yang masih
berkeinginan melanjutkan perjuangan NKA-NII, tetapi karena mereka sudah
terpencar serta bercampur dengan sebagian yang sudah kompromi dengan
penguasa RI, maka sukar bagi Abdul Fatah Wirananggapati mencari mereka
yang masih setia terhadap perjuangan NKA-NII. Kondisi pada waktu itu
hanyalah kecurigaan atau saling ketidakpercayaan antara mereka.
Contohnya, sesudah Imam S\M. Kartosoewirjo tertangkap, waktu itu di Jawa
Tengah masih ada pasukan sekitar seratus orang yang dipimpin oleh Ismail
Pranoto yang tetap mengangkat senjata, terus mengadakan perlawanan
sesuai dengan Amanat Imam Tahun 1959 dihadapan para panglimanya.
Tetapi, begitu ketahuan oleh bekas kawan-kawannya kemudian dibujuk oleh
tipuan bahwa di kota telah ada “Cease Fire” (gencatan senjata). Disebabkan
mereka tidak mengikuti bujukan demikian maka akhirnya diultimatum oleh
para pembujuk itu, bila tidak menyerah akan digempur. Dan nyata bahwa
pasukan yang dipimpin Ismail Pranoto itu dikejar-kejar. Bukan saja oleh TNI,
melainkan juga dibantu oleh bekas-bekas TII.
Setelah pengejaran terhadap pasukan Ismail Pranoto, sisa dari
pasukan itu terus bergerilya dan pimpinannya diambil alih oleh Kastolani,
karena Ismail Pranoto pindah ke Yogya untuk mencari dukungan di daerah
tersebut. Selanjutnya pada awal tahun 1965, Ismail Pranoto mengutus
Hanif dan Safri (Salman Farisi) kepada Kastolani dengan pesan bahwa Ismail
Pranoto akan berangkat ke Sumatera untuk mengusahakan tempat di sana
sebagai basis baru bergerilya.
Pada tahun 1967 pasukan yang dipimpin Kastolani tinggal 12 orang
terdiri dari delapan orang militer dan empat orang sipil. Mereka sudah
bertekad dengan pribahasa sekalipun menjadi ‘monyet’ (hidup di hutan
bergerilya), tetap tidak akan menyerah kepada musuh. Hanya, mereka
tidak mengetahui keadaan yang sesungguhnya di luar daerahnya. Di saat-
saat demikian itu datanglah dua utusan dari Kadar Solihat yaitu Khaeruddin
salah seorang bekas komandan Kompi TII Kebumen, Jawa Tengah, yang
satunya ialah Abdullah. Khaerudin memberitahukan masih adanya kekuatan
Kahar Muzakar di Sulawesi serta Tgk. Muhammad Daud Beureueh di Aceh,
juga di Jawa Barat Siliwangi separuhnya sudah NKA-NII. Dengan kalimat-
kalimat itu Kastolani dan Zaenal Asikin merasa pasukannya akan
diperintahkan untuk pindah tempat bergerilya ke luar Jawa. Kedua utusan
itu menjanjikan ada tiga pilihan tempat bergerilya, Apakah mau di
Sulawesi,Aceh, atau mau di Jawa Barat.
Tertipu oleh informasi demikian, Kastolani menuruti Khaeruddin,
kemudian mengirimkan empat orang personilnya yang sipil dengan diantar
oleh Khaeruddin ke Jawa Barat. Setelah satu minggu perjalanan dengan
menginap di beberapa tempat, lalu sesuai dengan yang sudah ditentukan
dijemput di stasion kereta api Bandung oleh Fajri seorang bekas komandan
Resimen TII Banyumas. Para penjemput itu membawa mereka ke sebuah
rumah mantan komandan resimen TII. Keempat orang itu mengikutinya
dengan maksud dalam rangka bergerilya mencari kawan-kawan
seperjuangan yang dalam dugaan sedang menyusun kekuatan di kota.
Tetapi, karena tidak tahu mana yang masih setia terhadap NKA-NII dan
mana yang sudah menyerah kepada musuh, maka secara tidak disadari
ketika masuk rumah mantan komandan resimen TII; ketika itu juga masuk
dalam perangkap musuh, selama satu minggu belum disadarinya.
Kemudian setelah seminggu lamanya berada di rumah tersebut,
mereka dibawa oleh bekas komandan resimen itu serta dikatakan kepada
mereka akan dibawa ke Tasikmalaya. Mereka tidak curiga akan ditangkap,
walau dibawa ke Brigif 13, karena informasi sebelumnya bahwa Siliwangi
separuhnya sudah berpihak kepada NKA-NII, juga yang membawanya
adalah seorang tokoh di kalangan NKA-NII. Mereka baru menyadari
keadaan sedang ditangkap oleh musuh, sewaktu mereka dimasukkan ke
dalam sel dan ketika akan mengambil air wudhu, melakukan sholat dikawal
oleh anggota T N I dengan senjata otomatis.
Sementara itu pasukan Kastolani yang di Jawa Tengah belum tahu
adanya kejadian yang menimpa kepada empat orang anak buahnya yang di
utus ke Jawa Barat. Tujuh belas hari sesudah kedatangan Abdullah dan
Khairuddin atau setelah empat orang sipil tadi ditangkap musuh, datang
lagi Khaeruddin mengantar Kadar Sholihat bersama salah seorang bekas
komandan kompi TII di Jawa Barat, disertai tiga orang TNI yang menyamar
dengan berpakaian preman yang sebelumnya tidak diketahui oleh Kastolani
bahwa pada masing-masing pinggangnya terselip pistol. Sesudah bertemu
dengan kedua bekas komandan TII serta tiga orang TNI yang menyamar itu,
maka muncullah kira-kira seratus orang TNI dari tempat persembunyian.
Sewaktu berlangsung pembicaraan, Kastolani bertanya kepada Kadar
Sholihat, “Apakah hal ini tidak menggunakan sarana musuh (maksudnya
tidak diketahui musuh)?” Dalam hal ini Kadar Sholihat meyakinkan bahwa
mereka akan dimutasikan dalam rangka melanjutkan perjuangan. Kastolani
percaya akan hal itu karena mengingat pesan dari Ismail Pranoto yang
berusaha menyediakan tempat di Sumatera, dan ini dianggap sebagai
hasilnya. Selain itu juga Kastolani percaya bahwa di Siliwangi sudah banyak
yang berpihak pada NKA-NII, sehingga tidak curiga ketika diperintahkan
naik ke mobil pik up oleh Kadar Sholihat. Dengan itu delapan TII termasuk
Kastolani, bersama keenam orang penjemput itu meninggalkan Brebes.
Kastolani baru sadar bahwa dirinya sudah tertipu, tatkala mobil yang
mereka tumpangi itu memasuki markas Brigif 13 Galuh, Tasikmalaya Jawa
Barat. Sungguh jelas pada tahun-tahun itu sangat susah untuk saling
percaya, sebab kawan dan lawan amat samar.

6. Kehati-hatian dalam Menyikapi dan Melangkah


Pada Tahun 1971 AFW berkumpul bersama empat orang tokoh NKA-
NII dari Jawa Barat yang siap menggalang kembali kekuatan NKA-NII. Dari
pertemuan itu menghasilkan keputusan bahwa AFW harus pergi ke Aceh
menemui Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Dalam pada itu AFW berpesan
kepada empat orang yang akan ditinggalkan itu bahwa mujahid dibagi tiga
kelas: 1) Mujahid yang bisa dibawa bicara dan dibawa kerja ialah seluruh
mujahid yang tidak pernah khianat; 2) Dibawa bicara, tapi jangan dibawa
kerja ialah mujahid yang diberi kesenangan kerena sangat akrab dengan
Bakin; dan 3) Sama sekali jangan dibawa kerja dan jangan diajak bicara
(diberi tahu).
Kenyataannya, Tahun 1973 diadakan musyawarah di Jakarta. AFW
menunggu di rumah Jabir. Kata Dodo M. Darda kepada AFW, “Bapak tunggu
di sini”. Kira-kira jam 10 siang datang lagi Dodo M. Darda mengatakan
kepada AFW, Abu Daud tidak datang. Lalu kata AFW, “Kalau gitu tidak jadi
pertemuan itu, maka saya akan pulang ke Bandung. Sesudah meninggalkan
Jakarta, tahu-tahunya jadi pertemuan itu dan diangkatnya Tgk. Muhammad
Daud Beureueh sebagai Imam. Dalam hal itu ada yang bertanya kepada
AFW, mengapa bapak tidak diikutsertakan dalam pertemuan itu? Jawabnya,
”Mungkin alasannya karena diadakan di rumah Adah Djaelani, serta
penyandang dananya dari Ateng Djaelani Setiawan“.
Apa yang menimpa kepada para mujahid di bawah pimpinan Kastolani
pada Tahun 1967 sebagaimana telah diuraikan, terulang kembali pada tahun
1970-an dalam versi lain. Silahkan anda menilai kutipan ini, ”Dalam
kesadaran terpepet itulah saksi Ateng Djaelani datang menemui Panglima
Kodam IV Siliwangi, yang ketika itu dijabat Mayjen Himawan Sutanto.
Segala yang direncanakan rekan-rekannya tentang DI/TII, dilaporkan
kepada Mayjen Himawan. Ketika itu juga Panglima memerintahkan
aparatnya untuk mengambil tindakan Sedangkan saksi sendiri, yang ketika
itu datang bersama rekannya Zaenal Abidin, Kadar Solihat mengatakan
kepada Mayjen Himawan bahwa mereka akan mempersiapkan operasi
“pertentangan”. Saksi dan Zaenal Abidin akan berusaha menghubungi
rekan-rekannya dan mengajak mereka untuk kembali kepangkuan Ibu
Pertiwi. Salah seorang yang berhasil ditemui Ateng ketika itu adalah
tertuduh Sukana Fachruroji. Hal itu dibenarkan tertuduh di persidangan hari
itu.
Dari beberapa kejadian itu bisa disimpulkan; “tidak mudah bagi Abdul
Fatah Wirananggapati untuk mengajak tokoh-tokoh yang sudah
menyerahkan diri kepada musuh itu supaya menerima estapeta
kepemimpinan berdasarkan undang-undang MKT No.11 Tahun 1959. Sebab,
jangankan terhadap KUKT, Abdul Fatah Wirananggapati yang tidak besama-
sama dengan mereka karena beda lapangan tugasnya, sedangkan terhadap
yang sama-sama satu lapangan juga tega melaporkannya kepada aparat
pemerintah RI. Jangan aneh bila anda dengar bahwa di antara para tokoh
yang sudah menyerahkan diri kepada musuh itu telah melecehkan Abdul
Fatah Wirananggapati, sebab beliau telah membuat At-Tibyaan yang
menjelaskan mengenai estapeta kepemimpinan NKA-NII berdasarkan
perturannya, serta menjelaskan mengenai nilai hukum berdasarkan Qur’an
terhadap mereka yang sudah menyerahkan diri kepada musuh.
Dalam kondisi sedemikian, langkah pertama yang bisa ditempuh oleh
Abdul Fatah Wirananggapati, yaitu mengadakan pendekatan kepada
masyarakat secara bertahap sehingga ditemukan kader-kader baru atau
warga NKA-NII. Juga, berusaha menemukan personil TII yang masih utuh
terlepas dari nilai kompromi dengan musuh. Adapun langkah kedua, yaitu
menjelaskan kelanjutan perjuangan kepada yang ingin mengetahuinya.
Sebab, masalah estapeta kepemimpinan NKA-NII pada awal
kebangkitannya, hanya bisa dijelaskan kepada yang sudah benar-benar
diketahui berkeinginan memahaminya. Dengan itu sangat terbatas. Hal
demikian karena adanya beberapa faktor di antaranya ialah: Pertama,
Kebanyakan ummat tidak memiliki wawasan mengenai perundang-undangan
NKA-NII. Atau tidak menganggap penting, sehingga mereka mengakui
pemimpin itu cuma berdasarkan idolanya masing masing atau ikut-ikutan;
Kedua, Kebanyakannya tidak memahami nilai hukum mengenai yang sudah
mundur dari NKA-NII, sehingga masih dianggap sebagai pimpinan; Ketiga,
Adanya sebagian eks pimpinan TII yang tidak sadar dalam monitoring serta
arahan dari pemerintah RI, sehingga terpancing memunculkan
kepemimpinan, dengan tidak berdasar pada peraturan NKA-NII; Keempat,
Banyak eks tokoh TII yang tidak mengakui kesalahan dalam hal “desersi”
dari NKA-NII, sehingga yang sebenarnya menyerahkan diri kepada musuh,
malah disebutnya sebagai ‘Hudaibiyah’; dan Kelima, Banyaknya eks
pimpinan TII yang tidak mau taubat menurut prosedur hukum (tidak mau
mengeterapkan Q.S.4:64), Sehingga menyepelekan Abdul Fatah
Wirananggapati bahkan menjegal langkahnya.
7. Kekisruhan dan Proses Sejarah Kembali Kepada Undang-
undang
Selama Abdul Fatah Wirananggapati mendekam dalam penjara dari
tahun 1975 sampai tahun 1983, selama itu pula terjadi kekisruhan yang
besar dalam tubuh ummat yang mengatas-namakan NKA-NII. Menurut
kesaksian Adah Djaelani dalam persidangan “…NKA-NII di Indonesia ada
tiga kelompok yaitu: kelompok yang Imam-nya Daud Beureuh, Wakilnya
saksi, kelompok yang Imam-nya Djadja Sudjadi (Garut Timur) dan
kelompok yang Imam-nya H Sobari (Rajaplah), Tasikmalaya). Sebab-sebab
terjadinya pengelompokan karena masing- masing ingin memisahkan diri
dengan alasan seperti dikatakan oleh saksi: “H. Sobari menganggap kami
yang menyerah th’62 sebagai pengkhianat sehingga ia membentuk NKA-NII
sendiri, sedangkan kelompok Djadja Sudjadi menyayangkan kami mengaku
Imam orang Sumatera sehingga ia membentuk NKA-NII sendiri. Adanya
kelompok kelompok DI/TII yang semuanya ingin mewujudkan berdirinya
NKA-NII merupakan faktor penghambat karena satu sama lain saling jegal
menjegal dalam mengumpulkan masa, satu sama lain saling jelek
menjelekkan (propokasi) dalam mempengaruhi masyarakat,...”.
Hal tersebut di atas karena mereka tidak menggunakan perundang-
undangan mengenai estapeta kepemimpinan NKA-NII, sehingga ummat
terbagi ke dalam banyak kelompok. Setiap kelompok mempunyai langkah
(program) masing-masing. Karena itu antara satu kelompok dengan dengan
kelompok lainnya bersinggungan. Yang paling tajam perbenturan antara
kelompok adalah paham dalam hal mengenai siapa pemimpin sebenarnya
dalam NKA-NII.
Sesudah Abdul Fatah Wirananggapati bebas dari penjara tahun 1982,
saya (Muhammad Yusuf Thohiry) bertemu dengan beliau tahun 1984.
Kemudian AFW memberikan penjelasan-penjelasan, yang intinya “Bahwa
estapeta kepemimpinan NKA-NII yang sebenarnya mesti berdasarkan
undang-undang/MKT No. 11 Tahun 1959”. Didalamnya tercantum jabatan
KUKT yang disandang olehnya. Ada juga sebagian ummat yang mengetahui
posisi AFW sebagai pelanjut kepemimpinan NKA-NII hal itu bersumber dari
keterangan Ajengan Masduki. Akan tetapi, karena Abdul Fatah
Wirananggapati baru keluar dari tawanan dan dianggap masih sedikit
pengikutnya, maka bagi yang maunya berpihak kepada banyaknya pengikut,
mereka dengan cepat menolak penjelasan darinya. Lebih dari itu
dikarenakan mereka tidak bisa menolak dengan hujjah, maka ada
sebagiannya yang melemparkan fitnah dengan tuduhan ambisi
kepemimpinan, serta lainnya.
Sebaliknya, bagi yang berjihad ingin berdasarkan ilmu, dan
berkehendak dipimpin oleh pemimpin yang keberadaannya didasari
hukum/peraturan, maka menyambut dengan gembira terhadap penjelasan
mengenai estapeta kepemimpinan yang berdasarkan undang-undang. Hal
itu didasari ayat yang bunyinya:

“Dan janganlah kamu seperti mereka yang berpecah-belah dan


berselisih, sesudah tanda bukti yang jelas datang kepada mereka Dan
bagi mereka adalah siksaan yang berat.”
Untuk memenuhi kebutuhan ummat dalam memahami nilai undang-
undang, AFW pada tahun 1987 menulis “At-Tibyaan” yang artinya
“penjelasan”. Sungguh, apa yang diperbuat oleh AFW sebagai pemimpin
tertinggi NKA-NII adalah sesuai dengan batas kemampuan dirinya yang
tidak terlepas dari proses kondisi dan situasi serta tidak luput dari berbagai
rintangan. Jadi, bila penjelasan itu sampai kepada anda belum lama, atau
baru sekarang saja, maka itu hanya merupakan proses sejarah diri kita
semua, karena masing-masing diri punya sejarahnya. Bila terlambat, tidak
harus bertanya atau protes “mengapa diri terlambat?” Sebab, termasuk diri
anda juga harus menjawabnya ! Tentu, jika hati suci, maka akan
menjawabnya, ”lebih baik terlambat daripada terlewatkan sama sekali!“.

8. Kembali kepada Sistem


Proses proses pemahaman sejarah serta penilaian terhadap posisi
para tokoh NKA-NII terus berkembang seiring berlanjutnya perjuangan.
Konsolidasi antar mujahid berjalan sehingga pada tahun 80-an AFW bertemu
dengan Kholil alias Pi’i bin Dahrodji. Kholil dijatuhi hukuman penjara seumur
hidup oleh pengadilan RI dalam peristiwa Idul Adha 1962. Namun, sesudah
peristiwa G.30 S. PKI, 1965 dirinya memperoleh keringanan diperbolehkan
pulang. Dalam kesempatan itu ia melarikan diri tidak kembali ke penjara.
Setelah bertemu dengan Kholil, AFW dipertemukan kembali dengan Zaenal
Hatomi. Dari pertemuan itu AFW memperoleh keterangan dari Zaenal
Hatomi bahwa Imam SM. Kartosoewirjo pernah menyatakan, bahwa para
Petinggi/Komandan TII yang datang menyerahkan diri kepada pemerintah RI
telah gugur dari kepemimpinannya. Adapun Kholil menceritakan, bahwa
dirinya diperintahkan untuk mengeksikusi tiga bekas petinggi NKA-NII Jawa
Barat yang menyerahkan diri kepada RI. Perintah itu akan dilaksanakan jika
Soekarno sudah terbunuh. Selanjutnya sekitar tahun 1986-an AFW
memperoleh dokumen lembaran “Ikrar Bersama,1 Agustus 1962” yang
ditandatangani oleh 32 orang bekas para komandan TII yang isinya
menyesali diri dalam perjuangan NKA-NII. Menurut Zaenal Haftomi,
lembaran tersebut telah disodorkan kepada Imam SM. Kartosoewirjo setelah
divonis mati oleh pengadilan RI. Tanggapan Imam pada waktu itu, “Mereka
bukan saja telah batal, tapi juga menyeberang”. Dari penemuan barunya itu
AFW mengambil sikap, bawa semua yang sudah menyerahkan diri kepada
RI adalah batal termasuk Tgk. Muhammad Daud Beureueh, walau dulunya
memegang jabatan setarap AKT (Panglima KPWB). Manifesto politik AFW
diungkapkan dalam tulisan dengan judul “At-Tibyaan”, 1987.

Mujahid NII diharuskan beralih dari kepemimpinan lama setelah


datang kepadanya penemuan baru tentang nilai dan sistem, bukan karena
mengikuti seseorang yang sudah difigurkan, melainkan karena sistem, yakni
seperti halnya MKT No.11, Tahun 1959 serta keutuhan nilai sebagai
pemegang jabatan yang setaraf dengan -nya. Bila pemimpin salah
melangkah karena ijtihadnya maka kewajiban kita mengembalikannya
kepada sistem, sebab yang diikuti ialah sistem bukan figur. Begitu juga
kekeliruan AFW atau keterlambatannya menentukan sikap sebagai estapeta
K.P.S.I. sesuai dengan M.K.T. No. 11, Tahun 1959 karena terjegal oleh
berbagai proses perjuangan serta pemikiran, maka dari hal itu kewajiban kita
kembali kepada sitem / undang-undang.
9. Estapeta Kepemimpinan NKA-NII Tahun 1991
Sebelum Abdul Fatah Wirananggapati tertangkap tahun 1991, beliau
belum sempat membentuk Komandemen Tertinggi Negara Islam Indonesia
(pemerintahan). Akan tetapi pada tahun 1987, beliau mengangkat para
asisten untuk membantu tugasnya sebagai Imam/KPSI. Para Asisiten itu
dikenal dengan nama ”team dua belas”, yang tak berapa lama dibubarkan.
Adapun penyebab belum dibentuknya pemerintahan karena dalam
membentuk pemerintahan dibutuhkan orang-orang yang betul-betul
memahami perundang-undangan NKA-NII, serta memegang teguh undang-
undang tersebut. Secara resmi Abdul Fatah Wirananggapati menulis At-
Tibyaan, 1987 untuk menjelaskan estafeta kepemimpinan NKA-NII
berdasarkan perundang-undangan. Akan tetapi sedikit sekali yang
memahaminya, sehingga sangat lambat perkembangannya. Kondisi
sedemikian ini dijadikan pertimbangan untuk tidak tergesa-gesa membentuk
Komandemen Tertinggi Negara Islam Indonesia.
Pada tahun 1987 Abdul Fatah Wirananggapati sebagai Imam/KPSI
dengan Purbawisesa penuh yang dimilikinya mengangkat Muhammad Yusuf
Thohiry sebagai asisten Imam/KPSI bidang inventarisasi. Kemudian, pada
tahun 1991 AFW dalam pengejaran musuh tertangkap kembali. Satu minggu
sebelum tertangkap, Imam/KPSI Abdul Fatah Wirananggapati menunjuk
Muhammad Yusuf Thohiry secara langsung untuk menggantikan dirinya, jika
dirinya (AFW) tertawan musuh. Disebabkan pada waktu itu belum terbentuk
Komandemen Tertinggi NKA-NII, yakni belum terangkatnya KSU, para AKT,
KUKT, dan Para Panglima yang setarap dengan AKT. Maka, dalam keadaan
itu Muhammad Yusuf Thohiry bersedia mengemban jabatan Imam / KPSI.
Atas Ketidaklaziman dalam estafeta ini, bolehlah kita perhatikan wasiyat
Imam Awal (SMK) tahun 1959 di hadapan para Panglima, yang menyatakan;
“Djika kalian dalam berdjuang putus hubungan dengan para Panglima
sedangkan jang ada hanja pradjurit petit, maka pradjurit petit tampil
sebagai Imam”.
Amanat yang diberikan secara langsung oleh AFW kepada MYT tidak
dalam sebuah pertemuan dengan disaksikan oleh banyak yang hadir karena
situasi dan kondisinya sangat genting. Peralihan kepemimpinan itu terjadi
sekitar seminggu sebelum terjadi penangkapan terhadap AFW. Sekalipun
peralihan kepemimpinan itu tidak normal, namun sebelumnya telah ada
beberapa orang yang bertanya kepada Abdul Fatah Wirananggapati perihal
peralihan kepemimpinan; ”Bagaimana jika bapak tertangkap, siapa yang
menggantikan posisi pimpinan? Jawaban AFW; “Syahir Mubarok (Muhammad
Yusuf Thohiry)”. Amanat yang diberikan saat itu belum sempat tertulis hitam
di atas putih, namun tetap dijalankan atas dasar tanggung jawab yang
disaksikan Allah SWT serta Malaikat-Nya. Setelah menerima peralihan
kepemimpinan dan didasari tanggung jawab, juga karena adanya kebutuhan
yang mendesak, Muhammad Yusuf Thohiry sebagai Imam/KPSI, segera
membentuk pemerintahan. Pembentukan pemerintahan itu ditetapkan
dengan keluarkannya Maklumat No. I Tahun 1994, tertanggal 14 Rajab 1415
H / 17 Desember 1994 M.
10. Mengutamakan Legitimasi Pengangkatan

Sesudah pengangkatan aparat yang dilakukan Muhammad Yusuf


Thohiry di diluar itu ada suara yang mengatakan,” Bahwa para AKT yang
diangkat itu bukanlah para AKT yang riil, tidak seperti pada jaman Imam
Awal yang militernya jelas bersenjata, sanggup menghadapi pertempuran di
fron terbuka. Jadi, katanya kalau sekedar AKT-AKT-an semua orang juga
bisa”. Boleh- boleh saja berkata demikian karena haknya. Namun, perlu
diketahui bahwa bisanya disebut sebagai AKT yang sah atau benar jika
terlebih dulu memiliki legalitas, artinya bahwa yang didahulukan,
yakni terlebih dulu adanya pengangkatan yang dilakukan oleh yang
berhak mengangkatnya yaitu yang memiliki legalitas pula. Dengan
demikian tidak semua orang bisa diangkat sebagai AKT ! Juga, tidak setiap
orang memiliki legitimasi mengangangkat AKT !

Nabi S.a.w. sebelum memimpin ummat atau ribuan pasukan


bersenjata maka terlebih dulu adanya pengangkatan sebagai Nabi. Jadi, soal
memiliki pengikut atau kekuatan bersenjata hal itu perkara berikutnya.
Artinya, kepemimpinan dalam Islam itu terlebih dulu dimulai oleh
pengangkatan dari yang memiliki legalitas. Jadi, soal memiliki pengikut
atau kekuatan ribuan tentara hal belakangan. Juga, soal banyak atau sedikit
pengikut tidak menjadi ukuran bagi legitimasi pemimpin. Coba perhatikan
sejarah di antara para Nabi: Pengikut Nabi Nuh hanya tujuh puluh orang,
Nabi Yunus yang pernah melakukan kesalahan, pengikutnya empat puluh
lima orang, bahkan ada lagi yang ditinggalkan oleh sebagian pengikutnya.
Tetapi, karena mempunyai legitimasi maka tetap saja sebagai Nabi. Hal
demikian tida4aja terjadi kepada para nabi, tetapi terjadi pula kepada
sahabat Nabi S.a.w. Ali bin Abi Thalib r.a, sewaktu berada diperkemahan,
saat subuh dilihat pasukannya tinggal seribu lagi. Beliau berkata;"Biarlah
mereka pergi cukup bagiku Alloh dan Rasulnya. Jelas dari ucapan Ali r.a.itu
dapat diambil makna bahwa barometer sebagai pemimpin, bukanlah diukur
oleh sedikit atau banyaknya pengikut, tetapi oleh legitimasinya.

Suatu pemerintahan atau perjuangan negara bisa terjadi pasang surut


bahkan defaktonya hilang. Tetapi, jika nilai estapeta kepemimpinannya
sesuai dengan undangundangnya maka tetap memiliki nilai pemerintahan
dan pada waktunya bisa kembali defakto. Contohnya, Abdul Aziz bin Su'ud
(1880 - 1953) yang pernah mengalami tinggal di pengasingan, karena
ayahnya seorang amir yang ten sir, digulingkan oleh Syarif Husein atas
dukungan Inggeris. Namun, dalam pengasingan itu ayahnya menyerahkan
kerajaan kepada Abdul Azis, anak ke empat ( karena yang lainnya tidak
menyanggupi) .Dengan penyerahan itu dirinya memperoleh legitimasi
sebagai Putera Mahkota, pelanjut pimpinan tertinggi sesuai dengan
peraturannya. Dengan legalitas itu mula- mula dalam pengasingan itu
diperolehnya hanya dua puluh orang pengikut, kemudian tiga ratus orang.
Para pengikutnya itu yakin terhadap legitimasi pemimpinnya sehingga dari
proses perjuangan mereka, akhirnya pada suatu malam mereka mengepung
Istana dan menguasainya. Siang harinya Abdul Aziz mengumumkan kepada
rakyat yang berkumpul di depan Istana, mengenai legalitas estapeta dari
ayahnya. Rakyat mendukungnya, siap menjadi tentara guna merebut
keamiran lainnya. Sesudah semua yang direbutnya terkuasai kembali,
akhirnya dekfaktolah Kerajaan Saudi Arabia. Harus dipahami, banyak rakyat
di tiap keamiran mendukungnya tentu modal yang didahulukan yaitu
memiliki legitimasi sebagai pelanjut pemimpin tertinggi pemerintahan.
Adapun segala komponen penunjangnya adalah belakangan.

Dan contoh yang disebutkan di atas itu jelas bahwa sekalipun para
mentrinya sudah tidak ada, wilayahnya dikuasai lawan karena kekuatan
militernya sama sekali sudah lenyap, namun estapeta pemimpinannya masih
ada maka perjuangan menyusun kekuatan pemerintahan berlanjut untuk
kembali defakto. Keberadaan struktur Dewan menteri atau kabinet tidak
diisyaratkan oleh keadaan negaranya hams dalam situasi kondusif .
Contohnya, seperti halnya pemerintah dalam pengasingan, negara berjuang,
dan pemerintah darurat dsb. Walau departemen- departemennya tidak
berpungsi, tidak memiliki kantor- kantor khusus, tidak memiliki markas
militer dengan perlengkapan senjata, karena wilayahnya dikuasai musuh,
namun kabinet atau struktur pemerintahan tetap didahulukan terbentuk
sesuai legalitasnya. Banyak contoh seperti halnya yang pernah terjadi di
Kamboja, Kuwait dan sebagainya yang terjadi dalam sejarah.

Gelombang perjuangan suatu negara di manapun bisa terjadi pasang


surut dalam berbagai bidang. Begitu juga NII yang wilayahnya dikuasai pihak
lawan, namun penentuan kepemimpinannya tetap dalam satu jalur karena
mengacu kepada undang-undang. Pasti bahwa Negara Islam Indonesia
dalam keadaan tidak kondusif ini belum memiliki komponen-komponen yang
menunjang kekuatan dalam arti pisik seperti halnya pada jaman Imam Awal.
Namun, hal itu tidak menghalangi pengangkatan para A KT. serta jajaran
aparat lainnya. Jutru dengan diangkatnya para AKT oleh yang memiliki
legalitas itu guna tersusunnya kembali para AKT yang riil dengan segala
perangkat kekuatannya sehingga bisa melawan kekuatan musuh secara fisik
sebagaimana yang terjadi pada jaman Imam SM Kartosoewirjo.l

11. Kekeliruan dalam Estafeta Kepemimpinan Tahun 1996


Pada tanggal 2 Agustus 1996 Abdul Fatah Wirananggapati bebas dari
hukuman pihak lawan. Para aparat dan ummat menyambut dengan gembira.
Saya, Muhammad Yusuf Thohiry sebagai Imam/KPSI baru sempat
menemuinya pada tanggal 25 Agustus 1996. Dalam pertemuannya dengan
AFW, Muhammad Yusuf Thohiry melakukan kekeliruan langkah karena lupa
dan tidak jeli yang berakibat fatal, yaitu Muhammad Yusuf Thohiry
menyerahkan jabatan Imam/KPSI kepada AFW. Berawal dari kekeliruan yang
fatal ini akhirnya berdampak kepada terjadinya kekeliruan berlanjut dalam
menjalankan pemerintahan. Yang menjadi faktor penilaian kekeliruan dalam
penyerahan jabatan Imam/KPSI dari MYT kepada AFW pada tahun 1996
adalah: Pertama, Penyerahan ini tidak merujuk kepada perundang-
undangan yang berlaku dalam NKA-NII; Kedua, Penyerahan jabatan
Imam/KPSI dari MYT kepada AFW juga dinilai keliru karena tidak
berdasarkan syuro dengan AKT. Di mana setelah MYT menjabat Imam/KPSI
melalui estafeta tahun 1991, telah mengangkat para AKT melalui Maklumat
No. I tahun 1994 dan telah membentuk Komandement Tertinggi NKA-NII;
Ketiga, Penilaian kekeliruan juga terkait dengan status AFW sebagai yang
menerima jabatan Imam/KPSI yang diserahkan oleh MYT tahun 1996. Di
mana AFW pada saat itu tidak berstatus sebagai AKT sesudah jabatannnya
diserahkan kepada MYT tahun 1991. Dari itu jelas bahwa penyerahan
tersebut inkonstitusional, yakni bertentangan dengan undang-undang;
Keempat, Penilaian kekeliruan juga MYT tidak bisa berbuat tatkala melihat
Nota Dinas diterbitkan. Baik secara esensi maupun substansi, Nota Dinas
tertanggal 25 Agustus 1996 itu seharusnya tidak diterbitkan.
Kekeliruan dalam arti lupa dan tidak fathonah sebagaimana tersebut
di atas berimbas pada bentuk-bentuk kekeliruan lainnya. Kekeliruan ini baru
saya sadari pada tanggal 22 Pebruari 2007 setelah mengadakan
Muhasabatunnafsi, dan setelah mengevaluasi sejarah pasca bebasnya AFW
dari penjara musuh, 2 Agustus 1996. Melalui penelaahan itu muncul
pertanyaan pada diri saya, “Sebagai apa jabatan Abdul Fatah
Wirananggapati pada waktu itu?”, “Bagaimana menurut peraturan yang ada
dalam MKT No. 11 Tahun 1959, di mana orang yang berhak sebagai
pengganti Imam/KPSI mestinya diambil dari dan di antara AKT sedangkan
pada waktu penyerahan itu sudah terangkat para AKT, dan AFW bukan salah
satu dari AKT?” Dari pengevaluasian tersebut baru sadar, bahwa saya telah
melakukan kekeliruan dengan menyerahkan jabatan Imam/KPSI kepada
Abdul Fatah Wirananggapati yang tidak berhak menerimanya.
Setelah menyadari kekeliruan dan kesalahan, saya sampaikan hal itu
secara lisan kepada beberapa orang yang dianggap perlu supaya dipikirkan
dan dibahas oleh mereka yang sepatutnya membahas dalam pertemuan
formal. Saya memahami jika untuk pembahasannya menunggu beberapa
minggu mengingat jadwal pertemuan atau hadirnya personal yang harus
hadir. Tetapi diluar dugaan sesudah datangnya waktu pertemuan, serta
hadirnya personal yang diharapkan hal itu tidak dibahas dan bahkan ditutup.
Hanya satu orang yang menyetujui untuk dibahas, namun tidak mampu
mendesak agar persoalan dibahas dan tidak ditutup. Akan tetapi sangat
ironis, persoalan ditutup, namun di luar timbul berbagai tanggapan negatif
terhadap saya (MYT). Harapan adanya pembahasan ditingkat atas adalah
agar persoalan tersebut tidak berpengaruh terhadap stabilitas politik -NKA-
NII. Stabilitas politik yang menjadi harapan karena apabila terlebih dulu
muncul polemik diantara ummat dapat dipastikan resiko dan ongkos
politiknya besar dan cukup mahal. Tetapi, lain harapan lain pula kenyataan,
hanya Robb-lah yang Maha Mengetahui segala yang akan menimpa kepada
Hamba-Nya.
Adanya penilaian terhadap kekeliruan yang saya lakukan, dianggap
sebagai kebohongan publik, saya serahkan kepada Robb yang Maha
Mengetahui segala yang terjadi serta sebenarnya yang sudah saya lakukan.
Begitu juga terhadap tuduhan sebagai manuver untuk kembali menjadi
Imam, karena melalui pemungutan suara tidak berhasil. Maka terhadap
semua itu bagi saya cukup Allah Subhanahu wata’ala yang Maha
Mengetahui niat sesungguhnya yang ada pada hati saya.
Sungguh, dalam mencapai Mardhotillah, perjuangannya tidak bisa
dihentikan oleh berbagai resiko yang menimpa diri. Sebab dari itu meskipun
kekeliruan sudah berjalan bertahun- tahun (25 Agustus 1996 – Pebruari
2007), mengingat pertanggung-jawaban kepada Rabbull`alamiin di Akhirat
kelak, juga secara moral kepada seluruh mujahid NKA-NII khususnya dan
umat Islam umumnya maka saya kemukakan penjelasan untuk diketahui,
dipahami dan mendapatkan maaf dari para Mujahid NKA-NII dimanapun
adanya. Serta dengan ini saya istighfar kepada Allah Subhanahu Wata`ala.
Untuk selanjutnya saya harus menyatakan sikap dan mendakwahkan
kebenaran yang saya temukan.

