Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH DASAR-DASAR PENANGKAPAN

Oleh Nama : Muh. Chaidir Nim: L22112257

FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

Jaring Angkat (Lift Net)


A. Sejarah Penangkapan Penangkapan ikan merupakan salah satu profesi yang telah lama dilakukan oleh manusia. Menurut sejarah sekitar 100.000 tahun yang lalu manusia Neanderthal (Neanderthal man) telah melakukan kegiatan penangkapan dengan menggunakan tangan kemudian profesi ini berkembang terus secara perlahan-lahan dengan menggunakan berbagai alat yang masih sangat tradisional yang terbuat dari berbagai jenis bahan seperti batu, kayu, tulang, dan tanduk. Seiring dengan perkembangan kebudayaan, manusia mulai bias membuat perahu yang sangat sederhana seperti sampan. Perahu yang tertua di eropa di buat sekitar 8.300 tahun yang lalu dengan panjang 3 meter yang berada di Netherland. Setelah ditemukannya mesin uap oleh James watt pada tahun 1769 maka penangkapan ikan ikut terpengaruh perkembangnnya. Mesin-mesin tersebut tidak hanya digunakan untuk menggerakkan kapal, tetapi pada tahun 1860 mesin-mesin tersebut digunakan pula untuk menarik berbagai jenis alat tangkap seperti jarring long line. Pada abad ke-20 dan memasuki abat ke-21 berbagai negara telah berlomba dalam melakukan modernisasi teknologi penangkapannya. Beberapa negara eropa seperti Polandia, Belanda, Inggris, Swedia, Perancis, dan sebagainya merupakan contoh negara yang telah maju dalm bidang penangkapannya. Di Asia, Jepang merupakan negara yang sangat maju teknologi penangkapan ikannya. Pda tahun 1988, menurut FAO total hasil tangkapan Jepang mencapaui 12 juta ton atau 13 % dari total tangkapn ikan didunia. Aramada penangkapannya tidak hanya beroperasi diperairan Jepang tetapi sampai dilautan pasifik, samudera Indonesia dan perairan lainnya. Untuk mencapai hal tersebut, Jepang menggunakan alat komunikasi dan penanganan hasil tangkapan telah dibenahi dengan baik. B. DESKRIPSI ALAT Jaring angkat adalah suatu alat penangkapan yang pengoprasiannya di lakukan dengan menurunkan dan mengangkatnya secara vertical,alat ini terbuat dari nilon yang menyerupai kelambu, ukuran mata jaringnya relative kecil yaitu 0,5cm. Bentuk alat ini

menyerupai kotak, dalam pengoprasiannya sering menggunakan alat bantu lampu atau umpan sebagai daya tarik ikan, ada berbagai jaring angkat seperti : 1. Jaring Angkat Perahu (boat operated lift nets)

Jaring Angkat Perahu (boat operated lift nets) adalah alat penangkap ikan yang dioperasikan dengan cara diturunkan ke kolom perairan dan diangkat kembali setelah banyak ikan di atasnya, dalam pengoperasiannya menggunakan perahu untuk berpindah-pindah ke lokasi yang diperkirakan banyak ikannya. Secara umum kontruksi unit penangkapan jaring angkat berperahu terdiri dari atas kerangka kayu,waring atau jarring (dari bahan polyethylene) seperti nilon serta perahu bermotor sebagai alat transportasi di laut.Pada bagian atas terdapat roller yang berfungsi untuk menurunkan atau mengangkat jaring (Ayodyoa,1981). Ukuran alat tangkap jaring angkat perahu sangat beragam mulai dari panjang = 13 m,lebar = 2,5 m,tinggi = 1,2 m hingga panjang = 29 m,lebar = 29 m, tinggi = 17 m, mata jarring bagan perahu umumnya perukuran 0,5 cm,sedangkan ukuran mata jarring berkaitan erat dengan sasaran utama ikan yang mau di tangkap,ketika mau menangkap teri yang berukuran kecil harus menggunkan mata jarring yang lebih kecil,jika mata jarring terlalu besar maka ikan tersebut tidak akan tertangkap (Subani W. 1970). 2. Jaring Angkat Anco (Portable lift nets)

