Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini memungkinkan berbagai rekayasa materi dilakukan di berbagai bidang guna memenuhi kebutuhan dan mempermudah manusia dalam melakukan berbagai aktivitasnya. Rekayasa itu misalnya dilakukan di bidang industry, dunia kedokteran, dunia elektronik dan lain sebagainya. Material yang digunakan untuk direkayasa tersebut dapat berbentuk zat cair, gas dan zat padat. Namun, umumnya yang kita temui adalah zat padat. Hal ini karena zat padat memiliki karakteristik yang baik untuk di rekayasa. Hal lain yang diperlukan dalam merekaysa materi adalah pengetahuan mengenai sifat dari molekul, atom ataupun stuktur dan geometri dari Kristal material tersebut. Pada pembahasan kali ini, akan lebih terfokuskan pada stuktur dan geometri dari Kristal zat padat. Dimana Kristal zat padat itu sendiri merupakan atom-atom atau ion-ion zat padat tersusun dalam sebuah pola yang berulang secara teratur dalam tiga dimensi. sebagai mahasiswa fisika murni, pengetahuan mengenai stuktur dan geometri dari Kristal ini sangat diperlukan dalam melakukan penelitian. Hal inilah yang mendorong kami untuk menyusun sebuah makalah yang berjudul Stuktur dan Geometri Dari Kristal

B. Tujuan 1. Mengetahuai apa yang dimaksud dengan kisi dan sistem kristal 2. Memahami stuktur kristal logam 3. Mengetahui Arah dan Bidang Kristalografi C. Manfaat 1. Mahasiswa mengetahui apa yang dimaksud dengan kisi dan sistem kristal 2. Mahasiswa dapat memahami stuktur kristal logam 3. Mahasiwa dapat mengetahui Arah dan Bidang Kristalografi

BAB II PEMBAHASAN Sebagian besar materi zat padat adalah kristal dan elektron didalamnya. Zat padat mulai dikembangkan awal abad ke-20, mengikuti penemuan difraksi sinar-x oleh kristal. Sebuah Kristal Ideal tersusun oleh satuan-satuan struktur yang identik secara berulang-ulang yang tak hingga didalam ruang. Semua struktur kristal dapat digambarkan/dijelaskan dalam istilah Lattice (kisi) dan sebuah Basis yang ditempelkan pada setiap titik lattice (titik kisi). Kisi adalah sebuah susunan titik-titik yang teratur dan periodik di dalam ruang. Sebuah kristal ideal disusun oleh satuansatuan kristal yang identik secara berulang-ulang yang tak hingga dalam ruang. Basis didefinisikan sebagai sekumpulan atom, dengan jumlah atom dalam sebuah basis dapat berisi satu atom atau lebih. 1. Ruang Kisi dan Sel Satuan Bila atom-atom atau ion-ion zat padat tersusun dalam sebuah pola yang

berulang secara teratur dalam tiga dimensi maka zat padat tersebut memiliki struktur kristal dan dikenal dengan nama kristal zat padat. Susunan atom di dalam kristal dapat dilukiskan dengan menempatkan atom-atom tersebut pada titik perpotongan garis dalam jaringan tiga dimensi. Jaringan tersebut dikenal sebagai ruang kisi dan digambarkan sebagai untaian titik dalam ruang tiga dimensi tak berhingga (Gambar 2.1)

Sel primitif adalah sel yang mempunyai luas atau volume terkecil, Sel primitif dibangun oleh vector basis biasa disebut sel satuan (unit sel). Sel satuan adalah unit terkecil struktur kristal dengan volume tertentu yang berulang membentuk struktur bahan keseluruhan. Setiap ruang kisi dapat digambarkan melalui posisi atom didalam sel satuan yang berulang (Gambar 2.2). Panjang dan bentuk sel satuan dinyatakan dengan vector kisi a, b,c. Panjang vektor a, b dan c serta sudut perpotongan , , merupakan konstanta kisi dari sel satuan tersebut. Contoh-contoh Struktur Kristal Struktur Kirstal Sodium Chlorida (NaCl = garam dapur) Struktur Cesium Clorida (CsCl) Struktur Hexagonal Closed Packed (HCP) Struktur Intan Struktur Seng Sulfida (ZnS)

Struktur intan mempunyai ruang kisi yang berbentuk FCC dan merupakan gabungan dari subkisi FCC, dengan basis primitifnya mempunyai dua atom yang

identik, yaitu pada posisi asal 000 dan , seperti ditunjukkan oleh gambar 2.3.

