Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Dermatofita dibagi menjadi genera Microsporum, Trichophyton dan Epidermophyton (Madani, 2000). Golongan jamur ini mempunyai sifat mencernakan keratin. Hingga kini dikenal sekitar 40 spesies dermatofita, masing-masing dua spesies Epidermophyton, 17 spesies Microsporum dan 21 spesies Trichophyton (Budimulja, 2005). Angka insidensi dermatofitosis pada tahun 1998 yang tercatat melalui Rumah Sakit Pendidikan Kedokteran di Indonesia sangat bervariasi, dimulai dari prosentase terendah sebesar 4,8 % (Surabaya) hingga prosentase tertinggi sebesar 82,6 % (Surakarta) dari seluruh kasus dermatomikosis (Adiguna, 2001). Topikal berasal dari bahasa Yunani topikos yang artinya berkaitan dengan daerah permukaan tertentu, seperti anti infeksi topikal yang dioleskan pada daerah tertentu di kulit dan yang hanya mempengaruhi daerah yang dioles tersebut (Dorland, 1996). Pengobatan topikal pada dermatofita menjadi hal penting untuk diketahui oleh tenaga medis, sehingga memerlukan informasi terapi yang tepat tehadap setiap penyakit dermatofita. Menurut Madani (2000) golongan jamur dermatofita dapat menyebabkan beberapa bentuk klinis yang khas. Satu jenis dermatofita dapat menghasilkan bentuk klinis yang berbeda, tergantung letak lokasi anatominya.

SGD IV SYSTEM KULIT

1.2 RUMUSAN MASALAH Jelaskan anatomi system kulit ? Macam-macam penyakit pada system kulit terkait pada kasus scenario ? Jelaskan definisi, etiologi, menifestasi klinis, patofisiologi serta penatalaksanaan pada masing-masing penyakit tersebut ? Pemecahan kasus scenario

1.3 TUJUAN Mahasiswa dapat mengetahui penyakit yang berkaitan dengan system kulit dari definisi, etiologi, menifestasi klinis, dan penatalaksanaan masingmasing penyakit sehingga dapat mendiagnosa suatu penyakit dengan tepat.

SGD IV SYSTEM KULIT

BAB II PEMBAHASAN

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI SYSTIM KULIT

Kulit terdiri dari tiga lapisan yaitu :


Epidermis Dermis Lemak subkutan

Epidermis Paling luar, ketebalan < 1 mm

SGD IV SYSTEM KULIT

Dibagi menjadi 5 lapisan : Stratum corneum, Stratum lusidum, Stratum granulosum, Stratum spinosum, Stratum basale sel utama yang berdiferensiasi adalah keratinosit > keratin (suatu protein fibrosa) Proses migrasi sel epiermis > 28 hari melanosit > melanosoma > melanin Dermis Terdiri dari serabut kolagen elastin dan retikulin kulit kuat dan lentur Mempunyai pembuluh darah dan saraf Terdapat limposit, histiosit, sel mast, leukosit Adneksa: rambut, kuku kel ekrin, sebasea dan apokrin Fisiologi kulit Dapat dilihat, diraba, menjamin kelangsungan hidup Menyokong penampilan dan kepribadian Mempunyai arti estetik, ras Komunikasi non verbal Fungsi kulit Proteksi Absorpsi Ekskresi Persepsi sensori Tekanan; pacini Panas; rufini Dingin; Krause

SGD IV SYSTEM KULIT

Raba; taktil meisner

Pengaturan suhu tubuh Membentuk figmen Proses keratinisasi Pembentukan vit D Kelenjar sekitar kulit Kelenjar keringat Kelenjar ekrin Kecil, dangkal I ermis, bermuara di permukaan kulit, sekret encer 1,5 lt/24 jam, pada udara panas/kering 6 lt/24 jam. Sekresi dipengaruhi stress emosional, panas, sara simpatis Kelenjar apokrin Kelenajr sebasea Terdapat di permukaan kulit, kecuali telapak tangan+kaki Terletak I samping akar rambut, muara pada folikel rambut Sekresi sebum hormon androgen, pada remaja meningkat, menopause+manula menurun Rambut Fungsi: memberi lap[isan lemak pada kulit, kuku, rambut, menahan evaporasi Struktur keratin, 100.000 folikel rambut di kepala, N : 100-150 rambut gugur/hr Letak lebih dalam, sekresi kental, terdapat pada axila, areola mamae, pubis.

