Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA LINGKUNGAN PERCOBAAN 1 ANALISIS BAHAN BUANGAN YANG MEMERLUKAN OKSIGEN

Oleh Fathiyah Azizah 100332404312 Offering H / Kelompok IV

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MALANG PROGRAM STUDI KIMIA Februari 2013

LAPORAN PERCOBAAN 1 ANALISIS BAHAN BUANGAN YANG MEMERLUKAN OKSIGEN

1. TABEL DATA HASIL PENGAMATAN/PENGUJIAN WARNA SAMPEL JARAK SUHU (m) (OC) LAP LAB LAP LAB BAU DO (mg/L) STABILITAS KADAR RELATIF (%) CO2 (mg/L)

BOD

COD

(mg/L) (mg/L)

0 (AA) 100 (BA) 150 (CB) 150 (DC)

25

++

12,75

99

13,2

0,09

320

25

++

++

12

60

17,6

0,23

480

25

++

++

++

++

11,43

99

22

0,56

560

25

++

++

++

++

11,2

99

26,4

0,63

640

2. REKAMAN HASIL PELAKSANAAN PENGUJIAN DAN PERHITUNGAN


1. Jarak Titik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan pada empat titik yang berbeda yaitu titik A, B, C dan D dimana sampel A diambil pada titik A, sampel B diambil pada titik B dan seterusnya. Jarak antara titik A dengan titik B sebesar 100 meter. Jarak antara titik B dengan titik C sebesar 150 meter. Jarak antara titik C dengan titik D sebesar 150 meter. 2. Suhu Pengukuran suhu dilakukan di tiap titik pengambilan sampel sebelum sampel diambil. Berikut nilai suhu masing-masing sampel: Sampel A : 25 oC Sampel B : 25 oC Sampel C : 25 oC Sampel D : 25 oC
3. Warna

Pengamatan fisik sampel salah satunya adalah dengan mengamati warna air yang dilakukan dua kali yaitu pada saat di lapangan dan di laboratorium. Pengamatan di lapangan dilakukan pada tiap titik pengambilan sampel sebelum sampel diambil. Sedangkan pengukuran di laboratorium dilakukan pada saat sampel yang telah diambil sampai di laboratorium. Berikut pengamatan warna masing-masing sampel di lapangan: Sampel A : coklat (+) Sampel B : coklat (+) Sampel C : coklat keruh (++) Sampel D : coklat keruh (++) Berikut pengamatan warna masing-masing sampel di laboratorium: Sampel A : coklat (+) Sampel B : coklat keruh (++) Sampel C : coklat keruh (++) Sampel D : coklat keruh (++)

Warna sampel pada saat di lapangan dan pada saat di laboratorium tidak tampak perbedaan yang signifikan. Sehingga pengamatan yang dilakukan terhadap warna sampel air dapat dikatakan representatif.

4. Bau

Pengamatan fisik yang kami lakukan selain pengamatan warna yakni pengamatan bau dari tiap titik pengambilan samapel. Pengamatan bau tiap sampel juga dilakukan dalam dua kondisi yaitu pada saat di lapangan dan di laboratorium. Berikut pengamatan bau masing-masing sampel di lapangan: Sampel A : + Sampel B : + Sampel C : ++ Sampel D : ++ Berikut pengamatan bau masing-masing sampel di laboratorium: Sampel A : ++ Sampel B : ++ Sampel C : ++ Sampel D : ++ Tanda + pada masing-masing pengamatan memiliki arti sebagi berikut: tanda + mengidentifikasikan bahwa sampel air sedikit berbau tanda ++ mengidentifikasikan bahwa sampel air berbau busuk/amis Terdapat perbedaan pengamatan bau sampel pada saat di lapangan dan di laboratorium. Perbedaan ini dimungkinkan karena kesalahan pada saat penyimpanan sampel.
5. DO

Pengujian kandungan oksigen terlarut dilakukan dengan prosedur berikut. Botol winkler diisi sampai penuh dengan sampel yang akan diuji, ditambah 1 mL MnSO4 50% dan 1 mL NaOH + KI. Kemudian dikocok dan dibiarkan selama 10 menit. Lalu ditambah H2SO4 sampai endapan larut. Selanjutnya dilakukan titrasi dengan larutan baku Na2S2O3 sampai larutan berwarna kuning muda. Kemudian ditambahkan 5 tetes indikator amilum. Titrasi dilanjutkan sampai warna biru hilang.

