Anda di halaman 1dari 11

TëROBOSAN ADVERSITING

TëROBOSAN ADVERSITING LPJ WIHDAH-PPMI dan Pemilu Calon Tunggal Tongkat estafet WIHDAH kembali bergulir, sidang
TëROBOSAN ADVERSITING LPJ WIHDAH-PPMI dan Pemilu Calon Tunggal Tongkat estafet WIHDAH kembali bergulir, sidang

LPJ WIHDAH-PPMI dan Pemilu Calon Tunggal

Tongkat estafet WIHDAH kembali bergulir, sidang digelar hingga larut malam demi kelancaran organisasi wanita ini

Simak Laporan Utama hal 4-8

Edisi 351 15 Maret 2013

Simak Laporan Utama hal 4 - 8 Edisi 351 15 Maret 2013 Sekapur Sirih, Rel dan

Sekapur Sirih, Rel dan Gerbong, Halaman 2 Sikap, Kekeluargaan Seharusnya Menciptakan Suasana Kekeluargaan, Halaman 3 Laporan Utama, LPJ WIHDAH- PPMI dan Pemilu Calon Tunggal, Halaman 4-5 Komentar Peristiwa, Langkah KBRI dan PPMI Untuk Lindungi WNI, Halaman 6-7 Seputar Kita, PPMI Mengadakan Halaqah Ilmiyah Kedua, Halaman 7 Wawancara, Tsaqofina: Li Kulli Harokah Barokah, Halaman 8 Seputar Kita, Kelompok Kajian AFDA Mengadakan Rukyat Hilal, Halaman 9 Seputar Kita, International Islamic Centre Adakan Penyulu- han untuk Mahasiswa Indonesia, Halaman 9 Opini, Karena WIHDAH Adalah Keluarga, Halaman 10 Kolom, Cendekiawati, Halaman 11

Selamat Membaca!

Santai dan penting dibaca

Tajam tanpa melukai

Kritis tanpa menelanjangi

dibaca Tajam tanpa melukai Kritis tanpa menelanjangi Media ini dikelola oleh Pelajar dan Mahasiswa Indonesia
dibaca Tajam tanpa melukai Kritis tanpa menelanjangi Media ini dikelola oleh Pelajar dan Mahasiswa Indonesia
Media ini dikelola oleh Pelajar dan Mahasiswa Indonesia sebagai media informasi, opini dan komunikasi mahasiswa

Media ini dikelola oleh Pelajar dan Mahasiswa Indonesia sebagai media informasi, opini dan komunikasi mahasiswa Indonesia di Mesir. Redaksi menerima tulisan dari pelbagai pihak dan berhak mengeditnya tanpa menghilangkan makna dan tujuan.

di Mesir. Redaksi menerima tulisan dari pelbagai pihak dan berhak mengeditnya tanpa menghilangkan makna dan tujuan.
Sekapur Sirih
Sekapur Sirih
Sekapur Sirih

Sekapur Sirih

Sekapur Sirih Rel dan Gerbong Patah tumbuh, hilang berganti. Sepertinya peribahasa itu cukup tepat untuk mendeskripsikan

Rel dan Gerbong

Patah tumbuh, hilang berganti. Sepertinya peribahasa itu cukup tepat untuk mendeskripsikan perjalanan sebuah organisasi secara umum. Estafet kepemimpinan harus ber- lanjut di tangan generasi penerus. Karena di setiap masa kita akan terus dituntut adanya dual- isme, dipimpin dan memimpin. Pada saatnya setiap generasi akan merasakan keduanya. Ada masanya generasi yang bekerja harus pensiun, digantikan oleh generasi ‘baru’ untuk melanjutkan misi dan cita-cita yang menjadi tu- juan didirikannya sebuah organisasi, institusi atau lembaga dan yang semisalnya. Tujuan dan cita-cita itu seperti rel yang membatasi sekaligus menuntun gerbong pada tujuan yang satu. Di mana gerbong tersebut berisi penumpang den- gan berbagai macam manusia dengan keunikan karakter, pemikiran dan fisik masing-masing. Dari ragam penumpang di dalamnya, tujuan tetap satu. Begitu pula masinis tetaplah satu. Oleh karena itu, dari manapun golongan, corak pemikiran, atau tanah kelahirannya, tidak se- layaknya menjadikan ia berpikir bahwa dengan terpilihnya sebagai orang nomor satu dalam ger- bong maka yang berkuasa adalah golongannya. Sedang selainnya kalah telak. Kita bersama sedang menempuh perjalanan dengan satu tujuan. Sedang yang berkuasa memimpin sudah selayaknya dengan kekua-

saannya- mengayomi dan memberi teladan bagi seluruh anggotanya. Karena kekua- saan tersebut adalah amanah yang akan dipertanggung jawabkan, bukan untuk dijadikan lahan kompetisi golongan ter- tentu. Semua tahu akan hal itu. Namun paradigma sempit itu -mau tak mau- masih dapat dirasakan melalui fakta di lapangan. Mungkin mata kita harus benar-benar terbuka lebar untuk mencermati dan me- mahami ke arah mana tujuan perjalanan kita. Tujuan -beserta aksesorisnya- yang digagas oleh pendahulu, tentu memiliki iktikad yang baik. Namun dengan hal itu bukan berarti kita tutup mata pikiran un- tuk tidak bersikap kritis. Cara, alat, media dan nama yang dirumuskan generasi pen- dahulu adalah menyesuaikan kondisi di zamannya. Keberanian bersikap kritis bu- kan berarti menentang ‘nenek moyang’. Karena mereka juga manusia yang tak lu- put dari kesalahan dan dosa. Jika kita mendapati tradisi yang salah dan terlanjur mendarah daging, itu bu- kanlah suatu penghalang untuk melu- ruskan ‘rel’ yang bengkok. Karena generasi penerus tidak selayaknya menjadi generasi yang membebek. Memang ada tongkat estafet yang harus diteruskan perjuan- gannya, tetapi adanya inovasi serta perbai- kan sebagai terobosan baru demi kemasla- hatan anggota adalah hal yang tidak boleh dilupakan.

Jika pemimpin di atasnya atau sebelumnya yang harusnya bertang- gung jawab mengayomi, namun malah ge- mar korupsi, entah itu korupsi waktu atau korupsi materi, sehingga anggotanya tidak diayomi, tidak diperhatikan dan justru ditelantarkan. Dan jika tradisi yang menga- kar adalah jam karet dan kesalahan yang terus dipupuk, sehingga subur dan nampak sebagai kebenaran. Atau jika kebiasaan mengkotak-kotakkan golongan terus dipe- lihara dan diwariskan. Layakkah tradisi tersebut dipertahankan? Sampai kapan kita akan terus bertikai di tengah perjalanan? Sementara kereta lain terus melaju di atas relnya dengan kencang. Menertawakan kita yang meng- gaungkan persatuan dan ummah wasathi- yah dalam setiap obrolan, mimbar, perkumpulan, dan jurnal-jurnal namun dalam ikhtilaf perkara furu’ saja musti mengeluarkan parang untuk menyalahkan yang tidak sependapat. Masih menyoal kepemimpinan, dalam bulan ini terdapat pergantian estafet ke- pemimpinan dalam tubuh Wihdah-PPMI. Bagi pemimpin terpilih, semoga bisa ber- suara bahwa dirinya berada di sisi mod- erat. Tidak mewakili golongan tertentu. Husnudzon, optimis dan kepercayaan ter- hadap mereka harus kita jaga. Namun un- tuk membuktikannya, mari kita lihat dan saksikan. Selamat membaca.

Express Copy

Menerima segala jenis fotokopi

Mahatthah Mutsallas, Hay `Asyir Building 102 Sweesry.

Hp: 01001726484

Pendiri: Syarifuddin Abdullah, Tabrani Sabirin. Pimpinan Umum : Tsabit Qodami. Pemimpin Re- daksi: Fahmi Hasan

Pendiri: Syarifuddin Abdullah, Tabrani Sabirin. Pimpinan Umum: Tsabit Qodami. Pemimpin Re- daksi: Fahmi Hasan Nugroho. Pemimpin Perusahaan: Erika Nadarul Khoir. Dewan Redaksi: Abdul Majid, M. Hadi Bakri. Reportase: M. Ainul Yaqien, M. Zainuddin, Dirga Zabrian, Sulhansyah Jibran, Luthfiatul Fuadah Al-Hasan, Ainun Mardiah, Heni Septini. Editor: Zulfahani Hasyim. Pembantu Umum: Keluarga TëROBOSAN. Alamat Redaksi: Indonesian Hostel-302 Floor 04, 08 el-Wahran St. Rabea el-Adawea, Nasr City Cairo-Egypt. Telepon: 22609228 E-mail: terobosanmasisir@yahoo.com. Facebook :

Terobosan Masisir. Untuk pemasangan Iklan dan Layanan Pelanggan silakan menghubungi nomor telpon : 01159319878 (Tsabit) atau 01122217176 (Fahmi)

02

02 TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013
02 TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013
02 TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013

