Anda di halaman 1dari 27

Pelayanan Medis Nasional (PMdN) d/h Tim Pengembangan Pelayanan Nasional Medis atau TPPN Medis, berawal ketika

pada tahun 1977 beberapa mahasiswa Fakultas Kedokteran/Fakultas Kedokteran Gigi dari Unair Surabaya berkumpul secara rutin tiap minggu di kampus untuk PA dan berdoa. Melalui kelompok inilah Tuhan memberikan visi pelayanan medis untuk dibagikan juga ke kampus-kampus lainnya. Dan melalui Kamp Medis I tahun 1979 di Nongkojajar, visi ini diperkenalkan ke kampus-kampus di seluruh Indonesia.

Apa Visi Misi Pelayanan Medis Nasional (PMdN)?

VISI Menjadikan dokter/dokter gigi Kristen yang memiliki hubungan pribadi yang erat dengan Tuhan, melayani manusia ciptaan-Nya secara utuh dan menjadi rekan sekerja Allah yang efektif dalam profesinya dan bertanggung jawab sebagai anggota gereja, bangsa, dan negara.

MISI Melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus sebagaimana terdapat dalam Matius 28: 19-20 yang berbunyi, ... Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.... dan ajarkanlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.

Tujuan Umum

1. Adanya kesatuan dalam persekutuan mahasiswa dan alumni medis Kristen yang saling membantu dan menguatkan. 2. Dalam hal etika, mencapai standar tertinggi dalam hidup kekristenan secara pribadi maupun dalam menjalankan profesi medis. 3. Menjadi saksi Kristus dalam lingkungan profesi medis maupun kepada masyarakat.

4. Mendukung persekutuan mahasiswa FK/FKG dan alumni Medis, di kampus, rumah sakit, maupun Puskesmas. 5. Mendukung Pekabaran Injil, baik yang dilakukan oleh mahasiswa maupun alumni melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga pelayanan misi yang dilakukan oleh Rumah Sakit, gereja, maupun lembaga misi. Tujuan Khusus

1. 1. Menggalang kerjasama pelayanan medis Kristen secara nasional, sehingga tercipta satu kesatuan tubuh yang utuh dan saling membangun. 2. Tercitanya sinronisasi pelayanan medis secara nasional sesuai dengan misi medis.

3. Menjadi pusat komunikasi, informasi, dan jaringan kerja medis Kristen secara nasional maupun internasional.

Pada tanggal 2-7 Juli 2002, Pelayanan Medis Nasional diterima menjadi anggota International Christian Medical and Dental Association (ICMDA) pada Konferensi ICMDA di Taiwan. PMdN berada di bawah koordinasi Divisi Pelayanan Alumni dan Medis PHN Perkantas.

Pengurus PMdN periode 2002-2003:

Ketua : Wakil Ketua Sekretaris Bendahara Anggota

drg. M.Grace Lumempouw : : : : dr. Dodi Hendradi drg. Susanti Trisnadi drg. Eveline M. Liman

drg. Dewi H. Pramono dr. Mariana Sompie dr. Deddy Tedjakusnadi P.r.o.g.r.a.m R.u.t.i.n

Pembinaan Pengurus Rapat bulanan Raker tahunan Program Pelatihan Singkat (PPS), tiap tahun

Kamp Medis Nasional (KMN), tiap 2 tahun Presentasi Misi, kerjasama dengan RS Misi atau misionaris, tiap tahun Pelatihan SDM Medis, kerjasama dengan CMF lain atau RS Kristen, tiap tahun Pelatihan Keterampilan Medis, tiap tahun Crisis Center Malam Visi dan Misi

Instalasi Gawat Darurat Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Immanuel, dengan lokasi yang strategis, melayani 24 jam sehari.

Menempati area seluas 300m2 yang terbagi menjadi :

Area Triage Area Resusitasi Area Tindakan Bedah Area Tindakan Non Bedah Ruang observasi, untuk stabilisasi pasien Ruang Isolasi Disertai kelengkapan alat elektromedik :

Alat-alat Resusitasi Defribilator, AED Monitor Ventilator ECG nebulizer

Peralatan tindakan bedah minor Termasuk dukungan 24 jam sarana penunjang medis :

Instalasi Laboratorium Instalasi Radiologi ; X-Ray, CT-Scan, USG Bank Darah Instalasi Farmasi Ambulance Rescue Dengan semboyan No Surender (pantang menyerah), Instalasi Gawat Darurat R.S. Immanuel, siap melayani dengan tenaga dokter jaga dokter umum yang bersertifikasi ACLS, ATLS, PPGD serta dukungan dokter jaga spesialis dan sub spesialis profesional di bidangnya yang selalu siap membantu 24 jam.

Teriring keramahan pelayanan, kami senantiasa memberikan yang terbaik. http://www.rsimmanuel.com/pelayanan/pelayanan-medis/instalasi-gawat-darurat.html

Home Profil Kata Pengantar Sejarah Visi dan Misi Struktur Organisasi Akreditasi Filosofi Logo Sarana Pendidikan Peta Lokasi

Pelayanan Pelayanan Medis Instalasi Gawat Darurat Pelayanan Rawat Jalan Kamar Bedah Pelayanan Rawat Inap Pelayanan Pendukung Haemodialisa Instalasi Laboratorium Instalasi Nutrisi Klinik Radiologi Pemeliharaan Kesehatan Fasilitas Pendukung Jadwal Dokter Fasilitas Fasilitas Umum Mitra Komentar Berita Publikasi Info Kesehatan Seminar Promosi Informasi Kontak Pelayanan Rawat Jalan

Pelayanan Rawat Jalan/Poliklinik Pelayanan Rawat Jalan Rumah Sakit Immanuel Bandung berlokasi di area Pusat Medik dan Gedung Pusat Diagnostik, dilakukan waktu pagi dan sore hari. Dengan pola pelayanan yang ditata dengan baik dan dilaksanakan oleh tenaga spesialis dan sub spesialis.

1. Penyakit dalam 2. Immanuel Children Care (Anak) 3. Kebidanan dan kandungan 4. Bedah yang terdiri dari:

Bedah Umum Bedah Kardio Vascular Bedah Thoraks Kardio Vascular Bedah Urologi Bedah Ortopedi Bedah Saraf Bedah Digestif Bedah Plastik Bedah Anak

5.Mata 6.Pusat Kesehatan THT & Saluran Nafas Atas (Immanuel ENT & Upper Respiratory Tract Center) 7. Saraf 8. Jantung 9. Immanuel Skin Clinic & Venereal Diseases (ISC) 10. Immanuel Respiratory Center (IRC) 11. Pro-jiwa

12. Immanuel Dental Clinic (IDC) 13. Psikologi 14. Nutrisi 15. Klinik Endokrin Metabolisme & Diabetes 16. Rheumatik 17. Onkologi 18. Akupunktur 19. DOTS 20. Alergi 21. Medical Check Up 22. Immanuel Sleep Clinic Klinik Penyakit Dalam 1. Konsultasi 2. Endokrin Metabolisme & Diabetes 3. Hati & Pencernaan 4. Ginjal & Hipertensi 5. Hemodialisa 6. Jantung & Pembuluh Darah 7. Endoskopi & Kolonoskopi 8. ERCP

