Anda di halaman 1dari 29

DAFTAR ISI

1. DAFTAR ISI1 2. BAB I PENDAHULUAN2 3. BAB II EMBRIOLOGI, ANATOMI DAN FISIOLOGI.3 4. BAB III PALATOSCHIZIS.7 5. BAB IV KASUS.20 6. BAB V ANALISIS.27 7. DAFTAR PUSTAKA.29

BAB I PENDAHULUAN

Palatoskisis primer dan sekunder merupakan kelainan congenital yang sering terjadi. Secara klinis, terdapat berbagai variasi pada derajat pembentukan celah. Derajat yang terlihat paling ringan termasuk kelainan seperti uvula bifida indentasi bibir linier, yang disebut celah intrauterine yang menyembuh, dan celah submukosa dari palatum mole. Celah dapat hanya meliputi batas vermilion bibir atas atau dapat meluas melibatkan cuping hidung dan palatum durum dan mole. Palatoskisis terlokalisir mengkin terdapat pada uvula (uvula bifida), atau dapat lebih luas, membelah palatum mole atau kedua palatum baik palatum mole dan palatum durum. Dari semua celah maksiofasial, gabungan labiokisis dan palatoskisis terdiri dari sekitar 50% kasus, dengan labiokisis terlokalisir dan palatokisis terlokalisir masing-masing dilaporkan sekitar 25%,terlepas dari ras. Perkembangan dari palatoskisis terlokalisir tampaknya agak terpisah dari labioskisis dengan atau tanpa palatoskisis. Anak dengan palatoskisis terlokalisir biasanya (sekitar 30%)disertai dengan kelainan kongenital. Labiokisis-palatoskisis lebih sering terjadi pada laki-laki. Risiko terjadinya labioskisis dengan atau tanpa palatoskisis,jika kedua orang tua normal adalah 3-4% sedangkan untuk palatoskisis sekitar 2%. Celah uvula tampaknya merupakan bentuk yang tidak sempurna dari palatoskisis. Insidens celah uvula sekitar 1/80 orang kulit putih. Frekuensi celah uvula diantara berbagai kelompok orang Indian-Amerika cukup tinggi,berkisar 1/9 sampai 1/14 orang. Pada orang kulit hitam terhitung jarang (1/300 kelahiran).(1) Labioskisis atau palatoskisis dapat berhasil diobati dengan pembedahan, terutama jika dilakukan segera setelah lahir atau pada anak usia dini.(3)

BAB II EMBRIOLOGI ANATOMI DAN FISIOLOGI

EMBIOLOGI(1) Rongga mulut, faring,dan esofagus berasal dari foregut embrionik. Foregut juga berkembang menjadi rongga mulut, hidung, gigi, kelenjar liur, hipofise anterior, tiroid dan laring, trakea, bronkus, dan alveoli paru. Mulut terbentuk dari stomodeum primitif yang merupakan gabungan ektodermal dan endodermal, yang membelah. Bibir bagian atas dibentuk oleh bagian prosesus nasalis medial dan lateral dari prosesus nasalis media, yang membentuk premaksila. Bibir bagian bawah berembang dari bagian prosesus mandibula. Otot bibir berasal dari daerah brankial kedua dan dipersarafi oleh saraf fasialis. Batas vermilion biir tampak seperti busur, takik pada busur ini merupakan cacat kosmetik yang sangat nyata. Gigi berasal dari lamina dentalis, yang berkembang menjadi sementum dan enamel dari gigi tetap. Perkembangan gigi manusia dari gigi susu sampai pertumbuhan gigi molar ketiga dewasa berhubungan dengan usia penderita, dan grafik dapat mengikuti pertumbuhan gigi yang normal. Terdapat beberapa macam kista dan tumor jinak maupun ganas berasal dari sisa lamina dentalis. Gigi dipersarafi oleh cabang dari saraf trigeminus cabang maksilaris dan mandibularis. Pada rahang atas, ada beberapa variasi dan tumpang tindih pada daerah yang dipersarafi oleh cabang saraf maksilaris. Palatum dibentuk oleh dua bagian:premaksila yang berisi gigi seri dan berasal dari prosesus nasalis media, dan palatum posterior baik palatum durum dan palatum mole, dibentuk oleh gabungan dari prosesus palatum. Oleh karena itu, celah palatum terdapat di garis tengah belakang tetapi dapat tejadi kearah premaksila depan. Pada tahap pertama,lempeng palatum terdapat di lateral lidah dan jika lidah tidak turun maka lempeng palatum tidak dapat menyatu. Hal ini merupakan dasar di mana celah palatum berhubungan dengan mikrognasia dari sindrom Pierre Robin.

Lidah dibentuk dari beberapa tonjolan epitel di dasar mulut. Lidah bagian depan terutama berasal dari daerah brankial pertama dan dipersarafi oleh saraf lingualis, dengan cabang korda timpani dari saraf fasialis yang mempersarafi cita rasa dan sekresi kelenjar submandibula. Saraf glosofaringeus mempersarafi saraf rasa dari sepertiga lidah bagian belakang. Otot lidah berasal dari miotom posbrankial yang bermigrasi ke depan, bersama saraf hipoglosus. Migrasi saraf hipoglosus diduga mempunyai hubungan dengan fistula brankial. Tiroid berkembang dari foramen sekum yang terdapat di lidah bagian belakang dan bermigrasi sepanjang duktus tiroglosus ke leher. Jika migrasi ini tidak terjadi,mengakibatkan tiroid lingualis. Sisa dari duktus tiroglosus dapat menetap, dan letaknya di belakang korpus tulang hioid. Kelenjar liur tumbuh sebagai kantong epitel mulut dan terletak dekat sebelah depan sarafsaraf penting. Duktus submandibularis dilalui oleh saraf lingualis. Saraf fasialis melekat pada kelenjar parotis. ANATOMI Rongga mulut dan faring dibagi menjadi beberapa bagian. Rongga mulut terletak di depan batas bebas palatum mole, arkus faringeus anterior dan dasar lidah. Nasofaring meluas dari dasar tengkorak sampai batas palatum mole. Orofaring meluas dari batas epiglotis, sedangkan di bawah garis batas ini adalah laringofaring atau hipofaring. Rongga Mulut Bibir dan pipi terutama disusun oleh sebagian besar otot orbikularis oris yang dipersarafi oleh sarah fasialis. Vermilion berwarna merah karena ditutupi oleh lapisan tipis epitel skuamosa. Ruangan di antara mukosa pipi bagian dalam dan gigi adalah vestibulum oris. Muara duktus kelenjar parotis menghadap gigi molar kedua atas. Gigi ditunjang oleh kista alveolar mandibula dibagian bawah dan kista alveolar maksila di bagian atas. Gigi pada bayi terdiri dari dua gigi seri, satu gigi taring dan dua gigi geraham. Gigi dewasa terdiri dari dua gigi seri dan satu gigi taring, dua gigi premolar dan tiga gigi molar. Permukaan oklusal dari gigi seri berbentuk menyerupai pahat dan gigi taring tajam,sedangkan gigi premolar dan molar mempunyai permukaan oklusal yang datar.Daerah di antara gigi molar paling belakang atas dan bawah dikenal dengan trigonum retromolar.

