Anda di halaman 1dari 81

Anatomi dan Fisiologi Prostat Kelenjar prostat terletak

tepat di bawah leher kandung kemih. Kelenjar ini mengelilingi uretra dan dipotong melintang oleh duktus ejakulatorius, yang

merupakan kelanjutan dari vas deferen. Kelenjar ini berbentuk seperti buah kenari. Normal

beratnya 20 gram, di dalamnya berjalan uretra posterior 2,5 cm. Pada difiksasi bagian oleh anterior ligamentum dan sebelah

pubroprostatikum

inferior oleh diafragma urogenital. Pada prostat bagian posterior

berumuara duktus ejakulatoris yang berjalan miring dan berakhir pada verumontarum pada dasar uretra prostatika tepat proksimal dan

sfingter uretra eksterna. Secara embriologi, prostat berasal dari lima evaginasi epitel urethra prostat posterior. diperdarahi Suplai oleh darah arteri

vesikalis inferior dan masuk pada sisi postero lateralis leher

vesika.Drainase vena 1|Page

prostat bersifat difus dan bermuara ke dalam pleksus santorini. Persarafan prostat terutama berasal dari simpatis pleksus hipogastrikus dan serabut yang berasal dari nervus sakralis ketiga dan keempat melalui pleksus sakralis. Drainase limfe prostat ke nodi limfatisi obturatoria, iliaka eksterna dan presakralis, serta sangat penting dalam mengevaluasi luas penyebaran penyakit dari prostat. Fungsi Prostat adalah menambah cairan alkalis pada cairan seminalis yang berguna untuk menlindungi spermatozoa terhadap sifat asam yang terapat pada uretra dan vagina. Di bawah kelenjar ini terdapat Kelenjar Bulbo Uretralis yang memilki panjang 2-5 cm. fungsi hampir sama dengan kelenjar prostat Kelenjar ini menghasilkan sekresi yang penyalurannya dari testis secara kimiawi dan fisiologis sesuai kebutuhan spermatozoa. Sewaktu perangsangan seksual, prostat mengeluarkan cairan encer seperti susu yang mengandung berbagai enzim dan ion ke dalam duktus ejakulatorius. Cairan ini menambah volume cairan vesikula seminalis dan sperma. Cairan prostat bersifal basa (alkalis). Sewaktu mengendap di cairan vagina wanita, bersama dengan ejakulat yang lain, cairan ini dibutuhkan karena motilitas sperma akan berkurang dalam lingkungan dengan pH rendah. ( Suzanne C. Smeltzer, 2002 , Elizabeth J. C, 2009)

2|Page

BAB I TUMOR WILMS

KONSEP DASAR 1. Pengertian Tumor Wilms adalah tumor abdomen yang sering ditemukan pada masa kanak-kanak (biasa dikenal dengan Nefroblastoma ) dan biasanya mengenai parenkim ginjal. (Sue Hinchliff , 1999 : 465-466). Tumor Wilms (Nefroblastoma) adalah tumor ginjal yang ditemukan pada anak-anak. Tumor wilms mreupakan tumor ginjal yang tubuh dari sel embrional primitive di ginjal. Tumor ginjal merupakan sebagian besar tumor ginjal yang solid (padat) dan jenis kankerginjal yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel ginjal (adeno karsinomarenalis, hipernefroma). Pada fase awal biasanya asimtomatik, dan baru diketahui sebagai massa abdomen yang teraba setelah dilakukan pemeriksaan fisik yang rutin. Tipe tumor ginjala yang paling sering ditemukan adalah adenocarsinoma renal atau sel renal yang menyebabkan lebih dari 85% dari semua tumor ginjal.

Tumor ini dapat melakukan metastase sampai ke paru-paru, tulang, hati, otak dan ginjal yang ain. Seperempat hingga setengah dari bagian pasien tumor ginjal sudah mengalami kelainan metastasik pada saat penyakitnya didiagnostik (brnner & suddart, 2002).

2. Etiologi 1. Merokok 2. Kegemukan (obesitas) 3. Tekanan darah tinggi (hipertensi) 4. Lingkungan kerja (pekerja perapian arang di pabrik baja memiliki resiko tinggi, jugapekerja yang terpapar oleh asbes) 5. Dialisa (penderita gagal ginjal kronis yang menjalani dialisa menahun memiliki resikotinggi) 3|Page

6. paparan bahan kimia : abses dan petrokimia 7. Makanan tinggi lemak 8. Faktor lingkungan seperti terpapar cadmium, pelarut klorin, asbestos 9. Faktor lain yang diduga memicu munculnya RCC adalah dialysis jangka panjang, penggunaan analgesic dalam waktu lama dan hipertensi.

3. Manifestsi Klinis Pada stadium dini, kanker ginjal jarang menimbulkan gejala. Pada stadium lanjut, gejala yang paling banyak ditemukan adalah hematuria (adanya darah di dalam air kemih). Hematuria bisa diketahui dari air kemih yang tampak kemerahan atau diketahui melalui analisa air kemih. Selain itu terjadi tekanan darah tinggi akibat tidak adekuatnya aliran darah ke beberapa bagian atau seluruh ginjal, sehingga memicu dilepaskannya zat kimia pembawa pesan untuk meningkatkan tekanan darah. Gejala lainnya yang mungkin terjadi : 1. Nyeri pada sisi ginjal yang terkena 2. Penurunan berat badan- Kelelahan 3. Anemia 4. Terdapat massa 5. Tanda metalase 6. KED Meningkat 7. Hipertensi 8. Demam Keluhan klinis ditentukan oleh besar dan invasi terhadap jaringan sekitar seperti kelenjar getah bening, serta invasi ke dalam pembuluh darah terutama pada vena renalis dan pada gilirannya memberikan keluhan dan gejala metastasis tumor tersebut. Tiga gejala khas dari tumor ginjal yang didapatkan 10-15% pasien pada stadium lanjut 1. Hematuria dibuktikan dengan diagnosis bukan karena batu, infeksi tuberkulosa, dan kista :

4|Page

2. nyeri pinggang nyeri ini bisa diakibatkan oleh tekanan balik yang oaleh kompresi ureter perluasan tumor ke daerah perineal atau perdarahan ke dalan jaringan ginjal. Nyeri kronik terjadi jika bekuan darah atau massa sel tumor bergerak melalui ureter.

3. massa didaerah ginjal. Gejala lain tumor menimbulkan kelainan neoplasmatik dan eritrositosis. Hipertensi dan kelainan hati, muncul juga sindrom cushing hipoglikemia, genekomastia, anemia, hematuria dan peningkatan laju endap darah, kelainan tulang yang diikuti hiperkalsemia dan peningkatan hormon paratiroid.

4. Klasifikasi Tumor Wilms : 1. Penyebaran tumor wilms menurut TNM sebagai berikut : T : Tumor primer a. T1 : Unilateral permukaan ( termasuk ginjal ) < 80 cm b. T2 : Unilateral permukaan > 80 cm c. T3 : Unilateral ruptur sebelum penanganan d. T4 : Bilateral N : Metastasis limfa 1) No : Tidak ditemukan metastasis 2) N1 : Ada metastasis limfa M : Metastasis jauh a. Mo : Tidak ditemukan b. M+ : Ada metastasis jauh 2. The National Wilms Tumor Study (NWTS) menjadi lima stadium tumor Wilms yaitu: 1) Stadium I : tumor terbatas di dalam jaringan ginjal tanpa

menembuskapsul. Tumor ini dapat direseksi dengan lengkap. 2) Stadium II : tumor menembus kapsul dan meluas masuk ke dalam jaringan ginjal dan sekitar ginjal yaitu jaringan perirna, hilus renalis, vena renalis dan kelenjar limfe para-aorta. Tumor masih dapat di reseksi dengan lengkap. 5|Page

3) Stadium III : Tumor menyebar ke rongga abdomen (perkontinuitatum),misalnya ke hepar, peritoneum, dll. 4) Stadium IV : Tumor menyebar secara hematogen ke rongga abdomen, paruparu, otak, tulang. Cara penyebaran tumor wilms yaitu setelah keluar dari kapsul ginjal, tumor akan mengadakan invasi ke organ di sekitarnya dan menyebar secara limfogen m e l a l u i k e l e n j a r l i m f e p a r a a o r t a . P e n y e b a r a n s e c a r a h e m a t o g e n m e l a l u i v e n a renalis ke vena kava kemudian mengadakan metastasis ke paru (85%), hati (10%)dan bahkan pada stadium lanjut menyebar ke ginjal kontralateral.

5. Komplikasi a. Tumor Bilateral b. Ekstensi Intracaval dan atrium c. Tumor lokal yang lanjut d. Obstruksi usus halus e. Tumor maligna sekunder f. Perkontinuitatum Penyebaran langsung melalui jaringan lemak perirenal lalu ke peritoneumdan organ-organ abdomen (ginjal kontralateral, hepar, dan lain-lain) g. Hematogen Terjadi setelah pertumbuhan tumor masuk ke dalam vasa renalis, selanjutnya menyeber melalui aliran darah ke paru-paru (90 %) otak dan tulang. h. Limfogen Penyebaran limfogen terjadi pada kelenjar regional sekitar vasa para aortalatau dalam mediastinum 6. Pemeriksaan Diagnostik a. IVP Dengan pemeriksaan IVP tampak distorsi sistem pielokalis (perubahan bentuk sistem pielokalises) dan sekaligus pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui fungsi ginjal. b. Foto thoraks 6|Page

Merupakan

pemeriksaan

untuk

mengevaluasi

ada

tidaknya

metastasis ke paru-paru. Arteriografi khusus hanya diindikasikan untuk pasien dengan tumor Wilms bilateral atau termasuk horseshoe kidney. c. Ultrasonografi USG merupakan pemeriksaan non invasif yang dapat mebedakan tumor solid dengan tumor yang mengandung cairan. Dengan pemeriksaan USG, tumor wilms nampak sebagai pemandu pada biopsi. Pada potongan sagital USG bagian ginjal yang terdapat tumor akan tampak mengalami pembesaran, lebih predominan di gambarkan sebagai massa hipercholik dan menampakkan area yang echotekstur heterogenus. d. CT-Scan M e m b e r i b e b e r a p a k e u n t u n g a n d a l a m m e n g e v a l u a s i t u m o r Wi lms. Ini meliputi konfirmasi mengenai asal tumor intrarenal yang neuroblastoma; deteksi massa multipel;

biasanyamenyingkirkan

penentuan perluasantumor, termasuk keterlibatan pembuluh darah besar dan evaluasi dari ginjal y a n g l a i n . e. Magnetic resonance imaging (MRI) Dapat menunjukkan informasi penting untuk menentukan perluasan tumor di dalam vena cava inferior termasuk perluasan ke daerah intarkardial. Pada MRI tumor wilms akan memperlihatkan hipointesis (Low Density Intensity) dan hiperintensitas (high density intensity). f. Laboratorium Hasil pemeriksaan laboratorium yang penting yang menunjang untuk tumor Wilms adalah kadar lactic dehydrogenase (LDH) meninggi dan Vinyl mandelic acid (VMA) dalam batas normal. Urinalisis jugadapat menunjukkan bukti hematuria, LED meningkat, dan anemia dapat jugaterjadi, terlebih pada pasien dengan perdarahan subkapsuler. Pasien dengan metastasis di hepar dapat menunjukkan abnormalitas pada analisa serum. 7. Penatalaksanaan Tujuan pengobatan tumor wilms adalah mengusahakan penyembuhan dengan komplikasi dan mordibitas serendah mungkin. Biasanya di anjurkan kombinasi ini dapat di harapakan hasil memuaskan. Jika secara klinis tumor masih berada 7|Page

dalam stadium dini dan ginjal di sebelah kontra lateral normal, dilakukan nefrektomiradikal.Ukuran tumor pada saat datang menentukan cara pengobatan. masing-masing jenis ditangani secara berbeda, tetapi tujuannya adalah menyingkirkan tumor dan memberikan kemoterapi atau terapi radiasi yang sesuai. Apabila tumor besar maka pembedahan definitive mungkin harus di tunda sampai kemoterapi atau radiasiselesai. Kemote rapi dapat memperkecil tumor dan memungkinkan reaksi yang lebih akurat dan aman.