TëROBOSAN, Edisi 351, 15 Maret 2013

Laporan Utama

Laporan Utama
Laporan Utama

LPJ Wihdah-PPMI dan Pemilu Calon Tunggal

Tongkat estafet WIHDAH-PPMI kembali berpindah tangan, ditandai dengan terpilihnya calon tunggal saudari Tsaqofina Hanifah sebagai ketua yang memimpin WIHDAH-PPMI 2013-2014 M pada 8 Februari lalu. TëROBOSAN mengutus timnya untuk menghadiri sidang SPA WIHDAH-PPMI 2013 dan Pemilu WIHDAH-PPMI 2013 di Wisma Nusantara. Bersama beberapa undangan lainnya, kami ikut serta menghadiri acara sidang tersebut. Dari sekitar 90 undangan yang telah disebar ke berbagai organisasi keputrian Masisir, pada hari pertama hanya 27 undangan yang dapat menghadiri acara sidang tersebut dan pada hari kedua hanya 25 undangan yang datang. Ledy Yulanda selaku ketua panitia sidang menjelaskan bahwa minimnya peserta undangan dikarenakan sidang diadakan pada hari kamis yang banyak berbenturan dengan agenda para peserta diluar sidang, sedangkan panitia SPA dan DP WIHDAH telah sepakat untuk melaksanakan sidang pada hari tersebut. Sidang LPJ WIHDAH peserta sangat antusias Jam karet yang telah membudidaya dikalangan masisir sulit sekali rasanya ditinggalkan. Dalam surat undangan tertera jam 10.00 CLT acara akan dilaksanakan. Akan tetapi, saat tim Terobosan sampai di Auditorium Wisma Nusantara hanya terlihat panitia yang sedang sibuk mempersiapkan acara dan di lantai tiga Wisma Nusantara Kantor WIHDAH-PPMI saudari Nurul Chasanah beserta jajarannya mempersiapkan diri untuk mempresentasikan sidang LPJ WIHDAH. Saat adzan zuhur berkumandang dan jarum jam menunjukan pukul 12.06 saudari Samiah Achmad Madani mulai membuka acara. Meskipun hanya enam peserta yang hadir. Beberapa sambutan disampaikan oleh Ketua Panitia SPA Ledy Yulanda, Ketua DPA Zakiah Zainun dan Jamil Abdul Latif selaku Presiden PPMI. Dalam sambutannya Presiden PPMI menyampaikan ucapan selamat kepada saudari Tsaqofina Hanifah sebagai calon tunggal yang akan memimpin WIHDAH, beliau berpesan agar menjadikan SPA sebagai evaluasi membangun diri untuk mutu WIHDAH mendatang. Acara dilanjutkan dengan shalat zuhur berjamaah. Pada pukul 13.04 acara dimulai kembali dengan majunya tiga Presidium sidang yang memimpin jalannya acara. Saudari Zakiah Zainun yang memimpin sidang pertama membacakan pembahasan agenda tata tertib sidang, dilanjutkan dengan pembacaan LPJ DPA 2012. Dan selanjutnya pembacaan LPJ WIHDAH 2012 oleh saudari Nurul Chasanah. Nurul Chasanah membacakan LPJ dengan

dilengkapi tayangan slide show yang menampilkan satu persatu program kerja yang telah terlaksana. Dari banyaknya program kerja yang ada, WIHDAH 2012 telah melaksanakan program kerja sebanyak 93%. Suara riuh tepuk tangan peserta sidang

memenuhi ruangan Auditorium Wisma Nusantara. Acara dilanjutkan dengan pembacaan laporan tim verifikasi. Kemudian acara diskors untuk melaksanakan salat ashar. Setelah saudari Nurul Chasanah beserta jajarannya selesai mempresentasikan LPJ WIHDAH 2012, pukul 16.32 acara dimulai kembali. Kini tibalah waktunya pandangan umum peserta sidang yang dibentuk dalam empat fraksi untuk menyampaikan pandangan serta tanggapannya mengenai LPJ WIHDAH

2012.

Fraksi pertama yang diketuai oleh Rida Ammita dan Fera Fitri Yanti sebagai juru bicara menyampaikan beberapa poin. Mereka mengawali dengan memberikan apresiasi kepada WIHDAH 2012 yang telah melaksanakan program kerja lebih dari 90%. Kemudian mereka menyampaikan tanggapan kepada Bidang Bikodastika yang tidak lengkap dalam mencantumkan nama-nama keputrian dikarenakan data yang digunakan adalah data yang lama dan kurang valid. Kemudian mereka mempertanyakan dampak positif bagi Masisir dari hubungan kerja eksternal dan internal WIHDAH-PPMI yang dilakukan ketika acara Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia di New Delhi beberapa bulan lalu, mereka pun menanyakan alasan tidak adanya publikasi yang jelas dari pihak WIHDAH tentang acara tersebut. Mereka pun mempertanyakan masalah acara Sumpah Pemuda yang diadakan di American Future pada 28 Oktober tahun lalu, yaitu tentang penampilan teater yang menurut pandangan sebagian orang terlihat kurang pantas untuk ditampilkan. Mereka mempertanyakan apakah tidak ada standar penampilan dalam acara tersebut, padahal acara tersebut dihadiri bukan hanya orang Indonesia sendiri, namun dihadiri juga oleh mahasiswa asing

lain. Hal ini langsung ditanggapi oleh pihak WIHDAH. Mengenai banyaknya data yang kurang valid mereka beralasan bahwa hal itu dikarenakan oleh sulitnya meminta data terbaru dari organisasi-organisasi keputrian itu sendiri. Mereka meminta maaf atas kesalahan dalam mencantumkan data keputrian tahun lalu. Kemudian Durrotul Badiah menambahkan agar bidang bikodastika mendata keputrian masisir dalam kurun waktu per-semester agar kedua pihak saling memudahkan. Adapun mengenai acara PPI, mereka mengatakan telah

mensosialisasikan melalui Suara PPMI dan catatan facebook dengan menandai masing- masing kekeluargaan dalam catatan itu. Sedangkan mengenai acara Sumpah Pemuda, mereka mengatakan bukan hanya dari kalangan akhwat yang mengatakan seperti itu, dari kalangan ikhwan pun berpendapat hal yang sama. Mereka meminta maaf, dan untuk kedepannya akan menjadi pelajaran agar tidak terulang hal yang sama. Selanjutnya tanggapan datang dari fraksi kedua yang diwakili oleh Faznir. Point pertama mereka menanggapi Bidang Keorganisasian dalam masalah konsolidasi keputrian Masisir yang tidak merata. Kedua, bidang kerohanian dalam masalah kebersihan mushola, tidak adakan jadwal piket yang dilaksanakan karena mushola terlihat kotor. Mereka juga mempertanyakan kembali masalah acara Sumpah Pemuda. Faznir menjelaskan masalah tentang penampilan teater. Dalam penampilan teater tersebut ada satu peran yang memicu perbincangan oleh berbagai pihak terutama mahasiswi, yaitu seorang laki-laki yang berperan menjadi seorang wanita. Mereka menilai hal itu tidak pantas dilakukan oleh seorang mahasiswa Azhar yang memiliki basik Islam. Mereka pun menilai bahwa hal itu secara tidak langsung telah membolehkan seorang laki-laki untuk menjadi seorang wanita. “Sebagai wanita kami merasa dipermalukan” ucap Faznir. Mereka pun lalu menanyakan apakah pihak WIHDAH tidak mengetahui bentuk agenda acara yang akan dilaksanakan, sedangkan acara tersebut diadakan bekerjasama dengan pihak PPMI. Kemudian tanggapan tentang kerjasama yang dilakukan dengan Jam’iyah Syar’iyah, mereka mempertanyakan sebab berhentinya beasiswa Jam’iyah Syar’iyah. Terakhir fraksi ini menyampaikan sarannya kepada WIHDAH agar publikasi kegiatan WIHDAH tidak berpatok hanya kepada jejaring sosial facebook. Kini giliran WIHDAH menanggapi hal yang telah disampaikan fraksi kedua, terkait bidang keorgaisasian WIHDAH meminta maaf karena pada saat itu berbarengan dengan acara sparkling WIHDAH yang sangat padat rentetan acaranya, sehingga waktunya pun terbagi dengan dua kegiatan tersebut. Mengenai acara Sumpah Pemuda pihak WIHDAH menanggapi bahwa adannya kerjasama dengan PPMI yaitu kerjasama dalam pembagian tugas. Dan masalah minhah Jam’iyah Syar’iyah mereka menanggapi bahwa Jam’iyah Syar’iyah lebih mendahulukan warga Mesir, karena warga Mesir sedang krisis ekonomi. Tetapi pihaknya menjelaskan bahwa silaturahmi antara WIHDAH dan Jam’iyah Syar’iyah tetap berjalan baik. Dilanjutkan giliran fraksi ketiga

TëROBOSAN, Edisi 351, 15 Maret 2013

TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 04
TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 04
TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 04

04

Laporan Utama
Laporan Utama

Laporan Utama

menyampaikan tanggapannya. Fraksi yang diketuai oleh Siti Zulfa Munaqosyah ini memberi saran kepada WIHDAH agar mengantisipasi dalam memilih tim formatur yang akan pulang atau tidak, dan memberi saran untuk mencari Designer sendiri dalam pembuatan pamflet agar bisa mandiri. Pihak WIHDAH menanggapi itu tergantung kepada masing-masing individu atas kesadarannya memegang tanggung jawab dan akan menusahakan untuk mencari designer khusus untuk WIHDAH. Fraksi terakhir yang diketuai oleh Sri Mulyani memberi tanggapan mengenai ketidak lengkapan data nilai kelulusan keputrian Masisir, karena yang terdata hingga saat ini hanya mahasiswi peraih nilai mumtaz dan jayyid jiddan. Mereka mempertanyakan mengapa nilai yang lainnya tidak ada, dan mengapa tidak ada nilai perbandingan dengan tahun lalu. Pihak WIHDAH meminta maaf atas ketidak lengkapan data yang ada dikarenakan Bidang Bikodastika bekerja sendirian, mengenai perbandingan data pihak WIHDAH mengeluarkan grafik yang telah dibuat. Pukul 6.20 acara dilanjutkan dengan penilaian masing-masing fraksi atas kinerja WIHDAH 2012 selama setahun ini. Pada tahun lalu, sistem penilailan dilakukan dengan pemberian nilai mumtaz, jayyid jiddan, jayyid dan lainnya. Akan tetapi pada tahun ini terjadi perubahan sistem menjadi sistem penilaian diterima atau tidak diterima. Dari keempat fraksi yang ada, seluruh fraksi menyatakan bahwa LPJ WIHDAH 2012 diterima. Suasana Auditorium Wisma Nusantara menjadi haru dengan gemuruh ucapan hamdalah dari DP WIHDAH 2012. Tepat pukul 6.29 sore DP WIHDAH 2012 telah resmi didemisioner dari jabatannya. Sidang Lanjutan dan Pemilu WIHDAH Pada hari pemilihan, Jum`at (8/3) lalu, saat tim TëROBOSAN sampai di tempat pemungutan suara (TPS) yang terletak di Wisma Nusantara, keadaan masih sepi, padahal jam sudah menunjukan jam 12.00 CLT. Keadaan itu dikarenakan cuaca buruk dan angin debu yang mengakibatkan para mahasiswi kurang berkenan untuk keluar rumah. Pada saat itu juga terlihat panitia SPA sedang sibuk untuk menyiapkan acara sidang lanjutan DPA yang membahas tentang pengesahan AD/ART WIHDAH-PPMI, sidang pembahasan pelaksanaan TEMUS WIHDAH- PPMI dan pembahasan tentang pengesahan Pola Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (P3O) WIHDAH-PPMI. Saat jarum jam menunjukkan pada angka 13.50, seorang petugas acara maju ke podium untuk memulai sidang lanjutan. Meski sidang ini awalnya dijadwalkan akan dimulai pada jam 10.30, namun pada jam dua siang para