Penjelasan Kedua: Untuk Mereka yang Mencari


Kejelasan dan Kebenaran
Para praktisi politik dan birokrat NKA-NII dalam tataran praktis masih
banyak yang tidak memahami esensi dan substansi peraturan perundang-
undangan. Bahkan termasuk di dalamnya banyak yang tidak memahami
perbedaan makna antara istilah yang satu dengan istilah lainnya yang
termuat dalam peraturan perundang-undangan. Salah satu yang perlu untuk
jelaskan berkenaan dengan penggunaan istilah ”Dewan Imamah” dan istilah
”Komandemen Tertinggi”. Dua istilah ini, baik esensi maupun substansi
memiliki makna yang sama, akan tetapi perbedaannya dalam aplikasi.
Qanun Azasi NKA-NII, secara umum menjelaskan bahwa berjalannya
pemerintahan dipengaruhi oleh dua kondisi, yaitu kondisi normal (aman)
dan kondisi darurat (perang). Dua kondisi ini sangat berpengaruh terhadap
sistem pemerintahan yang harus berjalan. Dalam Bab XV tentang Perubahan
Qanun Azasi Pasal 34 menerangkan; “Cara Berputarnya Roda Pemerintah,
“Pasal 1; Pada umumnya Roda Pemerintahan NII berjalan menurut dasar
yang ditetapkan dalam “Kanun Azasy, dan sesuai dengan pasal 3 dari
“Kanun Azasy, sementara belum ada Parlemen (Majlis Syura), segala
Undang-undang ditetapkan oleh Dewan Imamah dalam bentuk Maklumat-
Maklumat yang di tandatangani oleh Imam”. Menurut Qanun Azasi itu,
bahwa hak Dewan Imamah yaitu membuat Undang-undang dalam bentuk
Maklumat yang ditandatangani oleh Imam, selama Majelis Syuro belum ada.
Juga Dewan Imamah yang dikepalai oleh Imam mempunyai hak
menjalankan Roda Pemerintahan NKA-NII.
Sejak dikeluarkannya Maklumat No. 7 Tahun 1948, sistem
pemerintahan yang dijalankan oleh Imam telah beralih kepada sistem
Komandemen. Perubahan ini dilatarbelakangi oleh tuntutan kondisi NKA-NII
yang sedang berada dalam masa perang. Maka dari sejak saat itu hingga
sekarang, sistem pemerintahan NKA-NII yang dijalankan oleh Imam adalah
sistem pemerintahan Komandemen. Oleh karena itu, produk perundang-
undangan yang diterbitkan Komandemen Tertinggi NKA-NII tidak dinamakan
”Maklumat” atau ”Maklumat Pemerintah”, akan tetapi dinamakan ”Maklumat
Komandemen Tertinggi (MKT)”. Produk perundang-undangan Komandemen
Tertinggi, selain MKT juga ada yang dinamakan ”Penetapan Komandemen
Tertinggi (PKT) dan Maklumat Militer (MM)”.
Komandemen Tertinggi dalam menjalankan roda pemerintahan harus
mengacu kepada Maklumat-maklumat yang sudah ditetapkannya, baik
Maklumat yang diterbitkan pada masa berjalannya sistem pemerintahan
Dewan Imamah atau dalam masa berjalannya sistem pemerintahan
Komandemen. Hingga tahun 1996, Maklumat-maklumat yang mengatur
tentang peralihan kepemimpinan hanya diatur oleh MKT No. 11 Tahun 1959.
Penyerahan jabatan Imam/KPSI dari MYT kepada AFW pada tanggal 25
Agustus 1996 dapat dinyatakan tidak sah, karena tidak mengacu kepada
MKT No. 11 Tahun 1959.
Jabatan Imam/KPSI adalah jabatan negara yang dijamin oleh
perundang-undangan. Dalam aplikasinya penyerahan jabatan tersebut,
bukan seperti menyerahkan sesuatu makanan, bila sudah diberikan kepada
yang lain bisa dikatakan sah. Yang dimaksud dengan istilah ”purbawisesa
penuh” dalam MKT No. 11 Tahun 1959 ialah kekuasaan penuh dalam urusan
kenegaraan, maka sah atau tidaknya tindakan Imam dilihat dari kaca mata
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perhatikan Kanun Azasy Bab
IV Pasal 10 “Imam Negara Islam Indonesia memegang kekuasaan
Pemerintah menurut Kanun Azasy sepanjang hukum Islam”.
Dalam Islam dikenal istilah “Nasih dan mansuh”, bahkan Allah SWT.
pun menggunakan istilah ini dalam hukumnya. Sebagai contoh tentang
hukum Sholatul lail, semula shalat ini wajib, kemudian menjadi sunnah
mu’akad. Demikian halnya dalam tata hukum kenegaraan bahwa undang-
undang baru berfungsi menggantikan undang-undang lama. Akan tetapi,
sesuai dengan istilah nasih dan mansuh, bila perundang-undangan yang
baru memansuh seluruh perundang-undangan yang lama, maka perundang-
undangan yang lama total tidak berlaku. Namun, bila perundang-undangan
yang baru hanya memansuh sebagian isi dari perundang-undangan yang
lama, maka perundang-undangan yang lama, sebagiannya masih tetap
berlaku. Maklumat-maklumat yang ditetapkan oleh Imam/KPSI, Muhammad
Yusuf Thohiry baru tiga, yaitu: 1) MKT No. I tertanggal Rajab 1415 H./17
Desember 1994 M. perihal Susunan Dewan Imamah; 2) MKT No. II
tertanggal 1 Ramadhan 1415 H./ 1 February 1995 M. perihal Program
Kerja; dan 3) MKT No. III tertanggal 17 Syawal 1415 H. / 19 Maret 1995
M. perihal Susunan Aparat serta Tugas dan Tanggung-jawabnya.
Ketiga maklumat di atas tidak mengatur pergantian kepemimpinan.
Oleh karena itu perundang-undangan yang mengatur estafeta
kepemimpinan hingga sekarang masih mengacu kepada MKT No.11 Tahun
1959, bunyinya: “K.P.S.I. dipimpin oleh Imam – Plm.T. A.P.N.I.I. jika
karena dan satu lain hal, ia berhalangan menunaikan tugasnya, maka
ditunjuk dan diangkatnyalah seorang Panglima Perang, selaku Penggantinya
dengan purbawisesa penuh.” dan “Calon pengganti Panglima Perang Pusat
ini diambil dari dan diantara Anggota-Anggota K.T.. termasuk didalamnya
K.S.U. dan K.U.K.T., atau dari dan diantara para Panglima Perang, yang
kedudukannya dianggap setaraf dengan kedudukan Anggota-Anggota K.T..”
Dengan demikian cukup jelasnya, bahwa sebelum tanggal 25 Agustus 1996
belum ada perundang-undangan yang mengatur penyerahan Imam/KPSI
kepada seseorang tanpa dipilih dari dan diantara (para Kepala Majlis) yang
tercantum dalam MKT No. I, 17 Desember 1994. Perhatikan siapa-siapa saja
yang tercantum dalam MKT tersebut. Pengertian “Purbawisesa Penuh” yaitu
kekuasaan penuh, artinya yang tadinya setaraf dengan AKT, bila sudah
ditunjuk maka memiliki kekuasaan penuh sebagaimana Imam. Namun,
tetap bertindak dalam koridor perundang-undangan yang berlaku.
Perihal asumsi AFW masih menyandang jabatan KUKT hingga tahun
1996 merupakan suatu kekeliruan yang sangat mendalam. Dalam MKT No.
11 Tahun 1959, cukup jelas bahwa apabila Imam berhalangan, penggantinya
adalah dari unsur-unsur AKT, KSU, KUKT dan Para Panglima yang setarap
dengan AKT. Dengan demikian AFW sejak saat itu, bukan lagi sebagai KUKT.
Akan tetapi secara otomatis demi hukum beliau telah menjadi Imam/KPSI.
Secara tertulis memang tidak terdapat surat/lembaran Negara tentang
pemberhentian KUKT. Akan tetapi secara tersirat, jabatan KUKT AFW sudah
berganti menjadi Imam/KPSI. Karena AFW memiliki kedudukan sebagai
Imam/KPSI yang didasari oleh jabatan KUKT-nya. Kemudian jabatan
Imam/KPSI-nya itu sudah diestafetakan kepada MYT. Bila ada asumsi bahwa
jabatan KUKT selama dalam penjara musuh, tahun 1991-1996 hingga bebas
masih disandang oleh AFW, maka tidak ada pergantian Imam, dan tentu
MYT pun bukan Imam/KPSI, serta tidak akan ada MKT No.I Tahun 1994
yang ditandatangani oleh Muhammad Yusuf Thohiry sebagai Imam/KPSI.
Sungguh tidak bisa disamakan posisi AFW sesudah keluar dari penjara
Nusakambangan 1953–1962 dengan keluar dari penjara Sukamiskin,
Bandung tahun 1991–1996. Bukti secara tersirat adalah adanya MKT. No.I
Tahun 1994 dan Muhammad Yusuf Thohiry yang menandatanganinya adalah
sebagai Imam/KPSI, bahkan bukan “Atas Nama”.
Bila dalam brosur TABTAPENI atau RUNISI 2, disebutkan tidak ada
bukti pemberhentian terhadap KUKT Abdul Fatah Wirananggapati dari sejak
diangkatnya tahun 1953 sampai tertangkapnya Imam S.M.Kartosoewirjo, 4
Juni 1962. posisi AFW pada waktu itu belum menjadi pengganti Imam,
melainkan KUKT yang tugasnya diambil oleh Imam. Berbeda dengan
keadaan sewaktu KUKT AFW sesudah posisinya menjadi Imam, maka
jabatannya bukan lagi KUKT! Jadi, istilahnya bukan pemberhentian, tetapi
penggantian jabatan. Bukti dirinya sebagai Imam karena dirinya telah
menyatakan purbawisesa penuh! Artinya, jika masih sebagai KUKT, maka
tidak purbawisesa penuh. Perhatikan, “ K.P.S.I. dipimpin oleh Imam – Plm.
A.P.N.I.I. jika karena satu dan lain hal ia berhalangan menunaikan
tugasnya, maka ditunjuk dan diangkatnyalah seorangPanglimaPerang,
selaku penggantinya dengan purbawisesa penuh.” Dari maklumat itu
mengandung arti bahwa untuk purbawisesa penuh, syaratnya adalah
terlebih dulu menjadi pengganti Imam yang berhalangan. Jadi,
berdasarkan undang-undang itu bahwa hak purbawisesa penuh hanya
pada Imam pengganti dalam masa darurat! Ada penggantian berarti
ada pemberhentian, dan penggantian dijamin oleh undang- undang.
Bila ada pandangan bahwa AFW bukan Imam dengan alasan bahwa
“AFW tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Imam. Beliau tetap sebagai
KUKT yang dengan purbawisesa penuh mengangkat Dewan Imamah untuk
melengkapi struktur Dewan Imamah yang tinggal satu orang”. Maka,
siapapun yang mengatakan hal itu hanya pendapat pribadi, tidak
berdasarkan undang-undang. Jika suatu pendapat tidak didasari undang-
undang (hukum), maka tidak dapat dijadikan rujukan karena senantiasa
berubah sesuai dengan kepentingannya. Sebab itu kewajiban bagi setiap
yang konsisten pada undang-undang, harus mengengembalikannya kepada
yang sesuai dengan undang-undang. Kewajiban kembali mengikuti sistem
(undang-undang). Dalam hal ini MYT menanggapi pernyataan AFW dalam
At-Tibyaan, 1987. Bahwa dirinya sebagai “EKSEN DISINA” (Eksekutif Sentral
Daulah Islam Indonesia), dalam arti lain adalah “Pimpinan Pusat Negara
Islam Indonesia”. Mengenai hal itu pada mulanya MYT setuju dengan
pendapat bahwa AFW bukan Imam, karena tidak menyatakan diri sebagai
Imam, melainkan Eksekutif Sentral, yang maksudnya sama dengan Imam.
Dalam arti tidak menggunakan kepemimpinnya dengan istilah Imam,
melainkan dengan istilah “Eksekutif Sentral” yang sama dengan artinya
bahwa KUKT AFW sudah menjadi KUKT yang berfungsi Eksekutif
Sentral, sehingga memiliki nilai Imam. Akan tetapi, setelah saya melakukan
penelaahan guna konsisten pada undang–undang, maka diketahui bahwa
pernyataan sebagai “Eksekutif Sentral” hanyalah pernyataan pribadi dalam
suatu keadaan. Dan itu tidak merujuk kepada perundang-undangan NII, di
mana dalam perundang-undangan NKA-NII tidak didapati istilah “Eksekutif
Sentral”, melainkan yang ada ialah istilah “Imam/KPSI”. Istilah “Eksekutif
Sentral” yang bersifat temporer itu buktinya, dalam sebuah surat yang
ditandatangani oleh Abdul Fatah Wirananggapati dalam bahasa Arab yang
ditujukkan kepada Pemimpin Iran melalui perwakilnya di Jerman tertulis,
“Amirul Harbi Daulatul Islami Indonesia”. Dan itu mengandung maksudnya
sesuai dengan kalimat Komandemen Perang Seluruh Indonesia (KPSI) yang
ada dalam MKT No.11 Tahun 1959, dan K.P.S.I. itu dipimpin oleh Imam.
Jadi, setelah memahami bahwa hal itu tidak sesuai dengan undang-undang,
maka kita harus mengembalikannya kepada yang sesuai dengan undang-
undang, yakni bahwa setelah para AKT atau yang setaraf dengannya tidak
ditemukan, maka KUKT AFW langsung menduduki jabatan sebagai
Imam/KPSI. Dengan itu bukan KUKT lagi, bukan pula “Eksekutif Sentral”
yang memiliki nilai Imam, tetapi beliau adalah Imam sesungguhnya
setelah SM. Kartosoewirjo. Dengan demikian sungguh salah bila AFW
disebut sebagai Imam ketiga, dan MYT Imam kedua. Yang benar adalah
Abdul Fatah Wirananggapati Imam kedua NKA-NII, dan Muhammad
Yusuf Thohiry Imam ketiga NKA-NII. Mengapa demikian? Karena
Muhammad Yusuf Thohiry menerima estapeta kepemimpinan dari dari
Imam/KPSI Abdul Fatah Wirananggapati.
• Soal keharusan kembali mengikuti sistem/undang-undang, hal
demikian sudah dilakukan oleh para aparat yang dipimpin MYT
sebelum adanya pengangkatan para AKT dalam MKT No.1 Tahun
1994. Pada tahun-tahun sebelum dikeluarkan maklumat tersebut
telah terasa oleh para aparat kerancuan mengenai sebutan “KUKT
dengan purbawisesa penuh”. Dari itu banyak anjuran bahwa
sebutan itu harus dirobah dari KUKT menjadi Imam. Sebab, bila
yang berhak menjadi Imam tinggal satu karena para AKT, atau
yang setaraf dengannya tidak ada kecuali KUKT maka KUKT itu
langsung sebagai Imam dengan purbawisesa penuh. Jadi,
purbawisesa itu hak Imam. Sebagaimana urutan kata-kata dalam
peraturannya,”...maka ditunjuk dan diangkatnyalah seorang
Panglima Perang, selaku Penggantinya dengan purbawisesa
penuh”. Dengan itu jelas bahwa untuk purbawisesa penuh itu
harus sudah menjadi pengganti Imam, yakni adanya pergantian
jabatan dari KUKT menjadi Imam. Padahal sebelumnya saya
merasa susah memikirkan ungkapan bahwa “AFW bukan Imam”,
juga “KUKT dengan purbawisesa penuh”, dan “atas nama Imam”.
Sehingga timbul pertanyaan, “Imam yang mana?” Dan mana
Imam? Kalau begitu kapan menjalankan MKT No.11 Tahun 1959?
Lebih pelik lagi ketika merencanakan pengangkatan para AKT. Saya
diingatkan oleh seseorang, katanya, ”Masa iya KUKT mengangkat
para AKT”. Maksudnya, kalau AFW masih KUKT, maka MYT juga
sebagai estafetanya adalah KUKT dan tidak purbawisesa penuh.
Sedangkan usulan dari bawah telah saatnya terbentuknya susunan
para Kepala Majelis (AKT). Pada saat-saat itu saya teringat kepada
prinsip bahwa yang harus diikuti ialah perundang-undangnya,
bukan pernyataan dari seorang figur atau pemimpin, maknanya
bila pernyataannya tidak sesuai dengan peraturan, maka jangan
dituruti, bahkan harus diluruskan. Dengan prinsip tersebut, maka
saya mengambil sikap sesuai dengan pengajuan para aparat,
bahwa AFW adalah Imam, dan bukan KUKT lagi.
• Sesudah memiliki kepastian dalam hal AFW bukan KUKT lagi,
kemudian saya mengadakan pertemuan aparat di Sadang Serang-
Bandung. Sdr. Hasan pada saat itu tidak menghadiri, karena
keberadaannya di luar Pulau Jawa. Dalam pertemuan itu MYT
mengemukakan pernyataan bahwa AFW bukan KUKT lagi,
melainkan Imam, karena para AKT atau yang setarap dengannya
telah tiada. Mendengar pernyataan itu, peserta pertemuan merasa
lega, terdengar ucapan Alhamdulillah. Sesudah ada kesepakatan
dalam hal penyebutan Imam dan bukan KUKT, kemudian
dijadwalkan pengangkatan para Kepala Majelis.
• Disebabkan keharusan adanya kesamaan persepsi dalam hal
estafeta kepemimpinan bagi seluruh aparat dan ummat, beberapa
bulan sebelum AFW bebas dari penjara musuh, MYT menulis
brosur TABTAPENI yang pertama dikeluarkan Tahun 1996, isinya
khusus menjelaskan estafeta kepemimpinan NII pasca Imam Awal.
Dalam brosur tersebut dinyatakan, “Disebabkan calon pengganti
Imam yang tercantum dalam undang-undang itu tinggal satu lagi
yakni K.U.K.T., maka K.U.K.T. itulah yang langsung menjadi Imam
tanpa adanya pemilihan dari manapun. K.U.K.T. yang satu itu ialah
Abdul Fatah Wirananggapati. Undang-undang mengenai pemilihan
Imam dalam Darurat Perang sudah dituangkan ke dalam M.K.T.
No. 11, tahun 1959. Dengan demikian sekalipun dalam darurat
sehingga Dewan Imamah tidak berfungsi karena anggotanya
banyak yang gugur, maka penggantian Imam tetap berlangsung”.
Begitu saya mendengar AFW bebas, segera saya sampaikan
kepadanya beserta MKT No.1 Tahun 1994, MKT No. II Tahun 1995
dan MKT. No. III Tahun 1995 via orang lain. Penyampaian dengan
segera kepadanya dimaksudkan supaya didapati pemahaman yang
sama dengannya dalam hal estafeta Kepemimpinan NII menurut
MKT No. 11 Tahun 1959. Alhamdulillah, hasilnya terdapat
kesepakatan, bahkan dikatakan oleh AFW bahwa isinya bagus
sekali. Saya menerima laporan itu dari Pak Kasid (Almarhum),
setelah kembali dari pengecekannya. Dengan demikian sejak itu
secara tersirat pernyataan sebagai “Eksekutif Sentral” dalam At-
Tibyaan, juga “Atas nama Imam”, sudah dihapus atau tidak
diberlakukan dan diganti dengan satu kata yaitu Imam. Benar
sekali laporan almarhum Pak Kasid, sebab ketika saya bertemu
dengan AFW, dikatakan olehnya bahwa yang ada di buku itu harus
dihapal (yang dimaksud ialah intinya). AFW mengetahui bahwa
TABTAPENI sudah tersebar luas, dan AFW tidak pernah membantah
isi buku itu, karena secara faktual peraturan, bahwa adanya
purbawisesa itu setelah tampil sebagai Imam. Suatu pernyataan
atau pendapat, bisa terus dipertahankan kebenarannya bukan
karena keluarnya dari seorang figur pemimpin, melainkan karena
sesuai dengan fakta dan selama masih bisa diterima secara logika
sehingga realistis dalam mengaplikasikannya. Adapun terhadap
sanggahan, bahwa tidak ada undang-undang penggantian Imam
secara otomatis, jawabnya beberapa hal:
• 1. Harus dipaham bahwa para pembuat undang-undang itu
manusia yang tidak sempurna, tidak terbayang bahwa para AKT
atau yang setaraf dengannya akan tinggal satu lagi, sehingga tidak
dibuat undang-undang Pengganti Imam secara otomatis, jika
tinggal satu maka yang satu itu sebagai Imam.
• 2. Terjadinya Anggota Komandemen Tertinggi (AKT) atau yang
setarap dengannya tinggal satu yaitu KUKT merupakan
keterpaksaan kondisi sehingga tidak bisa bermusyawarah bersama
yang setarap dengannya sebagaimana yang tertera dalam MKT
NO.11 Tahun 1959.
• 3. Dalam hukum Islam bahwa keterpaksaan membolehkan tidak
menepati sepenuhnya sesuatu yang sudah ditetapkan dengan
sebatas yang diperlukan. Begitu juga menjalankan perundang-
undangan harus semaksimal mungkin, yakni yang bisa dilakukan
harus dijalankan tidak terhalang oleh hal yang tidak bisa dilakukan.
Dalam kaidah usulnya disebutkan,“Sesuatu yang tidak dapat
dijangkau keseluruhannya jangan ditinggalkan keseluruhannya”.
• 4. Kita diperintahkan untuk taat kepada Alloh S.w.t. semaksimal
usaha kemampuan (Q.64:16). Maknanya, harus melakukan yang
bisa dikerjakan, jangan berdiam karena ada bagian yang tidak bisa
dikerjakan. Dihubungkan dengan pelaksanaan pengantian Imam,
jika tidak bisa dengan mekanisme ditunjuk dan diangkat karena
yang menunjuk atau mengangkatnya tidak ada, maka calon itu
langsung menjadi Imam. Sebenarnya, hal seperti ini lumrah terjadi
dalam tata kehidupan bermasyarakat, bahwa keterpaksaan tidak
selalu menunggu peraturan, atau tidak mesti sepenuhnya
berdasarkan perundang- undangan. Sebab, waktu terus berjalan,
Al Qur’an juga melegitimasi keharusan berbuat dengan semaksimal
kemampuan, termasuk kepada para pembuat peraturan dengan
kelebihan serta kekurangannya.
• 5. Sudah terbukti sesuai dengan urutan kata-kata bahwa
purbawisesa itu jika sebagai pengganti Imam, yakni bukan masih
sebagai KUKT. Dan sudah teruji bahwa sebutan “AFW sebagai KUKT
bukan Imam”, sungguh rancu serta membingungkan dan tidak bisa
diterapkan, sehingga sebutan itu dijadikan alasan bagi mereka
yang menolak kepemimpinan AFW sebagai estafeta dari Imam
Awal SM Kartosoewirjo. Padahal kita diharuskan mempermudah
persoalan dan jangan mempersulit persoalan yang mengakibatkan
terus menunggu- nunggu terbentuknya Imam hasil mekanisme
musyawarah, karena tidak mau menggunakan mekanisme
otomatis. Mereka lupa bahwa pembuat undang-undang itu adalah
manusia yang wawasannya sesuai dengan kondisi jamannya.
• 6. Bagi mujahidin NII lebih mendahulukan berpegang kepada Al-
Qur’an Surat 64 ayat 16, serta kaidah ushul hasil kesepakatan
para ulama terdahulu yang sudah disepakat oleh semua pihak
sampai dewasa ini daripada mengutik-ngutik tidak ada aturan
mekanisme otomatis. Padahal, jika bisa mencermatinya bahwa
Ayat Al-Qur’an serta kaidah usul yang disebutkan tadi secara
tersirat mengandung makna “mekanisme otomatis”, yang bisa
diterapkan dalam berbagai hal.
• Kesimpulan dari semua poin di atas, meskipun penggantian Imam
secara langsung dengan menggunakan mekanisme otomatis tidak
terdapat dalam MKT. No.11 Tahun 1959, namun mekanisme
otomatis itu tersirat dalam Al-Qur’an, karena sudah menjalankan
undang-undang sebatas yang mampunya untuk dijalankan,
seperti halnya, yaitu disebabkan calon pengganti Imam itu tinggal
satu lagi yakni KUKT Abdul Fatah Wirananggapati, maka
pengangkatan Imam itu tidak bisa dengan mekanisme diangkat
dan ditunjuk karena yang mengangkat dan menunjuknya juga
harus calon yang setarap dengannya. Dengan ketidakbisaan
menggunakan mekanisme diangkat dan ditunjuk maka yang
masih bisa (mampu dijalankkan) ialah dengan mekanisme
otomatis yakni langsung KUKT. Abdul Fatah Wirananggapati
otomatis sebagai Imam.
• Para pembuat undang-undang merupakan manusia biasa yang
tidak sempurna dalam memprediksi kejadian masa mendatang
sehingga tidak memperhitungkan bahwa calon Imam bakal tinggal
satu lagi. Sebab itu, sesuai dengan Al-Qur’an bahwa sebagai
mukminin diperintahkan menjalankan kewajibannya, menterapkan
undang-undang dalam mengabdi kepada Rabb-nya sebatas yang
bisa diterapkan. Sehubungan dengan itu maka para ulama salaf
mengeluarkan kaidah ushul, “Sesuatu yang tidak bisa dijangkau
keseluruhannya jangan ditinggalkan keseluruhannya”. Negara
Islam Indonesia ini berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi
S.a.w. maka penggantian Imam secara langsung, yakni Abdul
Fatah Wirananggapati sebagai Imam, dan bukan KUKT lagi hal itu
tidak menyalahi Al-Qur’an, karena sudah menjalankan sebatas
yang bisa diterapkan dalam undang-undang. Dengan tidak
menyalahi A Qur’an itu maka estafeta kepemimpinan Negara
Islam Indonesia terus berlanjut sesuai dengan undang-undang
sebatas yang bisa dijalankan.
Sungguh ijtihad MYT pada tanggal 25 Agustus 1996, menyerahkan
kepemimpinan kepada AFW karena saat itu mengingat bahwa KSU (Kepala
Staf Umum) Sanusi Partawidjaja pun pernah memegang kendali
kepemimpinan NII, setelah menerima amanat dari SM Kartosoewirjo,
kemudian sesudah Imam Awal itu kembali dari menunaikan tugasnya maka
KSU menyerahkan kembali kendali kepemimpinan kepada Imam SM
Kartosoewirjo. Adapun kasus 25 Agustus 1996, pada waktu itu tidak disadari
oleh Muhammad Yusuf Thohiry bahwa hal yang terjadi pada AFW pada Tahun
1991 berbeda kasusnya dengan yang dilakukan oleh Imam Awal. Yaitu,
bahwa Abdul Fatah Wirananggapati tertangkap musuh sehingga tidak bisa
menunaikan tugasnya, sedangkan Imam SM Kartosoewirjo tidak dalam
cengkraman musuh, melainkan sedang menunaikan tugasnya, posisinya
tetap sebagai Imam. Jadi, yang dilakukan oleh Muhammad Yusuf Thohiry
berbeda dengan yang dilakukan oleh KSU Sanusi Partawidjaja dalam kasus.
Dengan demikian yang dilakukan oleh Muhammad Yusuf Thohiry adalah
salah, yakni bertentangan dengan MKT No.11 Tahun 1959.
Dalam MKT No.1 Tahun 1994 tertera kalimat “Muhammad Yusuf
Thohiry selaku pengganti K.P.S.I. karena K.P.S.I. yang berhak sedang
berhalangan”. Pengertian “K.P.S.I. yang berhak”, dalam hal itu ditujukan
kepada AFW sebelum dirinya berhalangan, yakni sebelum tertangkap
musuh, atau sebelum kepemimpinannya beralih kepada MYT, sebab sebelum
jabatan tersebut beralih dari AFW maka MYT bukan haknya sebagai KPSI.
Ditanda-tanganinya MKT No. I Tahun 1994 merupakan tanggung jawab
Muhammad Yusuf Thohiry sebagai Imam/KPSI. Bila AFW selama dalam
penjara musuh, 1991-1996 masih dinyatakan sebagai KPSI yang berhak
berarti MYT bukan KPSI, berati pula MKT No. I Tahun 1994 tidak sah sebab
tidak ada KPSI dua dalam satu masa kekuasaan. Jadi, jelas bahwa
pengertian kalimat ”K.P.S.I. yang berhak sedang berhalangan” itu ditujukan
kepada AFW sebelum ada penggantinya. Perhatikan tandatangan MKT No. I
Tahun 1994 bukan atas nama Imam, melainkan langsung Imam/KPSI. Kata
“berhalangan” dalam MKT No.1 Tahun 1994 itu mengacu kepada MKT No.11
Tahun 1959, bunyinya: “K.P.S.I. dipimpin oleh Imam- Plm.T. A.P.N.I. jika
karena dan satu lain hal, ia berhalangan menunaikan tugasnya, maka
ditunjuk dan diangkatnyalah seorang Panglima Perang, selaku Penggantinya
dengan purbawisesa penuh”. Dalam keadaan purbawisesa penuh itu yang
berhak sebagai KPSI hanya satu, juga tetap dalam koridor undang-undang.
Dengan demikian bilamana ada pergantian KPSI, sedangkan Komandemen
Tertinggi yang terdiri dari KSU, AKT atau yang setarap dengannya sudah
terbentuk maka cara pengangkatannya harus melalui prosedur sesuai
dengan MKT No.11 Tahun 1959, kecuali jika sudah ada pengganti peraturan
tersebut.
Saya (MYT), saat menandatangani MKT No.1 Tahun 1994 tidak
mengatasnamakan Imam, melainkan langsung Imam. sebab berdasarkan
sunnah, bila seorang Panglima Tertinggi dalam Islam yang konsisten dalam
arti tidak seperti Amar bin Yasir, jika ditangkap musuh maka dirinya akan
divonis mati seperti Nabi Ibrohim as. dan Zakaria as. Sehubungan dengan
itu apa gerangan yang terjadi bila seorang Imam/KPSI ditangkap musuh
kemudian dibebaskan setelah jatuh nilai dari kepemimpinannya sehingga
menjadi ummat, sedangkan penggantinya hanya mengatasnamakan Imam,
maka manakah Imam?. Dari itu seharusnya berdasarkan undang-undang,
bila posisi seseorang telah menjadi ummat maka jika akan kembali lagi
menjadi Imam/KPSI harus terlebih dulu diangkat sebagai KSU, AKT, KUKT
atau yang setarap dengan AKT, kemudian ditunjuk dan diangkat diantara
mereka yang ada. Tidak ada peraturannya dalam NKA-NII, seorang ummat
dapat diangkat langsung sebagai Imam, sedangkan para AKT sudah ada
sebagaimana termaktub dalam MKT No.1 Tahun 1994.
Pada tahun 1997 terjadi pertemuan yang dihadiri oleh AFW, ZH, D, H,
dan MYT di Bekasi. Pada saat itu ZH bertanya kepada MYT, mengapa AFW
diadili dari hal pernyataannya mengenai Pancasila, padahal sebelum beliau
keluar dari penjara telah menandatangani pernyataannya tentang Pancasila
yang nilainya tidak kurang dari yang tertera dalam Majalah UMMAT, 9
Desember 1996? Dikatakan lagi olehnya sebagai tahanan politik tidak akan
dibebaskan sebelum menandatangani pernyataan kesetiaan terhadap
ideologi Pancasila. (AFW divonis penjara 6 tahun sampai tahun 1996 di
Kebon Waru dan Sukamiskin di Bandung dibebaskan bersyarat oleh Menkeh
Utoyo Usman melalui pembuatan makalah mengenai Pancasila, jaminan
keluarga dan uang Rp. 1.000.000. Pada 4 Desember 1999 ia dinyatakan
bebas murni. Dari pertanyaan ZH, saya (MYT) menjawab, sewaktu bapak
(AFW) masih dalam penjara musuh, posisi bapak bukan sebagai Imam,
melainkan sebagai Amar bin Yasir (ummat), maka apa yang dinyatakan di
dalam penjara itu tidak dipermasalahkan. Akan tetapi, dalam hal kasus
pernyataan yang dimuat dalam Majalah UMMAT, posisi bapak sudah
menjadi Imam. Bila menyangkal, saya akan membuktikannya (sambil MYT
akan membuka tas). Namun, hal itu terhenti setelah AFW membenarkan
jawaban MYT. Sesudah tuntas yang dipermasalahkan maka MYT bersama
AFW pindah ke ruangan khusus guna memberikan tausyiah secara bergilir
kepada hadirin yang sudah nunggu. Harus saya kemukakan di sini bahwa
setelah saya mengetahui AFW bebas dari penjara musuh, pertama yang
saya selidiki yaitu dengan cara apa AFW dibebaskan. Pada waktu itu
jawaban yang saya dapati hanya dengan jaminan keluraga serta uang satu
juta rupiah. Adapun pertanyaan saya mengenai Pancasila seperti halnya
penandatanganan makalah Pancasila? Pada ketika itu jawabannya tidak!
Sungguh, sekiranya saya (MYT) tahu keadaan sebenarnya sebagai mana
yang dikemukan ZH ketika di Bekasi, atau seperti tertera dalam majalah
KIBLAT tersebut di atas maka tentu sejarahnya tidak seperti yang dibaca
sekarang ini. Tapi, mungkin saja terungkapnya kekeliruan mengenai Nota
Dinas, 25 Agustus 1996 hakekatnya disebabkan penentuan nilai yang masih
tersembunyi sehingga terjadi ketidakmulusan dalam perjalanannya. Robb
juga yang Maha Mengetahui sesungguhnya.
Ijtihad atau pemikiran bisa berubah sesuai dengan perkembangan
situasi dan kondisi, meski perubahan itu terjadi sesudah lebih dari 10 tahun.
Pasti hal itu tergantung kadar kompetensi para pelaku ijtihad. Karena itu
didapat istilah Qaullun Qodim dan Qaullun Jadid. Kompetensi seseorang bisa
mengalami perubahan sesuai pengalaman yang dijalaninya, seperti halnya
:

1. Menerima pertanyaan yang belum terjawab dengan dasar hukum, dan


terus mencarinya sehingga menemukan jawaban yang diyakininya.
2. Menghadapi langkah yang dianggap tidak realistis, tapi sulit
dipecahkan karena berbenturan dengan peraturan yang sudah
ditetapkan.
3. Menampung beberapa masalah atau usulan yang semuanya
terakumulasi sehingga mengadakan Muhasabatun Nafsi
(pengengevaluasian diri) dalam melangkah yang berkaitan dengan
lembaga negara.

