Anda di halaman 1dari 17

1.

Pengertian Plasenta merupakan bagian dari kehamilan yang penting, mempunyai bentuk bundar dengan ukuran 15 x 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan beratnya 500 gram. Plasenta merupakan organ yang sangat aktif dan memiliki mekanisme khusus untuk menunjang pertumbuhan dan ketahanan hidup janin. Hal ini termasuk pertukaran gas yang efisien, transport aktif zat-zat energi, toleransi imunologis terhadap imunitas ibu pada alograft dan akuisisi janin. Melihat pentingnya peranan dari plasenta maka bila terjadi kelainan pada plasenta akan menyebabkan kelainan pada janin ataupun mengganggu proses persalinan. Salah satu kelainan pada plasenta adalah kelainan implantasi atau disebut dengan plasenta previa (Manuaba, 2005). Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal) dan oleh karenanya bagian terendah sering kali terkendala memasuki Pintu Atas Panggul (PAP) atau menimbulkan kelainan janin dalam rahim. Pada keadaan normal plasenta umumnya terletak di korpus uteri bagian depan atau belakang agak ke arah fundus uteri (Prawirohardjo, 2008). Selain pengertian diatas Chalik, (2008). Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada bagian segmen bawah rahim, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir yang ditandai dengan perdarahan uterus yang dapat keluar melalui vagina tanpa adanya rasa nyeri pada kehamilan trimester terakhir, khususnya pada bulan kedelapan. 2. Etiologi Menurut Chalik (2008), yang menjadi penyebab implantasinya blastokis pada segman bawah rahim belum diketahui secara pasti. Namun teori lain mengemukakan bahwa yang menjadi salah satu penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai, yang mungkin terjadi karena proses radang maupun atropi.

3. Faktor resiko Menurut Chalik (2008) faktor risiko timbulnya plasenta previa belum diketahui secara pasti namun dari beberapa penelitian dilaporkan bahwa frekuensi plasenta previa tertinggi terjadi pada ibu yang berusia lanjut, multipara, riwayat seksio sesarea dan aborsi sebelumnya serta gaya hidup yang juga dapat mempengaruhi peningkatan resiko timbulnya plasenta previa. Menurut penelitian Wardana (2007) yang menjadi faktor risiko plasenta previa yaitu: 1. Risiko plasenta previa pada wanita dengan umur 35 tahun 2 kali lebih besar dibandingkan dengan umur < 35. 2. Risiko plasenta previa pada multigravida 1,3 kali lebih besar dibandingkan primigravida. 3. Risiko plasenta previa pada wanita dengan riwayat abortus 4 kali lebih besar dibandingkan dengan tanpa riwayat abortus. 4. Riwayat seksio sesaria tidak ditemukan sebagai faktor risiko terjadinya plasenta previa. Menurut Chalik (2008), yang menjadi penyebab implantasinya blastokis pada segman bawah rahim belum diketahui secara pasti. Namun teori lain mengemukakan bahwa yang menjadi salah satu penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai, yang mungkin terjadi karena proses radang maupun atropi. 4. Klasifikasi Menurut Chalik (2008). Ada 4 derajat abnormalitas plasenta previa yang didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu yaitu : a. Placenta Previa Totalis Bila plasenta menutupi seluruh ostium uteri internum pada pembukaan cervix 4 cm. Pada posisi ini, jelas tidak mungkin bayi dilahirkan per-vaginam (normal / spontan / biasa), karena risiko perdarahan sangat hebat. Plasenta previa sentralis yaitu bila tali pusat plasenta berada tepat dengan sentral kanalis servikalis. b. Placenta Previa Partialis Bila hanya sebagian / separuh plasenta yang menutupi ostium uteri internum pada pembukaan cervik 4 cm. Pada posisi ini pun risiko perdarahan masih besar, dan biasanya tetap tidak dilahirkan melalui per-vaginam.

c.

Placenta Previa Marginalis Bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir ostium uteri internum pada pembukaan servik 4 cm. Bisa dilahirkan per-vaginam tetapi risiko perdarahan tetap besar.

d.