undangan peserta sidang masih sangat sedikit. Tepat setelah selesainya sidang lanjutan DPA, para undangan TEMUS meminta untuk mengajukan sidang pembahasan dan pengesahan pelaksanaaan dan tata tertib TEMUS serta pembacaan LPJ TEMUS. Sidang kali ini berjalan cukup lancar, akan tetapi sempat terjadi ketegangan antara peserta sidang dalam pembahasan sanksi berupa denda dengan membayar sejumlah uang. Contohnya bagi para TEMUS yang hamil sebelum diberangkatkan ke Daker (daerah kerja) dikenakan denda 3%, banyak para peserta sidang yang tidak menyetujuinnya karena jumlah itu dinilai terlalu sedikit, akhirnya para peserta sidang sepakat untuk menaikan denda menjadi 30%. Setelah berjalannya waktu sidang dan pembahasan tentang sanksi telah selesai datanglah satu undangan TEMUS dan menyebutkan bahawa denda 30% terlalu banyak. Akhirnya sidang memutuskan bahwa pelanggar dikenakan denda sebesar 13%. Setelah selesainya sidang pembahasan tentang TEMUS dan waktu menunjukan jam 18.00 CLT pimpinan sidang mempersilahkan pada peserta untuk menunaikan ibadah sholat maghrib. Setelah menunaikan salat maghrib, para peserta kembali berkumpul untuk menyimak pembacaan LPJ TEMUS. Sempat ada keluhan dari peserta TEMUS ketika membacakan laporan yang disampaikan. Mereka mengeluhkan keterlambatan pengurusan berkas-berkas yang diperlukan, dan mereka juga mengeluhkan gaji mereka yang belum pasti. Berbeda dengan TEMUS tahun sebelumnya yang mana gaji mereka telah dijelaskan perinciannya. Sidang selanjutnya membahas tentang AD/ART WIHDAH-PPMI yang dipimpin oleh Umu Hani Tatila. Keadaan sempat tegang ketika membahas sanksi yang pernah ditetapkan oleh DPA tahun lalu yang membuat peraturan baru dalam AD/ART WIHDAH berupa sanksi bagi setiap pelanggaran peraturan, sanksi ini merupakan hal baru yang belum pernah ada sebelumnya. Peserta sidang pun semakin berkurang. Setelah sidang berjalan selama satu setengah jam dan waktu menunjukan pukul 19.45, banyak peserta sidang yang mengundurkan diri karena ketentuan asrama Buuts yang membatasi waktu perizinan hingga pukul 20.00 malam. Maka para peserta sidang meninggalkan tempat sidang berikut tiga pimpinan sidang saat itu yaitu Umi Hani Tartila, Nur Inayah Bahri dan Nur Anisa Utami. Akhirnya ketua sidang memutuskan untuk menentapkan Zakia Zinun (ketua DPA lama) sebagai pengganti pimpinan sidang. Setelah selesainya sidang pembahasan AD/ART WIHDAH PPMI, sidang kemudian

dilanjutkan dengan pembahsan P3O, Dalam sidang kali ini berjalan dengan sangat cepat dikarenakan sedikitnya peserta dan waktu sudah menunjukan pukul 22.00 CLT. Saat tim terobosan menemui ketua DPA baru Ledy Yulanda, ia menjelaskan tentang masalah pemilihan ketua WIHDAH jika hanya ada calon tunggal. Ia menjelaskan bahwa peraturan tidak adanya tambahan waktu pendaftaran calon ketua WIHDAH ketika terjadi calon tunggal telah disahkan dalam sidang tahun lalu. Saat itu para peserta sidang telah menyepakati jika suatu saat terdapat calon tunggal dalam pemilihan ketua wihdah maka ketua WIHDAH langsung dikukuhkan tanpa adanya kampanye dialogis. Begitu juga dalam pemilihan calon ketua tunggal, tidak disyaratkan batasan jumlah suara yang harus didapat oleh calon tunggal tersebut. Tepat pukul 23.00 CLT para tim Komisi Kehormatan Pemilu (KKP) menuju ke podium untuk membacakan laporan pertanggungjawaban. Sebagaimana dipaparkan oleh tim KKP bahwa dari awal pemilihan ketua WIHDAH terdapat dua calon ketua WIHDAH yang hendak mendaftarkan diri. Namun salah satu dari calon tersebut tidak memenuhi persyaratan karena terlambat untuk mendaftarkan diri. Calon kandidat itu datang pada pukul 18.17, terlambat 17 menit dari waktu yang telah ditetapkan meski tim sukses dari calon ini telah datang pada pukul 17.53. Maka setelah dilakukan perbincangan antara dewan KKP, mereka memutuskan untuk tidak menerima calon ini dan menetapkan bahwa calon yang bisa mengikuti tahap screening kali ini hanya satu orang, yaitu saudari Tsaqofina Hanifah. Setelah tim KKP selesai membacakan laporan pertanggung jawaban pelaksanaan pemilihan ketua WIHDAH, maka tepat pukul 23.20 CLT dimulailah penghitungan suara yang dibacakan oleh ketua DPA baru Ledy Yulandadan didampingi oleh tim KKP yaitu Lumátul Choiroh. Penghitungan suara berjalan dengan lancar dan hasil pemilihan suara sebagai berikut: jumlah suara keseluruhan 196 suara, dengan suara terbesar 191 pemilih Tsaqofina Hanifah, suara pemilih golongan putih dengan jumlah 3 suara dan suara tidak sah berjumlah 2 suara. Dan inilah hasil akhir pemilu ketua WIHDAH dan telah diputuskan bahwa saudari Tsaqofina Hanifah menjabat sebagai ketua WIHDAH tahun 2013-

2014.

Dan setelah semua prosedur pelaksanaan pemilihan ketua WIHDAH selesai maka tibalah acara selanjutnya berupa pelantikan dan serah terima jabatan ketua WIHDAH 2013 -2014, yang diberikan oleh ketua WIHDAH lama Nurul Chasanah kepada saudarai Tsaqofina Hanifah. Acara ini selesai tepat pukul 24.00 tengah malam. [ ë] Luthfi, Heni.

05

05 TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013
05 TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013
05 TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013

TëROBOSAN, Edisi 351, 15 Maret 2013

Komentar Peristiwa

Komentar Peristiwa
Komentar Peristiwa

Langkah KBRI dan PPMI Untuk Lindungi WNI

Tidak bisa dipungkiri, setiap manusia pasti menginginkan keamanan dalam ke- hidupannya. Bahkan, keamanan merupakan syarat mutlak bagi adanya komunitas. Tanpa keamanan, komunitas bisa bubar dan habis cepat ataupun lambat. Masalah keamanan yang merundung Masisir sepertinya adalah isu lama yang tak kunjung menuai buntut habisnya. 14 Maret 2013 untuk kesekian ka- linya Masisir kembali duduk bersama dalam sebuah forum untuk mencoba mendudukan isu tersebut. Berikut laporan Tim TëROBOSAN mengenai upaya untuk menji- nakkan masalah di atas yang dilakukan oleh KBRI dan PPMI dengan lembaga sayapnya, DKKM.

Citizen Service Siang itu dua orang mahasiswa mema- suki halaman kantor KBRI menuju loket ben- dahara KBRI yang berada di sebuah gedung tepat di ujung pandangan mereka. Ketika mendekati tangga masuk, mereka melihat ada sebuah pintu hitam dan tulisan “Citizen Service” di samping ruang tangga. Mereka pun sempat bertanya-tanya tentang fungsi dari ruangan itu. Pada akhirnya mereka menanyakannya kepada penjaga pintu KBRI di depan ketika mereka pulang. Citizen Service adalah tempat yang dis- ediakan bagi WNI yang ingin menyampaikan keluhannya selama tinggal di negeri ini, terk- husus jika WNI itu memiliki masalah dengan hukum yang ada di Mesir. Citizen Service juga merupakan sarana yang difasilitasi oleh negara demi melindungi warga negara yang berada di luar negeri. “Salah satu tugas pokok kita sebagai per- wakilan negara di luar negeri adalah untuk melindungi warga negara yang ada di negara itu, sesuai dengan yang tertera pada Undang- Undang Dasar 1945 Alinea ke empat, hasil konverensi di Wina, dan undang-undang lain tentang perlindungan warga negara.” Ujar Pak Nugroho selaku MC Protokoler KBRI Kairo di sela wawancara yang dilakukan oleh TëROBOSAN. Citizen Service sendiri merupakan sarana yang disediakan oleh Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) untuk melindungi WNI di beberapa negara yang telah ditetapkan oleh peraturan Kemenlu. Menurut kebijakan Ke- menlu no. 4 tahun 2008, terdapat 24 per- wakilan KBRI yang ditetapkan memiliki Citi- zen Service, namun KBRI Kairo tidak terma- suk dari 24 perwakilan tadi. Adanya Citizen Service di KBRI Mesir ini adalah insiatif dari pihak KBRI mengingat banyaknya kasus yang terjadi di sini.

