Anda di halaman 1dari 39

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Guna mengangkat fluida formasi dari suatu reservoir sampai ke permukaan dibutuhkan suatu sumur produksi. Sumur produksi ini mempunyai fungsi untuk mengalirkan fluida dari reservoir ke dasar sumur, kemudian dialirkan ke permukaan. Proses pengangkatan fluida dari dalam sumur ke permukaan terdiri dari beberapa metode, antara lain sumur sembur alam dan ada yang di bantu dengan pengangkatan buatan yang sering disebut sumur sembur buatan (artificial lift). Sumur sembur alam (natural flow) adalah sumur yang mengangkat fluida reservoir dari dasar sumur ke permukaan dengan kemampuan alamiah tekanan formasi. Apabila tekanan formasi sudah mulai mengecil sehingga tidak dapat untuk mengangkat fluida ke permukaan, maka baru dilakukan pengangkatan buatan. Salah satu jenis pengangkatan buatan yang bisa dilakukan adalah metode Electric Submersible Pump (ESP). Pertama kali Electric Submersible Pump (ESP) dilakukan di Indonesia oleh Caltex sekitar tahun 1960, kemudian sejak tahun 1969 mulai digunakan oleh perusahaanperusahaan minyak di dunia hingga sekarang. Peralatan pompa listrik submersible terdiri dari Pompa Sentrifugal, Intake, Protector dan motor listrik. Unit ini ditenggelamkan di dalam cairan hidrokarbon pada sumur minyak, di sambungkan dengan coupling dan motornya dihubungkan dengan kabel ke permukaan dengan Switchboard dan Transformer.

ESP biasanya dipakai untuk laju produksi 200 - 2500 STB/hari, walaupun dapat digunakan untuk produksi sampai 95.000 STB/hari. ESP umumnya dipakai di sumursumur miring di daerah lepas pantai. Di daratan hanya dipakai untuk laju produksi di atas 2000 STB/hari karena pompa angguk akan lebih ekonomis untuk sumur dengan laju produksi rendah. BAB II TINJAUAN TEORI

2.1. Sejarah Singkat ESP Pada tahun 1911, seorang kelahiran Rusia bernama Armais Arutunoff

menemukan teknologi motor listrik yang ditenggelamkan di dalam cairan air sebagai penggerak pompa air (centifugal) untuk kepentingan militer setelah peperangan selesai, Arutunoff membuat single stage centrifugal pump yang digerakkan oleh motor listrik untuk kepentingan pertambangan, tidak lama kemudian, dibuat multi stage pump (pompa bertingkat banyak) dimana motor listriknya ikut ditenggelamkan di dalam cairan. Sejak saat itu muncul teknologi pengangkatan buatan untuk memompakan cairan dari dalam sumur ke permukaan dengan pompa centrifugal bertingkat banyak (multi stage) dengan nama REDA Pump. REDA singkatan dari Russian Electro Dynamo of Arutonoff. Setelah lebih dari 90 tahun sejak pertama kali Armais Arutunoff menemukan metode ESP ini, sekarang ESP dipergunakan hampir diseluruh dunia dengan hasil yang sangat memuaskan. Selama kurun waktu tersebut telah banyak berkembang perusahaan-perusahaan yang membuat ESP dan dilakukan upaya-upaya penyempurnaan serta pengembangan baik

dalam hal pemilihan dan penggunaan material, metalurgi, teknologi, daya tahan serta kemampuan produksinya. Semua itu dilakukan dalam usaha untuk mencapai kinerja optimal dari system operasional ESP.

2.2. Pengertian Umum Pompa ESP Electric Submersible Pump adalah pompa yang dibuat atas dasar pompa centrifugal bertingkat (stage) banyak dimana setiap tingkat mempunyai impeller, bagian berputar yang fungsinya memberikan kecepatan terhadap cairan yang dipompakan dan diffuser adalah bagian yang diam berfungsi mengubah tenaga yang berupa kecepatan tinggi menjadi kecepatan rendah tetapi memiliki tenaga tinggi. Pompa ESP secara keseluruhan dari pompa dan motornya ditenggelamkan ke dalam cairan, pompa ini digerakkan dengan motor listrik melalui suatu poros motor (shaft) yang memutar sudusudu impeller pompa. Perputaran sudu-sudu itu menimbulkan gaya sentrifugal yang digunakan untuk mendorong fluida ke permukaan.

2.3. Syarat-syarat Pemilihan Pompa ESP 1. Tekanan formasi rendah 2. Laju produksi antara 200 - 60.000 STB/day 3. Produktivity index masih tinggi 4. Sumur tidak mempunyai problem kepasiran 5. Tersedia peralatan ESP 2.4. Keuntungan dan Kerugian penggunaan pompa ESP 2.4.1. Keuntungan

1. Dapat beroperasi pada kecepatan tinggi. 2. Mampu memompa fluida dalam jumlah besar. 3. Dapat memisahkan gas yang mungkin mengganggu proses pengisapan. 4. Sesuai dipergunakan pada sumur-sumur yang mempunyai PI tinggi. 5. Sesuai dipasang pada sumur-sumur miring karena tidak ada bagian-bagian yang bergerak baik di permukaan maupun di dalam sumur. 6. Panas yang ditimbulkan oleh putaran motor akan mengatasi masalah paraffin dan fluida yang viscositasnya tinggi pada temperatur yang rendah. 7. Biaya peralatan relative kecil jika dibandingkan dengan laju produksi yang diperoleh. 2.4.2. Kerugian 1. Biaya Pertama pemasangan ESP relatif lebih mahal dibanding dengan system artificial lift yang lain 2. Kurang baik pada sumur yang memiliki problem kepasiran 3. Pada sumur produksi dengan reservoir yang tidak kompak dimana akibat dari pemompaan dengan rate dan kecepatan yang tinggi, bisa menyebabkan pasir terlepas dari sedimennya dan masuk ke dalam pompa sehingga pompa mengalami abrasi. 4. Pada sumur yang saturated reservoir (reservoir jenuh) dengan tekanan lapisan di bawah tekanan saturasi maka gas dalam cairan yang dipompakan bisa menurunkan efisiensi pompa dan bisa terjadi gas locking. 5. Menimbulkan emulsi yang diakibatkan dari perputaran impeller pompa yang tinggi. 6. Mempercepat terjadinya water conning. Akibat dari pemompaan dengan rate yang tinggi maka akan memacu terjadinya water conning. terutama pada perforasi yang dekat dengan water oil contact.

