Anda di halaman 1dari 13

Samrotul Fuadah 1110026 KONSEP DASAR KAMAR BEDAH ATAU OPERASI A.

Sejarah Kamar Bedah Dahulu prosedur operasi tidak selalu dilakukan dalam lingkungan khusus rumah sakit. Ahli bedah melakukan kunjungan rumah kalau dipanggil untuk memeriksa pasien. Di awal tahun1900an, perawat kamar operasi diminta untuk menyiapkan kamar atau ruangan yang sesuai yaitu ruangan dengan lalu-lintas yang minimal dan sedikit suara untuk prosedur operasi-biasanya ruang makan, tetapi kadang-kadang di dapur. Segalanya dikeluarkan dari kamar, terutama karpet,gantungan, gambar, dan juga mebel. Kamar diasapi dengan sulfur dioksida selama 12 jam jika sudah waktunya mau dipakai. Ini dilakukan dengan membakar 3 pon sulfur di periuk terbuat dari besi untuk tiaptiap 1000 kaki kubik ruangan. Jendela dan pintu ditutup serapat mungkin. Ketika pengasapan telah selesai, tembok dan permukaan disikat dengan karbol 5% atau larutan soda panas. Von Esmarch menggambarkan pembersihan dinding meliputi proses penggosokan permukaan dengan roti halus. Dia mendasarkan tindakan ini pada eksperimen pribadi. Jika waktu tidak cukup untuk dilakukan proses pengasapan/penyikatan, ruangan seharusnya telah di penuhi dengan uap dari ceret. Linen dan handuk yang akan dipakai direbus selama 5 menit di larutan soda untuk digunakan sebagai spon. Kompor dan oven berguna sebagai alat sterilisasi. Batu bata tetap di oven untuk digunakan sebagai alat penghangat bagi pasien anak yang kedinginan. Meja dapur atau ruang makan telah dialasi untuk digunakan sebagai meja operasi dan ditempatkan di bawah tempat lilin, dengan kepala mengarah ke jendela. Untuk kerahasiaan, kertas tisu yang berwarna putih digunakan didekat jendela dengan memakai adonan tepung. Banyak ahli bedah mempunyai lampu portable untuk digunakan didalam rumah yang mempunyai listrik. Ini sangat berguna di malam hari. Seprai tempat tidur putih dipaku ke semua tembok sebagai lapisan pelindung. Lingkungan fisik sangat penting untuk ahli bedah. Suhu kamar harus dijaga pada suhu di 75 80 F dan tambahan alat untuk menghangatkan ruangan, seperti selimut hangat, botol air panas, dan batu bata hangat dibungkus dengan kain flanel. Disamping menyiapkan

lingkungan, perawat kamar operasi diharuskan mempunyai 10 galon air steril yang panas dan 10 galon air steril yang dingin yang siap untuk digunakan. Termasuk tugas perawatn yaitu menyiapkan larutan garam steril dengan mendidihkan sebuah wadah besar yang berisi air dan menambahkan 2 sendok teh garam meja. Campuran direbus selama 30 menit kemudian

disaring dengan menggunakan kapas yang sudah dipanggang sampai berwarna kecoklatan ke dalam botol steril. Gabus dipergunakan untuk menutup lubang. Terutama bila larutan disimpan untuk penggunaan yang akan datang, botol yang telah ditutup direbus selama 20 menit selama 3 hari berurutan. Ini dipercaya untuk mencegah tumbuhnya spora. Sebagai kesimpulan dari prosedur pembedahan bahwa perawat kamar operasi diperlukan untuk membongkar, mendidihkan, mengeringkan, dan mengepak instrumen ahli bedah ke dalam tasnya. Ruangan dikembalikan ke keadaan semula dengan melepas atau mebuang lembaran-lembaran dari dinding dan mengeluarkannya untuk dicuci dan mengembalikan kembali karpet dan mebel ke posisi semula. Akhirnya perawat kamar operasi meninggalkan ruangan, keadaanya seperti waktu dia mau menggunakannya. B. Kamar Bedah atau Operasi 1. Pengertian Kamar Operasi atau kamar bedah adalah ruangan khusus di rumah sakit yang diperlukan untuk melakukan tindakan pembedahan baik elektif atau akut yang membutuhkan keadaan suci hama atau steril. 2. Pembagian Daerah Kamar Operasi a. Daerah Publik Daerah yang boleh dimasuki oleh semua orang tanpa syarat khusus. Misalnya: kamar tunggu, gang, emperan depan komplek kamar operasi. b. Daerah Semi Publik Daerah yang bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu saja, yaitu petugas. Dan biasanya diberi tulisan DILARANG MASUK SELAIN PETUGAS. Dan sudah ada pembatasan tentang jenis pakaian yang dikenakan oleh petugas ( pakaian khusus kamar operasi ) serta penggunaan alas kaki khusus di dalam. c. Daerah Aseptik Daerah kamar bedah sendiri yang hanya bisa dimasuki oleh orang yang langsung ada hubungan dengan kegiatan pembedahan. Umumnya daerah yang harus dijaga kesucihamaannya. Daerah aseptik dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: 1) Daerah Aseptik 0 Yaitu lapangan operasi, daerah tempat dilakukannya pembedahan. 2) Daerah aseptik 1 Yaitu daerah memakai gaun operasi, tempat duk / kain steril, tempat instrument dan tempat perawat instrument mengatur dan mempersiapkan alat.