Gambar 2.3 struktur intan Struktur intan dapat juga dipandang sebagai kisi yang dapat bergeser sejauh seperempat diagonal kubus dalam diagonal FCC yang lain sehingga sel kubus konvensionalnya berisi delapan buah atom. 2. Sistem Kristal dan Kisi Bravais Dengan menetapkan panjang aksis dan sudut antar sumbu, sel satuan dari berbagai jenis dapat dikonstruksi. Dalam kristalografi, dikenal tujuh jenis sel satuan yang diperlukan untuk membangun semua titik kisi. System kristal ini diperlihatkan pada table 2.1 Tabel 2.1 Klasifikasi ruang kisi dengan sistem kristal Sistem Kristal Panjang aksis dan Ruang kisi sudut antar sumbu

Cubic Simple cubic Body-centered cubic 900 Faced-centered cubic Tetragonal a=bc a=b=c ===

Simple tetragonal 900 Body-centered tetragonal Orthorhombic Simple orthorhombic 900 Body-centered orthorombic Base-centered Faced-centered orthorhombic Rhombohedral Simple rhombohedral Hexagonal Simple hexagonal 1200 Monoclinic Simple monoclinic Base-centered monoclinic Triclinic Simple triclinic 900 a=b=c abc

==c=

== =

orthorhombic

= = 900 a=bc = = 90 0, =

a b c, = =900

a b c,

A.J Bravais menunjukkan bahwa terdapat 14 sel satuan standar yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan seluruh jaringan kisi. Kisi Bravais ini dilukiskan pada gambar 2.4 dengan 4 jenis sel satuan dasar yakni (i) simple, (ii) body-centered, (iii) facecentered, dan (iv) base-centered.

Gambar 2.4 Sel untuk sistem kristal (Mitchell, 1993)

satuan Bravais

3. Struktur Kisi Logam Pada umumnya elemen logam terkristalisasi ke dalam tiga struktur kristal yang kompak yakni; body-centered cubic (BCC), face-centered cubic (FCC), dan hexagonal close-packed (HCP) (Gambar 2.5 a, b, dan c).

(a) (b) (c) Gambar 2.5 Sel satuan utama struktur kristal logam: (a) BCC, (b) FCC, (c) HCP (diadaptasi dari Mitchell, 1993) Ukuran sel satuan pada kristal logam sangatlah kecil, sebagai contoh, sisi kubus pada sel satuan BCC untuk besi (Fe) pada suhu kamar sekitar 0,287 x 10-9 m (0,287 nm). Maka, bila sel satuan besi (Fe) disusun maka dalam 1 mm akan terdapat,
1 mm 1 sel satuan = 3,48 10 6 sel satuan 6 0,287 10 mm

Selanjutnya akan kita periksa susunan atom-atom dari struktur kristal logam tersebut. a) Struktur logam BCC

Untuk letak atom sel satuan untuk struktur kristal BCC pada gambar 2.6a. Bola pejal menyatakan pusat posisi atom-atom. Gambar 2.6b memperlihatkan sebuah sel satuan dengan sebuah atom pusat yang dikelilingi oleh 8 atom tetangga terdekat (bilangan koordinasi 8). Pada gambar 2.5c sebuah bola pejal atom di isolasi di dalam sel satuan. Model tersebut memperlihatkan bahwa didalam sel satuan BCC terdapat 2 atom. Satu atom untuk dipusat sel dan 1+ 8 seperdelapan atom pada setiap sudut. Maka total atom =

1 atom = 2 atom per sel satuan 8

(a) Gambar 2.6 Sel (Mitchell, 1993)

(b) satuan BCC: (a)

sel satu bola pejal, (b) hubungan antara konstanta kisi a dengan jari-jari atom, R Atom-atom pada sel satuan BCC saling bersentuhan melalui diagonal kubus, seperti pada gambar 2.6(b), sehingga hubungan antara panjang kisi kubus a dengan jari-jari atom R dinyatakan sebagai;
3a = 4 R atau

a=

4R 3

(2.1)

