Anda di halaman 1dari 19

Clinical Science Session

KELAINAN REFRAKSI

Oleh : Hidayat 1301-1207-0003 Christian Budiman 1301-1207-0009

Preceptor : dr. Susanti Natalya S, Sp.M., M.kes

Bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Mata Cicendo 2008

KELAINAN REFRAKSI

I. PENDAHULUAN Mata dapat dianggap sebagai kamera potret, dimana sistem refraksinya menghasilkan bayangan kecil dan terbalik di retina. Rangsangan ini diterima oleh sel batang dan kerucut di retina, yang diteruskan melalui saraf optik nervus kedua, ke korteks serebri pusat penglihatan, yang kemudian tampak sebagai bayangan yang tegak. Supaya bayangan tidak kabur, kelebihan cahaya diserap oleh lapisan epitel pigmen di retina. Bila intensitas cahaya terlalu tinggi, pupil akan mengecil untuk menguranginya. Refraksi mata ditentukan oleh media refraksi yang terdiri atas kornea, humor akueus, lensa, badan kaca (vitreous humor) dan panjangnya bola mata. Tetapi untuk tujuan praktis, refraksi mata terjadi di dua tempat, yaitu permukaan anterior kornea dan lensa. Daya refraksi kornea hampir sama dengan humor akueus, sedang daya refraksi lensa hampir sama pula dengan badan kaca. Keseluruhan sistem refraksi mata ini membentuk lensa yang cembung dengan fokus 23 mm. Dengan demikian pada mata yang emetrop, dalam keadaan mata istirahat, sinar yang sejajar, yang datang di mata akan dibiaskan tepat di fovea sentralis dari retina. Terdapat beberapa titik dalam bidang refraksi, seperti punctum proksimum yang merupakan titik terdekat dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Punctum remotum adalah titik terjauh dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Titik ini merupakan titik dalam ruang yang berhubungan dengan retina atau foveola bila mata istirahat. Pada keadaan normal, cahaya tidak terhingga akan terfokus pada retina, demikian pula bila benda jauh didekatkan, maka dengan adanya daya akomodasi benda dapat difokuskan pada retina. Dengan berakomodasi, maka benda pada jarak yang berbeda-beda akan terfokus pada retina. Akomodasi adalah kemampuan lensa untuk mencembung yang terjadi akibat kontraksi otot siliar. Akibat akomodasi, daya pembiasan lensa bertambah kuat, kekuatan akomodasi akan meningkat sesuai kebutuhan. Makin dekat benda, makin kuat mata harus berakomodasi. Kekuatan akomodasi diatur oleh refleks akomodasi.

Reflek ini akan bangkit bila mata melihat kabur, dan pada waktu konvergensi atau melihat dekat. Dikenal beberapa teori akomodasi seperti : Teori akomodasi Hemholtz dimana zonula zinn kendor akibat kontraksi otot siliar sirkular, mengakibatkan lensa yang elastis menjadi cembung dan diater menjadi kecil Teori akomodasi Thsernig dasarnya adalah bahwa nucleus lensa tidak dapat berubah bentuk sedang yang dapat berubah bentuk adalah bagian lensa superfisial atau korteks lensa.

II. DEFINISI VISUS Visus adalah kekuatan penglihatan atau indra khusus yang dapat menangkap kualitas suatu objek (warna, ukuran, bentuk, terang/gelap) yang diperantarai oleh mata.

III. KELAINAN-KELAINAN REFRAKSI Mata yang normal, disebut sebagai mata emetrop. Sedangkan mata yang mengalami kelainan refraksi disebut sebagai ametrop. Kelainan refraksi adalah kelainan pembiasan sinar oleh media penglihatan yang terdiri dari kornea, cairan mata, lensa, badan kaca, atau panjang bola mata sehingga bayangan benda tidak dibiaskan tepat pada daerah macula lutea tanpa bantuan akomodasi.