Lebih lanjut Pak Nugroho menjelaskan bahwa menurut data KBRI per-Desember 2012, setidaknya terdapat 6890 orang WNI di Mesir. Sekitar 4500-nya adalah maha- siswa, dan 1200-nya adalah TKI informal yang tidak memiliki payung hukum sama sekali. Banyaknya WNI dan khususnya TKI yang tidak memiliki status hukum inilah yang menjadi latar belakang KBRI Kairo berinisiatif untuk mengadakan Citizen Ser- vice, meski belum mendapatkan ketetapan dari Kementrian Luar Negeri. Citizen Service pada prakteknya lebih banyak mengurusi TKI yang bermasalah. Hal itu dikarenakan Mesir bukanlah negara tu- juan pengiriman tenaga kerja dan Mesir sendiri tidak menerima kiriman tenaga kerja karena merupakan negara pengirim tenaga kerja ke luar negeri. Maka, TKI di negeri ini sebagian besar tidak memiliki payung hu- kum, mereka tidak memiliki kontrak kerja yang jelas, tidak ada tunjangan maupun as- uransi. Oleh karena itu, sejak tahun 2012 KBRI menyewa pengacara untuk mengurusi ber- bagai macam permasalahan yang menyang- kut hukum yang berlaku di negeri ini. Pen- gacara itu diperlukan ketika salah seorang WNI harus berurusan dengan pengadilan dalam masalah hukum perdata ataupun pi- dana. Selain itu, KBRI melalui Citizen Service telah memiliki tempat penampungan semen- tara bagi para WNI yang membutuhkan per- lindungan. Di dalamnya banyak terdapat TKW yang tidak memiliki tempat tinggal, atau memang bermasalah atau juga menunggu untuk dipulangkan ke Indonesia. Di antara mereka pun pernah ada salah seo- rang WNI yang datang untuk berwisata, backpacker, yang kehilangan pasport dan seluruh barangnya. Akhirnya ia tinggal se- mentara di tempat penampungan itu untuk menunggu pengurusan visa dan tiket kepu- langannya. Namun, pelayanan yang selama ini diberikan kepada mahasiswa sebagian besar masih berkisar di pengurusan berbagai macam dokumen, baik izin tinggal maupun legalisir berkas. Masih menurut Pak Nu- groho, diantara hal yang paling mencolok dari pelayanan KBRI kepada Masisir selama ini adalah berupa pemberkasan. Pemberka- san ini sudah mencapai puluhan ribu setiap harinya. Bahkan pelayanan yang seharusnya dikenakan biaya ini pada prakteknya tidak diberlakukan sama sekali. “Ada 31.000 do- kumen yang harus saya tanda tangani setiap harinya”, ujar beliau. Citizen Service jarang mendapatkan lapo-

ran maupun pengaduan yang dilakukan oleh mahasiswa meski nyatanya banyak terjadi tindak kejahatan yang menimpa para maha- siswa khususnya di daerah Hay Asyir. Para mahasiswa dinilai telah memiliki komunitas yang biasa mengurusi masalahnya sendiri selama masalah itu memang bisa diselesai- kan sendiri. Namun hal itu tidak menutup kemungkinan bagi para mahasiswa untuk melaporkan atau mengadukan berbagai ma- salahnya ke Citizen Service di KBRI, khusus- nya jika masalah yang dihadapi menyangkut hukum pidana yang berujung ke pengadilan. Masalah yang dihadapai sekarang adalah bahwa Citizen Service ini belum resmi ber- diri di KBRI. Namun demikian, menurut Pak Nugroho tahun 2012 lalu sudah ada penin- jauan dari Jakarta. Pada peninjauan ini menurutnya Citizen Service di sini sudah dinyatakan layak, maka langkah selanjutnya tinggal menunggu hasil penggodogannya di pusat. Demikian penuturan pihak KBRI yang disampaikan oleh MC Protokoler Konsuler, Pak Nugroho. DKKM: Citizen Service-nya PPMI Pembicaraan tentang Citizen Service yang bergerak di bidang perlindungan kea- manan WNI di Mesir ini tidak bisa terlepas dengan sebuah nama lembaga, yaitu DKKM (Dewan Keamanan dan Ketertiban Masisir). Adanya DKKM bisa dikatakan mirip Citizen Service. Bedanya DKKM hanyalah sebuah lembaga yang dibentuk mahasiswa, yang mana terbatas dana dan kinerjanya. Dalam sebuah halaman website PPMI dijelaskan, “tujuan didirikannya DKKM adalah untuk mengamankan dan menertibkan mahasiswa melihat daripada kejadian-kejadian yang telah ada pada tahun- tahun sebelumnya yang berupa kriminal yang ada di Masisir. Keamanan dan Ketertiban ini akan menjadi kenyataan apabila dari seluruh lapisan masyarakat Masisir bersatu dan bersama untuk selalu antisipasi dan selau hati-hati dalam melakukan perlindungan pada diri kita sendiri dan kenyamanan kita sendiri dan orang lain , inilah harapan dari kita semua, mudah-mudahan pada tahun ini keamanan dan ketertiban kita selaku masyarakat masisir lebih bisa ditingkatkan dan lebih mendapatkan kenyamanan.” Begitulah tujuan pendirian DKKM seperti yang tertera dalam website PPMI. Dalam sejarahnya selama ini, DKKM men- jadi tumpuan harapan Masisir untuk menda- patkan pembelaan dan perhatian dari KBRI. Selama ini DKKM memang menjadi satu- satunya jalur pengaduan bagi Masisir selain Polisi Mesir tentunya. Bagi sebagian kalan-

TëROBOSAN, Edisi 351, 15 Maret 2013

TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 06
TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 06
TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 06

06

Komentar Peristiwa gan, DKKM adalah polisi Masisir. Namun anggapan semacam di atas ditolak oleh Ab-
Komentar Peristiwa gan, DKKM adalah polisi Masisir. Namun anggapan semacam di atas ditolak oleh Ab-
Komentar Peristiwa gan, DKKM adalah polisi Masisir. Namun anggapan semacam di atas ditolak oleh Ab-

Komentar Peristiwa

gan, DKKM adalah polisi Masisir. Namun anggapan semacam di atas ditolak oleh Ab- durrahman Muhammad, selaku ketua DKKM saat dihubungi oleh TëROBOSAN. Dia menje- laskan bahwa DKKM bukanlah polisi Masisir. DKKM hanyalah lembaga yang siap mem- bantu memediasi untuk penanganan krimi- nal atau semacamnya. ”Kita ingin menghi- langkan image Masisir terhadap DKKM yang mana melihat DKKM sebagai Polisi Ma- sisir. DKKM dalam menghadapi laporan- laporan kejadian yang menimpa teman- teman Masisir, insya Allah selalu siap untuk membantu jika harus berurusan dengan pi- hak kepolisian. Harus dititik bawahi, dari awal kami dari DKKM tidak mempunyai ke- kuatan hukum untuk menemukan tersangka ataupun mengembalikan barang milik korban jika seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.” Usaha Mentok di Meja Pribumi Kerja DKKM tahun memang berat. Apalagi sejak awal periode DKKM masa sekarang hingga kini belum ada dana ban- tuan yang cair dari KBRI. Tentu ini menjadi masalah tambahan bagi DKKM sendiri. Dalam sejarahnya, hampir setiap tahun DKKM mengejar KBRI untuk mendapat per- hatian dari KBRI terkait penanganan krimi- nal yang kerap menimpa Masisir ini. Maka kehadiran Citizen Service di Mesir bakal

menjadi angin segar bagi Masisir mengingat banyaknya kasus kriminal yang menimpa. Meskipun saat ini belum ada peresmian dari pusat, namun usaha pihak KBRI untuk hal ini patut kita syukuri. Pada Maret 2012 tahun lalu, DKKM men- catat sebelas aksi perampokan telah men- impa Masisir. Sedangkan sepuluh kasus lain- nya adalah pencurian dan pembobolan rumah. Jumlah data yang begitu banyak ini selalu terkendala mentoknya proses hukum. Bahkan menurut pengakuan pihak KBRI yang disampaikan Pak Nugroho, tahun lalu terda- pat 21 kasus dari aduan mahasiswa akhirnya berhenti tanpa tindak lanjut di kepolisian Mesir. Menurut pengakuan Pak Nugroho, KBRI sudah berusaha menindaklanjuti pen- gaduan masalah kriminal dari mahasiswa yang telah sampai di meja kerja. Padahal KBRI sendiri sudah melaksanakan tindakan prosedural dengan melaporkan ke kepolisian Mesir berbagai musibah yang dialami maha- siswa ini. Namun sayang, keadaan Mesir yang labil sampai sekarang menjadi ham- batan terakhir KBRI dalam mengusahakan payung hukum WNI di sini. “Tahun lalu ada 21 kasus tanpa tindak lanjut”, pungkas Pak Nugroho. Dalam bincang bertema “Sharing Ide Keamanan Masisir di gedung Konsuler 11 November 2012 lalu KBRI mengaku sudah

sekuat tenaga berusaha menyelesaikan semua itu, namun pihak Mesir menjadi penutup hasil usaha tersebut. Pernyataan ini juga disampaikan PPMI melalui website resmi mereka. “Justru yang jadi tersendat adalah pada Pihak Amn Dawlahnya sendiri. yang menganggap itu cuma masalah "sepele". Dengan itu marilah kita bersama-sama meningkatkan kewaspadan dan pencegahan yang di kembalikan pada diri sendiri.” Begitu bunyi kutipan beritanya. Kinerja DKKM sangat terbatas mengingat keadaan yang tak jelas ini. Maka yang paling realistis untuk mereka lakukan adalah baru sebatas mendata sebagian rumah Masisir yang bertempat di kawasan-kawasan rawan kejahatan. Selain itu, DKKM juga sudah mela- kukan pertemuan dengan kepala polisi yang bertugas menangani kawasan H-10. Kondisi tidak memihak kita melihat kondisi yang semrawut ini. Pihak DKKM sendiri mengaku kesusahan mengatasi keterbatasan ini. Na- mun pad akhirnya mereka hanya bisa men- ghimbau agar kita semua lebih wasapada terhadapa keadaan sekitar, mengingat keadaan kita sebagai warga asing yang men- jadi incaran utama. [ ë] Tsabit, Fahmi.