3) Daerah aseptik 2 Yaitu tempat mencuci tangan, koridor penderita masuk, daerah sekitar ahli anesthesia. 3. Bagian-bagian Kamar Operasi Kamar operasi terdiri dari beberapa ruang baik itu di dalam kamar operasi maupun di lingkungan kamar operasi, antara lain: a. Ruang sterilisasi b. Kamar tunggu c. Gudang d. Kantor e. Kamar mandi (WC) dan Spoelhok (Tempat cuci alat) f. Kamar istirahat g. Kamar gips h. Kamar Pulih Sadar (Recovery Room) i. Kamar arsip j. Kamar laboratorium k. Kamar untuk ganti pakaian l. Kamar untuk sterilisasi m. Kamar untuk gudang alat-alat instrument n. Kamar untuk mencuci tangan o. Kamar bedah 4. Persyaratan Kamar Operasi Kamar operasi yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut: a. Letak Letak kamar operasi berada di tengah-tengah rumah sakit, berdekatan dengan Instalasi Rawat Darurat, ICU dan unit radiologi. b. Bentuk dan Ukuran 1) Bentuk a) Kamar operasi tidak bersudut tajam. Lantai, dinding. Langit-langit berbentuk lengkung dan wama tidak mencolok.

b) Lantai dan 2/3 dinding bagian bawah harus terbuat dari bahan yang keras, rata, kedap air, mudah dibersihkan dan tidak

menampung debu. 2) Ukuran a) Kamar operasi kecil berukuran: 5,2 m x 5,6 m (29,1 m2) b) Kamar operasi yang nyaman diperlukan kira-kira diperlukan luas 40 m2. c) Kamar operasi untuk operasi besar diperlukan luas minimal 56 m2 (7,2 m x 7,8 m). c. Sistem Penerangan Sistem penerangan di dalam kamar operasi harus memakai lampu pijar putih dan mudah dibersihkan. Sedangkan lampu operasi memiliki persyaratan khusus, yaitu arah dan fokusnya dapat diatur, tidak menimbulkan panas, cahayanya terang dan tidak menyilaukan serta tidak menimbulkan bayangan. Pencahayaan antara 300 - 500 lux, meja operasi 10.000 - 20.000 lux. d. Sistem Ventilasi Sistem ventilasi di kamar bedah sebaiknya memakai system pengatur suhu sentral (AC sentral) dan dapat diatur dengan alat kontrol yang memakai filter (Ultra Clean Laminar Airflow), dimana udara dipompakan ke dalam kamar operasi dan udara di kamar operasi dihisap keluar. e. Suhu dan Kelembaban Suhu di kamar operasi di daerah tropis sekitar 19 - 22 C. Sedangkan di daerah sekitar 20-24C dengan kelembaban 55% (50 60%). f. Sistem Gas Medis Pemasangan sebaiknya secara sentral memakai system pipa, yang bertujuan untuk mencegah bahaya penimbunan gas yang berlebihan di kamar operasi bila terjadi kebocoran dan tabung gas. Pipa gas tersebut harus dibedakan warnanya. g. Sistem listrik Di dalam kamar operasi sebaiknya tersedia 2 macam voltage, yaitu 110 volt dan 220 volt. Karena alat-alat kamar operasi memiliki voltage yang berbeda. Semua tombol listrik dipasang pada ketinggian 1,40 m dari lantai. h. Sistem komunikasi

Sistem komunikasi di kamar operasi adalah sangat vital, terutama bila ada keadaan darurat maka mudah untuk melakukan komunikasi.

i.