Keterangan: V1 V2 N Sampel A V1 V2 N = 2,2 mL = 140 mL = 0,1 N = volume Na2S2O3 untuk titrasi = volume sampel air yang digunakan = normalitas Na2S2O3

Berikut perhitungan kadar oksigen terlarut masing-masing sampel:

= 12,75 mg/L Jadi konsentrasi oksigen terlarut pada sampel A adalah 12,75 mg/L. Sampel B V1 V2 N = 2,1 mL = 142 mL = 0,1 N

= 12 mg/L Jadi konsentrasi oksigen terlarut pada sampel B adalah 12 mg/L. Sampel C V1 V2 N = 2 mL = 142 mL = 0,1 N

= 11,43 mg/L Jadi konsentrasi oksigen terlarut pada sampel C adalah11,43 mg/L.

Sampel D V1 V2 N = 2 mL = 145 mL = 0,1 N

= 11,2 mg/L Jadi konsentrasi oksigen terlarut pada sampel D adalah11,2 mg/L. 6. Stabilitas Relatif Stabilitas relatif sampel dapat diketahui melalui pemberian warna dari larutan metilen biru pada sampel. Sebelum diberi metilen biru terlebih dahulu sampel diisikan pada botol reagen yang bersih, kemudian baru ditambah metilen biru pada sampel tersebut. Setelah itu perubahan warna, dari warna biru sampai hilangnya warna tersebut diamati setiap 24 jam dan mencocokkan jumlah hari hilangnya warna biru yang terdapat di dalam tabel kemantapan relatif. Dari hasil pengamatan kami, sampel B warna birunya menghilang setelah 4 hari sehingga kemantapan relatifnya adalah 60%. Sampel A, C, D warna birunya tidak menghilang walaupun sudah melebihi dari 20 hari, sehingga stabilitas relatifnya melebihi 99%.
7. Kadar CO2

Pengujian kadar

sampel dilakukan dengan penitrasian sampel sebanyak 100

mL dengan larutan NaOH 0,1 N menggunakan indikator fenolftalein. Titrasi dilakukan sampai larutan berwarna pink. :

Dalam perhitungan konsentrasi

ini, volume sampel air untuk masing-masing

sampel adalah 100 mL dan konsentrasi NaOH yang digunakan adalah 0,1 N. Berikut perhitungan kadar CO2 masing-masing sampel: Sampel A Volume NaOH = 0,3 mL Kadar CO2 sampel A

= 13,2 mg/L Jadi konsentrasi CO2 pada sampel A adalah 13,2 mg/L. Sampel B Volume NaOH = 0,4 mL Kadar CO2 sampel B = 17,6 mg/L Jadi konsentrasi CO2 pada sampel B adalah 17,6 mg/L. Sampel C Volume NaOH = 0,5 mL Kadar CO2 sampel C = 22 mg/L Jadi konsentrasi CO2 pada sampel C adalah 22 mg/L. Sampel D Volume NaOH = 0,6 mL Kadar CO2 sampel D = 26,4 mg/L Jadi konsentrasi CO2 pada sampel D adalah 26,4 mg/L.
8. BOD

Pengujian BOD menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh organisme air untuk memecah bahan-bahan buangan yang terdapat dalam air. Pengujian ini dilakukan dengan aerasi sampel terlebih dahulu. Selanjutnya sampel dimasukkan ke dalam 2 botol winkler. Botol pertama ditentukan kadar BOD-nya sesuai dengan prosedur penentuan oksigen terlarut. Sedangkan botol kedua disimpan selama 7 hari, kemudian baru ditentukan kadar oksigen terlarutnya. Kadar BOD = kadar DO hari ke-0 kadar DO hari ke 7 Berikut perhitungan kadar BOD masing-masing sampel: Sampel A Hari ke-0 V1 = 1,7 mL, V2 = 149 mL dan N = 0,1 N

= 9,25 mg/L Hari ke-7 V1 = 1,5 mL, V2 = 133 mL dan N = 0,1 N

= 9,16 mg/L Kadar BOD = 9,25 9,16 = 0,09 mg/L Jadi kadar BOD pada sampel A adalah 0,09 mg/L. Sampel B Hari ke-0 V1 = 1,6 mL, V2 = 149 mL dan N = 0,1 N

