Anda di halaman 1dari 10

MODUL 4. MANAJEMEN ADMINISTRASI NEGARA INDONESIA 1. PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN A. Perencanaan menurut para ahli : Luther H.

.Gullick dan Lyndall Urwick yang menyampaikan tujuh prinsip POSDCoRB (Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, dan Budgeting) menyatakan perencanaan sebagai kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan penyusunan garis-garis besar yang memuat apa yang harus dikerjakan dan metodemetode untuk melaksanakan dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Harold Koontz dan ODonnel menjelaskan bahwa perencanaan berkaitan dengan pemilihan Di antara beberapa alternatif usaha kegiatan untuk masa yang akan datang bagi setiap unit yang berada di dalam suatu organisasi secara keseluruhan. Kast dan Rosenzweig (dalam Widodo,20021) menyatakan perencanaan adalah proses memutuskan apa yang akan dilakukan dan bagaimana caranya, perencanaan mencakup misi, identifikasi bidang dan menentukan serangkaian tujuan khusus serta menyusun kebijakan, program, dan prosedur untuk mencapainya. Perencanaan komprehensif adalah suatu kegiatan yang terpadu yang berusaha untuk memaksimalkan efektivitas keseluruhan organisasi sebagai suatu sistem yang sesuai dengan tujuan dan sasarannya. Dari berbagai literatur mengenai arti perencanaan maka dapat dibuat suatu batasan dari perencanaan, dimana perencanaan adalah sebagai suatu: Proses, Keputusan, dan Fungsi Manajemen. B. Pentingnya Perencanaan: untuk efisiensi, memperkirakan dan membatasi kondisi ketidakpastian di masa datang, pengukur/standar kegiatan pengawasan/penilaian C. Ciri Perencanaan yang Efektif: harus jelas tujuannya, sederhana/tidak rumit, mudah dianalisis dan diklasifikasikan, fleksibel, tersedianya sumber-sumber dalam perencanaan, menjawab pertanyaan apa, mengapa, bilamana, di mana, siapa dan bagaimana, operasional, ambisius tapi realistis, berkelangsungan, punya skala prioritas. D. Tahapan Perencanaan: perincian tujuan lengkap dan jelas, ada perumusan kebijakan, ada analisis dan penetapan cara dan sarana, ada penunjukan pelaksanaan, ada penentuan sistem pengendalian E. Perencanaan Program: yakni suatu aktivitas penyusunan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Program sendiri artinya adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga yang mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. F. Jenis-Jenis Perencanaan: jangka panjang: long-range planning, policy planning, organizational planning, long-term plan or master plan, menengah: medium range planning, intermediate planning: 3-10 tahun atau umumnya 5 tahun, jangka pendek: annual planning, perencanaan kerja, perencanaan untuk memecahkan masalah yang mendesak. G. Perencanaan Berdasar Materi, terbagi 2: a) perencanaan kebijakan/policy planning, berhubungan dengan pengembangan garis besar/tujuan umum yang harus dilakukan pemerintah demi kepentingan umum; b) perencanaan program/program planning, tugas utama pimpinan dalam pemerintahan, mencerminkan kegiatan nyata dan terperinci. H. Perencanaan dan Penganggaran: penganggaran dibuat dalam perencanaan untuk memastikan agar yang direncanakan dapat dilaksanakan. Dalam penyelarasan