Seputar Kita

PPMI mengadakan Halaqoh Ilmiyah kedua

Pada hari rabu (13/03) lalu, Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir bekerjasama dengan tujuh kekeluargaan menggelar halaqoh Ilmiah edisi kedua yang bertempat di aula LIMAS pada pukul 18:00 (maghrib) hingga masuk waktu Isya’. Acara yang dimotori oleh Dep. Keilmuan DP-PPMI ini mendatangkan Syaikh Yusri Rusydi Jabar al-Husny sebagai narasumber. Halaqoh tersebut bertemakan “Ketetapan Islam seba- gai Rahmatan lil A’lalmin”. Acara ini diawali dengan bacaan ayat suci Al Qur’an oleh Ustadz Ahmad Nabawi, ke- mudian sambutan singkat dari Presiden PPMI Jamil Abdul Latif menandai dibukanya acara ini dengan beriringan membaca bas- malah. Setelah melaksanakan shalat maghrib secarah berjamaah, pembawa Acara selaku Ahmad Ridlhoni menyerahkan sepenuhnya kepada Moderator, Dr. Mahkamah Mahdi, MA. untuk memandu jalannya sesi pencera- haan dari Dr Yusri Rusydi, kemudian diikut- kan sesi tanya jawab untuk para hadirin. Sesuai tema halaqoh, di dalamnya beliau memaparkan berbagai uraian substantial dari arti keislaman dan akhlak pembawa risalah Islam, Rasulullah Muhammad Saw.

Beliau menjelaskan berbaagai keperibadian- nya Saw dengan menambahkan berbagai hadits nabi yang sekiranya makin mem- perkuat argumentasi beliau. Di akhir-akhir pembahasan disebutkan bahwa pentingnya seorang penuntut ilmu untuk lebih mene- kankan Tazkiyatun Nafs untuk menyeim- bangkan kepribadian seorang Muslim. Dalam pencerahannya disebutkan bahwa sekarang ilmu pengetahuan makin banyak namun tidak dibarengi dengan pensucian diri (tazkiyatun Nafs) yang sepadan. Oleh sebab itu, ungkapnya banyak di antara kaum mus- limin yang kehilangan jati diri mereka. Acara ini diselenggarakan tidak lain un- tuk meningkatan semangat segenap masisir untuk kembali mengambil manfaat dari ulama ternama di Mesir. Di samping menam- bah khazanah keislaman, juga agar semakin akrab dengan bahasa Arab Fusha. Hal ini sejalan dengan ungkapan penanggung jawab acara, Muh. Basyir Hasyim. Ia mengungkap- kan “Di dalam wadah ini selain kita bisa men- gambil ilmu dari seorang alim ulama juga kita bisa mendengar bahasa fusha yang tidak sering kira temukan di perkuliahan” tegas- nya

Tambahnya, acara ini akan dilakukan secara berkala, dan Halaqoh ilmiah lainnya rencananya akan diadakan lagi bulan depan. Muh. Basyir Hasyim melanjutkan, “kita telah menentukan tema dan lokasi acara ini akan diadakan, tentunya dengan bantuan segenap kekeluargaan” ungkapnya. Namun pihaknya tidak menuturkan secara pasti apa tema dan lokasi untuk kegiatan serupa selanjutnya. Ia berharap agar acara kedepan dapat memberi kejutan bagi masisir yang senang ber- interaksi dengan ulama’ ternama bumi ki- nanah ini. Peserta menurut daftar kehadiran ber- jumlah Sembilan puluh orang. Di antaranya enam puluh satu dari pihak mahasiswa dan dua Sembilan laginya mahasisiwi. Sejalan dengan ini ungkap Presiden PPMI di dalam sambutannya “kita harap di dalam kesem- patan berharga ini kita dapat mendengar serta mengambil manfaat dari Ustdaz kita, Ulama kita, dan betul-betul memperhatikan apa yang beliau ungkapkan” ungkapnya pada saat sambutan dengan mengenakan bahasa

Arab. [ ë] Dirga.

pada saat sambutan dengan mengenakan bahasa Arab. [ ë ] Dirga. TëROBOSAN , Edisi 351, 15
pada saat sambutan dengan mengenakan bahasa Arab. [ ë ] Dirga. TëROBOSAN , Edisi 351, 15
pada saat sambutan dengan mengenakan bahasa Arab. [ ë ] Dirga. TëROBOSAN , Edisi 351, 15

TëROBOSAN, Edisi 351, 15 Maret 2013

07

Wawancara

Wawancara Tsaqofina: Li Kulli Harokah Barokah Jum’at 8/3 lalu, diiringi badai angin dan hujan debu WIHDAH
Wawancara Tsaqofina: Li Kulli Harokah Barokah Jum’at 8/3 lalu, diiringi badai angin dan hujan debu WIHDAH
Wawancara Tsaqofina: Li Kulli Harokah Barokah Jum’at 8/3 lalu, diiringi badai angin dan hujan debu WIHDAH

Tsaqofina: Li Kulli Harokah Barokah

Jum’at 8/3 lalu, diiringi badai angin dan hujan debu WIHDAH telah menentukan ketua baru untuk periode 2013-2014. Mahkota ama- nat kali ini diserahkan kepada putri yang berkekeluargaan KSW, Tsaqofina Hanifah. Berikut wawancara kru Terobosan dengan ketua WIHDAH, Tsaqofina Hanifah.

Menurut anda pribadi, apa sih WIHDAH itu? Menurut saya WIHDAH adalah suatu wa- dah untuk mengembangkan diri khususnya mahasiswi. Di dalam WIHDAH mahasiswi bebas berekspresi dan berkreasi karena lingkupnya yang khusus akhwat, jadi tidak ada rasa malu untuk mengeluarkan ide dan kreasinya. Karena jika lingkupnya luar, rasa malu terkadang ada meskipun tidak menafi- kan bahwa kita juga perlu untuk berinteraksi dengan ikhwan, berbagi inspirasi, bertukar ide dan ilmu. Namun di sini kita jadikan WIHDAH itu organisasi induk mahasiswi yang menjadi tempat belajar diskusi dan ber- organisasi. Karena pembelajaran itu bukan hanya kuliah di Azhar saja, tetapi organisasi pun butuh pembelajaran, karena tak lain tu- juan berorganisasi adalah sebagai ajang pem- belajaran untuk bermasyarakat. Adakah nantinya program anda yang akan menyita jam kuliah, bagaimana si- kap anda jika hal itu terjadi oleh or- ganisasi yang masih di bawah naungan WIHDAH? WIHDAH berusaha untuk menyesuaikan atau mengimbangi jam kuliah, pun se- benarnya acara tahun lalu juga sudah dimulai ba’da zuhur. Namun berbeda dengan panitia, karena memang panitia butuh kinerja lebih. Di awal kami akan konsolidasi dengan selu- ruh organisasi baik keputrian atau badan afiliatif lainnya. Kalaupun ada organisasi yang mengadakan acara di pagi hari, itu karena kuliah libur. Salah satu program anda adalah “Talkshow inspirasi WIHDAH”, apa mak- sud inspirasi WIHDAH tersebut ? Kita mengambil program ini dari sekolah inspiratif yang ada di Indonesia tetapi sistem- nya berkala, tidak setiap minggu ada karena banyaknya kegiatan yang kita adakan, jadi kita buat acara ini seperti Talkshow. Untuk konsepnya, misalkan temanya tentang kedok- teran maka kita ambil tokoh pematerinya kak Lathifah. Di dalam talkshow ini mahasiswi dapat memahami perjalanan sang narasum- ber, mendapatkan inspirasi dan motivasinya agar masisir khususnya mahasiswi baru memiliki gambaran untuk masa depannya. Dalam program anda ada kajian litera- ture. Apa bedanya dengan kajian WIHDAH selama ini?

Iya ada bedanya, Kalau WIHDAH selama ini regular dan tema yang diangkat beruntun, anggotanya juga tetap. Namun dalam kajian literature ini nantinya akan membahas ber- bagai macam masalah dan juga mendatang- kan pakarnya. Contohnya masalah ekonomi, nanti kita datangkan tokoh dari PAKEIS. Seberapa yakin program-program anda akan terjalani? Optimis dan keyakinan itu harus ada, namun kita tidak memungkiri hal positif atau negatif itu akan terjadi. Kami tetap berusaha, tetapi hasil tetap di tangan Allah. Allah lah yang berkehendak. Namun kami tetap opti- mis acara akan berjalan dengan baik dan ber- manfaaat. Dalam wawancara dengan Informatika anda berkata, jika anda ingin mengambil DP WIHDAH dari setiap kekeluargaan. Tetapi bukankah itu tidak menutup ke- mungkinan anda mengambil satu kelom- pok, misalnya dari Almamater tertentu? Kita tetap berusaha mengambil dari setiap kekeluargaan. Tidak mematok satu pihak, karena WIHDAH itu berarti satu, jadi saya ingin mengambil DP WIHDAH itu juga menyeluruh. Merupakan hal yang lumrah jika setiap orang mempunyai ideologi dan keyak- inan masing-masing. Namun jika dikait- kaitkan dengan hal ini (ideology dan or- ganisasi-red) menurut saya itu kurang pas. Seperti yang disinggung dalam Infor- matika, dari segi bahasa nama WIHDAH seharusnya Wahdah. Sebagai ketua WIHDAH adakah keinginan anda untuk menggantinya? Memang secara lughowi yang benar adalah Wahdah. Berarti persatuan. Namun untuk perubahannya kita perlu musyawaroh kembali. Karena ini sudah menjadi hal turun- temurun. Seperti halnya kata Ma’rodh yang secara konteks bahasa seharusnya Ma’ridh. Ibu Ellywarti sendiri yang mendirikan per- tama kali “WIHDAH” pun belum menelusuri hal itu. Menurut anda, ke mana arah orientasi mahasiswi saat ini? Apakah ke organisasi atau ke mana? Menurut saya mahasiswi saat ini ada 3 golongan, yang pertama bisnis, kedua or- ganisasi dan kajian, ketiga dunia sendiri. Ban- yak diantara mahasiswi yang aktif dalam berorganisasi baik di keputrian, badan afiliatif, ormas, maupun WIHDAH sendiri, juga diantaranya banyak yang ikut kajian, talaqi, aktif kuliah dan lain sebagainya. Lalu yang ketiga itu dunia sendiri. itu dinamika masisir yang saya perhatikan. Bagaimana komentar anda dengan dinamika Masisir yang anda jelaskan tadi? Yang namanya dinamika itu selalu