Low-lying placenta (plasenta letak rendah, lateralis placenta atau kadang disebut juga dangerous placenta) Posisi plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus, akan tetapi belum sampai menutupi uteri internum. Pinggir plasenta berada kira-kira 3-4 cm di atas pinggir ostium uteri internum, sehinnga tidak teraba pada pembukaan jalan lahir. Risiko perdarahan tetap ada, namun bisa dibilang kecil, dan bisa dilahirkan per-vaginam dengan aman, asal hati-hati.

5. Fatofisiologi - bekas luka operasi pada uterus - kehamilan multiple - kehamilan multipara - tumor endometrium - vaskularisasi fundus vaskularisasi desidua menururn Plasenta previa

Totalis

Partialis

Marginalis

law lying

Bertambahnya usia kehamilan (trimester ke 3) Uterus mengalami perubahan (semakin melebar dan servik mulai membuka) Terjadi pembentukkan segmen bawah Rahim dan pembukaan ostium interna

Plasenta menenpel di segmen bawah Rahim/plasenta lepas dari dinding uterus Sinus uterus robek/rupture Perdarahan Kehilangan cairan dan darah HbO2 dalam darah O2 kejaringan fetus menurun menurun O2 kejaringan menurun
Risiko pertumbuhan janin terhambat/kematia n janin

Resti syok hipovolemik

Metabolisme anaerob Penumpukan asam laktat

Perubahan jaringan plasenta

perpusi utero

Kelelahan

Intoleransi Aktivitas

6. Tanda dan gejala Gambaran klinik plasenta previa adalah sebagai berikut : a) Perdarahan pervaginam Darah berwarna merah terang pada umur kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga merupakan tanda utama plasenta previa. Perdarahan pertama biasanya tidak banyak sehingga tidak akan berakibat fatal, tetapi perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari perdarahan sebelumnya. b) Tanpa alasan dan tanpa nyeri

Kejadian yang paling khas pada plasenta previa adalah perdarahan tanpa nyeri yang biasanya baru terlihat setelah kehamilan mendekati akhir trimester kedua atau sesudahnya. c) Pada ibu, tergantung keadaan umum dan jumlah darah yang hilang, perdarahan yang sedikit demi sedikit atau dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat, dapat menimbulkan anemia sampai syok.
d) Pada janin, turunnya bagian terbawah janin ke dalam Pintu Atas panggul (PAP) akan

terhalang, tidak jarang terjadi kelainan letak janin dalam rahim, dan dapat menimbulkan aspiksia sampai kematian janin dalam rahim (Manuaba, 2005; Murah dkk, 1999).

7. Penatalaksanaan (Sandra, 2001) a) Konservatif bila : 1. Kehamilan kurang 37 minggu. 2. Perdarahan tidak ada atau tidak banyak (Hb masih dalam batas normal).
3. Tempat tinggal pasien dekat dengan rumah sakit (dapat menempuh perjalanan selama 15

menit). Perawatan konservatif berupa : 1. Istirahat 2. Memberikan hematinik dan spasmolitik unntuk mengatasi anemia. 3. Memberikan antibiotik bila ada indikasi. 4. Pemeriksaan USG, Hb, dan hematokrit. Bila selama 3 hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan perawatan konservatif maka lakukan mobilisasi bertahap. Pasien dipulangkan bila tetap tidak ada perdarahan. Bila timbul perdarahan segera bawa ke rumah sakit dan tidak boleh melakukan senggama.

b) Penanganan aktif bila : 1. Perdarahan banyak tanpa memandang usia kehamilan. 2. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih. 3. Anak mati Penanganan aktif berupa : 1. Persalinan per vaginam. 2. Persalinan per abdominal. Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double set up) yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan : 1. Plasenta previa marginalis 2. Plasenta previa letak rendah 3. Plasenta lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang, kepala sudah masuk pintu atas panggul dan tidak ada perdarahan atau hanya sedikit perdarahan maka lakukan amniotomi yang diikuti dengan drips oksitosin pada partus per vaginam bila gagal drips. Bila terjadi perdarahan banyak, lakukan seksio sesar.

c) Penanganan (pasif) 1. Tiap perdarahan triwulan III yang lebih dari show harus segera dikirim ke Rumah sakit tanpa dilakukan suatu manipulasi/UT. 2. Apabila perdarahan sedikit, janin masih hidup, belum inpartus, kehamilan belum cukup 37 minggu/berat badan janin kurang dari 2.500 gram persalinan dapat ditunda dengan istirahat, obat-obatan; spasmolitik, progestin/progesterone, observasi teliti.