perencanaan dan penganggaran harus dipastikan keserasian hubungan kerja sama dan koordinasi antara unit perencanaan dan unit penganggaran dan penyusunan anggaran dengan lembaga-lembaga yang memerlukan persetujuan bersama kedua unit organisasi tersebut. Harus diatur secara jelas peran DPR/DPRD dan Pemerintah dalam proses penyusunan dan penetapan anggaran. I. Problem dalam Perencanaan : i)kejadian yang tidak dapat diramalkan sebelumnya, ii)kekurangan informasi, iii) kebijakan pemerintah, iv) pelaksana kebijakan memerlukan waktu yang lebih lama atau biaya yang lebih besar, v)kendala ketika melibatkan beberapa unit atau lembaga (ada unit yang lepas tanggung jawab dan takut disalahkan), vi) terlalu menekankan segi kuantitatif, vii)terlalu dilihat dari aspek hasilnya sehingga cara mencapai tujuan tidak diperhatikan. 2. KOORDINASI A. Pengertian Koordinasi: sistem dan proses interaksi untuk mewujudkan keserasian dan keterpaduan berbagai kegiatan inter dan antar lembaga-lembaga negara di institusi ataupun dengan menggunakan sistem manajemen dengan TI atau MIS. B. Pentingnya Koordinasi: i) karena unit tidak berdiri sendiri, tapi kesatuan/sistem dari organisasi yang lebih besar; ii) adanya ketergantungan dalam masalah pekerjaan yang menimbulkan hambatan pelaksanaan pekerjaan; iii) karena keberhasilan organisasi secara keseluruhan harus diprioritaskan; iv) kecenderungan menganggap spesialisasi pekerjaannya sendiri lebih penting, bidang lain tidak; v) terbatasnya sumber daya, harus dimanfaatkan semaksimal mungkin; vi) terutama di daerah, koordinasi dan konsistensi pelaksanaan kebijakan dan rencana nasional dengan daerah perlu senantiasa diusahakan dan ditingkatkan. Hendaknya kebijakan daerah melengkapi rencana nasional dan diusahakan keserasian pelaksanaannya. Kepala Daerah berwenang mengoordinasikan pelaksanaan pembangunan daerah. C. Fungsi Koordinasi 1) fungsi manajemen; 2) usaha menjamin kelancaran mekanisme prosedur kerja dari berbagai komponen dalam organisasi; 3) mengarahkan dan menyatukan kegiatan satker organisasi agar bergerak sebagai kesatuan yang bulat 4) faktor dominan bagi kelangsungan hidup organisasi; 5) bukan hanya masalah teknis semata, tetapi dilakukan terus menerus dari pemegang fungsi organik; 6) berperan penting dalam merumuskan pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab; 7) mengantisipasi pertumbuhan organisasi seperti penambahan jabatan dan pejabat; 8) mengatasi kerumitan yang semakin bertambah dengan munculnya spesialisasi. D. Jenis Koordinasi a) Koordinasi vertikal: dari pejabat pimpinan instansi kepada pejabat/pegawai atau instansi bawahannya, terdapat hubungan hierarkis karena berada pada suatu garis komando b) Koordinasi Fungsional Horizontal: dilakukan oleh instansi yang secara fungsional bertanggung jawab atas suatu masalah/program terhadap instansi lain yang turut

terlibat dalam penanganan masalah/program tersebut, dilakukan pejabat suatu unit/instansi terhadap pejabat unit/instansi lain yang setingkat dengannya . c) Koordinasi Fungsional Diagonal: dilakukan instansi yang mempunyai struktur lebih tinggi, yang dalam struktur organisasinya dan secara operasional bukan atasannya, namun secara fungsional mengoordinasikannya. Contoh: BKN ke BKD d) Koordinasi Fungsional Teritorial: dilakukan pejabat pimpinan/suatu instansi dalam wilayah/teritorial tertentu terhadap pejabat /instansi lain di mana semua urusan berada di wilayah tersebut menjadi wewenang atau tanggung jawabnya. Koordinasi efektif bila: ada kejelasan penanggung jawab kegiatan, tujuan organisasi memperhatikan tujuan satker, kejelasan wewenang, tanggung jawab dan tugas satker, koordinasi dalam penyusunan anggaran, menjaga hubungan baik antar institusi Hambatan dalam Koordinasi a. Kurangnya pemahaman pentingnya fungsi koordinasi b. Kurangnya kemampuan menjalankan koordinasi: kurang kecakapan, kewibawaan dan kemampuan manajerial lainnya. c. Pimpinan unit kerja menganggap tugasnya sendiri paling penting dibanding lainnya d. Pimpinan unit kurang menyadari koordinasi adalah bagian dari tugas dan tanggung jawabnya untuk mencapai tujuan organisasi secara menyeluruh e. Prosedur dan tata kerja kurang jelas dan berbelit-belit f. Kurang tersedianya sarana melakukan komunikasi antar para pejabat 3. Pengawasan dalam Administrasi Negara A. Pengertian Pengawasan: segenap kegiatan untuk meyakinkan dan menjamin bahwa pekerjaan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, kebijakan yang telah digariskan dan perintah yang telah diberikan dalam rangka pelaksanaan rencana tersebut Hasil pengawasan: untuk bahan penyempurnaan terhadap unsur aparatur negara dan untuk melakukan penindakan penertiban bagi tindakan penyelewengan yang melanggar peraturan per UU yang berlaku B. Jenis Pengawasan a. Pengawasan Melekat Sistem Pengendalian Internal (Waskat-SPI): merupakan serangkaian kegiatan yang bersifat pengendalian yang terus menerus oleh atasan langsung terhadap bawahannya, baik preventif (sebelum tindakan dilaksanakan) atau represif (setelah tindakan dilaksanakan terhadap penyimpangan yang terjadi dari tata kerja, prosedur kerja dan peraturan per UU yang berlaku). b. Pengawasan Fungsional (Wasnal): dilaksanakan aparat yang ditunjuk khusus untuk melakukan audit secara independen terhadap objek yang diawasinya. Fungsinya membantu tugas pimpinan dalam bidang manajemen, waskat atau pengendalian tugas secara efektif dan efisien. Wasnal wajib melaporkan temuannya kepada pimpinan serta memberi saran dari hasil pengawasan tsb. Terdiri dari; i) BPKP, Itjen di Departemen, Inspektorat di LPND, Bawasda di Prop, Bawasda di Kab/Kota, SPI di BUMN/BUMD.; ii) Pengawasan Eksternal Pemerintah bid. Keuangan dilakukan BEPEKA. c. Pengawasan Legislatif (Wasleg/Pengawasan Politik (Waspol): Sesuai UUD 1945, DPR wajib melakukan pengawasan terhadap Pemerintah. Di daerah, wasleg dilakukan oleh DPRD.