Palatum dibentuk oleh tulang dari palatum durum dibagian depan dan sebagian besar dari otot palatum mole dibagian belakang. Palatum mole dapat diangkat untuk faring bagian nasal dari rongga mulut dan orofaring. Ketidakmampuan palatum mole menutup akan mengakibatkan bicara yang abnormal(rinolalia aperta) dan kesulitan menelan. Dasar mulut diantara lidah dan gigi terdapat kelenjar sublingal dan bagian dari kelenjar submandibula. Muara duktus mandibularis terletak di depan ditepi frenulum lidah. Kegagalan kelenjar liur untuk mengeluarkan liur menyebabkan mulut menjadi kering,atau xerostomia. Hal ini merupakan keluhan yang menyulitkan pada beberapa pasien. Lidah merupakan organ muscular yang aktif. Dua pertiga bagian depan dapat digerakkan,s edangkan pangkalnya terfiksasi .Otot dari lidah dipersarafi oleh saraf hipoglosus. Perasaan dua pertiga lidah bagian depan dipersarafi oleh saraf lingualis dan saraf glosofaringeus pada sepertiga lidah bagian belakang. Korda timpani mempersarafi cita rasa lidah dua pertiga bagian depan, sedangkan saraf glosofaringeus mempersarafi cita rasa lidah sepertiga bagian belakang. Cita rasa dibagi dalam daerah-daerah tertentu. Misalnya, rasa pahit dapat dirasakan pada lidah bagian belakang. Permukaan lidah bagian atas dibagi menjadi dua pertiga depan dan sepertiga bagian belakang oleh garis dari papilla sirkumvalata yang berberntuk huruf V. Foramen sekum yang terdapat di puncak dari huruf V merupakan tempat asal duktus tiroglosus. Fungsi lidah untuk berbicara dan menggerakan bolus makanan pada waktu pengunyahan dan penelan. Faring Di belakang mukosa dinding belakang faring terdapat dasar tulang sfenoid dan dasar tulang oksiput disebelah atas, kemudian bagian depan tulang atlas dan sumbu badan, dan vertebra servikalis lain. Nasofaring membuka kearah depan ke hidung melalui koana posterior. Superior, adenoid terletak pada mukosa atap nasofaring. Di samping, muara tuba eustakius kartilaginosa terdapat di depan lekukan yang disebut fosa Rosenmuller. Kedua struktur ini berada di atas batas bebas otot konstriktor faringis superior. Otot tensor veli palatini, merupakan otot yang menegangkan palatum dan membuka tuba eustakius, masuk ke faring melalui ruangan ini. Otot ini membentuk tendon yang melekat sekitar hamulus tulang untuk memasuki palatum mole. Otot tensor veli palatini dipersarafi oleh saraf mandibularis melalui ganglion otic.

Orofaring ke arah depan berhubungan dengan rongga mulut. Tonsila faringeal dalam kapsulnya terletak pada mukosa pada dinding lateral rongga mulut. Di depan tonsila,arkus faring anterior disusun oleh otot palatoglosus, dan di belakang dari arkus faring posterior disusun oleh otot palatofaringeus. Otot-otot ini membantu menutupnya orofaring pada bagian posterior. Semuanya dipersarafi oleh plekus faringeus. Hipofaring terbuka ke arah kearah depan masuk ke introitus laring. Epiglotis dilekatkan pada dasar lidah oleh dua frenulum lateral dan satu frenulum di garis tengah. Hal ini menyebabkan terbentuknya dua valekula di setiap sisi. Di bawah valekula adalah permukaan laringeal dari epiglotis. Di bawah muara glotis bagian medial dan lateral terdapat ruangan yang disebut sinus piriformis yaitu di antara lipatan ariepiglotika dan kartilago tiroid. Lebih ke bawah lagi terdapat otot-otot dari lamina krikoid, dan di bawahnya terdapat muara esofagus. Esofagus bagian servikal terletak kurang lebih pada garis tengah leher di belakang trakea dan di depan korpus vertebra. Saraf laringeus rekurens terdapat pada alur diantara esophagus dan trakea. Arteri karotis komunis dan isi dari selubung karotis terletak dilateral esophagus. Pada lapisan otot faring terdapat daerah trigonum yang lemah di atas otot krikofaringeus yang berkembang dari krikoid dan mengelilingi esophagus bagian atas. Divertikulum yang disebut divertikulum Zenker dapat keluar melalui daerah yang lemah ini dan berlawanan dengan penelanan. Faring merupakan daerah di mana udara melaluinya dari hidung ke laring juga dilalui oleh makanan dari rongga mulut ke esophagus. Oleh karena itu, kegagalan dari otot-otot faringeal, terutama yang menyusun ketiga otot konstriktor faringis, akan menyebabkan kesulitan dalam menelan dan biasanya juga terjadi aspirasi air liur dan makanan ke dalam cabang trakeobronkial. Aliran Darah,Persarafan,dan Aliran Limfatik Aliran darah faring berasal dari beberapa cabang system karotis eksterna. Beberapa anastomosis tidak hanya dari satu sisi tetapi dari pembuluh darah sisi lainnya. Ujung cabang arteri maksilaris interna, cabang tonsilar arteri fasialis, cabang lingual arteri lingualis bagian dorsal, cabang arteri tiroidea superior, dan arteri faringeal yang naik semuanya menambah jaringan anastomosis yang luas. Persarafan motorik sudah dibicarakan. Persarafan sensorik nasofaring dan orofaring, seperti dasar lidah, terutama melalui pleksus faringeal dari saraf 6

glosofaringeal. Pada bagian bawah faring,terdapat persarafan tantai retrofaringeal dan faringeal lateral dengan jalan selanjutnya masuk nodus servikalis profunda. Keganasan nasofaring seringkali bermetastase ke rantai servikalis profunda. FISIOLOGI FARING Fungsi faring terutama untuk pernapasan, menelan, resonansi suara dan artikulasi.