Tabel 2.2 Daftar logam dengan struktur BCC pada suhu kamar Logam Chromium Konstanta kisi ,a (nm) 0,289 Jejari atomik R,(nm) 0,125

Iron Molybdenum Potassium Sodium Tantalum Tungsten

0,287 0,315 0,533 0,429 0,330 0,304

0,124 0,136 0,231 0,186 0,143 0,137

Dengan asumsi bahwa seluruh atom berbentuk bola pejal, maka faktor tumpukan atomik atau atomic packing factor (APF) dirumuskan sebagai
APF = volume atom di dalam sel satuan Volume sel satuan

b) Struktur kristal FCC Perhatikan titik kisi pada sel satuan FCC, gambar 2.5b. Nampak bahwa terdapat 1 titik kisi pada setiap sudut kubus dan satu pada setiap muka kubus. Model bola pejal pada gambar 2.7 menunjukkan bahwa atom-atom struktur FCC ditumpuk sedekat mungkin. Faktor tumpukan FCC adalah 0,74. Gambar 2.7 memperlihatkan sel satuan FCC yang ekivalen dengan 4 1 8 atom = 1 atom atom per sel. Dalam hal ini 1/8 atom pada setiap sudut ( 8 ), 6 1 atom = 3 atom 2 ) sehingga terdapat 4 atom

1/2 atom pada 6 muka kubus ( seluruhnya pada sel FCC.

Gambar 2.7 sel satuan FCC terisolasi (Mitchell, 1993) Hubungan antara panjang sisi kubus a dengan jari-jari atom R ditunjukkan pada gambar 2.8 berikut ini

2 a = 4R

atau

a=

4R 2 (2.2)

Tabel 2.3 Memperlihatkan sejumlah logam yang memiliki struktur FCC pada suhu kamar Logam Konstanta kisi a, nm Aluminium Copper Gold Lead Nickel Platinum Silver 0,405 0,362 0,408 0,495 0,325 0,393 0,409 Jari-jari atom R, nm 0,143 0,128 0,144 0,175 0,125 0,139 0,144

c) Struktur Kristal HCP Struktur kristal HCP untuk logam diperlihatkan pada gambar (4.9). atom-atom pada struktur tersebut berada pada kondisi yang kebih stabil daripada struktur hexagonal biasa. Factor tumpukan HCP sebesar 0,74 sama besar untuk struktur FCC.

(a) (b) Gambar 2.9 Sel satuan HCP (a) lokasi atom, (b) sel satuan bola keras Pada gambar kristal HCP dan FCC setiap atom dikelilingi oleh 12 atom lainnya sehingga bilangan koordinasinya sebesar 12. Sel satuan HCP diperlihatkan pada gambar 4.9 memiliki 6 atom per sel satuan. Tiga atom membentuk sebuah segitiga pada lapisan tengah, dan terdapat 61 6 atom pada lapisan atas dan bawah ( 2 6 1 6 = 2 atom ), dan terdapat atom pada pusat lapisan atas dan bawah. Dengan demikian dalam struktur HCP terdapat 3 + 2 + 1 = 6 atom. Tabel 2.4 memperlihatkan sejumlah logam dengan struktur HCP beserta rasio c/a. Nampak bahwa Cadmium dan Zinc memiliki rasio c/a yang lebih

besar dari nilai ideal. Hal ini menunjukkan bahwa struktur Cd dan Zn agak lonjong pada sumbu c. Logam Mg, Co, Ti, dan Br memiliki rasio c/a yang lebih kecil dari nilai ideal. Hal tersebut menunjukkan bahwa logam tersebut agak pepat sepanjang sumbu c.

Tabel 2.4 Logam dengan struktur HCP pada suhu kamar Konstanta kisi, Jejari Logam nm A Cadmium Zinc Magnesiu m Cobalt Zirconium Titanium 0,2973 0,2665 0,3209 0,2507 0,3231 0,2950 0,2286 C 0,5618 0,4947 0,5209 0,4069 0,5148 0,4683 0,3584 0,149 0,133 0,160 0,125 0,160 0,147 0,113 1,849 1,856 1,623 1,623 1,593 1,587 1,568 + 15,7 + 13,6 0,66 0,66 2,45 2,81 3,98 atom R, nm Rasio c/a % Deviasi