d. Pengawasan oleh Lembaga Lainnya: contohnya KPKPN (Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara) yang bertugas melakukan pemeriksaan terhadap kekayaan penyelenggara negara untuk mencegah KKN. Bertanggung jawab langsung kepada Presiden, dan bebas dari pengaruh eksekutif, legislatif dan yudikatif. e. Pengawasan Masyarakat (Wasmas): dilakukan masyarakat atas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan C. Pengawasan Keuangan Negara Dilakukan baik eksternal maupun internal. 1) BEPEKA : bebas dan mandiri, tidak dipengaruhi pemerintah dan instansi lain, dalam melaksanakan tugas memperhatikan dan memanfaatkan hasil pekerjaan aparat pengawasan intern pemerintah yang wajib menyampaikan hasil pengawasannya ke BEPEKA. 2) BPKP: harus memperhatikan hasil pengawasan BAWASDA. 3) BAWASDA: mengawasi internal keuangan Pemda. Hasil pengawasan disampaikan kepada BPKP dan BEPEKA untuk ditindaklanjuti 4. Kontrol Birokrasi Metode Organisasi: terbagi 2: a) publisitas: bermanfaat dalam kaitannya dengan tindakan individu baik tindakan melebihi batas atau terlalu patuh pada prosedur dan peraturan. b) disiplin internal: alat yang efektif melakukan kontrol adm birokrasi tanpa harus membebani kontrol politik eksternal. c) tekanan kelompok dan publik (public and group pressure): kontrol adm tanpa menimbulkan konflik antara institusi melalui kelompok penekan dan pendapat publik Metode Kontrol Politik: oleh Lembaga Legislatif melalui penganggaran (funding): dengan cara penetapan APBN yang diusulkan pemerintah, investigasi (investigation): hak interpelasi, hak angket, dan hak menyatakan pendapat, dan posaudit (post audit); melalui pemeriksaan pembukuan pemerintah. E. Perizinan Merupakan satu bentuk pelaksanaan fungsi pengaturan dan bersifat pengendalian yang dimiliki pemerintah, seperti: pendaftaran, rekomendasi, sertifikasi, penentuan kuota dan izin melaksanakan sesuatu (license) yang harus dimiliki atau diperoleh suatu perusahaan atau seseorang sebelum dapat melakukan suatu kegiatan. Dalam memberikan perizinan, pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai segi seperti aspek sosial, ekonomi dan keamanan.