2.5. Peralatan di Atas Permukaan 2.5.1 Wellhead Wellhead atau kepala sumur adalah tempat duduk menggantungnya tubing di dalam sumur. Wellhead yang digunakan untuk instalasi ESP tidak sama dengan wellhead untuk sumur sembur alam ataupun sumur yang menggunakan artificial lift lainnya tetapi disesuaikan dengan keperluan. Wellhead dilengkapi dengan tubing hanger khusus yang mempunyai lubang untuk kabel pack off, wellhead juga dilengkapi dengan seal agar gas tidak bocor ke permukaan. 2.5.2. Junction Box Junction box berfungsi sebagai pengaman terhadap bahaya kebakaran dan peledakan. Alat ini dipasang di permukaan di antara kepala sumur dan switchboard untuk alasan keamanan. Junction box di buat tahan terhadap cuaca dengan bahan pelat baja, serta mempunyai kawat grounding. Prosedur letak pemasangan terhadap well head dan switch board juga diatur dalam recomended best practice. 2.5.3. Switchboard / Motor Controller Switchboard adalah panel kontrol kerja di permukaan saat pompa bekerja yang dilengkapi dengan motor controller, overload dan underload protection juga ammeter chart yang berfungsi mencatat arus motor bekerja. Ampere chart ini merupakan bagian yang sangat penting untuk memberikan informasi tentang kejadian pada motor dalam sumur. Fungsi utama dari switchboard adalah:

1. Untuk mengontrol kemungkinan terjadinya downhole problem seperti: overload atau underload current. 2. Auto restart underload pada kondisi intermittent well.

2.5.4. Transformer ESP motor mempunyai kapasitas horse power, ampere dan voltage yang beragam. Tegangan yang dibutuhkan untuk mengoperasikan ESP motor berkisar antara 7.200 13.800 volt. Alasan pemberian tegangan input tinggi adalah untuk mendapatkan ampere yang rendah pada jalur transmisi sehingga tidak diperlukan kabel yang besar, karena selain harganya mahal juga tidak praktis. Tegangan input yang tinggi akan diturunkan dengan menggunakan step-down tranformer sampai dengan tegangan yang dibutuhkan oleh motor.

2.6. Peralatan Bawah Permukaan 2.6.1. Pompa Pompa dipasang menggantung pada tubing dengan menggunakan tubing hanger. Pompa yang dipakai adalah jenis pompa centrifugal multi stage, satu stage terdiri dari satu impeller dan satu diffuser. Impeller terkunci pada sumbu pompa (shaft), sedangkan diffuser dipress pada housing pompa dengan compression sub jumlah stage yang dipasang pada setiap pompa akan berkorelasi langsung dengan kapasitas head (head capacity) dari pompa tersebut. Dalam pemasangan di lapangan dapat menggunakan lebih dari satu pompa yang biasanya disebut tandem. Sedangkan banyaknya pompa yang dipasang akan

bervariasi dua atau tiga tergantung dari head capacity yang dibutuhkan untuk menaikan fluida dari dasar sumur ke permukaan. Untuk mengoptimalkan kerja pompa, pompa diletakkan 300 ft di bawah tinggi cairan. Pompa sangat sensitive terhadap rate fluida yang masuk, jika beban cairan yang masuk ke pompa berkurang maka akan menyebabkan arus listrik menurun, kondisi ini disebut underload dan pompa akan mati. Penyebab underload adalah masuknya gas yang berlebihan sehingga beban pompa menjadi lebih ringan (gas locking). Dan sebaliknya apabila beban pompa menjadi lebih berat dari keadaan awal maka akan menyebabkan arus meningkat (overload). Overload ini biasanya disebabkan oleh naiknya laju produksi atau juga karena scale yang terbawa ke pompa. 2.6.2. Intake (Gas separator) Dipasang di bawah pompa dimana cara menyambung sumbunya memakai coupling. Intake dirancang untuk mengurangi volume gas yang masuk ke dalam pompa gas separator. Hasil yang berupa gas akan dialirkan menuju annulus dan dialirkan ke flow line lewat casing valve, sedangkan cairan akan mengalir ke pompa melalui tubing ke permukaan. Cairan yang telah mengalami proses pemisahan tidak 100% murni cairan tetapi masih mengandung gas tergantung dari kemampuan gas separator tersebut. Bila sumur tidak banyak mengandung gas cukup menggunakan standar intake. Intake merupakan saluran masuknya fluida dari dasar sumur ke pompa menuju ke permukaan. 1. Standar Intake

Digunakan untuk sumur produksi dengan GRL rendah. Jumlah gas yang masuk ke intake harus kecil dari 10 15 % dari total volume fluida. Intake mempunyai lubang untuk tempat masuknya fluida ke pompa, dan di bagian luarnya dipasang selubung (screen) yang berguna untuk menyaring partikel masuk ke intake sebelum masuk ke pompa. 2. Rotary Gas Separator Dapat memisahkan gas sampai 90% dan dipasang untuk sumur sumur dengan GRL tinggi, tidak direkomendasikan untuk sumur sumur yang abrasive. Cara pemisahan gas dari fluida berlansung dimana fluida memasuki gas separator langsung menuju bagian bawah inducer yang berbentuk ulir. Dibagian ini fluida akan mengalami kenaikan tekanan dan mendorong ke atas memasuki sudu pemutar (centrifuge) dan akibat adanya gaya centrifugal maka gas akan memisahkan diri dari cairan. Akibat dari terpisahnya gas, maka cairan akan mempunyai masa jenis yang lebih besar dan akan terlempar ke dinding, sedangkan gas yang lebih ringan akan bergerak ke atas sepanjang sudu pemutar menuju pemisah aliran. 3. Static Gas Separator Static Gas Separator atau sering disebut Reverse Gas Separator, mampu memisahkan gas hingga 20% dari fluidanya. Fluida yang masuk melalui screen akan mengalami proses pencekikan (throting), sehingga fluida tersebut akan mengalami penurunan tekanan. Pada tahap pertama ini sebagian gas yang terlarut dalam cairan akan terlepas dan selanjutnya akan mengalami pembalikan arah aliran ke bawah menuju ke pick up impeller yang ada pada gas separator tersebut. Impeller ini berfungsi sebagai pemutar