a. Farmakologi Kemoterapi Tumor wilms merupakan tumor yang paling peka terhadap obat kemoterapi. Prinsip dasar kemoterapi adalah suatu cara penggunaan obat sitostatika yang berkhasiat sitostik tinggi terhadap sel ganas dan mempunyai efek samping rendah terhadap sel yang normal. Terapi sitostatika dapat diberikan pra maupun pasca bedah didasarkan penelitian sekitar 16-32% dari tumor yang mudah ruptur. Biasanya jika diberikan p rabedah selama 2-8 minggu. Jadi tujuan pemberian terapi adalah untuk menurunkan resiko ruptur intraoperatif dan mengecilkan masa tumor sehingga lebih mudah direseksi total. Ada lima macam obat sitostatika yang terbukti efektif dalam pengobatan tumor wilms, yaitu Aktinomisin D, Vinkristin, Adriamisin, Cisplatin dan siklofosfamid. mekanisme kerja obat tersebut adalah menghambat sintesa DNA sehingga pembentuknaya RNA di sitoplasma kanker, sehingga pembelahan sel-sel kanker tidak terjadi. Aktinomisin D Golongan antibiotika yang berasal dari spesies Streptomyces,

diberikanlima hari berturut -turut dengan dosis 15 mg/KgBB/hari secara intravena.Dosis total tidak melebihi 500 mikrogram. Aktinomisin D bersama dengan vinkristin selalu digunakan sebagai terapi prabedah. Vinkristin

8|Page

Golongan alkaloid dari tanaman vina rossa, biasanya di berikan dalam 1 dosis 1,5 mg/m2 setiap minggu secara intravena (tidak lebih dari 2 mg/m2). Bila melebihi dosis dapat menimbulkan neurotoksis, bersifat iritatif, hindarkan agar tidak terjadi ekstravasasi pada waktu pemberian secara intravena.Vinkristin dapat dikombinasi dengan obat lainkarena jarang menyebabkan depresi hematologi, sedangkan bila digunakan sebagai obat tunggal dapat menyebab relaps. Adriamisin Golongan antibiotika antrasiklin diisolasi dari streptomyces pencetius,d iberikan secara intravena dengan dosis 20 mg/m 2 / h a r i s e l a m a t i g a h a r i berturut-turut. Dosis maksimal 250 mg/m2. Obat ini tidak dapat melewati sawar otak dapat menimbulkan toksisitas pada miokard bila melebihi dosis. Dapat dikombinasikan dengan Aktinomisin D. Cisplatin Dosis yang umum digunakan adalah 2-3 mg/Kg BB/hari tau 20 mg/m2/hari selam lima hari berturut-turut. Siklofosfamid Dari nitrogen mustard golongan alkilator. Dosis 250-1800 mg/m2/hari secara intravena dengan interval 3-4 mg. Dosis peroral 100-300 mg/m2/hari. b.Non Farmakologi Pembedahan keperawatan perioperatif Karena ban yak anak dengan tumor wilms mungkin mendapat ob a t kemoterapi kardiotoksik, maka mereka harus diperiksa oleh ahli onkologi dan diizinkan untuk menjalani operasi. Mereka perlu menjalani pemeriksaan penunjang yang menyeluruh untuk menentukan status fungsi jantung. Tumor wilms jangan di palpasi untuk menghindari rupture dan pecahnya sel-sel tumor. Pasien di letakkan dalam posisi telentang dengan sebuah gulungan di bawah sisi yang terkena. Seluruh abdomen dan dada di bersihkan

Hasil akhir pada pasien pascaoperatif :

9|Page

Pasien tumor wilms menerima kemoterapi dan terapi radiasi yan g sesuai dengan lesi. Gambaran histologik indicator penting untuk prognosis, lesi merupakan gambaran suatu

karena

tersebut

menentukan deraja tanaplasia. Anak yan histologiknya relative baik. Maka memiliki prognosis baik. Sedangkan anak yang gambaran histologiknya buruk, maka memilii prognosis buruk. Terapi dibuat sespesifik mungkin untuk masing-masing anak, karena terapi yang lebih sedikit menghasilkan kualitas hidup yang lebih baik dengan lebih sedikit efek

sampingnya. Nefrektomi radikal dilakukan bila tumor belum melewati garis tengah dan belum menginfiltrasi jaringan lain. Pengeluaran kelenjar limfe retroperioneal total tidak perlu dilakukan tetapi biopsi kelenjar di daerah hilus dan paraaorta sebaiknya di lakukan. Pada pembedahan perlu di perhatikan ginjal kontralateral karena kemungkinan lesi bilateral cukup tinggi. Apabila ditemukan penjalaran tumor ke vena kava, tumor tersebutharus diangkat. Radioterapi Tumor Wilms di kenal sebagai tumor yang radiosensitif, tapi radioterapi dapat mengganggu pertumbuhan anak dan menimbulkan penyulit jantung, hati dan paru. Karena itu radioterapi hanya diberikan pada penderita dengan tumor yang termasuk golongan patologi prognosis buruk atau stadium III dan IV. J i k a a d a s i s a t u m o r p a s c a b e d a h j u g a diberikan radioterapi. Radioterapi dapat juga digunakan untuk metastaseke paru, otak, hepar serta tulang.

10 | P a g e

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian 1.Aktifitas / istrahat 2. Kelemahan/keletihan Perubahan pola istirahat ; adanya factor-faktor yang mempengaruhi tidur misalnya,nyeri,ansietas. Keterbatasan partisipasi dalam hobi. 3. Eliminasi Eliminasi urine : gangguan pada glomerulus menyebabkan sisa-sisa metabolisme tdak dapat dieskresi dan terjadi penyerapan kembali air dan natrium pada tubulus ginjal yang tidak mengalami gangguan yang menyebabkan oliguri, anuria, proteinuria, hematuria. 4. Makanan/ cairan Dapat terjadi kelebihan beban sirkulasi karena adanya retensi natrium dan air,edema pada sekitar mata dan seluruh tubuh.Klien mudah mengalami infeksi karena adanya depresi sistem imun.Adanya mual,muntah,dan anoreksia menyebabkan intake nutrisi yang tidak adekuat.BB meningkat karena adanya edema.Perlukaan pada kulit dapat terjadi karena uremia. 5. Kognitif dan preseptual Peningkatan ureum darah menyebabkan kulit bersisik kasar dan gatal-gatal karena adanya uremia.gangguan penglihatan dapat terjadi apabila terjadi hipertensi. 6. Presesepsi diri Klien dan orang tua cemas dan takut karena adanya pembedahan

B. Diagnosa keperawatan a. Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan

b. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan anak dipuasakan sebelum dan sesudah operasi, anoreksia dan muntah c. Kuranganya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan rencana pengobatan 11 | P a g e

d. Kecemasan berhubungan dengan pembedahan dengan nephrectom e. Nutrisi kurang dari keburuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia

C. Rencana asuhan keperawatan 1. Diagnosa I Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan Tujuan : nyeri dapat teratasi

Intervensi : a. Tentukan nyeri, misalnya lokasi nyeri, frekuensi, durasi, dan intensitas, dan tindakan penghilangan yang digunakan R : informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi

kebutuhan/keefektifan intervensi. Pengalaman nyeri adalah individual yang digabungkan dengan baik respon fisik dan emosional. b. Memberikan tindakan kenyamanan dasar misalnya (reposisi, gosokkan punggung) dan aktifitas hiburan misalnya (musik, televisi) R : meningkatkan relaksasi dan membantu menfokuskan perhatian. c. Dorong penggunaan keterampilan manajemen nyeri (misalnya tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi),tertawa, musik, dan sentuhan terapeutik R : memungkinkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan rasa kontrol d. Berikan analgesik sesuai indikasi R : nyeri adalah komplikasi sering dari kanker, meskipun respon individual berbeda. Saat penyakit/pengobatan terjadi, penilaian dosis dan pemberian akan diperlukan. 2. Diagnosa II Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan anak dipuasakan sebelum dan sesudah operasi, anoreksia dan muntah Tujuan : klien akan menampakkan volume cairan adekuat/mempertahankan cairan adekuat Intervensi :

12 | P a g e

a. Pantau masukan dan haluaran dan berat jenis;massuaknsemua sumber haluaran misalnya muntah. R : keseimbangan cairan negatif terus menerus, menurunkan haluaran renal dan konsentrasi urine menunjukan terjadinya dehidrasi dan perlunya peningkatan penggantian cairan. b. Kaji turgor kulit dan kelembaban membrane mukosa, memperhatikan keluhan haus R : indiIkator tidak langsung dari status dehidrasi/derajat kekurangan. c. Dorong peningkatan masukan cairan sesuai toleransi individu. R : membantu dalam memelihara kebutuhan cairan dan menurunkan resiko efek samping yang membahayakan. d. Berikan cairan IV sesuai indikasi R : diberikan untuk hidrasi umum serta mengencerkan obat anti neoplastik dan menurunkan efek samping merugikan misalnya mual dan muntah. 3. Diagnosa III Kuranganya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan rencana pengobatan Tujuan a. Klien akan mengatakan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan b. Klien akan berpartisipasi dalam program pengobatan. Intervensi A. Tinjau ulang dengan pasien/orang terdekat pemahaman diagnosa khusus, alternative pengobatan, dan sifat harapan. R : menvalidasi tingkat pemahaman saat ini, mengidentifikasi kebutuhan belajar, dan memberikan dasar pengetahuan dimana pasien membuat keputusan berdasarkan informasi. B. Beri tahu kebutuhan perawatan khusus di rumah R : memberikan informasi mengenai perubahan yang di perlukan dalam rencana memenuhi kebutuhan terapeutik C. Lakukan `evaluasi sebelum pulang ke rumah sesuai indikasi 13 | P a g e

R : membantu dalam transisi ke lingkungan rumah dengan memberikan informasi tentang kebutuhan perubahan pada situasi fisik. D. Tinjau ulang pasien/orang terdekatnya pentingnya mempertahankan status nutrisi yang optimal. R :meningkatkan kesejahteraan, memudahkan pemulihan dan

memungkinkan pasien mentolerir pengobatan. 4. Diagnosa IV Kecemasan berhubungan dengan pembedahan Tujuan Berkurangnya kecemasan Klien dapat memehami penyakitnya Intervensi Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan R : memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut realistis serta kesalahan konsep diagnosis. Berikan lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak untuk berbicara. R : membantu pasien untuk merasa diterima pada adanya kondisi tanpa perasaan dihakimi. Bantu pasien/orang terdekat dalam mengenali dan mengklarifikasi rasa takut untuk memulai mengembangkan strategi koping untuk menghadapi rasa takut ini. R : keterampilan koping sering rusak setelah didiagnosis dan selama fase pengobatan yang berbeda. Dukungan dan konseling sering perlu untuk memungkinkan individu mengenal dan menghadapi rasa takut untuk meyakini bahwa strategi control/koping tersedia. Dorong dan kembangkan interaksi pasien dengan system pendukung R : mengurangi perasaan isolasi. Bila system pendukung keluarga tidak tersedia, sumber luar mungkin diperlukan dengan segera misalnya, kelompok pendukung kanker local. 5. Diagnosa V 14 | P a g e