BAB III PALATOSCHIZIS

DEFINISI(3) Cheiloschizis dan palatoschizis yang dapat terjadi secara bersamaan, adalah variasi dari jenis cacat bawaan disebabkan oleh perkembangan abnormal wajah selama kehamilan. Sebuah sumbing adalah retakan atau celah. Ini terjadi karena kegagalan menyatu dari struktur tubuh yang terbentuk sebelum kelahiran. EPIDEMIOLOGI Sekitar 1 dari 700 anak yang lahir memiliki bibir sumbing dan/atau sumbing palatum. Insiden palatoskisis terlokalisir diantara orang kulit putih dan orang kulit hitam tampak sekitar 1/2000 dan 1/2500 kelahiran, dan mungkin agak lebih sering terjadi pada orang Asia. Palatoskisis lebih sering terjadi pada wanita. Laporan tentang palatoskisis menurut hasil yang terakhir menunjukkan bahwa predileksi pada wanita > dengan perbandingan 2:1 pada palatoskisis durum dan mole komplit, rasio pria banding wanita untuk palatoskisis mole atau hanya uvula adalah 1:1. PENYEBAB (FAKTOR PREDISPOSISI) Penyebabnya adalah faktor genetik yang dipengaruhi faktor lingkungan (Poligenik multifaktorial) tapi sampai saat ini belum diketahui secara pasti gen penyebab terjadinya.(4) Pengembangan wajah dikoordinasi oleh peristiwa morfogenetik kompleks dan ekspansi proliferasi cepat, dan dengan demikian sangat rentan terhadap faktor lingkungan dan genetik, merasionalisasi tingginya insiden malformasi wajah. Selama enam sampai delapan minggu pertama kehamilan, bentuk kepala embrio terbentuk. Lima lobus jaringan primitif tumbuh: a) satu dari atas kepala turun menuju bakal bibir bagian atas atas; (Penonjolan Frontonasal)

bc) dua dari pipi, yang memenuhi lobus pertama untuk membentuk bibir atas; (Penonjolan Maxillar) de) dan hanya di bawah, dua lobus tambahan tumbuh dari setiap sisi, yang membentuk dagu dan bibir bawah; (Penonjolan Mandibula) Jika jaringan ini gagal untuk bertemu, celah akan muncul di mana jaringan harus bergabung (menyatu). Hal ini mungkin terjadi dalam setiap situs bergabung tunggal, atau secara simultan di beberapa atau semua dari mereka. Cacat lahir yang dihasilkan mencerminkan lokasi dan tingkat keparahan kegagalan fusi individu (misalnya, dari celah kecil pada bibir atau palatum hingga wajah benar-benar cacat). Bibir atas terbentuk lebih awal dari palatum, dari tiga lobus pertama a - c di atas. Pembentukan palatum adalah langkah terakhir dari panyatuan dengan lima lobus wajah embrio, dan melibatkan bagian belakang lobus b dan c. Bagian belakang ini disebut rak palatum, yang tumbuh terhadap satu sama lain sampai mereka menyatu di tengah. Proses penyatuan ini sangat rentan terhadap beberapa zat-zat beracun, polusi lingkungan, dan ketidakseimbangan gizi. Dari beberapa penelitian kasus dilaporkan bahwa kelainan bawaan lain dapat dihubungkan dengan hipoksia kehamilan yang disebakan oleh merokok pada saat kehamilan, konsumsi alcohol saat kehamilan atau pengobatan hipertensi gravidarum, juga dapat menyebabkan kelainan ini. Faktor lingkungan lainnya yang dapat juga menyebabkan cheiloschizis atau palatoschizis antara lain, penyebab musiman (pestisida), asupan makanan dan vitamin selama kehamilan, retinoid yang merupakan vitamin A, obat antikejang, alcohol, rokok, komponen nitrat, pelarut organic, pemakaian obat-obatan terlarang (kokain, heroin, dsb). Faktor usia ibu, obat-obatan(Asetosal, Aspirin (SCHARDEIN-1985) Rifampisin, Fenasetin, Sulfonamid, Aminoglikosid, Indometasin, Asam Flufetamat, Ibuprofen, Penisilamin, Antihistamin dapat menyebabkan celah langit-langit. Antineoplastik, Kortikosteroid), stress emosional, trauma pada trimester pertama juga mempegaruhi terjadinya palatoschizis.(3, 5) GENETIK Faktor genetik berkontribusi terhadap pembentukan celah bibir dan langit-langit telah diidentifikasi untuk beberapa kasus sindromik, tapi pengetahuan tentang faktor-faktor genetik yang berkontribusi terhadap kasus-kasus terisolasi lebih umum dari langit-langit bibir / sumbing 9

masih tambal sulam. Banyak celah terjadi dalam keluarga, meskipun dalam beberapa kasus ada tampaknya tidak menjadi hadir sindrom diidentifikasi, mungkin karena pemahaman genetik saat ini tidak lengkap pembangunan midfacial. Sejumlah gen yang terlibat termasuk bibir sumbing dan langit-langit protein transmembran 1 dan GAD1, salah satu dari glutamat decarboxylases. TANDA DAN GEJALA Bibir sumbing dan palatum Bila keretakan tidak mempengaruhi struktur palatum disebut sebagai bibir sumbing. Bibir sumbing terbentuk di atas bibir baik sebagai celah kecil atau lekukan di bibir (parsial atau tidak lengkap sumbing) atau terus ke dalam hidung (lengkap sumbing). Bibir sumbing dapat terjadi sebagai satu sisi (unilateral) atau dua sisi (bilateral). Hal ini karena kegagalan proses fusi dari rahang atas dan medial hidung (pembentukan palatum primer). Suatu bentuk ringan dari bibir sumbing adalah microform sumbing. Sebuah microform sumbing dapat muncul sebagai lekukan kecil di bagian merah dari bibir atau terlihat seperti bekas luka dari bibir sampai ke lubang hidung. Dalam beberapa kasus jaringan otot di bibir bagian bawah dapat terlibat dan mungkin memerlukan pembedahan rekonstruktif. Disarankan jika memiliki bayi baru lahir dengan microform celah untuk segera diperiksa oleh tim kraniofasial menentukan keparahan dari belahan. Palatoschizis Palatoschizis adalah suatu kondisi di mana dua lempeng tengkorak yang membentuk palatum durum (langit-langit mulut) tidak sepenuhnya menyatu. Palatum molle juga tidak menyatu. Dalam kebanyakan kasus, terdapat pula cheiloschizis. Palatoschizis terjadi pada satu dari 700 kelahiran hidup di seluruh dunia. Palatoschizis dapat terjadi sebagai lengkap (Palatum molle dan durum, mungkin termasuk celah di rahang) atau tidak lengkap (sebuah 'lubang' di atap mulut, biasanya sebagai celah palatum molle). Ketika terdapat palatoschizis, uvula juga terbelah. Hal ini terjadi karena kegagalan fusi dari prosessus palatina lateral, septum hidung, dan / atau prosessus palatina median (pembentukan langit-langit sekunder). Lubang di atap mulut menyebabkan rongga mulut langsung berhubungan dengan rongga hidung.