SGD IV SYSTEM KULIT

Warna ditentukan oleh kuantitas melanin, bila putih ada kegagalan membentik melanin Siklus pertumbuhan rambut; fase pertumbuhan, atropi, istirahat(rontok) Stressor lokal dan sistemik rontok Kuku Bagian terminal lapisan tanduk yang menebal (stratun corneum). Terdiri dari ; akar kuku (bagian yang terbenam di dalam kulit jari), badan kuku; bagian atas jaringan lunak ujung jari Tumbuh 1 mm/mg, kontinue selama hidup Fungsi melindungi jaringan dengan khususnya rabaan halus unung jari 2.2 PENYAKIT-PENYAKIT PADA KASUS 2.2.1 TINEA KRURIS Definisi tinea kruris
Tinea Cruris adalah dermatofitosis pada sela paha, perineum dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsun seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerahgenito-krural saja atau bahkan meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah atau bagian tubuh yang lain. Tinea cruris mempunyai nama lain eczema marginatum, jockey itch, ringworm of the groin, dhobie itch (Rasad, Asri, Prof.Dr. 2005)

Etiologi

SGD IV SYSTEM KULIT

Penyebab utama dari tinea cruris Trichopyhton rubrum (90%) dan Epidermophython fluccosum Trichophyton mentagrophytes (4%), Trichopyhton tonsurans (6%) (Boel, Trelia.Drg. M.Kes.2003)

Epidemiologi Tinea cruris dapat ditemui diseluruh dunia dan paling banyak di daerah tropis. Angka kejadian lebih sering pada orang dewasa, terutama laki-laki dibandingkan perempuan. Tidak ada kematian yang berhubungan dengan tinea cruris.Jamur ini sering terjadi pada orang yang kurang memperhatikan kebersihan diri atau lingkungan sekitar yang kotor dan lembab (Wiederkehr, Michael. 2008) Patofisiologi Cara penularan jamur dapat secara Langsung maupun tidak langsung. Penularan langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut yang mengandung jamur baik dari manusia, binatang, atau tanah. Penularan tidak langsung dapat melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, pakaian debu. Agen penyebab juga dapat ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian, handuk atau sprei penderita atau autoinokulasi dari tinea pedis, tinea inguium, dan tinea manum. Jamur ini menghasilkan keratinase yang mencerna keratin, sehingga dapat memudahkan invasi ke stratum korneum. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabangcabangnya didalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan menimbulkan reaksi peradangan. Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan batas yang jelas dan

SGD IV SYSTEM KULIT

meninggi (ringworm). Reaksi kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan di kulit adalah:
a.

Faktor virulensi dari dermatofita

Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik, zoofilik, geofilik. Selain afinitas ini masing-masing jamur berbeda pula satu dengan yang lain dalam hal afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian dari tubuh misalnya: Trichopyhton rubrum jarang menyerang rambut, Epidermophython fluccosum paling sering menyerang liapat paha bagian dalam. b. Faktor trauma Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur.
c.

Faktor suhu dan kelembapan Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur,

tampak pada lokalisasi atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat paha, sela-sela jari paling sering terserang penyakit jamur. d. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat insiden penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi

SGD IV SYSTEM KULIT

yang lebih rendah sering ditemukan daripada golongan ekonomi yang baik e.Faktor umur dan jenis kelamin (Boel, Trelia.Drg. M.Kes.2003) Menifestasi klinis 1. Anamnesis Keluhan penderita adalah rasa gatal dan kemerahan di regio inguinalis dan dapat meluas ke sekitar anus, intergluteal sampai ke gluteus. Dapat pula meluas ke supra pubis dan abdomen bagian bawah. Rasa gatal akan semakin meningkat jika banyak berkeringat. Riwayat pasien sebelumnya adalah pernah memiliki keluhan yang sama. Pasien berada pada tempat yang beriklim agak lembab, memakai pakaian ketat, bertukar pakaian dengan orang lain, aktif berolahraga, menderita diabetes mellitus. Penyakit ini dapat menyerang pada tahanan penjara, tentara, atlit olahraga dan individu yang beresiko terkena dermatophytosis. 2. Pemeriksaan Fisik Efloresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk yang primer dan sekunder. Makula eritematosa, berbatas tegas dengan tepi lebih aktif terdiri dari papula atau pustula. Jika kronis atau menahun maka efloresensi yang tampak hanya makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi. Garukan kronis dapat menimbulkan gambaran likenifikasi. Manifestasi tinea cruris :

SGD IV SYSTEM KULIT

a.

Makula eritematus dengan central healing di lipatan inguinal,

distal lipat paha, dan proksimal dari abdomen bawah dan pubis b. Daerah bersisik
c.

Pada infeksi akut, bercak-bercak mungkin basah dan d.


e.

eksudatif Pada infeksi kronis makula hiperpigmentasi dengan skuama Area sentral biasanya hiperpigmentasi dan terdiri atas papula diatasnya dan disertai likenifikasi eritematus yang tersebar dan sedikit skuama
f. Penis dan skrotum jarang atau tidak terkena

g. h.

