Anda di halaman 1dari 21

BAB I LINGKUNGAN PENGAUDITAN

1. Pengertian pengauditan: Proses yang sistimatis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti-bukti secara obyektif, yang berkaitan dengan pernyataan-pernyataan tentang tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi, untuk menentukan kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, dan menyampaikan hasilnya kepada pihak yang berkepentingan. Proses sistematis berarti suatu langkah atau prosedur yang bertujuan, logis dan terstruktur serta pendekatan yang ilmiah untuk pengambilan keputusan. Secara obyektif berarti tanpa memihak pada siapapun ataupun berprasangka tehadap bukti-bukti tersebut. Obyek audit adalah pernyataan atau asersi manajemen yang dapat berupa laporan keuangan atau bentuk informasi lainya, sedangkan kriteria yang ditetapkan akan berbedabeda tergantung pada obyek, tujuan serta pelaksanaan audit. Hasil audit (laporan auditor independen) akan disampaikan kepada pihak yang berkepentingan atau pengambil keputusan.

2. Type atau jenis audit terdiri dari (1) audit laporan keuangan, dilakukan untuk memberikan pendapat apakah laporan keuangan secara keseluruhan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Obyek audit adalah lapoan keuangan yang terdiri neraca, laporan rugi-laba, dan laporan arus kas. (2) jenis audit kedua adalah audit ketaatan atau audit kesesuaian (compliance audit), yang mempunyai tujuan untuk menentukan apakah perusahaan telah mengikuti prosedur-prosedur khusus atau ketentuan-ketentuan yang ditetapkan pihak-pihak yang berwenang. (3) audit pelaksanaan, audit manajemen, atau audit operasional (operating audit atau management audit),

mengkaji ulang hasil operasi dengan tujuan untuk menilai efisiensi dan efektifitasnya.

3. Jenis auditor meliputi (a) internal auditors, adalah karyawan perusahaan yang berfungsi untuk menguji dan mengevaluasi atau melakukan penlaian secara indepeden terhadap kegiatan-kegiatan yang terjadi pada bagian atau pada orgnisasi secara keseluruhan terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan penendalian intern. (b) external 1

auditors atau independent auditor, adalah auditor yang berkedudukan bebas tidak memihak, baik kepada perusahaan maupun kepada pemakai laporan, yang dilakukan oleh akuntan publik atau auditor independent. Government auditors, adalah pegawai pemerintah baik tingkat daerah maupun pusat. Dalam melakukan fungsi audit (baik audit laporan keuangan, ketaatan maupun audit operasional) untuk kepentingan lembaga pemerintah atau senat (DPR).

4. Jasa akuntan publik (a) bersifat atestasi, yaitu jasa yang akhirnya auditor harus memberikan pernyataan pendapat atau pertimbangan tentang kesesuaian suatu asersi atau pernyataan dengan kriteria yang sudah ditetapkan, meliputi audit laporan keuangan, examinasi yaitu audit selain audit laporan keuangan, review atau kajian ulang, dan prosedur yang telah disepakati. (b) nonatestasi, jasa yang bersifat penasehatan atau jasa yang auditor tidak memberikan pernyataan pendapat terhadap hasilnya.(jasa akuntansi, perpajakan, tehnologi dan konsultasi).

5. Organisasi yang berkaitan dengan Profesi Akuntan Publik, berupa oganisasi swasta dan organisasi publik adalah sebagai berikut; Organisasi Sektor Swasta
American Institute of Certified Public Accountants State Societies of Certified Public Accountants Practice Unit (Kantor Akuntan Publik) Accounting Standard Setting Bodies FASB and GASB

Organisasi Sektor Publik


State Board of Accountancy Securities anf Exchange Commission U.S. General Accounting Office Internal Revenue Service U.S. Congress

6. Untuk membantu menjaga kualitas pelaksanaan jasa audit dan jasa lainnya, profesi telah mengembangkan rerangka regulasi pada berbagai tingkat yang terdiri dari empat dikelompok: (a) Pembuat Standar (standard setting), sektor swasta yang menetapkan standar akuntansi, jasa profesional, kode etik, dan pengendalian kualitas untuk mengatur perilaku akuntan publik dan kantor akuntan public, (b) Aturan kantor akuntan publik (firm regulation). Setiap kantor akuntan publik menerapkan kebijakan dan prosedur untuk menjamin bahwa akuntan yang berpraktek mengikuti standar

professional (c) Self-or peer regulation, Organisasi akuntan publik Amerika telah menerapkan program menyeluruh untuk dirinya sendiri termasuk keharusan pendidikan profesi secara terus menerus, audit terhadap kantor akuntan publik (peer review), penjelasan atas kegagalan audit, dan kelalaian pada umumnya (public oversight) (d) Peraturan dari lembaga pemerintah, misalnya pengenai perijinan praktek, pengawasan dan aturan dari dewan akuntansi, bursa efek dan, dan lembaga pengadlan.