Jaring Angkat Anco (Portable lift nets) adalah jaring angkat yang dipasang menetap di perairan, berbentuk empat persegi panjang, terdiri dari jaring yang keempat ujungnya diikat pada dua bambu yang dibelah dan kedua ujungnya dihaluskan (diruncingkan) kemudian dipasang bersilangan satu sama lain dengan sudut 90 derajat. Berdasarkan cara pengoperasiannya, anco tetap diklasifikasikan ke dalam kelompok jaring angkat (lift nets) (Subani dan Barus 1989). Anco atau portable lif nets termasuk alat tangkap yang sangat sederhana,terbuat dari bambu sebagai alat untuk menaik dan merunkuan jaring,mata jarring anco relative lebih kecil karena tujuan penangkapan ikan adalah ikan- ikan kecil seperti ikan petek, lebar jarring anco sangat bervariasi dari 1 m dan ada pula yang sampai 5 m.Alat ini bila di oprasikan harus dengan bantuan lampu atau umpan untuk menarik ikan (Subani dan Barus 1989). 3. Jaring Angkat Tancap ( Shore operated stationary lift nets)

Jaring Angkat Tancap ( Shore operated stationary lift net) adalah alat penangkap ikan yang dioperasikan dengan cara diturunkan ke kolom perairan dan diangkat kembali setelah banyak ikan di atasnya, dalam pengoperasiannya tidak dapat dipindahpindah dan sekali dipasang (ditanam) berarti berlaku untuk selama musim penangkapan. Beda antara bagan tancap dengan anco tetap dan jaring bandrong adalah bagan tancap memiliki rumah penjaga, gulungan (roller), tali tarik dan gelangan pengikat dengan jaring. Bagan tancap diklasifikasikan ke dalam kelompok jaring angkat (lift nets) (Subani dan Barus 1989). Bagan tancap pada umumnya tersusun atas dua bagian yaitu bangunan bagan dan jarring bagan.Bangunan bagab biasanya terdiri dari rumah bagan,pelataran bagan dan tiang pancang.Semua bangunan bagan terbuat dari bambu karena bahan ini

memiliki keunggulan yaitu tahan terhadap resapan air laut sehingga umur bangunan bagan dapat bertahan lama.Biasanya bagian bagan berukuran 9x9 meter, namun ada juga yang berukuran hingga 12x12 meter, sedangkan tinggi bangunan dari permukaan air laut rata-rata 12 meter (Iskandar 2001). Kontruksi bagan tancap yang selanjutnya adalah jaring bagan, jaring bagan di letakkan di tengah bangunan bagan, jaring bagan ini terbuat dari poly prophylene atau yang di sebut dengan waring.Ukuran jarring bagan sendiri yaitu 7x7 meter dengan ukuran mata jarringnya yaitu 0,4 cm,jaring bagan di lengkapi dengan binkai yang terbuat dari bambu dan gelang pengikat jaring yang berfungsi untuk memudahkan papada saat pengoprasian alat tangkap (Ayodyoa,1981). 4. Jaring Angkat Bandrong (Bouke ami).

Jaring bandrong adalah jaring angkat berbentuk empat persegi panjang atau bujur sangkar yang ujung-ujung salah satu sisinya diikat pada patok atau tiang pancang, sementara ujung yang lain dipasang tali untuk proses pengangkatan. Berdasarkan cara pengoperasiannya, jaring bandrong diklasifikasikan ke dalam kelompok jaring angkat (lift nets). Alat tangkap ini berbentuk jaring persegi empat, berukuran mulai dari 8-12 m yang cara pengoprasiannya dilakukan dengan menurunkan dan mengangkatnya secara vertical dari sisi kapal.Dalam pengoprasiannya menggunakan alat tangkap bantu lampu dan umpan sebagai alat bantu untuk mengumpulkan gerombolan ikan,dengan tujuan menangkap ikan fototaksis positif,alat ini mempunyai mata jaring yang relative kecil (Subani dan Barus 1989).