3.1. Emetrop Emetrop adalah mata tanpa adanya kelainan refraksi pembiasan sinar mata dan berfungsi normal. Pada mata ini daya bias mata adalah normal, dimana sinar-sinar sejajar difokuskan sempurna di retina tanpa bantuan akomodasi. Mata emetrop akan mempunyai penglihatan normal, atau 6/6 bila media penglihatan seperti kornea, lensa, badan kaca tidak keruh maka sinar dapat diteruskan ke makula lutea.

3. 2. Ametrop Ametrop adalah suatu kondisi dimana sinar sejajar yang datang tidak difokuskan tepat ke retina pada mata yang berada pada keadaan istirahat atau tanpa akomodasi. Sinar sejajar yang datang dapat difokuskan di depan atau di belakang retina.

Keseimbangan dalam pembiasan sebagian besar ditentukan oleh dataran depan dan kelengkungan kornea dan panjangnya bola mata. Kornea mempunyai daya pembiasan terkuat dibanding bagian mata lainnya. Lensa memegang peranan membiaskan sinar terutama pada saat melakukan akomodasi atau bila melihat benda yang dekat. Panjang bola mata seseorang dapat berbeda-beda. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh kornea (mendatar, mencembung) atau adanya perubahan panjang bola mata maka sinar normal tidak dapat terfokus pada macula. Keadaan ini disebut ametropia yang dapat berupa myopia, hipermetropia, atau astigmatisma

3. 2. 1. Myopia Myopia adalah suatu keadaan kelainan refraksi dimana pada keadaan istirahat atau tanpa akomodasi, sinar sejajar difokuskan di depan retina. Patofisiologi Faktor-faktor yang menyebabkan myopia: Aksial : diameter antero-posterior dari bola mata lebih besar dari

normal. Disini daya refraksi dari kornea, lensa dan posisi dari lensa normal. Mata biasanya terlihat proptosis. Kurvatura : ukuran dari bola mata adalah normal, tetapi terdapat peningkatan dari kurvatura kornea atau lensa. Peningkatan kurvatura kornea misalkan pada keratokonus, megalokornea dan lenticonus, sedangkan perubahan pada lensa misalnya terdapat pada katarak intumescent. Peningkatan indeks refraksi : hal ini dapat terjadi pada keadaan sklerosis nuklear dan pasien diabetik. Perubahan pada lokasi lensa : perubahan posisi ke anterior setelah operasi glaukoma, subluksasi lensa.

Terjadinya miopi dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan maupun kombinasi keduanya. 1. Faktor genetik Pada suatu penelitian menunjukkan bahwa gen memiliki peranan pada terjadinya miopi. Suatu defek pada gen PAX6 diduga bertanggung jawab terhadap terjadinya miopi. Akibat defek tersebut, maka akan terjadi perubahan

ukuran anteroposterior bola mata selama fase perkembangan

yang

menyebabkan bayangan jatuh pada fokus di depan retina. Faktor genetik menyebabkan perubahan jalur biokimia yang menimbulkan kelainan pada pembentukan jaringan ikat termasuk pada mata. 2. Faktor lingkungan Selain faktor genetik ternyata Iingkungan juga memiliki peranan yang penting dalam menyebabkan terjadinya miopi. Miopi disebabkan oleh kelemahan pada otot-otot silier bola mata yang mengontrol bentuk lensa mata. Kelemahan otot silier bola mata mengakibatkan lensa tidak mampu memfokuskan objek yang jauh, sehingga objek terlihat kabur. Terjadinya kelemahan otot ini, akibat dan banyaknya kerja mata pada jarak dekat, misalnya membaca buku atau bekerja di depan komputer. (karena mata jarang digunakan untuk melihat jauh, otototot tersebut jarang digunakan akibatnya menjadi lemah.)