MODUL 5. ADMINISTRASI KEUANGAN DAN ADMINISTRASI MATERIL 1. Administrasi Keuangan A. Dasar Hukum Administrasi Keuangan: BAB VIII Pasal 23 UUD 1945 yang di amandemen Tahun 2002: 1) APBN ditetapkan tiap tahun . RUU APBN dilakukan Presiden, dibahas bersama DPR dengan pertimbangan DPD. Jika DPR tidak menyetujui RAPBN, dijalankan APBN tahun lalu; 2) segala pajak dibebankan pada masyarakat; 3) macam dan harga mata uang ditetapkan dengan UU; 4) pasal 23C ditetapkan bahwa hal lain mengenai Keuangan Negara diatur dengan UU; 5) tanggung jawab memeriksa keuangan negara oleh BPK, hasil pemeriksaan diserahkan kepada DPR, DPD, DPRD, ditindaklanjuti lembaga sesuai UU. B. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara: Penerapan APBN harus disetujui DPR menjadi UU APBN; digunakan sebagai dasar, pedoman, batas penggunaan dan sekaligus program rencana kerja pemerintah dalam melaksanakan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/APBN 1. Anggaran: i) Anggaran Pembangunan: penerimaan bersumber dari tabungan pemerintah dan sumber lain seperti bantuan LN; ii) Anggaran Rutin: pendapatan negara secara rutin dan terus menerus, seperti pajak. 2. Prinsip Anggaran Belanja Negara: a) hemat, tidak mewah, efisien, sesuai dengan kebutuhan teknis: efektif, terarah dan terkendali sesuai perencanaan dan mengutamakan penggunaan produksi dalam negeri; b) harga barang menguntungkan negara dan dapat dipertanggungjawabkan, kualitas barang jasa didasarkan persyaratan teknis terbaik atau yang diperlukan; c) dilarang menggunakan APBN untuk perayaan, peringatan hari besar, pemberian hadiah, dan iklan ucapan selamat dan sejenisnya. 3. Tahapan atau Siklus APBN
1. Penyusunan Rencana Anggaran 2. Pengajuan Rancangan Anggaran ke DPR 3. Pembahasan Rancangan Anggaran di DPR

6. Pengawasan dan Pemeriksaan atas Pelaksanaan anggaran oleh BPK

5. Pelaksanaan Anggaran oleh Pemerintah

4. Pengesahan Rancangan Anggaran oleh DPR

4. Prioritas Penggunaan Pengeluaran Pembangunan: a) mendayagunakan proyek yang sedang berjalan; b) menyediakan dana pendamping rupiah untuk Banlu; c) membiayai kegiatan operasi dan pemeliharaan dari pengeluaran pembangunan; d) mengutamakan program nasional (wajib belajar dan pengentasan kemiskinan); e) melayani proyek yang berdampak luas pada kesejahteraan dan kecerdasan rakyat.

