Anda di halaman 1dari 5

Tanaman katuk (Sauropus androgynus (L.

) Merr) dikenal orang dengan nama katuk (Sunda, Melayu), Babing atau Katukan (Jawa), Simani (Minangkabau) dan Kerakur (Madura) (Afriastini, 1990). Tanaman katuk termasuk divisi Spermatophyta, kelas Angiospermae, sub kelas Dicotyledoneae, ordo Euphorbiales, famili Euphorbiaceae, genus Sauropus androgynus (L.) Merr (Benson, 1957). Katuk berdaun hijau pekat atau hijau tua pada bagian atas dan hijau muda pada bagian bawah. Daun katuk bersirip ganda dengan anak daun yang banyak. Daun berbentuk oblong atau memanjang dengan panjang daun kurang lebih dua kali lebar, panjang daun berkisar antara 2,25-7,5 cm dengan lebar 1,25-3,0 cm. Tinggi pohon katuk 2-3,5 m dan dapat mencapai 3,5 m dengan dahan berkayu, dan berbentuk semak. Bunga katuk merupakan bunga tunggal atau berkelompok tiga, keluar dari ketiak daun atau diantara daun satu dengan daun lainnya. Bunga katuk termasuk bunga sempurna mempunyai helaian kelopak berbentuk bulat telur sungsang atau bulat, terdapat warna merah gelap atau merah dengan bintik-bintik kuning ditengahnya, lebar 3-3,5 mm, tinggi putik lebih kurang 0,75 mm, lebar lebih kurang 1,75 mm. Cabang dari tangkai bunga berwarna merah, tepi kelopak bunga berombak atau berkuncup enam. Tanaman katuk dapat berbunga sepanjang tahun (Sastroamidjojo, 1988). Manfaat Daun Katuk Tanaman katuk banyak dijadikan tanaman pagar kebun. Daun katuk dimanfaatkan masyarakat sebagai sayuran yang sangat digemari dan dianjurkan untuk dimakan oleh ibu-ibu yang sedang menyusui, ini merupakan resep yang diwariskan secara turun-temurun. Daun katuk berkhasiat sebagai laktogogum yaitu dapat meningkatkan produksi dan kualitas air susu ibu (ASI). Masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Barat memanfaatkan daun katuk sebagai sayuran yang dapat digunakan sebagai penyegar bagi orang yang sembuh dari sakit (Soeseno, 1984). Air perasan daun katuk dapat digunakan sebagai pewarna makanan, antara lain kue kelepon, tape ketan, dan kue bugis. Pemberian warna pada produk makanan akan meningkatkan palatabilitas sehingga menyebabkan timbulnya nafsu makan dan pewarna makanan yang berasal dari alam dipercayai lebih aman dibandingkan dengan bahan kimia (Yuliani et al., 1997). Akar katuk yang sudah ditumbuk kemudian direbus dapat melancarkan air kencing, menurunkan panas badan orang demam, dan dapat mengobati penyakit darah tinggi (Soedirdjoatmodjo, 1986). Djojosoebagio (1965), menyatakan bahwa pemberian ekstrak daun katuk 10% mempengaruhi fungsi fisiologis yang berbeda pada tiap organ. Beliau menyimpulkan bahwa daun katuk mampu meningkatkan air susu kelinci percobaan dan menduga bahwa daun katuk mengandung senyawa aktif yang bekerja pada otot polos yang aktivitasnya menyerupai oksitosin. Prajonggo et al. (1983), menduga adanya kandungan sterol dalam tanaman ini mempunyai peranan untuk meningkatkan produksi air susu ibu (ASI) secara hormonal, karena beberapa tanaman yang mengandung sterol bersifat estrogenik. Tanaman estrogenik adalah tanaman yang dapat menggertak produksi estrogen tubuh sehingga terjadi peningkatan kadarnya dalam darah. Menurut Sadi (1983), ketika kecukupan protein dan gizi lainnya pada bayi yang berasal dari ASI mengalami penurunan maka katuk dapat digunakan sebagai makanan tambahan bagi bayi. Makanan tambahan tersebut, dibuat dalam bentuk roti yang telah ditambah tepung katuk. Fungsi makanan tambahan tersebut adalah untuk