Perubahan

sekunder

dari

ekskoriasi,

likenifikasi,

dan

impetiginasi mungkin muncul karena garukan Infeksi kronis bisa oleh karena pemakaian kortikosteroid topikal sehingga tampak kulit eritematus, sedikit berskuama, dan mungkin terdapat pustula folikuler i. Hampir setengah penderita tinea cruris berhubungan dengan tinea pedis (Wiederkehr, Michael. 2008).

SGD IV SYSTEM KULIT

10

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan mikologik untuk membantu penegakan diagnosis terdiri atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis berupa kerokan kulit yang sebelumnya dibersihkan dengan alkohol 70%. a. Pemeriksaan dengan sediaan basah Kulit dibersihkan dengan alkohol 70% kerok skuama dari bagian tepi lesi dengan memakai scalpel atau pinggir gelas taruh di obyek glass tetesi KOH 10-15 % 1-2 tetes tunggu 10-15 menit untuk melarutkan jaringan lihat di mikroskop dengan pembesaran 10-45 kali, akan didapatkan hifa, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang, maupun spora berderet (artrospora) pada kelainan kulit yang lama atau sudah diobati, dan miselium Gambar : hifa dan spora

SGD IV SYSTEM KULIT

11

b.

Pemeriksaan kultur dengan Sabouraud agar Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis

pada medium saboraud dengan ditambahkan chloramphenicol dan cyclohexamide (mycobyotic-mycosel) untuk menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan. Identifikasi jamur biasanya antara 3-6 minggu (Wiederkehr, Michael. 2008)
c.

Punch biopsi Dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis

namun sensitifitasnya dan spesifisitasnya rendah. Pengecatan dengan Peridoc AcidSchiff, jamur akan tampak merah muda atau menggunakan pengecatan methenamin silver, jamur akan tampak coklat atau hitam (Wiederkehr, Michael. 2008). d. Penggunaan lampu wood Penggunaan lampu wood bisa digunakan untuk menyingkirkan adanya eritrasma dimana akan tampak floresensi merah bata(Wiederkehr, Michael. 2008). Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan melihat gambaran klinis dan lokasi terjadinya lesi serta pemeriksaan penunjang seperti yang telah disebutkan dengan menggunakan mikroskop pada sediaan yang ditetesi KOH 10-20%,

SGD IV SYSTEM KULIT

12

sediaan biakan pada medium Saboraud, punch biopsi, atau penggunaan lampu wood Penatalaksanaan Pada infeksi tinea cruris tanpa komplikasi biasanya dapat dipakai anti jamur topikal saja dari golongan imidazole dan allynamin yang tersedia dalam beberapa formulasi. Semuanya memberikan keberhasilan terapi yang tinggi 70-100% dan jarang ditemukan efek samping. Obat ini digunakan pagi dan sore hari kira-kira 2-4 minggu. Terapi dioleskan sampai 3 cm diluar batas lesi, dan diteruskan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah lesi menyembuh. Terapi sistemik dapat diberikan jika terdapat kegagalan dengan terapi topikal, intoleransi dengan terapi topikal. Sebelum memilih obat sistemik hendaknya cek terlebih dahulu interaksi obat-obatan tersebut. Diperlukan juga monitoring terhadap fungsi hepar apabila terapi sistemik diberikan lebih dari 4 mingggu. Pengobatan anti jamur untuk Tinea cruris dapat digolongkan dalam emapat golongan yaitu: golongan azol, golongan alonamin, benzilamin dan golongan lainnya seperti siklopiros,tolnaftan, haloprogin. Golongan azole ini akan menghambat enzim lanosterol 14 alpha demetylase (sebuah enzim yang berfungsi mengubah lanosterol ke ergosterol), dimana truktur tersebut merupakankomponen penting dalam dinding sel jamur. Goongan Alynamin menghambat keja dari squalen epokside yang merupakan enzim yang mengubah squalene ke ergosterol yang berakibat akumulasi toksik squalene didalam sel dan menyebabkan kematian sel. Dengan penghambatan enzim-enzim tersebut mengakibatkan kerusakan membran sel sehingga ergosterol tidak terbentuk. Golongan benzilamin mekanisme kerjanya diperkirakan sama

SGD IV SYSTEM KULIT

13

dengan golongan alynamin sedangkan golongan lainnya sama dengan golongan azole. Pengobatan tinea cruris tersedia dalam bentuk pemberian topikal dan sistemik : Obat secara topikal yang digunakan dalam tinea cruris adalah : 1. Golongan Azol

a.Clotrimazole (Lotrimin, Mycelec) Merupakan obat pilihan pertama yang digunakan dalam pengobatan tinea cruris karena bersifat broad spektrum antijamur yang mekanismenya menghambat pertumbuhan ragi dengan mengubah permeabilitas membran sel sehingga sel-sel jamur mati. Pengobatan dengan clotrimazole ini bisa dievaluasi setelah 4 minggu jika tanpa ada perbaikan klinis. Penggunaan pada anak-anak sama seperti dewasa. Obat ini tersedia dalam bentuk kream 1%, solution, lotion. Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu. Tidakada kontraindikasi obat ini, namun tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukan hipersensitivitas, peradangan infeksi yang luas dan hinari kontak mata. b. Mikonazole (icatin, Monistat-derm)