Beryllium c/a ideal = 1,633 4. Arah dan Bidang Kristalografi Posisi Atom di Dalam Sel Satuan Kubik Posisi atom di dalam sel satuan ditetapkan sumbu x, y dan z seperti pada gambar 2.11a

Posisi atom pada delapan sudut sel satuan kubik ditunjukkan pada gambar 3.10 (b) dan dinyatakan sebagai berikut: (0, 0, 0) (1, 1, 1) (1, 0, 0) (1, 1, 0) (0, 1, 0) (1, 0, 1) (0, 0, 1) (0, 1, 1)

Pada posisi tengah sel satuan BCC, posisi atom dinyatakan dengan
1 1 1 , , ( 2 2 2 ).

koordinat

Arah di Dalam Sel Satuan Kubik Arah kisi kristal sangat penting untuk mengetahui sifat-sifat bahan yang

berubah menurut orientasi kristalografi. Untuk kristal kubik indeks arah

Gambar 2.11 Sejumlah arah pada sel satuan kubik

kristalografi merupakan komponen vector sepanjang sumbu koordinat dan direduksi ke bilangan bulat kecil. Arah pada sel satuan kubik dilukiskan pada gambar 2.11 dengan vector dari titik asal (0, 0, 0). Indeks arah dinyatakan dengan kurung persegi tanpa tanda koma.

Umumnya digunakan huruf u, v, w untuk menyatakn indeks arah pada sumbu x, y, z dan ditulis sebagai [ u v w] . Perlu dicatat bahwa semua arah vector sejajar memiliki indeks arah yang sama. Arah kristal disebut ekivalen secara kristalografi (Crystallography equivalent) bila jarak atom pada setiap arah sama besar, misalnya:

[10 0], [ 010], [ 0 01], [0 1 0], [0 0 1 ], [ 1 0 0]

= 10 0

Arah-arah yang ekivalen disebut indeks keluarga atau bentuk dan dinyatakan dengan notasi Indeks Miller Suatu kristal akan mempunyai bidang bidang atom, untuk itu bagaimana merepresentasikan suatu bidang datar dalam suatu kisi kristal, yang dalam istilah kristalografi sering disebut dengan Indeks Miller. Indeks Miller sebuah bidang kristal didefenisikan sebagai resiprok (kebalikan) dari perpotongan fraksional (pecahan) yang dibentuk oleh bidang tersebut dengan sumbu x, y, z pada ujung yang tidak parallel dalam sel satuan.

Prosedur penentuan indeks Miller untuk bidang kristal adalah sebagai berikut: a) Pilih sebuah bidang yang tidak melewati titik asal (0,0,0) b) Tentukan perpotongan dari bidang tersebut dengan sumbu x, y, z untuk satuan kubik. Perpotongan tersebut dapat berupa pecahan (fraksional) c) Tentukan resiprok dari pecahan tersebut d) Gunakan persekutuan terkecil dengan rasio yang sama. Bilangan tersebut merupakan indeks Miller dan dituliskan dengan notasi (hkl)

Bila bidang kristal memotong titik asal sehingga satu atau lebih perpotongan adalah nol, bidang tersebut harus digeser ke posisi yang ekivalen di dalam sel satuan yang sama dan bidang tersebut tetap parallel dengan bidang asal. Hal ini menunjukkan bahwa bidang-bidang dengan jarak pisah yang sama memiliki indeks Miller yang sama. Bila terdapat sejumlah bidang yang ekivalen dihubungkan dengan simetri dari sistem kristal, mereka disebut bidang dari sebuah keluarga dan disimbol { h k l } , misalnya bidang {1 0 0} terdiri atas bidang (1 0 0), (0 1 0) dan

(0 0 1). Di dalam struktur kristal kubik, jarak antar bidang (interplanar spacing) antara dua bidang parallel dengan indeks Miller yang sama dinyatakan sebagai dhkl dengan h, k, l adalah indeks Miller dari bidang tersebut.