BAB II PENGAUDITAN LAPORAN KEUANGAN DAN TANGGUNGJAWAB AUDITOR


1. Hubungan Akuntansi dan Auditing. Metoda akuntansi meliputi identifikasi kejadian dan transaksi yang mempengaruhi perusahaan, kemudian mengukur, mencatat, mengklasifikasikan dan meringkas dalam catatan akuntansi. Hasil dari proses tersebut adalah laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi berterima umum (PABU). Tujuan utama akuntansi adalah mengkomunikasikan data keuangan yang relevan dan dapat dipercaya yang akan bermanfaat dalam pengambilan keputusan oleh pemakainya (bersifat konstruktif). Audit, khusunya audit laporan keuangan, meliputi pemahaman terhadap bisnis dan industi klien, dan memperoleh bukti yang berkaitan dengan laporan keuangan manajemen, sehingga memungkinkan auditor untuk memverifikasi apakah laporan tersebut telah menyajikan posisi keuangan, hasil operasi dan laporan aus kas secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Manajemen bertanggung untuk taat kepada prinsip akuntansi berterima umum, sedangkan auditor bertanggungjawab untuk taat pada standar auditing berterima umum dalam memperoleh dan mengevaluasi bukti dan dalam penerbitan laporan audit yang berisi kesimpulan auditor yang diungkapkan dalam bentuk pendapat terhadap laporan keuangan.

2. Tujuan audit laporan keuangan. Tujuan umum audit laporan keuangan menyatakan pendapat apakah laporan keuangan disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Untuk mencapai tujuan tesebut, auditor harus mengidentifikasikan tujuan khusus (specific audit objective), yang diambil dari asersi-asersi manajemen yang terkandung dalam laporan keuangan. Ada lima asersi yang terkandung secara eksplist maupun implisit dalam laporan keuangan, yaitu: o Adanya atau terjadinya, berkaitan dengan apakah aktiva atau utang perusahaan ada pada tanggal neraca, dan apakah transaksi yang tercatat telah terjadi pada periode yang diaudit. 4

o Kelengkapannya, berkaitan dengan apakah semua transaksi dan rekening yang seharusnya disajikan dalam laporan keuangan benar-benar telah termasuk didalamnya. o Hak dan kewajiban, berkaitan dengan apakah aktiva benar-benar hak perusahaan, dan utang adalah kewajiban perusahaan. o Penilaian atau alokasi, berkaitan dengan apakah komponen aktiva, utang, pendapatan, dan biaya telah dimasukkan dalam laporan keuangan dengan jumlah yang benar. o Penyajian dan pengungkapan, berkaitan dengan apakah masing-masing komponen laporan keuangan telah diklasifikasikan, diungkapkan secara benar.

3. Perlunya audit laporan keuangan. FASB menyatakan bahwa relevance dan reliability merupakan dua ukuran kualitas informasi akuntansi sehingga bermanfaat dalam pengambilan keputusan. Pemakai laporan mengharapkan bahwa auditor independen dalam laporannya telah memenuhi dua kualitas tersebut. Alasan diperlukanya audit atas laporan keuangan: (a) adanya perbedaan kepentingan (conflict of interest) antara manajemen dengan pemegang saham atau pemakai laporan keuangan lainnya, (b) concequencie, setiap keputusan mempunyai konsekuensi yang luas, oleh karena itu laporan keuangan sebagai dasar pengambilan keputusan harus obyektif, sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum dengan pengungkapan yang memadai, (c) karena kekomplekan data akuntansi memungkinkan resiko terjadinya salah saji sangat tinggi. Dengan laporan keuangan auditan, pemakai laporan memperoleh jaminan tentang kualitas laporan keuangan yang diterimanya, (d) Para pemakai laporan tidak dapat mengakses secara langsung catatan-catatan akuntansi yang menjadi dasar penyusunan laporan keuangan (remoteness), mereka mempercayakan kepada auditor independen, untuk menilai kualitas suatu laporan keuangan.

4. Manfaat ekonomis dari audit laporan keuangan: (a) dapat memasuki pasar modal, karena suatu perusahaan yang akan memperdagangkan sahamnya di pasar modal disyaratkan memasukkan laporan keuangan auditan, (b) biaya modal yang murah. Dengan laporan keuangan auditan memungkinkan perusahaan memperoleh pinjaman dari

lembaga keuangan dengan syarat yang menguntungkan. (c) jika karyawan mengetahui bahwa perusahaan akan diaudit mengakibatkan mereka akan lebih berhati-hati dalam melakukan fungsi akuntansi, sehingga jauh dari kerugian karena penggelapan, (d) meningkatkan pengendalian operasional. Auditor independen sering memberikan saran perbaikan pengendalian internal sehingga akan diperoleh operasi yang lebih efisiensi.

5. Keterbatasan laporan keuangan auditan antara lain (a) biaya audit yang terbatas mengakibatkan audit hanya didasarkan pada sejumlah sampel, dan auditor mengandalkan pada baiknya fungsi pengendalian intern, (b) waktu pelaksanaan audit yang terbatas, mengakibatkan terbatasnya bukti peristiwa kemudian yang mungkin mempengaruhi laporan keuangan. Disamping itu, banyaknya alternatif prinsip akuntansi, dan estimasi akuntansi yang dipilih perusahaan, mengakibatkan keharusan pemakai lapoan untuk memahami hal-hal tersebut.