berubah seiring dengan perkembangannya. Namun kita berusaha untuk memprioritaskan apa tujuan kita untuk datang ke mesir ini. Tentunya tujuan orang datang ke mesir ini tak lain untuk belajar, belajar di kuliah atau belajar berorganisasi. Bolehlah berbisnis tetapi kita juga tidak lupa akan niat awal kita untuk datang negeri kinanah ini. Oleh karena itu kita harus bisa menyeimbangkan antar ketiganya. Tak bisa dipungkiri, masisir terpecah dalam beberapa golongan, adakah pro- gram WIHDAH untuk menyatukan mereka? Iya memang mindset masisir yang terpe- cah dalam beberapa golongan itu sudah ada dari dulu. Untuk merubahnya, kita mulai dari diri kita untuk tidak menstigma suatu golon- gan tertentu. karena suatu pikiran itu mem- pengaruhi pikiran yang lain. Dan di WIHDAH ini, seperti tema SPA WIHDAH (menuju WIHDAH yang satu) kita tampung ide dan inspirasi seluruh mahasiswi bukan untuk satu pihak atau golongan tertentu. Juga kita rangkul semuanya melalui acara WIHDAH. Contohnya Talk Show WIHDAH, semua orang bisa datang, kajian literature, semua orang bisa ikut dalam kajian tersebut tidak dik- hususkan pada golongan tertentu, juga nanti dalam DP WIHDAH kita ambil dari setiap keputrian. Dari situ terbukti bahwa WIHDAH itu ingin menyeluruh. Namun jika masih ada yang hanya berpihak pada golongan tertentu, menurut saya pikiran-pikiran seperti itu adalah pikiran yang sempit. Dan mindset itu mempengaruhi yang lain. Oleh karenanya dari diri sendiri kita rubah mindset kita, kita perbaharui pikiran kita. Akhir-akhir ini PPMI didominasi satu kelompok saja, efeknya PPMI tidak bisa merangkul mahasiswa, komentar anda? Untuk menjawab hal ini kita perlu men- gumpulkan fakta-fakta, karena menurut saya setiap orang itu memiliki pandangan masing- masing. Kalau memang dirasa ada kekuran- gan dalam tubuh PPMI ataupun WIHDAH misalnya, sampaikan saja langsung kepada PPMI atau WIHDAH agar itu menjadi masu- kan bagi kami. Dari pemilihan kemarin suara yang anda terima 196 suara, lalu dengan hasil itu apakah menunjukkan kurangnya per- hatian Masisir khususnya Mahasiswi ter- hadap WIHDAH? Tidak semua pernyataan itu benar. Menu- rut saya hal itu terjadi karena banyak faktor, di antaranya hari yang dipilih untuk pemilu itu hari jum’at. hari jum’at adalah hari libur aktifitas, semua orang sibuk dengan kegiatan pribadinya masing-masing. Berbeda dengan hari-hari biasa yang mana orang-orang akan

TëROBOSAN, Edisi 351, 15 Maret 2013

masing-masing. Berbeda dengan hari-hari biasa yang mana orang-orang akan TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013
masing-masing. Berbeda dengan hari-hari biasa yang mana orang-orang akan TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013
masing-masing. Berbeda dengan hari-hari biasa yang mana orang-orang akan TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013

08

Seputar Kita Kelompok Kajian AFDA mengadakan Rukyat Hilal Doc: TëROBOSAN Pada senin (12/3 ) lalu,

Seputar Kita

Kelompok Kajian AFDA mengadakan Rukyat Hilal

Kelompok Kajian AFDA mengadakan Rukyat Hilal Doc: TëROBOSAN Pada senin (12/3 ) lalu, tiga belas orang

Doc: TëROBOSAN

Pada senin (12/3) lalu, tiga belas orang mahasiswa yang tergabung dalam kelompok kajian AFDA (Astronomy and Falak Deep Analysis) PCI Muhammadiyah Mesir melaku- kan rukyat hilal untuk bulan Jumadal Ula 1434 H. di pantai Muntazah, Alexandria. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menambah pengalaman para anggota dalam merukyat hilal, jelas Nuril Dwi, Koordinator Kajian AFDA. Rukyat hilal kali ini dibantu dengan dua buah teleskop untuk membantu penglihatan dalam melihat hilal. Teleskop itu dibeli di se- buah toko khusus yang terletak di daerah Thantha dengan harga satuan sekitar 3.000

LE. yang didapat dari iuran pribadi masing- masing anggota kajian. Hilal kali ini telah diperkirakan akan berada di ketinggian 9 derajat di atas ufuk sebelah barat ketika matahari terbenam. Sayangnya cuaca dan keadaan langit pada hari itu kurang mendukung observasi. Angin kencang beserta debu memenuhi langit Alex- andria sejak awal kedatangan mereka di kota itu pada pukul satu siang. Dan hingga sore hari, debu masih menutupi pandangan hingga matahari pun sudah tidak lagi terlihat meski waktu masih menunjukkan waktu jam lima sore. Namun meski hilal tidak bisa terlihat karena buruknya cuaca sore itu, para maha- siswa ini tetap antusias untuk melanjutkan observasi langit pada malam itu. Kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan tentang teleskop oleh saudara Furqon Hakiki, salah seorang mahasiswa yang sempat berga- bung dengan komunitas astronomi HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta). Ia menjelaskan berbagai jenis teleskop dan kegunaannya, sekaligus menjelaskan tips-tips dalam membeli teleskop yang bagus untuk observasi.

Kegiatan lalu dilanjutkan dengan praktek menggunakan teleskop dengan memindai beberapa benda langit yang terlihat pada ma- lam itu, seperti planet Jupiter dan beberapa bintang. Pada keesokan harinya, kegiatan dilanjut- kan di Planetarium yang terletak di Perpusta- kaan Umum Alexandria. Di tempat ini mereka menonton pemutaran dua buah film pendek tentang air di tata surya dan astronomi dalam literatur peradaban Mesir. Pada sore harinya, saat mereka hendak kembali pulang ke Kairo, langit tampak cerah dan bulan sabit pun terlihat jelas di langit sebelah barat. Akhirnya mereka pun kembali memasang teleskop di sebuah taman di depan stasiun Alexandria untuk memindai dan memotret bulan sabit dan beberapa benda langit yang terlihat saat itu. Nuril Dwi, Koordinator Kajian mengata- kan harapannya, “Semoga dengan acara ini para anggota bukan hanya belajar teori saja, namun juga bisa melakukan praktek di lapan- gan. Agar ada sinkronisasi antara teori dan praktek” [ ë] Fahmi.

International Islamic Centre Adakan Penyuluhan untuk Mahasiswa Indonesia

Selasa (5/3) lalu, International Islamic Centre for Population Studies and Research, sebuah lembaga di bawah Al-Azhar yang khusus meneliti tentang kesehatan dan popu- lasi masyarakat menggelar seminar untuk sekitar 50 mahasiswa Indonesia. Acara ini dilaksanakan di gedung Islamic Centre yang terletak di bagian belakang kampus Al-Azhar Darrasah. Seminar yang bertajuk “Kesehatan Repro- duksi dan Cara Menjaganya” ini menghadirkan Prof. Dr. Jamal Abu Surur, di- rektur International Islamic Centre, Prof. Dr. Thaha Abu Karishah, mantan wakil rektor universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Abdullah Al- Husaini, mantan menteri perwakafan Mesir, Prof. Dr. Hamid Abu Thalib, mantan dekan fakultas Syariah wal Qonun, dan Prof. Dr. Ahmad Raja’i Abdul Hamid, pengajar ilmu kesehatan reproduksi di Islamic Centre-Kairo. Acara dibuka tepat pukul 10.00 CLT oleh Prof. Dr. Ahmad Raja’i dengan memberikan sambutan selamat datang dan ringkasan pa- paran tentang pentingnya menjaga kesehatan tubuh. Di lain kesempatan ia pun menjelaskan

tentang dampak dan penyebaran penyakit AIDS, sekaligus memberikan laporan tentang persentase perkembangan dan penyebaran AIDS di seluruh dunia. Kemudian Prof. Dr. Jamal Abu Surur diberi kesempatan pertama untuk memberi- kan penyuluhan kepada para mahasiswa In- donesia tersebut. Beliau mengulas tentang pentingnya kesehatan calon ibu dan bayi yang sedang dikandungan. Sekaligus juga beliau memberikan laporan tentang tingkat kema- tian bayi dan ibu melahirkan di seluruh dunia, beliau juga menyayangkan bahwa tingkat tertinggi kematian bayi terdapat di negara- negara Islam yang disebabkan oleh kualitas perawatan kesehatan yang masih buruk. Prof. Dr. Thaha Abu Karishah sebagai pembincang kedua menjelaskan dengan run- tut tentang beragam problematika kesehatan remaja. Mulai dari rokok, minuman keras, narkotika, hingga seks bebas. Acara dilanjut- kan dengan paparan mantan menteri Perwa- kafan Mesir, Prof. Dr. Abdullah Al-Husaini yang lebih fokus menjelaskan tentang amanah yang diemban sebagai duta besar Al-Azhar.