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia Tujuan Klien akan menunjukan berat badan stabil atau peningkatan berat badan sesuai sasaran dan tidak Intervensi 1. Ukur tinggi, berat badan dan ketebalan lipatan kulit tisep(atau pengukuran atropometrik lain sesuai indikasi). Pastiakan jumlah penurunan berat badan saat ini. Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi. R : membantu dalam identifikasi malnutrisi protein-kalori, khususnya bila berat badan dan pengukuran atropometrik kurang dari normal. sada tanda-tanda malnutrisi 2. Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient, dengan masukan cairan adekuat. Dorong penggunaan suplemen dan makan sering lebih sedikit yang dibagi-bagi selama sehari. R : kebuuhan jaringan metabolic ditingkatkan begitu juga cairan. Suplemen dapat memainkan peran penting dalam mempertahankan masukan kalori dan protein adekuat. 3. Dorong komunikassi terbuka mengenai anoreksia R : sering sebagai distress emosi, khususnya untuk orang terdekat yang menginginkan untuk member makan pasien dengan sering. Bila pasien menolak, orang terdekat dapat merasakan ditolak/frustasi 4. Rujuk pada ahli diet/tim pendukung nutrisi R : member rencana diet khusus untuk memenuhi kebutuhan individu dan menurunkan masalah berkenaan dengan malnutrisi protein dan defisiensi mikronutrien. D. Evaluasi 1. Diagnose I Nyeri berhubungan dengan insisi bedah 1. Melaporkan penghilangan nyeri maksimal/control dengan pengaruh minimal pada AKS 2. Mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan. 15 | P a g e

3. Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan sesuai indikasi untuk situasi individu 2. Diagnose II Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan anak di puasakan sebelum dan sesudah operasi, anoreksia, mual dan muntah 1) Menunjukan keseimbangan cairan adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, membrane mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat, dan haluaran urine adekuat secara individual 3. Diagnosa III Kuranganya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan
1. Mengungkapkan informasi akurat tentang diagnose dan aturan pengobatan

pada tingkatan kesepian diri sendiri


2. Melakukan dengan benar prosedur yang diperlukan dan menjelskan alas an

tindakan
3. Melakukan perubahan gaya hidup yang perlu dan berpartisipasi dalam

pengobatan 4. Diagnoa IV Kecemasan berhubungan dengan pembedahan a. Menunjukan rentang yang tepat dari perasaan dan brkurangnya rasa takut b. Tampak rileks dan melaporkan ansietas pada tingkat dapat diatas. 5. Dianosa V 1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia i. Mendemonstrasikan berat badan stabil, penambahan berat badan progresif kearah tujuan dengan normalisasi nilai laboratorium dan bebas tanda malnutrisi ii. Pengungkapan pemahan pengaruh individual pada masukan adekuat iii. Berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang napsu makan/peningkatan masukan diet.

16 | P a g e

ASKEP KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. N DENGAN TUMOR GINJAL DI RS POLRI KRAMAT JATI

Seoranganak N berusia 7 tahun dating kerumah sakit polri kramat jati bersama orang tuannya dengan keluhan utama: teraba mass padat pada perut anaknya, BAK terdapat darah. Keluhan saat ini: demam, malaise, anoreksia. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh ners reni dapat data : BB 22 kg, Td : 110/75 mmhg, suhu : 38 o c, nadi 100x/menit, konjungtivapucat. Padapemeriksaanlabolatorium :hb : 9 g/dl, urin : eritrosit banyak. Pada pemeriksaan diagnostic : CT-Scan abdomen dengan kontraskesan : pembesaran ginjal, infiltrasi tumor kejaringan sekitarnya . USG kesan : tumor solit atau padat hasil Rontgen : BNO-IVP : gambaran distorsi, penekanan dan pemanjangan susunan pelvis dankalises. Hasil Renoarteriogram : gambaran arteri mamasuki daerah tumor. Rencana jika Hb sudah normal akan dilakukan operasi oleh ahli bedah anak. Orang tua anak merasa cemas anaknya harus operasi dan bingung terkait pengobatan selanjutnya.

1. Data Fokus

NO 1

DATA SUBJEKTIF

DATA OBJEKTIF

Orang tua klien mengatakan teraba BB : 22 kg mass padat pada perut anaknya. TTV : S : 38 o C

Orang tua klien mengatakan BAK Td : 110/75 mmHg anaknya terdapat darah.

Orang tua klien mengatakan saat ini N : 100 x/menit anaknya demam. Konjungtiva pucat.

Orang tua klien mengatakan saat ini Pemeriksaan lab : 17 | P a g e

anaknya malaise 5 Orang tu klien mengatakan sat ini anaknya anoreksia 6 Orang tua klien mengatakan merasa cemas pada anaknya yang harus operasi

1. Hb : 9 g/dl 2. Urin : eritrosit banyak Pemeriksaan Diagnostik : 3. CT-Scan Pembesaran Abdomen :

ginjal,

infiltrasi tumor ke jaringan sekitarnya. 4. USG : Tumor solit atau padat 5. Hasil Rontgen BNO-IVP : Gambaran penekanan pemanjangan pelvis dan kalises. 6. Hasil Renoarteriogram : Gambaran arteri memasuki daerah tumor. Rencana jika hb sudah normal akan dilakukan operasi oleh ahli bedah anak. distorsi, dan susunan

2. ANALISA DATA NO 1. DATA FOKUS DS : 7. Orang tua klien Resiko BAK kekurangan volume cairan tinggi kehilangan protein dan cairan MASALAH ETIOLOGI

mengatakan

anaknya terdapat darah. 8. Orang tua saat

klien (intravaskuler) ini

mengatakan

anaknya demam 18 | P a g e

9. Orang

tua saat

klien ini

mengatakan

anaknya malaise DO : 10. Konjungtiva pucat. 11. Pemeriksaan lab : Hb : 9 g/dl Urin : eritrosit banyak 12. S : 38 o C 13. Hasil Renoarteriogram : Gambaran memasuki tumor. 2. DS : 14. Orang tua klien Nyeri Insisi dan distensi abdomen arteri daerah

mengatakan teraba mass padat anaknya. DO : 15. CT-Scan Abdomen : pada perut

Pembesaran infiltrasi

ginjal, tumor ke

jaringan sekitarnya. 16. USG : Tumor solit atau padat 17. Hasil Rontgen BNOIVP : Gambaran

distorsi, penekanan dan pemanjangan susunan

pelvis dan kalises. 3. DS : 19 | P a g e

18. Orang

tua saat

klien Perubahan Nutrisi Peningkatan ini Kurang Kebutuhan. klien saat ini dari kebutuhan metabolime, kehilangan protein dan

mengatakan

anaknya demam. 19. Orang tua

mengatakan

anaknya malaise 20. Orang tu sat klien ini

penurunan intake

mengatakan

anaknya anoreksia DO : 21. TTV : Td : 110/75 mmHg S : 38 o C N : 100 x/menit 22. Konjungtiva pucat. 23. Pemeriksaan lab : Hb : 9 g/dl Urin : eritrosit banyak. 24. CT-Scan Abdomen :

Pembesaran infiltrasi

ginjal, tumor ke

jaringan sekitarnya.

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko tinggi kekurangan volume cairan (intravaskuler) berhubungan dengan kehilangan protein dan cairan. 2. Nyeri berhubungan dengan Insisi dan distensi abdomen

20 | P a g e

3. Perubahan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolime, kehilangan protein dan penurunan intake. 4. 4. INTERVENSI KEPERAWATAN

a. Resiko tinggi kekurangan volume cairan (intravaskuler) berhubungan dengan kehilangan protein dan cairan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan resiko tinggi kekurangan volume cairan teratasi. Kriteria Hasil : - BAK tidak terdapat darah - Hb normal ( 11 12 g/dl) - Urin (eritrosit normal) Intervensi : a. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat b. Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan c. Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin, albumin, total protein ) d. Monitor vital sign setiap 15menit 1 jam e. Kolaborasi pemberian cairan IV f. Monitor status nutrisi g. Berikan cairan oral h. Berikan penggantian nasogatrik sesuai output (50 100cc/jam) i. Dorong keluarga untuk membantu pasien makan j. Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk k. Atur kemungkinan tranfusi l. Persiapan untuk tranfusi 21 | P a g e

m. Pasang kateter jika perlu n. Monitor intake dan urin output setiap 8 jam ( Askep Nanda Nic Noc ).

b. Nyeri berhubungan dengan Insisi dan distensi abdomen Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri teratasi. Kriteria Hasil : Nyeri hilang

Intervensi : Pain Manajemen a. Monitor kepuasan pasien terhadap manajemen nyeri b. Tingkatkan istirahat dan tidur yang adekuat c. Kelola anti analgetik d. Jelaskan pada pasien penyebab nyeri e. Lakukan tehnik nonfarmakologis (relaksasi, masase punggung) f. Kaji tingkat nyeri R/: Menentukan tindakan selanjutnya sebagai analgesik tambahan g. Lakukan tehnik pengurangan nyeri non farmakologis R/: Mengurangi rasa sakit h. Berikan analgesic sesuai ketentuan R/: Untuk mencegah kambuhnya nyeri i. berikan obat dengan jadwal preventif R/: Karena aspirin meningkatkan kecenderungan pendarahan

c. Perubahan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolime, kehilangan protein dan penurunan intake.

22 | P a g e

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan perubahan nutrisi teratasi. Intervensi : 1. Kaji adanya alergi makanan 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien 3. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi 4. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian. 5. Monitor adanya penurunan BB dan gula darah 6. Monitor lingkungan selama makan 7. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan 8. Monitor turgor kulit 9. Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan kadar Ht 10. Monitor mual dan muntah 11. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva 12. Monitor intake nuntrisi 13. Informasikan pada klien dan keluarga tentang manfaat nutrisi 14. Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen makanan seperti NGT/ TPN sehingga intake cairan yang adekuat dapat dipertahankan. 15. Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi selama makan 16. Kelola pemberan anti emetik:..... 17. Anjurkan banyak minum 18. Pertahankan terapi IV line 19. Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oval

23 | P a g e

BAB II HIPOSPADIA KONSEP DASAR

1. Definisi a. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra externa terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal (ujung glans penis). (Arif Mansjoer, 2000 : 374). b. Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi

hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan miggu ke 10 sampai ke 14 yang mengakibatkan orifisium uretra tertinggal disuatu tempat dibagian ventral penis antara skrotum dan glans penis. (A.H Markum, 1991 : 257). c. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2005 : 288). d. Hipospadia adalah keadaan dimana uretra bermuara pada suatu tempat lain pada bagian belakang batang penis atau bahkan pada perineum ( daerah antara kemaluan dan anus ). (Davis Hull, 1994 ) e. Hipospadia adalah salah satu kelainan bawaan pada anakanak yang sering ditemukan dan mudah untuk

mendiagnosanya, hanya pengelolaannya harus dilakukan oleh mereka yang betul-betul ahli supaya mendapatkan hasil yang memuaskan.. 2. ETIOLOGI Gangguan dan ketidakseimbangan hormon Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau bisa juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga 24 | P a g e

walaupun hormon androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama. Genetika Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi. Lingkungan Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi. 3. Klasifikasi Hipospadia dibagi menjadi beberapa tipe menurut letak orifisium uretra eksternum yaitu : a. Tipe sederhana a. Tipe sederhana adalah tipe grandular, disini meatus terletak pada pangkal glands penis. Pada kelainan ini secara klinis umumnya bersifat asimtomatik. b. Tipe penil, meatus terletak antara glands penis dan skortum. Tipe penoskrotal dan tipe perineal, kelainan cukup besar, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu.