Mekanisme kerjanya dengan selaput dinding sel jamur yang rusak akanmenghambat biosintesis dari ergosterol sehingga permeabilitas membran sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Tersedia dalam bentuk cream 2%, solution, lotio, bedak. Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu. Penggunaan pada anak sama dengan dewasa. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata.

SGD IV SYSTEM KULIT

14

c.

Econazole (Spectazole) Mekanisme kerjanya efektif terhadap infeksi yang

berhubungan dengan kulit yaitu menghambat RNA dan sintesis, metabolisme protein sehingga mengganggu permeabilitas dinding sel jamur dan menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan ecnazole dapat dilakukan dalam 2-4 minggu dengan cara dioleskan sebanyak 2kali atau 4 kali dalam sediaan cream 1%.. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata.
d.

Ketokonazole (Nizoral) Mekanisme kerja ketokonazole sebagai turunan imidazole yang

bersifat broad spektrum akan menghambat sintesis ergosterol sehingga komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan ketokonazole dapat dilakukan selama 2-4 minggu. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata. e.Oxiconazole (Oxistat) Mekanisme oxiconazole kerja yang bersifat broad spektrum akan menghambat sintesis ergosterol sehingga komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan oxiconazole dapat dilakukan selama 2-4 minggu. Tersedia dalam bentk cream 1% atau bedak kocok. Penggunaan pada anak-anak 12 tahun penggunaan sama dengan orang dewasa. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas dan hanya digunakan untuk pemakaian luar.

SGD IV SYSTEM KULIT

15

f. Sulkonazole (Exeldetm) Sulkonazole merupakan obat jamur yang memiliki spektrum luas. Titik tangkapnya yaitu menghambat sintesis ergosterol yang akan menyebabkan kebocoran komponen sel, sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Tersedia dalam bentuk cream 1% dan solutio. Penggunaan pada anak-anak 12 tahun penggunaan sama dengan orang dewasa (dioleskan pada daerah yang terkena selama 2-4 minggu sebanyak 4 kali sehari). 2. Golongan alinamin

a.Naftifine (Naftin) Bersifat broad spektrum anti jamur dan merupakan derivat sintetik dari alinamin yang mekanisme kerjanya mengurangi sintesis dari ergosterol sehingga menyebabkan pertumbuhan sel amur terhambat. Pengobatan dengan naftitine dievaluasi setelah 4 minggu jika tidak ada perbaikan klinis. Tersedia dalam bentuk 1% cream dan lotion. Penggunaan pada anak sama dengan dewasa ( dioleskan 4 kali sehari selama 2-4minggu). b. Terbinafin (Lamisil) Merupakan derifat sintetik dari alinamin yang bekerja menghambat skualen epoxide yang merupakan enzim kunci dari biositesis sterol jamur yang menghasilkan kekurangan ergosterol yang menyebabkan kematian sel jamur. Secara luas pada penelitian melaporkan keefektifan penggunaan terbinafin. Terbenafine dapat

SGD IV SYSTEM KULIT

16

ditoleransi penggunaanya pada anak-anak. Digunakan selama 1-4 minggu 3. Golongan Benzilamin

a.Butenafine (mentax) Anti jamur yang poten yang berhuungan dengan alinamin. Kerusakan membran sel jamur menyebabkan sel jamur terhambat pertumbuhannya. Digunakan dalam bentuk cream 1%, diberikan selama 2-4 minggu. Pada anak tidak dianjurkan. Untuk dewasa dioleskan sebanyak 4kali sehari.

2.2.2 TINEA KORPORIS Definisi Infeksi jamur dermatofita pada kulit halus (glabrous skin) di daerah muka, leher, badan, lengan, dan pantat (glutea). Etiologi Trichophyton rubrum Trichophyton mentagrophytes Trichophyton tonsurans Trichophyton interdigital Trichophyton verrucosum Microsporum canis Microsporum gypseum

Menifestasi klinis Bisa datang tanpa gejala (asymptomatic). Mengenai kulit tidak berambut.

SGD IV SYSTEM KULIT

17

Keluhan gatal terutama bila berkeringat. Oleh karena gatal dan digaruk, lesi semakin meluas, terutama di daerah kulit yang lembab.