Peralatan 1) Semua peralatan yang ada di kamar operasi harus beroda dan mudah dibersihkan. 2) Semua peralatan harus terbuat dari bahan stainless steel agar mudah untuk dibersihkan. 3) Untuk alat-alat elektrik harus ada petunjuk penggunaan dan menempel pada alat agar mudah untuk penggunaan.

j.

Pintu 1) Pintu masuk dan keluar penderita harus berbeda. 2) Pintu masuk dan keluar petugas harus tersendiri. 3) Semua pintu harus menggunakan door closer (bila memungkinkan). 4) Setiap pintu diberi kaca pengintai untuk melihat kegiatan di kamar operasi tanpa membuka pintu.

k.

Pembagian area 1) Ada batas tegas antara area bebas terbatas. semi ketat, dan area ketat. 2) Ada ruang persiapan untuk serah terima pasien dan perawat ruangan kepada perawat kamar operasi.

l.

Air Bersih Air bersih harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1) Tidak berwama, berbau dan berasa. 2) Tidak mengandung kuman pathogen 3) Tidak mengandung zat kimia 4) Tidak mengandung zat beracun

m.

Penentuan Jumlah Kamar Operasi Setiap rumah sakit merancang kamar operasi disesuaikan dengan bentuk dan lahan yang tersedia, sehingga dikatakan bahwa rancang bangun kamar operasi setiap rumah sakit berbeda, tergantung dari besar atau tipe rumah sakit tersebut. Makin besar rumah sakit tentu membutuhkan jumlah dan luas kamar bedah yang lebih besar. Jumlah kamar operasi tergantung dari berbagai hal yaitu :

1) Jumlah dan lama waktu operasi yang dilakukan. 2) Jumlah dokter bedah dan macam spesialisasi serta subspesialisasi bersama fasilitas penunjang. 3) Pertimbangan antara operasi berencana dan operasi segera. 4) Jumlah kebutuhan waktu pemakaian kamar operasi baik jam per hari maupun perminggu. 5) Sistem dan prosedur yang ditetapkan untuk arus pasien, petugas dan penyediaan peralatan. C. Personil Kamar Operasi 1. Jenis Tenaga Jenis tenaga adalah personil yang boleh masuk di dalam kamar operasi baik tim inti maupun tim penunjang, antara lain: a. Tim Bedah 1) AhIi bedah. 2) Asisten ahli bedah. 3) Perawat Instrumen (Scrub Nurse). 4) Perawat Sirkuler. 5) Ahli anestesi. 6) Perawat anestesi. b. Staf Perawat Operasi terdiri dari : 1) Perawat kepala kamar operasi. 2) Perawat pelaksana. 3) Tenaga lain terdiri dari : a) Pekerja kesehatan. b) Tata usaha. c) Penunjang medis. 2. Tanggung Jawab a. Kepala kamar operasi 1) Pengertian Seorang tenaga perawat professional yang bertanggung jawab dan berwenang dalam mengelola kegiatan pelayanan keperawatan di kamar operasi. 2) Tanggung jawab

Secara fungsional bertanggung jawab kepala bidang keperawatan, melalui kepala seksi perawatan. Secara professional bertanggung jawab

kepada kepala instansi kamar operasi. 3) Tugas a) Perencanaan (1) Menentukan macam dan jumlah pelayanan pembedahan. (2) Menentukan macam dan jumah alat yang diperlukan sesuai