dan sekaligus pengangkatan fluida ke atas. Putaran impeller akan menimbulkan proses turbulensi pada fluida dan proses centrifugal, dimana cairan akan terlempar ke luar sedangkan gasnya akan tetap berada di pusaran sekitar sumbu, bersama sama gas dan cairan bergerak ke atas. Cairan diarahkan masuk ke pompa sedangkan gas yang diarahkan keluar menuju annulus melalui lubang yang berada di bagian atas separator. Dengan demikian diharapkan pada saat fluida memasuki stage pompa, fluida mempunyai masa jenis yang relative lebih tinggi dengan kondisi sebelum mengalami pemisahan. 2.6.3. Protector Protector (reda) sering disebut juga dengan seal section (centrilif) atau equalizer. Protector diisi dengan oil yang memiliki nilai tahanan tinggi karena jika nilai tahanan rendah maka akan mengantarkan arus listrik dan akan menyebabkan terhubungannya antara phase dengan ground (body), sehingga akan menyebabkan motor terbakar. Secara prinsip protector mempunyai empat fungsi utama, yaitu: 1. Untuk melindungi tekanan dalam motor dari tekanan di annulus. 2. Menyekat masuknya fluida sumur ke dalam motor. 3. Tempat duduknya thrust bearing yang mempunyai bantalan axial dari jenis marine type untuk meredam gaya axial yang ditimbulkan oleh pompa. 4. Memberikan ruang pada pengembangan dan penyusutan minyak motor sebagai akibat perubahan temperature dari motor pada saat bekerja dan saat dimatikan. 2.6.4. Motor Jenis motor pompa ESP adalah motor listrik dua kutub, tiga fasa yang diisi minyak pelumas khusus yang mempunyai tahanan listrik (elektrik strength). Motor dipasang

paling bawah pada rangkaian dan motor digerakan oleh arus listrik yang dikirim melalui kabel dari permukaan. Motor berfungsi untuk menggerakan pompa dengan mengubah tenaga listrik menjadi tenaga kinetik. Motor dibagi menjadi dua bagian pokok, yaitu: 1. Rotor Rotor adalah gulungan kabel haltist yang berputar. Yang sering dipergunkan adalah motor induksi, dimana rotor dibuat dari besi pejal silindris 1 feet panjangnya yang dipasang di shaft menggunakan key. 2. Stator Stator adalah gulungan kabel halus yang stasioner dan menempel pada badan motor. Stator menginduksi aliran listrik dan mengubah menjadi tenaga putaran pada rotor, dengan berputarnya rotor maka poros (shaft) yang berada di tengahnya akan ikut berputar, sehingga poros yang saling berhubungan akan ikut berputar pula (poros pompa, intake dan protector). 2.6.5. Electric cable Kabel listrik yang digunakan adalah jenis 3 konduktor. Dilihat dari jenisnya ada 2 jenis, yaitu: flat cable dan round cable type. Kabel berfungsi sebagai media penghantar arus listrik dari switchboard sampai motor ESP dalam sumur. 2.6.6. Pressure Sensing Instrument Unit Pressure sensing Instrument Unit atau PSI mempunyai dua komponen utama, yaitu: 1. PSI Down Hole Unit

Dipasang di bawah motor type upper atau center tandem karena alat ini dihubungkan pada sambungan wye dari electric motor yang seolah olah bagian dari motor. 2. PSI Surface Hole Unit Merupakan bagian dari system yang mengontrol kerja down hole unit serta mengambil informasi dari down hole unit.

2.7. Prinsip kerja Electric Submersible Pump (ESP) Berdasarkan prinsip kerja pompa centrifugal dengan sumbu putar tegak lurus. Pompa centrifugal adalah mesin hidroulis dengan jalan memutar cairan melalui Impeller pompa, Impeller akan mendorongnya masuk, sebagai akibat proses centrifugal maka fluida tersebut akan terlempar ke luar dan diterima oleh diffuser, oleh diffuser tenaga kinetic akan diubah menjadi tenaga potensial (tekanan), maka dengan demikian terjadilah proses pengisapan.

4.2.1 Visi Menjadi Entitas Bisnis Yang Unggul, Maju dan Terpandang Dalam Mewujudkan PEP Word Class. 4.2.2 Misi Melakukan usaha di bidang MIGAS yang berwawasan lingungan.

Merupakan entitas bisnis yang dikelola secara profesional, kompetitif dan berdasarkan tata nilai unggulan yang ditetapkan PT. PERTAMINA EP.

Memberikan nilai tambah lebih bagi stake holder.

4.4.1 Tatanan Geologi Kerangka Geologi Cekungan Sumatra Tengah dimulai dengan fase rifting yang memungkinkan untuk sedimentasi suatu lapisan formasi seperti terlihat di gambar tatanan geologi berikut.

Proses sedimentasi batuan tersebut melalui proses trasgresi pada zaman Tersier. Fasa transgresi dimulai dari Oligocene hingga Miocene yang menghasilkan Formasi Kelesa, Lakat, Tualang dan Telisa, sedangkan fasa regresi dimulai dari pertengahan Miocene sampai dengan Pleistosen yang menghasilkan Formasi Nilo dan Kerinci. Lapangan Sago termasuk ke dalam Formasi Lakat dan Formasi Tualang.

4.4.2 Stratigrafi dan Lithologi Formasi lapisan batuan yang ditembus pada proses pengeboran lapangan yang dikelola Unit Bisnis Pertamina EP Lirik dari formasi yang tertua ke yang muda (lapisan bawah ke atas) sebagai berikut. 1. Formasi Lakat Formasi Lakat dibagi menjadi dua, satuan atas dan satuan bawah. Bagian bawah terletak tidak selaras di atas Formasi Kelesa dan terkadang menunjukkan overlaving kuat. Satuan ini terdiri dari batu pasir berbutir halus hingga berbutir kasar, terdapat serpih abu-abu sebagai interbed. Ketebalan maksimum didapatkan di pusat graben

dengan suplai sedimen dari Utara ke Selatan. Bagian atas terdiri dari channel batu pasir dan dataran banjir menipis ke arah Barat. 2. Formasi Tualang Formasi Tualang berumur Miosen Awal. Formasi ini terdiri dari serpih, Glauconit dan Lanau yang diendapkan dari dataran pantai hingga lingkungan marine. Sedimentasi menipis ke arah barat dan tenggara. 3. Formasi Telisa Seperti halnya di daerah lain di Cekungan Sumatra Tengah, formasi Telisa terdiri dari serpih. Di daerah penelitian hampir seluruhnya dicirikan oleh serpih Globigerina dengan bagian top ditandai dengan kemunculan batu Gamping. Top formasi ini terdapat pada kedalaman 220 m di bawah permukaan laut.