Klasifikasi Dikenal beberapa bentuk myopia, dapat dibagi berdasarkan A. Derajat beratnya B. Penyebabnya C. Perjalanan penyakitnya

Menurut derajat beratnya, myopia dibagi dalam: a. Myopia ringan, dimana myopia kecil, antara 1-3 dioptri b. Myopia sedang, dimana myopia antara 3-6 dioptri c. Myopia berat, dimana myopia lebih besar dari 6 dioptri

Berdasarkan penyebabnya, myopia dibagi menjadi i. Miopia aksialis ii. Miopia pembiasan/ refraktif

1. Miopia aksialis Oleh karena jarak anteroposterior yang terlalu panjang. Hal ini dapat merupakan : a. kelainan kongenital contohnya makroftalmus, b. herediter contohnya pada pasien dengan myopia mempunyai riwayat keluarga berkacamata negatif c. akuisita/ dapatan; bila membaca terlalu dekat maka seorang anak akan berkonvergensi berlebihan. M. rektus internus akan berkontraksi berlebihan sehingga bola mata terjepit oleh otot-otot mata luar sehingga polus posterior mata memanjang Posisi kepala sering membungkuk menyebabkan bendungan, peradangan, serta kelemahan dari lapisan yang mengelilingi bola mata, sehingga polus posterior menjadi memanjang 2. Miopia pembiasan Penyebabnya terletak pada: a. kornea: ada yang bersifat congenital contohnya keratokonus dan keratoglobus. Ada pula yang didapat misalnya karena menderita keratitis, kornea menjadi lemah, sehingga tekanan intraokuler akan membuat kornea menonjol ke depan b. lensa: lensa terlepas (luksasi/subluksasi) dari zonula zinii, pada katarak lensa menjadi lebih cembung, perubahan lensa lebih ke anterior pada operasi glaukoma c. cairan mata: kadar gula yang meninggi di humor akueus menyebabkan daya biasnya meninggi pula.

Sedangkan menurut perjalanannya, myopia dibagi atas: a. Myopia stationer/simpleks, myopia yang menetap setelah dewasa

b. Myopia progresif, myopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjangnya bola mata. c. Myopia maligna, myopia yang berjalan progresif yang dapat mengakibatkan abalasio retina dan kebutaan.

Miopia simplek Onset Muda 20 tahun

Miopia progresif Sejak lahir, ditemukan pada semua usia

Miopia maligna Sama dengan miopia progresif

Pola

Naik sedikit lalu berhenti

Bertambah terus (+/- 4D/tahun) >6D

Lebih berat dari miopia progresif > 6D

Besar Dioptri

<5 atau 6 D

Gejala subjektif dan objektif Pasien dengan myopia akan menyatakan keluhan kesulitan melihat jauh, sakit kepala, sering disertai dengan strabismus dan celah kelopak yang sempit. Seseorang myopia mempunyai kebiasaan memicingkan matanya untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek pin hole (lubang kecil). Pasien myopia mempunyai punctum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau berkedudukan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap maka penderita akan terlihat strabismus divergen. Pada mata dengan myopia tinggi akan terdapat pula kelainan pada fundus okuli yaitu hemeralopia yang terjadi karena degenerasi makula dan degenerasi retina bagian perifer. Pada myopia yang tinggi, mata penderita akan terlihat proptosis dan memiliki kamera okuli anterior yang dalam. Penyulit Penyulit dapat timbul biasanya pada pasien dengan myopia tinggi, antara lain adalah terjadinya ablasio retina, degenerasi vitreous, strabismus, perubahan pigmentasi retina, perdarahan makula, glaukoma sudut terbuka dan post-cortical katarak. Strabismus biasanya esotrofia, atau strabismus ke dalam akibat mata berkonvergensi terus-menerus. Bila terdapat strabismus ke luar, mungkin fungsi satu mata telah berkurang atau terdapat ambliopia.

Penatalaksanaan Penatalaksanaan pasien dengan myopia adalah dengan memberikan kacamata sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal. Hal ini dilakukan untuk memberikan istirahat pada mata dengan baik sesudah dikoreksi. Pada myopia yang tinggi biasanya tidak diberikan koreksi penuh karena dapat menyebabkan sakit kepala. Jika perlu dapat diberikan koreksi berupa lensa bifokal untuk membaca. Terapi alternatif pada penderita myopia antara lain terapi dengan operasi penggantian lensa dan terapi dengan sinar laser. Prognosis Prognosis pada pasien myopia simpleks atau stationer, setelah melewati usia pubertas, myopia akan berjalan konstan. Sedangkan pada myopia progresif, myopia akan terus meningkat dan komplikasi mungkin terjadi.