C. METODE PENGOPERASIAN ALAT 1. Jaring Angkat Perahu (boat operated lift nets) Tahapan-tahapan metode pengoperasian bagan perahu adalah sebagai berikut (Iskandar 2001). (a) Persiapan menuju fishing ground, biasanya terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan persiapan terhadap segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pengoperasian bagan perahu. Pemeriksaan dan perbaikan terutama dilakukan terhadap lampu dan mesin kapal. Persiapan lain yang dianggap penting adalah kebutuhan perbekalan operasi penangkapan seperti air tawar, solar, minyak tanah, garam dan bahan makanan. (b) Pengumpulan ikan, ketika tiba di lokasi fishing ground dan hari menjelang malam, maka lampu dinyalakan dan jaring biasanya tidak langsung diturunkan hingga tiba saatnya ikan terlihat berkumpul di lokasi bagan atau ingin masuk ke dalam area cahaya lampu. Namun tidak menutup kemungkinan ada pula sebagian nelayan yang langsung menurunkan jaring setelah lampu dinyalakan. (c) Setting, setelah menunggu beberapa jam dan ikan mulai terlihat berkumpul di lokasi penangkapan, maka jaring diturunkan ke perairan. Jaring biasanya diturunkan secara perlahan-lahan dengan memutar roller. Penurunan jaring beserta tali penggantung dilakukan hingga jaring mencapai kedalaman yang diinginkan. Proses setting ini berlangsung tidak membutuhkan waktu yang begitu lama. Banyaknya setting tergantung pada keadaan cuaca dan situasi hasil tangkapan, serta kondisi perairan pada saat operasi penangkapan. (d) Perendaman jaring (soaking), selama jaring berada di dalam air, nelayan melakukan pengamatan terhadap keberadaan ikan di sekitar kapal untuk memperkirakan kapan jaring akan diangkat. Lama jaring berada di dalam perairan (perendaman jaring) bukan bersifat ketetapan, karena nelayan tidak pernah menentukan dan menghitung lamanya jaring di dalam perairan dan kapan jaring akan diangkat namun hanya berdasarkan penglihatan dan pengamatan adanya ikan yang berkumpul di bawah cahaya lampu. (e) Pengangkatan jaring (lifting), lifting dilakukan setelah kawanan ikan terlihat berkumpul di lokasi penangkapan. Kegiatan lifting ini diawali dengan

pemadaman lampu secara bertahap. Hal ini dimaksudkan agar ikan tidak terkejut dan tetap terkosentrasi pada bagian perahu di sekitar lampu yang masih menyala. Ketika ikan sudah berkumpul di tengah-tengah jaring, jaring tersebut mulai ditarik ke permukaan hingga akhirnya ikanakan tertangkap oleh jaring. (f) Brailing, setelah bingkai jaring naik ke atas permukaan air, maka tali penggantung pada ujung dan bagian tengah rangka dilepas dan dibawa ke satu sisi kapal, tali kemudian dilewatkan pada bagian bawah kapal beserta jaringnya. Tali pemberat ditarik ke atas agar mempermudah penarikan jaring dan lampu dihidupkan lagi. Jaring kemudian ditarik sedikit demi sedikit dari salah satu sisi kapal ke atas kapal. Hasil tangkapan yang telah terkumpul diangkat ke atas dek kapal dengan menggunakan serok. (g) Penyortiran ikan, setelah diangkat di atas dek kapal, dilakukan penyortiran ikan. Penyortiran ini biasanya dilakukan berdasarkan jenis ikan tangkapan, ukuran dan lain-lain. Ikan yang telah disortir langsung dimasukkan ke dalam wadah atau peti untuk memudahkan pengangkutan.

2. Jaring Angkat Anco (Portable lift nets) Tahapan-tahapan metode pengoperasian Jaring Angkat Anco (Portable lift nets) adalah sebagai berikut (Subani dan Barus 1989). (a) Anco tetap dioperasikan dengan cara jaring diturunkan ke arah dasar perairan pantai, muara sungai dan teluk-teluk yang relatif dangkal dengan muka jaring menghadap ke dalam perairan. (b) Setelah ikan terkumpul, lalu secara perlahan jaring diputar atau dibalik dan diangkat ke arah permukaan hingga kumpulan ikan berada di dalam jaring. (c) Kemudian hasil tangkapan diangkat dari jaring. 3. Jaring Angkat Tancap ( Shore operated stationary lift nets) Pada bagan tancap, operasi penangkapan dilakukan pada malam hari, dimana awal operasi menggunakan perhitungan bulan. Persiapan untuk melakukan operasi adalah merapikan jaring, menyiapkan lampu yang telah diperbaiki pada waktu istirahat (terang bulan), menyiapkan minyak dan alat-alat lain serta perbekalan atau konsumsi.