5. Anggaran Rutin: a) penyusunan dimulai dari pidato Presiden pengantar nota keuangan untuk TA berjalan, sedang penyusunan pengeluaran rutin dimulai dari penyusunan DUK oleh instansi yang disampaikan DJA; b) satuan Tiga A turun ke Departemen, instansi menyusun konsep DIK disertai memori penjelasan, DIK dibahas dengan DJA, hasilnya disampaikan ke Kemenkeu. c) DJA menandatangani DIK a/n Menkeu dan Menteri/Kepala/ketua Instansi untuk catatan DIK. 6. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, dikelola oleh Daerah, dampaknya: a) penetapan persentase bagi hasil yang jelas; b) plafon DAU diberikan kepada daerah dan DAK yang diatur dalam PP NO. 104 Tahun 2000; c) Kebebasan Daerah mengadakan pinjaman ari sumber dana dalam negeri berdasar PP No. 107 Tahun 2000; d) dibentuknya dana cadangan daerah untuk membiayai pembangunan; e) perubahan format APBD, sebelumnya berimbang dan dinamis yang memungkinkan defisit; f) laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan dan kinerja keuangan; g) kebebasan daerah mengelola keuangan daerah. 7. Pendapatan Asli Daerah : hasil pajak, retribusi, perusahaan milik daerah, pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain ( penjualan aset dan jasa giro) C. Laporan Keuangan a) Bentuk Laporan: i) bulanan (SPJR/P, LKKR/P), triwulan dan laporan konsolidasi; ii) laporan triwulan pemeriksaan kas (registrasi dan berita acara pemeriksaan kas) sekurang-kurangnya 3 bulan sekali baik anggaran rutin/proyek; iii)hasil penerimaan: laporan penerimaan pajak dan pengeluaran pajak, kegiatan rutin atau proyek. b) Penyampaian Laporan: kas rutin/proyek: LKKR/P disampaikan kepada: i) Dirjen/Pejabat setingkat dan Ka. Kanwil Dept/LPND up Kabag. Keuangan/Kabag Umum Dep/LPND bersangkutan dan unit Pelaporan; ii) Ke. Ka.KPKN , paling lambat 7 bulan untuk kegiatan yang lalu. D. Pengawasan Keuangan 1. Bentuk Pengawasan: a) preventif: dilakukan sebelum adanya pengeluaran, bahkan sebelum adanya perjanjian yang mengikat pemerintah untuk membayar, massal DUK yang memerlukan pengesahan oleh DJA dan DIP, yang perlu disahkan oleh DJA dan Bappenas. Contoh: peraturan mengenai standarisasi, harga, tata cara pengolahan DIP atau peraturan mengenai pelelangan umum dan terbatas; b)represif: dilakukan sesudah pembayaran selesai dilaksanakan. Contoh: pemeriksaan SPJ dan surat bukti yang dikeluarkan KPN dan Eselon I, pemeriksaan kas oleh atasan bendaharawan yakni Irjen Dept, BKKP, dan BPK. Bisa dari segi keuangan dan ketaatan atas peraturan per UU yang berlaku terhadap pelaksanaan APBN dan APBD, pelaksanaan penggunaan kekayaan negara, pengecekan inventaris barang milik negara, dan pengelolaan kas negara. 2. Pengawasan Tingkat Eksekutif: dimiliki setiap departemen, yakni Itjen. Selain itu juga BPKP. 3. Pengawasan Tingkat Legislatif: DPR dan BEPEKA. 2. Administrasi Materiil Materiil: peralatan, perbekalan, barang-barang, bahan-bahan, logistik, perlengkapan, dsb.

Pengertian Administrasi Materiil: proses penataan barang-barang baik yang mempunyai manfaat lebih dari satu tahun maupun barang habis pakai yang diperoleh melalui tahapan perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan dan penyimpanan, pendistribusian, pemeliharaan, penghapusan atau pelelangan, pengawasan, pelaporan, dan evaluasi. Klasifikasi Barang Milik Negara: i) barang tidak bergerak: pabrik gedung tanah pertanian, monumen, inventaris perlengkapan; ii) barang bergerak: alat pengangkutan, mesin, alat berat, peralatan kantor, semua inventaris perpustakaan dan kebudayaan; iii) barang habis pakai Pengelolaan Barang Milik Negara 1) perencanaan: jenis barang yang dibutuhkan, jumlah barang yang diperlukan, kapan harus tersedia, siapa yang membutuhkan dan mengelolanya, dimana diperlukan dan mengapa barang itu diperlukan; 2) pengadaan: tatacaranya bisa dengan pemilihan langsung, pelelangan, penunjukan langsung, dan swakelola; 3) pergudangan: yang berfungsi sebagai penerimaan, penyimpanan, pemeliharaan dan pengamanan barang; 4) pendistribusian: yaitu proses kegiatan yang menyangkut penerimaan, penyerahan, serta penyaluran barang-barang yang diterimakan, diserahkan, dan disalurkan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Yang penting tanda bukti kegiatan yang disetujui pejabat berwenang; 5) pemeliharaan: agar dapat menambah umur penggunaan barang dan mencegah dari kerusakan; 6) penghapusan barang inventaris: dilakukan melalui keputusan pejabat berwenang. Dengan penghapusan makan bendahara barang dibebaskan dari tanggung jawab adm. Tujuan penghapusan: mencegah kerugian negara, menjamin ketertiban proses penghapusan, menekan biaya operasional, meningkatkan penerimaan negara sektor non pajak, menciptakan efisiensi dan efektifivitas penggunaan barang. Alasan penghapusan: barang dalam kondisi rusak berat, barang kadaluwarsa, selisih dalam penyimpanan/ukuran/pengiriman, mengurangi biaya operasional, berlebihan/surplus, kesalahan bendaharawan/pengurus barang, force majeure, mati (hewan/tanaman)

