Anda di halaman 1dari 6

Borang Portofolio Topik : Appendisitis Kronik eksaserbasi Akut 9 Juni 2012 25 Juli 2012 Presenter : Pendamping : dr.

Alexander Kam dr. Rahayu Lestari

Tanggal (kasus) : Tanggal Presentasi : Tempat Presentasi : Objektif Presentasi : Keilmuan Diagnostik Neonatus Deskripsi : Tujuan : Bahan Bahasan : Cara Membahas : Data Pasien : Bayi

Ruang Komite Medik RSUD Pasaman Barat Keterampilan Manajemen Anak Remaja Penyegaran Masalah Dewasa Tinjauan Pustaka Istimewa Lansia Bumil

Laki-laki, usia 25 th, nyeri perut kanan bawah, leukosit 20.300 / mm3 Penegakkan diagnosa dan pengobatan yang tepat dan tuntas. Tinjauan Pustaka Diskusi Riset Kasus E-mail Audit Pos

Presentasi dan Diskusi

Nama : Romi, , 25 tahun, BB: 55 kg, TB : 160cm Telp :

No. Registrasi : 035627 Terdaftar sejak :

Nama Klinik : RSUD Pasaman Barat Data Utama untuk Bahan Diskusi :

1. Diagnosis / Gambaran Klinis : Appendisitis Kronis eksaserbasi Akut / Nyeri perut kanan bawah sejak 6 jam sebelum masuk rumah sakit. Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan dan nyeri lepas di titik McBurney. Uji obturator (+). 2. Riwayat Pengobatan : Pasien sudah pernah dirawat 7 kali dalam 2 tahun terakhir dengan keluhan yang sama. Namun, pasien tidak dioperasi karena masalah biaya. 3. Riwayat Kesehatan / Penyakit : Pasien sudah mengalami keluhan seperti ini hilang timbul selama 2 tahun. 4. Riwayat Keluarga : Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan seperti pasien. 5. Riwayat Pekerjaan : Pasien belum bekerja. 6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : Tidak ada yang berhubungan. 7. Riwayat Imunisasi : Pasien lupa 8. Lain-lain : Leukosit 20.300 / mm3, LED 70 mm/jam

Daftar Pustaka : Buku Ajar Ilmu Bedah Wim de Jong Schwartzs Principles of Surgery Pocket Guide to Diagnotic Tests Hasil Pembelajaran : 1. Appendisitis Kronik eksaserbasi Akut 2. Penegakan diagnosa appendisitis 3. Tatalaksana appendisitis

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio 1. Subjektif : Keluhan Utama: Nyeri perut sebelah kanan bawah sejak 6 jam sebelum masuk rumah sakit. Sebelumnya, nyeri terasa di ulu hati 1 hari yang lalu, setelah itu nyeri berpindah ke perut kanan bawah. BAB tidak ada sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. BAK biasa. Demam sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Nafsu makan menurun sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Mual dan muntah tidak ada. Batuk berdahak tidak ada. Pasien sudah pernah dirawat dengan keluhan yang sama sebanyak 7 kali dalam kurun waktu 2 tahun terakhir. Pasien tidak dioperasi karena alasan biaya, sehingga pasien hanya dirawat sampai keluhan hilang. Dari pengakuan pasien, antara rawatan satu dengan yang lain biasanya teraba massa di titik McBurney, namun pasien tidak memperhatikan ukuran massa tersebut.

2. Objektif : Pemeriksaan Fisik Keadaan umum : tampak sakit sedang Kesadaran : CMC

Tekanan Darah : 110/70 mmHg

Nadi

: 88x/menit

Frekuensi Nafas : 22 x/ menit Suhu : 37,80 C

Status Internus Kepala : Tidak ada kelainan Mata Kulit Thoraks o Paru Inspeksi Palpasi Perkusi : Gerakan nafas simetris kiri dan kanan : Fremitus kiri sama dengan kanan : Sonor di kedua lapangan paru : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik : Turgor kulit baik

Auskultasi : Vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/o Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : Iktus jantung tidak terlihat : Iktus jantung teraba di linea midclavicula sinistra RIC V : Batas jantung normal

Auskultasi : Bising tidak ada, bunyi jantung tambahan tidak ada Abdomen Inspeksi Palpasi : Tidak tampak membuncit : Nyeri tekan dan nyeri lepas di titik McBurney (+) Tidak teraba massa di perut kanan bawah Perkusi : Timpani

Auskultasi : Bising usus (+) normal Ekstremitas : Refilling capiller baik Pemeriksaan tambahan : Uji Obturator (+)