spesialisasinya. (3) Menentukan tenaga perawat bedah yang dibutuhkan. (4) Menampung keluhan penderita secara aktif. (5) Bertanggungjawab terlaksananya operasi sesuai jadwal. (6) Menentukan pengembangan pengetahuan petugas dan peserta didik. (7) Bekerja sama dengan dokter tim bedah dan kepala kamar operasi dalam menyusun prosedur dan tata kerja di kamar operasi. b) Pengarahan (1) Memantau staf dalam penerapan kode etik kamar bedah. (2) Mengatur pelayanan pembedahan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan team. (3) Membuat jadwal kegiatan. (4) Pemanfaatan tenaga seefektif mungkin. (5) Mengatur pekerjaan secara merata (6) Memberikan bimbingan kepada peserta didik. (7) Memantau pelaksanaan tugas yang dibebankan kepada stafnya. (8) Mengatur pemanfaatan sumber daya secara efektif dan efisien. (9) Menciptakan suasana kerja yang harmonis. c) Pengawasan (1) Mengawasi pelaksanaan tugas masing-masing pegawai. (2) Mengawasi penggunaan alat dan bahan secara tepat. (3) Mempertahankan kelengkapan bahan dan alat. (4) Mengawasi kegiatan team bedah sehubungan dengan tindakan pembedahan. (5) Menyesuaikan tindakan di kamar bedah dengan kegiatan di bagian lain. d) Penilaian. (1) Menganalisa secara kontinyu jalannya team pembedahan.

(2) Menganalisa kegiatan tata laksana kamar operasi yang berhubungan dengan penggunaan alat dan bahan secara efektif dan hemat. b. Perawat Instrument / Scrub Nurse 1) Pengertian Seorang tenaga perawat professional yang diberi wewenang dan ditugaskan dalam mengelola paket alat pembedahan. selama tindakan pembedahan berlangsung. 2) Tanggung jawab Secara administrative dan kegiatan keperawatan, bertanggung jawab kepada kepala kamar operasi. dan secara operasional tindakan bertanggung jawab kepada ahli bedah dan perawat kepala kamar operasi. 3) Tugas a) Sebelum Pembedahan (1) Melakukan kunjungan pasien minimal sehari sebelum pembedahan. (2) Menyiapkan ruangan operasi dalam keadaan siap pakai seperti kebersihan ruangan, peralatan, meja mayo atau instrumen, meja operasi, lampu operasi, mesin anesthesi, suction pump, dan gas medis. (3) Menyiapkan set instrumen steril sesuai dengan jenis pembedahan. (4) Menyiapkan bahan desinfektan dan bahan lain sesuai dengan keperluan operasi. (5) Menyiapkan sarung tangan dan alat tenun steril. b) Saat Pembedahan (1) Memperingatkan team steril jika terjadi penyimpangan prosedur aseptik. (2) Membantu mengenakan gaun dan sarung tangan steril untuk ahli bedah dan asisten bedah. (3) Menata instrumen di meja mayo dan meja instrumen. (4) Memberikan desinfektan untuk desinfeksi lapangan operasi. (5) Memberikan duk steril untuk drapping. (6) Memberikan instrumen kepada ahli bedah sesuai dengan kebutuhan. (7) Memberikan bahan operasi sesuai dengan kebutuhan. (8) Mempertahankan instrumen dalam keadaan tersusun secara sistematis. (9) Mempertahankan kebersihan dan sterilisasi alat instrumen. (10) Merawat luka secara aseptik.

c) Setelah Pembedahan (1) Memfiksasi drain. (2) Membersihkan kulit pasien dari sisa desinfektan. (3) Mengganti alat tenun dan paju pasien lain dipindahkan ke brankart. (4) Memeriksa dan menghitung instrumen lalu mencucinya. (5) Memasukkan alat instrumen ke tempatnya untuk distenilisasi c. Perawat Sirkuler / Circulating Nurse 1) Pengertian Tenaga perawat professional yang diberi wewenang dan tanggung jawab membantu kelancaran pelaksanaan tindakan pembedahan. 2) Tanggung jawab Secara administrative dan operasional bertanggung jawab kepada perawat kepala kamar operasi dan kepada abli bedah. 3) Tugas a) Sebelum pembedahan (1) Menerima Pasien di ruang persiapan Kamar Operasi (2) Memeriksa kelengkapan operasi meliputi : (a) Kelengkapan dokumentasi medis, antara lain : Surat persetujuan tindakan medis (operasi) Hasil pemeriksaan laboratorium terakhir Hasil pemeriksaan radiologi (fob x-ray) Hasil pemeriksaan ahli anestesi (pra visite anestesi) Hasil konsultasi ahli lain sesuai kebutuhan (b) Kelengkapan obat - obatan, cairan dan alat kesehatan (c) Persediaan darah (bila diperlukan) (3) Memeriksa persiapan fisik (4) Melakukan serah terima pasien dan perlengkapan untuk pembedahan dengan perawat premedikasi (5) Memberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan, tim bedah yang akan menolong dan fasilitas kamar operasi b) Saat pembedahan (1) Mengatur posisi pasien sesuai jenis pembedahan dan bekerjasama dengan petugas anestesi