3. Siapkan darah untuk transfusi darah, kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya tidak prematur 4. Bila ada anemia; transfusi dan obat-obatan penambah darah. Penatalaksanaan kehamilan yang disertai komplikasi plasenta previa dan janin prematur tetapi tanpa perdarahan aktif, terdiri atas penundaan persalinan dengan menciptakan suasana yang memberikan keamanan sebesar-besarnyabagi ibu maupun janin. Perawatan di rumah sakit yang memungkinkan pengawasan ketat, pengurangan aktivitas fisik, penghindaran setiap manipulasi intravaginal dan tersedianya segera terapi yang tepat, merupakan tindakan yang ideal. Terapi yang diberikan mencangkup infus larutan elektrilit, tranfusi darah, persalinan sesarea dan perawatan neonatus oleh ahlinya sejak saat dilahirkan. Pada penundaan persalinan, salah satu keuntungan yang kadang kala dapat diperoleh meskipun relatif terjadi kemudian dalam kehamilan, adalah migrasi plasenta yang cukup jauh dari serviks, sehingga plasenta previa tidak lagi menjadi permasalahn utama. Arias (1988) melaporkan hasil-hasil yang luar biasa pada cerclage serviks yang dilakukan antara usia kehamilan 24 dan 30 minggu pada pasien perdarahan yang disebabkan oleh plasenta previa. Prosedur yang dapat dilakukan untuk melahirkan janin bisa digolongkan ke dalam dua kategori, yaitu persalinan sesarea atau per vaginam. Logika untuk melahirkan lewat bedah sesarea ada dua :
a) Persalinan segera janin serta plasenta yang memungkinakan uterus untuk

berkontraksi sehingga perdarahan berhenti. b) Persalinan searea akan meniadakan kemungkinan terjadinya laserasi serviks yang merupakan komplikasi serius persalinan per vaginam pada plasenta previa totalis serta parsial.

8. Kemungkinan Data Fokus


a) Wawancara

1. Pengumpulan data a) Identitas klien : nama klien, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku atau bangsa, pendididkan, pekerjaan, dan alamat. b) Identitas Penanggung Jawab Pasien 2. Riwayat Penyakit a) Keluhan utama : Pasien mengatakan perdarahan yang disertai nyeri. Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan karena isi rahim bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta, sehingga rahim tegang. Perdarahan yang berulang-ulang. b) Riwayat penyakit sekarang Darah terlihat merah kehitaman karena membentuk gumpalan darh, darah yang keluar sedikit banyak, terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya biasanya pasien pernah mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat pendek trauma, uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli) dll. c) Riwayat penyakit masa lalu Kemungkinan pasien pernah menderita penyakit hipertensi, tali pusat pendek, trauma, uterus / rahim feulidli. d) Riwayat psikologis Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.
b) Pemeriksaan fisik (head to toe)

a) Keadaan umum
1. Kesadaran 2. Postur tubuh 3. Cara berjalan 4. Raut wajah

: composmetis sampai dengan koma : biasanya gemuk : biasanya lambat dan tergesa-gesa : biasanya pucat

b) Tanda-tanda vital
1. Tensi : normal sampai turun (syok) 2. Nadi : normal sampai meningkat (> 100x / menit) 3. Suhu : normal / meningkat (> 37,5 c) 4. RR : normal / meningkat (> 22x / menit)

c) Anamnesa plasenta previa 1. Terjadi perdarahan pada kehamilan sekitar 28 minggu. 2. Sift perdarahan :
a. Tanpa rasa sakit terjadi secara tiba-tiba