6. Standar Pengauditan, merupakan pedoman dalam pelaksanaan audit laporan keuangan, dan merupakan ukuran mutu pelaksanaan audit. Terdiri dari tiga standar umum yaitu: (a) Keahlian dan pelatihan yang memadai. Kompetensi auditor ditentukan oleh tiga faktor, pertama, untuk menjadi auditor harus secara formal berpendidikan tingkat universitas, kedua, pelatihan dan pengalaman dalam auiting, ketiga, pendidikan profesi berkelanjutan selama berkarier sebagai auditor profesional (b) Independen dalam sikap mental. Kompeten saja tidak cukup, auditor harus bebas dari pegaruh klien dalam pelaksanaan dan pelaporan temuan. (c) Kecermatan dan keseksamaan. Dalam melaksanakan profesinya. Auditor diharapkan tekun dan berhati-hati dalam melaksanakan audit dan melaporkan temuantemuannya.

Tiga standar pekerjaan lapangan: (a) Pekerjaan harus direncanakan secara memadai dan bila digunakan asisten harus disupervisi secukupnya. Perencanaan termasuk penentuan strategi audit dan perancangan program audit. Supervisi sangat diperlukan karena sebagian besar program audit dilaksanakan oleh tenaga asisten. (b) Pemahaman terhadap pengendalian intern, dan (c) Perolehan bukti yang cukup dan kompeten. Bukti audit merupakan dasar pemberian pendapat terhadap laporan keuangan, dan unuk memenuhi standar tersebut, auditor harus mampu melaksanakan kebijakan secara profesional dalam menentukan banyaknya dan kualitas bukti yang harus diperoleh. Empat standar pelaporan meliputi: (a) Laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Auditor harus mengidentifikasi prinsip akuntansi yang diterapkan dan kriteria yang digunakan dalam mengevaluasi asersi laporan keuangan manajemen. (b) Konsisten dalam penerapan prinsip akuntansi berterima umum. Auditor harus secara eksplisit menyatakan dalam laporannya adanya prinsip akuntansi yang diterapkan secara tidak konsisten dibandingkan dengan tahun sebelumnya. (c) Pengungkapan informasi secara memadai. Standar ini berkaitan dengan cukupnya catatan terhadap laporan keuangan, kecuali yang diungkapkan dalam bentuk tambahan atau suplement. Auditor harus mengungkapkan dalam laporanya hanya jika pengungkapan manajemen kurang mencukupi. (d) Pernyataan pendapat. Standar terakhir mengharuskan auditor untuk menyatakan pendapatnya terhadap laporan keuangan secara keseluruhan atau menyatakan bahwa pendapat tidak dapat dinyatakan.. Standar pengauditan harus diterapkan pada setiap pelaksanaan audit laporan keuangan oleh auditor independen, tanpa harus memperhatikan ukuran besaran klien, bentuk organisasi, jenis industri atau apakah organisasi bertujuan mencari laba atau tidak mencari laba. Dihubungkan dengan prosedur audit, maka standar audit harus diterapkan pada setiap audit laporan keuangan, sedangkan prosedur audit mungkin akan berbeda dari klien yang satu dengan klien yang lain tergantung pada besarnya perusahaan, karakteristik pemilikan, serta sifat dan kekompleksan operasinya.

7. Jaminan dan tanggung jawab auditor. Pemakai laporan keuangan auditan mengharapkan auditor untuk: (a) melaksanakan audit secara teknis dengan kompeten, integritas, independen, dan obyektif. (b) Meneliti dan mendeteksi salah saji material, baik yang disegaja maupun yang tidak disengaja, (c) mencegah diterbitkannya laporan keuangan yang menyesatkan. Oleh karena itu auditor bertanggungjawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit secara memadai untuk memperoleh bukti yang cukup dan kompeten sehingga diperoleh keyakinan atau jaminan yang memadai bahwa laporan keuangan tidak mengandung salahsaji yang material, auditor tidak menjamin ketelitian laporan keuangan, karena audit hanya didasarkan sample, bukan detail audit. (a) Auditor bertanggungjawab untuk mendeteksi kecurangan maupun kekeliruan yang tidak disengaja. Apabila auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan mengandung salah saji yang material dan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum, laporan keuangan harus direvisi oleh manajemen. Jika manajemen setuju untuk merevisi maka aditor dapat menerbitkan laporan audit benuk standar dengan opini wajar tanpa pegecualian. Auditor bertanggungjawab untuk mengkomunikasikan temuan kecurangan kepada manajemen dan jika memungkinkan kepada yang lain. (b) Auditor bertanggungjawab untuk mendeteksi dan melaporkan adanya tindakan pelanggaran hukum (illegal act). Apabila tindakan pelanggaran hukum mempunyai pengaruh yang material terhadap laporan keuangan maka laporan keuangan harus direvisi oleh manajemen, jika manajemen tidak setuju, berarti lapora keuangan tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum dan auditor mempunyai tanggungjawab menginformasikan kepada pemakai laporan keuangan melalui pendapat wajar dengan pengecualian atau tidak wajar dengan menjelaskan sifat dan batasan luasnya pegujian. (c) Auditor beranggung jawab untuk mengungkapkan (dalam laporannya) tentang kemampuan klien untuk beroperasi secera menerus (going concern). Penyajian laporan keuangan yang wajar tidak menjamin kelangsungan hidup (going concern) perusahaan, dengan demikian memungkinkan laporan keuangan yang wajar namun kemudian perusahaan jatuh bangkrut. Auditor bertanggungjawab untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan untuk beroperasi secara menerus (going concern). Apabila ada indikasi,