5. bAnalisis Struktur Kristal Sumber Sinar-X Panjang gelombang sinar-X untuk difraksi berada pada rentang 0,05 hingga 0,25 nm (0,5 hingga 2,5 ) (panjang gelombang sinar tampak sekitar 600 nm). Sinar-X untuk tujuan difraksi diproduksi dengan tegangan antara katoda dan anoda sebesar 35 kV dalam kondisi vakum. Bila filamen tungsten dipanaskan, elektron terlepas dari katoda melalui proses emisi thermionik dan dipercepat menuju target (misalnya molybdenum), dan sinar-X terlepas. Sebagian besar energi kinetic elektron dikonversi menjadi panas sehingga perlu didinginkan dari arah luar (gambar 2.14)

Gambar 2.14 Filamen tabung sinar-X (Smith, 1993) Spectrum sinar-x dipancarkan dengan menggunakan target molybdenum diperlihatkan pada gambar 2.15

Spektrum tersebut memperlihatkan radiasi sinar-X kontinu dengan panjang gelombang antara 0,2 hingga 1,4 (0,02 nm 0,14 nm) dan dua puncak tajam radiasi karakteristik K dan K. Panjang gelombang K dan K bergantung pada jenis elemen. Radiasi katrakteristik tesebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Untuk, elektron K (elektron pada kulit n = 1) terlepas dari atom sebagai akibat tumbukan dengan elektron berenergi tinggi. Elektron pada kulit yang lebih besar (n = 2) turun ke tingkat energi yang lebih rendah untuk menggantikan elektron K, sambil memancarkan energi dengan panjang gelombang tertentu. Transisi elektron dari L (n=2) ke K(n =1) menghasilkan energi dengan panjang gelombang dari garis K seperti pada gambar 2.15 Difraksi Sinar-X

Panjang gelombang sinar-X pada umumnya sebanding jarak bidang atom kristal, maka puncak-puncak difraksi dapat diproduksi bila berkas sinar-X menumbuk kristal.

Tinjau berkas sinarX yang dijatuhkan pada sebuah kristal.

Gambar 2.16 Model difraksi Bragg ( Smith, 1993) Berkas sinar-x 1 dan 2 akan sefase dengan syarat

n = P + PN
n = 1,2,3, orde difraksi

(2.6)

MP = PN = dhkl sin , maka persamaan (2.6) menjadi,

n = 2d hkl sin

(2.7)

Persamaan (2.7) dikenal sebagai hukum Bragg. Pada kondisi eksperimen, difraksi dengan n = 1 banyak digunakan sehingga;

= 2d hkl sin

(2.8)

Analisis Struktur Kristal dengan Difraksi Sinar-X

Teknik difraksi yang paling umum digunakan adalah metode serbuk. Dalam hal ini sampel ditumbuk hingga ukuran tertentu, partikel-partikel tersebut akan berada pada orientasi tertentu yang memenuhi kondisi Hukum Bragg. Analisa kristal modern menggunakan difraktometer sinar-X dengan pencacah radiasi (radiation counter). Untuk mencatat sudut dan intensitas

difraksi. Sebuah perekam mencatat (plot) berkas difraksi seiring dengan gerakan goniometer, sinkron dengan gerakan sampel pada rentang 2. Selanjutnya akan dianalisis struktur kristal untuk sel satuan kubus. Perhatikan kembali persamaan.
d hkl = a h2 + k 2 + l 2

(4.9) Dengan Hukum Bragg; didapat:


=
2a sin h2 + k 2 + l 2

(4.10) membedakan struktur BCC dan FCC.

Untuk

6. Struktur Non-Kristal Pada temperatur rendah, energi pada susunan non-kristal tidaklah serendah energipada susunan kristal untuk komposisi material yang sama. Namun demikian struktur non-kristal dapat dengan mudah terbentuk, dan ia juga stabil. Struktur non-kristal tidaklah seratus persen tidak teratur. Atom-atom dari padatan ini masih menunjukkan keteraturan susunan dalam skala sub-unit. Akan tetapi susunan antar sub-unit terjadi secara tak beraturan. Melihat strukturnya, material non-kristal dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok utama, yaitu: a. struktur yang terbangun dari molekul berbentuk rantai panjang; b. struktur yang terbangun dari jaringan tiga dimensi; Molekul berbentuk rantai panjang akan mudah saling berbelit dan membentuk material non-kristal walaupun bagian-bagian tertentu dari rantai panjang ini dapat tersusun sejajar membentuk susunan teratur. Pada fasa cair mobilitas sangat rendah sehingga sekali materiaal ini menjadi dingin, strukturnya akan tetap non-kristal, sebab untuk membentuk struktur kristal diperlukan mobilitas atom yang cukup