25 | P a g e

1. Tipe hipospadia yang lubang uretranya didepan atau di anterior a. Hipospadia Glandular b. Hipospadia Subcoronal 2. Tipe hipospadia yang lubang uretranya berada di tengah a. Hipospadia Mediopenean b. Hipospadia Peneescrotal 3. Tipe hipospadia yang lubang uretranya berada di belakang atau posterior a. Hipospadia Perineal b. Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/ meatus : b. Tipe sederhana/ Tipe anterior Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe ini, meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini

bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi. 26 | P a g e

c. Tipe penil/ Tipe Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal. Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan bedah selanjutnya. d. Tipe Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan skrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun.

Klasifikasi hipospadia yang digunakan sesuai dengan letak meatus uretra yaitu tipe glandular, distal penile, penile, penoskrotal, skrotal dan perineal. Semakin ke proksinal letak meatus, semakin berat kelainan yang diderita dan semakin rendah frekuensinya. Pada kasus ini 90% terletak di distal di mana meatus terletak di ujung batang penis atau di glands penis. Sisanya yang 10% terletak lebih proksimal yaitu ditengah batang penis, skrotum atau perineum. Berdasarkan letak muara uretra setelah dilakukan koreksi korde, Brown membagi hipospadia dalam 3 bagian : a. Hipospadia anterior : tipe glanular, subkoronal, dan penis distal. b. Hipospadia Medius : midshaft, dan penis proksimal c. Hipospadia Posterior : penoskrotal, scrotal, dan perineal

3. MANIFESTASI KLINIS a. Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah, menyebar, mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok pada saat BAK. b. Pada Hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri dengan mengangkat penis keatas. c. Pada Hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan jongkok. 27 | P a g e

d. Penis akan melengkung kebawah pada saat ereksi. e. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus. f. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis. g. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar. h. Kulit penis bagian bawah sangat tipis. i. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada. j. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis. k. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga l. penis menjadi bengkok. m. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum). n. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal. o. Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah penis p. Penis melengkung ke bawah q. Penis tampak seperti berkerudung karena kelainan pada kulit depan penis r. Jika berkemih, anak harus duduk. s. Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung ke arah bawah yang akan tampak lebih jelas pada saat ereksi. Hal ini disebabkan oleh adanya chordee yaitu suatu jaringan fibrosa yang menyebar mulai dari meatus yang letaknya abnormal ke glands penis. Jaringan fibrosa ini adalah bentuk rudimeter dari uretra, korpus spongiosum dan tunika dartos. Walaupun adanya chordee adalah salah satu ciri khas untuk mencurigai suatu hipospadia, perlu diingat bahwa tidak semua hipospadia memiliki chordee. 4. Patofisiologi Fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan letak meatus ini, dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian disepanjang batang penis, hingga akhirnya di perineum. Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan fibrosa yang 28 | P a g e

dikenal sebagai chordee, pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari penis. 5. Pathway ( Terlampir ) 6. Derajat Keparahan a. Ditentukan oleh satu posisi meatus uretra : glands, korona, batang penis sambungan dari batang penis dan skrotum dan perineum. b. Lokasinya. c. Derajat chordee. 7. Komplikasi a. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam 1 jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri sexsual tertentu ) b. Psikis ( malu ) karena perubahan posisi BAK. c. Kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera dioperasi saat dewasa. Komplikasi paska operasi yang terjadi : a. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi, juga terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah kulit, yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi. b. Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari anastomosis. c. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang atau pembentukan batu saat pubertas. d. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai parameter untuyk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10 %. e. Residual chordee/rekuren chordee, akibat dari rilis korde yang tidak sempurna, dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang. f. Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut. 8. Pemeriksaan Penunjang 29 | P a g e

a. Rontgen b. USG sistem kemih kelamin. c. BNO-IVP Karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan kongenital ginjal. 9. Penatalaksanaan a. Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah hipospadia adalah

merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan coitus dengan normal. b. Operasi harus dilakukan sejak dini, dan sebelum operasi dilakukan bayi atau anak tidak boleh disirkumsisi karena kulit depan penis digunakan untuk pembedahan nanti. c. Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu : 1. Operasi Hipospadia satu tahap ( ONE STAGE URETHROPLASTY ) Adalah tekhnik operasi sederhana yang sering digunakan, terutama untuk hipospadia tipe distal. Tipe distal ini meatusnya letak anterior atau yang middle. Meskipun sering hasilnya kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat. Sehingga banyak dokter lebih memilih untuk melakukan 2 tahap. Untuk tipe hipospadia proksimal yang disertai dengan kelainan yang jauh lebih berat, maka one stage urethroplasty nyaris dapat dilakukan. Tipe hipospadia proksimal seringkali di ikuti dengan kelainan-kelainan yang berat seperti korda yang berat, globuler glans yan bengkok kearah ventral (bawah) dengan dorsal; skin hood dan propenil bifid scrotum. Intinya tipe hipospadia yang letak lubang air seninya lebih kearah proksimal (jauh dari tempat semestinya) biasanya diikuti dengan penis yang bengkok dan kelainan lain di scrotum atau sisa kulit yang sulit di tarik pada saat dilakukan operasi pembuatan uretra (saluran kencing). Kelainan yang seperti ini biasanya harus dilakukan 2 tahap. 2. Operasi Hipospadia 2 tahap 30 | P a g e

Tahap pertama operasi pelepasan chordee dan tunelling dilakukan untuk meluruskan penis supaya posisi meatus (lubang tempat keluar kencing) nantinya letaknya lebih proksimal (lebih mendekati letak yang normal), memobilisasi kulit dan preputium untuk menutup bagian ventral/bawah penis. Tahap selanjutnya (tahap kedua) dilakukan uretroplasty (pembuatan saluran kencing buatan/uretra) sesudah 6 bulan. Dokter akan menentukan tekhnik operasi yang terbaik. Satu tahap maupun dua tahap dapat dilakukan sesuai dengan kelainan yang dialami oleh pasien. 10. Penatalaksaan Pembedahan Dikenal banyak tehnik operasi hipospadia, yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu : a. Operasi pelepasan chordee dan tunneling Dilakukan pada usia 1,5-2 tahun. Pada tahap ini dilakukan operasi eksisi chordee dari muara uretra sampai ke glands penis. Setelah eksisi chordee maka penis akan menjadi lurus tetapi meatus uretra masih terletak abnormal. Untuk melihat keberhasilan eksisi dilakukan tes ereksi buatan intraoperatif dengan menyuntikkan NaCL 0,9% kedalan korpus kavernosum. b. Operasi uretroplasty Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari kulit penis bagian ventral yang di insisi secara longitudinal pararel di kedua sisi. Tujuan pembedahan : a. Membuat normal fungsi perkemihan dan fungsi sosial, serta b. Perbaikan untuk kosmetik pada penis. Ada banyak variasi teknik, yang populer adalah tunneling Sidiq-Chaula, Teknik Horton dan Devine. a. Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap: 1. Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan terowongan yang berepitel pada glans penis. Dilakukan pada usia 1 -2 tahun. Penis diharapkan lurus, tapi meatus masih pada tempat yang

31 | P a g e

abnormal. Penutupan luka operasi menggunakan preputium bagian dorsal dan kulit penis. 2. Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi, saat parut sudah lunak. Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke glans, lalu dibuat pipa dari kulit dibagian tengah. Setelah uretra terbentuk, luka ditutup dengan flap dari kulit preputium dibagian sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan pada garis tengah. Dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama dengan harapan bekas luka operasi pertama telah matang. 3. Teknik Horton dan Devine, dilakukan 1 tahap, dilakukan pada anak lebih besar dengan penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadi jenis distal (yang letaknya lebih ke ujung penis). Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis dengan pedikel (kaki) kemudian dipindah ke bawah. Mengingat pentingnya preputium untuk bahan dasar perbaikan hipospadia, maka sebaiknya tindakan penyunatan ditunda dan dilakukan berbarengan dengan operasi hipospadi. 11. Prinsip Terapi perawatan bedah a. Koreksi bedah. b. Persiapan prabedah c. Penatalaksanaan pasca bedah. Anak harus dalam tirah baring. Baik luka penis dan tempat luka donor harus dijaga tetap bersih dan kering. Perawatan kateter. Pemeriksaan urin untuk memeriksa kandungan bakteri. Masukan cairan yang adekuat untuk mempertahankan aliran ginjal dan mengencerkan toksin. Pengangkatan jahitan kulit setelah 5-7 hari

32 | P a g e

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK HIPOSPADIA a. PENGKAJIAN a. Kaji biodata pasien b. Kaji riwayat masa lalu: Antenatal, natal, c. Kaji riwayat pengobatan ibu waktu hamil d. Kaji keluhan utama e. Kaji skala nyeri (post operasi) b. PEMERIKSAAN FISIK 1. Inspeksi kelainan letak meatus uretra 2. Palpasi adanya distensi kandung kemih. c. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Pasien pre operasi 1. Manajemen regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan pola perawatan keluarga. 2. Perubahan eliminasi (retensi urin) berhubungan dengan obstruksi mekanik 3. Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan operasi baik keluarga dan klien. b. Pasien post operasi 1. Kesiapan dalam peningkatan manajemen regimen terapeutik

berhubungan dengan petunjuk aktivitas adekuat. 2. Nyeri berhubungan dengan post prosedur operasi 3. Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter 4. Perubahan eliminasi urine berhibingan dengan trauma operasi d. Intervensi Diagnosa pre operasi 1. Diagnosa : Manajemen regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan pola perawatan keluarga. 33 | P a g e

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan manajemen regimen terapeutik kembali efektif. NOC : Family health status Indikator :

a. Status imunisasi anggota kelurga b. Kesehatan fisik anggota keluarga c. Asupan makanan yang adekuat d. Tidak adanya kekerasan anggota kelurga e. Penggunaan perawatan kesehatan Keterangan skala : 1 = Tidak pernah dilakukan 2 = Jarang dilakukan 3 = Kadang dilakukan 4 = Sering dilakukan 5 = Selalu dilakukan NIC : Family mobilization :

Intervensi

1. Jadilah pendengar yang baik untuk anggota keluarga 2. Diskusikan kekuatan kelurga sebagai pendukung 3. Kaji pengaruh budaya keluarga 4. Monitor situasi kelurga 5. Ajarkan perawatan di rumah tentang terapi pasien 6. Kaji efek kebiasaan pasien untuk keluarga 7. Dukung kelurga dalam merencanakan dan melakukan terapi pasien dan perubahan gaya hidup 34 | P a g e

8. Identifikasi perlindungan yang dapat digunakan kelurga dalam menjaga status kesehatan. 2. Diagnosa : Perubahan eliminasi (retensi urin) berhubungan dengan mekanik. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan retensi urin berkurang. NOC : Pengawasan urin Indikator : obstruksi

a. Mengatakan keinginan untuk BAK b. Menentukan pola BAK c. Mengatakan dapat BAK dengan teratur d. Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet e. Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK f. Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK g. Mengesankan kandung kemih secara komplet Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan NIC : Perawatan retensi urin :

Intervensi

35 | P a g e

1. Melakukan pencapaian secara komperhensif jalan urin berfokus kepada inkontinensia (ex: urin output, keinginan BAK yang paten, fungsi kognitif dan masalah urin) 2. Menjaga privasi untuk eliminasi 3. Menggunakan kekuatan dari keinginan untuk BAK di toilet 4. Menyediakan waktu yang cukup untuk mengosongkan blader (10 menit) 5. Menyediakan perlak di kasur 6. Menggunakan manuver crede, jika dibutuhkan 7. Menganjurkan untuk mencegah konstipasi 8. Monitor intake dan output 9. Monitor distensi kandung kemih dengan papilasi dan perkusi 10. Berikan waktu berkemih dengan interval reguler, jika diperlukan.