Secara klinis tampak: lesi berbatas tegas, polisiklis, dengan tepi aktif, karena tanda radang lebih jelas. Polimorf (banyak bentuk), terdiri atas eritema, skuama, dan kadang dengan papul dan vesikel di tepi, penyembuhan di tengah (central healing).

Khas: central healing, yaitu: di bagian tepi meradang dan bagian tengah bersih.

Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan kerokan kulit dengan mikroskop langsung dengan larutan KOH 10-20% untuk melihat hifa atau spora jamur. Pemeriksaan histopatologi Tampak neutrofil di stratum corneum, ini merupakan petunjuk diagnostik yang penting. Biopsi kulit dengan pewarnaan hematoxylin dan eosin pada tinea corporis menunjukkan spongiosis, parakeratosis, dan infiltrat inflamasi superfisial (rembesan sel radang ke permukaan) Penatalaksanaan . Umum 1. Menjaga kebersihan badan. 2. Memakai pakaian yang menyerap keringat. Khusus 1. Sistemik a. Antihistamin b. Griseofulvin, dosis anak-anak: 15-20 mg/Kg berat badan/hari. dosis dewasa: 500-1000 mg per hari selama 3-4 minggu.

SGD IV SYSTEM KULIT

18

c. Itrakonazol 100 mg/hari selama 2 minggu. d. Ketokonazol 200 mg/hari selama 3 minggu. e. Terbinafin 250 mg/hari selama 2 minggu. 2 Topikal a. Salep Whitfield b. Campuran asam salisilat 5%, asam benzoat 10%, dan resorsinol 5% dalam spiritus. c. Castellani's paint d. Tolnaftat e. Tolsiklat f. Imidazol g. Piroksolamin siklik h. Haloprogin i. Derivat azol j. Naftifin HCl. 2.2.3 PSORIARIS Definisi Psoriasis (kulit bersisik) ialah sejenis penyakit kulit yang penderitanya mengalami proses pergantian kulit yang terlalu cepat. Kemunculan penyakit ini terkadang untuk jangka waktu lama atau timbul/hilang, penyakit ini secara klinis sifatnya tidak mengancam jiwa, tidak menular tetapi karena timbulnya dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja sehingga dapat menurunkan kualitas hidup serta menggangu kekuatkan mental seseorang bila tidak dirawat dengan baik. Berbeda dengan pergantian kulit pada manusia normal yang biasanya berlangsung selama tiga sampai empat minggu, proses pergantian kulit pada penderita psoriasis berlangsung secara cepat yaitu sekitar 24 hari,

SGD IV SYSTEM KULIT

19

(bahkan bisa terjadi lebih cepat) pergantian sel kulit yang banyak dan menebal. Epidemiologi Di Asia, psoriasis termasuk penyakit kulit yang cukup banyak penderitanya Etiologi Psoriasis biasanya dimulai dan memburuk karena dari pencetus yang bisa kita cegah terdiri dari : Infeksi seperti pada tenggorokan dan guam, Cedera pada kulit, seperti gigitan serangga, pengaruh sinar matahari dan goresan pada kulit, Stres, Udara dingin, Merokok, Konsumsi alkohol berat Pemberian obat seperti litium, beta bloker, anti malaria dan iodida Faktor resiko Faktor resiko psoriasis adalah riwayat keluarga yang juga mengidap penyakit psoriasis. Faktor resiko psoriasis yang lain: Kondisi tubuh akibat penyakit seperti HIV, Stres, Obesitas, Merokok Menifestasi klinis Bercak eritema meninggi dengan skuama di atasnya, Fenomena tetesan lilin Kering Gatal dan panas Kelainan pada kuku ( pitting nail ) Kelainan sendi

Patofisiologi Faktor yang berperan dalam penyakit psoriasis ini berhubungan dengan faktor imunologik. Defek genetic pada psoriasis diekspresikan pada salah satu dari tiga jenis sel, yakni limfosit T, sel penyaji, atau keratinosit. Lesi pada psoriasis matang pada umumnya penuh dengan

SGD IV SYSTEM KULIT

20

sebukan limfosit T pada dermis yang terutama terdiri atas limfosit T CD4 dengan sedikit sebukan limfositik dalam epidermis. Sedangkan lesi baru biasanya didominasi CD8. Pada lesi psoriasis terdapat sekitar 17 sitokin yang produksinya bertambah. Sel langerhans juga berperan pada imunopatogenesis psoriasis. Terjadinya proliferasi epidermis diawali dengan adanya gerakan antigen, baik eksogen maupun endogen oleh sel langerhans. Pada psoriasis pembentukan epidermis (turn over time) lebih cepat, hanya 3 4 hari. Penatalaksanaan 1. pengobatan sistemik Korikosteroid Obat sitotatik Levadopasiklosporin Preparat ter Kortikosteroit topikal Ditranol Pengobatan dengan sinar