10

Gambar 1. Berurutan, Palatoskisis inkomplit; unilateral komplit bibir dan palatum; bilateral komplit bibir dan palatum

Hasil dari koneksi terbuka antara rongga mulut dan rongga hidung disebut velopharyngeal inadequacy (VPI). Karena terapat celah, teradi kebocoran udara ke dalam rongga hidung mengakibatkan resonansi suara hipernasal dan emisi hidung saat berbicara. Efek sekunder dari VPI termasuk kesalahan artikulasi bicara (misalnya, distorsi, substitusi, dan kelalaian) dan misartikulasi kompensasi dan kesalahan pengucapan (misalnya, berhenti glotal dan frikatif hidung posterior). Pilihan pengobatan yang mungkin termasuk terapi wicara, prostetik, pembesaran dinding faring posterior, memperpanjang palatum, dan pembedahan. Sumbing submukosa (SMCP) juga dapat terjadi, yang merupakan celah palatum molle dengan triad klinis klasik bifida, atau split, uvula ditemukan tergantung di bagian belakang tenggorokan, alur sepanjang garis tengah palatum molle, dan takik di belakang garis tengah palatum durum. PSIKOSOSIAL Memiliki cheiloschizis atau palatoschizis tidak pasti menyebabkan masalah psikososial. Kebanyakan anak yang memiliki celah dan diperbaiki cukup awal dapat memiliki kehidupan social yang bahagia dan sehat. Namun, penting untuk diingat bahwa remaja dengan cheiloschizis dan palaoschizis berada pada risiko tinggi untuk memiliki masalah psikososial khususnya yang berkaitan dengan konsep diri, hubungan dengan teman sebaya, dan penampilan. Hal ini penting bagi orangtua untuk menyadari tantangan psikososial remaja mereka mungkin menghadapi dan tahu di mana menemukan bantuan profesional jika masalah timbul. KOMPLIKASI Celah dapat menyebabkan masalah dengan makan, penyakit telinga, dan sosialisasi. Karena kurangnya daya hisap, bayi dengan celah mungkin memiliki kesulitan makan. Bayi

11

dengan palatoschizis akan memiliki kesuksesan yang lebih besar makan dalam posisi yang lebih tegak. Gravitasi akan membantu mencegah susu dari masuk ke hidung bayi jika dia memiliki palatoschizis. Memberi makanan dengan gravitasi dapat dicapai dengan menggunakan peralatan khusus, seperti Haberman Feeder, atau dengan menggunakan kombinasi dari dot dan memasukkan botol seperti yang ditampilkan, umumnya digunakan leh bayi lainnya. Sebuah lubang besar, potong, atau celah di dot, dot menonjol dan berirama meremas memasukkan botol dapat mengakibatkan aliran dikontrol ke bayi tanpa stigma yang disebabkan oleh peralatan khusus. Individu dengan sumbing juga menghadapi banyak infeksi telinga tengah yang akhirnya dapat menyebabkan gangguan pendengaran total. Tabung Eustachius dan liang telinga luar mungkin miring atau berliku-liku, yang menyebabkan terjadinya kontaminasi dari makanan atau dari bagian tubuh lainnya yang normalnya akan membersihkan diri. Juga terdapat abnormalitas perkembangan otot-otot yang menutup tuba eustachius. Pendengaran berhubungan dengan belajar berbicara. Bayi dengan palatoschizis dapat memiliki pendengaran yang kurang dan karena itu, jika bayi tidak dapat mendengar, tidak dapat mencoba untuk meniru suara. Jadi, bahkan sebelum akuisisi bahasa ekspresif, bayi dengan sumbing beresiko untuk akuisisi bahasa reseptif. Karena bibir dan langit-langit yang keduanya digunakan dalam pengucapan, individu dengan sumbing biasanya membutuhkan bantuan ahli terapi bicara. DIAGNOSIS Secara tradisional, diagnosis dibuat pada saat lahir dengan pemeriksaan fisik. Kemajuan terbaru dalam diagnosis prenatal telah memungkinkan dokter kandungan untuk mendiagnosa sumbing dalam rahim. PENATALAKSANAAN Cheiloschizis dan palatoschizis sangat dapat diobati. Namun, jenis pengobatan tergantung pada jenis dan keparahan dari belahan. Pengobatan labio-palatoskisis sangat kompleks dan melibatkan beberapa disiplin ilmu. Pengobatan yang terbaik diberikan oleh satu tim kerja. Kelompok ini terdiri dari ahli bedah maksilofasial, ahli otolaringologi, pedodontis, ortodontis, prostodontis, ahli patologi, ahli bicara, ahli genetika manusia, ahli psikologi dan pekerjaan social. Minat dan perhatian yang saling melengkapi pada masalah klinis ini dikaitkan dengan 12

struktur, fungsi dan kebutuhan penderita akan kesehatan, memerlukan keahlian dalam diagnosis dan pengobatan dari seluruh spesialis ini untuk jangka waktu yang lebih panjang. Perawatan dapat seumur hidup. Operasi Penutupan palatoskisis yang dini memberikan mekanisme yang lebih baik dalam menghasilkan kemampuan bicara. Seringkali palatum sementara ditutup, sumbing tidak tertutup, tetapi ditutupi oleh obturatorius palatal (perangkat prostetik dibuat agar sesuai dengan atap mulut menutupi celah). Operasi penutupan dari palatum sekunder dapat dilakukan dengan bermacammacam teknik, khususnya teknik bridge flap dari Von Langenbeck dan teknik pedicle flap dari Veau. Tujuan utama dari operasi adalah mencapai penutupan yang sempurna pada palatum durum dan palatum mole dan memberikan mobilitas dan panjang yang cukup pada palatum mole. Panjang palatum mole biasanya disempurnakan dengan cara yang disebut push-back procedure. Pencapaian panjang dan mobilitas yang adekuat dari palatum mole menjadi penting dalam proses penelanan dan bicara. Kedua fungsi ini membutuhkan penutupan velofaringeal,yaitu kemampuan menutup rongga hidung dari rongga mulut. Meskipun penutupan velofaringeal untuk aktivitas bicara maupun non bicara seperti penelanan dan meniup, pada dasarnya bekerja seperti sfingter,melibatkan gerakan palatum dan struktur faring, palatum mole dianggap sebagai penggerak utama dalam melakukan penutupan. Jika pentupan velofaringeal tidak berhasil setelah cara opersi pertama, makanan dan cairan dapat masuk ke nasofaring selama proses penelanan. Dengan cara yang sama, pada waktu bicara ditandai dengan pelepasan udara yang berlebihan melalui hidung selama mengucapkan huruf konsonan yang membutuhkan tekanan intraoral untuk mengucapkannya dan resonansi hidung yang berkelebihan disadari sebagai bunyi hipernasal. Meskipun tanda utama dari mekanisme penutupan velofaringeal yang adekuat adalah untuk menghasilkan kemampuan bicara itu sendiri, teknik evaluasi lain melibatkan observasi mulutfaring-hidung secara langsung,radiografi, dan alat pengukur tekanan udara-aliran udara.