3. 2. 2. Hypermetropia Hipermetropia adalah suatu keadaan kelainan refraksi dimana tanpa akomodasi, sinar-sinar sejajar yang jatuh di kornea akan difokuskan di belakang retina. Untuk sinar-sinar yang berjarak kurang dari 5 m, akan difokuskan lebih jauh di belakang retina.

Patofisiologi Faktor-faktor yang menyebabkan hipermetropia: Aksial : hipermetropia dapat terjadi bila diameter bola mata lebih pendek dari normal

Kurvatura: ukuran dari bola mata adalah normal, tetapi terdapat penurunan dari kurvatura kornea atau lensa, sehingga bayangan difokuskan di belakang lensa.

Penurunan indeks refraksi Perubahan lokasi lensa

Klasifikasi Dikenal beberapa bentuk hipermetropia, yaitu: a. Hipermetropia laten, adalah hipermetropia yang tidak dapat terdeteksi tanpa pemberian siklopegik, karena dapat diimbangi seluruhnya dengan akomodasi. Makin muda seseorang, makin besar komponen hipermetropia laten. Makin tua seseorang, akan terjadi kelemahan akomodasi sehingga hipermetropia laten menjadi hipermetropia fakultatif dan kemudian akan menjadi hipermetropia absolut. b. Hipermetropia manifest, adalah hipermetropia yang dapat terdeteksi tanpa pemberian siklopegik (untuk memparalise proses akomodasi) dan koreksi terbaik didapatkan dengan lensa positif yang terbesar. Hipermetropia ini dibagi menjadi: i. Hipermetropia fakultatif, dimana kelainan hipermetropia dapat diimbangi dengan akomodasi yang kuat atau pemberian kacamata positif. ii. Hipermetropia absolut, dimana kelainan refraksi tidak diimbangi dengan akomodasi dan memerlukan kacamata positif untuk melihat jauh. c. Hipermetropia total, adalah hipermetropia yang dapat terdeteksi setelah akomodasi dilumpuhkan dengan obat sikloplegik.

Menurut penyebabnya, hipermetropi dapat dibagi menjadi a. Hipermetropi aksialis: disebabkan sumbu mata anteroposterior yang terlalu pendek. Keadaan ini dapat bersifat bawaan seperti pada mikroftalmi, maupun dapatan seperti pada retinitis sentralis dan ablatio retina.

b.

Hipermetropi pembiasan: disebabkan daya biasnya kurang, Namur sumbu matanya normal. Penyebabnya antara lain: i. aplanatio kornea ii. lensa: sklerosis sehingga tidak secembung semula atau bisa juga karena afakia. iii. Cairan mata: pada penderita DM dengan pengobatan yang berlebihan menyebabkan kadar gula pada humor akueus menurun sehingga daya biasnya menurun pula

Gejala subjektif dan objektif Gejala yang ditemukan pada penderita hipermetropia adalah penglihatan dekat dan penglihatan jauh yang kabur (terutama pada penderita dengan hipermetropia yang tinggi). Pasien hipermetropia sering mengeluh mata yang lelah dan sakit karena terus menerus melakukan akomodasi untuk melihat atau memfokuskan bayangan yang terletak di belakang macula agar terletak tepat di macula lutea. Keadaan ini disebut astenopia akomodasi. Akibat terus menerus berakomodasi maka bola mata bersamasama melakukan konvergensi dan mata akan sering terlihat esotrofia atau juling ke dalam. Mata hipermetropia sering memperlihatkan gejala ambliopia akibat mata tanpa akomodasi tidak pernah melihat objek dengan baik dan jelas. Bila terdapat perbedaan kekuatan hipermetropia antara kedua mata, maka akan terjadi ambliopia pada salah satu mata. Mata ambliopia sering bergulir ke arah temporal atau eksoforia. Penyulit Penyulit pada pasien hipermetropia adalah esotrofia dan glaucoma. Glaucoma sekunder terjadi akibat hipertrofi otot silier pada badan silier yang akan mempersempit sudut bilik mata. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pasien dengan hipermetropia adalah dengan memberikan kacamata sferis positif terkuat yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal. Hal ini dilakukan untuk memberikan istirahat pada mata dengan baik sesudah dikoreksi. Bila terdapat juling ke dalam atau esotrofia, maka diberikan kacamata koreksi hipermetropi total. Namun, bila terdapat bakat juling keluar atau esoforia, maka diberikan kacamata koreksi positif kurang.