Maka, bila pada awal-awal penyerahan tanggal 25 Agustus 1996


tidak ada masalah dan seolah-olah disepakati, karena pada waktu-waktu itu
belum terdapat beberapa faktor yang mendorong untuk Muhasabah atau
tidak ada yang mengkritisi secara langsung, atau juga penyerahan belum
teruji dalam perjalanannya. Bagi saya bersyukur kesalahan terungkap, pisik
masih dalam kondisi segar bugar, masih bisa menjelaskan serta
mengadakan perbaikan. Seandainya hal itu baru terungkap sesudah terasa
ajal mendekat, jangankan untuk menulis, bicara pun tidak jelas?
Alhamdulillah kesempatan perbaikan masih ada.
Bagi yang bertujuan mencapai Mardhotillah tidak akan merasa rugi
bila sudah bertahun-tahun baru diketahui ijtihadnya salah. Karena, jika
ijtihadnya itu benar maka ganjarannya dua, dan jika salah maka satu.
Dalam Islam tidak ada larangan bagi seseorang menuturkan ijtihad yang
salah meski baru disadarinya sesudah masa lebih sepuluh tahun. Bahkan
ada yang berkata jika hal yang salah tidak dijelaskan maka akan terus
membawa ribuan orang tersesat berkelanjutan. Jika tidak dijelaskan
bagaimana pertanggung-jawaban pelakunya di Akhirat? Soal menerima atau
tidak bukan tanggung jawab yang menjelaskan!
Para pakar politik dunia (internasional) telah memahami bahwa dalam
negara berjuang senantiasa terjadi perubahan politik seiring perkembangan
dalam segala hal. Sebab itu kepercayaan mereka terhadap sekedar
informasi bukan harga mati. Mereka paham tentang makna propokasi dan
propaganda, sehingga tidak semua tayangan lembaran yang telah dibaca
akan sesuai dengan yang sebenarnya. Dan akhirnya yang mereka nilai yaitu
yang sudah terbukti Idhar di lapangan, dan bukan sekedar baru tulisan
dalam segala bentuk mekaniknya. Dengan demikian mereka paham pula bila
isi dokumen dunia tentang negara berjuang manapun senantiasa berubah.
Yang paling penting bahwa tanggung jawab para pejuang NII yang utama
bukan kepada para pengamat politik dunia, tetapi kepada Allloh Subhanahu
wata’ala, sehingga bila terdapat kekeliruan dalam melangkah maka wajib
melakukan perbaikan. Selaku Khalifah fil Ardh maka dunia internasionallah
yang harus dikendalikan ! Bukan mengikuti faktor keterlanjuran.
Kekeliruan MYT yang baru terungkap sesudah sepuluh tahun adalah
lumrah bila muncul berbagai tanggapan atau tuduhan negatif terhadap saya.
Begitu pula adanya penilaian sebagai pemimpin yang tidak memilik
kompetensi serta penilaian lain-lainnya maka semua tanggapan yang negatif
serta macam-macam penilaian dengan segala konsekuensinya sama sekali
tidak berarti, pasti dianggap sirna jika dibandingkan dengan beban di
Akhirat dari hal menyembunyikan kekeliruan yang sudah disadari sehingga
menjadi kebohongan terhadap publik. Yakni, mengaku berkonstitusi padahal
sudah terdapat ganjalan hukum dalam perjalanannya. Perhatikan ayat “Hai
orang-orang yang beriman, kenapa kamu berkata hal-hal yang kamu tidak
kerjakan?”. “Amat besar kemurkaan disisi Alloh, kalau kamu hanya
mengatakan tanpa memperbuatnya”.. Sehubungan dengan uraian dalam
poin ini bisa diumpamakan kepada seseorang yang berada pada satu
ruangan, dirinya dalam keadaan sama sekali tidak berbusana yang pasti
akan merasa malu sekali bila keluar dari ruangan, sebab sangat takut dilihat
banyak orang. Tetapi, jika dalam ruangan itu tiba-tiba api berkobar dengan
perhitungan akan menghanguskan dirinya, tentu segera keluar dengan tidak
memperdulikan malunya sekalipun banyak orang memperhatikannya. Begitu
juga bagi yang tujuannya memperoleh Mardhotillah, rasa takut dengan
malunya akan dikalahkan oleh takutnya dengan api neraka. Sungguh rasa
malu sekecil apapun penyebabnya merupakan hal yang ditakuti, tapi ada
lagi yang lebih ditakuti yaitu kemurkaan dari Rabb yang pasti janji-Nya.
Cepat memvonis dengan menerima informasi hanya dari sebelah
pihak akan terjadi pemanipulasian dari yang sebenarnya sehingga menilai
seseorang hanya dari segi kelemahannya, padahal setiap manusia tidak ada
yang sempurna. Saya berhak menyatakan bahwa pernyataan dan penjelasan
ini bukan karena kekecewaan! Sebab, ada Hadist Nabi SAW. yang
menyatakan keharusan bersabar terhadap Imam/Amir. Namun, harus
dipahami jika itu masih diyakini legalitasnya maka dari itu persoalannya
bukanlah dari hal tidak bersabar, melainkan menempatkan posisi diri
kembali berkepemimpinan sesuai dengan perundang-undangan,
berdasarkan penemuan baru dalam ilmu. Wajib bersikap dengan ilmu
sebagaimana ayat: ”Dan janganlah kamu mengikuti persoalan yang kamu
tidak ketahui tentang dasar (ilmu)nya. Sesungguhnya setiap penglihatan,
pendengaran dan pemikiran akan dipinta pertanggungan jawabnya”. Bagi
yang berpegang pada ayat ini, tidak takut diungkap kelemahan-kelemahan
pribadinya yang sekedar dirasakan di dunia fana. Perjuangan
mengembalikan kepada undang-undang sehingga berdasarkan ilmu, terus
maju sebab yang paling ditakuti ialah menghadapi pertanggung –jawaban di
Akhirat abadi. Adanya tuduhan Gillan, kecewa, serta lainnya adalah hak bagi
yang mengatakannya sesuai dengan niat serta kepentingan, juga wawasan
yang dimilikinya. Akan tetapi, bagi yang menjelaskan pun mempunyai hak
pula, mengatakan sebagai kewajiban dalam menjelaskan dan perbaikan.
MYT pernah mengakui kepemimpinan Tgk. Muhammad Daud
Beureueh, kemudian Adah Djaelani Tirtapradja, yang sudah terkenal dalam
pengadilan RI tahun 1982 sebagai Imam NII. Komitmen dalam hal itu lebih
sepuluh tahun. Kedua tokoh itu sudah terkenal dalam sejarah, bukan hanya
di Indonesia tapi juga di luar negeri, karena sudah terbukti mengadakan
perlawanan bersenjata, pernah menguasai daerah de facto dengan berkali-
kali pertempuran mungkin puluhan kali tidak terhitung. Akan tetapi setelah
tahu bahwa kepemimpinan mereka diluar garis perundang-undangan, yakni
suatu kekeliruan maka baik itu dengan perkataan maupun tulisan MYT
mengungkapnya. Maka, bagaimana halnya bila kekeliruan yang dilakukan
MYT pada tanggal 25 Agustus 1996 jika tidak diungkapnya...? Jika kepada
pihak lain bisa menyalahkan, maka terhadap kesalahan diri sendiri pun
harus bisa menyalahkannya sehingga adil. Perhatikan ayat “ Hai orang-
orang yang beriman ! jadilah kamu orang-orang yang benar menegakkan
keadilan menjadi saksi semata-mata karena Alloh, biarpu terhadap dirimu
sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Sekalipun yang tergugat itu
kaya atau miskin, maka Alloh lebih mengutamakan persamaan hak dan
kewajiban terhadap keduanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
untuk memperkosa keadilan. Dan kamu kalau memutarbalikkan kenyataan
atau enggan menjadi saksi maka sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan”.
Daulah Bani Umayah yang dhohir dengan segala asset kekayaan
serta kekuatan yang riil menguasai masyarakat dengan penerapan hukum
Islam secara nyata dirasakan tiap individu, dikhawatirkan oleh pihak Barat
(thogut) sebagai ancaman besar. Meskipun awalnya tidak legal, namun
sebagian besar para ulama mengikutinya. Karena bila menyusun kekuatan
selainnya akan dianggap merusak tatanan masyarakat Islam dan membantu
kekuatan kaum kuffar.Tegasnya, Daulah Bani Umayah kalau dimisalkan di
Indonesia tentu puluhan propinsi serta ratusan kabupaten atau ribuan desa
dikuasai pemerintah secara riil, bisa menterapkan undang-undang yang
ditetapkannya, yakni bukan hanya di atas kertas serta tulisan. Juga mampu
mempersatukan ummat dengan kekuatan senjata sehingga pantas bila
menjadi kebanggaan untuk dipertahankan. Berbeda dengan hal itu, saat
ditulisnya Penjelasan dan Statemen ini, semua yang mengaku NKA-NII dari
kelompok atau fraksi manapun mengatasnamakannya, semuanya masih
dalam berjuang. Jangankan mempersatukan ummat dengan kekuatan
senjata, wilayahnya pun belum dikuasai. Jangankan menguasai wilayah,
komponen-komponen untuk mengimbangi kekuatan musuh pun belum
tersedia. Jadi, dalam keadaan begitu mau dengan apa mempersatukan
ummat atau kelompok-kelompok? Apakah dengan memimpikan munculnya
kekuatan seperti Bani Umayah? Apakah kekuatan pemerintahan seperti Bani
Umayah itu bisa berdiri tanpa terlebih dulu adanya persatuan? Begitu juga
apakah persatuan bagi mujahid NKA-NII akan terwujud tanpa menggunakan
rujukan yang satu untuk bersama? Apakah bisa kembali kepada rujukan
bersama, jika masing-masing sudah terlebih dulu membanggakan
kelompoknya sehingga tidak kembali kepada undang undang NKA-NII
sebagai perangkat persatuan? Sebab itu dalam Penjelasan dan Stetemen
ini, saya tegaskan jangan memimpikan adanya kekuatan bisa de facto
menguasai wilayah, bila tidak terwujud persatuan! Jangan menghayalkan
persatuan, jika tidak kembali kepada undangan-sebagai rujukan bersama!
Suatu perjuangan pemerintahan bisa dimulai oleh beberapa orang, hal
itu bahkan bisa dimulai oleh seorang. Contohnya, Abdul Azis bin Su’ud
(1880-1953) sebagaimana telah dikemukakan pada halaman terdahulu.
Sekalipun dimulai oleh seorang optimis jika hal itu didasari dengan
legalitas, karena dengan legalitas itu bisa dipertanggung-jawabkan baik itu
di dunia maupun di Akhirat. Berbeda dengan sekedar dalam pengakuan
telah berpemerintahan, tetapi legitimasinya sulit dipertanggungjawabkan,
maka hal itu membuat pesimis. Sebab pada akhirnya akan terjadi
perdebatan dalam mahkamah sejarah, dan kita tidak boleh
menyembunyikan sejarah bahkan diharuskan menceritakan sejarah secara
objektif. Dan sejarah kita pun akan dihakimi oleh generasi mendatang.
Seseorang bisa berjuang jika pada dirinya ada rasa optimis.
Sedangkan optimis yang sesungguhnya ialah bila kelak di akhirat segala
yang dilakukan bisa dipertanggung jawabkan secara ilmu. Dari itu jangan
sampai terjebak oleh keterlanjuran waktu yang lama. dalam kekeliruan
sekedar mengikuti sikap seseorang. Jadi, untuk optimisme berjihad dalam
hal ini mengakui kesalahan yang terjadi. Hadapi segala eksesnya sebagai
pengorbanan. Berjihad (berlembaga) hanyalah sarana mencapai
Mardhotillah maka jika terjadi kesalahan dalam hal itu segera beristighfar
sehingga siap mengadakan perbaikan. Ingat, bahwa negara adalah stabil,
tetapi pemerintahan bisa labil. Dan legalitas pemerintahan lebih bernilai dari
pengorbanan yang telah lalu.
Pada waktu terungkapnya kekeliruan tentang penyerahan, 25 Agustus
1996 ditakdirkan bahwa Muhammad Yusuf Thohiry dan sebagian dari AKT-
nya masih ada. Tentu dari hal itu ada pertanyaan, bagaimana seandainya
kesalahan itu ditakdirkan terungkapnya sesudah MYT serta semua Anggota
Komandemen Tertinggi yang tercantum dalam MKT No.1 Tahun 1994 itu
sudah tidak ada? Jawabannya, perhatikan amanat Imam pada tahun 1959 di
hadapan para panglima, yang antara lain bunyinya: ”Djika kalian dalam
berdjuang putus hubungan dengan para Panglima sedangkan jang ada
hanja pradjurit petit, maka pradjurit petit tampil sebagai Imam”. Dari
amanat itu menunjukkan estapeta kepemimpinan NII terus berlanjut!
Amanat itu mengandung arti lebih luas. Yaitu, jika semua sudah tidak ada
tentu masih banyak aparat bawahannya. Juga, seandainya tidak ditemukan
lagi, karena semua aparat sudah dianggap habis, maka dikaitkan dengan
amanat Imam pada tahun 1959 tadi, ummat (prajurit petit) pun berhak
tampil sebagai Imam. Dan seandainya tidak ada yang siap tampil maka
kembali kepada musyawarah ummat (mujahidin NII) melalui perwakilan-
perwakilannya untuk mengangkat Imam yang disepakati. Dalam keadaan
demikian hasil musyawarah mengandung legitimasi perjuangan tidak keluar
dari MKT No.11 Tahun 1959, jika yang diangkat dan mengangkatnya ialah
pelanjut dari kepemimpinan realisasi undang-undang tersebut. Sebab,
bahwa prajurit petit dalam hal itu ialah prajurit dari Negara Islam Indonesia
berarti dalam koridor perundang-undangannya.
Adapun terhadap pertanyaan, bukankah sebagian dari para Kepala
Majlis yang tercantum dalam MKT No.1 Tahun 1994 itu telah diangkat
menjadi para Kepala Majlis, termasuk MYT pernah menjadi Kepala Majlis
Dalam Negeri yang diangkat oleh. yang terkait dengan penyerahan 25
Agustus 1996? Benar, hal demikian sebelum disadari adanya kekeliruan
tentang penyerahan tersebut! Akan tetapi, sesudah disadari bahwa
penyerahan 25 Agustus 1996 itu tidak sah maka pengangkatan sebagai
Kepala-Kepala Majlis-nya pun berarti tidak sah. Dengan ketidaksahannya itu
maka mereka tetap menempati struktur Dewan Imamah sebagaimana
dalam MKT 1 Tahun 1994.
Ada kejadian sejarah yang tadinya tidak terpikirkan untuk
dikemukakan dalam statemen MYT, tetapi pada Tanggal 15 September 2007
saya membaca sebagian surat yang ditujukkan kepada AFW tertanggal 14
Maret 1997, karena surat tersebut ditulis sesudah adanya Nota Dinas 25
Agustus 1996. Adapun bunyi kalimatnya yaitu “ Alhamdulillah, Allah Maha
Bijaksana, sebelum majalah Ummat terbitan 9 Desember 1996 memuat
wawancara Abdul Fattah Wirananggapati, Bapak sudah terlebih dulu
menandatangani MKT No. IV, Tahun 1996 tanggal 15 Jumadil Ula 1417 H.
Bertepatan 28 September 1996 mengenai pengangkatan Dewan Imamah
NII, sehingga eksistensi kepemimpinan NII tetap berlangsung. Yakni
adanya pengganti Abdul Fattah Wirananggapati diambil dari salah seorang
anggota Dewan Imamah”.
Tatkala membaca kembali redaksi surat di atas itu, tiba-tiba saya
merasa berdosa, jika hal ini tidak dijelaskan sebenarnya yang terjadi. Pada
saat saya menulis surat itu tidak disadari terdapat kesalahan dalam
redaksinya. Yang dimaksud dalam hal itu yakni pengangkatannya. Sebab,
yang terjadi sebenarnya pada Tanggal 28 September 1996 itu hanyalah
pengangkatan Dewan Imamah, adapun penandatanganannya yaitu sesudah
beberapa lama dari terbitnya majalah Ummat, 9 Desember 1996, atau
sesudah terjadinya keguncangan di kalangan ummat serta aparat terhadap
isi wawancara AFW mengenai Pancasila. Tepat tanggal dan harinya saya
lupa, tetapi yang jelas sesudah banyak yang membaca majalah Ummat,
terbitan 9 Desember dan sebelum Tanggal 26 Desember diadakan Tabayun
mengenai hal itu. Lembaran pengangkatan yang harus ditandatangani
sudah lama diberikan, namun tiap ditanyakan supaya segera
ditandatanganinya, tidak ada jawaban yang pasti. Akan tetapi, sesudah
adanya keguncangan tersebut tadi maka MYT bersama tiga anggota Dewan
Imamah yang sudah ditentukan, berusaha menghadirkan AFW guna
menanyakan persoalan wawancaranya. Namun, setelah berkumpul
dengannya hanya seorang anggota Dewan yang mempersoalkannya. MYT
berusaha untuk tidak mempersoalkan tentang isi wawancara dalam majalah
Ummat yang dimaksud, dengan pertimbangan pada waktu itu AFW belum
menandatangani lembaran surat pengangkatan para A.K.T. sehingga Dewan
Imamah tidak bisa memproses kasus yang terjadi pada AFW dalam hal
wawancaranya. Dengan demikian pada waktu itu MYT hanya berusaha
bagaimana caranya supaya AFW menandatangani MKT. No.IV /1996 pada
hari itu juga. Kemudian setelah dikemukakan beberapa hal kepada AFW
mengenai keharusan menandatangani MKT. tersebut maka AFW terlebih dulu
meminta jaminan. Setelah jaminan disepakati, lalu salah seorang yang hadir
pergi dulu membeli pulpen yang kegunaannya dianggap sesuai untuk
menandatangani surat penting. Singkatnya, pada waktu pertemuan itulah
MKT. No. IV / 1996 ditandatangani oleh Abdul Fattah W .
Beberapa lama sesudah penandatanganan, diantara empat yang
menyaksikannya ada yang mengungkapnya bahwa untuk penandatanganan
surat tersebut di atas didahului dengan tawar- menawar mengenai
jaminan......Sehingga dari terungkapnya itu ada yang ragu mengenai sah
atau tidaknya penandatanganan lembaran pengangkatan aparat dalam MKT
No.4/1996. Keraguannya disampaikan kepada saya. Pada waktu itu MYT
menjawab, “Yang dipegang oleh saya ialah ucapan Pak Fattah setelah selesai
pengangkatan, memerintahkan supaya dibuatkan surat pengangkatan yang
kemudian akan ditandatangani, rekaman perkataannya juga ada”. Dengan
jawaban dari MYT itu rupanya tidak puas, sebab orang itu menyanggahnya
dengan berkata,”Perkataan itu beda nilainya dengan tandatangan”.
Saya berusaha supaya AFW menandatangani lembaran pengangkatan
aparat yang tercantum dalam MKT. No.4/1996, dimaksudkan sebagai
penyelamatan eksistensi Dewan Imamah pada waktu itu, sebab keadaan
aparat dan ummat sudah gelisah terhadap isi wawancara AFW dalam
majalah UMMAT, terbitan 9 Desember 1996, mereka mendesak supaya
diadakan pemeriksaan. Pikiran saya membayangkan bila dilakukan
pemeriksaan, sedangkan lembaran pengangkatan Dewan Imamah belum
ditandatangani, maka akan terjadi konplik antara aparat serta ummat
dengan AFW, dan bisa-bisa pengangkatan Dewan Imamah pun akan
dibatalkan. Tidak meleset dugaan itu, sesudah terjadinya pemeriksaan atau
tabayyun, 9 Desember 1996 AFW berusaha mendatangi beberapa anggota
Dewan Imamah meminta lembaran MKT.No.4/1996. Walaupun sudah
mencarinya ke beberapa tempat lembaran aslinya tidak ditemukan, karena
saya yang menyimpannya, dalam arti saya tidak memberikannya, karena
saya memahaminya bila lembaran aslinya ke tangannya maka AFW bisa
berbuat yang tidak dikehendaki para aparat yang sudah diangkatnya.
Surat yang ditujukan kepada AFW, tanggal 14 Maret 1997 sebagian
isinya juga menjelaskan tentang surat Nota Dinas kepada AFW tertanggal 9
April 1992, sedangkan adanya pengiriman surat tersebut adalah hasil
musyawarah tanggal 4 Pebruari 1996, di Leuwi Gajah. Adapun redaksinya
merupakan rekayasa politik, saya yang membuatnya tanpa konsultasi
dengan yang lainnya, sedangkan dalam pengetikannya oleh aparat
bagiannya. Sebagai konsep dibuat dengan ketikan tetapi dengan harapan
bila ditandatangani oleh AFW dalam bentuk tulisan tangan, karena AFW-nya
masih dalam penjara musuh. Sebenarnya saya ragu mengirimkan surat
dalam situasi demikian, karena takut adanya salah pengertian dari AFW
walau dilampiri surat pengantarnya, namun mengingat dalam musyawarah
dikatakan bahwa sebelum AFW keluar bebas dari penjara, surat sudah harus
diterima olehnya. Akhirnya, surat dikirimkan. Alhamdulilillah ”Rekayasa
Politik” itu tidak ditandatangani oleh AFW. Keraguan saya terbukti, yakni
akhirnya saya dituduh ambisi. Tapi, senjata penangkisnya yaitu cukup hanya
Rabb- lah yang mengetahui segala niat saya. Dan kepada- Nya pula saya
beristighfar. Saya sadar bahwa pada hakekatnya Rabb juga yang
membukakan rahasia sejarah yang tadinya masih tersembunyi. Persilahkan
kepada mahkamah sejarah baik itu sekarang maupun masa- masa
mendatang bila akan menghakiminya. Kewajiban saya (MYT)
menjelaskannya. Dan hanya demikianlah kemampuan (kompetensi) saya
mengendalikan perjuangan Negara Islam Indonesia dalam kondisi waktu
itu.

Statemen dan Seruan Muhammad Yusuf Thohiry


Bismillaahirrachmaanirrachiim, sekalipun ada perasaan berat dalam
hati untuk membuat statemen yang mengandung konsekwensi dan resiko,
namun konsekwensi dan resiko itu jauh dari berat bila dibandingkan dengan
ancaman dari Allah SWT. sebagaimana yang termaktub dalam beberapa ayat
Al-Qur`an yang menyatakan: ”Amat murka Allah Subhanahuwat’ala
terhadap yang mengatakan tanpa perbuatan”. Juga, kutukan terhadap yang
memutarbalikan kalimat dari asalnya. Serta laknat bagi yang melanggar
janjinya. Maka di bawah ini saya nyatakan:
1. Dengan sesadar-sadarnya dan dalam keadaan sehat serta tidak berada
tekanan siapa dan apapun, bahwa kesalahan yang saya (Muhammad
Yusuf Thohiry) lakukan bukanlah kesengajaan untuk menyimpang dari
perundang-undangan, melainkan kealfaan sebagai manusia yang
mempunyai sifat lupa. Dan karena saya telah sadar dari kesalahan
untuk itu saya harus segera kembali kepada kebaikan sebagaimana
keterangan firman-Nya dalam QS. Ali Imran (3) :33 dan QS. Al-Maidah
(5):39. Maka penyerahan jabatan Imam/ KPSI pada tanggal 25 Agustus
1996 saya nyatakan tidak sah.
2. Semua tanda tangan saya yang tertera dalam lembaran keputusan
negara, atau sikap perbuatan saya yang didasari oleh penyerahan
seperti tersebut dalam poin pertama di atas, saya nyatakan merupakan
suatu kekeliruan.
3. Tulisan- tulisan saya dalam bentuk buku, brosur- brosur dan dalam
bentuk lainnya, yang isinya mengadung pembenaran terhadap tanda
tangan dalam lembaran-lembaran negara, atau hal-hal sebagaimana
yang disebutkan dalam poin kedua, saya nyatakan salah.
4. Sebagai konsekwensi dari tiga poin di atas guna kelangsungan estapeta
perjuangan dan kepemimpinan Negara Islam Indonesia, dan demi
melakukan perbaikan (Q.S.11:8) saya akan berusaha terus melangkah
semaksimal kemampuan guna berada pada koridor undang-undang
NKA-NII.
• 5. Sungguh disadari bahwa adanya pernyataan sikap ini
menimbulkan beban bagi sebagian aparat atau ummat, karena akan ada
yang meninjaunya hanya dari segi perasaan atau hanya melihat dari
eksesnya. Tetapi, di balik itu ada yang merasakan, bahwa ini merupakan
perbaikan atau ujian bagi semua yang sudah mengaku berpegang pada
konstitusi NKA-NII dalam hal konsistennya. Yakni, mereka yang sebelum
hal ini terjadi, senantiasa menyerukan kepada yang lain untuk
berkepemimpinan sesuai dengan konstitusi. Dan bila telah menyimpang
dari undang-undang, harus segera kembali kepadanya meski sudah
belasan tahun berada diluar koridor konstitusi! Inilah ujian, jangan hanya
bisa menyerukan kepada orang lain, tapi harus bisa dipraktekkan oleh
diri sendiri saat menyadari tidak menempati rel konstitusi NKA-NII. Bila
orang lain yang diseru telah lulus dari ujian dengan siap meninggalkan
posisi, tidak terpaku oleh hegemoni demi kembali kepada perundang-
undangan, maka apakah bisa pula bagi penyerunya jika terjadi seperti
yang telah diseru? Lulus dari ujian dan beban berat atau ringan sesuai
dengan kapasitas pelakunya adalah pengorbanan dari suatu
perjuangan.
• 6. Ingatlah!, bahwa NKA-NII pada saat ini bukan dalam keadaan de
facto seperti Bani Umayyah, Abbasyiah, atau negara-negara yang di
dalamnya terdapat para pakar kenegaraan. Melainkan NKA-NII dalam
masa berjuang dan fi waqtil harb. Kondisi ini, perubahan radikal maupun
yang bersifat evolusi ke luar atau ke dalam senantiasa terjadi. Untuk itu
dalam mencermati keadaan yang sedemikian, harus berdasarkan ilmu.
Perhatikan kisah Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam, “Demikian Kami perlihatkan
kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi, agar Ibrahim termasuk orang-
orang yang benar-benar yakin “. Tatkala malam telah gelap, dilihatnya
sebuah bintang, dia berkata: “Inikah Tuhanku ?” Tetapi manakala
bintang itu telah menghilang di balik kaki langit dia berkata: “Aku tidak
suka kepada sesuatu yang dapat menghilang”. “Ketika dilihatnya bulan
terbit, dia berkata: “Inikah Tuhanku ?. Tetapi setelah bulan itu terbenam,
dia berkata lagi: “Sekiranya tuhanku tidak memberiku petunjuk, tentulah
aku termasuk orang-orang yang sesat. Dan ketika dilihatnya matahari
terbit, dia berkata: “Inikah Tuhanku ? Bahkan ia lebih besar dari yang
tadi”. Tetapi setelah matahari itu terbenam pula, dia berkatalagi: “Hai
kaumku ! sesungguhnya aku bebas dari apa yang kamu
persekutukan”.(QS. 6: 75-78). Dari ayat-ayat tersebut disimpulkan
bahwa suatu pengakuan akan berubah dengan datangnya pengetahuan
baru yang lebih meyakinkan. Adapun kapan datangnya pengetahuan
yang lebih meyakinkan, target waktunya diluar kemampuan seseorang,
hanya Allah SWT Yang Maha Mengetahui. Dengan itu jika suatu
kekeliruan, baru terungkap sesudah melalui proses lebih dari sepuluh
tahun, tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak dijelaskan. Bahkan bila
tidak dijelaskan, mungkin akan berlanjut bukan hanya dalam kurun
belasan tahun, tapi malahan puluhan tahun. Dan bagaimana tanggung
jawab bagi yang sudah mengetahui kesalahan itu.
• 7. Dalam berijtihad, bisa saja hasilnya salah. Tapi jika sudah
disadarinya bahwa ijtihad itu salah, maka tidak boleh ijtihad terdahulu
dipertahankan atau dikatakan benar. Sebab, disitir oleh Al Qur’an sebagai
orang-orang yang memutarbalikan kalimat dari asalnya yang ujungnya
sehingga Alloh melaknatnya, perhatikan Qur’an Al-Maidah ayat 13, surat
Al-Baqoroh ayat 46. Jelas sekali bahwa mengungkap kekeliruan dalam
ijtihad tidak terhalang oleh waktu sepuluh tahun, tidak terintangi oleh
bebagai penilaian atau tanggapan negatif. Sebab, mempersiapkan diri
dalam menghadapi Hisaban di Akhirat mengalahkan segalanya
(perhatikan Q.S.13:18). Segala yang dimiliki berkaitan dengan duniawi,
termasuk predikat apapun yang melekat pada diri tidak akan menebus
siksa di Hari Kiamat dari dosa (Perhatikan QS. 39: 47).
• 8. Setelah dipahami bahwa penyebab keluar dari perundang-
undangan, pangkalnya ialah penyerahan jabatan Imam/KPSI, 25
Agustus1996. Maka sebagai solusinya kepemimpinan NKA-NII harus
kembali kepada pemegang estafeta 12 November 1991. Dan para AKT
yang dilegalisir melalui Maklumat No. 1 Tahun 1994, jika tidak keberatan
dalam hati, hendaklah kembali pada kebenaran estafeta.
• 9. Yang terakhir dari statemen ini, saya mengajak kepada segenap
mujahid Negara Islam Indonesia sesuai dengan perannya untuk
mengadakan koordinasi, konsolidasi dan mobilisasi atas segala potensi
jihad, untuk bersatu menyamakan persepsi dan sikap dalam menghadapi
perjuangan yang belum sampai pada sasaran dan tujuan perjuangan.
Dan “Songsonglah kedatangan kembali Imam/Plm.T. A.P.N.I
dengan realisasi MKT Nomor 11 Tahun 1959.”
• Demikian statemen ini saya buat didasari kewajiban sebagai saksi
dari sebagian sejarah kepemimpinan NKA-NII, dan sebagai usaha
maksimal dalam menghadapi pertanggung-jawaban kelak di
Hadhirat Yang Maha Kuasa, juga di hadapan para mujahid NKA-NII
baik yang sekarang maupun generasi mendatang.
• Bismillaahi tawakaltu `alalloh walaa haula wala quwwata illa billah.
• Mardhotillaah, 12 Ramadlan
1428 H.
• 27 September
2007 M.

• ttd

• (Muhammad Yusuf Thohiry)

QS. An Nisa (4): 135.

QS.Ash Shof (61): 2-3.

QS. An-Nisa (4):59.

QS. An-Nisa (4):58.

QS. Asy Syuraa (42):32.

QS. 26:197.

QS. Al-An’am (6):33.

QS. Al-A’raaf (7) :16-17.

QS. 35:6.

QS. 42:38.

QS. 3:103.

Kitab Sunan Tirmidzi juz 4 , halaman 68, nomor hadist 263.

QS. Al-Maidah (5):14.

Lihat: Qanun Azasi NKA-NII.

Ibid.

Ibid.

Lihat: Al Chaidar, Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia SM.
Kartosoewirjo, (Jakarta: Darul Falah), 1998.

Lihat: Qanun Azasi NKA-NII.


Ibid.

Ibid.

Ibid.

Ibid.

lihat: Kaidah Ushul, “Adh-dharuratu tunbihul mahdhurati”.

QS. 64:16.

Lihat: Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad

W, (Jakarta: Bulan Bintang), 1992.

Peristiwa berdarah di Aceh, Meuraxe Dada, Pustaka Sedar, Medan,1956, halaman 31-
33.

Ibid.

Merdeka, 23 Nopember 1953.

Merdeka, … 1953.

Merdeka, 25 September 1953.

Pikiran Rakjat, 9 Mei 1962, hal.2 kol.3.

Wawancara dengan Zaenal Hatomi.

Keterangan dari Baharuddin Yang pada waktu itu sebagai Keuangan Resimen.

Pikiran Rakyat, 1 April 1982.

Harian Merdeka, 8 September 1953.

Zaenal Hatami seorang mujahid yg dekat dgn SMK bertugas di kota,

Wawancara dengan Kastolani

Keterangan ini dari Ridwan, salah seorang dari empat utusan Kastolani.

Berita Harian Gala 18 Maret 1982.

Pikiran Rakyat 8 April 1982

QS. Al-Israa (17):36.

QS. Ali Imran (3):105.

Pikiran Rakyat, 13 September1962


(KIBLAT, edisi No. XIV /Mei 2002).

QS. As-Shaff (61): 2-3.

QS. Al-Israa (17):36.

QS. Ali Imran (3): 33, dan Al-Maidah (5): 39.

QS. An-Nisa (4): 135.

QS. Al-A`raaf (7): 176.

QS. Al-Israa (17):36.

QS. Ash-Shaaf (61):3.

QS. An-Nisa (4): 46.

QS. Al-Maidah (5):1

Memahami Kembali Sejarah Darul Islam


di Indonesia
Source:http://members.tripod.com/darul_islam/

Indeks Islam | Indeks Artikel

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Mengungkapkan sejarah perjuangan Darul Islam di Indonesia, sama pentingnya dengan


mengungkapkan kebenaran. Sebab perjalanan sejarah gerakan ini telah banyak
dimanipulasi, bahkan berusaha ditutup-tutupi oleh penguasa. Rezim orde lama dan
kemudian orde baru, mengalami sukses besar dalam membohongi serta menyesatkan
kaum muslimin khususnya, dan bangsa Indonesia umumnya dalam memahami sejarah
masa lalu negeri ini.

Selama ini kita telah tertipu membaca buku-buku sejarah serta berbagai publikasi sejarah
perjuangan umat Islam diIndonesia. Sukses besar yang diperoleh dua rezim penguasa di
Indonesia dalam mendistorsi sejarah Darul Islam, adalah munculnya trauma politik di
kalangan umat Islam. Hampir seluruh kaum muslimin di negeri ini, memiliki semangat
untuk memperjuangkan agamanya, bahkan seringkali terjadi hiruk pikuk di ruang diskusi
maupun seminar untuk hal tersebut. Tetapi begitu tiba-tiba memasuki pembicaraan
menyangkut perlunya mendirikan Negara Islam, kita akan menyaksikan segera setelah itu
mereka akan menghindar dan bungkam seribu bahasa.
Di masa akhir-akhir ini, bahkan semakin banyak tokoh-tokoh Islam yang menampakkan
ketakutannya terhadap persoalan Negara Islam. Mantan Ketua Umum PBNU, K.H.
Abdurrahman Wahid misalnya, secara terus terang bahkan mengatakan : "Musuh utama
saya adalah Islam kanan, yaitu mereka yang menghendaki Indonesia berdasarkan Islam
dan menginginkan berlakunya syari'at Islam". (Republika, 22 September 1998, hal. 2
kolom 5). Selanjutnya ia katakan : "Kita akan menerapkan sekularisme, tanpa
mengatakan hal itu sekularisme".

Salah satu partai berasas Islam yang lahir di era reformasi ini, malah tidak bisa
menyembunyikan ketakutannya sekalipun dibungkus dalam retorika melalui slogan
gagah: "Kita tidak memerlukan negara Islam. Yang penting adalah negara yang Islami".
Bahkan, dalam suatu pidato politik, presiden partai tersebut mengatakan: "Bagi kita tidak
masalah, apakah pemimpin itu muslim atau bukan, yang penting dia mampu
mengaplikasikan nilai-nilai universal seperti kejujuran dan keadilan".

Demikian besar ketakutan kaum muslimin terhadap isu negara Islam, melebihi ketakutan
orang-orang kafir dan sekuler, sampai-sampai mereka tidak menyadari bahwa segala isme
(faham) atau pun Ideologi di dunia ini berjuang meraih kekuasaan untuk mendirikan
negara berdasarkan isme atau ideologi yang dianutnya.

Selama 32 tahun berkuasanya rezim Soeharto, sosialisasi tentang Negara Islam Indonesia
seakan terhenti. Oleh karena itu adanya bedah buku atau pun terbitnya buku-buku yang
mengungkapkan manipulasi sejarah ini, merupakan perbuatan luhur dalam meluruskan
distorsi sejarah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari khazanah sejarah
bangsa.

Sejak berdirinya Republik Indonesia, rakyat negeri umumnya, telah ditipu oleh penguasa,
hingga saat sekarang. Umat Islam yang menduduki jumlah mayoritas telah disesatkan
pemahaman sejarah perjuangan Islam itu sendiri. Sudah seharusnya, di masa reformasi
ini, umat Islam menyadari bahwa di Indonesia pernah ada suatu gerakan anak bangsa
yang berusaha membangun supremasi Islam, yaitu Negara Islam Indonesia yang berhasil
diproklamasikan, 7 Agustus 1949, dan berhasil mempertahankan eksistensinya hingga 13
tahun lamanya (1949-1962). Namun rezim yang berkuasa telah memanipulasi sejarah
tersebut dengan seenaknya, sehingga umat Islam sendiri tidak mengenal dengan jelas
sejarah masa lalunya.

Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, adalah sebuah nama yang cukup problematis dan
kontroversial di negara Indonesia, dari dulu hingga saat ini. Bahwa dia dikenal sebagai
pemberontak, harus kita luruskan.Bukan saja demi membetulkan fakta sejarah yang
keliru atau sengaja dikelirukan, tetapi juga supaya kezaliman sejarah tidak terus berlanjut
terhadap seorang tokoh yang seharusnya dihormati.

Semasa Orla berkuasa (1947-1949) yang merupakan puncaknya perjuangan Negara Islam
Indonesia, SM. Kartosuwiryo memang dikenal sebagai pemberontak. Tetapi fakta yang
sebenarnya adalah, Kartosuwiryo sesungguhnya tokoh penyelamat bagi bangsa
Indonesia, lebih dari apa yang dilakukan oleh Soekarno dan tokoh tokoh nasionalis
lainnya. Pada waktu Soekarno bersama tentara Republik pindah ke Yogyakarta sebagai
akibat dari perjanjian Renville, yang menyebutkan bahwa wilayah Indonesia hanya
tinggal Yogya dan sekitamya saja, dan wilayah yang masih tersisa itu pun,
dipersengketakan antara Belanda dan Indonesia, sehingga pada waktu itu nyaris Negara
Kesatuan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Dan yang ada hanyalah negara-negara
serikat, baik yang sudah terbentuk, atau pun yang masih dalam proses melengkapi syarat-
syarat kenegaraan. Seperti Jawa Barat, ketika itu dianjurkan oleh Belanda supaya
membentuk Negara Pasundan, namun belum terbentuk sama sekali, karena belum adanya
kelengkapan kenegaraan.

Ketika segala peristiwa yang telah disebutkan di atas, menggelayuti atmosfir politik
Nusantara, pada saat itu Indonesia dalam keadaan vacuum of power. Pada saat itulah,
Soekarno memerintahkan semua pasukan untuk pindah ke Yogyakarta berdasarkan
perjanjian Renville. Guna memberi legitimasi Islami, dan untuk rnenipu umat Islam
Indonesia dalam memindahkan pasukan ke Yogya, Soekarno telah memanipuiasi
terminologi al-Qur'an dengan menggunakan istilah "Hijrah" untuk menyebut pindahnya
pasukan Republik, sehingga nampak Islami dan tidak terkesan melarikan diri. Namun
S.M. Kartosuwiryo dengan pasukannya tidak mudah tertipu, dan menolak untuk pindah
ke Yogya. Bahkan bersama pasukannya, ia berusaha mempertahankan wilayah jawa
Barat, dan menamakan Soekarno dan pasukannya sebagai pasukan liar yang kabur dari
medan perang.

Jauh sebelum kemerdekaan, yaitu pada tahun 1930-an, istilah"hijrah" sudah pernah
diperkenalkan, dan dipergunakan.sebagai metode perjuangan modern yang brillian oleh
S.M. Kartosuwiryo, berdasarkan tafsirnya terhadap sirah Nabawiyah. Ketika itu, pada
tahun 1934 telah muncul dua metode perjuangan yaitu cooperatif dan non cooperatif.
Metode non cooperatif, artinya tidak mau masuk ke dalam parlemen dan bekerja sama
dengan pemerintah Belanda namun bersifat pasif, tidak berusaha menghadapi penguasa
yang ada. Metode ini sebenamya dipengaruhi oleh politik SWADESI, politik Mahatma
Gandhi dari India. Lalu muncullah S.M. Kartosuwiryo dengan metode Hijrah, sebuah
metode yang berusaha membentuk komunitas sendiri, tanpa kerjasama dan aktif,
berusaha untuk melawan kekuatan penjajah.

Akan tetapi, pada waktu itu, metode ini dikecam keras oleh Agus Salim, karena
menganggap S.M. Kartosuwiryo menerapkan metode hijrah ini di dalam suatu
masyarakat yang belum melek politik. Sehingga ia kemudian berusaha menanamkan
politik dan metode hijrah itu kepada anggota PSII pada khususnya. Dengan harapan
setelah memahami politik, mereka mau menggunakan metode ini, karena paham politik
sangat penting. Namun, Agus Salim menolaknya, karena ia tidak setuju dengan politik
tersebut. Menurutnya rakyat atau anggota partai hanyalah boleh mengetahui masalah
mekanisme organisasi tanpa mengetahui konstelasi politik yang sedang berlangsung, dan
hanya elit pemimpin saja yang boleh mengetahui. Sedangkan "hijrah" adalah berusaha
menarik diri dari perdebatan politik, kemudian berusaha membentuk barisan tersendiri
dan berusaha dengan kekuatansendiri untuk mengantisipasi sistem perjuangan yang tidak
cukup progresif dan tidak Islami. Faktor inilah yang menjadi awal perpecahan PSII, yaitu
melahirkan PSII Hijrah yang memakai metode hijrah dan PSII Penyadar yang dipimpin
Agus Salim.

Walaupun metode Hijrah, bagi sebagian tokoh politik saat itu, terlihat mustahil untuk
digunakan sebagai metode perjuangan, namun ternyata dapat berjalan efektif pada tahun
1949 dengan terbentuknya Negara Islam Indonesia yang diproklamasikan dibawah
bendera Bismillahirrahmaniirrahim. Sehingga pantaslah, jika kita tidak memperhatikan
rangkaian sejarah sebelumnya secara seksama, memunculkan anggapan bahwa berdirinya
Negara Islam Indonesia berarti adanya negara di dalam negara, karena Proklamasi RI
pada tahun 1945 telah lebih dahulu dilakukan.