Immanuel Children Care/Klinik Anak 1. Konsultasi 2. Tumbuh kembang 3. Perinatalogi 4. Inhalasi 5. Imunisasi

Pro-jiwa 1. Konsultasi Masalah Kejiwaan 2. Konseling pra nikah/konseling pernikahan 3. Pemeriksaan/Test Kepribadian (MMPI) Klinik Kebidanan & Kandungan 1. Konsultasi (konseling genetik) 2. Ginekologi 3. Laparaskopi 4. Endokrinologi & Infertilitas 5. Obstetri 6. Fetomaternal : USG + HSG 7. Perinatal Resiko Tinggi 8. Menopause 9. Kolposkopi 10. Cryo 11. Keluarga Berencana

Klinik Bedah 1. Bedah Umum 2. Bedah Vascular 3. Bedah Thoraks Kardio Vascular 4. Bedah Urologi 5. Bedah Ortopedi 6. Bedah Saraf 7. Bedah Digestif 8. Bedah Plastik

9. Bedah Anak Klinik Mata 1. Konsultasi 2. Orbita dan Rekonstruksi 3. Glukoma 4. Katarak 5. Strabismus 6. Ekstrenal eye disease (kelainan mata luar) 7. Refraksi 8. Retina

Pusat Kesehatan THT & Saluran Nafas Atas (Immanuel ENT & Upper Respiratory Tract Center) 1. Konsultasi 2. Nasoendoskopi 3. Radiofrequency volume reduction turbine/ reduksi kornea 4. Laringoskopi Serat Optik 5. Neuro Otologi ( pemeriksaan neurotologi : kacamata frenzel) 6. Audiometri Nada Murni 7. Timpanometri dan test fungsi tuba eustachius 8. Sleep Study (Polisomnografi/ Full PSG) 9. Functional endoscopy sinus surgery/bedah sinus endoskopi fungsional 10. Tympanoplasty 11. Operasi-operasi THT lainnya Saraf 1. Konsultasi 2. Neuro Fisiologi (EEG)

Jantung 1. Konsultasi 2. Treadmill 3. EKG (Electo Kardiografi) 4. Echokardiografi Immanuel Skin Clinic/Klinik Kulit & Kelamin 1. Dermatologi Umum 2. Alergi/imunologi 3. Mikologi 4. Morbushansen (Kusta) 5. Penyakit infeksi menular seksual 6. Pediatric Dermatologic 7. Kosmetik 8. Tumor Kulit Skin Care 1. Laser ND-YAG 2. Mikrodermabrasi 3. Elektrokauter 4. Chemical Peeling 5. Bedah Beku 6. Mesoterapi 7. Bedah Eksisi 8. Eksisi Shave 9. Patch Test 10. Acne Light Therapy 11. Facial

12. Prick Test 13. Eskholiasi 14. Biopsi Insisi 15. Micro Diamond 16. Derma Roller 17. Laser CO2 18. Skin Filler 19. Botox

Immanuel Respiratory Center/Klinik Paru 1. Konsultasi 2. Penyakit Paru Obstruktif dan Asma 3. Penyakit Infeksi, TB, dan Jamur 4. Onkologi: Tumor Paru, Tumor Mediastinum, Metastase Tumor ke Paru 5. Spirometri 6. Bronkoskopi 7. Diagnostic Thoracoscopy 8. Trans Thoracal Biopsy 9. Sleep Laboratory 10. Non Invasive Ventilator 11. Home care ventilation : CPAP, BiPAP Immanuel Dental Clinic/Klinik Gigi 1. Konsultasi 2. Bedah Mulut 3. Ortodonti

4. Prosthodonti 5. Endodonti/Konservasi Gigi 6. Pemeriksaan Gigi Anak 7. Perawatan Jaringan Penyangga Gigi Klinik Psikologi 1. Konseling 2. Test Minat Bakat 3. Test Intelegensia (IQ)

Klinik Nutrisi 1. Konsultasi 2. Terapi Diet: a. Diet Diabetes Melitus b. Diet Hati c. Diet Lambung d. Diet Jantung e. Diet Tinggi Kalori Protein f. Diet Rendah Kolestrol g. Diet Rendah Kalori h. Diet Rendah Protein i. Diet Rendah Garam j. Diet Ginjal k. Diet Lain-lain http://www.rsimmanuel.com/pelayanan/pelayanan-medis/pelayanan-rawat-jalan-poliklinik.html

FALSAFAH DASAR KEGAWAT-DARURATAN. Syaiful Saanin. Instalasi Gawat Darurat RS Dr. M. Djamil, Padang.

DASAR :

1. PELAYANAN GAWAT DARURAT (PGD) ADALAH KESINAMBUNGAN PERAWATAN DAN PELAYANAN, MENCAKUP PELAYANAN PRA-RS DAN LUAR RS.

2. PELAYANAN PRA-RS MENCAKUP DUKUNGAN, INSTRUKSI, PERAWATAN SERTA TINDAKAN YANG DIBERIKAN SEJAK PERMINTAAN S/D PASIEN DISERAHKAN KE RS PENERIMA.

3. PELAYANAN LUAR RS MENCAKUP SEMUA ASPEK PERAWATAN DAN TINDAKAN YANG DIBERIKAN PETUGAS GD TERMASUK PEMINDAHAN PASIEN, TANGGAPAN DAN TINDAKAN ATAS BENCANA MASSAL SERTA KEDARURATAN MASYARAKAT LAINNYA, DAN MEMPERSIAPKAN DUKUNGAN MEDIK UNTUK PELAYANAN GD MEDIK TERPADU.

4. PETUGAS PGD BERPERAN-SERTA MENGEMBANGKAN PGD DENGAN MOTTO "MASYARAKAT MENOLONG MASYARAKAT".

5. PETUGAS PGD ADALAH PROFESIONAL YANG WASPADA, TERAMPIL DAN CERDAS DALAM TUJUAN MEMBERIKAN PELAYANAN YANG TERBAIK YANG PALING MUNGKIN DIBERIKAN.

6. PETUGAS PGD MENGHORMATI PENGHARAPAN DAN KEPERCAYAAN SERTA SECARA KONSISTEN MELAKUKAN APA YANG PALING MEMADAI BAGI PASIEN.

7. PETUGAS PGD MENGUASAI RUMITNYA KEADAAN LINGKUNGAN, TERLATIH MEMBERI KEPUTUSAN YANG TEPAT SERTA DAPAT MEMANFAATKAN SUMBER YANG ADA SECARA TEPAT.

8. PELAYANAN MEDIK ADALAH SENI YANG BERDASARKAN PENGETAHUAN. PGD SERING DIBERIKAN DALAM KEADAAN DILUAR KENDALI DAN DISAAT LINGKUNGAN YANG TIDAK BERSAHABAT HINGGA PENERAPAN SENI DAN PENGETAHUAN PROFESI TSB. MENJADI LEBIH SULIT. PETUGAS PGD HARUS BERUSAHA MENGATASI TANTANGAN TSB. HINGGA DIPASTIKAN HASIL AKHIR YANG DITERIMA PASIEN ADALAH YANG TERBAIK.