Mesir, Prof. Dr. Abdullah Al-Husaini yang lebih fokus menjelaskan tentang amanah yang diemban sebagai duta besar
 

Doc: TëROBOSAN

Sebagai pembicara terakhir, Prof. Dr. Hamid Abu Thalib menyampaikan secara terperinci tentang bahaya-bahaya kesehatan remaja seperti seks bebas, hubungan sesama jenis, dan pernikahan dini. Acara ditutup den- gan tanya jawab masalah kesehatan secara umum. Acara penyuluhan ini tak hanya diadakan satu kali saja. Pada hari Sabtu (9/3) juga dige- lar acara serupa yang diperuntukkan khusus

untuk

sekitar

40

mahasiswi

Indonesia. [ ë]

Yaqien.

datang selesai kuliah. faktor lain karena kebetulan pada hari itu cuaca tidak mendukung, hujan debu yang melanda seluruh kota kairo. Jadi jika ada yang memberi pernyataan seperti itu, saya rasa kurang pas dan klaim itu tidak benar. Apa harapan anda untuk Mahasiswi-mahasiswi Indonesia yang menggali ilmunya di negeri kinanah ini? Seperti motto saya, saya berharap kita semua bisa meningkatkan

pribadi kita, menjadi muslimah yang sittikully dan komprehensif, serba bisa dan tidak pasif. Karena itu semua akan berharga bagi diri kita dan keluarga kita nantinya. Aktif dimana saja baik di kuliah mau- pun organisasi, Aktiflah aktif yang positif karena li kulli harrokah baro- kah, insya Allah. [ ë] Ainun, Erika.

karena li kulli harrokah baro- kah, insya Allah. [ ë ] Ainun, Erika. TëROBOSAN , Edisi
karena li kulli harrokah baro- kah, insya Allah. [ ë ] Ainun, Erika. TëROBOSAN , Edisi
karena li kulli harrokah baro- kah, insya Allah. [ ë ] Ainun, Erika. TëROBOSAN , Edisi

TëROBOSAN, Edisi 351, 15 Maret 2013

09

O p i n i

O p i n i
O p i n i
O p i n i
O p i n i
O p i n i
O p i n i

Karena WIHDAH Adalah Keluarga

Oleh : Zakiah Zainun*

WIHDAH, lima huruf menjadi satu kata yang tidak asing lagi di telinga Masisir. Masisir mana yang belum mengenal WIHDAH? Apalagi di usianya yang ke 24 tahun ini, tepatnya pada tanggal 23 Januari 2013. Kini WIHDAH se- makin dewasa, ibaratnya anak Adam pada usia itu sudah mengetahui banyak hal, segudang kisah hidup dan ilmu yang dia dapatkan, ban- yak perubahan juga pengalaman yang terjadi, apakah itu perubahan lebih baik atau sebali- knya. Pada usia ini, Alhamdulillah WIHDAH telah melahirkan banyak kader-kader perempuan yang pastinya sudah memiliki banyak pembe- lajaran dan pengalaman yang luar biasa. Na- mun, apakah itu akan menjadi jaminan akan usia WIHDAH ke depannya yang selalu silih berganti? Perlu kita ketahui, usia bukan penghalang untuk belajar, mengembangkan diri, terus berkarya dan beramal untuk diri sendiri khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Dalam Anggaran Dasar dinyatakan bahwa WIHDAH-PPMI adalah organisasi khusus putri yang menghimpun seluruh pelajar putri dan mahasiswi Indonesia di Mesir. Yang meru- pakan lembaga otonom PPMI, bersifat inde- penden, akademis, demokratis, moralis dan kekeluargaan. WIHDAH berfungsi sebagai wadah berhimpunnya pelajar putri dan selu- ruh mahasiswi yang mempunyai persamaan identitas kebangsaan dan persamaan kehen- dak untuk mencapai cita-cita pembinaan ke- pribadian, pengabdian, peningkatan keilmuan dan pengembangan wawasan, juga wadah penyalur aspirasi dan perjuangan kepentingan anggota. Kita menelisik kembali apa tujuan WIHDAH, sudahkah WIHDAH berperan baik dan aktif untuk Masisir? Atau WIHDAH hanya sebuah organisasi induk untuk satu golongan saja? Mungkin WIHDAH masih dianggap san- gat tertutup dan belum bisa menyeluruh ke

pe-

semua elemen mahasiswi? Atau

nulis ingin mengingatkan kembali apatujuan WIHDAH yang sebanarnya dan tercantum di dalam anggaran dasar. WIHDAH bertujuan :

1. Meningkatkan kualitas muslimah dalam

bertakwa kepada Allah SWT, berilmu, beramal saleh dan amar ma'ruf nahi munkar. 2. Membina kader-kader putri agar mampu berperan aktif dalam pengabdian un- tuk bangsa, negara dan agama.

3. Meningkatkan intelektualitas, kreatifitas

dan keahlian anggota.

4. Memperjuangkan aspirasi dan kepentin-

gan anggota. Berbagai macam anggapan, pemikiran bahkan kritikan-kritikan (baik,membangun dan buruk sekalipun) yang merasuki WIHDAH dari beberapa elemen itu adalah hal yang wa-

jar. Karena WIHDAH bukan organisasi kecil,

atau

???

tetapi sebuah organisasi induk yang menam- pung semua pelajar putri dan mahasiswi. Kurang lebih seribu orang anggota WIHDAH yang terdaftar, dari daerah dan adat istiadat yang berbeda, dengan berbagai karakter, per- angai, pendapat dan psikologis. Di sinilah WIHDAH berperan aktif, menunjukkan aksi, saling berbagi ilmu, berbagi pengalaman, ber- petualang, bekerjasama dan sama-sama bekerja, bahu membahu, saling membantu dan megajak kepada kebaikan. Layaknya keluarga bukan? Iya! WIHDAH keluarga! Realita yang terjadi di lapangan, selain fokus di kuliah, mahasiswi juga memiliki seribu agenda, target dan aktivitas, baik yang bersifat akademis maupun non-akademis. Belum lagi yang hanya fokus dengan dunia kuliah saja. Ini menjadi tugas dewan pengurus WIHDAH dalam mengajak semua kalangan mahasiswi untuk menyukseskan perjalanan WIHDAH agar ke depan lebih progresif dalam segala aspek. WIHDAH mempunyai fungsi dan tujuan yang serba luar biasa. Jangan sampai dewan pengurus lupa akan hal itu. Jaringan internal maupun eksternal sudah dibangun dari tahun ke tahun. Sekarang saatnya WIHDAH yang baru melestarikan semangat akademis dan perluasan jaringan tersebut. Oleh karena itu, timbul sebuah pertan- yaan, sosok pemimpin bagaimanakah yang sejatinya menjadi idaman anggota WIHDAH? Kursi panas kepemimpinan silih berganti dari tahun ke tahun, hingga saat ini sudah mema- suki periode ke-24 masa jabatan WIHDAH. Kabar-kabar yang mengatakan bahwa or- ganisasi induk ini masih tertutup dan untuk golongan tertentu saja, penulis sangat men- yayangkan akan hal itu. Padahal sudah jelas, WIHDAH telah membuka banyak link, seperti hubungan ittihad putri se-ASEAN. Pada kepen- gurusan WIHDAH 2012/2013 yang diketuai saudari Nurul Chasanah, WIHDAH mendapat rekomendasi dari Atase Pendidikan untuk ikut berpartisipasi dalam acara konferensi PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Dunia di India. Lantas, kenapa kabar miring itu masih ter- cium? Ini yang menjadi PR kita bersama. Perlu diingat! WIHDAH bukan milik pribadi, bukan juga milik satu kelompok tertentu. WIHDAH milik kita bersama, milik saya, anda juga milik mereka. Sesuai dengan tema Sidang Permusy- awaratan Anggota (SPA) WIHDAH tahun ini, yaitu “Bersatu, Berdedikasi untuk WIHDAH yang Satu”. Berbicara tentang pemimpin WIHDAH yang menjadi idaman pelajar putri dan maha- siswi, bisa penulis simpulkan yaitu sosok pemimpin yang bersikap demokratis (bisa merangkul semua golongan), berpartisipasi dalam acara-acara yang bisa membangun WIHDAH lebih maju, ikut andil dalam menye- lesaikan masalah-masalah yang berhubungan

dengan mahasiswi dan mencari solusinya. Ia pun mampu menjalankan visi misi yang telah dijanjikan semata-mata lillahi ta’ala, bersifat terbuka untuk dikritik, komitmen dalam per- juangan dan mengemban amanah besar yang telah diberikan. Tak lupa ia harus berusaha melaksanakan iklim kerja yang mumpuni, dan meniatkan untuk berbakti dan mengabdi kepada Allah Swt. Kemudian, yang sangat penting juga, sosok pemimpin tersebut harus faham dan berpen- galaman di WIHDAH. Coba Anda bayangkan dan pikirkan sejenak, bagaimana seseorang itu bisa memimpin sebuah organisasi induk dan besar tetapi belum pernah berkecimpung dan merasakan pahit manisnya perjuangan di dalam organisasi tersebut? seharusnya dia mengetahui dan mencicipi permasalahan in- ternal WIHDAH. Contoh sederhana yang ter- jadi di sekitar kita, ketua keputrian di sebuah kekeluargaan, afiliatif dan almamater, pastinya

dia sudah pernah menjadi anggota keputrian

atau aktif di kepanitiaan terlebih dahulu. Sete-

lah menjalani proses yang panjang, kemudian

dipilih dan diangkat menjadi ketua keputrian.