3. Diagnosa : Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan operasi baik keluarga dan klien. Tujuan : Setelah dilakukan tindkan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kecemasan pasien berkurang. NOC : Kontrol ansietas Indikator :

a. Tingkat kecemasan di batas normal b. Mengetahui penyebab cemas c. Mengetahui stimulus yang menyebabkan cemas d. Informasi untuk mengurangi kecemasan e. Strategi koping untuk situasi penuh stress f. Hubungan sosial g. Tidur adekuat h. Respon cemas Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 36 | P a g e

2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan

NIC

: Pengurangan cemas :

Intervensi

1. Ciptakan suasana yang tenang 2. Sediakan informasi dengan memperhatikan diagnosa, tindakan dan prognosa, dampingi pasien untuk meciptakan suasana aman dan mengurangi ketakutan 3. Dengarkan dengan penuh perhatian 4. Kuatkan kebiasaan yang mendukung 5. Ciptakan hubungan saling percaya 6. Identifikasi perubahan tingkatan kecemasan 7. Bantu pasien mengidentifikasi situasi yang menimbulkan kecemasan.

Diagnosa post operasi 1. Diagnosa : Kesiapan dalam peningkatan manajemen regimen terapeutik berhubungan dengan petunjuk aktivitas adekuat. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kesiapan peningkatan regimen terapeutik baik. NOC : Family participation in profesioal care Indikator :

1. Ikut serta dalam perencanaan perawatan 2. Ikut serta dalam menyediakan perawatan 37 | P a g e

3. Menyediakan informasi yang relefan 4. Kolaborasi dalam melakukan latihan 5. Evaluasi keefektifan perawatan Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan NIC : Family process maintenance :

Intervensi

1. Anjurkan kunjungan anggota keluarga jika perlu 2. Bantu keluarga dalam melakukan strategi menormalkan situasi 3. Bantu keluarga menemukan perawatan anak yang tepat 4. Identifikasi kebutuhan perawatan pasien di rumah dan bagaimana pengaruh pada keluarga 5. Buat jadwal aktivitas perawatan pasien di rumah sesuai kondisi 6. Ajarkan keluarga untuk menjaga dan selalu menngawsi perkembangan status kesehatan keluarga. 2. Diagnosa : Nyeri akut berhubungan dengan post prosedur operasi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri berkurang. NOC 1: Level nyeri Indikator :

1. Melaporkan nyeri (frekuensi & lama) 38 | P a g e

2. Perubahan vital sign dalam batas normal 3. Memposisikan tubuh untuk melindungi nyeri NOC 2: Tingkat kenyamanan Indikator :

1. Melaporkan kondisi fisik yang nyeman 2. Menunjukan ekspresi puas terhadap manajemen nyeri

NOC 3: Kontrol nyeri Indikator :

1. Mengungkap faktor pencetus nyeri 2. Menggunakan tetapi non farmakologi 3. Dapat menggunakan berbagai sumber untuk mengontrol nyeri 4. Melaporkan nyeri terkontrol Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan

NIC 1 : Manajemen nyeri Intervensi :

a. Kaji secara komperhensif mengenai lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor pencetus nyeri 39 | P a g e

b. Observasi keluhan nonverbal dari ketidaknyamanan c. Ajarkan teknik nonfarmakologi (ralaksasi) d. Bantu pasien & keluarga untuk mengontrol nyeri e. Beri informasi tentang nyeri (penyebab, durasi, prosedur antisipasi nyeri)

NIC 2 : Monitor tanda vital Intervensi :

a. Monitor TD, RR, nadi, suhu pasien b. Monitor keabnormalan pola napas pasien c. Identifikasi kemungkinan perubahan TTV d. Monitor toleransi aktivitas pasien e. Anjurkan untuk menurunkan stress dan banyak istirahat

NIC 3 : Manajemen lingkungan Intervensi :

a. Cegah tindakan yang tidak dibutuhkan b. Posisikan pasien dalam posisi yang nyaman

3. Diagnosa : Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi. NOC 1: Deteksi resiko Indikator :

a. Mengidentifikasi faktor yang dapat menimbulkan resiko b. Menjelaskan kembali tanda & gejala yang mengidentifikasi faktor resiko 40 | P a g e

c. Menggunakan sumber & pelayanan kesehatan untuk mendapat sumber informasi NOC 2: Kontrol resiko Indikator :

a. Membenarkan faktor resiko b. Memonitor faktor resiko dari lingkungan c. Memonitor perilaku yang dapat meningkatkan faktor resiko d. Memonitor & mengungkapkan status kesehatan

NOC 3: Status imun Indikator :

a. Tidak menunjukan infeksi berulang b. Suhu tubuh dalam batas normal c. Sel darah putih tidak meningkat Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan NIC 1 : Kontrol infeksi Intervensi :

a. Ajarkan pasien & kelurga cara mencucitangan yang benar b. Ajarkan pada pasien & keluarga tanda gejala infeksi & kapan harus melaporkan kepada petugas 41 | P a g e

c. Batasi pengunjung d. Bersihkan lingkungan dengan benar setelah digunakan pasien NIC 2 : Perawatan luka Intervensi :

a. Catat karakteristik luka, drainase b. Bersihkan luka dan ganti balutan dengan teknik steril c. Cuci tangan dengan benar sebelum dan sesudah tindakan d. Ajarkan pada pasien dan kelurga cara prosedur perawatan luka

NIC 3 : Perlindungan infeksi Intervensi :

a. Monitor peningkatan granulossi, sel darah putih b. Kaji faktor yang dapat meningkatkan infeksi.

4.Diagnosa : Perubahan eliminasi urine (retensi urin) berhubungan dengan trauma operasi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan retensi urin berkurang. NOC : Pengawasan urin Indikator :

a. Mengatakan keinginan untuk BAK b. Menentukan pola BAK c. Mengatakan dapat BAK dengan teratur d. Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet e. Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK f. Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK 42 | P a g e

g. Mengosongkan kandung kemih secara komplet

Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan

NIC

: Perawatan retensi urin :

Intervensi

a. Melakukan pencapaian secara komperhensif jalan urin berfokus kepada inkontinensia (ex: urin output, keinginan BAK yang paten, fungsi kognitif dan masalah urin) b. Menjaga privasi untuk eliminasi c. Menggunakan kekuatan dari keinginan untuk BAK di toilet d. Menyediakan waktu yang cukup untuk mengosongkan blader (10 menit) e. Menyediakan perlak di kasur f. Menggunakan manuver crede, jika dibutuhkan g. Menganjurkan untuk mencegah konstipasi h. Monitor intake dan output i. Monitor distensi kandung kemih dengan papilasi dan perkusi j. Berikan waktu berkemih dengan interval reguler, jika diperlukan.

E. EVALUASI Pre operasi skala 43 | P a g e

1. Diagnosa : Manajemen regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan pola perawatan keluarga. Indikator : a. Status imunisasi anggota kelurga b. Kesehatan fisik anggota keluarga c. Asupan makanan yang adekuat 5 4 5 5

d. Tidak adanya kekerasan anggota kelurga e. Penggunaan perawatan kesehatan 4

2. Diagnosa : Perubahan eliminasi (retensi urin) berhubungan dengan obstruksi mekanik Indikator : a. Mengatakan keinginan untuk BAK 4 b. Menentukan pola BAK 4 4

c. Mengatakan dapat BAK dengan teratur

d. Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet 4 e. Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK 4 4 4

f. Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK g. Mengesankan kandung kemih secara komplet

3. Diagnosa : Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan operasi baik keluarga dan klien. Indikator : a. Tingkat kecemasan di batas normal 4 b. Mengetahui penyebab cemas 4 c. Mengetahui stimulus yang menyebabkan cemas d. Informasi untuk mengurangi kecemasan e. Strategi koping untuk situasi penuh stress f. Hubungan sosial g. Tidur adekuat 4 h. Respon cemas 4 Post operasi 44 | P a g e 4 4 4 4

1. Diagnosa : Kesiapan dalam peningkatan manajemen regimen terapeutik berhubungan dengan petunjuk aktivitas adekuat. Indikator : a. Ikut serta dalam perencanaan perawatan b. Ikut serta dalam menyediakan perawatan c. Menyediakan informasi yang relefan d. Kolaborasi dalam melakukan latihan e. Evaluasi keefektifan perawatan 2. Diagnosa : Nyeri berhubungan dengan post prosedur operasi Indikator : a. Melaporkan nyeri (frekuensi & lama) b. Perubahan vital sign dalam batas normal (TD 120/80 mmHg; RR 22 x/mt; N 75x/mt; S 36,8C) c. Memposisikan tubuh untuk melindungi nyeri d. Melaporkan kondisi fisik yang nyeman e. Menunjukan ekspresi puas terhadap manajemen nyeri f. Mengungkap faktor pencetus nyeri g. Menggunakan tetapi non farmakologi h. Dapat menggunakan berbagai sumber untuk mengontrol nyeri i. Melaporkan nyeri terkontrol 3. Diagnosa : Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter Indikator : a. Mengidentifikasi faktor yang dapat menimbulkan resiko 4 4 4 5 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5

b. Menjelaskan kembali tanda & gejala yang mengidentifikasi faktor resiko 4 c. Menggunakan sumber & pelayanan kesehatan untuk mendapat sumber informasi 4 4 4

d. Membenarkan faktor resiko

e. Memonitor faktor resiko dari lingkungan

f. Memonitor perilaku yang dapat meningkatkan faktor resiko 4 45 | P a g e

g. Memonitor & mengungkapkan status kesehatan h. Tidak menunjukan infeksi berulang i. Suhu tubuh dalam batas normal 4 j. Sel darah putih tidak meningkat 4 4

4. Diagnosa : Perubahan eliminasi urine berhibingan dengan trauma operasi Indikator : a. Mengatakan keinginan untuk BAK b. Menentukan pola BAK 4 c. Mengatakan dapat BAK dengan teratur 4 d. Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet 4 e. Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK f. Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK 4 4 4

g. Mengosongkan kandung kemih secara komplet 4

46 | P a g e

ASKEP KASUS Data Subjektif Ortu klien Saat buang air kecil Data Objektif tidak BB : 12 Kg

keluar dari lubang ujung gland penis Suhu : 37 melainkan keluar dari bawah permukaan Nadi : 112 x/menit penis. Klien mengatakan kurang Meatusnya uretra berada di pangkal penis mengerti abnormalitas lebih ke proksimal dari tempat yang normal pada ujung gland

tentang perawatan di rumah pada pasien.

Ortu klien mengatakan setelah mnedengar penis. klien harus dioperasi ortu mengatakan Terdapat chordeae dari meatus yang cemas. letaknya abnormal ke gland penis Rencana 2 hari akan dilakukan operasi oleh ahli bedah urologi Klien nampak cemas Klien nampak tidak mengerti perawatan dirumah

Data Data Subjek : Ortu klien Saat buang air kecil tidak keluar dari

etiologi Gangguan eliminasi

Masalah Obstruksi mekanik

lubang ujung gland penis melainkan keluar dari

bawah permukaan penis.

Data Objek : BB : 12 Kg Suhu : 37 Nadi : 112 x/menit 47 | P a g e

Meatusnya uretra berada di pangkal penis abnormalitas lebih ke proksimal dari tempat yang normal pada ujung gland penis. Terdapat meatus chordeae yang dari

letaknya

abnormal ke gland penis

Klien mengatakan kurang Kurang pengetahuan mengerti tentang perawatan di rumah pada pasien.