Namun sebenamya jika kita memahami sejarah secara benar dan adil, maka kedudukan
Negara Islam Indonesia dan RI adalah negara dengan negara. Karena negara RI hanya
tinggal wilayah Yogyakarta waktu itu, sementara Negara Islam Indonesia berada di Jawa
Barat dan mengalami ekspansi (pemekaran) wilayah. Daerah Jawa Tengah, Kalimantan
Selatan, Sulawesi Selatan dan Aceh mendukung berdirinya Negara Islam Indonesia. Dan
dukungan itu bukan hanya berupa pernyataan atau retorika belaka, tapi ikut bergabung
secara revolusional. Barangkakali benar, bahwa Negara Islam Indonesia adalah satu-
satunya gerakan rakyat yang disambut demikian meriah di beberapa daerah di indonesia.

Melihat sambutan yang gemilang hangat dari saudara muslim lainnya, maka rezim
Soekarno berusaha untuk menghambat tegaknya Negara Islam Indonesia bersama A.H.
Nasuion, seorang tokoh militer beragama Islam yang dibanggakan hingga sekarang,
tetapi ternyata mempumyai kontribusi yang negatif dalam perkembangan Negara Islam
Indonesia. Dia bersama Soekarno berusaha menutupi segala hal yang memungkinkan
S.M. Kartosuwiryo dan Negara lslam Indonesia kembali terangkat dalam masyarakat,
seperti penyembunyian tempat eksekusi dan makam mujahid Islam tersebut.

Nampaklah sekarang bahwa sebenarnya penguasa Orla dan Orba, telah melakukan
kejahatan politik dan sejarah sekaligus, yang dosanya sangat besar yang rasanya sulit
untuk dimaafkan. Mungkin bisa diumpamakan, hampir sama dengan dosa syirik dalam
pengertian agama, yang merupakan dosa terbesar dalam Islam. Karena perilaku politik
yang mereka pertontonkan, telah menyesatkan masyarakat dalam memahami sejarah
perjuangan Islam di Indonesia dengan sebenarnya. Berbagai rekayasa politik untuk
memanipulasi sejarah telah dilakukan sampai hal yang sekecil-kecilnya mengenai
perjuangan serta pribadi S.M. Kartosuwiryo. Seperti pengubahan data keluarganya,
tanggal dan tahun lahirnya. Semua itu ditujukan agar SMK dan Negara Islam Indonesia
jauh dari ingatan masyarakat.

Sekalipun demikian, S.M. Kartosuwiryo tidak berusaha membalas tindakan dzalim


pemerintah RI. Pernah suatu ketika Mahkamah Agung (Mahadper) menawarkan untuk
mengajukan permohonan grasi (pengampunan) kepada presiden Soekarno, supaya
hukuman mati yang telah dijatuhkan kepadanya dibatalkan, namun dengan sikap ksatria
ia menjawab," Saya tidak akan pernah meminta ampun kepada manusia yang bernama
Soekarno".
Kenyataan ini pun telah dimanipulasi. Menurut Holk H. Dengel dalam bukunya
berbahasa Jerman, dan dalam terjemahan Indonesia berjudul: "Darul Islam dan
Kartosuwiryo, Angan-angan yang gagal", mengakui bahwa telah terjadi manipulasi data
sejarah berkenaan dengan sikap Kartosuwiryo menghadapi tawaran grasi tersebut. Tokoh
sekaliber Kartosuwiryo tidak mungkin minta maaf, namun ketika kita baca dalam
terjemahannya yang diterbitkan oleh Sinar Harapan telah diubah sebaliknya, bahwa
Kartosuwiryo meminta ampun kepada Soekamo, dan kita tahu Sinar Harapan adalah
bagian dari kekuatan Kristen yang bahu -membahu dengan penguasa sekuler dalam
mendistorsi sejarah Islam.

Dalam majalah Tempo 1983, pernah dimuat kisah seorang petugas eksekusi S.M.
Kartosuwiryo, yang menggambarkan sikap ketidak pedulian Kartosuwiryo atas keputusan
yang ditetapkan Mahadper RI kepadanya. Ia mengatakan bahwa 3 hari sebelum hukuman
mati dilaksanakan, Kartosuwiryo tertidur nyenyak, padahal petugas eksekusinya tidak
bisa tidur sejak 3 hari sebelum pelaksanaan hukuman mati. Dari sinilah akhimya
diketahui kemudian dimana pusara Kartosuwiryo berada, yaitu di pulau Seribu.

Usaha untuk mengungkapkan manipulasi sejarah adalah sangat berat. Satu di antara fakta
sejarah yang dimanipulasi, adalah untuk mengungkap kebenaran tuduhan teks proklamasi
dan UUD Negara Islam Indonesia adalah jiplakan dari proklamasi Soekarno-Hatta. Yang
sebenamya terjadi justru kebalikannya. Ketika Hiroshima dan Nagasaki di bom (6 - 9 Mei
1945) S.M. Kartosuwiryo sudah tahu melalui berita radio, sehingga ia berusaha
memanfaatkan peluang ini untuk sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia. Ia
datang ke Jakarta bersama pasukan Hisbullah dan mengumpulkan massa guna
mensosialisasikan kemungkinan berdirinya Negara Islam Indonesia, dan rancangan
konsep proklamasi Negara Islam lndonesia kepada masyarakat. Sebagai seorang tokoh
nasional yang pernah ditawari sebagai menteri pertahanan muda yang kemudian
ditolaknya, melakukan hal ini tentu bukan perkara sulit. Salah satu di antara massa yang
hadir dalam pertemuan tersebut adalah Sukarni dan Ahmad Subarjo.

Mengetahui banyaknya dukungan terhadap sosialisasi ini, mereka menculik Soekarno-


Hatta ke Rengasdengklok agar mempercepat proklamasi RI sehingga Negara Islam
Indonesia tidak jadi tegak. Bahkan dalam bukunya, Holk H. Dengel menyebutkan tanggal
14 Agustus 1945 Negara Islam Indonesia telah di proklamirkan, tetapi yang sebenarnya
baru sosialisasi saja. Ketika di Rengasdengklok Soekamo menanyakan kepada Ahmad
Soebardjo, sebagaimana ditulis Mr. Ahmad Soebardjo dalam bukunya "Lahirnya
Republik Indonesia".

Pertanyaan Soekarno itu adalah: "Masih ingatkah saudara, teks dari bab Pembukaan
Undang-Undang Dasar kita?"

"Ya saya ingat, saya menjawab,"Tetapi tidak lengkap seluruhnya".

"Tidak mengapa," Soekarno bilang, "Kita hanya memerlukan kalimat-kalimat yang


menyangkut Proklamasi dan bukan seluruh teksnya".
Soekarno kemudian mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuai dengan apa yang
saya ucapkan sebagai berikut : "Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan
kemerdekaan".

Jika kesaksian Ahmad Soebardjo ini benar, jelas tidak masuk akal, karena kita tahu
bahwa UUD 1945 baru disahkan dan disetujui tanggal 18 Agustus 1945 setelah
proklamasi. Sehingga pertanyaan yang benar semestinya adalah, "Masih ingatkah saudara
akan sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia?" Maka wajarlah jika naskah
Proklamasi RI yang asli terdapat banyak coretan. Jelaslah bahwa ternyata Soekarno-Hatta
yang menjiplak konsep naskah proklamasi Negara Islam Indonesia, dan bukan
sebaliknya. Memang sedikit sejarawan yang mengetahui mengenai kebenaran sejarah ini.
Di antara yang sedikit itu adalah Ahmad Mansyur Suryanegara, beliau pernah
mengatakan bahwa S.M. Kartosuwiryo pernah datang ke Jakarta pada awal Agustus 1945
bersama pasukan Hizbullah dan Sabilillah.

"Sebenarnya, sebelum hari-hari menjelang proklamasi RI tanggal 17 Agustus 1945,


Kartosuwiryo telah lebih dahulu menebar aroma deklarasi kemerdekaan Islam, ketika
kedatangannya pada awal bulan Agustus setelah mengetahui bahwa perseteruan antara
Jepang dan Amerika memuncak dan menjadi bumerang bagi Jepang. Ia datang ke Jakarta
bersama dengan beberapa orang pasukan laskar Hisbullah, dan segera bertemu dengan
beberapa elit pergerakan atau kaum nasionalis untuk memperbincangkan peluang yang
mesti diambil guna mengakhiri dan sekaligus mengubah determinisme sejarah rakyat
Indonesia. Untuk memahami mengapa pada tanggal 16 Agustus pagi Hatta dan Soekamo
tidak dapat ditemukan di Jakarta, kiranya Historical enquiry berikut ini perlu diajukan:
Mengapa Soekarno dan Hatta mesti menghindar begitu jauh ke Rengasdengklok padahal
Jepang memang sangat menyetujui persiapan kemerdekaan Indonesia? Mengapa ketika
Soebardjo ditanya Soekarno, apakah kamu ingat pembukaan Piagam Jakarta? Mengapa
jawaban yang diberikan dimulai dengan kami bangsa Indonesia ...? Bukankah itu
sesungguhnya adalah rancangan Proklamasi yang sudah dipersiapkan Kartosuwiryo pada
tanggal 13 dan 14 Agustus 1945 kepada mereka? Pada malam harinya mereka telah
dibawa oleh para pemimpin pemuda, yaitu Soekarni dan Ahmad Soebardjo, ke garnisun
PETA di Rengasdengklok, sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat kota
Karawang, dengan dalih melindungi mereka bilamana meletus suatu pemberontakan
PETA dan HEIHO. Ternyata tidak terjadi suatu pemberontakan pun, sehingga Soekamo
dan Hatta segera menyadari bahwa kejadian ini merupakan suatu usaha memaksa mereka
supaya menyatakan kemerdekaan di luar rencana pihak Jepang, tujuan ini mereka tolak.
Laksamana Maida mengirim kabar bahwa jika mereka dikembalikan dengan selamat
maka dia dapat mengatur agar pihak Jepang tidak menghiraukan bilamana kemerdekaan
dicanangkan. Mereka mempersiapkan naskah proklamasi hanya berdasarkan ingatan
tentang konsep proklamasi Islam yang dipersiapkan SM. Kartosuwiryo pada awal bulan
Agustus 1945. Maka, seingat Soekarni dan Ahmad Soebardjo, naskah itu didasarkan pada
bayang-bayang konsep proklamasi dari S.M. Kartosuwiryo, bukan pada konsep
pembukaan UUD 1945 yang dibuat oleh BPUPKI atau PPKI." (Al Chaidar, Pengantar
Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo, hal. 65, Pen.
Darul Falah, Jakarta).
Demikianlah, berbagai manipulasi sejarah yang ditimpakan kepada Darul Islam dan
pemimpinnya, sedikit demi sedikit mulai tersibak, sehingga dengan ini diharapkan dapat
membuka cakrawala berfikir dan membangun kesadaran historis para pembaca. Lebih
dari itu, upaya mengungkap manipulasi sejarah Negara Islam Indonesia yang dilakukan
semasa orla dan orba oleh para sejarawan merupakan suatu keberanian yang patut
didukung, supaya pembaca mendapatkan informasi yang berimbang dari apa yang selama
ini berkembang luas.

Kami bersyukur kepada Allah Malikurrahman atas antusiame generasi muda Islam dalam
menerima informasi yang benar dan obyektif mengenai sejarah perjuangan menegakkan
Negara Islam dan berlakunya syari'at Islam di negeri ini. Semoga Allah memberi hidayah
dan kekuatan kepada kita semua, sehingga perjuangan menjadikan hukum Allah sebagai
satu-satunya sumber dari segala sumber hukum dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara segera terwujud di Indonesia yang, menurut sensus adalah negara yang
penduduknya mayoritas beragama Islam. Amin, Ya Arhamar Rahimin !

Darul Islam, antara harapan dan kenyataan


13-October-2006

Liputan6.com, Jakarta: Pernyataan pers Al Chaidar memang membuat kuping sebagian


pihak merah. Bayangkan, tiga faksi garis keras di tubuh organisasi Darul Islam (DI) --
bisa disebut Negara Islam Indonesia (NII), terlibat aksi peledakan. Mulai dari
pengeboman di AIS dan Gereja Petra Koja, Jakarta Utara, beberapa waktu silam, hingga
sejumlah pengeboman gereja di malam Natal, akhir 2000. Sayang, Al Chaidar enggan
menunjuk hidung ketiga faksi tersebut. Namun yang pasti, menurut aktivis DI itu, motif
teror peledakan berlatar belakang jihad untuk mendirikan Negara Islam.

Jaringan kelompok DI atau NII memang pernah dianggap momok dalam percaturan
politik di Indonesia. Benarkah DI-NII bangkit kembali? Sulit menjawab. Namun, dalam
sebuah kesempatan, Al Chaidir menyatakan, gerakan NII tak pernah padam. Memang itu
bukan hal yang berlebihan. Soalnya, selama obsesi mewujudkan NII belum terwujud,
kelompok-kelompok tersebut akan selalu ada. Jelasnya, tujuan kelompok tersebut adalah
mendirikan negara Islam.

Terus terang, hingga kini, tak banyak yang mengetahui keberadaan kelompok-kelompok
atau faksi-faksi NII. Sebab, aktivitas kelompok tersebut sukar dilacak. Markas kelompok
ini pun kerap berpindah-pindah. Bahkan, terkadang pergerakannya cukup eksklusif.
Makanya tak aneh, bila tak sembarang orang bisa masuk ke lingkaran mereka. Apalagi,
seseorang harus disumpah setia kepada imam atau pemimpin (ba`iat) terlebih dulu
sebelum menjadi anggota. Tak hanya itu, orang tersebut juga dilarang bercerita kepada
siapa pun, terkecuali sesama anggota kelompok “N-Sebelas” --sebutan lain untuk NII.
Keberadaan NII adalah isu serius yang tak pernah hengkang.

Goresan pena sejarah mencatat, NII pertama kali diproklamirkan oleh Sekarmaji Marijan
Kartosuwiryo pada 7 Agustus 1949. Kala itu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat
menjadi basis pertama NII. Selanjutnya, gerakan serupa meluas ke sejumlah daerah di
Tanah Air, terutama Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Aceh. Misalnya pada
Oktober 1950, terjadi pemberontakan di Kalsel yang dipimpin Ibnu Hadjar alias Haderi
bin Umar, seorang bekas letnan dua TNI, yang menyatakan sebagai bagian dari DI
pimpinan Kartosuwirjo. Lantas, gerakan ini berhasil dipadamkan setelah pemerintah
melalui TNI berhasil meringkus Ibnu Hadjar pada 1959. Gerakan DI juga meluas hingga
ke Sulsel di bawah pimpinan Kahar Muzakar, 20 Januari 1952. Setahun berselang,
disusul pembentukan NII di Aceh oleh Abu Daud Beureuh pada 21 September 1953.
Namun, sejumlah upaya pembentukan negara tersebut berhasil dipatahkan. Bahkan,
Rezim Orde Baru melarang keras gerakan DI atau NII.

Dalam kesempatan terpisah, Al Chaidar menyatakan, upaya mendirikan NII bakal terus
dilakukan. Ia mengungkapkan, hingga kini, terdapat 14 faksi yang setia memperjuangkan
berdirinya kembali NII. Di antaranya, Faksi Abdullah Sungkar, Abdul Fatah
Wiranagapati, Mahfud Sidik, Aceh, Sulsel, Madura, Kahwi 7, dan Faksi Kahwi 9, serta
beberapa kelompok lain. Sedangkan basis NII atau DI berada di tiga tempat. Untuk Pulau
Jawa, basis NII berada di Jabar, kawasan Gunung Salak dan Subang. Sementara wilayah
Sumatra berbasis di Aceh, dan untuk bagian Indonesia Timur berkedudukan di Sulawesi.
Bahkan, NII mengklaim telah mempunyai pengikut sekitar 18 juta orang.
Keanggotaannya terdiri dari berbagai kalangan. Sebut saja, mulai dari rakyat bisa, petani,
mahasiswa, militer hingga pejabat. Kesemuanya tersebar di seluruh Indonesia dan Asia
Tenggara.

Menurut Al Chaidar, faksi pertama hingga keenam adalah kelompok Islam radikal
berlatar kekerasan. Sebaliknya, faksi ketujuh hingga ke-13 lebih memilih gerakan
antikekerasan. Faksi pertama hingga ketiga memiliki kaitan dengan International
Mujahidin Association (IMA). Sedangkan faksi keempat hingga keenam adalah pelaku
pengeboman dan lebih banyak dimanfaatkan kalangan militer. Saat ditanya kenapa ia
mengungkapkan hal itu, Chaidar mengatakan, pernyataan tersebut memang tergolong
berisiko. Namun, dia berpendapat keadaan bakal lebih buruk andai dia memilih tutup
mulut.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, ternyata ke-14 faksi DI bertujuan menegakkan


DI atau Negara Islam tanpa memandang batasan wilayah lagi. Namun untuk
mencapainya, harus melalui tujuh fase. Fase pertama adalah hilful fudul atau saat Nabi
Muhammad S.A.W. meraih kepercayaan dari berbagai kalangan di Kota Mekah, Arab
Saudi. Di Indonesia, fase pertama itu terefleksikan dalam pendirian Sarekat Dagang
Islam (SDI) di Solo, Jawa Tengah, oleh H. Samanhoedi pada 16 Oktober 1905.
Selanjutnya, fase kedua dinamakan nubuwah atau awal mulanya penurunan Wahyu Ilahi,
di Indonesia diibaratkan saat SDI berubah menjadi Sarekat Islam, hingga 1928.
Sementara fase ketiga adalah hijriah atau diumpamakan kala SI berubah menjadi Partai
Sarekat Islam Indonesia hingga 1938. Fase berikutnya adalah fase Madinah, ketika
Indonesia mengalami pergolakan di sejumlah daerah, sekitar 1949-1967. Selanjutnya,
fase hubaidiyah atau masa perjanjian di Mekah. Fase futuh Mekah dan khalifiyah adalah
urutan yang paling terakhir.

Mengacu pada hal tersebut, sejumlah anggota DI berkeyakinan mereka tengah


menghadapi fase hubadiyah. Karena itulah, mereka memandang gerakan harus
mengedepankan non-violence atau antikekerasan. Malah, terbetik kabar bahwa sejumlah
faksi DI --termasuk faksi Al Chaidar-- yang antikekerasan itu berencana mengegolkan
kelompoknya menjadi suatu organisasi massa atau partai politik. Kendati demikian, Al
Chaidar mengakui bahwa ada sejumlah kelompok sempalan DI yang “bandel” atau
berseberangan dengan faksinya.

Mungkin Al Chaidar betul. Tapi, pengamat sosial keagamaan Abdul Choliq Wijaya
berpendapat lain. Menurut dia, saat ini, NII tinggal sebagai wacana umat Islam. Soalnya,
gerakan NII atau DI tidak lagi di bawah tanah, tapi sudah tampil ke permukaan sejalan
dengan era reformasi. Pada zaman keterbukaan, sejumlah parpol tak dilarang
menggantikan asas Pancasila menjadi Islam. Pendapat itu didukung Dr Musalin Dahlan.
Tokoh Islam yang dekat dengan kalangan NI ini menegaskan, saat ini NII cenderung
tinggal wacana semata. Alasannya, kini, berbagai potensi umat Islam lebih mengangkat
isu penegakan syariat Islam ketimbang isu NII.(ANS)

Sumber: http://liputan6.com/view/8,24004,1,0,1160727282.html#

CHAIDAR CINTA ISLAM, GUS DUR SENANG SEKULARISME


By nourman

Tanggapan untuk Presiden Gus Dur dan saudara Al Chaidar.

SEKEJAP BERJUMPA DIUDARA DENGAN AL CHAIDAR

Pada tanggal 6 dan 7 April 1999 tahun lalu pernah saya menerima email dari saudara Al
Chaidar yang meminta tulisan-tulisan saya untuk dipelajarinya, apakah pemikiran-
pemikiran saya itu mengarah ke radikalisasi atau ke arah deradikalisasi. Karena menurut
Al Chaidar beberapa tulisan-tulisan saya itu di Jakarta, Bandung, Lampung dan bahkan
Padang, dibicarakan dengan sangat gempita. Kegembiraan mereka mendapatkan
penyalurannya melalui rumusan-rumusan judul artikel-artikel saya yang sangat menarik
dan sederhana, menurut Al Chaidar. (Al Chaidar, 6-7 April 1999).

Saudara Al Chaidarpun menceritakan dalam emailnya itu bahwa selama ini telah menulis
buku-buku tentang Negara Islam, tentang Darul Islam dan gerakan politik Islam lainnya.
Diantaranya Reformasi Prematur: Jawaban Islam terhadap Reformasi Total; Wacana
Ideologi Negara Islam: Studi Harakah Darul Islam dan Moro National Liberation Front;
Aceh Bersimbah Darah: Mengungkap Penerapan Status Daerah Operasi Militer [DOM]
di Aceh 1989-1998; Pemilu 1999: Pertarungan Ideologis Partai-Partai Islam versus
Partai-partai Sekuler; Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia SM
Kartosoewirjo.

PENJELASAN DAN TANGGUNG JAWAB AL CHAIDAR TENTANG AKSI SEJUTA


UMMAT

Tanggal 26 Januari 2000 saya membaca tulisan Al Chaidar di Indopubs/Apakabar


http://www.indopubs.com/varchives/0156.html yang isinya menyangkut Penjelasan dan
Pertanggungjawaban Acara AKSI SEJUTA UMMAT yang ditujukan kepada Pemimpin
Redaksi Media Massa Di Indonesia dan dikirimkan dari Kuala Lumpur, 18 Syawal
1420/26 Januari 2000.

Dimana Al Chaidar, menjelaskan bahwa:

1. AKSI SEJUTA UMMAT telah berlangsung secara aman, damai, tertib dan
sejahtera pada pagi hari tanggal 7 Januari 2000 di sektor Barat Monas, Jakarta. Aksi
sejuta ummat untuk rahmatan lil’alamin ini merupkan aksi untuk menyatakan solidaritas
dan empati atas perjuangan dan penderitaan yang dialami oleh Muslim Ambon dan semua
pihak yang menjadi korban kemanusiaan.

2. Tidak ada kerusuhan atau tindakan pembakaran dalam aksi demonstrasi damai
tersebut. Tidak ada penghinaan terhadap pemerintah maupun pribadi atau golongan
tertentu. Tidak ada provokasi, agitasi atau propaganda yang berlangsung di dalamnya.
Namun kami, pihak panitia, menyaksikan banyak provokator dari pihak-pihak yang kami
duga berasal dari pemerintah sendiri.

3. Saya selaku ketua panitia SC Aksi Sejuta Ummat di Monas itu sudah membuat berita
acara yang saya sampaikan kepada semua panitia dan pihak-pihak yang terlibat di
dalamnya.

4. Yang kemudian menjadi masalah adalah ungkapan saya untuk mengganti ideologi
bangsa (Pancasila) dengan ideologi negara Islam. Semua perkara tentang hal ini
sepenuhnya menjadi tanggung-jawab saya pribadi dan akan saya jawab ketika saya
menyelesaikan semua urusan rencana studi di Malaysia, Thailand, Afghanistan,
Mindanao dan Pakistan.

5. Saya marah dengan semua tuduhan yang dilontarkan oleh Kapolda Brigjen Noegroho
Djajoesman bahwa saya 2X tidak datang memenuhi panggilan polisi. Sampai menjelang
keberangkatan saya ke KL seminggu lalu, tidak ada satu surat panggilan pun yang
hinggap di alamat saya Jl. Batu I No. 26-A, Pejaten Timur, Jakarta 12510.

6. Saya juga menyatakan tidak terlibat dengan Peristiwa Mataram, Sulawesi Selatan,
Aceh, Solo dan NTT. Justru saya ingin menyejukkan jiwa-jiwa rakyat yang gelisah di
sana dengan menawarkan logika high politics bahwa kita butuh Negara Islam sebagai
penawar panasnya letupan emosi akibat pembantaian umat Islam di Ambon. Saya
sebenarnya telah mengambil tugas Departemen Penerangan RI (yang telah dibubarkan
itu).

7. Saya mengharapkan agar aparat pemerintah Republik Indonesia tidak melakukan


provokasi kepada rakyat dengan menuduh-nuduh orang sebelum jelas suatu persoalan.
Berilah penjelasan atau penerangan kepada rakyat dengan logika dan bahasa yang
menyejukkan jiwa. Jangan dengan teror yang menakut-nakuti rakyat.

8. Demikian surat penjelasan ini saya buat untuk mengklarifikasi persoalan yang makin
diperkeruh ini. Saya bisa dihubungi melalui e-mail: alchaidar@sociologist.com

9. Semoga Allah SWT meridhoi surat penjelasan ini dan semoga kiranya Ia memberikan
tolong dan kurnia-Nya sehingga lenyap semua fitnah terhadap penolong-penolong
agama-Nya.

10. Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!!

Wassalam bil khair, Al Chaidar

CHAIDAR MENGHENDAKI ISLAM, GUS DUR SENANG SEKULARISME

Muslimin di Indonesia telah terpecah kedalam berbagai golongan, yang satu sama lain
tidak ada kesamaan dalam visi dan misinya. Sehingga apabila ada salah seorang muslim
seperti saudara Al Chaidar diatas yang mengungkapkan dan menyatakan bahwa ideologi
bangsa (Pancasila) diganti dengan ideologi negara Islam timbullah pertentangan dan
anggapan negatif kepada saudara Al Chaidar.

Padahal bagi seorang muslim yang taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad
saw tidak ada jalan lain selain mengikuti apa yang telah digariskan dalam Al Quran dan
dicontohkan Rasulullah saw dalam sunnahnya.

Justru yang merusakkan Islam adalah mereka yang menyatakan muslim dan menganut
Islam tetapi kenyataannya adalah meruntuhkan Islam, contohnya Gus Dur yang lebih
senang dan bebas apabila Islam tidak dilibatkan kedalam pemerintahan dan negara.

Gus Dur adalah salah satu contoh Penguasa di negara yang meyoritas muslim yang tidak
senang dengan Islam sebagai pegangan dalam kehidupan masyarakat, pemerintahan dan
negara. Padahal Rasulullah saw telah mencontohkannya di Madinah dengan Daulah
Islam Rasulullah dan Undang Undang Madinahnya.

Gus Dur lebih senang dan bahagia apabila sekularisme terus dijadikan acuan dalam
kehidupan masyarakat, pemerintahan dan negara.

MENYATUKAN VISI DAN MISI


Saya selalu menyisipkan visi dan misi ini dalam sebagian tulisan-tulisan yang lalu.
Karena dengan adanya kesamaan visi dan misi dari muslimin dimanapun berada akan
memberikan suatu kemudahan untuk membangun kembali ummat muslim dalam
naungan Daulah Islam Rasulullah (DIR).

Dimana visi dan misi ini adalah membangun persatuan dengan berlandaskan keadilan,
amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha
Allah SWT, dengan misi membangun kembali satu masyarakat muslim dan non muslim
didalam satu kekuasaan pemerintahan dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan
musyawarah dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil, berdasarkan akidah
Islam dengan menghormati agama lain, dengan konstitusi yang bersumberkan dari Al
Quran dan Sunnah, yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras.

Inilah sedikit tanggapan untuk Presiden Gus Dur dan saudara Al Chaidar.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk
membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam
dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP
http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon
petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se

Mengobok-obok Islam dengan Jubah NII


Reporter: anzep/widhie

Indeks Islam | Indeks Artikel

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Senin, 28/02/2000
Adil - Jakarta, Seorang pria dan dua wanita muda duduk bersila di pelataran Masjid
Islamic Centre, Jl. Diponegoro, Bandung. Mereka terlihat sedang berdialog. Yang pria
sambil memegang sebuah kitab tampak bersemangat berbicara, meski dengan nada
setengah berbisik.

Pembicaraan terhenti jika ada orang lain menghampiri. Kitab yang dipegang segera
ditutupnya. Gerak-gerik seperti itu sering terlihat setiap Jumat dan Minggu sore, kantor
pusat dakwah terbesar di Jawa Barat itu. Mereka terkesan tertutup dan kurang bersahabat
terhadap orang lain.

Adakalanya mereka muncul hanya sepasang muda-mudi. Tapi, sekalipun cuma ngobrol,
keberadaan mereka di lingkungan masjid yang menjadi Pusat Dakwah Islam (Pusda'i)
Jabar itu dinilai tak sedap. Pengurus Islamic Centre sering menegur pasangan muda-mudi
yang berduaan itu.

Keanehan lain, ketika datang waktu salat, mereka diam saja. Jika diingatkan kadang
alasannya lucu, semuanya mengaku sedang 'berhalangan'. Praktek mereka sudah
berlangsung lama. Pusda'i belakangan sadar, bahwa muda-mudi aneh itu adalah anggota
gerakan Negara Islam Indonesia (NII).

Kehadiran kembali NII itu tak hanya mengagetkan pengurus Pusda'i. Sejak beberapa
bulan terakhir ini masyarakat Bandung memang geger soal NII. Banyak orang tua resah
karena anaknya terlibat. "Banyak mahasiswa, seperti di ITB dan Unpad, yang terjerat,"
kata K.H. Miftah Faridl, Direktur Pusat Dakwah Islam (Pusda'i) Jabar, yang juga Ketua
Umum MUI Kodya Bandung, dan dosen ITB.

Galamedia, salah satu koran di Bandung, dalam tiga minggu terakhir, gencar
mengungkap 'kebangkitan' NII ini. Harian milik grup Pikiran Rakyat itu, mengungkapkan
adanya 200 mahasiswa ITB yang terancam drop out (DO). Mereka mengalami
kemerosotan prestasi akademis, dan malah diam-diam meninggalkan bangku kuliah,
sambil menunggak SPP.

Sebagian dari mereka, disinyalir terlibat kegiatan NII. Hasil penelusuran ADIL,
menunjukkan NII memang lagi in di kampus-kampus. Rizal misalnya, sudah dua tahun
tidak terlihat batang hidungnya sebagai mahasiswa Politeknik ITB. Anak seorang guru
SMU swasta terkemuka di Kota Bandung itu, bukan saja lenyap dari kampus, tapi juga
dari tengah-tengah keluarganya. Sesekali ia memberi kabar dirinya berada di Jakarta, ikut
jemaah NII.

Bisa jadi kabar dari Rizal itu benar. "Di Jakarta ini, gerakan yang mengatasnamakan NII
itu, memang sudah lama beroperasi dan menyusup ke kampus-kampus perguruan tinggi
negeri dan swasta," ungkap Iwan Ridwan, alumnus IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Menurut Andi Arifin, di sekitar kampus IAIN, di kawasan Ciputat bertebaran 'posko' NII
gaya baru itu.
YANG HARAM DIHALALKAN Kebangkitan NII ini menghebohkan masyarakat sekitar
Bandung. Bukan hanya soal nama 'NII' yang membuat warga kota kembang itu resah.
Tapi, juga keganjilan perilaku pengikut neo NII itu.

"Mereka menghalalkan nyontek. Alasannya, ini kan ilmu dunia. Akhirnya banyak dosen
menyamakan tabiat aktivis Islam lainnya dengan tabiat pengikut NII," kata Anif, aktivis
Islam dari ITB.

Yang juga aneh, perilaku pengikut NII gadungan itu jauh dari ajaran asli gerakan NII
yang bersumber pada Al-Quran dan Hadis. Dakwah mereka boleh dibilang bertolak
belakang dengan ajaran Al-Quran dan Hadis. Contohnya, mereka membolehkan para
pengikutnya untuk melawan orang tua, meninggalkan keluarga, mencuri, mabuk, dan
berzina. Soal dosa, bisa diurus tobatnya oleh sang imam.

Menurut Asep Rodi (39), mantan pengikut neo NII, ajaran itu didasarkan pada sirah
(sejarah) Nabi Muhammad SAW. Dulu, ketika periode Mekkah, Nabi memang belum
mewajibkan salat, zakat dan berbagai ibadah lainnya. Ini karena saat itu belum turun
wahyu salat. Wahyu tentang ibadah itu baru turun semasa Nabi di Madinah (periode
Madinah).

"Ini yang dipahami secara sempit oleh pengikut neo NII sekarang," jelas Asep. "Makanya
amalan NII pun jadi rancu. Mencuri dianggap ibadah fa'i (mengambil rampasan perang),
dan salat tidak perlu dilakukan karena menyamakan diri dengan periode Mekkah, di
mana belum ada wahyu kewajiban salat," papar mantan pengikut NII (1987-1997) itu.

Dan seperti halnya kelompok Islam puritan lainnya, kelompok NII merasa sebagai
penganut Islam yang paling benar. Maka tidak segan-segan mengkafirkan orang yang
bukan kelompoknya. Ajaran menghalalkan segala cara, itu untuk --yang mereka bilang--
mewujudkan sebuah cita-cita besar: mendirikan negara Islam!

Menurut Asep, NII yang sekarang banyak berkembang di kampus-kampus itu sebenarnya
merupakan salah satu pecahan dari faksi NII yang dulu pernah ada semasa dipimpin
Kartosuwiryo. Kelompok NII ini menyebut dirinya sebagai NII Komandemen Wilayah 9
(KW 9).

NII KW 9 ini merekrut pengikut dari kalangan Islam abangan atau yang sedang berupaya
mendalami ajaran Islam. Setelah dicuci otak dengan sebuah doktrin yang membangkitkan
semangat radikal, mereka di bawa ke sebuah tempat rahasia dengan sebuah kendaraan
sambil matanya ditutup kain. Penutup mata baru dibuka di sebuah ruangan, tempat baiat
dilangsungkan.

Sumpah setia itu dilakukan oleh tiga atau empat orang pria berdasi. Lagak mereka seperti
eksekutif. Proses baiat ini tidak gratis. Mereka dipungut 'infak' dalam jumlah tak terbatas.
Pasarannya Rp 350.000 per orang. Jika ada yang cuma mampu Rp 50.000, pasti diledek.
"Masak untuk perjuangan Islam setorannya kecil?" kata si 'imam' berpenampilan necis
itu.
Sehabis mengikuti baiat selama sekitar tiga jam, mata mereka kembali ditutup kain, dan
dikembalikan ke tempat asal. Setelah itu, kewajiban mereka membayar iuran bulanan,
malah ada yang harian, dalam jumlah ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Alasannya untuk
dana perjuangan. Ada juga yang sampai menyumbang mobil.

MIRIP praktek MLM Untuk membesarkan jumlah pengikutnya, NII ini juga mewajibkan
setiap anggotanya melebarkan sayap. Dalam sebulan ada yang ditugasi merekrut anggota
baru sampai 10 orang. Keberhasilan rekrutmen itu akan menjadi tiket untuk naik pangkat.
Misalnya, dari kelas RT menjadi RW, lurah, camat, dan penguasa daerah (setingkat
bupati/walikota).

Kehadiran anggota baru jelas akan menambah income organisasi. Bagi anggota yang
punya andil besar menggemukkan anggota sehingga dapat meraih jabatan camat, diberi
gaji sekitar Rp 300.000 per bulan. Cara kerjanya ini mirip jaringan multi level marketing
(MLM). Ada downline (anak buah) ada upline (atasan).

Cuma, berbeda dengan MLM semakin tinggi posisi di dalam jaringan bukannya semakin
untung. Bahkan malah bisa lebih 'sial'. "Seorang camat, misalnya kendati mendapat gaji
lebih, kewajiban iuran seorang camat jauh lebih besar lagi. Akibatnya, besar pasak
daripada tiang," ungkap Asep.

REKAYASA LAMA Kehadiran neo NII itu dinilai banyak kalangan amat mencurigakan.
Soalnya NII baru ini benar-benar menyimpang dari 'pakem' NII yang pernah ada yakni
NII Kartosuwiryo.

Penyimpangan itu selain terlihat pada ajaran para pengikutnya juga tampak dari soal
nama NII KW 9. Menurut seorang pengikut NII asli, NII tak pernah mengenal KW 9.
Ketika Kartosuwiryo diberangus, terakhir KW yang tarbentuk adalah KW 6. Karena
itulah mantan pengikut NII asli mengutuk ajaran sesat berkedok NII itu.

"Masya Allah, itu provokasi dan dusta. Itu NII palsu, hasil rekayasa," ujar Abdul Fatah
Wirananggapati (76), (bekas) Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi Angkatan Perang NII
(KUKT/NII) pimpinan almarhum S.M. Kartosuwiryo. Siapa yang merekayasa? "Wallau
a'lam," jawab Abu, nama panggilannya.

"NII murni tidak seperti itu," tambah Andi Arifin (46), anak buah Abu yang terlibat di NII
sejak 1974. Ia beranggapan, terutama sejak Orde Baru, telah terjadi manipulasi gerakan
NII oleh tangan-tangan kotor penguasa. Kantung-kantung transmigrasi, konon, ikut
menjadi sasaran 'proyek' intelijen itu.

Di tangan mereka, masih tutur Andi, NII jadi gerakan menyeramkan dan melakukan
permainan kotor. Padahal, 'NII murni' gerakannya tidak menyimpang dari ajaran Islam.
Tapi NII ini memang divonis 'berdosa' pada negara dengan tuduhan memberontak
pemerintah RI. Padahal yang dilakukannya 'cuma' melawan kaum penjajah.
"Orde Baru telah menyebarkan sekitar 6.000 anggota ABRI ke banyak daerah untuk
menyamar sebagai imam NII. Lalu mereka melakukan pengkaderan, tapi mereka sendiri
yang mengumpankan pengikutnya kepada aparat," kata Andi Arifin, bekas Penghubung
Luar Negeri Angkatan Perang NII. Ia juga curiga, Warsidi --pimpinan kelompok Islam
sempalan yang diberangus di Lampung-- perlu diteliti siapa dia sebenarnya. "Jangan-
jangan dia juga anggota ABRI," jelasnya.

Kejadian kasus Lampung, menurut Andi, juga terjadi di daerah Gununghalu, pinggiran
kota Bandung, Jawa Barat. Di daerah itu disinyalir terdapat praktek rekayasa
pengkaderan NII. Sesekali mereka digerebek, tapi kelestariannya dijaga, untuk
'diproyekkan' pada waktu-waktu tertentu. "Analoginya, ada kambing mengembik di
depan harimau lapar, lantas diterkamnya. Ada juga kambing mengembik, tapi dibiarkan
oleh sang harimau," kata Andi Arifin pula.