misalnya perusahaan merugi terus, kesulitan keuangan jangka pendek (negatif cash flows), auditor harus tidak menerbit laporan auditor bentuk standar.

8. Laporan Auditor, merupakan komunikasi formal antara auditor dengan pihak yang berkepentingan, kesimpulan tentang laporan keuangan auditan. Dalam mengeluarkan laporan, auditor harus memenuhi 4 standar pelaporan dari standar auditing berterima umum. Laporan audit bentuk standar, yang pada umumnya diterbitkan, berisi pendapat wajar tanpa pengecualian, berarti laporan keuangan, dalam semua aspek yang material, posisi keuangan, hasil operasi dan arus kas telah disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum, Pendapat tersebut hanya dapat diberikan apabila auditor telah melaksanakan auditnya sesuai dengan standar auditing berterima umum. Laporan audit bentuk standar (bentuk baku) terdiri dari 3 paragraf, paragraf pertama merupakan paragrap pendahuluan berisi Jenis jasa yang diberikan, Laporan keuangan yang diaudit (obyek auditing) Organisasi atau perusahaan yang diaudit, Tanggal/periode laporan keuangan, Tanggung jawab manajemen terhadap laporan keuangan, Tanggung jawab auditor terhadap pendapatnya. Paragraf kedua luasnya audit, menjelaskan sifat dan luasnya audit untuk memenuhi standard pelaporan yang ke empat yang menghendaki agar auditor memberikan indikasi yang jelas mengenai karakter atau sifat auditnya, dan berisi pernyataan : Auditnya dilaksanakan sesuai dengan standard auditing yang berterima umum, yang menghendaki : (a) perencanaan dan pelaksanaan audit untuk memperoleh jaminan yang memadai bahwa laporan keuangan adalah bebas dari kesalahan penyajian yang material, (b) pemeriksaan bukti berdasarkan pengujian (test basis), (c) penilain terhadap prinsip akuntansi yang digunakan dan penafsiran-penafsiran penting yang dibuat manajemen, (d) evaluasi secara menyeluruh terhadap laporan keuangan.

Auditor percaya bahwa hasil auditnya memberikan dasar yang memadai terhadap pendapatnya. Paragraf ketiga laporan auditor berisi kesimpulan auditor tentang laporan

keuangan yang diaudit berdasar temuan-temuanya. Paragraf ini memenuhi persyaratan ke empat standard pelaporan, yang pada dasarnya menyatakan pendapat auditor terhadap laporan keuangan : menyajikan secara wajar, dalam semua aspek yang meteriil posisi keuangan perusahaan pada tanggal neraca, hasil operasi dan aliran kas pada periode tersebut, kesesuaianya dengan prinsip akuntansi berterima umum..

Auditor dapat menerbitkan laporan auditor bentuk tidak standar apabila persyaratanpersyaratan untuk menerbitkan laporan auditor bentuk standar tidak dipenuhi, sehingga harus memberikan pendapat selain wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion). Halhal yang menyebabkan diterbitkannya laporan auditor tidak standar antara lain sebagai berikut : Auditor ingin menekankan sesuatu hal dalam laporannya, sehingga pendapat yang diberikan adalah wajar tanpa pengecualian dengan bahasa tambahan Auditor merasa perlu untuk menambah informasi tambahan. Luas atau lingkup pemeriksaan dibatasi oleh klien, sehingga dengan pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion), Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting tertentu atau tidak memperoleh bukti-bukti yang kompeten karena keadaan diluar kemampuan klien maupun auditor sendiri. Laporan keuangan disusun dan disajikan tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum, sehingga laporan keuangan tidak wajar (adverse opinion), Pengetrapan prinsip akuntansi tidak konsisten dengan tahun-tahun sebelumnya. Adanya ketidakpastian luar biasa yang mempengaruhi laporan keuangan yang tidak dapat diperkirakan atau diperhitungkan pada tanggal laporan akuntan. Auditor berkedudukan tidak bebas atau tidak independen, atau auditor tidak mengaudit sehingga menolak memberikan pendapat (disclaimer of opinion). 10