4. Formasi Binio Formasi Binio terletak di bawah formasi Korontji, di daerah penelitian formasi Binio dicirikan oleh lempung serpihan. Top formasi Binio diperkirakan sekitar 100 m di bawah permukaan laut.

4.5

Sejarah Produksi Daerah operasi UBEP LIRIK pada Oktober 2009 bertambah seiring dengan penggabungan denghan Pertamina EP Field Lirik. Daerah operasi Lirik berada di bagian selatan dan tengah dari Cekungan Sumatra Tengah dari Cekungan Sumatra Tengah, kira-kira 140 Km arah tenggara Pekanbaru dan 200 Km Barat Laut arah Jambi.

Area ini merupakan bagian dari struktur anticlin yang disebut Lirik Trend dengan panjang dari barat laut sampai tenggara 50 Km dan lebar 10 Km. Sebelum bergabung wilayah operasi UBEP LIRIK hanya meliputi struktur Sago. Lapisan penghasil minyak dari struktur ini adalah lapisan batupasir dari Formasi Tualang dan Formasi Lakat. Kedua Formasi tersebut berumur Miosen Tengah dengan lingkungan pengendapan deltaic. Formasi Lakat lebih bersih lapisan batupasirnya bila dibandingkan dengan Formasi Tualang. Eks Pertamina EP Field Lirik mempunyai wilayah kerja sebagai berikut ; Struktur Molek, Struktur Lirik, Struktur Andan, Struktur South Pulai, Struktur North Pulai, dan struktur Ukui. Lapisan penghasil minyak dari struktur-struktur ini adalah lapisan batupasir dari Formasi Telisa, Formasi Tualang, Formasi Lakat dan Formasi Kelesa yang terbentuk pada waktu miosen tengah dan akhir miosen. Mekanisme pendorongan minyak di reservoir pada umumnya adalah water drive. Untuk memproduksikan minyak digunakan Sucker Rod Pump dan Electric Submersible Pump. Usaha mempertahankan tekanan reservoir, telah dilaksanakan dengan injeksi air pada Struktur Sago, Struktur Lirik, Struktur Ukui, dan Struktur North Pulai.

4.6 Health, Safety and Environment Menjaga harmoni dengan lingkungan hidup dilakukan dengan menerapkan kebijakan Health, Safety and the Enviroment (Kesehatan, Keselamatan dan Lingkungan-HSE) yang konsisten. Sangatlah disadari kegiatan Pertamina EP

khususnya Pertamina UBEP Lirik sangat berisiko tinggi terhadap aspek HSE, serta perkembangan sosial masyarakat di sekitar kegiatan. Resiko tinggi ini timbul karena

digunakannya bahan-bahan yang mudah terbakar, meledak dan beracun. Kesalahan dalam pengendalian operasi dapat menimbulkan insiden, penyakit akibat kerja, pencemaran lingkungan, dan gangguan kelangsungan operasi perusahaan. Itu semua tentu akan menurunkan daya saing dan citra perusahaan. Karena itu penerapan aspek HSE secara sempurna adalah keniscayan bagi perusahaan berkelas dunia. Untuk mencapai HSE Operating Excellence di Pertamina EP khususnya Pertamina UBEP Lirik, perusahaan memiliki perangkat yang disebut Sistem Manajemen HSE (SM HSE). Ini adalah sistem pengelolaan HSE yang terintegrasi dengan kegiatan operasi, agar berjalan aman, andal, efisien dan berwawasan lingkungan. HSE ini merupakan bagian integral dari keseluruhan sistem manajemen perusahaan. Penerapan HSE di seluruh kegiatan operasi Pertamina EP khususnya Pertamina UBEP Lirik dan mitra usaha hanya salah satu dari lima strategi yang diterapkan. Strategi lainnya adalah: pembinaan HSE bagi pekerja, pembudayaan HSE,

pengintegrasian teknologi HSE dengan kegiatan EP dan peningkatan citra Pertamina UBEP Lirik dalam aspek HSE. Oleh sebab itu setiap kegiatan yang berhubungan dengan operasional pemboran, work over& work service maupun produksi di Pertamina UBEP Lirik diwajibkan memakai peralatan pengaman (safety tool) dalam area lokasi, agar tidak terjadi kecelakaan insiden yang tidak disengaja yang dapat menyebabkan luka-luka di tubuh atau bahkan cacat tubuh. Kita menyadari setiap kegiatan operasional sangatlah berbahaya dan mungkin saja terjadi kecelakaan apabila tidak berhati-hati dan cermat, karena kita berkontak langsung dengan alat-alat berat yang berada dilapangan. Dan

bukan tidak mungkin apabila terjadi kecelakaan dilapangan maka kegiatan operasional akan terganggu dan terhambat sehingga akan memakan waktu yang lebih lama. Tentulah sangat merugikan dalam keekonomisannya. Untuk menerapkan sistem ini di Pertamina UBEP Lirik maka terdapat semboyan Tak Ada Kebahagian & Kesejahteraan tanpa Keselamatan & Kesehatan Kerja hari ini. No Tolerance for Accident, Incident and Pollution.

5.1. Pengertian Electric Submersible Pump Electric Submersible Pump adalah sebuah rangkaian pompa yang terdiri dari banyak tingkat (multi stage) dengan motor yang dibenamkan di dalam fluida dan menggunakan aliran listrik dari permukaan. Electric Submersible Pump merupakan artificial lift dengan harga yang cukup mahal dibandingkan dengan pengangkatan buatan lainnya, akan tetapi dapat menghasilkan pengembalian biaya dengan cepat oleh karena kemampuannya untuk menghasilkan laju produksi yang tinggi. Sistem kerja dari Electric Submersible Pump ini adalah dengan mengalirkan energi listrik dari transformer (step down) melalui switchboard. Pada switchboard, semua kinerja dari Electric Submersible Pump (ESP) dan kabel akan dikontrol atau dimonitor. Kemudian energi listrik akan diteruskan dari switchboard ke motor melalaui cable yang diletakkan di sepanjang tubing dari rangkaian ESP. Selanjutnya, melalui motor, energi listrik akan dirubah menjadi energi mekanik yaitu berupa tenaga putar. Putaran akan diteruskan ke protector dan pump melalui shaft yang dihubungkan dengan coupling. Pada saat shaft dari pompa berputar, impeller

akan ikut berputar dan mendorong fluida yang masuk melalui pump intake atau gas separator ke permukaan.