Perawatan keluarga

Data Objek Klien mengerti dirumah Klien nampak cemas nampak tidak

perawatan

Ortu setelah harus

klien

mengatakan cemas klien ortu

Akan dilakukan operasi

mnedengar dioperasi

mengatakan cemas.

No 1

Diagnosa Perubahan eliminasi berhubungan dengan 48 | P a g e

2 3

Kurang Pengetahuan berhubungan dengan perawatan keluarga Cemas berhubungan dengan akan dilakukan operasi

2. Diagnosa : Perubahan eliminasi (retensi urin) berhubungan dengan mekanik

obstruksi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan retensi urin berkurang. NOC : Pengawasan urin Indikator :

c. Mengatakan keinginan untuk BAK d. Menentukan pola BAK e. Mengatakan dapat BAK dengan teratur f. Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK ke toilet g. Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK h. Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK i. Mengesankan kandung kemih secara komplet

Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan

49 | P a g e

NIC

: Perawatan retensi urin :

Intervensi

d. Melakukan pencapaian secara komperhensif jalan urin berfokus kepada inkontinensia (ex: urin output, keinginan BAK yang paten, fungsi kognitif dan masalah urin) e. Menjaga privasi untuk eliminasi f. Menggunakan kekuatan dari keinginan untuk BAK di toilet g. Menyediakan waktu yang cukup untuk mengosongkan blader (10 menit) h. Menyediakan perlak di kasur i. Menggunakan manuver crede, jika dibutuhkan j. Menganjurkan untuk mencegah konstipasi k. Monitor intake dan output l. Monitor distensi kandung kemih dengan papilasi dan perkusi m. Berikan waktu berkemih dengan interval reguler, jika diperlukan.

Intervensi 1 2) Pantau TTV Jelaskan mengenai kondisi pasien

Rasional R/ mengetahui respon tubuh pasien R/ agar pasien legih kooperatif

3)

Ukur intake dan output cairan

R/ agar pasien legih kooperatif

4)

Lakukan latihan pergerakan

R/ monitor keseimbangan cairan

5)

Lakukan relaksasi dalam berkemih kemampuan berkemih

R/ meningkatkan fungsi blader

6)

Kolaborasi dengan tim medis

R/ merelaksasi pikiran dan meningkatkan kemampuan berkemih

Dx 2

50 | P a g e

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan manajemen regimen terapeutik kembali efektif. NOC : Family health status Indikator :

f. Status imunisasi anggota kelurga g. Kesehatan fisik anggota keluarga h. Asupan makanan yang adekuat i. j. Tidak adanya kekerasan anggota kelurga Penggunaan perawatan kesehatan

Keterangan skala : 1 = Tidak pernah dilakukan 2 = Jarang dilakukan 3 = Kadang dilakukan 4 = Sering dilakukan 5 = Selalu dilakukan

NIC

: Family mobilization :

Intervensi

f. Jadilah pendengar yang baik untuk anggota keluarga g. Diskusikan kekuatan kelurga sebagai pendukung h. Kaji pengaruh budaya keluarga i. Monitor situasi kelurga j. Ajarkan perawatan di rumah tentang terapi pasien k. Kaji efek kebiasaan pasien untuk keluarga 51 | P a g e

l. Dukung kelurga dalam merencanakan dan melakukan terapi pasien dan perubahan gaya hidup m. Identifikasi perlindungan yang dapat digunakan kelurga dalam menjaga status kesehatan. Dx 3 Diagnosa : Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan operasi baik keluarga dan klien. Tujuan : Setelah dilakukan tindkan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kecemasan pasien berkurang. NOC : Kontrol ansietas Indikator :

e. Tingkat kecemasan di batas normal f. Mengetahui penyebab cemas g. Mengetahui stimulus yang menyebabkan cemas h. Informasi untuk mengurangi kecemasan i. j. Strategi koping untuk situasi penuh stress Hubungan sosial

k. Tidur adekuat l. Respon cemas

Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan

52 | P a g e

NIC

: Pengurangan cemas :

Intervensi

d. Ciptakan suasana yang tenang e. Sediakan informasi dengan memperhatikan diagnosa, tindakan dan prognosa, dampingi pasien untuk meciptakan suasana aman dan mengurangi ketakutan f. Dengarkan dengan penuh perhatian g. Kuatkan kebiasaan yang mendukung h. Ciptakan hubungan saling percaya i. Identifikasi perubahan tingkatan kecemasan j. Bantu pasien mengidentifikasi situasi yang menimbulkan kecemasan.

Intervensi

Rasional

Kaji tingkat rasa takut pada pasien dan Membantu menentukan jenis intervensi orang terdekat . perhatikan tanda yang diperlukan

pengingkaran ,depresi dan penyempitan fokus perhatian. Rasa takut akan ketidaktahuan diperkecil Jelaskan prosedur/ asuhan yang diberikan. dengan informasi/ pengetahuan dan dapat Ulangi penjelasan dengan sering / sesuai meningkatkan penerimaan pembedahan. kebutuhan Perubahan proses fikir dan tingginya tingkatansietas/ takut dapat menurunkan Akui kenormalan perasaan pada situasi ini ketakutan, memerlukan pengulangan

informasi penting. Dorong dan berikan kesempatan untuk pasien/ orang tedekat mngajukan Mengetahui perasaan takut normal bahwa dapat pasien

pertanyaan dan menanyakan masalah

menghilangkan

kehilangan kontrol Akui masalah pasien/orang terdekat 53 | P a g e

Keterlibatan

meningkatkan

perasaan

Tunjukan indikator positif pengobatan berguna, memberikan kesempatan untuk contoh perbaikan dalam nilai labolatorium mengakui kemampuan individu, dan dapat . Tdstabil, berkurang kelelahan memperkecil ketidaktahuan. ketakutan karena

54 | P a g e

BAB III BENIGNA PROSTAT HIPERTROPI

KONSEP DASAR PENYAKIT 1. PENGERTIAN Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua

komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika ( Lab / UPF

Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193 ). BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum berbagai derajat

pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebabkan obstruksi uretral 2000 : 671 ). dan pembatasan aliran urinarius

( Marilynn, E.D,

2. Etiologi Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. 55 | P a g e

Faktor lain yang erat kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan Ada beberapa factor kemungkinan penyebab antara lain : 1). Dihydrotestosteron Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi . 2). Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteron Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma. 3). Interaksi stroma - epitel Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast dan penurunan transforming growth factor beta growth factor

menyebabkan

hiperplasi stroma dan epitel. 4). Berkurangnya sel yang mati Estrogen yang meningkat menyebabkan stroma dan epitel dari kelenjar prostat. 5). Teori sel stem Sel stem yang meningkat mengakibatkan (Roger Kirby, 1994 : 38 ). 3. Manifestasi Klinis Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu : Gejala Obstruktif a. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika. b. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan 56 | P a g e proliferasi sel transit. peningkatan lama hidup

karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi. c. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing. d. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra. e. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas.

2.

Gejala Iritasi

a. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan. b. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari. c. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

4.

PATOFISIOLOGI Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat, resistensi pada leher buli-buli dan daerah prostat meningkat, serta otot destrusor menebal dan merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan destrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka destrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensio urin yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.

57 | P a g e

Patofisiologi
Peningkatan Sel Sterm Peningkatan 5 Alfa reduktase dan reseptor endogen Proses Menua Interaksi Sel Epitel dan Stroma Berkurangnya sel yang mati

Ketidakseimbangan hormon ( Estrogen dan testoteron )

Hiperplasia pada epitel dan stroma pada kelenjar prostat

Penyempitan Lumen Ureter Protatika

Menghambat Aliran Urina

58 | P a g e

Retensi Urina

Peningkata tekanan intra vesikal

Hidro Ureter

Hiperirritable pada bladder

Hidronefritis

Peningkatan Kontraksi Otot detrusor dari buli-buli

Penurunanan Fungsi ginjal

Hipertropi Otot detrusor,trabekulasi

Terbentuknya Sekula-sekula dan difertikel buli-buli

Frekuensi

Intermiten

Disuria

Urgensi Hesistensi

Terminal dribling

59 | P a g e

5.

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan colok dubur Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan kesan keadaan tonus sfingter anus, mukosa rektum, kelainan lain seperti benjolan dalam rektum dan prostat. Pada perabaan melalui colok dubur dapat diperhatikan konsistensi prostat, adakah asimetri, adakah nodul pada prostat, apakah batas atas dapat diraba. Derajat berat obstruksi dapat diukur dengan menentukan jumlah sisa urine setelah miksi spontan. Sisa miksi ditentukan engan mengukur urine yang masih dapat keluar dengan kateterisasi. Sisa urine dapat pula diketahui dengan melakukan ultrasonografi kandung kemih setelah miksi. 2. Pemeriksaan laboratorium a. Analisis urin dan pemeriksaan mikroskopik urin, elektrolit, kadar ureum kreatinin. b. Bila perlu Prostate Spesific Antigen (PSA), untuk dasar penentuan biopsi. PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaan adanya keganasan. 3. Pemeriksaan radiologi 4. Pemeriksaan Uroflowmetri Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan penilaian: a. Flow rate maksimal 15 ml / dtk c. Flow rate maksimal 10 ml / dtk 5. Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik a. BOF (Buik Overzich ) :Untuk melihat adanya batu dan metastase pada tulang. b. USG (Ultrasonografi), digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume dan besar prostat juga keadaan buli buli termasuk residual urin. Pemeriksaan dapat dilakukan secara transrektal, transuretral dan supra pubik. c. IVP (Pyelografi Intravena) Digunakan untuk melihat fungsi exkresi ginjal dan adanya hidronefrosis. d. Pemeriksaan Panendoskop Untuk mengetahui keadaan uretra dan buli buli. 60 | P a g e = non obstruktif. b. Flow rate maksimal 10 15 ml / dtk = border line. = obstruktif.

6.

PENATALAKSANAAN 1. Observasi Yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3 6 bulan kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien 2. Medikamentosa Terapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan, sedang, dan berat tanpa disertai penyulit. Obat yang digunakan berasal dari:

phitoterapi (misalnya: Hipoxis rosperi, Serenoa repens, dll), gelombang alfa blocker dan golongan supresor androgen. 3. Pembedahan Indikasi pembedahan pada BPH adalah : a. b. c. d. e. Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut. Klien dengan residual urin 100 ml. Klien dengan penyulit. Terapi medikamentosa tidak berhasil. Flowmetri menunjukkan pola obstruktif.

Pembedahan dapat dilakukan dengan : a. b. c. d. TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat 90 - 95 % ) Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy Perianal Prostatectomy Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy

Alternatif lain (misalnya: Kriyoterapi, Hipertermia, Termoterapi, Terapi Ultrasonik .