13

Salah satu inovasi baru pengoreksi bibir sumbing dan memperbaiki palatum adalah alat Latham. Alat Latham ini dimasukkan secara pembedahan ke celah dengan menggunakan pin selama usia 4 atau 5 bulan. Setelah ditempatkan, dokter, atau orang tua, memutar sekrup setiap hari untuk membantu merapaykan sumbing pada bibir atau palatum. Komplikasi Operasi Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya komplikasi post-op palatoplasty, antara lain umur, jenis kelamin, terdapatnya labioskisis atau sindroma lainnya, riwayat pre-op (otitis media, berat badan, hematokrit, penempatan tympanostomi tube, antibiotik, injeksi epinefrin intapalatal, jenis palatoschizis, perdarahan intra-op, dan intravelar veloplasty.(5) Komplikasi yang paling umum adalah perdarahan, yang dapat dikontrol jika itu terjadi. Hal ini dapat diminimalisasi dengan menggunakan obat-obatan dan alat khusus yang menghentikan perdarahan. Penyumbatan saluran napas juga dapat menjadi perhatian. Kadang-kadang tabung kecil ditempatkan di dalam hidung sebelum anak terbangun untuk membantu dengan masalah pernapasan. Komplikasi lain mungkin fistula (hubungan antara hidung dan mulut) di lokasi perbaikan. Kebanyakan akan sembuh spontan. Jika tidak, ditutup dengan pembedahan. Dapat terjadi komplikasi lain, seperti hilangnya jaringan, jaringan parut, dan suara hypernasal yang menetap.(2) Bicara dan Pendengaran Perkembangan bicara yang adekuat dan kemampuan bahasa merupakan masalah yang penting. Kemampuan bicara dan bahasa dipelajari terutama dari pendengaran. Karena terdapatnya insidens yang relatif tinggi dari gangguan telinga dan akibat tuli(terutama konduktif)pada anak dengan palatoskisis maka pengenalan dan pengobatan dini adalah penting untuk memastikan fungsi pendengaran yang optimal selama tahun perkembangan bicara dan berbahasa. Sebuah tabung tympanostomy sering dimasukkan ke dalam gendang telinga untuk aerasi telinga tengah. Hal ini sering bermanfaat bagi kemampuan mendengar anak. Anak-anak dengan palatoschizis biasanya memiliki berbagai masalah berbicara. Beberapa masalah bicara sebagai hasil langsung dari perbedaan anatomis seperti inadekuasi velopharyngeal. Inadekuasi

14

velopharyngeal mengacu pada ketidakmampuan palatum molle menutup pembukaan dari tenggorokan ke rongga hidung, yang diperlukan untuk beberapa suara, seperti / p /, / b /, / t /, / d /, / s /, / z /, dll. Jenis kesalahan ini biasanya hilang setelah perbaikan palatum. Namun, terkadang anak-anak dengan celah langit-langit juga memiliki kesalahan kata-kata yang berkembang sebagai hasil dari upaya untuk mengimbangi ketidakmampuan untuk menghasilkan fonem sasaran. Ini dikenal sebagai artikulasi kompensasi. Artikulasi kompensasi biasanya suara yang tidak ada di fonologi bahasa normal, sering tidak hilang secara otomatis setelah perbaikan palatum, dan membuat pembicaraan anak bahkan lebih sulit untuk mengerti. Bicara-patologi bahasa dapat sangat bermanfaat untuk membantu menyelesaikan masalah bicara yang terkait dengan sumbing. Selain itu, penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima intervensi bahasa awal cenderung untuk mengembangkan pola kompensasi kesalahan kemudian. Prosedur sekunder untuk memperbaiki kekurangan velofaringeal dalam kemampuan bicara mungkin dianjurkan. Seperti prosedur yang mencakup operasi flap faringeal, alat-alat bicara prostodonti (speech bulb atau palatal lift),atau implantasi faringeal. Sebab pilihan pengobatan tergantung pada pertimbangan pmbedahan pada alat bicara dan gigi dan karena ketidakcakapan dari mekanisme velofaringeal untuk bicara mungkin menyebabkan beberapa variasi anatomi dan fisiologis, diagnosis dan evaluasi yang sempurna dibutuhkan oleh seluruh anggota kelompok yang menangani palatoskisis. Pada beberapa orang dengan labio-palatoskisis,penutupan velofaringeal mungkin dicapai dengan bantuan jaringan tonsil dan adenoid.Keputusan pengangkatan seluruh jaringan pada penderita ini sebaiknya dilakukan dengan hati-hati ,karena bunyi hipernasal persisten dan menghembuskan udara hidung yang dapat didengar dapat terjadi. Sebaiknya dicatat bahwa ketidakcakapan velofaringeal untuk bicara tidak hanya terbatas pada orang dengan labiopalastokisis saja tetapi dapat terjadi pada sejumlah kelainan congenital dan sindrom lain yang mengenai daerah kranofasial kompleks. Observasi dan pengobatan gigi pada penderita dengan celah adalah penting, karena berhubungan dengan oklusi gigi, penampilan dan fungsi mulut yang