5.2. Peralatan Electric Submersible Pump Unit Electric Submersible Pump mempunyai dua bagian utama , yaitu peralatan di atas permukaan (Surface Hole Equipment ESP) dan peralatan bawah permukaan (Down Hole Equipment ESP). 5.2.1 Peralatan di Atas Permukaan Peralatan di atas permukaan meliputi wellhead, junction box, switchboard, dan transformer. 5.2.1.1 Wellhead (Tubing Head) Wellhead (Tubing Head) dilengkapi dengan tubing hanger khusus yang mempunyai lubang untuk cable pack-off atau penetrator. Cable pack-off ini biasanya tahan sampai tekanan 3000 psi. Tubing Head digunakan untuk menggantungkan tubing string pada casing head. Tubing head mempunyai packing element (karet yang mempunyai lubang-lubang tempat ESP cable). Karena ini menjaga agar fluida tidak ke luar dari casing dan agar tidak terjadi kebocoran (Flowing). Wellhead juga harus dilengkapi dengan seal agar tidak bocor pada lubang untuk kabel dan tulang. Wellhead didesain untuk tahan terhadap tekanan 500 psi sampai 3000 psi.

5.2.1.2 Junction Box Junction box ditempatkan di antara kepala sumur dan switchboard untuk alasan keamanan. Gas dapat mengalir ke atas melalui kabel dan naik ke permukaan menuju switchboard, yang bisa menyebabkan terjadinya kebakaran, karena itu kegunaan dari junction box ini adalah untuk mengeluarkan gas yang naik ke atas tadi. Gas yang ke luar dari sumur akan masuk ke dalam junction box lalu kemudian ke luar melalui sambungan kabel dari switchboard dengan kabel dari ESP motor. Junction box biasanya dipasang 15 feet (minimum) dari kepala sumur serta 35 feet dari switchboard, dan normalnya berada antara 2 sampai 3 feet di atas permukaan tanah. Fungsi dari junction box antara lain: Sebagai ventilasi terhadap adanya gas yang mungkin bermigrasi ke permukaan melalui kabel agar terbuang ke atmosfer. Sebagai terminal penyambungan kabel dari dalam sumur dengan kabel dari swichboard. Namun untuk aplikasi di lapangan ada beberapa sumur yang tidak lagi menggunakan junction box hal ini dikarenakan sudah tidak ada gas yang terproduksi dari reservoir, sehingga junction box tidak perlu dipasang,

5.2.1.3 Switchboard Switchboard adalah panel kontrol kerja di permukaan saat pompa bekerja yang dilengkapi dengan motor controller, overload dan underload protection serta alat pencatat (recording instrument) yang bisa bekerja secara manual ataupun otomatis

apabila terjadi penyimpangan. Switchboard ini dapat digunakan untuk tegangan dari 440 volt sampai 480 volt. Fungsi utama dari switchboard adalah : 1. Untuk mengontrol kemungkinan terjadinya downhole problem seperti: Overload atau Underload Current. 2. Auto restart setelah underload pada kondisi intermittent well. 3. Mendeteksi unbalance voltage. Pada switchboard biasanya dilengkapi dengan ammeter chart yang berfungsi untuk mencatat arus motor versus waktu ketika motor bekerja.

Gambar 5.4 Switchboard 5.2.1.4 Transformer Merupakan alat untuk mengubah tegangan listrik, bisa untuk menaikan atau menurunkan tegangan. Alat ini terdiri dari core (inti) yang dikelilingi oleh coil dari lilitan kawat tembaga. Keduanya, baik core maupun coil direndam dengan minyak trafo sebagai pendingin dan isolasi. Perubahan tegangan akan sebanding dengan jumlah lilitan kawatnya. Biasanya tegangan input transformer diberikan tinggi agar didapat ampere yang rendah pada jalur transmisi, sehingga tidak dibutuhkan kabel (penghantar) yang besar. Tegangan input yang tinggi akan diturunkan dengan menggunakan step-down tranformer sampai dengan tegangan yang dibutuhkan oleh motor.

Gambar 5.5 Transformer 5.2.2 Peralatan di Bawah Permukaan Peralatan di bawah permukaan meliputi Motor Listrik, Protektor, Gas separator, Pump intake, Pompa, Electric Cable, Check Valve, Bleeder Valve dan Centralizer. 5.2.2.1 Motor listrik Setiap system pemompaan memerlukan tenaga penggerak. Pada kasus pompa ESP tenaga penggeraknya adalah Electrick Motor. Motor ini adalah jenis motor tiga phase, dua katub dengan system induksi sangkar bajing (squirrel cage induction), dan ukurannya bervariasi dari 10 HP sampai dengan 1000 HP dengan frekuensi 60 HZ sedangkan kebutuhan Voltage-nya bervariasi dari 420 Volts sampai dengan 4200 Volts pada frekuensi 60 HZ, atau 350 Volts sampai dengan 3500 Volts pada frekuensi 50 HZ. OD motor juga bervariasi dari 3 sampai dengan 7 . Biasanya motor dibuat single