Pengalaman Asep menguatkan sinyalemen Andi. Selama 10 tahun menjadi pengikut 'NII
sesat', sering terdengar ada penangkapan terhadap jemaah dan imam NII. Tapi tidak lama
kemudian mereka, terutama imamnya, dikeluarkan lagi, konon dengan bantuan orang
dalam ABRI. "Mereka mengesankan seperti punya link khusus ke sana," katanya. Karena
ada rekayasa semacam ini, wajah NII murni menjadi buruk di mata umat.

KONTROVERSI BERITA Gencarnya pemberitaan NII di Bandung beberapa pekan


terakhir sebenarnya sempat melahirkan kontroversi. Masalahnya, kabar itu terus menerus
dilansir oleh koran Galamedia, salah satu perusahaan yang bernaung di bawah grup
Pikiran Rakyat (PR).

Pada mulanya, Galamedia rajin memberitakan fenomena NII ini. Walaupun tak ada koran
lain yang mengikuti isu itu, saban hari mereka menulisnya di halaman depan. 'Rajinnya'
Galamedia itu mendatangkan curiga, mengapa kok hanya Galamedia yang memberitakan
kasus itu?

Koran-koran lain di Bandung justru menulis indikasi adanya 'udang' di balik penulisan
NII besar-besaran itu.

Serta-merta Galamedia pun diisukan telah diperalat pihak Kodam III/Siliwangi.


Maksudnya, Kodam sengaja memasok bahan-bahan tentang NII untuk mengalihkan
perhatian masyarakat pada isu tertentu yang sedang bergolak di negeri ini. Tujuan mereka
ingin menciptakan ketakutan pada Islam.

Masih menurut kabar angin itu, niat busuk ini, konon tak seperti yang diharapkan.
Pemberitaan itu justru menimbulkan kecurigaan adanya rekayasa dalam kebangkitan neo
NII.

Tapi, betulkah Kodam telah 'bermain api' seperti itu? Pimpinan militer tertinggi di Jawa
Barat menolak tudingan itu. "Anda jangan menuduh Kodam seperti itu!" ucap Mayjen
TNI Slamet Supriadi, Pangdam III/Siliwangi, lantang dan penuh emosi kepada ADIL.
Dadan Hendaya, Koordinator Liputan Galamedia, juga menepis 'cibiran' PR dan tudingan
telah diperalat Kodam. "Kami tidak membuat berita bohong, dan tidak bermain mata
dengan Kodam. Sampai saat ini tidak ada yang komplain, malah banyak telepon dari para
korban dan orang tuanya, mendukung pemberitaan itu," ujarnya.

Yang jelas, neo NII ini tidak bisa dianggap nihil. "Faktanya ada. Mereka menjual 'gerakan
khayalan', yang motifnya bisa ekonomi atau politis. Mereka tidak memiliki komitmen
keislaman, malah ingin merusak citra Islam," kata K.H. Hilman Rosyad Syihab, Lc.,
pimpinan Majelis Ta'lim Ummul Quro (Bandung), yang sering berhubungan dengan
mantan pengikut NII gadungan. Banyak cara, memang, untuk mengobok-obok Islam.

Date: Sat, 01 Apr 2000 09:07:56 PST


From: "Usman Maine" <usman_maine@hotmail.com>
To: is-lam@isnet.org

Sempalan Kelompok Islam Sesat

Indeks Islam | Indeks Artikel

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

/ | _ \ | | |
_o_\_,_;_(_ ,o _\;__,_,_,_; :
( .. (

.. | / o || ..
o_, !_\ ,_; o (_|_;: o_o__\ , o
/ . / / /

ikhwah fiLlah,

Allah telah mengingatkan kepada kita agar senantiasa waspada terhadap suatu berita.
Bagi yang ingin mengetahui buku putih tentang NII sebaiknya membaca Fakta dan Data
Sejarah karangan Al Chaidar. Buku tersebut banyak dijual di toko-toko buku.

Sesungguhnya adanya faksi-faksi bukan berarti NII terpecah. Faksi-faksi itu


sesungguhnya mempunyai satu Imam. Namun, dengan adanya lebih dari satu fraksi,
ternyata ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk menghancurkan NII dari dalam. Namun
kita yakin terhadap janji Allah SWT bahwa Kebathilan pasti akan dikalahkan oleh yang
Haq. Untuk itu, tujuan diketengahkannya berita ini hanyalah dalam rangka saling
menasehati dalam yang haq.
Untuk itu, kami mengingatkan kita terhadap kelompok-kelompok yang mengaku akan
mendirikan NII, bahkan kelompok itu dengan tanpa rasa bersalah menyebut kelompok
mereka dengan NII.

Berikut ciri-ciri kelompok yang mengatasnamakan NII :

• Dalam menda'wahi calonnya, mata sang calon ditutup rapat. Dan penutup itu baru
akan dibuka ketika mereka sampai ke tempat tujuan.
• Para calon yang akan mereka da'wahi rata-rata memiliki ilmu keagamaan yang
relatif rendah bahkan boleh dibilang tidak memiliki ilmu agama. Sehingga para
calon dengan mudah dijejali omongan-omongan yang menurut mereka adalah
omongan tentang dinul Islam. Padahal kebanyakan akal merekalah yang berbicara
dan bukan diinul Islam yang mereka ungkapkan.
• Calon utama mereka adalah mereka-mereka yang memiliki harta yang berlebihan,
atau yang orang tuanya berharta lebih, anak-anak orang kaya yang jauh dari
keagamaan, sehingga yang terjadi adalah penyedotan uang para calon dengan
dalih islam. Islam hanya sebagai alat penyedot uang.
• Pola Da'wah yang relatif singkat, hanya kurang lebih 3 kali pertemuan, sang calon
dimasukkan kedalam anggota mereka. Sehingga yang terkesan adalah pemaksaan
ideologi, bukan lagi keikhlasan. Dan rata-rata, para calon memiliki kadar
keagamaan yang sangat rendah sekali. Selama hari terakhir penda'wahan, sang
calon dipaksa dengan dijejali ayat-ayat yang mereka terjemahkan seenak lidah
mereka hingga sang calon mengatakan siap di bai'at...
• Ketika sang calon akan dibai'at, dia harus menyerahkan uang yang mereka
namakan dengan uang penyucian jiwa. Jika sang calon tidak mampu saat itu,
maka infaq itu menjadi hutang sang calon yang wajib dibayar.
• Tidak mewajibkan menutup aurat bagi anggota wanitanya. Dengan alasan Kahfi.
• Tidak mewajibkan sholat 5 waktu bagi para anggotanya dengan alasan belum
futuh. Padahal, mereka mengaku telah berada dalam madinah. Seandainya mereka
tahu bahwa selama di madinah lah justru Rasul benar-benar menerapkan syri'at
Islam. Dan justru Rasul wafat beberapa waktu setelah futuh mekkah.
• Sholat 5 waktu mereka ibaratkan dengan do'a dan da'wah. Sehingga jika mereka
sedang berda'wah maka saat itu mereka sedang sholat.
• Sholat Jum'at diibaratkan dengan rapat / syuro. Sehingga pada saat mereka rapat,
maka saat itu pula mereka namakan sholat jum'at.
• Atau untuk pemula, mereka dibolehkan sholat yang dilaksanakan dalam satu
waktu untuk 5 waktu sholat.
• Infaq yang dipaksakan perperiode ( per bulan), sehingga menjadi hutang yang
wajib dibayar bagi yang tidak mampu berinfaq.
• Adanya Qiradh (uang yang dikeluarkan untuk dijadikan modal usaha) yang
diwajibkan walaupun tak punya uang, bila perlu berhutang kepada kelompoknya.
Pembagian bagi hasil dari Qiradh yang mereka janjikan tak akan pernah kunjung
datang. Jika diminta tentang pembagian hasil bagi itu, mereka menjawabnya
dengan ayat Qur'an sedemikian rupa sehingga upaya meminta hasil bagi itu
menjadi hilang.
• Zakat yang tidak sesuai dengan syari'at Islam. Takaran yang terlalu melebihi dari
yang semestinya. Mereka mensejajarkan sang calon dengan sahabat Abu Bakar
dengan menafi'kan syari'at yang sesungguhnya.
• Tidak adanya mustahik di kalangan mereka, sehingga bagi mereka yang tak
mampu makan sekalipun, wajib membayar zakat/infaq yang besarnya sebetulnya
sebanding dengan dana untuk makan sebulan. Bahkan mereka masih saja
memaksa pengikutnya untuk mengeluarkan 'infaq' padahal pengikutnya itu dalam
keadaan kelaparan (saking kelaparannya, dia melakukan shaum Daud. Bukan
karena sunnah tapi memang enggak ada barang yang mesti dimakan)
• Belum berlakunya syari'at Islam dikalangan mereka sehingga perbuatan apapun
tidak mendapatkan hukuman apapun.
• Mengkafirkan orang yang diluar kelompoknya bahkan menganggap halal berzina
dengan orang diluar kelompoknya.
• Dihalalkannya mencuri / mengambil barang milik orang lain (mencuri).
• Menghalalkan segala cara demi tercapai tujuan spt menipu / berbohong meskipun
kepada orang tuanya sendiri.

Na'udzubilaahi min dzaalik. Jadi, bisa kita lihat dan kita nilai, sejauh mana omongan
mereka dan gerak mereka yang katanya ingin berdinul Islam itu, tapi akhlaq dan
perbuatannya jauh sekali dari diinul Islam.

Berhati-hatilah saudaraku dalam mengambil yang haq. Data tersebut adalah hasil yang
diperoleh dari orang-orang yang pernah mengalaminya yang mereka itu sekarang ini
telah bergabung dengan NII yang sesungguhnya.

Mohon maaf jika memang berita ini dianggap menyinggung perasaan pihak-pihak
tertentu.

Mudah-mudahan informasi ini akan sangat bermanfaat bagi siapa saja atau bagi mereka
yang ingin mencari NII yang sebenarnya. Dan mudah-mudahan mereka yang
mengalaminya segera menyadari kesalahannya dan segera bertobat kepada Allah SWT.
Yakinlah bahwa yang haq hanya akan tegak dengan cara yang haq pula.

Wallahua'alam bish showwab

Date: Wed, 15 Sep 1999 05:53:15 +0700 (JAVT)


From: Budi S <budis@vlsi.itb.ac.id>
To: is-lam@isnet.org, is-lam@isnet.itb.ac.id

ISLAM SESAT KELOMPOK TOTO SALAM 1

Indeks Islam | Indeks Artikel


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Di lingkungan komunitas Islam ada sekelompok gerombolan di bawah pimpinan Toto
Salam, yang oleh pengikutnya biasa dipanggil Abu Toto atau Abi Toto. Gerombolan ini
punya garis perjuangan mentereng, yaitu mendirikan negara Islam di Indonesia.

Ironisnya, perilaku kelompok ini justru bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka tidak
mewajibkan shalat lima waktu, yang sebenarnya wajib. Mereka pun memiliki kriteria
yang melenceng tentang ketentuan menutup aurat. Bahkan, mereka menilai kondisi saat
ini sama dengan masa jahiliyah, masa kegelapan, oleh karenanya mereka merasa berhak
mengambil harta siapapun (warga negara Indonesia, tak peduli pribumi atau non pribumi,
begarama Islam atau non Islam) dengan dalih dan cara apapun.

Gerombolan ini mengklaim memiliki outlet di 27 propinsi. Untuk wilayah Jakarta


(mereka menyebutnya wilayah sembilan), dipimpin oleh seseorang bernama Suaifullah,
salah seorang kader kepercayaan Toto Salam yang sangat loyal. Meski memiliki outlet di
27 propinsi, Toto Salam sendiri lebih cenderung ngendon di Jakarta (wilayah sembilan).

Sebagai pimpinan puncak di kelompoknya, Toto Salam berhasil menjalin hubungan baik
dengan kalangan Polisi dan Tentara. Jadi, kalau pada suatu hari ada salah seorang anak
buahnya yang terpaksa berurusan dengan Polisi atau Tentara, Toto Salam tinggal
menelepon petinggi kepolisian/tentara koleganya, maka urusan pun tuntas.

Gerombolan Toto Salam ini punya dana yang cukup banyak. Terbukti, mereka mampu
membangun kompleks pondok pesantren (boarding school) yang tergolong mewah
bernama Pesantren Al-Zaytuna. Pesantren itu berdiri di atas lahan seluas 1.200 hektare,
dan mampu menampung sekurang-kurangnya 1.500 santri (baca juga GATRA edisi 13
Februari 1999, halaman 36).

Pesantren yang dilengkapi dengan ruangan ber-AC dan laboratorium ini, berlokasi di
Desa Mekar Jaya, Haur Geulis, Indramayu, Jawa Barat. Selain itu, Pondok Pesantren
yang pembangunannya menelan biaya miliaran rupiah itu, dilengkapi pula dengan sarana
olahraga modern, rumah sakit, asrama santri, asrama pengajar, dan asrama pegawai yang
jumlahnya 1.500 orang karyawan/wati, sebagaimana diberitakan SCTV 27 Agustus 1999,
dan diresmikan Presiden Habibie.

Cara-cara gerombolan ini mengumpulkan dana, selain ditempuh dengan cara mengambil
harta siapapun, dengan dalih dan cara apapun, juga dengan menetapkan sejumlah target
kepada setiap jemaatnya.

Seorang Bapak pernah mengadukan perilaku anaknya yang setelah menjadi anggota
gerombolan Toto Salam, justru jadi jarang kuliah (di salah satu perguruan tinggi di
Bandung). Sang anak menurut penuturan Bapaknya, kini jadi getol berniaga atau
melakukan apa saja yang bisa menghasilkan uang, ketimbang kuliah. Itu semua dilakukan
sang anak bukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi dalam rangka memenuhi
target yang telah diberikan gerombolan Toto Salam. Rupanya setiap bulan ia ditargetkan
mengumpulkan dana sebesar Rp 4.000.000,- (empat juta rupiah).
Kasus serupa terjadi juga di sebuah sekolah unggulan (setingkat SMU). Salah seorang
siswinya (berusia 16-17 tahun) nampak begitu aktif mengumpulkan dana dari lingkungan
siswa-siswi setempat. Cara-cara intimidasi pun ia lakukan, terutama kepada korban yang
diangapnya lemah dan lebih junior. Bahkan untuk mencapai taget, ia memaksa beberapa
kawannya untuk berbohong kepada orangtuanya masing-masing, agar orangtuanya itu
mau mengirimkan sejumlah uang dengan alasan yang dibuat-buat.

Untungnya, pihak sekolah cukup tanggap dan peka, sehingga aktifitasnya yang
menyimpang itu pun segera bisa diketahui. Akhirnya, siswi tersebut dikembalikan kepada
orangtuanya, di Malang, Jawa Timur. Setelah diselidiki, ternyata siswi tersebut anggota
gerombolan Toto Salam, yang oleh kakak iparnya (yang juga seniornya) diberikan target
sebesar sekian juta rupiah setiap bulannya.

Karuan saja, ia pontang-panting memenuhi target setiap bulannya, bahkan dengan


menempuh cara-cara yang sangat tidak patut sekalipun. Saking sibuknya mengumpulkan
dana, maka kegiatan belajarnya pun terganggu, karena waktunya tersita habis untuk
mengumpulkan dana 'perjuangan' untuk gerombolan Toto Salam.

Eksistensi dan perilaku menyimpang gerombolan Toto Salam ini sebenarnya sudah
pernah dilaporkan kepada lembaga terkait, juga ke aparat yang berwenang. Sayangnya,
tidak cukup bukti. Apalagi, gerombolan ini pandai membangun hubungan baik dengan
aparat, juga gemar memberikan 'oleh-oleh' kepada siapa saja yang dianggap layak dan
berpengaruh. Disamping itu, gerombolan ini juga rajin membantu aparat. Untuk hal-hal
tertentu mereka memang partner yang baik bagi aparat.

Date: Mon, 13 Sep 1999 23:02:26 +0700 (JAVT)


From: Budi S <budis@vlsi.itb.ac.id>
To: is-lam@isnet.org

ISLAM SESAT KELOMPOK TOTO SALAM 2

Indeks Islam | Indeks Artikel


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Pada tanggal 27 Agustus 1999 lalu, di SCTV ditayangkan sebuah acara peresmian
pondok pesantren Al-Zaytun, ponpes termodern, termegah, yang diresmikan oleh
Presiden Habibie. Peresmian itu juga dipublikasikan cukup semarak oleh media cetak
seperti koran dan majalah.

Di SCTV itu, Presiden Habibie nampak akrab dengan sesepuh Yayasan Pesantren
Indonesia (YPI) yaitu Syekh Panji Gumilang alias Toto Salam, alias Abu Toto alias Abi
Toto, pimpinan gerombolan Islam sesat yang tidak mewajibkan shalat. Saya yakin,
Habibie tidak tahu siapa itu Toto Salam, karena pada dasarnya Habibie memang
tergolong awam mengenai Islam dan dinamika intern ummat Islam. Paling-paling yang
dikenal Habibie cuma NU dan Muhammadiyah.

Pada majalah Forum no. 22 edisi 5 September 1999, halaman 65, bisa dilihat sosok Toto
Salam sang pemimpin gerombolan Islam sesat yang sangat pandai bersandiwara. Meski
secara formal tidak mewajibkan shalat lima waktu, namun di hadapan orang yang
dianggapnya 'belum paham' ia berpura-pura shalat dan sebagainya, tetap mendirikan
mesjid atau mushalla di lingkungan pondok pesantrennya maupun di sekitar markasnya.
Dan ia selalu menyikapi dengan dingin setiap hujatan yang ditujukan kepadanya, hingga
yang menghujat lelah dengan sendirinya.

Di ANTEVE pada acara "Fakta" edisi 31 Agustus 1999 lalu, ditayangkan adanya
eksploitasi sekelompok gerombolan terhadap ibu-ibu rumahtangga dan pembantu rumah
tangga untuk mengumpulkan dana. Kejadian yang diungkap "Fakta" di ANTEVE itu
adalah salah satu aktivitas gerombolan Toto Salam di dalam mengumpulkan dana.

Salah seorang pengurus pondok pesantren di kawasan Bekasi, pernah menangkap basah
sekelompok remaja yang nampak giat mengumpulkan dana dengan membawa-bawa map
berisi kotak amal. Sekelompok anak remaja itu menggunakan identitas ponpes yang ia
pimpin, padahal ponpesnya itu tidak pernah mengerahkan massa untuk mengumpulkan
dana dengan cara-cara seperti itu. Setelah diselidiki lebih jauh, ternyata mereka itu semua
adalah anggota gerombolan Toto Salam.

Di atas bis kota juga sering kita temui sejumlah orang yang naik-turun meminta
sumbangan. Diantara mereka pastilah terdapat anggota gerombolan Toto Salam, karena
cara itu merupakan salah satu upaya gerombolan Toto Salam mengumpulkan dana.

Mengenai profil Toto Salam ada baiknya baca buku berjudul "Pengantar Pemikiran
Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo" karangan Al-Chaidar,
khususnya halaman 228. Buku tersebut banyak terdapat di berbagai toko buku seperti
Gramedia dan sebagainya.

Buku tersebut, meski tidak terlalu rinci menyinggung profil Toto Salam dan
gerombolannnya, namun sudah cukup membuat Toto Salam berang. Bahkan mereka
memberikan label 'haram' kepada buku tersebut. Lucunya, mereka justru 'mewajibkan'
anggotanya membaca karya Al-Chaidar lainnya yaitu "Reformasi Prematur".

Sikap berang yang ditunjukkan gerombolan ini kepada Al-Chaidar bisa dimengerti,
karena Al-Chaidar pernah bergaul akrab dengan komunitas Toto Salam. Mereka
mengkhawatirkan, Al-Chaidar akan membongkar isi perut gerombolan mereka kepada
publik. Pada akhir Agustus lalu, Al-Chaidar sempat diajak 'makan bersama' di Kalibata
atas undangan seorang Jenderal berbintang dua. Di situ, Al-Chaidar sempat dinasehati
agar jangan terlalu serius menulis tentang gerakan Islam.

Rupanya tentara dan pemerintah sampai saat ini tidak bisa membedakan antara gerakan
Islam yang murni dan yang palsu. Dulu, Rudini selaku Mendagri dan elite Golkar pernah
meresmikan LEMKARI dan menjadikannnya bagian dari Golkar. Padahal, Lemkari itu
jelmaan Islam Jama'ah yang kini bernama LDII, yaitu aliran Islam sesat yang pernah
dilarang Kejaksaan Agung (1971).

Date: Mon, 13 Sep 1999 23:05:53 +0700 (JAVT)


From: Budi S <budis@vlsi.itb.ac.id>
To: is-lam@isnet.org

Aksi Sejuta Ummat, Al-Chaidar dan Amien Rais


Melalui 'apakabar' (edisi 26 Januari 2000) Al-Chaidar
<alchaidar@sociologist.com> sebagai salah seorang 'aktivis' Aksi Sejuta
Ummat, menjelaskan dari Kualalumpur, bahwa kegiatan itu berlangsung aman,
damai, tertib, dan tidak ada kerusuhan yang menyertainya.

Para tokoh Islam yang berbicara kala itu, sama sekali tidak menghina
pemerintah, pribadi atau golongan tertentu. Bagi yang ketika itu hadir,
dari acara Aksi Sejuta Ummat itu tidak tercium bau adanya provokasi,
agitasi atau propaganda yang keluar dari mulut para tokoh.

Namun demikian, secara kasat mata (bagi yang matanya normal), bisa dilihat
bertebaran sejumlah (banyak) provokator, yang menurut analisa ahli
lapangan, para provokator itu berasal dari pihak pemerintah atau tentara.

Amien Rais tentu saja harus hadir pada acara itu, yang tujuan utamanya
menunjukkan sikap kepedulian dan solidaritas terhadap nasib ummat Islam di
Halmahera. Karena, Amien Rais adalah tokoh Islam. Sebelum ia menjadi Ketua
MPR RI, dan bahkan kelak setelah ia pensiun dari jabatannya itu, Amien
Rais tetaplah tokoh Islam.

Sebagai tokoh Islam, maka citra dan kredibilitasnya akan jatuh di mata
ummat Islam, bila ia tidak peduli terhadap nasib ummat Islam. Namun sejauh
ini Amien tetaplah tokoh Islam yang proporsional. Ia bersuara lantang
ketika Yayasan Doulos dibakar tentara, padahal ia tidak beragama Kristen.
Amien juga lantang bersuara ketika kasus penjarahan Mei 1998 terjadi,
padahal ia tidak punya toko (yang dijarah).

Bandingkan dengan Matori Abdul Jalil yang turut melakukan demo bersama
sejumlah orang yang manamakan dirinya masyarakat profesional untuk
menghujat Habibie (Presiden kala itu). Padahal saat itu ia adalah petinggi
negara. Namun terhadap Matori masyarakat 'apakabar' tidak menghujatnya.

Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita tidak saja cenderung diskriminatif


dan menggunakan standard ganda, juga sedang sakit berat. Masyarakat yang
sakit berat inilah yang kemudian melahirkan dwitunggal yang juga sakit.
Presidennya buta, wakilnya bisu. Bahkan isteri Presidennya pun lumpuh.

Mengapa terhadap Amien Rais sebagian kalangan begitu geram, padahal di


Aksi Sejuta Ummat saja, yang sebenarnya sarat emosi, Amien Rais terkesan
paling demokratis, paling netral, diantara sejumlah pembicara. Nuansa
geram terhadap diri Amien Rais memang dihembuskan tentara (intelijen).
Karena sejauh ini Amien Rais-lah yang paling konsisten menentang konsep
dwifungsi ABRI (tentara dan polisi dan intelijen), terutama bila
dibandingkan dengan sikap Gus Dur atau Megawati yang mencla-mencle.

Dan sesungguhnya Amien Rais adalah musuh TNI, baik TNI Hijau maupun TNI
Merah Putih. Selama hegemoni tentara masih mencekeram, selama supremasi
militer masih kental, maka orang-orang seperti Amien Rais tidak bisa jadi
Presiden. Untuk menjadi Ketua MPR saja, sulitnya bukan main, dan dalam hal
ini tentara kecolongan bahkan kerampokan oleh strateginya Amien Rais.

Lalu, mengapa forum Aksi Sejuta Ummat menjadi pemicu kemarahan sebagian
kalangan dan menghubungkannya dengan kasus Mataram? Itu juga kerjaannya
tentara, polisi dan intelijen. Karena, pada forum itu, Al-Chaidar salah
seorang aktivis Darul Islam (alias NII) mengungkapkan untuk mengganti
ideologi bangsa (Pancasila) dengan ideologi negara Islam. Karena, ideologi
Pancasila sudah terbukti tidak mampu melindungi dan mensejahterakan bangsa
(rakyat) Indonesia.

Mengapa Al-Chaidar sampai mengungkapkan hal itu? Bila dilihat secara


proporsional, ungkapannya itu memang wajar, karena Al-Chaidar adalah
sarjana politik lulusan UI (1996) dengan skripsinya berjudul "Diskursus
Politik Islam Dalam Gerakan Darul Islam dan Moro National Liberation
Front". Kalau saja Al-Chaidar menulis skripsi tentang "Marxisme", maka
kemungkinan besar yang dia usulkan di forum itu adalah menggantikan
Pancasila (ideologi negara) dengan Marxisme.

Sayangnya, Al-Chaidar sejauh ini memusuhi NII palsu ciptaan tentara (dan
intelijen). Pada berbagai kesempatan (melalui penerbitan buku) Al-Chaidar
selalu membuka borok dan kedok NII bughat bin palsu yang menjadi binaan
tentara (dan intelijen) untuk merontokkan gerakan NII asli.

NII palsu binaan tentara ini dimpimpin oleh Toto Salam. Jamaah NII palsu
ini, sangat giat mengumpulkan dana dengan cara-cara yang haram sekalipun.
The Jakarta Post, sebagaimana juga dikutip Siar, melansir adanya seorang
baby sitter yang mencuri perhiasan majikannya yang bernilai 35 juta
rupiah, dan ketika diselidiki ternyata ia adalah anggota NII (sesuai
dengan kartu anggota yang dimilikinya). Begitulah cara NII palsu binaan
tentara mencari dana. Merampok pun mereka lakukan. Tindakan mereka jauh
dari ajaran Islam yang melarang merampok, menipu, mencuri, dan sebagainya.
Borok-borok NII palsu ini sudah terlalu sering diungkap Al-Chaidar melalui
berbagai buku-buku yang pernah diterbitkannya. Ini berarti, di forum Aksi
Sejuta Ummat lalu, tampil dua tokoh yang sangat dibenci tentara (baik
tentara hijau maupun tentara merah putih) yaitu Amien Rais dan Al-Chaidar.
Maka kemudian jadilah forum itu sebuah momentum menciptakan kerusuhan di
tempat lain.

Dalam keadaan normal, forum Aksi Sejuta Ummat tidak akan mampu menciptakan
kerusuhan di Mataram. Namun tentara (dan intelijen) telah
mengkait-kaitkannya sedemikian rupa, karena mereka punya sejumlah oknum
yang siap bertindak sebagai provokator. Barangkali Eggy Sudjana adalah
salah satu provokator itu. Mengingat Eggy adalah penggagas Pemuda Panca
Marga, sebuah institusi kepemudaan ciptaan tentara juga, yang di back-up
oleh keluarga Cendana.

Masih banyak provokator lapangan lainnya selain Eggy. Untuk provokator


lapangan, nampaknya tentara (dan intelijen) perlu dana dan tenaga ekstra.
Sedangkan untuk provokator di cyber, tidak perlu dana dan usaha khusus,
sebab masyarakat 'apakabar' secara sukarela menjadi provokator, menjadi
antek-antek tentara (dan intelijen).

Siapakah mereka itu? Mereka adalah posters yang sangat bersemangat


mencaci-maki Amien Rais. Padahal Amien Rais adalah musuh nomor satu
tentara (hijau dan merah putih sekaligus). Mereka itu, para provokator
sukarelawan itu, antara lain, Lion, IM, Bum Liang, Haji dan sebagainya,
yang enggan menggunakan akal sehatnya namun secara terus-menerus
memposisikan Amien sebagai musuh mereka.

Al Chaidar Musuh Tentara


AL CHAIDAR akhirnya dijemput petugas kepolisian di Bandara, begitu ia mendarat
dari Kuala Lumpur. Padahal, ketua panitia Aksi Sejuta Umat ini, sudah
melaporkan diri ke KBRI Kuala Lumpur, dan bahkan Al Chaidar sudah
menandatangani surat pernyataan bahwa ia akan melaporkan diri dan
bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya, sekembalinya dari luar negeri.

Rupanya kepolisian punya motif lain. Sejauh ini, kepolisian memang masih
'anak-buahnya' tentara.dan badan intelijen. Penangkapan yang mereka lakukan
tidak lepas dari rekomendasi pihak tentara dan badan intelijen. Karena, sampai
sejauh ini Al Chaidar adalah salah satu musuh tentara (dan intelijen).

Mengapa Al Chaidar dimusuhi, karena sampai saat ini Al Chaidar konsisten


membongkar konspirasi antara tentara (dan badan intelijen) dengan sekelompok
orang yang menamakan dirinya NII (Negara Islam Indonesia) dibawah pimpinan Abu
Toto Abdussalam, alias Toto Salam, alias Syekh A.S. Panji Gumilang.

Toto Abdussalam alias Toto Salam sendiri, sebenarnya tidak pernah tercatat
sebagai jamaah NII. Ia dengan keberaniannya yang luar biasa, mengklaim sebagai
pewaris NII, padahal itu tidak benar. Yang sebenarnya terjadi, Toto Salam
dimanfaatkan pemerintah orba dan tentara (juga badan intelijen) untuk
membentuk institusi NII, tentu saja untuk tujuan-tujuan yang menguntungkan
pemerintah dan tentara.

Buku Al Chaidar yang terakhir mengupas secara tuntas apa itu NII palsu versi
Toto Salam, termasuk praktek-praktek mengumpulkan dana yang mengharamkan
segala cara. Buku itu berjudul "Serial Musuh-musuh Darul Islam: Sepak Terjang
KW9 Abu Toto Menyelewengkan NKA-NII pasca S.M. Kartosoewiryo".

Untuk sampai terbit, buku itu menempuh perjalanan yang panjang dan berliku
serta penuh hambatan. Pertama, hambatan datang dari instansi militer. Ketika
itu Al Chaidar pernah diajak "makan siang" oleh seorang Jenderal berbintang
dua di kantor BIA. Jenderal Hijau ini pada intinya menasehati agar Al Chaidar
tidak terlalu bersemangat menulis buku.

Hambatan kedua, datang dari Kepala Bakin, yang waktu itu dijabat ZA Maulani,
salah seorang Jenderal Hijau lainnya. Sang purnawirawan berbintang tiga ini,
langsung mendatangi kantor Al Chaidar di pejaten, dan memberikan tekanan keras
agar Al Chaidar sama sekali membatalkan rencana penerbitan buku berjudul di
atas.

Celakanya, selain dimusuhi oleh tentara hijau, Al Chaidar --sebagaimana Amien


Rais-- juga dimusuhi oleh tentara merah-putih. Oleh karena itu Al Chaidar
tetap saja diposisikan sebagai musuh bersama oleh tentara, polisi, dan badan
intelijen sampai saat ini. Karena, Al Chaidar punya data yang akurat tentang
adanya konspirasi antara tentara dengan NII palsu pimpinan Abu Toto. Bahkan,
kemungkinan Al Chaidar juga punya data-data yang cukup akurat mengenai
konspirasi serupa, antara tentara dengan kelompok Islam komersial lainnya. Ini
berarti Al Chaidar memang membahayakan.

Beberapa media nampaknya mendeskripsikan Al Chaidar secara keliru, Republika


antara lain menuliskan Al Chaidar sebagai aktivis PK (Partai Keadilan),
padahal Al Chaidar tidak suka dengan PK karena dinilai masih terlalu
Pancasilais. Siar juga begitu. Antara lain Siar menyebutkan, bahwa Al Chaidar
adalah aktivis "bawah tanah". Kalau Al Chaidar adalah seorang aktivis "bawah
tanah", mana mungkin ia tampil di "atas tanah".

Pada kenyataannya Al Chaidar memang bukan aktivis "bawah tanah", ia sering


tampil di berbagai seminar. Ia sering tampil pada berbagai acara bedah buku.
Ia juga mempublikasikan alamatnya secara jelas di Pejaten, yang baru-baru ini
digrebek aparat kepolisian. Rupanya Siar masih belum bisa membedakan antara
minyak tanah dengan minyak kelapa.

Date: Sat, 29 Jan 2000 04:43:03 -0800 (PST)


From: Syaifuddin Bidakara <bidakara@...>

Antara Al Chaidar dan Pius Lustrilanang


Al Chaidar pada acara Aksi Sejuta Umat, di Monas, Jakarta, secara tegas
menyampaikan gagasannya di hadapan peserta Tabligh Akbar itu, tentang
perlunya mengganti sistem negara Pancasila menjadi sistem Negara Islam
melalui sebuah Revolusi Islam yang integral (Islamic Integrative
Revolution).

Karena, menurut Al Chaidar pula, sistem negara Pancasila telah terbukti


tidak bisa menyelesaikan berbagai krisis yang terjadi sehingga harus
diganti dengan sistem alternatif, yaitu sistem Negara Islam.

Pada kesempatan itu Al Chaidar juga mengusulkan, jika sampai batas waktu
tertentu kasus Maluku tidak terselesaikan dengan baik, maka umat Islam
perlu membentuk majelis syuro dalam rangka membentuk Negara Islam di
Indonesia, menggantikan Negara Pancasila di bawah pimpinan Gus Dur dan
Megawati yang mandul dalam menangani kasus pembantaian terhadap umat
Islam.

Apapun bentuk gagasan yang dikemukakan Al Chaidar, itu toh cuma sebuah
gagasan. Tidak ada landasan hukum bagi aparat untuk menindak Al Chaidar
hanya karena ia mengemukakan gagasannya. Sebagai sarjana ilmu politik
yang memang menyoroti masalah daulah Islam, gagasan yang dikemukakan Al
Chaidar sangatlah wajar dan dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah.

Menurut Munir dari Kontras yang bersama-sama Al Chaidar ke Malaysia,


apa-apa yang dilakukan Al Chaidar tidak bisa masuk kategori melanggar
hukum pidana, hanya karena ia menyampaikan pikiran dan pandangannya.
Oleh karena itu, menurut Munir pula, bila Al Chaidar tidak melakukan
tindakan kriminal, Polda harus segera melepas Al Chaidar.

Ketika ditangkap, Munir ada bersama Al Chaidar di Bandara, dan menurut


Munir, Al Chaidar ditangkap begitu saja berikut sejumlah barang-barang
milik pribadinya, seperti dokumen, disket, dan buku-buku. Sementara itu,
paman Al Chaidar yang menemaninya tak diberi tahu apa-apa, demikian pula
keluarganya. Munir pun serta-merta memprotes dan menyesalkan cara-cara
penangkapan yang dilakukan aparat kepolisian itu.

Bandingkan dengan Pius Lustrilanang, yang menjelang proses pemilihan


Presiden RI beberapa waktu lalu, mengerahkan massa ke bundaran HI sambil
memberikan tekanan politik, dengan slogan: "pilih mega atau revolusi!"
Sampai sejauh ini Pius tidak sedetik pun dijemput aparat untuk
memberikan keterangan di kantor kepolisian.

Bahkan massa PDI-P memberikan ancaman serius, bila Mega tidak terpilih
sebagai Presiden, maka mereka akan membuat aneka kerusuhan, sebagaimana
terbukti di Pulau Bali dan beberapa tempat lainnya. Namun untuk hal ini
pun aparat cuma diam saja. Hal ini menunjukkan bahwa aparat kita sudah
mulai kambuh sifat orde barunya, yang cenderung menerapkan standard
ganda dan represif.

Teungku M. Daud Beureueh


Teungku Muhammad Daud Beureueh adalah salah
satu tokoh ulama besar Aceh. Bersama ulama lain pada
zamannya, beliau berjuang mengibarkan dan menegakkan
panji-panji Islam di bumi Aceh. Sebagaimana yang pernah
dituturkannya kepada Boyd R. Compton dalam sebuah wawancara,
"Anda harus tahu, kami di Aceh ini punya sebuah impian. Kami
mendambakan masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda, pada masa
Aceh menjadi Negara Islam. Di zaman itu, pemerintahan
memiliki dua cabang, sipil dan militer. Keduanya didirikan
dan dijalankan menurut ajaran agama Islam. Pemerintahan
semacam itu mampu memenuhi semua kebutuhan zaman moderen.
Sekarang ini kami ingin kembali ke sistem pemerintahan
semacam itu". (Boyd R. Compton, Surat-Surat Rahasia Boyd R.
Compton, Jakarta: LP3ES, 1995)

Siapakah Dia?