BAB III KODE ETIK PROFESI

Etik merupakan prinsip moral dan perbuatan yang menjadi landasan bertindaknya seseorang sehingga apa yang dilakukannya dipandang oleh masyaakat sebagai tindakan yang terpuji dan meningkatkan martabat dan kehormatan seseorang. Etik banyak berhubungan dengan sifat manusia yang ideal dan disiplin pribadi, sehingga etik merupakan sopan santun atau tatanan moral dalam suatu profesi atau jabatan. Akuntan publik (auditor) sebagai suatu profesi mempunyai kode etik profesi. Kode etik AICPA dapat berupa pernyatan-pernyataan umum (general statement) tentang perbuatan yang terpuji atau berupa norma atau peraturan khusus (specific rules) untuk menentukan perbuatan-perbuatan atau perilaku yang tercela atau tidak, yang dibenarkan oleh profesinya. Komposisi kode etik AICPA terdir dari dua bagian yaitu PRINSIP- PRINSIP dan ATURAN PELAKSANAAN (rules of conduct). Ada 6 prinsip, yaitu: (a) Tanggungjawab. Dalam menunaikan tanggung jawab profesionalnya, anggota harus sensitif terhadap profesinya dan moral yang bijaksana dalam semua aktivitasnya. (b) Kepentingan umum. Anggota harus menerima kewajiban untuk bertindak sebagai pelayan kepada kepentingan umum, menghormati bantuan publik, dan menunjukkan komitmen terhadap profesionalismenya. (c) Integritas. Untuk memelihara dan meluruskan kerahasiaan publik, anggota harus melaksanakan tangung jawab profesionalnya dengan perasaan integritas yang tertinggi. (d) Obyektivitas dan independen. Anggota harus menjaga obyetivitas dan bebas dari konflik kepentingan dalam penentuan menghargai tanggung jawab profesional. Anggota dalam melaksanakan praktek untuk publik harus independen dalam fakta dan dalam penampilan dalam pemberian jasa audit dan jasa atestasi lainnya. (e) Kecermatan. Angota harus mencermati standar teknik dan standar etika serta berusaha secara menerus untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas jasanya, dan menghargai (menentukan biaya) tanggungjawab profesionalnya sesuai kemampuanya yang terbaik. 11

(f) Luas dan sifat jasa. Anggota yang berpraktek untuk umum harus mencermati prinsip-pinsip dari Kode Etik Pelaksanaan Profesi dalam menentukan sifat dan luasnya jasa yang diberikan.

Aturan Pelaksanaan. Bagian kedua dari Code of Professional Conduct AICPA berisi 11 aturan yang harus dipatuhi, yaitu (1) independensi, (2) integritas dan

obyektivitas, (3) standar umum, (4) kepatuhan pada standar, (5) prinsip akuntansi, (6) tanggungjawab kepada klen, (6) kerahasiaan informasi klien, (7) honorarium bersyarat (8) tindakan tidak terpuji, (9) advertensi dan bentuk perminaan yang lain, (10) komisi dan fee pelimpahan jasa (referral fee), (11) bentuk organisasi dan nama

12

BAB IV TINJAUAN AUDIT LAPORAN KEUANGAN

1. Empat tahap dalam audit laporan keuangan meliputi (1) penerimaan klien, (2) perencanaan audit, (3) pelaksaanaan pengujian audit, (4) pelaporan temuan. Dalam penerimaan klien dilakukan langkah-langkah berikut: (a) Evaluasi integritas manajemen. Tujuan utama audit laporan keuangan adalah menyatakan pendapat terhadap kewajaran laporan keuangan yang disajikan manajemen. Oleh karena itu auditor hanya akan menerima penugasan audit kalau ada jaminan bahwa menajemen dapat diajak kerjasama. Jika manajemen tidak mempunyai integrritas, besar kemungkinan laporan keuangan mengandung salah saji. Integritas manajemen dapat diketahui melalui komunikasi dengan auditor sebelumnya, wawancara dengan pihak ketiga lainnya (penasehat hukum, bankir, komunitas keuangan dan bisnis). (b) Identifikasi keadaan khusus dan risiko luar biasa. Dalam langkah ini dilakukan identifikasi pemakai laporan keuangan auditan, prediksi kestabilan keuangan dan legalitas operasi perusahaan, identifikasi batasan-batasan luasnya audit, serta evaluasi sistim pelaporan keuangan dan kemungkinanya untuk diaudit. (c) Penentuan kompetensi untuk melaksanakan audit. Audit harus dilakukan oleh seorang atau beberapa orang yang mempunyai kemahiran teknis dan ahli sebagai audior. Oleh karena itu auditor harus mempertimbangkan jasa yang diperlukan, identifikasi team audit, dan mempertimbangkan dibutuhkannya tenaga ahli (tenaga spesialis). (d) Evaluasi independensi. Dalam penugasan auditor harus mengambil keputusan menerima atau menolak independensi, baik

mempertimbangkan

faktor

independensi dalam fakta maupun independensi dalam penampilan (hubunganya dengan klien). (d) (e) Keputusan untuk menerima atau menolak penugasan, Membuat surat penugasan.