section yang panjangnya bisa sampai 35 ft, atau dipasang tandem (lebih dari satu ujkuran motor) yang total panjangnya bisa sampai 100 ft atau lebih. Pada saat pengoperasiannya motor diisi dengan minyak yang berfungsi: 1. Sebagai pelumas 2. Sebagai tahanan (isolasi) 3. Sebagai media penghantar panas motor yang ditimbulkan oleh perputaran rotor ketika motor tersebut sedang bekerja. Jadi minyak tersebut harus mempunyai spesifikasi tertentu yang biasanya sudah ditentukan oleh pabrik, yaitu berwarna jernih, tidak mengandung bahan kimia, dielectric strength tinggi, lubricant dan tahan panas. Minyak yang diisikan akan mengisi semua celah-celah yang ada dalam motor, yaitu antara rotor dan stator. Motor berfungsi sebagai tenaga penggerak pompa (prime mover), yang mempunyai 2 (dua) bagian pokok yaitu Rotor (gulungan kabel halus) bagian yang berputar dan Stator (gulungan kabel halus yang stasioner dan menempel pada badan motor) merupakan bagian yang tidak berputar. Stator Pada motor, stator terbuat dari lapisan besi dan kuningan yang ditekan ke bagian bawah, lapisan ini digunakan karena lebih mudah dimagnetisasi dibandingkan dengan besi pejal. Lapisan ini mengandung (3-4) % silicon untuk menambah sifat magnet dari besi dan dapat juga lapisan oksida yang berfungsi untuk memisahkan dengan lapisan kuningan. Lapisan kuningan digunakan pada bagian yang terdapat bantalan untuk memegang rotor. Pada stator terdapat 16 slot dan setiap slot diisolasi dengan teflon yang mempunyai sifat dielectric yang tinggi, stator kemudian dililit dengan lapisan

kapton dan kawat tembaga yang kemudian dilapisi dengan vernish untuk menutupi daerah kosong yang terdapat pada slot Rotor Rotor yang digunakan sangat panjang sehingga membutuhkan penahan pada beberapa tempat, untuk itu rotor, harus dibagi berapa bagian dengan penahan diantara rotor dan stator. Penahan dilengkapi dengan bantalan sehingga memungkinkan rotor dan poros bergerak bebas, bantalan itu terletak pada bagian rotor sedangkan lilitan pada bagian stator tidak terputus sehingga perlu membuat daerah yang tidak terdapat medan magnet sebagai tempat bantalan, untuk itu digunakan lapisan stator yang nonmagnet (kuningan) disekitar daerah bantalan pada statator. Banyak rotor yang terdapat pada motor merupakan besarnya daya yang dikeluarkan motor. Seri motor listrik yang dipakai dan besarnya horse power per rotor . Stator menginduksi aliran listrik dan mengubah menjadi tenaga putaran pada rotor, dengan berputarnya rotor maka poros (shaft) yang berada di tengahnya akan ikut berputar, sehingga poros yang saling berhubungan akan ikut berputar pula (poros pompa, intake, dan protector).

Gambar 5.6 Motor Listrik 5.2.2.2 Protector Protector ini dipasang di atas motor atau di bawah pompa. Secara prinsip Protektor memiliki fungsi utama sebagai pelindung motor listrik dengan cara sebagai berikut: 1. Memberikan ruangan untuk pengembangan dan penyusutan minyak motor sebagai akibat adanya perubahan temperatur dari motor pada saat berkerja dan pada saat motor dimatikan. 2. Menyekat fluida agar tidak masuk ke dalam motor. 3. Tempat duduknya thrust bearing (yang mempunyai bantalan axial dari jenis marine type) untuk meredam gaya axial yang ditimbulkan oleh pompa. 4. Memberikan keseimbangan tekanan dalam motor dengan tekanan luar, yaitu tekanan fluida sumur pada kedalaman tertentu. Selain fungsi di atas, Protector mempunyai tugas pokok lainnya, yaitu menyeimbangkan tekanan dalam motor dengan tekanan dalam annulus, yang mengakomodasi pengembangan fluida (liquid) motor karena naiknya temperatur, serta menyambungkan motor dengan intake pompa.

Gambar 5.7 Protector Ada dua jenis Protector, yaitu : 1. Labyrinth Path Protector ini mempunyai dua ruang (atas dan bawah) yang dihubungkan dengan beberapa pipa. Cara kerja dari jenis ini didasarkan pada perbedaan jenis fluida sumur dengan fluida motor. Setelah protector dipasang diantara motor dan intake, protector harus terisi minyak motor sebelum dimasukkan ke dalam sumur. Ketika unit pompa dimasukkan ke dalam sumur, maka fluida motor dan protector akan ke luar menuju annulus melalui lubang di dasar intake dan setelah motor dijalankan, maka temperatur motor dan protector akan meningkat sehingga akan mengakibatkan fluida motor berekspansi dan semakin banyak fluida yang keluar dari protector ke sumur. 2. Positive Seal (Bag Type Protector) Design protector type labyrinth tidak menggunakan positive seal sehingga motor pada protector dan fluida sumur dapat bercampur dalam ruangan bagian atas dari protector pada operasi normal, dengan ini maka dapat menggunakan positive seal sehingga dapat mencegah bercampurnya fluida motor dengan fluida sumur. Pada saat protector dan motor dimasukkan ke dalam s umur maka temperatur akan naik dan oli akan mengembang dan mengalir dari motor melewati bantalan luncur menuju tabung dan naik disepanjang poros, dan mendesak bagian dalam tubing elastis dan mengisinya. Oli yang berlebihan akan ke luar melalui relief valve yang terletak di atas protector, relief valve ini diatur dan bekerja pada tekanan 3 sampai 5 psi.

Dalam beberapa hal, kemungkinan untuk memasang protector lebih dari satu di dalam sumur atau sering disebut dengan Tandem Protector. Hal ini dimaksudkan untuk mencoba menambah panjang umur dari unit motor. 5.2.2.3 Gas separator dan Pump intake Pada sumur-sumur yang tidak banyak mengandung gas, cukup menggunakan pump intake saja. Tetapi pada sumur-sumur dengan GOR tinggi, gas separator dapat disambungkan pada pompa guna memberikan efisiensi pompa. Gas separator memiliki beberapa fungsi antara lain: Mencegah menurunnya head capacity yang dihasilkan pompa. Mencegah terjadinya fluktuasi beban pada motor. Mengurangi adanya surging pressure. Alat ini merupakan bagian dari pompa yang berfungsi sebagai masuknya fluida ke dalam pompa sebagai pemisah gas dengan fluida. Gas yang terproduksi bersama dengan fluida akan berpengaruh buruk terhadap pompa, yang dapat berakibat matinya pompa. Beberapa sumur memperoduksikan gas yang cukup besar juga dapat menyebabkan pompa berputar sendiri, yang akhirnya akan menyebabkan

berkurangnya efesiensi pompa. Volume gas bebas dapat dikurangi dengan penurunan PSD (Pump Setting Depth) untuk menambah tekanan di intake atau dengan memasang Gas Separator. 1. Standard intake Unit ini dipasang sebagai screen dan port tempat masuknya fluida ke dalam pompa. Standard intake tidak memisahakan gas dan cairan. 2. Reverse Flow Gas Separator

