Anda di halaman 1dari 15

PAPER PERICORONITIS ULKUS DEKUBITUS, MOBILITI, PERSISTENSI

Oleh: Reddy Nasa Halim 0815046

BAGIAN ILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG 2013

PERIKORONITIS DEFINISI Perikoronitis merupakan perdangan pada jaringan lunak disekeliling gigi yang akan erupsi, paling sering terjadi pada molar 3 bawah. Perikoronitis merupakan suatu kondisi yang umum terjadi pada Molar impaksi dan cenderung muncul berulang, bila molar belum erupsi sempurna. Akibatnya, dapat terjadi destruksi tulang di antara gigi molar dan geraham depannya.

EPIDEMIOLOGI Perikoronitis dapat terjadi pada usia berapapun, tetapi paling terjadi pada anak anak dan dewasa muda yang gigi giginya sedang bererupsi. Umumnya hal ini berkaitan dengan molar ketiga bawah yang sedang bererupsi dalam alignemen yang baik, tetapi dibatasi erupsinya oleh ruang yang tidak cukup. ETIOLOGI Etiologi utama dari perikoronitis adalah karena gigi molar 3 tidak dapat erupsi dengan baik dikarenakan tidak cukup ruang untuk pertumbuhannya, sehingga sulit untuk erupsi dinamakan impaksi

Impaksi bertendensi menimbulkan infeksi ( perikoronitis ), dikarenakan adanya karies pada gigi geraham depannya. Cukup banyak kasus karies pada gigi molar 2 dikarenakan gigi molar 3 mengalami impaksi. Terbentuknya karies dipermudah, terutama kalau erupsinya Molar 3 sebagian maka sisa sisa makanan akan sulit untuk di bersihkan karena sikat gigi sulit menjangkau wilayah gigi gigi bagian belakang sementara sisa sisa makanan masuk di celah antara gigi karena letaknya di ujung dan tersembunyi di belakang geraham depannya sehingga dapat menimbulkan invasi kuman dan menyebabkan peradangan setempat FAKTOR RISIKO: (British Association of Oral and Maxillofocal Surgeons) 1. Keadaan dimana gigi sedang mengalami erupsi, terutama gigi molar tiga. 2. Terbentuknya lapisan gusi karena erupsi gigi. 3. Keadaan gigi yang bersinggungan dengan jaringan perikoronal gigi yang tidak erupsi atau erupsi sebagian. 4. Riwayat perikoronitis sebelumnya. 5. Oral hygiene buruk. 6. Infeksi saluran nafas atas.

KLASIFIKASI Fase akut: Pada stadium dini, gejala sama seperti tumbuh gigi. Rasa sakti yang berdenyut dan menyebar ke daerah sekitarnya. Membuka mulut terbatas karena stimulasi resptor sakit. Adanya pembengkakan rahang dan sulit menelan. Pada pemeriksaan ada demam, nadi meningkat dan respirasi meningkat, kelenjar limfe submandibular membesar dan sakit. Ada bau mulut,