13

2. Perencanaan Audit. Pekerjaan harus direncanakan secara memadai, dan kalau digunakan asiaten harus disupervisi secara benar. Langkah-langkah dalam perencanaan audit meliputi: 1) Peroleh pemahaman bisnis dan industri klien, pemahaman siklus bisnis klien, tujuan dan sasaran manajemen, organisasi sumber daya, identifikasi produk dan jasa, pasar, pelanggan dan pesaing, proses inti dan sikluas operasi, penanaman dan sumber pendanaan.. 2) Melakukan prosedur analitis. Dalam phase ini auditor harus mengidentiikasi ratio yang harus dihitung, mengembangkan ekspektasi, menentukan pembanding, investigasi selisih yang signifikan dan menentukan pengaruhnya terhadap perencanaan audit. 3) Menentukan tingkat materialitas tahap awal. Konsepsi dari materialitas adalah dihilangkannya atau disalahsajikanya informasi akuntansi, dalam keadaan tertentu, memungkinkan berubahnya atau mempengaruhi kebijakan atau keputusan bagi seseorang yang medasarkan diri pada informasi yang dihilangkan atau disalahsajikan tersebut. Ada dua tingkatan materialitas, yaitu tingkat laporan keuangan dan tingkat saldo rekening. 4) Mempertimbangkan resiko audit (audit risk - AR), adalah resiko bahwa auditor tidak menyadari gagal untuk menyesuaikan pendapatnya terhadap laporan keuangan yang ternyata terdapat salah saji yang materiil. Resiko audit terdiri dari (1) risiko melekat (inherent risk - IR), resiko terjadinya salah saji yang materiil dengan anggapan tidak ada pengendalian. (2) resiko pengendalian (contro risk - CR), yaitu resiko terjadinya salah saji materiil yang terjadi dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau di deteksi oleh internal kontrol perusahaan, secara tepat waktu dan (3) resiko temuan (detection risk DR), resiko bahwa auditor tidak akan dapat mendeteksi salah saji yang material yang terjadi pada suatu asersi, karena prosedur audit yang diterapkan tidak efektif. Model resiko audit 5) AR = IR x CR x DR.

Mengembangkan strategi audit tahap awal untuk asersi yang penting. Ada dua strategi audit yang dapat dikembangkan oleh auditor, yaitu strategi mengutamakan pengujian substantip (primary substantve test) dan strategi dengan menetapan tingkat resiko pengendalian yang rendah (a lower assessed level of control risk)

14

3. Pemahaman Internal Control. Internal control adalah suatu proses yang dipengauhi oleh dewan komisaris, manajemen dan personalia lain, dirancang untuk memberikan jaminan yang memadai berkaitan dengan pencapaian tujuan yang dikategorikan (a) dapat dipercayainya pelaporan keuangan, (b) dipatuhinya hukum dan regulasi yang berlaku, (c) efektivitas dan efisiensi operasi. Komponen internal control: (a) Lingkungan pengendalian. Mencerminkan keseluruhan sikap, kesadaran dan tindakan dari dewan komisaris, manajemen pemilik dan pihak lain yang berkaitan dengan pentingnya pengendalian. Lingkungan pengendalian terdiri dari berbagai faktor lingkungan suatu perusahaan, antara lain integritas dan nilai etika, komitmen terhadap kompetensi, dewan komisaris dan komite audit, philosofi dan gaya operasi manajemen, struktur organisasi, penetapan wewenang dan tanggungjawab, serta praktek dan kebijakan personalia. (b) Penilaian resiko. Penilaian atau penentuan resiko untuk tujuan pelaporan keuangan adalah identifikasi, analisis manajemen resiko bersangkutan dengan penyajian laporan keuangan yaitu disajikan secara wajar sesuai prisip akuntansi berterima umum. (c) Informasi dan komunikasi. Sistem informasi dan komunikasi berkaitan dengan tujuan pelaporan keuangan, yang termasuk dalam sistem akuntansi, terdiri dari metoda dan catatan yang ditetapkan untuk mengidentifikasi, menggolongkan, menganalisis, mengklasifikasikan, mencatat dan melaporkan transaksi dan memelihara akuntabilitas yang berkaitan aktiva dan utang, Komunikasi meliputi pemberian pemahaman yang jelas tentang aturan dan tanggungjawab berkaitan dengan pengendalian internal terhadap pelaporan keuangan. (d) Aktivitas pengendalian. Adalah kebijakan dan prosedur untuk memastikan bahwa petunjuk atau perintah manajemen dillaksanakan (dipatuhi). Mereka membantu bahwa tindakan penting telah dilakukan yang ditujukan pada resiko pencapaian tujuan perusahaan. Aktivitas atau prosedur pengendalian dapat diterapan pada berbagai golongan transaksi dan diberbagai tingkat organisai dan fungsi. Misalnya pada transaksi penjualan, pembelian, yang pada intinya meliputi adanya otorisasi,

15

pemisahan tugas, dokumen dan catatan, pengendalian kewenangan serta adanya pengecekan secara independen. (e) Monitoring, adalah proses untuk menilai kualitas internal control, termasuk penilaian terhadap perancangan dan pengoperasian pengawasan berbsais tepat waktu dan tindakan koreksi yang diperlukan. Pengendalian intern harus dipahami secara memadai dengana tahap-tahap sebagai berikut: Melakukan review pendahuluan atau memahami pengendalian yang dirancang oleh manajemen, serta menentukan potensinya.untuk dapat diandalkan, Dokumentasi hasil pemahaman dalam kertas kerja audit dengan bentuk bagan arus (flow charting), daftar pertanyaan (qustionar) atau uraian tertulis (narative), Melakukan observasi transaksi sepintas. Melakukan Pengujian pengendalian (test of control). Penentuan resio pengendalian. Menentukan pengaruh strukur pengendalian terhadap perencanaan audit dan luasnya pengujian (substantaive test).