Macam-macam tindakan pada klien BPH : 1. PROSTATEKTOMI Ada berbagai macam prostatektomi yang dapat dilakukan yang masing masing mempunyai kelebihan dan kekurangan antara lain : a. Prostatektomi Supra pubis. Salah satu metode mengangkat kelenjar melalui insisi abdomen. Yaitu suatu insisi yang dibuat kedalam kandung kemih dan kelenjar prostat diangkat dari atas. Pendekatan ini dilakukan untuk kelenjar dengan berbagai ukuran dan beberapa komplikasi dapat terjadi seperti kehilangan darah lebih banyak 61 | P a g e

dibanding metode yang lain. Kerugian lainnya adalah insisi abdomen akan disertai bahaya dari semua prosedur bedah abdomen mayor, seperti kontrol perdarahan lebih sulit, urin dapat bocor disekitar tuba suprapubis, serta pemulihan lebih lama dan tidak nyaman. Keuntungan yang lain dari metode ini adalah secara teknis sederhana, memberika area eksplorasi lebih luas, memungkinkan eksplorasi untuk nodus limfe kankerosa, pengangkatan kelenjar pengobstruksi lebih komplit, serta pengobatan lesi kandung kemih yang berkaitan. b. Prostatektomi Perineal. Mengangkat kelenjar melalui suatu insisi dalam perineum. Cara ini lebih praktis dibanding cara yang lain, dan sangat berguna untuk biopsi terbuka. Keuntungan yang lain memberikan pendekatan anatomis langsung, drainage oleh bantuan gravitasi, efektif untuk terapi kanker radikal, hemostatik di bawah penglihatan langsung,angka mortalitas rendah, insiden syok lebih rendah, serta ideal bagi pasien dengan prostat yang besar, resiko bedah buruk bagi pasien sangat tua dan ringkih. Pada pasca operasi luka bedah mudah terkontaminasi karena insisi dilakukan dekat dengan rektal. Lebih jauh lagi inkontinensia, impotensi, atau cedera rectal dapat mungkin terjadi dari cara ini. Kerugian lain adalah kemungkinan kerusakan pada rectum dan spingter eksternal serta bidang operatif terbatas. c. Prostatektomi retropubik. Suatu teknik yang lebih umum dibanding pendekatan suprapubik dimana insisi abdomen lebih rendah mendekati kelenjar prostat, yaitu antara arkus pubis dan kandung kemih tanpa tanpa memasuki kandung kemih. Prosedur ini cocok untuk kelenjar besar yang terletak tinggi dalam pubis.

Meskipun darah yang keluar dapat dikontrol dengan baik dan letak bedah labih mudah untuk dilihat, infeksi dapat cepat terjadi dalam ruang retropubis. Kelemahan lainnya adalah tidak dapat mengobati penyakit kandung kemih yang berkaitan serta insiden hemorargi akibat pleksus venosa prostat meningkat juga osteitis pubis. Keuntungan yang lain adalah periode pemulihan lebih singkat serta kerusakan spingter kandung kemih lebih sedikit.

2. Insisi Prostat Transuretral ( TUIP ). 62 | P a g e

Yaitu suatu prosedur menangani BPH dengan cara memasukkan instrumen melalui uretra. Satu atau dua buah insisi dibuat pada prostat dan kapsul prostat untuk mengurangi tekanan prostat pada uretra dan mengurangi kontriksi uretral. Cara ini diindikasikan ketika kelenjar prostat berukuran kecil ( 30 gram/kurang ) dan efektif dalam mengobati banyak kasus BPH. Cara ini dapat dilakukan di klinik rawat jalan dan mempunyai angka komplikasi lebih rendah di banding cara lainnya.

3. TURP ( TransUretral Reseksi Prostat ) TURP adalah suatu operasi pengangkatan jaringan prostat lewat uretra menggunakan resektroskop, dimana resektroskop merupakan endoskop dengan tabung 10-3-F untuk pembedahan uretra yang dilengkapi dengan alat pemotong dan counter yang disambungkan dengan arus listrik. TURP merupakan operasi tertutup tanpa insisi serta tidak mempunyai efek merugikan terhadap potensi kesembuhan. Operasi ini dilakukan pada prostat yang mengalami pembesaran antara 30-60 gram, kemudian dilakukan reseksi. Cairan irigasi digunakan secara terus-menerus dengan cairan isotonis selama prosedur. Setelah dilakukan reseksi, penyembuhan terjadi dengan granulasi dan reepitelisasi uretra pars prostatika (Anonim,FK UI,1995). Setelah dilakukan TURP, dipasang kateter Foley tiga saluran no. 24 yang dilengkapi balon 30 ml, untuk memperlancar pembuangan gumpalan darah dari kandung kemih. Irigasi kanding kemih yang konstan dilakukan setelah 24 jam bila tidak keluar bekuan darah lagi. Kemudian kateter dibilas tiap 4 jam sampai cairan jernih. Kateter dingkat setelah 3-5 hari setelah operasi dan pasien harus sudah dapat berkemih dengan lancar. TURP masih merupakan standar emas. Indikasi TURP ialah gejala-gejala dari sedang sampai berat, volume prostat kurang dari 60 gram dan pasien cukup sehat untuk menjalani operasi. Komplikasi TURP jangka pendek adalah perdarahan, infeksi, hiponatremia atau retensio oleh karena bekuan darah. Sedangkan komplikasi jangka panjang adalah striktura uretra, ejakulasi retrograd (50-90%), impotensi (4-40%). Karena pembedahan tidak mengobati penyebab BPH, maka biasanya penyakit ini akan timbul kembali 8-10 tahun kemudian.

7.

KOMPLIKASI a. Perdarahan. b. Pembentukan bekuan 63 | P a g e

c. Obstruksi kateter d. Disfungsi seksual tergantung dari jenis pembedahan. e. Komplikasi yang lain yaitu perubahan anatomis pada uretra posterior menyebabkan ejakulasi retrogard yaitu setelah ejakulasi cairan seminal mengalir kedalam kandung kemih dan diekskresikan bersama urin. f. Infeksi

64 | P a g e

ASUHAN KEPERAWATAN 1. ANAMNESA Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms) antara lain: hesitansi, pancaran urin lemah, intermittensi, terminal dribbling, terasa ada sisa setelah miksi disebut gejala obstruksi dan gejala iritatif dapat berupa urgensi, frekuensi serta disuria.

2. PEMERIKSAAN FISIK a. Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi dapat meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut, dehidrasi sampai syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok - septik. b. Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk

mengetahui adanya hidronefrosis, dan pyelonefrosis. Pada daerah supra simfiser pada keadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi terasa adanya ballotemen dan klien akan terasa ingin miksi. Perkusi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya residual urin. c. Penis dan uretra untuk mendeteksi kemungkinan stenose meatus, striktur uretra, batu uretra, karsinoma maupun fimosis. d. Pemeriksaan skrotum untuk menentukan adanya epididimitis e. Rectal touch / pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan konsistensi sistim persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat. Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu : a). b). c). Derajat I = beratnya 20 gram. Derajat II = beratnya antara 20 40 gram. Derajat III = beratnya 40 gram.

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN. Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah sebagai berikut : Pre Operasi : 1). Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik, pembesaran prostat,dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih unmtuk berkontraksi secara adekuat. 2). Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli buli, distensi kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria. 65 | P a g e

3). Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis.. 4). Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah 5). Kurang pengetahuan tentang kondisi ,prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi Post Operasi : 1. Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder. 2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering. 3. Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan 4. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P. 5. Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi 6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri sebagai efek pembedahan

B. Intervensi Keperawatan Sebelum Operasi 1. Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik, pembesaran prostat, dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih untuk berkontraksi secara adekuat. Tujuan : tidak terjadi obstruksi Kriteria hasil : Berkemih dalam jumlah yang cukup, tidak teraba distensi kandung kemih Rencana tindakan dan rasional 1. Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan. R/ Meminimalkan retensi urina distensi berlebihan pada kandung kemih 2. Observasi aliran urina perhatian ukuran dan kekuatan pancaran urina R / Untuk mengevaluasi ibstruksi dan pilihan intervensi 3. Awasi dan catat waktu serta jumlah setiap kali berkemih R/Retensi urine meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal 66 | P a g e

4. Berikan cairan sampai 3000 ml sehari dalam toleransi jantung. R/Peningkatkan aliran cairan meningkatkan perfusi ginjal serta membersihkan ginjal ,kandung kemih dari pertumbuhan bakteri 5. Berikan obat sesuai indikasi ( antispamodik) R/ Mengurangi spasme kandung kemih dan mempercepat penyembuhan

2. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli buli, distensi kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria. Tujuan : Nyeri hilang / terkontrol. Kriteria hasil Klien melaporkan nyeri hilang/terkontrol, menunjukkan ketrampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu. Tampak rileks, tidur / istirahat dengan tepat. Rencana tindakan dan rasional 1. Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas ( skala 0 - 10 ). R/ Nyeri tajam, intermitten dengan dorongan berkemih / masase urin sekitar kateter menunjukkan spasme buli-buli, yang cenderung lebih berat pada pendekatan TURP ( biasanya menurun dalam 48 jam ). 2. Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase. Pertahankan bebas dari lekukan dan bekuan. R/ Mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem, menurunkan resiko distensi / spasme buli - buli. 3. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan R/ Diperlukan selama fase awal selama fase akut. 4. Berikan tindakan kenyamanan ( sentuhan terapeutik, posisi, pijatan punggung ) dan aktivitas terapeutik. R/Menurunkan tegangan otot, memfokusksn kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping. 5. Kolaborasi dalam pemberian antispasmodic R / Menghilangkan spasme pengubahan selang

67 | P a g e

3. Resiko tinggi kekurangan cairan yang berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis. Tujuan : Keseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara. Kriteria hasil Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan dengan: tanda -tanda vital stabil, nadi perifer teraba, pengisian perifer baik, membran mukosa lembab dan keluaran urin tepat. Rencana tindakan dan rasional 1. Awasi keluaran tiap jam bila diindikasikan. Perhatikan keluaran 100-200 ml/. R/ Diuresisi yang cepat dapat mengurangkan volume total karena ketidakl cukupan jumlah natrium diabsorbsi tubulus ginjal. 2. Pantau masukan dan haluaran cairan. R/ Indikator keseimangan cairan dan kebutuhan penggantian. 3. Awasi tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan nadi dan pernapasan,

penurunan tekanan darah, diaforesis, pucat. R/ Deteksi dini terhadap hipovolemik sistemik 4. Tingkatkan tirah baring dengan kepala lebih tinggi R/ Menurunkan kerja jantung memudahkan hemeostatis sirkulasi. 5. Kolaborasi dalam memantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, contoh: Hb / Ht, jumlah sel darah merah, jumlah trombosit. R/ Berguna dalam evaluasi kehilangan darah / kebutuhan penggantian. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah. Tujuan : Pasien tampak rileks. Kriteria hasil Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi, menunjukkan rentang yang yang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa takut. Rencana tindakan dan rasional 1. Dampingi klien dan bina hubungan saling percaya R/ Menunjukka perhatian dan keinginan untuk membantu 2. Memberikan informasi tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan. R / Membantu pasien dalam memahami tujuan dari suatu tindakan. 3. Dorong pasien atau orang terdekat untuk menyatakan masalah atau perasaan. R/ Memberikan kesempatan pada pasien dan konsep solusi pemecahan masalah

4. Kurang pengetahuan tentang kondisi ,prognosis dan kebutuhan pengobatan 68 | P a g e

berhubungan dengan kurangnya informasi Tujuan : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan prognosisnya. Kriteria hasil Melakukan perubahan pola hidup atau prilasku ysng perlu, berpartisipasi dalam program pengobatan. Rencana tindakan dan rasional 1. Dorong pasien menyatakan rasa takut persaan dan perhatian. R / Membantu pasien dalam mengalami perasaan. 2. Kaji ulang proses penyakit,pengalaman pasien R/ Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi terapi. Sesudah operasi 1. Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TURP Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang. Kriteria hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang. Ekspresi wajah klien tenang. Klien akan menunjukkan ketrampilan relaksasi. Klien akan tidur / istirahat dengan tepat.