3. 2. 3. Astigmatisma Adalah suatu keadaan kelainan refraksi dimana terdapat perbedaan derajat refraksi pada meridian yang berbeda. Berkas sinar tidak difokuskan pada satu titik dengan tajam pada retina akan tetapi pada dua garis api yang saling tegak lurus yang terjadi akibat kelainan kelengkungan permukaan kornea (90%) dan kelainan kelengkungan permukaan lensa (10%). Pada mata dengan astigmatisma, lengkungan jari-jari pada satu meridian kornea lebih panjang daripada jari-jari meridian yang tegak lurus padanya. Bayi yang baru lahir biasanya mempunyai kornea yang bulat atau sferis yang didalam perkembangannya terjadi keadaan apa yang disebut sebagai astigmatisma with the rule (astigmatisma lazim) yang berarti kelengkungan kornea pada bidang vertical bertambah atau lebih kuat atau jari-jarinya lebih pendek dibanding jari-jari kelengkungan kornea di bidang horizontal. Pada keadaan astigmatisma lazim ini, diperlukan lensa silindris negatif dengan sumbu 180 untuk memperbaiki kelainan refraksi yang terjadi.

Pada usia pertengahan kornea menjadi lebih sferis kembali sehingga astigmatisma menjadi against the rule (astigmatisma tidak lazim). Astigmatisma tidak lazim adalah suatu keadaan kelainan refraksi astigmatisma dimana koreksi dengan silinder negatif dilakukan dengan sumbu tegak lurus (60-120) atau dengan silinder positif sumbu horizontal (30-150). Keadaan ini terjadi akibat kelengkungan kornea

pada meridian horizontal lebih kuat dibandingkan kelengkungan kornea vertical. Hal ini sering ditemukan pada usia lanjut.

Bentuk astigmatisma: a. Astigmatisma reguler adalah astigmatisma yang memperlihatkan kekuatan pembiasan bertambah atau berkurang perlahan-lahan secara teratur dari satu meridian ke meridian berikutnya. Bayangan yang terjadi pada astigmatisma reguler dengan bentuk yang teratur, dapat berbentuk garis, lonjong atau lingkaran.

b. Astigmatisma irregular Astigmatisma yang terjadi tidak mempunyai dua meridian yang saling tegak lurus. Astigmatisma ini dapat terjadi akibat kelengkungan kornea pada meridian yang sama berbeda sehingga bayangan menjadi ireguler. Astigmatisma ireguler terjadi akibat infeksi kornea, trauma, dan distrofi atau akibat kelainan pembiasan pada meridian lensa yang berbeda. Pada pemeriksaan placidoskopi terdapat gambaran yang irreguler. Pengobatan dengan lensa kontak keras bila epitel tidak rapuh atau lensa kontak lembek bila disebabkan infeksi, trauma dan distrofi untuk memberikan efek permukaan yang reguler.

Pemeriksaan astigmatisme Terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen, pasang pinhole untuk menentukan apakah penurunan tajam penglihatan diakibatkan oleh kelainan refraksi, Bila setelah diberi pinhole tajam penglihatan bertambah baik maka kemungkinan ada kelainan refraksi (miopia, hipermetropia atau astigmatisme), lakukan tes fogging bila dengan lensa cekung atau cembung tidak memberikan perbaikan pada ketajaman penglihatan.

Snellen Chart

Test Fogging yaitu uji pemeriksaan astigmatisma dengan memakai prinsip mengistirahatkan akomodasi dengan memakai lensa positif. Dengan mata istirahat pasien disuruh melihat astigmatisma dial (juring astigmat). Astigmatisma dial (juring astigmat) yaitu garis berwarna hitam yang disusun radial dengan bentuk semisirkular, dengan dasar yang putih, dipergunakan untuk pemeriksaan subjektif yang menggambarkan ada dan besarnya kelainan refraksi astigmatisma.