leukositosis dan lemah. Intra oral: pembengkakan dan kemerahan dengan pengeluaran nanah dari ruang pericoronal. Bertambahnya oedema menyebabkan kaku otot mengunyah. Susah Menelan disebabkan oleh infeksi menyebar ke ruang sublingual dan para-pharyngeal. Di sekeliling operculum terjadi ulserasi/ pengelupasan. Fase subakut: adanya pembengkakan, kaku rahang, pembesaran kelenjar limfe dan ada nanah. Fase kronis: pasien mengeluh sakit terus menerus dan rasa tidak nyaman di rongga mulut. GEJALA DAN PEMERIKSAAN KLINIS Penderita Perikoronitis ini biasanya mengeluh kesakitan yang kadang tidak tertahankan dan seringkali menyebabkan perasaan yang kurang nyaman pada saat membuka mulutnya, dengan membuka mulut pasien akan merasa semakin terasa sakit. Pasien mengeluh nafsu makannya menjadi berkurang dikarenakan lebih terasa sakit bila tersentuh oleh makanan, dan mengunyah. Rasa sakit yang idiopatik merupakan rasa sakit molar yang sedang erupsi atau rasa sakit yang menyebar ke bagian leher dan kepala. Pasien sering mengeluh sakit meski kadang secara klinis dan rongent tidak ada yang tidak normal. Kecuali adanya gigi impaksi tertanam dalam sekali. Daerah infeksi terlihat gusi ( ginggiva ) yang hiperemis, bengkak, dan terlihat lebih mengkilat daripada daerah gusi yang lain. Kadang sudah timbul pernanahan, disebut perikoronal abses, yang nanahnya dapat keluar dari margina DIAGNOSIS Adanya demam, denyut nadi dan laju respirasi meningkat, leukositosis, pemeriksaan bakteriologi untuk mencari penyebab infeksi. PENATALAKSANAAN Perlindungan antibiotik (Pencilin atau Metronidazole) dianjurkan jika ada gejala gejala konstitusional dan kemungkinan adanya penyebaran infeksi. Perikoronitis paling baik dirawat dengan membuka ruang folikuler, membilas bahan purulen dari sulkus gusi dengan larutan saline dan menghilangkan trauma oklusi apapun. Tetapi

bila ruangan cukup untuk erupsi gigi dilakukan operkuloktomi yaitu pengambilan jaringan lunak disekitar gigi yang mengalami impaksi.untuk memberi kesempatan gigi molar 3. Bila ruangan tidak cukup untuk erupsi gigi dilakukan ekstraksi gigi penyebab. Sebenarnya rasa sakit bisa dengan mudah dihilangkan dengan pemberian antibiotik, tetapi yang jadi masalah adalah apabila ada sisa makanan yang menempel pada daerah daerah molar 3 akan sangat sulit untuk dibersihkan karena posisinya yang terletak di paling belakang sehingga rasa nyeri akan terus kambuh dan sakit lagi. PENCEGAHAN Seperti diketahui, sendi sendi di ujung rahang merupakan titik tumbuh atau berkembangnya rahang. Kalau proses mengunyah kurang, sendi sendi itupun kurang aktif, sehingga rahang tidak berkembang semestinya. Rahang yang seharusnya cukup untuk menampung 32 gigi menjadi sempit. Akibatnya, gigi molar 3 yang selalu tumbuh terakhir itu tidak kebagian tempat untuk tumbuh normal. Untuk mendukung perkembangan rahang, sebaiknya sering sering mengkonsumsi makanan berserat supaya gigi jadi lebih aktif menggigit, memotong, dan mengunyah. Rahang pun menjadi makin aktif dan diharapkan akan tumbuh normal. Dampaknya, pertumbuhan gigi pun bisa lebih baik. Dan periksalah gigi secara teratur ke dokter gigi. PROGNOSIS Prognosis penyakit perikoronitis biasanya baik. Kebanyakan factor lokal dapat diobati jika disebabkan oleh infeksi dapat diobati denan obat obatan dari golongan antibiotic. Perikoronitis berulang sebaiknya dilakukan pencabutan, untuk menghindari berbagai komplikasi yang kemungkinan akan timbul jika tidak dilakukan pencabutan sedini mungkin

ULKUS DEKUBITUS Ulkus dalam rongga mulut dapat diklasifikasikan menurut etiologinya menjadi ulkus rekuren, ulkus akibat infeksi, ulkus neoplastik, ulkus akibat gangguan hematologik, ulkus dermatologik, ulkus akibat gangguan granulomatosa, ulkus iatrogenik, dan ulkus akibat trauma atau ulkus traumatik. Definisi: 1. ulserasi akibat oklusi arteri atau tekanan yang lama. 2. Terminologi untuk ulkus traumatik dari mukosa oral. Etiologi
1. Trauma mekanik, dapat disebabkan oleh benda asing, malposisi gigi, supraposisi gigi,

sisa akar yang tajam, ataupun perforasi radiks gigi sulung.