b. Tanpa sebab yang jelas c. Dapat berulang 3. Perdarahan menimbulkan penyulit pada ibu atau janin dalam rahim 4. Pada inspeksi dijumpai a. Perdarahan pervagina encer sampai menggumpal b. Pada perdarahan yang banyak ibu tanpa anemis d) Pemeriksaan fisik ibu 1. Dijumpai keadaan bervariasi dari keadaan normal sampai syok 2. Kesadaran penderita bervariasi dari kesadaran baik sampai koma. 3. Pada pemeriksaan dapat dijumpai : a. Tekanan darah, nadi dan pernafasan dalam batas normal
b. Tekanan darah turun, nadi dan pernafasan meningkat

c. Tanpa anemis e) Pemeriksaan khusus 1. Pemeriksaan palpasi abdomen a) Janin belum cukup bulan, tinggi fundus uteri sesuai dengan umur hamil. b) Karena plasenta di segmen bahwa rahim, maka dapat dijumpai kelainan letak janin dalam rahim dan bagian terendah masih tinggi. 2. Pemeriksaan denyut jantung janin 1. Bervariasi dari normal sampai ke ujung asfiksia dan kematian dalam rahim. 2. Pemeriksaan dalam dilakukan diatas meja operasi dan siap untuk segera mengambil tindakan, Tujuan pemeriksaan dalam untuk :

a. Menegakkan diagnosa pasti b. Mempersiapkan tindakan untuk melakukan operasi persalinan atau hanya memecahkan ketuban. c. Hasil pemeriksaan dalam teraba plasenta sekitar osteum, uteri, internum. c) Pemeriksaan diagnostik 1. USG : biometri janin, indeks cairan amnion, kelainan congenital, letak dan derajat maturasi plasenta. Lokasi plasenta sangat penting karena hal ini berkaitan dengan teknik operasi yang akan dilakukan. 2. Kardiotokografi (KTG) : Kardiotokografi dalam Persalinan adalah suatu metoda elektronik untuk memantau kesejahteraan janin dalam kehamilan dan atau dalam persalinan. Dilakukan pada kehamilan > 28 minggu. 3. Laboratorium : darah perifer lengkap. Bila akan dilakukan PDMO atau operasi, perlu diperiksa faktor waktu pembekuan darah, waktu perdarahan dan gula darah sewaktu. Pemeriksaan lainnya dilakukan atas indikasi medis. 4. Sinar X Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian tubuh janin.

5. Pengkajian vaginal Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya ditunda jika memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesuadah 34 minggu). Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup procedure). Double setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di ruang operasi dengan kesiapan staf dan alat untuk efek kelahiran secara cesar. 6. Isotop Scanning Atau lokasi penempatan placenta 7. Amniocentesis Jika 35-36 minggu kehamilan tercapai, panduan ultrasound pada amniocentesis untuk menaksir kematangan paru-paru (rasio lecithin / spingomyelin [LS] atau kehadiran

phosphatidygliserol) yang dijamin. Kelahiran segera dengan operasi direkomendasikan jika paru-paru fetal sudah mature.

9. Analisa Data No 1 Data DS : Klien klien mengeluh badannya terasa lemas. Kontraksi uterus menurun Gerakan janin berkurang. DO : Klien tampak pucat Tampak adanya perdarahan pervaginam. TTV : TD : < 110-120/70-90 mmHg. Nadi : > 60-100 x/menit. RR : > 22x/menit. Suhu: Normal/meningkat (>37,5oC). Djj : >/< 160x/menit Hasil USG diperoleh gambaran plasenta previa menutupi pinggir, sebagian, keseluruhan, ostium uteri interna, dan disegmen bawah uterus. Etiologi Plasenta previa Bertambahnya usia kehamilan (trimester ke 3) Uterus mengalami perubahan (semakin melebar dan servik mulai membuka) Terjadi pembentukkan segmen bawah Rahim dan pembukaan ostium interna Plasenta menenpel di segmen bawah Rahim/plasenta lepas dari dinding uterus Sinus uterus robek/rupture Perdarahan HbO2 dalam darah menurun O2 kejaringan menurun Perubahan perpusi jaringan utero plasenta Plasenta previa Bertambahnya usia kehamilan (trimester ke 3) Uterus mengalami perubahan Masalah Keperawatan Perubahan perpusi jaringan utero plasenta

DS : Klien mengatakan badanya lemas Klien mengeluh pusing. DO :