DEFINISI KEDOKTERAN GAWAT DARURAT. Kedokteran Gawat Darurat (KGD) mencakup diagnosis dan tindakan terhadap semua pasien yang memerlukan perawatan yang tidak direncanakan dan mendadak, atau terhadap pasien dengan penyakit atau cedera akut. Maksud KGD adalah untuk menekan angka kesakitan dan kematian pasien. Pelayanan KGD mencakup pelayanan pra rumah sakit, luar rumah sakit dan dirumah sakit. Pelaksana KGD memerlukan pengetahuan dan pengenalan yang adekuat tentang cedera serta penyakit akut, tindakan segera, stabilisasi serta konsultasi dan disposisi yang memadai untuk pasien.

DEFINISI DOKTER GAWAT DARURAT. Dokter Gawat Darurat (DGD) adalah pelaksana KGD. DGD memerlukan pendidikan, pelatihan, pengalaman serta kelakuan yang sesuai agar KGD dapat efektif DGD bisa berpraktek didesa hingga dikota, baik sendiri-sendiri atau borkelompok, pegawai pemerintah ataupun pegawai fakultas kedokteran. DGD berkewajiban untuk bertanggung-jawab memberikan pelayanan kesehatan tidak terencana bagi masyarakat selama 24 jam sehari.

KUALIFIKASI DOKTER GAWAT DARURAT. DGD harus memiliki kualifikasi, kredensial, kompetens dan dedikasi. Kualifikasi adalah lisensi untuk berpraktek kedokteran yang telah dikombinasi dengan pendidikan, pelatihan dan pengalaman klinik yang diperlukan untuk melaksanakan KGD. Kredensial adalah bahwa latar belakang, pendidikan, pelatihan, pengalaman dan karakter ybs. dianggap memadai untuk diizinkan melakukan KGD dengan baik. Kompetensi didasari atas penilaian anggota serta pimpinan departemen, digabung dengan penilaian berdasar kemampuan keterampilan klinik, ybs. melaksanakan KGD dengan konsisten sesuai atau melebihi standar yang dianut dengan outcome pasien yang dapat dipertanggung-jawabkan. DGD mendedikasikan dirinya melaksanakan KGD dengan pelayanan gawat darurat berkualitas tinggi.

SERTIFIKASI KEDOKTERAN GAWAT DARURAT.

KGD terbaik dilaksanakan oleh DGD yang berkompeten, mempunyai perhatian penuh serta berpengalaman. Ujian oleh majelis (board) merupakan cara penting, namun tidak wajib dalam melakukan kredensial. Penilaian langsung selama pelatihan serta ti 1

penilaian secara serial atas outcome pasien merupakan indikator paling layak atas kompetensi dan mutu dokter tsb. Banyak DGD bermutu yang tidak melalui ujian board. Tidak dimilikinya sertfikat ujian board bukan alasan untuk menghambat DGD atas posisi jabatan atau promosi dalam kedokteran publik atau akademik. Kursus- kursus CPR, ACLS, ATLS, APLS, PALS, BTLS, dll. merupakan sumber yang baik untuk meninjau dan memperbaiki DGD. Peserta kursus ini tidak lebih diutamakan atas DGD lain yang berkualitas. Karena sejarahnya yang kompleks, persepsi atas pentingnya sertifikasi board dalam menentukan kompetensi berpraktek KGD mengalami distorsi. Karena persepsi tersebut secara aktif dianjurkan beberapa organisasi, sertifikasi board secara umum diterima sebagai penilaian kompetensi yang paling dapat diterima. Karena kepercayaan yang tidak sepantasnya bahwa sertiflkasi board saja yang bisa menentukan kompetensi, banyak DGD yang bermutu mengalami diskriminasi dalam bekerja atau dalam kesempatan promosi. Namun demikian pada saat ini makin banyak bukti bahwa penilaian kompetensi paling baik tetap dengan ujian board.

PENGADAAN DOKTER GAWAT DARURAT. Pengadaan DGD melalui residensi selalu lebih sedikit dari kebutuhan akan DGD yang berkualifikasi. Kebanyakan DGD yang berkualitas, berkompeten dan berdedikasi saat ini berasal dari displin yang non KGD. Mereka akan tetap mengisi kebutuhan DGD. Karenanya semua dokter yang berdedikasi pada KGD harus diberi kesempatan memperlihatkan kompetensinya dalam KGD. Sistem evaluasi harus digunakan agar semua DGD dapat memperlihatkan kompetensi KGD nya. Sistem evaluasi ini berdasar pendidikan, pelatihan, pengalaman klinik, penilaian kegiatan klinik serta ujian board. Bila DGD menampilkan kompetensi klinik, ia akan kompeten pada semua tingkat DGD.

DEFINISI PELAYANAN GAWAT DARURAT. Gawat Darurat Medis (GDM) serta Perawatan Gawat Darurat (PGD) harus berdasarkan anggapan publik atas kegawat-daruratan. Bila kebanyakan publik melihat proses medis mungkin menyebabkan kesakitan atau kematian, maka keadaan tsb.adalah gawat darurat yang memerlukan perhatian medis segera. Kepercayaan publik ini mungkin termasuk, namun tidak terbatas pada : nyeri akut atau berat, perdarahan ekstemal atau kemungkinan perdarahan internal, sesak nafas berat atau akut, nyeri dada, nyeri kepala berat atau akut, nyeri perut berat atau akut, demam berat atau akut, penurunan kesadaran, cedera traumatik akut, gangguan adekuasi sirkulasi, gangguan fungsi motor, perubahan tingkah akut, gangguan akut fungsi sensori, evaluasi dan tindakan atas penyalah-gunaan dan kelalaian, fungsi ginekologis abnormal, persalinan, disfungsi kemih atau usus akut, tindakan atas

kelainan yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat, infeksi akut, wabah, peradangan, reaksi alergi akut, krisis kesehatan mental akut, perawatan neonatal, kelainan yang berkaitan dengan penyalahgunaan obat/zat.

CARA MENDAPATKAN PELAYANAN GAWAT DARURAT. Semua masyarakat berhak mendapat perawatan kesehatan gawat darurat, pencegahan, primer, spesialistik serta kronik. Perawatan GD harus dilakukan tanpa memikirkan kemampuan pasien untuk membayar. Semua petugas medis harus diberi kompensasi yang adekuat, adil dan tulus atas pelayanan kesehatan yang diberikannya. Diperlukan mekanisme pembayaran penggantian atas pelayanan gratis, hingga tenaga dan sarana tetap tejaga untuk setiap pelayanan. Ini termasuk mekanisme kompensasi atas penderita yang tidak memiliki asuransi, bukan penduduk setempat atau orang asing. Semua pasien harus mendapat pengobatan, tindakan medis dan pelayanan memadai yang diperlukan agar didapat pemulihan yang baik dari penyakit atau cedera akut yang ditindak secara gawat darurat.