Para nelayan membawa peralatannya ke kapal motor pukul 16.00, nelayan berangkat dengan menggunakan kapal motor menuju lokasi bagan tancap (Hayat 1996). Setelah nelayan tiba di lokasi, hal-hal yang dilakukan nelayan selanjutnya adalah (Hayat 1996): (a) Memasang jaring pada palang jaring dan penurunan jaring ke dalam laut dengan menggunakan pemutar (roller). (b) Setelah hari gelap, nelayan mulai menghidupkan lampu kemudian lampu diturunkan secara perlahan-lahan ke dekat permukaan laut dengan jarak 0,5 m dari permukaan laut bila laut tenang dan 1-1,5 m dari permukaan laut bila laut bergelombang. (c) Setelah menunggu kurang lebih 2-3 jam, nelayan mulai melakukan pemutaran roller, hingga sedikit demi sedikit jaring naik secara perlahan. (d) Setelah jaring naik hingga ke geladak bagan, maka pemutaran dihentikan dan lampu diangkat lalu disangkutkan pada paku. (e) Pengambilan ikan dari dalam jaring dilakukan dengan cara menarik jaring agar ikan berkumpul pada suatu tempat tertentu hingga menyerupai kantong. Ikan diambil dengan menggunakan serok dan wadah ikannya adalah bakul. (f) Selesai pengambilan ikan dari jaring, maka jaring diturunkan kembali ke dalam laut. Pengangkatan dan penurunan jaring dapat dilakukan beberapa kali hingga pagi hari tiba. (g) Bila pagi menjelang, nelayan mematikan lampunya dan persiapan untuk pulang adalah menyiapkan peralatan yang akan dibawa pulang sambil menunggu jemputan kapal motor.

4. Jaring Angkat Bandrong (Bouke ami). Tahapan-tahapan metode pengoperasian Jaring Angkat Bandrong (Bouke ami) adalah sebagai berikut (Subani dan Barus 1989). (a) Memasang jaring pada bangunan bandrong.

(b) Kemudian jaring diturunkan ke arah dasar perairan dengan cara mengulurkan tali untuk pengangkatan. (c) Setelah ikan terkumpul, lalu secara perlahan tali pengangkatan ditarik (jaring diangkat ke arah permukaan) hingga kumpulan ikan berada di dalam jaring dan hasil tangkapan diangkat dari jarring. D. TARGET IKAN 1. Jaring Angkat Perahu (boat operated lift nets) Hasil tangkapan jaring angkat perahu umumnya adalah ikan pelagis kecil seperti tembang (Clupea sp), teri (Stolephorus sp), japuh (Dussumiera sp), selar (Charanx sp), pepetek (Leiognathus sp), kerot-kerot (Therapon sp), cumi-cumi (Loligo sp), sotong (Sepia sp), layur (Trichiurus sp) dan kembung (Rastrelliger sp) (Subani W, 1970). 2. Jaring Angkat Anco (Portable lift nets) Hasil tangkapan jaring angkat anco terutama jenis-jenis ikan pantai seperti tembang (Clupea sp), teri (Stolephorus sp), japuh (Dussumiera sp), selar (Charanx sp), pepetek (Leiognathus sp), kerot-kerot (Therapon sp), cumi-cumi (Loligo sp), sotong (Sepia sp), layur (Trichiurus sp), kembung (Rastrelliger sp) dan udang (udang penaeid) (Subani dan Barus 1989). 3. Jaring Angkat Tancap ( Shore operated stationary lift nets) Hasil tangkapan jaring angkat tancap umumnya adalah jenis ikan perairan pantai dan ikan pelagis seperti tembang (Clupea sp), teri (Stolephorus sp), japuh (Dussumiera sp), selar (Charanx sp), pepetek (Leiognathus sp), kerot-kerot (Therapon sp), cumi-cumi (Loligo sp), sotong (Sepia sp), layur (Trichiurus sp) dan kembung (Rastrelliger sp) (Subani dan Barus 1989). 4. Jaring Angkat Bandrong (Bouke ami). Hasil tangkapan jaring angkat bandrong antara lain tembang (Clupea sp), teri (Stolephorus sp), manyung (Tachysurus spp), pepetek (Leiognathus sp), belanak (Mugil spp), terkadang tongkol (Auxis rochei) (Subani dan Barus 1989).