2. Trauma kimia, dan 3. Trauma termal

Lokalisasi Lokasi ulkus dekubitus dapat dimana saja dalam mulut namun paling sering ditemukan pada tepi lateral lidah, mukosa buccal, bibir, dan fossa labioalveolar dan buccalveolar. Insidensi 1. Anak, akibat pergantian gigi sulung oleh gigi tetap terutama incisivus atas, bila gigi 4 dan 5 bawah terjadi ulkus pada mukosa bibir
2. Dewasa, pada tepi corona gigi tajam akibat trauma, gigi yang tumbuh terlalu ke buccal,

sisa akar, pinggir cavitas yang dalam akibat karies


3. Orang tua, biasanya trauma disebabkan oleh protesa rahang atas/bawah

Dasar Diagnosis Anamnesis DIAGNOSIS Anamnesa Pasien mengeluh nyeri dari ringan sampai berat, bergantung pada kedalaman dan lokasi ulkus di dalam mulut. Pasien mempunyai riwayat trauma : Tergigit sendiri saat tidur, berbicara, atau makan

Trauma mekanik baik sebab dari ekstra oral (benturan dengan benda lain), maupun dari

intra oral (malposisi gigi) Trauma kimia, suhu. Gambaran mikroskopis dapat berupa area yang dilingkupi oleh membran fibrinopurulen, terdiri dari sel radang akut dan fibrin. Epitel squamous kompleks dapat mengalami hiperplasi dan daerah atipik. Dasar ulkus disusun oleh jaringan granulasi yang berproliferasi dengan area edema dan sebukan sel radang akut dan kronis. Terapi Penatalaksanaan terhadap ulkus bergantung pada penyebab ulkus, ukuran, tingkat keparahan dan lokasinya. Terapi ulkus yang disebabkan oleh trauma secara umum adalah menghilangkan faktor penyebab. Pada ulkus yang disebabkan trauma mekanik atau trauma suhu, biasanya akan sembuh sendiri dalam 10-14 hari. Lesi traumatik pada mukosa oral dapat diatasi dengan menghilangkan faktor penyebab. Trauma kimia dan suhu menyebabkan nyeri yang hebat pada mukosa oral, sehingga memerlukan analgesik selama penyembuhan. Terapi suportif seperti memperbaiki oral higiene dan penggunaan obat kumur sangat disarankan. Modalitas terapi untuk ulkus traumatik adalah : Hindari faktor penyebab Gunakan pelindung mulut. Konsumsi diet lunak Kumur dengan NaCl hangat Aplikasi anestesi topikal atau pemberian obat kumur anestetik dapat digunakan untuk mengurangi rasa nyeri pada lesi. dalam. Rasa nyeri pada lesi dapat dikurangi dengan pemberian obat kumur anestetik. Pemberian antiseptik kumur seperti clorhexidine terbukti dapat mengurangi nyeri walaupun tidak begitu nyata. Antibiotik broad spectrum seperti penisilin dapat digunakan untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri terutama jika lesi ulkus parah dan dalam. Bila penyebab ulkus dekubitus adalah gigi maloklusi atau supraposisi, dapat dilakukan ekstraksi gigi penyebab sesuai prosedur tetap sebagai berikut: a. Anestesi lokal b. Pencabutan c. pemberian tampon, digigit selama 1/2 jam

d. antibiotika, analgetika (bila diperlukan)