4. Perolehan Bukti Audit.

Bukti yang kompeten dan cukup harus diperoleh

melalui inspeksi, obsevasi, wawancara, konfrmasi, sebagai dasar pemberian pendapat atas laporan keuangan yang diaudit. Bukti audit adalah segala informasi yang

mendukung data yang disajikan dalam laporan keuangan, yang terdiri dari data akuntansi dan informasi pendukung lainnya, yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya. Bukti yang cukup (sufficient) berhubungan dengan jumlah atau kuantitas bukti yang harus diperoleh auditor. Masalah jumlah bukti yang dianggap cukup untuk mendukung suatu pernyataan pendapat, tergantung pada kebijaksanaan atau pertimbangan auditor berdasarkan kemahiran profesionalnya (profesional judgement). Dalam menentukan jumlah bukti yang cukup auditor harus mempertimbangkan faktorfaktor sebagai berikut: (a) faktor materialitas dan resiko (b) faktor ekonomis atau efisiensi.dan (c) banyaknya dan karakteristik populasi. Kompetensi bukti berkaitan dengan kualitas atau mutu dari bukti. Bukti yang kompeten adalah bukti yang dapat dipercaya, sah, obyektif, dan relevan. Kompetensi bukti tergantung pada berbagai faktor, yaitu, sumber bukti, relevansi bukti, obyektivitas bukti, dan saat atau waktu dipakainya

16

bukti. Bukti dapat dikelompokkan sebaga berikut: pengedalian intern, catatan akuntansi, bukti phisik, bukti dokumenter, perhitungan, bukti lisan, bukti analisis, bukti dari

spesialis, pernyataan tertulis dan konfirmasi. Penentuan jumlah bukti yang cukup dapat ditentukan secara statistik (attribut sampling method untuk pengujian pengendalian dan variable sampling method untuk pengujian substantive) dan nonstatistik.

5. Prosedur Audit. Auditor memperoleh bukti-bukti yang dapat dipercaya dan cukup melalui penerapan prosedur audit. Prosedur audit adalah tindakan-tindakan yang dilakukan atau metoda-metoda dan teknik-teknik yang digunakan oleh auditor untuk memperoleh bukti audit. Prosedur audit yang dapat digunakan untuk memperoleh

bukti yang kompeten atau dapat dipercaya adalah: o Inspeksi o Observasi o Konfirmasi o Wawancara o Perbandingan o Pengkajian Ulang o Penilaian o Verifikasi o Penelusuran (tracing) o Pembuktian (vouching) o Kalkulasi Kembali o Analisis o Rekonsiliasi o Penjajagan o Perhitungan (count) o Pengujian (test)

6.

Kertas Kerja Audit. Bukti-bukti atau informasi yang dikumpulkan selama

malaksanakan audit tersebut harus didokumentasikan dalam bentuk kertas kerja audit. Kertas Kerja adalah catatan tentang bukti-bukti audit atau informasi-informasi yang diperoleh selama pelaksanaan audit serta metoda-metoda maupun prosedur-prosedur yang diterapkan, pengujianpengujian yang dilakukan serta kesimpulan-kesimpulan yang telah dibuat oleh auditor Pengarsipan kertas kerja dibagi menjadi arsip permanen (permanent file) dan arsip tahun berjalan (current file).

17

BAB V PENGUJIAN SIKLUS TRANSAKSI

Dalam mengaudit laporan keuangan dapat dilakukan dengan pendekatan saldo maupun pendeatan siklus sehingga ang menjadi subyek pengendalian adalah transaksi yang terjadi pada kelompok transaksi yan pada umumnya terdiri: Siklus 1 Siklus Pendapaan Kelompok Transaksi Utama Penjualan dan harga pokok penjualan, penyesuaian penjualan, penerimaan kas. 2. Siklus Pengeluaran 3. Siklus Produksi 4. Siklus Persnalia 5. Siklus Investasi (penyertaan) 6. Siklus Pendanaan Utang jangka panjang dan Modal saha, Pembelian, penerimaan Kas. Transaksi-transaksi manufaktur. Penggajian Penyertaan jangka pendek dan jangka panjang