Bagan Tancap

1. Definisi dan Klasifikasi Bagan tancap adalah alat penangkap ikan terdiri dari susunan bambu berbentuk persegi empat yang ditancapkan dengan konstruksi tetap sehingga berdiri kokoh di atas perairan dan pada bagian tengah bangunan dipasang jaring yang berfungsi sebagai alat untuk menangkap ikan, dioperasikan dengan cara diangkat. Alat tangkap ini pertama kali diperkenalkan olah nelayan Bugis Makasar pada tahun 1950_an. Berdasarkan cara pengoprasiannya, bagan tancap dikelompokkan kedalam jaring angkat (Lift net) (Subani dan barus, 1989). 2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan Bagan tancap pada umumnya tersusun atas dua bagian yaitu bangunan bagan dan jaring bagan. Bangunan bagan terdiri dari rumah bagan, pelataran bagan, dan tiang pancang. Semua bangunan bagan terbuat dari bambu karena bahan ini memiliki keunggulan yaitu tahan terhadap resapan air laut sehingga umur bangunan bagan dapat bertahan lama. Biasanya bangunan bagan berukuran 9 x 9 meter namun ada juga yang berukuran hingga 12 x 12 meter, sedangkan tinggi bangunan dari permukaan air laut rata-rata 12 meter. Konstruksi bagan tancap yang selanjutnya adalah jaring bagan. Jaring bagan diletakkan pada tengah bangunan bagan. Jaring bagan ini terbuat dari Poly Prophylene (PP) atau yang sering disebut dengan waring. Ukuran jaring bagan sendiri yaitu 7 x 7 meter dengan ukuran mata jaringnya yaitu 0,4 cm. Jaring bagan dilengkapi dengan bingkai yang terbuat dari bambu dan gelang pengikat jaring yang berfungsi untuk memudahkan pada saat pengoperasian alat tangkap ini (Ayodyoa, 1981). Gambar alat tangkap ada pada lampiran. 3. Kelengkapan dalam unit Penangkapan Ikan 3.1 Kapal Alat tangkap bagan tancap ini dalam pengoperasiannya tidak memakai kapal karena bagan tancap dioperasikan pada sebuah bangunan yang menetap dan tidak

memerlukan mobilisasi dalam mencari ikan. Perahu hanya digunakan oleh nelayan untuk ke tempat bagan dan mengangkut hasil tangkapan saja (Ayodyoa, 1981). 3.2 Nelayan Menurut Lestari (2001) diacu dalam Takril (2005) nelayan yang dibutuhkan dalam pengoperasian bagan tancap tidak terlalu banyak, cukup satu atau dua orang saja karena tugasnya hanya untuk menurunkan dan menaikkan jaring bagan pada saat pengoperasian alat tangkap tersebut (Takril 2005). 3.3 Alat Bantu Alat bantu yang sering digunakan dalam pengoprasian bagan tancap adalah atraktor cahaya (ligh fishing), berfungsi untuk merangsang atau menarik perhatian ikan untuk berkumpul dibawah cahaya lampu. Kemudian dilakukan penangkapan dengan jaring yang telah tersedia. (Ayodyoa, 1981). Selain itu alat bantu lain yang digunakan adalah serok, basket, lampu, dan lain-lain. Serok digunakan untuk mengambil hasil tangkapan, basket digunakan untuk mengangkut ikan (Ayodyoa, 1981). 3.4. Umpan Pengoperasian bagan tancap tidak menggunakan umpan. Karena pemikat ikan utama pada alat tangkap ini adalah cahaya. (Ayodyoa, 1981) 4. Metode Pengoperasian Alat Operasi alat tangkap ini umumnya dimulai pada saat matahari mulai tenggelam. Penangkapan diawali dengan penurunan jaring sampai kedalaman yang diinginkan. Selanjutnya lampu mulai dinyalakan untuk menarik perhatian ikan agar berkumpul di bawah sinar lampu atau di sekitar bagan. Pengangkatan jaring dilakukan apabila ikan yang terkumpul sudah cukup banyak dan keadaan ikan-ikan tersebut cukup tenang. Jaring diangkat sampai berada di atas permukaan air dan hasil tangkapan diambil dengan menggunakan serok. (Subani dan barus 1989). Pengoperasian tersebut menggunakan atraktor cahaya sehingga alat ini tidaklah efisien apabila digunakan pada saat bulan purnama. Adapun tahapan-tahapan metode pengoperasian bagan tancap adalah sebagai berikut : Persiapan, persiapan sangat diperlukan sebelum pengoperasian alat tangkap karena hal ini dapat menentukan keberhasilan dalam penangkapan ikan. Hal yang biasa