TINDAKAN SERTA PERSETUJUANNYA. Keputusan akan tindakan medis, termasuk resusitasi, adalah hak ekslusif pasien. Penderita atau wali hukumnya harus diberitahu sebelum kondisi pasien berpotensi menjadi tenninal. Harus dibuat persetujuan anggota keluarga bila diinginkan oleh pasien atau bila pasien tidak kompeten. Sebaliknya pasien atau keluarga dapat menolak resusitasi atau bagian dari resusitasi. Bila pasien dalam keadaan ekstrim yang membutuhkan tindakan darurat, tindakan segera dilakukan sesuai indikasi. Bila pasien kompeten atau keluarga menolak tindakan, semua usaha dibatalkan. Bila dilakukan tindakan disaat tidak ada keluarga, usahakan menghubungi keluarga saat itu juga.

SISTIM 118. Akses yang mudah kepada pelayanan gawat darurat adalah kunci keberhasilan atas outcome. Semua masyarakat harus terjangkau oleh 118. Peningkatan kemampuan 118 adalah usaha utama dalam menjangkau masyarakat. 118 memberikan akses yang mudah kepelayanan gawat darurat sehingga keterlambatan yang tidak perlu dalam penanganan keadaan gawat darurat dapat dicegah. Instruksi pra kedatangan petugas harus digunakan dalam semua sistem pelayanan gawat darurat tanpa memperdulikan keberadaan 118.

RESUSITASI KARDIO-PULMONER, CPR. CPR yang dilakukan segera pada pasien yang membutuhkan terbukti mengurangi kesakitan dan kematian. Karena periode yang singkat antara onset arrest hingga kerusakan multi sistem atau

kematian, dianjurkan agar CPR sebagai tindakan awal dilakukan oleh masyarakat untuk Cardiopulmonarry arrest. Masyarakat harus diajarkan CPR serta mengerti akan kemampuan penyelamat hidup dari 118 yang sedini mungkin berikut instruksi sebelum kedatangannya, CPR dini, defibrilasi dini, ALS dini, serta perawatan jantung definitif dini. Semua petugas dalam sistem gawat darurat, pemadam kebakaran, polisi atau petugas keamanan harus belajar CPR. Karena kemungkinan kontaminasi infeksi penolong ke atau dari korban, dianjurkan pemakaian peralatan pencegahan infeksi seluas mungkin.

DEFIBRILASI DAN PENGGUNAAN AED OLEH PETUGAS NON ALS. Semua petugas pertama yang berhadapan dengan pasien serta semua petugas sistem gawat darurat harus dilatih memakai AED (automated external defibrillator). Defibrilasi dini adalah tindakan yang berpotensi penyelamat hidup bila digunakan segera pada dugaan fibrilasi ventrikuler. Pelatihan mencakup fisiologi jantung, EKG, kegunaan defibrilasi, pemakaian klinis dari AED, pemahaman protokol tetap, kontra indikasi/keamanan/pemeliharaan AED, kebutuhan akan CIVE (Continuing Medical Education) baik teori maupun praktek, pentingnya peluang penyelamat hidup dari 118 yang dini dengan instruksi pra kedatangannya-CPR dini-defibrilasi dini- ALS dini- serta perawatan jantung definitif dini. Program defibrilasi dini harus diprioritaskan. AED harus disebarkan seluas mungkin dalam wilayah kerja dan diletakkan dikendaraan yang bertanggung-jawab atas panggilan kasus henti jantung. Ini mungkin temiasuk oleh penanggung-jawab pertama, paramedik, kendaraan pemadam kebakaran, serta kendaraan polisi sehingga waktu untuk memulai defibrilasi yang berpotensi penyelamat jiwa dapat sedini mungkin.

PELATIHAN PEMBERI PELAYANAN PRA RUMAH SAKIT. Semua dokter atau paramedik pelaksana pelayanan medis pra RS harus mendapat pelatihan dan sertifikasi sebagai pelaksana pra RS. Institusi yang berwenang bertanggung-jawab memberikan sertifikasi serta program pelatihan.

KLASIFIKASI PEMBERI PELAYANAN PRA RUMAH SAKIT. Konsep pelatihan pra RS datam berbagai tingkat dikaitkan dengan derajat pelayanan pasien. Logistik, kebutuhan setempat serta adekuasi pelayanan pasien mengakibatkan perlunya berbagai tingkat petugas pra RS. Biasanya perawatan pra RS dibagi menjadi pelayanan dasar / non invasif, serta pelayanan lanjut / invasif. Digunakan standar minimal nasional yang bila perlu dapat ditambahkan dengan kebutuhan setempat. Petugas tingkat dasar minimal harus mendapat kursus AED, AMST serta perawatan jalan nafas. Petugas tingkat lanjut harus mampu melakukan intubasi endotrakheal, trakheostomi jarum, jalur transtorasik, serta infus interosseus sebagai standar.

TERAPI TROMBOLITIK PRA RUMAH SAKIT. Trombolitik bila digunakan saat keadaan klinis yang tepat pada pasien yang tepat terbukti bermanfaat. Karena adanya keraguan atas manfaat atau risiko pra RS serta potensi untuk menimbulkan kegawatan, diperlukan penelitian pra RS lebih lanjut sebelum trombolitik digunakan oleh tenaga non dokter secara rutin pra RS. Namun identifikasi serta persiapan pasien secara dini pra RS untuk terapi trombolilik harus dilakukan. Identifikasi serta persiapan dini tsb. a.l. riwayat dan pemeriksaan inisial, jalur IV perifer multipel, EKG 12 lead, gambaran darah, oksimetri nadi serta tindakan medis memadai terhadap nyeri dada.

STATUS SAMARITAN YANG BAIK. Semua petugas, tanpa peduli latar belakang medis yang mendasari, yang memberikan pelayanan medis gawat darurat dengan niat yang baik untuk orang lain harus dilindungi dari pertanggungjawaban yang diakibatkan oleh bantuannya tsb.

PENANGGUNG-JAWAB MEDIS OFF-LINE, ON-LINE DAN LAPANGAN. Penanggung-jawab off-line bertanggung-jawab atas semua urusan administrasi PGD pada daerah kerjanya. Penanggung-jawab on-line bertanggung-jawab atas konsultasi medis mendadak kepada PGD melalui peralatan komunikasi. Penanggung-jawab lapangan mempunyai kemampuan tanggung-jawab lapangan.

GAWAT DARURAT TRANSPORTASI DALAM LINGKUNGAN TERBATAS. Kru pesawat terbang dan kapal harus tertatih melakukan pertolongan pertama / tingkat CPR minimal. Peralatan pertolongan pertama harus tersedia termasuk sarana ventilasi dengan kemampuan pencegahan kontaminasi infeksi. Peralatan medis lanjut untuk digunakan oleh dokter terlatih juga harus tersedia termasuk sarana penjamin jalan nafas, obat-obat dasar ALS serta peralatan defibrilasi.

PELAYANAN GAWAT DARURAT PADA BENCANA. DGD adalah pemeran pertama dalam mengembangkan Perencanaan Bencana ditingkat lokal, regional, nasional dan international. DGD membantu mengembangkan, memperbaiki serta melaksanakan setiap perencanaan. DGD turut serta dalam melatih pelayanan medis dilapangan.