agar penyusunan atau pengaturan kembali dapat terjadi. Jaringan tiga dimensi terbentuk bila sub-unit berupa polihedra koordinasi yang saling berikatan sudut. Ikatan antar polihedron merupakan ikatan diskrit dengan karakter kovalen yang dominan dan rantaian ini cukup fleksible sehingga mudah saling berbelit satu sama lain. Hanya sedikit polihedra dari rantaian ini yang dapat tersusun secara teratur membentuk kristal; kebanyakan mereka tersusun secara tidak teratur sehingga material yang terbentuk merupakan material non-kristal. 7.2.1. Perilaku Material Non-kristal Struktur non-kristal bisa juga terbentuk dari kombinasi kedua struktur utama tersebut di atas. Mereka bisa terbangun dari unsur ataupun senyawa (kompon). Walaupun terdapat perbedaan-perbedaan, pada umumnya material non-kristal menunjukkan perilaku yang mirip, seperti: tidak memiliki titik leleh tertentu melainkan menjadi lunak bila temperatur ditingkatkan dan mengeras secara berangsur-angsur jika didinginkan; sifat fisik dan mekanis juga mirip jika diukur pada temperatur yang secara relatif sebanding dengan energi ikat yang dimiliki. Semua material non-kristal memiliki karakter umum yaitu bahwa setiap subunit pada fasa cair sangat mudah saling berbelit; dan sekali hal ini terjadi hampir tidak mungkin untuk diuraikan kembali. Walaupun cara terjadinya belitan antar subunit tersebut bisa bermacam-macam, namun pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok sebagaimana telah disebutkan di atas. Pengaruh Temperatur. Struktur dan ikatan yang mirip antara berbagai material

non-kristal, menyebabkan mereka memiliki perilaku yang hampir sama terhadap perubahan temperatur. Material non-kristal tidak memiliki titik beku tertentu. Mereka menunjukkan viskositas yang berangsur berubah dalam selang temperatur tertentu. Hal ini dapat dipandang sebagai proses pembekuan yang berlangsung secara bertahap karena setiap sub-unit memiliki lingkungan berbeda dan energi ikat yang berbeda pula. Pembentukan fasa padat akan dimulai dari sub-unit yang memiliki energi ikat terendah, yang kemudian disusul oleh yang memiliki energi ikat yang lebih tinggi, seiring dengan menurunnya temperatur. Oleh karena itu terdapat selang temperatur dimana proses pembentukan struktur padat itu terjadi. Temperatur pertengahan dalam selang transisi proses pembentukan struktur padat disebut temperatur transisi gelas (glass transition temperature), Tp. Di bawah temperatur ini material akan menjadi regas seperti gelas, dan pada temperatur yang lebih tinggi ia cenderung untuk meleleh seperti cairan yang memiliki viskositas tinggi. Transparansi. Banyak material non-kristal transparan, baik pada keadaan cair maupun padat. Sifat ini muncul karena tak ada unsur asing dalam material ini, tak ada hole, tak ada permukaan internal yang akan merefleksikan gelombang elektromagnet, tidak ada elektron-bebas yang akan menyerap energi. Material Non-kristal Dari Unsur. Pada temperatur kamar, hanya sulfur dan selenium yang dapat membentuk material non-kristal. (Beberapa unsur lain dapat membentuk gelas pada temperatur mendekati nol absolut). Kedua unsur ini adalah dari grup-6 pada tabel periodik; mereka mempunyai dua elektron valensi. Ikatan antar atom terutama adalah kovalen dengan overlaping orbital p. Ikatan ini membentuk rantaian panjang, yang dalam keadaan cair akan saling berbelit, dan jika didinginkan dengan cepat akan membentuk material nonkristal.

Unsur grup-6 yang lain seperti tellurium dan polonium tidak membentuk material non-kristal pada temperatur kamar. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh terjadinya ikatan yang kurang berarah dan kurang diskrit mengingat bahwa elektron valensi kurang erat terikat pada atom; atom dan molekul lebih mudah bergerak. Secara umum, jika ikatan atom makin lemah, atom makin mudah bergerak, pembentukan struktur kristal akan lebih mudah terjadi dan sulit terbentuk struktur gelas yang non-kristal.