Setelah pemberian lensa fogging penderita disuruh melihat gambaran juring dan ditanyakan garis manakah dan juring yang dilihatnya paling jelas garis yang paling jelas ini menunjukkan meridian yang paling ametropia, yang harus dikoreksi dengan pemberian lensa silinder, dengan aksis tegak lurus dengan pada meridian ini. Dengan lensa silinder ini kita dapat mempersatukan fokus. Kemudian berikan lensa silindris didepan mata, geser sumbu sedikit-sedikit, bila penglihatan bertambah tajam maka sumbu silinder telah dapat ditentukan, naikkan perlahan-lahan kekuatan lensa silinder.

Penglihatan terjelas lensa silinder yang dipasang menunjukkan lensa silinder yang akan dipakai. Bila garis vertikal yang terlihat jelas berarti garis ini telah terproyeksi baik pada retina sehingga diperlukan koreksi bidang vertikal dengan memakai lensa silinder negatif dengan sumbu 180 derajat

Pemeriksaan astigmatisma yang lain 1. Cakram plasido Pemeriksaan astigmatisme, dengan menggunakan cakram placido yaitu alat yang memproyeksikan seri lingkaran konsentris pada permukaan kornea. Dengan alat ini dapat dilihat kelengkungan kornea yang reguler (konsentris) dan yang ireguler.

2. Uji celah stenoptik Celah selebar 1 mm lurus yang terdapat pada lempeng dan dipergunakan untuk: (1) mengetahui adanya astigmat, penglihatan akan bertambah bila letak sumbu celah sesuai dengan sumbu astigmat yang terdapat, (2) Melihat sumbu koreksi astigmat. penglihatan akan bertambah bila sumbunya mendekati sumbu silinder yang benar, untuk memperbaiki sumbu astigmat dilakukan dengan menggeser sumbu celah stenopik berbeda dengan sumbu silinder dipasang, bila terdapat perbaikan penglihatan maka mata ini menunjukkan sumbu astigmatisme belum tepat, (3) untuk mengetahut besamya astigmat, dilakukan hal yang sama dengan sumbu celah berhenti pada ketajaman maksimal. Pada sumbu ini ditaruh lensa positif atau negatif yang memberikan ketajaman aksimal. Kemudian sumbu stenopik diputar 90 derajat dan sumbu pertama, Ditaruh lensa positif aau negatif yang memberikari ketajaman maksimal. Perbedaan antara kedua kekuatan lensa sferis yang dipasangkan merupakan besarnya astigmatisma kornea tersebut.

3. Uji silinder silang Dua lensa silinder yang sama akan tetapi dengan kekuatan berlawanan dan diletakkan dengan sumbu saling tegak lurus (silinder silang jackson). Ekivalen sferisnya adalah nihil. Lensa silinder silang terdiri atas silinder -0.25 (-0.50) dan silinder +0.25 (+5.00) yang sumbunya saling tegak lurus. Lensa ini digunakan untuk

(1) melihat koreksi silinder yang telah dilakukan pada kelainan astigmat pasien sudah cukup atau telah penuh, pada mata ini dipasang silinder silang yang sumbunya sejajar dengan sumbu koreksi. Bila sumbu lensa silinder silang diputar 90 derajat ditanakan apakah penglihatan membaik atau menurang. Bila membaik berarti pada kedudukan kedua lensa silinder mengakibatkan perbaikan penglihatan. Bila silinder itu dalam kedudukan lensa silinder positif maka untuk koreksi pasien diperlukan pemasangan tambahan lensa silinder positif. (2) melihat apakah sumbu lensa silinder pada koreksi yang telah diberikan sudah sesuai. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pasien dengan astigmatisma antara lain koreksi dengan kacamata atau kontak lens yang sesuai. Untuk koreksi astigmatisma dapat dipergunakan lensa silindris yang sering dikombinasikan dengan lensa sferis. Kontak lens yang keras dapat mengatasi kelainan astigmatisma dengan memperbaiki kelengkungan kornea yang rusak.