Auditor harus memahami sifat masing-masing siklus dan menentukan tujuan spesifik dari masing-masing siklus sehingga dalam penerapan prosedur audit sudah mengarah perolehan bukti yang relevan dengan tujan audit. Berikut dicontohkan tujuan spesifik siklus pendapatan dilanjutkan penentuan hubungan tujuan dan prosedur audit. dan Semua transaksi penjualan kredit yang tercatat mencerminkan barang/jasa yang yang diberikan ke pelanggan selama periode yang diaudit. Transaksi penerimaan kas yang tercatat mencer-minkan kas yang diterima selama periode yang diaudit dari penjualan tunai dan pelunasan kredit Transaksi penyesuaian penjualan yang tercatat mencerminkan potongan, retur penjualan dan piutang yang tidak dapat ditagih, yang telah dioto-risasi selama periode terrsebut. Piutang Usaha mencerminkan jumlah yang masih diutang oleh pelanggan pada tanggal neraca. Kelengkapannya Semua transaksi penjualan kredit, penerimaan kas, dan penyesuaian penjualan yang terjadi selama periode yang diaudit telah dicatat. Piutang Usah telah meliputi semua hak klien kepada pelanggan pada tanggal Adanya terjadinya

18

neraca. Hak dan Kewajiban Perusahaan mempunyai hak terhadap piutang dan kas hasil dari transaksi siklus pendapatan yang tercatat. Piutang pada tanggal neraca mencerminkan hak klien yang harus dibayar oleh pelanggan. Penilaian dan Alokasi Semua transaksi penjualan, penerimaan kas dan penyesuaian penjualan telah dijurnal dengan benar. Saldo piutang usaha mencerminkan total klaim kepada pelanggan dan telah sesuai dengan jumlah yang tercatat pada buku besar pembantu piutang Rekening cadangan kerugian piutang atau accumulated uncollectable accouts mencerminkan taksiran yang wajar perbedaan antara piutang bruto dengan realisasi netonya. Penyajian dan Rincian penjualan, penerimaan kas, dan penyesuaian penjualan telah mendukun pengungkapan penyajianya padaa laporan keuangan, termasuk klasifikasinya dan pengungkapan yang terkait. Piutang Usaha telah diidentifikasikan dan diklasifi kasikan pada neraca secar benar. Pengungkapan yang memadai telah dibuat berkaitann dengan piutang pada nerac secara benar. Penjualan, potongan penjualam, retur penjualan dann kerugian piutang telah diidentifikasikan dan diklasi-fikasikan secara benar pada laporan keuangan .

Perencanan audit harus disusun untuk masing-masing siklus, yang melipui pemahaman bisnis dan indusri klien, penerapan prosedur analitis, penentuan mateialitas, penentuan resiko audit dan pemahaman sistem pengendalian termasuk pengujian pengendalian, penentuan strategi audit dan penyusunan program audit.

19

Hubungan tujuan dan prosedur audit untuk penjualan, piutang dan kas Tujuan Audit Adanya/terjadinya Prosedur Audit Penjualan Pengujian cutoff. Piutang Saldo Kas

Konfirmasi debitur Konfirmasi bank. Pengujian cutoff. Prosedur analitis. Pengujian cutoff. Pengujian cutoff Periksa rekonsiliasi bank. Periksa transfer antar-perusahaan dan antar-bank.

Kelengkapnya Prosedur analitis.

Hakdan Kewajiban

Pengujian cutoff.

Konfirmasi debitur. Konfirmasi bank. Review kolektibilitas. Konfirmasi debitur. Konfirmasi bank. Verifikasi ketelitian Revieu matematis saldo kas. kolektibilitas. Pengujian cutoff.

Penilaian/ Alokasi

Prosedur analitis.

Penyajian & Pengungkapa n

Bandingkan Bandingkan Bandingkan dengan penyajian dengan penyaji-an dengan penyajian PABU. PABU. PABU.

PABU = Prinsip Akuntansi Berterima Umum

20

BAB VI PENYELESAIAN AUDIT DAN TANGGUNG JAWAB PASCA AUDIT

1. Penyelesaian Audit untuk memperoleh bukti-bukti tambahan yang mendukung pendapatnya, pada umumnya auditor melakukan prosedur atau langkah-langkah berikut: 1) Pengujian substantif akun-akun pendapatan dan biaya 2) Pengujian estimasi akuntansi 3) Penyelesaian pekerjaan lapangan, dengan melakukan: 4) Merevieu peristiwa kemudian Membaca notulen rapat Memperoleh bukti yang berkaitan dengan proses pengadilan, tuntutan atau klaim, dan pembebanan Memperoleh surat representasi manajemen Mengevaluasi temuan-temuan Evaluasi temuan-temuan: Penentuan materialitas dan risiko audit tahap akhir Merumuskan pendapat auditor dan konsep laporan

5) Komunikasi dengan klien tentang: Struktur pengendalian intern Pelaksanaan audit

2. Tanggung jawab auditor setelah selesai pekerjaan lapangan adalah mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Peristiwa kemudian yang terjadi antara tanggal selesainya pekerjaan lapangan dengan laporan auditor. Penemuan fakta yang ada pada tanggal laporan audit. Pertimbangan terhadap peniadaan prosedur audit setelah tanggal laporan audit.

21