MOBILITY Definisi Merupakan masalah gigi yang ditandai dengan longgarnya gigi akibat penyakit atau lesi pada ginggiva dan tulang yang menyokong gigi. Mobility menyebabkan nyeri akut terutama ketika mengunyah (Samir, 2008). Klasifikasi Mobility terdiri dari fisiologis dan patologis Mobility fisiologis: tekanan sedang pada corona dentis yang dikelilingi dengan jaringan yang sehat dan periodontium yang intak, dapat menyebabkan gerakan pada akar terhadap jaringan tulang. Mobility gigi <0.15mm masih merupakan mobility yang fisiologis. Mobility patologis: berhubungan dengan pergerakan gigi ke arah fasiolingual, mesiodistal ataupun aksial pada saat penekanan diberikan terhadap gigi. Score mobility menurut Miller: 0 = tidak ada pergerakan 1 = pergerakan tidak jelas dari gigi 2 = pergerakan sampai 1mm 3= pergerakan gigi >1mm atau gigi dapat ditekan secara vertical atau gigi dapat diputar dari tempatnya. (Caputo dan Wylie, 2010) Etiologi Etiologi mobility patologis: a. Penyebaran dari inflamasi/infeksi Inflamasi dari ginggiva atau periodontal menuju ligamentum periodontium mengakibatkan peningkatan terjadinya mobility b. Hilangnya jaringan pendukung gigi c. Trauma dari oklusi Secara umum dikenal dua bentuk trauma karena oklusi (Strasser, 2009): Trauma karena oklusi primer Trauma oklusi primer diartikan sebagai cedera atau kerusakan akibat dari tekanan oklusal yang berlebihan yang diterima gigi pada gigi dengan dukungan periodontium yang sehat atau normal.

Trauma karena oklusi sekunder Trauma oklusi sekunder diartikan sebagai cedera atau kerusakan akibat dari tekanan oklusal yang normal yang diterima gigi pada gigi dengan dukungan periodontium yang inadekuat atau lemah.
d. Kehamilan akibat hormonal

e. Proses patologis dari mandibular yang merusak tulang alveolar f. Pembedahan periodontal g. Penyakit sistemik: Diabetes mellitus (anonymous, 2010) Gejala klinis
-

Gigi goyang ketika tekanan diberikan pada satu gigi saat mulut terbuka bidigital motility Gigi goyang ketika sedang berfungsi fremitus.

Bidigital mobility: memegang gigi menggunakan 2 instrumen atau 1 instrumen dan 1 jari Fremitus(functional mobility): pergerakan dari gigi selama fungsi atau parafungsi. Fremitus dideteksi lebih cepat dibandingkan bidigital mobility dan berhubungan dengan inflamasi dimana terjadi peningkatan hilangnya jaringan penyokong gigi. Perawatan mobility Stabilisasi dari gigi yang goyang 2 tipe stabilisasi:
-

Permanen seluruh corona gigi menggunakan splint Sementara (anonymous, 2010).

Indikasi penggunaan splint: Ketika pasien mengalami mobility multipel akibat hilangnya tulang alveolar secara gradual, dan berkurangnya jaringan periodontal. Indikasi yang kedua adalah pasien mengalami mobility gigi disertai dengan nyeri dan rasa tidak nyaman pada gigi yang bersangkutan. Kontraindikasi Splinting tidak direkomendasikan pada pasien dengan stabilitas oklusal dan kondisi periodontal yang sudah tidak apat diperbaiki lagi (Bernal et al, 2002).

Penyingkiran faktor inflamasi Berupa terapi bedah dan non bedah, diantaranya: o Skeling dan penyerutan akar, untuk mengurangi inflamasi, mengurangi keberadaan mikroba pathogen , dan mengurangi terjadinya perkembangan penyakit. o Penggunaan obat lokal dan sistemik, kontrol dengan penggunaan agen kemoterapi mengubah keadaan flora pathogen dan memperbaiki tanda klinis, penggunaan serat etilen vinil asetat yang mengandung tetrasiklin, lempeng gelatin yang mengandung klorheksidin dan formula polimer minosiklin dapat mengurangi kedalaman sak, perdarahan sewaktu probing dan meningkatkan perlekatan klinis jaringan. o Terapi bedah, untuk memperoleh akses untuk menyingkirkan faktor etiologi mobility, mengurangi kedalamn saku serta perbaikan terhadap jaringan periodontium yang hilang. Penyingkiran penyebab trauma karena oklusi Perawatan terhadap gejala trauma karena oklusi harus dilakukan bersamaan dengan terapi periodontal. Karena penyingkiran tekanan oklusi yang traumatik pada keadaan periodontitis tidak akan membantu mengurangi mobility gigi dan regenerasi tulang alveolar. Perawatannya berupa: o Penyelarasan oklusal, mampu mengurangi mobility gigi sebesar 18-28% setelah perawatan selama 30 hari. o Stabilisasi temporer, provisional atau jangka panjang menggunakan alat lepasan atau cekat splin untuk menstabilisasi gigi dan membantu gigi untuk berfungsi normal meskipun jumlah periodontium terbatas. o Pergerakan gigi dengan menggunakan alat ortodonti o Rekonstruksi oklusal o Ekstraksi gigi