(2) Membuka set steril yang dibutuhkan dengan memperhatikan teknik aseptik (3) Membantu mengikatkan tali gaun bedah (4) Memasang plate mesin diatermi (5) Setelah draping, membantu menyambungkan slang suction dan senur diatermi (6) Membantu menyiapkan cairan dan desinfektan pada mangkok steril (7) Mengambil instrument yang jatuh dengan menggunakan alat dan memisahkan dari instrument yang steril (8) Mengumpulkan dan menyiapkan bahan pemeriksaan (9) Menghubungi petugas penunjang medis (petugas PA) bila diperlukan (10) Menghitung dan mencatat pemakaian kasa, bekerjasama dengan perawat instrument (11) Memeriksa kelengkapan instrument dan kasa bersama perawat instrument agar tidak tertinggal dalam tubuh pasien sebelum luka operasi ditutup c) Setelah pembedahan (1) Membersihkan dan merapikan pasien yang sudah selesai dilakukan pembedahan (2) Memindahkan pasien dari meja operasi ke brancard dorong yang telah disiapkan (3) Meneliti, menghitung dan mencatat obat-obatan, cairan serta alat yang telah diberikan kepada pasien (4) Mendokumentasikan tindakan keperawatan selama pembedahan antara lain: (a) Identitas pasien (nama pasien, jenis kelamin, umur, nomor dokumen medik, ruangan dirawat, tanggal mulai dirawat dan alamat). (b) Diagnosa pra bedah (c) Jenis tindakan (d) Jenis operasi (bersih, bersih kontaminasi, kontaminasi, kotor) (e) Dokter anestesi (f) Tim bedah (operator, asisten operator, perawat instrument) (g) Waktu operasi (mulai induksi, mulai incisie, selesai operasi)

(h) Golongan operasi (khusus, besar, sedang, kecil) (i) Bahan cairan yang dipakai (povidone iodine, alkohol, perhidrol, NaCl, chlorhexidine gluconate) (j) Pemakalan pisau bedah (k) Pemakaian catheter (l) Pemakaian benang bedah (m) Pemakaian alat-alat lain (n) Keterangan (berisi catatan penting selama proses pembedahan) (5) Membantu perawat instrument membersihkan dan menyusun

instrument yang telah digunakan kemudian alat disterilkan (6) Membersihkan selang dan botol suction dari sisa jaringan serta cairan operasi (7) Mensterilkan selang suction yang dipakai langsung pasien (8) Membantu membersihkan kamar operasi setelah tindakan pembedahan d. Perawat Anestesi 1) Pengertian Tenaga keperawatan profesional yang diberi wewenang dan tanggung jawab dalam membantu terselenggarakannya pelaksanaan tindakan pembiusan di kamar operasi. 2) Tanggung jawab Secara administrative dan kegiatan keperawatan bertanggung jawab kepada kepala perawat kamar operasi dan secara operasional bertanggung jawab kepada ahli anestesi / ahli bedah dan kepala perawat kamar operasi. 3) Tugas a) Sebelum Pembedahan (1) Melakukan kunjungan pra anesthesi untuk menilai status fisik pasien. (2) Menerima pasien di ruang penerimaan kamar operasi. (3) Menyiapkan kelengkapan alat dan mesin anesthesi. (4) Memasang infus atau transfusi darah. (5) Memberikan premedikasi sesuai dengan program dokter anesthesi. (6) Menyiapkan kelengkapan meja anesthesi dan mesin suctionnya. (7) Memonitor kondisi fisik dan tanda vital pasien. (8) Memindahkan pasien ke meja operasi.