melengkapi kecukupan energi, protein, vitamin dan mineral, terutama sebagai sumber karoten. Daun katuk dapat juga dibuat minuman, yaitu jus katuk yang berfungsi sebagai penyembuh sakit mata. Hal ini berkaitan dengan kandungan vitamin A yang tinggi. Suprayogi (2000), melaporkan bahwa pemberian sediaan daun katuk kering giling (SAp) peroral dengan dosis 7,44 g/hari selama 35 hari dapat meningkatkan produksi susu domba laktasi sebesar 7,75%, sedangkan pemberian ekstrak alkohol daun katuk (SAx) dengan dosis 1,89 g/hari menunjukkan peningkatan sebesar 0,89%. Menurut Suprayogi (2000), mekanisme senyawa aktif daun katuk dalam sintesis susu dikelenjar sekretori melalui dua jalur. (1) Aksi hormonal, yaitu daun katuk dapat memodulasi hormon-hormon laktogenesis secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung melalui aksi prostaglandin dan hormon steroid, sedangkan secara tidak langsung melalui stimulasi sel-sel kelenjar pituitari untuk melepaskan hormon prolaktin dan oksitosin. (2) Aksi metabolik, yaitu melalui proses hidrolisis senyawasenyawa aktif daun katuk yang kemudian dapat ikut serta dalam metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak. Kandungan Kimia Daun Katuk Daun katuk merupakan salah satu sumber pangan yang berasal dari tumbuhan. Kandungan nutrisi daun katuk cukup tinggi, hal ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI (1981), menyatakan bahwa kandungan zat makanan per 100 g katuk mengandung kalori 59 kal, protein 4,8 g, lemak 1 g, karbohidrat 11 g, kalsium 204 mg, fosfor 83 mg, besi 2,7 mg, vitamin A 10370 IU, vitamin B1 0,1 mg, vitamin C 239 mg, dan air 81 g. Menurut Malik (1997), daun katuk mengandung beberapa senyawa kimia antara lain tanin (catechin), flavonoid, alkaloida, triterpen, asam-asam organik, minyak astiri, saponin, sterol, asam-asam amino, protein, karbohidrat, vitamin dan mineral. Sedangkan ekstrak daun katuk mengandung kadar proteinnya 62% lebih besar dari daun katuk. Pengekstrak terbaik adalah etanol 70% dengan cara maserasi(Andria dkk. 1997) . Bender dan Ismail (1975), menemukan senyawa kimia alkaloid papaverin (PPV) yang diduga mempunyai efek fisiologis dalam tubuh. Kumai et al. (1994), membuktikan bahwa pemberian PPV cenderung mengurangi kecernaan lemak kasar. Hal ini disebabkan oleh suatu efek penghambatan dari PPV terhadap sintesis cairan empedu, sehingga kecernaan lemak kasar menurun. Penelitian Suprayogi (2000), melaporkan bahwa tidak ditemukan komponen papaverin, tetapi diakui adanya suatu komponen lain yang mempunyai efek seperti yang ditimbulkan oleh papaverin (Papaverin-like compound). Suprayogi (2000), melaporkan bahwa dengan analisa KGSM, daun katuk mempunyai tujuh senyawa aktif utama. Senyawa yang terkandung dalam daun katuk tersebut dapat mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh, hal ini dapat dilihat pada Tabel 1. Ketujuh senyawa tersebut bila bekerja bersama-sama maka akan berkhasiat sebagai : Pemacu produksi air susu ibu (ASI) Meningkatkan fungsi pencernaan Meningkatkan pertumbuhan badan Pemicu jumlah darah Mengatasi kelelahan Mengatasi penyakit pembuluh darah dan jantung

Mengatasi gangguan reproduksi pria dan wanita Tabel 1. Tujuh Senyawa Aktif Tanaman Katuk dan Pengaruhnya terhadap Fungsi Fisiologis dalam Jaringan Senyawa Aktif Pengaruhnya pada fungsi fisiologi Octadenoic acid 9-Eicosine 5, 8, 11-Heptadecatrienoic acid methyl ester 9, 12, 15- Octadecatrienoic acid ethyl ester 11, 14, 17 Eicosatrienoic acid methyl ester Androstan-17-one,3-ethyl-3hydroxy-5 alpha Sebagai prekursor dan terlibat dalam biosintesis senyawa Eicosanoids (prostaglandin, lipoxins, thromboxane, prostacycline. leukotrienes).