Teungku M. Daud Beureueh dilahirkan pada 15 September


1899 di sebuah kampung bernama "Beureueh", daerah Keumangan,
Kabupaten Aceh Pidie. Kampung Beureueh adalah sebuah kampung
heroik Islam, sama seperti kampung Tiro. Ayahnya seorang
ulama yang berpengaruh di kampungnya dan mendapat gelar dari
masyarakat setempat dengan sebutan "Imeuem (imam) Beureueh".
Teungku Daud Beureueh tumbuh dan besar di lingkungan
religius yang sangat ketat. Ia tumbuh dalam suatu formative
age yang sarat dengan nilai-nilai Islam di mana hampir saban
magrib Hikayat Perang Sabil dikumandangkan di setiap
meunasah (masjid kampung). Ia juga memasuki masa dewasa di
bawah bayang-bayang keulamaan ayahnya yang sangat kuat
mengilhami langkah hidupnya kemudian.
Orang tuanya memberi nama Muhammad Daud (dua nama
Nabiyullah yang diberikan kitab Alquran dan Zabur). Dari
penamaan ini sudah terlihat, sesungguhnya yang diinginkan
orang tuanya adalah bila besar nanti ia mampu mengganti
posisi dirinya sebagai ulama sekaligus mujahid yang siap
membela Islam. Karena itu, pada masa-masa usia sekolah,
ayahnya tidak memasukkan beliau ke lembaga pendidikan resmi
yang dibuat Belanda seperti: Volkschool, Goverment
Indlandsche School, atau HIS. Namun lebih mempercayakan
kepada lembaga pendidikan yang telah lama dibangun ketika
masa kerajaan Islam dahulu semodel dayah/zawiyah. Yang
menjiwai ayahnya adalah semangat anti-Belanda/penjajah yang
masih sangat kuat. Apalagi ketika itu Aceh masih dalam
suasana perang di mana gema Hikayat Perang Sabil masih
nyaring di telinga masyarakat Aceh.

Dalam pusat pendidikan semacam ini, Daud ditempa dan


dididik dalam mempelajari tulis-baca huruf Arab, pengetahuan
agama Islam (seperti fikih, hadis, tafsir, tasawuf, mantik,
dsb), pengetahuan tentang sejarah Islam, termasuk sejarah
tatanegara dalam dunia Islam di masa lalu, serta ilmu-ilmu
lainnya. Dari latar belakang pendidikan yang diperolehnya
ini, tidak disangsikan lagi, merupakan modal bagi
keulamaannya kelak.

Sekalipun tidak mendapatkan pendidikan Belanda, namun


dengan kecerdasan dan kecepatannya berpikir, beliau mampu
menyerap segala ilmu yang diberikan kepadanya itu, termasuk
bahasa Belanda. Kebiasaannya mengkonsumsi ikan, yang
merupakan kebiasaan masyarakat Aceh, telah membuatnya
menjadi quick-learner (mampu belajar cepat).

Kemampuan yang luar biasa ini, sebagian besar karena ia


merasa menuntut ilmu adalah wajib. Maka belajar tentang
segala sesuatu, dipersepsikannya hampir sama dengan
"mendirikan shalat". Dalam usia yang sangat muda, 15 tahun,
ia sudah menguasai ilmu-ilmu Islam secara mendalam dan
mempraktekkannya secara konsisten. Dengan segera pula ia
menjadi orator ulung, sebagai "singa podium." Ia mencapai
popularitas yang cukup luas sebagai salah seorang ulama di
Aceh. Karena itu, beliau mendapat gelar "Teungku di
Beureueh" yang kemudian orang tidak sering lagi menyebut
nama asli beliau, tetapi nama kampungnya saja. Ketenaran
seorang tokoh di Aceh senantiasa melekat pada kharisma
kampungnya. Kampung adalah sebuah entitas politik yang
pengaruhnya ditandai dengan tokoh-tokoh perlawanan. Dari
kenyataan ini, seorang yang terlahir dari sebuah entitas
resisten, tidak akan pernah berhenti melawan sebelum
cita-cita tercapai. Kendatipun pihak lawan menggunakan
segala daya dan upaya untuk membungkam perlawanan tersebut.

Dari PUSA Menuju Darul Islam

Untuk membungkam dan memadamkan perlawanan Muslim Aceh,


Belanda, atas saran Snouk Hourgronje, melakukan pengaburan
konsep tauhid dan jihad. Belanda membuat aturan pelarangan
berdirinya organisasi-organisasi politik Islam. Restriksi
ini membuat para ulama di Aceh berang dan ingin mengadakan
pembaruan perjuangan melawan penjajah Belanda. Maka atas
inisiatif beberapa ulama yang dipelopori oleh Teungku
Abdurrahman, dibentuk sebuah organisasi yang bernama PUSA
(Persatuan Ulama Seluruh Aceh) di Matang Glumpang Dua. Dalam
kongres pembentukannya, dipilihlah Teungku Muhammad Daud
Beureueh sebagai ketua. Aceh adalah negeri sejuta ulama, dan
mengetuai organisasi politik ulama berarti juga secara de
facto menjadi "Bapak Orang-Orang Aceh".

Semenjak itu, Daud Beureuh memegang peranan sangat


penting di dalam pergolakan-pergolakan di Aceh, dalam
mengejar cita-citanya menegakkan keadilan di bumi Allah
dengan dilandasi ajaran syariat Islam. Sehingga, umat Islam
dapat hidup rukun, damai dan sentosa sebagaimana yang dulu
pernah diperbuat oleh raja-raja Islam sebelum mereka.
Menurut catatan Compton, "M Daud Beureueh berbicara tentang
sebuah Negara Islam untuk seluruh Indonesia, dan bukan cuma
untuk Aceh yang merdeka. Ia meyakinkan, kemerdekaan beragama
akan dijamin di negara semacam itu, dengan menekankan contoh
mengenai toleransi besar bagi penganut Kristen dalam
negara-negara Islam di Timur Dekat. Kaum Kristen akan diberi
kebebasan dan dilindungi dalam negara Islam Indonesia,
sedangkan umat Islam tidak dapat merasakan kemerdekaan
sejati kalau mereka tidak hidup dalam sebuah negara yang
didasarkan atas ajaran-ajaran Alquran."

Langkah awal dalam upaya itu adalah mengusir segala jenis


penjajahan yang pernah dipraktekkan Belanda, Jepang, dan
zaman revolusi fisik (1945-1949) pada awal kemerdekaan,
maupun ketika Aceh berada di bawah kekuasaan Orde Lama
Soekarno dan Orde Baru Soeharto. Sejak saat itulah, Teungku
Daud Beureueh diyakini oleh orang-orang sebagai "Bapak Darul
Islam".

Daud Beureueh dikenal luas sebagai Gubernur Militer Aceh


selama tahun-tahun revolusi. Tetapi ketika jabatannya
sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo
dicabut oleh PM Mohammad Natsir, ia hidup tenang-tenang di
desanya --tampaknya seperti pensiun.

Setelah Aceh masuk ke dalam Republik Indonesia Komunis


(RIK) di bawah panji Pancasila, Daud Beureueh diberi jabatan
Gubernur Kehormatan dan diminta menetap di Jakarta sebagai
penasihat di Kementerian Dalam Negeri. Ia tidak menerima
penghormatan ini. Satu-satunya tindakan pentingnya yang
diketahui umum adalah pada saat ia mengetuai Musyawarah
Ulama Medan, April 1951. Setelah musyawarah itu, Daud
Beureueh melakukan tur singkat keliling Aceh, memberikan
ceramah-ceramah provokatif bernada mendukung ide Negara
Islam. Ia kemudian kembali ke desanya, dan --membuat takjub
penduduk Medan yang sudah maju-- membangun sebuah tembok
besar dan masjid sungguhan dengan tangannya sendiri. Daud
Beureueh lebih tampak sebagai pensiunan perwira militer
ketimbang sebagai ahli agama, meskipun ia menyandang gelar
teungku.

Teungku Daud Beureueh adalah "Bapak Orang-Orang Aceh"


yang tetap tegar meski dikecewakan oleh kaum fasiqun di
Jakarta. Dengan postur tubuhnya yang kurus tapi kuat, ia
adalah tipe manusia ideal. Sebagaimana dicatat oleh Compton,
dari bawah pecinya, rambut kelabunya yang dipangkas pendek
kontras dengan wajahnya yang muda dan coklat kemerahan.
Bicaranya lugas, bahkan pernyataannya banyak yang
blak-blakan. Misal: "Saya tanya, apakah pemerintahan seperti
itu mampu mengatasi masalah-masalah Aceh sekarang ini? Ya,
ambillah pengairan sebagai contoh. Pada zaman Iskandar Muda,
dibuat saluran dari sungai yang jauhnya sebelas kilometer
dari sini menuju laut. Daerah Pidie menjadi sangat makmur.
Dibuat pula saluran lain tak jauh dari yang pertama,
keduanya dikerjakan oleh ulama. Beda dengan ulama zaman
sekarang, pemimpin-pemimpin di masa itu tak takut sarung
mereka kena lumpur. Sekarang saluran-saluran itu sudah
rusak, dan hasil panen padi merosot. Sebelum terjadi perang,
Aceh biasa mengekspor beras untuk kebutuhan seluruh wilayah
Mardhatillah Sumatera Timur. Sekarang kita mengimpor beras
dari Burma".
Dalam impiannya, ia melihat sebuah Aceh yang sejahtera di
bawah pimpinan kelompok ulama yang ditampilkan kembali. Di
masa keemasan itu, hanya orang-orang yang benar-benar
berpengetahuan yang dapat menjadi ulama. Sedangkan di zaman
modern ini, hampir setiap orang dengan bermodalkan "taplak
meja dililitkan di leher" bisa mengaku berhak untuk disebut
ulama.

Daud Beureueh bicara dengan gelora dan kesungguhan


tentang perlunya pembaruan. Setelah semua kemungkinan
terbentuknya sistem politik Islam sirna dan janji-janji
Soekarno akan menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam
tidak pernah ditepati, maka jiwa jihad Teungku Daud Beureueh
pun bergolak. Ia kemudian menjadikan Aceh sebagai "Negara
Bagian Aceh-Negara Islam Indonesia" (NBA-NII) dan berjuang
hingga tahun 1964 di gunung-gemunung Tanah Rencong.
Soekarno, meskipun terkenal hebat di mata orang-orang Aceh,
namun karena penipuannya terhadap orang Aceh, nama Soekarno
identik dengan berhala yang harus ditumbangkan.

Compton bisa memahami mengapa orang-orang membandingkan


Daud Beureueh dengan Soekarno yang cemerlang sebagai orator
massa. Seandainya keduanya berpidato di sebuah acara yang
sama, konon Soekarno akan menjadi juara kedua jika
pendengarnya orang Aceh, terutama kalau sang "Singa Aceh"
sudah mulai gusar dan marah.

Sementara ia terus bicara tentang pemerintahan Islam di


Aceh, Compton merasa bahwa aneka kasak-kusuk yang ia bawa
dari Medan menjelang Pemilu 1955 telah sangat
menyesatkannya. Ketika Compton menanyakan apakah sikap ini
tak mengandung semacam kontradiksi, Teungku Daud Beureueh
menandaskan, sebagai sebuah negara demokrasi, Indonesia
harus tunduk pada kehendak-kehendak mayoritas Muslim. Ia
yakin partai-partai Islam akan menang besar dalam sebuah
pemilihan umum.

Daud Beureueh melihat ada tiga kelompok di Indonesia


dewasa ini: kaum komunis yang menginginkan negara
Marxis-ateistik, umat Islam yang menghendaki Negara Islam,
dan golongan nasionalis tertentu yang mau menghidupkan
kembali Hinduisme-Jawa (Negara Pancasila). Ia cemas bahwa
golongan Hindu dan Marxis sedang mengakar, tapi mereka
sendiri khawatir kalau pemilihan umum diadakan, sebab mereka
pasti kalah. Karena alasan ini, menurut Daud Beureueh,
mereka akan berusaha habis-habisan untuk menunda-nunda
pelaksanaan pemilu. Ketika itu Teungku Daud Beureueh masih
berharap dengan Pemilu, namun setelah ia sendiri terjungkal
oleh seorang Perdana Menteri yang merupakan output dari
sistem pemilu, ia kemudian melabuhkan harapan hanya pada
perjuangan fisik. Islam telah dikalahkan secara diplomatis
oleh kemenangan-kemenangan Partai Islam yang tidak memberi
manfaat apapun bagi asersi politik Islam.

Akibat sikapnya ini, Teungku Abu Daud Beureueh kemudian


dilumpuhkan secara sistematis oleh Pemerintah Orde Baru. Ia
kemudian meninggal pada tahun 1987 dalam keadaan buta --buta
yang disengaja oleh Orde Baru-- dan dalam suatu prosesi
pemakaman yang sangat sederhana, tanpa penghormatan yang
layak dari orang-orang Aceh yang sudah terkontaminasi oleh
ide-ide sekuler. R William Liddle yang sempat menghadiri
upacara pemakaman Teungku Daud Beureueh menggambarkan
bagaimana mengenaskannya saat-saat terakhir dan pemakaman
pemimpin Aceh yang terbesar di paruh kedua abad keduapuluh.
"Saya hadir di situ, antara lain, sebagai ilmuwan sosial dan
politik untuk mengamati sebuah kejadian yang bersejarah,
yang mungkin akan melambangkan sesuatu yang lebih besar dan
penting dari upacara pemakaman biasa. Namun, --menurut
penglihatan Liddle sebagai pengamat asing-- dalam
kenyataannya, meninggalnya Teungku Abu Daud Beureueh adalah
"meninggalnya seorang suami dan ayah yang dicintai, seorang
alim yang disegani, dan seorang pemimpin masyarakat sekitar
yang dihormati." Tidak lebih dari itu. Seakan-akan dan
memang inilah kesimpulan Liddle waktu itu bahwa zaman
kepahlawanan Teungku Abu Daud Beureueh telah berlalu, hampir
tanpa bekas. Bersamaan berpulangnya "Bapak Orang-Orang
Aceh", maka Aceh kemudian memasuki babak baru pembangunan
dan modernisasi yang gempita di mana kemaksiatan dan
sekulerisme adalah agama baru yang disambut kalangan
terpelajar perkotaannya secara sangat antusias.

Martin van Bruinessen, "Gerakan sempalan di kalangan umat Islam Indonesia: latar
belakang sosial-budaya" ("Sectarian movements in Indonesian Islam: Social and cultural
background"),
Ulumul Qur'an vol. III no. 1, 1992, 16-27.

Gerakan Sempalan di Kalangan Ummat Islam Indonesia:

Latar Belakang Sosial-Budaya


Martin van Bruinessen

Istilah "gerakan sempalan" beberapa tahun terakhir ini menjadi populer di Indonesia
sebagai sebutan untuk berbagai gerakan atau aliran agama yang dianggap "aneh", alias
menyimpang dari aqidah, ibadah, amalan atau pendirian mayoritas umat. Istilah ini,
agaknya, terjemahan dari kata "sekte" atau "sektarian",[1] kata yang mempunyai berbagai
konotasi negatif, seperti protes terhadap dan pemisahan diri dari mayoritas, sikap
eksklusif, pendirian tegas tetapi kaku, klaim monopoli atas kebenaran, dan fanatisme. Di
Indonesia ada kecenderungan untuk melihat gerakan sempalan terutama sebagai ancaman
terhadap stabilitas dan keamanan dan untuk segera melarangnya. Karena itu, sulit
membedakan gerakan sempalan dengan gerakan terlarang atau gerakan oposisi politik.
Hampir semua aliran, faham dan gerakan yang pernah dicap "sempalan", ternyata
memang telah dilarang atau sekurang-kurangnya diharamkan oleh Majelis Ulama.
Beberapa contoh yang terkenal adalah: Islam Jamaah, Ahmadiyah Qadian, DI/TII,
Mujahidin'nya Warsidi (Lampung), Syi'ah, Baha'i, "Inkarus Sunnah", Darul Arqam
(Malaysia), Jamaah Imran, gerakan Usroh, aliran-aliran tasawwuf berfaham wahdatul
wujud, Tarekat Mufarridiyah, dan gerakan Bantaqiyah (Aceh). Serangkaian aliran dan
kelompok ini, kelihatannya, sangat beranekaragam. Apakah ada kesamaan antara semua
gerakan ini? Dan apa faktor-faktor yang menyebabkan munculnya gerakan-gerakan
tersebut? Tanpa pretensi memberikan jawaban tuntas atas pertanyaan ini, makalah ini
berusaha menyoroti gerakan sempalan dari sudut pandang sosiologi agama.[2]

Gerakan sempalan: ada definisinya?

Berbicara tentang "gerakan sempalan" berarti bertolak dari suatu pengertian tentang
"ortodoksi" atau "mainstream" (aliran induk); karena gerakan sempalan adalah gerakan
yang menyimpang atau memisahkan diri dari ortodoksi yang berlaku. Tanpa tolok ukur
ortodoksi, istilah "sempalan" tidak ada artinya. Untuk menentukan mana yang
"sempalan", kita pertama-tama harus mendefinisikan "mainstream" yang ortodoks.
Dalam kasus ummat Islam Indonesia masa kini, ortodoksi barangkali boleh dianggap
diwakili oleh badan-badan ulama yang berwibawa seperti terutama MUI, kemudian
Majelis Tarjih Muhammadiyah, Syuriah NU, dan sebagainya.
Istilah "gerakan sempalan" memang lazim dipakai, secara normatif, untuk aliran
agama yang oleh lembaga-lembaga tersebut dianggap sesat dan membahayakan. Akan
tetapi, definisi ini menimbulkan berbagai kesulitan untuk kajian selanjutnya. Misalnya,
apakah Ahmadiyah Qadian atau Islam Jamaah baru merupakan gerakan sempalan setelah
ada fatwa yang melarangnya? Atau, meminjam contoh dari negara tetangga, berbagai
aliran agama yang pernah dilarang oleh Jabatan Agama pemerintah pusat Malaysia, tetap
dianggap sah saja oleh Majelis-Majelis Ugama Islam di negara-negara bagiannya.
Bagaimana kita bisa memastikan apakah aliran tersebut termasuk yang sempalan?
Ortodoksi, kelihatannya, adalah sesuatu yang bisa berubah menurut zaman dan tempat,
dan yang "sempalan" pun bersifat kontekstual.

Pengamatan terakhir ini boleh jadi menjengkelkan. Dari sudut pandangan orang
Islam yang "concerned", yang sesat adalah sesat, apakah ada fatwanya atau tidak. Dalam
visi ini, Ahlus Sunnah wal Jama'ah merupakan "mainstream" Islam yang ortodoks, dan
yang menyimpang darinya adalah sempalan dan sesat. Kesulitan dengan visi ini menjadi
jelas kalau kita menengok awal abad ke-20 ini, ketika terjadi konflik besar antara
kalangan Islam modernis dan kalangan "tradisionalis". Dari sudut pandangan ulama
tradisional, yang memang menganggap diri mewakili Ahlus Sunnah wal Jama'ah, kaum
modernis adalah sempalan dan sesat, sedangkan para modernis justeru menuduh
lawannya menyimpang dari jalan yang lurus.

Kalau kita mencari kriteria yang obyektif untuk mendefinisikan dan memahami
gerakan sempalan, kita sebaiknya mengambil jarak dari perdebatan mengenai kebenaran
dan kesesatan. Gerakan sempalan tentu saja juga menganggap diri lebih benar daripada
lawannya; biasanya mereka justeru merasa lebih yakin akan kebenaran faham atau
pendirian mereka. Karena itu, kriteria yang akan saya gunakan adalah kriteria sosiologis,
bukan teologis. Gerakan sempalan yang tipikal adalah kelompok atau gerakan yang
sengaja memisahkan diri dari "mainstream" umat, mereka yang cenderung eksklusif dan
seringkali kritis terhadap para ulama yang mapan.

Dalam pendekatan sosiologis ini, "ortodoksi" dan "sempalan" bukan konsep yang
mutlak dan abadi, namun relatif dan dinamis. Ortodoksi atau mainstream adalah faham
yang dianut mayoritas umat -- atau lebih tepat, mayoritas ulama; dan lebih tepat lagi,
golongan ulama yang dominan. Sebagaimana diketahui, sepanjang sejarah Islam telah
terjadi berbagai pergeseran dalam faham dominan - pergeseran yang tidak lepas dari
situasi politik. Dalam banyak hal, ortodoksi adalah faham yang didukung oleh penguasa,
sedangkan faham yang tidak disetujui dicap sesat; gerakan sempalan seringkali
merupakan penolakan faham dominan dan sekaligus merupakan protes sosial atau
politik.

Faham aqidah Asy'ari, yang sekarang merupakan ortodoksi, pada masa


'Abbasiyah pernah dianggap sesat, ketika ulama Mu'tazili (yang waktu itu didukung oleh
penguasa) merupakan golongan yang dominan. Jadi, faham yang sekarang dipandang
sebagai ortodoksi juga pernah merupakan sejenis "gerakan sempalan". Bahwa akhirnya
faham Asy'ari-lah yang menang, juga tidak lepas dari faktor politik. Kasus ini mungkin
bukan contoh yang terbaik -- golongan Asy'ari tidak dengan sengaja memisahkan diri dari
sebuah "mainstream" yang sudah mapan; faham yang mereka anut berkembang dalam
dialog terus-menerus dengan para lawannya. Contoh yang lebih tepat adalah gerakan
Islam reformis Indonesia pada awal abad ini (seperti Al Irsyad dan Muhammadiyah) yang
dengan tegas menentang "ortodoksi" tradisional yang dianut mayoritas ulama, dan dari
sudut itu merupakan gerakan sempalan. Sejak kapan mereka tidak bisa lagi dianggap
gerakan sempalan dan menjadi bagian dari ortodoksi? Di bawah ini akan dibahas
beberapa faktor yang mungkin berperan dalam proses perkembangan suatu sekte menjadi
denominasi. Untuk sementara, dapat dipastikan bahwa penganut gerakan reformis pada
umumnya tidak berasal dari kalangan sosial yang marginal, namun justru dari orang
Islam kota yang sedang naik posisi ekonomi dan status sosialnya, dan bahwa dalam
perkembangan sejarah telah terjadi proses akomodasi, saling menerima, antara kalangan
reformis dan tradisional.

Apakah di antara "gerakan sempalan" masa kini ada juga yang berpotensi menjadi
"ortodoksi" di masa depan? Tidak satu orang pun yang akan meramal bahwa aliran
seperti Bantaqiyah bisa meraih banyak penganut di Indonesia. Perbandingan antara
gerakan reformis, apalagi madzhab aqidah Asy'ari, dan gerakan sempalan yang disebut di
atas, terasa sangat tidak tepat. Orang Islam pada umumnya merasa (kecuali para penganut
gerakan tersebut, barangkali), bahwa mereka secara fundamental berbeda. Tetapi ... apa
sebetulnya perbedaan ini, selain perasaan orang bahwa yang pertama mengandung
kebenaran, sedangkan yang terakhir adalah sesat? Padahal, aliran tersebut menganggap
dirinya sebagai pihak yang benar, semntara yang lain sesat! Sejauhmana penilaian kita
obyektif dalam hal ini?

Memang di antara gerakan sempalan tadi terdapat aliran yang kelihatannya punya
dasar ilmu agama yang sangat tipis. Penganut aliran itu biasanya juga orang yang
marginal secara sosial dan ekonomi, dan berpendidikan rendah. Tetapi tidak semua
gerakan sempalan demikian. Baik dalam Islam Jama'ah maupun gerakan Syi'ah
Indonesia, malahan juga dalam Ahmadiyah dan gerakan tasawwuf wahdatul wujud
terdapat pemikir yang memiliki pengetahuan agama yang cukup tinggi dan pandai
mempertahankan faham mereka dalam debat. Mereka sanggup menemukan nash untuk
menangkis semua tuduhan kesesatan terhadap mereka, dan tidak pernah kalah dalam
perdebatan dengan ulama yang "ortodoks" -- sekurang-kurangnya dalam pandangan
mereka sendiri dan penganut-penganutnya. Mereka dapat dianggap "sempalan" karena
mereka merupakan minoritas yang secara sengaja memisahkan diri dari mayoritas
ummat. Sebagai fenomena sosial, tidak terlihat perbedaan fundamental antara mereka
dengan, misalnya, Al Irsyad pada masa berdirinya. Dan perlu kita catat bahwa di Iran
pun, Syi'ah berhasil menggantikan Ahlus Sunnah sebagai faham dominan baru kira-kira
lima abad belakangan![3]

Lalu, bagaimana dengan Darul Islam dan gerakan Usroh? Keduanya dapat
dianggap gerakan sempalan juga, baik dalam arti bahwa mereka tidak dibenarkan oleh
lembaga-lembaga agama resmi maupun dalam arti bahwa mereka memisahkan diri dari
mayoritas. Namun saya tidak pernah mendengar kritik mendasar terhadap aqidah dan
ibadah mereka. Yang dianggap sesat oleh mayoritas umat adalah amal politik mereka.
Seandainya pada tahun 1950-an bukan Republik yang menang tetapi Negara Islam
Indonesia'nya Kartosuwiryo, merekalah yang menentukan ortodoksi dan membentuk
"mainstream" Islam. Seandainya itu yang terjadi, tidak mustahil sebagian "mainstream"
Islam sekarang inilah yang mereka anggap sebagai "sempalan".

Klasifikasi gerakan sempalan


Untuk menganalisa fenomena gerakan sempalan secara lebih jernih, mungkin ada
baiknya kalau kita merujuk kepada kajian sosiologi agama yang sudah ada untuk melihat
apakah ada temuan yang relevan untuk situasi Indonesia. Hanya saja, karena sosiologi
agama adalah salah satu disiplin ilmu yang lahir dan dikembangkan di dunia Barat,
sasaran kajiannya lebih sering terdiri dari umat Kristen ketimbang penganut agama-
agama lainnya. Oleh karena, itu belum tentu a priori temuannya benar-benar relevan
untuk dunia Islam. Beberapa konsep dasar yang dipakai barangkali sangat tergantung
pada konteks budaya Barat. Mengingat keterbatasan ini, biarlah kita melihat apa saja
telah ditemukan mengenai muncul dan berkembangnya gerakan sempalan pada waktu
dan tempat yang lain.

Dua sosiolog agama Jerman mempunyai pengaruh besar terhadap studi mengenai
sekte selama abad ini, mereka adalah Max Weber dan Ernst Troeltsch. Weber terkenal
dengan tesisnya mengenai peranan sekte-sekte protestan dalam perkembangan semangat
kapitalisme di Eropa, dan dengan teorinya mengenai kepemimpinan karismatik.
Troeltsch, teman dekat Weber, mengembangkan beberapa ide Weber dalam studinya
mengenai munculnya gerakan sempalan di Eropa pada abad pertengahan.[4] Troeltsch
memulai analisanya dengan membedakan dua jenis wadah um

at beragama yang secara konseptual merupakan dua kubu bertentangan, yaitu tipe gereja
dan tipe sekte. Contoh paling murni dari tipe gereja barangkali adalah Gereja Katolik
abad pertengahan, tetapi setiap ortodoksi (dalam arti sosiologis tadi) yang mapan
mempunyai aspek tipe gereja. Organisasi- organisasi tipe gereja biasanya berusaha
mencakup dan mendominasi seluruh masyarakat dan segala aspek kehidupan. Sebagai
wadah yang established (mapan), mereka cenderung konservatif, formalistik, dan
berkompromi dengan penguasa serta elit politik dan ekonomi. Di dalamnya terdapat
hierarki yang ketat, dan ada golongan ulama yang mengklaim monopoli akan ilmu dan
karamah, orang awam tergantung kepada mereka.

Tipe sekte, sebaliknya, selalu lebih kecil dan hubungan antara sesama anggotanya
biasanya egaliter. Berbeda dengan tipe gereja, keanggotaannya bersifat sukarela: orang
tidak dilahirkan dalam lingkungan sekte, tetapi masuk atas kehendak sendiri. Sekte-sekte
biasanya berpegang lebih keras (atau kaku) kepada prinsip, menuntut ketaatan kepada
nilai moral yang ketat, dan mengambil jarak dari penguasa dan dari kenikmatan material.
Sekte-sekte biasanya mengklaim bahwa ajarannya lebih murni, lebih konsisten dengan
wahyu Ilahi. Mereka cenderung membuat pembedaan tajam antara para penganutnya
yang suci dengan orang luar yang awam dan penuh kekurangan serta dosa. Seringkali,
kata Troeltsch, sekte- sekte muncul pertama-tama di kalangan yang berpendapatan dan
pendidikan rendah, dan baru kemudian meluas ke kalangan lainnya. Mereka sering
cenderung memisahkan diri secara fisik dari masyarakat sekitarnya, dan menolak budaya
dan ilmu pengetahuan sekuler.

Selain sekte, Troeltsch menyoroti suatu jenis gerakan lagi yang muncul sebagai
oposisi terhadap gereja (atau ortodoksi yang lain), yaitu gerakan mistisisme (tasawwuf).
Sementara sekte memisahkan diri dari gereja karena mereka menganggap gereja telah
kehilangan semangat aslinya dan terlalu berkompromi, gerakan- gerakan mistisisme
merupakan reaksi terhadap formalitas dan "kekeringan" gereja. Gerakan mistisisme,
menurut Troeltsch, memusatkan perhatian kepada penghayatan ruhani-individual,
terlepas dari sikapnya terhadap masyarakat sekitar. (Oleh karena itu, Troeltsch juga
memakai istilah "individualisme religius"). Penganutnya bisa saja dari kalangan
establishment, bisa juga dari kalangan yang tak setuju dengan tatanan masyarakat yang
berlaku. Mereka biasanya kurang tertarik kepada ajaran agama yang formal, apalagi
kepada lembaga-lembaga agama (gereja, dan sebagainya). Yang dipentingkan mereka
adalah hubungan langsung antara individu dan Tuhan (atau alam gaib pada umumnya).

Analisa Troeltsch ini berdasarkan pengetahuannya tentang sejarah gereja di Eropa, dan
tidak bisa diterapkan begitu saja atas budaya lain. Organisasi "tipe gereja" tidak terdapat
dalam setiap masyarakat, tetapi tanpa kehadiran suatu gereja pun sekte bisa saja muncul.
Ketika tadi saya bertanya "gerakan sempalan itu menyempal dari apa?", saya sebetulnya
mencari apakah ada sesuatu wadah umat yang punya ciri tipe gereja, dalam terminologi
Troeltsch. Ortodoksi Islam Indonesia seperti diwakili oleh MUI dan sebagainya, tentu
saja tidak sama dengan Gereja Katolik abad pertengahan; ia tidak mempunyai kekuasaan
atas kehidupan pribadi orang seperti gereja.

Situasi di Amerika Serikat masa kini, sebetulnya, sama saja. Hampir-hampir tidak
ada wadah tipe gereja versi Troeltsch, yang begitu dominan terhadap seluruh masyarakat.
Yang ada adalah sejumlah besar gereja-gereja Protestan (sering disebut denominasi),
yang berbeda satu dengan lainnya dalam beberapa detail saja, dan tidak ada di antaranya
yang dominan terhadap yang lain. Denominasi-denominasi Protestan ini mempunyai baik
ciri tipe sekte maupun ciri tipe gereja. Gerakan mistisisme, seperti yang digambarkan
Troeltsch, beberapa dasawarsa terakhir ini sangat berkembang di dunia Barat dengan
mundurnya pengaruh gereja. Para penganutnya seringkali dari kalangan yang relatif
berada dan berpendidikan tinggi, bukan dari lapisan masyarakat yang terbelakang.[5]

Kajian berikut yang sangat berpengaruh adalah studi Richard Niebuhr, sosiolog agama
dari Amerika Serikat, mengenai dinamika sekte dan lahirnya denominasi.[6] Teori yang
diuraikan dalam karya ini sebetulnya agak mirip teori sejarah Ibnu Khaldun. Niebuhr
melihat bahwa banyak sekte, yang pertama-tama lahir sebagai gerakan protes terhadap
konservatisme dan kekakuan gereja (dan seringkali juga terhadap negara), lambat laun
menjadi lebih lunak, mapan, terorganisir rapih dan semakin formalistik. Setelah dua-tiga
generasi, aspek kesukarelaan sudah mulai menghilang, semakin banyak anggota yang
telah lahir dalam lingkungan sekte sendiri. Semua anggota sudah tidak sama lagi, bibit-
bibit hierarki internal telah ditanam, kalangan pendeta- pendeta muncul, yang mulai
mengklaim bahwa orang awam memerlukan jasa mereka. Dengan demikian bekas sekte
itu sudah mulai menjadi semacam gereja sendiri, salah satu di antara sekian banyak
denominasi. Dan lahirlah, sebagai reaksi, gerakan sempalan baru, yang berusaha
menghidupkan semangat asli... dan lambat laun berkembang menjadi denominasi... dan
demikianlah seterusnya.

Teori Niebuhr ini sekarang dianggap terlalu skematis; sekte- sekte tidak selalu
menjadi denominasi. Niebuhr bertolak dari pengamatannya terhadap situasi Amerika
Serikat yang sangat unik; semua gereja di sana memang merupakan denominasi yang
pernah mulai sebagai gerakan sempalan dari denominasi lain. Siklus perkembangan yang
begitu jelas, agaknya, berkaitan dengan kenyataan bahwa masyarakat Amerika Serikat
terdiri dari para immigran, yang telah datang gelombang demi gelombang. Setiap
gelombang pendatang baru menjadi lapisan sosial paling bawah; dengan datangnya
gelombang pendatang berikut, status sosial mereka mulai naik. Pendatang baru yang
miskin seringkali menganut sekte-sekte radikal; dengan kenaikan status mereka sekte itu
lambat laun menghilangkan radikalismenya dan menjadi sebuah denominasi baru.

Tigapuluh tahun sesudah Niebuhr, sosiolog Amerika yang lain, Milton Yinger,
merumuskan kesimpulan dari perdebatan mengenai sekte dan denominasi, bahwa sekte
yang lahir sebagai protes sosial cenderung untuk bertahan sebagai sekte, tetap terpisah
dari mainstream, sedangkan sekte yang lebih menitikberatkan permasalahan moral
pribadi cenderung untuk menjadi denominasi. Itu tentu berkaitan dengan dasar sosial
kedua jenis sekte ini - sekte radikal cenderung untuk merekrut anggotanya dari lapisan
miskin dan tertindas. Dengan demikian hubungan sekte ini dengan negara dan
denominasi yang mapan akan tetap tegang. Jenis sekte yang kedua lebih cenderung untuk
menarik penganut dari kalangan menengah, dan akan lebih mudah berakomodasi dengan,
dan diterima dalam, status quo.[7] Pengamatan ini, agaknya, relevan untuk memahami
perbedaan antara Al Irsyad atau Muhammadiyah di satu sisi dan sebagian besar gerakan
sempalan masa kini di sisi lainnya.

Klasifikasi sekte dalam beberapa jenis dengan sikap dan dinamika masing-masing
dikembangkan lebih lanjut oleh seorang sosiolog Inggeris, Bryan Wilson. Ia berusaha
membuat tipologi yang tidak terlalu tergantung kepada konteks budaya Kristen Barat.
Tipologi ini disusun berdasarkan sikap sekte-sekte terhadap dunia sekitar.[8] Wilson
melukiskan tujuh tipe ideal (model murni) sekte. Sekte-sekte yang nyata biasanya
berbeda daripada tipe-tipe ideal ini, yang hanya merupakan model untuk analisa. Dalam
kenyataannya, suatu sekte bisa mempunyai ciri dari lebih dari satu tipe ideal. Tetapi
hampir semua tipe ideal Wilson terwakili oleh gerakan sempalan yang terdapat di
Indonesia.

Tipe pertama adalah sekte conversionist, yang perhatiannya terutama kepada


perbaikan moral individu. Harapannya agar dunia akan diperbaiki kalau moral individu-
individu diperbaiki, dan kegiatan utama sekte ini adalah usaha untuk meng-convert, men-
tobat-kan orang luar. Contoh tipikal di dunia Barat adalah Bala Keselamatan; di dunia
Islam, gerakan dakwah seperti Tablighi Jamaat mirip tipe sekte ini.
Tipe kedua, sekte revolusioner, sebaliknya mengharapkan perubahan masyarakat
secara radikal, sehingga manusianya menjadi baik. Gerakan messianistik (yang
menunggu atau mempersiapkan kedatangan seorang Messias, Mahdi, Ratu Adil) dan
millenarian (yang mengharapkan meletusnya zaman emas) merupakan contoh tipikal.
Gerakan ini secara implisit merupakan kritik sosial dan politik terhadap status quo, yang
dikaitkan dengan Dajjal, Zaman Edan dan sebagainya. Gerakan messianistik, seperti
diketahui, banyak terjadi di Indonesia pada zaman kolonial -- dan memang ada sarjana
yang menganggap bahwa gerakan jenis ini hanya muncul sebagai reaksi terhadap kontak
antara dua budaya yang tidak seimbang.[9]

Kalau harapan eskatologis tetap tidak terpenuhi, suatu gerakan yang semula
revolusioner akan cenderung untuk tidak lagi bekerja untuk transformasi dunia sekitar
tetapi hanya memusatkan diri kepada kelompoknya sendiri atau keselamatan ruhani
penganutnya sendiri - semacam uzlah kolektif. Mereka mencari kesucian diri sendiri
tanpa mempedulikan masyarakat luas. Wilson menyebut gerakan tipe ini introversionis.
Gerakan Samin di Jawa merupakan kasus tipikal gerakan mesianistik yang telah menjadi
introversionis.

Tipe keempat, yang dinamakan Wilson manipulationist atau gnostic ("ber-


ma'rifat") mirip sekte introversionis dalam hal ketidakpeduliannya terhadap keselamatan
dunia sekitar. Yang membedakan adalah klaim bahwa mereka memiliki ilmu khusus,
yang biasanya dirahasiakan dari orang luar. Untuk menjadi anggota aliran seperti ini,
orang perlu melalui suatu proses inisiasi (tapabrata) yang panjang dan bertahap. Tipe ini
biasanya menerima saja nilai-nilai masyarakat luas dan tidak mempunyai tujuan yang
lain. Klaim mereka hanya bahwa mereka memiliki metode yang lebih baik untuk
mencapai tujuan itu. Theosofie dan Christian Science merupakan dua contoh jenis sekte
ini di dunia Barat. Di Indonesia, ada banyak aliran kebatinan yang barangkali layak
dikelompokkan dalam kategori ini; demikian juga kebanyakan tarekat, yang mempunyai
amalan-amalan khusus dan sistem bai'at.