MODUL 6. APARATUR PEREKONOMIAN NEGARA 1. Pengertian, Sejarah Perkembangan, dan Peranan Aparatur Perekonomian Negara A. Sistem Demokrasi Ekonomi Indonesia: i. Kebijakan Pemerintah dilandasi sistem perekonomian yang berorientasi pada penerapan demokrasi ekonomi dengan mengutamakan peran aktif masyarakat untuk mencapai kemakmuran bagi semua orang; ii. Aparatur Perekonomian Negara diperankan oleh BUMN/D yang dibentuk sebagai keterlibatan negara dalam keseimbangan dinamis antara tiga pelaku ekonomi yaitu sektor negara, swasta dan koperasi dalam pembangunan nasional. B. Pengertian BUMN dan BUMD: i. Badan usaha yang seluruh modalnya dimiliki negara; ii. Badan usaha yang tidak seluruh sahamnya dimiliki negara, tetapi statusnya disamakan dengan BUMN/D: a) BUMN yang merupakan patungan antara pemerintah dengan pemda; b) BUMN patungan antara pemerintah dan BUMN lainnya; c) BUMN yang merupakan badan usaha patungan dengan swasta nasional/asing dimana negara memiliki saham mayoritas minimal 51%. C. Sejarah Perkembangan BUMN/D 1. Periode Tahun 1945 1960: BUMN didirikan dengan modal pemerintah yang digunakan untuk mengembangkan usaha ekonomi di bid. tertentu yang bersifat strategis/vital. Digunakan pemerintah untuk mengembangkan usaha publik dan hidup orang banyak: a) Perusahaan negara yang diatur dalam IBW: Jawatan KA, Pegadaian, Percetakan Negara; b) Perusahaan negara yang diatur dalam ICW: Penerbit BP, PLN Distribusi, PAM Negara. 2. Periode Tahun 1960 1974: BUMN berkembang: a) Terbit UU No. 19/1960 tentang Perusahaan Negara sebagai upaya menyeragamkan cara pengelolaan dan pengendalian serta bentuk hukum dari PN dalam Sistem Ekonomi Terpimpin; b) Pertengahan 60-an, sistem eko-pol berubah ke arah debirokrastisasi dan deetatisme. Sistem beralih ke arah pasar bebas dan diupayakan menarik peran masyarakat dan mengurangi dominasi negara; c) Perkembangan 70-an ditandai meningkatkan tuntutan pembangunan di semua sektor yang mendorong BUMN/D termasuk persero menjalankan tugas pembangunan. 3. Periode Tahun 1974 1982: Pemerintah melakukan ekspansi besar-besaran dalam pembangunan infrastruktur ekonomi dengan mendirikan BUMN, akibat pertumbuhan

ekonomi yang cukup tinggi (minyak). BUMN/D menjalankan peran sebagai agen pembangunan 4. Periode Tahun 1982 1990 : Harga minyak bumi merosot, sehingga peran pemerintah dalam pembangunan bergeser, tidak lagi dominan. Sisa-sisa sektor publik yang semula dicanangkan untuk BUMN/D bergeser ke swastanisasi. Jumlah BUMN/D menurun. 5. Periode Tahun 1990 dan seterusnya: Ditandai fenomena perekonomian antarbangsa yang semakin terbuka dan kuatnya arus liberalisasi perdagangan. BUMN/D terdesak kekuasaan swasta nasional dan asing, dorongan meningkatkan efisiensi, daya saing dan profesionalisme. D. Peranan BUMN/D BUMN penting karena negara harus menanamkan modalnya untuk proyek/bidang yang tidak dimasuki sektor swasta, karena modal yang diperlukan terlalu besar atau investasinya kurang menarik Peran BUMN/D dalam penyelenggaraan ekonomi negara: a. Memberi sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional; b. Mencari keuntungan; c. Menyelenggarakan kemanfaatan barang dan jasa bermutu dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak; d. Menjadi perintis kegiatan yang belum dapat dilaksanakan swasta dan koperasi; e. Menyelenggarakan kegiatan yang bersifat melengkapi swasta dan koperasi; f. Turut aktif memberi bimbingan kegiatan kepada sektor swasta, khususnya golongan ekonomi lemah dan koperasi. Kelemahan BUMN/D : a. Terlalu berlindung di balik misi; b. Rantai birokrasi terlalu panjang dalam pengelolaan; c. Manajemen kurang terkontrol; d. Terlalu banyak turut campur departemen teknis; e. Tidak memiliki renstra; f. Standar penilaian kinerja kurang tepat; g. Kekuasaan dept teknis sebagai pemegang saham terlalu besar; h. Pergantian menteri kebijakan berubah; i. Dirut harus memberi servis kepada pejabat dan keluarganya 2. Pengelompokan Aparatur Perekonomian Negara A. Bentuk dan Karakteristik BUMN/D 1. Perusahaan Jawatan (Perjan): a) Bersifat public service, seluruh kegiatan merupakan pelayanan kepada masyarakat, dijalankan dengan berpegang teguh pada efisiensi dan efektifitas, barang jasa yang dihasilkan merupakan kewajiban pemerintah pada masyarakat, bidang usahanya monopoli pemerintah dan tidak menarik minat swasta; b) Dipimpin oleh Kepala, bawahan suatu bagian atau Dept/Dirjen/Direktorat yang diangkat pemerintah, tugas-tugas tercermin dalam susunan organisasi departemen, mempunyai dan memperoleh fasilitas negara; c) Permodalannya dari APBN/D, tarif ditetapkan menteri ybs bersama Menkeu. Pegawai Perjan adalah PNS. Contoh RSU. 2. Perusahaan Umum (Perum):