Seperator ini berkerja dengan mengaduk fluida secara terbalik, dengan demikian jumlah gas yang terangkat ke permukaan akan lebih banyak dari pada fluida yang terhisap ke bawah dengan kecepatan tertentu. Prinsip kerja reverse flow gas seperator ini adalah : Fluida masuk dari screen ke bawah Cairan akan menggalami pembalikan arah lalu diangkat ke pompa oleh pick up impeller sehingga gas akan naik ke atas karena perbedaan Specific gravity. Efektifitas pemisahan gas 20 % dari total gas dalam fluida. 3. Rotary Gas Separator Rotary Gas Separator berkerja berdasarkan prinsip centrifugal tidak seperti Reverse Flow Seperator yang berkerja dengan prinsip gravitasi dan dalam usaha memisahkan gas lebih efektif.
Head Bushing Guide Tube Shaft/Sumbu Fluid Tube Pick up Impeller Stand Tube Intake Housing/ sreen Base Coupling

Gambar 5.8 Gas Separator dan Pump Intake

5.2.2.4 Pompa Setiap pompa terdiri dari beberapa tingkat (multistage) dimana masing-masing terdiri dari impeller dan diffuser. Impeller yang dikunci dengan shaft yang merupakan bagian yang berputar yang berfungsi untuk memindahkan fluida dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya, sedangkan diffuser adalah bagian yang diam dan berfungsi untuk mengarahkan fluida ke stage berikutnya. Semakin banyak stage yan g dipasangkan, maka semakin besar kemampuan pompa untuk dapat mengangkat fluida ke permukaan. Stage sendiri merupakan jumlah tingkat yang tersedia pada unit pompa.

Pompa

Gambar 5.9 Pompa

Unit Pump terdiri dari beberapa bagian yaitu : Impeller Impeller merupakan komponen dari pompa yang berputar bersama-sama dengan poros yang dikunci dengan spine memanjang sepanjang poros, yang berfungsi untuk memberikan gaya centrifugal sehingga fluida bergerak menjauhi poros yang berputar, sehingga fluida akan naik dari dalam sumur ke permukaan.

Gambar 5.10 Impeller

Diffuser Diffuser merupakan bagian dari pompa yang dijepit pada housing dan dijaga agar tidak bergerak, di dalam diffuser terdapat sudu-sudu pengarah aliran fluida dari stage

yang lebih rendah ke stage yang lebih tinggi. Adapun fungsi diffuser adalah membalikan arah fluida dan mengarahkan kembali ke poros dan kebagian tengah dari Impeller di atasnya. Selain hal tersebut di atas, Impeller juga digunakan untuk mengubah energi putaran (Shaft torque) ke energi kinetik (velocity), sedangkan diffuser kegunaanya adalah untuk mengubah energi kinetik menjadi energi pontensial (tekanan). Diffuser dan impeller umumnya dibuat dari material jenis Ni-Resist yang merupakan jenis dari logam lain sesuai dengan kebutuhan aplikasinya. Dalam pemasangan di lapangan bisa menggunakan lebih dari satu pompa, bisa dua atau tiga, pemasangan ini disebut tandem. Alasan pemasangan tandem adalah untuk memenuhi jumlah stages pompa dan untuk mendapatkan kapasitas head yang dibutuhkan untuk menaikan fluida sumur ke permukaan. Besarnya operating vane pada impeller sangat menentukaan kapasitas rata rata fluida yang diproduksinya. Unit pompa Electric Submersible Pump terbagi dalam 2 (dua) tipe, yaitu Floater Type (bergerak babas trhadap shaft) dan compression Type (terkunci pada shaft). Pada tipe floater, impeller bergerak bebas ke atas dan ke bawah tidak tergantung pada pergerakan shaft. Di dalam operasi masing-masing impeller bebas bergerak tidak tergantung satu sama lain, dimana idealnya adalah mengambang antara kondisi upthrust dan down-thrust. Pada setiap impeller dipasang kondisi up-thrust washer dan down-thrust washer yang berfungsi mencegah terjadinya kerusakan dini bila terjadi beberapa atau seluruh impeller beroperasi di luar daerah yang direkomendasikan. Berat dari pada shaft digantung oleh thrust bearing dari pada protector. Kapasitas dari pada thrust bearing protector juga menentukan jumlah stages yang dapat dipasang pada

pompa di atasnya karena Head-feet (dalam Psi) yang dihasilkan pompa dikali luas penampang shaft adalah gaya tekan yang harus ditahan oleh thrust bearing pada protector.

Gambar 5.11 Diffuser Pada tipe pompa compression ini, semua impeller terkunci pada shaft dan tidak diizinkan untuk bergerak bebas ke atas atau ke bawah. Berat dari shaft impeller dan kemudian di dalam operasi bertambah dengan gaya tekanan ke bawah ditanggung oleh thrust bearing protector. Maka dari itu, sangatlah penting untuk mengisi gap yang terdapat diantara shaft pompa (intake) dengan shaft protector dengan shim, agar seluruh thrust dari pompa dibebankan kepada thrust bearing pada protector dan dalam

beberapa kedalaman juga untuk mengangkat impeller agar tidak bergesekan dengan diffuser di bawah.

5.2.2.5 Electric Cable Arus listrik dibutuhkan untuk menghidupkan motor di dalam sumur. Untuk itu dibutuhkan kabel yang mampu menahan temperatur tinggi, tekanan dan kedap air untuk mensupplai arus maksimum ke motor dengan kerugian tegangan yang minimum. Di beberapa sumur tertentu bahkan dibutuhkan kabel yang mampu bertahan terhadap serangan korosi (karat) dan tekanan gas yang tinggi. Bagian dari kabel biasanya terdiri dari: 1. Konduktor (Conductor) 2. Isolasi (Insulation) 3. Sarung (sheath) 4. Jaket 5. Armour Ada dua jenis kabel yang biasa dipakai yaitu: Round Cable dan Flat Cable. Round Cable adalah kabel berpenampang bulat yang dipasang di sepanjang rangkaian tubing sampai ke transformer. Pada jenis round cable dibagian luar sarungnya dibungkus lagi dengan karet (rubber jacket). Biasanya kabel jenis round ini memiliki ketahanan yang lebih lama dari pada jenis flat cable, tetapi memerlukan ruang penempatan yang lebih besar. Sedangkan Flat Cable adalah kabel berpenampang pipih yang dipasang di sepanjang unit pompa mulai dari motor listrik sampai ke unit pompa.