Apabila mobility yang terjadi tidak memberikan respon terhadap perawatan yang telah dilakukan, gigi tersebut dapat diekstraksi untuk selanjutnya dilakukan perawatan definitif yaitu dengan pembuatan gigi tiruan sebagiam lepasan atau gigi tiuran cekat. Untuk memperoleh hasil perawatan yang maksimal, sejumlah perawatan periodontal pendukung wajib dilakukan. Kontrol plak harian yang efektif serta control berkala harus dilakukan oleh pasien sehingga jaringan periodontium yang sehat dapat diperoleh (J Periodon, 2001).

PERSISTENSI GIGI Definisi suatu keadaan dimana gigi sulung belum tanggal walaupun waktu tanggalnya sudah tiba. Keadaan ini sering dijumpai pada anak usia 6-12 tahun. Etiologi - Fisiologis, kegagalan sel desidua gigi untuk berkembang tepat waktu ; perbedaan umur kronologis dan fisiologis Penanganan : jika akar gigi permanen sudah terbentuk 2/3 nya, boleh dicabut dan tulang di sekitarnya dibersihkan
-

Patologis, perkembangan yang terhambat karena kondisi ricketsia, kretinisme

Daftar Pustaka Simplestep to better dental helath, Columbia University College of Dental Medicine http://www.simplestepsdental.com/SS/ihtSSPrint/r.WSIHW000/st.32219/t.29748/pr.3/c.336382. html ^ CA Bartzokas and GW Smith, ed (1998). Managing Infections: Decision-making Options in Clinical Practice. Informa Health Care. p. 157. ISBN 1859961711. Retrieved 200805-31. Laskaris, George (2003). Color Atlas of Oral Diseases. Thieme. p. 176.

ISBN 1588901386. Retrieved 2008-05-31. Knol. A Unit of Knowledge.Pericoronitis Infection and Wisdom Tooth Pericoronitis http://knol.google.com/k/pericoronitis-infection-and-wisdom-tooth-pericoronitis#

Caputo

A,

Wylie

R.

Force

Generation

and

reaction

within

the

periodontium.

http://www.dent.ucla.edu/pic/member. 2010 Anonymous, How to Make a Moving Tooth Stable! http://www.edoctor.co.in/tag/teeth. 2010 Bernal G, Carvajal JC, Muoz-Viveros CA. A Review of the Clinical Management of Mobile Teeth. J Contemp Dent Pract 2002 November;(3)4:010-022. J Periodon. 2001. The American Academy of Periodontology. Treatment of Plaque induced gingivitis chronic periodontitis and other clinical condition. P: 1790-1800 Samir, 2008.Tooth mobility. http://www.india-dental-care.com/tooth-mobility.html. Anonymous, 2010. Tooth mobility. http://www.docstoc.com/docs/18593987/tooth-mobility Newman, Takei, et al. 2003. Carranzas Clinical Periodontology Teenth Edition. New York : Elseiver. Page 546-547 Damle, S G. 2004. Textbook of Pediatric Dentistry Third Edition. New Delhi : Arya (Medi) Publishing House. Page 233

Langlais Robert P., and Craig S miller., Atlas berwarna kelainan rongga mulut yang lazim. Robert P L, Craig S M; Alih bahasa budi susetyo, editor Lilian juwono. Jakarta hipokrates, 1998. Mansjoer Arif, dkk: Kapita selekta kedokteran. Editor Arif Mansjoer, dkk,Edisi 3, Volume 1, Jakarta: mediaAesculapius FKUI 2000