Intoleransi Aktivitas

tampak tidak berenergi atau bertenaga Klien kelelahan TTV : TD : < 110-120/70-90 mmHg. Nadi : > 60-100 x/menit. RR : > 22x/menit. Suhu: Normal/meningkat (>37,5oC). Hb: < 11 g/dL ADL klien di bantu Kekuatan otot klien : 5/5 5/5

Klien

(semakin melebar dan servik mulai membuka) Terjadi pembentukkan segmen bawah Rahim dan pembukaan ostium interna Plasenta menenpel di segmen bawah Rahim/plasenta lepas dari dinding uterus Sinus uterus robek/rupture Perdarahan HbO2 dalam darah menurun O2 kejaringan menurun Metabolisme anaerob Penumpukan asam laktat Kelelahan Intoleransi Aktivitas Plasenta previa Bertambahnya usia kehamilan (trimester ke 3) Uterus mengalami perubahan (semakin melebar dan servik mulai membuka) Terjadi pembentukkan segmen bawah Rahim dan pembukaan ostium interna Plasenta menenpel di segmen bawah Rahim/plasenta lepas

DS : Klien mengatakan mengalami perdarahan sejak trimester kedua atau awal trimester ketiga. Menurut klien, perdarahan pertama yang keluar sedikit namun lama kelaman erdarahan bertambah banyak. DO : Klien tampak pucat Tampak adanya perdarahan pervaginam.

Risiko Syok hipovoliemik

TTV : TD : < 110-120/70-90 mmHg. Nadi : > 60-100 x/menit. RR : > 22x/menit. Suhu: Normal/meningkat (>37,5oC). Hasil USG diperoleh gambaran plasenta previa menutupi pinggir, sebagian, keseluruhan, ostium uteri interna, dan disegmen bawah uterus. Hb: < 11 g/dL 10. Diagnosa Keperawatan

dari dinding uterus Sinus uterus robek/rupture Perdarahan Kehilangan cairan dan darah Resti syok hipovolemik

1. Syok hipovoliemik b.d kehilangan cairan dan darah akibat perdarahan 2. Perubahan perpusi jaringan utero plasenta b.d kadar O2 ke jaringan janin/fetus menurun 3. Intoleransi Aktivitas b.d kelelahan

11. Intervensi keperawatan No 1 Dx Kep 1 Tujuan Intervensi Rasional 1. Membantu menentukan beratnya kehilangan darah, meskipun sianosis dan perubahan pada tekanan darah, nadi adalah tandatanda lanjut dari kehilangan sirkulasi atau terjadinya syok. 2. Perkiraan kehilangan darah membantu membedakan diagnosa, Setiap gram peningkatan berat pembalut sama dengan kehilangan kira-kira 1 ml darah. 3. Menjamin keadekuatan darah yang tersedia untuk otak; peninggian panggul menghindari kompresi vena kava. Posisi semi- fowler memungkinkan janin bertindak sebagai tampon. 4. Dapat meningkatkan hemoragi, khususnya bila plasenta previa marginal atau total terjadi. 5. Meningkatkan volume darah sirkulasi dan mengatasi gejalagejala syok. 6. Hemoragi berhenti bila plasenta diangkat dan sinussinus vena tertutup.

Umum : 1. Pantau tanda tanda vital, penisian Setelah dilakuka tindakan kapiler pada dasar kuku, warna keperawatan selama 1x24 membran mukosa/ kulit dan suhu. Ukur jam syok hipovolemik tekanan vena sentarl, bila ada. teratasi. Khusus: 2. Evaluasi, laporkan, dan catat jumlah Setelah dilakuka tindakan serta jumlah kehilangan darah. Lakukan keperawatan selama 2-3 perhitungan pembalut Timbang jam syok hipovolemik pembalut pengalas. teratasi. 3. Posisikan klien dengan tepat, telentang Kriteria hasil: dengan panggul ditinggikan atau posisi semi-fowler. Hindari posisi TTV dalam batas normal trendelenburg. TD : 110-120/70-90 N : 60-100x/menit RR: 16-22x/menit 4. Hindari pemeriksaan rectal atau vagina Suhu : 36,3-37,50C Akral hangat Kadar Hb dalam batas normal (12-16g/dL). Klien tidak tampak pucat Konjungtiva tidak Anemis CRT : < 3 detik

5. Berikan larutan intravena, ekspander plasma, darah lengkap, atau sel-sel kemasan, sesuai indikasi. 6. Siapkan untuk kelahiran sesaria.

