Anda di halaman 1dari 6

LBM 5 Step 1 : 1.

Alergi penisilin: Alergi terhadap obat golongan penisilin Keadaan dimana tubuh itu menolak obat golongan penisilin Reaksi sensitivitas organ tubuh atau bagian tubuh terhadap obat penisilin Suatu reaksi penolakan tubuh /reaksi sensitivitas

2. Trismus derajat ringan : Keadaan susahnya membuka mulut dan dapat melakukan aktivitas membuka mulut dengan lebar 2 cm

Step 2 : 1. Osteomyelitis pada rahang mandibula 2. Penatalaksanaan kegawatdaruratan dentalalveolar pada pasien osteomyelitis 3. Abses perimandibular dan osteomyelitis

Step 3 : 1. Etiologi osteomyelitis? Penyebab utamanya adalah penyakit periodontal dan yang paling berperan adalah bakteri golongan streptococcus anaerob Gangren radik Setelah pencabutan dan pembedahan gigi dengan prosedur yang kurang steril sehingga menjadi jalan masuk bakteri Non - odontogenik : trauma,penyakit sistemik :DM ,penyakit kanker yang dapat menurunkan imunitas tubuh, penyakit jantung sebagai predisposisi,..,malnutrisi, pasien yang menjalankan kemoterapi,alkoholik,dll 2. Klasifikasi (sign and symptom) Berdasarkan cara penyebarannya Os.primersecara langsung Os.sekundermelalui saluran pernapasan Berdasarkan lama perjalanan peyakit Akut Kronis Berdasarkan berasal penyakitnya Stapilokokus streptococus Pneumokokus

Berdasarkan peradangan:akut dan subkronis (tama dan bunga)

Os.supuratif dan os.non- supuratif (wellli) 3. Patofisiologi: Adanya radang yang disebabkan oleh bakteri,cindi 4. Differensial diagnose 5. Perbedaan abses perimandibular dan osteomylitis 6. Pemeriksaan osteomyelitis? 7. Penatalaksanaan osteomyelitis? 8. Pencegahan osteomyelitis? 9. Prognosis? 10. Apakah dengan dosis yang di skenario ini mempengaruhi keadaan pasien? 11. Mengapa pasien demam dan nadi,dan napas cepat? 12. Apa ada hubungan mengkonsumsi obat analgenik (oskadon) dengan osteomyelitis? 13. Kenapa pasien merasa bibirnya tebal?patofisiologinya bagaimana? 14. Apakah ada pengaruh kadar gula yang sekitar 250 (tinggi) dengan osteomyelitis? 15. Mengapa terjadi kegoyahan pada gigi 46 dan 47?

Step 7 : 1. Etiologi osteomyelitis? Infeksi bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari fokus infeksi di tempat lain (mis. Tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat di mana terdapat trauma dimana terdapat resistensi rendah kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).

Osteomielitis dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak (mis. Ulkus dekubitus yang terinfeksi atau ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis, fraktur ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang. Pasien yang beresiko tinggi mengalami osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk, lansia, kegemukan atau penderita diabetes. Selain itu, pasien yang menderita artritis reumatoid, telah di rawat lama dirumah sakit, mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang, menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang atau sedang mengalami sepsis rentan, begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, mengalami nekrosis insisi marginal atau dehisensi luka, atau memerlukan evakuasi hematoma pascaoperasi.

2. Klasifikasi (sign and symptom) Menurut kejadiannya osteomyelitis ada 2 yaitu : 1) Osteomyelitis Primer Kuman-kuman mencapai tulang secara langsung melalui luka. 2) Osteomyelitis Sekunder Adalah kuman-kuman mencapai tulang melalui aliran darah dari suatu focus primer ditempat lain (misalnya infeksi saluran nafas, genitourinaria furunkel). Osteomyelitis menurut perlangsungannya dibedakan atas : 1) Steomyelitis akut Nyeri daerah lesi Demam, menggigil, malaise, pembesaran kelenjar limfe regional Sering ada riwayat infeksi sebelumnya atau ada luka Pembengkakan lokal Kemerahan Suhu raba hangat Gangguan fungsi Lab = anemia, leukositosis