15

adekuat(pengunyahan,penelanan,proses bicara),dan hygiene mulut yang baik. Keadaan gigi geligi dapat memberikan perbedaan penting dalam pilihan pengobatan. Penurunan Pendengaran Kelemahan pendengaran sangat umum pada anak dengan sumbing. Serat-serat otot tensor yang membuka tabung eustachius kurang kekuatan untuk berfungsi secara efektif. Dalam situasi ini, ketika udara di telinga tengah diserap oleh selaput lendir, tekanan negatif tidak dikompensasi, yang menghasilkan sekresi cairan ke dalam ruang telinga tengah dari membran mukosa. Anak-anak dengan masalah ini biasanya memiliki gangguan pendengaran konduktif terutama disebabkan oleh efusi telinga tengah. OTITIS MEDIA AKUT DEFINISI(7) Otitis media peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah,tuba eustachius ,antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media akut(OMA) terjadi karena factor pertahanan tubuh ini terganggu.Sumbatan tuba eustachius merupakan factor penyebab utama dari otitis media.Karenafungsi tuba eustachius terganggu pencegahan invasi kuman dalam telinga tengah juga terganggu sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Dikatakan pula,bahwa pencetus terjadinya OMA adalah infeksi saluran napas atas. Pada anak makin sering anak terinfeksi saluran napas,makin besar kemungkinan terjadinya OMA.Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba eustachiusnya pendek,lebar dan letaknya agak horizontal. PATOLOGI Kuman penyebab utama pada OMA ialah bakteri piogenik,seperti Streptococcus hemolitikus,Stafilococcus aureus,Neumococcus. Selain itu kadang-kadang ditemukan juga Hemofilus influenza,Eschericia coli,Streptococcus anhemolitikus,Proteus vulgaris dan Pseudomonas aurugenosa. Hemofilus influenza sering ditemukan pada anak yang berusia

dibawah 5 tahun. 16

STADIUM OMA Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium. (1)Stadium oklusi tuba eustachius,(2)stadium hiperemis,(3)stadium supurasi,(4)stadium perforasi dan (5)stadium revolusi. Keadaan ini berdasarkan pada gambaran membrane timpani yang diamati melalui liang telinga luar. STADIUM OKLUSI TUBA EUSTACHIUS Tanda adanya oklusi tuba eustachius ialah gambaran retraksi membrane timpani akibat terjadinya tekanan negative di dalam telinga tengah,akibat absorbsi udara.Kadang-kadang membrane timpani tampak normal(tidak ada kelainan) atau berwarna keruh pucat.Efusi mungkin telah terjadi tetap tidak dapat dideteksi.Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi. STADIUM HIPEREMIS (STADIUM PRE-SUPURASI) Pada stadium hiperemis tampak pembuluh darah yang melebar di membrane timpani atau seluruh membrane timpani tampak hiperemis serta edem. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat. STADIUM SUPURASI Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficial,serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani,menyebabkan membrane timpani menonjol(bulging) kea rah liang telinga luar. Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit,nadi dan suhu meningkat serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemia,akibat tekanan pada kapiler-kapiler serta timbul tromboflekbitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa.Nekrosis ini pada membrane timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan.Di tempat ini akan terjadi ruptur. Bila tidak dilakukan insisi membrane timpani (miringotomi) pada stadium ini maka kemungkinan besar membrane timpani akan ruptur dan nanah keluar keluar ke liang telinga

17

luar.Dengan melakukan miringotomi luka insisi akan menutup kembali sedangkan apabila terjadi ruptur,maka lubang tempat ruptur(perforasi) tidak mudah menutup kembali. STADIUM PERFORASI Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi maka dapat terjadi ruptur membrane timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang teinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang,suhu badan turun dan anak dapat tertidur nyenyak.Keadaan ini disebut dengan otitis media akut stadium perforasi. STADIUM RESOLUSI Bila membrane timpani tetap utuh,maka keadaan membrane timpani perlahan-lahan akan normal kembali.Bila sudah terjadi perforasi,maka secret akan berkurang dan akhirnya kering.Bila daya tahan tubuh baik/virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan.OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan secret yang keluar terus menerus atau hilang timbul.OMA dapat menimbulkan gejala sisa(sequele)berupa otitis media serosa bila secret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya perforasi. GEJALA KLINIK OMA Gejala klinik OMA bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien.Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga,keluhan disamping suhu tubuh yang tinggi,biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada anak yagn lebih besar atau pada orang dewasa selain rasa nyeri terdapat pula gangguan pendengaran beruparasa penuh di telinga atau rasa kurang dengar.Pada bayi dan anak kecil gejala has OMA ialah suhu tubuh tinggi dapat sampai 39,50C (pada stadium supurasi),anak gelisah dan sukar tidur,tiba-tiba anak menjerit waktu tidur,diare,kejang-kejang dan kadangkadang anak memegang telinga yang sakit.Bila terjadi ruptur membrane timpani maka secret mengalir ke liang telinga,suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang. TERAPI

18

Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya pada stadium okulasi pengobatan terutama bertujuan untuk membuka kembali tuba eustachius ,sehingga tekanan negative di telinga tengah hilang.Untuk ini diberikan obat tetes hidung.Hcl efedrin 0.5% dalam larutan fisiologik(anak kurang 12 tahun)atau Hcl efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk yang berumur di atas 12 tahun dan pada orang dewasa. Selain itu sumber infeksi harus diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab penyakit adalah kuman bukan oleh virus atau alergy. Bila OMA berlanjut dengan keluarnya sekret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Bila perforasi menetap dan sekret tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif kronis (OMSK). KOMPLIKASI Sebelum ada antibiotika OMA dapat menimbulkan komplikasi,yaitu abses subperiosteal sampai komplikasi yang berat (meningitis dan abses otak)sekarang setelah ada antibiotic semua jenis komlikasi itu biasanya didapatkan sebagai komplikasi dari OMSK.

19

BAB IV KASUS

ANAMNESIS IDENTITAS Nama pasien: Komang Tri Satria Wibawa Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Hindu Usia : 3 tahun 6 bulan Alamat : Komp Kostrad Jl. Darma Putra 15 RT 014 / RW 007 Kebayoran Lama Selatan Pendidikan : Belum sekolah Pekerjaan : Belum bekerja Status : Belum kawin Ayah Nama : Ketut Sunarta Agama : Hindu Usia : 27 tahun Pendidikan : SLTA Pekerjaan : TNI KELUHAN UTAMA Ibu Nama : Ketut Surti Agama : Hindu Usia : 25 tahun Pendidikan : SMA Pekerjaan : Ibu rumah tangga