Umum : Setelah dilakuka tindakan keperawatan selama 1x24 jam tidak terjadi perubahan perpusi jaringan utero plasenta. Khusus: Setelah dilakuka tindakan keperawatan selama 2-3 jam tidak terjadi perubahan perpusi jaringan utero plasenta. Kriteria hasil: TTV dalam batas normal TD : 110-120/70-90 N : 60-100x/menit RR: 16-22x/menit Suhu : 36,3-37,50C Akral hangat Kadar Hb dlam batas normal (12-16g/dL). Klien tidak tampak pucat DJJ : 120-160x/menit Pergerakan bayi (+) Kontraksi uterus (+) Tidak terjadi pembukaan ostium interna.

1. Perhatikan status fisiologis ibu dan 1. Kejadian

janin, status sirkulasi, dan volume darah.

2. Auskultasi dan laporkan DJJ , catat bradikardia atau takikardia. Catat perubahan pada aktivitas janin (hipoaktivitas atau hiperaktivitas.

2.

3. Anjurkan tirah baring pada posisi miring kiri.

3.

4. Berikan suplemen oksigen pada klien 5. Ganti kehilangan darah/cairan ibu.

4. 5.

6. Kolaborasi

dengan dokter untuk persiapkan intervensi bedah dengan tepat.

6.

perdarahan potensial merusak hasil kehamilan, kemungkinan menyebabkan hipovolemia atau hipoksia uteroplasenta. Mengkaji berlanjutnya hipoksia janin. Pada awalnya, janin berespon pada penurunan kadar oksigen dengan takikardia dan peningkatan gerakan. Bila tetap defisit, bradikardia dan penurunan aktivitas terjadi. Menghilangkan tekanan pada vena kava inferior dan meningkatkan sirkulasi plasenta/janin dan pertukaran oksigen. Meningkatkan ketersediaan oksigen untuk ambilan janin. Mempertahankan volume sirkulasi yang adekuat untuk transport oksigen. Pembedahan perlu bila terjadi pelepasan plasenta yang berat, atau bila perdarahan berlebihan , terjadi penyimpangan oksigen janin, dan kelahiran vagina tidak mungkin.

Umum : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 4x24 jam aktifitas terpenuhi secara mandiri. Khusus: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam aktifitas terpenuhi secara bertahap, Kriteria hasil: Klien mampu melakukan aktivitas mandiri. Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi Klien tampak segar Kekuatan otot 5/5 5/5

1. 2.

Kaji ulang keluhan klien. Kaji hal-hal yang mampu atau yang tidak mampu dilakukan oleh klien. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari sesuai tingkat keterbatasan klien (membatu kekamar mandi, memberikan makan).

3.

4.

Letakkan barang-barang di tempat yang mudah terjangkau oleh klien. Kolaborasi dengan keluarga dalam memenuhi kebutuhan.

5.

1. Untuk mengidentifikasi masalahmasalah klien. 2. Untuk mengetahui tingkat ketergantungan klien dalam memenuhi kebutuhannya. 3. Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh klien pada saat kondisinya lemah dan perawat mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien tanpa mengalami ketergantungan pada perawat. 4. Akan membantu klien untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain. 5. Memudahkan klien pemenuhan kebutuhan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Chalik TMA. 2008. Perdarahan pada kehamilan lanjut dan persalinan. Ilmu Kebidanan Edisi Keempat Cetakan Pertama. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo 2. Manuaba, Ida bagus Gde, (2005). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga berencana unuk Pendidikan Bidan. EGC. Jakarta. 3. Murah Manoe dkk, 1999, Pedoman Diagnosis Dan Terapi Obstetri Dan Ginekologi. Bagian /SMF obstetri dan ginekologi FK Unhas . Ujung Pandang.
4. Prawirohardjo Sarwono, 2008, ed. Keempat. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka:

Jakarta. 5. Sandra M. Nettina, 2001, Pedoman Praktik Keperawatan. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.