(9) Menyiapkan obat anesthesi dan membantu ahli anesthesi dalam proses induksi. b) Saat Pembedahan (1) Membebaskan jalan napas dengan mengatur posisi pasien dan ETT. (2) Memenuhi keseimbangan gas medis. (3) Mengatur keseimbangan cairan dengan menghitung input dan output. (4) Memantau tanda-tanda vital. (5) Memberikan obat-obatan sesuai dengan program dokter anesthesi. (6) Memantau efek obat anesthesi. c) Setelah Pembedahan (1) Mempertahankan jalan napas pasien. (2) Memantau tingkat kesadaran pasien. (3) Memantau dan mencatat perkembangan pasien post operasi. (4) Memantau pasien terhadap efek obat anesthesi. (5) Memindahkan pasien ke ruang pulih sadar. (6) Merapikan dan membersihkan alat anesthesi. (7) Mengembalikan alat anesthesi ke tempat semula D. Isu Kamar Bedah Kronologis Kasus Seorang pasien menjalani suatu pembedahan di sebuah kamar operasi. Sebagaimana layaknya, sebelum pembedahan dilakukan anastesi terlebih dahulu. Pembiusan dilakukan oleh dokter anastesi, sedangkan operasi dipimpin oleh dokter ahli bedah tulang (orthopedy). Operasi berjalan lancar. Namun, tiba-tiba sang pasien mengalami kesulitan bernafas. Bahkan setelah operasi selesai dilakukan, pasien tetap mengalami gangguan pernapasan hingga tak sadarkan diri. Akibatnya, ia harus dirawat terus menerus di ruang perawatan intensif dengan bantuan mesin pernapasan (ventilator). Tentu kejadian ini sangat mengherankan. Pasalnya, sebelum dilakukan operasi, pasien dalam keadaan baik, kecuali masalah tulangnnya. Usut punya usut, ternyata kedapatan bahwa ada kekeliruan dalam pemasangan gas anastesi (N2O) yang dipasng pada mesin anastesi. Harusnya gas N2O, ternyata yang diberikan gas CO2. Padahal gas CO2 dipakai untuk operasi katarak. Pemberian CO2 pada pasien tentu mengakibatkan tertekannya pusat-pusat pernapasan sehingga proses oksigenasi menjadi sangat terganggu, pasien jadi tidak sadar dan akhirnya meninggal. Ini sebuah fakta penyimpangan sederhana namun berakibat fatal. Dengan kata lain ada sebuah kegagalan dalam proses penetapan gas anastesi. Dan ternyata, di rumah sakit

tersebut tidak ada standar-standar pengamanan pemakaian gas yang dipasang di mesin anastesi. Padahal seeharusnya ada standar, siapa yang harus memasang, bagaimana caranya, bagaimana monitoringnnya, dan lain sebagainya. Idealnya dan sudah menjadi keharusan bahwa perlu ada sebuah standar yang tertulis (misalnya warna tabung gas yang berbeda), jelas, dengan formulir yang memuat berbagai prosedur tiap kali harus ditandai dan ditandatangani. Seandainya prosedur ini ada, tentu tidak akan ada, atau kecil kemungkinan terjadi kekeliruan. Dan kalaupun terjadi akan cepat diketahui siapa yang bertanggungjawab. Malpraktek dalam bidang orthopedy adalah suatu tindakan kelalaian yang dilakukan oleh dokter atau petugas pelayanan kesehatan yang bertugas melakukan segala macam tindakan pembedahan khususnya pembedahan pada tulang. Dimana dalam kasus ini si pasien yang pada awalnya hanya mengalami masalah pada tulangnya pada akhirnya harus menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya hanya karena kesalahan pemberian gas setelah operasi. Kelalaian fatal ini bisa dikatakan terjadi karena kurangnya ketelitian dari dokter ataupun petugas kesehatan lainnya dalam pemberian pelayanan kesehatan terhadap pasien. Kelalaian ini juga bisa disebabkan karena manejemen rumah sakit yang kurang tertata baik, pendidikan yang dimiliki petugas yang mungkin masih minim serta banyak lagi faktor yang lainnya. Karena tindakan tersebut tidak hanya melangar hukum, kode etik kedokteran dan juga standar berperilaku dalam suatu agama tetapi bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang maka perlu ada jalan keluarnya yakni dengan cara; pembenahan majemen rumah sakit, meningkatkan ketelitian dalam menjalankan profesi kedokteran serta memperdalam segala macam pengetahuan tentang berbagai macam tindakan pelayanan kesehatan. Bagi semua oranng yang bertugas sebagai pelayan kesehatan dan juga bagi penulis serta siapa saja yang nantinya akan menjadi seorang pelayan yang bergerak di bidang kesehatan, hendaknya bisa menggunakan waktu yang masih ada semaksimal mungkin untuk mempelajari semua hal yang berkaitan dangan tugas kita nantinya, agar segala macam tindakan pelanggaran ataupun kelalaian dapat diminimalisir atau kalau bisa dihilangkan.