Anda di halaman 1dari 12

Laporan pendahuluan

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Eliminasi Urine dan Fecal (Retensi Urine)

OLEH :

Nama NIM Kelas

: NANI SEPTIANI : PO.62.20.1.11.065 : Keperawatan Reguler XIV-B

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN PALANGKARAYA KEPERAWATAN XIV JULI 2012

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN ELIMINASI URINE DAN FECAL (RETENSI URINE) A. Konsep Dasar Penyakit
Eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh baik berupa urin atau bowel (feses). Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi. Sistem tubuh yang berperan dalam terjadinya proses eliminasi urine adalah ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Proses ini terjadi dari dua langkah utama yaitu : Kandung kemih secara progresif terisi sampai tegangan di dindingnya meningkat diatas nilai ambang, yang kemudian mencetuskan langkah kedua yaitu timbul refleks saraf yang disebut refleks miksi (refleks berkemih) yang berusaha mengosongkan kandung kemih atau jika ini gagal, setidak-tidaknya menimbulkan kesadaran akan keinginan untuk berkemih. Meskipun refleks miksi adalah refleks autonomik medula spinalis, refleks ini bisa juga dihambat atau ditimbulkan oleh pusat korteks serebri atau batang otak. Kandung kemih dipersarafi araf saraf sakral (S-2) dan (S-3). Saraf sensori dari kandung kemih dikirim ke medula spinalis (S-2) sampai (S-4) kemudian diteruskan ke pusat miksi pada susunan saraf pusat. Pusat miksi mengirim signal pada kandung kemih untuk berkontraksi. Pada saat destrusor berkontraksi spinter interna berelaksasi dan spinter eksternal dibawah kontol kesadaran akan berperan, apakah mau miksi atau ditahan. Pada saat miksi abdominal berkontraksi meningkatkan kontraksi otot kandung kemih, biasanya tidak lebih 10 ml urine tersisa dalam kandung kemih yang diusebut urine residu. Pada eliminasi urine normal sangat tergantung pada individu, biasanya miksi setelah bekerja, makan atau bangun tidur., Normal miksi sehari 5 kali. Retensi urine adalah suatu keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan tidak mempunyai kemampuan untuk mengosongkannya secara sempurna. Retensio urine adalah kesulitan miksi karena kegagalan urine dari fesika urinaria. (Kapita Selekta Kedokteran). Retensio urine adalah tertahannya urine di dalam kandung kemih, dapat terjadi secara akut maupun kronis. (Depkes RI Pusdiknakes 1995). Retensio urine adalah ketidakmampuan untuk melakukan urinasi meskipun terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut. (Brunner & Suddarth). Retensio urine adalah suatu keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan tidak punya kemampuan untuk mengosongkannya secara sempurna. (PSIK UNIBRAW). B. ETIOLOGI a. Supra vesikal berupa kerusakan pada pusat miksi di medullaspinalis. Kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis baik sebagian ataupun seluruhnya, misalnya pada operasi miles dan

mesenterasi pelvis, kelainan medulla spinalis, misalnya miningokel, tabes doraslis, atau spasmus sfinkter yang ditandai dengan rasa sakit yang hebat. b. Vesikalberupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, , atoni pada pasien DM atau penyakit neurologist, divertikel yang besar. c. Intravesikal berupa pembesaran prostat, kekakuan lehervesika, batu kecil dan tumor. d. Dapat disebabkan oleh kecemasan, pembesaran prostat,kelainan patologi uretra, trauma, disfungsi neurogenik kandung kemih. e. Beberapa obat mencakup preparat antikolinergik antispasmotik (atropine), preparat antidepressant antipsikotik (Fenotiazin), preparat antihistamin (Pseudoefedrin hidroklorida = Sudafed), preparat penyekat adrenergic (Propanolol), preparat antihipertensi (hidralasin). C. PATOFOSIOLOGI Pada retensio urine, penderita tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai rasa sakit yang hebat di daerah suprapubik dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai mengejan. Retensio urine dapat terjadi menurut lokasi, factor obat dan factor lainnya seperti ansietas,kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya. Berdasarkan lokasi bisa dibagi menjadi supra vesikal berupa kerusakan pusat miksi di medulla spinalsi menyebabkan kerusaan simpatis dan parasimpatis sebagian atau seluruhnya sehingga tidak terjadi koneksi dengan otot detrusor yang mengakibatkan tidak adanya atau menurunnya relaksasi otot spinkter internal, vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, intravesikal berupa hipertrofi prostate, tumor atau kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil menyebabkan obstruksi urethra sehingga urine sisa meningkat dan terjadi dilatasi bladder kemudian distensi abdomen. Factor obat dapat mempengaruhi proses BAK, menurunkan tekanan darah, menurunkan filtrasi glumerolus sehingga menyebabkan produksi urine menurun. Factor lain berupa kecemasan, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya yang dapat meningkatkan tensi otot perut, peri anal, spinkter anal eksterna tidak dapat relaksasi dengan baik. Dari semua factor di atas menyebabkan urine mengalir labat kemudian terjadi poliuria karena pengosongan kandung kemih tidak efisien. Selanjutnya terjadi distensi bladder dan distensi abdomen sehingga memerlukan tindakan, salah satunya berupa kateterisasi urethra. D. TANDA DAN GEJALA a. Diawali dengan urine mengalir lambat. b. Kemudian terjadi poliuria yang makin lama menjadi parah karena pengosongan kandung kemih tidak efisien.

c. Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih. d. Terasa ada tekanan, kadang terasa nyeri dan merasa ingin BAK. e. Pada retensi berat bisa mencapai 2000 -3000 cc. E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan diagnostik yang dapar dilakukan pada kasus Retensio Urine adalah pemeriksaan specimen urine. Pada pemeriksaan ini diambil hasil dari : pengambilan: steril, random, midstream. penagmbilan umum: pH, BJ, Kultur, Protein, Glukosa, Hb, KEton, Nitrit. sistoskopy, IVP.

F. PENATA LAKSANAAN a. Kateterisasi urethra. b. Dilatasi urethra dengan boudy. c. Drainage suprapubik.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN RETENSI URINE


Nama Mahasiswa NIM Hari/Tanggal : Nani Septiani : PO.62.20.1.11.065 : Kamis/26 Juli 2012

A. Identifikasi Nama Pasien : Tn. Imanuel Enus Inisial Pasien : Tn. I Umur : 58 Tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama/suku : Kristen Protestan/Dayak Pendidikan : S1 Pekerjaan : PNS Alamat Pasien : Jl. G.Obos No. RM : 09. 49. 25 B. Diagnosa Medis : Retensio Urine C. Anamnesa Keluhan utama : Tidak dapat BAK secara normal sejak 2 hari yang lalu Keluhan tambahan : nyeri suprapubik, mengejan karena rasa ingin kencing, serta kandung kemih berasa penuh. D. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum a. Keadaan sakit Pasien tampak sakit sedang karena segera dibawa ke rumah sakit saat gejala muncul. b. Penilaian keadaan sakit dapat dilihat dari hasil pengamatan (inspeksi) seperti : Pasien terpasang infuse dan terpasang kateter 2. Tanda-tanda Vital Kesadaran : Kualitatif Skala koma Glasgow : R. motorik (M) : 5 (menarik tangan dengan rangsang) R. bicara (V) : 5 (senyum sosial) R. mata (E) : 4 (spontan) Kesimpulan : M+V+E = 5+5+4 = 14 (skala 12 14: gangguan skala ringan). Tekanan Darah : 130/80 mmHg (Normal sesuai usia pasien) Nadi : 74 x/menit. Tempat arteri Radialis. Teratur (normal : 60 100 x/menit) Suhu : 36oC (Axilla) RR : 22 x/menit (tidak teratur). Termasuk sesak ringan. Hal mencolok yang ditemukan : Pasien terpasang kateter. 3. Pemeriksaan Sistemik Rambut : tampak rapi dan normal Mata : melihat dengan spontan Hidung : dapat mencium bau Telinga : dapat mendengar Ekstermitas atas : tidak ada sakit Ekstermitas bawah : nyeri suprapubik Kondisi kulit : tampak kusam karena sudah 2 hari belum mandi

Inisial Pasien No. Reg

: Tn. I : 09. 49.25

ANALISA DATA
Data focus subjektif dan objektif Ds: - mengatakan badannya bengkak - Klien tidak dapat bergerak dengan baik Do: - Badan klien tampak Edema Etiologi Urine tidak dapat dialirkan Problem Peningkatan volume cairan dalam tubuh

Terjadi penimbunan ekstrasel / udem

cairan

Peningkatan dalam tubuh

volume

cairan

Ds: - Klien mengatakan badannya tidak dapat bergerak bebas Do : - Klien tampak lemas - Klien tampak bebas total