Tipe lainnya adalah sekte-sekte thaumaturgical, yaitu yang berdasarkan sistem


pengobatan, pengembangan tenaga dalam atau penguasaan atas alam gaib. Pengobatan
secara batin, kekebalan, kesaktian, dan kekuatan "paranormal" lainnya merupakan daya
tarik aliran-aliran jenis ini, dan membuat para anggotanya yakin akan kebenarannya. Di
Indonesia, unsur-unsur thaumaturgical terlihat dalam berbagai aliran kebatinan dan sekte
Islam, seperti Muslimin-Muslimat (di Jawa Barat).

Tipe ke-enam adalah sekte reformis, gerakan yang melihat usaha reformasi sosial
dan/atau amal baik (karitatif) sebagai kewajiban esensial agama. Aqidah dan ibadah tanpa
pekerjaan sosial dianggap tidak cukup. Yang membedakan sekte-sekte ini dari ortodoksi
bukan aqidah atau ibadahnya dalam arti sempit, tetapi penekanannya kepada konsistensi
dengan ajaran agama yang murni (termasuk yang bersifat sosial).

Gerakan utopian, tipe ketujuh, berusaha menciptakan suatu komunitas ideal di


samping, dan sebagai teladan untuk, masyarakat luas. Mereka menolak tatanan
masyarakat yang ada dan menawarkan suatu alternatif, tetapi tidak mempunyai aspirasi
mentransformasi seluruh masyarakat melalui proses revolusi. Tetapi mereka lebih aktivis
daripada sekte introversionis; mereka berdakwah melalui contoh teladan komunitas
mereka. Komunitas utopian mereka seringkali merupakan usaha untuk menghidupkan
kembali komunitas umat yang asli (komunitas Kristen yang pertama, jami'ah Madinah),
dengan segala tatanan sosialnya. Di Indonesia, kelompok Isa Bugis (dulu di Sukabumi,
sekarang di Lampung) merupakan salah satu contohnya, Darul Arqam Malaysia dengan
"Islamic Village"nya di Sungai Penchala adalah contoh yang lain.

Gerakan sempalan Islam di Indonesia dan tipologi sekte

Dalam tipologi sekte di atas ini, Wilson sudah menggambarkan suatu spektrum aliran
agama yang lebih luas daripada spekrum gerakan sempalan Indonesia yang disebut di
atas. Meski demikian, beberapa gerakan di Indonesia agak sulit diletakkan dalam tipologi
ini. Kriteria yang dipakai Wilson adalah sikap sekte terhadap dunia sekitar, namun
terdapat berbagai gerakan di Indonesia yang tidak mempunyai sikap sosial tertentu dan
hanya membedakan diri dari "ortodoksi" dengan ajaran atau amalan yang lain.

Satu tipe terdiri dari aliran-aliran kebatinan atau tarekat dengan ajaran yang
"aneh", yang masih sering muncul di hampir setiap daerah. Sebagian aliran ini memang
mirip sekte gnostic, dengan sistem bai'at, hierarki internal dan inisiasi bertahap dalam
"ilmu" rahasia, sebagian juga memiliki aspek thaumaturgical, dengan menekankan
pengobatan dan kesaktian, tetapi aspek thaumaturgical jarang menjadi intisari aliran
tersebut seperti dalam gerakan pengobatan ruhani di Amerika Serikat.[10] Sebagian besar
tidak mempunyai ciri sosial yang menonjol, tidak ada penolakan terhadap norma-norma
masyarakat luas. Mereka tidak mementingkan aspek sosial dan politik dari ajaran agama,
melainkan kesejahteraan ruhani, ketentraman dan/atau kekuatan gaib individu.
Penganutnya bisa berasal dari hampir semua lapisan masyarakat, tetapi yang banyak
adalah orang yang termarginalisir oleh perubahan sosial dan ekonomi.

Suatu jenis lain terdiri dari gerakan pemurni, yang sangat menonjol dalam sejarah
Islam: gerakan yang mencari inti yang paling asli dari agamanya, dan melawan segala hal
(ajaran maupun amalan) yang dianggap tidak asli. Beberapa gerakan pemurni sekaligus
adalah gerakan reform sosial, seperti Muhammadiyah, tetapi tidak semuanya berusaha
mengubah masyarakat. Gerakan pemurni yang paling tegas di Indonesia, agaknya,
Persatuan Islam (Persis). Dalam konteks ini perlu kita sebut kelompok yang dikenal
dengan nama Inkarus Sunnah, karena mereka juga mengklaim ingin mempertahankan
hanya sumber Islam yang paling asli saja. Seperti diketahui, mereka kurang yakin akan
keasliannya hadits, dan menganggap hanya Qur'an saja sebagai sumber asli. Oleh karena
itu, nama yang mereka sendiri pakai adalah Islam Qur'ani. Namun dalam kasus terakhir
ini, saya tidak yakin apakah mereka layak disebut gerakan sempalan; mereka tidak
cenderung untuk memisahkan diri dari ummat lainnya, dan saya belum jelas apakah
mereka merupakan gerakan terorganisir.

Gerakan Islam Jama'ah alias Darul Hadits juga merupakan suatu kasus yang tidak begitu
mudah digolongkan. Dengan penekanannya kepada hadits (walaupun yang dipakai,
konon, hadits-hadits terpilih saja), gerakan ini mengingatkan kepada gerakan pemurni (ini
mungkin menjelaskan daya tariknya bagi orang berpendidikan modern). Namun beberapa
ciri jelas membedakannya dari gerakan pemurni atau pembaharu dan membuatnya mirip
sekte manipulationist / gnostic. Dari segi organisasi internal, Islam Jama'ah mirip tarekat
atau malahan gerakan militer, dengan bai'at dan pola kepemimpinan yang otoriter dan
sentralistis (amir). Tidak ada penolakan terhadap nilai-nilai masyarakat pada umumnya,
dan tidak ada cita-cita politik atau sosial tertentu. Unsur protes tidak terlihat dalam
gerakan ini; mereka hanya sangat eksklusif dan menghindar dari berhubungan dengan
orang luar. Faktor yang juga perlu disebut adalah kepemimpinan karismatik.[11] Pendiri
dan amir pertama, Nur Hasan Ubaidah, dikenal sebagai ahli ilmu kanuragan dan
kadigdayan yang hebat, dan dalam pandangan orang banyak, itulah yang membuat
penganutnya tertarik dan terikat pada gerakan ini. Penganutnya pada umumnya tidak
berasal dari kalangan bawah tetapi dari kalangan menengah; namun banyak diantara
mereka, agaknya, pernah mengalami krisis moral sebelum masuk gerakan ini.

Dari segi kepemimpinan, gerakan Darul Arqam di Malaysia (yang sekarang juga sudah
mempunyai cabang di Indonesia) sedikit mirip Islam Jama'ah; gerakan ini sangat
tergantung kepada pemimpin karismatik, Ustaz Ashaari Muhammad. Tetapi sikap Darul
Arqam terhadap dunia sekitar sangat berbeda: mereka ingin mengubah masyarakat dan
menawarkan model alternatif, yang dicontohkan dalam "Islamic Village" mereka. Dengan
kata lain, inilah suatu gerakan utopian; melalui dakwah aktif mereka terus
mempropagandakan alternatif mereka. Kegiatan sosialnya terbatas pada kalangan mereka
sendiri; selain usaha konversi (dakwah: memasukkan penganut baru), mereka tidak
banyak berhubungan dengan masyarakat sekitar -- walaupun dalam praktek mereka
masih tergantung pada masyarakat luar untuk pendapatan mereka. Hubungan di dalam
kelompok, antara sesama anggota, hangat dan intensif; kontrol sosial dinatara mereka
juga tinggi. Namun, mereka menjauhkan diri dari ummat lainnya, sehingga sering
dituduh terlalu eksklusif. Di samping sikap utopian ini, Darul Arqam juga merupakan
gerakan messianis; mereka meyakini kedatangan Mahdi dalam waktu sangat dekat, dan
mempersiapkan diri untuk peranan di bawah kepemimpinan Mahdi nanti.[12] Beberapa
tahun terakhir ini aspek messianis ini telah menjadi semakin menonjol; gerakan ini
lambat laun bergeser dari utopian menjadi revolusioner.

Gerakan yang lebih murni aspek utopiannya adalah yang disebut gerakan Usroh di
Indonesia. Saya tidak yakin apakah ini memang suatu gerakan terorganisir, dengan
kepemimpinan dan strategi tertentu. Kesan saya, gerakan ini adalah suatu trend, suatu
pola perkumpulan yang cepat tersebar, tanpa banyak koordinasi antara sesama usroh. Ini
memang suatu gerakan protes politik (walaupun perhatiannya terutama kepada urusan
agama dalam arti sempit, tidak kepada isu- isu politik umum). Namun mereka tidak
berharap mengubah tatanan masyarakat atau sistem politik secara langsung; para usroh
("keluarga") merupakan komunitas yang menganggap diri mereka sebagai alternatif yang
lebih Islami.

Ahmadiyah (Qadian), Baha'i dan Syi'ah tidak lahir dari rahim kalangan umat Islam
Indonesia sendiri, tetapi "diimport" dari luar negeri ketika sudah mapan. Ketiganya
merupakan faham agama yang sudah lama berdiri di negara lain sebelum masuknya ke
Indonesia. Pada masa awalnya, ketiganya mempunyai aspek messianis, namun kemudian
berubah menjadi introversionis, tanpa sama sekali menghilangkan semangat awalnya.
Pemimpin karismatik aslinya (Ghulam Ahmad, Baha'ullah, Duabelas Imam) tetap
merupakan titik fokus penghormatan dan cinta yang luar biasa. Dalam Syi'ah, semangat
revolusioner kadang-kadang tumbuh lagi (seperti terakhir terlihat di Iran sejak 1977), dan
itulah agaknya yang merupakan daya tarik utama faham Syi'ah bagi para pengagumnya di
Indonesia. Sedangkan Ahmadiyah telah menampilkan diri (di India- Pakistan dan juga di
Indonesia) terutama sebagai sekte reformis,[13] yang belakangan menjadi sangat
introversionis dan menghindar dari kegiatan di luar kalangan mereka sendiri. Walaupun
sekte Baha'i juga mempunyai beberapa penganut di Indonesia, mereka rupanya tidak
berasal dari kalangan Islam, sehingga Baha'i di sini tidak dapat dianggap sebagai gerakan
sempalan Islam (seperti halnya di negara aslinya, Iran).

Tiga gerakan ini memain peranan sangat berlainan di Indonesia, dan meraih
penganut dari kalangan yang berbeda. Gerakan Syi'ah adalah yang paling dinamis. Ia
mulai sebagai gerakan protes, baik terhadap situasi politik maupun kepemimpinan ulama
Sunni; pelopornya adalah pengagum revolusi Islam Iran. Kepedulian sosial (perhatian
terhadap mustadl'afin) dan politik ditekankan. Dalam perkembangan berikut, penekanan
kepada dimensi politik Syi'ah semakin dikurangi, dan minat kepada tradisi intelektual
Syi'ah Iran ditingkatkan.[14] Dengan kata lain, gerakan Syi'ah Indonesia sudah bukan
gerakan sempalan revolusioner lagi dan cenderung untuk menjadi introversionis. Tetapi
gerakan ini tetap berdialog dan berdebat dengan golongan Sunni, mereka tidak terisolir.
Di antara semua gerakan sempalan masa kini, hanya gerakan Syi'ah yang agaknya
mempunyai potensi berkembang menjadi suatu denominasi, di samping gerakan pemurni
dan pembaharu yang Sunni.
Gerakan sempalan: gejala krisis atau sesuatu yang wajar saja?

Tinjauan sepintas ini menunjukkan bahwa gerakan sempalan Islam di Indonesia cukup
berbeda satu dengan lainnya. Latar belakang sosial mereka juga berbeda-beda. Tidak
dapat diharapkan bahwa kemunculannya bisa dijelaskan oleh satu dua faktor penyebab
saja. Ada kecenderungan untuk melihat semua gerakan sempalan sebagai suatu gejala
krisis, akibat sampingan proses modernisasi yang berlangsung cepat dan pergeseran nilai.
Tetapi gerakan-gerakan seperti yang telah digambarkan di atas bukanlah fenomena yang
baru. Prototipe gerakan sempalan dalam sejarah Islam adalah kasus Khawarij, yang
terjadi jauh sebelum ada modernisasi. Gerakan messianis juga telah sering terjadi selama
sejarah Islam, di kawasan Timur Tengah maupun Indonesia. Sedangkan tarekat sudah
sering menjadi penggerak atau wadah protes sosial rakyat atau elit lokal antara 1880 dan
1915. Gerakan pemurni yang radikal juga telah sering terjadi, setidak- tidaknya sejak
gerakan Padri.

Timbulnya segala macam sekte dan aliran "mistisisme" juga bukan sesuatu yang
khas untuk negara sedang berkembang. Justeru di negara yang sangat maju, seperti
Amerika Serikat, fenomena ini sangat menonjol. Jadi, hipotesa bahwa gerakan sempalan
di Indonesia timbul sebagai akibat situasi khusus ummat Islam Indonesia masa kini tidak
dapat dibenarkan. Saya mengira juga, bahwa jumlah aliran baru yang muncul setiap tahun
(sekarang) tidak jauh lebih tinggi ketimbang tiga dasawarsa yang lalu.

Yang dipengaruhi oleh iklim sosial, ekonomi dan politik, agaknya, bukan timbulnya
aliran-aliran itu sendiri, tetapi jenis aliran yang banyak menjaring penganut baru. Periode
1880 sampai 1915, misalnya, merupakan masa jaya tarekat di Indonesia; pengaruh dan
jumlah penganutnya berkembang cepat. Gerakan atau aliran agama lainnya tidak begitu
menonjol pada masa itu. Tarekat-tarekat telah menjadi wadah pemberontakan rakyat kecil
terhadap penjajah maupun pamong praja pribumi, tidak karena terdapat sifat revolusioner
pada tarekat itu sendiri, tetapi karena jumlah dan latar belakang sosial penganutnya,
karena struktur organisasinya (vertikal-hierarkis), dan karena aspek "thaumaturgical"nya
(kekebalan, kesaktian).[15]
Pada masa berikutnya, sekitar 1915-1930, semua tarekat mengalami kemerosotan
pengaruh karena berkembangnya organisasi modern Islam bersifat sosial dan politik,
terutama Sarekat Islam. Walaupun SI merupakan organisasi modern dengan pemimpin-
pemimpin berpendidikan barat, cabang-cabang lokalnya ada yang mirip sekte messianis
atau tarekat, khususnya pada masa awalnya. Cokroaminoto kadang-kadang disambut
sebagai ratu adil dan diminta membagikan air suci; ada juga kyai tarekat yang masuk SI
dengan semua penganutnya dan berusaha mempergunakan SI sebagai wajah formal
tarekatnya.[16]

Fenomena yang paling menonjol pada masa itu, bahwa banyak aliran agama
menunjukkan aktivisme politik dan sosial. Namun setelah pemberontakan-pemberontakan
1926 diberantas dan kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda menjadi lebih repressif
(dan setelah pemimpin-pemimpin nasionalis dibuang), muncullah aliran-aliran agama
baru yang introversionis, yaitu yang berpaling dari aktivitas sosial dan politik kepada
penghayatan agama secara individual, dan yang bersifat mistis (sufistik). Dasawarsa
1930an melihat lahirnya berbagai aliran kebatinan yang masih ada sampai sekarang,
seperti Pangestu dan Sumarah, dan juga masuk dan berkembangnya dua tarekat baru,
yaitu Tijaniyah dan Idrisiyah.

Korelasi antara represi politik dengan timbulnya aliran sufistik yang


introversionis terlihat lebih jelas ketika partai Masyumi dibubarkan. Neo-tarekat seperti
Shiddiqiyah, dan juga Islam Jama'ah timbul di kalangan bekas penganut Masyumi di
Jawa Timur. Di daerah lainnya juga cukup banyak kasus bekas aktivis Masyumi yang
masuk aliran mistik. Setelah penumpasan PKI, neo- tarekat Shiddiqiyah dan Wahidiyah,
serta tarekat lama Syattariyah di Jawa Timur, mengalami pertumbuhan pesat dengan
masuknya tidak sedikit orang dari kalangan abangan. Mereka ketika itu ingin, dengan
alasan yang dapat dimengerti, membuktikan identitasnya sebagai Muslim dan sikap non-
politik mereka.[17] Dan pada lima tahun terakhir ini kita menyaksikan bahwa tarekat dan
aliran mistik lainnya berkembang dengan pesat, dalam semua kalangan masyarakat -
suatu fenomena yang agaknya berkaitan erat dengan depolitisasi Islam.[18]

Gerakan sempalan yang "radikal"


Di atas, saya lebih banyak menyebut aliran "introversionis" dan mistik daripada aliran
yang radikal dan aktivis - "sekte" dalam arti sempitnya Troeltsch. Pertama-tama karena
saya lebih mengetahui tentang aliran sufistik itu, tetapi juga karena aliran radikal relatif
jarang terjadi di Indonesia, dan jumlah penganutnya, sejauh penilaian saya, agak kecil.
Yang perlu kita tanyakan, mungkin, bukan kenapa terjadi gerakan sempalan yang radikal
di Indonesia, tetapi kenapa gerakan demikian begitu jarang terjadi (dibandingkan,
misalnya, dengan Amerika Serikat, India ataupun Malaysia).

Dalam beberapa dasawarsa terakhir kita melihat beberapa perubahan dalam


ortodoksi Islam Indonesia, yang dapat ditandai dengan istilah "akomodasi" dan
"depolitisasi". Secara teoretis, kita bisa meramalkan bahwa setiap perubahan dalam
ortodoksi akan menimbulkan beberapa reaksi dalam bentuk gerakan sempalan yang
tujuannya berlawanan dengan perubahan tersebut. Makin dekat ortodoksi kepada
establishment politik dan ekonomis, makin kuat kecenderungan kepada protes sosial
dalam bentuk gerakan sempalan yang radikal, seperti kita bisa lihat dalam sejarah gereja
di Eropa misalnya. Kita juga bisa meramal bahwa penganut gerakan sempalan itu tidak
terutama berasal dari "mainstream" kalangan beragama (katakanlah, yang dibesarkan di
keluarga NU atau keluarga Muhammadiyah, dalam kasus Indonesia), tetapi dari kalangan
yang relatif marginal. Justeru orang yang masih baru berusaha menjalankan ajaran agama
secara utuh, para mukallaf, dan orang berasal dari keluarga yang sekuler atau abangan
yang mencari identitas dirinya dalam Islam. Kalangan "santri", karena mereka lebih dekat
kepada tokoh-tokoh yang "ortodoks", lebih cenderung mengikuti perubahan sikap
ortodoksi. Mereka juga, agaknya, sudah dibudayakan dalam tradisi Sunni, yang selalu
akomodatif. Sedangkan orang "baru" justeru sering cenderung mencari ajaran yang
"murni", sederhana dan tegas, tanpa memperhatikan situasi dan kondisi.

Gejala menonjol dalam beberapa gerakan sempalan yang radikal adalah latar
belakang pendidikan dan pengetahuan agama banyak anggotanya yang relatif rendah,
tetapi diimbangi semangat keagamaan yang tinggi. Sebagian besar mereka, sejauh
pengamatan saya, sangat idealis dan sangat ingin mengabdi kepada agama dan
masyarakat. Mereka adalah orang yang sadar akan kemiskinan dan korupsi, ketidakadilan
dan maksiat di masyarakat sekitarnya; dalam kehidupan pribadi, banyak dari mereka
telah menghadap kesulitan untuk mendapat pendidikan dan pekerjaan yang baik dan
mengalami banyak frustrasi lainnya. Dan mereka yakin bahwa Islam sangat relevan untuk
masalah-masalah sosial ini. Mereka tahu, yang sering dilontarkan tokoh-tokoh Islam,
bahwa Islam tidak membenarkan sekularisme, bahwa agama dan masalah sosial dan
politik tidak dapat dipisahkan. Tetapi mereka kecewa melihat bahwa kebanyakan tokoh-
tokoh tadi senantiasa siap berkompromi dalam menghadapi masalah politik dan sosial.
Para ulama tidak memberi penjelasan yang memuaskan tentang sebab-sebab semua
penyakit sosial tadi, apalagi memberikan jalan keluar yang konkrit dan jelas. Hal-hal
yang diceramahkan dan dikhotbahkan oleh kebanyakan ulama terlalu jauh dari realitas
yang dihadapi generasi muda.

Karena adanya jurang komunikasi antara tokoh-tokoh agama dan kalangan muda
yang frustrasi tetapi idealis ini, tokoh-tokoh tadi tidak mampu menyalurkan aspirasi dan
idealisme mereka ke dalam saluran yang lebih moderat dan produktif. Pemuda-pemuda
radikal, di pihak lain, justeru karena masih dangkalnya pengetahuan agama mereka,
menganggap bahwa seharusnya Islam mempunyai jawaban yang sederhana, jelas dan
kongkrit atas semua permasalahan -- inilah watak khas setiap sekte. Orang yang bilang
bahwa permasalahan tidak sesederhana itu, bahwa dalam sikap Islam juga ada segala
macam pertimbangan, dan bahwa jawaban yang keras dan tegas belum tentu yang paling
benar, dianggap tidak konsisten atau malah mengkhianati agama yang murni. Tidak
mengherankan kalau kritik dan serangan gerakan radikal terhadap ulama "ortodoks"
kadang-kadang lebih keras daripada terhadap para koruptor dan penindas.

Timbulnya pemahaman agama yang radikal di kalangan muda sebetulnya wajar


saja, dan pada sendirinya bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Umat yang hanya terdiri
dari satu ortodoksi yang monolitik berarti sudah kehilangan dinamika dan gairah hidup.
Dalam sejarah gereja di dunia Barat, sekte-sekte radikal sering telah berfungsi sebagai
hati nurani ummat, dan hal demikian juga dapat dilihat dalam sejarah umat Islam.
Gerakan sempalan radikal mendorong ortodoksi untuk setiap saat memikirkan kembali
relevansi ajaran agama dalam masyarakat kontemporer, dan untuk mencari jawaban atas
masalah dan tantangan baru yang terus-menerus bermunculan. Bahaya baru muncul kalau
komunikasi antara ortodoksi dan gerakan sempalan terputus dan kalau mereka
diasingkan. Karena kurangnya pengalaman hidup dan pengetahuan agama, mereka
dengan sangat mudah bisa saja dimanipulir dan/atau diarahkan kepada kegiatan yang
tidak sesuai dengan kepentingan umat.

Gerakan sempalan sebagai pengganti keluarga

Sebagai akibat urbanisasi dan monetarisasi ekonomi, banyak ikatan sosial yang
tradisional semakin longgar atau terputus. Dalam desa tradisional, setiap orang adalah
anggota sebuah komunitas yang cukup intim, dengan kontrol sosial yang ketat tetapi juga
dengan sistem perlindungan dan jaminan sosial. Jaringan keluarga yang luas melibatkan
setiap individu dalam sebuah sistem hak dan kewajiban yang -- sampai batas tertentu --
menjamin kesejahteraannya. Dalam masyarakat kota modern, sebaliknya, setiap orang
berhubungan dengan jauh lebih banyak orang lain, tetapi hubungan ini sangat dangkal
dan tidak mengandung tanggungjawab yang berarti. Komunitas, seperti di desa atau di
keluarga besar, sudah tidak ada lagi, dan kehidupan telah menjadi lebih individualis. Itu
berarti bahwa dari satu segi setiap orang lebih bebas; tetapi dari segi lain, tidak ada lagi
perlindungan yang betul-betul memberikan jaminan. Banyak orang merasa terisolir, dan
merasa bahwa tak ada orang yang betul-betul bisa mereka percayai --- karena sistem
kontrol sosial dengan segala sanksinya sudah tidak ada lagi, dan karena orang lain juga
lebih mengutamakan kepentingan individual masing-masing.

Dalam situasi ini, aliran agama sering bisa memenuhi kekosongan yang telah
terjadi karena menghilangnya komunitas keluarga besar dan desa. Namun untuk dapat
berfungsi sebagai komunitas, aliran ini mestinya cukup kecil jumlah anggotanya,
sehingga mereka bisa saling mengenal. Aspek komunitas dan solidaritas antara sesama
anggota diperkuat lagi kalau aliran ini membedakan diri dengan tajam dari dunia
sekitarnya. Inilah, agaknya, daya tarik aliran yang bersifat eksklusif (yaitu menghindar
dari hubungan dengan umat lainnya) atau gnostic (yang mengklaim punya ajaran khusus
yang tidak dimengerti kaum awam dan menerapkan sistem bai'at).

Dalam penelitian saya di sebuah perkampungan miskin di kota Bandung, saya


sempat mengamati bagaimana berbagai aliran agama mempunyai fungsi psikologis
positif yang sangat nyata. Baik tarekat maupun sekte memenuhi kebutuhan akan
komunitas dan memberi perlindungan sosial dan psikologis kepada anggotanya, sehingga
mereka tidak terisolir lagi. Penganut-penganut aliran ini -- terlepas dari tipe aliran dan
ajarannya - ternyata lebih mampu mempertahankan harga diri dan nilai-nilai moral
daripada orang lain. Dalam berbagai tarekat dan aliran lain, para anggota saling
memanggil "ikhwan", dan itu bukan sebutan simbolis belaka; mereka memang sering
bertindak sebagai saudara sesama anggota. Pergaulan dan komunikasi antara para ikhwan
tidak terbatas pada waktu sembahyang atau berdzikir saja; mereka saling mengunjungi di
rumah dan saling menolong, misalnya, mencari pekerjaan. Di dalam aliran-aliran ini
terdapat kontrol sosial yang kuat dan dorongan kepada konformisme, tetapi juga sistem
tolong-menolong yang menjaminkan keamanan yang dibutuhkan. Walaupun lingkungan
mereka dianggap penuh bahaya, maksiat dan penipuan, kepada sesama ikhwan mereka
bisa saling percaya; di bawah perlindungan tarekat mereka merasa aman dari ancaman
dan tantangan yang mereka alami di dunia sekitar. Ternyata bukan tarekat dan aliran
kebatinan saja, tetapi juga kelompok sangat non-sufistik seperti jamaah Persis (yang
merupakan minoritas kecil di sana dan berpendirian sektarian) mempunyai fungsi yang
sama.[19] Di suatu lingkungan dimana egoisme, sinisme, curiga-mencurigai, iri hati dan
pemerosoton semua nilai semakin berkembang, anggota aliran tadi bisa bertahan dan
hidup lebih aman dan tenang.

Demikian juga halnya mahasiswa (terutama yang berasal dari kota kecil atau
desa) yang hidup di sebuah lingkungan kota yang serba baru dan aneh bagi mereka;
kelompok-kelompok studi agama dan sebagainya memberikan perlindungan dan rasa
aman, dimana mereka bisa merasa "at home". Lebih-lebih kalau kelompok itu bisa
memberikan mereka sebuah kerangka analisa masyarakat sekitarnya dan keyakinan
bahwa mereka sebetulnya sebuah minoritas yang lebih baik, murni dan suci, dan
mempunyai misi menyebarkan kemurnian dan kesuciannya. Perasaan minder, yang sering
dialami mahasiswa berlatarbelakang sederhana ketika berhadapan dengan sebuah
lingkungan yang "canggih", mendapat kompensasi dalam "keluarga" baru mereka.

Beberapa gerakan agama di kampus dapat dilihat sebagai gejala konflik budaya
("Islam yang konsisten" melawan "sekularisme yang bebas nilai") yang tak lepas dari
perbedaan status sosial-ekonomis. Tidak mengherankan kalau di kalangan
pemuda/mahasiswa pernah muncul gerakan sempalan yang bersifat messianis-
revolusioner, yang ingin merombak tatanan masyarakat dan/atau negara (seperti kasus
Jama'ah Imran). Tapi itu tidak berarti bahwa semua anggota gerakan tersebut juga punya
aspirasi revolusioner. Dalam kasus Jama'ah Imran misalnya, saya mempunyai kesan
bahwa sebagian besar pengikutnya, berbeda dengan kelompok intinya, sebetulnya tidak
tertarik kepada aspek revolusioner (atau subversif)nya.[20] Mereka pertama-tama masuk
Jama'ah Imran didorong oleh rasa ingin tahu semata atau karena tertarik kepada ceramah-
ceramahnya yang "pedas"; yang kemudian mengikat mereka adalah aspek komunitasnya.
Aspek komunitas ini diperkuat oleh bai'at dan melalui suasana yang sangat emosional
dalam pengajian, di mana para hadirin sering sampai menangis -- hal yang juga terjadi
dalam banyak tarekat. Jamaah Imran telah menjadi keluarga baru untuk banyak pemuda
dan pemudi, sampai terjadinya kegiatan kekerasan. Peristiwa Cicendo ternyata
menghancurkan suasana keluarga, dan sebagian besar pengikut segera memutuskan
semua hubungan dengan jamaah; yang tinggal hanya kelompok inti yang kecil saja.

Kata penutup

Sejauh yang sempat saya amati, gerakan sempalan Islam di Indonesia biasanya tidak
muncul di tengah-tengah kalangan umat, tetapi di pinggirannya. Sebagiannya mungkin
bisa dilihat sebagai aspek dari proses pengislaman yang sudah mulai berlangsung enam
atau tujuh abad yang lalu dan masih terus berlangsung. Sebagian juga (terutama gerakan
yang "radikal") bisa dilihat sebagai "komentar" terhadap ortodoksi yang telah ada,
dengan usul koreksi terhadap hal-hal yang dianggapnya kurang memadai. Selama dialog
antara ortodoksi dan gerakan sempalan masih bisa berlangsung, fenomena ini mempunyai
fungsi positif. Terputusnya komunikasi dan semakin terasingnya gerakan sempalan tadi
mengandung bahaya. Kalau ortodoksi tidak responsif dan komunikatif lagi dan hanya
bereaksi dengan melarang-larang (atau dengan diam saja), ortodoksi sendiri merupakan
salah satu sebab penyimpangan "ekstrim" ini.

Terlepas dari hubungan ortodoksi dengan umat "pinggiran", aliran-aliran agama


mempunyai suatu fungsi sosial yang cukup penting untuk para penganutnya, yaitu
sebagai pengganti ikatan keluarga dan pemberi perlindungan dan keamanan psikologis-
spiritual. Peran ini tidak dapat dimainkan oleh organisasi agama besar, justeru karena
yang diperlukan adalah hubungan intim dalam sebuah komunitas yang terpisah dari
masyarakat/umat yang luas.

[1]
Istilah ini konon pertama kali dipakai oleh Abdurrahman Wahid sebagai pengganti kata "splinter group",
kata yang tidak mempunyai konotasi khusus aliran agama, tetapi dipakai untuk kelompok kecil yang
memisahkan diri (menyempal) dari partai atau organisasi sosial dan politik. Untuk "splinter group" yang
merupakan aliran agama, kata "sekte" lazim dipakai.

[2]
Artikel ini berdasarkan makalah saya untuk seminar "Gerakan Sempalan di Kalangan Ummat Islam
Indonesia", yang diselenggerakan oleh Yayasan Kajian Komunikasi Dakwah di Jakarta, 11 Februari 1989,
kemudian diperbaiki dengan masukan dari diskusi dengan para peserta program S-2 di IAIN Sunan
Kalijaga (Yogyakarta) yang ikut kuliah saya tentang Sosiologi Agama.

[3]
Seperti diketahui, Syi'ah Itsna'asyariyah sekarang merupakan ortodoksi di Iran. Namun sampai abad ke-
10 hijriyah (abad ke-16 Masehi), mayoritas penduduk Iran masih menganut madzhab Syafi'i. Faham ini
baru menjadi dominan setelah dinasti Safawiyah memproklamirkan Syi'ah sebagai agama resmi negara
dan mendatangkan ulama Syi'i dari Irak Selatan.

[4]
Ernst Troeltsch, The Social Teachings of the Christian Churches. London, 1931 (aslinya diterbitkan
dalam bahasa Jerman pada tahun 1911). Lihat juga pengamatan Weber tentang sekte-sekte protestan di
Amerika Serikat: "Sekte-sekte protestan dan semangat kapitalisme", dalam Taufik Abdullah, editor, Agama,
Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi, Jakarta: LP3ES, 1979, hal. 41-78.

[5]
Pengamatan tajam dan menarik tentang fenomena sekte dan mistisisme di Amerika Serikat masa kini
(dengan analisa yang bertolak dari tipologi Troeltsch) terdapat dalam: Robert Bellah dkk, Habits of the
Heart: Individualism and Commitment in American Life. New York: Harper & Row, 1986, khususnya hal.
243-8.

[6]
H. Richard Niebuhr, The Social Sources of Denominationalism. New York: Holt, 1929.

[7]
Lihat: J. Milton Yinger, Religion, Society and the Individual. New York: MacMillan Co., 1957,
khususnya hal. 147-55.

[8]
Salah satu tulisannya, "Tipologi sekte", telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan dimuat dalam:
Roland Robertson (ed.), Agama: dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis. Jakarta: Rajawali, 1988, hal.
431-462. Sayangnya, terjemahannya mengandung banyak kesalahan sehingga tulisan ini sulit difahami.
Untuk lebih lengkap dan jelas, lihat bukunya Sects and Society (Heinemann / California University Press,
1961).

[9]
Beberapa tulisan Sartono Kartodirdjo merupakan kajian penting tentang gerakan millenarian di
Indonesia, antara lain "Agrarian Radicalism in Java: its Setting and Development", dalam: Claire Holt (ed),
Culture and Politics in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1972, hal. 71-125. Teori umum dan
beberapa kasus penting dibahas dalam: Michael Adas, Prophets of Rebellion: Millenarian Protest
Movements against the European Colonial Order. University of North Carolina Press, 1979 (terjemahan
Indonesia: Ratu Adil: Tokoh dan Gerakan Milenarian Menentang Kolonialisme Eropa. Jakarta: Rajawali
1988).

[10]
Ada pengamatan menarik bahwa beberapa aliran kebatinan pada zaman revolusi mengembangkan
latihan kesaktian (silat dengan tenaga dalam, "ilmu kontak", kekebalan dan sebagainya), yang pada masa
kemudian dianggap terlalu kasar dan digantikan dengan latihan kejiwaan yang lebih halus. Lihat: Paul
Stange, The Sumarah Movement in Javanese Mysticism, Ph.D. thesis, University of Wisconsin, Madison,
1980, bab 5. Berbagai tarekat juga (terutama Qadiriyah) menunjukkan aspek thaumaturgical pada masa
revolusi, yang kemudian ditinggalkan lagi.

[11]
Saya memakai istilah karismatik di sini dalam arti asli kata: baik pemimpin karismatik maupun
pengikutnya percaya bahwa ia dianugerahi karamah atau kesaktian.

[12]
Mereka menganggap almarhum Syeikh Muhammad bin Abdullah Suhaimi (seorang muslim Jawa di
Singapura, mantan guru dari Ustaz Ashaari Muhammad) sebagai Mahdi. Walaupun sudah meninggal dunia,
beliau diharapkan akan datang dalam waktu dekat. Syeikh Suhaimi konon telah bertemu dengan Nabi
dalam keadaan jaga, dan menerima Aurad Muhammadiyah, yang diamalkan Darul Arqam, dari Beliau.
Lihat: Ustaz Hj. Ashaari Muhammad, Aurad Muhammadiyah, Pegangan Darul Arqam. Kuala Lumpur:
Penerangan Al Arqam, 1986; juga: Ustaz Ashaari Muhammad, Inilah pandanganku. Kuala Lumpur:
Penerangan Al Arqam, 1988

[13]
Ahmadiyah pernah memainkan peranan penting dalam proses pengislaman (atau "pen-santri-an") kaum
terdidik di Indonesia pada masa penjajahan. Dalam Jong Islamieten Bond dan Sarekat Islam pengaruhnya
sangat berarti. Baru setelah organisasi modernis lainnya berkembang terus, Ahmadiyah menghilangkan
fungsinya sebagai pelopor reformisme dan rasionalisme dalam Islam. Berkembangnya kritik semakin keras
terhadap faham kenabian Ahmadiyah Qadian bisa dilihat sebagai simptom konsolidasi ortodoksi Islam di
Indonesia.

[14]
Pergeseran ini, antara lain, terlihat dalam urutan terjemahan karya penulis Syi'ah: Ali Syari'ati disusul
oleh Murtadha Muthahhari dan kemudian Baqir Al-Shadr. Khomeini pertama-tama dilihat sebagai
pemimpin revolusi saja, kemudian juga sebagai ahli 'irfan (tasawwuf dan metafisika). Sekarang diskusi-
diskusi lebih sering berkisar sekitar filsafat atau persoalan 'ishmah (apakah para Imam Duabelas ma'shum?)
daripada situasi politik Iran.

[15]
Lihat pengamatan tentang peranan tarekat dalam pemberontakan Banten dalam: Sartono Kartodirdjo,
The Peasant's Revolt of Banten in 1888. The Hague: Nijhoff, 1966.

[16]
Lihat, antara lain, laporan tentang konflik antara kyai tarekat yang memimpin cabang lokal di Madura
dengan pengurus pusat, dalam buku Sarekat Islam Lokal (editor Sartono Kartodirdjo). Jakarta: Arsip
Nasional, 1975. Di Jambi, sebuah aliran kekebalan ("ilmu abang") meniru contoh SI dan menamakan diri
Sarekat Abang, dan kemudian mencoba mengambil over cabang lokal SI. Tentang Cokroaminoto sebagai
"ratu adil", lihat: A.P.E. Korver, Sarekat Islam 1912-1916. Universitas Amsterdam, 1982 (terjemahan
Indonesia: Ratu Adil, Grafiti Pers).

[17]
Untuk pengamatan menarik tentang berkembangnya aliran tersebut, lihat artikel Moeslim Abdurrahman,
"Sufisme di Kediri", dalam Sufisme di Indonesia [Dialog, edisi khusus, Maret 1978], hal. 23-40.