dilakukan adalah pengecekkan jaring bagan, pengecekan roller untuk menurunkan dan menarik jaring bagan, dan segala yang dibutuhkan pada saat pengoperasian. Kemudian tahap selanjutnya adalah pengumpulan ikan, ketika hari menjelang malam, maka lampu tersebut dinyalakan dan jaring biasanya diturunkan, hingga tiba saatnya ikan tersebut terlihat berkumpul dilokasi bagan (Subani dan Barus, 1989). Setting, setelah menunggu beberapa jam dan ikan mulai terlihat berkumpul dilokasi penangkapan, maka jaring tersebut diturunkan ke perairan. Jaring biasanya diturunkan secara perlahan-lahan dengan memutar roller. Penurunan jaring beserta tali penggantung dilakukan hingga jaring mencapai kedalaman yang didinginakan proses Setting tidak membutuhkan waktu begitu lama. (Takril 2005). Setalah proses setting selesai lalu proses perendaman jaring, selama jaring berada dalam air nelayan melakukan pengamatan terhadap keberadaan ikan di sekitar bangunan untuk memperkirakan jaring akan diangkat (Subani dan Barus, 1989). Pengangkatan jaring, pengangkatan jaring dilakukan setelah kawanan ikan terlihat berkumpul dilokasi penangkapan. Kegiatan ini diawali dengan pemadaman lampu secara bertahap, hal ini dimaksudkan agar ikan tersebut tidak terkejut dan tetap terkonsentrasi pada bagian bagan di sekitar lampu yang masih menyala. Ketika ikan sudah terkumpul di tengah-tengah jaring, jaring tersebut mulai ditarik ke permukaan. Hingga akhirnya ikan tersebut akan tertangkap oleh jaring. Setelah pengangkatan jaring lalu hasil tangkapan diambil menggunakan serok dan dipindahkan ke dalam basket untuk diangkut ke darat (Takril 2005) 5. Daerah Pegoperasian Alat tangkap bagan tancap dioperasikan pada perairan dangkal sekitar pantai. Konstruksi dasar perairannya harus berupa pasir atau lumpur karena sebagai penancap tiang pancang dari bagan tersebut. Kedalaman perairan itu sendiri berkisar antara 8 hingga 15 meter dari permukaan laut. Untuk daerah pengoperasian yang sering menggunakan bagan tancap ini adalah di Teluk Banten, Pelabuhan Ratu di Sukabumi, Utara Jawa, dan sebagian ada di Sulawesi Selatan (Subani dan Barus, 1989). 6. Hasil Tangkapan Hasil tangkapan dari bagan tancap adalah sasaran utamanya adalah ikan pelagis kecil dan ikan-ikan yang mempunyai sifat fototaksis positif yaitu ikan teri (Stolephorus

spp), dan avertebrata yaitu cumi-cumi (Loligo spp). Namun tidak jarang bagan tancap juga sering menangkap hasil sampingan seperti layur (Trichulus savala), tambang (Sardinella fimriata), pepetek (Leiognathus sp), kembung (Rastrelliger spp), layang (Decapterus spp), dan lain-lain (Subani dan Barus, 1989).

Bagan Rambo
1. Definisi dan Klasifikasi Bagan perahu (Boat Lift Nets) adalah salah satu jenis alat penangkapan ikan yang termasuk dalam klasifikasi jaring angkat ( Lift net ) dari jenis bagan yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan pelagis kecil (Subani dan barus 1989). Alat tangkap ini pertama kali diperkenalkan olah nelayan Bugis Makasar pada tahun 1950an. Bagan perahu mempunyai bentuk lebih ringan dan sederhana, dapat menggunakan satu atau dua perahu. Bagan perahu hanyut menggunakan satu perahu saja.

2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan Konstruksi bagan perahu hanyut di bentuk dari bambu, waring/ jaring bagan serta perahu bermotor yang sekaligus sebagai alat transportasi di laut. Bagan perahu hanyut memiliki beberapa bagian diantaranya bagan yang tebuat dari bambu berbentuk empat persegi panjang yang menyatu dengan perahu di tempatkan diatas secara melintang, Perahu sebagai bagian utama dalam meletakkan bagan, jaring bagan yang terletak dibawah perahu berukuran persegi sama sisi. Ukuran alat tangkap bagan beragam mulai dari 13 x 2,5 x 1,2 m hingga 29 x 29 x 17 m (Subani dan barus 1989). Ukuran mata jaring pada jaring bagan umumya memiliki diameter sekitar 0,5 cm ukuran mata jaring ini berkaitan erat dengan sasaran utama ikan yang akan tertangkap. Parameter utama alat tangkap ini adalah proporsional konstruksi alat tangkap (Sudirman, 2003) diacu dalam Takril 2005). ( Gambar terlampir)

3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan 3.1 Kapal Perahu yang digunakan adalah perahu bermotor yang berfungsi untuk menopang bagan dan rumah bagan sekaligus berfungsi sebagai alat transportasi nelayan dalam mengoprasikan bagan perahu. Perahu yang digunakan terbuat dari kayu yang mempunyai ukuran beragam tergantung dari ukuran bagan. Bagan perahu ada yang menggunakan satu perahu atau dua perahu. 3.2 Nelayan