Secara umum ada dua jenis cable yang biasa dipakai dilapangan, yaitu: 1. Low Temperature Disarankan untuk pemasangan pada sumur-sumur dengan maximum 2000F. 2. Hight Temperature Disarankan untuk pemasangan pada sumur-sumur dengan temperatur yang cukup tinggi sampai mencapai 4000F. Round Cable Flat Cable

Gambar 5.12 Flat Cble dan Round Cable 5.2.2.6 Check Valve Check valve dipasang di atas pompa yang disambung dengan nipple joint. Bertujuan untuk menjaga fluida tetap berada di atas pompa. Jika check valve tidak

dipasang maka kebocoran fluida dari tubing (kehilangan fluida) akan melalui pompa yang dapat menyebabkan aliran balik dari fluida yang naik ke atas, sebab aliran balik (back flow) tersebut membuat putaran impeller berbalik arah, dan dapat menyebabkan motor terbakar atau rusak. Jadi umumnya check valve digunakan agar tubing tetap terisi penuh dengan fluida sewaktu pompa mati dan mencegah supaya fluida tidak turun ke bawah. 5.2.2.7 Bleeder Valve Bleeder valve dipasang satu joint di atas check valve, mempunyai tujuan untuk mengosongkan kolom cairan di dalam tubing agar pada saat pencabutan pompa tubing dalam keadaan kosong. Sehingga crew tidak terkena tumpahan minyak dari tubing yang dicabut dari dalam sumur.

Bleeder Valve Check Valve

Gambar 5.13 Bleeder Valve dan Check Valve 5.2.2.8 Centralizer Centralizer berfungsi untuk menjaga kedudukan unit pompa agar tidak bergeser atau selalu di tengah-tengah pada saat pompa beroperasi, sehingga kerusakan kabel karena gesekan dapat dikurangi/dicegah.

Centralizer

Gambar 5.14 Centralizer

5.3

Prinsip Kerja Electric Submersible Pump Prinsip kerja Electric submersible pump adalah berdasarkan pada prinsip kerja pompa centrifugal dengan sumbu putarnya tegak lurus. Pompa centrifugal adalah motor hidrolik dengan jalan memutar cairan yang melalui impeller pompa lalu cairan akan masuk ke dalam impeller pompa menuju poros pompa, dikumpulkan oleh diffuser kemudian akan dilempar ke luar, oleh impeller tenaga mekanis motor dirubah menjadi tenaga hidrolik. Impeller terdiri dari dua piringan yang di dalamnya terdapat sudu-sudu, pada saat impeller diputar dengan kecepatan sudut , cairan dalam impeller dilemparkan ke luar dengan tenaga potensial dan kinetik tertentu. Cairan yang ditampung dalam rumah pompa kemudian dievaluasikan melalui diffuser, sebagian tenaga kinetik dirubah menjadi tenaga potensial berupa tekanan. Karena cairan dilempar ke luar maka terjadi proses penghisapan dan pendorongan.

BAB VI KESIMPULAN

Dari hasil kerja praktek yang telah dilakukan di Unit Bisnis Pertamina EP Lirik didapatkan beberapa kesimpulan antara lain yaitu: 1. Jumlah pompa ESP yang digunakan oleh PT PERTAMINA UBEP Lirik pada Distrik 1 yang meliputi Struktur Molek menggunakan 6 pompa ESP, Struktur Sago menggunakan 40 pompa ESP, Struktur Lirik menggunakan 5 pompa ESP dan Distrik 2 yang meliputi Struktur Andan & Ukui menggunakan 3 pompa ESP, Struktur South Pulai menggunakan 1 pompa ESP, North Pulai menggunakan 14 pompa ESP. 2. Biaya peralatan ESP relative kecil jika dibandingkan dengan laju produksi yang diperoleh, ESP juga dapat memisahkan gas yang dapat mengganggu proses pengisapan, Sesuai dipasang pada sumur-sumur miring karena tidak ada bagianbagian yang bergerak baik di permukaan maupun di dalam sumur, Panas yang ditimbulkan oleh putaran motor akan mengatasi masalah parafin dan fluida yang viscositasnya tinggi pada temperatur yang rendah, ESP banyak digunakan terutama pada sumur-sumur produksi lepas pantai (offshore) karena ESP merupakan metode produksi yang cukup efisien dan efektif untuk sumur miring, sumur yang memiliki Indek Produktivitas (PI) yang tinggi, serta sumur-sumur dalam. 3. Sistem kerja dari ESP ini adalah dengan mengalirkan energi listrik dari transformer (step down) melalui switchboard. Pada switchboard, semua kinerja dari ESP dan kabel akan dikontrol atau dimonitor, kemudian energi listrik akan diteruskan dari switchboard ke motor melalaui cable yang diletakkan di sepanjang tubing dari rangkaian ESP

selanjutnya, melalui motor energi listrik akan dirubah menjadi energi mekanik yaitu berupa tenaga putar. Putaran akan diteruskan ke protector dan pump melalui shaft yang dihubungkan dengan coupling. Pada saat shaft dari pompa berputar, impeller akan ikut berputar dan mendorong fluida yang masuk melalui pump intake atau gas separator ke permukaan. Fluida yang didorong akan memasuki tubing dan terus menuju ke permukaan sampai ke manifold. 4. Unit ESP terdiri dari dua bagian utama, yaitu: a) Surface Equipment terdiri dari Transformer, Switchboard, Junction Box dan Well Head. b) Sub Surface Equipment terdiri dari Motor Listrik, Protektor, Gas separator, Pump intake, Pompa, Electric Cable, Check Valve, Bleeder Valve dan Centralizer.

DAFTAR PUSTAKA

File-file Operasi Produksi Unit Bisnis Pertamina Lirik. Widyarso, Agus. ESP Design.ppt www.pertamina-ep.com Hughes, Baker. Electrospeed Intyergrated Control System. 2002. Rubiandini, Rudi. Dr.Ing.Ir,Production Operation, Artificial Lift. 2002. Herrawan, Heru, ST, Artificial Lift, Modul Kuliah P4, Akamigas balongan Indramayu. 2005. Imam W Sujanmo, : Basic ESP Training Hand Out, schlumberger, Reda

ProductionSystem,2001.