No . 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Sebagai prekursor atau intermediate-step dalam sintesis senyawa hormon (progesterone, estradiol, testosterone, dan glucocorticoid). Senyawa 1-6 secara bersamaan Memodulasi hormon-hormon laktasi dan laktogenesis serta aktivitas fisiologi yang lain. 7. 3, 4-Dimethyl-2-oxocyclopent-3- Sebagai eksogenus asam asetat dari enylacetatic acid saluran pencernaan dan terlibat dalam metabolisme selular melalui siklus Krebs.
Sumber : Suprayogi (2000)

Penambahan Daun Katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr) dalam Ransum Pengaruhnya terhadap Sifat Reproduksi dan Produksi Air Susu Mencit Putih (Mus musculus albinus). Katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr) merupakan salah satu tanaman dari famili Euphorbiaceae. Tanaman ini dimanfaatkan sebagai sayuran terutama oleh masyarakat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat karena diyakini memiliki khasiat tertentu antara lain dapat menyegarkan dan meningkatkan daya tahan tubuh bagi orang yang baru sembuh dari sakit. Selain itu, daun katuk juga terbukti dapat meningkatkan produksi air susu ibu, memperbaiki fungsi pencernaan dan metabolisme tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa taraf penambahan daun katuk (0, 5 dan 10%) dalam ransum dan waktu pemberiannya yang berbeda terhadap sifat reproduksi dan produksi air susu mencit putih (Mus musculus albinus). Peubah yang diamati dalam penelitian adalah konsumsi ransum, produksi air susu induk (PASI), litter size lahir, bobot lahir, litter size sapih, bobot sapih, pertambahan bobot badan anak (PBBA) selama menyusu dan mortalitas. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang (kandang C), bagian NonRuminansia dan Satwa Harapan (NRSH), Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial 2x3 dengan lima ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Analisis Ragam (ANOVA), Microsoft Excel (2003) dan dilanjutkan dengan uji lanjut Tukeys. Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa taraf katuk dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi ransum. Waktu pemberian berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi ransum, PASI, bobot sapih, dan PBBA. Interaksi antara taraf dan waktu pemberian katuk berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi ransum dan PASI serta nyata (P<0,05) mempengaruhi, bobot sapih, dan PBBA. Katuk dengan taraf 10% dalam ransum yang diberikan mulai hari ke-14 kebuntingan menghasilkan produksi air susu dan PBBA mencit yang paling tinggi. Kata-kata kunci: Sauropus androgynus (L.) Merr, Mus musculus albinus, sifat reproduksi dan produksi air susu

Beberapa penelitian yang telah dilakukan diantaranya Suprayogi (2000), pemberian tepung daun katuk peroral dengan dosis 7,44 g/hari selama 35 hari pada domba laktasi dapat meningkatkan produksi susu sebesar 7,75%. Saroni et al.,(2004). melaporkan pemberian ekstrak daun katuk pada kelompok ibu melahirkan dan menyusui bayinya dengan dosis 900 mg/hari selama 15 hari setelah melahirkan dapat meningkatkan produksi ASI 50,7% dengan tidak menurunkan kualitas air susu (Protein dan Lemak Susu).

Sinaga (2007) melakukan pemberian ekstrak katuk 3 gram/ekor/hari (1000 ppm) pada induk babi laktasi dapat meningkatkan berat sapih (p<0,001).
INDUK Kons 1 4,17 2 3,46 3 4,28 4 4,32 5 2,91 6 4,47 7 3,59 8 4,16 9 3,22 10 3,29 Jml 37,87 Rt2 3,79 TOTAL Tanpa Ekstrak Katuk Dengan Ekstrak Katuk BL BS PBB Mati Kons BL BS PBB Mati 1,29 14,15 0,23 2 4,13 1,59 19,85 0,41 0 1,32 14,90 0,27 1 4,26 1,17 18,04 0,31 0 1,23 15,18 0,31 0 3,71 1,38 16,44 0,23 3 1,34 14,41 0,26 1 4,49 1,41 18,25 0,37 0 1,30 12,99 0,14 6 4,22 1,22 18,65 0,39 0 1,16 12,25 0,18 2 3,7 1,34 18,95 0,35 1 1,15 13,40 0,16 4 3,43 1,49 17,50 0,29 2 1,62 14,41 0,18 5 3,89 1,26 18,34 0,34 0 1,73 14,30 0,28 0 3,51 1,50 18,75 0,13 6 1,36 13,66 0,25 1 3,08 1,35 17,42 0,20 4 13,49 139,64 2,26 22,00 38,42 13,70 182,19 3,02 16,00 1,35 13,96 0,23 2,20 3,84 1,37 18,22 0,30 1,60

Keterangan : Induk : No Induk Kons : Konsumsi harian (kg) BL : Berat Lahir (kg) BS : Berat Sapih (kg) PBB : Pertambahan Bobot Badan Harian (kg) Mati : anak babi mati selama laktasi