2. pengobatan topikal

2.2.4 PITRIASIS ROSEA Definisi Penyakit inflamasi kulit ringan dan dapat sembuh sendiri ditandal dengan lesi bersisik Etiologi Penyebabnya tidak diketahui. Namun ada yang mengemukakan hipoyesa bahwa penyebabnya virus, karena penyakit ini merupakan penyakit swasima umumnya sembuh sendiri dalam waktu 3-8 minggu. Menifestasi klinis

SGD IV SYSTEM KULIT

21

MuIai bercak "heraid"

dengan Bercak

Iesi

soliter "heraid"

pada agak

badan

atau

bahu, oval,

kemerahan.

bersisik menyerupai cacing. Tiga sampai empat han kemudian muncul erupsi yang mengcnai sebagian bcsar badan. Biasanya terbatas pada daerah "jaket dan celana", walaupun dapat lebib luas Ruam terdiri dan papel dan makula, biasanya panjangnya. 2-3 cm dengan pinggir bersisik-makula terdapat pada garis-garis kulit membentuk pohon Natal terutama terlihat pada toraks. Rasa gatal bervariasi. Kadang-kadang disertai malaise dan sakit kepala Remisi spontan dalam 4-5 minggu tetapi dapat sampai 12 minggu sebelum seluruhnya menyembuh

Diagnosa Bedakan dari erupsi sensitisasi pada tinea pedis, tinea korporis, tinea versikolor, erupsi obat, psoriasis gutata, sifilis secundair dan dernatitis eksoderm. Pengobatan

SGD IV SYSTEM KULIT

22

Tidak ada yang spe3ifik; fototerapi eksperimental tampaknya memberi harapan. Hilangkan gdtal dengan antihistamin, kortikosteroid krim atau pada kasus sangat berat steroid oral dengan dosis yang makin diturunkan. Sinar matahari meinpercepat invoIusi; sinar ultraviolet dapat digunakan sebagai alternatif Prognosis Prognosis baik karena penyakit sembuh spontan biasanya dalam waktu 3-8 minggu. 2.2.5 ERITRODERMA Definisi Eritroderma ( dermatitis eksfoliativa ) adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema seluruh / hampir seluruh tubuh , biasanya disertai skuama ( Arief Mansjoer , 2000 : 121 ) Eritroderma merupakan inflamasi kulit yang berupa eritema yang terdapat hampir atau di seluruh tubuh ( www. medicastore . com) Dermatitis eksfoliata generalisata adalah suatu kelainan peradangan yang ditandai dengan eritema dan skuam yang hampir mengenai seluruh tubuh ( Marwali Harahap , 2000 : 28 ) Dermatitis eksfoliata merupakan keadaan serius yang ditandai oleh inflamasi yang progesif dimana eritema dan pembentukan skuam terjadi dengan distribusi yang kurang lebih menyeluruh ( Brunner & Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 ). Etiologi Berdasarkan penyebabnya , penyakit ini dapat dibagikan dalam 2 kelompok : 1. Eritrodarma eksfoliativa primer Penyebabnya tidak diketahui. Termasuk dalam golongan ini eritroderma

SGD IV SYSTEM KULIT

23

iksioformis konginetalis dan eritroderma eksfoliativa neonatorum (50 % ). 2. Eritroderma eksfoliativa sekunder a. Akibat penggunaan obat secara sistemik yaitu penicillin dan derivatnya , sulfonamide , analgetik / antipiretik dan ttetrasiklin. b. Meluasnya dermatosis ke seluruh tubuh , dapat terjadi pada liken planus , psoriasis , pitiriasis rubra pilaris , pemflagus foliaseus , dermatitis seboroik dan dermatitis atopik. c. Penyakit sistemik seperti Limfoblastoma. Patofisiologi Pada dermatitis eksfoliatif terjadi pelepasan stratum korneum ( lapisan kulit yang paling luar ) yang mencolok yang menyebabkan kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negatif . Karena dilatasi pembuluh darah kulit yang luas , sejumlah besar panas akan hilang jadi dermatitis eksfoliatifa memberikan efek yang nyata pada keseluruh tubuh. Pada eritroderma terjadi eritema dan skuama ( pelepasan lapisan tanduk dari permukaan kult sel sel dalam lapisan basal kulit membagi diri terlalu cepat dan sel sel yang baru terbentuk bergerak lebih cepat ke permukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik / plak jaringan epidermis yang profus. Mekanisme terjadinya alergi obat seperti terjadi secara non imunologik dan imunologik ( alergik ) , tetapi sebagian besar merupakan reaksi imunologik. Pada mekanismee imunologik, alergi obat terjadi pada pemberian obat kepada pasien yang sudah tersensitasi dengan obat tersebut. Obat dengan berat molekul yang rendah awalnya berperan sebagai antigen yang tidak lengkap ( hapten ). Obat / metaboliknya yang berupa hapten ini harus berkojugasi dahulu dengan protein misalnya