20

Bicara kurang jelas dan tidak lancar sejak usia 2 tahun. KELUHAN TAMBAHAN OS dapat mengerti pembicaraan tetapi harus dipanggil 3x baru berespon. RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT SEKARANG Seorang anak laki-laki (Komang, 3 tahun) datang ke poli THT RSUP Fatmawati dengan keluhan bicara kurang jelas dan tidak lancar sejak usia 2 tahun. OS tidak dapat mengucapkan kata-kata dengan konsonan tertentu (seperti k, g, ng, r, s, j, d) dan seperti ada yang hilang. Contohnya jika menyebutkan kata bapak akan menjadi aa. OS dapat mengerti bahasa dengan baik, tetapi harus dipanggil 3x sebelum ia member respon. OS dirujuk dari bagian TK RSUP Fatmawati ke THT, dengan keluhan delayed speech. Dari poli THT disarankan agar OS menjalani operasi palatoplasti. 4 bulan yang lalu, OS demam dan setelah demam, keluar cairan selama 1 minggu dari telinga kiri berwarna putih, kental dan banyak. Sudah diobati oleh dokter THT dan sembuh tidak keluar cairan lagi. Sekarang sudah mengering dan sudah tidak keluar cairan lagi. 1 hari pre - operasi OS dipuasakan selama 6 jam dan dirawat inap. Dilakukan pemasangan NGT pada pasien. Pada hari rabu tanggal 13 juli 2011, dilakukan operasi palatoplasti pada pasien dalam anestesi umum. Setelah operasi didapatkan lidah bengkak, air liur yang bercampur darah, dan rasa nyeri di lidah, tetapi tidak terdapat sesak napas. 1 hari post - operasi pasien sudah dapat tidur, tetapi masih terbangun. Tidak didapatkan sesak napas. Lidah masih bengkak, luka jahitan baik sudah tidak berdarah lagi. Kondisi masih lemah karena operasi. 2 hari post operasi bengkak pada lidah sudah berkurang, OS mendapat asupan makanan cair per NGT, tidak terdapat demam. OS sudah mulai aktif. 3 hari post operasi OS mengeluh nyeri di daerah operasi, lidah sudah tidak bengkak, tidak terdapat demam, tidak terdapat perdarahan dari mulut.

21

4 hari post operasi keluhan nyeri pada daerah operasi sudah tidak ditemukan. 5 hari post operasi OS BAB cair bercampur ampas 2x pada pagi hari, tidak berlendir. Tidak ada demam, perdarahan dari mulut. Luka jahit baik. Pasien dipersilahkan untuk pulang dan control kembali. RIWAYAT KEHAMILAN KELAHIRAN Ibu OS sehat selama kehamilan dan control rutin tiap bulan. Pada bulan ke 5 kehamilan, ibu OS mengalami sakit gigi sehingga sinusitis. Sudah diobati dan sembuh. Asupan makanan selama kehamilan cukup, konsumsi vitamin, tidak pernah mendapatkan imunisasi selama kehamilan. Anak 1 dan 2 sehat. OS anak ke 3 dari 3 bersaudara. Lahir di RS, penolong dokter spesialis kebidanan, cara persalinan SC, cukup bulan, berat lahir 3400 gram, panjang lahir 49 cm, langsung menangis, setelah lahir sehat. RIWAYAT PERKEMBANGAN Pertumbuhan gigi I pada usia 3 bulan. Psikomotor: duduk usia 5 bulan, berjalan usia 1 tahun 5 bulan, bicara usia 2 tahun. RIWAYAT MAKANAN ASI hanya diberikan pada saat di RS, setelah melahirkan. Setelah itu diganti dengan PASI. Pemberian biskuit, bubur susu usia 1 bulan, buah-buahan usia 2 bulan, dan nasi tim usia 6 bulan. PASI masih diberikan sampai saat ini. RIWAYAT IMUNISASI OS mendapat semua imunisasi dasar (BCG, Hepatitis B, Polio, DPT, Campak), belum diulang. RIWAYAT KELUARGA Ayah OS juga terlambat bicara. Terdapat riwayat alergi, DM pada keluarga.

22

PEMERIKSAAN FISIK STATUS GENERALIS Keadaan umum: Tampak sakit sedang Kesadaran: Compos mentis Kepala: normocephali Mata: CA -, SI Leher: Thorax: Abdomen: Ekstremitas: STATUS THT 1. Pemeriksaan Telinga Kanan Bentuk telinga luar Daun telinga Retroaurikuler Normotia Normotia Kiri Normotia Normotia

Tidak hiperemis, tidak ada Tidak hiperemis, tidak ada sikatriks, tidak edema, tidak sikatriks, tidak edema, tidak nyeri tekan nyeri tekan Lapang Tidak hiperemis Tidak ada Ada

Liang telinga Warna epidermis Sekret Serumen

Lapang Tidak hiperemis Tidak ada Ada

23

Membran Timpani

MT intak, tidak ada perforasi, MT tidak cahaya hiperemis, di kuadran

tidak

intak,

terdapat

refleks perforasi tipe sentral

anteroinferior jam 5 2. Pemeriksaan Hidung Kanan Bentuk hidung luar Deformitas Nyeri tekan Rinoskopi anterior Vestibulum Konka inferior Eutrofi, tidak udem, tidak Eutrofi, tidak udem, tidak pucat Konka media pucat Normal, alignment lurus Tidak ada Tidak ada Tidak ada kelainan Kiri Normal, alignment lurus Tidak ada Tidak Tidak ada kelainan

Eutrofi, tidak udem, tidak Eutrofi, tidak udem, tidak pucat pucat Tidak dapat dinilai Tidak terdapat sekret Lapang Tidak hiperemis Tidak ada Tidak ada deviasi

Konka superior Meatus nasi Kavum nasi Mukosa Sekret Septum

Tidak dapat dinilai Tidak terdapat sekret Lapang Tidak hiperemis Tidak ada Tidak ada deviasi

3. Pemeriksaan Faring Arkus faring : simetris kanan dan kiri Pilar anterior : tidak hiperemis Palatum molle : Tidak hiperemis 24

Mukosa faring : tidak hiperemis Dinding faring : licin Uvula : tidak terdapat uvula Tonsil palatina : T1-T1, tidak hiperemis, kripta tidak melebar, tidak terdapat detritus Pilar posterior : tidak hiperemis Gigi geligi : normal PEMERIKSAAN PENUNJANG Telah dilakukan BERA dengan hasil sesuai dengan sensorineural deafness dengan ambang dengar AD 30 dB, AS 80 dB. RESUME Seorang anak laki-laki (Komang, 3 tahun) datang ke poli THT RSUP Fatmawati dengan keluhan bicara kurang jelas dan tidak lancar sejak usia 2 tahun. OS dapat mengerti bahasa dengan baik, tetapi harus dipanggil 3x sebelum ia member respon. OS dirujuk dari bagian TK RSUP Fatmawati ke THT, dengan keluhan delayed speech. Dari poli THT disarankan agar OS menjalani operasi palatoplasti. 4 bulan yang lalu, OS demam, keluar cairan selama 1 minggu dari telinga kiri berwarna putih, kental dan banyak. Sudah diobati oleh dokter THT dan sembuh tidak keluar cairan lagi. Sekarang sudah mengering dan sudah tidak keluar cairan lagi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan perforasi pada telinga kiri, dan tidak terdapat uvula pada palatum molle. Pemeriksaan penunjang didapatkan tuli sensorineural. DIAGNOSIS KERJA Delayed speech e.c. Palatoschizis Tuli sensorineural AS OMA AS stadium perforasi RENCANA PENGOBATAN