PERINTAH DNR PRA RUMAH SAKIT. Tugas PGD adalah mengurangi kesakitan dan kematian penderita penyakit atau cedera akut. Kecuali dokumen resmi dan legal tentang DNR tersedia, PGD harus menerima kebijaksanaan untuk menolong pasien dan menindak pasien kecuali bila kematian sudah jelas, yaitu dekapitasi, rigor mortis dll. Tidak etis dan tidak praktis untuk mengharapkan unit PGD sebagai tujuan untuk memutuskan status DNR saat gawat darurat medis. Keputusan medis pribadi ini sebaiknya

diserahkan pada pasien yang kompeten beserta dokter pribadinya sebelum keadaan medis terminal terjadi. Peran serta petugas hukum, keluarga, legislator, PGD serta petugas medis diperlukan untuk memasyarakatkan program menyeluruh untuk issu tersebut. Resusitasi tidak dipaksakan bila pasien menolak atau pada pasien dimana semua usaha secara medis tidak berguna.

BAHAN BERBAHAYA Semua orang yang berkemungkinan untuk berhubungan dengan bahan berbahaya berhak atas semua informasi atas bahan tsb. Termasuk informasi atas : mencegah paparan, membatasi paparan, mengobati paparan, risiko kesehatan akibat paparan yang diketahui, prosedur dekontaminasi, pertolongan pertama spesifik terhadap bahan serta informasi tindak lanjut. Semua petugas PGD serta petugas pengaman publik lain yang akan bertugas didaerah gawat darurat bahan berbahaya pada 'zona dingin' minimum harus mendapat kursus penanggung-jawab pertama bahan berbahaya. Petugas yang bertanggung-jawab untuk menolong, menindak serta mendekontaminasi di 'zona panas' memerlukan pelatihan khusus untuk mencegah kontaminasi personal, menindak korban dengan tepat, menekan perluasan kejadian serta mencegah kontaminasi lebih lanjut. Petugas PGD harus mendapatkan pelatihan serta fasilitas yang adekuat untuk menindak pasien yang terkontaminasi.

PELAYANAN PRA RUMAH SAKIT OLEH PETUGAS BERLISENSI YANG BUKAN DOKTER. Petugas berlisensi seperti perawat dll. dalam pelayanan pra RS bertindak sebagai anggota masyarakat, yang dalam keadaan gawat darurat bertindak sesuai tingkat kompetensinya dalam menggunakan peralatan gawat-darurat yang tersedia. Ketika tiba di unit PGD dimana telah terjadi hubungan antara pasien dengan dokter PGD, pelayanan pasien diserahkan pada PGD. Serah terima secara formnal atas informasi mengenai pasien harus dilakukan untuk menjamin kelanjutan perawatan.

Petugas pra RS tsb. yang secara resmi bertindak dalam gawat darurat pra RS sebagai bagian dari sistem PGD, sukarela atau bayaran, harus mendapat pelatihan memadai dalam perawatan pra RS hingga dapat bertugas secara aman dan bermanfaat, serta mempertahankan pengetahuannya sesuai standar dan harus mengulang sertifikasinya bila masa berlaku sudah babis.

PERAWATAN PRA RUMAH SAKIT OLEH DOKTER NON DGD. Dokter bertindak sesuai peralatan yang tersedia sambil menunggu intervensi sistem PGD. Setelah petugas PGD tiba, dokter tsb. harus menyerahkan pasien. Bila ia merasa masih diperlukan serta pemeriksaan medis masih dilakukan, petugas harus menerima perintah dokter tsb. sebatas kemampuan dokter tsb. Bila pasien sudah stabil serta tingkat kemampuan petugas PGD memadai,

dokter tsb. dapat meninggalkan tempat kejadian. Bila dokter tsb. melakukan suatu tindakan atau memberikan pengobatan melebihi yang diizinkan sistem PGD, dokter tsb. harus ikut beserta pasien kefasilitas medis.

PETUNJUK MEDIS DARI PELAYANAN MEDIS GAWAT DARURAT. Pelayanan medis pra RS adalah pelayanan medis diluar fasilitas medis yang bersertifikat. Petunjuk medis dari sistem PGD adalah petunjuk keahlian medis yang terbaik dilaksanakan oleh DGD berlisensi.

Semua kegiatan pra RS / PGD harus diatur oleh sejumlah DGD, termasuk administrasi, rancang sistem, penetapan staf unit, pelatihan, legislasi, komunikasi, QA / CQI serta perawatan pasien secara langsung.

KUALIFIKASI DOKTER PGD. Petunjuk medis sistem PGD adalah keahlian medis yang memerlukan pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang khas untuk perawatan pra RS, baik kemampuan sebagai dokter PGD Off-line, Online maupun Pengarah medis dilapangan. Jenis pelatihan sesuai persyaratan institusi negara setempat.

RINGKASAN. Pelayanan Gawat Darurat Medik adalah kesinambungan perawatan dan pelayanan yang juga mencakup pelayanan pra-rumah sakit dan diluar rumah sakit. Pelayanan pra-rumah sakit termasuk dukungan, instruksi, pelayanan dan tindakan yang diberikan sejak saat dimulainya permintaan pelayanan gawat darurat hingga pasien dikirim ke pusat pelayanan penerima. Pelayanan diluar rumah sakit termasuk semua aspek pelayanan dan tindakan yang diberikan petugas pelayanan gawat darurat termasuk pemindahan pasien, tanggapan dan tindakan atas bencana massal yang menimpa masyarakat serta kedaruratan masyarakat lainnya, dan mempersiapkan dukungan medik untuk pelayanan gawat darurat medik terpadu. Semua petugas pelayanan gawat darutat medik berperan serta dalam mengembangkan pelayanan gawat darurat medik dengan bermottokan masyarakat menolong masyarakat. Personil pelayanan gawat darurat medik adalah para professional pelayanan kesehatan yang waspada, terampil dan cerdas dengan tujuan memberikan peiplayanan yang terbaik yang paling mungkin diberikan bagi pasien, menghormati pengharapan dan kepercayaan serta secara konsisten berusaha melakukan apa yang memadai pagi pasien, mengerti rumitnya keadaan lingkungan, terlatih memberi keputusan yang tepat serta dapat memanfaatkan sumber yang ada secara tepat.

Pelayanan medik adalah seni yang berdasarkan pengetahuan. Pelayanan gawat darurat medik sering diberikan dalam keadaan rang diluar kendali dan pada saat lingkungan yang tidak bersahabat hingga menyebabkan penerapan seni dan pengetahuan profesi tsb. menjadi lebih sulit. Personil pelayanan gawat darurat medik harus berusaha untuk mengatasi tantangan ini hingga dipastikan hasil akhir yang didapatkan pasien adalah yang terbaik.