Laboratorium: Hb : 15 gr/dl Leukosit : 20.300/mm3 Trombosit : 168.000/mm3 Hematokrit : 43% LED : 70 mm/jam Hitung Jenis : 0/0/2/78/10/10 GDP : 112 mg/dl

3. Assesment (penalaran klinis) : Appendisitis disebabkan karena adanya obstruksi pada lumen appendiks sehingga terjadi kongesti vaskuler, iskemik nekrosis dan akibatnya terjadi infeksi. Appendisitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Penyebab obstruksi yang paling sering adalah fecolith. Penyebab lain dari obstruksi appendiks meliputi hiperplasia folikel lymphoid, carcinoid atau tumor lainnya, dan kadang parasit. Gejala utama pada apendisitis akut adalah nyeri abdomen. Pada mulanya terjadi nyeri visceral, yaitu nyeri yang sifatnya hilang timbul seperti kolik yang dirasakan di daerah umbilikus dengan sifat nyeri ringan sampai berat. Hal tersebut timbul oleh karena apendiks dan usus halus mempunyai persarafan yang sama, maka nyeri visceral itu akan dirasakan mula-mula di daerah epigastrium dan periumbilikal Secara klasik, nyeri di daerah epigastrium akan terjadi beberapa jam (4-6 jam) seterusnya akan menetap di kuadran kanan bawah dan pada keadaan tersebut sudah terjadi nyeri somatik yang berarti sudah terjadi rangsangan pada peritoneum parietale dengan sifat nyeri yang lebih tajam, terlokalisir serta nyeri akan lebih hebat bila batuk ataupun berjalan kaki. Hampir tujuh puluh lima persen penderita disertai dengan vomitus akibat aktivasi N.vagus, namun jarang berlanjut menjadi berat dan kebanyakan vomitus hanya sekali atau dua kali. Penderita apendisitis juga mengeluh obstipasi sebelum datangnya rasa nyeri dan beberapa penderita mengalami diare, hal tersebut timbul biasanya pada letak apendiks pelvikal yang merangsang daerah rektum. Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi, yaitu suhu antara 37,50 38,50C tetapi bila suhu lebih tinggi, diduga telah terjadi perforasi. Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan bawah atau titik Mc Burney. Nyeri lepas muncul karena rangsangan peritoneum, sementara rebound tenderness (nyeri lepas tekan) adalah rasa nyeri yang hebat (dapat dengan melihat mimik wajah) di abdomen kanan bawah saat tekanan secara tiba-tiba dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan yang perlahan dan dalam di titik Mc Burney. Gejala dan pemeriksaan fisik appendisitis bisa dinilai untuk menegakkan diagnosa appendisitis dengan menggunakan Alvarado Score. Pada pasien ini jumlah skornya adalah 9, dengan poin negatif hanya pada mual dan muntah saja. Skor > 9 menunjukkan bahwa kemungkinan diagnosa appendisitis sangat besar.

Pasien sudah berulangkali dirawat dengan keluhan yang sama. Namun, pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan massa periapendikuler untuk menegakkan diagnosa appendisitis infiltrat. Selain itu, hasil laboratorium pasien ini menunjukkan adanya peningkatan LED hingga 70 mm/jam. Peningkatan LED biasanya mengindikasikan infeksi, namun tingkat sensitivitas dan spesifisitas tinggi hanya untuk beberapa infeksi tertentu, seperti infeksi tuberkulosis dan penyakit rematik. Peningkatan ini juga bisa mengindikasikan terjadinya anemia, keganasan, dan gagal ginjal kronik.

4. Plan : Diagnosis : Appendisitis Kronis eksaserbasi Akut Pengobatan : Tatalaksana appendisitis akut adalah appendektomi karena ditakutkan timbul komplikasi seperti perforasi. Sebelum dioperasi, pasien diberikan terapi konservatif terlebih dahulu dengan pemberian antibiotik seperti cefotaxime dan fladex supp, serta pemberian ranitidine untuk mencegah stress lambung. Untuk menghilangkan nyeri, diberikan analgetik berupa pronalges supp. Pendidikan : Kepada pasien dan keluarganya dijelaskan penyebab timbulnya penyakit yang dideritanya dan menjelaskan tindakan yang seharusnya diambil jika anggota 5

keluarga yang lain mengalami gejala-gejala awal appendisitis akut. Konsultasi : Pada saat ini belum dibutuhkan konsultasi. Kontrol : Kegiatan Kontrol post-operasi Periode Hasil yang Diharapkan

Tiga hari setelah pulang Hasil operasi sesuai yang dari rumah sakit, dan jika diharapkan dan tidak ada diperlukan kunjungan lagi komplikasi yang timbul tiga hari berikutnya Setiap kali kunjungan Kualitas hidup pasien membaik

Nasihat