2) Osteomyelitis kronis Ada luka, bernanah, berbau busuk, nyeri Gejala-gejala umum tidak ada Gangguan fungsi kadang-kadang kontraktur Lab = LED meningkat

Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenic : Staphylococcus (orang dewasa) Streplococcus (anak-anak) Pneumococcus dan Gonococcus

3. Patofisiologi : Staphylococcus aurens merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya sering dijumpai pada osteomielitis meliputi Proteus, Pseudomonas dan Ecerichia coli.Awitan osteomielitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan stadium I) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4

sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan. Respons inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan Vaskularisas dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya, kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang. Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan; namun yang lebih sering harus dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Terjadi pertumbuhan tulang baru (involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup pasien. Dinamakan osteomielitis tipe kronik. 4. Differensial diagnose : a) Selulitis b) Gangren gas c) Gout dan Pseudogout 5. Perbedaan abses perimandibular dan osteomylitis 6. Pemeriksaan osteomyelitis? 7. Penatalaksanaan osteomyelitis? a) Daerah yang terkena harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran daerah. b) Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi, Kultur darah dan swab dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi organisme dan memilih antibiotika yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh lebih dari satu patogen.Setelah spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika intravena, dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap penisilin semi sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengontrol infeksi sebelum aliran darah ke daerah tersebut menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus menerus sesuai waktu sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam darah yang terus menerus tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak telah

terkontrol, antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama makanan. c) Bila pasien tidak menunjukkan respons terhadap terapi antibiotika, tulang yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat dan daerah itu diiringi secara langsung dengan larutan salin fisiologis steril tetapi antibitika dianjurkan. d) Pada osteomielitis kronik, antibiotika merupakan ajuvan terhadap debridemen bedah. Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli bedah dapat mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang untuk memajankan rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal (saucerization). Semua tulang dan kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi penyembuhan yang permanen. e) Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead space) atau dipasang tampon agar dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafting dikemudian hari. Dapat dipasang drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan mebuang debris. Dapat diberikan irigasi larutan salin normal selama 7 sampai 8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian irigasi ini. f) Rongga yang didebridemen dapat diisi dengan graft tulang kanselus untuk merangsang penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan transfer tulang berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil dari jaringan sekitarnya namun dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro ini akan meningkatkan asupan darah; perbaikan asupan darah kemudian akan memungkinkan penyembuhan tulang dan eradikasi infeksi. Prosedur bedah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan. Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau penyokong dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah tulang.

Pada dasarnya penanganan yang dilakukan adalah : 1. Perawatan dirumah sakit. 2. pengobatan suportif dengan pemberian infus dan antibiotika. 3. Pemeriksaan biakan darah. 4. antibiotika yang efektif terhadap gram negatif maupun gram positif diberikan langsung tanpa menunggu hasil biakan darah, dan dilakukan secara parenteral selama 3-6 minggu. 5. Imobilisasi anggota gerak yang terkena.

6. Tindakan pembedahan.

8. Pencegahan osteomyelitis? Penanganan infeksi lokal dapat menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak pada mengontrol erosi tulang. Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatian terhadap lingkungan operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomielitis pascaoperasi. Antibiotika profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat pembedahan dan selama 24 jam sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu. Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptik akan menurunkan insiden infeksi superfisial dan potensial terjadinya osteomielitis.

9. Prognosis? Prognosis bevariasi, tergantung pada kecepatan dalam mendiagnosa dan melakukan penanganan 10. Apakah dengan dosis yang di skenario ini mempengaruhi keadaan pasien? 11. Mengapa pasien demam dan nadi,dan napas cepat? 12. Apa ada hubungan mengkonsumsi obat analgenik (oskadon) dengan osteomyelitis? 13. Kenapa pasien merasa bibirnya tebal?patofisiologinya bagaimana? 14. Apakah ada pengaruh kadar gula yang sekitar 250 (tinggi) dengan osteomyelitis?ada,memperburuk keadaan lesi 15. Mengapa terjadi kegoyahan pada gigi 46 dan 47?