PUSTAKA. 1. AEP Policy Statements. Association of Emergency Physicians. 1998. 2. Toronto Emergency Medical Services, Philosophy. EMS Toronto 2001. 3 . The Role of the Committee on Trauma of the American College of Surgeons: ATLS 6th. ed. Subcommitte on Advanced Trauma Life Support of the American College of Surgeons Committee on Trauma 1993-1997. p.v. 4. Allan H.Ropper. -. Introduction to critical care in neurology and neurosurgery. In AllanH.Ropper(ed):Neurological and neurosurgicall intensive care.3rd. ed. Raven Press, New York. pp 3-9. 1993. 5. Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD). Dalam Pedoman Pelayanan Gawat Darurat. Ed 2. Depkes RI 1995. http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/falsafahgd.html

Anda sedang membaca artikel dalam kategori : Artikel, Kegawatdaruratan Medik Home Artikel Masyarakat Perlu Miliki Keterampilan Kegawatdaruratan Medik Masyarakat Perlu Miliki Keterampilan Kegawatdaruratan Medik Dipublikasikan pada 17 July 2006 oleh Asta Qauliyah

Kecelakaan lalu lintas saat ini bukan lagi hal yang jarang kita jumpai, apalagi untuk bilangan kota metropolitan, termasuk Makassar. Kian banyaknya jumlah kendaraan bermotor dengan ruas jalan

yang kurang memadai untuk volume kendaraan yang besar adalah fenomena lumrah di banyak kota dan menjadi salah satu pemicu terjadinya banyak kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Selain itu, masih rendahnya kesadaran berlalu lintas dari sebagian besar pengguna jalan ditambah dengan sejumlah problem teknis yang berkaitan dengan aturan dan kualitas kendaraan, kian menggenapkan alasan mengapa lakalantas menjadi tontonan rutin pada banyak kota di negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Anehnya, fenomena lakalantas seperti ini belum mendapat perhatian masyarakat sebagai penyebab kematian yang cukup besar. Padahal, setiap tahunnya di seluruh dunia terdapat sekitar 1,2 juta orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas dan 50 juta lainnya mengalami luka-luka. Seperti yang pernah dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerbitkan sebuah laporan khusus sehubungan dengan masalah lakalantas ini pada 14 April 2004 lalu dengan judul World Report on Road Traffic Injury Prevention. Menurut WHO, setiap hari setidaknya 3.000 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Dari jumlah itu setidaknya 85 persen terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah dan sedang. Kecelakaan lalu lintas juga telah menjadi penyebab 90 persen cacat seumur hidup (diasbility adjusted life years/DALYs). Di kawasan Asia Tenggara, lanjut WHO, setiap jam terdapat 34 orang meninggal karena kecelakaan di jalan raya. Tahun 2001 ada 354.000 orang meninggal karena kecelakaan di jalan dan sekitar 6,2 juta orang dirawat di rumah sakit. Sementara di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari Kepolisian RI tahun 2004, terdapat sekitar 30 orang per hari. yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Jika dirata-rata, setiap tahun 10.000 orang meninggal dunia dalam 13.000-an kasus kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Minimalkan Resiko Lakalantas Munculnya risiko di jalan raya merupakan dampak dari kebutuhan pengguna jalan dan juga volume kendaraan yang makin bertambah. Hal ini tampak dari arus lalu lintas. Tanpa adanya upaya-upaya pengamanan yang baru, semua pengguna jalan sangat mungkin terkena risiko kecelakaan seiring dengan meningkatnya lalu lintas kendaraan. Upaya-upaya keselamatan baru itu terutama dilakukan karena makin banyaknya jenis kendaraan bermotor, kebutuhan perjalanan dengan kecepatan tinggi, dan perlunya pembagian pemakai jalan baik untuk pejalan kaki, pengendara sepeda motor maupun pengguna jalan lainnya. Perhatian serius dalam penanganan masalah lakalantas seharusnya lebih difokuskan pada bagaimana upaya untuk mengurangi resiko terjadinya kecelakaan lalu lintas dan untuk meminimalkan dampak negatif akibat kecelakaan lalu lintas terhadap korban. Untuk mengurangi risiko terjadi kecelakaan, tidak mungkin dilakukan dengan cara mengurangi keinginan untuk melakukan perjalanan. Sesuatu yang mungkin adalah mengurangi lama dan intensitas kemungkinan para pengguna jalan terpapar resiko kecelakaan perjalanan. Sementara untuk meminimalkan dampak negatif akibat lakalantas terhadap korban, ada beberapa hal yang mesti kita ketahui.

Jika dicermati seksama, tingginya angka kematian dan keadaan cacat seumur hidup akibat lakalantas, pada beberapa kasus disebabkan oleh tingkat kecelakaan yang memang amat parah dan sangat mematikan. Akibatnya, pengendara dapat langsung meninggal beberapa detik setelah kecelakaan tanpa mendapat pertolongan yang berarti atau kecacatan menjadi permanen karena kehilangan salah satu bagian tubuh di lokasi kecelakaan. Untuk kasus yang lain, pada tingkat kecelakaan yang tidak separah di atas, kematian dan keadaan cacat permanen ternyata banyak dipengaruhi oleh keterlambatan penanganan medik atas korban, terutama dalam pemberian Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support/BLS) atau yang dikenal awam sebagai Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) kepada korban lakalantas yang tergolong dalam kategori darurat dan gawat-darurat. Padahal, pada kasus-kasus kegawatdaruratan medik yang berhasil diintervensi dengan P3K/BLS, tingkat kefatalan cedera dan kecacatan dapat diminimalkan. Tidak kurang pemberian Basic Life Support sangat berarti untuk menyelamatkan nyawa korban. Sebagaimana prinsipnya, pemberian P3K/BLS bertujuan untuk mempertahankan hidup dan mengurangi resiko kecacatan permanen korban kegawatdaruratan medik, sebelum mendapatkan pertolongan lanjutan berupa pelayanan kesehatan memadai di rumah sakit atau balai pelayanan kesehatan lainnya. Basic Life Support Minimnya orang yang memiliki keterampilan dasar medik seperti Basic Life Support memberi kontribusi bagi percepatan proses kematian korban dengan luka/trauma yang serius. Apalagi jika jarak antara lokasi kecelakaan cukup jauh dengan balai pelayanan kesehatan terdekat atau kendaraan yang digunakan untuk mengangkut korban ke rumah sakit/puskesmas tidak memadai, belum lagi jika terjebak macet atau jalanan yang tidak bagus. Dengan demikian, maka upaya untuk memberikan keterampilan tentang dasar-dasar penanganan kegawatdaruratan medik menjadi penting untuk segera dilaksanakan, minimal bagi mereka yang memiliki kendaraan. Lebih lebar lagi, pengetahuan tentang penanganan kegawatdaruratan medik bukan saja dipersiapkan hanya untuk menangani korban-korban lakalantas saja, melainkan harus menjadi keterampilan setiap warga masyarakat dalam mengantisipasi dampak buruk pada aktivitasnya sehari-hari ketika menjumpai kasus kegawatdaruratan. Tidak hanya terbatas pada kecelakaan lalau lintas saja, tetapi juga akan bermanfaat dalam menangani korban bencana alam atau kebakaran. Basic Life Support menjadi penting karena di dalamnya akan diajarkan tentang bagaimana teknik dasar penyelamatan korban dari berbagai kecelakaan/musibah sehari-hari yang biasa kita jumpai. Keterampilan Basic Life Support dapat diajarkan oleh siapa saja yang menguasainya secara benar kpada siapa saja, tanpa memandang usia atau jenis kelamin. Setiap orang dewasa seharusnya memiliki keterampilan BLS, bahkan juga anak-anak sesuai dengan kapasitasnya. Ini dilakukan karena kecelakaan sangat jarang bisa diprediksi datangnya dan bisa menimpa siapa saja tanpa diduga. Kelompok-kelompok beresiko tinggi terpapar kecelakaan atau