= 8,71 mg/L Hari ke-7 V1 = 1,4 mL, V2 = 134 mL dan N = 0,1 N

= 8,48 mg/L Kadar BOD = 8,71 8,48 = 0,23 mg/L Jadi kadar BOD pada sampel B adalah 0,23 mg/L. Sampel C Hari ke-0 V1 = 1,9 mL, V2 = 142 mL dan N = 0,1 N

= 10,86 mg/L Hari ke-7 V1 = 1,7 mL, V2 = 134 mL dan N = 0,1 N

= 10,3 mg/L Kadar BOD = 10,86 10,3 = 0,56 mg/L Jadi kadar BOD pada sampel C adalah 0,56 mg/L. Sampel D Hari ke-0 V1 = 1,6 mL, V2 = 158 mL dan N = 0,1 N

= 8,2 mg/L Hari ke-7 V1 = 1,4 mL, V2 = 150 mL dan N = 0,1 N

= 7,57 mg/L Kadar BOD = 8,2 7,57 = 0,63 mg/L Jadi kadar BOD pada sampel D adalah 0,63 mg/L.
9. COD

Uji COD (Chemical Oxygen Demand) merupakan suatu uji yang dilakukan untuk menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidasi, untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air. Langkah pertama yang dilakukan untuk menentukan COD adalah memasukkan 10 mL sampel ke dalam Erlenmeyer yang berisi batu didih. Kemudian ditambah 0,4 gram Kristal merkuri sulfat, 25 mL larutan K2Cr2O7 0,25 N dan 10 mL larutan H2SO4 pekat. Larutan tersebut dipanaskan selama 2 jam, setelah itu didinginkan dan ditambahkan 3 tetes indicator ferroin. Lalu larutan tersebut dititrasi dengan larutan ferro ammonium sulfat 0,25 N sampai terjadi perubahan warna dari hijau menjadi tepat berwarna merah. Kegiatan di atas di ulangi dengan mengganti sampel dengan air untuk mengetahui blanko. Dari percobaan yang kami lakukan diperoleh ammonium sulfat (NH4)Fe(SO4)2 Sampel A : 0,0 22,6 Sampel B : 0,0 21,8 Sampel C : 0,0 21,4 Sampel D : 0,0 21,0

Blanko : 0,0 24,2 Sehingga melalui data di atas dapat diketahui COD pada sampel, yaitu melalui persamaan : COD (mg/L) = Keterangan : A = volume ferro amnium sulfat yang digunakan dalam titrasi blanko B = volume ferro amnium sulfat yang digunakan dalam titrasi sampel N = normalitas ferro amnium sulfat 8 = berat ekivalen oksigen ( )

Perhitungan COD sampel : Kadar COD sampel A COD = ( )

= 320 mg/L Kadar COD sampel B ( = = 480 mg/L Kadar COD sampel C COD ( = = 560 mg/L Kadar COD sampel D COD COD ( = = 640 mg/L )