Rencana tindakan dan rasional : 1. Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus kandung kemih. R/ Kien dapat mendeteksi gajala dini spasmus kandung kemih. 2. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48 jam, untuk mengenal gejala gejala dini dari spasmus kandung kemih. R/ Menentukan terdapatnya spasmus sehingga obat obatan bisa diberikan 3. Jelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 sampai 48 jam. R/ Memberitahu klien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer. 4. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke seputar kateter. R/ Mengurang kemungkinan spasmus 5. Anjurkan pada klien untuk tidak duduk dalam waktu yang lama sesudah 69 | P a g e

tindakan TUR-P. R / Mengurangi tekanan pada luka insisi 6. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi, termasuk latihan nafas dalam, visualisasi. R / Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping. 7. Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha untuk mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih. Irigasi kateter jika terlihat bekuan pada selang. R/ Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan distensi kandung kemih dengan peningkatan spasme. 8. Observasi tanda tanda vital R/ Mengetahui perkembangan lebih lanjut. 9. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat obatan (analgesik atau anti spasmodik ) R / Menghilangkan nyeri dan mencegah spasmus kandung kemih.

2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering. Tujuan : Klien tidak menunjukkan tanda tanda infeksi . Kriteria hasil: - Klien tidak mengalami infeksi. - Dapat mencapai waktu penyembuhan. - Tanda tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda tanda shock. Rencana tindakan dan rasional : 1. Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter dengan steril. R/ Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi 2. Anjurkan intake cairan yang cukup ( 2500 3000 ) sehingga dapat menurunkan potensial infeksi. R/ . Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK dikurangi dan mempertahankan fungsi ginjal. 3. Pertahankan posisi urobag dibawah. 70 | P a g e

R/ Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan bakteri ke kandung kemih. 4. Observasi tanda tanda vital, laporkan tanda tanda shock dan demam. R/ Mencegah sebelum terjadi shock. 5. Observasi urine: warna, jumlah, bau. R/ Mengidentifikasi adanya infeksi. 6. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotik. R/ Untuk mencegah infeksi dan membantu proses penyembuhan. 3. Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan Tujuan : Tidak terjadi perdarahan. Kriteria hasil : Klien tidak menunjukkan tanda tanda perdarahan . Tanda tanda vital dalam batas normal . Urine lancar lewat kateter .

Rencana tindakan dan rasional : 1. Jelaskan pada klien tentang sebab terjadi perdarahan setelah pembedahan dan tanda tanda perdarahan . R/ Menurunkan kecemasan klien dan mengetahui tanda tanda perdarahan 2. Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalm saluran kateter R/ Gumpalan dapat menyumbat kateter, menyebabkan peregangan dan perdarahan kandung kemih 3. Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk defekasi . R/ Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatik yang akan mengendapkan perdarahan . 4. Mencegah pemakaian termometer rektal, pemeriksaan rektal atau huknah, untuk sekurang kurangnya satu minggu . R/ Dapat menimbulkan perdarahan prostat . 5. Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan kapan traksi dilepas . R/ Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa prostatik, menurunkan perdarahan. Umumnya dilepas 3 6 jam setelah pembedahan . 71 | P a g e memudahkan

5. Observasi: Tanda tanda vital tiap 4 jam,masukan dan haluaran dan warna urine. R/ Deteksi awal terhadap komplikasi, dengan intervensi yang tepat mencegah kerusakan jaringan yang permanen .

4. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P. Tujuan : Fungsi seksual dapat dipertahankan Kriteria hasil : Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan menurun . Klien menyatakan pemahaman situasi individual . Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah . Klien mengerti tentang pengaruh TUR P pada seksual.

Rencana tindakan dan rasional : 1. Beri kesempatan pada klien untuk memperbincangkan tentang pengaruh TUR P terhadap seksual . R/ Untuk mengetahui masalah klien. 2. Jelaskan tentang : kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula dan kejadian ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu) R/ Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas dan berdampak disfungsi seksual 3. Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi . R/ Bisa terjadi perdarahan dan ketidaknyamanan 4. Dorong klien untuk menanyakan kedokter salama di rawat di rumah sakit dan kunjungan lanjutan . R / Untuk mengklarifikasi kekhatiran dan memberikan akses kepada penjelasan yang spesifik. 5. Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi Tujuan : Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan . Kriteria hasil : Klien akan melakukan perubahan perilaku. 72 | P a g e

Rencana tindakan dan rasional : 1. Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu . R/ Dapat menimbulkan perdarahan . 2. Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6 minggu; dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan. R/ Mengedan bisa menimbulkan perdarahan, pelunak tinja bisa mengurangi kebutuhan mengedan pada waktu BAB 3. Pemasukan cairan sekurangkurangnya 2500-3000 ml/hari. R/ Mengurangi potensial infeksi dan gumpalan darah . 4. Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter. R/. Untuk menjamin tidak ada komplikasi . 5. Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh. R/ Untuk membantu proses penyembuhan . 6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan Tujuan : Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi. Kriteria hasil : Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.

Rencana tindakan dan rasional: 1. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari. R/ meningkatkan pengetahuan klien sehingga mau kooperatif dalam tindakan perawatan . 2. Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang dengan mengurangi kebisingan . R/ Suasana tenang akan mendukung istirahat 3. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur. R/ Menentukan rencana mengatasi gangguan 4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri ( analgesik ). R/ Mengurangi nyeri sehingga klien bisa istirahat dengan cukup .

73 | P a g e

ASKEP KASUS
DATA FOKUS Data Subjektif 1. Klien mengatakan sulit untuk buang air kecil (BAK) yang membuat pasien tersebut tidak nyaman 2. Klien mengatakan nyeri saat BAK P: Nyeri saat BAK Q: Seperti terbakar R: Sampai ke pinggang S: 7 T: Saat BAK 3. Klien mengatakan sering BAK tapi hanya sedikit 4. Klien mengatakan BAK harus mengedan agar bisa keluar urinenya 5. Klien mengatakan tidak mengetahui tentang penyakitnya 6. Klien mengatakan bingung cara mengatasi penyakitnya Data Objektif 1. K/U: sedang 2. Kes: compos mentis E:4 3. TTV: TD: 130/90 mmHg N: 84x/menit Rr: 24x/menit S: 36,50 C 4. Klien terlihat meringis kesakitan 5. Klien terlihat lemah 6. Klien tampak bingung saat ditanyakan tentang penyakitnya 7. Klien sering bertanya tentang kondisi M:5 V:6

penyakitnya 8. Klien terlihat sering bolak-balik ke kamar mandi 9. Hasil pemeriksaan penunjang: Nilai PSA 11 mg/ml

Analisa Data Data DS: 1. Klien mengatakan sulit untuk buang air kecil (BAK) yang membuat Masalah Retensi Urine Etiologi Tekanan uretra tinggi karena kelemahan detrusor (dekompensasi otot detrusor).

74 | P a g e

pasien tersebut tidak nyaman 2. Klien mengatakan

sering BAK tapi hanya sedikit 3. Klien mengatakan

BAK harus mengedan agar urinenya bisa keluar

DO: 1. K/U: sedang 2. Kes: compos mentis E:4 3. TTV: TD: 130/90 mmHg N: 84x/menit Rr: 24x/menit S: 36,50 C 4. Klien terlihat sering bolak-balik ke kamar mandi 5. Hasil pemeriksaan M:5 V:6

penunjang: Nilai PSA 11 mg/ml DS: 1. Klien mengatakan sulit untuk buang air kecil (BAK) yang membuat pasien tersebut tidak Nyeri agen cidera ( iritasi kandung kemih, spame, sesuai dengan prosedur bedah atau tekanan dari balon kandung kemih).

75 | P a g e

nyaman 2. Klien mengatakan

nyeri saat BAK P: Nyeri saat BAK Q: Seperti terbakar R: Sampai ke pinggang S: 7 T: Saat BAK

DO: 1. K/U: sedang 2. Kes: compos mentis E:4 3. TTV: TD: 130/90 mmHg N: 84x/menit Rr: 24x/menit S: 36,50 C 4. Klien terlihat meringis kesakitan 5. Klien terlihat lemah DS: 1. Klien tidak Kurang Pengetahuan mengatakan mengetahui keterbatasan informasi mengenai pengobatan. M:5 V:6

tentang penyakitnya 2. Klien bingung mengatakan cara

mengatasi penyakitnya

76 | P a g e

Diagnosa Keperawatan 1. Retensi urine b.d tekanan uretra tinggi karena kelemahan detrusor (dekompensasi otot detrusor). 2. Nyeri b.d agen cidera ( iritasi kandung kemih, spame, sesuai dengan prosedur bedah atau tekanan dari balon kandung kemih). 3. Kurang pengetahuan b.d keterbatasan informasi mengenai pengobatan.

Intervensi Keperawatan No 1. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan 1. Pantau asupan dalam

Retensi urine b.d tekanan Setelah dilakukan tindakan uretra kelemahan (dekompensasi detrusor). tinggi karena keperawatan detrusor jam selama 3x24

haluaran urine. 2. Pantau kandung derajat kemih distensi dengan

diharapkan

masalah

otot retensi urine dapat berkurang atau teratasi dengan KH: Bebas dari kebocoran urine berkemih. Kandung kemih diantara

palpasi dan perkusi. 3. Instrusikan pasien dan

keluarga untuk mencatat haluran diperlukan. 4. Rujuk pada spesialis urine jika urine bila

kosong sempurna Tidak ada sisa setelah buang air > 100200cc.

kontinensia diperlukan

77 | P a g e

Asupan cairan dalam rentang diharapkan. yang

2.

Nyeri b.d agen cidera ( iritasi Setelah dilakukan tindakan kandung sesuai bedah kemih, dengan atau spame, keperawatan selama 3x24

1. Kaji

secara nyeri

menyeluruh termasuk

tentang

prosedur jam diharapkan nyeri dapat dari berkurang dengan KH: Ekspresi wajah klien tidak terlihat meringis kesakitan Skala nyeri berkurang menjadi 3 atau teratasi

lokasi, durasi, frekuensi, intensitas, penyebab. 2. Observasi verbal isyarat non dari dan faktor

tekanan

balon kandung kemih).

ketidaknyamanan terutama jika tidak dapat secara

berkomunikasi efektif.

3. Berikan analgetik dengan tepat. 4. Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab

nyeri, berapa lama akan berakhir dan antisipasi dari

ketidaknyamanan prosedur. 5. Ajarkan farmakologi relaksasi, imagery,terapi musik,distraksi) 3. Kurang pengetahuan b.d Setelah dilakukan tindakan selama 1x24 teknik

non

(misalnya: guide,

1. Jelaskan faktor internal dan eksternal yang dapat

keterbatasan

informasi keperawatan

78 | P a g e

mengenai pengobatan.

jam

diharapkan

masalah

menambah

atau

ketidak tahuan klien akan penyakitnya dapat teratasi dengan KH: Mengenal penyakit Menjelaskan penyakit Menjelaskan penyebab/faktor yang berhubungan Menjelaskan resiko Menjelaskan komplikasi penyakit Menjelaskan dan gejala tanda dari dari faktor proses tentang

mengurangi dalam perilaku kesehatan. 2. Jelaskan kesehatan gaya dan pengaruh perilaku hidup

individu,keluarga/lingkung an. 3. Identifikasi yang lingkungan dalam

dibutuhkan

program perawatan. 4. Anjurkan dukungan dan dari pemberian keluarga untuk perilaku

keluarga

membuat kondusif.

penyakit

79 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
Johnson, Marion dkk. (2000). Nursing outcomes classification (NOC). Mosby Suriadi SKp, dkk. (2001). Asuhan keperawatan pada anak. Jakarta : Fajar Interpratam Mansjoer, Arif, dkk. (2000).Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2, Jakarta : Media Aesculapius. McCloskey, Joanne C. (1996). Nursing interventions classification (NIC). Mosby Price, Sylvia Anderson. (1995). Pathofisiologi. Jakarta: EGC Purnomo, B Basuki. (2000). Dasar dasar urologi. Jakarta : Infomedika Santosa, Budi. (2005-2006). NANDA. Prima Medika Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (1985). Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta :EGC Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo. Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia.AirlanggaUniversity Press. Surabaya Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

80 | P a g e

81 | P a g e