Mobilitas

Aktivitas terbatas

Ds: - Klien selalu bertanya tentang penyakitnya Do: - Klien tampak gelisah

Kurangnya pengetahuan Cemas tentang penyakitnya dan proses dan penyembuhannya

Inisial Pasien No. Reg

: Tn. I : 09. 49.25

DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN SESUAI PRIORITAS


1. Peningkatan volume cairan dalam tubuh berhubungan dengan urin tidak dapat dikeluarkan 2. Aktivitas terbatas berhubungan dengan mobilitas 3. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan proses

Inisial Pasien No. Reg

: Tn. I : 09. 49.25

RENCANA TINDAKAN No 1. Tanggal 25 juli 2012 Nomor Diagnosa keperawatan 1 Tujuan dan kriteria hasil jangka panjang : voleme cairan tubuh normal. jangkah pendek : setelah dilakukan tindakan keperwatan selama 3 x 24 jam volume cairan tubuh normal dengan kriteria hasil : - tidak terjadinya udema - tidak ada keluhan pada tubuh intervensi kaji keadaan utama Rasional dengan mengkaji tanda edema diharapkan dapat menujukan perpindahan cairan karena permeatktas mudah distensi .

kontrol input dan dengan output per 24 jam. mengontrol input dan output diharapkan dapat mengetahui fungsi BAK kebutuhan pergantiaan cairan dan penurunan resiko cairan. berkalaborasi dengan tim mrdis dalam dengan pemeriksaaan berkalaborasi laboratorium dengan tim medis fungsi BAK dalam pemeriksaan leb fungsi BAK diharapkan dapat memberikan gambaran sejauh mana terjadi kesusahan BAK.

2.

25 Juli 2012

jangka panjang : tubuh dapat bergerak bebas / normal. jangka pendek : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x24 jam tubuh dapat bergerak dengan bebas / normal dengan krikteria hasil : - tidak lemas tdak bedrest total .

kaji keadaan imobilits .

dengan mengkaji imobilits diharapkan dapat menunjukan perubahan dalam perpindahan dalam posisi. dengan memberikan tindakan mengatur posisi pasien dengan posisi semi fowler agar dapat beraktvitas yang dibutuhkan .

kontrol pergerakan pasien / aktivitas .

3.

25 Juli 2012

Jangka panjang : klien mengerti tentang penyakitnya. Jangka pendek : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam.Klien mengerti tentang penyakit dengan krikteria hasil : - Sudah jarang bertanya - Tampak tenang.

berikan penjelsan / pengertian gambaran tentang penyakit klien .

dengan memberikan penjelasan , pengertian dan gambaran tentang penyakit kilen diharapkan klien agr dapat mengerti dengan penyakit kilen .

Inisial Pasien No. Reg

: Tn. I : 09. 49.25

PELAKSANAAN KEPERAWATAN (IMPLEMENTASI) No 1. Tanggal/jam 26 Juli 2012 No. Diagnosa Keperawatan 1 Implementasi -mengkaji keadaan edema -mengontrol input dan output per 24 jam -berkolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium fungsi BAK evaluasi S: klien mengatakan badannya sudah mulai tidak bengkak lagi O :input dan output belum mulai seimbang A: masalah teratasi sebagian P: lanjutkan intervensi 1,2,3,4 S: klien mengatakan badannya masih tidak dapat bergerak bebas O: -klien tampak lemas -klien tampak bedres total A: masalah belum teratasi P: lanjutkan intervensi 1,2,3,4 paraf

26 Juli 2012

-mengkaji keadaan imobilitas -mengontrol pergerakan pasien / aktivitas

26 Juli 2012

-memberikan penjelasan, pengertian dan gambaran tentang penyakit

S: klien masih selalu bertanya tentang penyakitnya O: klien masih tampak gelisah A: masalah belum teratasi P: lanjutkan intervensi 1,2,3,4

Inisial Pasien No. Reg

: Tn. I : 09. 49.25

CATATAN PERKEMBANGAN No 1. Tanggal/jam 26 Juli 2012 No. Diagnosa Keperawatan 1 Catatan perkembangan (S.O.A.P) S: klien menngatakan BAK sudah lancar O: input dan output sudah seimbang A: masalah teratasi P: hentikan intervensi, pertahankan keadaan klien. paraf

26 Juli 2012

S: klien mengatakan badannya dapat bergerak bebas kembali O: -klien tampak bersemangat -klien tidak bedres total A: masalah teratasi P: hentikan intervensi, pertahankan keadaan klien.

26 Juli 2012

S: klien sudah mulai tidak bertanya lagi tentang penyakitnya dan sudah mengerti tentang penyakitnya O: klien tampak tenang A: masalah teratasi P: hentikan intervensi, pertahankan keadaan klien.