3. PERTANYAAN/PEMBACAAN DATA 3.1 Berdasarkan kadar oksigen terlarut (DO) sebagaimana tertuang pada tabel data tersebut di atas, bagaimana menurut saudara kualitas air perairan tersebut setelah menerima limbah domistik ? Jelaskan lebih lanjut jawab saudara ! Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen, disingkat DO) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Oksigen terlarut umunya berasal dari difusi udara melalui permukaan air, aliran air masuk, air hujan dan hasil dari fotosintesis plankton atau tumbuhan air. Di dalam suatu badan air, oksigen terlarut ini memiliki peranan penting dalam menguraikan komponen-komponen kimia menjadi komponen-kmponen yang lebih sederhana. Oksigen memiliki kemampuan untuk beroksidasi dengan zat pencemar seperti komponen organik, sehingga zat pencemar tersebut tidak membahayakan lingkungan. Oksigen juga dibutuhkan oleh mikroorganisme, baik mikroorganisme yang aerob maupun anaerob pada proses metabolismenya. Pencemaran air (terutama yang disebabkan oleh pencemar organik) dapat mengurangi persediaaan oksigen terlarut. Hal ini tentu saja akan mengancam organisme yang hidup di air. Kehidupan di air dapat bertahan jika terdapat oksigen terlarut. Minimum sebanyak 5 mg oksigen setiap satu liter air ( 5 bpj atau 5 ppm). Pada pengujian kadar oksigen terlarut yang kami lakukan di laboratorium terhadap air sungai daerah betek, dari 4 titik sampel yang diambil didapatkan : Pada sampel A mengandung DO sebesar 12,75 mg/L Pada sampel B mengandung DO sebesar 12 mg/L Pada sampel C mengandung DO sebesar 11,43 mg/L Pada sampel D mengandung DO sebesar 11.2 mg/L Kehidupan di air cepat bertahan jika ada oksigen terlarut minimum sekitar 5 mg/l. Berkurangya kadar oksigen terlarut dalam air karena digunakan mikroorganisme untuk menentukan kadar limbah yang ada dalam air sungai tersebut. Semakin tinggi kadar OT kadar limbah semakin rendah. Dari data menunjukan bahwa air sungai yang kami uji rata-rata sekitar 11,85 mg/l. Dapat dikatakan bahwa kehidupan dalam air sungai tersebut dapat berjalan dengan baik dan kadar limbah dalam air sunngai dapat ditoleransi oleh mikroorganisme sehingga air ini bisa dikatakan tidak terlalu tercemar, dimana biota masih bisa hidup.

3.2 Bandingkan kualitas air perairan sebagaimana tersebut pada butir 3.1 di atas dengan kualitas air perairan berdasarkan warna dan bau yang telah saudara tetapkan di lapangan. Jelaskan lebih lanjut jawab saudara ! Dari perbandingan hasil analisa kualitas air dengan warna dan bau di lapangan, saling ada keterkaitan, dimana pencemaran yang terjadi ditunjukkan dari adanya bau dan warna yang keruh. 3.3 Berdasarkan nilai DO sebagaimana tertuang pada tabel data tersebut di atas, bagaimana menurut saudara kemampuaan membersihkan diri (self purification) dari perairan tersebut secara keseluruhan ? Jelaskan lebih lanjut jawab saudara ! DO dari perairan yang kami analisa memiliki nilai cukup baik, di atas 5 mg/L, sehingga dengan adanya cukup oksigen tersebut, perairan memiliki kemampuan membersihkan diri yang cukup. 3.4 Dengan memperhatikan nilai stabilitas relatif sebagaimana tertuang pada tabel data tersebut di atas. Jelaskan apa arti nilai stabilitas relative di masing-masing titik pengambilan sampel bagi perairan tersebut ! Jelaskan lebih lanjut jawab saudara ! Arti nilai stabilitas relative dari sampel A warna biru tidak hilang walaupun lebih dari 20 hari, maka sampel mempunyai tuntutan oksigen untuk memenuhi 99% tuntutan biokimia. Hal ini menandakan sampel tidak memiliki bahan organik untuk dioksidasi. Arti nilai stabilitas relative dari sampel B warna biru hilang dalam 4 hari, maka sampel

mempunyai tuntutan oksigen untuk memenuhi 60% tuntutan biokimia. Hal ini menandakan sampel tidak memiliki cukup sedikit bahan organik untuk dioksidasi. Sedangkan sampel C dan sampel D memiliki kesamaan dengan sampel A. Dari hasil di atas dapat dikatakan bahwa pengambilan sampel kurang baik atau kurang representative. 3.5 Kalau suatu contoh air dari suatu badan air diketahui 99% stabil, apa artinya ? Jelaskan lebih lanjut jawab saudara ! Bila suatu sampel mempertahankan warna biru pada uji stabilitas relative selama 20 hari, maka sampel air tersebut dikatakan 99% stabil, karena dalam sampel tersebut memiliki kadar oksigen yang tinggi, sehingga dalam sampel tersebut tidak ada mikroorganisme yang melakukan penguraian zat organiks