a. Bersifat public utility, melayani umum dan mencari keuntungan; b. Bergerak dalam jasa-jasa vital. c. Pemerintah berwenang menetapkan usaha yang bersifat public utility tanpa perlu diatur sebagai PN; d. Pemerintah dapat menetapkan tarif/harga jika diperlukan untuk kepentingan umum; e. Dipimpin direksi yang diangkat/diberhentikan oleh presiden atas usul menteri ybs; f. Perum berstatus badan hukum, dapat menuntut dan dituntut, menjalankan tugas perusahaan tapi juga mengemban tugas pemerintahan; g. Modal milik negara dari kekayaan negara yang dipisahkan; h. Tidak boleh punya anak perusahaan; i. Mempunyai nama dan kekayaan sendiri serta kebebasan bergerak; j. Laporan tahunan memuat neraca dan kekayaan yang disampaikan kepada Pemerintah; k. Pegawainya merupakan pegawai perusahaan negara yang diatur tersendiri. 3. Perusahaan Perseroan (Persero) a) Bersifat profit motive, seluruh aktivitasnya berorientasi untuk memperoleh keuntungan. b) Barang jasa yang dihasilkan bukan kewajiban pemerintah untuk menghasilkannya. c) Persero tidak punya hak monopoli atau perlakuan khusus dari negara. d) Dipimpin oleh Direksi di bawah pengawasan Dewan Komisaris, bertanggung jawab kepada Rapat Umum Pemegang Saham/RUPS e) Berstatus badan hukum : PT f) Pengesahan Laporan Tahunan oleh RUPS g) Modal seluruhnya atau sebagian milik negara, dibagi atas saham h) Negara dapat mengurangi, menambah atau melepaskan pemilikan saham Persero dari Perusahaan. i) Pegawai berstatus pegawai swasta biasa, hubungan kerja diatur dalam kontrak j) Contoh: Bank Milik Negara, BPD,BPR B. Pembinaan dan Pengembangan BUMN/D Strategi Restrukturisasi:dilakukan dalam rangka penyehatan kondisi BUMN yang merupakan langkah strategis memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan,di antaranya melalui perubahan status hukum dan organisasi BUMN/D menjadi Persero. Strategi Privatisasi: penyebabnya adalah kemampuan subsidi pemerintah yang rendah. Tidak harus diartikan pengalihan kepemilikan BUMN/D melalui go public, melainkan juga pengikutsertaan swasta ke dalam BUMN/D, dengan strategi BOT dan BOO, kontrak manajemen, kerja sama operasi maupun penjualan saham pada partner strategis. Strategi Emergency: Bermuara pada penyelamatan,terutama BUMN/D yang tidak sehat. Merupakan strategi defensif agar BUMN tetap bertahan hidup. Sasaran utama: efisiensi untuk penyelamatan cash flow yang positif. Strategi Hands-Off (Menarik Diri): strategi menarik diri dari bidang-bidang yang bukan core competence-nya.