Singkatnya, semua pemimpin itu otomatis harus siap dipimpin dan siap memimpin. Karena untuk menjadi seorang pemimpin yang baik ternyata harus menjalani proses yang

cukup panjang. Oleh karena itu, mari sama- sama kita perjuangkan WIHDAH kembali, ber- sinergi dalam menyukseskan kegiatan- kegiatan yang ada di dalamnya, ikut berpartisi- pasi, berkontribusi dan berperan aktif dalam agenda-agenda WIHDAH yang diadakan. Baik itu acara yang bersifat akademis seperti diskusi dan kajian, maupun non-akademis seperti perlombaan-perlombaan, kerjasama dengan elemen internal dan eksternal, bakti sosial bersama WIHDAH, keterampilan yang disajikan WIHDAH dan lain sebagainya. Timbulkan rasa kepemilikan dan ke- pekaan terhadap WIHDAH. Karena WIHDAH

itu keluarga, tidak mengenal kata perpisahan

dan ukhuwah yang telah dijalin akan selalu terjaga, walau jarak yang memisahkan antara satu dan lainnya. Tetapi rasa memiliki WIHDAH tak pernah pudar, jauh di mata dekat

di hati. Hidupkan rasa saling melengkapi,

saling menyemangati antar sesama dan saling berbagi suka dan duka. Sehingga WIHDAH dapat mencetak kader-kader yang agamis, akademis, dinamis dan multi-prestasi, biidznil- lah. Wallahu a’lam. *Penulis adalah mahasiswi Al-Azhar tingkat

3 fakultas Dirasah Islamiyah jurusan Syariah Islamiyah, Ketua Dewan Permusyawaratan Anggota (DPA) WIHDAH 2012/2013.

TëROBOSAN, Edisi 351, 15 Maret 2013

TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 10
TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 10
TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 10

10

K o l o m
K o l o m
K o l o m
K o l o m
K o l o m
K o l o m

K o l o m

K o l o m

Manusia hidup di alam materi. Karena itu, mereka butuh simbol. Simbol mewakili sesuatu yang lebih luas, lebar, dalam, dan rumit. Lambang penyederhanaan. Ia seka- ligus solusi atas keterbatasan nalar manusia. Tapi simbol tidak mandiri. Ia hanya wu- jud kristal dari yang abstrak. Untuk itu, ben- tuk-bentuk penyederhanaan seperti ikon, lambang, slogan, dan lain-lain, harus punya ihwal yang diwakili. Membaca jargon kampanyesimbolvisikandidat ketua WIHDAH tahun ini, saya mencoba menalar apa yang dimak- sud. Let’s be excellent muslimah scholar. Pada hakikatnya, slogan itu menarik. Bukan cuma karena ditulis dalam bahasa Inggris, tapi juga karena sesuai dengan ekspektasi saya pribadi. Selama ini, saya mengharapkan orientasi organisasi yang lebih kondusif bagi kemahasiswaan, bukan yang justru menyesatkan fokus dengan mem- fasilitasi perkara sekunder. Munculnya slogan ini, setidaknya me- muaskan dari satu sisi. Bahwa kesadaran tentang pentingnya harmoni kegiatan akademis-ekstrakulikuler ternyata cukup populer. Setidaknya para penggagas sem- boyan ini melihat demikian. Semoga ide ini terhablur dari sebuah penalaran, juga dari semangat menuju perbaikan, bukan sekadar buah pikiran yang mendadak muncul karena persyaratan protokoler. Kata scholar, dalam kamus bahasa Ing- gris Oxford Dictionary, salah satunya ber- makna a specialist in a particular branch of study, especially the humanities. Dalam ba- hasa Indonesia kurang lebih berarti seperti ini, seorang pakar dalam satu bidang studi, terutama bidang humaniora. Sampai di sini, maksudnya jelas. Tapi masalah datang ketika harus menerjemahkan kata scholar dalam bahasa Indonesia. Khususnya, demi mem- berikan rangkaian semantis yang ideal dari jargon di atas. Saya bimbang antara kata cendekiawan atau sarjana. Jika terjemahannya adalah cendekiawan cendekiawati berdasarkan konteks-, maka saya harus memberikan acungan jempol. Artinya, calon ketua WIHDAH tahun ini vi- sioner. Dia atau tim suksesnya- mampu menalar gejolak sosial “rakyatnya”, lalu men- jawab tantangan masyarakat itu dalam se- buah visi yang segar. Tapi membentuk cendekiawati bukan pekerjaan mudah. Kecedekiawanan adalah ihwal elite. Kata cendekiawan dalam KBBI salah satunya bermakna orang cerdik atau orang intelek. Sedangkan intelek berarti daya

Cendekiawati

Oleh: Kurniawan Saputra*

atau proses pemikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan. Sementara pengetahuan adalah perkara kompleks. Dalam tulisannya tentang kecendekia- wanan, Al-Fakhri Zakirman (Ketua Orsat ICMI Kairo) mengutip pendapat Syarif Shaary: seorang cendekia adalah pemikir yang senantiasa berpikir dan mengembang- kan (serta) menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kecendekiawanan butuh penguasaan wawa- san luas dan kecakapan integral. Untuk mencapai derajat itu, mahasiswi berada satu arena dengan mahasiswa. Mereka saling bersaing. Tak ada hak is- timewa wanita dalam kompetisi ini. Untuk mencapai taraf yang sepadan, tak ada pengecualian. Terutama sekali perihal kewa- jiban. Namun, usaha itu terbentur dengan tabiat wanita sendiri. Pria dan wanita punya karakter yang jauh berbeda. John Grey, penu- lis yang juga konsultan hubungan antar gen- der, bahkan menulis buku berjudul Men Are from Mars, Women Are from Venus. Dalam buku yang terjual lebihdari 50 juta kopi ini, Grey mengungkapkan perbedaan-perbedaan fundamental antara pria dan wanita. Isu tentang perempuan juga telah meny- ita perhatian para filosof sejak lama. Dalam novel filsafatnya, Dunia Sophie, Jostein Gaarder mengutip kata-kata Hegel, “Perbedaan antara pria dan wanita adalah seperti perbedaan antara binatang dan tana- man. Pria menyerupai binatang, sementara wanita menyerupai tanaman, sebabperkem- bangannya lebih tenang dan prinsip yang mendasarinya lebih merupakan kesatuan perasaan yang agak kabur. Kaum wanita dididik dengan menghirup gagasan-gagasan, bukan dengan mencari pengetahuan. Status pria sebaliknya, dicapai semata-mata melalui pemikiran keras dan pengerahan usaha yang besar.” Berbeda dengan Hegel, Plato lebih detail menjelaskan tatanan menuju penyetaraan pria-wanita. Tapi pendapatnya utopis. Sepaket dengan idenya tentang negara ideal. Plato mengatakan, wanita bisa mencapai prestasi yang dicapai oleh pria dengan syarat mereka dibebaskan dari tugas mengurus rumah tangga. Ide Plato di atas sama sekali tak masuk akal. Terlepas dari ide-ide filosofis yang ru- mit, kita dapat menangkap bahwa pendidi- kan wanita adalah pekerjaan besar. Visi mu- lia tersebut, selain membutuhkan buktinyata, juga memerlukan kerja keras mewujud- kannya. Visi itu harus terkristal dalam pro-

gram-program kerja yang sinergis. Nantinya, laporan pertanggungjawaban tentang visi ini haruslah dapat diraba berdasarkan fakta obyektif dan rasional. Mengenai laporan, di Masisir sering ter- jadi salah kaprah. Acap kali laporan pertang- gungjawaban organisasi mendapat nilai mumtâz, sementara fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Biasanya, strategi pengurus untuk melaporkan visinya telah tercapai adalah terlaksananya kegiatan yang melibatkan massa besar. Padahal, tidak ada penelusuran lebih lanjut tentang hubungan sebab akibat antara kegiatan dan efek terha- dap pesertanya. Agaknya, untuk tidak utopis, jargon di atas dimaknai pencetusnya dengan lebih diplomatis. Kata cendekiawan diartikan se- bagai semangat. Sesuai dengan makna lain kata cendekiawan di KBBI: orang yang memiliki sikap hidup yang terus menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya un- tuk dapat mengetahui atau memahami se- suatu. Jika demikian, visi itu dilahirkan dari orang-orang cerdas. Pelopornya adalah orang-orang yang dengan jenius menemukan titik damai antara utopia dan realita. Yang saya takutkan hanya satu, yaitu apabila kata scholar diartikan dengan makna lain: sarjana. Kalau sudah begitu, hilang su- dah semua nilai plus pada jargon di atas. Visi itu tinggal onggokan kata hambar, karena maknanya sangat pragmatis: mari menjadi sarjana muslimah yang unggul. Aih, apalagi bila kata excellent sekadar diartikan mumtâz. Lebih lagi, bila tolak ukurnya hanya nilai akademis. Barangkali menjadi mumtâz, bagi para mahasiswi, adalah orientasi mulia. Tapi, menurut saya, Indonesia lebih membutuhkan cendekiawan dari padasarjana. Sarjana su- dah banyak. Mungkin sama banyak dengan masalah yang muncul dari kesarjanaan mereka, atau dengan angka pengangguran. Maka, kembali mengutip kata Shaary, belajar di universitas bukan jaminan seseorang da- pat menjadi cendekiawan. Juga, nilai mumtaz tak menjamin kadar seseorang. Mahasiswi mumtaz sudah banyak. Tapi saya rasa para mahasiswi pun sepakat, Indo- nesia dan dunia lebih membutuhkan srikandi -srikandi yang punya integritas. *Penulis adalah Mahasiswa Al-Azhar fa- kultas Ushuluddin tingkat tiga.

11

11 TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013
11 TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013
11 TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013

TëROBOSAN, Edisi 351, 15 Maret 2013

Email/YM: transferindo.mesir@yahoo.com FB: Tranferindo Mesir TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 12
Email/YM: transferindo.mesir@yahoo.com FB: Tranferindo Mesir TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 12
Email/YM: transferindo.mesir@yahoo.com FB: Tranferindo Mesir TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 12
Email/YM: transferindo.mesir@yahoo.com FB: Tranferindo Mesir
Email/YM: transferindo.mesir@yahoo.com
FB: Tranferindo Mesir
Email/YM: transferindo.mesir@yahoo.com FB: Tranferindo Mesir TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 12

TëROBOSAN, Edisi 351, 15 Maret 2013

TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 12
TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 12
TëROBOSAN , Edisi 351, 15 Maret 2013 12

12