mereka yang selalu akan berinteraksi dengan kelompok yang beresiko tinggi terpapar kecelakaan, menjadi urgen untuk memiliki setidaknya keterampilan seperti ini. Sebagai langkah awal, sebelum pengujian keterampilan berkendara saat pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM) misalnya, setiap pemohon SIM mestinya diharuskan untuk mengikuti atau telah memiliki surat keterangan telah melulusi pendidikan keterampilan kegawatdaruratan medik dasar (basic life support training). Untuk skala yang lebih luas, lembaga pendidikan sebenarnya memegang peranan yang cukup besar dalam mewujudkan masyarakat yang memiliki keterampilan medik dasar. Setiap siswa SLTP, SLTA maupun mahasiswa diwajibkan menguasai keterampilan Basic Life Support yang bisa dimasukkan dalam kurikulum pendidikan atau hanya dilakukan sebagai kegiatan ekstra kokurikuler. Pada setiap institusi yang melibatkan banyak orang dengan beragam aktivitas, baik swasta maupun milik pemerintah, kiranya kegiatan-kegiatan untuk memberikan keterampilan seperti ini juga perlu dilakukan. Hanya saja, pemberian keterampilan Basic Life Support seperti ini jangan sampai dianggap untuk menafikkan fungsi tenaga-tenaga medis yang pekerjaannya antara lain memang diorientasikan untuk memberi pelayanan kesehatan. Upaya ini mesti dipahami sebagai bagian dari ikhtiar bersama untuk mengurangi resiko akibat kecelakaan dan musibah lainnya yang setiap saat mengancam jiwa masyarakat. Ketergantungan masyarakat kepada tenaga-tenaga medis untuk melakukan tindakan penyelamatan dasar bagi korban kecelakaan, sudah waktunya kita tanggalkan. Selain itu, perlu juga dipahami terutama oleh pemerintah, memberikan keterampilan medik dasar seperti BLS ini kepada masyarakat, sesungguhnya belum bisa dianggap sebagai satu-satunya upaya penting mengurangi resiko kecelakaan, tetapi mesti diikuti dengan peningkatan pelayanan kesehatan, terutama bagi kasus-kasus kegawatdaruratan yang tiba di balai pelayanan kesehatan. Karena sesungguhnya, juga tidak sedikit kematian dan kecacatan terjadi akibat kelambatan penanganan medik di rumah sakit atau puskesmas. Sebagian besar disebabkan oleh permasalahan biaya perawatan, sebagian lainnya dibelenggu oleh birokrasi rumah sakit. Selain itu, masih lemahnya (atau belum ada?) sistem terpadu penanganan kejadian gawat darurat seperti bencana alam, kesibukan lalu lintas saat hari raya dan potensi kecelakaan lainnya, tak luput memberi sumbangsih cukup berarti berbagai keterlambatanketerlambatan penanganan yang dilakukan. Saya kira ini juga patut segera diselesaikan oleh pemerintah, hampir sama urgennya merealisasikan pemberian keterampilan basic life support bagi setiap warga masyarakat. Setidaknya dengan melakukan upaya ini, pemerintah dapat meminimalkan jumlah kematian dan angka kecacatan seumur hidup (Diasability Adjusted Life Years/DALYs) yang disebabkan oleh bukan saja kecelakaan lalu lintas, melainkan juga bencana dan kecelakaan lainnya yang setiap saat dapat terjadi, di mana dan kepada siapa saja.[] http://astaqauliyah.com/2006/07/masyarakat-perlu-miliki-keterampilan-kegawatdaruratan-medik/

Kegawat Daruratan Labels: HEALTH Pertolongan pertama merupakan pertolongan secara cepat dan bersifat sementara waktu yang diberikan pada seorang yang menderita luka atau terserang penyakit mendadak. Tujuan yang penting dari pertolongan pertama adalah memberikan perawatan yang akan menguntungkan pada orang-orang tersebut sebagai persiapan terhadap penanganan lanjut. Pelayanan keperawatan gawat darurat adalah pelayanan profesional yang didasarkan pada ilmu dan metodologi keperawatan gawat darurat yang berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif ditujukan kepada klien/pasien yang mempunyai masalah aktual atau resiko yang disertai kondisi lingkungan yang tidak dapat dikendalikan. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dikembangkan sedemikian rupa sehingga mampu mencegah kematian atau kecacatan yang mungkin terjadi. Contoh kasusnya yaitu Cardiac Arrest, Fibrilasi Ventrikel, Tension Pneumothorax dan lainnya dimana pada aplikasinya digunakan simbol warna, pada kasus gawat darurat yang mengancam jiwa menggunakan simbol warna biru. Keadaan ini mengharuskan penanganan segera pada ruang resusitasi. Kondisi darurat tidak gawat merupakan suatu kondisi dimana terjadi gangguan integritas fisiologis atau psikologis secara mendadak. Misalnya pasien dengan dislokasi, nyeri kepala non spesifik dan lainnya. Dalam Aplikasi pada IRD menggunakan simbol warna kuning. Sedangkan kondisi gawat tidak darurat adalah suatu kondisi yang potensial dapat mengancam jiwa dan dapat merusak fungsi vital organ seperti jantung, otak dan paru-paru. Contoh kasusnya antara lain acute dyspnea, nyeri abdominal akut, konfusi akut dan lain sebagainya. Pada aplikasi menggunakan simbol warna merah. (emedicine.com) Prosedur Umum Penanganan Kegawatdaruratan Beberapa prinsip umum manajemen kegawatdaruratan adalah yaitu : 1.Bersikap tenang tapi cekatan dan berpikir sebelum bertindak (jangan panik). 2.Sadar peran perawat dalam menghadapi korban dan wali/saksi. 3.Melakukan pengkajian yang cepat dan cermat terhadap masalah yang mengancam jiwa (henti napas, nadi tidak teraba, perdarahan hebat, keracunan). 4.Melakukan pengkajian sistematik sebelum melakukan tindakan secara menyeluruh. 5.Pertahankan korban pada posisi datar atau sesuai (kecuali jika ada ortopnea), lindungi korban dari kedinginan. 6.Jika korban sadar, jelaskan apa yang terjadi, berikan bantuan untuk menenangkan dan yakinkan akan ditolong. 7.Hindari mengangkat/memindahkan yang tidak perlu, memindahkan jika hanya ada kondisi yang membahayakan. 8.Jangan diberi minum jika ada trauma abdomen atau perkiraan kemungkinan tindakan anastesi umum dalam waktu dekat. 9.Jangan dipindahkan (ditransportasi) sebelum pertolongan pertama selesai dilakukan dan terdapat alat transportasi yang memadai. Terdapat lima prosedur umum yang memberikan keseluruhan kerangka kerja pada penanganan pasien kegawatdaruratan : 1.Memeriksa situasi Informasi yang cepat dan tepat harus dikumpulkan dan diinterpretasikan oleh penolong pertama, terutama mengenai penyebab, riwayat kejadian, riwayat penyakit pasien termasuk obat-obatan yang telah digunakan. Bila pengkajian dilakukan dengan cepat pada suatu kasus akan menolong menentukan prioritas dan mencegah komplikasi yang utama. 2.Menentukan sifat dan kedalam cidera, penyakit atau masalah-masalah. Dalam menentukan sifat dan kedalam dari suatu kegawatdaruratan, sifat berarti tipe seperti jantung, paru-paru atau trauma. Kadang hal ini tumpang tindih antara satu sistem dengan sistem lain seperti jantung paru-paru. Kegawatdaruratan dalam konteks ini harus dilihat sebagai perkiraan resiko kehidupan atau tahapan perkembangan kegawatdaruratan. a.Pemeriksaan pasien 1)Memeriksa tanda-tanda vital 2)Memeriksa perdarahan yang hebat 3)Memeriksa keracunan internal 4)Memeriksa syok 5)Memeriksa bagian-bagian tubuh 6)Memeriksa penyakit yang timbul mendadak dan kondisi nontraumatik. b.Tanda-tanda dan gejala-gejala yang