3. 2. 4. Presbiopia Presbiopia merupakan keadaan refraksi mata, dimana puctum proksimum telah begitu jauh sehingga pekerjaan dekat sukar dilakukan. Proses ini merupakan keadaan fisiologis. Sepanjang hidup terdapat pengerasan yang terjadi sedikit demi sedikit pada lensa, yang dimulai dari nukleus sehingga lensa mendapat kesukaran dalam mengubah bentuknya pada penglihatan dekat untuk menambah daya biasnya karena lensa tidak kenyal lagi. Dengan demikian daya akomodasinya mengurang akibat proses sklerosis ini. Ditambah lagi dengan daya kontraksi dari otot siliar yang mengurang sehingga pengendoran dari zonula Zinii menjadi tidak sempurna. Gejala klinis Keluhan timbul pada penglihatan dekat. Semua pekerjaan dekat sukar dikerjakan karena terlihat kabur dan bila dipaksakan mata lekas capai. Diperlukan penerangan yang lebih kuat untuk dapat bekerja sehingga terjadi pengecilan dari pupil, penglihatan lebih terang. Kalau dibiarkan tidak dikoreksi akan menimbulkan tanda astenopia, mata sakit, lekas capai, dan lakrimasi.

Pemeriksaan presbiopia Pemeriksaan presbiopia mempergunakan tes dari Jaeger. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1. Minta pasien untuk duduk di ruang terang 2. Ukur pupil untuk penglihatan dekat 3. pasang trial frame dengan koreksi penglihatan jauh 4. tutup mata kiri dengan okluder 5. periksa tajam penglihatan kanan dengan kartu Jaeger pada jarak yang diinginkan pasien (biasanya 33 cm) 6. Bila bertambah jelas tambahkan lensa sferis positif hingga pasien dapat membaca sampai besar huruf 20/30 7. Ulangi langkah yang sama pada mata kiri 8. Ulangi dengan menggunakankedua mata

Penatalaksanaan Di Indonesia, terjadinya biasanya mulai pada umur 40 tahun. Untuk memperbaikinya diperlukan kacamata sferis positif (S+) yang besarnya tergantung dari umurnya, yaitu : + 1,00 D untuk usia 40 yahun + 1,50 D untuk usia 45 tahun + 2,00 D untuk usia 50 tahun + 2,50 D untuk usia 55 tahun + 3,00 D untuk usia 60 tahun

Maksimal diberikan S + 3,00 D . Hal ini disebabkan pada keadaan ini mata tidak melakukan akomodasi bila membaca pada jarak 33 cm, karena benda yang dilihat terletak pada titik api lensa +3.0 dioptri sehingga sinar yang keluar akan sejajar dan bayangan akan difokuskan tepat pada retina.

Lensa sferis plus dapat digunakan dalam beberapa cara 1. Kacamata baca Kacamata ini mempunyai memiliki koreksi dekat di seluruh bukaan kacamata, sehingga baik untuk membaca namun membuat benda -benda jauh kabur. 2 Kacamata bifokal Kacamata ini memiliki 2 lensa di mana bagian atasnya tidak dikoreksi untuk penglihatan jauh dan bagiab bawahnya untuk melihat dekat. 3. Lensa Progresif Lensa progresif juga mengkoreksi penglihatan dekat, sedang, dan jauh tetapi dengan perubahan daya lensa yang progresif bukan bertingkat.

DAFTAR PUSTAKA ________. Merriam Websters Collegiate Dictionary Version 1.2 Electronic Edition. Merriam Webster Inc. 1994.

Basak, Samar K. Essentials of Ophthalmology. 2nd Edition. Kolkata : RD Enterprises. 2002.

Batterbury M, Bowling B. Ophthalmology, an Illustrated Colour Text. London : Churchill Livingstone Edinburgh. 2004.

Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Kedua. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2003.

Wijana, Nana. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Revisi. Jakarta : Abadi Tegal. 1993.

Vaughan DG, Asbury T, Riordan-Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta : Widya Medika. 2000.