SGD IV SYSTEM KULIT

24

jaringan , serum / protein dari membran sel untuk membentuk antigen obat dengan berat molekul yang tinggi dapat berfungsi langsung sebagai antigen lengkap. ( Brunner & Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 ) Manifestassi Klinis Eritroderma akibat alergi obat , biasanya secara sistemik. Biasanya timbul secara akut dalam waktu 10 hari. Lesi awal berupa eritema menyeluruh , sedangkan skuama baru muncul saat penyembuhan. Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit yang tersering addalah psoriasis dan dermatitis seboroik pada bayi ( Penyakit Leiner ). Eritroderma karena psoriasis Ditemukan eritema yang tidak merata. Pada tempat predileksi psoriasis dapat ditemukan kelainan yang lebih eritematosa dan agak meninngi daripada sekitarnya dengan skuama yang lebih kebal. Dapat ditemukan pitting nail. Penyakit leiner ( eritroderma deskuamativum ) Usia pasien antara 4 -20 minggu keadaan umum baik biasanya tanpa keluhan. Kelainan kulit berupa eritama seluruh tubuh disertai skuama kasar. Eritroderma akibat penyakit sistemik , termasuk keganasan. Dapat ditemukan adanya penyakit pada alat dalam , infeksi dalam dan infeksi foka Pengobatan Umumnya pengobatan eritoderma dengan kortikosteroid . pada golongan 1 yang disebabkan oleh alergi obat secara sitemik , doisi perednisolon 4x10mg. Pada golongan kedua juga diberikan kortikosteroid prednisolon 4x10 mg- 4x15 mg sehari. Jika tidak nampak perbaikan dosis di naikan.

SGD IV SYSTEM KULIT

25

2.3 PEMECAHAN KASUS SKENARIO Bercak merah dan gatal Seorang laki-laki usia 32 tahun datang ke rumah sakit PELITA dengan keluhan bercak merah dan gatal pada lipatan paha kanan dan kiri sejak 10 hari yang lalu. Bercak merah berbatas tegas, tepi meninggi dan dirasakan semakin gatal jika berkeringat. 4 hari yang lalu bercak merah bertambah lebar dan bertambah banyak jumlahnya meluas ke daerah punggung dan perut. Dari pemeriksaan di dapatkan adanya lesi polisiklik yang eritematosa, tepi aktif, terdapat papul dan bagian tengahnya terdapat central healing dengan ujud kelainan kulit hiperpigmentosa, skuama, agar tidak ragu dokter melakukan pemeriksaan penunjang. Terimonologi yang belum diketahui Lesi polisiklik Eritematosa Papula : berbentuk pinggiran sambung menyambung( bentuknya tidak sama dengan yang lainnya : kemerahan pada kulit yang disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah : penonjolan diatas permukaan kulit > 0,5 cm dan berisi zat padat ( peninggian permukaan kulit ) Central healing : pada bagian tengah mengalami penyembuhan Hiperpigmentosa : kelebihan atau peningkatan pigmen Skuamosa : sel squamosa yang terkelupas

SGD IV SYSTEM KULIT

26

Identitas Nama Umur Jenis kelamin Anamnesa Keluhan utama : bercak merah dan gatal RPS Lokasi Kualitas Kuantitas Kronologis : : lipatan paha kanan dan kiri menjalar : menyebar :(-) : sejak 10 hari yang lalu terdapat bercak kepunggung dan perut : Mr. X : 32 tahun : laki - laki

merah pada lipatan paha, dan 4 hari yang lalu bercak berjalan ke punggung dan perut Setting :(-)

F. Memperberat : berkeringat semakin gatal F. Memperingan : ( - ) :(-) :(-)

RPD RPK

RP sosial : ( - ) Status dermatum Regio inguinal, regio lumbal, dan regio abdomen terdapat : Eritematosa Tepi aktif Papula

SGD IV SYSTEM KULIT

27

Hiperpigmentosa Central healing Squamosa

Pemeriksaan penunjang Akan dilakukan, disarankan pemeriksaan : Sediaan kerokan kulit ( menggunakan larutan KOH ) Pembiakan agar

Diagnosa deferensial Mikosis superfisialis Tinea kruris Tinea korporis

Dermatitis etitoskuamosa Psoriaris Pitriasis rosea Eritoderma

Tabel perbandingan Kelainan Micosis Superfici al Tinea kruris Lipat paha, daerah Dermatitis Eritoskuamo sa Psoriasis (kronik residif) Muka, ekstremitas bag.