[18]
Suatu fenomena menarik adalah berkembangnya kecenderungan kepada mistisisme di kalangan
menengah di ibukota, seperti dicerminkan dalam majalah Amanah. Mistisisme kelas menengah ini rupanya
jarang terorganisir tetapi bersifat "individualisme religius" (menurut istilah Troeltsch; bandingkan komentar
dalam catatan 5). Majalah tersebut sering menyoroti "pengalaman rohani" tokoh-tokoh terkenal. Rubrik
renungan tasawwuf dalam majalah ini juga cenderung kepada individualisme, dengan menyinggung
hubungan pribadi dengan Tuhan semata, dan sejenisnya.
[19]
Lihat: Martin van Bruinessen, "Duit, jodoh, dukun: Remarks on cultural change among poor migrants to
Bandung", Masyarakat Indonesia XV, 1988, 35-65 (khususnya 55-60).

[20]
Kesan ini berdasarkan percakapan dengan mahasiswa-mahasiswa di Bandung pada tahun 1983, serta
laporan pers tentang pengadilan anggota Jamaah Imran. Di antara buku-buku tentang kasus ini yang telah
terbit, yang paling informatif adalah: Anjar Any, Dari Cicendo ke Meja Hijau: Imran Imam Jamaah. Solo:
CV. Mayasari, 1982. Namun buku ini hanya menceritakan tentang kegiatan kekerasan kelompok inti saja,
tidak banyak tentang pengikut biasa, yang tidak langsung terlibat dalam kegiatan ini.

Darul Sempalan Merakit Ledakan?


Darul Islam diduga terlibat pengeboman. Riwayat gerakan radikal ini memang sarat
gejolak.
SEJUMLAH bom meledak di Jakarta. Sampai kini belum ada pihak yang mengaku
bertanggung jawab. Mendadak sontak muncul nama organisasi Islam radikal yang
disebut-sebut terlibat: tiga faksi garis keras gerakan Darul Islam. Tokoh yang
mengungkap mengaku sebagai juru bicara kelompok dari faksi antikekerasan. Dialah Al-
Chaidar, pria kelahiran Lhokseumawe, Aceh, 32 tahun silam, yang dikenal cukup
produktif menulis pelbagai buku gerakan Islam. Polisi akhirnya meminta keterangan
kontroversial ini Jumat pekan lalu.

Boleh jadi, seperti disebut Chaidar—yang kemudian membuka diri untuk diwawancarai
banyak media massa—faksi radikal itu juga berperan ketika bom meledak di Gereja Petra
di Jakarta Utara dan Sekolah Internasional Australia di Jakarta Selatan, belum lama ini.
Meski tak gampang membuktikannya, toh pernyataan itu bisa sedikit membuka jatidiri
Darul Islam, yang selama ini dikenal getol berjuang di bawah tanah, serba menutup diri,
dan jauh dari publikasi. Bagaimana sesungguhnya riwayat Darul Islam?

Sejarah Darul Islam (DI) memang sarat pergulatan. Ia muncul sebagai buah perpecahan
Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) setelah H.O.S. Cokroaminoto, sang pendiri,
meninggal dunia pada 1934. Salah satunya adalah sayap yang dipimpin Sukarmaji
Marijan Kartosoewirjo. Di tangan tokoh ini, akar DI berkembang pada 1940-an.
Tujuannya satu: membentuk Negara Islam Indonesia (NII) dengan cara apa pun. Karena
pilihan itu, DI sering mengalami konflik, baik dengan negara maupun secara internal
dalam tubuh organisasi.

Perpecahan kian mencolok ketika pada 1949 Kartosoewirjo, sebagai imam tertinggi,
membubarkan Dewan Imamah DI. Dewan yang berisikan elite petinggi ini diganti
menjadi Komandemen Tertinggi. Kartosoewirjo menunjuk dirinya sebagai panglima
tertinggi. Ia membawahkan lima komandan wilayah: tiga di Jawa, satu di Sulawesi
Selatan, dan satunya lagi di Aceh. Perubahan ini memicu konflik antarpemimpin Darul.
Daud Beureueh bersama Abdul Kahar Muzakar memilih berpisah di persimpangan jalan.
Daud, yang menganggap Kartosoewirjo gagal menetapkan prioritas kebijakan di Aceh,
lalu mendirikan NII Aceh. Sedangkan Kahar mendirikan NII Sulawesi Selatan.
Memang ada perbedaan mendasar antara Kahar Muzakar dan Kartosoewirjo. Kahar
menghendaki kerangka negara federal sehingga asas Islam tak perlu diterapkan di seluruh
wilayah negara. Sedangkan Kartosoewirjo memilih negara kesatuan di bawah payung
Islam. "Kahar dan Daud kemudian bergabung dengan PRRI di Sumatra dan Permesta di
Sulawesi Utara," kata Buhari Kahar Muzakar, anak tertua Kahar yang kini Wakil Ketua
Partai Amanat Nasional (PAN) Sul-Sel.

Meski berpisah jalan, ketiganya meneruskan mengangkat kapak perang melawan


Republik untuk mendirikan NII. Tanpa kompromi. Nasib ketiganya berujung sama,
dipatahkan militer Indonesia. Berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa tiga sayap
inilah yang merupakan faksi-faksi utama dalam Darul Islam. Dari ketiganya, hanya Daud
yang selamat dan meninggal karena usia tua. Sedangkan Kartosoewirjo dihukum mati
militer pada 1962. Kahar tak kalah buruk nasibnya. Ia ditembak pasukan Kujang
Batalyon TNI pada 1965.

Sejak itu, Darul praktis kehilangan soko guru. Gerakannya memang masih menyala di
sejumlah tempat, tapi umumnya hanya dipimpin seorang komandan wilayah. Konflik
antarkomandan pun masih terjadi. Di Jawa Barat, misalnya, muncul Adah Djaelani, yang
mengaku sebagai imam. Tapi ia ditolak tokoh NII lainnya, Abdul Fatah Wirananggapati.
Di Sulawesi Selatan juga muncul NII Ali Hate. Namun, putra Kahar lainnya, Abdul Aziz
Kahar, menafikan kelompok ini. "Sejak ayah saya wafat, tak ada lagi NII di Sulawesi
Selatan," kata pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah di Jakarta Timur ini.

Dalam peta yang digambarkan Chaidar, Darul masih ada. Memang tak sesolid dulu dan
mereka terpecah dalam beberapa faksi. Menurut catatan penulis buku Wacana Ideologi
Negara Islam: Studi Harakah Darul Islam dan Moro National Liberation Front itu, kini
setidaknya terdapat 15 faksi yang digolongkan dalam dua kelompok. Kelompok pertama
berorientasi perjuangan secara damai (fillah). Lainnya NII garis keras (sabilillah).

Masuk dalam kelompok pertama adalah Toriqunna, Laskar Fatahillah, Khilafatul


Muslimin, Lembaga Muslim Indonesia (LMI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI),
Kompi Badar, dan Darul Islam. Sedangkan di kelompok keras tercatat faksi Tahmid,
Abdul Fatah, Ali Hate, Mahfud Sidik, Kiai Masduki, Kadar Solihat, Abdullah Sungkar,
dan Adah Jaelani. Dari kelompok kedua inilah, dalam perkiraan Chaidar, aksi kekerasan
di Jakarta dan sejumlah tempat di Indonesia bersumber.

Sejumlah sumber TEMPO membenarkan adanya kelompok sempalan ini. Bekas aktivis
NII yang pernah menjadi tahanan politik akibat pembajakan pesawat Woyla, Umar
Abduh, misalnya, tak membantah bahwa bibit mereka masih ada. Cuma, ia menolak jika
mereka disebut faksi. Sebagai gerakan, NII dianggapnya sudah habis. "Kelompok
sempalan itu cuma punya imam. Anggotanya paling be-berapa orang. Kebanyakan hanya
klaim," ujarnya. Yang pasti, mereka tak mustahil bikin kekerasan.

Prasidono L., Agus Hidayat, Syarief Amir


AWAL PERDEBATAN ISLAM DAN NEGARA DI INDONESIA
By Dedi Syaputra

Wacana tentang makna, penafsiran dan fungsi pancasila telah menjadi perdebatan
sepanjang sejarah perpolitikan Indonesia, setidaknya sejak bangsa ini merdeka,
perdebatan ini selalu menjadi aktual di kalangan akademisi dan politisi Indonesia sampai
saat ini. Apalagi didorong dengan lahirnya beberapa Partai Islam, permintaan
diberlakukannya syariat Islam di Aceh (NAD), munculnya teroris-teroris yang berkedok
Islam, laskar serta organisasi yang bernafaskan Islam kanan, di antaranya Laskar Jihad,
Hizbu Tahrer, Jaringan Islamiyah dan Front Pembela Islam (FPI). Selain itu yang paling
jelas menjadi indikator perlunya kejelasan relasi Islam dan negara dalam kehidupan
berbangsa terlihat pada menguatnya ide-ide pencantuman Syari‘at Islam dalam
amandemen UUD 45 setiap ST MPR hasil pemilu 1999.1

Hal ini juga sering terjadi dalam wacana politik Indonesia di penghujung tahun 1990-an
yang juga sibuk memperdebatkan ideologi dan peristiwa-peristiwa politik yang pernah
terjadi dalam sejarah bangsa ini, di antaranya mengenai hubungan Islam dan negara,
peran ABRI dalam politik, dan bentuk demokrasi yang sesuai dengan negara ini.2 Dalam
tulisan ini penyusun menitikberatkan pada masalah yang pertama yaitu mengenai
hubungan Islam dan negara.

Untuk memperjelas tahap-tahap perjuangan umat Islam Indonesia dalam merespon


perdebatan Islam dan negara. M. Rusli Karim membagi menjadi empat tahap. Tahap
pertama, 1912 hinggga proklamasi kemerdekaan, tahap kedua 1945-1955, tahap ketiga,
1955-1965 dan tahap keempat 1965 sampai sekarang.3 Akan tetapi dalam bab ini
penyusun akan memfokuskan asal-usul lahirnya perdebatan Islam dan negara sepanjang
sejarah perpolitikkan Indonesia secara global.

Perdebatan ini mulai aktual sejak dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebagai upaya persiapan kemerdekaan yang
diharapkan,4 dan telah disetujui oleh pemerintahan Jepang. Hal ini juga dinyatakan
dalam pidato Perdana Menteri Kuniaki Koiso kepada Parlemen Jepang pada tahun 1944
yang menjanjikan kemerdekaan Indonesia dalam “waktu dekat”.5

Akan tetapi kalau kita teliti lebih dalam bahwa persinggungan antara Islam dan negara di
Nusantara ini sudah berlangsung lama sebelum Indonesia merdeka yakni di bawah
tekanan kolonial Belanda dan Jepang, namun demikian untuk melacak isu tentang istilah
negara Islam di Indonesia bukanlah suatu pekerjaan mudah, karena sejauh ini yang
diketahui hanyalah pemimpin-pemimpin Sarekat Islam (SI) seperti Surjopronoto dan Dr.
Sukiman Wirjosandjojo yang telah mewacanakan suatu kekuasaan atau pemerintahan
Islam di akhir tahun 1920-an.6 Saat itu Surjopronoto menggunakan tema een
Islamietsche regeering (Suatu Pemerintahan Islam) sementara Sukiman memakai istilah
een eigen Islamietisch bestuur onder een eigen vlag (Suatu kekuassan Islam di bawah
benderanya sendiri) semua ini digunakan untuk menciptakan kekuasaan Islam di
Indonesia yang substansinya sebagai alat mencapai kemerdekaan.7

Barangkali wacana dan teori tentang Negara Islam ini belum banyak ditulis secara
terperinci oleh pemimpin Islam pada saat itu, sehingga dalam sidang BPUPKI pada 1945
wacana ini terkesan begitu aktual diperdebatkan karena secara resmi peristiwa ini muncul
pertama kalinya dalam panggung politik Indonesia.

Anggota BPUPKI ini terdiri dari berbagai macam kelompok ideologi yang akhirnya
mengalami kesulitan dalam mencari titik temu (Kalimah as-Sawa’) posisi masing-masing
anggota tersebut, di antaranya. Pertama, mereka yang ingin menegakkan demokrasi
konstitusional sekuler. Kedua, mereka yang menganjurkan negara integralistik, dan
ketiga. Yang paling emosional dan konfrontasional adalah mereka yang menginginkan
Islam dijadikan dasar negara.8

Badan penyelidik ini mengadakan dua kali sidang, pada sidang pertama, dari 29 Mei - 2
Juni 1945 membahas masalah umum, dalam sidang ini Soekarno membuat pidato yang
sangat berpengaruh tentang dasar negara dan kemudian dikenal dengan Lahirnya
Pancasila.9 Sedangkan pada sidang kedua, 10-14 Juni 1945 membahas tentang isi
konstitusi negara yang akan dibentuk.10 Dalam kedua pembahasan sidang ini
menimbulkan perdebatan keras di antara para anggota penyelidik terutama kalangan
Islam yang diwakili Abdoel Kahar Moezakkir dengan cita-cita ideologi Islamnya dan
kalangan nasionalis diwakili oleh Soekarno yang cenderung netral terhadap agama.
Masalah yang sangat krusial dan mengundang perdebatan dalam sidang ini adalah
tentang “peletakkan dasar negara” sebab masalah ini berkaitan dengan integritas agama,
budaya dan bangsa yang plural. Karena khawatir akan kegagalan Badan Penyelidik yang
terus-menerus semakin memanas maka para anggota mengambil iniasiatif dengan
membentuk panitia BPUPKI yang terdiri dari 9 orang.11

Semula anggota BPUPKI ini berjumlah 62 orang, lalu ditambah enam orang yang
kebanyakan berasal dari Jawa dan satu orang lagi dari Jepang yakni Ichibangase yang
menjabat sebagai ketua yunior dan anggota luar biasa, untuk mengamati secara lebih
detail keanggotaan Badan Penyelidik ini maka penyusun paparkan pendapat Prawoto
Mangkusasmito, dari 68 anggota BPUPKI, hanya 15 orang (+ 20%) yang menyuarakan
aspirasi politik Islam yakni berasal dari nasionalisme-Islam, sedangkan 80 %-nya berasal
dari kelompok nasionalis-sekuler.12 Statistik ini menunjukkan betapa tidak seimbangnya
representasi dari masing-masing kelompok itu.

Di antara wakil dari kelompok Islam yaitu; K. H. Mas Mansur, Abdul Kahar Muzakkir,
Ki Bagus Hadikusumo, K.H. Masykur, K.H. A. Wahid Hasyim, Abikusno Cokrosujoso,
H. Agus Salim, Sukiman Wiryosanjoyo, K.H. A. Sanusi, dan K.H. Abdul Halim,
sedangkan wakil dari kelompok nasionalis, antara lain, Rajiman Widiodiningrat,
Soekarno, Mohammad Hatta, Prof. Soepomo, Wongsonegoro, Sartono, R. P. Soeroso, Dr.
Buntaran Martoatmojo dan Muhammad Yamin, untuk Ketua dan wakil ketua BPUPKI
dijabat oleh Rajiman Widiodiningrat dan R. P. Soeroso, ini menunjukkan bahwa
kepemimpinan BPUPKI berada di tangan kelompok nasionalis. 13
Akan tetapi karena banyaknya anggota Badan Penyelidik yang malah dikhawatirkan akan
membawa kegagalan Badan Penyelidik itu sendiri (atas perdebatan yang semakin
memanas) maka dibentuklah Panitia Kecil BPUPKI yang hanya terdiri dari 9 orang itu,
yaitu: empat orang dari kalangan Islam (H. Agus salim, K.H. Wahid Hasyim, Abikusno,
dan Abdul Kahar Muzakkir) dan lima orang dari kalangan Naionalis (Soekarno,
Mohammad Hatta, A. A. Maramis, Achmad Subarjo, dan M. Yamin).14

Dalam panitia ini, Islam politik mempunyai kepentingan untuk menjadikan Islam sebagai
dasar negara, sebab menurutnya yang paling banyak berkorban dalam memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia adalah kelompok Islam. Kepentingan tersebut menimbulkan
reaksi keras dari kelompok nasionalis sekuler yang memang secara kuantitatif anggota
mereka dalam badan ini merupakan mayoritas, sebagai jalan tengah akhirnya Jepang
membentuk “Panitia Sembilan” di atas.

Pada tanggal 21 Juni 1945 BPUPKI menyetujui Piagam Jakarta yang rumusan sila
pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan Syari‘at
Islambagi pemeluk-pemeluknya”,15 kesepakatan ini merupakan hasil perjuangan Islam
politik dalam kepentingannya saat itu, akan tetapi umat Islam terpaksa harus kecewa
karena dalam UUD 1945 yang disahkan pada 18 Agustus 1945 itu, ternyata telah
menghapuskan Piagam Jakarta tersebut.16 Ini merupakan kekecewaan Islam politik yang
pertama dalam perjuangan politiknya.

Diterimanya pancasila sebagai asas dan ideologi negara merupakan puncak dari
pertentangan dan sekaligus menunjukkan kekalahan kelompok Islam yang harus
berkompromi dengan kepentingan lain. Umat Islam yang sebelumnya memperjuangkan
ideologi Islam sebagai dasar negara dalam mukadimah UUD 1945 harus mengalah
dengan pancasila. Keinginan keras umat Islam saat itu bisa dimaklumi, selain sebagai
pejuang mayoritas kemerdekaan, pancasila sendiri menyimpan dua faktor yang sangat
debatable. Pertama, tentang kandungan pancasila itu sendiri. Kedua, tentang makna
penting pancasila jika dibanding dengan agama.17

Kompromi politik dalam bentuk Piagam Jakarta rupanya hanya mampu bertahan selama
57 hari, ini dikarenakan pengiring redaksi sila pertama yang mewajibkan umat Islam
menjalankan Syari‘at Islamdirasakan oleh kawasan Timur Indonesia sebagai sikap
diskriminatif terhadap pemeluk agama lain.18 Maka demi persatuan bangsa akhirnya
para pemimpin politik Islam terpaksa menelan kekecewaan cita-cita politiknya pada 18
Agustus 1945 dengan menghilangkan anak kalimat tersebut dari pembukaan UUD 1945.

Peristiwa ini dikenal sebagai sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia)
yang merupakan pengganti dari BPUPKI yang telah dibubarkan. Jumlah anggota PPKI
semula sebanyak 21 orang, kemudian atas usul Soekarno akhirnya ditambah menjadi 27
orang, dan yang menarik dicermati dari total jumlah ini ternyata hanya tiga anggota dari
organisasi Islam, yaitu Ki Bagus Hadikusumo, K.H. Wahid Hasyim dan Kasman
Singodimedjo.19 Betapa ironisnya umat Islam sebagai mayoritas populasi dan penggerak
melawan penjajah di negeri ini hanya diwakili oleh tiga anggota.
Sidang PPKI pada 18 Agustus 1945 bertujuan menetapkan UUD dan memilih presiden
dan wakilnya, kebetulan presiden yang dipilih adalah ketua dan wakil PPKI saat itu yaitu
Soekarno dan Hatta. Secara kultural Soekarno mewakili kultur Jawa sedangkan Hatta dari
kultur Minang/Sumatera, terang saja latar belakang Hatta ini bisa dijadikan pelebur sikap
keras Ki Bagus yang selalu bersekukuh mempertahankan rumusan Piagam Jakarta.
Soekarno sebenarnya sangat kewalahan menghadapi konsistensi Ki Bagus yang tetap
bertahan dengan Piagam tersebut, maka melalui Hatta yang memanfaatkan Teuku
Moehammad Hassan anggota PPKI dari Sumatera berhasil melunakan sikap keras Ki
Bagus dan dalam waktu 15 menit anak kalimat pada sila Ketuhanan itu diganti dengan
Yang Maha Esa.20

Akar perdebatan ini tidak lepas dari letupan pertarungan ideologi saat itu, yaitu
Nasionalis dan Islam.21 Golongan nasionalis adalah kelompok yang berprinsip bahwa
ad-Din wa ad-Daulah (agama dan negara) harus dipisahkan secara tegas dan
proporsional, dengan keyakinan bahwa fungsi agama hanya mengurusi ajaran-ajaran
yang berkaitan dengan kehidupan akhirat dan urusan pribadi saja, Sedangkan negara
memang merupakan masalah politik yang berurusan dengan duniawi.22 Sementara itu
golongan Islam saat itu berprinsip bahwa agama (dalam hal ini Islam) tidak dapat
dipisahkan dari urusan kenegaraan, karena Islam menurut mereka tidak hanya mengatur
hubungan antara manusia dengan Tuhan saja, melainkan juga hubungan sesama manusia,
lingkungan dan alam semesta.23

Indikasi pertarungan ideologi ini bisa dilihat sejak tahun 1920-1930-an dari kasus
retaknya hubungan Sarekat Islam (SI) dengan Partai Nasionalis Indonesia (PNI), kasus
Jawi Hisworo, majalah Timboel, Swara Oemoem dan peristiwa itu perdebatan sengit
antara tokoh Nasionalis-Muslim, seperti Tjokroaminoto, Agus Salim, Ahmad Hassan dan
M. Natsir dengan tokoh-tokoh Nasionalis-sekuler yang diwakili Tjipto Mangunkusumo,
Soekarno dan lain-lain, Polemik inilah yang kemudian berlanjut sampai sekarang. 24

Di sisi lain, konsep “Piagam Madinah” dan praktek pemerintahan Islam pada zaman
Rasulullah, sahabat dan komunitas muslim lainnya juga ikut mempengaruhi lahirnya
perdebatan Islam dan negara di Indonesia, sebab munculnya terma Piagam Jakarta di
Indonesia sedikit banyak terinspirasi dari konsep Piagam Madinah yang pasti tidak bisa
lepas dari persinggungan wacana politik Islam yang telah berlaku di bangsa Arab itu.
Selain itu praktik pemerintahan Negara Turki yang memisahkan negara dan agama juga
ikut mewarnai perdebatan ini.25

Jadi, untuk memaparkan secara lebih jelas pemikiran politik tokoh Islam dan keterkaitan
mereka dalam memperjuangkan negara berdasarkan Islam di Indonesia, perlu penyusun
bahas secara singkat tentang teori-teori yang diajukan para intelektual muslim.

Secara umum pemikiran politik Muslim bisa diklasifikasikan menjadi tiga teori.26
Pemikiran pertama berpendapat bahwa negara dan agama tidak harus dipisahkan, karena
Islam merupakan agama yang integral dan komprehensif dalam mengatur kehidupan baik
urusan duniawi maupun ukhrawi, oleh sebab itu menurut pandangan ini konstitusi negara
harus didasarkan pada Islam. Tokoh teori ini antara lain , Abu A’la Maududi27 (1903-
1979) dari Pakistan yang memimpin Jamiy‘ah al-Isla>m, Sayyid Qutb28 (1906-1966)
dan para ideolog lain Ikhwan al-Muslimin29 dari Mesir. Baik Jam‘iyah al-Islam maupun
Ikhwan al-Muslimin dikenal sebagai gerakan Fundamentalis di Iran, Pakistan dan Saudi
Arabia, hal ini bisa dilihat dari jargon politiknya bahwa ad-Din wa ad-Daulah (agama dan
Negara) tidak bisa dipisahkan.30 Pandangan komprehensif ini dikutip dari nash al-
Qur’an31:

(٢٠٨: ‫ياأيهاالذ ين أمنوا ادخلوا فىالسلم كآّفة ول تتبعوا خطوات الشيطـن إنّه لكم عد ّو مّبين!)البقرة‬.

Menurut teori yang kedua, agama dan negara harus dipisahkan, urusan agama sebatas
pada urusan pibadi dan ukhrawi tidak perlu mencampuri urusan politik. Oleh sebab itu
konstitusi negara dalam pandangan ini tidak harus didasarkan pada Islam, namun pada
nilai sekuler, contoh konkret teori ini adalah negara Turki Modern. Teori ketiga, sepakat
dengan adanya pemisahan antara agama dan negara dalam arti konstitusi negara tidak
harus didasarkan Islam, akan tetapi nilai agama harus menjadi ruh kehidupan masyarakat
bernegara, 32

Ketiga teori ini mewakili pilihan-pillihan yang dapat menentukan karakteristik struktur
sosial dan politik negara-negara muslim dunia dalam menghadapi tantangan modernitas.
Terutama teori pertama ini sangat kuat mewarnai pemikiran politik muslim Indonesia
tahun 1940-an dan 1950-an, karena dalam sidang BPUPKI 1945 maupun konstituante
(1956-1959) para pemimpin muslim berjuang keras agar Islam dijadikan dasar negara.33
Selain itu tidak ada indikasi yang tampak bahwa pemikiran politik nasionalis-muslim
Indonesia saat itu, dipengaruhi oleh Kemal Attaturk ataupun Ali Abd al-Raziq (1888-
1966) yang berpendapat bahwa Nabi tidak pernah berupaya membangun sebuah negara,
beliau hanyalah seorang utusan yang dikirim oleh Tuhan semata.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, konflik ideologi antara kaum


nasionalis-sekuler dan nasionalis-muslim bisa diperkirakan sejak menjelang kemerdekaan
(Sidang BPUPKI). Melengkapi data sebelumnya, pada tanggal 31-Mei 1945 Soepomo
lebih mendukung gagasan Hatta yang mengusulkan bentuk Indonesia sebagai negara
kesatuan daripada keinginan umat Islam dalam meletakkan dasar negara , yakni
memisahkan negara dari persoalan agama.34

Menurut Soepomo sendiri, jika negara Islam diciptakan di Indonesia maka sudah pasti
persoalan minoritas, persoalan kelompok-kelompok kecil agama dan yang lainnya akan
muncul. Meskipun Islam menjamin kelompok agama lain sebaik mungkin, kelompok
kecil ini tidak akan merasakan keterlibatannya dalam negara, karena cita-cita negara
Islam tidak sesuai dengan cita-cita negara kesatuan yang diharapkan bersama.35

Pada tahun 1953 Soekarno juga mengungkapkan kekhawatirannya secara terbuka tentang
implikasi-implikasi negatif yang muncul, apabila umat Islam Indonesia tetap
memaksakan kehendaknya (negara Islam), yakni pengakuan Islam secara legal formal di
negara ini.36 Dengan mengingat kekhawatiran yang diungkapkan Hatta pada tahun 1945,
Soekarno mengatakan bahwa ia cemas, kalau banyak bagian negara Republik Indonesia
memisahkan diri, atau negara bekas jajahan Hindia Belanda seperti Irian Barat juga tidak
ikut menggabungkan diri dengan Indonesia yang ber-ruh Islami ini.37

Melihat keberatan kelompok nasionalis-muslim terhadap Negara Sekuler mengharuskan


kita meninjau kembali sejarah Islam yang menyatukan pemahaman antara agama (di>n)
dan negara (daulah). Istilah “negara” dalam bahasa Indonesia mempunyai arti; pertama,
organisasi di suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati
oleh rakyat. Kedua, kelompok sosial yang menduduki wilayah atau daerah tertentu yang
diorganisasi di bawah lembaga politik dan pemerintahan yang efektif, mempunyai
kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya.38

Dalam Bab ini penyusun merasa perlu mengkaji pula istilah-istilah dalam kajian politik
Islam seperti daulah, khalifah, imamah dan kesultanan yang seringkali dikonotasikan
dengan istilah negara. Di samping itu teori-teori tersebut paling tidak ikut mempengaruhi
pemikiran politik Islam di Indonesia.

a.Daulah.

Istilah daulah berasal dari bahasa Arab yang bermakna bergilir, beredar dan berputar
(rotate, alernate, take turns or Occur priodically).39 menurut Olaf Schuman istilah
“daulah” sama dengan “dinasti atau wangsa” yang berarti sistem kekuasaan yang
berpuncak pada seorang pribadi dan didukung oleh keluarganya atau clanya.40 Jadi
dalam konteks sekarang istilah tersebut bisa diartikan negara, selain itu Paham ini juga
erat dengan paham Da>r al-Islamyang bermakna bahwa kekuasaan tertinggi terletak di
tangan seorang penguasa muslim yang memberlakukan Hukum Islam sebagai hukum
utama di dalam wilayahnya.41

Menurut sejarah istilah ini pertama kali digunakan dalam politik Islam ketika masa
kemenangan kekhalifahan dinasti Abbasiyyah pada pertengahan abad delapan.42 Kalau
memang istilah ini pernah ada, berarti masa itu terdapat pada daullah Umayyah yang
kemudian begilir pada keluarga Bani Abbas (Daulah Abbasiyyah).43

b.Khilafah.

Istilah “Khilafah” berasal dari bahasa arab yang bermakna perwakilan atau pergantian.
Dalam perspektif politik sunni, khilafah didasarkan pada dua rukun, yaitu: konsensus elit
politik (ijma‘) dan pemberian legitimasi (Bay‘ah).44 Oleh sebab itu sudah menjadi hal
yang lazim dalam pemilihan pemimpin Islam bahwa pemilihan pemimpin ditetapkan oleh
elit politik melalu ijma‘ kemudian baru di Bay‘ah , menurut Harun Nasution sistem ini
menyerupai dengan sistem republik daripada sistem kerajaan, karena pemimpin dalam
hal ini dipilih bukan merupakan sistem monarkhi yang bersifat turun-temurun.45

Sistem khilafah ini pertama kali digunakan dalam politik Islam setelah Nabi Muhammad
wafat, yaitu pada masa khalifah Abu Bakar, dalam pidato inagurasinya Abu Bakar
menyatakan dirinya sebagai Khalifah Rasul Allah dalam artian sebagai “Pengganti
Rasulullah” yang bertugas meneruskan misi-misinya.46 Sedangkan menurut Bernard
Lewis istilah khalifah muncul pertama kali pada masa pra-Islam abad ke-6 Masehi dalam
suatu prasasti Islam di Arabia.47

c.Imamah.

Selain kedua istilah di atas, “imamah” dalam kajian Islam juga sering digunakan sebagai
teori yang menyerupai makna negara. Menurut Mawardi, imam bisa dimaknai khalifah,
raja, sultan atau kepala negara, dengan demikian menurut Munawir Sjadzali, Mawardi
memberikan ruang bagi agama suatu jabatan politik yaitu kepala negara.48 Sementara
menurut Taqiyuddin an-Nabhani, imamah dan khilafah merupakan dua istilah yang sama
maknanya, karena khilafah adalah suatu kepemimpinan yang berlaku secara umum bagi
seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syari’at dan
mensyiarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.49

Pada dasarnya teori imamah lebih banyak berkembang di aliran syi’ah daripada aliran
sunni, dalam aliran Syi’ah Imama>h menekankan dua rukun, yaitu kekuasaan imam
(wilayah) dan kesucian Imam (‘ismah).50

d.Kesultanan.

Adapun istilah kesultanan seringkali diartikan kekuasaan dalam kitab al-Qur’an, menurut
Lewis ada seorang penulis dari kelompok scribal, Abd Hamid, yang hidup pada awal
abad kedelapan, secara umum menggunakan istilah sultan untuk pemerintah.51

Dari uraian di atas, tampak bahwa istilah negara dalam Islam memiliki beberapa sinonim
di antaranya Daulah, Khilafah, Ima>mah dan S{ult}aniyyah, oleh sebab itu merupakan
hal yang lazim kalau wacana Negara Islam selalu hangat untuk diperdebatkan, karena
secara de facto ternyata Islam mempraktekkan beberapa istilah yang bersinonom dengan
konsep negara, sedangkan secara konseptual atau de jure Islam memang tidak mengenal
konsep negara yang detail. Namun demikian patut diteliti apakah teori-teori tersebut
untuk konteks modern saat ini bisa dikategorikan sebuah konsep negara.

Mengingat wacana negara Islam di Indonesia selalu menjadi perdebatan panjang dalam
sejarah didirikannya negara ini, sejak pra-kemerdekaan sampai sekarang. Patut dicari apa
sebenarnya yang membuat tokoh muslim berkeinginan keras meletakkan Islam sebagai
dasar negara Indonesia? Salah satu jawaban atas pertanyaan ini, yaitu karena mereka
bertujuan menerapkan Syari‘at secara efektif di seluruh penjuru wilayah negara, M.
Natsir salah satu tokoh Islam yang kontra dengan gagasan Soekarno mengklaim bahwa
kemerdekaan Indonesia merupakan salah satu cita-cita Islam oleh sebab itu pencapaian
kemerdekaan Indonesia merupakan bagian integral dari perjuangan Islam untuk
menerapkan Syari‘at.52

Tampaknya klaim ini didasarkan pada kenyataan saat itu, bahwa umat Islam Indonesia
sebagai kelompok mayoritas mempunyai peran yang sangat besar dalam
memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Untuk mendukung opini ini bisa dilihat dari
semangat jihad Islam yang terukir dalam sejarah tanah air ini, seperti Sultan Babullah
dari Ternate, Sultan Hasanuddin dari Makassar, Pangeran Diponegoro (pemimpin Perang
Diponegoro 1825-1830, Imam Bonjol (pemimpin Perang Padri 1921-1937), Teuku Umar,
Tjut Nya’Dien dan Tengku Tjhik di Tiro (pemimpin Perang Aceh tahun 1872-1912).53 Di
samping itu terdapat juga ulama-ulama Jawa, salah satunya Syekh Hayim Asy’ari yang
terkenal dengan “Resolusi Jihadnya”.

Selain alasan di atas, kekecewaan umat Islam atas dihapuskannya “Piagam Jakarta” bisa
juga dipahami melalui berbagai organisasi kultural dan ekonomis Islam yang telah
didirikan jauh sebelum Indonesia merdeka, apalagi organisasi tersebut banyak memberi
konstribusi dalam kemerdekaan ini, misalnya Sarekat Islam (didirikan tahun 1912),
gerakan Modernis Muhammadiyah (yang juga didirikan tahun 1912, dan organisasi
Tradisionalis NU (didirikan 1926).54 Menurut hemat penyusun organisasi ini merupakan
alat konsolidasi yang sangat efektif saat itu.

Meski dalam kenyataanya umat Islam merupakan mayoritas dalam bangsa ini dan
organisasi Islam memainkan peran penting pada masa kemerdekaan, menurut Fred von
den Mehden “Indonesia sebagai satu bangsa Islam tidak seluruhnya sepakat dengan apa
yang harus dilakukan sebagai pemeluk Islam”.55 Hal ini mungkin disebabkan karena
adanya perbedaan penafsiran dan praktik agama yang dikerjakan, sebagaimana yang
dinyatakan Cliford Geertz bahwa rakyat Indonesia terbagi menjadi tiga aliran atau
trikotomi, yaitu Priyayi, Santri dan Abangan.56

Perbedaan relegius dan politik dalam komunitas Muslim tampak jelas dalam wacana
pancasila, Seperti halnya yang penyusun bahas di atas. Dengan demikian suatu dinamika
“Islam versus Pancasila” telah mempengaruhi sebagian besar perdebatan dan wacana
pemikiran politik Indonesia sepanjang tahun 1980-an sampai 1990-an.57 Sebagaimana
yang akan dibahas dalam bab-bab berikut, dinamika ini memiliki implikasi-implikasi
penting bagi perpolitikan nasional.

Dalam catatan sejarah, tuntutan-tuntutan Islam politik atas negara sangat tampak dalam
pemberontakkan Darul Islam melawan Pemerintahan Pusat antara tahun 1948-1962.58
Akibat serangan pemberontakan ini, bentuk konkret ancaman “ekstrem kanan” (istilah
yang secara resmi dipakai untuk menunjuk fundamentalisme Islam di era Orde Baru)
semakin jelas. Djohan Effendi menambahkan bahwa Darul Islam mempertinggi
kecurigaan militer bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara partai-partai Islam dengan
pemberontak Darul Islam. Satu-satunya perbedaan, menurut pihak militer adalah bahwa
yang pertama memperjuangkan negara Islam dengan jalan legal, sedangkan yang kedua
dengan kekuatan illegal.59

Deliar Noer, tidak sepakat dengan cara pandang militer ini, baginya cita-cita partai Islam
ini dilakukan secara demokratis. Jadi tentu berbeda dengan gerakan Darul Islam yang
dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo, gerakan ini menggunakan kekerasan dan
mementingkan simbol-simbol, seperti nama Darul Islam, istilah Imam untuk Kepala
negara dan lain sebagainya, Sedangkan partai Islam lebih pada substansi tujuan. Dalam
kasus ini gerakan Kartosuwiryo tidak berkesempatan mengembangkan pemikiran
substansi tujuannya karena terburu menggunakan kekerasan.60 Peristiwa ini sedikit
banyak menumbuhkan citra negatif pada sebagian kalangan bangsa kita dalam merespon
hubungan Islam dan negara, yang kemudian berdampak negatif pula terhadap cita-cita
dan perjuangan partai-partai Islam selama ini.

Dan saat itu, citra negatif ini digunakan untuk mendeskriditkan kedudukan partai
Masyumi61 dan umat Islam secara umum. Padahal dalam kasus DI ini secara perlahan-
lahan juga ditunggangi oleh golongan yang tidak bersimpati terhadap RI, di antaranya
orang-orang Belanda seperti Jungschlager, Schmidt, dan Van Kleef. Selain itu masalah
pemberontakan PRRI/Permesta (1958-1961) juga sering dihubungkan dengan cita-cita
Islam sehingga membuat partai Masyumi dibubarkan (tahun 1960), walupun banyak
orang Kristen yang terlibat di dalamnya karena tokoh-tokoh cabang Parkindo dan
komandan daerah yang beragama Kristen jelas-jelas menyokong pemberontakan ini.62

Posisi Islam semakin mengkhawatirkan ketika Soekarno membubarkan partai Islam


terbesar, Masyumi, karena dituduh terlibat dalam pemberontakan regional berideologi
Islam. Dalam usaha menyeimbangkan kekuatan-kekuatan ideologis antara Islam,
nasionalisme, dan komunisme Soekarno tidak hanya menganjurkan konsep Pancasila,
melainkan juga sebuah konsep NASAKOM,63 yang akhirnya malah menimbulkan
struktur politis dan ideologis yang labil pada awal tahun 1960-an karena masing-masing
kepentingan politisnya jelas saling berlawanan.64