25

Non medikamentosa: Kontrol 3 hari setelah keluar dari RS, untuk memantau perkembangan penyatuan pada jahitan. Diet per NGT, diteruskan pemberian per NGT sampai NGT dilepaskan. Diet per oral dengan makanan yang cair atau lunak. Edukasi agar pasien mengurangi aktivitas mulutnya, jangan menangis maupun berteriak-teriak, untuk mencegah agar jahitan di palatum tidak terlepas. Edukasi oral hygiene, untuk fungsi mulut yang adekuat. Terapi bicara / speech therapy untuk membantu pasien memperbaiki artikulasi katakatanya. Medikamentosa: Claneksi Forte syrup 3 x cth AB untuk mencegah ISPA. Proris syrup 3 x cth 1 AB untuk mengurangi rasa nyeri pada daerah operasi. Ranitidin puyer 2 x 1 melindungi lambung dari efek samping proris. PROGNOSIS Ad Vitam : bonam Ad functionam : dubia ad bonam Ad sanamsionam : dubia ad bonam

BAB V ANALISIS

26

EPIDEMIOLOGI Berdasarkan data yang didapatkan, kejadian palatoschizis lebih sering terjadi pada orangorang Asia, lebih sering mengenai wanita daripada laki-laki. Tetapi pada kasus ini, yang terkena adalah laki-laki.(3) FAKTOR PREDISPOSISI Faktor predisposisi yang mungkin pada pasien ini antara lain berasal dari lingkungan dan genetik. Penyebab musiman (zat-zat beracun, pestisida), polusi lingkungan, ketidakseimbangan gizi selama kehamilan. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi gen yang dapat menyebabkan palatoschizis pada pasien ini.(3, 4, 5) JENIS PALATOSCHIZIS Berdasarkan pembagian jenis dari palatoschizis, pada pasien ini ditemukan jenis palatoschizis yang inkomplit, dimana celah hanya terdapat pada palatum saja.(3) KOMPLIKASI Berdasarkan dari data yang didapatkan, komplikasi dari palatoschizis antara lain adalah masalah dengan makan, penyakit telinga, dan sosialisasi. Penyakit telinga yang biasanya terjadi adalah infeksi telinga tengah. Pada pasien ini ditemukan riwayat infeksi telinga tengah, sehingga mendukung data yang ada. Namun, seharusnya bila yang terinfeksi telinga tengah maka yang seharusnya terjadi adalah tuli konduktif. Pada pasien ini memang terjadi infeksi telinga tengah pada telinga kirinya, namun pada hasil pemeriksaan BERA, ditemukan bahwa pasien ini menderita kelainan pendengaran berupa tuli sensorineural AS. Hal ini sedikit berbeda dari data yang didapatkan. Tuli sensorineural yang ada mungkin karena congenital sejak kelahiran. Mungkin perlu dilakukan pemeriksaan BERA ulang untuk memastikan kebenaran dari diagnosis ini.(3) PENATALAKSANAAN Operasi

27

Tujuan utama dari operasi palatoplasty adalah untuk memperbaiki bicara pada anak dengan palatoschizis. Pada pasien ini terdapat keluhan delayed speech atau bicara kurang jelas, yang disebabkan karena palatoschizisnya, karena itu demi memperbaiki kemampuan bicara pada anak ini maka dilakukan operasi palatoplasty.(3) Pasca Operasi Pada pasien ini ditemukan lidah bengkak. Dari kepustakaan yang didapatkan, lidah bengkak merupakan komplikasi yang jarang pasca palatoplasty dan dapat menyebabkan obstruksi jalan napas. Lidah bengkak ini dapat disebabkan karena lidah yang tertekan dengan retractor lidah menyebabkan edema mukosa lidah, bisa juga karena posisi tradelenburg yang lama menjadi salah satu faktor predisposisi timbulnya oedema dan trombosis lidah.(4) Edukasi pada keluarga, pasien tidak boleh diberikan makanan / minuman terlalu panas atau dingin karena dapat menghambat proses penyembuhan jahitan. Posisi tidur harus miring / tengkurap jika terjadi perdarahan untuk mencegah aspirasi. NGT dipertahankan selama 1 bulan pasca operasi, atau sampai bengkak pada lidah berkurang. Tidak boleh menghisap atau menyedot karena dapat menyebabkan terjadinya penutupan palato.(5) Speech Therapy Menurut data yang didapatkan, speech therapy biasanya dilakukan 3 bulan pasca operasi palatoplasty.(4) Komplikasi Operasi Komplikasi dari operasi palatoplasty yang sering timbul adalah perdarahan, obstruksi jalan napas, infeksi orofaring yang disebabkan terbukanya luka operasi, fistula antara mulut-hidung yang timbul pada daerah operasi, otitis media, kehilangan jaringan, jaringan parut dan suara hipernasal yang menetap. Pada anak ini, terdapat pembengkakan pada lidahnya, karena itu perlu dilakukan observasi ketat untuk mencegah komplikasi obstruksi jalan napas dan fistel antara mulut-hidung juga yang juga dapat timbul bila jahitannya terbuka atau longgar.(2, 5)

DAFTAR PUSTAKA

28

1. Adams GL, Boeis LR, Highler PA. Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Rongga Mulut, Faring, Esofagus dan Leher. Dalam: Liston SL, ed. Boeis Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC; 1997; 265-66. 2. Available at: http://www.pediatric-ent.com/learning/surgeries/cleft_palate.htm. Accessed: 23 July 2011. 3. Available at: http://www.pediaview.com/openpedia/Palatoschisis. Accessed: 19 July 2011. 4. Chan MTV, Chan MSH, Mui KSY, Ho BPY. Massive lingual swelling following palatoplasty. Anaesthesia 1995; 50 (1); 30-4. Available from World Wide Web: <http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1365-2044.1995.tb04509.x/pdf> [Accessed 24 July 2011]. 5. Handaya Y. Labiopalatoscisis 2010. Available at: http://dokteryudabedah.com/labiopalatoscisis/. Accessed: 24 July 2011. 6. Moore MD, Lawrence WT, Ptak JJ, Trier WC. Complications of Primary Palatoplasty: A Twenty-One-Year Review. Cleft Palate Journal 1988; 25 (2); 156-62. Available from World Wide Web: <http://digital.library.pitt.edu/c/cleftpalate/pdf/e20986v25n2.10.pdf> [Accessed 23 July 2011]. 7. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Kelainan Telinga Tengah. Dalam: Rusmarjono, Soepardi EA, ed. Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke 6. Jakarta: FK UI; 2007; 65 - 8.

29