3.6 Dengan memperhatikan kadar CO2 terlarut pada tabel data tersebut di atas, bagaimana menurut saudara daya racun gas CO2 tersebut terhadap kelangsungan hidup biota air dalam perairan tersebut ? Jelaskan lebih lanjut jawab saudara ! Karbon dioksida (CO2) bebas dalam air merupakan hasil pembakaran zat-zat organik. Besarnya kandungan CO2 dalam air sangat ditentukan oleh kondisi atau keadaan perairan itu sendiri .Bila PH peraiaran itu semakin tinggi ,maka kadar CO2 semakin tinggi pula.Dengan semakin tinggi CO2 dalam perairan itu ,tentu saja akan menimbulkan kerugian pada manusia misalnya kerusakaqn gigi dan tinbulnya kerak kerak pada panci. Berdasarkan pengujian kadar CO2 terlarut yang kami lakukan di laboratorium terhadap air sungai ,dari 4 titik sampel yang diambil didapatkan : Pada sampel A mengandung CO2 terlarut 13,2 mg/L Pada sampel B mengandung CO2 terlarut 17,6 mg/L Pada sampel C mengandung CO2 terlarut 22 mg/L Pada sampel D mengandung CO2 terlarut 26,4 mg/L Berdasarkan nilai standart baku mutu air golongan C,CO2 ,terlarut maksimum yang diperoleh sebesar 12 mg/L .Hal ini menunjukkan bahwa dari sampel air sungai yang kami ambil memiliki tingkat pencemaran yang tinggi akibat dari banyaknya CO2 terlarut sehingga tidak mendukung kehidupan biota air didalamnya. 3.7 Dalam kondisi normal, apa peran gas CO2 terlarut bagi kelangsungan hidup organisme air khususnya tumbuh-tumbuhan air renik maupun tingkat tinggi ? Jelaskan lebih lanjut jawab saudara ! CO2 merupakan gas yang dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan air renik maupun tingkat tinggi untuk melakukan fotosintesis. Namun meskipun peran CO2 sangat besar bagi kehidupan organisme air, bila kadar yang berlebihan sangat mengganggu, bahkan menjadi racun secara langsung bagi hewan-hewan air yang hidup diperairan tersebut. 3.8 Dengan memperhatikan nilai BOD dan COD di setiap titik pengambilan sampel sebagaimana tertuang pada tabel data tersebut di atas, mana yang selalu memiliki nilai yang lebih tinggi ? Jelaskan mengapa demikian ? COD yang selalu memiliki nilai yang lebih tinggi, Hal ini disebabkan jumlah senyawa kimia yang bisa dioksidasi secara kimiawi lebih besar dibandingkan oksidasi secara biologis. Hal ini dimungkinkan dari kemampuan self purificationnya tidak optimal.

3.9 Perbandingan nilai COD terhadap BOD di setiap titik pengambilan sampel. Dengan memperhatikan ratio COD/BOD tersebut, sebutkan zat organik apa yang mendominasi perairan tersebut ? Jelaskan lebih lanjut jawab saudara ! Ratio COD/BOD sampel A adalah 320/0,09 Ratio COD/BOD sampel B adalah 480/0,23 Ratio COD/BOD sampel C adalah 560/0,56 Ratio COD/BOD sampel D adalah 640/0,63 Dari perbandingan di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai kebutuhan oksigen dari COD selalu lebih tinggi daripada BOD, hal ini disebabkan zat organic lebih teroksidasi oleh bahan kimia dibanding biologi. Bisa diprediksi zat organic yang mendominasi sungai tersebut berasal dari bahan limbah buangan domestik, diantaranya yang mengandung protein, lemak, dan senyawa-senyawa hidrokarbon lain dari peruraian limbah. 3.10 Dengan memperhatikan baik nilai BOD maupun COD pada tabel data tersebut di atas, bagaimana menurut saudara tingkat pencemaran perairan tersebut oleh zat-zat organic ? Jelaskan lebih lanjut jawab saudara ! Kondisi ini berkaitan dengan aktivitas masyarakat yang menggunakan air di sungai Betek sebagai tempat mandi, cuci, buang air besar dan tempat dari limbah rumah tangga. Aktivitas masyarakat tersebut menyebabkan peningkatan bahan organik dalam air sungai. Dari nilai COD dan BOD, bisa dikatakan indikasi terjadi pencemaran, hal ini kemungkinan disebabkan aktivitas masyarakat yang membuang air limbahnya ke sungai yang menyumbang beban pencemaran sungai. Tingginya konsentrasi BOD dan COD kemungkinan juga disebabkan proses self purifikasi berlangsung tidak optimal.