Jumlah nelayan yang mengoperasikan bagan perahu hanyut sekitar 4 6 orag yang mempunyai tugas berbeda. Ada yang bertugas sebagai pengangkat jaring, nahkoda dan teknisi ( Takril, 2005). 3.3 Alat Bantu Alat bantu yang sering digunakan dalam pengoprasian bagan perahu adalah atraktor cahaya (ligh fishing), berfungsi untuk merangsang atau menarik perhatian ikan untuk berkumpul dibawah cahaya lampu. Roller yang berfungsi untuk pengangkatan jaring bagan (Ayodyoa 1981). Selain itu alat bantu lain yang digunakan adalah serok, basket, lampu, dan lain-lain. Serok digunakan untuk mengambil ihasil tangkapan, basket digunakan untuk mengangkut atau memasukkan ikan kedalam palkah (Takril 2005). 3.4. Umpan Pengoperasian bagan perahu hanyut tidak menggunakan umpan. Karena pemikat ikan utama pada alat tangkap ini adalah cahaya (Ayodyoa 1981).

4. Metode Pengoperasian Alat Pengoperasian bagan perahu hanyut pada umumnya di operasikan pada waktu petang ketika matahari tenggelam. Secara garis besar Langkah-langkah dalam pengoperasian bagan perahu hanyut adalah penurunan jaring bagan kedalam perairan, Pemasangan lampu, dan penarikan jaring bagan keatas kapal. Hasil tangkapan di angkat dengan bantuan serok (Subani dan barus 1989). Pengoperasian tersebut menggunakan atraktor cahaya sehingga alat ini tidaklah efisien apabila digunakan pada saat bulan purnama. Adapun tahapan-tahapan metode pengoprasian bagan perahu adalah sebagai berikut : a. Persiapan menuju fishing ground Persiapan menuju fishing ground biasanya terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan persiapan terhadap segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pengoprasian bagan. Pemeriksaan dan perbaikan terutama dilakukan terhadap lampu dan mesin kapal. Persiapan lain yang dianggap penting adalah kebutuhan perbekalan oprasi penangkapan seperti air tawar, solar, minyak tanah, garam, dan bahan makanan (Takril 2005). b. Pengumpulan ikan

Ketika tiba dilokasi fishing ground dan hari menjelang malam, maka lampu tersebut dinyalakan dan jaring biasanya diturunkan, hingga tiba saatnya ikan tersebut terlihat berkumpul dilokasi bagan (Takril 2005) c. Setting Setelah menunggu beberapa jam dan ikan mulai terlihat berkumpul dilokasi penangkapan, maka jaring tersebut diturunkan ke perairan. Jaring biasanya diturunkan secara perlahan-lahan dengan memutar roller. Penurunan jaring beserta tali penggantung dilakukan hingga jaring mencapai kedalaman yang didinginakan proses Setting tidak membutuhkan waktu begitu lama (Takril 2005). d. Perendaman jaring Selama air berada dalam air, nelayan melakukan pengamatan terhadap keberadaan ikan di sekitar kapal untuk memperkirakan jaring akan diangkat (Takril 2005). e. Pengangkatan jaring Pengangkatan jaring dilakukan setelah kawanan ikan terlihat berkumpul dilokasi penangkapan. Kegiatan ini diawali dengan pemadaman lampu secara bertahap, hal ini dimaksudkan agar ikan tersebut tidak terkejut dan tetap terkonsentrasi pada bagian perahu di sekitar lampu yang masig menyala. Ketika ikan sudah terkumpul di tengahtengah jaring, jaring tersebut mulai ditarik ke permukaan. Hingga akhirnya ikan tersebut akan tertangkap oleh jaring (Takril 2005). f. Brailing Setelah bingkal jaring naik ke atas permukaan air, maka tali penggantung pada ujung dan bagian tengah rangka dilepas dan dibawa ke satu sisi kepal tali kemudian dilewatkan pada bagian bawah beserta jaringanya. Tali pemberat ditarik ke atas agar mempermudah penarikan jaring dan lampu dihidupkan lagi. Jaring kemudian ditarik sedikit demi sedikti dari salah satu sisi kapal ke atas kapal hasil tangkaan yang telah terkumpul diangkat ke atas dek kapal dengan menggunakan serok (Takril 2005). f. Penyortiran ikan Setelah ikan diangkat di atas dek kapal, dilakukan penyortiran ikan. Penyortiran ini biasanya dilakuakan berdasarkan jenis ikan tangkapan, berdasarkan ukuran, dan lain-

lain. Ikan yang telah disortir, langsung dimasukkan ke dalam wadah atau peti, untuk memudahkan pengangkutan (Takril 2005).

5. Daerah Pengoprasian Bagan perahu hanyut dioperasikan di daerah perairan dalam, dioprasikan di daerah pelagis (dasar perairan). Alat tangkap ini dioprasikan sampai kedalaman dasar . Bagan perahu sudah tidak asing lagi di tempat-tempat penangkapan ikan seperti di Polewali, Teluk Semaka Kotaagung Lampung, Teluk Lampasing Lampung, Karawang, Banten dan lain-lian (Takril 2005).