penting 7)Menentukan tingkat kesadaran 8)Warna kulit 9)Pernafasan 10)Denyut nadi 11)Pupil 12)Nyeri 13)Kemampuan bergerak 14)Bengkak 15)Deformitas 16)Perdarahan dari orificium 17)Mual / muntah 18)Kejang Memberikan pertolongan pertama yang tepat Seleksi terhadap prosedur pertolongan pertama tergantung pada interpretasi data. Pengkajian pasien dimulai dengan mengevaluasi tanda-tanda vital dan proses yang sangat serius sampai yang kurang serius, sehingga sistem prioritas yang sama dapat dilakukan pada pemberian pertolongan pertama. Penanganan kegawatdaruratan yang mengancam kehidupan harus segera dilakukan lebih dulu daripada kondisikondisi yang kurang serius. Segera setelah kondisi serius dilakukan perawatan, maka penolong pertama dapat beralih ke kondisi kurang serius. Cardiopulmonary arrest dan perdarahan hebat merupakan prioritas utama. Waktu merupakan suatu faktor krisis disini. Keracunan dan syok berat juga merupakan priorotas tertinggi. Prioritas selanjutnya adalah kegawatdaruratan yang membutuhkan tindakan medis segera segera jika kehidupan / nyawa masih dapat dipertahankan. Hal ini termasuk koma, serangan jantung, CVA, luka bakar berat, stroke dan kegawatdaruratan bedah seperti kerusakan limpa dan perdarahan internal lainnya. Kesulitan atau komplikasi dalam persalinan juga dipertimbangkan sebagai prioritas kegawatdaruratan tinggi. Bila cidera atau kondisi medis yang mengancam jiwa sudah diatasi, pengkajian dilanjutkan dengan sistematis. 4.Memberikan otoritas dan mengatur pemindahan. Penolong pertama sewaktu memulai pertolongannya harus menginstruksikan orang yang ada disekitarnya untuk meminta bantuan. Jika penolong sendirian perlu untuk memberikan pertolongan pertama yang vital bagi kehidupan dan harus dilakukan rujukan ke rumah sakit yang lebih tinggi bila peralatan dan petugas kurang memadai. 5.Lengkapi tindakan lanjutan (follow up). Merupakan prosedur-prosedur yang mendukung, mengganti dan menyertai pertolongan pertama. Kisaran dari yang umum ke perawatan teknis. Pada dasarnya pertolongan pertama harus mempertimbangkan hal-hal ini sebagai prosedur perawatan lanjutan : a.Mempertahankan jalan napas dan cek tanda-tanda vital. b.Memberikan rasa nyaman pasien bila mungkin c.Mempertahankan suhu tubuh d.Memberikan dukungan mental. e.Memberikan cairan kecuali kontraindikasi f.Mengontrol orang yang melihat kejadian g.Menyimpan rujukan. Tetapi untuk kegawatdaruratan mayor, urutan lima prosedur ini bisa mengalami perubahan tergantung situasinya. Sebagai contoh pengaturan otoritas dan pemindahan pasien bisa dilakukan sebelum prosedur pertolongan pertama selesai. Dalam beberapa jenis keadaan kegawatdaruratan yang telah disepakati pimpinan masing-masing rumah sakit, maka perawat yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat dapat bertindak langsung sesuai dengan prosedur tetap rumah sakit yang berlaku. Peran ini sangat dekat kaitannya dengan upaya penyelamatan jiwa pasien secara langsung. Dalam kegawatdaruratan diperlukan 3 kesiapan, yakni : 1.Siap mental, dalam arti bahwa emergency can not wait. Setiap unsur yang terkait termasuk perawat harus menghayati bahwa aritmia dapat membawa kematian dalam 1 2 menit. Apnea atau penyumbatan jalan napas dapat mematikan dalam 3 menit. 2.Siap pengetahuan dan ketrampilan. Perawat harus mempunyai bekal pengetahuan teoritis dan patofisiologi berbagai penyakit organ tubuh penting. Selain itu juga keterampilan manual untuk pertolongan pertama. 3.Siap alat dan obat. Pertolongan pasien gawat darurat tidak dapat dipisahkan dari penyediaan/logistik peralatan dan obat-obatan darurat. (Widiasih, 2003). http://jhonkarto.blogspot.com/2009/02/kegawat-daruratan.html

ENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT

Tujuan penulisan ini adalah untuk menambah pengalaman/pengetahuan kita, terutama saya sendiri dalam menangani kegawatan yang kadang ditemui sedangkan fasilitas/ alatnya belum/ tidak ada sebelum penderita dibawa kerumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Untuk bahan penulisan ini sebagai acuan saya, sebagian diambil dari katalog dalam terbitan DEPKES RI DIRJEN Pelayanan Medik tahun 1995 tentang pedoman pelayanan Gawat Darurat, dari buku-buku atau yang saya pelajari sewaktu belajar di lembaga pendidikan Formal serta pelatihan yang saya ikuti. Saya menyadari banyak kekurangan dari tulisan saya ini akibat kurangnya ilmu dan pengalaman saya sehingga saya berharap masukan saran, tambahan pengetahuan maupun kritik dari pembaca sekalian. Terima kasih atas segala perhatiannya.

PNGERTIAN ; A. Pasien Gawat Darurat Pasien yang tiba-tiba dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya ( akan menjadi cacat ) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya.

B. Pasien Gawat Tidak Darurat Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat, misalnya kanker stadium lanjut.

C. Pasien Darurat Tidak Gawat Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badannya, misalnya luka sayat dangkal.

D. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat Misalnya pasien dengan ulcus tropium/ koreng/ borok, TBC kulit dan sebagainya