Tinea korporis Kulit tubuh yang

Pitriasis rosea Leher, tubuh & ekstremitas

Eritodermal Seluruh kulit

Lokasi

SGD IV SYSTEM KULIT

28

Etiologi

perineum, sekitar anus atau meluas kearah gluteus, perut bagian bawah Jamur

tidak berambut (glabrous skin)

Ekstensor terutama siku serta lutut & daerah lumbosakral, kepala, kuku

proksimal

Jamur dibagi 2 yaitu : zoofilik & antrofilik Anakanak dan dewasa

Usia

Laki laki dewasa

Lesi

Berbatas tegas

Eritematous

(+) perifer, aktif (khas jamur)

Teratur, bulat atau lonjong, berbatas tegas, terpisahpisah dapat terlihat lesi polisiklik (+) > aktif (khas jamur) Kadangkadang ada (+)

Autoimun, Belum genetik, diketahui streptococcus kemungkina n virus (sembuh sendiri 3-8 minggu) Pubertas, Dewasa menopouse muda & (sering), tapi remaja 15bisa terjadi 40 tahun pada setiap usia Sirkumskrip, Lesi tapi pd oval/anular, stadium bersisik, penyembuha dengan n ditemukan diameter central kira-kira healing 3cm, soliter.

(+)

(+) timbul dlm waktu seminggu (+)

(+)

Papula Central (+)

(+) stadium

(-)

SGD IV SYSTEM KULIT

29

healing Hiperpigmenta si Skuama (+) (+) (+) (+) diperifer, kasar Kadangkadang ada (+) berat Kerokan kulit dlm larutan kalium hidroksid a, biakan jamur

penyembuha n (+) transparan, kasar, berlapis-lapis (+) halus (+) pd saat kronik (+) pd stadium penyembuha n

Vesikel Gatal Diagnostik (+) berat Kerokan kulit dlm larutan kalium hidroksid a, biakan jamur

(+) ringan

(+) ringan Kerokan kulit dlm larutan KOH

Penatalaksanaan kasus Pengobatan sistemik Drug of choice : griseotulvin 500 mg/ hari untuk dewasa, sedangkan anak-anak 10-25 mg/ kg berat badan sehari Pada kasus yang resiten terhadap gresiofulvi dapat diberikan derifat azol seperti itrakonazol, flukonazol Pengobatan topikal Kombinasai as. Salisilat ( 3-6 % ) dan as. Benzoat ( 612% ) Kombinasi as. Salisilat dan sulfur presipitatum dalam bentuk salep

SGD IV SYSTEM KULIT

30

BAB III PENUTUP


KESIMPULAN Bercak merah pada lipatan paha dapat disebabkan oleh tinea kruris, tinea korporis, dermatosis eritoskuamosa. Dimana tinea kruris dan tinea korporis merupakn penyakit yang enyerang lipatan-lipatan dan tidak menyerang folikel rambut dimana penyakit ini disebabkan oleh jamur epidermaphyton fluccosum dan tricophyton ruburum. Sedangkan pada dermatosis eritoskuamosa terdapat psioriaris, pitiriaris rosea, eritoderma. Namun pada skenario penyakit yang paling mendekati adalah tinea korporis dan tinea cruris. SARAN Jangn menggunakan atau berganti-ganti barang seperti handuk, pakaian dalam, pakaian, itu dapat menyababkan tertularnya penyakit ini dari orang lain. Jagalah tubuh dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi

SGD IV SYSTEM KULIT

31

DAFTAR PUSTAKA
Trelia boel,drg.,m.kes. 2003. Mikosis Superfisial.Avaible http://library.usu.ac.id/download/fkg/fkg-trelia1.pdf/ accesed tanggal 2 Desember 2009 Wahib, Dian Ibnu. 2009. Tinea Cruris. Avaible : http://diyoyen.blog.friendster.com/2009/08/tinea-cruris/ accesed tanggal 2 Desember 2009 Anonim. 2009. Tinea Cruris. Avaibel : http://completechaosdarkknight.blogspot.com/2009/04/tine-cruris.html/ accesed tanggal 2 Desember 2009 Indonesia kabar. 2009. Tinea Korporis . avaible : http://www.kabarindonesia.com/berita.php? pil=3&jd=Tips+Praktis+Mengenali+Tinea+Corporis&dn=200808152207 32/ accesed 2 Desember 2009 Anonym. 2009. pitiriasis rosea. Avaible : http://cakul-kulitdankelaminfkunram.blogspot.com/2009/03/pitiriasis-rosea.html/ accesed 2 Desember 2009 Djuanda, dr.prof,dkk.2008. Ilmu Penyakit Kelamin. Jakarta : FKUI

SGD IV SYSTEM KULIT

32