6. Hasil Tangkapan Jenis-jenis hasil tangkapan bagan perahu hanyut adalah ikan-ikan jenis predator seperti layur (Trichulus savala), tenggiri (Scomberomerus commersoni). Jenis ikan yang dominan tertangkap oleh bagan perahu adalah ikan teri (Stolephorus spp), tambang (Sardinella fimriata), pepetek (Leiognathus sp), selar (Selaroides sp), kembung (Rastrelliger spp), cumi-cumi (Loligo spp), layang (Decapterus spp), balida (Notopterus spp), Cakalang (Katsuonus pelamis) dan lain-lain (Takril 2005).

............................................................................... Alat tangkap bagan perahu merupakan modifikasi dari bagan yang ada di Indonesia, seperti bagan tancap, bagan motor dan bagan apung.

(Foto: )

Konstruksi alat tangkap Konstruksi alat tangkap ini terdiri dari jaring, bambu,

pipa besi, tali temali, lampu dan kapal bermesin. Bagian jaring dari bagan ini terbuat dari bahan waring yang dibentuk menjadi kantung. Bagian kantung terdiri dari lembaran-lembaran waring yang dirangkaikan atau dijahit sedemikian rupa sehingga dapat membentuk kantung berbentuk bujur sangkar yang dikarenakan adanya

kerangka yang dibentuk oleh bambu dan pipa besi. Mesh size waring 0.5 cm. Kantung waring berukuran 9 m x 9 m x 3 m. Bambu anjungan berdiameter 10-12 cm serta panjang 10 m sebagai tiang penggantung bagi penurunan dan penarikan waring. Bingkai waring berukuran diameter 11.5-12.5 cm dengan panjang 9 m. Besi bingkai pembentuk kantung merniliki diameter 6.35 cm. Lampu petromaks berjumlah 7 buah. Bambu penggulung berdiameter 12 cm dengan panjang 10 m. Tali/tambang berdiameter 08-1 cm dan panjang keseluruhan 204 m yang dihubungkan di setiap ujung persegi bujur sangkar. Kapal berukuran L x B x D = 13 m x 2,5 mx 1.2 m, dengan motor diesel 19 PK. Metode pengoperasian Bagan perahu biasa dioperasikan menjelang malam hingga pagi. Persiapan yang dilakukan antara lain bahan bakar, makanan, kondisi waring dan peralatan lainnya. Untuk mencapai daerah penangkapan, nelayan sebelumnya telah memperkirakan posisi yang akan didatangi. Pengalaman dan kebiasaan nelayan menjadi patokan. Setelah sampai nelayan melakukan penurunan jangkar untuk memastikan kapal tidak terbawa arus. Nelayan menyalakan lampu petromaks lalu meletakkan pada bambu penyanggah lampu dengan jarak antara lampu dan kapal motor 3-4 m. Ketinggian lampu terhadap permukaan air 1.5 m. Petromaks dipompa setiap 15 menit untuk menjaga cahaya yang ada. Lampu dipindahkan ke lambung kanan kapal sehingga ikan yang terkumpul tidak menyebar. Setelah perairan mulai tenang waring diturunkan dengan memasang bingkai pada bagian atas kantong dan kondisi lampu tetap terang. Penurunan waring dilakukan perlahan kemudian dibiarkan selama 1 jam sampai diperkirakan ikan sudah terlihat banyak lalu diangkat. Penarikan waring dilakukan oleh seorang nelayan secara perlahan dan bersamaan dengan penguluran tali jangkar oleh anak buah kapal agar kapal perlahan mundur serta ikan tetap pada area penangkapan. Waring diangkat hingga mencapai permukaan perairan. Setelah bingkai waring mencapai permukaan kemudian bingkai dilepaskan dan

diangkat. Badan jaring ditarik dan ikan yang berada di kantong waring diambil dengan menggunakan serokan. Hasil tangkapan diletakkan di bakul dan dilakukan pemisahan setiap jenis ikan. Daerah penangkapan Operasi penangkapan biasa dilakukan dekat dengan pulau atau daerah teluk dengan perairan yang tenang. Kedalaman perairan untuk operasi penangkapan 10-18 m.

Musim penangkapan Musim penangkapan dari bagan motor ini sepanjang tahun, kecuali pada saat-saat tertentu di mana cuaca tidak memungkinkan seperti pada saat musim barat. (Dit PMP, DKP )